Rabu, 07 Oktober 2026

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA DENGAN BIJAK

 


MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA DENGAN BIJAK

“Bukan Siapa yang Paling Banyak Menghasilkan, tetapi Bagaimana Keluarga Bijak Mengelolanya”

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

1. Pembuka: Keluarga Bukan Hanya Tempat Berbagi Cinta

Ketika seseorang menikah, ia tidak hanya mendapatkan pasangan hidup, tetapi juga mendapatkan amanah untuk membangun rumah tangga.

Ada suami yang bekerja di kantor, berdagang, bertani, menjadi pengemudi, atau menjalankan usaha. Ada pula istri yang bekerja di luar rumah, berdagang, menjadi guru, ASN, pelaku UMKM, atau mengelola usaha dari rumah.

Karena itu, jangan selalu dibangun anggapan:

“Suami yang mencari uang, istri hanya menerima.”

Dalam kenyataan, suami dan istri sama-sama berjuang. Bahkan dalam banyak keluarga, istri bukan hanya mengelola rumah tangga, tetapi juga ikut mencari penghasilan.

Namun perlu dipahami pula: mencari nafkah bukan berarti hanya suami yang bekerja, dan mengelola keuangan bukan berarti hanya istri yang bertanggung jawab.

Keduanya adalah pasangan yang sedang mengelola amanah Allah.

2. Suami Mencari, Istri Mengelola? Tidak Sesederhana Itu

Dalam budaya kita sering terdengar:

“Suami tugasnya mencari uang, istri tugasnya mengatur uang.”

Ungkapan ini ada benarnya sebagai pembagian peran praktis dalam sebagian keluarga, tetapi tidak boleh dijadikan aturan mutlak.

Ada keluarga di mana:

  • suami menjadi pencari nafkah utama;

  • istri juga bekerja dan mempunyai penghasilan;

  • suami dan istri sama-sama memiliki usaha;

  • istri lebih banyak menghasilkan daripada suami;

  • pada kondisi tertentu, istri menjadi pencari nafkah utama.

Yang penting bukan siapa yang paling besar penghasilannya.

Yang penting adalah:

TRANSPARANSI + KESEPAKATAN + TANGGUNG JAWAB + KEPEDULIAN.

Jangan sampai:

Penghasilan suami rahasia, penghasilan istri rahasia, utang juga rahasia.

Karena keluarga yang ekonominya dibangun dengan banyak rahasia akan mudah kehilangan kepercayaan.

3. Dalam Islam, Nafkah Adalah Amanah

Allah SWT berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah memberikan kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.”

(QS. An-Nisa: 34)

Ayat ini menunjukkan adanya tanggung jawab nafkah pada suami dalam keluarga.

Namun kepemimpinan bukanlah kekuasaan untuk bertindak semaunya.

Qawwam berarti tanggung jawab.

Suami bukan:

“Saya yang mencari uang, jadi saya bebas menentukan semuanya.”

Tetapi:

“Saya diberi amanah untuk melindungi, menafkahi dan membimbing keluarga.”

4. Harta Keluarga Harus Dikelola dengan Amanah

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”

(QS. Al-Isra': 26–27)

Islam tidak melarang keluarga menikmati rezeki.

Yang dilarang adalah berlebihan dan tidak bertanggung jawab.

Karena itu, keluarga perlu membedakan:

KEBUTUHAN

Makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, transportasi, listrik, air, dan kebutuhan pokok.

KEINGINAN

Ganti HP karena model terbaru, pakaian berlebihan, nongkrong terus-menerus, belanja impulsif, dan sebagainya.

GAYA HIDUP

Membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat mampu.

Jangan sampai penghasilan naik, gaya hidup ikut naik, tetapi tabungan tetap nol.

5. Prinsip 5 Pos Keuangan Keluarga

Salah satu cara sederhana yang dapat dipraktikkan keluarga adalah membagi pendapatan menjadi beberapa pos.

① POS KEBUTUHAN POKOK

Prioritaskan:

  • makanan;

  • listrik;

  • air;

  • tempat tinggal;

  • transportasi;

  • pendidikan;

  • kesehatan;

  • kebutuhan anak.

② POS IBADAH DAN SOSIAL

Sisihkan untuk:

  • zakat;

  • infak;

  • sedekah;

  • wakaf;

  • membantu orang tua;

  • membantu keluarga yang membutuhkan.

Allah berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”

(QS. Saba': 39)

③ POS TABUNGAN/DANA DARURAT

Jangan menunggu kaya baru menabung.

Sedikit tetapi rutin lebih baik daripada besar tetapi tidak pernah.

Dana ini dapat digunakan ketika:

  • sakit;

  • kehilangan pekerjaan;

  • kendaraan rusak;

  • kebutuhan pendidikan;

  • keadaan darurat lainnya.

④ POS INVESTASI/PENGEMBANGAN

Jika kondisi memungkinkan:

  • mengembangkan usaha;

  • membeli alat produktif;

  • pendidikan;

  • investasi yang halal dan dipahami risikonya.

⑤ POS HIBURAN DAN REKREASI

Keluarga juga perlu menikmati kehidupan.

Islam bukan agama yang mengajarkan keluarga hidup tanpa kebahagiaan.

Tetapi:

Bersenang-senang boleh, berlebihan jangan.

6. Jangan Menjadikan Utang sebagai Gaya Hidup

Ini salah satu persoalan yang sering menjadi sumber konflik rumah tangga.

Ada keluarga yang:

belum punya uang → membeli dengan utang → cicilan bertambah → penghasilan habis untuk membayar cicilan.

Akhirnya:

bekerja hanya untuk membayar utang.

Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa agar kita berlindung dari lilitan utang.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan berarti Islam mengharamkan semua utang.

Tetapi utang harus direncanakan dan kemampuan membayarnya harus diperhitungkan.

7. Suami-Istri Harus Terbuka tentang Keuangan

Ini sangat penting.

Sebaiknya pasangan mengetahui:

  • berapa penghasilan keluarga;

  • berapa pengeluaran rutin;

  • berapa utang;

  • berapa cicilan;

  • berapa tabungan;

  • apa target keuangan keluarga.

Jangan sampai suami baru tahu utang istri setelah ditagih.

Atau istri baru tahu suami mempunyai banyak cicilan setelah kondisi sudah sulit.

Rumah tangga bukan tempat menyembunyikan masalah.

Rumah tangga adalah tempat:

masalah dibicarakan, dicari jalan keluar, dan diselesaikan bersama.

8. Rekening Suami dan Istri: Haruskah Digabung?

Tidak ada satu model yang wajib diterapkan semua keluarga.

Yang lebih penting adalah kesepakatan dan keterbukaan.

Bisa saja:

Model A — Keuangan bersama

Semua penghasilan dikelola dalam satu sistem keluarga.

Model B — Sebagian bersama

Suami dan istri tetap mempunyai uang masing-masing, tetapi menyepakati kontribusi untuk kebutuhan keluarga.

Model C — Sesuai kondisi

Misalnya suami menanggung kebutuhan pokok, sementara istri membantu pendidikan atau kebutuhan tertentu.

Yang perlu dihindari:

“Uangku adalah urusanku, uangmu jangan tanya.”

Kalimat seperti ini dapat merusak rasa kebersamaan.

9. Jangan Membandingkan Penghasilan Pasangan

Jangan mengatakan:

“Saya yang paling banyak menghasilkan.”

atau:

“Kalau bukan karena saya, keluarga ini tidak jalan.”

Sebab dalam keluarga, kontribusi tidak selalu berbentuk uang.

Ada yang mencari nafkah.

Ada yang mengurus anak.

Ada yang memasak.

Ada yang membersihkan rumah.

Ada yang mengurus orang tua.

Ada yang mendukung pasangan ketika sedang jatuh.

Semua memiliki nilai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”

(HR. Tirmidzi)

10. Musyawarah Keuangan Keluarga

Luangkan waktu, misalnya sekali sebulan, untuk melakukan “rapat keluarga”.

Tidak perlu formal.

Cukup duduk bersama dan membicarakan:

Pendapatan bulan ini: Rp ……………

Kebutuhan pokok: Rp ……………

Pendidikan anak: Rp ……………

Cicilan/utang: Rp ……………

Tabungan: Rp ……………

Sedekah: Rp ……………

Keperluan lainnya: Rp ……………

Kemudian tanyakan:

“Apa yang perlu kita perbaiki bulan depan?”

Bukan:

“Siapa yang salah?”

11. Jangan Sampai Uang Menjadi Sumber Pertengkaran

Sering kali yang dipertengkarkan sebenarnya bukan uang.

Tetapi:

  • ketidakjujuran;

  • ketidakpercayaan;

  • gaya hidup;

  • ego;

  • komunikasi yang buruk;

  • merasa tidak dihargai.

Karena itu, ketika terjadi masalah keuangan:

Jangan langsung menyalahkan pasangan.

Gunakan kalimat:

“Mari kita cari jalan keluarnya bersama.”

bukan:

“Ini semua gara-gara kamu!”

12. Pendidikan Keuangan untuk Anak

Anak juga perlu belajar tentang uang sejak dini.

Ajarkan:

  • membedakan kebutuhan dan keinginan;

  • menabung;

  • berbagi;

  • tidak boros;

  • menghargai kerja keras;

  • tidak malu hidup sederhana.

Anak tidak harus selalu mendapatkan apa yang dimintanya.

Kadang mengatakan:

“Belum bisa kita beli sekarang.”

adalah bagian dari pendidikan.

13. Keluarga yang Sakinah Bukan Keluarga yang Selalu Kaya

Keluarga sakinah bukan berarti rumahnya paling besar.

Bukan pula mobilnya paling mahal.

Bukan pakaiannya paling mewah.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang di dalamnya ada:

iman, kasih sayang, tanggung jawab, komunikasi, kejujuran, dan keberkahan.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Perhatikan: Allah menyebut sakinah, mawaddah dan rahmah, bukan kemewahan.

14. Pesan untuk Suami

Wahai para suami...

Jangan hanya pandai mencari uang.

Belajarlah mengelola uang.

Jangan hanya membawa pulang penghasilan.

Bawalah juga:

kejujuran, kasih sayang, perhatian dan keteladanan.

Dan jangan merasa rendah jika suatu saat penghasilan istri lebih besar.

