Jumat, 21 Agustus 2026

KETIKA BADAI ITU DATANG? Madrasah Keluarga Sakinah Mengajarkan Kita Bahwa Rumah Tangga Bukan Tempat Tanpa Masalah

 


KETIKA BADAI ITU DATANG?

Madrasah Keluarga Sakinah Mengajarkan Kita Bahwa Rumah Tangga Bukan Tempat Tanpa Masalah

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
KUA Padang Panjang Timur

Ada keluarga yang terlihat begitu bahagia dari luar. Foto bersama selalu tersenyum. Suami dan istri tampak mesra. Anak-anak tumbuh dengan baik. Rumahnya rapi, kehidupannya berkecukupan. Tetapi kita tidak pernah tahu, badai apa yang sedang mereka tahan di dalam rumah.

Sebab, rumah tangga bukanlah laut yang selalu tenang.

Ada kalanya matahari bersinar terang. Ada kalanya angin sepoi-sepoi membuat perjalanan terasa menyenangkan. Tetapi suatu waktu, awan gelap datang. Angin bertiup kencang. Gelombang meninggi. Kapal kehidupan keluarga pun berguncang.

Ketika badai itu datang, apa yang harus dilakukan?

Di sinilah pentingnya Madrasah Keluarga Sakinah.

Madrasah keluarga bukan berarti keluarga yang tidak pernah bertengkar. Bukan pula keluarga yang setiap hari penuh dengan kata-kata romantis. Keluarga sakinah adalah keluarga yang memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan dengan iman, ilmu, kesabaran, komunikasi, dan kasih sayang.

Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah tidak mengatakan bahwa pernikahan akan membuat hidup tanpa masalah. Allah berbicara tentang sakinah, mawaddah, dan rahmah—ketenteraman, cinta, dan kasih sayang.

Artinya, tujuan pernikahan bukan sekadar tinggal serumah, makan bersama, mempunyai anak, atau memenuhi kebutuhan biologis. Pernikahan adalah perjalanan panjang untuk saling menenteramkan dan saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah.

Rumah Tangga Adalah Sekolah Kehidupan

Kita sering menyebut keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak. Ungkapan ini benar. Tetapi sesungguhnya keluarga bukan hanya sekolah bagi anak.

Suami juga belajar di dalam keluarga. Istri juga belajar. Orang tua juga belajar.

Belajar menjadi pasangan yang sabar. Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mengendalikan emosi. Belajar mendengarkan. Belajar memahami perbedaan karakter. Belajar menghadapi persoalan ekonomi. Belajar mendidik anak. Bahkan belajar bahwa terkadang kita harus mengalah meskipun merasa benar.

Pernikahan mempertemukan dua manusia yang berbeda.

Berbeda kebiasaan, berbeda cara berpikir, berbeda latar belakang keluarga, bahkan berbeda cara mengekspresikan kasih sayang.

Ada suami yang merasa dirinya sudah mencintai karena bekerja keras mencari nafkah. Tetapi istrinya mungkin membutuhkan perhatian dan komunikasi.

Ada istri yang merasa sudah menunjukkan cinta dengan mengurus rumah dan anak-anak. Tetapi suaminya mungkin membutuhkan penghargaan dan kelembutan.

Keduanya bisa sama-sama mencintai, tetapi gagal membaca bahasa cinta masing-masing.

Di sinilah pendidikan keluarga diperlukan.

Keluarga tidak cukup dibangun dengan cinta. Cinta perlu ilmu.

Sebab cinta tanpa ilmu bisa melahirkan kecemburuan. Cinta tanpa komunikasi bisa melahirkan kesalahpahaman. Cinta tanpa kesabaran bisa berubah menjadi pertengkaran. Bahkan cinta tanpa iman bisa berubah menjadi keinginan untuk memiliki dan menguasai pasangan.

Ketika Badai Ekonomi Datang

Salah satu badai terbesar dalam rumah tangga adalah persoalan ekonomi.

Ketika pendapatan berkurang, kebutuhan bertambah, pekerjaan tidak menentu, cicilan datang setiap bulan, sementara anak-anak membutuhkan biaya pendidikan, rumah tangga bisa mulai kehilangan ketenangan.

Masalahnya terkadang bukan semata-mata kekurangan uang.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kesulitan ekonomi mengubah cara suami dan istri memperlakukan satu sama lain.

Suami mulai mudah marah.

Istri mulai banyak menuntut.

Anak-anak menjadi korban suasana rumah.

Pada saat seperti itu, keluarga sakinah mengajarkan satu prinsip sederhana:

Hadapi masalahnya, jangan saling memusuhi.

Kemiskinan adalah masalah. Pasangan bukan masalah.

Penghasilan yang kecil adalah masalah. Suami bukan musuh.

Pengeluaran yang besar adalah masalah. Istri bukan lawan.

Kalau keluarga mampu memisahkan antara masalah dan orang yang sedang menghadapi masalah bersama, banyak konflik sebenarnya dapat dicegah.

Ketika Komunikasi Mulai Mati

Banyak rumah tangga tidak hancur karena satu pertengkaran besar. Mereka justru perlahan-lahan kehilangan hubungan karena komunikasi yang semakin sedikit.

Awalnya hanya malas berbicara.

Kemudian lebih banyak diam.

Lalu setiap berbicara selalu berujung pertengkaran.

Akhirnya masing-masing memilih mencari tempat lain untuk mencurahkan perasaan.

Di zaman digital, persoalan ini semakin rumit. Suami duduk di ruang yang sama dengan istri, tetapi sibuk dengan telepon genggam. Istri berada di samping suami, tetapi pikirannya berada di dunia media sosial.

Rumah menjadi dekat secara fisik, tetapi jauh secara emosional.

Karena itu, keluarga sakinah membutuhkan waktu tanpa gawai.

Ada waktu untuk berbicara.

Ada waktu untuk mendengar.

Ada waktu untuk bertanya:

“Bagaimana perasaanmu hari ini?”

“Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih?”

“Apa yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan sederhana semacam itu terkadang lebih menyembuhkan daripada nasihat panjang.

Sebab dalam rumah tangga, seseorang tidak selalu membutuhkan solusi. Kadang ia hanya ingin didengar.

Ketika Ego Menjadi Badai

Badai paling berbahaya dalam rumah tangga terkadang bukan kemiskinan, bukan mertua, bukan pekerjaan, bahkan bukan persoalan anak.

Badai itu bernama ego.

“Pokoknya saya benar.”

“Dia yang harus minta maaf.”

“Saya tidak mau mengalah.”

“Kalau dia tidak berubah, saya juga tidak akan berubah.”

Kalimat-kalimat seperti ini terlihat sederhana, tetapi apabila terus dipelihara, dapat menjadi tembok yang tinggi di antara suami dan istri.

Islam mengajarkan kemuliaan akhlak, termasuk kemampuan menahan marah.

Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Maka kekuatan seorang suami bukan hanya ketika ia mampu mencari nafkah.

Kekuatan seorang istri bukan hanya ketika ia mampu mengurus rumah.

Kekuatan keduanya adalah ketika mereka mampu mengendalikan diri saat emosi sedang tinggi.

Ada kalanya kemenangan terbesar dalam rumah tangga bukan memenangkan argumentasi.

Kemenangan terbesar adalah menyelamatkan hubungan.

Anak-Anak Adalah Penumpang Kapal

Ketika kapal rumah tangga diterpa badai, anak-anak sebenarnya ikut merasakan guncangannya.

Mereka mungkin tidak memahami masalah orang tuanya. Tetapi mereka dapat merasakan suara yang meninggi, pintu yang dibanting, wajah yang murung, dan suasana rumah yang dingin.

Karena itu, jangan menjadikan anak sebagai hakim dalam konflik suami istri.

Jangan mengatakan:

“Ayahmu memang begitu.”

atau:

“Ibumu tidak pernah mengerti.”

Anak tidak seharusnya dipaksa memilih antara ayah dan ibunya.

Anak membutuhkan kedua orang tuanya untuk menjadi tempat aman.

Kalaupun terjadi konflik, orang tua perlu belajar menyelesaikannya dengan cara yang tidak merusak jiwa anak.

Sebab bisa jadi pertengkaran yang dianggap biasa oleh orang tua justru menjadi luka yang dibawa anak sampai dewasa.

Madrasah Keluarga Mengajarkan Seni Berdamai

Dalam keluarga sakinah, konflik bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Konflik adalah sesuatu yang harus dikelola.

Suami dan istri boleh berbeda pendapat. Tetapi berbeda pendapat tidak berarti berbeda tujuan.

Keduanya harus kembali kepada pertanyaan:

“Apa yang paling baik bagi keluarga kita?”

Bukan:

“Siapa yang menang?”

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat menjadi kurikulum Madrasah Keluarga Sakinah.

Pertama, biasakan meminta maaf.

Tidak perlu menunggu pasangan mengaku salah lebih dahulu.

Kedua, belajar mengucapkan terima kasih.

Jangan menganggap kebaikan pasangan sebagai sesuatu yang otomatis.

Ketiga, jangan membuka aib pasangan kepada sembarang orang.

Tidak semua masalah rumah tangga harus menjadi konsumsi keluarga besar, tetangga, apalagi media sosial.

Keempat, bangun ibadah bersama.

Shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdoa, bersedekah, dan saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan energi spiritual keluarga.

Kelima, miliki waktu khusus untuk berbicara.

Tidak harus mahal. Minum kopi bersama di teras rumah pun bisa menjadi ruang komunikasi yang sangat berharga.

Keenam, jangan mengambil keputusan besar ketika sedang marah.

Marah membuat seseorang melihat masalah secara sempit. Karena itu, ketika emosi meninggi, berhenti sejenak. Tenangkan diri. Berwudhu. Shalat. Tidur bila perlu. Kemudian bicarakan kembali setelah hati lebih tenang.

Sakinah Bukan Berarti Tidak Ada Air Mata

Kita perlu meluruskan satu kesalahpahaman.

Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak pernah menangis.

Keluarga sakinah juga bukan keluarga yang tidak pernah mengalami masalah.

Bahkan keluarga yang paling baik pun dapat mengalami ujian.

Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau menghadapi berbagai ujian kehidupan. Para sahabat juga mengalami persoalan keluarga, ekonomi, sosial, dan perjuangan.

Maka jangan merasa rumah tangga kita gagal hanya karena sedang menghadapi badai.

Badai bukan tanda kapal gagal.

Badai adalah bagian dari perjalanan.

Yang menentukan keselamatan kapal bukan apakah ia pernah diterpa badai, tetapi apakah nakhoda tahu bagaimana menghadapinya.

Begitu pula keluarga.

Yang menentukan kualitas keluarga bukan ketiadaan masalah, tetapi kemampuan keluarga menghadapi masalah dengan iman dan akhlak.

