Selasa, 04 Agustus 2026

Do’a dan Zikir Kebangsaan Menggema di Rutan Kelas IIB Padang Panjang, WBP Sambut HUT RI Ke-81 dengan Spirit Syukur, Persatuan, dan Optimisme

 

Padang Panjang, 4 Agustus 2026 — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-81 terasa khidmat di Aula Serbaguna Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Selasa (4/8/2026), ketika ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti Do’a dan Zikir Kebangsaan sebagai bagian dari pembinaan keagamaan dan penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan pemasyarakatan.

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian Do’a dan Zikir Kebangsaan yang sebelumnya telah digelar secara nasional di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dan dihadirkan di Rutan Kelas IIB Padang Panjang sebagai ikhtiar menghadirkan semangat spiritual, nasionalisme, dan harapan bagi seluruh warga binaan.

Sebelum pelaksanaan zikir dan doa bersama, kegiatan diawali dengan Lomba Azan Antar Kamar WBP, yang menjadi bagian dari rangkaian Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Warga Binaan Pemasyarakatan bidang keagamaan. Lomba tersebut berlangsung dengan penuh antusias dan menjadi ajang pembinaan bakat serta keberanian warga binaan dalam syiar Islam.

Pembina Kerohanian Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Rino, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Do’a dan Zikir Kebangsaan sangat selaras dengan arah pembinaan kepribadian dan kegiatan Porseni bidang keagamaan yang tengah dilaksanakan di lingkungan Rutan.

“Kegiatan ini sangat positif karena tidak hanya memperkuat dimensi spiritual warga binaan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta tanah air, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan. Ini sejalan dengan tujuan pembinaan pemasyarakatan agar warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik dan siap kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Padang Panjang, Wahyu Salim, S.Ag., yang memimpin rangkaian kegiatan, sesuai pesan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa Do’a dan Zikir Kebangsaan mengusung tiga pesan utama yang menjadi ruh dari kegiatan tersebut.

“Pertama, mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan bangsa. Kedua, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketiga, menumbuhkan optimisme bahwa Indonesia akan semakin baik, semakin maju, dan semakin sejahtera apabila seluruh anak bangsa terus berbenah dan memperbaiki diri,” ungkap Wahyu Salim di hadapan peserta.

Ia menambahkan bahwa warga binaan merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang juga memiliki hak untuk berharap, memperbaiki diri, dan berkontribusi positif bagi negeri. Karena itu, pembinaan keagamaan harus menjadi ruang untuk membangun karakter, menumbuhkan harapan, dan memperkuat semangat kebangsaan.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Zikir kebangsaan dipandu oleh Ust. Fadrizal, yang mengajak seluruh peserta melantunkan zikir, istighfar, dan salawat sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT sekaligus doa untuk keselamatan bangsa Indonesia. Suasana aula berubah menjadi hening dan syahdu ketika lantunan zikir bergema di antara para warga binaan.

Selanjutnya, taushiyyah disampaikan oleh Ust. Harmen, yang mengangkat tema pentingnya taubat, memperbaiki diri, dan menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk memerdekakan diri dari keburukan, kemalasan, dan putus asa. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan kembali kepada jalan Allah SWT.

Puncak kegiatan ditandai dengan Do’a Kebangsaan yang dipimpin oleh Wahyu Salim, mengacu pada teks Do’a dan Zikir Kebangsaan yang dibacakan pada kegiatan nasional di Monas. Agar semangat dan pesan doa tersebut tetap hidup dalam ingatan serta menjadi bagian dari dokumentasi sejarah kegiatan di Rutan Kelas IIB Padang Panjang, berikut doa yang dipanjatkan bersama seluruh peserta:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَىٰ صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ

“Ya Allah, Tuhan Tempat Kami Bertawajjuh.
Malam ini kami warga bangsa Indonesia kembali bersimpuh,
Berkumpul senandungkan zikir dan doa dengan bergemuruh,
Persembahkan syukur atas karunia kemerdekaan sebagai suluh,
Anugerahkan bangsa kami persatuan dan kesatuan yang tangguh,
Agar kemajuan dan kesejahteraan bangsa kami terus tumbuh.”

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Cahaya,
Cahaya Wajah-Mu menyinari dan menembus alam raya,
Sinarilah selalu relung hati, pikiran dan langkah kami dengan cahaya,
Bekalilah perjuangan kami dengan semangat yang terus membahana,
Ungkapkan syukur dalam etos kerja dan kesungguhan berkarya,
Persembahkan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara.”

“Ya Allah, Tuhan Yang Titahkan Kami Bersyukur,
Anugerahkanlah kami kemampuan untuk persembahkan syukur,
Atas semua karunia-Mu yang telah terhampar dan tertabur,
Tetapkanlah kemuliaan surga-Mu untuk para pahlawan yang gugur,
Mampukan kami meneladani mereka dalam bersikap dan bertutur,
Wariskan pada kami kearifan dan keindahan budaya para leluhur,
Wujudkanlah cita kami, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Suci,
Anugerahi kami kebeningan hati, hasrat yang tulus dan suci,
Untuk membangun bangsa dan terus memajukan ibu pertiwi,
Mempersembahkan karya-karya terbaik dan mengukir prestasi,
Semua elemen bangsa bergotongroyong, bersinergi dan kolaborasi,
Memelihara jalinan persaudaraan, tenggang rasa dan toleransi.”

“Ya Allah, Tempat Semua Asa dan Cita Tertuju,
Rahmat dan berkah-Mu selalu kami damba dan kami rindu,
Semoga para pemimpin kami selalu dalam lindungan dan bimbingan-Mu,
Bangsa kami dalam keindahan cahaya cinta dan kesejukan kalbu,
Wujudkanlah bangsa kami dalam kemurahan kasih karunia-Mu,
Bangsa yang Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Doa tersebut diaminkan dengan penuh haru oleh seluruh peserta, menciptakan suasana yang menggetarkan hati dan memperkuat harapan agar Indonesia senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, diberi persatuan, kedamaian, serta kemajuan yang berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk para pahlawan bangsa, keselamatan Indonesia, dan keberhasilan seluruh rangkaian peringatan HUT RI Ke-81 di Rutan Kelas IIB Padang Panjang. Warga binaan tampak mengikuti seluruh rangkaian acara dengan tertib, penuh perhatian, dan antusias.

Melalui Do’a dan Zikir Kebangsaan ini, Rutan Kelas IIB Padang Panjang menegaskan komitmennya bahwa pembinaan pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada aspek hukum dan kedisiplinan, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan spiritual, dan penanaman nilai-nilai kebangsaan, sehingga warga binaan dapat kembali ke masyarakat sebagai insan yang lebih baik, religius, dan cinta tanah air.

Semangat yang bergema dari Aula Serbaguna Rutan Kelas IIB Padang Panjang hari itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah, persatuan adalah kekuatan, dan harapan adalah jalan menuju Indonesia yang semakin baik. UWaS


Ketika Dunia Mengguncang, Orang Beriman Tidak Boleh Tumbang


UJIAN IMAN ITU MEMANG BERAT

Ketika Dunia Mengguncang, Orang Beriman Tidak Boleh Tumbang

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Di zaman ini, menjadi seorang Muslim yang istiqamah bukanlah perkara mudah. Godaan datang dari segala arah. Bukan hanya kemiskinan yang menguji, tetapi juga kekayaan. Bukan hanya kesedihan yang menguji, tetapi juga kesenangan. Bahkan, kemajuan teknologi yang semestinya menjadi nikmat justru sering menjadi pintu fitnah yang menggerus keimanan.

Kita hidup pada masa yang tidak biasa. Arus informasi begitu deras, media sosial membentuk opini dalam hitungan detik, hoaks bercampur dengan kebenaran, hiburan tanpa batas mengalahkan majelis ilmu, sementara nilai agama sering dianggap menghambat kebebasan. Di tengah keadaan seperti ini, Allah telah mengingatkan bahwa ujian iman memang tidak pernah ringan.

Allah SWT berfirman:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka belum diuji?"

(QS. Al-'Ankabut [29]: 2)

Sunnatullah: Iman Harus Diuji

Ayat ini turun di Makkah ketika kaum Muslim mengalami tekanan, intimidasi, penyiksaan, bahkan kehilangan harta dan keluarga. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah menjelaskan bahwa setiap orang yang mengaku beriman pasti akan diuji agar tampak siapa yang benar-benar jujur dalam imannya dan siapa yang hanya beriman ketika keadaan nyaman.

Senada dengan itu, Tafsir Al-Qurthubi menerangkan bahwa ujian adalah proses penyaringan. Seperti emas yang dimurnikan dengan api, demikian pula hati seorang mukmin dimurnikan melalui berbagai cobaan.

Karena itu, jangan heran jika setelah kita berusaha mendekat kepada Allah, justru datang persoalan yang lebih berat. Itu bukan tanda Allah membenci kita, tetapi bisa jadi Allah sedang meninggikan derajat kita.

Semakin Tinggi Iman, Semakin Berat Ujiannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang terbaik berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya."

(HR. At-Tirmidzi, no. 2398; dinilai hasan sahih)

Hadis ini menunjukkan bahwa beratnya ujian bukan ukuran murka Allah. Justru orang yang paling dicintai Allah sering memperoleh ujian paling besar.

Nabi Ayyub diuji dengan penyakit bertahun-tahun.

Nabi Yusuf diuji dengan fitnah, penjara, dan pengkhianatan.

Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih putranya.

Nabi Muhammad ﷺ diuji dengan wafatnya orang-orang tercinta, pemboikotan, penghinaan, peperangan, hingga pengusiran dari kampung halamannya.

Kalau para nabi saja diuji sedemikian berat, mengapa kita berharap hidup tanpa ujian?

Ujian Hari Ini Tidak Lagi Sekadar Kemiskinan

Jika dahulu ujian banyak berupa lapar dan peperangan, kini bentuknya jauh lebih kompleks.

Kita diuji dengan banjir informasi yang belum tentu benar.

Kita diuji dengan budaya viral yang sering mengorbankan akhlak.

Kita diuji dengan kecerdasan buatan (AI) yang dapat membawa manfaat besar, tetapi juga memudahkan penyebaran fitnah, manipulasi gambar, dan kebohongan.

Kita diuji dengan perjudian daring, pinjaman online yang mencekik, narkoba, pornografi digital, hingga budaya konsumtif yang membuat banyak orang rela menghalalkan segala cara demi terlihat sukses.