Yang membuat seorang suami mulia bukan semata-mata jumlah uang yang dibawanya pulang, tetapi tanggung jawab dan akhlaknya.

15. Pesan untuk Istri

Wahai para istri...

Jika suami memberikan nafkah, hargailah perjuangannya.

Jika Anda ikut mencari nafkah, jangan jadikan penghasilan sebagai alat untuk merendahkan pasangan.

Jangan berkata:

“Saya juga punya uang sendiri!”

Tetapi katakan:

“Mari kita jadikan rezeki kita sebagai jalan membangun keluarga.”

16. Rumus Sederhana Keluarga Berkah

PENGHASILAN

↓

KEBUTUHAN

↓

KEWAJIBAN

↓

TABUNGAN

↓

SEDEKAH

↓

KEINGINAN

Dan jangan dibalik:

KEINGINAN → CICILAN → UTANG → KEBINGUNGAN.

PENUTUP

Suami mencari, istri mengelola—itu salah satu pola yang mungkin.

Tetapi dalam kehidupan modern:

Suami bisa mencari. Istri bisa mencari. Keduanya bisa bekerja. Keduanya bisa mengelola.

Yang paling penting adalah:

REZEKI DICARI DENGAN HALAL

DIKELOLA DENGAN BIJAK

DIBELANJAKAN DENGAN PRIORITAS

DIBAGIKAN DENGAN KEIKHLASAN

DAN DISYUKURI DENGAN KETAATAN.

Karena tujuan akhir keuangan keluarga bukan sekadar:

“Bagaimana agar kita punya banyak uang?”

Tetapi:

“Bagaimana agar harta yang Allah titipkan membawa keluarga kita semakin dekat kepada Allah?”

Wallahu A'lam...

Selasa, 06 Oktober 2026

AL-QUR’AN: MENGENAL MAKNA, NAMA-NAMA, FUNGSI DAN TUJUAN DITURUNKANNYA

 


AL-QUR’AN: MENGENAL MAKNA, NAMA-NAMA, FUNGSI DAN TUJUAN DITURUNKANNYA

Semakin Mengenal Al-Qur’an, Semakin Tumbuh Cinta Kepadanya

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Ada kitab yang kita letakkan di tempat yang tinggi, kita muliakan sampulnya, bahkan kita cium setelah membacanya. Tetapi pertanyaan pentingnya: seberapa dekat hati kita dengan pesan yang ada di dalamnya?

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca ketika ada kematian, bulan Ramadan, acara keagamaan, atau saat hati sedang gelisah. Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan yang Allah turunkan agar manusia mengenal jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Karena itu, mencintai Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memiliki mushaf. Cinta kepada Al-Qur’an seharusnya mendorong kita untuk membacanya, memahaminya, menghayatinya, mengamalkannya, dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan.

Lalu, sebenarnya apa makna Al-Qur’an? Mengapa ia memiliki banyak nama? Apa fungsi dan tujuan diturunkannya?

Mari kita mengenalnya lebih dekat.

1. APAKAH AL-QUR’AN ITU?

Secara bahasa, kata Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna membaca atau bacaan.

Para ulama ‘Ulūm al-Qur’ān memberikan perhatian khusus terhadap definisi Al-Qur’an. Salah satu definisi yang sangat dikenal adalah bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril, diriwayatkan secara mutawatir, ditulis dalam mushaf, dan membacanya bernilai ibadah.

Definisi ini antara lain dibahas oleh Mannā‘ al-Qaṭṭān dalam Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān dan Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm al-Zurqānī dalam Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Al-Qur’an bukan karya manusia. Ia adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ untuk menjadi petunjuk bagi manusia.

Inilah fondasi pertama kecintaan kita kepada Al-Qur’an.

Kita mencintai Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah kalam Allah.

2. AL-QUR’AN MEMILIKI BANYAK NAMA

Salah satu hal menarik dalam kajian Al-Qur’an adalah banyaknya nama dan sifat yang digunakan untuk menggambarkan kitab suci ini.

Keragaman nama tersebut bukan sekadar persoalan istilah. Setiap nama mengandung pesan tentang kedudukan dan fungsi Al-Qur’an.

A. Al-Qur’an — Bacaan

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Disebut Al-Qur’an karena ia dibaca dan menjadi bacaan yang terus hidup di tengah umat.

Maka jangan biarkan mushaf hanya menjadi hiasan di rak.

Al-Qur’an ingin dibaca.

B. Al-Kitāb — Kitab

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Al-Qur’an disebut Al-Kitāb, antara lain menunjukkan bahwa wahyu Allah ini memiliki kedudukan sebagai kitab yang menjadi rujukan dan pedoman.

C. Al-Furqān — Pembeda

Allah berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya...”
(QS. Al-Furqan: 1)

Al-Furqan berarti pembeda.

Al-Qur’an membantu manusia membedakan:

yang benar dan yang salah,
yang halal dan yang haram,
yang baik dan yang buruk,
yang hak dan yang batil.

Ketika zaman semakin ramai dengan berbagai suara, manusia membutuhkan kompas moral.

Al-Qur’an adalah salah satu kompas itu.

D. Adz-Dzikr — Peringatan

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Al-Qur’an disebut Adz-Dzikr karena mengandung peringatan, pelajaran, dan pengingat bagi manusia.

Manusia sering lupa.

Lupa dari mana ia berasal.

Lupa untuk apa ia hidup.

Lupa bahwa kehidupan dunia memiliki akhir.

Maka Al-Qur’an datang mengingatkan manusia agar kembali kepada Allah.

E. At-Tanzīl — Yang Diturunkan

Allah berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.”
(QS. Asy-Syu‘ara’: 192)

Nama ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah, bukan hasil pemikiran manusia.

F. Asy-Syifā’ — Penyembuh

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Isra’: 82)

Al-Qur’an adalah penyembuh dan rahmat.

Bukan berarti setiap persoalan medis cukup diselesaikan hanya dengan membaca Al-Qur’an tanpa ikhtiar pengobatan. Namun Al-Qur’an memberikan ketenangan, kekuatan iman, penyembuhan spiritual, dan petunjuk hidup bagi manusia.

Ada penyakit tubuh.

Ada pula penyakit hati.

Kesombongan, iri, dengki, dendam, putus asa, cinta dunia berlebihan—semuanya membutuhkan terapi ruhani.

Dan Al-Qur’an adalah salah satu sumber penyembuhan hati yang paling utama.

3. APA FUNGSI AL-QUR’AN BAGI MANUSIA?

Jika kita kumpulkan pesan-pesan Al-Qur’an, setidaknya ada beberapa fungsi penting.

Pertama: Sebagai petunjuk hidup

Allah berfirman:

هُدًى لِّلنَّاسِ

“Sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Petunjuk berarti Al-Qur’an membantu manusia menentukan arah kehidupan.

Bagaimana menjadi hamba Allah.

Bagaimana menjadi anak yang berbakti.

Bagaimana membangun keluarga.

Bagaimana mencari rezeki.

Bagaimana memperlakukan tetangga.

Bagaimana menjaga keadilan.

Bagaimana menghadapi ujian.

Bagaimana memperlakukan orang yang berbeda.

Bagaimana menghadapi kematian.

Semuanya memiliki prinsip dan nilai dalam Al-Qur’an.

Kedua: Sebagai pembimbing menuju jalan yang lurus

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Al-Qur’an tidak hanya memberitahu manusia apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengarahkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan lurus.

Ketiga: Sebagai pembeda antara hak dan batil

Inilah fungsi Al-Furqan.

Di tengah derasnya informasi, manusia bisa mengalami kebingungan moral.

Apa yang viral belum tentu benar.

Apa yang populer belum tentu baik.

Apa yang banyak dilakukan belum tentu halal.

Apa yang menguntungkan belum tentu membawa keberkahan.

Karena itu, seorang Muslim membutuhkan ukuran yang lebih tinggi daripada sekadar tren.

Al-Qur’an memberikan prinsip untuk menilai kehidupan.

Keempat: Sebagai rahmat

Allah berfirman:

وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Al-Qur’an membawa rahmat.

Rahmat itu terasa ketika ayat-ayatnya membuat hati yang keras menjadi lembut.

Orang yang hampir putus asa kembali berharap.

Orang yang tersesat menemukan arah.

Orang yang sombong kembali merendahkan diri di hadapan Allah.

Orang yang takut menghadapi masa depan kembali percaya bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya.

Kelima: Sebagai sumber pembentukan akhlak

Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan apa yang harus kita percaya.

Al-Qur’an juga membentuk siapa kita sebagai manusia.

Kejujuran.

Amanah.

Sabar.

Pemaaf.

Adil.

Rendah hati.

Berbakti kepada orang tua.

Menyayangi anak.

Menghormati tetangga.

Menjaga lisan.

Menolong orang lain.

Itulah sebagian buah dari interaksi yang benar dengan Al-Qur’an.

4. UNTUK APA AL-QUR’AN DITURUNKAN?

Pertanyaan ini sangat penting.

Al-Qur’an tidak diturunkan hanya agar manusia pandai membacanya.

Membaca adalah pintu.

Memahami adalah perjalanan.

Mengamalkan adalah tujuan.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. Shad: 29)

Ayat ini sangat indah.

Al-Qur’an diturunkan agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran.

Karena itu, tujuan interaksi kita dengan Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada:

“Sudah berapa juz saya baca?”

Tetapi juga:

“Sudah berapa banyak ayat yang mengubah diri saya?”

5. AL-QUR’AN DITURUNKAN UNTUK MEMBIMBING MANUSIA KEPADA KESELAMATAN

Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Perhatikan tiga kata penting:

هُدًى — petunjuk

بَيِّنَاتٍ — penjelasan

الْفُرْقَانِ — pembeda

Artinya, Al-Qur’an tidak hanya memberikan perintah.

Ia juga memberikan arah, penjelasan, dan ukuran.

6. AL-QUR’AN BUKAN SEKADAR UNTUK DIBACA, TETAPI UNTUK DIHIDUPKAN

Ada orang yang mampu membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah.

Itu sebuah karunia.

Ada yang mampu menghafalnya.

Itu sebuah kemuliaan.

Ada yang mampu memahami tafsirnya.

Itu sebuah keutamaan.

Tetapi puncak interaksi dengan Al-Qur’an adalah ketika nilai-nilainya hidup dalam perilaku.

Jika Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, maka kita jujur.

Jika Al-Qur’an mengajarkan amanah, maka kita amanah.

