Jumat, 28 Agustus 2026

KETENTUAN MAHAR DALAM HUKUM MUNAKAHAT Antara Kesanggupan dengan Pemaksaan Diri

KETENTUAN MAHAR DALAM HUKUM MUNAKAHAT

Antara Kesanggupan dengan Pemaksaan Diri

Oleh: Wahyu Salim

Pernikahan adalah salah satu peristiwa paling sakral dalam perjalanan hidup manusia. Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar pertemuan dua insan yang saling mencintai, tetapi sebuah ikatan suci (mitsaqan ghalizhan) yang dibangun di atas keimanan, tanggung jawab, kasih sayang, dan komitmen.

Di antara ketentuan penting dalam sebuah pernikahan adalah mahar. Hampir setiap prosesi akad nikah, perhatian kita sering tertuju pada saat mempelai pria menyebutkan mahar yang diberikan kepada calon istrinya. Ada yang sederhana: seperangkat alat salat, cincin emas, sejumlah uang, atau hafalan Al-Qur'an. Ada pula yang nilainya sangat besar, bahkan mencapai angka puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Lalu muncul sebuah pertanyaan: Apakah semakin mahal mahar, semakin tinggi pula kedudukan seorang perempuan? Sebaliknya, apakah mahar yang sederhana berarti seorang perempuan kurang dihargai?

Islam memiliki jawaban yang indah dan adil. Mahar memang merupakan hak perempuan, tetapi Islam tidak pernah menjadikan mahar sebagai alat untuk mempersulit pernikahan. Mahar harus berada di antara dua kutub: kesanggupan yang bertanggung jawab dan keinginan untuk tidak memberatkan diri.

Di sinilah pentingnya memahami ketentuan mahar dalam hukum munakahat.

Mahar: Hak Perempuan yang Dimuliakan Islam

Mahar adalah sesuatu yang wajib diberikan oleh calon suami kepada calon istrinya sebagai konsekuensi akad pernikahan. Allah Swt. berfirman:

“Berikanlah maskawin kepada perempuan-perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”
(QS. An-Nisa: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa mahar adalah bentuk pemberian yang memiliki kedudukan khusus dalam pernikahan. Mahar bukan pembayaran untuk “membeli” seorang perempuan. Mahar juga bukan harga tubuh, harga kecantikan, ataupun harga sebuah keluarga.

Perempuan bukan barang dagangan yang memiliki daftar harga.

Mahar adalah pemberian, penghormatan, dan simbol kesungguhan seorang laki-laki dalam memasuki kehidupan rumah tangga.

Karena itu, mahar merupakan hak istri. Orang tua, wali, saudara, bahkan pihak keluarga tidak boleh mengambil atau memanfaatkan mahar tersebut tanpa kerelaan pemiliknya.

Islam datang membawa perubahan besar dalam cara memandang perempuan. Pada masa tertentu dalam sejarah manusia, perempuan bahkan dapat diperlakukan seperti harta yang diwariskan. Islam kemudian menempatkan perempuan sebagai manusia yang memiliki hak, kehormatan, dan kepemilikan terhadap hartanya sendiri.

Salah satu wujud penghormatan itu adalah pemberian mahar.

Tidak Ada Batas Maksimal Mahar

Dalam hukum Islam, pada dasarnya tidak terdapat ketentuan angka maksimal yang membatasi jumlah mahar. Mahar dapat berupa uang, emas, barang, manfaat, atau sesuatu yang memiliki nilai dan dapat diserahkan sesuai ketentuan syariat.

Karena itu, jika seorang laki-laki memang memiliki kemampuan dan dengan penuh kerelaan ingin memberikan mahar dalam jumlah besar kepada calon istrinya, maka hal tersebut bukan sesuatu yang otomatis dilarang.

Persoalannya bukan semata-mata pada besar atau kecilnya angka.

Persoalan muncul ketika mahar berubah menjadi beban yang memaksa.

Ada perbedaan besar antara seorang laki-laki yang berkata:

“Saya mampu memberikan ini sebagai bentuk penghormatan kepada calon istri saya.”

Dengan seorang laki-laki yang berkata dalam hati:

“Saya sebenarnya tidak mampu, tetapi kalau tidak memberikan sebesar ini, pernikahan saya tidak akan disetujui.”

Yang pertama adalah kesanggupan.

Yang kedua dapat menjadi pemaksaan diri.

Ketika Mahar Berubah Menjadi Beban

Dalam kehidupan masyarakat, terkadang mahar menjadi bagian dari persaingan sosial. Ada yang ingin maharnya lebih tinggi karena anak tetangga mendapat mahar sekian. Ada yang merasa malu jika anak perempuannya menerima mahar sederhana. Ada pula yang menganggap besarnya mahar sebagai ukuran harga diri keluarga.

Padahal, pernikahan bukan panggung untuk mempertontonkan kemampuan ekonomi.

Tidak sedikit calon pengantin yang sebenarnya belum memiliki pekerjaan tetap, tabungan terbatas, bahkan masih memiliki tanggungan keluarga. Namun karena tuntutan mahar yang tinggi, ia akhirnya berutang.

Ada yang menjual kendaraan.

Ada yang menggadaikan barang.

Ada yang meminjam uang.

Bahkan ada yang memulai kehidupan rumah tangga dengan cicilan.

Ironisnya, sebelum akad nikah berlangsung, pasangan tersebut telah dibebani masalah keuangan.

Padahal rumah tangga seharusnya dimulai dengan harapan dan ketenangan, bukan dengan tagihan dan tekanan.

Inilah yang perlu menjadi perhatian bersama. Jangan sampai sebuah ketentuan yang bertujuan memuliakan perempuan justru berubah menjadi sebab dipersulitnya pernikahan.

Islam Mengajarkan Kemudahan

Rasulullah Saw. memberikan teladan bahwa keberkahan tidak selalu identik dengan kemewahan. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah Saw. menganjurkan kemudahan dalam urusan pernikahan dan tidak menjadikannya sesuatu yang memberatkan.

Maknanya sangat jelas: pernikahan hendaknya dibangun di atas kemampuan dan kemudahan.

Sederhana bukan berarti murahan.

Mahal bukan berarti lebih mulia.

Banyaknya emas tidak menjamin panjangnya usia rumah tangga.

Besarnya uang mahar tidak menjamin kesetiaan.

Sebaliknya, mahar yang sederhana tidak mengurangi kehormatan seorang perempuan.

Yang menentukan mulianya sebuah rumah tangga bukan angka yang tertulis dalam kuitansi, tetapi nilai yang hidup di dalamnya: iman, tanggung jawab, kesabaran, kesetiaan, komunikasi, dan kasih sayang.

Kesanggupan Harus Menjadi Pertimbangan

Dalam menentukan mahar, kemampuan calon suami seharusnya menjadi salah satu pertimbangan utama.

Kesanggupan bukan berarti memberikan sesuatu yang paling sedikit. Kesanggupan berarti memberikan sesuatu yang layak menurut keadaan dirinya tanpa mengabaikan tanggung jawab kehidupan setelah pernikahan.

Seorang pemuda yang memiliki penghasilan sederhana tentu berbeda dengan seseorang yang telah memiliki usaha besar.

Seorang pegawai dengan pendapatan terbatas tentu memiliki kemampuan yang berbeda dengan seorang pengusaha yang mapan.

Islam adalah agama yang realistis. Syariat tidak dibangun untuk memaksa manusia berada di luar batas kemampuannya.

Karena itu, pembicaraan tentang mahar sebaiknya dilakukan secara terbuka, jujur, dan penuh musyawarah.

Calon suami hendaknya tidak berpura-pura mampu.

Calon istri juga tidak seharusnya menuntut sesuatu di luar kemampuan hanya karena tekanan lingkungan.

Kejujuran sejak sebelum menikah justru menjadi fondasi yang sangat penting.

Sebab rumah tangga tidak dibangun untuk satu hari pesta.

Rumah tangga dibangun untuk perjalanan puluhan tahun.

Mahar Adalah Hak, Bukan Alat Pemaksaan

Perlu ditegaskan bahwa mahar merupakan hak perempuan. Karena itu, calon istri memiliki hak untuk menerima mahar yang disepakati.

Namun hak juga harus dijalankan dengan kebijaksanaan.

Islam tidak mengajarkan seorang perempuan untuk merasa rendah diri karena menerima mahar sederhana. Sebaliknya, seorang laki-laki juga tidak boleh meremehkan mahar dengan alasan kesederhanaan.

Yang paling penting adalah adanya kerelaan, kesepakatan, dan kemampuan.

Jangan sampai terjadi keadaan di mana seorang laki-laki dipaksa memenuhi tuntutan tertentu hanya karena keluarga calon istri telah menetapkan standar yang tidak mempertimbangkan kondisinya.

Lebih memprihatinkan lagi apabila tuntutan itu kemudian dicampuradukkan dengan berbagai biaya lain yang sebenarnya bukan mahar.

Kadang-kadang calon mempelai pria datang dengan membawa beban yang panjang:

mahar sekian juta, biaya pesta, biaya pakaian, biaya keluarga, hadiah tertentu, dan berbagai tuntutan tambahan lainnya.

Akhirnya, yang dibicarakan bukan lagi kesiapan membangun rumah tangga, tetapi kemampuan mengumpulkan uang.

Di titik ini, kita perlu bertanya: apakah kita sedang memudahkan pernikahan atau justru memperdagangkan gengsi?

Bedakan Mahar dengan Gengsi Sosial

Gengsi sering kali menjadi musuh yang tidak terlihat dalam kehidupan keluarga.

“Jangan kalah dengan keluarga sebelah.”

“Anak kita harus lebih tinggi maharnya.”

“Kalau terlalu kecil, nanti apa kata orang?”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa, tetapi dapat menjadi sumber masalah.

Pernikahan akhirnya bukan lagi tentang dua orang yang ingin membangun keluarga, melainkan tentang memenuhi ekspektasi masyarakat.

Padahal, masyarakat yang hari ini mengomentari besarnya mahar belum tentu ikut membayar cicilan utang setelah pesta selesai.

Mereka mungkin hadir satu hari di pesta.

Tetapi suami dan istri harus menjalani rumah tangga setiap hari.

Karena itu, calon pasangan perlu memiliki keberanian untuk mengatakan:

“Kami ingin menikah sesuai kemampuan kami.”

Kalimat ini bukan tanda kelemahan.

Justru inilah tanda kedewasaan.

Mahar yang Sederhana, Rumah Tangga yang Bermakna

Sejarah Islam memberikan banyak pelajaran bahwa kesederhanaan bukan penghalang datangnya kemuliaan.

Tidak semua rumah tangga besar dimulai dari rumah megah.

Tidak semua keluarga bahagia dimulai dari pesta yang mewah.

Kadang, sebuah rumah tangga dimulai dari mahar sederhana, akad sederhana, dan resepsi yang sederhana.

Tetapi di dalamnya terdapat suami yang bertanggung jawab.

Ada istri yang bersyukur.

Ada komunikasi yang baik.

Ada kesediaan untuk saling memahami.

Ada doa yang tidak pernah putus.

Inilah kekayaan yang sebenarnya.

Sebab ketika usia pernikahan telah mencapai puluhan tahun, orang tidak lagi sibuk mengingat berapa harga cincin yang diberikan pada hari akad.