Lebih berat lagi, kita hidup di zaman ketika dosa dapat dilakukan tanpa harus keluar rumah. Dengan satu sentuhan jari, seseorang bisa menggunjing, memfitnah, menyebarkan kebencian, bahkan merusak kehormatan orang lain kepada ribuan manusia.

Inilah bentuk ujian iman abad ini.

Jangan Sampai Lulus Dunia, Gagal Akhirat

Allah berfirman:

"Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa kata "sedikit" menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah. Cobaan yang terasa sangat berat bagi manusia ternyata masih jauh lebih kecil dibandingkan nikmat yang Allah berikan sepanjang hidup.

Yang menjadi ukuran bukan besar kecilnya musibah, tetapi bagaimana cara kita menyikapinya.

Ada orang kehilangan pekerjaan lalu semakin rajin shalat.

Ada yang kehilangan jabatan lalu semakin dekat kepada Al-Qur'an.

Ada pula yang mendapat kekayaan justru semakin jauh dari Allah.

Sesungguhnya, nikmat pun adalah ujian.

Yang Berbahaya Bukan Musibah, Tetapi Hilangnya Iman

Hari ini banyak orang takut kehilangan uang, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan pengikut di media sosial, tetapi tidak takut kehilangan iman.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

"Akan datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari beriman, sore hari menjadi kafir; sore hari beriman, pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia."

(HR. Muslim, no. 118)

Bukankah hadis ini terasa sangat dekat dengan kondisi zaman sekarang? Demi popularitas, keuntungan ekonomi, atau kepentingan politik, ada yang rela menggadaikan nilai agama, memutarbalikkan kebenaran, bahkan menjadikan agama sebagai alat mencari keuntungan.

Bekal Menghadapi Ujian

Ada beberapa bekal yang harus diperkuat:

  • Perbanyak membaca Al-Qur'an dan mentadabburinya.

  • Jaga shalat tepat waktu karena shalat adalah sumber kekuatan ruhani.

  • Pilih lingkungan dan pergaulan yang saleh.

  • Saring informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

  • Perbanyak doa, zikir, dan istigfar.

  • Yakini bahwa setiap ujian pasti memiliki akhir, sedangkan pahala kesabaran tidak akan pernah berakhir.

Penutup

Ujian iman memang berat. Namun, yang berat bukan berarti mustahil dilalui. Allah tidak pernah membebani seorang hamba melebihi kemampuannya. Justru melalui ujian itulah lahir pribadi-pribadi tangguh yang dicintai Allah.

Maka jangan meminta hidup tanpa ujian. Mintalah hati yang tetap teguh ketika ujian datang, kaki yang tetap melangkah di jalan Allah, dan iman yang tidak goyah meskipun dunia sedang berguncang.

Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar seorang mukmin bukanlah terbebas dari ujian, tetapi tetap beriman hingga akhir hayat.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."
(QS. Ali 'Imran [3]: 102)

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Senin, 03 Agustus 2026

Ketika Panggilan Azan Lebih Kuat daripada Bayang-Bayang Masa Lalu

 


Ketika Panggilan Azan Lebih Kuat daripada Bayang-Bayang Masa Lalu

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Pagi itu, Kota Padang Panjang masih diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Langit tampak bersih setelah semalam diguyur hujan. Aktivitas di Pasar Padang Panjang mulai menggeliat. Para pedagang menata dagangan, pembeli datang silih berganti, dan kendaraan mulai memenuhi area parkir.

Saya baru saja keluar dari Warung Kopi Fajar, tempat sederhana yang sering menjadi ruang diskusi ringan bersama masyarakat. Secangkir kopi pagi telah habis, tetapi obrolan tentang kehidupan masih terasa hangat di hati.

Ketika melangkah menuju kendaraan, terdengar suara yang memanggil dengan nada penuh hormat.

"Pak Ust...!"

Saya menoleh.

Seorang pria dengan rompi juru parkir sedang tersenyum lebar. Wajahnya tampak lebih cerah daripada yang pernah saya kenal beberapa tahun lalu.

"Pak Ust... masih ingek jo awak?" sapanya dengan logat Minang yang kental.

Saya mencoba mengingat-ingat wajah itu. Ada sesuatu yang terasa akrab, tetapi belum juga menemukan jawabannya.

Dengan spontan saya tersenyum sambil bercanda.

"Alumni di dalam, ya?"

Ia langsung tertawa lepas.

"Hehe... iyo Pak... lai taingek dek apak awak."

Kalimat itu membuat saya langsung memahami maksudnya.

"Oh... Robert?"

Ia mengangguk.

"Iyo Pak... awak Robert." Terlihat badannya tambah berisi.

"Sehat bana kini yo..."?, sapa saya. Alah lamak makan kini pak, jawab Robert 

Kami pun berjabat tangan erat.

Entah mengapa, genggaman itu terasa berbeda.

Tidak ada lagi tatapan kosong seperti dulu. Yang saya lihat pagi itu adalah mata yang penuh harapan.

Robert bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu ia telah menyelesaikan masa pembinaan sebagai Warga Binaan Pemasyarakatan.

Hari itu, ketika pintu lembaga pemasyarakatan terbuka, bukan hanya langkah kakinya yang keluar.

Tetapi juga harapan baru.

Ia mengaku sempat diliputi rasa cemas.

"Apakah keluarga masih mau menerima saya?"

"Apakah masyarakat masih memberi kesempatan?"

"Apakah saya masih layak dipercaya?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.

Namun Allah ternyata menyiapkan jawaban yang sangat indah.

Sesampainya di rumah, keluarganya menyambutnya dengan pelukan.

Ibunya menangis.

Ayahnya memeluk tanpa banyak kata.

Saudara-saudaranya menyambutnya dengan senyum yang selama ini begitu ia rindukan.

Tidak ada kalimat yang menghakimi.

Tidak ada tatapan yang merendahkan.

Yang ada hanyalah kasih sayang.

Robert mengaku, justru saat itulah ia menangis paling lama.

"Bukan karena sedih, Pak Ust..."

"Tapi karena Allah masih memberi saya keluarga."

Air mata itu menjadi saksi bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan kedua.

Hari-hari berikutnya tidak mudah.

Robert sadar.

Ia harus memulai semuanya dari nol.

Ia tidak malu mencari pekerjaan apa pun yang halal.

Baginya, pekerjaan yang sederhana jauh lebih mulia daripada penghasilan besar yang diperoleh dengan cara yang salah.

Kini ia menjadi juru parkir di Pasar Padang Panjang.

Sejak pagi hingga sore, ia membantu pengguna jasa parkir dengan senyum yang tulus.

Ia mengatur kendaraan.

Membantu pengendara keluar masuk.

Mengangkat sepeda motor yang kesulitan.

Mengucapkan terima kasih kepada setiap orang.

Banyak yang mungkin melihat profesi itu biasa saja.

Tetapi bagi Robert...

Itulah medan perjuangan.

Itulah tempat ia menebus masa lalu.

Itulah ladang ibadah.

Saya memperhatikan caranya melayani masyarakat.

Tidak terdengar kata-kata kasar.

Tidak ada wajah cemberut.

Semua disambut dengan ramah.

Ia bahkan hafal sebagian pelanggan pasar.

"Silakan, Pak."

"Hati-hati, Buk."

"Terima kasih, semoga sehat selalu."

Kalimat-kalimat sederhana itu keluar begitu saja.

Saya tersenyum.

Inilah hijrah.

Hijrah tidak selalu dimulai dengan ceramah panjang.

Kadang dimulai dari senyum yang tulus.

Robert kemudian melanjutkan ceritanya.

"Pak Ust..."

"Alhamdulillah... awak lai istiqamah."

"Lai... shalat wak jago elok-elok."

Kalimat itu membuat hati saya bergetar.

Ia melanjutkan.

"Kalau azan lah masuk..."

"Awak tinggaan parkiran sabanta."

"Awak pai ka Mushalla Islamiyyah."

Saya memandang ke arah mushalla yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari lokasi parkir.

Betapa dekatnya.

Betapa indahnya.

Suara azan yang dahulu mungkin hanya lewat di telinga, kini menjadi panggilan yang selalu ditunggu.

Robert berkata lagi.

"Kadang wak nan azan, Pak..."

Saya terdiam beberapa detik.

Sulit menggambarkan apa yang saya rasakan.

Dulu mungkin ia pernah dipanggil sebagai pelaku kesalahan.

Hari ini...

Ia dipanggil untuk mengumandangkan azan.

Masya Allah.

Bukankah Allah benar-benar mampu membolak-balikkan hati manusia?

Saya teringat sabda Rasulullah ﷺ,

"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat."
(HR. Tirmidzi)

Betapa indahnya Islam.

Islam tidak menutup pintu bagi orang yang ingin kembali.

Yang ditutup hanyalah pintu keputusasaan.

Saya kemudian bertanya,

"Robert..."

"Lai bagabuang jo Komunitas Hijrah?"

Matanya langsung berbinar.

Ia tersenyum bangga.

"Lai, Pak!"

"Alhamdulillah..."

"Awak lah bagabuang."

Komunitas Hijrah itu menjadi tempat saling menguatkan bagi para alumni Warga Binaan Pemasyarakatan.

Di sana mereka belajar agama bersama.

Saling mengingatkan.

Menjaga shalat berjamaah.

Belajar membaca Al-Qur'an.

Berbagi pengalaman hidup.

Membangun usaha halal.

Menguatkan ketika ada yang mulai lemah.

Tidak ada yang merasa lebih suci.

Tidak ada yang saling menghakimi.

Karena mereka memahami satu hal.

Semua sedang belajar menjadi lebih baik.

Saya menepuk pundaknya.

"Mantap, Robert."

"Tetap istiqamah."

"Jangan pernah lelah menjadi orang baik."

"Masa lalu tidak menentukan masa depanmu."

"Yang menentukan adalah bagaimana engkau menjaga langkahmu hari ini."

Robert mengangguk.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Insya Allah, Pak Ust..."

"Doakan awak."

Saya menjawab singkat.

"Selalu."

Percakapan kami tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba terdengar bunyi klakson.

Sebuah mobil hendak keluar dari area parkir.

Robert langsung sigap.

"Pak... izin dulu."

"Lah ado mobil ka kaluar."

Ia berlari kecil menuju kendaraan itu.

Dengan gerakan cekatan ia membantu pengemudi mengarahkan mobil.

Senyumnya tetap mengembang.

Pelayanannya tetap ramah.

Saya memandangnya dari kejauhan.

Entah mengapa mata saya terasa hangat.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena bahagia.

