KEMATIAN YANG DICEMBURUI
Tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah
Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
A. Pendahuluan: Mengapa Ada Kematian yang Dicemburui?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada orang yang ketika meninggal dunia, kepergiannya membuat banyak orang menangis. Masjid terasa kehilangan. Majelis taklim terasa sepi. Keluarga kehilangan sosok yang menjadi tempat bertanya. Bahkan orang-orang yang tidak terlalu dekat pun merasa sedih karena selama hidupnya ia telah menebarkan manfaat.
Namun, ada pula orang yang meninggal dunia, lalu orang-orang berkata:
“Semoga kita mendapatkan akhir kehidupan seperti beliau.”
Apa yang membuat seseorang sampai dicemburui kematiannya?
Bukan karena hartanya yang banyak.
Bukan karena rumahnya yang besar.
Bukan pula semata-mata karena ia meninggal dalam usia lanjut.
Kematian yang dicemburui adalah kematian yang menjadi penutup perjalanan hidup yang baik, meninggalkan amal yang bermanfaat, serta menghadirkan kesaksian dan doa kebaikan dari orang-orang yang mengenalnya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
Ayat ini menggambarkan cita-cita tertinggi seorang mukmin: pulang kepada Allah dalam keadaan rida dan diridai.
B. Kematian Adalah Kepastian, tetapi Husnul Khatimah Adalah Harapan
Allah SWT menegaskan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Kematian bukan persoalan apakah kita akan mati, tetapi bagaimana kita akan menghadapinya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga akhir perjalanan hidup. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena pernah berbuat baik, dan tidak boleh pula berputus asa karena pernah melakukan kesalahan.
Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri sampai Allah memanggil kita.
Renungan
Boleh jadi seseorang tidak terkenal di dunia, tetapi namanya harum di sisi Allah.
Boleh jadi ia tidak memiliki banyak pengikut, tetapi banyak orang yang mendoakannya.
Boleh jadi ia tidak meninggalkan gedung megah, tetapi meninggalkan anak-anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang terus mengalir.
Itulah kekayaan yang sesungguhnya.
C. Tanda-Tanda Husnul Khatimah dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Kita perlu berhati-hati: tidak ada manusia yang dapat memastikan seseorang pasti masuk surga hanya karena cara wafatnya. Penilaian akhir adalah hak Allah SWT.
Namun, Al-Qur’an dan Sunnah memberikan beberapa tanda yang dapat menjadi harapan baik.
1. Meninggal dalam Keadaan Beriman dan Bertakwa
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Ayat ini bukan berarti kita dapat menentukan kapan mati, tetapi merupakan perintah untuk senantiasa menjaga iman dan Islam hingga akhir hayat.
2. Mengucapkan Kalimat Tauhid
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang akhir perkataannya Lā ilāha illallāh, niscaya ia masuk surga.”
(HR. Abu Dawud)
Karena itu, ketika mendampingi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut, kita dianjurkan menuntunnya dengan lembut untuk mengingat Allah, tanpa memaksa atau membuatnya gelisah.
3. Meninggal dalam Keadaan Beramal Saleh
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Orang yang membiasakan diri dengan salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, dan memperbaiki hubungan dengan manusia, sedang mempersiapkan bekal terbaik untuk kepulangannya.
4. Meninggal dalam Keadaan Allah Rida
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya memiliki kerinduan kepada Allah, bukan karena ingin mempercepat kematian, tetapi karena ingin pulang dalam keadaan membawa iman dan amal saleh.
D. Ketika Jenazah Dihantar Banyak Orang: Apa Maknanya?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sering kita menyaksikan seseorang meninggal dunia, lalu jenazahnya diantar oleh banyak orang. Masjid penuh. Jalan dipadati pelayat. Orang-orang datang dari jauh. Bahkan mereka yang sedang sibuk rela meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri pemakaman.
Fenomena seperti ini sering membuat kita berkata:
“Masya Allah, banyak sekali yang mengantarkan. Semoga ini tanda akhir yang baik.”
