Kamis, 22 Oktober 2026

Memahami Diri, Memahami Pasangan, Membangun Keluarga yang Sakinah

 


PSIKOLOGI KELUARGA: MATERI DASAR UNTUK CALON PENGANTIN

Memahami Diri, Memahami Pasangan, Membangun Keluarga yang Sakinah

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama KUA Padang Panjang Timur

Menikah Bukan Sekadar Menyatukan Dua Hati

Menikah sering kali dipahami sebagai peristiwa menyatukan dua orang yang saling mencintai. Ada janji yang diucapkan, doa yang dipanjatkan, keluarga yang menyaksikan, dan harapan indah tentang kehidupan bersama. Namun, setelah pesta pernikahan usai dan kehidupan sehari-hari dimulai, pasangan akan menemukan kenyataan bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta, melainkan juga tentang penyesuaian diri, pengelolaan emosi, komunikasi, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan persoalan bersama.

Di sinilah psikologi keluarga menjadi penting untuk dipahami oleh setiap calon pengantin.

Psikologi keluarga membantu pasangan mengenali dirinya sendiri, memahami karakter pasangan, mengelola perasaan, serta membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Pengetahuan ini bukan berarti menjadikan rumah tangga bebas dari masalah, tetapi membekali pasangan agar mampu menghadapi masalah dengan cara yang lebih dewasa.

Dalam perspektif Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan sosial, tetapi juga ibadah dan amanah. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa di antara tanda kebesaran-Nya adalah penciptaan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman (sakinah), serta dijadikan-Nya rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa keluarga yang bahagia tidak cukup dibangun dengan perasaan cinta. Keluarga juga membutuhkan ketenteraman, kepedulian, dan kesediaan untuk terus bertumbuh bersama.

1. Mengenali Diri Sendiri Sebelum Memahami Pasangan

Salah satu bekal terpenting sebelum menikah adalah mengenali diri sendiri. Setiap orang membawa pengalaman masa lalu, pola asuh keluarga, kebiasaan, harapan, serta cara berbeda dalam menghadapi persoalan.

Ada orang yang mudah mengungkapkan perasaan, tetapi ada pula yang memilih diam ketika menghadapi masalah. Ada yang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, sementara yang lain ingin segera membicarakan persoalan sampai tuntas.

Perbedaan tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa salah satu pihak salah. Bisa jadi, keduanya hanya memiliki cara yang berbeda dalam merespons situasi.

Calon pengantin perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Bagaimana saya bereaksi ketika marah? Apakah saya mudah tersinggung? Apakah saya mampu mengakui kesalahan? Apakah saya terbiasa mendengarkan orang lain? Bagaimana saya menyampaikan kekecewaan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menjadi awal untuk membangun kesadaran diri.

Orang yang mengenali kelemahan dan kelebihannya akan lebih mudah belajar memperbaiki diri. Sebaliknya, orang yang selalu merasa dirinya paling benar berisiko menjadikan rumah tangga sebagai arena untuk memenangkan ego.

Sebelum menuntut pasangan berubah, belajarlah mengenali bagian dari diri sendiri yang perlu diperbaiki.

2. Memahami Perbedaan Karakter dan Latar Belakang

Pernikahan mempertemukan dua pribadi yang mungkin dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berbeda. Cara berbicara, kebiasaan makan, pengelolaan uang, pembagian pekerjaan rumah, hubungan dengan orang tua, hingga cara menunjukkan kasih sayang dapat berbeda antara satu keluarga dan keluarga lainnya.

Seseorang mungkin terbiasa menyelesaikan persoalan secara terbuka, sedangkan pasangannya dibesarkan dalam keluarga yang jarang membicarakan masalah secara langsung. Seseorang mungkin terbiasa merencanakan pengeluaran dengan ketat, sementara pasangannya lebih spontan dalam membelanjakan uang.

Jika perbedaan ini tidak dibicarakan, persoalan kecil dapat berkembang menjadi pertengkaran yang berulang.

Karena itu, calon pengantin perlu memahami bahwa menikah bukan berarti menemukan seseorang yang selalu sama dengan dirinya. Pernikahan justru menjadi proses belajar hidup bersama di tengah perbedaan.

Memahami pasangan bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Sikap saling memahami tetap harus disertai batas yang sehat, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat masing-masing.

3. Komunikasi: Jangan Berharap Pasangan Selalu Mengerti

Salah satu sumber kesalahpahaman dalam rumah tangga adalah harapan agar pasangan mampu membaca pikiran tanpa penjelasan.

Ketika kecewa, seseorang memilih diam dan berharap pasangannya mengerti. Ketika lelah, ia berharap pasangannya memahami kebutuhannya tanpa perlu berbicara. Ketika keinginan tidak terpenuhi, ia menganggap pasangannya tidak peduli.

Padahal, pasangan hidup bukan pembaca pikiran.

Komunikasi yang sehat membutuhkan keberanian untuk mengungkapkan kebutuhan secara jujur, santun, dan jelas. Pasangan juga perlu belajar mendengarkan tanpa buru-buru menyela, menyalahkan, atau mencari pembenaran.

Misalnya, daripada berkata, "Kamu memang tidak pernah peduli kepadaku!", lebih baik menyampaikan, "Aku sedang lelah dan membutuhkan bantuanmu. Bisakah kita menyelesaikan pekerjaan ini bersama?"

Kalimat kedua lebih jelas dalam menyampaikan kebutuhan tanpa menyerang pribadi pasangan.

Dalam Surah An-Nisa ayat 19, Allah SWT memerintahkan agar suami mempergauli istri dengan cara yang patut (mu'asyarah bil ma'ruf). Prinsip ini menjadi pengingat bahwa hubungan keluarga harus dibangun dengan perlakuan yang baik, bukan penghinaan atau kekerasan.

4. Mengelola Emosi: Marah Itu Manusiawi, Menyakiti Bukan Solusi

Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Persoalan ekonomi, pembagian tanggung jawab, pekerjaan, kehadiran anak, dan hubungan dengan keluarga besar dapat menimbulkan tekanan emosional.

Yang perlu dipelajari bukan bagaimana menghilangkan seluruh emosi, melainkan bagaimana mengelolanya secara bertanggung jawab.

Ketika marah, seseorang dapat mengambil jeda untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan. Ia dapat mengatur napas, berwudu, berpindah dari situasi yang memicu pertengkaran, atau meminta waktu untuk berpikir.

Namun, jeda bukan alasan untuk menghukum pasangan dengan sikap diam berkepanjangan. Setelah lebih tenang, persoalan tetap perlu dibicarakan.

Islam mengajarkan keutamaan menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda, "Jangan marah," sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari. Pesan ini bukan berarti manusia tidak boleh merasakan marah, tetapi hendaknya tidak membiarkan amarah menguasai tindakan.

Ingatlah, kata-kata yang diucapkan dalam kemarahan dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada pertengkarannya sendiri.

Menghina, mengancam, merendahkan, memukul, atau mengendalikan pasangan dengan ketakutan bukanlah bentuk penyelesaian masalah. Jika terjadi kekerasan atau ancaman keselamatan, korban perlu mengutamakan keamanan dan mencari bantuan yang tepat.

5. Membangun Kepercayaan dan Rasa Aman

Keluarga yang sehat bukan keluarga yang tidak pernah memiliki rahasia kecil atau perbedaan pendapat, melainkan keluarga yang berupaya membangun kejujuran, konsistensi, dan rasa aman.

Kepercayaan tumbuh melalui tindakan sehari-hari: menepati janji, berkata jujur, terbuka mengenai persoalan yang memengaruhi kehidupan bersama, serta menjaga batas hubungan dengan orang lain.

Kepercayaan juga membutuhkan penghormatan terhadap privasi. Keterbukaan dalam pernikahan bukan berarti salah satu pihak berhak mengawasi, mengintimidasi, atau mengendalikan seluruh kehidupan pasangannya.

Calon pengantin perlu membicarakan sejak awal hal-hal yang penting bagi kehidupan bersama, seperti kesetiaan, penggunaan media sosial, pergaulan, pengelolaan keuangan, dan batas keterlibatan keluarga besar.

Semakin jelas kesepakatan yang dibangun, semakin kecil peluang munculnya kesalahpahaman akibat harapan yang tidak pernah disampaikan.

6. Uang, Pekerjaan, dan Pembagian Tanggung Jawab

Persoalan ekonomi sering menjadi sumber tekanan dalam keluarga. Bukan semata-mata karena pendapatan yang terbatas, tetapi juga karena perbedaan cara memandang uang, prioritas kebutuhan, utang, tabungan, dan bantuan kepada keluarga besar.

Sebelum menikah, calon pasangan sebaiknya membicarakan keadaan keuangan secara jujur. Diskusikan pendapatan, kewajiban yang sudah ada, kebutuhan pokok, rencana tempat tinggal, tabungan, serta tujuan keuangan bersama.

Buatlah anggaran berdasarkan kemampuan nyata, bukan berdasarkan gaya hidup orang lain. Jika pendapatan terbatas, belajar membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi keterampilan yang sangat penting.

Demikian pula, pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak perlu dibicarakan sebagai tanggung jawab kehidupan keluarga. Pembagian peran dapat mempertimbangkan ajaran agama, kesepakatan pasangan, kemampuan, kondisi pekerjaan, dan kebutuhan keluarga.

Yang terpenting, jangan sampai salah satu pihak merasa seluruh beban dipikul sendirian sementara pihak lainnya merasa tidak perlu terlibat.

Rumah tangga bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling banyak berkorban. Rumah tangga adalah kerja sama untuk mencapai kebaikan bersama.

7. Membangun Hubungan dengan Keluarga Besar

Setelah menikah, seseorang tidak hanya menjalin hubungan dengan pasangan, tetapi juga berinteraksi dengan keluarga besar masing-masing. Orang tua, mertua, saudara, dan kerabat dapat menjadi sumber dukungan yang berharga.

Namun, perbedaan kebiasaan dan harapan keluarga terkadang menimbulkan ketegangan. Misalnya, mengenai tempat tinggal, pengasuhan anak, bantuan keuangan kepada orang tua, atau seberapa jauh keluarga besar boleh terlibat dalam persoalan rumah tangga.

Calon pengantin perlu membangun kesepakatan tentang batas yang sehat tanpa mengabaikan kewajiban menghormati orang tua.

Pasangan sebaiknya tidak menjadikan orang tua sebagai alat untuk menyerang pasangannya. Persoalan internal perlu dibicarakan secara dewasa terlebih dahulu, kecuali ketika diperlukan bantuan pihak yang tepercaya untuk menyelesaikan masalah atau menjaga keselamatan.

Menghormati orang tua dan menjaga keharmonisan rumah tangga bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama melalui komunikasi yang baik, kebijaksanaan, dan sikap saling menghargai.