Jika Badai Terlalu Besar, Jangan Berlayar Sendirian

Ada persoalan yang dapat diselesaikan berdua.

Tetapi ada pula masalah yang membutuhkan bantuan pihak ketiga.

Ketika komunikasi sudah buntu, konflik terus berulang, terjadi kekerasan, persoalan nafkah tidak terselesaikan, atau hubungan suami istri semakin jauh, jangan malu mencari bantuan.

Konselor keluarga, BP4, penyuluh agama, tokoh agama, atau pihak profesional dapat menjadi tempat mencari jalan keluar.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Justru itu tanda bahwa kita masih ingin menyelamatkan keluarga.

Namun, dalam menghadapi konflik keluarga, bantuan harus diberikan dengan kehati-hatian. Jangan sampai orang yang seharusnya mendamaikan justru memperbesar konflik.

Tujuan utama bukan memenangkan salah satu pihak.

Tujuannya adalah mencari jalan terbaik, menjaga martabat, melindungi anak, dan menghadirkan kemaslahatan.

Jangan Tunggu Rumah Roboh untuk Memperbaikinya

Sering kali manusia baru menyadari pentingnya sesuatu setelah kehilangan.

Jangan menunggu pasangan pergi baru menyadari betapa berharganya dia.

Jangan menunggu anak menjauh baru menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk.

Jangan menunggu perceraian di depan mata baru belajar berkomunikasi.

Jangan menunggu rumah tangga retak baru belajar menjadi pasangan yang baik.

Rawatlah rumah tangga ketika masih sehat.

Sediakan waktu sebelum masalah datang.

Bicarakan keuangan sebelum terjadi konflik.

Bicarakan pendidikan anak sebelum terjadi perbedaan.

Bicarakan hubungan suami istri dengan terbuka dan penuh penghormatan.

Bicarakan masa depan.

Bicarakan harapan.

Bicarakan ketakutan.

Bicarakan pula kematian dan akhirat.

Sebab pada akhirnya, keluarga Muslim bukan hanya ingin tinggal bersama di dunia.

Kita berharap dapat berkumpul kembali di surga Allah.

Menjadi Keluarga yang Tumbuh Bersama

Madrasah Keluarga Sakinah sejatinya adalah pendidikan sepanjang hayat.

Suami belajar menjadi suami.

Istri belajar menjadi istri.

Orang tua belajar menjadi orang tua.

Anak belajar menjadi anak yang berbakti.

Tidak ada yang langsung sempurna.

Kita semua sedang belajar.

Maka jangan menuntut pasangan menjadi manusia sempurna sementara kita sendiri masih penuh kekurangan.

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa pasangan saya tidak berubah?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa saya ubah dari diri saya?”

Pertanyaan kedua sering kali menjadi awal perubahan besar.

Karena keluarga tidak dibangun oleh manusia yang sempurna.

Keluarga dibangun oleh manusia biasa yang mau terus memperbaiki diri.

Ketika Badai Itu Datang...

Suatu hari nanti, mungkin badai akan datang.

Bisa berupa persoalan ekonomi.

Bisa berupa sakit.

Bisa berupa konflik dengan keluarga besar.

Bisa berupa kenakalan anak.

Bisa berupa perbedaan prinsip.

Bisa berupa ujian pekerjaan.

Bisa berupa masalah komunikasi.

Bisa berupa ujian kesetiaan.

Ketika itu terjadi, jangan buru-buru mengatakan:

“Rumah tangga kita sudah selesai.”

Boleh jadi Allah sedang mengajarkan sesuatu.

Berhenti sejenak.

Pegang tangan pasangan.

Ingat kembali akad yang pernah diucapkan.

Ingat wajah anak-anak.

Ingat doa orang tua.

Dan yang paling penting, ingat Allah yang menyatukan kalian.

Kemudian katakan:

“Badai ini kita hadapi bersama.”

Sebab keluarga sakinah bukan keluarga yang hidup tanpa badai.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang ketika badai datang, mereka tidak saling meninggalkan kapal. Mereka saling menguatkan, memperbaiki layar, menenangkan anak-anak, dan bersama-sama mencari arah menuju pantai keselamatan.

Dan selama Allah masih menjadi tujuan, masih ada doa.

Selama masih ada doa, masih ada harapan.

Selama masih ada kemauan untuk memperbaiki diri, masih ada jalan pulang.

Karena rumah tangga yang sakinah bukan rumah yang tidak pernah retak, tetapi rumah yang penghuninya selalu mau memperbaiki retakan dengan iman, cinta, ilmu, kesabaran, dan kasih sayang.


Kamis, 20 Agustus 2026

PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

 


KHUTBAH JUMAT

21 AGUSTUS 2026

PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

Tema: Dari Perjuangan Merebut Kemerdekaan Menuju Perjuangan Membangun Peradaban

“Para ulama dahulu berjuang agar kita memperoleh kemerdekaan. Tugas ulama dan umat hari ini adalah memastikan kemerdekaan itu melahirkan peradaban.”

Wahyu Salim, Penyuluh Agama Isam KUA Padang Panjang Timur

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.


وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ 
يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa.

Takwa bukan hanya banyaknya ibadah ritual, tetapi juga bagaimana iman itu melahirkan kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kepedulian dan amal nyata dalam kehidupan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

(QS. Ali 'Imran: 102)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Beberapa hari yang lalu bangsa Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Bendera Merah Putih dikibarkan.

Lagu kebangsaan dinyanyikan.

Upacara dilaksanakan.

Pawai digelar.

Berbagai perlombaan diadakan.

Semua itu baik sebagai ekspresi kegembiraan.

Tetapi sebagai orang beriman, kita harus bertanya lebih dalam:

Apa makna kemerdekaan bagi seorang Muslim?

Apakah kemerdekaan hanya berarti bebas dari penjajahan?

Apakah kemerdekaan hanya berarti kita mempunyai bendera, pemerintahan dan wilayah sendiri?

Tentu tidak.

Kemerdekaan adalah nikmat sekaligus amanah.

Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada kita untuk membangun kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih berilmu, lebih bermartabat dan lebih dekat kepada Allah SWT.

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

ULAMA DAN KESADARAN KEMERDEKAAN

Ketika kita membaca sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kita menemukan bahwa kemerdekaan tidak lahir dalam satu malam.

Ada perjuangan panjang.

Ada pengorbanan.

Ada pendidikan.

Ada organisasi.

Ada pers.

Ada pergerakan pemuda.

Ada kaum perempuan.

Ada tokoh adat.

Ada kaum intelektual.

Ada rakyat biasa.

Dan ada pula para ulama dan santri.

Ulama mempunyai peran yang sangat penting bukan hanya karena mereka ikut dalam perjuangan fisik, tetapi karena mereka terlebih dahulu membangun kesadaran manusia tentang kemuliaan, kebebasan dan tanggung jawab.

Ulama mengajarkan:

manusia hanya boleh tunduk mutlak kepada Allah.

Kalimat lā ilāha illallāh bukan sekadar kalimat yang kita ucapkan.

Ia adalah deklarasi tauhid.

Bahwa tidak ada manusia yang boleh menjadi Tuhan bagi manusia lainnya.

Tidak boleh ada kekuasaan yang membuat manusia kehilangan martabatnya.

Tidak boleh ada penjajahan yang merampas hak manusia.

Tidak boleh ada kezaliman yang dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Karena itu, tauhid mempunyai konsekuensi sosial.

Orang yang benar-benar bertauhid tidak mudah diperbudak oleh manusia.

Ia tidak menjual prinsip karena jabatan.

Tidak menjual kejujuran karena uang.

Tidak menjual kebenaran karena popularitas.

Dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sesembahan baru.

ULAMA BUKAN SEKADAR BERBICARA, TETAPI MEMBANGUN MANUSIA

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah yang perlu kita renungkan dari sejarah para ulama.

Mereka tidak hanya mengajarkan:

“Bagaimana manusia masuk surga?”

Tetapi juga mengajarkan:

“Bagaimana manusia hidup bermartabat sebelum masuk surga?”

Pesantren bukan hanya tempat belajar membaca kitab.

Pesantren juga membangun karakter.

Masjid bukan hanya tempat shalat.

Masjid juga menjadi pusat pendidikan dan pembinaan umat.

Mimbar bukan hanya tempat memberikan nasihat.

Mimbar adalah tempat membangunkan kesadaran.

Dan ulama bukan hanya orang yang mengetahui hukum agama.

Ulama harus menjadi pencerah masyarakat.

Dalam bahasa Muhammadiyah, agama harus melahirkan amal usaha yang nyata dan berkemajuan.

Ilmu harus menjadi amal.

Iman harus menjadi akhlak.

Islam harus menjadi rahmat.

Dan dakwah harus menghasilkan perubahan.

KISAH TUANKU IMAM BONJOL

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di Sumatera Barat kita mengenal seorang ulama besar:

Tuanku Imam Bonjol.

Beliau bukan sekadar pemimpin perang.

Beliau adalah seorang ulama yang memiliki pengaruh keagamaan dan sosial yang besar.

Perjuangan yang kemudian dikenal sebagai Perang Padri mempunyai sejarah yang kompleks. Ia bermula dari dinamika internal masyarakat Minangkabau dan pembaruan keagamaan, kemudian berkembang dalam konteks intervensi dan kolonialisme Belanda.

Karena itu sejarah harus kita baca dengan ilmu, bukan hanya dengan emosi.

Tetapi satu hal jelas:

Tuanku Imam Bonjol menjadi salah satu simbol perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan kolonial Belanda.

Dari kisah beliau kita belajar:

ilmu dapat melahirkan keberanian.

Tetapi keberanian harus dikendalikan oleh ilmu.

Sebab keberanian tanpa ilmu bisa menjadi kekacauan.

Dan ilmu tanpa keberanian bisa menjadi teori yang tidak pernah mengubah keadaan. 

KH. AHMAD DAHLAN

Beliau bukan pejuang yang dikenal karena mengangkat senjata di medan perang.

Beliau adalah pejuang yang mengangkat *ilmu, pendidikan, tauhid dan amal.*

KH Ahmad Dahlan memahami bahwa penjajahan bukan hanya persoalan penguasaan wilayah.

Ada bentuk penjajahan yang jauh lebih dalam:

penjajahan terhadap pikiran.

Masyarakat yang bodoh mudah diperdaya.

Masyarakat yang miskin ilmu mudah dipengaruhi.

KH HASYIM ASY'ARI DAN RESOLUSI JIHAD

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita juga mengenal sejarah KH Hasyim Asy'ari.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum benar-benar aman.

Kemerdekaan telah diproklamasikan, tetapi kedaulatan belum sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia.

Dalam situasi tersebut, para ulama berkumpul di Surabaya.

Lahir apa yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Resolusi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membangkitkan mobilisasi rakyat dan santri untuk mempertahankan Republik yang baru berdiri.