Yang dikenang adalah bagaimana mereka saling menemani ketika sakit.

Bagaimana mereka bertahan ketika ekonomi sulit.

Bagaimana mereka membesarkan anak-anak.

Bagaimana mereka tetap bertahan ketika badai datang.

Itulah mahar kehidupan yang sebenarnya: kesetiaan dan pengorbanan yang terus diberikan setelah akad nikah.

Bagi Calon Suami: Jangan Memaksakan Diri

Bagi seorang laki-laki, keinginan memberikan yang terbaik kepada calon istri adalah sesuatu yang baik.

Namun jangan sampai keinginan itu berubah menjadi pemaksaan diri.

Jangan memulai rumah tangga dengan kebohongan.

Jangan mengatakan mampu jika sebenarnya tidak mampu.

Jangan berutang hanya untuk memuaskan gengsi.

Lebih baik memulai dengan kejujuran daripada memulai dengan kepura-puraan.

Kemampuan ekonomi memang penting dalam rumah tangga. Tetapi tanggung jawab tidak selalu diukur dari besarnya mahar.

Laki-laki yang bertanggung jawab adalah laki-laki yang mampu menjaga amanah.

Hari ini mungkin maharnya sederhana, tetapi jika ia bekerja keras, jujur, dan memiliki komitmen, maka ia dapat membangun kehidupan yang lebih baik bersama istrinya.

Rumah tangga adalah perjalanan bertumbuh, bukan pertunjukan kesempurnaan sejak awal.

Bagi Calon Istri: Jangan Mengukur Cinta dengan Angka

Bagi seorang perempuan, menerima mahar yang layak adalah hak.

Tetapi jangan sampai nilai diri sendiri diukur semata-mata dari angka mahar.

Cinta memang tidak cukup hanya dengan kata-kata. Laki-laki harus membuktikan kesungguhannya dengan tanggung jawab.

Namun kesungguhan juga tidak selalu harus ditunjukkan dengan nominal yang fantastis.

Lihatlah akhlaknya.

Perhatikan tanggung jawabnya.

Kenali cara ia memperlakukan orang tuanya.

Lihat bagaimana ia menghadapi masalah.

Perhatikan apakah ia jujur.

Apakah ia mau bekerja keras?

Apakah ia memiliki komitmen terhadap agama?

Sebab seorang suami tidak akan menjalani rumah tangga hanya dengan dompet.

Ia menjalani rumah tangga dengan kepribadiannya.

Peran Orang Tua Sangat Penting

Orang tua memiliki peran besar dalam memudahkan atau justru mempersulit pernikahan anak.

Kadang-kadang dua anak manusia sebenarnya sudah saling cocok dan siap menikah. Namun proses menjadi panjang karena tuntutan keluarga.

Ada yang menunda pernikahan karena harus mengumpulkan mahar.

Ada yang akhirnya memilih jalan yang tidak semestinya karena merasa pernikahan terlalu sulit dijangkau.

Karena itu, orang tua perlu menjadi pihak yang bijaksana.

Tugas orang tua bukan sekadar menjaga kehormatan keluarga di mata masyarakat. Yang lebih penting adalah membantu anak membangun kehidupan yang baik dan benar.

Jangan karena ingin pesta satu hari menjadi meriah, anak harus menjalani kehidupan bertahun-tahun dalam tekanan.

Orang tua yang bijaksana tidak hanya bertanya:

“Berapa mahar yang dibawa?”

Tetapi juga bertanya:

“Apakah anak ini memiliki tanggung jawab dan kesiapan membangun keluarga?”

Menemukan Titik Tengah

Mahar yang ideal bukan selalu yang paling murah dan bukan pula selalu yang paling mahal.

Mahar yang ideal adalah mahar yang memenuhi nilai:

Pertama, sesuai syariat.
Mahar merupakan sesuatu yang bernilai dan dapat menjadi hak istri.

Kedua, berdasarkan kesepakatan.
Tidak ada pemaksaan dan tidak ada pihak yang merasa dizalimi.

Ketiga, sesuai kemampuan.
Calon suami tidak dipaksa melampaui batas kemampuannya.

Keempat, penuh kerelaan.
Pemberian dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Kelima, tidak menjadi sumber kesulitan.
Jangan sampai mahar justru menghalangi terjadinya pernikahan.

Di antara kesanggupan dan pemaksaan diri, di situlah kebijaksanaan harus ditempatkan.

Penutup: Jangan Persulit yang Telah Dimuliakan Allah

Pernikahan adalah jalan ibadah.

Mahar adalah bagian dari kemuliaan akad pernikahan.

Karena itu, jangan merusak keindahan keduanya dengan gengsi dan pemaksaan.

Berikanlah mahar sesuai kemampuan terbaik.

Terimalah mahar dengan kerelaan dan kebijaksanaan.

Bicarakan dengan jujur.

Musyawarahkan dengan baik.

Jangan menjadikan pernikahan sebagai kompetisi kekayaan.

Sebab rumah tangga tidak membutuhkan pasangan yang sekadar mampu membuat pesta besar.

Rumah tangga membutuhkan pasangan yang mampu bertahan dalam ujian.

Pada akhirnya, mahar bukanlah ukuran seberapa mahal seseorang dihargai.

Mahar adalah tanda kesungguhan.

Dan kesungguhan yang paling berharga bukan hanya apa yang diberikan pada hari akad, tetapi apa yang terus diberikan sepanjang kehidupan.

Seorang suami mungkin memberikan emas pada hari pernikahan.

Tetapi setelah itu, ia harus memberikan waktu, tanggung jawab, kesetiaan, perlindungan, dan kasih sayang.

Seorang istri menerima mahar pada hari akad.

Tetapi setelah itu, ia juga memberikan pengorbanan, kesabaran, kesetiaan, dan cinta dalam perjalanan panjang rumah tangga.

Maka jangan biarkan angka menjadi penghalang.

Jangan biarkan gengsi menjadi beban.

Dan jangan biarkan tuntutan manusia lebih berat daripada kemudahan yang diajarkan agama.

Sebab pernikahan yang baik bukanlah pernikahan yang dimulai dengan kemewahan, tetapi pernikahan yang dimulai dengan keberkahan.

Antara kesanggupan dan pemaksaan diri, pilihlah jalan kesanggupan.
Antara gengsi dan keberkahan, pilihlah keberkahan.
Sebab yang kita bangun bukan sekadar pesta sehari, tetapi rumah tangga untuk seumur hidup.


Mengenal Allah, Mengikuti Rasulullah, dan Memahami Islam dengan Benar

 


NASKAH KHUTBAH JUMAT

MAKRIFATULLAH, MAKRIFATUR RASUL, DAN MAKRIFATUL ISLAM

Mengenal Allah, Mengikuti Rasulullah, dan Memahami Islam dengan Benar

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya takut kepada Allah, tetapi kesadaran bahwa hidup kita selalu berada dalam pengetahuan, pengawasan, dan kekuasaan Allah.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan tiga perkara yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang Muslim:

Makrifatullah — mengenal Allah.
Makrifatur Rasul — mengenal Rasulullah ﷺ.
Makrifatul Islam — mengenal dan memahami Islam.

Sebab boleh jadi seseorang mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi belum sungguh-sungguh mengenal Tuhannya.

Boleh jadi seseorang mengenal nama Nabi Muhammad ﷺ, tetapi belum benar-benar mengikuti akhlak dan sunnahnya.

Dan boleh jadi seseorang mengaku beragama Islam, tetapi belum memahami hakikat Islam sebagai jalan hidup yang sempurna.

Pertama: MAKRIFATULLAH — MENGENAL ALLAH

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Makrifatullah berarti mengenal Allah dengan ilmu yang benar, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengenal kebesaran-Nya, mengenal kekuasaan-Nya, kemudian melahirkan penghambaan kepada-Nya.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19). (Quran.com)

Perhatikan jamaah sekalian.

Allah tidak mengatakan sekadar: ucapkanlah.

Tetapi:

فَاعْلَمْ — “Maka ketahuilah.”

Artinya, tauhid harus dibangun di atas ilmu dan kesadaran.

Kita mengenal Allah melalui wahyu-Nya, melalui ayat-ayat Al-Qur’an, melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta, dan melalui nama-nama serta sifat-sifat-Nya yang diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56). (Quran)

Maka pertanyaan terbesar dalam hidup kita bukan hanya:

“Berapa banyak harta yang saya punya?”

Bukan pula:

“Seberapa tinggi jabatan saya?”

Tetapi:

“Seberapa dekat saya dengan Allah?”

Sebab ketika seseorang benar-benar mengenal Allah, ia akan menyadari:

Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur.

Ketika mendapat musibah, ia bersabar.

Ketika berdosa, ia segera bertaubat.

Ketika mendapatkan kesuksesan, ia tidak sombong.

Ketika kehilangan sesuatu, ia tidak berputus asa.

Mengapa?

Karena hatinya mengenal siapa Tuhannya.

Makrifatullah melahirkan muraqabah

Jamaah rahimakumullah,

Salah satu buah terbesar mengenal Allah adalah muraqabah—merasa selalu diawasi Allah.

Ada orang yang rajin beribadah ketika dilihat manusia.

Tetapi ketika sendirian, ia berani melakukan dosa.

Ini tanda bahwa pengawasan manusia lebih terasa daripada pengawasan Allah.

Padahal Allah berfirman bahwa Dia mengetahui gerak dan tempat tinggal kita. (Quran.com)

Maka orang yang mengenal Allah akan berkata dalam hatinya:

“Mungkin manusia tidak melihat saya, tetapi Allah melihat saya.”

Inilah kesadaran yang mampu menjaga manusia dari korupsi ketika tidak ada kamera, menjaga lisan ketika tidak ada yang menegur, menjaga kehormatan ketika tidak ada yang mengetahui.

Kedua: MAKRIFATUR RASUL — MENGENAL RASULULLAH ﷺ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah mengenal Allah, kita harus mengenal utusan-Nya:

Nabi Muhammad ﷺ.

Mengapa?

Karena kita tidak mungkin memahami bagaimana cara beribadah kepada Allah hanya dengan keinginan dan perasaan kita sendiri.

Kita membutuhkan teladan Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21). (Quran.com)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mengenal Rasulullah bukan hanya mengetahui bahwa beliau lahir di Makkah, hijrah ke Madinah, dan wafat di Madinah.

Makrifatur Rasul lebih dalam daripada sekadar pengetahuan sejarah.

Kita harus mengenal kejujurannya.

Mengenal amanahnya.

Mengenal kasih sayangnya.

Mengenal kesabarannya.

Mengenal ibadahnya.

Mengenal akhlaknya.

Mengenal perjuangannya.

Dan yang paling penting:

mengikuti petunjuknya.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ

“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali 'Imran: 31). (Quran.com)

Perhatikan!

Ukuran cinta kepada Allah bukan hanya ucapan.

Ukuran cinta kepada Allah adalah ittiba' kepada Rasulullah ﷺ.

Kita boleh mengatakan:

“Saya cinta Nabi.”

Tetapi cinta itu harus terlihat dalam kehidupan.

Kalau Nabi mengajarkan kejujuran, kita jujur.

Kalau Nabi mengajarkan kasih sayang, kita menyayangi.

Kalau Nabi melarang mencela, kita menjaga lisan.

Kalau Nabi mengajarkan shalat, kita menjaga shalat.