8. Jangan Mengukur Kebahagiaan dari Kehidupan Orang Lain

Di era media sosial, pasangan mudah membandingkan rumah tangganya dengan kehidupan orang lain. Foto liburan, hadiah mahal, rumah indah, atau kemesraan yang ditampilkan di internet dapat menimbulkan anggapan bahwa keluarga lain selalu lebih bahagia.

Padahal, apa yang terlihat di layar hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangan, kesulitan, dan pengorbanan yang terjadi di baliknya.

Karena itu, jangan menjadikan media sosial sebagai ukuran keberhasilan pernikahan.

Kebahagiaan keluarga tidak selalu tampak dalam kemewahan. Kadang-kadang, kebahagiaan hadir ketika pasangan saling mendengarkan setelah bekerja seharian, ketika kebutuhan rumah tangga dipenuhi sesuai kemampuan, ketika kesalahan dimaafkan, atau ketika keluarga mampu melewati masa sulit dengan tetap menjaga martabat satu sama lain.

Bersyukurlah atas apa yang dimiliki, sembari tetap berusaha memperbaiki kehidupan keluarga.

9. Kapan Pasangan Perlu Mencari Bantuan?

Tidak semua persoalan harus diselesaikan berdua tanpa bantuan siapa pun. Ada masalah yang membutuhkan pandangan pihak ketiga yang kompeten dan dapat dipercaya.

Konsultasi dengan konselor perkawinan, psikolog, penyuluh agama, atau tenaga profesional yang sesuai dapat dipertimbangkan ketika konflik terus berulang, komunikasi selalu berakhir dengan pertengkaran, persoalan keuangan sulit dikendalikan, atau pasangan mengalami tekanan emosional yang berat.

Meminta bantuan bukan tanda kegagalan. Justru, hal itu dapat menjadi bentuk tanggung jawab untuk menjaga hubungan dan mencari jalan keluar.

Jika terdapat kekerasan, ancaman, atau kontrol yang membahayakan, keselamatan harus menjadi prioritas. Pendampingan profesional yang memahami kekerasan dalam rumah tangga lebih tepat daripada sekadar meminta korban bersabar atau memaksanya berdamai.

10. Menghidupkan Nilai Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

Psikologi keluarga memberikan bekal untuk memahami perilaku, emosi, dan hubungan antarmanusia. Nilai-nilai Islam memberikan arah moral dan spiritual dalam menjalani kehidupan bersama.

Keduanya dapat berjalan saling melengkapi.

Sakinah mengajarkan pentingnya ketenteraman dan rasa aman. Mawaddah menggambarkan cinta yang mendorong kedekatan dan kepedulian. Rahmah mengingatkan pasangan agar menghadirkan kasih sayang, terutama ketika salah satu sedang lemah, sakit, gagal, atau menghadapi kesulitan.

Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak pernah berselisih. Keluarga sakinah adalah keluarga yang terus berusaha menyelesaikan perbedaan secara bermartabat, menjaga ibadah, menunaikan tanggung jawab, dan tidak kehilangan kasih sayang ketika menghadapi ujian.

Cinta memang dapat menjadi pintu masuk menuju pernikahan. Akan tetapi, kedewasaan, komitmen, komunikasi, dan kesediaan belajar akan membantu cinta itu bertahan dan berkembang.

Penutup: Persiapkan Mental, Bukan Hanya Hari Pernikahan

Calon pengantin sering disibukkan dengan persiapan acara, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan pesta. Semua itu boleh dipersiapkan dengan baik. Namun, ada persiapan yang tidak kalah penting: kesiapan mental dan emosional untuk hidup bersama.

Belajarlah mengenali diri sendiri. Pahami pasangan tanpa kehilangan jati diri. Biasakan berbicara dengan jujur dan santun. Kelola emosi dengan bijaksana. Bangun kepercayaan. Rencanakan ekonomi keluarga. Hormati keluarga besar dengan batas yang sehat. Jangan malu mencari bantuan ketika diperlukan.

Pernikahan bukan perlombaan mencari pasangan yang sempurna. Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang sama-sama memiliki kelebihan, kekurangan, dan tanggung jawab untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, rumah tangga yang kuat tidak dibangun hanya dengan pertanyaan, "Apakah aku mencintaimu?" tetapi juga dengan kesediaan untuk bertanya, "Apa yang bisa kita perbaiki bersama?"

Semoga setiap calon pengantin mampu mempersiapkan diri bukan hanya untuk menjadi suami atau istri, tetapi juga menjadi sahabat, pendamping, dan rekan seperjalanan dalam meraih rida Allah SWT.

Referensi bacaan

  1. Al-Qur'an, Surah Ar-Rum ayat 21 tentang ketenteraman, cinta, dan kasih sayang dalam kehidupan berpasangan.

  2. Al-Qur'an, Surah An-Nisa ayat 19 tentang pergaulan yang patut dalam kehidupan perkawinan.

  3. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 187 tentang hubungan suami dan istri sebagai pakaian satu sama lain.

  4. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadis tentang nasihat Rasulullah SAW agar tidak dikuasai amarah.

  5. John W. Santrock, Life-Span Development, sebagai bacaan pengantar mengenai perkembangan manusia dan relasi sepanjang kehidupan.

  6. John Gottman dan Nan Silver, The Seven Principles for Making Marriage Work, sebagai bacaan populer mengenai komunikasi dan ketahanan hubungan perkawinan.

Catatan: Referensi psikologi di atas merupakan bacaan pendukung untuk memperdalam materi, bukan sumber bagi setiap pernyataan dalam artikel. Materi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi profesional untuk persoalan psikologis atau kekerasan dalam rumah tangga.

DULU AMAK MERAWAT KITA, KINI GILIRAN KITA MERAWAT AMAK ❤️

 


DULU AMAK MERAWAT KITA, KINI GILIRAN KITA MERAWAT AMAK ❤️

Dulu, ketika kita masih kecil, Amaklah yang memandikan kita dengan penuh kasih sayang. Membersihkan tubuh kita, memakaikan pakaian, dan memastikan kita nyaman dalam pelukannya.

Kini, ketika usia Amak semakin senja, tubuhnya mulai lemah, dan langkahnya tak lagi sekuat dahulu, giliran kita yang memandikan Amak. Menyeka tubuhnya, mengganti pakaiannya, dan merawatnya dengan tangan yang dahulu pernah digenggamnya saat kita belajar mengenal dunia.

Dulu, kita digendong Amak ke mana-mana. Ketika kaki kita belum kuat menopang tubuh, Amaklah yang menjadi tempat bersandar.

Kini, ketika kaki Amak tak lagi kuat berdiri dan berjalan, kitalah yang menggendongnya. Kita topang tubuhnya yang dahulu menopang kehidupan kita. Kita kuatkan langkahnya, sebagaimana dahulu Amak menguatkan langkah-langkah kecil kita.

Dulu, kita didorong dengan kereta mainan. Amak tersenyum melihat kita tertawa, seolah tak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat anaknya tumbuh sehat.

Kini, kitalah yang mendorong kursi roda Amak. Kita bawa ia berjalan menikmati udara pagi, melihat halaman rumah, atau sekadar duduk bersama keluarga. Mungkin Amak tak lagi mampu berjalan jauh, tetapi semoga ia tetap merasakan bahwa dirinya tidak pernah berjalan sendirian.

Dulu, ketika kita hendak pergi, Amak merapikan rambut kita, memakaikan baju terbaik, lalu membedaki wajah kita agar terlihat manis. Ketika kita masuk angin, Amak mengusap tubuh kita dengan minyak kayu putih, meniup ubun-ubun kita, lalu memeluk kita sampai tertidur.

Kini, ketika Amak mengeluh badannya sakit, kita yang mengoleskan minyak ke tubuhnya. Kita rapikan rambutnya, kita pakaikan baju yang nyaman, kita suapi ketika tangannya tak lagi kuat, dan kita temani saat malam terasa panjang.

Dulu, saat kita sakit demam, Amaklah yang paling repot mengurus kita, kita dikompres, diberi semangat untuk cepat sembuh setiap sebentar kita mengeluh...sakit...sakit....sakit.... kadang dibawa ke puskesmas dengan sabar ia ambil pil tablet memasukkan ke mulut kita dan meminumkan kita air seteguk demi seteguk.

Kini, keadaan berbalik sudah....

Betapa waktu telah membalikkan keadaan, tetapi tidak pernah seharusnya membalikkan kasih sayang.

Dahulu, kita adalah anak kecil yang tak berdaya. Amak merawat kita tanpa menghitung berapa kali harus bangun malam, berapa banyak tenaga yang terkuras, atau berapa lama waktu yang dihabiskan.

Kini, Amak kembali seperti anak kecil yang membutuhkan perhatian. Bedanya, dahulu kita belum mengerti apa-apa, sedangkan sekarang kita telah dewasa dan mengerti betapa berharganya setiap pengorbanan seorang ibu.

Mungkin Amak sudah sering lupa meletakkan barang. Mungkin ceritanya berulang-ulang. Mungkin pendengarannya berkurang, jalannya tertatih-tatih, bahkan terkadang ia memanggil kita pada saat kita sedang sibuk.

Jangan buru-buru kesal, Nak.

Dahulu, Amak tak pernah bosan mendengar tangisan kita yang berulang-ulang. Amak tak pernah mengeluh hanya karena kita meminta digendong berkali-kali. Amak bahkan rela mengorbankan tidurnya demi memastikan kita baik-baik saja.

Sekarang, ketika Amak membutuhkan kita, jangan biarkan ia merasa menjadi beban dalam hidup kita.

Allah SWT telah berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”

(QS. Al-Isra’: 23)

Lalu Allah mengingatkan kita agar tidak mengatakan “ah” kepada keduanya, tidak membentak mereka, dan mengucapkan perkataan yang mulia.

Bahkan, Allah mengajarkan sebuah doa yang begitu indah:

“Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

(QS. Al-Isra’: 24)

Ya Allah, betapa banyak yang telah Amak berikan kepada kami, sementara begitu sedikit yang mampu kami balas.

Jika dahulu Amak menggendong kami dengan kedua tangannya, kuatkanlah tangan kami untuk menggendongnya hari ini.

Jika dahulu Amak menuntun langkah kami, tuntunlah hati kami agar tidak pernah lelah menemaninya.

Jika dahulu Amak mengusap air mata kami, jadikanlah kami anak-anak yang mampu mengusap air matanya dengan kelembutan.

Dan jika hari ini Amak sudah tak sekuat dahulu, jangan biarkan kami kehilangan kesabaran hanya karena ia tak lagi mampu melakukan hal-hal sederhana seorang diri.

Sebab suatu hari nanti, mungkin yang tersisa hanyalah kenangan tentang suara Amak, sentuhan tangannya, nasihatnya, dan panggilannya kepada kita.

Saat itulah kita mungkin akan merindukan hal-hal kecil yang hari ini masih bisa kita lakukan bersamanya.

Maka, selagi Amak masih ada, peluklah ia, cium tangannya, mandikan dengan kasih sayang, suapi dengan kelembutan, tuntun langkahnya, dan dengarkan ceritanya.

