Selasa, 11 Agustus 2026

Renungan Setengah Abad Di Ambang Usia 50 Tahun

 


Renungan Setengah Abad

Di Ambang Usia 50 Tahun

Hari ini aku berdiri di sebuah jembatan waktu.

Lima puluh tahun. Setengah abad. Bukan sekadar angka yang bertambah pada lembar identitas, tetapi jejak panjang yang telah ditulis oleh takdir Allah di atas hamparan usia. Lima puluh tahun berarti ribuan fajar yang pernah menyapaku, ribuan senja yang pernah mengajarkanku tentang pulang, jutaan detik yang telah berlalu tanpa pernah bisa dipanggil kembali.

Aku memandang ke belakang, dan kulihat seorang anak kecil yang dahulu berlari di halaman rumah, menggenggam mimpi yang belum bernama. Ia tidak pernah tahu bahwa suatu hari ia akan menjadi seorang suami, ayah, penyuluh agama, pegawai negara, pemimpin organisasi, sahabat masyarakat, dan saksi bagi begitu banyak kisah manusia. Ia hanya tahu bahwa hidup harus dijalani, dan bahwa di langit selalu ada Tuhan yang mengawasi.

Hari ini aku ingin duduk sejenak, bukan untuk menghitung keberhasilanku, melainkan untuk menghitung nikmat yang terlalu banyak hingga tak sanggup kuhitung.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat itu terasa lebih dekat ketika usia mencapai lima puluh. Sebab semakin tua seseorang, semakin ia sadar bahwa hidup bukanlah hasil kecerdasan semata, melainkan karunia yang terus menerus dititipkan.

Sebagai Hamba Allah

Ya Allah, jika lima puluh tahun ini adalah sebuah perjalanan menuju-Mu, maka betapa sering aku berjalan dengan langkah yang tertatih.

Ada hari-hari ketika aku begitu dekat kepada-Mu, menangis dalam doa, merasakan kehadiran-Mu lebih dekat daripada urat leherku sendiri. Namun ada pula hari-hari ketika aku sibuk dengan dunia, larut dalam urusan, mengejar target, memenuhi undangan, menyusun laporan, memimpin rapat, berbicara di mimbar, tetapi lupa menundukkan hati.

Aku sadar, ibadahku belum seindah yang seharusnya. Salatku masih sering tergesa. Zikirku masih sering kalah oleh kegaduhan pikiran. Sedekahku belum seikhlas para kekasih-Mu. Dakwahku masih bercampur dengan keinginan untuk dihargai.

Namun Engkau tetap menutup aibku.

Engkau masih memberiku kesempatan untuk sujud.

Engkau masih membangunkanku pada pagi-pagi yang baru.

Engkau masih mengizinkanku mengucapkan nama-Mu.

Maka pada usia lima puluh ini, aku tidak meminta hidup yang lebih panjang tanpa makna. Aku hanya memohon hati yang lebih tunduk, amal yang lebih ikhlas, dan akhir yang lebih indah.

Sebagai Anak

Aku teringat wajah ayah dan ibu.

Betapa banyak doa yang mereka titipkan sebelum aku mampu mengerti arti doa. Betapa banyak lelah yang mereka sembunyikan agar aku dapat tumbuh dengan harapan.

Aku pernah menjadi anak yang membantah.

Aku pernah menjadi anak yang terlambat memahami.

Aku pernah membuat mereka menunggu, khawatir, kecewa, bahkan menangis.

Kini ketika rambutku mulai memutih, aku baru mengerti bahwa menjadi orang tua adalah pekerjaan yang tak pernah selesai. Aku baru memahami mengapa ibu selalu gelisah ketika anak-anaknya belum pulang, mengapa ayah tampak keras padahal sedang melindungi.

Jika masih ada kesempatan, aku ingin lebih sering menggenggam tangan mereka. 

Sehatkan, bahagiakan dan muliakan mereka dengan rahmat dan ampunan-Mu Ya Allah di dunia yang sementara ini & akhirat yang selama-lamanya.

Jika salah seorang atau keduanya telah lebih dahulu dipanggil-Mu, maka izinkan setiap doa yang kupanjatkan menjadi cahaya di alam kubur mereka.

Ya Allah, jadikan aku anak yang tidak memutus bakti hanya karena waktu telah memisahkan.

Sebagai Suami

Di sampingku ada seorang perempuan yang telah berjalan bersamaku melewati musim-musim kehidupan.

Ia menyaksikan aku ketika berhasil dan ketika gagal.

Ia mengenalku ketika dunia memuji, dan tetap tinggal ketika aku tidak memiliki apa-apa selain harapan.

Berapa banyak kesabaran yang telah ia keluarkan tanpa pernah dicatat manusia?

Berapa banyak air mata yang ia sembunyikan agar rumah ini tetap hangat?

Aku tahu, cinta bukan hanya tentang kata-kata indah, tetapi tentang tetap memilih satu sama lain ketika usia tidak lagi muda, ketika wajah mulai berubah, ketika tubuh mulai lelah.

Pada usia lima puluh ini, aku ingin belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa: lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak menghargai daripada menuntut, lebih banyak mendoakan daripada menyalahkan.

Semoga rumah tangga kami menjadi tempat pulang yang dirahmati, tempat anak-anak belajar tentang kasih sayang, dan tempat malaikat senang singgah.

Sebagai Ayah

Anak-anakku adalah ayat-ayat Allah yang hidup.

Mereka datang bukan untuk menjadi milikku, tetapi untuk menjadi amanah yang harus kukembalikan kepada Pemiliknya.

Aku pernah terlalu sibuk.

Aku pernah hadir secara fisik tetapi jauh secara batin.

Aku pernah mengira bahwa memberi nafkah sudah cukup, padahal yang mereka butuhkan juga adalah pelukan, percakapan, teladan, dan doa.

Kini aku melihat mereka tumbuh dengan jalan mereka masing-masing.

Ada yang belajar, ada yang merantau, ada yang sedang mencari jati diri.

Aku tidak bisa lagi mengatur seluruh langkah mereka.

Yang bisa kulakukan adalah menjadi pohon yang akarnya kuat, agar mereka selalu tahu ke mana harus kembali ketika angin kehidupan terlalu keras.

Ya Allah, lindungilah anak-anakku.

Jadikan mereka lebih saleh daripada ayahnya.

Lebih berilmu daripada ayahnya.

Lebih bermanfaat daripada ayahnya.

Dan jangan biarkan aku menjadi penghalang bagi hidayah mereka.

Sebagai Saudara

Aku lahir di tengah keluarga, di antara saudara-saudara yang berbagi darah, kenangan, dan sejarah.

Kami pernah berebut, tertawa, menangis, saling membantu, saling menyakiti, lalu saling memaafkan.

Usia lima puluh mengajarkanku bahwa hubungan saudara tidak diukur oleh seberapa sering bertemu, tetapi oleh seberapa tulus menjaga ketika berjauhan.

Aku ingin menjadi saudara yang menghadirkan keteduhan.

Yang tidak menambah luka.

Yang tidak memperbesar perbedaan.

Yang menjadi jembatan ketika yang lain berjarak.

Karena pada akhirnya, keluarga adalah tempat di mana nama kita pertama kali dipanggil dengan cinta.

Sebagai Pegawai

Aku pernah memulai dari langkah-langkah kecil.

Menjadi guru honorer, kemudian mengabdi dalam berbagai amanah, hingga akhirnya menjadi bagian dari Kementerian Agama.

Dari satu meja ke meja lain, dari satu tugas ke tugas berikutnya, dari satu jabatan ke jabatan yang lain, aku belajar bahwa pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi ladang pertanggungjawaban.

Berapa banyak surat yang kutandatangani?

Berapa banyak keputusan yang pernah kuambil?

Berapa banyak orang yang mungkin terbantu, atau justru pernah terluka karena kekuranganku?

Ya Allah, jika selama pengabdianku ada hak manusia yang belum kutunaikan, bukakan jalan bagiku untuk memperbaikinya.

Jangan biarkan jabatan menjadi hijab antara aku dan kerendahan hati.

Sebagai Penyuluh Agama Islam

Inilah amanah yang paling sering membuatku gemetar.

Aku berbicara tentang agama, sementara diriku sendiri masih belajar menjadi hamba.

Aku mengajak orang menuju Allah, sementara aku sendiri masih sering tersesat oleh ego.

Aku berdiri di depan masyarakat, di masjid, mushalla, sekolah, rumah tahanan, kelompok binaan, forum lintas agama, ruang-ruang dialog, menyampaikan ayat dan hadis.

Namun sesungguhnya setiap ceramah adalah nasihat untuk diriku sendiri.

Aku bersyukur karena Engkau mengizinkanku menjadi penyuluh.

Aku bersyukur karena Engkau mempertemukanku dengan begitu banyak manusia: pasangan yang sedang bertikai, remaja yang sedang bingung, keluarga yang sedang rapuh, warga binaan yang sedang mencari harapan, masyarakat yang sedang membutuhkan arah.

Mereka mungkin mengira aku datang membawa jawaban.

Padahal sering kali aku pulang membawa pelajaran.

Ya Allah, jadikan lisanku lembut.

Jadikan ilmunya bermanfaat.

Jadikan dakwahku menghidupkan, bukan menghakimi.

Dan ketika kelak aku tidak lagi mampu berdiri di mimbar, semoga masih ada orang yang mengingatku karena pernah merasa dikuatkan oleh satu kalimat yang keluar dari mulutku.

Sebagai Anggota Masyarakat

Aku hidup bukan sendirian.

Aku dibentuk oleh tetangga, sahabat, guru, ulama, tokoh masyarakat, dan orang-orang biasa yang mungkin tidak pernah disebut dalam sejarah.

Aku ingin menjadi bagian dari masyarakat yang menghadirkan manfaat.

Menyapa dengan ramah.

Mendamaikan yang berselisih.

Membantu tanpa banyak suara.

Menjadi peneduh, bukan pemanas.

Usia lima puluh membuatku sadar bahwa yang paling lama dikenang bukanlah seberapa tinggi posisi seseorang, tetapi seberapa baik ia memperlakukan orang lain.

Sebagai Warga Negara Indonesia

Aku dilahirkan di negeri yang kaya akan keberagaman.

Aku menyaksikan perubahan zaman: dari dunia yang sederhana menuju dunia digital yang bergerak sangat cepat.

Aku melihat bangsa ini jatuh dan bangkit, berselisih dan berdamai, berharap dan berjuang.

Sebagai warga negara, aku ingin mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kejujuran dalam bekerja, dengan kepedulian kepada sesama, dengan menjaga kerukunan, dengan mendidik generasi, dan dengan doa yang tidak pernah putus.

Semoga negeri ini tetap menjadi rumah yang damai bagi semua anak bangsa.

Portofolio Kehidupan

Jika dunia bertanya apa yang telah kucapai, mungkin ada daftar yang bisa disebut: jabatan, penghargaan, organisasi, tulisan, pelatihan, forum, program, dan berbagai jejak pengabdian.