Jika Al-Qur’an melarang ghibah, maka kita menjaga lisan.

Jika Al-Qur’an memerintahkan keadilan, maka kita berlaku adil.

Jika Al-Qur’an memerintahkan berbuat baik kepada orang tua, maka kita berbakti.

Jika Al-Qur’an mengajarkan kasih sayang, maka kita tidak mudah menyakiti.

Itulah Al-Qur’an yang hidup.

7. LALU, SEBERAPA BESAR CINTA KITA KEPADA AL-QUR’AN?

Cinta selalu melahirkan kedekatan.

Orang yang mencintai seseorang akan senang mendengar namanya.

Orang yang mencintai ilmu akan senang membaca buku.

Orang yang mencintai sesuatu akan menyediakan waktu untuknya.

Maka jika kita mengaku mencintai Al-Qur’an, pertanyaannya sederhana:

Berapa menit dalam sehari kita menyediakan waktu untuk Al-Qur’an?

Bukan untuk orang lain.

Bukan untuk pekerjaan.

Bukan untuk media sosial.

Bukan untuk menonton video.

Tetapi khusus untuk bertemu dengan Kalam Allah.

Tidak harus langsung satu juz.

Mulailah dari beberapa ayat.

Baca.

Dengarkan.

Pahami terjemahnya.

Renungkan.

Kemudian tanyakan kepada diri:

“Apa yang Allah ingin ubah dalam diriku melalui ayat ini?”

8. MULAILAH MEMBANGUN HUBUNGAN PRIBADI DENGAN AL-QUR’AN

Tidak semua orang mampu menjadi hafiz.

Tidak semua orang menjadi ahli tafsir.

Tidak semua orang memiliki waktu yang sama.

Tetapi setiap Muslim dapat menjadi sahabat Al-Qur’an.

Mulailah dengan langkah sederhana:

1. Sediakan waktu setiap hari

Walaupun hanya 10–15 menit.

2. Baca dengan tartil

Tidak perlu terburu-buru mengejar banyak halaman.

3. Baca terjemahnya

Agar bacaan tidak berhenti di lisan.

4. Pelajari tafsirnya

Agar kita tidak memahami ayat hanya berdasarkan perasaan sendiri.

5. Tadabburi

Renungkan pesan Allah kepada diri kita.

6. Amalkan

Pilih satu pesan yang dapat kita praktikkan.

7. Ajarkan kepada keluarga

Jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya cinta kepada Al-Qur’an.

9. KETIKA AL-QUR’AN MENJADI SAHABAT

Bayangkan jika setiap keluarga memiliki hubungan yang hidup dengan Al-Qur’an.

Ayah membaca Al-Qur’an.

Ibu membaca Al-Qur’an.

Anak-anak mendengar Al-Qur’an.

Kemudian mereka membicarakan maknanya.

Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan ketika menghadapi persoalan.

Maka rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal.

Rumah berubah menjadi tempat tumbuhnya iman.

Di tengah berbagai tantangan zaman—krisis moral, konflik keluarga, kecanduan gawai, perundungan, narkoba, intoleransi, hoaks, konsumerisme dan berbagai penyakit sosial—kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kompas spiritual.

Dan Al-Qur’an adalah sumber petunjuk yang tidak pernah kehilangan relevansinya.

10. PENUTUP: JANGAN HANYA MEMILIKI AL-QUR’AN, MILIKILAH HUBUNGAN DENGANNYA

Mungkin selama ini Al-Qur’an sudah ada di rumah kita.

Mungkin mushafnya tersimpan rapi.

Mungkin sampulnya indah.

Mungkin bahkan sudah diwariskan dari orang tua.

Tetapi jangan sampai kita memiliki Al-Qur’an secara fisik, sementara jauh dari pesan-pesannya secara spiritual.

Al-Qur’an bukan hanya untuk diletakkan di rak.

Ia untuk dibaca.

Bukan hanya untuk dibaca.

Ia untuk dipahami.

Bukan hanya untuk dipahami.

Ia untuk direnungkan.

Bukan hanya untuk direnungkan.

Ia untuk diamalkan.

Dan bukan hanya untuk diamalkan seorang diri.

Ia untuk diwariskan nilai-nilainya kepada keluarga dan generasi setelah kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. al-Bukhari)

Maka, mari kita mulai kembali.

Jika selama ini jarang membaca, mulailah membaca.

Jika selama ini hanya membaca tanpa memahami, mulailah belajar memahami.

Jika sudah memahami tetapi belum mengamalkan, mulailah mengamalkan.

Dan jika sudah mengamalkan, ajarkan kepada orang lain.

Sebab boleh jadi, di antara seluruh buku yang pernah kita baca dalam kehidupan ini, ada satu kitab yang kelak menjadi saksi betapa kita pernah berusaha mendekat kepada Allah:

Al-Qur’an.

Mari kita jadikan Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang kita miliki, tetapi petunjuk yang kita ikuti, cahaya yang menerangi, sahabat yang menemani, dan pedoman yang mengantarkan kita menuju ridha Allah.

Semakin mengenal Al-Qur’an, semakin kita mencintainya.

Semakin mencintainya, semakin ingin kita membacanya.

Semakin membacanya, semakin ingin kita memahaminya.

Semakin memahaminya, semakin ingin kita mengamalkannya.

Itulah perjalanan cinta kepada Al-Qur’an.

Referensi Utama

  1. Mannā‘ Khalīl al-Qaṭṭān, Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  2. Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm al-Zurqānī, Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  3. Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  4. Badr al-Dīn al-Zarkasyī, Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  5. Muḥammad ‘Alī al-Ṣābūnī, Al-Tibyān fī ‘Ulūm al-Qur’ān.

  6. Al-Qur’an al-Karim.

  7. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.

Jumat, 02 Oktober 2026

KEHIDUPAN AKHIRAT LEBIH UTAMA Menjadikan Dunia sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan Abadi

 


KHUTBAH JUMAT

KEHIDUPAN AKHIRAT LEBIH UTAMA

Menjadikan Dunia sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan Abadi

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا....

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya tentang bagaimana kita rajin beribadah di masjid, tetapi juga bagaimana kita membawa kesadaran kepada Allah dalam setiap aktivitas kehidupan.

Ketika bekerja, kita ingat Allah.

Ketika mendapatkan rezeki, kita ingat Allah.

Ketika memiliki kekuasaan, kita ingat Allah.

Ketika menghadapi masalah, kita ingat Allah.

Dan ketika dunia menawarkan kesenangan yang dapat melalaikan, kita ingat bahwa hidup ini tidak berhenti ketika kita meninggal dunia.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pada hari ini marilah kita renungkan sebuah tema:

KEHIDUPAN AKHIRAT LEBIH UTAMA

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

(QS. Al-A'la: 17)

Ayat ini sangat singkat, tetapi memiliki pesan yang sangat dalam.

Allah tidak mengatakan dunia tidak ada gunanya.

Allah tidak mengatakan manusia tidak boleh kaya.

Allah tidak melarang manusia bekerja, berdagang, memiliki rumah, kendaraan, pendidikan yang baik, atau kehidupan keluarga yang layak.

Tetapi Allah mengingatkan:

Jangan sampai sesuatu yang sementara membuat kita kehilangan sesuatu yang kekal.

Dunia ada batas waktunya.

Akhirat tidak ada batas akhirnya.

Dunia adalah tempat beramal.

Akhirat adalah tempat menerima hasil amal.

Dunia adalah perjalanan.

Akhirat adalah tempat kembali.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah juga berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

(QS. Al-A'la: 16–17)

Menurut penjelasan para mufasir, ayat ini merupakan peringatan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi sehingga melupakan kehidupan akhirat.

Dalam Tafsir Ibn Kathir, ayat tersebut dipahami sebagai teguran kepada manusia yang mendahulukan kenikmatan dunia yang sementara daripada kenikmatan akhirat yang kekal.

Sementara dalam Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa persoalannya bukan sekadar memiliki kehidupan dunia, melainkan kecenderungan manusia untuk lebih mengutamakan yang segera terlihat dan dirasakan daripada kehidupan akhirat yang bersifat kekal.

Inilah penyakit manusia sepanjang zaman:

Yang dekat lebih menarik daripada yang jauh.

Yang terlihat lebih dipercaya daripada yang ghaib.

Yang bisa dinikmati sekarang lebih dikejar daripada pahala yang dijanjikan kemudian.

Padahal orang beriman memiliki cara pandang yang berbeda.

Ia tidak hanya bertanya:

"Apa yang saya dapat hari ini?"

Tetapi juga bertanya:

"Apa yang akan saya bawa menghadap Allah nanti?"

DUNIA BUKAN UNTUK DITINGGALKAN

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di sinilah pentingnya memahami agama dengan cara pandang yang moderat dan seimbang.

Mengutamakan akhirat bukan berarti membenci dunia.

Islam tidak mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang malas bekerja dengan alasan tawakal.

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan keluarga dengan alasan mengejar ibadah.

Islam tidak mengajarkan kita menolak kekayaan yang halal.

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan pembangunan kehidupan dunia.

Allah justru berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."

(QS. Al-Qashash: 77)

Perhatikan keseimbangannya.

Carilah akhirat.

Tetapi:

Jangan lupakan bagianmu di dunia.

Maka bekerja mencari nafkah dapat menjadi ibadah.

Mendidik anak dapat menjadi ibadah.

Menjaga kesehatan dapat menjadi ibadah.

Membangun ekonomi umat dapat menjadi ibadah.

Menolong tetangga dapat menjadi ibadah.

Menjalankan amanah pekerjaan dengan jujur dapat menjadi ibadah.

Bahkan mencari rezeki halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dapat menjadi amal saleh apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang halal.

Jadi persoalannya bukan:

Dunia atau akhirat?

Tetapi:

Bagaimana menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat?

JANGAN MENJUAL AKHIRAT DEMI DUNIA

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan:

وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ إِنَّمَا عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kamu menukar perjanjian dengan Allah dengan harga yang sedikit. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

(QS. An-Nahl: 95)

Betapa banyak manusia yang mengorbankan prinsip karena dunia.

Demi uang, kejujuran ditinggalkan.

Demi jabatan, persaudaraan dikorbankan.

Demi keuntungan, hak orang lain diambil.

Demi popularitas, kebenaran disembunyikan.

Demi kepentingan sesaat, amanah dikhianati.