Kalau Nabi mengajarkan amanah, kita menjaga amanah.

Kalau Nabi mengajarkan persaudaraan, kita jangan mudah memutus persaudaraan.

Rasulullah adalah teladan kehidupan

Jamaah rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ bukan hanya teladan di masjid.

Beliau adalah teladan sebagai kepala keluarga.

Teladan sebagai pemimpin.

Teladan sebagai tetangga.

Teladan dalam berdagang.

Teladan dalam menghadapi orang yang berbeda.

Teladan dalam menghadapi musuh.

Teladan dalam memaafkan.

Teladan dalam memperlakukan anak-anak.

Maka jangan sampai kita hanya mencintai Rasulullah melalui selawat, tetapi jauh dari akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan sampai lisan kita banyak berselawat, tetapi masih suka menghina.

Jangan sampai kita rajin membaca sirah Nabi, tetapi tidak mau meneladani kejujurannya.

Jangan sampai kita mengaku umat Muhammad ﷺ, tetapi meninggalkan sunnah akhlaknya.

Makrifatur Rasul harus melahirkan ittiba'.

Ketiga: MAKRIFATUL ISLAM — MENGENAL ISLAM

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah mengenal Allah dan Rasul-Nya, kita harus mengenal agama yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ:

Islam.

Islam bukan hanya identitas di KTP.

Islam bukan hanya ritual.

Islam bukan hanya pakaian.

Islam bukan hanya simbol.

Islam adalah jalan hidup yang menghubungkan manusia dengan Allah dan sekaligus mengatur hubungan manusia dengan sesama.

Rasulullah ﷺ menjelaskan hakikat Islam dalam Hadis Jibril.

Ketika Malaikat Jibril datang dalam bentuk seorang manusia dan bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, beliau menjawab bahwa Islam adalah bersyahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan haji bagi yang mampu. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Shahih Muslim. (Sunnah)

Kemudian Jibril bertanya tentang iman.

Rasulullah ﷺ menjelaskan iman dengan beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan qadar. (Sunnah)

Kemudian Jibril bertanya tentang ihsan.

Rasulullah ﷺ menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim). (Sunnah)

Jamaah rahimakumullah,

Hadis Jibril ini sangat penting.

Di dalamnya terdapat bangunan besar agama:

Islam — Iman — Ihsan.

Islam memperbaiki amal lahir.

Iman memperbaiki keyakinan batin.

Ihsan memperbaiki kualitas hati.

Maka seorang Muslim yang sempurna bukan hanya terlihat baik secara lahir, tetapi juga benar dalam iman dan bersih dalam hati.

TIGA MAKRIFAT, SATU KEHIDUPAN

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kalau kita rangkum:

Makrifatullah

mengajarkan kita:

Siapa Tuhan kita?

Jawabannya:

Allah سبحانه وتعالى.

Makrifatur Rasul

mengajarkan:

Siapa teladan dan pembimbing kita?

Jawabannya:

Muhammad ﷺ.

Makrifatul Islam

mengajarkan:

Bagaimana kita menjalani kehidupan?

Jawabannya:

Dengan tunduk kepada Allah berdasarkan petunjuk Rasulullah ﷺ.

Inilah jalan keselamatan.

Jangan hanya mengenal agama, tetapi hiduplah dengan agama

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tantangan kita hari ini bukan sekadar kekurangan informasi agama.

Informasi agama sangat banyak.

Ceramah ada di mana-mana.

Kajian ada di mana-mana.

Video dakwah ada di mana-mana.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah ilmu itu sudah mengubah kita?

Apakah semakin banyak ilmu membuat kita semakin rendah hati?

Semakin banyak ilmu membuat kita semakin takut kepada Allah?

Semakin mengenal Nabi membuat kita semakin santun?

Semakin memahami Islam membuat kita semakin bermanfaat bagi orang lain?

Sebab ilmu yang benar seharusnya melahirkan amal.

Rasulullah ﷺ juga memberikan prinsip yang sangat singkat namun mendalam:

قُلْ آمَنْتُ بِاللّٰهِ فَاسْتَقِمْ

“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
(HR. Muslim). (Sunnah)

Jamaah rahimakumullah,

Maka jangan mencari agama yang hanya indah dalam pembicaraan.

Carilah pemahaman agama yang membuat kita lebih dekat kepada Allah, lebih cinta kepada Rasulullah, lebih baik ibadahnya, lebih santun akhlaknya, lebih jujur kehidupannya, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Penutup Khutbah Pertama

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Sudahkah saya mengenal Allah?

Bukan hanya mengetahui nama-Nya, tetapi merasakan pengawasan-Nya.

Sudahkah saya mengenal Rasulullah ﷺ?

Bukan hanya mengetahui sejarahnya, tetapi mengikuti sunnah dan akhlaknya.

Sudahkah saya mengenal Islam?

Bukan hanya sebagai identitas, tetapi sebagai jalan hidup.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mengenal-Nya, mencintai Rasul-Nya, memahami Islam dengan benar, dan istiqamah mengamalkannya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

اللهم أصلح قلوبنا، وطهر نفوسنا، وزكِّ أعمالنا، واجعلنا من عبادك المتقين.

اللهم حرر قلوبنا من الشرك والرياء، ومن عبودية الهوى والدنيا، ومن الكبر والعجب، واجعلنا لك عبادًا مخلصين.

اللهم احفظ بلادنا إندونيسيا، واجعلها بلدًا آمنًا مطمئنًا سخاءً رخاءً وسائر بلاد المسلمين.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار.

وصلِّ اللهم وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Selasa, 25 Agustus 2026

“MENELADANI RASULULLAH ﷺ: MENJADI RAHMAT, BUKAN SEKADAR SEREMONIAL”

 MAULID NABI MUHAMMAD ﷺ 1448 H

“MENELADANI RASULULLAH ﷺ: MENJADI RAHMAT, BUKAN SEKADAR SEREMONIAL”


Naskah Ceramah Agama

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.

Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur


A. PEMBUKAAN


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Marilah kita awali pertemuan yang penuh berkah ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa bukan hanya takut kepada Allah, tetapi kesungguhan untuk menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menghadirkan Allah dalam setiap langkah kehidupan kita.

Pada malam/hari yang penuh kebahagiaan ini, kita berkumpul dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1448 Hijriah.

Semoga majelis ini bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk bertanya kepada diri kita masing-masing:

Sejauh mana kita mengenal Rasulullah ﷺ?

Sejauh mana kita mencintai beliau?

Dan yang paling penting:

Sejauh mana akhlak Rasulullah ﷺ telah hadir dalam kehidupan kita?


B. NABI MUHAMMAD ﷺ: RAHMAT BAGI SELURUH ALAM


Jamaah yang dimuliakan Allah.

Allah SWT berfirman:


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ


“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya: 107).

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ hanya menjadi rahmat bagi orang Arab.

Tidak hanya bagi bangsa Quraisy.

Tidak hanya bagi umat Islam pada masa beliau.

Tetapi:

رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Rahmat bagi seluruh alam.

Karena itu, semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin besar pula kasih sayangnya kepada sesama manusia.

Semakin kuat sunnah Rasulullah dalam dirinya, seharusnya semakin lembut lisannya.

Semakin banyak ia bershalawat kepada Nabi, seharusnya semakin baik akhlaknya.

Jangan sampai kita rajin membaca shalawat, tetapi mudah menyakiti orang.

Jangan sampai kita merayakan Maulid, tetapi masih suka menghina.

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi keluarga sendiri tidak merasakan kelembutan akhlak kita.

Karena cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan mengikuti kehidupan beliau.


C. MENGAPA KITA HARUS MENCINTAI RASULULLAH ﷺ?


Jamaah rahimakumullah.

Allah SWT berfirman:


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ


“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”

(QS. Al-Ahzab: 21).

Ayat ini memberikan pesan yang sangat jelas.

Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk dikagumi.

Beliau adalah uswah, teladan.

Kalau kita ingin menjadi orang tua yang baik, lihat Rasulullah.

Kalau kita ingin menjadi pasangan yang baik, lihat Rasulullah.

Kalau kita ingin menjadi pemimpin yang baik, lihat Rasulullah.

Kalau kita ingin menjadi tetangga yang baik, lihat Rasulullah.

Kalau kita ingin menjadi pendidik yang baik, lihat Rasulullah.

Kalau kita ingin menjadi manusia yang baik, belajarlah dari Rasulullah ﷺ.


D. SEJARAH KELAHIRAN SANG PEMBAWA RAHMAT


Hadirin yang berbahagia.

Nabi Muhammad ﷺ lahir di kota Makkah dari keluarga Bani Hasyim.

Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibu beliau adalah Aminah binti Wahab.

Beliau lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya telah wafat sebelum beliau lahir.

Kemudian ketika usia beliau sekitar enam tahun, ibunya, Aminah, wafat.

Beliau kemudian berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthalib, dan setelah sang kakek wafat, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Sejak kecil, Rasulullah ﷺ telah mengalami kehidupan yang tidak mudah.

Namun Allah sedang mempersiapkan beliau menjadi manusia pilihan.

Beliau tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan terpercaya.

Masyarakat Makkah memberi beliau gelar:

Al-Amin — orang yang dapat dipercaya.

Ini pelajaran pertama bagi kita.

Sebelum menjadi Rasul, Muhammad ﷺ sudah dikenal karena akhlaknya.

Maka dakwah yang paling kuat sering kali bukan suara yang keras.

Bukan kata-kata yang panjang.

Tetapi keteladanan.


E. DARI “AL-AMIN” MENJADI RASUL ALLAH


Ketika Rasulullah ﷺ berusia 40 tahun, beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira melalui Malaikat Jibril.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

(QS. Al-'Alaq: 1).

Sejak saat itu dimulailah tugas besar Rasulullah ﷺ:

mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa, meninggalkan kemusyrikan, memperbaiki akhlak, menegakkan keadilan, dan membangun kehidupan yang penuh kasih sayang.

Dakwah itu tidak mudah.

Beliau dihina.

Beliau dicaci.

Beliau dituduh sebagai penyihir, pendusta, bahkan orang gila.

Namun Rasulullah ﷺ tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Beliau tetap sabar.

Beliau tetap mendoakan.

Beliau tetap mengajak manusia kepada kebaikan.


F. KISAH THAIF: KETIKA DAKWAH DIBALAS DENGAN KEKERASAN


Jamaah yang dirahmati Allah.

Salah satu episode paling menyentuh dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ adalah peristiwa Thaif.

Rasulullah ﷺ datang ke Thaif untuk mengajak masyarakatnya kepada Islam.

Namun dakwah beliau ditolak.

Bahkan beliau mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan.

Dalam keadaan terluka, Malaikat menawarkan kemungkinan untuk membalas penduduk Thaif.

Tetapi Rasulullah ﷺ tidak memilih balas dendam.

Beliau berharap agar generasi setelah mereka kelak menjadi orang-orang yang beriman.

Subhanallah.

Inilah akhlak Rasulullah.

Ketika beliau memiliki alasan untuk marah, beliau memilih memaafkan.

Ketika beliau mampu membalas, beliau memilih mendoakan.

Ketika beliau disakiti, beliau tetap berharap kebaikan bagi orang lain.

Maka mari kita bertanya:

Bagaimana dengan kita?

Sedikit disindir langsung marah.

Sedikit dikritik langsung tersinggung.