Namun ketika malaikat bertanya, semua itu mungkin tidak banyak berarti kecuali jika di dalamnya ada keikhlasan.

Aku pernah merasa bangga.

Aku pernah merasa berhasil.

Aku pernah merasa dibutuhkan.

Tetapi usia lima puluh mengajarkanku bahwa semua itu hanyalah titipan.

Hari ini dipuji, besok dilupakan.

Hari ini memimpin, besok digantikan.

Hari ini kuat, besok sakit.

Hari ini ada, besok mungkin tinggal nama.

Yang benar-benar tinggal hanyalah amal.

Maka biarlah portofolioku yang paling utama adalah hati yang berusaha jujur kepada Allah.

Menuju Sisa Perjalanan

Lima puluh tahun berarti aku tidak lagi memulai hidup.

Aku sedang menyempurnakan perjalanan.

Mungkin separuh usia telah berlalu.

Mungkin lebih.

Aku tidak tahu berapa halaman yang masih tersisa.

Tetapi aku ingin menulisnya dengan tinta yang lebih bening.

Lebih banyak istighfar daripada keluhan.

Lebih banyak syukur daripada tuntutan.

Lebih banyak memberi daripada meminta.

Lebih banyak memaafkan daripada mengingat luka.

Ya Allah, jika Engkau masih memberiku umur, jadikan tahun-tahun setelah ini sebagai tahun-tahun yang paling dekat kepada-Mu.

Jadikan aku suami yang lebih lembut.

Ayah yang lebih hadir.

Anak yang lebih berbakti.

Saudara yang lebih tulus.

Pegawai yang lebih amanah.

Penyuluh yang lebih bijaksana.

Warga masyarakat yang lebih bermanfaat.

Warga negara yang lebih bertanggung jawab.

Dan ketika kelak aku benar-benar pulang kepada-Mu, biarlah orang-orang tidak mengenangku karena kesempurnaanku, tetapi karena kebaikan kecil yang pernah Engkau izinkan mengalir melalui diriku.

Hari ini, di usia lima puluh tahun, aku tidak sedang merayakan bertambahnya umur.

Aku sedang mensyukuri kesempatan.

Kesempatan untuk bertobat.

Kesempatan untuk memperbaiki.

Kesempatan untuk mencintai.

Kesempatan untuk mengabdi.

Kesempatan untuk menjadi lebih dekat kepada-Mu.

Sebab pada akhirnya, seluruh perjalanan ini akan bermuara pada satu kalimat yang paling kurindukan:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Senin, 10 Agustus 2026

KONSULTASI: KETIKA HATI MENUTUP PINTU

 


Pertanyaan ini sangat penting, terutama bagi seorang penyuluh agama atau mediator keluarga. Dalam perspektif agama (fiqh dan akhlak Islam) serta psikologi Islam, kondisi ketika istri tidak lagi bersedia melayani kebutuhan batin suami sementara suami masih sangat menginginkannya tidak boleh disederhanakan sebagai persoalan “hak suami” atau “kewajiban istri” semata. Dalam banyak kasus, penolakan hubungan intim adalah gejala, bukan akar masalah. Karena itu, pendekatan yang paling tepat adalah islah (rekonsiliasi), tafahum (saling memahami), dan ihsan (berbuat baik).

Tinjauan agama (Al-Qur’an dan Sunnah)

Tujuan pernikahan: sakinah, mawaddah, dan rahmah

Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah).” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri bukan sekadar pemenuhan biologis, tetapi merupakan jalan menuju ketenangan jiwa, cinta, dan kasih sayang. Ketika salah satu unsur itu hilang, hubungan intim sering ikut terganggu.

Hak dan kewajiban suami istri

Dalam fiqh, suami memiliki hak atas hubungan suami istri, dan istri juga memiliki hak yang sama. Al-Qur’an menegaskan:

“Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut (ma’ruf).” (QS. Al-Baqarah: 228)

Artinya, hubungan intim adalah hak timbal balik, bukan hanya kewajiban satu pihak. Rasulullah ﷺ juga mencontohkan kelembutan, perhatian, dan kasih sayang kepada istri-istrinya sebelum dan sesudah hubungan intim.

Hadis yang sering dikutip tentang larangan istri menolak ajakan suami tidak boleh dipahami secara terpisah dari prinsip mu’asyarah bil ma’ruf (memperlakukan pasangan dengan cara yang baik). Ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut tidak berlaku ketika terdapat uzur syar’i atau uzur yang dapat diterima, seperti sakit, kelelahan berat, trauma, ketakutan, gangguan psikologis, atau adanya perlakuan buruk dari suami.

Mu’asyarah bil ma’ruf

Allah memerintahkan:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut (ma’ruf).” (QS. An-Nisa: 19)

Ma’ruf mencakup kelembutan, komunikasi, penghormatan, tidak memaksa, dan menjaga martabat pasangan. Karena itu, suami tidak dibenarkan memaksa istri untuk berhubungan intim, sebab paksaan bertentangan dengan prinsip ihsan dan dapat menimbulkan mudarat yang lebih besar.

Mengapa istri menolak? (Psikologi Islam)

Dalam psikologi Islam, manusia terdiri dari jasad, akal, dan ruh. Kebutuhan seksual sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional dan spiritual. Penolakan istri biasanya memiliki sebab, antara lain:

  • Luka emosional: sering disakiti dengan kata-kata, diabaikan, dihina, atau tidak dihargai.

  • Kelelahan kronis: mengurus rumah, anak, pekerjaan, atau orang tua tanpa dukungan suami.

  • Trauma: pengalaman kekerasan, pemaksaan seksual, perselingkuhan, atau penghianatan.

  • Gangguan psikologis: depresi, kecemasan, stres berat, atau gangguan hormonal.

  • Putusnya kedekatan ruhani: tidak ada lagi komunikasi, doa bersama, sentuhan kasih sayang, atau perhatian.

Dalam banyak penelitian psikologi keluarga, keinginan seksual perempuan sering lebih dipengaruhi oleh kualitas hubungan emosional, sedangkan laki-laki sering tetap memiliki dorongan seksual meskipun sedang ada konflik. Di sinilah sering terjadi ketidaksinkronan.

Langkah mendamaikan (islah)

Pisahkan masalah dari orangnya

Jangan memulai dengan kalimat: “Kamu berdosa karena menolak suami.”

Lebih tepat: “Apa yang membuat hati Ibu tertutup terhadap suami?”

Mediator harus mencari akar luka, bukan langsung memberi vonis.

Dengarkan kedua belah pihak secara terpisah

Kepada istri, gali:

  • Sejak kapan tidak mau melayani?

  • Apa yang berubah?

  • Apakah ada rasa takut, marah, jijik, atau kecewa?

  • Apakah hubungan intim selama ini terasa dipaksa atau menyakitkan?

Kepada suami, gali:

  • Apa yang paling dirasakan: kesepian, ditolak, kehilangan kasih sayang, atau hanya kebutuhan biologis?

  • Apakah selama ini ia membantu istri, menghargainya, dan membangun kedekatan emosional?

Bangun empati dua arah

Suami perlu memahami bahwa penolakan istri sering merupakan bahasa penderitaan.

Istri perlu memahami bahwa penolakan terus-menerus dapat melukai harga diri dan kebutuhan afeksi suami.

Tujuan mediator adalah membuat masing-masing mampu berkata:

“Saya mulai mengerti mengapa pasangan saya bersikap demikian.”

Pulihkan kedekatan sebelum menuntut hubungan intim

Dalam psikologi Islam, hubungan intim yang sehat lahir dari qalbun salim (hati yang tenang).

Program rekonsiliasi dapat berupa:

  • salat berjamaah di rumah,

  • doa bersama setelah Magrib atau Isya,

  • makan bersama tanpa gawai,

  • saling memuji satu kebaikan setiap hari,

  • berjalan atau duduk berdua minimal 20–30 menit sehari,

  • sentuhan non-seksual (menggenggam tangan, memeluk, mengusap kepala).

Sering kali keintiman emosional mendahului keintiman seksual.

Kesepakatan bertahap

Jangan memaksa perubahan mendadak.

Contoh tahapan:

  • Minggu 1: komunikasi tanpa pertengkaran.

  • Minggu 2: tidur satu ranjang dan saling menyentuh tanpa tuntutan hubungan intim.

  • Minggu 3: membangun kembali romantisme.

  • Minggu 4: hubungan intim dilakukan dengan kerelaan, komunikasi, dan kelembutan.

Jika istri tetap menolak

Dalam fiqh, bila penolakan berlangsung lama tanpa alasan yang dapat dibenarkan dan istri menolak upaya perbaikan, maka suami dapat menempuh nasihat (mau’izhah), mediasi keluarga (hakam) sebagaimana QS. An-Nisa: 35, dan bila semua jalan buntu, syariat membuka pintu penyelesaian hukum.

Namun, langkah terakhir bukan tujuan utama. Islam lebih mengutamakan perbaikan hubungan daripada kemenangan salah satu pihak.

Pendekatan konseling Islam yang dapat digunakan

Sebagai penyuluh atau mediator, saya akan menggunakan pendekatan Tazkiyatun Nafs dan Mu’asyarah bil Ma’ruf:

  1. Taubat dan muhasabah masing-masing.

  2. Menghentikan saling menyalahkan.

  3. Mengungkap kebutuhan terdalam, bukan hanya tuntutan.

  4. Membangun kembali rasa aman.

  5. Menyusun komitmen tertulis tentang komunikasi, pembagian peran, dan keintiman.

  6. Evaluasi berkala selama 2–4 minggu.

Contoh nasihat yang lembut

“Pak, kebutuhan batin Bapak adalah sesuatu yang halal dan wajar. Tetapi hati seorang istri tidak dapat dibuka dengan tekanan; ia lebih mudah dibuka dengan penghargaan, perhatian, dan kelembutan. Bu, menjaga kebutuhan batin suami juga merupakan bagian dari ibadah dan amanah rumah tangga. Namun ibadah akan lebih indah ketika dilakukan dengan hati yang lapang. Mari kita cari luka yang membuat hati itu tertutup, lalu kita sembuhkan bersama.”

Pendekatan ini biasanya jauh lebih efektif daripada sekadar mengutip dalil tentang kewajiban istri, karena ia menyentuh dimensi syariat, akhlak, dan psikologi sekaligus.

Jika Bapak menghendaki, saya dapat menyusun panduan mediasi BP4/KUA selama 60 menit lengkap dengan dialog, pertanyaan konseling, dalil pendukung, dan format kesepakatan damai suami-istri. 

Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Semangat HUT RI ke-81, ASN Kementerian Agama Gelar Geber Masjid di Masjid Asasi Sigando

 

Semangat HUT RI ke-81, ASN Kementerian Agama Gelar Geber Masjid di Masjid Asasi Sigando

Padang Panjang Timur, 10 Agustus 2026 — Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama Kota Padang Panjang dari berbagai unit kerja, termasuk Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur, melaksanakan Gerakan Bersih-Bersih Masjid (Geber Masjid) tingkat Kecamatan Padang Panjang Timur yang dipusatkan di Masjid Asasi Sigando, Senin (10/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB tersebut diikuti secara gotong royong oleh ASN Kementerian Agama, penyuluh agama, pegawai KUA, unsur masyarakat, serta pengurus masjid. Para peserta membersihkan halaman, taman, saluran air, area wudu, ruang utama masjid, serta lingkungan sekitar masjid yang merupakan salah satu masjid bersejarah dan situs budaya religius di Kota Padang Panjang.

Masjid Asasi Sigando dikenal sebagai salah satu masjid tua di Padang Panjang yang telah berdiri sejak abad ke-19. Masjid ini menjadi pusat syiar Islam, pendidikan umat, dan perekat persaudaraan masyarakat Minangkabau. Selain memiliki nilai spiritual yang tinggi, Masjid Asasi Sigando juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas religius masyarakat Padang Panjang. Karena itu, menjaga kebersihan dan kelestarian masjid ini merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan para ulama dan pendahulu.

Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur, menyampaikan bahwa Geber Masjid bukan sekadar kegiatan kebersihan lingkungan, melainkan gerakan membangun kesadaran kolektif untuk memakmurkan rumah Allah sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan.

“Kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperingati dengan seremoni, tetapi juga dengan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Membersihkan masjid adalah bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan, memperkuat ukhuwah, serta meneladani semangat gotong royong yang menjadi jiwa bangsa Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini juga sejalan dengan nilai-nilai agama yang mengajarkan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Masjid yang bersih, nyaman, dan terawat akan semakin mendorong masyarakat untuk beribadah, belajar, dan membangun kebersamaan.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias bekerja bersama tanpa membedakan unit kerja maupun jabatan. Suasana kekeluargaan dan semangat gotong royong terasa kuat, mencerminkan nilai persatuan yang menjadi fondasi perjuangan kemerdekaan bangsa.

Melalui Geber Masjid tingkat Kecamatan Padang Panjang Timur ini, Kementerian Agama Kota Padang Panjang berharap semangat menjaga rumah ibadah dapat terus tumbuh di tengah masyarakat serta menjadi bagian dari gerakan ekoteologi dan kepedulian sosial yang berkelanjutan.

Peringatan HUT RI ke-81 menjadi momentum untuk merawat bukan hanya lingkungan fisik masjid, tetapi juga persatuan, iman, dan masa depan Indonesia. Dari Masjid Asasi Sigando, semangat kemerdekaan kembali diteguhkan melalui aksi sederhana namun bermakna: bergotong royong menjaga warisan sejarah, budaya, dan agama.

Masjid Bersih, Hati Suci, Indonesia Maju… Merdeka!

Rabu, 05 Agustus 2026

KUA Padang Panjang Timur Gelar Senam dan Gerakan Bersih-Bersih (Geber), Wujudkan Semangat Ekoteologi dan Pelayanan Prima

 

Padang Panjang Timur, 5 Agustus 2026 — KUA Padang Panjang Timur melaksanakan kegiatan Senam Bersama dan Gerakan Bersih-Bersih (Geber) pada Rabu (5/8) sebagai bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan kerja, serta mengimplementasikan nilai-nilai ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan yang diikuti oleh penghulu, penyuluh agama Islam, dan seluruh jajaran KUA Padang Panjang Timur diawali dengan senam pagi bersama di halaman kantor, terbuka untuk masyarakat sekitar lingkungan KUA. Suasana penuh semangat dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kebugaran, mempererat kekompakan, serta membangun energi positif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Usai senam, seluruh peserta melanjutkan kegiatan Gerakan Bersih-Bersih (Geber) dengan membersihkan lingkungan kantor, merapikan area taman, mengganti media tanam, menanam kembali tanaman hias, serta menata pot dan ruang terbuka agar lebih asri, nyaman, dan sehat.

Kepala KUA Padang Panjang Timur Masrizon menegaskan bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual sebagai aparatur Kementerian Agama.

“Lingkungan yang bersih akan menghadirkan kenyamanan dalam bekerja dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Ini juga merupakan implementasi nilai-nilai agama yang mengajarkan kebersihan, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap ciptaan Allah SWT,” ujarnya.

Sementara itu, Penyuluh Agama Islam Wahyu Salim menyampaikan bahwa kegiatan Geber menjadi bentuk nyata penguatan ekoteologi, yaitu kesadaran keagamaan yang diwujudkan melalui tindakan merawat bumi dan lingkungan.

“Ekoteologi mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Merawat tanaman, menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan menciptakan lingkungan yang hijau merupakan bagian dari ibadah dan amanah yang harus dijaga bersama,” tutur Wahyu Salim.

Dalam kegiatan tersebut, peserta secara bergotong royong mengolah tanah, memindahkan tanaman ke media tanam yang lebih baik, memangkas bagian tanaman yang rusak, serta menata kembali kawasan hijau di lingkungan KUA. Semangat kolaborasi terlihat kuat ketika seluruh pegawai bekerja bersama tanpa membedakan tugas dan jabatan.

Gerakan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kantor yang sehat, hijau, dan ramah lingkungan, sejalan dengan semangat transformasi Kementerian Agama menuju pelayanan publik yang berkualitas dan berkelanjutan.

Melalui Senam dan Geber, KUA Padang Panjang Timur berharap budaya hidup bersih, sehat, dan peduli lingkungan dapat terus tumbuh, tidak hanya di lingkungan kantor, tetapi juga menjadi inspirasi bagi keluarga, masyarakat, dan seluruh mitra kerja.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim), kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari pengamalan ajaran agama, sekaligus kontribusi nyata dalam mewujudkan kehidupan yang sehat, harmonis, dan berkelanjutan.

#Ekoteologi
#KUAHijau
#GeberKUA
#PenyuluhAgamaIslamBergerak
#KemenagPadangPanjang

KUA Padang Panjang Timur Perkuat Sinergi Lintas Sektoral, Bahas Efektivitas Aplikasi Elsimil Bersama Penyuluh KB

 

Padang Panjang Timur, 5 Agustus 2026 — Upaya memperkuat pelayanan kepada masyarakat, khususnya bagi calon pengantin dan pasangan usia subur, terus diperkuat melalui koordinasi lintas sektoral. Bertempat di salah satu ruang pertemuan di wilayah Padang Panjang Timur, Rabu (5/8), digelar Koordinasi Lintas Sektoral: Dialog Ringan tentang Efektivitas Elsimil (Elektronik Siap Nikah & Siap Hamil) yang melibatkan Penyuluh KB Padang Panjang Timur Ronal, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur Wahyu Salim, dan Penghulu KUA Padang Panjang Timur Marliyus.

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab, santai, dan produktif, namun menghasilkan sejumlah kesepahaman penting terkait penguatan implementasi Elsimil sebagai instrumen kolaboratif antara Kementerian Agama dan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dalam mempersiapkan calon pengantin menuju keluarga sehat, berkualitas, dan bebas stunting.

Wahyu Salim menegaskan bahwa Elsimil tidak hanya dipahami sebagai aplikasi digital semata, melainkan sebagai bagian dari gerakan edukasi keluarga yang harus diintegrasikan dengan layanan bimbingan perkawinan, penyuluhan agama, serta pendampingan masyarakat.

“Elsimil menjadi jembatan antara kesiapan spiritual, psikologis, kesehatan reproduksi, dan perencanaan keluarga. Karena itu, sinergi antara penyuluh agama, penyuluh KB, penghulu, dan tenaga kesehatan harus terus diperkuat agar layanan kepada masyarakat semakin efektif,” ujarnya.

Sementara itu, Penyuluh KB Ronal menyampaikan bahwa penggunaan Elsimil perlu terus disosialisasikan secara masif kepada calon pengantin agar mereka memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan, pemenuhan gizi, kesiapan mental, serta perencanaan kehamilan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

“Melalui Elsimil, pasangan dapat memperoleh informasi dan pendampingan secara lebih terarah sehingga potensi risiko kesehatan ibu dan anak dapat dideteksi lebih dini. Ini merupakan investasi besar bagi lahirnya generasi yang sehat dan berkualitas,” jelas Ronal.

Penghulu Marliyus menambahkan bahwa KUA sebagai garda terdepan pelayanan nikah memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan edukasi Elsimil ke dalam proses pelayanan calon pengantin. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak dapat dicapai oleh satu instansi saja, tetapi membutuhkan kerja sama yang erat antar seluruh pemangku kepentingan.

Dialog tersebut juga membahas berbagai strategi untuk meningkatkan efektivitas implementasi Elsimil di tingkat kecamatan, antara lain penguatan koordinasi antara KUA, penyuluh KB, puskesmas, pemerintah kelurahan, serta jaringan penyuluh agama dan kader masyarakat.

Melalui pertemuan ini, ketiga pihak berkomitmen untuk memperluas kampanye “Nikah Siap, Hamil Terencana, Generasi Berkualitas” sebagai bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan keluarga Indonesia yang sehat, tangguh, dan sejahtera.

Sinergi lintas sektoral tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antarlembaga merupakan kunci keberhasilan pembangunan keluarga. Dengan memperkuat koordinasi, menyatukan langkah, dan berbagi peran, implementasi Elsimil diharapkan semakin efektif sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Padang Panjang Timur.

#ElsimilUntukKeluargaIndonesia
#KementerianAgama
#BKKBN
#KUA
#PenyuluhAgamaIslamBergerak

Selasa, 04 Agustus 2026

Do’a dan Zikir Kebangsaan Menggema di Rutan Kelas IIB Padang Panjang, WBP Sambut HUT RI Ke-81 dengan Spirit Syukur, Persatuan, dan Optimisme

 

Padang Panjang, 4 Agustus 2026 — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-81 terasa khidmat di Aula Serbaguna Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Selasa (4/8/2026), ketika ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti Do’a dan Zikir Kebangsaan sebagai bagian dari pembinaan keagamaan dan penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan pemasyarakatan.

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian Do’a dan Zikir Kebangsaan yang sebelumnya telah digelar secara nasional di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dan dihadirkan di Rutan Kelas IIB Padang Panjang sebagai ikhtiar menghadirkan semangat spiritual, nasionalisme, dan harapan bagi seluruh warga binaan.

Sebelum pelaksanaan zikir dan doa bersama, kegiatan diawali dengan Lomba Azan Antar Kamar WBP, yang menjadi bagian dari rangkaian Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Warga Binaan Pemasyarakatan bidang keagamaan. Lomba tersebut berlangsung dengan penuh antusias dan menjadi ajang pembinaan bakat serta keberanian warga binaan dalam syiar Islam.