Padahal apa yang kita kejar itu sementara.

Harta akan ditinggalkan.

Jabatan akan berakhir.

Popularitas akan hilang.

Tubuh akan kembali menjadi tanah.

Tetapi amal akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."

(HR. al-Bukhari)

Seorang musafir menggunakan kendaraan, tetapi tidak menganggap kendaraan itu sebagai rumah selamanya.

Seorang musafir menikmati perjalanan, tetapi ia tahu bahwa ada tujuan yang harus dicapai.

Begitulah seorang mukmin.

Ia boleh menikmati dunia.

Ia boleh memiliki harta.

Ia boleh membangun rumah.

Ia boleh mengejar pendidikan.

Ia boleh sukses dalam pekerjaan.

Tetapi hatinya tidak boleh diperbudak oleh dunia.

Tangannya memegang dunia, tetapi hatinya tetap bersama Allah.

APA YANG AKAN KITA BAWA?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketika seseorang meninggal dunia, banyak hal yang dahulu dianggap penting menjadi tidak berarti.

Rumah tidak ikut masuk ke liang lahat.

Kendaraan tidak ikut mengantar sampai akhirat.

Jabatan tidak menjadi teman di alam kubur.

Rekening bank tidak ikut dibawa.

Yang menemani kita adalah amal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

"Tiga perkara mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya."

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka pertanyaan penting bagi kita bukan hanya:

"Berapa banyak yang sudah saya miliki?"

Tetapi:

"Berapa banyak yang sudah saya siapkan untuk kehidupan setelah mati?"

Bukan hanya:

"Berapa banyak uang yang ada di rekening saya?"

Tetapi:

"Berapa banyak pahala yang tersimpan dalam rekening amal saya?"

Bukan hanya:

"Apa yang diwariskan kepada anak-anak?"

Tetapi:

"Warisan iman dan amal apa yang saya tinggalkan untuk anak-anak saya?"

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan dunia sebagai ladang akhirat.

Kalau kita kaya, jadilah orang kaya yang bersyukur dan gemar berbagi.

Kalau kita memiliki jabatan, jadilah pemimpin yang amanah.

Kalau kita memiliki ilmu, ajarkan kepada orang lain.

Kalau kita memiliki tenaga, gunakan untuk membantu sesama.

Kalau kita memiliki keluarga, jadikan keluarga sebagai tempat menanam iman.

Kalau kita memiliki kesempatan, jangan tunda amal kebaikan.

Karena dunia ini bukan tujuan terakhir.

Dunia adalah jembatan.

Dunia adalah ladang.

Dunia adalah amanah.

Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya.

Allah berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۗ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui."

(QS. Al-'Ankabut: 64)

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu menjalani dunia dengan penuh tanggung jawab, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللّٰهُمَّ فَقِّهْنَا فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُسَرَنَا، وَبَارِكْ فِي بُيُوتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا ذُرِّيَّةً صَالِحَةً، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا سَاكِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَاجْعَلْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ فِي أَعْلَى الْجِنَانِ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاجْعَلْ أَمْوَالَنَا فِي أَيْدِيْنَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوْبِنَا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.


Rabu, 30 September 2026

“Sedekah Hari Ini, Keberkahan Esok Nanti”

 


KEUTAMAAN SEDEKAH MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

“Sedekah Hari Ini, Keberkahan Esok Nanti”

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
Pemerhati Lingkungan

A. Pendahuluan

Sedekah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sedekah bukan hanya memberikan uang kepada orang miskin, tetapi mencakup berbagai bentuk kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT.

Sedekah adalah wujud syukur atas nikmat Allah, bukti kepedulian kepada sesama, sekaligus sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Banyak orang mengira bahwa sedekah hanya akan mengurangi harta. Padahal, Islam mengajarkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidaklah sia-sia. Allah menjanjikan pahala, keberkahan, dan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas.

Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menggambarkan betapa besar balasan yang Allah berikan kepada orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya.

B. Pengertian Sedekah

Secara sederhana, sedekah adalah pemberian atau amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT.

Sedekah tidak terbatas pada uang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari ketika matahari terbit...”

Para sahabat bertanya tentang bentuknya. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mendamaikan dua orang, membantu seseorang menaiki kendaraan, mengangkatkan barang, berkata baik, berjalan menuju salat, dan menyingkirkan gangguan dari jalan semuanya termasuk sedekah.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, orang yang tidak memiliki banyak uang pun tetap dapat bersedekah.

Senyum, membantu tetangga, mengajarkan ilmu, memberi nasihat yang baik, menjenguk orang sakit, dan membantu orang yang membutuhkan dapat menjadi amal sedekah apabila dilakukan karena Allah.

C. Keutamaan Sedekah Menurut Al-Qur’an

1. Mendapat pahala yang berlipat ganda

Allah SWT memberikan gambaran luar biasa tentang balasan sedekah:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir ada seratus biji.”

(QS. Al-Baqarah: 261)

Dari ayat tersebut kita belajar bahwa nilai sedekah tidak hanya dilihat dari jumlah nominalnya.

Sedekah yang tampak kecil di mata manusia dapat menjadi sangat besar nilainya di sisi Allah apabila dilakukan dengan keikhlasan.

2. Sedekah menjadi sebab datangnya keberkahan

Allah SWT berfirman:

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”

(QS. Saba’: 39)

Penggantian dari Allah tidak selalu berarti kita langsung menerima uang dalam jumlah yang sama.

Bentuk keberkahan dapat berupa kesehatan, ketenangan hati, kemudahan urusan, hubungan keluarga yang baik, pertolongan ketika menghadapi kesulitan, atau pahala yang Allah simpan untuk akhirat.

Karena itu, sedekah bukan transaksi untuk “membeli” kekayaan dari Allah, tetapi bentuk ibadah dan tawakal kepada-Nya.

3. Sedekah menjadi bekal untuk kehidupan akhirat

Allah SWT mengingatkan:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu...”

(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ketika kematian datang, manusia tidak lagi dapat menambah amalnya dengan hartanya.

Selama masih hidup, kesempatan untuk beramal masih terbuka.

Maka, jangan menunggu kaya untuk bersedekah.

Sedekah dilakukan ketika kita memiliki kesempatan, bukan hanya ketika kita memiliki kelebihan.

4. Sedekah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah

Harta pada hakikatnya adalah amanah dari Allah.

Ketika seseorang bersedekah, ia belajar melepaskan sebagian kecintaannya kepada harta demi mencari keridaan Allah.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan kepada mereka dan bagi mereka pahala yang mulia.”

(QS. Al-Hadid: 18)

D. Keutamaan Sedekah Menurut Sunnah

1. Sedekah tidak mengurangi harta

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”

(HR. Muslim)

Secara lahiriah memang harta yang kita keluarkan berkurang. Namun, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa sedekah tidak mengurangi keberkahan harta dan tidak merugikan orang yang mengeluarkannya karena Allah.

Ini merupakan salah satu prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim:

Jangan hanya menghitung berapa yang keluar; hitung pula keberkahan yang mungkin Allah berikan.

2. Sedekah dapat menjadi pelindung dari api neraka

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) separuh kurma.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa jangan meremehkan sedekah meskipun jumlahnya kecil.

Yang terpenting adalah keikhlasan dan kemampuan kita.

3. Senyum dan perkataan baik juga merupakan sedekah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

(HR. Tirmidzi)

Dalam hadis lainnya, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perkataan yang baik juga merupakan sedekah.

Maka, sedekah tidak harus selalu berbentuk uang.

Kadang-kadang seseorang lebih membutuhkan:

  • senyuman,

  • perhatian,

  • nasihat,

  • bantuan,

  • waktu,

  • tenaga,

  • atau kata-kata yang menenangkan.

E. Adab dalam Bersedekah

Agar sedekah mendapatkan nilai yang baik di sisi Allah, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Ikhlas karena Allah

Jangan bersedekah hanya untuk mendapatkan pujian manusia.

Allah SWT berfirman:

“Mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya...”

(QS. Al-Bayyinah: 5)


2. Tidak menyakiti penerima

Allah SWT berfirman:

“Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang diinfakkannya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.”

(QS. Al-Baqarah: 262)

Karena itu, jangan mengungkit-ungkit pemberian.

Jangan pula merendahkan orang yang menerima sedekah.

3. Bersedekah dari harta yang baik

Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu infakkan daripadanya...”

(QS. Al-Baqarah: 267)

Sedekah sebaiknya diberikan dari harta yang halal dan sesuatu yang baik.

4. Tidak berlebihan

Sedekah hendaknya dilakukan sesuai kemampuan dan tidak sampai menelantarkan kewajiban terhadap keluarga atau kebutuhan pokok.

Islam mengajarkan keseimbangan antara kepedulian kepada orang lain dan tanggung jawab terhadap keluarga.

F. Siapa yang Dapat Menjadi Sasaran Sedekah?

Sedekah dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan, antara lain:

  • fakir dan miskin;

  • anak yatim;

  • orang lanjut usia yang membutuhkan;

  • orang sakit atau terkena musibah;

  • tetangga yang mengalami kesulitan;

  • orang yang terlilit kebutuhan;

  • lembaga sosial dan pendidikan;

  • pembangunan fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat;

  • serta berbagai kegiatan kebaikan lainnya.

Yang sangat penting adalah memastikan sedekah benar-benar memberikan manfaat dan tidak digunakan untuk kemaksiatan.

G. Sedekah Tidak Harus Menunggu Kaya

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah:

“Nanti kalau saya sudah kaya, saya akan banyak bersedekah.”

Padahal, sedekah dapat dimulai dari hal kecil.

Misalnya:

Rp2.000 + ikhlas = sedekah.
Sebungkus makanan + ikhlas = sedekah.
Membantu tetangga + ikhlas = sedekah.
Memberikan ilmu + ikhlas = sedekah.
Senyum dan perkataan baik + ikhlas = sedekah.

Allah melihat keikhlasan dan amal kebaikan kita.

H. Sedekah sebagai Pendidikan Karakter

Sedekah tidak hanya memberikan manfaat kepada penerima.

Sedekah juga mendidik orang yang memberi agar:

1. Tidak terlalu mencintai dunia

Harta adalah sarana, bukan tujuan hidup.

2. Memiliki kepedulian sosial

Sedekah membuat kita peka terhadap kesulitan orang lain.