Jangan menunggu hari raya untuk meminta maaf. Jangan menunggu Amak terbaring sakit untuk menunjukkan perhatian. Jangan menunggu kursi di samping kita kosong untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya.

Sebab tidak semua orang masih diberi kesempatan untuk merawat ibunya hingga usia senja.

Bagi kita yang masih memiliki Amak, sesungguhnya masih terbuka pintu pengabdian yang begitu mulia.

Dulu kita adalah dunianya. Jangan biarkan di usia senjanya ia merasa tak lagi memiliki tempat di dunia kita.

Ya Allah, sehatkanlah Amak kami, ampuni dosa-dosanya, bahagiakan hatinya, muliakan masa tuanya, dan berikan kami kesabaran serta keikhlasan untuk merawatnya.

Jika rambutnya telah memutih karena usia, jadikanlah bakti kami sebagai penyejuk hatinya.

Jika langkahnya telah terhenti, jadikanlah rumah kami tempat paling nyaman baginya.

Dan jika suatu saat Engkau memanggilnya kembali ke hadirat-Mu, izinkan kami melepasnya dengan hati yang ikhlas, doa yang tak putus, dan kenangan bahwa kami telah berusaha mencintainya sebaik-baiknya.

Amak, dahulu engkau mengajariku cara hidup. Kini izinkan aku menemanimu menjalani hari-hari senjamu.

Kami mungkin tidak akan pernah mampu membalas seluruh pengorbananmu. Tetapi selama Allah masih memberi kesempatan, kami akan berusaha agar engkau tidak merasa sendiri.

Amak, sayang kami tidak akan berhenti hanya karena tubuhmu melemah. Justru ketika engkau semakin lemah, semoga bakti dan cinta kami semakin kuat.

Sayangi Amak selagi masih ada. Sebab rindu kepada seorang ibu yang telah tiada tak pernah bisa menggantikan kesempatan untuk memeluknya ketika ia masih hidup. ❤️

— Renungan seorang anak tentang cinta dan bakti kepada Amak.

Jumat, 16 Oktober 2026

SEKALI SANTRI TETAP SANTRI

NASKAH KHUTBAH JUMAT

NASKAH KHUTBAH JUMAT

SEKALI SANTRI TETAP SANTRI

Walau Tak Lagi di Pesantren, Mesti Tetap Nyantri, Karena Belajar Itu Sepanjang Hayat

Tema besar: Hidup Totalitas dalam Islam

KHUTBAH PERTAMA

1. Pembukaan: Santri Bukan Sekadar Status

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan hendaknya tidak berhenti pada ucapan, penampilan, atau simbol keagamaan, tetapi harus tercermin dalam seluruh perjalanan hidup kita.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah ungkapan:

“Sekali santri tetap santri. Walau tak lagi santri, mesti tetap nyantri, karena belajar mesti sepanjang hari.”

Ungkapan ini bukan sekadar nostalgia tentang kehidupan pesantren. Ini adalah ajakan untuk menjaga ilmu, adab, ibadah, dan akhlak dalam setiap fase kehidupan.

Santri bukan hanya orang yang pernah mengenakan sarung, peci, atau tinggal di pondok pesantren. Santri sejati adalah orang yang terus berusaha tunduk kepada Allah, menghormati guru, mencintai ilmu, menjaga ibadah, serta menghadirkan akhlak mulia di tengah masyarakat.

Boleh jadi seseorang telah puluhan tahun meninggalkan pesantren. Ia kini menjadi pejabat, pengusaha, petani, pedagang, guru, pegawai, atau pemimpin masyarakat. Namun, jangan sampai ia meninggalkan nilai-nilai pesantren yang dahulu membentuk dirinya.

Sebab, yang harus dibawa keluar dari pesantren bukan hanya ijazah, melainkan ilmu yang diamalkan, adab yang dipertahankan, dan ketakwaan yang terus ditumbuhkan.

2. Islam Mengajarkan Kehidupan yang Totalitas

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Islam bukan agama yang hanya mengatur sebagian kecil kehidupan manusia. Islam memberikan arah bagi seluruh kehidupan: bagaimana kita beribadah, bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, bermasyarakat, memimpin, dan memperlakukan sesama manusia.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

(QS. Al-Baqarah 22: 208)

Ayat ini mengajarkan bahwa keberislaman tidak seharusnya dijalani secara setengah-setengah. Kita tidak cukup hanya rajin beribadah di masjid, tetapi mengabaikan amanah di tempat kerja. Kita tidak cukup fasih berbicara tentang agama, tetapi melukai orang lain dengan perkataan dan perbuatan.

Tidak layak kita mengaku mencintai ilmu agama, tetapi enggan belajar. Tidak pantas kita bangga sebagai alumni pesantren, tetapi mengabaikan salat, meremehkan kejujuran, atau kehilangan kepedulian kepada sesama.

Totalitas dalam Islam bukan berarti manusia tidak pernah berbuat salah. Totalitas berarti kita bersungguh-sungguh mengarahkan seluruh kehidupan kepada keridaan Allah, terus memperbaiki diri ketika salah, dan tidak berhenti kembali kepada-Nya.

Allah juga berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”

(QS. Al-An‘am 66: 162)

Inilah deklarasi seorang muslim: hidupku untuk Allah.

Salat untuk Allah. Bekerja dengan cara yang diridai Allah. Mencari nafkah melalui jalan yang halal. Mendidik anak sebagai amanah Allah. Menggunakan jabatan untuk menegakkan keadilan. Memanfaatkan ilmu untuk kemaslahatan. Bahkan ketika beristirahat, seorang muslim tetap menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.

Inilah hidup totalitas: bukan sekadar membawa identitas Islam, melainkan menjadikan Islam sebagai pedoman dalam setiap keputusan.

3. Walau Tak Lagi Santri, Kita Harus Tetap Nyantri

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada orang yang pernah mondok bertahun-tahun, tetapi setelah meninggalkan pesantren, ia merasa tidak perlu lagi belajar agama. Kitab tidak lagi dibuka, majelis ilmu mulai dijauhi, nasihat guru tidak lagi didengar, dan urusan dunia perlahan menghabiskan seluruh waktunya.

Ada pula orang yang tidak pernah mondok, tetapi ia rajin menghadiri pengajian, belajar membaca Al-Qur’an, bertanya kepada ulama, memperbaiki salat, dan berusaha memperindah akhlaknya.

Siapakah yang lebih dekat dengan semangat santri?

Tentu, kemuliaan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pernah atau tidaknya ia tinggal di pesantren. Kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan iman dan ketakwaan. Tradisi pesantren adalah jalan pendidikan yang sangat berharga, tetapi semangat menuntut ilmu dan memperbaiki diri terbuka bagi setiap muslim.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”

(QS. Taha 2020: 114)

Perhatikanlah, Rasulullah SAW diperintahkan memohon tambahan ilmu. Ini mengajarkan bahwa belajar bukan hanya kebutuhan anak-anak, bukan hanya kewajiban pelajar, dan bukan hanya urusan mereka yang sedang menempuh pendidikan formal.

Belajar adalah kebutuhan sepanjang hayat.

Selama kita masih hidup, masih ada ilmu yang perlu dipelajari. Selama kita masih berinteraksi dengan manusia, masih ada adab yang perlu diperbaiki. Selama kita masih menjalankan ibadah, masih ada tuntunan yang perlu dipahami. Selama kita masih menghadapi perubahan zaman, masih ada pengetahuan yang perlu dikuasai agar kita tidak tersesat dalam kebodohan dan informasi yang menyesatkan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, niscaya Allah akan memberinya pemahaman tentang agama.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis sahih ini menunjukkan pentingnya pemahaman agama. Bukan sekadar banyaknya pengetahuan yang kita kumpulkan, tetapi sejauh mana ilmu itu membimbing kita mengenal Allah, menjalankan ibadah dengan benar, membedakan yang halal dan haram, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Maka, jangan pernah berkata, “Saya sudah tua, tidak perlu lagi belajar.”

Jangan berkata, “Saya sudah alumni pesantren, sudah cukup ilmu saya.”

Jangan pula berkata, “Saya orang awam, belajar agama bukan urusan saya.”

Selama napas masih berembus, pintu belajar dan bertobat tetap terbuka. Mari kita hidupkan kembali semangat nyantri: belajar kepada guru yang tepercaya, mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah, membaca kitab, menghadiri majelis ilmu, serta membiasakan diri menerima nasihat.

Tidak harus kembali tinggal di pondok untuk kembali menjadi pembelajar. Rumah, masjid, tempat kerja, dan masyarakat dapat menjadi ruang untuk mengamalkan ilmu dan memperbaiki diri.

4. Ilmu Harus Melahirkan Amal dan Adab

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Ada satu perkara yang sangat penting dalam tradisi keilmuan Islam: ilmu tidak boleh berhenti di kepala dan lisan. Ilmu harus turun ke hati, tampak dalam akhlak, dan hadir dalam perbuatan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS. As-Saff 6161: 2–3)

Ayat ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang berbicara tentang kebaikan tetapi tidak berusaha melakukannya.

Bagi seorang santri, ayat ini mengingatkan agar ilmu tidak berubah menjadi kesombongan. Bagi seorang ustaz, ilmu harus tampak dalam keteladanan. Bagi seorang pejabat, amanah harus tampak dalam kebijakan yang adil. Bagi seorang pedagang, keimanan harus tampak dalam kejujuran. Bagi seorang kepala keluarga, nasihat agama harus tampak dalam tanggung jawab dan kasih sayang kepada keluarganya.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad, dari Abu Hurairah; diriwayatkan dengan redaksi yang berdekatan dalam Al-Adab Al-Mufrad karya al-Bukhari. Penilaian sanad dan redaksi perlu dibedakan menurut jalur periwayatannya.)

Misi kerasulan mengingatkan kita bahwa akhlak merupakan bagian penting dari keberagamaan. Karena itu, jangan sampai seseorang semakin tinggi ilmunya, tetapi semakin kasar lisannya. Jangan sampai semakin banyak gelar keagamaannya, tetapi semakin sulit menerima nasihat. Jangan sampai semakin sering berbicara tentang surga, tetapi perilakunya membuat orang lain merasa tidak aman.

Santri sejati bukan orang yang merasa dirinya paling alim, melainkan orang yang semakin berilmu semakin sadar akan keterbatasan dirinya, semakin menghormati orang lain, dan semakin takut berbuat zalim.

5. Totalitas Islam dalam Kehidupan Sehari-hari

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bagaimana mewujudkan semangat “sekali santri tetap santri” dalam kehidupan nyata?

Pertama, totalitas dalam ibadah. Jagalah salat lima waktu, pelajari tata cara ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, dan jangan biarkan kesibukan dunia menghapus hubungan kita dengan Allah.

Kedua, totalitas dalam menuntut ilmu. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, memahami maknanya, menghadiri majelis ilmu, dan bertanya kepada orang yang berkompeten. Jangan mudah menyebarkan informasi agama yang belum jelas sumber dan kebenarannya.

