DARI SALAH MENJADI SHOLEH
Hijrah Bukan Sekadar Berpindah, Tetapi Kembali Menjadi Manusia yang Dimuliakan Allah SWT
Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Pembina Kerohanian Rutan Kelas IIB Padang Panjang
"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)
Ada perjalanan hidup yang dimulai dengan mimpi, tetapi berakhir di balik jeruji besi. Ada langkah yang awalnya terasa biasa, namun perlahan membawa seseorang kepada penyesalan yang begitu dalam. Tidak ada seorang pun yang sejak kecil bercita-cita menjadi pelaku kejahatan. Tidak ada ibu yang melahirkan anak dengan harapan kelak ia menjadi penghuni penjara. Namun kehidupan kadang membawa manusia kepada pilihan-pilihan yang salah; karena hawa nafsu, pergaulan, kemarahan, keserakahan, atau lemahnya iman.
Di balik setiap seragam warga binaan pemasyarakatan (WBP), sesungguhnya terdapat kisah yang berbeda. Ada yang kehilangan keluarga. Ada yang kehilangan kepercayaan. Ada yang kehilangan pekerjaan. Bahkan ada yang kehilangan harga dirinya sendiri. Ketika pintu besi tertutup, barulah mereka benar-benar menyadari bahwa kebebasan adalah nikmat yang selama ini dianggap biasa.
Masa hukuman bukan hanya hukuman badan, tetapi juga hukuman batin. Hari-hari terasa panjang. Malam-malam dipenuhi penyesalan. Bayangan wajah orang tua, pasangan, anak-anak, dan keluarga terus menghantui hati. Air mata yang dahulu sulit menetes kini menjadi sahabat setiap malam. Saat itulah banyak hati mulai bertanya,
"Mengapa aku sampai di titik ini?"
Namun Islam adalah agama yang tidak pernah menutup pintu harapan. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
(QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini menjadi cahaya bagi mereka yang ingin bangkit. Allah tidak bertanya seberapa kelam masa lalu kita. Allah melihat seberapa tulus kita ingin kembali kepada-Nya.
Di dalam Rutan Kelas IIB Padang Panjang, pembinaan kerohanian menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan kembali harapan. Melalui pengajian, pesantren rutan, pembelajaran Al-Qur'an, shalat berjamaah, zikir, muhasabah, dan kajian akhlak, banyak hati yang perlahan mulai hidup kembali.
Ada yang baru pertama kali mampu membaca Al-Qur'an dengan benar. Ada yang baru pertama kali menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Ada yang baru pertama kali merasakan ketenangan setelah bertahun-tahun hidup jauh dari agama.
Mereka mulai memahami bahwa penjara bukan akhir kehidupan. Justru bagi sebagian orang, penjara menjadi titik awal hijrah menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Hijrah bukan berarti berpindah tempat semata. Hijrah adalah perpindahan hati; dari maksiat menuju taat, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari kebencian menuju kasih sayang, dari kejahatan menuju kemuliaan akhlak.
Mungkin dahulu tangan ini pernah menyakiti orang lain. Kini tangan yang sama ingin mengangkat kedua telapak memohon ampun kepada Allah.
Mungkin dahulu kaki ini pernah melangkah menuju tempat maksiat. Kini kaki yang sama ingin berjalan menuju masjid.
Mungkin dahulu lisan ini pernah mengucapkan dusta. Kini lisan itu ingin memperbanyak zikir dan doa.
Itulah makna hijrah yang sesungguhnya.
Ketika masa pidana selesai, pintu rutan terbuka. Namun sesungguhnya perjuangan baru dimulai. Dunia luar sering kali lebih berat daripada kehidupan di balik jeruji. Sebagian masyarakat masih memandang dengan curiga. Sebagian orang enggan memberi kesempatan kedua. Tidak sedikit mantan warga binaan yang akhirnya kembali melakukan kesalahan karena merasa ditolak oleh lingkungan.
Padahal Rasulullah SAW mengajarkan kasih sayang, bukan penghakiman.