Bahagia melihat seseorang yang memilih bangkit daripada tenggelam dalam penyesalan.

Saya pun melanjutkan langkah meninggalkan pasar.

Sepanjang perjalanan, hati saya dipenuhi rasa syukur.

Inilah makna Sapa Umat yang sesungguhnya.

Kadang seorang penyuluh agama tidak harus selalu berbicara di mimbar.

Tidak harus selalu memberi ceramah panjang.

Cukup hadir.

Menyapa.

Mendengar.

Menguatkan.

Menghargai setiap proses hijrah yang sedang dijalani seseorang.

Pagi itu, saya tidak hanya bertemu Robert.

Saya bertemu bukti nyata bahwa hidayah Allah masih terus bekerja di tengah kehidupan.

Bahwa masyarakat perlu lebih banyak memberi kesempatan daripada memberi cap.

Lebih banyak merangkul daripada menjauhkan.

Lebih banyak mendoakan daripada menghakimi.

Karena setiap orang yang hari ini kita lihat berdiri teguh dalam kebaikan, mungkin pernah jatuh di masa lalu.

Dan setiap orang yang hari ini masih bergelimang kesalahan, bisa jadi esok hari menjadi penghuni saf terdepan di masjid.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Hijrah bukan tentang siapa yang paling suci.

Hijrah adalah tentang siapa yang paling bersungguh-sungguh kembali kepada Allah.

Maka jangan pernah remehkan langkah kecil seseorang menuju kebaikan. Jangan pernah menutup pintu harapan bagi mereka yang telah menyesali masa lalunya. Sebab, bisa jadi di sisi Allah, air mata taubat seorang hamba lebih mulia daripada kebanggaan orang yang merasa dirinya tidak pernah berdosa.

Pagi itu, langkah saya meninggalkan Pasar Padang Panjang terasa jauh lebih ringan.

Di balik hiruk-pikuk kendaraan, suara tawar-menawar pedagang, dan kesibukan masyarakat mencari nafkah, saya membawa satu keyakinan yang semakin kuat: hijrah itu nyata.

Hijrah hidup di tengah masyarakat.

Hijrah hadir di balik rompi seorang juru parkir.

Hijrah berkumandang dari azan di Mushalla Islamiyyah.

Hijrah tumbuh dalam pelukan keluarga yang mau memaafkan.

Hijrah menguat dalam Komunitas Hijrah yang saling merangkul tanpa mengungkit masa lalu.

Dan hijrah akan terus menjadi cahaya, selama masih ada hati yang bersedia berkata, "Ya Allah, bimbinglah aku untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin."

Semoga Allah SWT menjaga langkah Robert, menguatkan seluruh alumni Warga Binaan Pemasyarakatan yang sedang menapaki jalan hijrah, melapangkan rezeki mereka yang mencari nafkah dengan cara halal, serta menjadikan kita semua pribadi yang tidak mudah menghakimi, tetapi ringan tangan untuk menerima, membimbing, dan mendoakan.

Karena setiap hijrah yang tulus selalu berawal dari harapan, bertumbuh dengan istiqamah, dan berakhir dengan keberkahan.

Gerakan Serentak Syiar Kebaikan & Narasi Positif di Media Sosial

 





HIMBAUAN PARTISIPASI AKTIF PENYULUH AGAMA ISLAM


Gerakan Serentak Syiar Kebaikan & Narasi Positif di Media Sosial


Ketentuan Posting Media Sosial

Hari / Tanggal: Senin 03-08-2026


Waktu Posting Serentak: Mulai pukul 09.00 WIB

Platform: Instagram, Facebook, X (Twitter), TikTok, dan Status WhatsApp.


Keyword Wajib : Pesan Menag


Hashtag Wajib :


#BersyukurKemerdekaan

#DoaZikirMonas

#BangkitDalamHarapan

#IndonesiaPadaJalurTepat


Contoh narasi pada postingan:


Pesan Menag mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai penguat rasa syukur, persatuan, dan optimisme dalam membangun Indonesia yang lebih baik.

#BersyukurKemerdekaan #DoaZikirMonas #BangkitDalamHarapan #IndonesiaPadaJalurTepat


Terima Kasih

Hijrah Penuh Berkah Kisah Robert: Ketika Langkah Pulang Menjadi Awal Kehidupan Baru

 

Hijrah Penuh Berkah

Kisah Robert: Ketika Langkah Pulang Menjadi Awal Kehidupan Baru

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Hijrah bukan hanya kisah para sahabat Nabi yang meninggalkan Makkah menuju Madinah. Hijrah juga dapat terjadi di dalam hati setiap manusia yang ingin berubah menjadi lebih baik. Hijrah adalah perjalanan meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang diridhai Allah.

Itulah yang sedang dijalani Robert, salah seorang alumni Pesantren Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Baginya, kebebasan bukan sekadar keluar dari balik tembok pembinaan. Kebebasan yang sesungguhnya adalah ketika hati terbebas dari masa lalu dan mampu melangkah menuju masa depan yang lebih mulia.

Setelah pulang ke tengah keluarga, Robert menyadari bahwa hidup telah memberinya kesempatan kedua. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.

Setiap kali azan berkumandang dari mushalla di dekat rumahnya, ia segera bergegas mengambil wudhu. Jika dahulu suara azan sering diabaikan, kini panggilan itu menjadi penyejuk hati. Shalat lima waktu tidak lagi ditinggalkan, karena ia percaya bahwa shalat adalah tiang kehidupan dan sumber ketenangan.

Perubahan itu tidak berhenti di mushalla. Robert juga mulai menjaga kesehatannya. Ia membiasakan hidup sederhana, mengurangi kebiasaan yang tidak bermanfaat, serta melepaskan selera dan gaya hidup yang dahulu membawanya kepada kesalahan. Ia memahami bahwa tubuh yang sehat adalah amanah Allah yang harus dijaga agar dapat terus beribadah dan bekerja.

Yang paling membahagiakan adalah tekadnya mencari rezeki yang halal. Baginya, penghasilan yang sedikit tetapi halal jauh lebih bernilai daripada harta yang banyak namun diperoleh dengan cara yang tidak benar. Dengan semangat baru, ia mulai merintis usaha kecil, bekerja dengan jujur, dan tidak malu memulai dari bawah.

Inilah makna hijrah yang sesungguhnya.

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah sikap. Bukan sekadar mengganti pakaian, tetapi mengganti cara berpikir. Bukan hanya meninggalkan kesalahan, tetapi juga membangun masa depan dengan amal saleh.

Dalam proses itu, ada tiga langkah penting yang perlu dijaga.

Pertama, hijrah. Berani meninggalkan masa lalu dan memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh.

Kedua, asimilasi. Belajar kembali hidup berdampingan dengan masyarakat, membangun kepercayaan, serta menunjukkan bahwa perubahan itu nyata melalui akhlak dan perilaku.

Ketiga, integrasi. Menjadi bagian dari masyarakat yang produktif, bermanfaat, dan ikut membangun lingkungan dengan semangat persaudaraan.

Allah Swt. berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini menjadi penyemangat bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang bertekad memperbaiki diri, Allah akan membuka jalan-jalan kebaikan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Kisah Robert mengajarkan bahwa masa lalu bukanlah akhir dari segalanya. Yang menentukan masa depan seseorang bukanlah kesalahannya dahulu, melainkan kesungguhannya untuk bangkit hari ini.

Mari kita sambut setiap orang yang ingin berubah dengan tangan terbuka, bukan dengan prasangka. Berikan ruang, kesempatan, dan kepercayaan kepada mereka yang sedang meniti jalan hijrah. Sebab masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu menerima, membimbing, dan menguatkan sesama.

Hijrah hari ini adalah harapan esok.
Shalat yang terjaga, tubuh yang sehat, dan usaha yang halal akan menjadi bekal menuju kehidupan yang penuh berkah.

Hijrah bukan sekadar meninggalkan masa lalu. Hijrah adalah keberanian untuk menjemput ridha Allah, membangun kepercayaan masyarakat, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Semoga setiap langkah hijrah kita menjadi jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.

Jumat, 31 Juli 2026

Dari Ruang Zoom yang Sunyi Menuju Ruang Keyakinan Catatan Hari Ini dari Room8_Wahyu Salim_Kota Padang Panjang

 


Dari Ruang Zoom yang Sunyi Menuju Ruang Keyakinan

Catatan Hari Ini dari Room8_Wahyu Salim_Kota Padang Panjang_Sumatera Barat

Jumat, 31 Juli 2026.

Pagi ini saya memasuki sebuah ruang yang sederhana, tetapi terasa begitu besar maknanya: Room8_Wahyu Salim_Kota Padang Panjang_Sumatera Barat. Di sanalah saya menunggu giliran wawancara Ujian Kompetensi Teknis Penyuluh Agama Islam Ahli Madya bersama Analis SDM, Tim Organisasi, Kepegawaian dan Hukum, Sekretariat Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI.

Perasaan saya campur aduk. Harap-harap cemas. Semua materi telah dipelajari, pengalaman lapangan telah disiapkan, doa telah dipanjatkan. Namun, justru yang membuat jantung berdegup lebih cepat bukanlah pertanyaan pewawancara, melainkan teknologi.

Beberapa menit sebelum wawancara dimulai, saya mencoba mengecek suara pada headphone. Tidak ada suara sama sekali. Saya panik. Pikiran langsung melompat ke berbagai kemungkinan: Apakah perangkat saya rusak? Apakah headphone bermasalah? Bagaimana jika saya gagal hanya karena persoalan teknis?

Sebagai seseorang yang tidak terlalu akrab dengan seluk-beluk aplikasi Zoom, saya sempat mengira bahwa semua kesalahan ada pada perangkat yang saya gunakan. Ternyata saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat sederhana: sistem Zoom memang belum mengaktifkan audio sebelum permintaan bergabung (join) dari admin disetujui.

Betapa sering kita menyalahkan alat, keadaan, bahkan diri sendiri, padahal kita hanya belum memahami sistemnya.

Ketegangan itu perlahan mencair ketika panitia pusat memberikan arahan. Setelah tombol “Setujui/Join” saya klik, suara tiba-tiba terdengar dengan jelas. Ruang yang semula sunyi berubah menjadi ruang komunikasi. Saat itulah saya menarik napas panjang. Kegugupan perlahan berubah menjadi ketenangan.

Wawancara pun dimulai.

Pewawancara saya adalah Bapak Ferdiansyah, kemudian saya tahu beliau adalah Analis SDM, Tim Organisasi, Kepegawaian dan Hukum, Sekretariat Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI. Beliau membuka dengan sederhana.