Ditegur sedikit langsung memutus silaturahmi.

Di media sosial, satu komentar berbeda pendapat bisa membuat persaudaraan bertahun-tahun rusak.

Padahal Rasulullah mengajarkan:

jadilah pembawa rahmat.


G. RASULULLAH ﷺ DAN AKHLAK YANG MULIA


Allah SWT memuji Rasulullah ﷺ:


وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ


“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

(QS. Al-Qalam: 4).

Akhlak Rasulullah bukan teori.

Akhlak Rasulullah terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau menghormati orang tua.

Menyayangi anak-anak.

Menghormati perempuan.

Memuliakan tetangga.

Menjaga hubungan dengan keluarga.

Menyantuni orang miskin.

Memaafkan orang yang bersalah.

Dan menjaga lisannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari).

Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.

Karena zaman berubah.

Teknologi berubah.

Media komunikasi berubah.

Tetapi akhlak tetap menjadi kebutuhan manusia.

Hari ini tangan kita bisa mengetik sesuatu dalam beberapa detik.

Tetapi akibatnya bisa dirasakan orang lain bertahun-tahun.

Satu komentar bisa menyakiti.

Satu unggahan bisa memfitnah.

Satu berita yang tidak diperiksa bisa memecah persaudaraan.

Maka mari kita hidupkan kembali pesan Rasulullah:

Kalau tidak bisa berkata baik, lebih baik diam.


H. MAULID BUKAN SEKADAR SEREMONIAL


Hadirin rahimakumullah.

Memperingati Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada membaca shalawat, ceramah, makan bersama, lalu setelah acara selesai semuanya kembali seperti semula.

Maulid harus menjadi momentum perubahan diri.

Setelah Maulid:

shalat kita semakin baik.

Al-Qur'an semakin dekat.

Hubungan dengan orang tua semakin hangat.

Rumah tangga semakin harmonis.

Anak-anak semakin kita sayangi.

Tetangga semakin kita hormati.

Persaudaraan semakin kita jaga.

Dan kehidupan sosial kita semakin menghadirkan kedamaian.

Karena Rasulullah ﷺ hadir membawa rahmat.


I. RASULULLAH ﷺ SEBAGAI PEMIMPIN


Jamaah yang dimuliakan Allah.

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau tidak hanya membangun masjid.

Beliau membangun peradaban.

Masjid menjadi pusat ibadah dan pembinaan umat.

Kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar.

Masyarakat yang berbeda latar belakang dibangun dalam kehidupan bersama.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang semuanya sama.

Tetapi masyarakat yang mampu hidup bersama dengan saling menghormati.

Ini menjadi pelajaran besar bagi kita.

Kita hidup di Indonesia.

Kita berbeda suku.

Berbeda bahasa.

Berbeda budaya.

Berbeda pilihan.

Namun kita tetap satu bangsa.

Karena itu, mari kita meneladani Rasulullah ﷺ dalam membangun kehidupan yang damai.

Berbeda bukan alasan untuk bermusuhan.

Berbeda bukan alasan untuk saling merendahkan.

Perbedaan harus menjadi ruang untuk saling mengenal dan saling menghormati.


J. RASULULLAH ﷺ DAN KELUARGA


Hadirin yang berbahagia.

Kalau ingin melihat akhlak Rasulullah, jangan hanya melihat beliau ketika berada di mimbar.

Lihat bagaimana beliau memperlakukan keluarganya.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang sangat lembut kepada keluarganya.

Beliau menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak.

Beliau membantu pekerjaan rumah.

Beliau memperlakukan istri dengan baik.

Inilah pelajaran penting bagi kita.

Jangan sampai seseorang terlihat sangat baik di luar rumah, tetapi justru menjadi orang paling kasar di dalam rumah.

Jangan sampai di masjid kita ramah kepada jamaah, tetapi di rumah kita mudah marah kepada istri.

Jangan sampai kita pandai memberikan nasihat kepada masyarakat, tetapi anak sendiri takut berbicara kepada kita.

Maulid Nabi harus mengingatkan kita:

Rasulullah ﷺ adalah teladan pertama dan utama dalam membangun keluarga yang penuh kasih sayang.


K. RASULULLAH ﷺ DAN GENERASI MUDA


Jamaah rahimakumullah.

Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan generasi muda.

Ada Ali bin Abi Thalib yang masih muda.

Ada Usamah bin Zaid.

Ada Mus'ab bin Umair.

Ada Abdullah bin Abbas.

Ada Mu'adz bin Jabal.

Mereka diberi kepercayaan, pendidikan dan tanggung jawab.

Rasulullah tidak memandang anak muda hanya sebagai objek dakwah.

Beliau melihat mereka sebagai kekuatan umat dan masa depan peradaban.

Karena itu, mari kita dekatkan generasi muda dengan masjid.

Jangan hanya menyalahkan mereka ketika mereka salah.

Dekati mereka.

Dengarkan mereka.

Bimbing mereka.

Berikan ruang.

Berikan kepercayaan.

Dan yang paling penting:

jadilah teladan di hadapan mereka.

Anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada mengingat apa yang kita katakan.


L. RASULULLAH ﷺ DAN KASIH SAYANG


Rasulullah ﷺ adalah pribadi yang penuh kasih sayang.

Beliau bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya.”

Perhatikan.

Iman dikaitkan dengan akhlak sosial.

Artinya, kualitas iman tidak hanya terlihat dari panjangnya doa kita.

Tidak hanya dari banyaknya ibadah pribadi.

Tetapi juga terlihat dari:

apakah tetangga merasa aman karena keberadaan kita?

apakah keluarga merasa nyaman bersama kita?

apakah teman merasa dihargai oleh kita?

apakah masyarakat merasakan manfaat dari kehadiran kita?

Inilah Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Islam yang menghadirkan rahmat.


M. CINTA KEPADA RASULULLAH HARUS DIBUKTIKAN


Hadirin yang saya hormati.

Kita semua tentu mengaku mencintai Rasulullah ﷺ.

Kita bershalawat.

Kita menyebut nama beliau dengan penuh cinta.

Namun mari kita naikkan kualitas cinta itu.

Cinta bukan hanya ucapan.

Cinta harus melahirkan ketaatan.

Allah SWT berfirman:


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ


“Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”

(QS. Ali Imran: 31).

Maka tanda cinta kepada Rasulullah ﷺ antara lain:

Pertama, mencintai Allah dan memperkuat tauhid.

Kedua, menjaga shalat.

Ketiga, memperbanyak membaca shalawat.

Keempat, mempelajari sirah dan sunnah beliau.

Kelima, meneladani akhlaknya.

Keenam, menjaga lisan.

Ketujuh, menyayangi keluarga dan tetangga.

Kedelapan, menjaga persaudaraan.

Kesembilan, menjadi pribadi yang bermanfaat.

Dan kesepuluh, terus memperbaiki diri meskipun perlahan.


N. MAULID DAN REFLEKSI KEHIDUPAN KITA


Jamaah yang berbahagia.

Mari kita gunakan Maulid 1448 H ini sebagai momentum untuk melakukan muhasabah.

Tanyakan kepada diri kita:

Bagaimana shalat saya?

Bagaimana hubungan saya dengan Al-Qur'an?

Bagaimana hubungan saya dengan orang tua?

Bagaimana sikap saya kepada pasangan?

Bagaimana pendidikan agama anak-anak saya?

Bagaimana hubungan saya dengan tetangga?

Apakah lisan saya sering menyakiti orang?

Apakah media sosial saya menjadi sumber pahala atau justru sumber dosa?

Dan satu pertanyaan yang sangat penting:


Jika Rasulullah ﷺ melihat kehidupan kita hari ini, apakah beliau akan tersenyum melihat akhlak kita?


Pertanyaan ini tidak perlu kita jawab dengan suara.

Jawablah dalam hati.

Karena Maulid bukan hanya tentang mengingat kelahiran Nabi.

Maulid adalah tentang menghadirkan kembali keteladanan Nabi dalam kehidupan kita.


O. EMPAT WARISAN BESAR RASULULLAH ﷺ


Hadirin rahimakumullah.

Setidaknya ada empat warisan besar Rasulullah yang harus kita hidupkan.


1. Tauhid


Jangan menggantungkan hati kepada selain Allah.

Allah adalah tempat bergantung.


2. Al-Qur'an


Jangan hanya membaca Al-Qur'an ketika ada acara.

Jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupan.


3. Sunnah


Pelajari dan amalkan sunnah Rasulullah dengan ilmu dan kebijaksanaan.


4. Akhlak


Karena ilmu tanpa akhlak dapat menjadi kesombongan.

Ibadah tanpa akhlak sosial dapat kehilangan ruhnya.

Maka mari kita satukan:

iman, ilmu, ibadah dan akhlak.


P. PESAN UNTUK DIRI SENDIRI


Jamaah yang saya muliakan.

Sebelum mengajak orang lain menjadi baik, mari kita mulai dari diri sendiri.

Sebelum meminta anak menjadi saleh, mari kita menjadi orang tua yang saleh.

Sebelum menuntut pasangan menjadi baik, mari kita memperbaiki diri.

Sebelum menyalahkan masyarakat, mari bertanya:

Apa kontribusi yang sudah saya berikan?

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita menjadi manusia yang memberikan manfaat.

Maka mari kita menjadi:

Muslim yang menenangkan, bukan menakutkan.

Muslim yang merangkul, bukan memukul.

Muslim yang mengajak, bukan mencela.

Muslim yang menjadi solusi, bukan menambah masalah.

Muslim yang menghadirkan rahmat di mana pun berada.


Q. PENUTUP


Hadirin yang dirahmati Allah.

Kita tidak hidup satu zaman dengan Rasulullah ﷺ.

Kita tidak pernah melihat wajah beliau.

Kita tidak pernah mendengar suara beliau secara langsung.

Tetapi kita masih dapat mencintai beliau.

Bagaimana caranya?

Kenali beliau.

Pelajari sejarah beliau.

Baca sunnah beliau.

Perbanyak shalawat.

Dan yang terpenting:

ikuti akhlak beliau.

Semoga Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1448 H ini membuat kita bukan hanya semakin banyak berbicara tentang Rasulullah, tetapi semakin banyak meneladani Rasulullah.

Semoga setelah pulang dari majelis ini:

yang sedang renggang kembali dekat,

yang sedang marah mau memaafkan,

yang sedang jauh dari masjid kembali datang,

yang sedang jauh dari Al-Qur'an kembali membacanya,

yang sedang bermasalah dalam rumah tangga kembali membuka pintu dialog,

dan yang sedang kehilangan harapan kembali menemukan jalan menuju Allah.


R. DOA PENUTUP


Mari kita tundukkan kepala dan hati kita kepada Allah SWT.

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ.

Ya Allah, tanamkan dalam hati kami kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada Nabi-Mu Muhammad ﷺ.

Ya Allah, jadikan kami umat yang benar-benar mencintai Rasulullah, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan amal dan akhlak.

Ya Allah, jadikan rumah tangga kami rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Ya Allah, sayangi kedua orang tua kami. Ampuni dosa mereka. Berikan kesehatan, keberkahan dan kemuliaan kepada mereka yang masih hidup, dan tempatkan mereka yang telah wafat di tempat terbaik di sisi-Mu.

Ya Allah, bimbing anak-anak kami. Jadikan mereka generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, mencintai Al-Qur'an dan mencintai Rasulullah ﷺ.