Ketiga, totalitas dalam mencari nafkah yang halal. Seorang santri yang menjadi pedagang harus jujur. Yang menjadi pegawai harus amanah. Yang menjadi pemimpin harus adil. Yang menjadi petani harus bekerja dengan tekun. Semua pekerjaan yang halal dapat menjadi ladang kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang dibenarkan syariat.

Keempat, totalitas dalam membangun keluarga. Jangan hanya menginginkan anak menjadi pintar dan sukses, tetapi juga bimbing mereka mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, menghormati orang tua, serta berakhlak mulia.

Kelima, totalitas dalam bermasyarakat. Jadilah pribadi yang menebarkan kedamaian, menjaga lisan, menghormati perbedaan, membantu yang membutuhkan, dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”

(QS. Al-Qasas 2828: 77)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam mengarahkan kehidupan menuju akhirat tanpa mengabaikan tanggung jawab dunia. Islam tidak menyuruh kita meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau kemajuan ilmu pengetahuan. Islam membimbing kita agar semua itu dijalani dengan cara yang benar dan tidak melalaikan tujuan akhir kehidupan.

Maka, jadilah muslim yang kuat ibadahnya, luas ilmunya, baik akhlaknya, halal rezekinya, bertanggung jawab keluarganya, serta bermanfaat bagi masyarakat.

Itulah semangat hidup totalitas dalam Islam.

6. Penutup Khutbah Pertama

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita membawa pulang tiga pesan utama.

Pertama: sekali santri, tetaplah menjaga nilai-nilai kesantrian, bukan sekadar kebanggaan atas masa lalu.

Kedua: walau tidak pernah menjadi santri pesantren, jangan pernah berhenti nyantri dalam arti terus belajar, berguru, memahami agama, dan memperbaiki diri.

Ketiga: jadikan seluruh kehidupan sebagai ladang pengabdian kepada Allah. Jangan pisahkan ilmu dari amal, ibadah dari akhlak, dan kesalehan pribadi dari tanggung jawab sosial.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai ilmu, istiqamah dalam ibadah, mulia dalam akhlak, dan sungguh-sungguh dalam mengamalkan Islam.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

(Aku menyampaikan perkataan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)

Khatibduduksejenakdiantaraduakhutbah.Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu, tetapi tidak ada perubahan berarti dalam kehidupan kita. Jangan sampai ilmu semakin banyak, tetapi amal semakin sedikit. Jangan sampai usia bertambah, tetapi hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia justru semakin jauh.

Ingatlah, menjadi santri bukan hanya cerita masa lalu. Menjadi muslim bukan sekadar identitas. Keduanya harus tercermin dalam kesungguhan belajar, keikhlasan beramal, keteguhan beribadah, dan kemuliaan akhlak.

Marilah kita terus belajar sampai akhir hayat, bukan untuk merasa paling benar, melainkan agar semakin dekat kepada kebenaran. Bukan untuk merendahkan orang lain, melainkan untuk semakin rendah hati. Bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

(QS. Al-Ahzab 33: 56)

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا، وَأَخْلَاقَنَا حَسَنَةً.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَوْلَادَنَا وَأَهْلَنَا، وَوَفِّقْنَا لِتَرْبِيَتِهِمْ عَلَى الْإِيمَانِ وَالْقُرْآنِ وَالْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ أُمَّتِنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَانْشُرِ السَّلَامَ وَالْمَحَبَّةَ وَالْعَدْلَ فِي بِلَادِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Jumat, 09 Oktober 2026


KHUTBAH JUMAT

KEUTAMAAN MERAWAT KELUARGA YANG SAKIT

Tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah

Oleh:
Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنَا فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَجَعَلَ بَيْنَنَا مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَابْتَلَانَا لِيَبْلُوَنَا أَيُّنَا أَحْسَنُ عَمَلًا.

نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa.

Takwa bukan hanya ketika kita sehat.

Takwa bukan hanya ketika hidup sedang mudah.

Takwa justru semakin terlihat ketika kehidupan sedang sulit.

Ketika kita diuji dengan sakit.

Ketika orang yang kita cintai terbaring di tempat tidur.

Ketika seorang ibu harus menunggu anaknya yang sakit.

Ketika seorang anak harus mendampingi ayah atau ibunya.

Ketika seorang suami harus menjaga istrinya.

Ketika seorang istri dengan penuh kesabaran mendampingi suaminya.

Dan ketika tenaga kesehatan berdiri berjam-jam, melayani manusia yang sedang berada pada titik paling lemahnya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hari ini kita merenungkan satu tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita:

“Keutamaan Merawat Keluarga yang Sakit.”

Sebab sakit tidak hanya menguji orang yang terbaring.

Sakit juga menguji orang yang menunggu di sampingnya.

Orang yang sakit diuji dengan rasa nyeri.

Keluarganya diuji dengan rasa cemas.

Ada yang diuji dengan kurang tidur.

Ada yang diuji dengan biaya.

Ada yang diuji dengan pekerjaan yang tertunda.

Ada yang diuji dengan pikiran:

"Apakah dia akan sembuh?"

"Sampai kapan kami harus menunggu?"

"Bagaimana dengan biaya pengobatan?"

"Ya Allah, kuatkanlah kami..."

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dalam keadaan seperti itu, jangan pernah merasa bahwa kesabaran kita sia-sia.

Jangan merasa bahwa menemani orang sakit hanyalah pekerjaan rumah tangga.

Jangan mengira bahwa duduk berjam-jam di samping tempat tidur tidak memiliki nilai ibadah.

Boleh jadi, senyum yang kita berikan kepada orang tua yang sedang sakit lebih bernilai di sisi Allah daripada banyak amal yang kita banggakan.

Boleh jadi, segelas air yang kita berikan kepada pasangan yang sedang lemah menjadi sebab Allah mengampuni dosa kita.

Boleh jadi, malam yang kita habiskan untuk menjaga anak yang sakit menjadi malam yang dicatat sebagai ibadah oleh Allah.

Karena Allah melihat bukan hanya apa yang kita kerjakan.

Allah melihat cinta, keikhlasan dan pengorbanan di balik pekerjaan itu.

Pertama: Sakit adalah ujian, tetapi merawat adalah kesempatan beribadah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan bahwa kehidupan orang beriman selalu bebas dari ujian.

Sebaliknya, Allah mengatakan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ — Kami pasti akan menguji kalian.

Karena itu, jangan bertanya:

"Mengapa keluarga saya diuji?"

Tetapi mari belajar bertanya:

“Ya Allah, bagaimana saya harus menjalani ujian ini agar menjadi lebih dekat kepada-Mu?”

Ketika sakit datang, kita mungkin tidak mampu mengubah keadaan.

Tetapi kita masih bisa mengubah cara kita menghadapi keadaan.

Kita mungkin tidak mampu mempercepat kesembuhan.

Tetapi kita bisa mempercepat datangnya pahala melalui kesabaran, doa, pelayanan dan kasih sayang.

Kedua: Merawat keluarga adalah bagian dari menjaga amanah Allah

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengajarkan bahwa keluarga adalah amanah.

Ketika keluarga kita sehat, kita menjaga mereka dengan kasih sayang.

Ketika keluarga kita sakit, kita menjaga mereka dengan kesabaran.

Ketika orang tua kita mulai lemah, saat itulah kesempatan bagi seorang anak untuk membalas sebagian kecil pengorbanan orang tuanya.

Bayangkan ketika kita kecil.

Kita tidak mampu berjalan.

Ibu menggendong.

Kita tidak mampu makan sendiri.

Ayah dan ibu menyuapi.

Kita menangis tengah malam.

Mereka terbangun.

Kita demam.

Mereka panik.

Kita sakit.

Mereka berdoa.

Sekarang, ketika mereka sudah tua dan tubuh mereka mulai lemah, jangan sampai kita berkata:

"Saya sibuk."

"Saya tidak sempat."

"Kan ada saudara yang lain."

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan sampai ketika orang tua membutuhkan kita, kita justru menjadi orang yang paling sulit ditemui.

Ketiga: Kesabaran merawat orang sakit tidak pernah sia-sia

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

"Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kegelisahan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menjadikannya sebagai sebab penghapus dosa-dosanya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memang berbicara tentang orang yang mengalami penderitaan.

Namun ada pelajaran besar bagi keluarga yang merawat.

Orang sakit mendapatkan ujian kesabaran.

Orang yang merawat mendapatkan ujian kasih sayang.

Keduanya dapat menjadi jalan menuju Allah apabila dijalani dengan iman.

Maka kepada keluarga pasien:

Jangan merasa pengorbanan Anda tidak berarti.

Ketika Anda terbangun karena harus mengganti pakaian orang tua yang sakit...

Ketika Anda harus menyuapi pasangan...

Ketika Anda harus membersihkan tempat tidur...

Ketika Anda harus mengantar berobat...

Ketika Anda harus menenangkan anak yang menangis karena kesakitan...

Allah melihat semuanya.

Manusia mungkin tidak melihat.

Saudara mungkin tidak mengetahui.

Tetapi Allah tidak pernah lalai terhadap satu pun pengorbanan hamba-Nya.

Keempat: Jangan hanya merawat tubuh, rawat juga hati orang yang sakit

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ada satu hal yang sering terlupakan.

Orang sakit tidak hanya membutuhkan obat.

Ia juga membutuhkan harapan.

Ia membutuhkan kata-kata yang menenangkan.

Ia membutuhkan sentuhan kasih sayang.

Ia membutuhkan orang yang berkata:

“Tenang, kami di sini.”

“Jangan takut, kita berobat bersama.”

“Insya Allah ada jalan.”

“Mari kita berdoa.”

Jangan ketika orang sakit berkata:

"Bagaimana ini?"

Kita jawab:

"Sudahlah, pasrah saja."

Jangan.

Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar dan berharap kepada Allah.

Katakan:

“Kita berobat, kita berdoa, kita ikhtiar. Kesembuhan milik Allah.”

Allah berfirman melalui kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu'ara: 80)

Dokter berikhtiar.

Perawat merawat.

Obat menjadi sarana.

Keluarga memberikan dukungan.

Tetapi Asy-Syafi, Allah Yang Maha Menyembuhkan, adalah pemilik kesembuhan.

Kelima: Penghormatan kepada tenaga kesehatan adalah bagian dari akhlak

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada kesempatan ini, kita juga perlu merenungkan perjuangan para tenaga kesehatan.

Dokter.

Perawat.

Bidan.

Tenaga farmasi.

Petugas laboratorium.

Petugas administrasi.

Petugas kebersihan.

Dan seluruh orang yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.

Mereka berhadapan dengan manusia yang sedang takut, cemas, sakit dan kadang-kadang emosional.

Maka kepada tenaga kesehatan:

Semoga Allah menjadikan setiap langkah Anda sebagai amal saleh.