Beberapa pekan kemudian terjadi pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Jamaah sekalian,

Kita jangan membaca sejarah tersebut hanya dengan semangat romantisme.

Kita harus mengambil nilai perjuangannya.

Apa nilainya?

Bahwa para ulama tidak hidup jauh dari persoalan masyarakat.

Ketika bangsa menghadapi ancaman, ulama hadir.

Ketika masyarakat membutuhkan arah, ulama hadir.

Ketika umat kehilangan harapan, ulama membangkitkan optimisme.

Inilah salah satu makna ulama sebagai pewaris perjuangan para nabi.

JIHAD DENGAN KONTEKS ZAMANNYA

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita juga harus berhati-hati memahami istilah jihad.

Jihad bukan sinonim kekerasan.

Jihad berarti kesungguhan mencurahkan kemampuan di jalan Allah.

Dalam konteks perjuangan kemerdekaan 1945, bangsa Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kolonialisme.

Tetapi dalam kehidupan kita hari ini, medan perjuangan telah berubah.

Hari ini kita tidak diperintahkan untuk mencari musuh.

Justru kita harus menjadi pembawa kedamaian.

Jihad kita hari ini antara lain:

melawan kebodohan dengan ilmu,

melawan kemiskinan dengan pemberdayaan,

melawan korupsi dengan integritas,

melawan narkoba dengan pendidikan,

melawan hoaks dengan tabayyun,

melawan kebencian dengan persaudaraan,

melawan kerusakan lingkungan dengan kepedulian,

dan melawan kemalasan dengan kerja keras.

Itulah perjuangan kita.

DARI MEREBUT KEMERDEKAAN MENUJU MEMBANGUN PERADABAN

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada perbedaan besar antara merebut kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.

Merebut kemerdekaan membutuhkan keberanian.

Mempertahankan kemerdekaan membutuhkan pengorbanan.

Tetapi membangun bangsa merdeka membutuhkan:

ilmu,

akhlak,

keadilan,

institusi yang kuat,

ekonomi yang sehat,

dan manusia yang berkualitas.

Karena itu, jangan kita merasa sudah menjadi bangsa besar hanya karena sudah merdeka 81 tahun.

Usia 81 tahun seharusnya membuat kita semakin dewasa.

Kita harus bertanya:

Apakah pendidikan kita semakin maju?

Apakah masyarakat semakin sejahtera?

Apakah hukum semakin adil?

Apakah korupsi semakin berkurang?

Apakah anak-anak kita semakin berakhlak?

Apakah lingkungan semakin terjaga?

Apakah persatuan semakin kuat?

Inilah pertanyaan kemerdekaan yang sesungguhnya.

BALDATUN THAYYIBATUN

Allah memberikan gambaran tentang sebuah negeri yang baik dalam Al-Qur'an:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.”

(QS. Saba': 15)

Konsep baldatun thayyibatun bukan sekadar negeri yang kaya.

Bukan sekadar jalan yang bagus.

Bukan sekadar gedung yang tinggi.

Bukan sekadar ekonomi yang tumbuh.

Tetapi negeri yang baik adalah negeri yang kehidupan masyarakatnya menghadirkan kebaikan, keadilan, kesejahteraan, keamanan dan keberkahan.

Karena itu kita ingin Indonesia bukan hanya:

negara yang maju,

tetapi juga

bangsa yang berakhlak.

Bukan hanya:

masyarakat yang kaya,

tetapi juga

masyarakat yang peduli.

Bukan hanya:

pembangunan yang cepat,

tetapi juga

pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

JANGAN TINGGALKAN GENERASI YANG LEMAH

Allah SWT berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”

(QS. An-Nisa': 9)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ayat ini sangat relevan untuk kehidupan bangsa.

Jangan kita wariskan kepada anak cucu:

hutang yang berat,

lingkungan yang rusak,

pendidikan yang tertinggal,

konflik sosial,

kebencian politik,

dan krisis moral.

Kita harus mewariskan:

ilmu,

iman,

akhlak,

kesehatan,

lingkungan yang baik,

ekonomi yang kuat,

dan persatuan bangsa.

TUGAS ULAMA SETELAH KEMERDEKAAN

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kalau dahulu ulama ikut mengobarkan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini peran ulama justru semakin besar.

Setidaknya ada lima tugas utama ulama dan mubalig.

Pertama: Menjaga Tauhid

Jangan sampai manusia merdeka dari penjajahan, tetapi menjadi budak harta.

Jangan sampai merdeka dari kolonialisme, tetapi menjadi budak jabatan.

Jangan sampai bebas secara politik, tetapi tidak bebas dari hawa nafsu.

Kemerdekaan yang paling hakiki adalah:

menjadi hamba Allah.

Kedua: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Ulama harus mencintai ilmu.

Masyarakat harus didorong membaca.

Anak-anak harus mendapatkan pendidikan terbaik.

Umat Islam tidak boleh alergi terhadap ilmu pengetahuan.

Karena wahyu pertama yang turun adalah:

اقْرَأْ

Bacalah!

Maka umat yang ingin maju harus menjadi umat yang membaca, berpikir, meneliti dan belajar.

Ketiga: Menjaga Persatuan

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103)

Perbedaan adalah kenyataan.

Perbedaan fikih ada.

Perbedaan organisasi ada.

Perbedaan pilihan politik ada.

Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan.

Masjid jangan menjadi tempat saling mencaci.

Mimbar jangan menjadi tempat menyebarkan kebencian.

Dakwah jangan menjadi alat mempermalukan orang lain.

Dakwah harus menjadi jalan memperbaiki manusia.

Keempat: Menegakkan Keadilan

Kemerdekaan tidak boleh hanya dirasakan oleh sebagian orang.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”

(QS. An-Nahl: 90)

Maka ulama harus terus menyuarakan keadilan dengan hikmah.

Mendukung kebaikan pemerintah ketika pemerintah melakukan kebaikan.

Mengingatkan ketika ada kekeliruan.

Tidak menjadi corong kekuasaan.

Tetapi juga tidak menjadi penyebar kebencian kepada kekuasaan.

Ulama harus menjadi kekuatan moral masyarakat.

Kelima: Menggerakkan Amal Nyata

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah semangat Islam berkemajuan.

Jangan hanya berbicara tentang kemiskinan.

Bantu orang miskin.

Jangan hanya berbicara tentang pendidikan.

Bangun pendidikan.

Jangan hanya berbicara tentang kebersihan.

Bersihkan masjid dan lingkungan.

Jangan hanya berbicara tentang kerukunan.

Datangi tetangga dan saudara kita.

Jangan hanya berbicara tentang ekonomi umat.

Bangun pemberdayaan ekonomi umat.

Agama yang hidup adalah agama yang melahirkan amal nyata.

Muhammadiyah sendiri dalam momentum HUT ke-81 RI menekankan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan amal nyata, kebermanfaatan, persatuan dan pembangunan kesejahteraan rakyat. (Muhammadiyah)

JAMA'AH JUMAT YANG DIMULIAKAN ALLAH

Kita sering bertanya:

“Apa yang sudah diberikan negara kepada saya?”

Hari ini mari kita balik pertanyaannya:

“Apa yang sudah saya berikan kepada negara?”

Jangan hanya bertanya:

“Indonesia sudah maju atau belum?”

Tanyakan:

“Apakah saya sudah ikut memajukan Indonesia?”

Jangan hanya mengeluh:

“Anak muda sekarang bagaimana?”

Tanyakan:

“Sudahkah saya menjadi teladan bagi anak muda?”

Jangan hanya mengatakan:

“Umat harus bersatu.”

Tanyakan:

“Apakah saya sudah berhenti memusuhi saudara saya hanya karena berbeda?”

Inilah refleksi kemerdekaan.

PENUTUP KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Para ulama dan pejuang telah memberikan sesuatu yang sangat mahal:

kemerdekaan.

Ada yang memberikan ilmunya.

Ada yang memberikan hartanya.

Ada yang memberikan waktunya.

Ada yang meninggalkan keluarga.

Dan ada yang memberikan nyawanya.

Kita tidak mungkin membalas pengorbanan mereka.

Tetapi kita dapat menghormati mereka dengan meneruskan cita-citanya.

Jika dahulu mereka berjuang agar kita bebas dari penjajahan,

maka hari ini:

kita berjuang agar generasi kita bebas dari kebodohan.

Jika dahulu mereka berjuang melawan kolonialisme,

hari ini kita melawan:

korupsi, narkoba, kemiskinan, kebencian, intoleransi dan kerusakan moral.

Jika dahulu mereka menjaga tanah air,

hari ini kita menjaga:

persatuan, lingkungan dan masa depan generasi.

Semoga Allah menjadikan Indonesia negeri yang baik:

baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi khatib berwasiat kepada diri khatib dan kepada jamaah sekalian:

Marilah kita bertakwa kepada Allah.

Kemerdekaan yang kita nikmati adalah nikmat.

Nikmat harus disyukuri.

Syukur bukan hanya dengan ucapan.

Syukur harus diwujudkan dengan amal.

Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

Ya Allah,

jadikanlah bangsa Indonesia bangsa yang bersyukur.

Jadikanlah negeri kami negeri yang aman.

Jadikanlah masyarakat kami masyarakat yang beriman, berilmu dan berakhlak.

Ya Allah,

berikanlah kepada para pemimpin bangsa kami kekuatan untuk menjalankan amanah.

Jauhkan mereka dari kezaliman, kesombongan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Berikan kepada mereka kebijaksanaan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Ya Allah,

jaga persatuan bangsa Indonesia.

Jauhkan kami dari fitnah, permusuhan, kebencian dan perpecahan.

Jadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan alasan untuk saling bermusuhan.

Ya Allah,

lindungi generasi muda kami.

Jauhkan mereka dari narkoba, pornografi, kekerasan, perjudian, pergaulan yang merusak dan berbagai penyakit sosial.

Jadikan mereka generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya dan besar kontribusinya bagi bangsa.

Ya Allah,

jadikanlah Indonesia:

baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Negeri yang baik.

Negeri yang aman.

Negeri yang adil.

Negeri yang makmur.

Negeri yang masyarakatnya saling menolong dalam kebaikan.

Ya Allah,

ampunilah dosa kami.

Ampunilah dosa kedua orang tua kami.

Ampunilah dosa para guru dan ulama kami.

Ampunilah dosa para pahlawan dan pejuang bangsa kami yang telah mendahului kami.

Berikanlah kepada mereka tempat terbaik di sisi-Mu.

Ya Allah,

jangan jadikan kemerdekaan yang mereka perjuangkan menjadi sia-sia karena kelalaian kami.

Jadikan kami generasi yang mampu menjaga amanah kemerdekaan.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى.