Ya Allah, jadikan negeri kami Indonesia negeri yang aman, damai, rukun dan diberkahi.

Ya Allah, jauhkan bangsa kami dari perpecahan, kebencian, fitnah dan permusuhan.

Ya Allah, jadikan kami pribadi-pribadi yang menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan seluruh alam.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 21 Agustus 2026

KETIKA BADAI ITU DATANG? Madrasah Keluarga Sakinah Mengajarkan Kita Bahwa Rumah Tangga Bukan Tempat Tanpa Masalah

 


KETIKA BADAI ITU DATANG?

Madrasah Keluarga Sakinah Mengajarkan Kita Bahwa Rumah Tangga Bukan Tempat Tanpa Masalah

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
KUA Padang Panjang Timur

Ada keluarga yang terlihat begitu bahagia dari luar. Foto bersama selalu tersenyum. Suami dan istri tampak mesra. Anak-anak tumbuh dengan baik. Rumahnya rapi, kehidupannya berkecukupan. Tetapi kita tidak pernah tahu, badai apa yang sedang mereka tahan di dalam rumah.

Sebab, rumah tangga bukanlah laut yang selalu tenang.

Ada kalanya matahari bersinar terang. Ada kalanya angin sepoi-sepoi membuat perjalanan terasa menyenangkan. Tetapi suatu waktu, awan gelap datang. Angin bertiup kencang. Gelombang meninggi. Kapal kehidupan keluarga pun berguncang.

Ketika badai itu datang, apa yang harus dilakukan?

Di sinilah pentingnya Madrasah Keluarga Sakinah.

Madrasah keluarga bukan berarti keluarga yang tidak pernah bertengkar. Bukan pula keluarga yang setiap hari penuh dengan kata-kata romantis. Keluarga sakinah adalah keluarga yang memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan dengan iman, ilmu, kesabaran, komunikasi, dan kasih sayang.

Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah tidak mengatakan bahwa pernikahan akan membuat hidup tanpa masalah. Allah berbicara tentang sakinah, mawaddah, dan rahmah—ketenteraman, cinta, dan kasih sayang.

Artinya, tujuan pernikahan bukan sekadar tinggal serumah, makan bersama, mempunyai anak, atau memenuhi kebutuhan biologis. Pernikahan adalah perjalanan panjang untuk saling menenteramkan dan saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah.

Rumah Tangga Adalah Sekolah Kehidupan

Kita sering menyebut keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak. Ungkapan ini benar. Tetapi sesungguhnya keluarga bukan hanya sekolah bagi anak.

Suami juga belajar di dalam keluarga. Istri juga belajar. Orang tua juga belajar.

Belajar menjadi pasangan yang sabar. Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mengendalikan emosi. Belajar mendengarkan. Belajar memahami perbedaan karakter. Belajar menghadapi persoalan ekonomi. Belajar mendidik anak. Bahkan belajar bahwa terkadang kita harus mengalah meskipun merasa benar.

Pernikahan mempertemukan dua manusia yang berbeda.

Berbeda kebiasaan, berbeda cara berpikir, berbeda latar belakang keluarga, bahkan berbeda cara mengekspresikan kasih sayang.

Ada suami yang merasa dirinya sudah mencintai karena bekerja keras mencari nafkah. Tetapi istrinya mungkin membutuhkan perhatian dan komunikasi.

Ada istri yang merasa sudah menunjukkan cinta dengan mengurus rumah dan anak-anak. Tetapi suaminya mungkin membutuhkan penghargaan dan kelembutan.

Keduanya bisa sama-sama mencintai, tetapi gagal membaca bahasa cinta masing-masing.

Di sinilah pendidikan keluarga diperlukan.

Keluarga tidak cukup dibangun dengan cinta. Cinta perlu ilmu.

Sebab cinta tanpa ilmu bisa melahirkan kecemburuan. Cinta tanpa komunikasi bisa melahirkan kesalahpahaman. Cinta tanpa kesabaran bisa berubah menjadi pertengkaran. Bahkan cinta tanpa iman bisa berubah menjadi keinginan untuk memiliki dan menguasai pasangan.

Ketika Badai Ekonomi Datang

Salah satu badai terbesar dalam rumah tangga adalah persoalan ekonomi.

Ketika pendapatan berkurang, kebutuhan bertambah, pekerjaan tidak menentu, cicilan datang setiap bulan, sementara anak-anak membutuhkan biaya pendidikan, rumah tangga bisa mulai kehilangan ketenangan.

Masalahnya terkadang bukan semata-mata kekurangan uang.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kesulitan ekonomi mengubah cara suami dan istri memperlakukan satu sama lain.

Suami mulai mudah marah.

Istri mulai banyak menuntut.

Anak-anak menjadi korban suasana rumah.

Pada saat seperti itu, keluarga sakinah mengajarkan satu prinsip sederhana:

Hadapi masalahnya, jangan saling memusuhi.

Kemiskinan adalah masalah. Pasangan bukan masalah.

Penghasilan yang kecil adalah masalah. Suami bukan musuh.

Pengeluaran yang besar adalah masalah. Istri bukan lawan.

Kalau keluarga mampu memisahkan antara masalah dan orang yang sedang menghadapi masalah bersama, banyak konflik sebenarnya dapat dicegah.

Ketika Komunikasi Mulai Mati

Banyak rumah tangga tidak hancur karena satu pertengkaran besar. Mereka justru perlahan-lahan kehilangan hubungan karena komunikasi yang semakin sedikit.

Awalnya hanya malas berbicara.

Kemudian lebih banyak diam.

Lalu setiap berbicara selalu berujung pertengkaran.

Akhirnya masing-masing memilih mencari tempat lain untuk mencurahkan perasaan.

Di zaman digital, persoalan ini semakin rumit. Suami duduk di ruang yang sama dengan istri, tetapi sibuk dengan telepon genggam. Istri berada di samping suami, tetapi pikirannya berada di dunia media sosial.

Rumah menjadi dekat secara fisik, tetapi jauh secara emosional.

Karena itu, keluarga sakinah membutuhkan waktu tanpa gawai.

Ada waktu untuk berbicara.

Ada waktu untuk mendengar.

Ada waktu untuk bertanya:

“Bagaimana perasaanmu hari ini?”

“Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih?”

“Apa yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan sederhana semacam itu terkadang lebih menyembuhkan daripada nasihat panjang.

Sebab dalam rumah tangga, seseorang tidak selalu membutuhkan solusi. Kadang ia hanya ingin didengar.

Ketika Ego Menjadi Badai

Badai paling berbahaya dalam rumah tangga terkadang bukan kemiskinan, bukan mertua, bukan pekerjaan, bahkan bukan persoalan anak.

Badai itu bernama ego.

“Pokoknya saya benar.”

“Dia yang harus minta maaf.”

“Saya tidak mau mengalah.”

“Kalau dia tidak berubah, saya juga tidak akan berubah.”

Kalimat-kalimat seperti ini terlihat sederhana, tetapi apabila terus dipelihara, dapat menjadi tembok yang tinggi di antara suami dan istri.

Islam mengajarkan kemuliaan akhlak, termasuk kemampuan menahan marah.

Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Maka kekuatan seorang suami bukan hanya ketika ia mampu mencari nafkah.

Kekuatan seorang istri bukan hanya ketika ia mampu mengurus rumah.

Kekuatan keduanya adalah ketika mereka mampu mengendalikan diri saat emosi sedang tinggi.

Ada kalanya kemenangan terbesar dalam rumah tangga bukan memenangkan argumentasi.

Kemenangan terbesar adalah menyelamatkan hubungan.

Anak-Anak Adalah Penumpang Kapal

Ketika kapal rumah tangga diterpa badai, anak-anak sebenarnya ikut merasakan guncangannya.

Mereka mungkin tidak memahami masalah orang tuanya. Tetapi mereka dapat merasakan suara yang meninggi, pintu yang dibanting, wajah yang murung, dan suasana rumah yang dingin.

Karena itu, jangan menjadikan anak sebagai hakim dalam konflik suami istri.

Jangan mengatakan:

“Ayahmu memang begitu.”

atau:

“Ibumu tidak pernah mengerti.”

Anak tidak seharusnya dipaksa memilih antara ayah dan ibunya.

Anak membutuhkan kedua orang tuanya untuk menjadi tempat aman.

Kalaupun terjadi konflik, orang tua perlu belajar menyelesaikannya dengan cara yang tidak merusak jiwa anak.

Sebab bisa jadi pertengkaran yang dianggap biasa oleh orang tua justru menjadi luka yang dibawa anak sampai dewasa.

Madrasah Keluarga Mengajarkan Seni Berdamai

Dalam keluarga sakinah, konflik bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Konflik adalah sesuatu yang harus dikelola.

Suami dan istri boleh berbeda pendapat. Tetapi berbeda pendapat tidak berarti berbeda tujuan.

Keduanya harus kembali kepada pertanyaan:

“Apa yang paling baik bagi keluarga kita?”

Bukan:

“Siapa yang menang?”

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat menjadi kurikulum Madrasah Keluarga Sakinah.

Pertama, biasakan meminta maaf.

Tidak perlu menunggu pasangan mengaku salah lebih dahulu.

Kedua, belajar mengucapkan terima kasih.

Jangan menganggap kebaikan pasangan sebagai sesuatu yang otomatis.

Ketiga, jangan membuka aib pasangan kepada sembarang orang.

Tidak semua masalah rumah tangga harus menjadi konsumsi keluarga besar, tetangga, apalagi media sosial.

Keempat, bangun ibadah bersama.

Shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdoa, bersedekah, dan saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan energi spiritual keluarga.

Kelima, miliki waktu khusus untuk berbicara.

Tidak harus mahal. Minum kopi bersama di teras rumah pun bisa menjadi ruang komunikasi yang sangat berharga.

Keenam, jangan mengambil keputusan besar ketika sedang marah.

Marah membuat seseorang melihat masalah secara sempit. Karena itu, ketika emosi meninggi, berhenti sejenak. Tenangkan diri. Berwudhu. Shalat. Tidur bila perlu. Kemudian bicarakan kembali setelah hati lebih tenang.

Sakinah Bukan Berarti Tidak Ada Air Mata

Kita perlu meluruskan satu kesalahpahaman.

Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak pernah menangis.

Keluarga sakinah juga bukan keluarga yang tidak pernah mengalami masalah.

Bahkan keluarga yang paling baik pun dapat mengalami ujian.

Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau menghadapi berbagai ujian kehidupan. Para sahabat juga mengalami persoalan keluarga, ekonomi, sosial, dan perjuangan.

Maka jangan merasa rumah tangga kita gagal hanya karena sedang menghadapi badai.

Badai bukan tanda kapal gagal.

Badai adalah bagian dari perjalanan.

Yang menentukan keselamatan kapal bukan apakah ia pernah diterpa badai, tetapi apakah nakhoda tahu bagaimana menghadapinya.

Begitu pula keluarga.

Yang menentukan kualitas keluarga bukan ketiadaan masalah, tetapi kemampuan keluarga menghadapi masalah dengan iman dan akhlak.

Jika Badai Terlalu Besar, Jangan Berlayar Sendirian

Ada persoalan yang dapat diselesaikan berdua.

Tetapi ada pula masalah yang membutuhkan bantuan pihak ketiga.