Ketika Anda memeriksa pasien dengan teliti,

ketika Anda memberikan obat,

ketika Anda menenangkan keluarga,

ketika Anda membantu seorang pasien yang tidak berdaya,

ketika Anda bekerja dalam keadaan lelah,

jangan hanya melihatnya sebagai pekerjaan.

Niatkan sebagai amanah kemanusiaan dan ibadah kepada Allah.

Dan kepada keluarga pasien:

Hormatilah tenaga kesehatan.

Jangan menjadikan kecemasan sebagai alasan untuk menyakiti.

Kita boleh bertanya.

Kita boleh meminta penjelasan.

Tetapi lakukan dengan santun.

Karena sesungguhnya kita sedang berada dalam satu perjuangan:

keluarga, tenaga kesehatan dan masyarakat—bersama-sama membantu manusia melewati ujian sakit.

Keenam: Masyarakat jangan biarkan keluarga pasien berjuang sendirian

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Islam tidak mengajarkan kita menjadi masyarakat yang hanya datang ketika seseorang meninggal.

Islam mengajarkan kita hadir sejak seseorang masih berjuang.

Ada tetangga yang sakit.

Kita jenguk.

Ada keluarga yang sedang kesulitan.

Kita bantu.

Ada orang tua yang sendirian di rumah sakit.

Kita temani jika mampu.

Ada keluarga yang kesulitan makanan karena seluruh waktunya habis mendampingi pasien.

Kita kirim makanan.

Ada keluarga yang sedang kesulitan secara ekonomi.

Kita bantu sesuai kemampuan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ، مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

"Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya."

(HR. Muslim)

Subhanallah.

Mungkin kita tidak mampu menyembuhkan penyakitnya.

Tetapi kita bisa membantu meringankan bebannya.

Mungkin kita tidak mampu membeli seluruh obatnya.

Tetapi kita bisa membantu sebagian.

Mungkin kita tidak mampu menghilangkan rasa sakitnya.

Tetapi kita bisa membuatnya tidak merasa sendirian.

Dan terkadang...

kehadiran kita adalah obat yang tidak tertulis di resep.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ada sebuah renungan untuk kita semua.

Suatu hari mungkin kita berada di sisi tempat tidur orang lain.

Hari lain mungkin kita yang berada di tempat tidur itu.

Hari ini kita mengantar orang tua berobat.

Suatu saat mungkin anak-anak kita yang mengantar kita.

Hari ini kita menggenggam tangan orang yang sakit.

Suatu saat mungkin tangan kita yang membutuhkan genggaman.

Karena itu:

Jangan sia-siakan kesempatan berbuat baik ketika Allah menghadirkannya.

Jika hari ini Allah masih memberikan kita kesempatan merawat ayah dan ibu—

rawatlah dengan kasih sayang.

Jika Allah masih memberikan kesempatan mendampingi pasangan—

dampingilah dengan kesetiaan.

Jika Allah memberi kesempatan merawat anak—

rawatlah dengan kesabaran.

Jika Allah memberikan kesempatan melayani pasien—

layanilah dengan amanah.

Dan jika Allah memberikan kesempatan membantu tetangga—

bantulah dengan keikhlasan.

Sebab kita tidak pernah tahu,

amal mana yang akan menjadi sebab Allah menyelamatkan kita pada hari akhirat.

Doa untuk orang sakit

Mari kita doakan saudara-saudara kita yang sedang sakit:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، أَنْ يَشْفِيَهُمْ

"Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan 'Arsy yang agung, agar Dia memberikan kesembuhan kepada mereka."

Dan sebagaimana doa Rasulullah ﷺ:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

"Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah menyembuhkan saudara-saudara kita yang sedang sakit.

Semoga Allah menguatkan keluarga yang sedang merawat.

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka yang sedang menunggu.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada tenaga kesehatan yang melayani.

Dan semoga Allah menjadikan setiap tetes air mata, setiap langkah, setiap lelah, setiap doa dan setiap pengorbanan sebagai amal saleh yang bernilai di sisi-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، شِفَاءً تَامًّا، شِفَاءً عَاجِلًا، لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.

اللَّهُمَّ اشْفِ كُلَّ مَرِيْضٍ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْأَلَمَ وَالضُّرَّ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةَ وَالرَّحْمَةَ.

اللَّهُمَّ قَوِّ أَهْلَ الْمَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَالْإِخْلَاصَ، وَاجْعَلْ كُلَّ تَعَبٍ وَخِدْمَةٍ وَدُمُوعٍ وَدُعَاءٍ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِمْ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي أَطِبَّائِنَا وَمُمَرِّضِينَا وَجَمِيعِ الْعَامِلِينَ فِي الْمَجَالِ الصِّحِّيِّ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى أَدَاءِ أَمَانَتِهِمْ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أَهْلًا مُتَرَاحِمِينَ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.

اللَّهُمَّ احْفَظْ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَزْوَاجَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأُسَرَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ سَكِينَةٍ وَمَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا لِتَفْرِيجِ كُرُبَاتِ عِبَادِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا فِي زِيَادَةِ آلامِهِمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

عِبَادَ اللَّهِ،

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.



Kamis, 08 Oktober 2026

KHITAN PEREMPUAN: KETIKA FIKIH, KESEHATAN, DAN PERLINDUNGAN ANAK BERTEMU

 


KHITAN PEREMPUAN: KETIKA FIKIH, KESEHATAN, DAN PERLINDUNGAN ANAK BERTEMU

Membaca Fatwa MUI No. 9A Tahun 2008 dan Ketentuan Kesehatan dengan Jernih

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada satu pertanyaan yang sesekali muncul di tengah masyarakat:

“Kalau khitan perempuan dikenal dalam khazanah fikih Islam, mengapa sekarang muncul aturan kesehatan yang berbicara tentang penghapusan praktik sunat perempuan?”

Pertanyaan ini tidak sederhana. Ia menyentuh wilayah agama, kesehatan, tradisi, hak anak, bahkan relasi antara keyakinan masyarakat dengan kebijakan negara.

Karena itu, persoalan ini sebaiknya tidak dijawab dengan kalimat pendek: “agama membolehkan” atau “negara melarang.”

Kita perlu membaca persoalan ini dengan kepala dingin.

Sebab agama membutuhkan ilmu kesehatan untuk memahami dampak suatu tindakan terhadap tubuh manusia. Sebaliknya, tenaga kesehatan juga perlu memahami bahwa sebagian masyarakat memandang persoalan ini dalam kerangka keyakinan dan tradisi keagamaan.

Di sinilah dialog antara fikih, kesehatan, dan perlindungan anak menjadi penting.

Bukan Sekadar Persoalan “Sunat atau Tidak Sunat”

Istilah khitan perempuan atau sunat perempuan sendiri dapat merujuk pada praktik yang berbeda-beda.

Karena itu, menyamakan seluruh praktik tersebut dengan mutilasi genital perempuan juga tidak tepat. Sebaliknya, menganggap semua tindakan terhadap organ genital perempuan sebagai praktik keagamaan yang otomatis dibenarkan juga merupakan penyederhanaan.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apa sebenarnya yang dilakukan? Bagaimana caranya? Siapa yang melakukan? Apakah menimbulkan luka atau kerusakan? Dan apa dampaknya bagi kesehatan perempuan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi pintu masuk pembicaraan.

Bagaimana Fatwa MUI Memandangnya?

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan Fatwa Nomor 9A Tahun 2008 tentang Hukum Pelarangan Khitan Terhadap Perempuan.

Dalam fatwa tersebut, MUI memandang khitan sebagai bagian dari fitrah dan syiar Islam. Khitan perempuan disebut sebagai makrumah dan pelaksanaannya dikaitkan dengan praktik keagamaan.

Namun ada satu bagian yang sangat penting dan tidak boleh dilewatkan:

pelaksanaan khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan tidak boleh menimbulkan bahaya (dharar).

Dengan kata lain, fatwa tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang melukai atau merusak organ genital perempuan.

Di sinilah masyarakat perlu memahami bahwa membaca fatwa secara utuh jauh lebih penting daripada hanya mengambil satu kalimat dari fatwa.

Islam Tidak Mengajarkan Bahaya

Ada prinsip fikih yang sangat terkenal:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Prinsip ini berasal dari hadis Nabi ﷺ dan menjadi salah satu kaidah penting dalam hukum Islam.

Ada pula kaidah:

الضَّرَرُ يُزَالُ

“Kemudaratan harus dihilangkan.”

Dua prinsip ini sangat relevan ketika kita membicarakan tindakan terhadap tubuh anak perempuan.

Sebab tubuh manusia dalam Islam bukan sesuatu yang boleh diperlakukan sesuka hati.

Tubuh adalah amanah Allah.

Maka, apabila suatu tindakan terbukti menimbulkan bahaya, luka, kerusakan organ, infeksi, perdarahan, atau gangguan kesehatan, maka aspek kemudaratan tersebut tidak boleh diabaikan hanya karena tindakan itu dibungkus dengan istilah tradisi atau agama.

Lalu, Bagaimana dengan Aturan Kesehatan?

Di sinilah masyarakat perlu mengetahui perkembangan regulasi terbaru.

Ketentuan kesehatan reproduksi saat ini diatur antara lain melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Reproduksi.

Permenkes tersebut memuat ketentuan mengenai penghapusan praktik sunat perempuan yang membahayakan sistem reproduksi.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata penggunaan istilah “khitan perempuan”, melainkan praktik yang dilakukan terhadap organ genital perempuan dan potensi bahayanya terhadap kesehatan reproduksi.

Ketentuan kesehatan tersebut mencakup tindakan pemotongan atau pelukaan terhadap bagian-bagian organ genital perempuan yang dapat menyebabkan kerusakan.

Pesan utamanya sederhana:

Jangan melakukan tindakan yang merusak atau membahayakan organ reproduksi perempuan.

Ini merupakan wilayah yang sangat penting bagi tenaga medis maupun masyarakat.

Apakah Ini Berarti Agama Berlawanan dengan Kesehatan?

Tidak harus demikian.

Justru di sini terdapat ruang perjumpaan yang sangat luas.

Agama berbicara tentang kemaslahatan dan pencegahan mudarat.

Ilmu kesehatan berbicara tentang keselamatan, fungsi tubuh, risiko, dan bukti medis.

Keduanya bertemu pada satu pertanyaan:

“Apakah tindakan ini membawa manfaat atau justru menimbulkan bahaya?”

Maqashid al-syariah mengenal prinsip menjaga jiwa (hifzh al-nafs) dan menjaga keturunan (hifzh al-nasl).

Dalam perspektif kesehatan, organ reproduksi merupakan bagian penting dari kesehatan manusia yang harus dijaga.

Maka menjaga tubuh dan kesehatan reproduksi perempuan bukan sesuatu yang asing dalam nilai-nilai Islam.

Untuk Para Tenaga Medis: Ada Amanah yang Lebih Besar

Tenaga kesehatan berada pada posisi yang sangat penting.