Seseorang yang telah bertaubat dengan sungguh-sungguh berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Keluarga adalah pelukan pertama yang mereka rindukan. Senyum ibu, doa ayah, pelukan istri, canda anak-anak, dan uluran tangan masyarakat menjadi energi yang luar biasa untuk mempertahankan hijrah.
Karena itu, keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh perubahan pribadi mantan warga binaan, tetapi juga oleh kesiapan keluarga dan masyarakat menerima mereka kembali sebagai saudara.
Mereka tidak membutuhkan cibiran.
Mereka membutuhkan kepercayaan.
Mereka tidak membutuhkan stigma.
Mereka membutuhkan kesempatan.
Mereka tidak meminta dikasihani.
Mereka hanya ingin diberi ruang untuk membuktikan bahwa mereka telah berubah.
Bukankah Allah sendiri menerima taubat hamba-Nya?
Lalu mengapa manusia begitu sulit menerima perubahan sesamanya?
Tekad hijrah harus dibangun setiap hari.
Hari ini harus lebih baik daripada kemarin.
Esok harus lebih baik daripada hari ini.
Tidak ada lagi jalan kembali menuju kejahatan.
Tidak ada lagi alasan untuk mengkhianati kepercayaan keluarga.
Tidak ada lagi ruang bagi hawa nafsu mengendalikan kehidupan.
Kini yang ada hanyalah semangat bekerja dengan halal, menjaga shalat, menghormati orang tua, mencintai keluarga, membantu sesama, dan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Karena ukuran kemuliaan seseorang bukanlah seberapa buruk masa lalunya, tetapi seberapa baik akhir kehidupannya.
Mungkin masa lalu tidak dapat dihapus.
Namun masa depan masih dapat ditulis dengan tinta amal saleh.
Allah mampu mengubah pendosa menjadi ahli ibadah.
Allah mampu mengubah pelaku maksiat menjadi pendakwah.
Allah mampu mengangkat derajat siapa pun yang bersungguh-sungguh bertaubat.
Sebagaimana Umar bin Khattab RA yang dahulu memusuhi Islam, kemudian menjadi salah satu pemimpin terbaik umat. Sejarah membuktikan bahwa orang besar sering lahir dari proses perubahan yang besar pula.
Maka jangan pernah malu memiliki masa lalu, tetapi malulah jika tidak memiliki tekad untuk berubah.
Hari ini adalah hari hijrah.
Hari ini adalah awal kehidupan baru.
Hari ini adalah janji kepada Allah, kepada keluarga, kepada masyarakat, dan kepada diri sendiri.
Kami bertekad:
Kami akan menjaga shalat lima waktu.
Kami akan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
Kami akan bekerja dengan rezeki yang halal.
Kami akan menjaga amanah dan kepercayaan.
Kami tidak akan kembali ke jalan yang salah.
Kami ingin membahagiakan kedua orang tua.
Kami ingin menjadi pasangan yang bertanggung jawab.
Kami ingin menjadi teladan bagi anak-anak kami.
Kami ingin menjadi sahabat yang membawa manfaat.
Kami ingin hidup mulia hingga akhir hayat.
Semoga Allah SWT menguatkan setiap langkah hijrah ini. Semoga keluarga menjadi tempat kembali yang penuh kasih sayang. Semoga masyarakat membuka pintu persaudaraan tanpa prasangka. Semoga setiap mantan warga binaan mampu menjadi pribadi yang saleh, mandiri, produktif, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama manusia.
Akhirnya, marilah kita percaya bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tetapi setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Dari balik jeruji dapat lahir hati yang bersih. Dari penyesalan dapat tumbuh ketakwaan. Dari air mata taubat dapat lahir cahaya kehidupan yang baru.
Karena hijrah bukan tentang siapa kita kemarin, melainkan tentang siapa yang ingin kita menjadi hari ini dan bagaimana kita menghadap Allah pada akhir kehidupan nanti.
"Dari Salah Menjadi Sholeh" bukan sekadar slogan. Ia adalah tekad, doa, dan jalan hidup. Jalan menuju ridha Allah SWT, kebahagiaan keluarga, serta kebermanfaatan bagi masyarakat.
Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.