عِبَادَ اللَّهِ،

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

 


PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

Ceramah Agama dalam Semangat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Karena atas rahmat-Nya, kita masih diberi kesempatan menikmati sebuah nikmat yang sering kita rasakan, tetapi kadang lupa kita syukuri: nikmat kemerdekaan.

Hari ini kita bisa berdiri di masjid dengan tenang.
Kita bisa mengumandangkan azan tanpa rasa takut.
Anak-anak kita bisa belajar.
Para ulama bisa berdakwah.
Para guru bisa mengajar.
Para pedagang bisa mencari rezeki.
Dan kita bisa berkumpul dalam majelis seperti ini tanpa harus meminta izin kepada penjajah.

Itulah kemerdekaan.

Tetapi pertanyaannya:

Siapa yang merebut kemerdekaan itu?

Apakah hanya tentara?

Tidak!

Apakah hanya para politisi?

Tidak!

Apakah hanya para pejuang yang memegang senjata?

Juga tidak!

Di balik perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada ulama dan santri yang menggerakkan kesadaran umat, membangkitkan keberanian, mengajarkan bahwa membela tanah air dan mempertahankan kehormatan bangsa adalah bagian dari tanggung jawab manusia kepada Allah.

1. ULAMA BUKAN HANYA BERDIRI DI MIMBAR

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita kadang membayangkan ulama hanya sebagai orang yang duduk di masjid, memegang kitab, memakai peci, kemudian berbicara di atas mimbar.

Padahal sejarah menunjukkan:

Ketika bangsa ini diinjak-injak, ulama turun dari mimbar menuju medan perjuangan.

Ketika umat kehilangan keberanian, ulama meniupkan semangat.

Ketika masyarakat kehilangan arah, ulama memberikan pedoman.

Ketika penjajah berusaha memecah belah umat, ulama mengajarkan persatuan.

Jadi ulama bukan sekadar penjaga mimbar, tetapi juga penjaga moral bangsa.

Ada kisah yang sangat terkenal dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Ketika tentara Sekutu dan Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi, suasana di Jawa Timur sangat genting.

Kemudian lahirlah sebuah keputusan besar dari para ulama melalui Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945, yang dikaitkan erat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Tokoh besar di balik semangat itu adalah KH Hasyim Asy’ari.

Pesannya sederhana tetapi mengguncangkan:

Kemerdekaan yang sudah diproklamasikan jangan dibiarkan dirampas kembali.

Para santri bergerak.

Para pemuda bergerak.

Masyarakat bergerak.

Dan akhirnya meletuslah perlawanan besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Karena itu, tidak berlebihan jika kita mengatakan:

Kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis dengan tinta di atas kertas, tetapi juga ditulis dengan air mata, darah, doa, dan pengorbanan para ulama, santri, dan seluruh rakyat.

2. KISAH ULAMA DAN SANTRI: ILMU YANG MELAHIRKAN KEBERANIAN

Hadirin rahimakumullah,

Ada pelajaran menarik dari sejarah pesantren.

Para santri belajar kitab.

Mereka belajar fikih.

Mereka belajar tafsir.

Mereka belajar hadis.

Tetapi ketika tanah air dipanggil untuk dibela, ilmu itu tidak berhenti menjadi hafalan.

Ilmu berubah menjadi amal.

Inilah yang penting bagi kita hari ini.

Jangan sampai kita menjadi orang yang banyak tahu tetapi sedikit berbuat.

Jangan sampai kita hafal ayat tentang persaudaraan, tetapi senang memusuhi saudara.

Hafal hadis tentang persatuan, tetapi gemar menyebarkan berita yang memecah belah.

Bicara cinta tanah air, tetapi membuang sampah sembarangan.

Mengaku cinta Indonesia, tetapi ketika berbeda pilihan politik, tetangga sendiri dianggap musuh.

Ini lucu kalau direnungkan.

Dulu para pejuang berbeda-beda suku, organisasi, bahkan pandangan, tetapi mereka bersatu menghadapi penjajah.

Sekarang penjajah sudah tidak ada di depan mata, tetapi kita justru bisa bertengkar hanya karena beda pilihan!

Kadang-kadang kita tidak perlu penjajah untuk memecah bangsa.

Cukup satu grup WhatsApp!

Satu pesan yang belum jelas sumbernya, langsung diteruskan.

Belum selesai dibaca, sudah dibagikan.

Ditanya sumbernya, jawabannya:

"Katanya..."

Padahal "katanya" itu kadang lebih cepat menyebar daripada ilmu.

Hadirin tertawa kecil, tetapi mudah-mudahan kita juga bercermin.

3. ULAMA MEREBUT KEMERDEKAAN DENGAN TIGA SENJATA

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kalau kita renungkan, ulama dahulu berjuang dengan setidaknya tiga kekuatan besar:

Pertama: ILMU

Ulama memberikan kesadaran bahwa manusia tidak boleh hidup dalam kehinaan.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam."
(QS. Al-Isra’: 70)

Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kehormatan.

Karena itu, penjajahan yang merendahkan manusia harus dilawan.

Ulama membangun kesadaran bahwa umat Islam harus menjadi manusia yang merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.

Kedua: DOA

Para ulama tidak hanya mengangkat tangan untuk berdoa.

Mereka juga mengajarkan bahwa doa harus diikuti perjuangan.

Doa tanpa usaha adalah kelemahan.

Usaha tanpa doa adalah kesombongan.

Maka para pejuang berdoa sekaligus berjuang.

Mereka menangis di hadapan Allah, kemudian berdiri menghadapi musuh.

Ketiga: PERSATUAN

Ulama menyatukan umat.

Karena mereka memahami:

Musuh terbesar sebuah bangsa bukan hanya serangan dari luar, tetapi perpecahan dari dalam.

Allah berfirman:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

"Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang."
(QS. Al-Anfal: 46)

Perhatikan!

Allah tidak hanya mengatakan jangan berperang.

Allah mengingatkan:

Jangan bertengkar, karena pertengkaran menghilangkan kekuatan.

4. SETELAH MERDEKA, TUGAS ULAMA BELUM SELESAI

Hadirin rahimakumullah,

Ada satu hal penting.

Jangan kita kira setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, tugas ulama selesai.

Belum!

Justru perjuangan berikutnya jauh lebih berat.

Dulu musuh terlihat.

Sekarang musuh kadang tidak terlihat.

Dulu senjata berupa meriam.

Sekarang bisa berupa narkoba, korupsi, judi online, pornografi, hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, kemalasan, kebodohan, dan kerusakan moral.

Dulu penjajah ingin menguasai tanah air.

Sekarang ada ancaman yang ingin menguasai pikiran dan hati generasi muda.

Maka ulama hari ini harus kembali mengambil peran.

Bukan dengan mengangkat senjata.

Tetapi dengan mengangkat ilmu, akhlak, dakwah, keteladanan, dan kepedulian sosial.

5. KEMERDEKAAN HARUS DIPERTAHANKAN DARI PENJAJAHAN HAWA NAFSU

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada penjajahan yang lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

Yaitu ketika manusia menjadi budak hawa nafsunya sendiri.

Orang mungkin sudah merdeka dari penjajahan asing, tetapi belum tentu merdeka dari:

keserakahan, iri hati, kesombongan, kemarahan, syahwat, dan cinta dunia.

Apa artinya kita merdeka sebagai bangsa kalau manusia di dalamnya menjadi budak korupsi?

Apa artinya kita merdeka kalau anak-anak muda menjadi budak narkoba?

Apa artinya kita merdeka kalau masyarakat menjadi budak judi?

Apa artinya kita merdeka kalau keluarga menjadi korban kekerasan?

Apa artinya kita merdeka kalau masjid ramai, tetapi akhlak kosong?

Karena itu, kemerdekaan yang sejati dimulai dari kemerdekaan hati.

Seorang mukmin hanya tunduk kepada Allah.

Ia tidak menjadi budak jabatan.

Tidak menjadi budak uang.

Tidak menjadi budak pujian.

Tidak menjadi budak popularitas.

Tidak menjadi budak kekuasaan.

Inilah tugas ulama: membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah.

6. ULAMA HARUS MENJADI PENDINGIN DI TENGAH PANASNYA MASYARAKAT

Hadirin rahimakumullah,

Zaman sekarang masyarakat mudah panas.

Sedikit berbeda pendapat, langsung emosi.

Sedikit berbeda pilihan, langsung unfollow.

Berbeda organisasi, dianggap berbeda agama.

Berbeda mazhab, persaudaraan putus.

Padahal ulama seharusnya hadir sebagai penyejuk.

Bukan memperbesar api.

Bukan memperlebar jurang.

Bukan mengumpulkan kebencian.

Tetapi menghadirkan hikmah.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik."
(QS. An-Nahl: 125)

Maka semakin besar ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut lisannya.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hati sikapnya.

Semakin banyak pengikutnya, semakin besar tanggung jawabnya.

Jangan sampai seseorang merasa dirinya paling benar sampai lupa bahwa kebenaran tidak membutuhkan kesombongan.

7. ULAMA HARI INI HARUS TURUN MENYENTUH PERSOALAN UMAT

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ulama hari ini tidak cukup hanya berbicara tentang halal dan haram.

Ulama juga harus berbicara tentang:

  • keluarga yang hampir bercerai;

  • anak-anak yang terjerat narkoba;

  • remaja yang kecanduan gawai;

  • masyarakat miskin yang membutuhkan pemberdayaan;

  • ekonomi umat;

  • zakat dan wakaf;

  • stunting;

  • kerukunan umat beragama;

  • lingkungan;

  • literasi digital;

  • kesehatan moral generasi muda;

  • serta perdamaian di tengah masyarakat.

Karena agama hadir untuk memberi rahmat.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Kami tidak mengutus engkau, Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya’: 107)

Maka dakwah harus terasa sebagai rahmat.

Orang yang datang dengan masalah jangan pulang membawa luka baru.

Orang yang datang dengan dosa jangan kita hina.

Orang yang tersesat jangan kita dorong semakin jauh.

Tugas kita adalah membuka pintu kembali kepada Allah.

8. DARI ULAMA, KITA BELAJAR: CINTA TANAH AIR BUKAN SEKADAR UPACARA

Hadirin yang berbahagia,

Setiap bulan Agustus kita memasang bendera.

Kita ikut upacara.

Kita menyanyikan lagu kebangsaan.

Kita memakai pakaian merah putih.

Itu semua baik.

Tetapi jangan berhenti di simbol.

Cinta tanah air harus menjadi amal.

Guru mencintai Indonesia dengan mendidik anak bangsa.

Petani mencintai Indonesia dengan menghasilkan pangan.

Pedagang mencintai Indonesia dengan berdagang secara jujur.

Aparatur mencintai Indonesia dengan memberikan pelayanan terbaik.

Ulama mencintai Indonesia dengan menjaga umat tetap beriman dan rukun.

Pemuda mencintai Indonesia dengan menjauhi narkoba dan menjaga masa depan.