Masyarakat datang kepada tenaga medis bukan hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa kepercayaan.

Dalam konteks persoalan yang sensitif seperti khitan perempuan, tenaga medis perlu mampu membedakan antara:

keyakinan masyarakat, tradisi keluarga, dan tindakan medis yang benar-benar aman.

Seorang tenaga kesehatan tidak cukup hanya bertanya:

“Apakah keluarga ingin anaknya dikhitan?”

Pertanyaan berikutnya harus jauh lebih penting:

“Apa tindakan yang sebenarnya dimaksud?”

Jika tindakan tersebut melibatkan pemotongan atau pelukaan organ genital dan berpotensi membahayakan, maka keselamatan pasien harus menjadi perhatian utama.

Pendekatan komunikasi juga penting.

Masyarakat tidak selalu dapat menerima perubahan hanya dengan kalimat:

“Itu dilarang.”

Kadang masyarakat membutuhkan penjelasan:

“Mari kita lihat bersama apa manfaatnya, apa risikonya, dan bagaimana menjaga anak kita agar tetap sehat.”

Komunikasi seperti ini akan jauh lebih mudah membuka ruang dialog.

Untuk Para Orang Tua: Anak Adalah Amanah

Orang tua memiliki hak dan tanggung jawab besar dalam membesarkan anak.

Tetapi tanggung jawab itu sekaligus mengandung amanah untuk melindungi.

Anak perempuan tidak dapat memberikan persetujuan secara matang terhadap tindakan yang tidak ia pahami.

Karena itu, orang tua perlu berhati-hati terhadap praktik yang dilakukan semata-mata karena:

  • “sudah menjadi tradisi”;

  • “dari dulu juga begitu”;

  • “kata orang tua harus begitu”;

  • atau “supaya anak menjadi perempuan yang baik.”

Kebaikan akhlak seorang anak perempuan tidak ditentukan oleh tindakan melukai tubuhnya.

Kesalehan tidak lahir dari luka.

Kesalehan tumbuh dari iman, pendidikan, keteladanan, kasih sayang, dan lingkungan yang baik.

Tradisi Boleh Dihormati, Tetapi Harus Diuji

Tradisi merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Dalam Islam, tidak semua tradisi harus dibuang.

Namun tradisi juga bukan sesuatu yang otomatis benar hanya karena sudah dilakukan turun-temurun.

Ada prinsip yang sangat indah dalam Islam:

الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan hukum.”

Tetapi adat tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah dan tidak boleh menimbulkan kemudaratan.

Karena itu, ketika sebuah tradisi terbukti membahayakan manusia, maka tradisi tersebut perlu dikaji, diperbaiki, atau ditinggalkan bagian yang mudaratnya.

Inilah cara agama berdialog dengan perubahan zaman.

Jangan Mempertentangkan Ulama dan Dokter

Persoalan khitan perempuan seharusnya tidak berubah menjadi pertarungan:

“Ini wilayah ustaz.”

atau:

“Ini wilayah dokter.”

Keduanya memiliki kompetensi yang berbeda.

Ulama dan penyuluh agama memberikan perspektif fikih, etika, nilai, dan kemaslahatan.

Tenaga kesehatan memberikan perspektif anatomi, fisiologi, risiko, keselamatan, dan kesehatan reproduksi.

Ketika keduanya berdialog, masyarakat memperoleh informasi yang jauh lebih utuh.

Justru inilah model penyuluhan yang kita perlukan:

agama tidak alergi terhadap ilmu kesehatan, dan ilmu kesehatan tidak perlu mengabaikan sensitivitas keagamaan masyarakat.

Satu Prinsip yang Bisa Menyatukan Kita

Jika terjadi perbedaan pandangan mengenai status hukum khitan perempuan, kita masih mempunyai satu prinsip bersama:

Jangan membahayakan perempuan.

Bagi masyarakat Muslim, prinsip tersebut memiliki landasan kuat dalam syariat.

Bagi tenaga kesehatan, prinsip tersebut merupakan bagian dari keselamatan pasien.

Bagi orang tua, prinsip tersebut merupakan bentuk tanggung jawab terhadap anak.

Bagi negara, prinsip tersebut berkaitan dengan perlindungan kesehatan masyarakat.

Dan bagi kita semua, prinsip tersebut adalah bentuk penghormatan terhadap martabat manusia.

Membaca Fatwa dengan Utuh, Membaca Regulasi dengan Cermat

Ada dua kesalahan yang sebaiknya kita hindari.

Pertama, mengambil Fatwa MUI 9A/2008 hanya pada bagian yang menyatakan khitan perempuan sebagai makrumah, tetapi mengabaikan larangan melakukan tindakan yang menimbulkan dharar.

Kedua, mengatakan secara sederhana bahwa “UU Kesehatan melarang semua khitan perempuan”, tanpa membaca ketentuan kesehatan yang berlaku secara lebih presisi.

Literasi hukum dan agama menuntut kita membaca teks secara utuh dan konteks secara tepat.

Dengan demikian, diskusi tidak berubah menjadi polemik.

Akhirnya, Apa Sikap Kita?

Mungkin kita tidak perlu memulai pembicaraan dengan pertanyaan:

“Siapa yang benar, agama atau kesehatan?”

Pertanyaan yang lebih produktif adalah:

“Bagaimana kita memastikan setiap anak perempuan tumbuh sehat, terlindungi, dihormati, dan tidak mengalami tindakan yang membahayakan tubuhnya?”

Di situlah agama, ilmu kesehatan, keluarga, masyarakat, dan negara dapat berjalan bersama.

Karena pada akhirnya, anak perempuan bukan sekadar objek tradisi. Ia adalah manusia yang memiliki martabat, tubuh yang harus dijaga, dan masa depan yang harus dilindungi.

Dan bagi seorang Muslim, menjaga amanah itu bukan hanya persoalan kesehatan.

Ia juga bagian dari tanggung jawab kepada Allah SWT.

“Agama mengajarkan kemaslahatan. Kedokteran menjaga keselamatan. Keluarga memberikan perlindungan. Ketiganya tidak harus dipertentangkan.”

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi Utama

  1. Majelis Ulama Indonesia, Fatwa No. 9A Tahun 2008, Hukum Pelarangan Khitan Terhadap Perempuan.

  2. Permenkes RI No. 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Reproduksi.

  3. UU RI No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

  4. Hadis tentang larangan menimbulkan mudarat: لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ.

  5. Literatur qawa'id fiqhiyyah dan maqashid al-syariah mengenai prinsip menghilangkan kemudaratan dan menjaga jiwa.


Rabu, 07 Oktober 2026

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA DENGAN BIJAK

 


MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA DENGAN BIJAK

“Bukan Siapa yang Paling Banyak Menghasilkan, tetapi Bagaimana Keluarga Bijak Mengelolanya”

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

1. Pembuka: Keluarga Bukan Hanya Tempat Berbagi Cinta

Ketika seseorang menikah, ia tidak hanya mendapatkan pasangan hidup, tetapi juga mendapatkan amanah untuk membangun rumah tangga.

Ada suami yang bekerja di kantor, berdagang, bertani, menjadi pengemudi, atau menjalankan usaha. Ada pula istri yang bekerja di luar rumah, berdagang, menjadi guru, ASN, pelaku UMKM, atau mengelola usaha dari rumah.

Karena itu, jangan selalu dibangun anggapan:

“Suami yang mencari uang, istri hanya menerima.”

Dalam kenyataan, suami dan istri sama-sama berjuang. Bahkan dalam banyak keluarga, istri bukan hanya mengelola rumah tangga, tetapi juga ikut mencari penghasilan.

Namun perlu dipahami pula: mencari nafkah bukan berarti hanya suami yang bekerja, dan mengelola keuangan bukan berarti hanya istri yang bertanggung jawab.

Keduanya adalah pasangan yang sedang mengelola amanah Allah.

2. Suami Mencari, Istri Mengelola? Tidak Sesederhana Itu

Dalam budaya kita sering terdengar:

“Suami tugasnya mencari uang, istri tugasnya mengatur uang.”

Ungkapan ini ada benarnya sebagai pembagian peran praktis dalam sebagian keluarga, tetapi tidak boleh dijadikan aturan mutlak.

Ada keluarga di mana:

  • suami menjadi pencari nafkah utama;

  • istri juga bekerja dan mempunyai penghasilan;

  • suami dan istri sama-sama memiliki usaha;

  • istri lebih banyak menghasilkan daripada suami;

  • pada kondisi tertentu, istri menjadi pencari nafkah utama.

Yang penting bukan siapa yang paling besar penghasilannya.

Yang penting adalah:

TRANSPARANSI + KESEPAKATAN + TANGGUNG JAWAB + KEPEDULIAN.

Jangan sampai:

Penghasilan suami rahasia, penghasilan istri rahasia, utang juga rahasia.

Karena keluarga yang ekonominya dibangun dengan banyak rahasia akan mudah kehilangan kepercayaan.

3. Dalam Islam, Nafkah Adalah Amanah

Allah SWT berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah memberikan kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.”

(QS. An-Nisa: 34)

Ayat ini menunjukkan adanya tanggung jawab nafkah pada suami dalam keluarga.

Namun kepemimpinan bukanlah kekuasaan untuk bertindak semaunya.

Qawwam berarti tanggung jawab.

Suami bukan:

“Saya yang mencari uang, jadi saya bebas menentukan semuanya.”

Tetapi:

“Saya diberi amanah untuk melindungi, menafkahi dan membimbing keluarga.”

4. Harta Keluarga Harus Dikelola dengan Amanah

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”

(QS. Al-Isra': 26–27)

Islam tidak melarang keluarga menikmati rezeki.

Yang dilarang adalah berlebihan dan tidak bertanggung jawab.

Karena itu, keluarga perlu membedakan:

KEBUTUHAN

Makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, transportasi, listrik, air, dan kebutuhan pokok.

KEINGINAN

Ganti HP karena model terbaru, pakaian berlebihan, nongkrong terus-menerus, belanja impulsif, dan sebagainya.

GAYA HIDUP

Membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat mampu.

Jangan sampai penghasilan naik, gaya hidup ikut naik, tetapi tabungan tetap nol.

5. Prinsip 5 Pos Keuangan Keluarga

Salah satu cara sederhana yang dapat dipraktikkan keluarga adalah membagi pendapatan menjadi beberapa pos.

① POS KEBUTUHAN POKOK

Prioritaskan:

  • makanan;

  • listrik;

  • air;

  • tempat tinggal;

  • transportasi;

  • pendidikan;

  • kesehatan;

  • kebutuhan anak.

② POS IBADAH DAN SOSIAL

Sisihkan untuk:

  • zakat;

  • infak;

  • sedekah;

  • wakaf;

  • membantu orang tua;

  • membantu keluarga yang membutuhkan.

Allah berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”

(QS. Saba': 39)

③ POS TABUNGAN/DANA DARURAT

Jangan menunggu kaya baru menabung.