3. Belajar bersyukur

Ketika melihat orang yang membutuhkan, kita disadarkan bahwa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

4. Menumbuhkan kasih sayang

Sedekah memperkuat hubungan antara sesama manusia.

5. Membentuk pribadi dermawan

Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk karakter gemar berbagi.

I. Sedekah yang Paling Berkesan

Tidak semua sedekah harus diketahui orang.

Bahkan, menyembunyikan sedekah dapat menjadi bentuk menjaga keikhlasan.

Allah SWT memuji orang yang memberikan harta dengan penuh keikhlasan:

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu...”

(QS. Al-Baqarah: 271)

Namun, sedekah yang ditampakkan juga dapat menjadi baik apabila bertujuan memberikan teladan dan tidak disertai riya.

J. Sedekah Jariyah

Salah satu bentuk amal yang sangat penting adalah amal yang manfaatnya terus berlangsung.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Contoh sedekah jariyah antara lain:

  • membantu pembangunan masjid atau mushalla;

  • menyediakan Al-Qur’an untuk digunakan masyarakat;

  • membangun atau membantu sarana pendidikan;

  • menyediakan sumber air;

  • membantu fasilitas kesehatan;

  • mendukung kegiatan ilmu yang bermanfaat;

  • dan berbagai amal yang manfaatnya terus dirasakan.

Selama manfaatnya terus mengalir, insyaAllah pahala juga terus mengalir sesuai kehendak Allah.

K. Pesan Penting untuk Jamaah

Ada tiga pertanyaan yang patut kita renungkan:

1. Apa yang sudah saya sedekahkan hari ini?

Jangan menunggu kaya.

2. Kepada siapa saya bisa memberikan manfaat?

Mulailah dari keluarga, tetangga, dan orang-orang yang berada di sekitar kita.

3. Apakah sedekah saya sudah benar-benar ikhlas?

Jangan sampai tangan memberi, tetapi hati mengharapkan pujian manusia.

L. Kesimpulan

Sedekah merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan menurut Al-Qur’an dan Sunnah.

Sedekah:

✓ Mendatangkan pahala yang berlipat ganda.
✓ Menjadi sarana memperoleh keberkahan.
✓ Menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.
✓ Menumbuhkan kepedulian dan kasih sayang.
✓ Membersihkan jiwa dari sifat kikir.
✓ Tidak harus berupa uang.
✓ Dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan.

Yang paling penting bukanlah berapa besar yang kita berikan, tetapi seberapa ikhlas kita memberikannya dan seberapa besar manfaatnya bagi sesama.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah.

Jangan menunggu banyak untuk berbagi.

Mulailah dari apa yang kita punya dan dari apa yang mampu kita lakukan.

M. Penutup

Mari kita jadikan sedekah sebagai kebiasaan hidup.

Sedekah bukan karena kita memiliki banyak, tetapi karena kita menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah titipan Allah SWT.

Semoga setiap rupiah yang kita keluarkan, setiap makanan yang kita bagikan, setiap tenaga yang kita gunakan untuk membantu, setiap ilmu yang kita ajarkan, dan setiap kebaikan yang kita lakukan menjadi amal yang diterima Allah SWT.

“Sedikit yang kita beri, mungkin sangat berarti bagi mereka; dan yang kita beri karena Allah, insyaAllah menjadi bekal bagi kita.”

Mari Bersedekah!

Ikhlas dalam memberi • Bijak dalam berbagi • Istiqamah dalam beramal


Jumat, 25 September 2026

BAHAYA KONGKALIKONG DALAM AL-QUR’AN

 


BAHAYA KONGKALIKONG DALAM AL-QUR’AN

Ketika Kepentingan Pribadi Mengalahkan Amanah dan Kebenaran

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada satu penyakit sosial yang kadang sulit dikenali karena ia tidak selalu datang dengan wajah yang kasar.

Ia bisa datang dalam bentuk senyuman.

Dalam bentuk pertemanan.

Dalam bentuk rasa sungkan.

Dalam bentuk “tolong bantu saya”.

Dalam bentuk “kita sama-sama enak”.

Bahkan kadang dibungkus dengan kalimat yang terdengar begitu biasa:

“Jangan khawatir, ada orang dalam.”

“Bisa kita atur.”

“Yang penting sama-sama dapat.”

“Ini rahasia kita saja.”

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Sebab ketika sebuah kesepakatan mulai membutuhkan kerahasiaan, mengabaikan aturan, merugikan pihak lain, atau membeli keputusan dengan imbalan tertentu, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan antarmanusia.

Ia sudah menyentuh wilayah amanah, kejujuran, keadilan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Itulah yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut kongkalikong.

Ketika yang Salah Terlihat Biasa

Kongkalikong tidak selalu dimulai dari kejahatan besar.

Kadang dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil.

Titip absen.

Meminta seseorang mengubah data.

Memanfaatkan kedekatan untuk mendapatkan pelayanan khusus.

Memberikan sesuatu agar urusan dipercepat.

Mengatur sebuah keputusan sebelum prosesnya berlangsung.

Menutup mata terhadap kesalahan teman karena hubungan kekeluargaan.

Lalu kita mengatakan:

“Ah, cuma begitu.”

Masalahnya, dosa tidak selalu terasa berat ketika pertama kali dilakukan.

Yang lebih berbahaya adalah ketika hati mulai terbiasa dengan yang salah.

Hari ini mungkin kita hanya menutup mata.

Besok ikut membantu.

Lusa mendapatkan keuntungan.

Lama-kelamaan kita tidak lagi merasa bahwa itu sebuah kesalahan.

Di sinilah agama kehilangan daya kendalinya dalam kehidupan.

Al-Qur’an Sudah Mengingatkan

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”

QS. Al-Ma’idah [5]: 2

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita.

Islam tidak melarang kerja sama.

Justru Islam memerintahkan manusia untuk saling membantu.

Tetapi ada batas yang sangat jelas:

Bantu dalam kebaikan, jangan bantu dalam dosa.

Membantu orang mendapatkan haknya adalah kebaikan.

Membantu orang memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak benar adalah persoalan lain.

Membantu orang yang kesulitan adalah ibadah.

Tetapi membantu seseorang menipu, menyuap, memanipulasi, atau merampas hak orang lain bukanlah solidaritas.

Itu adalah kerja sama dalam dosa.

Kongkalikong dan Realitas Sosial Kita

Kita tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat.

Dalam laporan SPI 2025, KPK mencatat indeks integritas nasional sebesar 72,32 dan menyatakan Indonesia masih berada dalam kategori rentan korupsi. KPK juga mencatat bahwa praktik seperti suap dan pungutan liar masih ditemukan dan dalam sejumlah konteks masih mengalami normalisasi.

Angka itu bukan sekadar angka statistik.

Ia seharusnya menjadi cermin moral.

Sebab korupsi besar tidak muncul begitu saja.

Ia dapat tumbuh dari budaya kecil yang membiarkan ketidakjujuran.

Dari kebiasaan menggunakan koneksi untuk kepentingan pribadi.

Dari pembenaran terhadap pemberian “uang terima kasih” yang sebenarnya berkaitan dengan kewenangan.

Dari keberanian mengatakan:

“Semua orang juga melakukannya.”

Padahal banyaknya orang yang melakukan sesuatu tidak otomatis membuat sesuatu itu menjadi benar.

Ketika “Orang Dalam” Mengalahkan Orang yang Berhak

Salah satu bentuk kongkalikong yang paling merusak adalah ketika kedekatan menggantikan kelayakan.

Orang yang memenuhi syarat kalah karena tidak punya koneksi.

Orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan harus menunggu karena tidak memberikan sesuatu.

Orang yang jujur justru dianggap naif karena tidak mau bermain “di belakang layar”.

Jika kebiasaan seperti ini terus dibiarkan, masyarakat akhirnya belajar satu hal yang sangat berbahaya:

“Untuk mendapatkan hak, tidak cukup menjadi benar. Kita harus punya orang dalam.”

Jika pemikiran itu sudah menjadi budaya, maka yang sedang kita rusak bukan hanya sebuah aturan.

Kita sedang merusak kepercayaan sosial.

Jangan Memakan Harta dengan Cara yang Batil

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”

QS. Al-Baqarah [2]: 188

Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan harta bukan hanya soal berapa jumlahnya, tetapi juga dari mana datangnya dan bagaimana cara mendapatkannya.

Ada uang yang jumlahnya kecil tetapi penuh keberkahan.

Ada pula keuntungan besar yang justru membawa persoalan panjang karena diperoleh dengan cara yang batil.

Karena itu, seorang Muslim tidak cukup bertanya:

“Berapa yang saya dapat?”

Tetapi harus bertanya:

“Dari mana saya mendapatkannya?”

“Apakah ini hak saya?”

“Apakah ada orang lain yang dirugikan?”

“Apakah Allah meridhainya?”

Amanah Tidak Boleh Diperjualbelikan

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

QS. An-Nisa’ [4]: 58

Ayat ini memiliki pesan yang sangat dalam.

Ketika seseorang diberi jabatan, kewenangan, kepercayaan, atau tanggung jawab, ia sebenarnya sedang memegang amanah.

Jabatan bukan milik pribadi.

Kewenangan bukan alat untuk membalas jasa.

Pelayanan bukan barang dagangan.

Keputusan bukan sesuatu yang boleh diperjualbelikan.

Maka semakin tinggi amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.

Bahaya Terbesar: Hati Tidak Lagi Merasa Berdosa

Ada kerusakan yang lebih berbahaya daripada kehilangan uang.

Yaitu kehilangan rasa bersalah ketika melakukan kesalahan.

Ketika seseorang pertama kali menerima sesuatu yang tidak semestinya, mungkin hatinya gelisah.

Tetapi jika diulang terus-menerus, hati bisa terbiasa.

Akhirnya:

yang salah dianggap biasa,

yang haram dianggap rezeki,

yang curang dianggap strategi,

yang jujur dianggap bodoh.

Pada titik itulah agama hanya tinggal identitas.

Kita mungkin rajin beribadah secara ritual, tetapi nilai-nilai ibadah belum sepenuhnya masuk ke dalam perilaku sosial.

Padahal shalat seharusnya membentuk pribadi yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

Puasa seharusnya membentuk ketakwaan.

Zakat seharusnya menumbuhkan kepedulian dan kebersihan harta.