“Silakan sebutkan nama dan NIP.”

Saya menjawab dengan tenang,

“Nama saya Wahyu Salim, NIP 197606112005….”

Lalu datang pertanyaan yang menjadi inti dari seluruh perjalanan profesi saya:

“Apa keahlian seorang Penyuluh Agama Islam Ahli Madya?”

Tanpa berpikir panjang, saya menjawab dengan keyakinan.

Saya menyampaikan bahwa Penyuluh Agama Islam Ahli Madya memiliki kemampuan melakukan evaluasi secara menyeluruh, terstruktur, dan sistematis terhadap pelaksanaan bimbingan penyuluhan agama dan pembangunan pada kelompok sasaran masyarakat; mampu melakukan perbaikan sistem, pola kerja, serta kegiatan lintas sektoral secara terintegrasi dan kolaboratif; serta mampu mengembangkan model bimbingan penyuluhan agama dan pembangunan yang adaptif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saya tambahkan bahwa penyuluh agama adalah gerbang terdepan Kementerian Agama di akar rumput, sehingga harus mampu menempatkan diri sebagai cermin dari praktik-praktik baik Kementerian Agama di tengah masyarakat.

Belum selesai rasa tegang saya, Bapak Febriansyah tersenyum lalu berkata,

“Ini jawabannya tepat sekali… jangan-jangan soalnya sudah bocor.”

Ruangan Zoom yang tadi membuat saya panik, mendadak terasa hangat. Seloroh sederhana itu menjadi penanda bahwa jawaban saya diterima dengan baik.

Tidak lama kemudian, beliau melihat data masa kerja saya dan bertanya,

“Pak Wahyu sudah 21 tahun 6 bulan menjadi penyuluh ya?”

Saya meminta izin untuk meluruskan.

“Mohon izin, Pak. Saya menjadi Penyuluh Agama Islam melalui mekanisme InPassing pada tahun 2020.”

Saya kemudian menceritakan perjalanan jabatan yang pernah saya emban di lingkungan Kementerian Agama: Penghulu, Kepala KUA, Penyelenggara Syariah, Kasubbag Tata Usaha, Kasi Pendidikan Madrasah, hingga akhirnya memilih menjadi Penyuluh Agama Islam.

Jawaban itu tampaknya menarik perhatian beliau.

“Kenapa Pak Wahyu memilih InPassing ke Penyuluh Agama?” tanya beliau.

Saya menjawab bahwa keputusan itu adalah ijtihad birokrasi (ijtihad birokrasiyyah) yang saya ambil setelah mempertimbangkan dinamika reformasi birokrasi yang pada saat itu sedang sangat gencar di Kementerian Agama. Ketika wacana pengalihan jabatan struktural eselon IV ke jabatan fungsional tertentu mulai menguat, saya mulai bertanya kepada diri sendiri: jabatan fungsional apa yang paling sesuai dengan kompetensi, pengalaman, dan passion saya?

Saya menyadari bahwa latar belakang pendidikan agama, pengalaman membina masyarakat, serta kecenderungan saya pada dunia dakwah dan pemberdayaan umat akan lebih menemukan ruang pengabdian dalam jabatan Penyuluh Agama Islam. Saya sempat berpikir, bila tidak mengambil langkah itu, sangat mungkin saya akan dialihkan ke jabatan fungsional lain yang tidak sepenuhnya selaras dengan kompetensi saya, seperti arsiparis, analis pengadaan barang dan jasa, atau jabatan teknis lainnya. Maka ketika kesempatan InPassing dibuka, saya tidak berpikir panjang. Saya mengikutinya sebagai sebuah ikhtiar untuk tetap berada pada jalur pengabdian yang paling saya yakini.

Pertanyaan berikutnya membawa saya kembali ke lapangan pengabdian.

Saya diminta menceritakan pengalaman memberikan bimbingan penyuluhan agama.

Saya menjelaskan berbagai pengalaman dengan menggunakan kerangka berpikir STAR (Situation, Task, Action, Result).

Saya bercerita tentang implementasi program prioritas Kementerian Agama di bidang ekoteologi, bagaimana kami menggerakkan Gerakan Menanam Pohon bersama penyuluh kehutanan, sekolah-sekolah terdampak bencana, calon pengantin, dan kelompok tani kehutanan.

Saya menceritakan pemberdayaan ekonomi umat, dengan mengaktifkan kembali kelompok-kelompok eks penerima bantuan bergulir Kementerian Agama agar tidak berhenti hanya sebagai penerima bantuan, tetapi tumbuh menjadi kelompok yang mandiri.

Saya berbagi pengalaman membina warga binaan di Rutan, hingga akhirnya memperoleh penghargaan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Saya juga menjelaskan peran saya sebagai Dewan Pengawas Syariah, mendampingi transformasi koperasi konvensional menjadi koperasi syariah, bahkan ikut menjadi salah satu penyusun lahirnya Peraturan Wali Kota tentang Pelaksanaan Koperasi Syariah, yang kemudian mengantarkan Kota Padang Panjang dikenal sebagai Kota Koperasi Syariah, tempat tujuan studi koperasi syariah, khususnya di Sumatera Barat.

Semua pengalaman itu terasa mengalir, bukan karena dihafal, tetapi karena memang pernah dijalani.

Di penghujung wawancara, Bapak Febriansyah memberikan sebuah arahan yang menurut saya sangat penting dan relevan dengan tantangan penyuluhan agama hari ini. Beliau mengingatkan agar penyuluh agama semakin familiar dengan berbagai aplikasi dan platform digital, khususnya e-PA (Elektronik Penyuluh Agama). Beliau menyampaikan bahwa meskipun dalam sistem kepegawaian telah ada e-Kinerja, namun e-PA memiliki peran yang sangat strategis sebagai ruang dokumentasi, pengukuran, dan pengembangan kinerja penyuluh agama secara lebih spesifik.

Saya menangkap pesan itu bukan sebagai teguran, melainkan sebagai undangan untuk bertumbuh. Kinerja penyuluh tidak cukup hanya dilakukan di lapangan; ia juga perlu tercatat, terdokumentasi, dan terukur, sehingga dapat dinilai, dievaluasi, dan dikembangkan ke arah yang lebih baik. Pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu tujuan: agar pelayanan penyuluhan agama semakin berdampak, bermanfaat, dan membawa maslahat di tengah-tengah umat.

Arahan tersebut menyentuh saya secara pribadi. Saya menyadari bahwa menjadi penyuluh agama di era sekarang berarti siap belajar, siap beradaptasi, dan siap bersahabat dengan kemajuan teknologi. Mungkin saya masih memiliki keterbatasan dalam beberapa hal teknis—seperti pengalaman kecil pagi tadi ketika sempat gugup menghadapi Zoom—tetapi justru pengalaman itu menjadi pengingat bahwa belajar tidak pernah mengenal kata terlambat.

Sebagai Ketua IPARI Kota Padang Panjang, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak berhenti pada diri sendiri. Insya Allah, saya siap mengajak dan menggerakkan rekan-rekan penyuluh agar semakin aktif mengisi e-PA, bukan sekadar untuk memenuhi administrasi, tetapi sebagai bentuk akuntabilitas, profesionalitas, dan kecintaan terhadap profesi yang kami emban. Semoga langkah kecil itu menjadi bagian dari ikhtiar bersama membangun penyuluh agama yang adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Ketika wawancara berakhir, saya menyadari satu hal.

Hari ini saya tidak hanya diuji tentang kompetensi teknis sebagai penyuluh agama. Saya juga diuji tentang ketenangan menghadapi ketidakpastian, kemauan belajar dari keterbatasan teknologi, dan keberanian menceritakan karya nyata dengan jujur.

Ruang Zoom yang sempat sunyi itu ternyata sedang mengajarkan saya sebuah pelajaran.

Bahwa dalam hidup, sering kali kita merasa tidak mendengar apa-apa karena kita belum benar-benar “bergabung” dengan proses yang sedang Allah siapkan. Kita panik, menyalahkan perangkat, keadaan, bahkan kemampuan diri. Padahal, mungkin kita hanya perlu menekan satu tombol: percaya dan melangkah.

Saya juga pulang dengan kesadaran baru bahwa kenaikan jenjang jabatan bukanlah sekadar kenaikan pangkat, melainkan penambahan amanah dan tanggung jawab. Semakin tinggi jenjang yang diemban, semakin besar pula tuntutan untuk menjadi teladan, pembelajar, penggerak, dan penghubung antara kebijakan negara dan kebutuhan nyata masyarakat.

Apa pun hasil akhir dari proses ini, saya berharap dapat sampai pada satu terminal kehidupan yang sederhana tetapi bermakna: “Saya bisa karena terbiasa.”

Terbiasa belajar. Terbiasa memperbaiki diri. Terbiasa mengevaluasi pekerjaan. Terbiasa beradaptasi dengan perubahan. Dan terbiasa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pelayanan yang lebih baik kepada umat.

Karena sesungguhnya, kompetensi bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, melainkan tentang bagaimana kita terus berproses, terus belajar, dan terus menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Dan bagi seorang penyuluh agama, itulah ujian yang sesungguhnya. Wallahu A'lam wal Musta'an

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
KUA Padang Panjang Timur


Kamis, 30 Juli 2026

LAPORAN EVALUASI AWAL Situasi dan Kondisi Pra-Implementasi Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi Pasca Bencana Alam di Kota Padang Panjang

LAPORAN EVALUASI AWAL

Situasi dan Kondisi Pra-Implementasi Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi Pasca Bencana Alam di Kota Padang Panjang

Disusun oleh:
Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang

I. Pendahuluan

Program Prioritas Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Ekoteologi merupakan salah satu agenda strategis Kementerian Agama dalam membangun kesadaran keagamaan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan hidup. Program ini menempatkan nilai-nilai agama sebagai landasan moral dan spiritual dalam menjaga keseimbangan alam, memperkuat ketahanan lingkungan, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya mitigasi bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pasca bencana alam yang terjadi di Kota Padang Panjang dan wilayah sekitarnya, muncul kebutuhan mendesak untuk melakukan evaluasi awal terhadap kondisi sosial, keagamaan, kelembagaan, dan lingkungan sebagai dasar implementasi program Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama. Evaluasi ini bertujuan agar pelaksanaan program tidak bersifat seremonial, tetapi berbasis kebutuhan nyata masyarakat serta mampu memberikan dampak yang berkelanjutan.