Harapan tersebut baik, tetapi harus disampaikan dengan pemahaman yang benar.
1. Kesaksian Baik dari Orang-Orang Beriman
Rasulullah SAW bersabda:
“Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain, ketika para sahabat memuji seorang jenazah dengan kebaikan, Rasulullah SAW bersabda:
“Wajib baginya.”
Kemudian ketika mereka menyebut keburukan seseorang, beliau juga bersabda: “Wajib baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan pentingnya kesaksian orang-orang beriman terhadap kebaikan atau keburukan seseorang, terutama ketika mereka benar-benar mengenalnya.
Artinya, apabila seseorang dikenal sebagai orang baik, suka menolong, menjaga salat, menghormati tetangga, dan bermanfaat bagi masyarakat, lalu banyak orang memberikan kesaksian baik atas dirinya, maka hal itu menjadi harapan besar akan kebaikan akhir hidupnya.
2. Banyak yang Mengiringi Jenazah Menunjukkan Cinta dan Manfaat
Allah SWT berfirman:
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي
“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku.”
(QS. Taha: 39)
Ayat ini berbicara tentang Nabi Musa AS, tetapi memberikan pelajaran bahwa rasa cinta dan penerimaan di hati manusia merupakan salah satu bentuk karunia Allah.
Seseorang yang selama hidupnya menjaga hubungan baik, tidak menyakiti, suka membantu, dan hadir dalam kebutuhan masyarakat, sering kali akan dikenang dengan cinta.
Namun, perlu diingat:
Banyaknya pelayat bukan ukuran mutlak kemuliaan seseorang di sisi Allah.
Ada orang saleh yang meninggal dalam keadaan sederhana dan hanya sedikit yang mengantarkan. Ada pula orang yang dikenal luas karena kedudukan duniawi, tetapi belum tentu memiliki amal yang baik.
Yang terpenting adalah kualitas iman dan amalnya, bukan semata-mata jumlah orang yang hadir.
E. Contoh-Contoh Kematian yang Dicemburui
1. Wafatnya Rasulullah SAW
Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun di rumah Aisyah RA. Kepergian beliau mengguncang Madinah. Para sahabat menangis, masjid terasa kehilangan, dan umat Islam merasakan duka yang sangat mendalam.
Namun, Rasulullah SAW meninggalkan warisan yang tidak pernah habis:
Al-Qur’an.
Sunnah.
Akhlak mulia.
Umat yang mencintai beliau.
Ilmu yang terus diamalkan hingga hari kiamat.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Pelajaran: Kematian yang dicemburui adalah kematian yang meninggalkan rahmat dan manfaat bagi manusia.
2. Wafatnya Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah yang adil, sederhana, dan sangat takut kepada Allah. Ia hidup dalam kemewahan kekuasaan, tetapi memilih kesederhanaan dan amanah.
Ketika wafat, banyak orang mengenangnya sebagai pemimpin yang mengutamakan keadilan dan kepentingan umat.
Pelajaran: Jabatan bukan penghalang husnul khatimah. Yang menentukan adalah amanah yang dijalankan dengan takwa.
3. Wafatnya Imam Nawawi
Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang sangat tekun dalam ilmu dan ibadah. Karya-karyanya seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah terus dipelajari hingga hari ini.
Beliau meninggal dalam usia relatif muda, tetapi meninggalkan ilmu yang manfaatnya terus mengalir.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Pelajaran: Umur yang panjang bukan satu-satunya ukuran keberkahan. Yang penting adalah seberapa banyak manfaat yang ditinggalkan.
4. Orang Tua yang Saleh dan Dikenang Anak-Anaknya
Di tengah masyarakat, kita sering menemukan orang tua yang ketika meninggal dunia, anak-anaknya berkata:
“Ayah kami memang tidak meninggalkan banyak harta, tetapi beliau meninggalkan pendidikan, akhlak, dan doa yang tidak pernah putus.”
Anak-anak yang saleh akan terus mendoakan orang tuanya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga...”
(HR. Muslim)
Salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.