Al-Qur’an seharusnya membentuk kejujuran.

Agama tidak cukup hanya terdengar dari lisan. Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Jangan Sampai Kesalehan Berhenti di Rumah Ibadah

Inilah tantangan keberagamaan kita.

Seseorang bisa sangat khusyuk ketika berdoa, tetapi bagaimana ketika berhadapan dengan uang?

Bisa sangat fasih membaca ayat, tetapi bagaimana ketika memiliki kewenangan?

Bisa rajin menghadiri majelis taklim, tetapi bagaimana ketika seorang teman meminta bantuan untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak benar?

Di sinilah kualitas keberagamaan diuji.

Kesalehan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah.

Ia juga harus melahirkan kejujuran dalam hubungan horizontal dengan manusia.

Karena itu, keberagamaan yang kuat bukan hanya membuat seseorang rajin beribadah.

Tetapi juga membuatnya sulit melakukan kezaliman.

Kongkalikong Selalu Mempunyai Korban

Kadang orang yang melakukan kongkalikong merasa:

“Saya tidak merugikan siapa-siapa.”

Benarkah?

Jika seseorang memperoleh sesuatu karena koneksi, mungkin ada orang lain yang lebih berhak tetapi kehilangan kesempatan.

Jika seseorang memperoleh pelayanan khusus karena memberikan imbalan, mungkin ada orang lain yang harus menunggu.

Jika sebuah keputusan sudah diatur sebelumnya, mungkin ada pihak yang tidak pernah mendapatkan kesempatan yang adil.

Karena itu, kongkalikong bukan sekadar persoalan dua orang yang membuat kesepakatan.

Sering kali ada pihak ketiga yang tidak terlihat tetapi menanggung kerugian.

Itulah sebabnya Islam sangat menekankan keadilan.

Kita Tidak Harus Menjadi Hebat untuk Menjadi Jujur

Membangun budaya antikongkalikong tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar.

Ia bisa dimulai dari diri sendiri.

Ketika tidak berhak, kita mengatakan:

“Saya tidak berhak.”

Ketika mendapat kelebihan yang bukan milik kita:

“Ini bukan bagian saya.”

Ketika diminta melakukan sesuatu yang salah:

“Maaf, saya tidak bisa.”

Ketika mengetahui kesalahan:

“Mari kita perbaiki.”

Ketika diberi amanah:

“Saya akan menjaganya.”

Inilah bentuk keberagamaan yang nyata.

Lima Pertanyaan Sebelum Kita “Membantu” Seseorang

Sebelum membantu seseorang, mari bertanya:

1. Apakah dia memang berhak?

2. Apakah cara yang saya gunakan benar?

3. Apakah ada pihak lain yang dirugikan?

4. Apakah saya berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

5. Jika kesepakatan ini diketahui semua orang, apakah saya tetap merasa tenang?

Jika jawabannya membuat hati gelisah, berhentilah sejenak.

Sebab bisa jadi hati sedang memberikan peringatan.

Allah Melihat Apa yang Tidak Dilihat Manusia

Allah SWT berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?”

QS. Al-‘Alaq [96]: 14

Inilah fondasi kesadaran beragama.

Mungkin manusia tidak tahu.

Mungkin atasan tidak tahu.

Mungkin keluarga tidak tahu.

Mungkin masyarakat tidak tahu.

Tetapi Allah tahu.

Kesadaran seperti inilah yang harus kita hidupkan kembali.

Bukan sekadar takut kepada kamera pengawas.

Bukan sekadar takut kepada pemeriksa.

Bukan sekadar takut kepada hukum.

Tetapi memiliki rasa takut kepada Allah bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Membangun Keberagamaan yang Berintegritas

Masyarakat membutuhkan keberagamaan yang tidak berhenti pada simbol.

Kita membutuhkan umat yang:

Rajin beribadah — sekaligus jujur.

Banyak berdoa — sekaligus amanah.

Mencintai Al-Qur’an — sekaligus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman perilaku.

Menghormati ulama — sekaligus menghormati hak orang lain.

Berbicara tentang akhirat — sekaligus menjaga urusan dunia dengan penuh tanggung jawab.

Inilah keberagamaan yang hidup.

Keberagamaan yang tidak hanya memenuhi masjid, tetapi juga menghadirkan kejujuran di kantor.

Tidak hanya terdengar dalam ceramah, tetapi juga terlihat dalam transaksi.

Tidak hanya tampak dalam pakaian, tetapi juga tercermin dalam amanah.

Penutup: Lebih Baik Kehilangan Keuntungan daripada Kehilangan Keberkahan

Kongkalikong mungkin memberikan keuntungan dalam waktu singkat.

Tetapi kita tidak pernah tahu berapa panjang dampaknya.

Sebab yang kita cari sebagai seorang Muslim bukan sekadar keuntungan, melainkan keberkahan.

Kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh dari harta yang tidak jelas sumbernya.

Kita tidak ingin keluarga kita menikmati sesuatu yang diperoleh dengan merugikan orang lain.

Kita tidak ingin jabatan yang seharusnya menjadi jalan pengabdian justru menjadi sumber dosa.

Dan kita tentu tidak ingin ketika suatu hari berdiri di hadapan Allah, ternyata ada hak manusia yang masih melekat pada diri kita.

Maka mari kita mulai dari hal sederhana.

Jangan titipkan kejujuran kepada orang lain.

Jangan jual amanah demi keuntungan.

Jangan jadikan pertemanan sebagai jalan menuju ketidakadilan.

Jangan bantu seseorang mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.

Dan jangan pernah lupa:

Ketika manusia tidak melihat, Allah tetap melihat.

Ketika manusia lupa, Allah tidak pernah lupa.

Ketika manusia menutup sebuah rahasia, Allah mengetahui apa yang tersembunyi.

Karena itu, mari kita bangun keberagamaan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga jujur secara sosial.

Sebab ukuran keberagamaan kita bukan hanya seberapa sering kita menyebut nama Allah, tetapi juga seberapa takut kita mengkhianati amanah-Nya.

JANGAN BERSEKONGKOL DALAM DOSA, MESKI DUNIA MENAWARKAN KEUNTUNGAN.

LEBIH BAIK KEHILANGAN KEUNTUNGAN DARIPADA KEHILANGAN KEBERKAHAN.


Selasa, 22 September 2026

MENJADI LANSIA YANG BERSYUKUR DAN BAHAGIA MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

 


MENJADI LANSIA YANG BERSYUKUR DAN BAHAGIA MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Menikmati Usia Senja sebagai Anugerah, Bukan Beban

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang
Fasilitator Keluarga Sakinah

Usia terus bertambah. Rambut yang dahulu hitam perlahan memutih, langkah tidak lagi secepat dulu, pendengaran mungkin mulai berkurang, dan tubuh membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.

Namun, menjadi lanjut usia bukan berarti kehidupan telah selesai.

Justru, usia senja adalah kesempatan yang sangat berharga untuk semakin dekat kepada Allah, menikmati kasih sayang keluarga, berbagi pengalaman kepada generasi muda, serta mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal.

Dalam konteks Sekolah Lansia, kita perlu mengubah cara pandang terhadap masa tua. Lansia bukan sekadar orang yang membutuhkan perhatian, tetapi juga pribadi yang memiliki pengalaman, keteladanan, kearifan, dan peran penting dalam keluarga serta masyarakat.

Lansia adalah Anugerah yang Patut Disyukuri

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...”
(QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah kemampuan melihat kebaikan Allah di tengah berbagai keterbatasan.

Masih diberi umur adalah nikmat.
Masih bisa beribadah adalah nikmat.
Masih dapat berkumpul dengan keluarga adalah nikmat.
Masih bisa tersenyum, berbicara, berjalan, makan, dan menikmati udara pagi juga merupakan nikmat.

Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang sudah hilang, sampai lupa menghitung apa yang masih Allah titipkan.

Karena itu, lansia yang bersyukur bukanlah orang yang tidak mempunyai masalah. Ia adalah orang yang mampu berkata:

“Saya memang tidak sekuat dulu, tetapi Allah masih memberi saya kesempatan untuk berbuat baik.”

Bahagia Tidak Harus Menunggu Kaya atau Sehat Sempurna

Banyak orang mengira kebahagiaan hanya milik mereka yang sehat, memiliki banyak harta, atau selalu dikelilingi kesenangan.

Al-Qur’an memberikan ukuran yang berbeda. Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Inilah salah satu kunci kebahagiaan lansia: ketenangan hati.

Tubuh boleh melemah, tetapi hati jangan kehilangan harapan.

Penghasilan boleh berkurang, tetapi rasa syukur jangan berkurang.

Aktivitas boleh terbatas, tetapi ibadah dan kebaikan tetap dapat dilakukan.

Seorang lansia mungkin tidak lagi mampu bekerja seperti ketika muda, tetapi ia masih dapat berdoa untuk anak-anaknya. Ia dapat memberikan nasihat. Ia dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada cucu. Ia dapat tersenyum kepada tetangga. Ia dapat menjadi pendengar yang baik bagi pasangan dan keluarganya.

Semua itu adalah amal.

Sunnah Nabi: Menghargai Orang yang Lebih Tua

Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk menghormati orang yang lebih tua.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini sekaligus mengingatkan keluarga agar lansia tidak dipandang sebagai beban.

Orang tua yang sudah lanjut usia membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan obat. Mereka membutuhkan sapaan, perhatian, penghormatan, teman berbicara, dan rasa dihargai.

Terkadang yang dibutuhkan seorang ibu atau ayah bukan uang dalam jumlah besar.

Cukup anak datang dan berkata:

“Ayah, bagaimana kabarnya hari ini?”

Atau:

“Ibu, mari kita minum teh bersama.”

Kalimat sederhana, tetapi dapat menjadi sumber kebahagiaan yang luar biasa.

Sekolah Lansia: Belajar Tidak Mengenal Batas Usia

Sekolah Lansia bukan berarti menganggap lansia belum mengetahui apa-apa. Sebaliknya, Sekolah Lansia adalah ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, menjaga kesehatan, memperkuat spiritualitas, dan membangun kebahagiaan bersama.

Di usia senja, belajar tetap penting.

Belajar mengelola emosi.
Belajar menjaga kesehatan.
Belajar memahami perubahan dalam keluarga.
Belajar berkomunikasi dengan anak dan cucu.
Belajar menerima perubahan fisik.
Belajar memperbaiki ibadah.
Belajar mempersiapkan kehidupan akhirat.