Pembina Kerohanian Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Rino, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Do’a dan Zikir Kebangsaan sangat selaras dengan arah pembinaan kepribadian dan kegiatan Porseni bidang keagamaan yang tengah dilaksanakan di lingkungan Rutan.

“Kegiatan ini sangat positif karena tidak hanya memperkuat dimensi spiritual warga binaan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta tanah air, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan. Ini sejalan dengan tujuan pembinaan pemasyarakatan agar warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik dan siap kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Padang Panjang, Wahyu Salim, S.Ag., yang memimpin rangkaian kegiatan, sesuai pesan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa Do’a dan Zikir Kebangsaan mengusung tiga pesan utama yang menjadi ruh dari kegiatan tersebut.

“Pertama, mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan bangsa. Kedua, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketiga, menumbuhkan optimisme bahwa Indonesia akan semakin baik, semakin maju, dan semakin sejahtera apabila seluruh anak bangsa terus berbenah dan memperbaiki diri,” ungkap Wahyu Salim di hadapan peserta.

Ia menambahkan bahwa warga binaan merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang juga memiliki hak untuk berharap, memperbaiki diri, dan berkontribusi positif bagi negeri. Karena itu, pembinaan keagamaan harus menjadi ruang untuk membangun karakter, menumbuhkan harapan, dan memperkuat semangat kebangsaan.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Zikir kebangsaan dipandu oleh Ust. Fadrizal, yang mengajak seluruh peserta melantunkan zikir, istighfar, dan salawat sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT sekaligus doa untuk keselamatan bangsa Indonesia. Suasana aula berubah menjadi hening dan syahdu ketika lantunan zikir bergema di antara para warga binaan.

Selanjutnya, taushiyyah disampaikan oleh Ust. Harmen, yang mengangkat tema pentingnya taubat, memperbaiki diri, dan menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk memerdekakan diri dari keburukan, kemalasan, dan putus asa. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan kembali kepada jalan Allah SWT.

Puncak kegiatan ditandai dengan Do’a Kebangsaan yang dipimpin oleh Wahyu Salim, mengacu pada teks Do’a dan Zikir Kebangsaan yang dibacakan pada kegiatan nasional di Monas. Agar semangat dan pesan doa tersebut tetap hidup dalam ingatan serta menjadi bagian dari dokumentasi sejarah kegiatan di Rutan Kelas IIB Padang Panjang, berikut doa yang dipanjatkan bersama seluruh peserta:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَىٰ صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ

“Ya Allah, Tuhan Tempat Kami Bertawajjuh.
Malam ini kami warga bangsa Indonesia kembali bersimpuh,
Berkumpul senandungkan zikir dan doa dengan bergemuruh,
Persembahkan syukur atas karunia kemerdekaan sebagai suluh,
Anugerahkan bangsa kami persatuan dan kesatuan yang tangguh,
Agar kemajuan dan kesejahteraan bangsa kami terus tumbuh.”

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Cahaya,
Cahaya Wajah-Mu menyinari dan menembus alam raya,
Sinarilah selalu relung hati, pikiran dan langkah kami dengan cahaya,
Bekalilah perjuangan kami dengan semangat yang terus membahana,
Ungkapkan syukur dalam etos kerja dan kesungguhan berkarya,
Persembahkan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara.”

“Ya Allah, Tuhan Yang Titahkan Kami Bersyukur,
Anugerahkanlah kami kemampuan untuk persembahkan syukur,
Atas semua karunia-Mu yang telah terhampar dan tertabur,
Tetapkanlah kemuliaan surga-Mu untuk para pahlawan yang gugur,
Mampukan kami meneladani mereka dalam bersikap dan bertutur,
Wariskan pada kami kearifan dan keindahan budaya para leluhur,
Wujudkanlah cita kami, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Suci,
Anugerahi kami kebeningan hati, hasrat yang tulus dan suci,
Untuk membangun bangsa dan terus memajukan ibu pertiwi,
Mempersembahkan karya-karya terbaik dan mengukir prestasi,
Semua elemen bangsa bergotongroyong, bersinergi dan kolaborasi,
Memelihara jalinan persaudaraan, tenggang rasa dan toleransi.”

“Ya Allah, Tempat Semua Asa dan Cita Tertuju,
Rahmat dan berkah-Mu selalu kami damba dan kami rindu,
Semoga para pemimpin kami selalu dalam lindungan dan bimbingan-Mu,
Bangsa kami dalam keindahan cahaya cinta dan kesejukan kalbu,
Wujudkanlah bangsa kami dalam kemurahan kasih karunia-Mu,
Bangsa yang Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Doa tersebut diaminkan dengan penuh haru oleh seluruh peserta, menciptakan suasana yang menggetarkan hati dan memperkuat harapan agar Indonesia senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, diberi persatuan, kedamaian, serta kemajuan yang berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk para pahlawan bangsa, keselamatan Indonesia, dan keberhasilan seluruh rangkaian peringatan HUT RI Ke-81 di Rutan Kelas IIB Padang Panjang. Warga binaan tampak mengikuti seluruh rangkaian acara dengan tertib, penuh perhatian, dan antusias.

Melalui Do’a dan Zikir Kebangsaan ini, Rutan Kelas IIB Padang Panjang menegaskan komitmennya bahwa pembinaan pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada aspek hukum dan kedisiplinan, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan spiritual, dan penanaman nilai-nilai kebangsaan, sehingga warga binaan dapat kembali ke masyarakat sebagai insan yang lebih baik, religius, dan cinta tanah air.

Semangat yang bergema dari Aula Serbaguna Rutan Kelas IIB Padang Panjang hari itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah, persatuan adalah kekuatan, dan harapan adalah jalan menuju Indonesia yang semakin baik. UWaS


Ketika Dunia Mengguncang, Orang Beriman Tidak Boleh Tumbang


UJIAN IMAN ITU MEMANG BERAT

Ketika Dunia Mengguncang, Orang Beriman Tidak Boleh Tumbang

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Di zaman ini, menjadi seorang Muslim yang istiqamah bukanlah perkara mudah. Godaan datang dari segala arah. Bukan hanya kemiskinan yang menguji, tetapi juga kekayaan. Bukan hanya kesedihan yang menguji, tetapi juga kesenangan. Bahkan, kemajuan teknologi yang semestinya menjadi nikmat justru sering menjadi pintu fitnah yang menggerus keimanan.

Kita hidup pada masa yang tidak biasa. Arus informasi begitu deras, media sosial membentuk opini dalam hitungan detik, hoaks bercampur dengan kebenaran, hiburan tanpa batas mengalahkan majelis ilmu, sementara nilai agama sering dianggap menghambat kebebasan. Di tengah keadaan seperti ini, Allah telah mengingatkan bahwa ujian iman memang tidak pernah ringan.

Allah SWT berfirman:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka belum diuji?"

(QS. Al-'Ankabut [29]: 2)

Sunnatullah: Iman Harus Diuji

Ayat ini turun di Makkah ketika kaum Muslim mengalami tekanan, intimidasi, penyiksaan, bahkan kehilangan harta dan keluarga. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah menjelaskan bahwa setiap orang yang mengaku beriman pasti akan diuji agar tampak siapa yang benar-benar jujur dalam imannya dan siapa yang hanya beriman ketika keadaan nyaman.

Senada dengan itu, Tafsir Al-Qurthubi menerangkan bahwa ujian adalah proses penyaringan. Seperti emas yang dimurnikan dengan api, demikian pula hati seorang mukmin dimurnikan melalui berbagai cobaan.

Karena itu, jangan heran jika setelah kita berusaha mendekat kepada Allah, justru datang persoalan yang lebih berat. Itu bukan tanda Allah membenci kita, tetapi bisa jadi Allah sedang meninggikan derajat kita.

Semakin Tinggi Iman, Semakin Berat Ujiannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang terbaik berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya."

(HR. At-Tirmidzi, no. 2398; dinilai hasan sahih)

Hadis ini menunjukkan bahwa beratnya ujian bukan ukuran murka Allah. Justru orang yang paling dicintai Allah sering memperoleh ujian paling besar.

Nabi Ayyub diuji dengan penyakit bertahun-tahun.

Nabi Yusuf diuji dengan fitnah, penjara, dan pengkhianatan.

Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih putranya.

Nabi Muhammad ﷺ diuji dengan wafatnya orang-orang tercinta, pemboikotan, penghinaan, peperangan, hingga pengusiran dari kampung halamannya.

Kalau para nabi saja diuji sedemikian berat, mengapa kita berharap hidup tanpa ujian?

Ujian Hari Ini Tidak Lagi Sekadar Kemiskinan

Jika dahulu ujian banyak berupa lapar dan peperangan, kini bentuknya jauh lebih kompleks.

Kita diuji dengan banjir informasi yang belum tentu benar.

Kita diuji dengan budaya viral yang sering mengorbankan akhlak.

Kita diuji dengan kecerdasan buatan (AI) yang dapat membawa manfaat besar, tetapi juga memudahkan penyebaran fitnah, manipulasi gambar, dan kebohongan.

Kita diuji dengan perjudian daring, pinjaman online yang mencekik, narkoba, pornografi digital, hingga budaya konsumtif yang membuat banyak orang rela menghalalkan segala cara demi terlihat sukses.

Lebih berat lagi, kita hidup di zaman ketika dosa dapat dilakukan tanpa harus keluar rumah. Dengan satu sentuhan jari, seseorang bisa menggunjing, memfitnah, menyebarkan kebencian, bahkan merusak kehormatan orang lain kepada ribuan manusia.

Inilah bentuk ujian iman abad ini.

Jangan Sampai Lulus Dunia, Gagal Akhirat

Allah berfirman:

"Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa kata "sedikit" menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah. Cobaan yang terasa sangat berat bagi manusia ternyata masih jauh lebih kecil dibandingkan nikmat yang Allah berikan sepanjang hidup.

Yang menjadi ukuran bukan besar kecilnya musibah, tetapi bagaimana cara kita menyikapinya.

Ada orang kehilangan pekerjaan lalu semakin rajin shalat.

Ada yang kehilangan jabatan lalu semakin dekat kepada Al-Qur'an.

Ada pula yang mendapat kekayaan justru semakin jauh dari Allah.

Sesungguhnya, nikmat pun adalah ujian.

Yang Berbahaya Bukan Musibah, Tetapi Hilangnya Iman

Hari ini banyak orang takut kehilangan uang, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan pengikut di media sosial, tetapi tidak takut kehilangan iman.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

"Akan datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari beriman, sore hari menjadi kafir; sore hari beriman, pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia."

(HR. Muslim, no. 118)

Bukankah hadis ini terasa sangat dekat dengan kondisi zaman sekarang? Demi popularitas, keuntungan ekonomi, atau kepentingan politik, ada yang rela menggadaikan nilai agama, memutarbalikkan kebenaran, bahkan menjadikan agama sebagai alat mencari keuntungan.

