Ketika Panggilan Azan Lebih Kuat daripada Bayang-Bayang Masa Lalu
Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Pagi itu, Kota Padang Panjang masih diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Langit tampak bersih setelah semalam diguyur hujan. Aktivitas di Pasar Padang Panjang mulai menggeliat. Para pedagang menata dagangan, pembeli datang silih berganti, dan kendaraan mulai memenuhi area parkir.
Saya baru saja keluar dari Warung Kopi Fajar, tempat sederhana yang sering menjadi ruang diskusi ringan bersama masyarakat. Secangkir kopi pagi telah habis, tetapi obrolan tentang kehidupan masih terasa hangat di hati.
Ketika melangkah menuju kendaraan, terdengar suara yang memanggil dengan nada penuh hormat.
"Pak Ust...!"
Saya menoleh.
Seorang pria dengan rompi juru parkir sedang tersenyum lebar. Wajahnya tampak lebih cerah daripada yang pernah saya kenal beberapa tahun lalu.
"Pak Ust... masih ingek jo awak?" sapanya dengan logat Minang yang kental.
Saya mencoba mengingat-ingat wajah itu. Ada sesuatu yang terasa akrab, tetapi belum juga menemukan jawabannya.
Dengan spontan saya tersenyum sambil bercanda.
"Alumni di dalam, ya?"
Ia langsung tertawa lepas.
"Hehe... iyo Pak... lai taingek dek apak awak."
Kalimat itu membuat saya langsung memahami maksudnya.
"Oh... Robert?"
Ia mengangguk.
"Iyo Pak... awak Robert." Terlihat badannya tambah berisi.
"Sehat bana kini yo..."?, sapa saya. Alah lamak makan kini pak, jawab Robert
Kami pun berjabat tangan erat.
Entah mengapa, genggaman itu terasa berbeda.
Tidak ada lagi tatapan kosong seperti dulu. Yang saya lihat pagi itu adalah mata yang penuh harapan.
Robert bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu ia telah menyelesaikan masa pembinaan sebagai Warga Binaan Pemasyarakatan.
Hari itu, ketika pintu lembaga pemasyarakatan terbuka, bukan hanya langkah kakinya yang keluar.
Tetapi juga harapan baru.
Ia mengaku sempat diliputi rasa cemas.
"Apakah keluarga masih mau menerima saya?"
"Apakah masyarakat masih memberi kesempatan?"
"Apakah saya masih layak dipercaya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.
Namun Allah ternyata menyiapkan jawaban yang sangat indah.
Sesampainya di rumah, keluarganya menyambutnya dengan pelukan.
Ibunya menangis.
Ayahnya memeluk tanpa banyak kata.
Saudara-saudaranya menyambutnya dengan senyum yang selama ini begitu ia rindukan.
Tidak ada kalimat yang menghakimi.
Tidak ada tatapan yang merendahkan.
Yang ada hanyalah kasih sayang.
Robert mengaku, justru saat itulah ia menangis paling lama.
"Bukan karena sedih, Pak Ust..."
"Tapi karena Allah masih memberi saya keluarga."
Air mata itu menjadi saksi bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan kedua.
Hari-hari berikutnya tidak mudah.
Robert sadar.
Ia harus memulai semuanya dari nol.
Ia tidak malu mencari pekerjaan apa pun yang halal.
Baginya, pekerjaan yang sederhana jauh lebih mulia daripada penghasilan besar yang diperoleh dengan cara yang salah.
Kini ia menjadi juru parkir di Pasar Padang Panjang.
Sejak pagi hingga sore, ia membantu pengguna jasa parkir dengan senyum yang tulus.
Ia mengatur kendaraan.
Membantu pengendara keluar masuk.
Mengangkat sepeda motor yang kesulitan.
Mengucapkan terima kasih kepada setiap orang.
Banyak yang mungkin melihat profesi itu biasa saja.
Tetapi bagi Robert...
Itulah medan perjuangan.
Itulah tempat ia menebus masa lalu.
Itulah ladang ibadah.
Saya memperhatikan caranya melayani masyarakat.
Tidak terdengar kata-kata kasar.
Tidak ada wajah cemberut.
Semua disambut dengan ramah.
Ia bahkan hafal sebagian pelanggan pasar.
"Silakan, Pak."
"Hati-hati, Buk."
"Terima kasih, semoga sehat selalu."
Kalimat-kalimat sederhana itu keluar begitu saja.
Saya tersenyum.
Inilah hijrah.
Hijrah tidak selalu dimulai dengan ceramah panjang.
Kadang dimulai dari senyum yang tulus.
Robert kemudian melanjutkan ceritanya.
"Pak Ust..."
"Alhamdulillah... awak lai istiqamah."
"Lai... shalat wak jago elok-elok."
Kalimat itu membuat hati saya bergetar.
Ia melanjutkan.
"Kalau azan lah masuk..."
"Awak tinggaan parkiran sabanta."
"Awak pai ka Mushalla Islamiyyah."
Saya memandang ke arah mushalla yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari lokasi parkir.
Betapa dekatnya.
Betapa indahnya.
Suara azan yang dahulu mungkin hanya lewat di telinga, kini menjadi panggilan yang selalu ditunggu.
Robert berkata lagi.
"Kadang wak nan azan, Pak..."
Saya terdiam beberapa detik.
Sulit menggambarkan apa yang saya rasakan.