Ketika komunikasi sudah buntu, konflik terus berulang, terjadi kekerasan, persoalan nafkah tidak terselesaikan, atau hubungan suami istri semakin jauh, jangan malu mencari bantuan.

Konselor keluarga, BP4, penyuluh agama, tokoh agama, atau pihak profesional dapat menjadi tempat mencari jalan keluar.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Justru itu tanda bahwa kita masih ingin menyelamatkan keluarga.

Namun, dalam menghadapi konflik keluarga, bantuan harus diberikan dengan kehati-hatian. Jangan sampai orang yang seharusnya mendamaikan justru memperbesar konflik.

Tujuan utama bukan memenangkan salah satu pihak.

Tujuannya adalah mencari jalan terbaik, menjaga martabat, melindungi anak, dan menghadirkan kemaslahatan.

Jangan Tunggu Rumah Roboh untuk Memperbaikinya

Sering kali manusia baru menyadari pentingnya sesuatu setelah kehilangan.

Jangan menunggu pasangan pergi baru menyadari betapa berharganya dia.

Jangan menunggu anak menjauh baru menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk.

Jangan menunggu perceraian di depan mata baru belajar berkomunikasi.

Jangan menunggu rumah tangga retak baru belajar menjadi pasangan yang baik.

Rawatlah rumah tangga ketika masih sehat.

Sediakan waktu sebelum masalah datang.

Bicarakan keuangan sebelum terjadi konflik.

Bicarakan pendidikan anak sebelum terjadi perbedaan.

Bicarakan hubungan suami istri dengan terbuka dan penuh penghormatan.

Bicarakan masa depan.

Bicarakan harapan.

Bicarakan ketakutan.

Bicarakan pula kematian dan akhirat.

Sebab pada akhirnya, keluarga Muslim bukan hanya ingin tinggal bersama di dunia.

Kita berharap dapat berkumpul kembali di surga Allah.

Menjadi Keluarga yang Tumbuh Bersama

Madrasah Keluarga Sakinah sejatinya adalah pendidikan sepanjang hayat.

Suami belajar menjadi suami.

Istri belajar menjadi istri.

Orang tua belajar menjadi orang tua.

Anak belajar menjadi anak yang berbakti.

Tidak ada yang langsung sempurna.

Kita semua sedang belajar.

Maka jangan menuntut pasangan menjadi manusia sempurna sementara kita sendiri masih penuh kekurangan.

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa pasangan saya tidak berubah?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa saya ubah dari diri saya?”

Pertanyaan kedua sering kali menjadi awal perubahan besar.

Karena keluarga tidak dibangun oleh manusia yang sempurna.

Keluarga dibangun oleh manusia biasa yang mau terus memperbaiki diri.

Ketika Badai Itu Datang...

Suatu hari nanti, mungkin badai akan datang.

Bisa berupa persoalan ekonomi.

Bisa berupa sakit.

Bisa berupa konflik dengan keluarga besar.

Bisa berupa kenakalan anak.

Bisa berupa perbedaan prinsip.

Bisa berupa ujian pekerjaan.

Bisa berupa masalah komunikasi.

Bisa berupa ujian kesetiaan.

Ketika itu terjadi, jangan buru-buru mengatakan:

“Rumah tangga kita sudah selesai.”

Boleh jadi Allah sedang mengajarkan sesuatu.

Berhenti sejenak.

Pegang tangan pasangan.

Ingat kembali akad yang pernah diucapkan.

Ingat wajah anak-anak.

Ingat doa orang tua.

Dan yang paling penting, ingat Allah yang menyatukan kalian.

Kemudian katakan:

“Badai ini kita hadapi bersama.”

Sebab keluarga sakinah bukan keluarga yang hidup tanpa badai.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang ketika badai datang, mereka tidak saling meninggalkan kapal. Mereka saling menguatkan, memperbaiki layar, menenangkan anak-anak, dan bersama-sama mencari arah menuju pantai keselamatan.

Dan selama Allah masih menjadi tujuan, masih ada doa.

Selama masih ada doa, masih ada harapan.

Selama masih ada kemauan untuk memperbaiki diri, masih ada jalan pulang.

Karena rumah tangga yang sakinah bukan rumah yang tidak pernah retak, tetapi rumah yang penghuninya selalu mau memperbaiki retakan dengan iman, cinta, ilmu, kesabaran, dan kasih sayang.


Kamis, 20 Agustus 2026

PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

 


KHUTBAH JUMAT

21 AGUSTUS 2026

PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

Tema: Dari Perjuangan Merebut Kemerdekaan Menuju Perjuangan Membangun Peradaban

“Para ulama dahulu berjuang agar kita memperoleh kemerdekaan. Tugas ulama dan umat hari ini adalah memastikan kemerdekaan itu melahirkan peradaban.”

Wahyu Salim, Penyuluh Agama Isam KUA Padang Panjang Timur

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.


وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ 
يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa.

Takwa bukan hanya banyaknya ibadah ritual, tetapi juga bagaimana iman itu melahirkan kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kepedulian dan amal nyata dalam kehidupan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

(QS. Ali 'Imran: 102)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Beberapa hari yang lalu bangsa Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Bendera Merah Putih dikibarkan.

Lagu kebangsaan dinyanyikan.

Upacara dilaksanakan.

Pawai digelar.

Berbagai perlombaan diadakan.

Semua itu baik sebagai ekspresi kegembiraan.

Tetapi sebagai orang beriman, kita harus bertanya lebih dalam:

Apa makna kemerdekaan bagi seorang Muslim?

Apakah kemerdekaan hanya berarti bebas dari penjajahan?

Apakah kemerdekaan hanya berarti kita mempunyai bendera, pemerintahan dan wilayah sendiri?

Tentu tidak.

Kemerdekaan adalah nikmat sekaligus amanah.

Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada kita untuk membangun kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih berilmu, lebih bermartabat dan lebih dekat kepada Allah SWT.

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

ULAMA DAN KESADARAN KEMERDEKAAN

Ketika kita membaca sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kita menemukan bahwa kemerdekaan tidak lahir dalam satu malam.

Ada perjuangan panjang.

Ada pengorbanan.

Ada pendidikan.

Ada organisasi.

Ada pers.

Ada pergerakan pemuda.

Ada kaum perempuan.

Ada tokoh adat.

Ada kaum intelektual.

Ada rakyat biasa.

Dan ada pula para ulama dan santri.

Ulama mempunyai peran yang sangat penting bukan hanya karena mereka ikut dalam perjuangan fisik, tetapi karena mereka terlebih dahulu membangun kesadaran manusia tentang kemuliaan, kebebasan dan tanggung jawab.

Ulama mengajarkan:

manusia hanya boleh tunduk mutlak kepada Allah.

Kalimat lā ilāha illallāh bukan sekadar kalimat yang kita ucapkan.

Ia adalah deklarasi tauhid.

Bahwa tidak ada manusia yang boleh menjadi Tuhan bagi manusia lainnya.

Tidak boleh ada kekuasaan yang membuat manusia kehilangan martabatnya.

Tidak boleh ada penjajahan yang merampas hak manusia.

Tidak boleh ada kezaliman yang dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Karena itu, tauhid mempunyai konsekuensi sosial.

Orang yang benar-benar bertauhid tidak mudah diperbudak oleh manusia.

Ia tidak menjual prinsip karena jabatan.

Tidak menjual kejujuran karena uang.

Tidak menjual kebenaran karena popularitas.

Dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sesembahan baru.

ULAMA BUKAN SEKADAR BERBICARA, TETAPI MEMBANGUN MANUSIA

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah yang perlu kita renungkan dari sejarah para ulama.

Mereka tidak hanya mengajarkan:

“Bagaimana manusia masuk surga?”

Tetapi juga mengajarkan:

“Bagaimana manusia hidup bermartabat sebelum masuk surga?”

Pesantren bukan hanya tempat belajar membaca kitab.

Pesantren juga membangun karakter.

Masjid bukan hanya tempat shalat.

Masjid juga menjadi pusat pendidikan dan pembinaan umat.

Mimbar bukan hanya tempat memberikan nasihat.

Mimbar adalah tempat membangunkan kesadaran.

Dan ulama bukan hanya orang yang mengetahui hukum agama.

Ulama harus menjadi pencerah masyarakat.

Dalam bahasa Muhammadiyah, agama harus melahirkan amal usaha yang nyata dan berkemajuan.

Ilmu harus menjadi amal.

Iman harus menjadi akhlak.

Islam harus menjadi rahmat.

Dan dakwah harus menghasilkan perubahan.

KISAH TUANKU IMAM BONJOL

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di Sumatera Barat kita mengenal seorang ulama besar:

Tuanku Imam Bonjol.

Beliau bukan sekadar pemimpin perang.

Beliau adalah seorang ulama yang memiliki pengaruh keagamaan dan sosial yang besar.

Perjuangan yang kemudian dikenal sebagai Perang Padri mempunyai sejarah yang kompleks. Ia bermula dari dinamika internal masyarakat Minangkabau dan pembaruan keagamaan, kemudian berkembang dalam konteks intervensi dan kolonialisme Belanda.

Karena itu sejarah harus kita baca dengan ilmu, bukan hanya dengan emosi.

Tetapi satu hal jelas:

Tuanku Imam Bonjol menjadi salah satu simbol perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan kolonial Belanda.

Dari kisah beliau kita belajar:

ilmu dapat melahirkan keberanian.

Tetapi keberanian harus dikendalikan oleh ilmu.

Sebab keberanian tanpa ilmu bisa menjadi kekacauan.

Dan ilmu tanpa keberanian bisa menjadi teori yang tidak pernah mengubah keadaan. 

KH. AHMAD DAHLAN

Beliau bukan pejuang yang dikenal karena mengangkat senjata di medan perang.

Beliau adalah pejuang yang mengangkat *ilmu, pendidikan, tauhid dan amal.*

KH Ahmad Dahlan memahami bahwa penjajahan bukan hanya persoalan penguasaan wilayah.

Ada bentuk penjajahan yang jauh lebih dalam:

penjajahan terhadap pikiran.

Masyarakat yang bodoh mudah diperdaya.

Masyarakat yang miskin ilmu mudah dipengaruhi.

KH HASYIM ASY'ARI DAN RESOLUSI JIHAD

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita juga mengenal sejarah KH Hasyim Asy'ari.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum benar-benar aman.

Kemerdekaan telah diproklamasikan, tetapi kedaulatan belum sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia.

Dalam situasi tersebut, para ulama berkumpul di Surabaya.

Lahir apa yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Resolusi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membangkitkan mobilisasi rakyat dan santri untuk mempertahankan Republik yang baru berdiri.

Beberapa pekan kemudian terjadi pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Jamaah sekalian,

Kita jangan membaca sejarah tersebut hanya dengan semangat romantisme.

Kita harus mengambil nilai perjuangannya.

Apa nilainya?

Bahwa para ulama tidak hidup jauh dari persoalan masyarakat.

Ketika bangsa menghadapi ancaman, ulama hadir.

Ketika masyarakat membutuhkan arah, ulama hadir.

Ketika umat kehilangan harapan, ulama membangkitkan optimisme.

Inilah salah satu makna ulama sebagai pewaris perjuangan para nabi.

JIHAD DENGAN KONTEKS ZAMANNYA

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita juga harus berhati-hati memahami istilah jihad.