Sedikit tetapi rutin lebih baik daripada besar tetapi tidak pernah.

Dana ini dapat digunakan ketika:

  • sakit;

  • kehilangan pekerjaan;

  • kendaraan rusak;

  • kebutuhan pendidikan;

  • keadaan darurat lainnya.

④ POS INVESTASI/PENGEMBANGAN

Jika kondisi memungkinkan:

  • mengembangkan usaha;

  • membeli alat produktif;

  • pendidikan;

  • investasi yang halal dan dipahami risikonya.

⑤ POS HIBURAN DAN REKREASI

Keluarga juga perlu menikmati kehidupan.

Islam bukan agama yang mengajarkan keluarga hidup tanpa kebahagiaan.

Tetapi:

Bersenang-senang boleh, berlebihan jangan.

6. Jangan Menjadikan Utang sebagai Gaya Hidup

Ini salah satu persoalan yang sering menjadi sumber konflik rumah tangga.

Ada keluarga yang:

belum punya uang → membeli dengan utang → cicilan bertambah → penghasilan habis untuk membayar cicilan.

Akhirnya:

bekerja hanya untuk membayar utang.

Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa agar kita berlindung dari lilitan utang.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan berarti Islam mengharamkan semua utang.

Tetapi utang harus direncanakan dan kemampuan membayarnya harus diperhitungkan.

7. Suami-Istri Harus Terbuka tentang Keuangan

Ini sangat penting.

Sebaiknya pasangan mengetahui:

  • berapa penghasilan keluarga;

  • berapa pengeluaran rutin;

  • berapa utang;

  • berapa cicilan;

  • berapa tabungan;

  • apa target keuangan keluarga.

Jangan sampai suami baru tahu utang istri setelah ditagih.

Atau istri baru tahu suami mempunyai banyak cicilan setelah kondisi sudah sulit.

Rumah tangga bukan tempat menyembunyikan masalah.

Rumah tangga adalah tempat:

masalah dibicarakan, dicari jalan keluar, dan diselesaikan bersama.

8. Rekening Suami dan Istri: Haruskah Digabung?

Tidak ada satu model yang wajib diterapkan semua keluarga.

Yang lebih penting adalah kesepakatan dan keterbukaan.

Bisa saja:

Model A — Keuangan bersama

Semua penghasilan dikelola dalam satu sistem keluarga.

Model B — Sebagian bersama

Suami dan istri tetap mempunyai uang masing-masing, tetapi menyepakati kontribusi untuk kebutuhan keluarga.

Model C — Sesuai kondisi

Misalnya suami menanggung kebutuhan pokok, sementara istri membantu pendidikan atau kebutuhan tertentu.

Yang perlu dihindari:

“Uangku adalah urusanku, uangmu jangan tanya.”

Kalimat seperti ini dapat merusak rasa kebersamaan.

9. Jangan Membandingkan Penghasilan Pasangan

Jangan mengatakan:

“Saya yang paling banyak menghasilkan.”

atau:

“Kalau bukan karena saya, keluarga ini tidak jalan.”

Sebab dalam keluarga, kontribusi tidak selalu berbentuk uang.

Ada yang mencari nafkah.

Ada yang mengurus anak.

Ada yang memasak.

Ada yang membersihkan rumah.

Ada yang mengurus orang tua.

Ada yang mendukung pasangan ketika sedang jatuh.

Semua memiliki nilai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”

(HR. Tirmidzi)

10. Musyawarah Keuangan Keluarga

Luangkan waktu, misalnya sekali sebulan, untuk melakukan “rapat keluarga”.

Tidak perlu formal.

Cukup duduk bersama dan membicarakan:

Pendapatan bulan ini: Rp ……………

Kebutuhan pokok: Rp ……………

Pendidikan anak: Rp ……………

Cicilan/utang: Rp ……………

Tabungan: Rp ……………

Sedekah: Rp ……………

Keperluan lainnya: Rp ……………

Kemudian tanyakan:

“Apa yang perlu kita perbaiki bulan depan?”

Bukan:

“Siapa yang salah?”

11. Jangan Sampai Uang Menjadi Sumber Pertengkaran

Sering kali yang dipertengkarkan sebenarnya bukan uang.

Tetapi:

  • ketidakjujuran;

  • ketidakpercayaan;

  • gaya hidup;

  • ego;

  • komunikasi yang buruk;

  • merasa tidak dihargai.

Karena itu, ketika terjadi masalah keuangan:

Jangan langsung menyalahkan pasangan.

Gunakan kalimat:

“Mari kita cari jalan keluarnya bersama.”

bukan:

“Ini semua gara-gara kamu!”

12. Pendidikan Keuangan untuk Anak

Anak juga perlu belajar tentang uang sejak dini.

Ajarkan:

  • membedakan kebutuhan dan keinginan;

  • menabung;

  • berbagi;

  • tidak boros;

  • menghargai kerja keras;

  • tidak malu hidup sederhana.

Anak tidak harus selalu mendapatkan apa yang dimintanya.

Kadang mengatakan:

“Belum bisa kita beli sekarang.”

adalah bagian dari pendidikan.

13. Keluarga yang Sakinah Bukan Keluarga yang Selalu Kaya

Keluarga sakinah bukan berarti rumahnya paling besar.

Bukan pula mobilnya paling mahal.

Bukan pakaiannya paling mewah.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang di dalamnya ada:

iman, kasih sayang, tanggung jawab, komunikasi, kejujuran, dan keberkahan.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Perhatikan: Allah menyebut sakinah, mawaddah dan rahmah, bukan kemewahan.

14. Pesan untuk Suami

Wahai para suami...

Jangan hanya pandai mencari uang.

Belajarlah mengelola uang.

Jangan hanya membawa pulang penghasilan.

Bawalah juga:

kejujuran, kasih sayang, perhatian dan keteladanan.

Dan jangan merasa rendah jika suatu saat penghasilan istri lebih besar.

Yang membuat seorang suami mulia bukan semata-mata jumlah uang yang dibawanya pulang, tetapi tanggung jawab dan akhlaknya.

15. Pesan untuk Istri

Wahai para istri...

Jika suami memberikan nafkah, hargailah perjuangannya.

Jika Anda ikut mencari nafkah, jangan jadikan penghasilan sebagai alat untuk merendahkan pasangan.

Jangan berkata:

“Saya juga punya uang sendiri!”

Tetapi katakan:

“Mari kita jadikan rezeki kita sebagai jalan membangun keluarga.”

16. Rumus Sederhana Keluarga Berkah

PENGHASILAN

↓

KEBUTUHAN

↓

KEWAJIBAN

↓

TABUNGAN

↓

SEDEKAH

↓

KEINGINAN

Dan jangan dibalik:

KEINGINAN → CICILAN → UTANG → KEBINGUNGAN.

PENUTUP

Suami mencari, istri mengelola—itu salah satu pola yang mungkin.

Tetapi dalam kehidupan modern:

Suami bisa mencari. Istri bisa mencari. Keduanya bisa bekerja. Keduanya bisa mengelola.

Yang paling penting adalah:

REZEKI DICARI DENGAN HALAL

DIKELOLA DENGAN BIJAK

DIBELANJAKAN DENGAN PRIORITAS

DIBAGIKAN DENGAN KEIKHLASAN

DAN DISYUKURI DENGAN KETAATAN.

Karena tujuan akhir keuangan keluarga bukan sekadar:

“Bagaimana agar kita punya banyak uang?”

Tetapi:

“Bagaimana agar harta yang Allah titipkan membawa keluarga kita semakin dekat kepada Allah?”

Wallahu A'lam...

Selasa, 06 Oktober 2026

AL-QUR’AN: MENGENAL MAKNA, NAMA-NAMA, FUNGSI DAN TUJUAN DITURUNKANNYA

 


AL-QUR’AN: MENGENAL MAKNA, NAMA-NAMA, FUNGSI DAN TUJUAN DITURUNKANNYA

Semakin Mengenal Al-Qur’an, Semakin Tumbuh Cinta Kepadanya

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Ada kitab yang kita letakkan di tempat yang tinggi, kita muliakan sampulnya, bahkan kita cium setelah membacanya. Tetapi pertanyaan pentingnya: seberapa dekat hati kita dengan pesan yang ada di dalamnya?

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca ketika ada kematian, bulan Ramadan, acara keagamaan, atau saat hati sedang gelisah. Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan yang Allah turunkan agar manusia mengenal jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Karena itu, mencintai Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memiliki mushaf. Cinta kepada Al-Qur’an seharusnya mendorong kita untuk membacanya, memahaminya, menghayatinya, mengamalkannya, dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan.

Lalu, sebenarnya apa makna Al-Qur’an? Mengapa ia memiliki banyak nama? Apa fungsi dan tujuan diturunkannya?

Mari kita mengenalnya lebih dekat.

1. APAKAH AL-QUR’AN ITU?

Secara bahasa, kata Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna membaca atau bacaan.

Para ulama ‘Ulūm al-Qur’ān memberikan perhatian khusus terhadap definisi Al-Qur’an. Salah satu definisi yang sangat dikenal adalah bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril, diriwayatkan secara mutawatir, ditulis dalam mushaf, dan membacanya bernilai ibadah.

Definisi ini antara lain dibahas oleh Mannā‘ al-Qaṭṭān dalam Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān dan Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm al-Zurqānī dalam Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Al-Qur’an bukan karya manusia. Ia adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ untuk menjadi petunjuk bagi manusia.

Inilah fondasi pertama kecintaan kita kepada Al-Qur’an.

Kita mencintai Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah kalam Allah.

2. AL-QUR’AN MEMILIKI BANYAK NAMA

Salah satu hal menarik dalam kajian Al-Qur’an adalah banyaknya nama dan sifat yang digunakan untuk menggambarkan kitab suci ini.

Keragaman nama tersebut bukan sekadar persoalan istilah. Setiap nama mengandung pesan tentang kedudukan dan fungsi Al-Qur’an.

A. Al-Qur’an — Bacaan

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Disebut Al-Qur’an karena ia dibaca dan menjadi bacaan yang terus hidup di tengah umat.

Maka jangan biarkan mushaf hanya menjadi hiasan di rak.

Al-Qur’an ingin dibaca.

B. Al-Kitāb — Kitab

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Al-Qur’an disebut Al-Kitāb, antara lain menunjukkan bahwa wahyu Allah ini memiliki kedudukan sebagai kitab yang menjadi rujukan dan pedoman.

C. Al-Furqān — Pembeda

Allah berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya...”
(QS. Al-Furqan: 1)

Al-Furqan berarti pembeda.

Al-Qur’an membantu manusia membedakan:

yang benar dan yang salah,
yang halal dan yang haram,
yang baik dan yang buruk,
yang hak dan yang batil.

Ketika zaman semakin ramai dengan berbagai suara, manusia membutuhkan kompas moral.

Al-Qur’an adalah salah satu kompas itu.