II. Tujuan Evaluasi

  1. Mengidentifikasi kondisi sosial dan lingkungan pasca bencana di Kota Padang Panjang.

  2. Menilai tingkat kesiapan masyarakat dan kelembagaan dalam mendukung program Ekoteologi.

  3. Mengidentifikasi hambatan dan peluang implementasi Gerakan Menanam Pohon.

  4. Menyusun rekomendasi strategis sebagai dasar pelaksanaan program penyuluhan agama berbasis ekoteologi.

III. Metode Evaluasi

Evaluasi awal dilakukan melalui:

  • Observasi lapangan pada beberapa wilayah terdampak.

  • Wawancara dengan tokoh agama, penyuluh agama, aparat kelurahan, pengurus masjid, dan masyarakat.

  • Diskusi kelompok (FGD) terbatas dengan penyuluh agama dan pemangku kepentingan.

  • Telaah dokumen terkait kebencanaan, penghijauan, dan program keagamaan di wilayah Kota Padang Panjang.

IV. Hasil Evaluasi Awal

A. Kondisi Lingkungan Pasca Bencana

  1. Terdapat kawasan yang mengalami kerusakan vegetasi dan berkurangnya tutupan hijau.

  2. Beberapa daerah rawan longsor dan aliran air memerlukan penguatan vegetasi penahan.

  3. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan meningkat setelah mengalami dampak bencana.

  4. Belum tersedia peta prioritas penghijauan yang terintegrasi antara instansi terkait.

B. Kondisi Sosial Keagamaan

  1. Masyarakat memiliki modal sosial dan religiusitas yang kuat.

  2. Masjid, musala, majelis taklim, dan kelompok keagamaan aktif menjadi pusat aktivitas masyarakat.

  3. Tokoh agama memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk perilaku masyarakat.

  4. Materi ceramah dan penyuluhan masih didominasi tema ibadah ritual, sedangkan isu lingkungan belum menjadi tema utama.

C. Kondisi Kelembagaan

  1. KUA, penyuluh agama, madrasah, sekolah dan organisasi keagamaan memiliki jaringan yang luas hingga tingkat akar rumput.

  2. Program penghijauan telah dilakukan oleh beberapa pihak, namun berjalan sendiri-sendiri.

  3. Belum terdapat mekanisme koordinasi rutin antara Kementerian Agama, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, sekolah, dan komunitas masyarakat.

  4. Belum tersedia modul penyuluhan ekoteologi yang digunakan secara seragam oleh penyuluh agama.

D. Tingkat Kesiapan Masyarakat

Evaluasi menunjukkan bahwa masyarakat berada pada kategori cukup siap, dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Bersedia berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon.

  • Memiliki kepedulian terhadap pencegahan bencana.

  • Membutuhkan pendampingan teknis mengenai jenis tanaman, lokasi penanaman, dan perawatan.

  • Memerlukan penguatan motivasi keagamaan agar kegiatan penghijauan dipandang sebagai bagian dari ibadah dan sedekah jariyah.

V. Analisis Permasalahan

Berdasarkan hasil evaluasi, ditemukan beberapa akar masalah utama.

1. Edukasi Ekoteologi Masih Lemah

Pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara ajaran Islam dan pelestarian lingkungan masih terbatas. Nilai-nilai seperti amanah menjaga bumi, larangan berbuat kerusakan (fasad), serta konsep khalifah fil ardh belum terintegrasi secara sistematis dalam kegiatan penyuluhan.

2. Program Belum Terintegrasi

Kegiatan penghijauan yang dilakukan berbagai instansi belum memiliki tujuan, sasaran, indikator, dan mekanisme pelaporan yang sama, sehingga dampaknya belum optimal.

3. Pendampingan Pasca Penanaman Minim

Fokus kegiatan masih pada penanaman bibit, sedangkan aspek pemeliharaan, monitoring, dan keberlanjutan belum menjadi perhatian utama.

4. Belum Ada Keterlibatan Kelompok Strategis Secara Sistematis

Kelompok calon pengantin, siswa madrasah, remaja masjid, majelis taklim, dan keluarga binaan KUA belum dijadikan sasaran utama dalam gerakan penghijauan.

VI. Analisis SWOT

Strengths (Kekuatan)

  • Jaringan penyuluh agama tersebar hingga tingkat kelurahan.

  • Tingginya kepercayaan masyarakat kepada tokoh agama.

  • Dukungan kebijakan Kementerian Agama melalui program Ekoteologi.

  • Budaya gotong royong masyarakat Minangkabau yang kuat.

Weaknesses (Kelemahan)

  • Literasi lingkungan berbasis agama masih rendah.

  • Belum tersedia modul dan SOP pelaksanaan.

  • Koordinasi lintas sektor belum optimal.

  • Monitoring program belum terstruktur.

Opportunities (Peluang)

  • Momentum pasca bencana meningkatkan kepedulian masyarakat.

  • Dukungan pemerintah daerah terhadap penghijauan.

  • Potensi kolaborasi dengan penyuluh kehutanan, sekolah, BAZNAS, dan CSR.

  • Keterlibatan generasi muda melalui sekolah dan komunitas.

Threats (Ancaman)

  • Partisipasi masyarakat dapat menurun jika program bersifat seremonial.

  • Bibit yang ditanam berpotensi mati tanpa pemeliharaan.

  • Keterbatasan anggaran dan sumber daya.

  • Perubahan cuaca yang ekstrem.

VII. Rekomendasi Strategis

Berdasarkan evaluasi awal, direkomendasikan beberapa langkah berikut.

  1. Menyusun Konsep Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama sebagai pedoman bersama.

  2. Mengintegrasikan materi ekoteologi ke dalam seluruh layanan penyuluhan agama, termasuk Bimbingan Perkawinan, Majelis Taklim, Remaja Masjid, Madrasah/Sekolah, dan Penyuluhan Keluarga.

  3. Membentuk Tim Kolaborasi Ekoteologi Kota Padang Panjang yang melibatkan Kementerian Agama, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, penyuluh kehutanan, pemerintah daerah, sekolah, organisasi keagamaan, dan komunitas masyarakat.

  4. Menetapkan wilayah prioritas penghijauan berdasarkan tingkat kerawanan bencana.

  5. Mengembangkan program Satu Penyuluh – Satu Kelompok – Seratus Pohon sebagai model implementasi di tingkat akar rumput.

  6. Menyusun sistem monitoring dan evaluasi berbasis jumlah pohon hidup, tingkat partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan kelompok pemelihara.

VIII. Penutup

Hasil evaluasi awal menunjukkan bahwa Kota Padang Panjang memiliki modal sosial, religius, dan kelembagaan yang kuat untuk mengimplementasikan Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi. Tantangan utama terletak pada lemahnya integrasi program, rendahnya literasi ekoteologi, dan belum adanya mekanisme kolaborasi yang sistematis.

Dengan pendekatan penyuluhan agama yang partisipatif, kolaboratif, dan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis, Gerakan Menanam Pohon berpotensi menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan lingkungan, mengurangi risiko bencana, serta mewujudkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).


Konsep Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama

 


Konsep Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama

Implementasi Program Prioritas Menteri Agama Bidang Ekoteologi

Disusun oleh: Wahyu Salim, S.Ag.

Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Latar Belakang

Bencana alam, perubahan iklim, berkurangnya tutupan hijau, dan meningkatnya kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa persoalan ekologis bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Islam memandang manusia sebagai khalifah fil ardh (pemakmur dan penjaga bumi), sehingga menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab keagamaan.

Program prioritas Menteri Agama tentang Ekoteologi memberikan arah bahwa pelestarian lingkungan harus menjadi gerakan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama, yaitu gerakan yang mengintegrasikan dakwah, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan aksi nyata penanaman serta pemeliharaan pohon.

Landasan Teologis

Al-Qur’an

  1. Manusia sebagai khalifah di bumi

    • "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi." (QS. Al-Baqarah: 30)

  2. Larangan melakukan kerusakan (fasad)

    • "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A’raf: 56)

  3. Kerusakan akibat ulah manusia

    • "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia." (QS. Ar-Rum: 41)

  4. Anjuran memakmurkan bumi

    • "Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya." (QS. Hud: 61)

Hadis Nabi SAW

  1. Keutamaan menanam pohon sebagai sedekah jariyah

    • "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)

  2. Menanam meskipun kiamat tiba

    • "Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad)

Landasan ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan dan menanam pohon bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ibadah yang bernilai pahala berkelanjutan (sedekah jariyah).

Visi

Terwujudnya masyarakat yang religius, peduli lingkungan, dan berdaya melalui gerakan menanam dan merawat pohon sebagai implementasi ajaran Islam dan program Ekoteologi Kementerian Agama.

Misi

  1. Mengintegrasikan nilai ekoteologi dalam seluruh kegiatan penyuluhan agama.

  2. Meningkatkan literasi keagamaan tentang pelestarian lingkungan.

  3. Menggerakkan masyarakat menanam dan merawat pohon secara berkelanjutan.

  4. Membangun kolaborasi lintas sektor dalam rehabilitasi lingkungan.

  5. Menjadikan rumah ibadah, sekolah, dan keluarga sebagai pusat gerakan penghijauan.

Tujuan

  • Menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah amanah keagamaan.

  • Mengurangi perilaku yang merusak lingkungan (fasad).

  • Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam penghijauan.

  • Mendukung mitigasi bencana, konservasi air, dan ketahanan lingkungan.

  • Membangun budaya sedekah jariyah melalui penanaman pohon.