Jihad bukan sinonim kekerasan.

Jihad berarti kesungguhan mencurahkan kemampuan di jalan Allah.

Dalam konteks perjuangan kemerdekaan 1945, bangsa Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kolonialisme.

Tetapi dalam kehidupan kita hari ini, medan perjuangan telah berubah.

Hari ini kita tidak diperintahkan untuk mencari musuh.

Justru kita harus menjadi pembawa kedamaian.

Jihad kita hari ini antara lain:

melawan kebodohan dengan ilmu,

melawan kemiskinan dengan pemberdayaan,

melawan korupsi dengan integritas,

melawan narkoba dengan pendidikan,

melawan hoaks dengan tabayyun,

melawan kebencian dengan persaudaraan,

melawan kerusakan lingkungan dengan kepedulian,

dan melawan kemalasan dengan kerja keras.

Itulah perjuangan kita.

DARI MEREBUT KEMERDEKAAN MENUJU MEMBANGUN PERADABAN

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada perbedaan besar antara merebut kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.

Merebut kemerdekaan membutuhkan keberanian.

Mempertahankan kemerdekaan membutuhkan pengorbanan.

Tetapi membangun bangsa merdeka membutuhkan:

ilmu,

akhlak,

keadilan,

institusi yang kuat,

ekonomi yang sehat,

dan manusia yang berkualitas.

Karena itu, jangan kita merasa sudah menjadi bangsa besar hanya karena sudah merdeka 81 tahun.

Usia 81 tahun seharusnya membuat kita semakin dewasa.

Kita harus bertanya:

Apakah pendidikan kita semakin maju?

Apakah masyarakat semakin sejahtera?

Apakah hukum semakin adil?

Apakah korupsi semakin berkurang?

Apakah anak-anak kita semakin berakhlak?

Apakah lingkungan semakin terjaga?

Apakah persatuan semakin kuat?

Inilah pertanyaan kemerdekaan yang sesungguhnya.

BALDATUN THAYYIBATUN

Allah memberikan gambaran tentang sebuah negeri yang baik dalam Al-Qur'an:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.”

(QS. Saba': 15)

Konsep baldatun thayyibatun bukan sekadar negeri yang kaya.

Bukan sekadar jalan yang bagus.

Bukan sekadar gedung yang tinggi.

Bukan sekadar ekonomi yang tumbuh.

Tetapi negeri yang baik adalah negeri yang kehidupan masyarakatnya menghadirkan kebaikan, keadilan, kesejahteraan, keamanan dan keberkahan.

Karena itu kita ingin Indonesia bukan hanya:

negara yang maju,

tetapi juga

bangsa yang berakhlak.

Bukan hanya:

masyarakat yang kaya,

tetapi juga

masyarakat yang peduli.

Bukan hanya:

pembangunan yang cepat,

tetapi juga

pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

JANGAN TINGGALKAN GENERASI YANG LEMAH

Allah SWT berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”

(QS. An-Nisa': 9)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ayat ini sangat relevan untuk kehidupan bangsa.

Jangan kita wariskan kepada anak cucu:

hutang yang berat,

lingkungan yang rusak,

pendidikan yang tertinggal,

konflik sosial,

kebencian politik,

dan krisis moral.

Kita harus mewariskan:

ilmu,

iman,

akhlak,

kesehatan,

lingkungan yang baik,

ekonomi yang kuat,

dan persatuan bangsa.

TUGAS ULAMA SETELAH KEMERDEKAAN

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kalau dahulu ulama ikut mengobarkan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini peran ulama justru semakin besar.

Setidaknya ada lima tugas utama ulama dan mubalig.

Pertama: Menjaga Tauhid

Jangan sampai manusia merdeka dari penjajahan, tetapi menjadi budak harta.

Jangan sampai merdeka dari kolonialisme, tetapi menjadi budak jabatan.

Jangan sampai bebas secara politik, tetapi tidak bebas dari hawa nafsu.

Kemerdekaan yang paling hakiki adalah:

menjadi hamba Allah.

Kedua: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Ulama harus mencintai ilmu.

Masyarakat harus didorong membaca.

Anak-anak harus mendapatkan pendidikan terbaik.

Umat Islam tidak boleh alergi terhadap ilmu pengetahuan.

Karena wahyu pertama yang turun adalah:

اقْرَأْ

Bacalah!

Maka umat yang ingin maju harus menjadi umat yang membaca, berpikir, meneliti dan belajar.

Ketiga: Menjaga Persatuan

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103)

Perbedaan adalah kenyataan.

Perbedaan fikih ada.

Perbedaan organisasi ada.

Perbedaan pilihan politik ada.

Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan.

Masjid jangan menjadi tempat saling mencaci.

Mimbar jangan menjadi tempat menyebarkan kebencian.

Dakwah jangan menjadi alat mempermalukan orang lain.

Dakwah harus menjadi jalan memperbaiki manusia.

Keempat: Menegakkan Keadilan

Kemerdekaan tidak boleh hanya dirasakan oleh sebagian orang.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”

(QS. An-Nahl: 90)

Maka ulama harus terus menyuarakan keadilan dengan hikmah.

Mendukung kebaikan pemerintah ketika pemerintah melakukan kebaikan.

Mengingatkan ketika ada kekeliruan.

Tidak menjadi corong kekuasaan.

Tetapi juga tidak menjadi penyebar kebencian kepada kekuasaan.

Ulama harus menjadi kekuatan moral masyarakat.

Kelima: Menggerakkan Amal Nyata

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah semangat Islam berkemajuan.

Jangan hanya berbicara tentang kemiskinan.

Bantu orang miskin.

Jangan hanya berbicara tentang pendidikan.

Bangun pendidikan.

Jangan hanya berbicara tentang kebersihan.

Bersihkan masjid dan lingkungan.

Jangan hanya berbicara tentang kerukunan.

Datangi tetangga dan saudara kita.

Jangan hanya berbicara tentang ekonomi umat.

Bangun pemberdayaan ekonomi umat.

Agama yang hidup adalah agama yang melahirkan amal nyata.

Muhammadiyah sendiri dalam momentum HUT ke-81 RI menekankan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan amal nyata, kebermanfaatan, persatuan dan pembangunan kesejahteraan rakyat. (Muhammadiyah)

JAMA'AH JUMAT YANG DIMULIAKAN ALLAH

Kita sering bertanya:

“Apa yang sudah diberikan negara kepada saya?”

Hari ini mari kita balik pertanyaannya:

“Apa yang sudah saya berikan kepada negara?”

Jangan hanya bertanya:

“Indonesia sudah maju atau belum?”

Tanyakan:

“Apakah saya sudah ikut memajukan Indonesia?”

Jangan hanya mengeluh:

“Anak muda sekarang bagaimana?”

Tanyakan:

“Sudahkah saya menjadi teladan bagi anak muda?”

Jangan hanya mengatakan:

“Umat harus bersatu.”

Tanyakan:

“Apakah saya sudah berhenti memusuhi saudara saya hanya karena berbeda?”

Inilah refleksi kemerdekaan.

PENUTUP KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Para ulama dan pejuang telah memberikan sesuatu yang sangat mahal:

kemerdekaan.

Ada yang memberikan ilmunya.

Ada yang memberikan hartanya.

Ada yang memberikan waktunya.

Ada yang meninggalkan keluarga.

Dan ada yang memberikan nyawanya.

Kita tidak mungkin membalas pengorbanan mereka.

Tetapi kita dapat menghormati mereka dengan meneruskan cita-citanya.

Jika dahulu mereka berjuang agar kita bebas dari penjajahan,

maka hari ini:

kita berjuang agar generasi kita bebas dari kebodohan.

Jika dahulu mereka berjuang melawan kolonialisme,

hari ini kita melawan:

korupsi, narkoba, kemiskinan, kebencian, intoleransi dan kerusakan moral.

Jika dahulu mereka menjaga tanah air,

hari ini kita menjaga:

persatuan, lingkungan dan masa depan generasi.

Semoga Allah menjadikan Indonesia negeri yang baik:

baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

اللهم أصلح قلوبنا، وطهر نفوسنا، وزكِّ أعمالنا، واجعلنا من عبادك المتقين.

اللهم حرر قلوبنا من الشرك والرياء، ومن عبودية الهوى والدنيا، ومن الكبر والعجب، واجعلنا لك عبادًا مخلصين.

اللهم احفظ بلادنا إندونيسيا، واجعلها بلدًا آمنًا مطمئنًا سخاءً رخاءً وسائر بلاد المسلمين.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار.

وصلِّ اللهم وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

 


PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

Ceramah Agama dalam Semangat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Karena atas rahmat-Nya, kita masih diberi kesempatan menikmati sebuah nikmat yang sering kita rasakan, tetapi kadang lupa kita syukuri: nikmat kemerdekaan.

Hari ini kita bisa berdiri di masjid dengan tenang.
Kita bisa mengumandangkan azan tanpa rasa takut.
Anak-anak kita bisa belajar.
Para ulama bisa berdakwah.
Para guru bisa mengajar.
Para pedagang bisa mencari rezeki.
Dan kita bisa berkumpul dalam majelis seperti ini tanpa harus meminta izin kepada penjajah.

Itulah kemerdekaan.

Tetapi pertanyaannya:

Siapa yang merebut kemerdekaan itu?

Apakah hanya tentara?

Tidak!

Apakah hanya para politisi?

Tidak!

Apakah hanya para pejuang yang memegang senjata?

Juga tidak!

Di balik perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada ulama dan santri yang menggerakkan kesadaran umat, membangkitkan keberanian, mengajarkan bahwa membela tanah air dan mempertahankan kehormatan bangsa adalah bagian dari tanggung jawab manusia kepada Allah.

1. ULAMA BUKAN HANYA BERDIRI DI MIMBAR

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita kadang membayangkan ulama hanya sebagai orang yang duduk di masjid, memegang kitab, memakai peci, kemudian berbicara di atas mimbar.

Padahal sejarah menunjukkan:

Ketika bangsa ini diinjak-injak, ulama turun dari mimbar menuju medan perjuangan.

Ketika umat kehilangan keberanian, ulama meniupkan semangat.

Ketika masyarakat kehilangan arah, ulama memberikan pedoman.

Ketika penjajah berusaha memecah belah umat, ulama mengajarkan persatuan.

Jadi ulama bukan sekadar penjaga mimbar, tetapi juga penjaga moral bangsa.

Ada kisah yang sangat terkenal dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Ketika tentara Sekutu dan Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi, suasana di Jawa Timur sangat genting.

Kemudian lahirlah sebuah keputusan besar dari para ulama melalui Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945, yang dikaitkan erat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Tokoh besar di balik semangat itu adalah KH Hasyim Asy’ari.

Pesannya sederhana tetapi mengguncangkan:

Kemerdekaan yang sudah diproklamasikan jangan dibiarkan dirampas kembali.

Para santri bergerak.

Para pemuda bergerak.

Masyarakat bergerak.

Dan akhirnya meletuslah perlawanan besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Karena itu, tidak berlebihan jika kita mengatakan:

Kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis dengan tinta di atas kertas, tetapi juga ditulis dengan air mata, darah, doa, dan pengorbanan para ulama, santri, dan seluruh rakyat.

2. KISAH ULAMA DAN SANTRI: ILMU YANG MELAHIRKAN KEBERANIAN

Hadirin rahimakumullah,

Ada pelajaran menarik dari sejarah pesantren.

