Mengapa Pelaku Asusila Justru dari Kalangan yang Tampak Religius?
Refleksi Ilmiah Populer atas Fenomena Kekerasan Seksual oleh Orang Terdekat
Oleh: Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam
Pendahuluan: Fenomena yang Mengusik Nalar
Di tengah meningkatnya kasus kekerasan seksual, masyarakat sering dikejutkan oleh satu fakta yang terasa paradoks:
pelaku justru berasal dari kalangan yang dikenal religius—rajin ibadah, aktif di kegiatan keagamaan, bahkan menjadi figur panutan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar:
Apakah religiusitas tidak lagi menjadi benteng moral?
Ataukah ada yang keliru dalam cara kita memahami dan mengamalkan agama?
Tulisan ini mencoba menjawab dengan pendekatan ilmiah populer, memadukan analisis psikologis, sosial, dan spiritual.
Religiusitas: Simbol atau Substansi?
Dalam kajian sosiologi agama, religiusitas dibagi menjadi dua:
Religiusitas formal (simbolik)
tampak dalam ibadah lahiriah
identitas keagamaan kuat
Religiusitas substantif (internalisasi nilai)
tercermin dalam akhlak
kesadaran moral mendalam
Masalahnya, tidak sedikit individu yang:
👉 kuat pada aspek simbolik, tetapi lemah pada aspek substantif
Sehingga:
ibadah menjadi rutinitas
bukan transformasi akhlak
Padahal dalam Islam, tujuan ibadah adalah:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45)
Jika masih terjadi penyimpangan, maka yang perlu dievaluasi adalah:
👉 kualitas penghayatan ibadah, bukan sekadar kuantitasnya.
Analisis Penyebab: Mengapa Ini Bisa Terjadi?
1. Disonansi Moral (Moral Dissonance)
Pelaku mampu:
memisahkan identitas religius dengan perilaku pribadi
membenarkan tindakan salah secara internal
Ini dikenal sebagai:
👉 konflik antara nilai dan tindakan yang tidak terselesaikan.
2. Relasi Kuasa dan Kepercayaan
Orang religius sering:
dipercaya
dihormati
diberi akses dekat dengan korban
➡️ Kedekatan ini bisa disalahgunakan oleh individu yang tidak memiliki kontrol diri.
3. Represi dan Distorsi Seksualitas
Dalam beberapa kasus:
dorongan seksual ditekan tanpa pemahaman sehat
tidak ada edukasi yang proporsional
Akibatnya:
muncul perilaku menyimpang secara tersembunyi.
4. Hipokrisi Sosial (Topeng Moral)
Sebagian individu:
menjaga citra di depan publik
tetapi memiliki kehidupan tersembunyi
👉 Ini bukan kegagalan agama, tetapi kegagalan kejujuran diri.
5. Lemahnya Pengawasan Sosial
Status “orang baik” sering membuat:
masyarakat lengah
korban sulit dipercaya
➡️ Pelaku merasa aman karena reputasinya.
6. Kurangnya Pendidikan Akhlak dan Tazkiyatun Nafs
Dalam tradisi Islam, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) adalah inti.
Tanpa itu:
ibadah tidak membentuk karakter
nafsu tetap dominan.
Perspektif Islam: Ibadah Tanpa Akhlak adalah Kegagalan
Dalam ajaran Islam, ukuran utama bukan sekadar ibadah ritual, tetapi akhlak:
“Sesungguhnya yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi)
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
ada orang yang rajin shalat dan puasa, tetapi menyakiti orang lain—maka ia celaka
👉 Ini menunjukkan:
agama tidak cukup di kulit, tetapi harus meresap ke dalam jiwa.
Dampak Sosial: Ketika Kepercayaan Dikhianati
Kasus pelaku dari kalangan religius memiliki dampak lebih besar:
Korban mengalami trauma berlapis
(fisik, psikologis, dan spiritual)Masyarakat kehilangan kepercayaan
terhadap figur agamaAgama disalahpahami
seolah-olah menjadi penyebab, padahal pelakunya individu.
Solusi: Mengembalikan Agama ke Substansinya
1. Penguatan Akhlak, bukan sekadar Ritual
pendidikan agama harus menyentuh hati
bukan hanya hafalan dan formalitas.
2. Edukasi Seksualitas yang Sehat dan Islami
memahami fitrah manusia
mengelola dorongan secara benar.
3. Sistem Pengawasan Sosial
tidak ada “orang kebal kritik”
semua harus transparan dan akuntabel.
4. Pendampingan Korban yang Berbasis Empati
korban harus dipercaya
bukan disalahkan demi menjaga citra pelaku.
5. Peran Penyuluh Agama
Sebagai penyuluh, kita harus:
meluruskan pemahaman agama
membongkar “topeng moral”
menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Analisis Reflektif
Fenomena ini sejatinya bukan kegagalan agama, tetapi:
kegagalan manusia dalam mengamalkan agama secara utuh
Agama mengajarkan:
pengendalian diri
penghormatan terhadap sesama
penjagaan kehormatan
Jika itu dilanggar, maka yang bermasalah adalah:
👉 manusianya, bukan ajarannya.
Penutup
Kita tidak boleh terjebak pada dua sikap ekstrem:
menutup-nutupi karena pelaku “orang baik”
atau menyalahkan agama secara keseluruhan
Yang harus kita lakukan adalah:
mengembalikan agama pada esensinya: membentuk manusia yang berakhlak mulia
Karena pada akhirnya:
ibadah yang benar akan melahirkan akhlak yang benar
Jika tidak, maka yang perlu diperbaiki bukan agamanya—
tetapi cara kita memahaminya.
Referensi
Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin.
Abdullah Nashih Ulwan. Tarbiyatul Aulad fil Islam.
Judith Herman. Trauma and Recovery.
World Health Organization. (2017). Responding to Sexual Violence.
UNICEF. (2020). Child Protection Guidelines.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Pedoman Penyuluh Agama Islam.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Laporan SIMFONI PPA.
.png)



.png)






.png)
.png)