Bekal Menghadapi Ujian

Ada beberapa bekal yang harus diperkuat:

  • Perbanyak membaca Al-Qur'an dan mentadabburinya.

  • Jaga shalat tepat waktu karena shalat adalah sumber kekuatan ruhani.

  • Pilih lingkungan dan pergaulan yang saleh.

  • Saring informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

  • Perbanyak doa, zikir, dan istigfar.

  • Yakini bahwa setiap ujian pasti memiliki akhir, sedangkan pahala kesabaran tidak akan pernah berakhir.

Penutup

Ujian iman memang berat. Namun, yang berat bukan berarti mustahil dilalui. Allah tidak pernah membebani seorang hamba melebihi kemampuannya. Justru melalui ujian itulah lahir pribadi-pribadi tangguh yang dicintai Allah.

Maka jangan meminta hidup tanpa ujian. Mintalah hati yang tetap teguh ketika ujian datang, kaki yang tetap melangkah di jalan Allah, dan iman yang tidak goyah meskipun dunia sedang berguncang.

Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar seorang mukmin bukanlah terbebas dari ujian, tetapi tetap beriman hingga akhir hayat.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."
(QS. Ali 'Imran [3]: 102)

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Senin, 03 Agustus 2026

Ketika Panggilan Azan Lebih Kuat daripada Bayang-Bayang Masa Lalu

 


Ketika Panggilan Azan Lebih Kuat daripada Bayang-Bayang Masa Lalu

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Pagi itu, Kota Padang Panjang masih diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Langit tampak bersih setelah semalam diguyur hujan. Aktivitas di Pasar Padang Panjang mulai menggeliat. Para pedagang menata dagangan, pembeli datang silih berganti, dan kendaraan mulai memenuhi area parkir.

Saya baru saja keluar dari Warung Kopi Fajar, tempat sederhana yang sering menjadi ruang diskusi ringan bersama masyarakat. Secangkir kopi pagi telah habis, tetapi obrolan tentang kehidupan masih terasa hangat di hati.

Ketika melangkah menuju kendaraan, terdengar suara yang memanggil dengan nada penuh hormat.

"Pak Ust...!"

Saya menoleh.

Seorang pria dengan rompi juru parkir sedang tersenyum lebar. Wajahnya tampak lebih cerah daripada yang pernah saya kenal beberapa tahun lalu.

"Pak Ust... masih ingek jo awak?" sapanya dengan logat Minang yang kental.

Saya mencoba mengingat-ingat wajah itu. Ada sesuatu yang terasa akrab, tetapi belum juga menemukan jawabannya.

Dengan spontan saya tersenyum sambil bercanda.

"Alumni di dalam, ya?"

Ia langsung tertawa lepas.

"Hehe... iyo Pak... lai taingek dek apak awak."

Kalimat itu membuat saya langsung memahami maksudnya.

"Oh... Robert?"

Ia mengangguk.

"Iyo Pak... awak Robert." Terlihat badannya tambah berisi.

"Sehat bana kini yo..."?, sapa saya. Alah lamak makan kini pak, jawab Robert 

Kami pun berjabat tangan erat.

Entah mengapa, genggaman itu terasa berbeda.

Tidak ada lagi tatapan kosong seperti dulu. Yang saya lihat pagi itu adalah mata yang penuh harapan.

Robert bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu ia telah menyelesaikan masa pembinaan sebagai Warga Binaan Pemasyarakatan.

Hari itu, ketika pintu lembaga pemasyarakatan terbuka, bukan hanya langkah kakinya yang keluar.

Tetapi juga harapan baru.

Ia mengaku sempat diliputi rasa cemas.

"Apakah keluarga masih mau menerima saya?"

"Apakah masyarakat masih memberi kesempatan?"

"Apakah saya masih layak dipercaya?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.

Namun Allah ternyata menyiapkan jawaban yang sangat indah.

Sesampainya di rumah, keluarganya menyambutnya dengan pelukan.

Ibunya menangis.

Ayahnya memeluk tanpa banyak kata.

Saudara-saudaranya menyambutnya dengan senyum yang selama ini begitu ia rindukan.

Tidak ada kalimat yang menghakimi.

Tidak ada tatapan yang merendahkan.

Yang ada hanyalah kasih sayang.

Robert mengaku, justru saat itulah ia menangis paling lama.

"Bukan karena sedih, Pak Ust..."

"Tapi karena Allah masih memberi saya keluarga."

Air mata itu menjadi saksi bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan kedua.

Hari-hari berikutnya tidak mudah.

Robert sadar.

Ia harus memulai semuanya dari nol.

Ia tidak malu mencari pekerjaan apa pun yang halal.

Baginya, pekerjaan yang sederhana jauh lebih mulia daripada penghasilan besar yang diperoleh dengan cara yang salah.

Kini ia menjadi juru parkir di Pasar Padang Panjang.

Sejak pagi hingga sore, ia membantu pengguna jasa parkir dengan senyum yang tulus.

Ia mengatur kendaraan.

Membantu pengendara keluar masuk.

Mengangkat sepeda motor yang kesulitan.

Mengucapkan terima kasih kepada setiap orang.

Banyak yang mungkin melihat profesi itu biasa saja.

Tetapi bagi Robert...

Itulah medan perjuangan.

Itulah tempat ia menebus masa lalu.

Itulah ladang ibadah.

Saya memperhatikan caranya melayani masyarakat.

Tidak terdengar kata-kata kasar.

Tidak ada wajah cemberut.

Semua disambut dengan ramah.

Ia bahkan hafal sebagian pelanggan pasar.

"Silakan, Pak."

"Hati-hati, Buk."

"Terima kasih, semoga sehat selalu."

Kalimat-kalimat sederhana itu keluar begitu saja.

Saya tersenyum.

Inilah hijrah.

Hijrah tidak selalu dimulai dengan ceramah panjang.

Kadang dimulai dari senyum yang tulus.

Robert kemudian melanjutkan ceritanya.

"Pak Ust..."

"Alhamdulillah... awak lai istiqamah."

"Lai... shalat wak jago elok-elok."

Kalimat itu membuat hati saya bergetar.

Ia melanjutkan.

"Kalau azan lah masuk..."

"Awak tinggaan parkiran sabanta."

"Awak pai ka Mushalla Islamiyyah."

Saya memandang ke arah mushalla yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari lokasi parkir.

Betapa dekatnya.

Betapa indahnya.

Suara azan yang dahulu mungkin hanya lewat di telinga, kini menjadi panggilan yang selalu ditunggu.

Robert berkata lagi.

"Kadang wak nan azan, Pak..."

Saya terdiam beberapa detik.

Sulit menggambarkan apa yang saya rasakan.

Dulu mungkin ia pernah dipanggil sebagai pelaku kesalahan.

Hari ini...

Ia dipanggil untuk mengumandangkan azan.

Masya Allah.

Bukankah Allah benar-benar mampu membolak-balikkan hati manusia?

Saya teringat sabda Rasulullah ﷺ,

"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat."
(HR. Tirmidzi)

Betapa indahnya Islam.

Islam tidak menutup pintu bagi orang yang ingin kembali.

Yang ditutup hanyalah pintu keputusasaan.

Saya kemudian bertanya,

"Robert..."

"Lai bagabuang jo Komunitas Hijrah?"

Matanya langsung berbinar.

Ia tersenyum bangga.

"Lai, Pak!"

"Alhamdulillah..."

"Awak lah bagabuang."

Komunitas Hijrah itu menjadi tempat saling menguatkan bagi para alumni Warga Binaan Pemasyarakatan.

Di sana mereka belajar agama bersama.

Saling mengingatkan.

Menjaga shalat berjamaah.

Belajar membaca Al-Qur'an.

Berbagi pengalaman hidup.

Membangun usaha halal.

Menguatkan ketika ada yang mulai lemah.

Tidak ada yang merasa lebih suci.

Tidak ada yang saling menghakimi.

Karena mereka memahami satu hal.

Semua sedang belajar menjadi lebih baik.

Saya menepuk pundaknya.

"Mantap, Robert."

"Tetap istiqamah."

"Jangan pernah lelah menjadi orang baik."

"Masa lalu tidak menentukan masa depanmu."

"Yang menentukan adalah bagaimana engkau menjaga langkahmu hari ini."

Robert mengangguk.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Insya Allah, Pak Ust..."

"Doakan awak."

Saya menjawab singkat.

"Selalu."

Percakapan kami tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba terdengar bunyi klakson.

Sebuah mobil hendak keluar dari area parkir.

Robert langsung sigap.

"Pak... izin dulu."

"Lah ado mobil ka kaluar."

Ia berlari kecil menuju kendaraan itu.

Dengan gerakan cekatan ia membantu pengemudi mengarahkan mobil.

Senyumnya tetap mengembang.

Pelayanannya tetap ramah.

Saya memandangnya dari kejauhan.

Entah mengapa mata saya terasa hangat.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena bahagia.

Bahagia melihat seseorang yang memilih bangkit daripada tenggelam dalam penyesalan.

Saya pun melanjutkan langkah meninggalkan pasar.

Sepanjang perjalanan, hati saya dipenuhi rasa syukur.

Inilah makna Sapa Umat yang sesungguhnya.

Kadang seorang penyuluh agama tidak harus selalu berbicara di mimbar.

Tidak harus selalu memberi ceramah panjang.

Cukup hadir.

Menyapa.

Mendengar.

Menguatkan.

Menghargai setiap proses hijrah yang sedang dijalani seseorang.

Pagi itu, saya tidak hanya bertemu Robert.

Saya bertemu bukti nyata bahwa hidayah Allah masih terus bekerja di tengah kehidupan.

Bahwa masyarakat perlu lebih banyak memberi kesempatan daripada memberi cap.

Lebih banyak merangkul daripada menjauhkan.

Lebih banyak mendoakan daripada menghakimi.

Karena setiap orang yang hari ini kita lihat berdiri teguh dalam kebaikan, mungkin pernah jatuh di masa lalu.

Dan setiap orang yang hari ini masih bergelimang kesalahan, bisa jadi esok hari menjadi penghuni saf terdepan di masjid.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Hijrah bukan tentang siapa yang paling suci.

Hijrah adalah tentang siapa yang paling bersungguh-sungguh kembali kepada Allah.

Maka jangan pernah remehkan langkah kecil seseorang menuju kebaikan. Jangan pernah menutup pintu harapan bagi mereka yang telah menyesali masa lalunya. Sebab, bisa jadi di sisi Allah, air mata taubat seorang hamba lebih mulia daripada kebanggaan orang yang merasa dirinya tidak pernah berdosa.

Pagi itu, langkah saya meninggalkan Pasar Padang Panjang terasa jauh lebih ringan.

Di balik hiruk-pikuk kendaraan, suara tawar-menawar pedagang, dan kesibukan masyarakat mencari nafkah, saya membawa satu keyakinan yang semakin kuat: hijrah itu nyata.