Sasaran Program

  1. Calon pengantin (Bimbingan Perkawinan)

  2. Keluarga binaan KUA

  3. Majelis taklim

  4. Remaja masjid

  5. Santri dan siswa madrasah/sekolah

  6. ASN Kementerian Agama

  7. Komunitas keagamaan dan masyarakat umum

  8. Kelompok tani dan masyarakat di daerah rawan bencana

Strategi Implementasi

1. Integrasi dalam Penyuluhan Agama

Setiap penyuluh agama memasukkan materi ekoteologi dalam:

  • Ceramah dan khutbah

  • Majelis taklim

  • Bimbingan perkawinan

  • Penyuluhan keluarga

  • Pembinaan remaja

  • Penyuluhan zakat, wakaf, dan pemberdayaan ekonomi

2. Gerakan Satu Penyuluh – Satu Kelompok – Seratus Pohon

Setiap penyuluh membina minimal satu kelompok masyarakat untuk:

  • Menanam pohon produktif atau konservasi

  • Menetapkan lokasi tanam

  • Menyusun jadwal perawatan

  • Melakukan pelaporan perkembangan

3. Integrasi dengan Bimbingan Calon Pengantin

Setiap pasangan calon pengantin:

  • Menerima materi Ekoteologi dalam Keluarga Sakinah

  • Menanam minimal satu pohon sebagai simbol komitmen membangun keluarga yang membawa maslahat

  • Mendapat kartu pemantauan pohon selama satu tahun pertama pernikahan

4. Rumah Ibadah Hijau

Masjid, musala, madrasah, dan pesantren menjadi:

  • Pusat edukasi lingkungan

  • Lokasi pembibitan sederhana

  • Tempat penghijauan dan konservasi air

  • Sentra gerakan sedekah pohon

Kolaborasi Lintas Sektor

Program dilaksanakan melalui kemitraan dengan:

  • KUA

  • Kantor Kementerian Agama

  • Dinas Lingkungan Hidup

  • Dinas Kehutanan

  • Penyuluh Kehutanan

  • Pemerintah Kelurahan/Nagari

  • BAZNAS

  • Sekolah dan Madrasah

  • Organisasi keagamaan

  • Komunitas pemuda

  • Dunia usaha (CSR)

Tahapan Pelaksanaan

Tahap 1 – Persiapan

  • Pemetaan lokasi prioritas

  • Identifikasi kelompok sasaran

  • Penyusunan modul penyuluhan

  • Pengadaan bibit

Tahap 2 – Edukasi

  • Penyuluhan ekoteologi

  • Pelatihan teknik penanaman

  • Kampanye media sosial

  • Khutbah dan ceramah bertema lingkungan

Tahap 3 – Aksi Penanaman

  • Penanaman serentak

  • Penanaman bertahap oleh kelompok binaan

  • Penandaan pohon dan pendataan

Tahap 4 – Pemeliharaan

  • Penyiraman

  • Pemupukan

  • Penggantian bibit mati

  • Pendampingan kelompok

Tahap 5 – Monitoring dan Evaluasi

  • Monitoring bulanan

  • Evaluasi triwulanan

  • Dokumentasi digital

  • Penghargaan bagi kelompok terbaik

Indikator Keberhasilan

Output

  • Jumlah penyuluhan ekoteologi

  • Jumlah bibit yang ditanam

  • Jumlah calon pengantin yang berpartisipasi

  • Jumlah rumah ibadah dan sekolah yang terlibat

Outcome

  • Meningkatnya literasi ekoteologi masyarakat

  • Meningkatnya partisipasi penghijauan

  • Tingkat hidup pohon minimal 80%

  • Terbentuknya kelompok pemelihara pohon

  • Berkurangnya praktik yang merusak lingkungan

Dampak

  • Meningkatnya tutupan hijau di wilayah binaan

  • Penguatan mitigasi bencana berbasis masyarakat

  • Tumbuhnya budaya sedekah jariyah melalui penanaman pohon

  • Terbangunnya kesadaran bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari ibadah

Penutup

Gerakan Menanam Pohon Berbasis Penyuluhan Agama merupakan implementasi nyata dari konsep Ekoteologi Kementerian Agama, yang menghubungkan ajaran Islam dengan tanggung jawab ekologis. Melalui integrasi dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor, gerakan ini diharapkan menjadi gerakan akar rumput yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan lingkungan, mengurangi risiko bencana, serta menghadirkan amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi manusia dan alam.

Wallahu A'lam

SERI MADRASAH KELUARGA SAKINAH: ADAB HUBUNGAN INTIM SUAMI ISTRI

 


SERI MADRASAH KELUARGA SAKINAH: ADAB HUBUNGAN INTIM SUAMI ISTRI

Membangun Cinta, Menjaga Kehormatan, dan Meraih Keberkahan Rumah Tangga

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Ketua IPARI Kota Padang Panjang

Banyak pasangan memasuki pernikahan dengan penuh harapan. Mereka mempersiapkan gedung, pakaian, undangan, foto prewedding, bahkan daftar tamu dengan sangat rinci. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: belajar adab berumah tangga, termasuk adab hubungan intim suami istri.

Padahal, hubungan intim dalam Islam bukan sekadar kebutuhan biologis. Ia adalah bahasa kasih sayang, jembatan komunikasi, dan ibadah yang dapat menjadi sumber ketenangan, kedekatan, serta keberkahan dalam rumah tangga. Islam memandang hubungan tersebut sebagai bagian dari ikatan suci pernikahan yang harus dijaga dengan adab, kelembutan, saling menghormati, dan tanggung jawab.

Pernikahan Bukan Hanya Tentang Cinta, Tetapi Juga Tentang Adab

Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan padanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengajarkan bahwa tujuan pernikahan bukan semata-mata kebersamaan, melainkan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Ketiga hal itu tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia dirawat melalui komunikasi, perhatian, pengorbanan, dan adab dalam setiap aspek kehidupan rumah tangga.

Salah satu bentuk perhatian yang sering diabaikan adalah bagaimana suami dan istri memperlakukan satu sama lain dalam hubungan yang paling pribadi sekalipun.

Hubungan Intim Adalah Ibadah

Dalam ajaran Islam, sesuatu yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah, dengan niat yang baik dan cara yang benar, dapat bernilai ibadah. Rasulullah SAW bahkan menjelaskan bahwa pemenuhan hak pasangan secara halal mengandung pahala.

Ini berarti, hubungan intim bukanlah sesuatu yang kotor atau memalukan. Yang harus dijaga adalah cara, adab, niat, dan penghormatannya. Ketika suami dan istri saling membahagiakan karena Allah, menjaga kehormatan satu sama lain, serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, maka hubungan tersebut menjadi bagian dari ketaatan kepada-Nya.

Adab Dimulai Sebelum Berhubungan

Islam mengajarkan bahwa setiap amal dimulai dengan niat. Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga. Sebelum hubungan intim, pasangan dianjurkan untuk menciptakan suasana yang tenang, bersih, dan penuh kasih sayang.

Kebersihan tubuh, pakaian, dan lingkungan merupakan bagian dari adab. Demikian pula menjaga privasi pasangan dan tidak menjadikan hubungan suami istri sebagai bahan candaan atau cerita kepada orang lain.

Rasulullah SAW mengajarkan doa sebelum berhubungan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi pengingat bahwa rumah tangga adalah ruang yang dijaga oleh nilai-nilai keimanan.

Kelembutan Adalah Kunci

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap hubungan intim hanya sebagai pemenuhan kebutuhan salah satu pihak. Padahal Islam menekankan saling ridha, saling menghormati, dan saling memperhatikan.

Kelembutan, perhatian, komunikasi, dan empati jauh lebih penting daripada sekadar rutinitas. Pasangan yang saling mendengar, saling memahami kondisi fisik dan emosional, serta tidak memaksakan kehendak akan lebih mudah membangun kedekatan batin.

Dalam banyak persoalan rumah tangga, yang dirindukan bukan hanya kehadiran fisik, tetapi perasaan dihargai.

Jangan Membuka Rahasia Pasangan

Adab yang sangat ditekankan dalam Islam adalah menjaga rahasia hubungan suami istri. Apa yang terjadi dalam ruang privat pernikahan adalah amanah. Menceritakan detail hubungan intim kepada teman, media sosial, atau orang lain termasuk perbuatan yang tercela.

Rumah tangga yang kuat dibangun oleh kepercayaan. Ketika pasangan merasa aman secara emosional, ia akan lebih mudah mencintai, terbuka, dan bertumbuh bersama.

Setelah Berhubungan, Tetaplah Menjadi Pasangan yang Penuh Kasih

Adab tidak berhenti ketika hubungan selesai. Islam mengajarkan untuk tetap menunjukkan perhatian, penghargaan, dan kasih sayang kepada pasangan. Membersihkan diri, berwudu atau mandi wajib ketika diperlukan, serta mengucapkan syukur kepada Allah merupakan bagian dari kesempurnaan adab.

Banyak pasangan yang sebenarnya tidak kekurangan cinta, tetapi kekurangan perhatian setelah rutinitas. Padahal, kata-kata sederhana seperti “terima kasih”, “semoga Allah memberkahi kita”, atau sekadar saling mendoakan dapat memperkuat ikatan yang tidak terlihat oleh mata.

Yang Harus Dihindari

Islam melarang segala bentuk perlakuan yang merendahkan martabat pasangan. Memaksa, menyakiti, mempermalukan, membuka aib, atau mengabaikan hak pasangan bertentangan dengan semangat rahmah yang menjadi fondasi pernikahan.

Hubungan yang diberkahi adalah hubungan yang menghadirkan ketenangan, bukan ketakutan; penghormatan, bukan paksaan; cinta, bukan dominasi.

Untuk Calon Pengantin: Belajarlah Sebelum Menjalani

Bagi calon pengantin, jangan hanya mempersiapkan pesta pernikahan. Persiapkan juga ilmu pernikahan. Belajar tentang komunikasi, pengelolaan emosi, hak dan kewajiban suami istri, pengasuhan anak, dan adab hubungan intim akan menjadi bekal yang jauh lebih berharga daripada dekorasi yang mewah.

Pernikahan bukan perlombaan siapa yang paling sempurna, tetapi perjalanan dua orang yang terus belajar menjadi lebih baik.

Untuk Suami Istri: Rawatlah, Jangan Biarkan Layu

Cinta yang tidak dirawat akan layu. Rumah tangga yang tidak dipelihara akan dipenuhi kesalahpahaman. Karena itu, luangkan waktu untuk saling berbicara, saling mendengar, saling memaafkan, dan saling membahagiakan.

Jangan menunggu masalah besar untuk mulai memperbaiki hubungan. Sering kali, rumah tangga menjadi kuat karena hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten: menyapa dengan lembut, mendoakan pasangan, membantu pekerjaan rumah, menjaga kebersihan, menghormati privasi, dan memenuhi hak pasangan dengan penuh kasih.

Menutup dengan Harapan

Madrasah Keluarga Sakinah mengajarkan bahwa keluarga adalah tempat pertama lahirnya generasi yang beriman, berakhlak, dan berbahagia. Hubungan intim suami istri adalah salah satu unsur penting dalam bangunan itu. Ketika dijalankan dengan adab, ia menjadi sumber ketenangan. Ketika dilandasi kasih sayang, ia menjadi penguat ikatan. Ketika diniatkan karena Allah, ia menjadi ibadah yang berpahala.