Pelajaran: Salah satu bentuk kematian yang dicemburui adalah ketika seseorang meninggalkan generasi yang meneruskan kebaikannya.
5. Orang yang Meninggal Setelah Menyelesaikan Amal Kebaikan
Ada orang yang meninggal setelah selesai mengajar Al-Qur’an, setelah membantu orang miskin, setelah menyelesaikan pembangunan masjid, atau setelah meminta maaf kepada keluarganya.
Kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti husnul khatimah, tetapi kita boleh berharap:
“Semoga Allah menerima amal baiknya dan menjadikan kebaikan itu sebagai penutup hidupnya.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mempekerjakannya.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana Dia mempekerjakannya?”
Beliau menjawab, “Dia memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum kematiannya.”
(HR. Tirmidzi)
Pelajaran: Salah satu tanda kebaikan adalah Allah memberi kesempatan kepada seseorang untuk melakukan amal saleh sebelum wafatnya.
F. Kematian yang Dicemburui Bukan Berarti Ingin Segera Mati
Jamaah yang dirahmati Allah,
Membicarakan kematian yang baik bukan berarti kita boleh berharap agar segera mati karena merasa hidup ini berat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kita diperintahkan untuk memperbaiki hidup, memperbanyak amal, dan memohon husnul khatimah.
Doa yang diajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik.”
Dan:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami.”
(QS. Ali ‘Imran: 8)
G. Bagaimana Agar Kita Mendapat Kematian yang Dicemburui?
1. Perbaiki Hubungan dengan Allah
Jaga salat, perbanyak zikir, baca Al-Qur’an, dan jangan tinggalkan kewajiban.
2. Perbaiki Hubungan dengan Manusia
Mintalah maaf, jangan suka menyakiti, jangan merampas hak orang lain, dan jangan menyimpan dendam.
3. Tinggalkan Amal yang Bermanfaat
Ajarkan ilmu, bantu orang miskin, wakafkan sebagian harta, dan didik anak-anak dengan agama.
4. Biasakan Berbuat Baik Setiap Hari
Jangan menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.
5. Berdoa agar Allah Menutup Hidup dengan Kebaikan
Karena husnul khatimah adalah karunia Allah yang harus kita mohonkan setiap hari.
H. Penutup: Jadilah Orang yang Ketika Pergi, Kebaikannya Tetap Tinggal
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kematian yang dicemburui bukanlah kematian yang membuat kita ingin segera meninggalkan dunia. Kematian yang dicemburui adalah kematian yang membuat kita berkata:
“Ya Allah, jika tiba saatnya Engkau memanggilku, panggillah aku dalam keadaan Engkau ridai.”
Jangan hanya bercita-cita meninggal dengan banyak orang yang mengantar. Bercita-citalah menjadi orang yang selama hidupnya banyak memberi manfaat.
Jangan hanya ingin dikenang setelah meninggal. Berusahalah menjadi orang yang ketika hidupnya masih ada, kehadirannya sudah dirasakan manfaatnya.
Jangan hanya ingin jenazah kita didoakan. Biasakanlah mendoakan orang lain ketika mereka masih hidup.
Karena sesungguhnya, kematian yang dicemburui adalah ketika seseorang pulang kepada Allah dengan membawa iman, amal saleh, dan cinta dari orang-orang yang ditinggalkannya.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan akhir kehidupan kita sebagai akhir yang baik.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Pertanyaan Refleksi untuk Jamaah
Jika saya meninggal hari ini, amal apa yang paling saya harapkan diterima Allah?
Apakah saya sudah menjadi orang yang dirindukan karena kebaikannya, bukan ditakuti karena keburukannya?
Jika orang-orang diminta bersaksi tentang saya, kebaikan apa yang mungkin mereka sebutkan?
Apa satu amal yang akan saya mulai hari ini agar menjadi bekal akhirat?
Pesan utama:
“Jangan hanya mempersiapkan kematian agar banyak yang mengantar, tetapi persiapkanlah kehidupan agar banyak yang merasakan manfaat.”
Semoga materi ini bermanfaat untuk penyuluhan dan pembinaan umat.