Orang tua mencintai Indonesia dengan mendidik anak-anaknya menjadi generasi saleh.

Dan masyarakat mencintai Indonesia dengan menjaga kerukunan.

Itulah kemerdekaan yang hidup.

9. PENUTUP: DARI DARAH PARA PEJUANG MENUJU AMAL KITA

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita bayangkan sejenak.

Delapan puluh satu tahun lebih yang lalu, para pejuang tidak tahu apakah mereka akan kembali pulang.

Mereka meninggalkan rumah.

Meninggalkan keluarga.

Ada yang tidak kembali.

Tetapi mereka tetap maju.

Mengapa?

Karena mereka percaya bahwa generasi setelah mereka harus hidup lebih baik.

Kita adalah generasi yang mereka perjuangkan.

Pertanyaannya:

Sudahkah kita menjadi generasi yang layak menerima kemerdekaan itu?

Kalau para ulama dahulu berjuang merebut kemerdekaan, maka tugas kita adalah mempertahankan kemerdekaan dengan iman, ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian.

Jangan biarkan kemerdekaan kehilangan ruhnya.

Jangan biarkan masjid kehilangan jamaahnya.

Jangan biarkan keluarga kehilangan kasih sayangnya.

Jangan biarkan anak muda kehilangan masa depannya.

Jangan biarkan perbedaan menghancurkan persaudaraan.

Dan jangan biarkan bangsa ini kehilangan akhlaknya.

Mari kita lanjutkan perjuangan para ulama.

Dahulu mereka berjihad melawan penjajahan.
Hari ini kita berjihad melawan kebodohan.
Dahulu mereka mengusir penjajah dari tanah air.
Hari ini kita harus mengusir kemaksiatan dari diri dan keluarga.
Dahulu mereka merebut kemerdekaan.
Hari ini kita mempertahankan kemerdekaan dengan ketakwaan dan persatuan.

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan para ulama kita sebagai cahaya bagi umat, menjadikan para pemimpin kita sebagai pemimpin yang amanah, menjaga Indonesia sebagai negeri yang damai, dan menjadikan kita semua manusia yang merdeka karena hanya tunduk kepada Allah SWT.

Mari kita tutup dengan doa.

اللهم اغفر لنا ذنوبنا، ولآبائنا وأمهاتنا، ولعلمائنا ومشايخنا، وللمجاهدين والشهداء من أبناء bangsa Indonesia.

اللهم احفظ بلادنا إندونيسيا، واحفظ أمنها ووحدتها وسلامتها.

اللهم اجعل إندونيسيا بلداً آمناً مطمئناً، وارزق أهلها الإيمان والتقوى.

اللهم ألف بين قلوبنا، وأصلح ذات بيننا، واهدنا سبل السلام.

اللهم انصر أهل الحق، وأصلح شبابنا، واحفظ أبناءنا وبناتنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pesan penutup

“Kemerdekaan direbut oleh keberanian para pejuang, dibimbing oleh doa dan ilmu para ulama, dan dipertahankan oleh akhlak serta persatuan generasi setelahnya.”

Merdeka bukan berarti bebas berbuat apa saja.
Merdeka berarti bebas dari penjajahan manusia dan hawa nafsu, untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dengan iman, bersatu dalam kerukunan, bergerak dalam pengabdian.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Penyuluh Agama Dukung Sinergisitas Pembinaan Kerukunan di Padang Panjang

 


Penyuluh Agama Dukung Sinergisitas Pembinaan Kerukunan di Padang Panjang

Padang Panjang, 18 Agustus 2026 — Semangat memperkuat persatuan dan kerukunan terus dibangun di Kota Padang Panjang melalui sinergisitas pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, dan tokoh lintas agama. Selasa, 18 Agustus 2026, usai pelaksanaan Pawai Alegoris dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, dilaksanakan pertemuan di Pandopo Rumah Jabatan Wali Kota Padang Panjang sebagai forum membangun sinergisitas dalam menyikapi dan menangani berbagai isu nasional yang berkembang di tengah masyarakat.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wali Kota Padang Panjang, Wakil Wali Kota, unsur Forkopimda, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta tokoh-tokoh lintas agama. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi gambaran kuat bahwa kerukunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur, selaku Koordinator Bidang Penyuluhan Kerukunan, yang ikut membersamai dialog dan penguatan komitmen bersama dalam menjaga kondusivitas kehidupan sosial dan keagamaan di Kota Padang Panjang.

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan, khususnya dalam menghadapi berbagai isu nasional yang memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat di daerah.

Implementasi PBM 8 dan 9 Tahun 2006

Sinergisitas tersebut sekaligus merupakan bagian dari implementasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor 9 Tahun 2006, khususnya dalam membangun kehidupan umat beragama yang rukun, harmonis, saling menghormati, serta menjaga ketertiban dan ketenteraman masyarakat.

Spirit regulasi tersebut perlu terus diterjemahkan dalam bentuk kerja nyata di tengah masyarakat. Kerukunan tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus hadir dalam komunikasi sehari-hari, keteladanan para tokoh, penyelesaian persoalan melalui dialog, serta kesediaan seluruh elemen masyarakat untuk menghormati hak dan kewajiban setiap warga negara dalam menjalankan kehidupan beragama.

Dalam konteks Padang Panjang sebagai kota yang memiliki keberagaman latar belakang masyarakat, sinergisitas antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, penyuluh agama, dan tokoh masyarakat menjadi modal sosial yang sangat penting.

Penyuluh Agama sebagai Penguat Kerukunan

Kehadiran Penyuluh Agama Islam dalam forum tersebut menjadi bagian dari penguatan peran penyuluh sebagai garda terdepan pembinaan masyarakat. Penyuluh tidak hanya berperan menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun literasi keagamaan yang moderat, memperkuat ketahanan masyarakat terhadap provokasi, serta mendorong penyelesaian persoalan melalui pendekatan dialogis dan persuasif.

Wahyu Salim menegaskan bahwa pembinaan kerukunan membutuhkan kerja bersama dan komunikasi yang berkelanjutan.

“Kerukunan harus kita rawat bersama. Perbedaan agama, pemahaman, latar belakang, dan pilihan sosial tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru perbedaan harus menjadi ruang untuk belajar saling memahami, menghormati, dan membangun kehidupan bersama,” demikian semangat yang dibawa dalam forum tersebut.

Menurutnya, penyuluh agama memiliki ruang strategis untuk terus menyampaikan pesan-pesan kerukunan melalui majelis taklim, masjid dan mushalla, lembaga pendidikan keagamaan, kelompok masyarakat, serta berbagai ruang interaksi sosial lainnya.

Menguatkan Tema-Tema Kerukunan

Dalam upaya menjaga kerukunan, sejumlah tema penting perlu terus dikembangkan menjadi gerakan bersama di tengah masyarakat, antara lain:

Pertama, moderasi beragama. Beragama secara kuat dan teguh terhadap keyakinan masing-masing, namun tetap menghormati keberadaan orang lain yang berbeda.

Kedua, menghormati perbedaan. Perbedaan keyakinan dan ekspresi keagamaan merupakan realitas sosial yang harus disikapi dengan kedewasaan, bukan dengan prasangka dan permusuhan.

Ketiga, menjaga persatuan dan kesatuan. Kepentingan kebangsaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi ruang bersama seluruh warga negara.

Keempat, dialog dan komunikasi. Setiap persoalan sosial-keagamaan perlu dikedepankan penyelesaiannya melalui komunikasi yang sehat, tabayyun, musyawarah, dan dialog lintas elemen.

Kelima, menolak provokasi dan ujaran kebencian. Masyarakat perlu memiliki daya tahan terhadap informasi yang belum terverifikasi, terutama isu yang berpotensi memecah belah kehidupan umat dan masyarakat.

Keenam, menjaga rumah ibadah sebagai ruang kedamaian. Masjid, gereja, pura, vihara, dan rumah ibadah lainnya hendaknya menjadi tempat membangun ketenangan, pembinaan moral, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan.

Ketujuh, memperkuat kearifan lokal. Nilai gotong royong, musyawarah, saling menghormati, dan budaya hidup berdampingan merupakan modal sosial yang harus terus dipelihara.

Kedelapan, membangun ketahanan sosial dan keagamaan. Tokoh agama dan masyarakat perlu hadir lebih awal ketika muncul tanda-tanda persoalan sosial agar potensi konflik dapat dicegah sebelum berkembang.

Dari Sinergi Menuju Aksi Bersama

Pertemuan di Rumah Jabatan Wali Kota tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum silaturahmi, tetapi berkembang menjadi komitmen dan aksi bersama dalam pembinaan kerukunan di Kota Padang Panjang.

Sinergisitas antara Forkopimda, pemerintah daerah, Kementerian Agama, FKUB, MUI, tokoh agama lintas iman, penyuluh agama, serta masyarakat merupakan kekuatan penting dalam menciptakan suasana kota yang aman, damai, dan kondusif.

Padang Panjang memiliki modal sosial yang kuat berupa tradisi keagamaan, budaya musyawarah, kehidupan masyarakat yang saling mengenal, serta peran aktif tokoh agama. Modal tersebut perlu terus dirawat agar setiap persoalan dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan seluruh anak bangsa hidup bersama dalam perbedaan, menjaga persatuan, dan membangun masa depan secara gotong royong.

Dengan semangat tersebut, penyuluh agama siap terus mengambil bagian dalam membangun komunikasi keagamaan yang menyejukkan, memperkuat moderasi beragama, mencegah konflik, serta menjadi jembatan antara nilai-nilai agama dan kehidupan kebangsaan.

“Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan; berbeda dalam tradisi, bersama menjaga negeri; rukun umatnya, kuat kotanya, maju Indonesia.” 

UWaS

Pendampingan Sertifikasi Tanah Wakaf Mushalla Diinul Haq, KUA X Koto Lakukan Verifikasi dan Validasi Lapangan

 


Pendampingan Sertifikasi Tanah Wakaf Mushalla Diinul Haq, KUA X Koto Lakukan Verifikasi dan Validasi Lapangan

X Koto, 19 Agustus 2026 — Upaya memberikan kepastian hukum terhadap aset wakaf terus dilakukan melalui pelayanan dan pendampingan proses sertifikasi tanah wakaf. Pada Selasa–Rabu, 18–19 Agustus 2026, Kepala KUA Kecamatan X Koto, Bisti Samsuri, bersama tim melaksanakan verifikasi dan validasi lapangan atas permohonan sertifikat tanah wakaf yang diajukan oleh pengurus Mushalla Diinul Haq, Koto Tuo, Nagari Panyalaian, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kedatangan Kepala KUA X Koto bersama tim disambut oleh pengurus mushalla, Wahyu Salim, yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur, bersama pengurus, wakif, nazhir, unsur jamaah, serta jiran atau masyarakat sekitar mushalla.