D. Adz-Dzikr — Peringatan

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Al-Qur’an disebut Adz-Dzikr karena mengandung peringatan, pelajaran, dan pengingat bagi manusia.

Manusia sering lupa.

Lupa dari mana ia berasal.

Lupa untuk apa ia hidup.

Lupa bahwa kehidupan dunia memiliki akhir.

Maka Al-Qur’an datang mengingatkan manusia agar kembali kepada Allah.

E. At-Tanzīl — Yang Diturunkan

Allah berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.”
(QS. Asy-Syu‘ara’: 192)

Nama ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah, bukan hasil pemikiran manusia.

F. Asy-Syifā’ — Penyembuh

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Isra’: 82)

Al-Qur’an adalah penyembuh dan rahmat.

Bukan berarti setiap persoalan medis cukup diselesaikan hanya dengan membaca Al-Qur’an tanpa ikhtiar pengobatan. Namun Al-Qur’an memberikan ketenangan, kekuatan iman, penyembuhan spiritual, dan petunjuk hidup bagi manusia.

Ada penyakit tubuh.

Ada pula penyakit hati.

Kesombongan, iri, dengki, dendam, putus asa, cinta dunia berlebihan—semuanya membutuhkan terapi ruhani.

Dan Al-Qur’an adalah salah satu sumber penyembuhan hati yang paling utama.

3. APA FUNGSI AL-QUR’AN BAGI MANUSIA?

Jika kita kumpulkan pesan-pesan Al-Qur’an, setidaknya ada beberapa fungsi penting.

Pertama: Sebagai petunjuk hidup

Allah berfirman:

هُدًى لِّلنَّاسِ

“Sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Petunjuk berarti Al-Qur’an membantu manusia menentukan arah kehidupan.

Bagaimana menjadi hamba Allah.

Bagaimana menjadi anak yang berbakti.

Bagaimana membangun keluarga.

Bagaimana mencari rezeki.

Bagaimana memperlakukan tetangga.

Bagaimana menjaga keadilan.

Bagaimana menghadapi ujian.

Bagaimana memperlakukan orang yang berbeda.

Bagaimana menghadapi kematian.

Semuanya memiliki prinsip dan nilai dalam Al-Qur’an.

Kedua: Sebagai pembimbing menuju jalan yang lurus

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Al-Qur’an tidak hanya memberitahu manusia apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengarahkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan lurus.

Ketiga: Sebagai pembeda antara hak dan batil

Inilah fungsi Al-Furqan.

Di tengah derasnya informasi, manusia bisa mengalami kebingungan moral.

Apa yang viral belum tentu benar.

Apa yang populer belum tentu baik.

Apa yang banyak dilakukan belum tentu halal.

Apa yang menguntungkan belum tentu membawa keberkahan.

Karena itu, seorang Muslim membutuhkan ukuran yang lebih tinggi daripada sekadar tren.

Al-Qur’an memberikan prinsip untuk menilai kehidupan.

Keempat: Sebagai rahmat

Allah berfirman:

وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Al-Qur’an membawa rahmat.

Rahmat itu terasa ketika ayat-ayatnya membuat hati yang keras menjadi lembut.

Orang yang hampir putus asa kembali berharap.

Orang yang tersesat menemukan arah.

Orang yang sombong kembali merendahkan diri di hadapan Allah.

Orang yang takut menghadapi masa depan kembali percaya bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya.

Kelima: Sebagai sumber pembentukan akhlak

Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan apa yang harus kita percaya.

Al-Qur’an juga membentuk siapa kita sebagai manusia.

Kejujuran.

Amanah.

Sabar.

Pemaaf.

Adil.

Rendah hati.

Berbakti kepada orang tua.

Menyayangi anak.

Menghormati tetangga.

Menjaga lisan.

Menolong orang lain.

Itulah sebagian buah dari interaksi yang benar dengan Al-Qur’an.

4. UNTUK APA AL-QUR’AN DITURUNKAN?

Pertanyaan ini sangat penting.

Al-Qur’an tidak diturunkan hanya agar manusia pandai membacanya.

Membaca adalah pintu.

Memahami adalah perjalanan.

Mengamalkan adalah tujuan.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. Shad: 29)

Ayat ini sangat indah.

Al-Qur’an diturunkan agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran.

Karena itu, tujuan interaksi kita dengan Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada:

“Sudah berapa juz saya baca?”

Tetapi juga:

“Sudah berapa banyak ayat yang mengubah diri saya?”

5. AL-QUR’AN DITURUNKAN UNTUK MEMBIMBING MANUSIA KEPADA KESELAMATAN

Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Perhatikan tiga kata penting:

هُدًى — petunjuk

بَيِّنَاتٍ — penjelasan

الْفُرْقَانِ — pembeda

Artinya, Al-Qur’an tidak hanya memberikan perintah.

Ia juga memberikan arah, penjelasan, dan ukuran.

6. AL-QUR’AN BUKAN SEKADAR UNTUK DIBACA, TETAPI UNTUK DIHIDUPKAN

Ada orang yang mampu membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah.

Itu sebuah karunia.

Ada yang mampu menghafalnya.

Itu sebuah kemuliaan.

Ada yang mampu memahami tafsirnya.

Itu sebuah keutamaan.

Tetapi puncak interaksi dengan Al-Qur’an adalah ketika nilai-nilainya hidup dalam perilaku.

Jika Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, maka kita jujur.

Jika Al-Qur’an mengajarkan amanah, maka kita amanah.

Jika Al-Qur’an melarang ghibah, maka kita menjaga lisan.

Jika Al-Qur’an memerintahkan keadilan, maka kita berlaku adil.

Jika Al-Qur’an memerintahkan berbuat baik kepada orang tua, maka kita berbakti.

Jika Al-Qur’an mengajarkan kasih sayang, maka kita tidak mudah menyakiti.

Itulah Al-Qur’an yang hidup.

7. LALU, SEBERAPA BESAR CINTA KITA KEPADA AL-QUR’AN?

Cinta selalu melahirkan kedekatan.

Orang yang mencintai seseorang akan senang mendengar namanya.

Orang yang mencintai ilmu akan senang membaca buku.

Orang yang mencintai sesuatu akan menyediakan waktu untuknya.

Maka jika kita mengaku mencintai Al-Qur’an, pertanyaannya sederhana:

Berapa menit dalam sehari kita menyediakan waktu untuk Al-Qur’an?

Bukan untuk orang lain.

Bukan untuk pekerjaan.

Bukan untuk media sosial.

Bukan untuk menonton video.

Tetapi khusus untuk bertemu dengan Kalam Allah.

Tidak harus langsung satu juz.

Mulailah dari beberapa ayat.

Baca.

Dengarkan.

Pahami terjemahnya.

Renungkan.

Kemudian tanyakan kepada diri:

“Apa yang Allah ingin ubah dalam diriku melalui ayat ini?”

8. MULAILAH MEMBANGUN HUBUNGAN PRIBADI DENGAN AL-QUR’AN

Tidak semua orang mampu menjadi hafiz.

Tidak semua orang menjadi ahli tafsir.

Tidak semua orang memiliki waktu yang sama.

Tetapi setiap Muslim dapat menjadi sahabat Al-Qur’an.

Mulailah dengan langkah sederhana:

1. Sediakan waktu setiap hari

Walaupun hanya 10–15 menit.

2. Baca dengan tartil

Tidak perlu terburu-buru mengejar banyak halaman.

3. Baca terjemahnya

Agar bacaan tidak berhenti di lisan.

4. Pelajari tafsirnya

Agar kita tidak memahami ayat hanya berdasarkan perasaan sendiri.

5. Tadabburi

Renungkan pesan Allah kepada diri kita.

6. Amalkan

Pilih satu pesan yang dapat kita praktikkan.

7. Ajarkan kepada keluarga

Jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya cinta kepada Al-Qur’an.

9. KETIKA AL-QUR’AN MENJADI SAHABAT

Bayangkan jika setiap keluarga memiliki hubungan yang hidup dengan Al-Qur’an.

Ayah membaca Al-Qur’an.

Ibu membaca Al-Qur’an.

Anak-anak mendengar Al-Qur’an.

Kemudian mereka membicarakan maknanya.

Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan ketika menghadapi persoalan.

Maka rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal.

Rumah berubah menjadi tempat tumbuhnya iman.

Di tengah berbagai tantangan zaman—krisis moral, konflik keluarga, kecanduan gawai, perundungan, narkoba, intoleransi, hoaks, konsumerisme dan berbagai penyakit sosial—kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kompas spiritual.

Dan Al-Qur’an adalah sumber petunjuk yang tidak pernah kehilangan relevansinya.

10. PENUTUP: JANGAN HANYA MEMILIKI AL-QUR’AN, MILIKILAH HUBUNGAN DENGANNYA

Mungkin selama ini Al-Qur’an sudah ada di rumah kita.

Mungkin mushafnya tersimpan rapi.

Mungkin sampulnya indah.

Mungkin bahkan sudah diwariskan dari orang tua.

Tetapi jangan sampai kita memiliki Al-Qur’an secara fisik, sementara jauh dari pesan-pesannya secara spiritual.

Al-Qur’an bukan hanya untuk diletakkan di rak.

Ia untuk dibaca.

Bukan hanya untuk dibaca.

Ia untuk dipahami.

Bukan hanya untuk dipahami.

Ia untuk direnungkan.

Bukan hanya untuk direnungkan.

Ia untuk diamalkan.

Dan bukan hanya untuk diamalkan seorang diri.

Ia untuk diwariskan nilai-nilainya kepada keluarga dan generasi setelah kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. al-Bukhari)

Maka, mari kita mulai kembali.

Jika selama ini jarang membaca, mulailah membaca.

Jika selama ini hanya membaca tanpa memahami, mulailah belajar memahami.

Jika sudah memahami tetapi belum mengamalkan, mulailah mengamalkan.

Dan jika sudah mengamalkan, ajarkan kepada orang lain.

Sebab boleh jadi, di antara seluruh buku yang pernah kita baca dalam kehidupan ini, ada satu kitab yang kelak menjadi saksi betapa kita pernah berusaha mendekat kepada Allah:

Al-Qur’an.

Mari kita jadikan Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang kita miliki, tetapi petunjuk yang kita ikuti, cahaya yang menerangi, sahabat yang menemani, dan pedoman yang mengantarkan kita menuju ridha Allah.

Semakin mengenal Al-Qur’an, semakin kita mencintainya.

Semakin mencintainya, semakin ingin kita membacanya.

Semakin membacanya, semakin ingin kita memahaminya.

Semakin memahaminya, semakin ingin kita mengamalkannya.

Itulah perjalanan cinta kepada Al-Qur’an.

Referensi Utama

  1. Mannā‘ Khalīl al-Qaṭṭān, Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  2. Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm al-Zurqānī, Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  3. Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  4. Badr al-Dīn al-Zarkasyī, Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  5. Muḥammad ‘Alī al-Ṣābūnī, Al-Tibyān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  6. Al-Qur’an al-Karim.

  7. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.