Hijrah hidup di tengah masyarakat.

Hijrah hadir di balik rompi seorang juru parkir.

Hijrah berkumandang dari azan di Mushalla Islamiyyah.

Hijrah tumbuh dalam pelukan keluarga yang mau memaafkan.

Hijrah menguat dalam Komunitas Hijrah yang saling merangkul tanpa mengungkit masa lalu.

Dan hijrah akan terus menjadi cahaya, selama masih ada hati yang bersedia berkata, "Ya Allah, bimbinglah aku untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin."

Semoga Allah SWT menjaga langkah Robert, menguatkan seluruh alumni Warga Binaan Pemasyarakatan yang sedang menapaki jalan hijrah, melapangkan rezeki mereka yang mencari nafkah dengan cara halal, serta menjadikan kita semua pribadi yang tidak mudah menghakimi, tetapi ringan tangan untuk menerima, membimbing, dan mendoakan.

Karena setiap hijrah yang tulus selalu berawal dari harapan, bertumbuh dengan istiqamah, dan berakhir dengan keberkahan.

Gerakan Serentak Syiar Kebaikan & Narasi Positif di Media Sosial

 





HIMBAUAN PARTISIPASI AKTIF PENYULUH AGAMA ISLAM


Gerakan Serentak Syiar Kebaikan & Narasi Positif di Media Sosial


Ketentuan Posting Media Sosial

Hari / Tanggal: Senin 03-08-2026


Waktu Posting Serentak: Mulai pukul 09.00 WIB

Platform: Instagram, Facebook, X (Twitter), TikTok, dan Status WhatsApp.


Keyword Wajib : Pesan Menag


Hashtag Wajib :


#BersyukurKemerdekaan

#DoaZikirMonas

#BangkitDalamHarapan

#IndonesiaPadaJalurTepat


Contoh narasi pada postingan:


Pesan Menag mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai penguat rasa syukur, persatuan, dan optimisme dalam membangun Indonesia yang lebih baik.

#BersyukurKemerdekaan #DoaZikirMonas #BangkitDalamHarapan #IndonesiaPadaJalurTepat


Terima Kasih

Hijrah Penuh Berkah Kisah Robert: Ketika Langkah Pulang Menjadi Awal Kehidupan Baru

 

Hijrah Penuh Berkah

Kisah Robert: Ketika Langkah Pulang Menjadi Awal Kehidupan Baru

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Hijrah bukan hanya kisah para sahabat Nabi yang meninggalkan Makkah menuju Madinah. Hijrah juga dapat terjadi di dalam hati setiap manusia yang ingin berubah menjadi lebih baik. Hijrah adalah perjalanan meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang diridhai Allah.

Itulah yang sedang dijalani Robert, salah seorang alumni Pesantren Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Baginya, kebebasan bukan sekadar keluar dari balik tembok pembinaan. Kebebasan yang sesungguhnya adalah ketika hati terbebas dari masa lalu dan mampu melangkah menuju masa depan yang lebih mulia.

Setelah pulang ke tengah keluarga, Robert menyadari bahwa hidup telah memberinya kesempatan kedua. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.

Setiap kali azan berkumandang dari mushalla di dekat rumahnya, ia segera bergegas mengambil wudhu. Jika dahulu suara azan sering diabaikan, kini panggilan itu menjadi penyejuk hati. Shalat lima waktu tidak lagi ditinggalkan, karena ia percaya bahwa shalat adalah tiang kehidupan dan sumber ketenangan.

Perubahan itu tidak berhenti di mushalla. Robert juga mulai menjaga kesehatannya. Ia membiasakan hidup sederhana, mengurangi kebiasaan yang tidak bermanfaat, serta melepaskan selera dan gaya hidup yang dahulu membawanya kepada kesalahan. Ia memahami bahwa tubuh yang sehat adalah amanah Allah yang harus dijaga agar dapat terus beribadah dan bekerja.

Yang paling membahagiakan adalah tekadnya mencari rezeki yang halal. Baginya, penghasilan yang sedikit tetapi halal jauh lebih bernilai daripada harta yang banyak namun diperoleh dengan cara yang tidak benar. Dengan semangat baru, ia mulai merintis usaha kecil, bekerja dengan jujur, dan tidak malu memulai dari bawah.

Inilah makna hijrah yang sesungguhnya.

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah sikap. Bukan sekadar mengganti pakaian, tetapi mengganti cara berpikir. Bukan hanya meninggalkan kesalahan, tetapi juga membangun masa depan dengan amal saleh.

Dalam proses itu, ada tiga langkah penting yang perlu dijaga.

Pertama, hijrah. Berani meninggalkan masa lalu dan memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh.

Kedua, asimilasi. Belajar kembali hidup berdampingan dengan masyarakat, membangun kepercayaan, serta menunjukkan bahwa perubahan itu nyata melalui akhlak dan perilaku.

Ketiga, integrasi. Menjadi bagian dari masyarakat yang produktif, bermanfaat, dan ikut membangun lingkungan dengan semangat persaudaraan.

Allah Swt. berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini menjadi penyemangat bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang bertekad memperbaiki diri, Allah akan membuka jalan-jalan kebaikan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Kisah Robert mengajarkan bahwa masa lalu bukanlah akhir dari segalanya. Yang menentukan masa depan seseorang bukanlah kesalahannya dahulu, melainkan kesungguhannya untuk bangkit hari ini.

Mari kita sambut setiap orang yang ingin berubah dengan tangan terbuka, bukan dengan prasangka. Berikan ruang, kesempatan, dan kepercayaan kepada mereka yang sedang meniti jalan hijrah. Sebab masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu menerima, membimbing, dan menguatkan sesama.

Hijrah hari ini adalah harapan esok.
Shalat yang terjaga, tubuh yang sehat, dan usaha yang halal akan menjadi bekal menuju kehidupan yang penuh berkah.

Hijrah bukan sekadar meninggalkan masa lalu. Hijrah adalah keberanian untuk menjemput ridha Allah, membangun kepercayaan masyarakat, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Semoga setiap langkah hijrah kita menjadi jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.

Jumat, 31 Juli 2026

Dari Ruang Zoom yang Sunyi Menuju Ruang Keyakinan Catatan Hari Ini dari Room8_Wahyu Salim_Kota Padang Panjang

 


Dari Ruang Zoom yang Sunyi Menuju Ruang Keyakinan

Catatan Hari Ini dari Room8_Wahyu Salim_Kota Padang Panjang_Sumatera Barat

Jumat, 31 Juli 2026.

Pagi ini saya memasuki sebuah ruang yang sederhana, tetapi terasa begitu besar maknanya: Room8_Wahyu Salim_Kota Padang Panjang_Sumatera Barat. Di sanalah saya menunggu giliran wawancara Ujian Kompetensi Teknis Penyuluh Agama Islam Ahli Madya bersama Analis SDM, Tim Organisasi, Kepegawaian dan Hukum, Sekretariat Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI.

Perasaan saya campur aduk. Harap-harap cemas. Semua materi telah dipelajari, pengalaman lapangan telah disiapkan, doa telah dipanjatkan. Namun, justru yang membuat jantung berdegup lebih cepat bukanlah pertanyaan pewawancara, melainkan teknologi.

Beberapa menit sebelum wawancara dimulai, saya mencoba mengecek suara pada headphone. Tidak ada suara sama sekali. Saya panik. Pikiran langsung melompat ke berbagai kemungkinan: Apakah perangkat saya rusak? Apakah headphone bermasalah? Bagaimana jika saya gagal hanya karena persoalan teknis?

Sebagai seseorang yang tidak terlalu akrab dengan seluk-beluk aplikasi Zoom, saya sempat mengira bahwa semua kesalahan ada pada perangkat yang saya gunakan. Ternyata saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat sederhana: sistem Zoom memang belum mengaktifkan audio sebelum permintaan bergabung (join) dari admin disetujui.

Betapa sering kita menyalahkan alat, keadaan, bahkan diri sendiri, padahal kita hanya belum memahami sistemnya.

Ketegangan itu perlahan mencair ketika panitia pusat memberikan arahan. Setelah tombol “Setujui/Join” saya klik, suara tiba-tiba terdengar dengan jelas. Ruang yang semula sunyi berubah menjadi ruang komunikasi. Saat itulah saya menarik napas panjang. Kegugupan perlahan berubah menjadi ketenangan.

Wawancara pun dimulai.

Pewawancara saya adalah Bapak Ferdiansyah, kemudian saya tahu beliau adalah Analis SDM, Tim Organisasi, Kepegawaian dan Hukum, Sekretariat Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI. Beliau membuka dengan sederhana.

“Silakan sebutkan nama dan NIP.”

Saya menjawab dengan tenang,

“Nama saya Wahyu Salim, NIP 19760611200….”

Lalu datang pertanyaan yang menjadi inti dari seluruh perjalanan profesi saya:

“Apa keahlian seorang Penyuluh Agama Islam Ahli Madya?”

Tanpa berpikir panjang, saya menjawab dengan keyakinan.

Saya menyampaikan bahwa Penyuluh Agama Islam Ahli Madya memiliki kemampuan melakukan evaluasi secara menyeluruh, terstruktur, dan sistematis terhadap pelaksanaan bimbingan penyuluhan agama dan pembangunan pada kelompok sasaran masyarakat; mampu melakukan perbaikan sistem, pola kerja, serta kegiatan lintas sektoral secara terintegrasi dan kolaboratif; serta mampu mengembangkan model bimbingan penyuluhan agama dan pembangunan yang adaptif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saya tambahkan bahwa penyuluh agama adalah gerbang terdepan Kementerian Agama di akar rumput, sehingga harus mampu menempatkan diri sebagai cermin dari praktik-praktik baik Kementerian Agama di tengah masyarakat.

Belum selesai rasa tegang saya, Bapak Febriansyah tersenyum lalu berkata,

“Ini jawabannya tepat sekali… jangan-jangan soalnya sudah bocor.”

Ruangan Zoom yang tadi membuat saya panik, mendadak terasa hangat. Seloroh sederhana itu menjadi penanda bahwa jawaban saya diterima dengan baik.

Tidak lama kemudian, beliau melihat data masa kerja saya dan bertanya,

“Pak Wahyu sudah 21 tahun 6 bulan menjadi penyuluh ya?”

Saya meminta izin untuk meluruskan.

“Mohon izin, Pak. Saya menjadi Penyuluh Agama Islam melalui mekanisme InPassing pada tahun 2020.”

Saya kemudian menceritakan perjalanan jabatan yang pernah saya emban di lingkungan Kementerian Agama: Penghulu, Kepala KUA, Penyelenggara Syariah, Kasubbag Tata Usaha, Kasi Pendidikan Madrasah, hingga akhirnya memilih menjadi Penyuluh Agama Islam.

Jawaban itu tampaknya menarik perhatian beliau.

“Kenapa Pak Wahyu memilih InPassing ke Penyuluh Agama?” tanya beliau.