Kegiatan verifikasi dan validasi berlangsung dalam suasana kekeluargaan, terbuka, dan lancar. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam memastikan data, kondisi fisik tanah, batas-batas tanah wakaf, serta pihak-pihak yang terkait dengan perwakafan sesuai dengan dokumen dan kondisi di lapangan.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala KUA X Koto, Bisti Samsuri, menyampaikan penjelasan mengenai proses sertifikasi tanah wakaf, termasuk tahapan yang harus dilalui sampai terbitnya sertifikat tanah wakaf. Ia menjelaskan bahwa proses tersebut merupakan upaya menghadirkan kepastian administrasi dan hukum terhadap aset wakaf sehingga keberadaan tanah wakaf dapat terlindungi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan umat.

Bisti Samsuri juga menjelaskan bahwa biaya proses sertifikasi tanah wakaf akan ditanggung sepenuhnya melalui program PRONA, sehingga pengurus dan masyarakat tidak perlu terbebani dengan biaya sertifikasi tersebut.

Dalam proses verifikasi lapangan, tim juga melakukan pengambilan gambar dan pengukuran pada empat titik batas tanah, yaitu sisi utara, selatan, timur, dan barat. Pengambilan titik tersebut dilengkapi dengan GPS dan koordinat lokasi sebagai bagian dari proses validasi data dan pemetaan tanah yang menjadi objek wakaf.

Verifikasi dan validasi lapangan ini diharapkan dapat memastikan kesesuaian antara data administrasi dengan kondisi faktual tanah wakaf. Setelah seluruh tahapan validasi dinyatakan selesai, proses selanjutnya akan dijadwalkan berupa pembacaan ikrar wakaf di KUA Kecamatan X Koto, sesuai dengan ketentuan dan prosedur perwakafan.

Pengurus Mushalla Diinul Haq, Wahyu Salim, mewakili pengurus dan jamaah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala KUA X Koto beserta tim atas pelayanan dan pendampingan yang diberikan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala KUA X Koto beserta tim yang telah memberikan pelayanan dan pendampingan dalam proses sertifikasi tanah wakaf Mushalla Diinul Haq. Kami berharap seluruh proses ini dapat berjalan lancar dan tuntas sampai diterbitkannya sertifikat tanah wakaf,” ujar Wahyu Salim.

Menurutnya, sertifikat tanah wakaf bukan hanya penting dari sisi administrasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memberikan kenyamanan, perlindungan, dan kepastian hukum bagi keberlangsungan fungsi mushalla di tengah masyarakat.

“Dengan adanya kepastian hukum atas tanah wakaf ini, insya Allah pengurus dan jamaah akan lebih tenang dalam mengembangkan dan memakmurkan mushalla. Termasuk melanjutkan rencana pembangunan dan pengembangan fasilitas mushalla untuk kepentingan ibadah, pendidikan, pembinaan keagamaan, dan kegiatan sosial masyarakat,” lanjutnya.

Mushalla Diinul Haq selama ini menjadi salah satu ruang ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat setempat. Karena itu, legalitas tanah menjadi aspek penting agar keberadaan mushalla memiliki dasar hukum yang jelas serta dapat diwariskan manfaatnya kepada generasi berikutnya.

Pendampingan sertifikasi tanah wakaf seperti ini sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara KUA, wakif, nazhir, pengurus tempat ibadah, jamaah, dan masyarakat dalam menjaga serta mengamankan aset wakaf. Wakaf yang telah memiliki legalitas yang jelas diharapkan dapat dikelola secara amanah dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi umat.

Kegiatan verifikasi dan validasi lapangan selama dua hari tersebut berjalan dengan baik. Seluruh pihak yang terlibat menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan setiap tahapan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi pengurus dan jamaah Mushalla Diinul Haq, proses sertifikasi ini bukan sekadar penyelesaian administrasi, tetapi merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga amanah wakif, memberikan kepastian hukum terhadap tanah wakaf, dan memastikan keberlanjutan manfaat wakaf bagi umat.

Dengan selesainya tahapan verifikasi dan validasi lapangan, pengurus berharap proses berikutnya hingga pembacaan ikrar wakaf dan penerbitan sertifikat dapat segera terlaksana. Selanjutnya, tanah wakaf Mushalla Diinul Haq diharapkan benar-benar memiliki legalitas yang kuat sehingga rencana pembangunan dan pengembangan mushalla dapat dilanjutkan dengan lebih tenang, terarah, dan berkelanjutan.

“Wakaf Terlindungi, Ibadah Berkelanjutan, Umat Semakin Berdaya.” 

UWaS

Selasa, 18 Agustus 2026

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 81 TAHUN 2026: MAKNA KEMERDEKAAN BAGIKU Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka







MAKNA KEMERDEKAAN BAGIKU

Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Ketua IPARI Kota Padang Panjang

Merdeka: Sebuah Kata yang Semakin Dalam Maknanya

Tahun 2026 Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan.

Delapan puluh satu tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah bangsa. Di balik angka 81 itu ada darah para syuhada, air mata para pejuang, doa para ulama, pengorbanan rakyat, perjuangan para pendidik, kerja keras petani, nelayan, pedagang, aparatur negara, dan seluruh anak bangsa yang dari generasi ke generasi menjaga Indonesia tetap berdiri.

Tetapi bagi saya pribadi, memasuki usia 50 tahun, makna kemerdekaan terasa jauh lebih dalam daripada sekadar peringatan 17 Agustus.

Dulu, mungkin saya memahami kemerdekaan sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan.

Hari ini saya memahami kemerdekaan sebagai sebuah amanah.

Bangsa ini memang telah merdeka dari penjajahan fisik. Tetapi manusia masih harus berjuang untuk merdeka dari kebodohan, kemiskinan, keserakahan, permusuhan, fanatisme, narkoba, korupsi, kekerasan, perpecahan, hawa nafsu, dan penghambaan kepada selain Allah.

Dan sebagai seorang muslim, saya menemukan makna kemerdekaan yang paling hakiki dalam satu kesadaran:

Manusia tidak diciptakan untuk menjadi hamba bagi sesama manusia. Manusia diciptakan untuk menjadi hamba Allah.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka kemerdekaan sejati bukanlah hidup tanpa aturan.

Kemerdekaan sejati adalah bebas memilih kebenaran, bebas berbuat baik, bebas mengabdi, tetapi tidak bebas dari pertanggungjawaban kepada Allah.

1. Kemerdekaan Bagiku Adalah Perjalanan Panjang Menjadi Hamba

Ketika menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa hidup saya sesungguhnya adalah sebuah perjalanan panjang.

Saya pernah menjadi guru honorer di pesantren di Padang Panjang pada 1999.

Kemudian memasuki dunia pengabdian sebagai CPNS pada 2004.

Berbagai tugas dan amanah pernah saya jalani: penghulu, kepala KUA, penyelenggara syariah, Kasubbag TU, Kasi Pendidikan Madrasah, hingga akhirnya menekuni jalan sebagai Penyuluh Agama Islam.

Pada 2020 saya memasuki jabatan fungsional Penyuluh Agama Islam melalui proses inpassing.

Jika perjalanan itu hanya dihitung sebagai perpindahan jabatan, mungkin semuanya terlihat biasa.

Tetapi ketika saya renungkan pada usia 50 tahun, saya menemukan sesuatu yang lebih penting.

Setiap jabatan ternyata bukan sekadar posisi.

Ia adalah ujian tentang seberapa jauh saya mampu memberikan manfaat.

Sebab jabatan akan berganti.

Ruangan kerja akan berpindah.

Nama dalam struktur organisasi akan berubah.

Seragam akan berganti.

Tetapi amal yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap menjadi bagian dari perjalanan menuju Allah.

Karena itu, saya semakin memahami pesan Rasulullah ﷺ:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Maka saya ingin kemerdekaan yang saya rasakan tidak berhenti pada kebebasan untuk hidup bagi diri sendiri.

Saya ingin merdeka untuk bermanfaat bagi orang lain.

2. Pada Usia 50 Tahun, Saya Belajar Bahwa Kemerdekaan Bukan Lagi Tentang Mengejar, Tetapi Memberi

Usia 50 tahun membuat saya lebih sering melihat ke belakang.

Bukan untuk menyesali apa yang telah berlalu, tetapi untuk bertanya:

Apa yang sudah saya berikan?

Saya telah melewati masa muda.

Saya telah melewati berbagai fase pekerjaan.

Saya telah merasakan suka dan duka dalam pengabdian.

Saya telah menyaksikan banyak persoalan manusia dari dekat.

Saya juga telah menjadi suami dan ayah bagi enam orang anak.

Ada anak yang telah berada di Tangerang.

Ada yang menempuh pendidikan di Depok.

Ada yang belajar di PTIQ Padang.

Ada yang masih menempuh pendidikan di SMA, MTs, dan SD.

Di rumah, saya belajar bahwa menjadi ayah bukan hanya mencari nafkah.

Menjadi ayah adalah menghadirkan keteladanan.

Menjadi suami bukan hanya memenuhi kebutuhan keluarga.

Menjadi suami adalah belajar menjaga amanah, kesetiaan, komunikasi dan kasih sayang.

Dan menjadi manusia berusia 50 tahun bukan berarti selesai.

Justru saya merasa sedang memasuki babak kehidupan ketika pertanyaan terbesar bukan lagi:

“Apa yang akan saya dapatkan?”

Tetapi:

“Apa yang masih bisa saya tinggalkan?”

Itulah kemerdekaan bagi saya hari ini.

Merdeka dari ego untuk belajar memberi.

3. Kemerdekaan Tidak Berarti Bebas dari Masalah

Sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Padang Panjang Timur, saya bertemu dengan manusia dalam berbagai keadaan.

Ada keluarga yang sedang retak.

Ada pasangan suami istri yang kehilangan komunikasi.

Ada persoalan nafkah.

Ada konflik rumah tangga.

Ada persoalan hak dan kewajiban.

Ada orang yang membutuhkan pendampingan keagamaan.

Ada masyarakat yang berbeda pandangan.

Ada persoalan kerukunan.

Ada persoalan ekonomi.

Ada anak-anak muda yang menghadapi ancaman narkoba.

Ada pula warga binaan yang harus menjalani kehidupan di balik jeruji.

Semua itu mengajarkan kepada saya bahwa kemerdekaan tidak berarti hidup tanpa masalah.

Indonesia merdeka bukan berarti seluruh rakyat otomatis sejahtera.

Keluarga merdeka bukan berarti tidak pernah bertengkar.

Masyarakat yang rukun bukan berarti tidak memiliki perbedaan.

Seorang penyuluh bukan berarti tidak pernah menghadapi kesulitan.

Kemerdekaan justru terlihat dari cara kita menghadapi masalah tanpa kehilangan iman, akal sehat dan kemanusiaan.