Ada satu prinsip sederhana:

Selama masih diberi umur, masih ada kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik.

Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah di Usia Senja

Konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah sering dibicarakan ketika pasangan baru menikah. Padahal, nilai-nilai tersebut justru semakin penting ketika suami dan istri memasuki usia lanjut.

Sakinah berarti ketenteraman.

Pada masa tua, pasangan tidak selalu membutuhkan kemewahan. Yang lebih dibutuhkan adalah rasa aman: ada seseorang yang menemani, memahami, dan menerima kekurangan.

Mawaddah adalah cinta yang diwujudkan dalam perhatian.

Cinta di masa muda mungkin diwujudkan dengan bunga, hadiah atau perjalanan. Di usia senja, cinta dapat hadir dalam bentuk yang sederhana:

“Sudah minum obat?”
“Mari saya temani.”
“Biar saya bantu.”
“Tidak apa-apa, kita jalani bersama.”

Sementara rahmah adalah kasih sayang yang semakin luas ketika kekuatan fisik mulai berkurang.

Ketika suami mulai sulit berjalan, istri membantu.

Ketika istri mulai lupa sesuatu, suami bersabar.

Ketika pendengaran pasangan berkurang, jangan membentak; ulangi dengan lembut.

Ketika pasangan sakit, jangan hanya melihat kelemahannya, tetapi ingatlah seluruh perjalanan hidup yang telah dilalui bersama.

Bukankah dahulu kita berjanji untuk bersama dalam suka dan duka?

Maka usia senja adalah kesempatan untuk membuktikan janji itu.

Jangan Biarkan Kesepian Menguasai Hati

Salah satu tantangan kehidupan lansia adalah kesepian.

Anak-anak mungkin sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Rumah yang dahulu ramai perlahan menjadi lebih sepi.

Pada kondisi seperti ini, lansia perlu membangun lingkungan sosial yang sehat.

Berkumpul dengan sesama lansia, mengikuti kegiatan keagamaan, menghadiri pengajian, berolahraga, mengikuti kegiatan Sekolah Lansia, berkebun, membaca, atau melakukan aktivitas sosial dapat membantu menjaga semangat hidup.

Namun yang paling penting adalah tetap menjaga hubungan dengan Allah.

Kesepian tidak selalu berarti sendirian.

Orang yang dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendiri.

Jangan Terlalu Banyak Menyesali Masa Lalu

Ada lansia yang sering berkata:

“Seandainya dulu saya begini...”

“Seandainya saya tidak melakukan itu...”

“Seandainya waktu bisa kembali...”

Masa lalu memang tidak dapat diubah. Tetapi masa depan masih dapat diisi dengan kebaikan.

Allah tidak meminta kita mengulang masa lalu. Allah memberi kesempatan untuk memperbaiki hari ini.

Jika dahulu kurang membaca Al-Qur’an, mari mulai sekarang.

Jika dahulu jarang berdoa, mari perbanyak doa.

Jika dahulu pernah menyakiti seseorang, mari meminta maaf.

Jika hubungan dengan anak kurang baik, mari membuka pintu komunikasi.

Jika pernah melakukan kesalahan, mari bertaubat.

Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Allah selama nyawa masih berada di dalam tubuh.

Menjadi Lansia yang Memberi Manfaat

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, al-Mu‘jam al-Awsath; maknanya masyhur dalam literatur hadis)

Usia lanjut bukan alasan untuk berhenti bermanfaat.

Lansia dapat menjadi sumber nasihat bagi keluarga.

Dapat menjadi tempat cucu belajar adab.

Dapat menjadi teladan dalam kesabaran.

Dapat mengajarkan pengalaman hidup.

Dapat mendoakan anak-anak.

Dapat membantu kegiatan sosial sesuai kemampuan.

Bahkan senyuman dan keramahan seorang lansia dapat menjadi sedekah.

Tidak harus kuat untuk bermanfaat. Tidak harus kaya untuk berbagi.

Menjaga Hubungan dengan Anak dan Cucu

Ada kalanya orang tua merasa kecewa karena anak tidak selalu mengikuti keinginannya.

Sebaliknya, anak juga dapat merasa orang tua terlalu banyak menasihati atau mencampuri kehidupan mereka.

Di sinilah diperlukan komunikasi yang penuh kasih.

Orang tua perlu belajar mengatakan:

“Ayah dan Ibu mungkin tidak selalu benar. Kami hanya ingin yang terbaik untuk kalian.”

Anak juga perlu belajar mengatakan:

“Ayah, Ibu, kami mungkin tidak selalu bisa memenuhi semua keinginan, tetapi kami tetap menyayangi dan menghormati Ayah dan Ibu.”

Keluarga yang bahagia bukan keluarga tanpa perbedaan.

Keluarga bahagia adalah keluarga yang mampu menyelesaikan perbedaan dengan kasih sayang.

Lima Kebiasaan Lansia Bersyukur dan Bahagia

Agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai teori, mari membiasakan lima hal sederhana:

Pertama, awali hari dengan syukur.
Bangun tidur dan ucapkan Alhamdulillah. Sadari bahwa Allah masih memberikan satu hari lagi untuk berbuat baik.

Kedua, dekatkan diri kepada Allah.
Jaga salat, perbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa dan memohon ampun.

Ketiga, rawat hubungan keluarga.
Jangan pelit dengan senyum, salam, ucapan terima kasih, dan kata maaf.

Keempat, tetap aktif sesuai kemampuan.
Jaga kesehatan, bergerak, bersosialisasi, belajar dan melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Kelima, jangan berhenti memberi manfaat.
Bagikan pengalaman, ilmu, nasihat dan doa kepada generasi berikutnya.

Menutup Usia dengan Husnul Khatimah

Pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti. Ia adalah pengingat agar kita memanfaatkan waktu yang masih diberikan.

Karena itu, menjadi lansia yang bahagia bukan berarti berpura-pura bahwa tidak ada sakit, kehilangan, atau kesulitan.

Bahagia adalah ketika hati mampu menerima ketentuan Allah sambil terus berusaha menjadi lebih baik.

Boleh tubuh menua, tetapi semangat beribadah jangan ikut tua.

Boleh rambut memutih, tetapi hati jangan kehilangan cahaya.

Boleh langkah semakin lambat, tetapi langkah menuju Allah jangan berhenti.

Dan ketika suatu saat anak-anak dan cucu mengenang kita, semoga yang mereka ingat bukan hanya wajah kita, tetapi juga doa, kasih sayang, kesabaran, keteladanan, dan kebaikan yang pernah kita tinggalkan.

Pesan untuk Sahabat Lansia

Sahabatku yang telah memasuki usia senja...

Jangan merasa tidak berguna hanya karena tubuh tidak sekuat dahulu.

Jangan merasa hidup telah selesai hanya karena usia telah bertambah.

Jangan terlalu lama menangisi apa yang telah pergi.

Lihatlah apa yang masih Allah berikan.

Masih ada waktu untuk bersujud.

Masih ada waktu untuk memeluk anak dan cucu.

Masih ada waktu untuk meminta maaf.

Masih ada waktu untuk memaafkan.

Masih ada waktu untuk berbagi.

Masih ada waktu untuk tersenyum.

Dan yang paling penting:

Masih ada waktu untuk mendekat kepada Allah.

Mari jalani masa tua dengan iman yang semakin kuat, hati yang semakin lapang, keluarga yang semakin penuh kasih, tubuh yang dijaga semampunya, dan kehidupan yang semakin bermanfaat.

Karena usia senja bukan akhir perjalanan.

Ia adalah fase indah untuk memanen hikmah, memperbanyak syukur, menebarkan rahmah, dan mempersiapkan diri menuju perjumpaan dengan Allah SWT.

“Ya Allah, berkahilah usia kami, sehatkan tubuh kami, tenangkan hati kami, harmoniskan keluarga kami, ampuni dosa-dosa kami, jadikan sisa umur kami penuh kebaikan, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.”

Senin, 21 September 2026

Membaca Luka yang Sering Tidak Terucapkan dalam Rumah Tangga

 


Madrasah Keluarga Sakinah

Membaca Luka yang Sering Tidak Terucapkan dalam Rumah Tangga

“Abang itu kenapa sekarang apa-apa harus saya yang ikuti?”

Suara istrinya terdengar pelan. Tidak membentak. Tetapi ada sesuatu yang berat di balik kalimat itu.

Sang suami menarik napas.

“Saya cuma mengingatkan. Saya ingin keluarga kita baik.”

“Bukan mengingatkannya yang membuat saya capek. Tapi rasanya seperti saya tidak pernah dipercaya mengambil keputusan sendiri.”

Suasana rumah tiba-tiba hening.

Beberapa saat kemudian, giliran sang suami yang berkata,

“Dan saya juga merasa tidak pernah bebas berbuat baik kepada orang tua. Setiap kali saya membantu Ibu atau saudara, selalu dianggap lebih mementingkan mereka daripada keluarga sendiri.”

Keduanya diam.

Padahal, kalau dilihat dari luar, mereka bukan pasangan yang tidak saling mencintai.

Mereka hanya sedang sama-sama merasa tidak dimengerti.

Dan mungkin, kisah seperti ini tidak asing bagi banyak keluarga.

Ketika Suami Berkata: “Istri Saya Terlalu Mengatur”

Ada suami yang mengeluh,

“Sedikit-sedikit diingatkan. Mau melakukan sesuatu harus bilang. Mau bertemu teman ditanya. Mau membantu keluarga sendiri dipersoalkan. Saya seperti tidak dipercaya.”

Tetapi bisa jadi, di balik perilaku yang terlihat seperti “mengatur”, seorang istri sebenarnya sedang mencari rasa aman.

Ia ingin dilibatkan.

Ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.

Ia ingin merasa bahwa dirinya adalah pasangan hidup, bukan sekadar orang yang diberi tahu setelah keputusan dibuat.

Masalahnya, cara menyampaikan kebutuhan itu terkadang keliru.

Niatnya perhatian, tetapi yang terdengar menjadi perintah.

Niatnya ingin membantu, tetapi pasangan menangkapnya sebagai kritik.

Niatnya ingin menjaga keluarga, tetapi pasangan merasakannya sebagai pengawasan.

Di sinilah pasangan perlu belajar membedakan antara niat yang baik dan cara yang tepat.