Saya menjawab bahwa keputusan itu adalah ijtihad birokrasi (ijtihad birokrasiyyah) yang saya ambil setelah mempertimbangkan dinamika reformasi birokrasi yang pada saat itu sedang sangat gencar di Kementerian Agama. Ketika wacana pengalihan jabatan struktural eselon IV ke jabatan fungsional tertentu mulai menguat, saya mulai bertanya kepada diri sendiri: jabatan fungsional apa yang paling sesuai dengan kompetensi, pengalaman, dan passion saya?

Saya menyadari bahwa latar belakang pendidikan agama, pengalaman membina masyarakat, serta kecenderungan saya pada dunia dakwah dan pemberdayaan umat akan lebih menemukan ruang pengabdian dalam jabatan Penyuluh Agama Islam. Saya sempat berpikir, bila tidak mengambil langkah itu, sangat mungkin saya akan dialihkan ke jabatan fungsional lain yang tidak sepenuhnya selaras dengan kompetensi saya, seperti arsiparis, analis pengadaan barang dan jasa, atau jabatan teknis lainnya. Maka ketika kesempatan InPassing dibuka, saya tidak berpikir panjang. Saya mengikutinya sebagai sebuah ikhtiar untuk tetap berada pada jalur pengabdian yang paling saya yakini.

Pertanyaan berikutnya membawa saya kembali ke lapangan pengabdian.

Saya diminta menceritakan pengalaman memberikan bimbingan penyuluhan agama.

Saya menjelaskan berbagai pengalaman dengan menggunakan kerangka berpikir STAR (Situation, Task, Action, Result).

Saya bercerita tentang implementasi program prioritas Kementerian Agama di bidang ekoteologi, bagaimana kami menggerakkan Gerakan Menanam Pohon bersama penyuluh kehutanan, sekolah-sekolah terdampak bencana, calon pengantin, dan kelompok tani kehutanan.

Saya menceritakan pemberdayaan ekonomi umat, dengan mengaktifkan kembali kelompok-kelompok eks penerima bantuan bergulir Kementerian Agama agar tidak berhenti hanya sebagai penerima bantuan, tetapi tumbuh menjadi kelompok yang mandiri.

Saya berbagi pengalaman membina warga binaan di Rutan, hingga akhirnya memperoleh penghargaan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Saya juga menjelaskan peran saya sebagai Dewan Pengawas Syariah, mendampingi transformasi koperasi konvensional menjadi koperasi syariah, bahkan ikut menjadi salah satu penyusun lahirnya Peraturan Wali Kota tentang Pelaksanaan Koperasi Syariah, yang kemudian mengantarkan Kota Padang Panjang dikenal sebagai Kota Koperasi Syariah, tempat tujuan studi koperasi syariah, khususnya di Sumatera Barat.

Semua pengalaman itu terasa mengalir, bukan karena dihafal, tetapi karena memang pernah dijalani.

Di penghujung wawancara, Bapak Febriansyah memberikan sebuah arahan yang menurut saya sangat penting dan relevan dengan tantangan penyuluhan agama hari ini. Beliau mengingatkan agar penyuluh agama semakin familiar dengan berbagai aplikasi dan platform digital, khususnya e-PA (Elektronik Penyuluh Agama). Beliau menyampaikan bahwa meskipun dalam sistem kepegawaian telah ada e-Kinerja, namun e-PA memiliki peran yang sangat strategis sebagai ruang dokumentasi, pengukuran, dan pengembangan kinerja penyuluh agama secara lebih spesifik.

Saya menangkap pesan itu bukan sebagai teguran, melainkan sebagai undangan untuk bertumbuh. Kinerja penyuluh tidak cukup hanya dilakukan di lapangan; ia juga perlu tercatat, terdokumentasi, dan terukur, sehingga dapat dinilai, dievaluasi, dan dikembangkan ke arah yang lebih baik. Pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu tujuan: agar pelayanan penyuluhan agama semakin berdampak, bermanfaat, dan membawa maslahat di tengah-tengah umat.

Arahan tersebut menyentuh saya secara pribadi. Saya menyadari bahwa menjadi penyuluh agama di era sekarang berarti siap belajar, siap beradaptasi, dan siap bersahabat dengan kemajuan teknologi. Mungkin saya masih memiliki keterbatasan dalam beberapa hal teknis—seperti pengalaman kecil pagi tadi ketika sempat gugup menghadapi Zoom—tetapi justru pengalaman itu menjadi pengingat bahwa belajar tidak pernah mengenal kata terlambat.

Sebagai Ketua IPARI Kota Padang Panjang, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak berhenti pada diri sendiri. Insya Allah, saya siap mengajak dan menggerakkan rekan-rekan penyuluh agar semakin aktif mengisi e-PA, bukan sekadar untuk memenuhi administrasi, tetapi sebagai bentuk akuntabilitas, profesionalitas, dan kecintaan terhadap profesi yang kami emban. Semoga langkah kecil itu menjadi bagian dari ikhtiar bersama membangun penyuluh agama yang adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Ketika wawancara berakhir, saya menyadari satu hal.

Hari ini saya tidak hanya diuji tentang kompetensi teknis sebagai penyuluh agama. Saya juga diuji tentang ketenangan menghadapi ketidakpastian, kemauan belajar dari keterbatasan teknologi, dan keberanian menceritakan karya nyata dengan jujur.

Ruang Zoom yang sempat sunyi itu ternyata sedang mengajarkan saya sebuah pelajaran.

Bahwa dalam hidup, sering kali kita merasa tidak mendengar apa-apa karena kita belum benar-benar “bergabung” dengan proses yang sedang Allah siapkan. Kita panik, menyalahkan perangkat, keadaan, bahkan kemampuan diri. Padahal, mungkin kita hanya perlu menekan satu tombol: percaya dan melangkah.

Saya juga pulang dengan kesadaran baru bahwa kenaikan jenjang jabatan bukanlah sekadar kenaikan pangkat, melainkan penambahan amanah dan tanggung jawab. Semakin tinggi jenjang yang diemban, semakin besar pula tuntutan untuk menjadi teladan, pembelajar, penggerak, dan penghubung antara kebijakan negara dan kebutuhan nyata masyarakat.

Apa pun hasil akhir dari proses ini, saya berharap dapat sampai pada satu terminal kehidupan yang sederhana tetapi bermakna: “Saya bisa karena terbiasa.”

Terbiasa belajar. Terbiasa memperbaiki diri. Terbiasa mengevaluasi pekerjaan. Terbiasa beradaptasi dengan perubahan. Dan terbiasa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pelayanan yang lebih baik kepada umat.

Karena sesungguhnya, kompetensi bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, melainkan tentang bagaimana kita terus berproses, terus belajar, dan terus menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Dan bagi seorang penyuluh agama, itulah ujian yang sesungguhnya. Wallahu A'lam wal Musta'an

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
KUA Padang Panjang Timur


Kamis, 30 Juli 2026

LAPORAN EVALUASI AWAL Situasi dan Kondisi Pra-Implementasi Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi Pasca Bencana Alam di Kota Padang Panjang

LAPORAN EVALUASI AWAL

Situasi dan Kondisi Pra-Implementasi Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi Pasca Bencana Alam di Kota Padang Panjang

Disusun oleh:
Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang

I. Pendahuluan

Program Prioritas Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Ekoteologi merupakan salah satu agenda strategis Kementerian Agama dalam membangun kesadaran keagamaan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan hidup. Program ini menempatkan nilai-nilai agama sebagai landasan moral dan spiritual dalam menjaga keseimbangan alam, memperkuat ketahanan lingkungan, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya mitigasi bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pasca bencana alam yang terjadi di Kota Padang Panjang dan wilayah sekitarnya, muncul kebutuhan mendesak untuk melakukan evaluasi awal terhadap kondisi sosial, keagamaan, kelembagaan, dan lingkungan sebagai dasar implementasi program Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama. Evaluasi ini bertujuan agar pelaksanaan program tidak bersifat seremonial, tetapi berbasis kebutuhan nyata masyarakat serta mampu memberikan dampak yang berkelanjutan.

II. Tujuan Evaluasi

  1. Mengidentifikasi kondisi sosial dan lingkungan pasca bencana di Kota Padang Panjang.

  2. Menilai tingkat kesiapan masyarakat dan kelembagaan dalam mendukung program Ekoteologi.

  3. Mengidentifikasi hambatan dan peluang implementasi Gerakan Menanam Pohon.

  4. Menyusun rekomendasi strategis sebagai dasar pelaksanaan program penyuluhan agama berbasis ekoteologi.

III. Metode Evaluasi

Evaluasi awal dilakukan melalui:

  • Observasi lapangan pada beberapa wilayah terdampak.

  • Wawancara dengan tokoh agama, penyuluh agama, aparat kelurahan, pengurus masjid, dan masyarakat.

  • Diskusi kelompok (FGD) terbatas dengan penyuluh agama dan pemangku kepentingan.

  • Telaah dokumen terkait kebencanaan, penghijauan, dan program keagamaan di wilayah Kota Padang Panjang.

IV. Hasil Evaluasi Awal

A. Kondisi Lingkungan Pasca Bencana

  1. Terdapat kawasan yang mengalami kerusakan vegetasi dan berkurangnya tutupan hijau.

  2. Beberapa daerah rawan longsor dan aliran air memerlukan penguatan vegetasi penahan.

  3. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan meningkat setelah mengalami dampak bencana.

  4. Belum tersedia peta prioritas penghijauan yang terintegrasi antara instansi terkait.

B. Kondisi Sosial Keagamaan

  1. Masyarakat memiliki modal sosial dan religiusitas yang kuat.

  2. Masjid, musala, majelis taklim, dan kelompok keagamaan aktif menjadi pusat aktivitas masyarakat.

  3. Tokoh agama memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk perilaku masyarakat.

  4. Materi ceramah dan penyuluhan masih didominasi tema ibadah ritual, sedangkan isu lingkungan belum menjadi tema utama.

C. Kondisi Kelembagaan

  1. KUA, penyuluh agama, madrasah, sekolah dan organisasi keagamaan memiliki jaringan yang luas hingga tingkat akar rumput.

  2. Program penghijauan telah dilakukan oleh beberapa pihak, namun berjalan sendiri-sendiri.

  3. Belum terdapat mekanisme koordinasi rutin antara Kementerian Agama, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, sekolah, dan komunitas masyarakat.

  4. Belum tersedia modul penyuluhan ekoteologi yang digunakan secara seragam oleh penyuluh agama.

D. Tingkat Kesiapan Masyarakat

Evaluasi menunjukkan bahwa masyarakat berada pada kategori cukup siap, dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Bersedia berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon.

  • Memiliki kepedulian terhadap pencegahan bencana.

  • Membutuhkan pendampingan teknis mengenai jenis tanaman, lokasi penanaman, dan perawatan.