Semoga setiap pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan maupun yang telah lama menjalani rumah tangga senantiasa diberi kemampuan untuk saling mencintai dengan cara yang benar, saling menghormati dengan adab yang indah, dan bersama-sama menapaki jalan menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rabu, 29 Juli 2026

Saat Ekonomi, Sosial, dan Gaya Hidup Tidak Baik-Baik Saja: Mengapa Kita Perlu Memperbanyak Doa?

 


Saat Ekonomi, Sosial, dan Gaya Hidup Tidak Baik-Baik Saja: Mengapa Kita Perlu Memperbanyak Doa?

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Ketua IPARI Kota Padang Panjang

Beberapa tahun terakhir, banyak orang merasa hidup berjalan lebih berat daripada sebelumnya. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan meningkat, pekerjaan tidak selalu pasti, usaha kecil menghadapi tantangan yang semakin kompleks, sementara media sosial terus memamerkan gaya hidup yang tampak serba berkecukupan. Di tengah kondisi seperti ini, tidak sedikit yang mengaku sering cemas, mudah marah, sulit tidur, dan merasa tertinggal dari orang lain.

Kita hidup pada zaman ketika ekonomi tidak selalu baik-baik saja, hubungan sosial sering renggang, dan gaya hidup justru mendorong manusia untuk terus merasa kurang. Orang bekerja lebih keras, tetapi belum tentu merasa lebih tenang. Teknologi semakin canggih, tetapi hati banyak orang justru semakin lelah. Rumah semakin bagus, tetapi percakapan di dalam keluarga semakin sedikit. Kita memiliki lebih banyak sarana, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak kebahagiaan.

Dalam situasi seperti inilah, sebuah doa yang sering diajarkan para ulama menjadi sangat relevan:

“Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami kepada kebaikan, jauhkanlah kami dari keburukan, penuhilah kebutuhan-kebutuhan kami dalam persoalan agama, di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Doa ini bukan sekadar permohonan agar umur menjadi panjang. Ia adalah peta kehidupan yang utuh, yang mengajarkan bahwa manusia membutuhkan lebih dari sekadar uang. Kita membutuhkan kesehatan, kejernihan hati, keteguhan iman, amal yang baik, rezeki yang berkah, lingkungan yang baik, serta pertolongan Allah dalam seluruh urusan kehidupan.

Ketika ekonomi menekan, jangan biarkan hati ikut miskin

Banyak keluarga hari ini harus menghitung pengeluaran dengan sangat cermat. Sebagian orang tua menunda keinginan pribadi demi pendidikan anak. Pedagang menghadapi penurunan daya beli. Petani dan nelayan bergantung pada cuaca dan harga pasar. Pegawai menghadapi tuntutan kerja yang semakin tinggi.

Ekonomi yang sulit memang nyata. Islam tidak mengajarkan kita untuk menutup mata terhadap kenyataan. Nabi Muhammad SAW sendiri berdoa agar dijauhkan dari kefakiran. Namun Islam juga mengingatkan bahwa kemiskinan yang paling berbahaya adalah kemiskinan hati—ketika seseorang kehilangan harapan, kehilangan rasa syukur, dan kehilangan keyakinan bahwa Allah masih membuka pintu-pintu pertolongan.

Karena itu, doa “luaskanlah rezeki kami” bukan hanya tentang bertambahnya nominal penghasilan, tetapi juga tentang rezeki yang berkah, cukup, menenangkan, dan membawa kebaikan bagi keluarga. Banyak orang berpenghasilan besar tetapi hidupnya penuh pertengkaran. Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang rumahnya dipenuhi kasih sayang, saling membantu, dan selalu bersyukur. Di situlah letak keberkahan.

Gaya hidup yang membuat manusia selalu merasa kurang

Salah satu tantangan terbesar zaman sekarang adalah budaya membandingkan diri. Media sosial menghadirkan kehidupan orang lain dalam bentuk yang sudah dipilih dan dipoles. Kita melihat liburan mereka, kendaraan mereka, rumah mereka, pencapaian mereka, tetapi tidak melihat perjuangan, utang, kegagalan, atau air mata mereka.

Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya tidak cukup. Padahal sebelumnya ia baik-baik saja.

Islam mengajarkan qana’ah, yaitu sikap merasa cukup terhadap apa yang Allah karuniakan, tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Qana’ah bukan berarti pasrah tanpa kerja keras, melainkan kemampuan menjaga hati agar tidak menjadi budak keinginan yang tidak ada habisnya.

Doa “terangilah hati kami” menjadi sangat penting di era ini. Sebab yang sering gelap bukanlah keadaan, melainkan cara kita memandang keadaan. Hati yang terang mampu melihat nikmat di balik kesederhanaan, peluang di balik kesulitan, dan hikmah di balik ujian.

Hubungan sosial yang semakin rapuh

Kita juga menyaksikan gejala lain: keluarga yang tinggal serumah tetapi jarang berbicara, tetangga yang tidak saling mengenal, perbedaan pendapat yang berubah menjadi permusuhan, dan masyarakat yang mudah terpecah oleh isu-isu yang belum tentu benar.

Padahal manusia tidak bisa hidup sendirian.

Doa “dekatkanlah kami kepada kebaikan dan jauhkanlah kami dari keburukan” mengandung makna sosial yang sangat dalam. Kebaikan sering datang melalui orang-orang baik. Rezeki sering datang melalui jaringan silaturahmi. Pertolongan sering datang melalui tangan sesama. Karena itu, menjaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, teman kerja, dan masyarakat adalah bagian dari ikhtiar memperluas pintu-pintu kebaikan.

Di tengah perbedaan pilihan, mazhab, organisasi, maupun pandangan politik, kita perlu kembali menghidupkan adab, musyawarah, saling menghormati, dan semangat ukhuwah. Kerukunan bukan berarti semua harus sama, tetapi semua bersedia menjaga persaudaraan.

Panjang umur yang bernilai

Banyak orang ingin berumur panjang. Namun Islam mengajarkan bahwa umur yang terbaik adalah umur yang panjang dan dipenuhi amal saleh. Karena itu doa ini tidak berhenti pada permohonan umur panjang, tetapi dilanjutkan dengan “baikkanlah amalan kami.”

Apa artinya?

Artinya, setiap tambahan usia seharusnya menjadi tambahan manfaat. Semakin tua, semakin bijaksana. Semakin lama hidup, semakin banyak orang yang merasakan kebaikan dari keberadaan kita. Menjadi orang tua yang menenangkan, tetangga yang membantu, pedagang yang jujur, pegawai yang amanah, penyuluh yang mencerahkan, guru yang menginspirasi, atau pemimpin yang melayani—itulah bentuk umur yang diberkahi.

Iman sebagai jangkar di tengah badai

Kondisi ekonomi bisa berubah. Pasar bisa naik turun. Jabatan bisa datang dan pergi. Kesehatan bisa membaik lalu menurun. Anak-anak akan tumbuh dewasa. Orang tua akan menua. Dunia memang tidak pernah benar-benar stabil.

Karena itu, doa “tetapkanlah iman kami” adalah permohonan agar kita memiliki jangkar yang tidak mudah tercerabut oleh badai kehidupan. Iman bukan hanya urusan ibadah ritual, tetapi juga sumber ketenangan, kejujuran, kesabaran, dan optimisme.

Orang yang memiliki iman yang kokoh tetap berusaha ketika keadaan sulit, tetap bersyukur ketika mendapat nikmat, tetap rendah hati ketika berhasil, dan tetap berharap ketika pintu-pintu dunia tampak tertutup.

Kembali kepada yang sederhana

Mungkin kita tidak bisa mengendalikan harga pasar. Mungkin kita tidak bisa mengubah kondisi global. Mungkin kita tidak bisa menghentikan semua tekanan hidup. Namun kita masih bisa melakukan hal-hal sederhana yang sering terlupakan: shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, berdoa bersama keluarga, memperbaiki silaturahmi, hidup lebih hemat, membantu tetangga, bersedekah meskipun sedikit, dan mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Kebahagiaan sering tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari keberkahan. Dan keberkahan tumbuh ketika hati dekat kepada Allah.

Maka, di saat ekonomi terasa sempit, hubungan sosial terasa renggang, dan gaya hidup semakin melelahkan, jangan biarkan doa menjadi hal terakhir yang kita lakukan. Jadikan doa sebagai kekuatan pertama yang menggerakkan usaha, memperbaiki akhlak, menguatkan keluarga, dan menenangkan jiwa.

Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam kebaikan, menyehatkan jasad kita, menerangi hati kita, meneguhkan iman kita, memperbaiki amal kita, meluaskan rezeki kita, mendekatkan kita kepada segala kebaikan, menjauhkan kita dari segala keburukan, serta memenuhi kebutuhan kita dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

PBM sebagai Acuan Bersama: Merawat Kerukunan, Menguatkan Kebangsaan

 


PBM sebagai Acuan Bersama: Merawat Kerukunan, Menguatkan Kebangsaan

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Koordinator Bidang Penyuluhan FKUB Kota Padang Panjang

Indonesia lahir dari keberagaman. Lebih dari 17 ribu pulau, ratusan suku, bahasa daerah, serta enam agama yang diakui negara menjadi mozaik indah yang tidak dimiliki banyak bangsa di dunia. Keberagaman ini bukan sekadar fakta sosial, tetapi merupakan kekuatan nasional yang harus terus dijaga. Salah satu pilar utama dalam merawat keberagaman tersebut adalah terciptanya kerukunan umat beragama.

Kerukunan tidak hadir dengan sendirinya. Ia tumbuh melalui kesadaran, dialog, saling menghormati, serta kepatuhan terhadap aturan yang disepakati bersama. Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia, salah satu regulasi penting yang menjadi pedoman bersama adalah Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 (PBM 2006) tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Pendirian Rumah Ibadat.

PBM ini sering kali hanya dipahami sebagai aturan mengenai pendirian rumah ibadah. Padahal, substansinya jauh lebih luas. Regulasi ini merupakan instrumen untuk menjaga harmoni sosial, memperkuat komunikasi antarpemeluk agama, serta memberikan kepastian hukum agar hak beribadah setiap warga negara dapat terlindungi tanpa mengabaikan ketenteraman masyarakat.

Kerukunan Adalah Tanggung Jawab Bersama

Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Namun, kebebasan tersebut juga berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial untuk menghormati hak orang lain.

Di sinilah PBM hadir sebagai titik temu antara hak individu, kepentingan masyarakat, dan tanggung jawab pemerintah. Regulasi ini bukan alat untuk membatasi kebebasan beragama, melainkan mekanisme agar pelaksanaan hak tersebut berlangsung secara tertib, adil, dan harmonis.