Sebab niat baik tidak selalu menghasilkan perasaan yang baik apabila disampaikan dengan cara yang salah.

Ketika Istri Berkata: “Suami Saya Terlalu Memihak Keluarganya”

Di sisi lain, ada seorang istri yang berkata,

“Saya tidak pernah melarang suami berbakti kepada orang tuanya. Saya tahu itu kewajiban. Tetapi apakah setiap kali orang tuanya membutuhkan sesuatu, keluarga kami harus selalu mengalah?”

Kalimat ini penting untuk didengar.

Karena terkadang seorang istri bukan sedang memusuhi mertua.

Ia hanya sedang bertanya dalam hati:

“Di mana posisi saya dan anak-anak dalam prioritas suami saya?”

Seorang suami tentu memiliki kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”

(QS. Al-Isra’: 23)

Berbakti kepada orang tua adalah kemuliaan.

Tetapi setelah seseorang menikah dan memiliki keluarga, ia juga memikul amanah terhadap istri dan anak-anaknya.

Karena itu, persoalannya bukan:

“Harus memilih orang tua atau istri?”

Bukan.

Persoalannya adalah:

“Bagaimana seorang suami dapat berbakti kepada orang tuanya tanpa membuat istri dan anak-anak merasa kehilangan tempat dalam hidupnya?”

Di situlah kedewasaan rumah tangga diuji.

BUKAN SOAL SIAPA YANG SALAH

Banyak konflik rumah tangga menjadi semakin panjang karena masing-masing sibuk membuktikan bahwa dirinya benar.

Suami berkata:

“Kalau kamu tidak terlalu mengatur, saya juga tidak akan marah.”

Istri menjawab:

“Kalau kamu tidak terlalu memihak keluarga kamu, saya juga tidak akan banyak bicara.”

Akhirnya terbentuk lingkaran:

Suami merasa dikontrol → suami menjauh → istri merasa tidak diprioritaskan → istri semakin menuntut → suami merasa semakin dikontrol.

Begitu seterusnya.

Padahal yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah pengadilan untuk menentukan siapa yang paling benar.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan?”

Bukan:

“Kenapa kamu selalu begitu?”

Kalimat pertama membuka pintu.

Kalimat kedua sering membuat pasangan menutup diri.

ADA EMPAT HAL YANG PERLU DIBICARAKAN

Rumah tangga tidak cukup hanya dibangun dengan cinta.

Cinta perlu diterjemahkan menjadi kesepakatan.

1. Keuangan

Berapa yang menjadi kebutuhan keluarga inti?

Berapa yang dapat dialokasikan untuk membantu orang tua?

Bagaimana jika orang tua atau saudara membutuhkan bantuan mendadak?

Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan rumus matematika. Tetapi keterbukaan akan mengurangi kecurigaan.

Membantu keluarga besar tidak harus menjadi rahasia dari pasangan.

2. Waktu

Ada waktu untuk orang tua.

Ada waktu untuk pekerjaan.

Ada waktu untuk anak-anak.

Dan tentu saja ada waktu untuk suami dan istri.

Pasangan tidak seharusnya hanya mendapatkan “sisa waktu”.

Sebab terkadang yang membuat seseorang merasa tidak dicintai bukan kurangnya uang, melainkan kurangnya kehadiran.

3. Pengambilan keputusan

Keputusan yang menyangkut keluarga inti sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu antara suami dan istri.

Bukan berarti orang tua tidak boleh memberikan nasihat.

Tetapi pasangan hidup perlu merasakan bahwa dirinya adalah mitra utama dalam membangun rumah tangga.

Konsultasi kepada orang tua adalah bentuk penghormatan.

Musyawarah dengan pasangan adalah bentuk tanggung jawab.

Keduanya dapat berjalan bersama.

4. Batas yang sehat

Setelah menikah, seseorang tidak kehilangan orang tua dan saudara-saudaranya.

Tetapi ia juga sedang membangun sebuah keluarga baru.

Karena itu, diperlukan batas yang sehat.

Batas bukan berarti memutus hubungan.

Batas berarti mengetahui:

mana yang menjadi urusan keluarga inti, mana yang perlu dibicarakan dengan keluarga besar, dan mana yang sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu oleh suami dan istri.

Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang jauh dari keluarga besar.

Tetapi rumah tangga yang mampu menjaga hubungan dengan keluarga besar tanpa kehilangan keharmonisan keluarga inti.

SUAMI, COBA TANYAKAN INI KEPADA DIRI SENDIRI

Sebelum mengatakan, “Istri saya terlalu mengatur,” mungkin ada baiknya bertanya:

  • Apakah saya sudah cukup melibatkan istri dalam keputusan keluarga?

  • Apakah saya menjelaskan rencana ketika hendak membantu orang tua?

  • Apakah saya sudah memberikan rasa aman kepada istri?

  • Apakah saya menggunakan alasan “berbakti kepada orang tua” untuk menghindari persoalan yang sebenarnya perlu saya selesaikan dengan keluarga inti?

  • Apakah istri saya mendapatkan perhatian yang sama kuatnya dengan yang saya berikan kepada keluarga besar?

Bukan untuk menyalahkan diri.

Tetapi untuk memperbaiki diri.

ISTRI, COBA TANYAKAN INI KEPADA DIRI SENDIRI

Sebelum mengatakan, “Suami saya terlalu memihak keluarganya,” mungkin ada baiknya bertanya:

  • Apakah perhatian saya kepada suami sudah berubah menjadi kontrol?

  • Apakah saya menyampaikan kebutuhan dengan bahasa yang membuat suami merasa dihargai?

  • Apakah saya menghormati hubungan suami dengan orang tuanya?

  • Apakah setiap bantuan suami kepada keluarganya selalu saya anggap sebagai ancaman terhadap keluarga kami?

  • Apakah sebenarnya yang saya butuhkan bukan suami berhenti membantu keluarganya, tetapi saya ingin merasa lebih diperhatikan dan diprioritaskan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk mencari siapa yang salah.

Tetapi untuk menemukan apa yang perlu diperbaiki bersama.

JANGAN MEMBUAT PERNIKAHAN MENJADI PERLOMBAAN

Suami tidak perlu memenangkan perdebatan dengan istrinya.

Istri juga tidak perlu memenangkan pertengkaran dengan suaminya.

Sebab kalau suami menang dan istri terluka, apakah rumah tangga benar-benar menang?

Kalau istri berhasil membuktikan suaminya salah tetapi hubungan mereka semakin jauh, apakah itu kemenangan?

Dalam rumah tangga, kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika dua orang yang sempat berbeda akhirnya menemukan jalan untuk kembali berjalan bersama.

Karena itu, ubahlah beberapa kalimat sederhana.

Dari:

“Kamu selalu mengatur saya.”

Menjadi:

“Saya ingin diberi ruang untuk mengambil keputusan, tetapi saya juga ingin tetap melibatkanmu.”

Dari:

“Kamu selalu lebih mementingkan keluargamu.”

Menjadi:

“Saya tidak ingin menghalangi kamu berbakti kepada orang tua. Saya hanya ingin merasa bahwa saya dan anak-anak juga menjadi bagian penting dalam keputusanmu.”

Dari:

“Ini keluarga saya, bukan keluarga kamu.”

Menjadi:

“Mari kita cari cara agar keluarga besar kita tetap terhormat, sementara keluarga kecil kita juga tetap terjaga.”

Kadang yang perlu diubah bukan pasangan kita.

Tetapi cara kita berbicara kepadanya.

KELUARGA SAKINAH BUKAN KELUARGA TANPA MASALAH

Allah menggambarkan tujuan pernikahan dengan bahasa yang sangat indah:

لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Perhatikan dua kata yang sangat penting:

مَوَدَّةً — mawaddah

dan

رَحْمَةً — rahmah.

Mawaddah membuat kita ingin membahagiakan pasangan.

Rahmah membuat kita tetap lembut ketika pasangan sedang tidak sempurna.

Sebab suami tidak akan pernah mendapatkan istri yang sempurna.

Dan istri tidak akan pernah mendapatkan suami yang sempurna.

Yang mungkin kita dapatkan adalah seseorang yang bersedia belajar menjadi lebih baik bersama kita.

MUNGKIN PASANGAN KITA TIDAK SEDANG MENYERANG

Mungkin ketika istri berkata,

“Jangan terlalu mengatur saya,”

yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

“Tolong percaya kepada saya.”

Mungkin ketika istri berkata,

“Kamu terlalu memperhatikan keluargamu,”

yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

“Tolong yakinkan saya bahwa saya tetap penting bagi kamu.”

Dan mungkin ketika suami berkata,

“Saya hanya ingin berbakti kepada orang tua,”

yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

“Tolong pahami bahwa saya juga punya tanggung jawab kepada keluarga tempat saya dibesarkan.”

Jika masing-masing hanya mendengar kata-kata, pertengkaran akan terus berulang.

Tetapi jika masing-masing berusaha mendengar kebutuhan yang tersembunyi di balik kata-kata, mungkin ada jalan keluar.

PULANGLAH KEPADA KATA “KITA”

Rumah tangga tidak dibangun dengan kata “aku” dan “kamu” sebanyak-banyaknya.

Ia dibangun dengan kata:

“Kita.”

Kita bicarakan.

Kita sepakati.

Kita perbaiki.

Kita belajar.

Kita hadapi.

Kita jaga.

Dan ketika masalah datang, jangan buru-buru bertanya:

“Siapa yang salah?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa kita lakukan agar masalah ini tidak merusak kita?”

Sebab suami dan istri bukan dua kubu yang sedang bertanding.

Mereka adalah dua orang yang telah memilih untuk berjalan dalam satu perjalanan panjang.

Kadang jalannya mulus.

Kadang berliku.

Kadang salah satu lebih lelah daripada yang lain.

Tetapi selama keduanya masih mau saling menggenggam, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki arah.

Jangan meminta pasangan memilih antara kita dan keluarganya.

Bantulah pasangan menemukan cara untuk mencintai keluarganya tanpa kehilangan keluarganya sendiri.

Dan pada akhirnya, mungkin itulah salah satu makna keluarga sakinah:

bukan keluarga yang tidak pernah berbeda, tetapi keluarga yang ketika berbeda tetap memilih untuk saling memahami, saling menjaga, dan mencari jalan pulang bersama.

Wahyu Salim, S.Ag.