  • Memerlukan penguatan motivasi keagamaan agar kegiatan penghijauan dipandang sebagai bagian dari ibadah dan sedekah jariyah.

V. Analisis Permasalahan

Berdasarkan hasil evaluasi, ditemukan beberapa akar masalah utama.

1. Edukasi Ekoteologi Masih Lemah

Pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara ajaran Islam dan pelestarian lingkungan masih terbatas. Nilai-nilai seperti amanah menjaga bumi, larangan berbuat kerusakan (fasad), serta konsep khalifah fil ardh belum terintegrasi secara sistematis dalam kegiatan penyuluhan.

2. Program Belum Terintegrasi

Kegiatan penghijauan yang dilakukan berbagai instansi belum memiliki tujuan, sasaran, indikator, dan mekanisme pelaporan yang sama, sehingga dampaknya belum optimal.

3. Pendampingan Pasca Penanaman Minim

Fokus kegiatan masih pada penanaman bibit, sedangkan aspek pemeliharaan, monitoring, dan keberlanjutan belum menjadi perhatian utama.

4. Belum Ada Keterlibatan Kelompok Strategis Secara Sistematis

Kelompok calon pengantin, siswa madrasah, remaja masjid, majelis taklim, dan keluarga binaan KUA belum dijadikan sasaran utama dalam gerakan penghijauan.

VI. Analisis SWOT

Strengths (Kekuatan)

  • Jaringan penyuluh agama tersebar hingga tingkat kelurahan.

  • Tingginya kepercayaan masyarakat kepada tokoh agama.

  • Dukungan kebijakan Kementerian Agama melalui program Ekoteologi.

  • Budaya gotong royong masyarakat Minangkabau yang kuat.

Weaknesses (Kelemahan)

  • Literasi lingkungan berbasis agama masih rendah.

  • Belum tersedia modul dan SOP pelaksanaan.

  • Koordinasi lintas sektor belum optimal.

  • Monitoring program belum terstruktur.

Opportunities (Peluang)

  • Momentum pasca bencana meningkatkan kepedulian masyarakat.

  • Dukungan pemerintah daerah terhadap penghijauan.

  • Potensi kolaborasi dengan penyuluh kehutanan, sekolah, BAZNAS, dan CSR.

  • Keterlibatan generasi muda melalui sekolah dan komunitas.

Threats (Ancaman)

  • Partisipasi masyarakat dapat menurun jika program bersifat seremonial.

  • Bibit yang ditanam berpotensi mati tanpa pemeliharaan.

  • Keterbatasan anggaran dan sumber daya.

  • Perubahan cuaca yang ekstrem.

VII. Rekomendasi Strategis

Berdasarkan evaluasi awal, direkomendasikan beberapa langkah berikut.

  1. Menyusun Konsep Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama sebagai pedoman bersama.

  2. Mengintegrasikan materi ekoteologi ke dalam seluruh layanan penyuluhan agama, termasuk Bimbingan Perkawinan, Majelis Taklim, Remaja Masjid, Madrasah/Sekolah, dan Penyuluhan Keluarga.

  3. Membentuk Tim Kolaborasi Ekoteologi Kota Padang Panjang yang melibatkan Kementerian Agama, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, penyuluh kehutanan, pemerintah daerah, sekolah, organisasi keagamaan, dan komunitas masyarakat.

  4. Menetapkan wilayah prioritas penghijauan berdasarkan tingkat kerawanan bencana.

  5. Mengembangkan program Satu Penyuluh – Satu Kelompok – Seratus Pohon sebagai model implementasi di tingkat akar rumput.

  6. Menyusun sistem monitoring dan evaluasi berbasis jumlah pohon hidup, tingkat partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan kelompok pemelihara.

VIII. Penutup

Hasil evaluasi awal menunjukkan bahwa Kota Padang Panjang memiliki modal sosial, religius, dan kelembagaan yang kuat untuk mengimplementasikan Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi. Tantangan utama terletak pada lemahnya integrasi program, rendahnya literasi ekoteologi, dan belum adanya mekanisme kolaborasi yang sistematis.

Dengan pendekatan penyuluhan agama yang partisipatif, kolaboratif, dan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis, Gerakan Menanam Pohon berpotensi menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan lingkungan, mengurangi risiko bencana, serta mewujudkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).


Konsep Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama

 


Konsep Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama

Implementasi Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi

Disusun oleh: Wahyu Salim, S.Ag.

Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Latar Belakang

Bencana alam, perubahan iklim, berkurangnya tutupan hijau, dan meningkatnya kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa persoalan ekologis bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Islam memandang manusia sebagai khalifah fil ardh (pemakmur dan penjaga bumi), sehingga menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab keagamaan.

Program prioritas Menteri Agama tentang Ekoteologi memberikan arah bahwa pelestarian lingkungan harus menjadi gerakan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama, yaitu gerakan yang mengintegrasikan dakwah, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan aksi nyata penanaman serta pemeliharaan pohon.

Landasan Teologis

Al-Qur’an

  1. Manusia sebagai khalifah di bumi

    • "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi." (QS. Al-Baqarah: 30)

  2. Larangan melakukan kerusakan (fasad)

    • "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A’raf: 56)

  3. Kerusakan akibat ulah manusia

    • "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia." (QS. Ar-Rum: 41)

  4. Anjuran memakmurkan bumi

    • "Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya." (QS. Hud: 61)

Hadis Nabi SAW

  1. Keutamaan menanam pohon sebagai sedekah jariyah

    • "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)

  2. Menanam meskipun kiamat tiba

    • "Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad)

Landasan ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan dan menanam pohon bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ibadah yang bernilai pahala berkelanjutan (sedekah jariyah).

Visi

Terwujudnya masyarakat yang religius, peduli lingkungan, dan berdaya melalui gerakan menanam dan merawat pohon sebagai implementasi ajaran Islam dan program Ekoteologi Kementerian Agama.

Misi

  1. Mengintegrasikan nilai ekoteologi dalam seluruh kegiatan penyuluhan agama.

  2. Meningkatkan literasi keagamaan tentang pelestarian lingkungan.

  3. Menggerakkan masyarakat menanam dan merawat pohon secara berkelanjutan.

  4. Membangun kolaborasi lintas sektor dalam rehabilitasi lingkungan.

  5. Menjadikan rumah ibadah, sekolah, dan keluarga sebagai pusat gerakan penghijauan.

Tujuan

  • Menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah amanah keagamaan.

  • Mengurangi perilaku yang merusak lingkungan (fasad).

  • Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam penghijauan.

  • Mendukung mitigasi bencana, konservasi air, dan ketahanan lingkungan.

  • Membangun budaya sedekah jariyah melalui penanaman pohon.

Sasaran Program

  1. Calon pengantin (Bimbingan Perkawinan)

  2. Keluarga binaan KUA

  3. Majelis taklim

  4. Remaja masjid

  5. Santri dan siswa madrasah/sekolah

  6. ASN Kementerian Agama

  7. Komunitas keagamaan dan masyarakat umum

  8. Kelompok tani dan masyarakat di daerah rawan bencana

Strategi Implementasi

1. Integrasi dalam Penyuluhan Agama

Setiap penyuluh agama memasukkan materi ekoteologi dalam:

  • Ceramah dan khutbah

  • Majelis taklim

  • Bimbingan perkawinan

  • Penyuluhan keluarga

  • Pembinaan remaja

  • Penyuluhan zakat, wakaf, dan pemberdayaan ekonomi

2. Gerakan Satu Penyuluh – Satu Kelompok – Seratus Pohon

Setiap penyuluh membina minimal satu kelompok masyarakat untuk:

  • Menanam pohon produktif atau konservasi

  • Menetapkan lokasi tanam

  • Menyusun jadwal perawatan

  • Melakukan pelaporan perkembangan

3. Integrasi dengan Bimbingan Calon Pengantin

Setiap pasangan calon pengantin:

  • Menerima materi Ekoteologi dalam Keluarga Sakinah

  • Menanam minimal satu pohon sebagai simbol komitmen membangun keluarga yang membawa maslahat

  • Mendapat kartu pemantauan pohon selama satu tahun pertama pernikahan

4. Rumah Ibadah Hijau

Masjid, musala, madrasah, dan pesantren menjadi:

  • Pusat edukasi lingkungan

  • Lokasi pembibitan sederhana

  • Tempat penghijauan dan konservasi air

  • Sentra gerakan sedekah pohon

Kolaborasi Lintas Sektor

Program dilaksanakan melalui kemitraan dengan:

  • KUA

  • Kantor Kementerian Agama

  • Dinas Lingkungan Hidup

  • Dinas Kehutanan

  • Penyuluh Kehutanan

  • Pemerintah Kelurahan/Nagari

  • BAZNAS

  • Sekolah dan Madrasah

  • Organisasi keagamaan

  • Komunitas pemuda

  • Dunia usaha (CSR)

Tahapan Pelaksanaan

Tahap 1 – Persiapan

  • Pemetaan lokasi prioritas

  • Identifikasi kelompok sasaran

  • Penyusunan modul penyuluhan

  • Pengadaan bibit

Tahap 2 – Edukasi

  • Penyuluhan ekoteologi

  • Pelatihan teknik penanaman

  • Kampanye media sosial

  • Khutbah dan ceramah bertema lingkungan

Tahap 3 – Aksi Penanaman

  • Penanaman serentak

  • Penanaman bertahap oleh kelompok binaan

  • Penandaan pohon dan pendataan

Tahap 4 – Pemeliharaan

  • Penyiraman

  • Pemupukan

  • Penggantian bibit mati

  • Pendampingan kelompok

Tahap 5 – Monitoring dan Evaluasi

  • Monitoring bulanan

  • Evaluasi triwulanan

  • Dokumentasi digital

  • Penghargaan bagi kelompok terbaik

Indikator Keberhasilan

Output

  • Jumlah penyuluhan ekoteologi

  • Jumlah bibit yang ditanam

  • Jumlah calon pengantin yang berpartisipasi

  • Jumlah rumah ibadah dan sekolah yang terlibat

Outcome

  • Meningkatnya literasi ekoteologi masyarakat

  • Meningkatnya partisipasi penghijauan

  • Tingkat hidup pohon minimal 80%

  • Terbentuknya kelompok pemelihara pohon

  • Berkurangnya praktik yang merusak lingkungan

Dampak

  • Meningkatnya tutupan hijau di wilayah binaan

  • Penguatan mitigasi bencana berbasis masyarakat

  • Tumbuhnya budaya sedekah jariyah melalui penanaman pohon

  • Terbangunnya kesadaran bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari ibadah

Penutup

Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama merupakan implementasi nyata dari konsep Ekoteologi Kementerian Agama, yang menghubungkan ajaran Islam dengan tanggung jawab ekologis. Melalui integrasi dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor, gerakan ini diharapkan menjadi gerakan akar rumput yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan lingkungan, mengurangi risiko bencana, serta menghadirkan amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi manusia dan alam.

Wallahu A'lam