Karena itu saya semakin percaya bahwa penyuluhan agama bukan sekadar menyampaikan ceramah.

Penyuluhan adalah menemani manusia menemukan jalan pulang.

Pulang kepada Allah.

Pulang kepada keluarga.

Pulang kepada kedamaian.

Pulang kepada persaudaraan.

4. Kemerdekaan Bagiku Adalah Membebaskan Manusia dari Kemusyrikan

Sebagai seorang muslim, saya tidak bisa memaknai kemerdekaan tanpa tauhid.

Sebab penjajahan paling berat bukan selalu penjajahan oleh manusia.

Ada penjajahan hati.

Manusia dapat diperbudak oleh harta.

Diperbudak jabatan.

Diperbudak popularitas.

Diperbudak pujian.

Diperbudak ketakutan.

Diperbudak hawa nafsu.

Bahkan diperbudak oleh dirinya sendiri.

Karena itu, saya ingin kemerdekaan Indonesia 81 tahun ini menjadi momentum untuk mengingat kembali kemerdekaan paling mendasar:

La ilaha illallah.

Tidak ada yang berhak disembah selain Allah.

Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk.

Tauhid membuat seseorang berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.

Tauhid membuat jabatan tidak membuat manusia sombong.

Tauhid membuat kekuasaan tidak menjadi alat menindas.

Tauhid membuat harta menjadi sarana, bukan tujuan.

Tauhid membuat manusia memahami bahwa seluruh kehidupan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

5. Kemerdekaan Bagiku Juga Berarti Merdeka dari Hawa Nafsu dan Ego

Dalam perjalanan pengabdian, saya belajar bahwa tantangan terbesar kadang bukan orang lain.

Tantangan terbesar adalah diri sendiri.

Ego ingin dihargai.

Nafsu ingin dipuji.

Hati ingin dianggap paling benar.

Jabatan terkadang menggoda manusia untuk merasa lebih tinggi.

Ilmu terkadang membuat seseorang lupa bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Pengalaman terkadang membuat seseorang sulit menerima kritik.

Maka kemerdekaan sejati juga berarti mampu mengatakan:

“Saya bisa salah.”

Mampu meminta maaf.

Mampu menerima nasihat.

Mampu mendengarkan.

Mampu menghargai perbedaan.

Mampu mengendalikan emosi.

Dan mampu mengalah ketika mengalah menjadi jalan menuju kebaikan.

Saya semakin memahami bahwa orang yang mampu mengendalikan dirinya justru adalah orang yang paling merdeka.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan fisik, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Betapa relevannya pesan itu bagi kehidupan keluarga, masyarakat, birokrasi, organisasi dan kehidupan berbangsa.

6. Dari Keluarga Saya Belajar Arti Kemerdekaan yang Paling Sederhana

Ada satu tempat di mana seluruh teori tentang kemerdekaan diuji:

rumah.

Di rumah, kita tidak bisa bersembunyi di balik jabatan.

Tidak ada pangkat.

Tidak ada protokoler.

Tidak ada mikrofon.

Tidak ada podium.

Yang ada hanyalah suami, istri, anak-anak, dan kehidupan sehari-hari.

Bersama Mira, saya belajar bahwa perjalanan rumah tangga bukan perjalanan tanpa masalah.

Tetapi rumah tangga adalah tempat dua manusia belajar saling memahami.

Pernikahan yang telah berjalan panjang mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan.

Cinta adalah kesediaan untuk tetap merawat.

Tetap berbicara.

Tetap mendengarkan.

Tetap memaafkan.

Tetap menjaga kehormatan.

Dan tetap berusaha menjadi pasangan yang lebih baik.

Karena itu, kemerdekaan dalam rumah tangga bukan berarti suami bebas melakukan apa saja atau istri bebas melakukan apa saja.

Kemerdekaan rumah tangga adalah ketika suami dan istri sama-sama merasa aman untuk menjadi manusia, tetapi tetap bertanggung jawab sebagai hamba Allah.

7. Dari IPARI Saya Belajar Bahwa Kemerdekaan Harus Digerakkan Bersama

Pengabdian sebagai bagian dari IPARI Kota Padang Panjang, bahkan sebagai ketuanya, membuka ruang yang lebih luas bagi saya.

Saya melihat bahwa penyuluh agama tidak boleh hanya bekerja di balik meja.

Penyuluh harus hadir.

Hadir di tengah masyarakat.

Hadir ketika ada persoalan.

Hadir ketika ada konflik.

Hadir ketika masjid membutuhkan gerakan.

Hadir ketika keluarga membutuhkan pendampingan.

Hadir ketika generasi muda membutuhkan arah.

Hadir ketika masyarakat membutuhkan narasi agama yang menyejukkan.

Semangat itu kemudian kami dorong melalui berbagai gerakan.

Gerakan literasi.

Moderasi beragama.

Kerukunan.

Pembinaan masyarakat.

Gerakan kebersihan masjid.

Kegiatan keagamaan.

Pembinaan warga binaan.

Ekoteologi.

Dan berbagai kegiatan sosial lainnya.

Saya semakin yakin bahwa kemerdekaan tidak boleh hanya dirayakan dengan upacara.

Kemerdekaan harus dihidupkan melalui gerakan.

Karena itu saya menyukai semangat:

Penyuluh Agama Islam Bergerak.

Bukan sekadar slogan.

Tetapi sebuah panggilan.

8. Masjid Mengajarkan Saya: Merdeka Itu Bersih Hati dan Bersih Lingkungan

Dalam berbagai gerakan bersih-bersih masjid, termasuk kegiatan di Masjid Asasi Sigando dan Mushalla Diinulhaq Koto Tuo Panyalaian, saya menemukan pelajaran sederhana tetapi sangat dalam.

Kita sering berbicara tentang membersihkan hati.

Tetapi Allah juga mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan tempat ibadah dan lingkungan.

Masjid bukan hanya tempat shalat.

Masjid adalah pusat peradaban.

Masjid adalah tempat manusia belajar.

Tempat bersaudara.

Tempat bermusyawarah.

Tempat membangun kepedulian.

Karena itu saya menyukai pesan:

“Masjid Bersih, Hati Suci, Indonesia Maju... Merdeka!”

Kalimat itu bagi saya bukan sekadar slogan kegiatan.

Ia adalah filosofi.

Bangsa yang ingin maju membutuhkan lingkungan yang bersih.

Tetapi lebih dari itu, membutuhkan hati manusia yang bersih.

Bersih dari kebencian.

Bersih dari kesombongan.

Bersih dari korupsi.

Bersih dari permusuhan.

Bersih dari fitnah.

Bersih dari sikap merasa paling benar sendiri.

9. Di Balik Jeruji, Saya Menemukan Makna Kemerdekaan yang Berbeda

Pengalaman mendampingi pembinaan keagamaan warga binaan Rutan Kelas IIB Padang Panjang memberi saya pelajaran yang sangat manusiawi.

Ada manusia yang secara fisik kehilangan kebebasan.

Tetapi di dalam dirinya masih ada pintu menuju Allah.

Melalui doa.

Melalui zikir.

Melalui taubat.

Melalui Al-Qur'an.

Melalui kesadaran.

Saya pernah terlibat dalam kegiatan Doa dan Zikir Kebangsaan bersama keluarga besar warga binaan dalam menyambut HUT RI ke-81.

Di sana saya semakin memahami:

kemerdekaan fisik adalah karunia, tetapi kemerdekaan jiwa adalah perjuangan.

Seseorang mungkin berada di balik jeruji, tetapi hatinya dapat menemukan Allah.

Sebaliknya, seseorang mungkin berjalan bebas di jalan raya, tetapi hatinya terpenjara oleh narkoba, hawa nafsu, keserakahan, kebencian atau dosa.

Maka tugas dakwah adalah membuka pintu-pintu pembebasan itu.

Membebaskan manusia dari keputusasaan.

Menghidupkan harapan.

Mengajarkan taubat.

Dan meyakinkan manusia bahwa selama hayat belum berakhir, pintu kembali kepada Allah masih terbuka.

10. Saya Belajar Bahwa Kemerdekaan Harus Menjaga Persatuan

Dalam kehidupan masyarakat, saya bertemu dengan perbedaan.

Perbedaan mazhab.

Perbedaan pemikiran.

Perbedaan organisasi.

Perbedaan latar belakang.

Perbedaan pilihan.

Perbedaan kepentingan.

Sebagai Penyuluh Agama Islam dan bagian dari gerakan moderasi beragama, saya belajar bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk bermusuhan.

Indonesia dibangun bukan karena kita sama.

Indonesia dibangun karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan.

Maka bagi saya, kemerdekaan adalah ketika seorang muslim mampu menjalankan agamanya dengan baik sekaligus menghormati hak orang lain.

Kemerdekaan adalah ketika masjid menjadi tempat menebarkan rahmat, bukan kebencian.

Kemerdekaan adalah ketika perbedaan pendapat diselesaikan dengan ilmu dan adab.

Kemerdekaan adalah ketika konflik diselesaikan dengan dialog, bukan kekerasan.

Kemerdekaan adalah ketika agama menjadi sumber kedamaian.

11. Ekoteologi Mengajarkan: Indonesia Merdeka Harus Merdeka dari Kerusakan

Ketika berbicara tentang ekoteologi, saya semakin menyadari bahwa menjaga lingkungan juga bagian dari amanah agama.

Allah tidak menciptakan bumi tanpa tujuan.

Manusia diberi amanah sebagai khalifah.

Karena itu, membuang sampah sembarangan bukan persoalan kecil.

Merusak alam bukan hanya persoalan ekologis.

Ia juga persoalan moral.

Kita tidak mungkin berbicara tentang Indonesia maju jika sungai tercemar.

Kita tidak mungkin berbicara tentang generasi emas jika lingkungan mereka rusak.

Kita tidak mungkin berbicara tentang syukur kepada Allah jika nikmat bumi kita rusak dengan tangan sendiri.

Maka kemerdekaan ke depan harus melahirkan manusia yang merdeka dari keserakahan terhadap alam.

Indonesia merdeka harus menjadi Indonesia yang menjaga bumi.

12. Kemerdekaan Ekonomi Adalah Ketika Masyarakat Mampu Berdiri dengan Martabat

Dalam perjalanan penyuluhan, saya juga berhadapan dengan persoalan ekonomi umat.

Zakat.

Bantuan sosial keagamaan.

Pemberdayaan mustahik.

Koperasi syariah.

Bantuan bergulir.

Dan berbagai ikhtiar untuk membuat masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu bangkit.

Saya belajar bahwa memberi bantuan memang baik.

Tetapi memberdayakan jauh lebih baik.

Sebab tujuan akhirnya bukan membuat seseorang terus menjadi penerima.

Tujuannya adalah membuat ia mampu berdiri.

Mampu bekerja.

Mampu berusaha.

Mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Bahkan suatu hari mampu menjadi pemberi zakat.

Itulah kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya:

dari mustahik menjadi muzakki.

13. Saya Juga Belajar bahwa Kemerdekaan Membutuhkan Literasi

Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak sangat cepat.

Masyarakat membutuhkan agama yang benar.

Tetapi agama yang benar juga harus disampaikan dengan cara yang dapat dipahami generasi zaman ini.

Karena itu saya mencoba bergerak melalui tulisan, poster, video, media sosial, materi khutbah, ceramah dan berbagai bentuk komunikasi publik.

Saya percaya dakwah hari ini tidak cukup hanya menunggu orang datang ke masjid.

Dakwah juga harus hadir di ruang digital.

Jika informasi yang salah dapat masuk ke rumah melalui telepon genggam, maka pesan kebaikan juga harus mampu masuk melalui pintu yang sama.

Inilah salah satu bentuk kemerdekaan baru:

kemerdekaan untuk menggunakan teknologi sebagai sarana kebaikan.

14. Pengalaman UKOM Mengajarkan Saya untuk Tidak Berhenti Belajar

Pada perjalanan karier sebagai Penyuluh Agama Islam, saya juga menghadapi tuntutan profesionalitas.

Pengalaman mengikuti proses UKOM menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak cukup hanya bermodal pengalaman.

Dunia berubah.

Teknologi berubah.

Sistem kerja berubah.

Penyuluh pun harus berubah dan terus belajar.

Pengenalan terhadap sistem digital seperti e-PA dan tuntutan pengisian kinerja mengingatkan saya bahwa profesionalitas adalah bagian dari amanah.

Saya ingin menjadi penyuluh yang bukan hanya lama mengabdi, tetapi juga terus bertumbuh.

Sebab masa kerja yang panjang tidak otomatis menjadikan seseorang matang.

Yang membuat seseorang matang adalah kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman.

15. Delapan Puluh Satu Tahun Indonesia Merdeka: Apa yang Harus Kita Syukuri?

Saya bersyukur menjadi bagian dari Indonesia.

Saya lahir, tumbuh dan mengabdi di negeri ini.

Di negeri yang mungkin belum sempurna.

Tetapi negeri yang memberi kita ruang untuk beribadah.

Ruang untuk belajar.

Ruang untuk bekerja.

Ruang untuk berdakwah.

Ruang untuk membangun keluarga.

Ruang untuk berorganisasi.

Ruang untuk menyampaikan pendapat.

Dan ruang untuk terus memperbaiki diri.

Karena itu, pada usia Indonesia yang ke-81, saya tidak ingin hanya bertanya:

“Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya?”

Saya ingin mengubah pertanyaan itu menjadi:

“Apa yang sudah saya berikan kepada Indonesia?”

Mungkin saya bukan pahlawan.

Saya tidak mengangkat senjata.

Saya tidak berada di medan perang.

Tetapi saya percaya setiap zaman memiliki medan perjuangannya sendiri.

Dan medan perjuangan saya adalah:

keluarga, dakwah, masyarakat, masjid, pelayanan, kerukunan dan kemanusiaan.

16. Kemerdekaan Bagiku Adalah Menjadi Penyuluh yang Terus Hadir

Jika kelak orang bertanya kepada saya:

“Apa arti kemerdekaan bagimu?”

Mungkin saya akan menjawab:

Kemerdekaan bagiku adalah ketika ilmu yang saya miliki dapat menerangi orang lain.

Kemerdekaan adalah ketika dakwah yang saya sampaikan mampu menenangkan, bukan menakut-nakuti.

Kemerdekaan adalah ketika keluarga yang hampir retak menemukan jalan damai.

Kemerdekaan adalah ketika masyarakat yang berbeda dapat duduk bersama.

Kemerdekaan adalah ketika warga binaan menemukan harapan.

Kemerdekaan adalah ketika masjid menjadi bersih, hidup dan memakmurkan masyarakat.

Kemerdekaan adalah ketika zakat mampu mengangkat martabat mustahik.

Kemerdekaan adalah ketika generasi muda mampu menjauh dari narkoba dan kehancuran.

Kemerdekaan adalah ketika alam dijaga sebagai amanah Allah.

Kemerdekaan adalah ketika teknologi digunakan untuk menyebarkan kebaikan.

Dan yang paling utama:

kemerdekaan adalah ketika hati saya hanya tunduk kepada Allah.

17. Dari Usia 50 Menuju Sisa Perjalanan

Saya tidak tahu berapa panjang perjalanan yang masih Allah berikan.

Lima tahun?

Sepuluh tahun?

Dua puluh tahun?

Atau mungkin hanya sebentar?

Tidak ada seorang pun yang tahu.

Tetapi usia 50 tahun membuat saya semakin sadar bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita berada di dunia.

Hidup adalah tentang berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan selama berada di dunia.

Saya ingin sisa usia ini menjadi usia pengabdian yang lebih matang.

Lebih sedikit bicara tentang diri sendiri.

Lebih banyak mendengar.

Lebih sedikit mengejar pengakuan.

Lebih banyak memberi manfaat.

Lebih sedikit mempertahankan ego.

Lebih banyak mencari ridha Allah.

Saya ingin terus menjadi Penyuluh Agama Islam yang hadir di tengah masyarakat.

Saya ingin terus menghidupkan semangat Penyuluh Agama Islam Bergerak.

Saya ingin terus menjaga keluarga.

Terus mendampingi anak-anak.

Terus belajar.

Terus berdakwah.

Terus membangun kerukunan.

Terus menghidupkan masjid.

Terus mengajak masyarakat menjaga lingkungan.

Terus mendampingi mereka yang membutuhkan.

Dan suatu hari, jika Allah memberikan kesempatan, saya ingin menutup perjalanan panjang ini dengan ibadah yang saya dambakan: menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

18. Untuk Indonesia di Usia 81 Tahun

Indonesia, engkau telah berusia 81 tahun.

Tetapi tugasmu belum selesai.

Masih ada kemiskinan yang harus diperangi.

Masih ada kebodohan yang harus diterangi.

Masih ada narkoba yang harus dilawan.

Masih ada keluarga yang harus diselamatkan.

Masih ada anak-anak yang harus dididik.

Masih ada konflik yang harus didamaikan.

Masih ada lingkungan yang harus dijaga.

Masih ada umat yang harus diberdayakan.

Dan masih ada generasi muda yang harus diyakinkan bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.

Maka kepada Indonesia, saya tidak hanya mengucapkan:

Dirgahayu.

Saya juga menitipkan doa:

Semoga Indonesia menjadi negeri yang semakin adil.

Semakin damai.

Semakin sejahtera.

Semakin beradab.

Semakin kuat persatuannya.

Dan semakin dekat nilai kehidupan bangsanya kepada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan.

19. Sebuah Janji untuk Sisa Pengabdian

Pada akhirnya saya memahami satu hal.

Kemerdekaan bukanlah hadiah yang selesai dirayakan.

Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga.

Para pejuang telah memerdekakan bangsa ini dari penjajahan.

Maka generasi kita harus melanjutkan perjuangan dengan cara kita sendiri.

Saya mungkin hanya seorang Penyuluh Agama Islam.

Tetapi saya ingin percaya bahwa satu nasihat yang menyelamatkan sebuah keluarga adalah bagian dari perjuangan.

Satu anak yang berhasil dijauhkan dari narkoba adalah bagian dari perjuangan.

Satu konflik yang berhasil didamaikan adalah bagian dari perjuangan.

Satu warga binaan yang kembali berharap kepada Allah adalah bagian dari perjuangan.

Satu masjid yang kembali bersih dan hidup adalah bagian dari perjuangan.

Satu mustahik yang bangkit menjadi mandiri adalah bagian dari perjuangan.

Satu masyarakat yang berbeda tetapi tetap rukun adalah bagian dari perjuangan.

Dan satu hati yang kembali tunduk kepada Allah adalah bagian dari perjuangan terbesar.

EPILOG

Merdeka untuk Mengabdi, Merdeka untuk Berarti

Kini, ketika Merah Putih kembali berkibar pada peringatan 81 tahun Indonesia merdeka, saya berdiri sebagai seorang anak bangsa yang telah memasuki usia 50 tahun.

Saya menatap bendera itu bukan hanya dengan mata.

Tetapi dengan seluruh perjalanan hidup.

Ada masa muda.

Ada keluarga.

Ada pekerjaan.

Ada jabatan.

Ada suka.

Ada duka.

Ada keberhasilan.

Ada kegagalan.

Ada orang-orang yang datang.

Ada orang-orang yang pergi.

Ada amanah yang telah selesai.

Ada amanah yang masih harus ditunaikan.

Dan di atas semuanya, ada Allah yang sejak awal hingga akhir tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Karena itu, makna kemerdekaan bagi saya akhirnya menjadi sangat sederhana:

Saya ingin merdeka dari segala sesuatu yang menjauhkan saya dari Allah, agar saya bebas mengabdi kepada-Nya melalui pengabdian kepada manusia.

Saya ingin merdeka dari ego agar mampu melayani.

Merdeka dari kesombongan agar mampu belajar.

Merdeka dari kebencian agar mampu mendamaikan.

Merdeka dari kemalasan agar mampu bergerak.

Merdeka dari keputusasaan agar mampu menyalakan harapan.

Merdeka dari keterikatan dunia agar mampu mengejar akhirat.

Dan ketika suatu hari nanti perjalanan ini berakhir, saya berharap orang tidak mengingat saya karena jabatan yang pernah saya duduki.

Tidak pula karena banyaknya gelar yang melekat di belakang nama.

Tetapi karena pernah ada seorang Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur, yang berusaha hadir, bergerak dan memberikan manfaat.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang paling indah bukanlah ketika manusia dapat berkata:

“Aku bebas melakukan apa saja.”

Tetapi ketika seorang hamba mampu berkata:

“Aku bebas dari penghambaan kepada selain Allah, dan aku memilih mengabdikan sisa hidupku untuk kebaikan.”

Itulah makna kemerdekaan bagiku.

81 tahun Indonesia Merdeka.

Merdeka bangsanya.
Merdeka jiwanya.
Merdeka dari kemusyrikan.
Merdeka dari hawa nafsu.
Merdeka dari kebencian.
Merdeka dari perpecahan.
Merdeka dari kebodohan.
Merdeka untuk mengabdi.
Merdeka untuk memberi arti.

Dan akhirnya:

MERDEKA UNTUK MENJADI HAMBA ALLAH.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Indonesia Merdeka, Indonesia Bersatu, Indonesia Maju.

Masjid Bersih, Hati Suci, Indonesia Maju.

Penyuluh Agama Islam Bergerak.

Untuk Indonesia yang lebih damai, religius, berdaya, berkeadaban dan penuh rahmat.


#penyuluhagamaislambergerak