Dulu mungkin ia pernah dipanggil sebagai pelaku kesalahan.
Hari ini...
Ia dipanggil untuk mengumandangkan azan.
Masya Allah.
Bukankah Allah benar-benar mampu membolak-balikkan hati manusia?
Saya teringat sabda Rasulullah ﷺ,
"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat."
(HR. Tirmidzi)
Betapa indahnya Islam.
Islam tidak menutup pintu bagi orang yang ingin kembali.
Yang ditutup hanyalah pintu keputusasaan.
Saya kemudian bertanya,
"Robert..."
"Lai bagabuang jo Komunitas Hijrah?"
Matanya langsung berbinar.
Ia tersenyum bangga.
"Lai, Pak!"
"Alhamdulillah..."
"Awak lah bagabuang."
Komunitas Hijrah itu menjadi tempat saling menguatkan bagi para alumni Warga Binaan Pemasyarakatan.
Di sana mereka belajar agama bersama.
Saling mengingatkan.
Menjaga shalat berjamaah.
Belajar membaca Al-Qur'an.
Berbagi pengalaman hidup.
Membangun usaha halal.
Menguatkan ketika ada yang mulai lemah.
Tidak ada yang merasa lebih suci.
Tidak ada yang saling menghakimi.
Karena mereka memahami satu hal.
Semua sedang belajar menjadi lebih baik.
Saya menepuk pundaknya.
"Mantap, Robert."
"Tetap istiqamah."
"Jangan pernah lelah menjadi orang baik."
"Masa lalu tidak menentukan masa depanmu."
"Yang menentukan adalah bagaimana engkau menjaga langkahmu hari ini."
Robert mengangguk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Insya Allah, Pak Ust..."
"Doakan awak."
Saya menjawab singkat.
"Selalu."
Percakapan kami tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson.
Sebuah mobil hendak keluar dari area parkir.
Robert langsung sigap.
"Pak... izin dulu."
"Lah ado mobil ka kaluar."
Ia berlari kecil menuju kendaraan itu.
Dengan gerakan cekatan ia membantu pengemudi mengarahkan mobil.
Senyumnya tetap mengembang.
Pelayanannya tetap ramah.
Saya memandangnya dari kejauhan.
Entah mengapa mata saya terasa hangat.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena bahagia.
Bahagia melihat seseorang yang memilih bangkit daripada tenggelam dalam penyesalan.
Saya pun melanjutkan langkah meninggalkan pasar.
Sepanjang perjalanan, hati saya dipenuhi rasa syukur.
Inilah makna Sapa Umat yang sesungguhnya.
Kadang seorang penyuluh agama tidak harus selalu berbicara di mimbar.
Tidak harus selalu memberi ceramah panjang.
Cukup hadir.
Menyapa.
Mendengar.
Menguatkan.
Menghargai setiap proses hijrah yang sedang dijalani seseorang.
Pagi itu, saya tidak hanya bertemu Robert.
Saya bertemu bukti nyata bahwa hidayah Allah masih terus bekerja di tengah kehidupan.
Bahwa masyarakat perlu lebih banyak memberi kesempatan daripada memberi cap.
Lebih banyak merangkul daripada menjauhkan.
Lebih banyak mendoakan daripada menghakimi.
Karena setiap orang yang hari ini kita lihat berdiri teguh dalam kebaikan, mungkin pernah jatuh di masa lalu.
Dan setiap orang yang hari ini masih bergelimang kesalahan, bisa jadi esok hari menjadi penghuni saf terdepan di masjid.
Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Hijrah bukan tentang siapa yang paling suci.
Hijrah adalah tentang siapa yang paling bersungguh-sungguh kembali kepada Allah.
Maka jangan pernah remehkan langkah kecil seseorang menuju kebaikan. Jangan pernah menutup pintu harapan bagi mereka yang telah menyesali masa lalunya. Sebab, bisa jadi di sisi Allah, air mata taubat seorang hamba lebih mulia daripada kebanggaan orang yang merasa dirinya tidak pernah berdosa.
Pagi itu, langkah saya meninggalkan Pasar Padang Panjang terasa jauh lebih ringan.
Di balik hiruk-pikuk kendaraan, suara tawar-menawar pedagang, dan kesibukan masyarakat mencari nafkah, saya membawa satu keyakinan yang semakin kuat: hijrah itu nyata.
Hijrah hidup di tengah masyarakat.
Hijrah hadir di balik rompi seorang juru parkir.
Hijrah berkumandang dari azan di Mushalla Islamiyyah.
Hijrah tumbuh dalam pelukan keluarga yang mau memaafkan.
Hijrah menguat dalam Komunitas Hijrah yang saling merangkul tanpa mengungkit masa lalu.
Dan hijrah akan terus menjadi cahaya, selama masih ada hati yang bersedia berkata, "Ya Allah, bimbinglah aku untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin."
Semoga Allah SWT menjaga langkah Robert, menguatkan seluruh alumni Warga Binaan Pemasyarakatan yang sedang menapaki jalan hijrah, melapangkan rezeki mereka yang mencari nafkah dengan cara halal, serta menjadikan kita semua pribadi yang tidak mudah menghakimi, tetapi ringan tangan untuk menerima, membimbing, dan mendoakan.
Karena setiap hijrah yang tulus selalu berawal dari harapan, bertumbuh dengan istiqamah, dan berakhir dengan keberkahan.


.png)