Kerukunan akan tumbuh apabila seluruh pihak memahami bahwa kehidupan bersama memerlukan aturan bersama. Sebagaimana lalu lintas membutuhkan rambu-rambu agar semua pengguna jalan selamat, kehidupan beragama juga memerlukan pedoman agar seluruh warga dapat hidup berdampingan secara damai.

Mengapa PBM Penting?

PBM memberikan kejelasan mengenai peran pemerintah daerah, Kementerian Agama, FKUB, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga hubungan antarumat beragama. Dengan adanya pedoman yang sama, potensi kesalahpahaman dapat diminimalkan.

Dalam hal pendirian rumah ibadah, misalnya, PBM mengatur bahwa selain memenuhi persyaratan administrasi dan teknis bangunan, juga diperlukan persyaratan khusus berupa:

  • daftar pengguna rumah ibadah;

  • dukungan masyarakat setempat;

  • rekomendasi dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota; dan

  • rekomendasi dari FKUB.

Keempat unsur tersebut bukan dimaksudkan untuk mempersulit, tetapi menjadi ruang dialog, komunikasi, dan musyawarah sehingga keberadaan rumah ibadah benar-benar menjadi sarana ibadah yang menghadirkan kedamaian bagi semua.

Bahkan, PBM juga memberikan solusi apabila syarat dukungan masyarakat belum terpenuhi, sementara jumlah pengguna telah memenuhi ketentuan. Dalam kondisi demikian, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadah. Ketentuan ini menunjukkan bahwa negara tetap hadir melindungi hak warga negara sekaligus menjaga harmoni sosial.

Dialog Lebih Baik daripada Konflik

Banyak persoalan keagamaan yang sebenarnya bukan disebabkan oleh perbedaan agama, melainkan oleh kurangnya komunikasi. Informasi yang tidak utuh, prasangka, dan minimnya dialog sering kali memicu kesalahpahaman.

PBM mengedepankan pendekatan musyawarah. Sebelum persoalan berkembang menjadi konflik, semua pihak diajak duduk bersama mencari solusi. Inilah semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menjadi salah satu ruang strategis untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Di dalam forum inilah aspirasi disampaikan, persoalan dibahas secara terbuka, dan solusi dicari dengan mengedepankan kepentingan bersama.

Kerukunan sejatinya bukan berarti menghilangkan perbedaan. Kerukunan adalah kemampuan hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.

Implementasi PBM di Tengah Masyarakat

Pelaksanaan PBM akan berjalan baik apabila dipahami secara utuh oleh seluruh elemen masyarakat. Oleh sebab itu, sosialisasi regulasi menjadi sangat penting. Penyuluh agama, tokoh agama, pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat, hingga media memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pemahaman yang benar.

Masyarakat perlu mengetahui bahwa setiap prosedur dalam PBM memiliki tujuan mulia, yaitu:

  • menjaga ketertiban sosial;

  • melindungi hak seluruh warga negara;

  • mencegah munculnya konflik;

  • memperkuat komunikasi lintas agama; dan

  • memperkokoh persatuan bangsa.

Dengan pemahaman tersebut, PBM tidak lagi dipandang sebagai aturan yang rumit, melainkan sebagai pedoman hidup bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Merawat Kebangsaan Melalui Kerukunan

Bangsa Indonesia dibangun di atas semangat persatuan. Para pendiri bangsa telah memberikan warisan besar berupa Pancasila sebagai titik temu seluruh elemen bangsa.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan moral bahwa kehidupan beragama harus melahirkan akhlak mulia, penghormatan terhadap sesama, dan semangat persaudaraan. Nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai regulasi, termasuk PBM Tahun 2006.

Ketika kerukunan terjaga, pembangunan dapat berjalan dengan baik. Investasi meningkat, pendidikan berkembang, kegiatan ekonomi tumbuh, dan masyarakat hidup dalam suasana aman. Sebaliknya, konflik atas nama apa pun akan menguras energi bangsa, merusak persaudaraan, dan menghambat kemajuan.

Oleh karena itu, menjaga kerukunan sejatinya juga merupakan bentuk cinta tanah air. Merawat kedamaian adalah bagian dari mengisi kemerdekaan.

Peran Penyuluh Agama

Penyuluh agama memiliki posisi strategis sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Melalui penyuluhan, dialog, mediasi, edukasi, dan pendampingan, penyuluh berperan menghadirkan pemahaman yang benar terhadap regulasi serta menumbuhkan budaya saling menghargai.

Penyuluh tidak hanya menyampaikan norma agama, tetapi juga menguatkan nilai kebangsaan, moderasi beragama, dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Dengan demikian, masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan atau narasi yang memecah belah.

Menjadikan PBM sebagai Komitmen Bersama

PBM Tahun 2006 hendaknya tidak dipahami sebagai milik pemerintah semata. Regulasi ini adalah komitmen bersama seluruh komponen bangsa untuk menjaga kehidupan beragama yang damai, tertib, dan saling menghormati.

Ketika masyarakat memahami substansi PBM secara benar, dialog akan lebih diutamakan daripada prasangka, musyawarah akan lebih dipilih daripada konflik, dan persaudaraan akan selalu didahulukan daripada perpecahan.

Pada akhirnya, kerukunan bukan sekadar slogan. Ia adalah ikhtiar kolektif yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menaati aturan bersama, dan menjaga ruang kehidupan yang aman bagi seluruh warga negara.

Sebagaimana pepatah Minangkabau mengajarkan, "Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat." Persoalan akan menemukan jalan keluar ketika diselesaikan melalui musyawarah dan kesepakatan bersama.

Mari jadikan PBM Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 sebagai pedoman bersama dalam membangun kehidupan beragama yang damai, memperkuat kerukunan, serta merawat persatuan Indonesia. Sebab, kerukunan adalah fondasi kedamaian, dan kedamaian adalah modal utama menuju Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat.

Selasa, 28 Juli 2026

Halaqah Al-Qur'an di Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Sentuh Hati Warga Binaan Melalui Pendekatan Kelompok Kecil

 


Halaqah Al-Qur'an di Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Sentuh Hati Warga Binaan Melalui Pendekatan Kelompok Kecil

Padang Panjang, Selasa, 28 Juli 2028 – Suasana religius dan penuh kekeluargaan tampak menyelimuti Masjid Rutan Kelas IIB Padang Panjang pada Selasa (28/7/2028). Puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti Halaqah Al-Qur'an dan Bimbingan Penyuluhan Agama Islam yang dilaksanakan secara lebih intensif dengan metode kelompok-kelompok kecil. Pendekatan ini memberikan ruang dialog, pembinaan personal, pendalaman bacaan Al-Qur'an, serta penguatan nilai-nilai keislaman yang lebih efektif dibandingkan metode ceramah satu arah.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Rutan Kelas IIB Padang Panjang dengan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Padang Panjang, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat pembinaan kerohanian bagi warga binaan.

Ketua IPARI Kota Padang Panjang sekaligus Koordinator Kegiatan, Wahyu Salim, S.Ag., Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur, menjelaskan bahwa halaqah dipilih sebagai model pembinaan karena mampu menghadirkan interaksi yang lebih hangat, komunikatif, dan menyentuh kebutuhan spiritual setiap peserta.

"Al-Qur'an tidak hanya dibaca, tetapi dipahami, dihayati, dan diamalkan. Melalui halaqah, warga binaan memiliki kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, memperbaiki bacaan, sekaligus membangun semangat hijrah menuju pribadi yang lebih baik. Inilah esensi penyuluhan agama yang membimbing, mendampingi, dan memberdayakan," ungkap Wahyu Salim.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah:

  • meningkatkan keimanan dan ketakwaan warga binaan melalui interaksi langsung dengan Al-Qur'an;

  • membangun akhlak mulia dan karakter yang bertanggung jawab;

  • memberikan ketenangan batin serta harapan baru selama menjalani masa pembinaan;

  • mempersiapkan warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih religius, produktif, dan bermanfaat.

Selain pembinaan membaca Al-Qur'an, para penyuluh juga memberikan motivasi keagamaan, penguatan nilai-nilai moral, serta ruang konsultasi sehingga peserta dapat menyampaikan persoalan yang mereka hadapi secara lebih terbuka.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Rutan Kelas IIB Padang Panjang melalui Penanggung Jawab Pembinaan Kerohanian, Rino, S.H., menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh Penyuluh Agama Islam yang secara konsisten hadir memberikan pembinaan kepada warga binaan.

Menurut Rino, pola pembinaan melalui halaqah terbukti mampu membangun kedekatan emosional antara penyuluh dan warga binaan sehingga proses pembinaan menjadi lebih hidup, komunikatif, dan menyentuh aspek spiritual secara mendalam.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada IPARI Kota Padang Panjang beserta seluruh Penyuluh Agama Islam yang telah mendampingi warga binaan dengan penuh keikhlasan. Pembinaan kerohanian seperti ini merupakan bagian penting dari proses pemasyarakatan karena perubahan perilaku yang berkelanjutan berawal dari perubahan hati," ujarnya.

Ia berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus diperkuat sehingga program pembinaan keagamaan di Rutan Kelas IIB Padang Panjang semakin berkualitas dan memberikan dampak nyata bagi proses rehabilitasi mental dan spiritual warga binaan.

Keutamaan tilawah Al-Qur'an juga menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut. Penyuluh mengingatkan bahwa setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca bernilai pahala, menjadi cahaya bagi kehidupan, penenteram hati, sekaligus petunjuk menuju jalan yang lurus. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya. Pesan ini diharapkan menjadi motivasi bagi warga binaan untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur'an, baik selama berada di dalam rutan maupun setelah kembali ke masyarakat.

Yang menarik, seluruh penyuluh tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga duduk melingkar bersama peserta dalam kelompok-kelompok kecil. Suasana yang akrab membuat warga binaan lebih leluasa membaca Al-Qur'an, mengulang hafalan, berdiskusi mengenai kandungan ayat, hingga berkonsultasi mengenai persoalan ibadah dan kehidupan sehari-hari. Pendekatan partisipatif ini menjadikan proses pembelajaran lebih intensif, humanis, dan menyenangkan.

Melalui kegiatan tersebut, Rutan Kelas IIB Padang Panjang bersama IPARI Kota Padang Panjang menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan bukan sekadar program rutin, melainkan ikhtiar membangun harapan dan masa depan. Dengan hati yang dekat kepada Al-Qur'an, diharapkan setiap warga binaan mampu memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, berakhlak mulia, dan siap memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan, bangsa, dan agama. UWaS