Para santri belajar kitab.

Mereka belajar fikih.

Mereka belajar tafsir.

Mereka belajar hadis.

Tetapi ketika tanah air dipanggil untuk dibela, ilmu itu tidak berhenti menjadi hafalan.

Ilmu berubah menjadi amal.

Inilah yang penting bagi kita hari ini.

Jangan sampai kita menjadi orang yang banyak tahu tetapi sedikit berbuat.

Jangan sampai kita hafal ayat tentang persaudaraan, tetapi senang memusuhi saudara.

Hafal hadis tentang persatuan, tetapi gemar menyebarkan berita yang memecah belah.

Bicara cinta tanah air, tetapi membuang sampah sembarangan.

Mengaku cinta Indonesia, tetapi ketika berbeda pilihan politik, tetangga sendiri dianggap musuh.

Ini lucu kalau direnungkan.

Dulu para pejuang berbeda-beda suku, organisasi, bahkan pandangan, tetapi mereka bersatu menghadapi penjajah.

Sekarang penjajah sudah tidak ada di depan mata, tetapi kita justru bisa bertengkar hanya karena beda pilihan!

Kadang-kadang kita tidak perlu penjajah untuk memecah bangsa.

Cukup satu grup WhatsApp!

Satu pesan yang belum jelas sumbernya, langsung diteruskan.

Belum selesai dibaca, sudah dibagikan.

Ditanya sumbernya, jawabannya:

"Katanya..."

Padahal "katanya" itu kadang lebih cepat menyebar daripada ilmu.

Hadirin tertawa kecil, tetapi mudah-mudahan kita juga bercermin.

3. ULAMA MEREBUT KEMERDEKAAN DENGAN TIGA SENJATA

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kalau kita renungkan, ulama dahulu berjuang dengan setidaknya tiga kekuatan besar:

Pertama: ILMU

Ulama memberikan kesadaran bahwa manusia tidak boleh hidup dalam kehinaan.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam."
(QS. Al-Isra’: 70)

Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kehormatan.

Karena itu, penjajahan yang merendahkan manusia harus dilawan.

Ulama membangun kesadaran bahwa umat Islam harus menjadi manusia yang merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.

Kedua: DOA

Para ulama tidak hanya mengangkat tangan untuk berdoa.

Mereka juga mengajarkan bahwa doa harus diikuti perjuangan.

Doa tanpa usaha adalah kelemahan.

Usaha tanpa doa adalah kesombongan.

Maka para pejuang berdoa sekaligus berjuang.

Mereka menangis di hadapan Allah, kemudian berdiri menghadapi musuh.

Ketiga: PERSATUAN

Ulama menyatukan umat.

Karena mereka memahami:

Musuh terbesar sebuah bangsa bukan hanya serangan dari luar, tetapi perpecahan dari dalam.

Allah berfirman:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

"Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang."
(QS. Al-Anfal: 46)

Perhatikan!

Allah tidak hanya mengatakan jangan berperang.

Allah mengingatkan:

Jangan bertengkar, karena pertengkaran menghilangkan kekuatan.

4. SETELAH MERDEKA, TUGAS ULAMA BELUM SELESAI

Hadirin rahimakumullah,

Ada satu hal penting.

Jangan kita kira setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, tugas ulama selesai.

Belum!

Justru perjuangan berikutnya jauh lebih berat.

Dulu musuh terlihat.

Sekarang musuh kadang tidak terlihat.

Dulu senjata berupa meriam.

Sekarang bisa berupa narkoba, korupsi, judi online, pornografi, hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, kemalasan, kebodohan, dan kerusakan moral.

Dulu penjajah ingin menguasai tanah air.

Sekarang ada ancaman yang ingin menguasai pikiran dan hati generasi muda.

Maka ulama hari ini harus kembali mengambil peran.

Bukan dengan mengangkat senjata.

Tetapi dengan mengangkat ilmu, akhlak, dakwah, keteladanan, dan kepedulian sosial.

5. KEMERDEKAAN HARUS DIPERTAHANKAN DARI PENJAJAHAN HAWA NAFSU

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada penjajahan yang lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

Yaitu ketika manusia menjadi budak hawa nafsunya sendiri.

Orang mungkin sudah merdeka dari penjajahan asing, tetapi belum tentu merdeka dari:

keserakahan, iri hati, kesombongan, kemarahan, syahwat, dan cinta dunia.

Apa artinya kita merdeka sebagai bangsa kalau manusia di dalamnya menjadi budak korupsi?

Apa artinya kita merdeka kalau anak-anak muda menjadi budak narkoba?

Apa artinya kita merdeka kalau masyarakat menjadi budak judi?

Apa artinya kita merdeka kalau keluarga menjadi korban kekerasan?

Apa artinya kita merdeka kalau masjid ramai, tetapi akhlak kosong?

Karena itu, kemerdekaan yang sejati dimulai dari kemerdekaan hati.

Seorang mukmin hanya tunduk kepada Allah.

Ia tidak menjadi budak jabatan.

Tidak menjadi budak uang.

Tidak menjadi budak pujian.

Tidak menjadi budak popularitas.

Tidak menjadi budak kekuasaan.

Inilah tugas ulama: membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah.

6. ULAMA HARUS MENJADI PENDINGIN DI TENGAH PANASNYA MASYARAKAT

Hadirin rahimakumullah,

Zaman sekarang masyarakat mudah panas.

Sedikit berbeda pendapat, langsung emosi.

Sedikit berbeda pilihan, langsung unfollow.

Berbeda organisasi, dianggap berbeda agama.

Berbeda mazhab, persaudaraan putus.

Padahal ulama seharusnya hadir sebagai penyejuk.

Bukan memperbesar api.

Bukan memperlebar jurang.

Bukan mengumpulkan kebencian.

Tetapi menghadirkan hikmah.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik."
(QS. An-Nahl: 125)

Maka semakin besar ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut lisannya.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hati sikapnya.

Semakin banyak pengikutnya, semakin besar tanggung jawabnya.

Jangan sampai seseorang merasa dirinya paling benar sampai lupa bahwa kebenaran tidak membutuhkan kesombongan.

7. ULAMA HARI INI HARUS TURUN MENYENTUH PERSOALAN UMAT

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ulama hari ini tidak cukup hanya berbicara tentang halal dan haram.

Ulama juga harus berbicara tentang:

  • keluarga yang hampir bercerai;

  • anak-anak yang terjerat narkoba;

  • remaja yang kecanduan gawai;

  • masyarakat miskin yang membutuhkan pemberdayaan;

  • ekonomi umat;

  • zakat dan wakaf;

  • stunting;

  • kerukunan umat beragama;

  • lingkungan;

  • literasi digital;

  • kesehatan moral generasi muda;

  • serta perdamaian di tengah masyarakat.

Karena agama hadir untuk memberi rahmat.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Kami tidak mengutus engkau, Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya’: 107)

Maka dakwah harus terasa sebagai rahmat.

Orang yang datang dengan masalah jangan pulang membawa luka baru.

Orang yang datang dengan dosa jangan kita hina.

Orang yang tersesat jangan kita dorong semakin jauh.

Tugas kita adalah membuka pintu kembali kepada Allah.

8. DARI ULAMA, KITA BELAJAR: CINTA TANAH AIR BUKAN SEKADAR UPACARA

Hadirin yang berbahagia,

Setiap bulan Agustus kita memasang bendera.

Kita ikut upacara.

Kita menyanyikan lagu kebangsaan.

Kita memakai pakaian merah putih.

Itu semua baik.

Tetapi jangan berhenti di simbol.

Cinta tanah air harus menjadi amal.

Guru mencintai Indonesia dengan mendidik anak bangsa.

Petani mencintai Indonesia dengan menghasilkan pangan.

Pedagang mencintai Indonesia dengan berdagang secara jujur.

Aparatur mencintai Indonesia dengan memberikan pelayanan terbaik.

Ulama mencintai Indonesia dengan menjaga umat tetap beriman dan rukun.

Pemuda mencintai Indonesia dengan menjauhi narkoba dan menjaga masa depan.

Orang tua mencintai Indonesia dengan mendidik anak-anaknya menjadi generasi saleh.

Dan masyarakat mencintai Indonesia dengan menjaga kerukunan.

Itulah kemerdekaan yang hidup.

9. PENUTUP: DARI DARAH PARA PEJUANG MENUJU AMAL KITA

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita bayangkan sejenak.

Delapan puluh satu tahun lebih yang lalu, para pejuang tidak tahu apakah mereka akan kembali pulang.

Mereka meninggalkan rumah.

Meninggalkan keluarga.

Ada yang tidak kembali.

Tetapi mereka tetap maju.

Mengapa?

Karena mereka percaya bahwa generasi setelah mereka harus hidup lebih baik.

Kita adalah generasi yang mereka perjuangkan.

Pertanyaannya:

Sudahkah kita menjadi generasi yang layak menerima kemerdekaan itu?

Kalau para ulama dahulu berjuang merebut kemerdekaan, maka tugas kita adalah mempertahankan kemerdekaan dengan iman, ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian.

Jangan biarkan kemerdekaan kehilangan ruhnya.

Jangan biarkan masjid kehilangan jamaahnya.

Jangan biarkan keluarga kehilangan kasih sayangnya.

Jangan biarkan anak muda kehilangan masa depannya.

Jangan biarkan perbedaan menghancurkan persaudaraan.

Dan jangan biarkan bangsa ini kehilangan akhlaknya.

Mari kita lanjutkan perjuangan para ulama.

Dahulu mereka berjihad melawan penjajahan.
Hari ini kita berjihad melawan kebodohan.
Dahulu mereka mengusir penjajah dari tanah air.
Hari ini kita harus mengusir kemaksiatan dari diri dan keluarga.
Dahulu mereka merebut kemerdekaan.
Hari ini kita mempertahankan kemerdekaan dengan ketakwaan dan persatuan.

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan para ulama kita sebagai cahaya bagi umat, menjadikan para pemimpin kita sebagai pemimpin yang amanah, menjaga Indonesia sebagai negeri yang damai, dan menjadikan kita semua manusia yang merdeka karena hanya tunduk kepada Allah SWT.

Mari kita tutup dengan doa.

اللهم اغفر لنا ذنوبنا، ولآبائنا وأمهاتنا، ولعلمائنا ومشايخنا، وللمجاهدين والشهداء من أبناء bangsa Indonesia.

اللهم احفظ بلادنا إندونيسيا، واحفظ أمنها ووحدتها وسلامتها.

اللهم اجعل إندونيسيا بلداً آمناً مطمئناً، وارزق أهلها الإيمان والتقوى.

اللهم ألف بين قلوبنا، وأصلح ذات بيننا، واهدنا سبل السلام.

اللهم انصر أهل الحق، وأصلح شبابنا، واحفظ أبناءنا وبناتنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pesan penutup

“Kemerdekaan direbut oleh keberanian para pejuang, dibimbing oleh doa dan ilmu para ulama, dan dipertahankan oleh akhlak serta persatuan generasi setelahnya.”

Merdeka bukan berarti bebas berbuat apa saja.
Merdeka berarti bebas dari penjajahan manusia dan hawa nafsu, untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dengan iman, bersatu dalam kerukunan, bergerak dalam pengabdian.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur