Jumat, 25 September 2026

BAHAYA KONGKALIKONG DALAM AL-QUR’AN

 


BAHAYA KONGKALIKONG DALAM AL-QUR’AN

Ketika Kepentingan Pribadi Mengalahkan Amanah dan Kebenaran

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada satu penyakit sosial yang kadang sulit dikenali karena ia tidak selalu datang dengan wajah yang kasar.

Ia bisa datang dalam bentuk senyuman.

Dalam bentuk pertemanan.

Dalam bentuk rasa sungkan.

Dalam bentuk “tolong bantu saya”.

Dalam bentuk “kita sama-sama enak”.

Bahkan kadang dibungkus dengan kalimat yang terdengar begitu biasa:

“Jangan khawatir, ada orang dalam.”

“Bisa kita atur.”

“Yang penting sama-sama dapat.”

“Ini rahasia kita saja.”

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Sebab ketika sebuah kesepakatan mulai membutuhkan kerahasiaan, mengabaikan aturan, merugikan pihak lain, atau membeli keputusan dengan imbalan tertentu, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan antarmanusia.

Ia sudah menyentuh wilayah amanah, kejujuran, keadilan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Itulah yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut kongkalikong.

Ketika yang Salah Terlihat Biasa

Kongkalikong tidak selalu dimulai dari kejahatan besar.

Kadang dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil.

Titip absen.

Meminta seseorang mengubah data.

Memanfaatkan kedekatan untuk mendapatkan pelayanan khusus.

Memberikan sesuatu agar urusan dipercepat.

Mengatur sebuah keputusan sebelum prosesnya berlangsung.

Menutup mata terhadap kesalahan teman karena hubungan kekeluargaan.

Lalu kita mengatakan:

“Ah, cuma begitu.”

Masalahnya, dosa tidak selalu terasa berat ketika pertama kali dilakukan.

Yang lebih berbahaya adalah ketika hati mulai terbiasa dengan yang salah.

Hari ini mungkin kita hanya menutup mata.

Besok ikut membantu.

Lusa mendapatkan keuntungan.

Lama-kelamaan kita tidak lagi merasa bahwa itu sebuah kesalahan.

Di sinilah agama kehilangan daya kendalinya dalam kehidupan.

Al-Qur’an Sudah Mengingatkan

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”

QS. Al-Ma’idah [5]: 2

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita.

Islam tidak melarang kerja sama.

Justru Islam memerintahkan manusia untuk saling membantu.

Tetapi ada batas yang sangat jelas:

Bantu dalam kebaikan, jangan bantu dalam dosa.

Membantu orang mendapatkan haknya adalah kebaikan.

Membantu orang memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak benar adalah persoalan lain.

Membantu orang yang kesulitan adalah ibadah.

Tetapi membantu seseorang menipu, menyuap, memanipulasi, atau merampas hak orang lain bukanlah solidaritas.

Itu adalah kerja sama dalam dosa.

Kongkalikong dan Realitas Sosial Kita

Kita tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat.

Dalam laporan SPI 2025, KPK mencatat indeks integritas nasional sebesar 72,32 dan menyatakan Indonesia masih berada dalam kategori rentan korupsi. KPK juga mencatat bahwa praktik seperti suap dan pungutan liar masih ditemukan dan dalam sejumlah konteks masih mengalami normalisasi.

Angka itu bukan sekadar angka statistik.

Ia seharusnya menjadi cermin moral.

Sebab korupsi besar tidak muncul begitu saja.

Ia dapat tumbuh dari budaya kecil yang membiarkan ketidakjujuran.

Dari kebiasaan menggunakan koneksi untuk kepentingan pribadi.

Dari pembenaran terhadap pemberian “uang terima kasih” yang sebenarnya berkaitan dengan kewenangan.

Dari keberanian mengatakan:

“Semua orang juga melakukannya.”

Padahal banyaknya orang yang melakukan sesuatu tidak otomatis membuat sesuatu itu menjadi benar.

Ketika “Orang Dalam” Mengalahkan Orang yang Berhak

Salah satu bentuk kongkalikong yang paling merusak adalah ketika kedekatan menggantikan kelayakan.

Orang yang memenuhi syarat kalah karena tidak punya koneksi.

Orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan harus menunggu karena tidak memberikan sesuatu.

Orang yang jujur justru dianggap naif karena tidak mau bermain “di belakang layar”.

Jika kebiasaan seperti ini terus dibiarkan, masyarakat akhirnya belajar satu hal yang sangat berbahaya:

“Untuk mendapatkan hak, tidak cukup menjadi benar. Kita harus punya orang dalam.”

Jika pemikiran itu sudah menjadi budaya, maka yang sedang kita rusak bukan hanya sebuah aturan.

Kita sedang merusak kepercayaan sosial.

Jangan Memakan Harta dengan Cara yang Batil

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”

QS. Al-Baqarah [2]: 188

Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan harta bukan hanya soal berapa jumlahnya, tetapi juga dari mana datangnya dan bagaimana cara mendapatkannya.

Ada uang yang jumlahnya kecil tetapi penuh keberkahan.

Ada pula keuntungan besar yang justru membawa persoalan panjang karena diperoleh dengan cara yang batil.

Karena itu, seorang Muslim tidak cukup bertanya:

“Berapa yang saya dapat?”

Tetapi harus bertanya:

“Dari mana saya mendapatkannya?”

“Apakah ini hak saya?”

“Apakah ada orang lain yang dirugikan?”

“Apakah Allah meridhainya?”

Amanah Tidak Boleh Diperjualbelikan

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

QS. An-Nisa’ [4]: 58

Ayat ini memiliki pesan yang sangat dalam.

Ketika seseorang diberi jabatan, kewenangan, kepercayaan, atau tanggung jawab, ia sebenarnya sedang memegang amanah.

Jabatan bukan milik pribadi.

Kewenangan bukan alat untuk membalas jasa.

Pelayanan bukan barang dagangan.

Keputusan bukan sesuatu yang boleh diperjualbelikan.

Maka semakin tinggi amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.

Bahaya Terbesar: Hati Tidak Lagi Merasa Berdosa

Ada kerusakan yang lebih berbahaya daripada kehilangan uang.

Yaitu kehilangan rasa bersalah ketika melakukan kesalahan.

Ketika seseorang pertama kali menerima sesuatu yang tidak semestinya, mungkin hatinya gelisah.

Tetapi jika diulang terus-menerus, hati bisa terbiasa.

Akhirnya:

yang salah dianggap biasa,

yang haram dianggap rezeki,

yang curang dianggap strategi,

yang jujur dianggap bodoh.

Pada titik itulah agama hanya tinggal identitas.

Kita mungkin rajin beribadah secara ritual, tetapi nilai-nilai ibadah belum sepenuhnya masuk ke dalam perilaku sosial.

Padahal shalat seharusnya membentuk pribadi yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

Puasa seharusnya membentuk ketakwaan.

Zakat seharusnya menumbuhkan kepedulian dan kebersihan harta.

Al-Qur’an seharusnya membentuk kejujuran.

Agama tidak cukup hanya terdengar dari lisan. Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Jangan Sampai Kesalehan Berhenti di Rumah Ibadah

Inilah tantangan keberagamaan kita.

Seseorang bisa sangat khusyuk ketika berdoa, tetapi bagaimana ketika berhadapan dengan uang?

Bisa sangat fasih membaca ayat, tetapi bagaimana ketika memiliki kewenangan?

Bisa rajin menghadiri majelis taklim, tetapi bagaimana ketika seorang teman meminta bantuan untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak benar?

Di sinilah kualitas keberagamaan diuji.

Kesalehan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah.

Ia juga harus melahirkan kejujuran dalam hubungan horizontal dengan manusia.

Karena itu, keberagamaan yang kuat bukan hanya membuat seseorang rajin beribadah.

Tetapi juga membuatnya sulit melakukan kezaliman.

Kongkalikong Selalu Mempunyai Korban

Kadang orang yang melakukan kongkalikong merasa:

“Saya tidak merugikan siapa-siapa.”

Benarkah?

Jika seseorang memperoleh sesuatu karena koneksi, mungkin ada orang lain yang lebih berhak tetapi kehilangan kesempatan.

Jika seseorang memperoleh pelayanan khusus karena memberikan imbalan, mungkin ada orang lain yang harus menunggu.

Jika sebuah keputusan sudah diatur sebelumnya, mungkin ada pihak yang tidak pernah mendapatkan kesempatan yang adil.

Karena itu, kongkalikong bukan sekadar persoalan dua orang yang membuat kesepakatan.

Sering kali ada pihak ketiga yang tidak terlihat tetapi menanggung kerugian.

Itulah sebabnya Islam sangat menekankan keadilan.

Kita Tidak Harus Menjadi Hebat untuk Menjadi Jujur

Membangun budaya antikongkalikong tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar.

Ia bisa dimulai dari diri sendiri.

Ketika tidak berhak, kita mengatakan:

“Saya tidak berhak.”

Ketika mendapat kelebihan yang bukan milik kita:

“Ini bukan bagian saya.”

Ketika diminta melakukan sesuatu yang salah:

“Maaf, saya tidak bisa.”

Ketika mengetahui kesalahan:

“Mari kita perbaiki.”

Ketika diberi amanah:

“Saya akan menjaganya.”

Inilah bentuk keberagamaan yang nyata.

Lima Pertanyaan Sebelum Kita “Membantu” Seseorang

Sebelum membantu seseorang, mari bertanya:

1. Apakah dia memang berhak?

2. Apakah cara yang saya gunakan benar?

3. Apakah ada pihak lain yang dirugikan?

4. Apakah saya berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

5. Jika kesepakatan ini diketahui semua orang, apakah saya tetap merasa tenang?

Jika jawabannya membuat hati gelisah, berhentilah sejenak.

Sebab bisa jadi hati sedang memberikan peringatan.

Allah Melihat Apa yang Tidak Dilihat Manusia

Allah SWT berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?”

QS. Al-‘Alaq [96]: 14

Inilah fondasi kesadaran beragama.

Mungkin manusia tidak tahu.

Mungkin atasan tidak tahu.

Mungkin keluarga tidak tahu.

Mungkin masyarakat tidak tahu.

Tetapi Allah tahu.

Kesadaran seperti inilah yang harus kita hidupkan kembali.

Bukan sekadar takut kepada kamera pengawas.

Bukan sekadar takut kepada pemeriksa.

Bukan sekadar takut kepada hukum.

Tetapi memiliki rasa takut kepada Allah bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Membangun Keberagamaan yang Berintegritas

Masyarakat membutuhkan keberagamaan yang tidak berhenti pada simbol.

Kita membutuhkan umat yang:

Rajin beribadah — sekaligus jujur.

Banyak berdoa — sekaligus amanah.

Mencintai Al-Qur’an — sekaligus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman perilaku.

Menghormati ulama — sekaligus menghormati hak orang lain.

Berbicara tentang akhirat — sekaligus menjaga urusan dunia dengan penuh tanggung jawab.

Inilah keberagamaan yang hidup.

Keberagamaan yang tidak hanya memenuhi masjid, tetapi juga menghadirkan kejujuran di kantor.

Tidak hanya terdengar dalam ceramah, tetapi juga terlihat dalam transaksi.

Tidak hanya tampak dalam pakaian, tetapi juga tercermin dalam amanah.

Penutup: Lebih Baik Kehilangan Keuntungan daripada Kehilangan Keberkahan

Kongkalikong mungkin memberikan keuntungan dalam waktu singkat.

Tetapi kita tidak pernah tahu berapa panjang dampaknya.

Sebab yang kita cari sebagai seorang Muslim bukan sekadar keuntungan, melainkan keberkahan.

Kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh dari harta yang tidak jelas sumbernya.

Kita tidak ingin keluarga kita menikmati sesuatu yang diperoleh dengan merugikan orang lain.

Kita tidak ingin jabatan yang seharusnya menjadi jalan pengabdian justru menjadi sumber dosa.

Dan kita tentu tidak ingin ketika suatu hari berdiri di hadapan Allah, ternyata ada hak manusia yang masih melekat pada diri kita.

Maka mari kita mulai dari hal sederhana.

Jangan titipkan kejujuran kepada orang lain.

Jangan jual amanah demi keuntungan.

Jangan jadikan pertemanan sebagai jalan menuju ketidakadilan.

Jangan bantu seseorang mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.

Dan jangan pernah lupa:

Ketika manusia tidak melihat, Allah tetap melihat.

Ketika manusia lupa, Allah tidak pernah lupa.

Ketika manusia menutup sebuah rahasia, Allah mengetahui apa yang tersembunyi.

Karena itu, mari kita bangun keberagamaan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga jujur secara sosial.

Sebab ukuran keberagamaan kita bukan hanya seberapa sering kita menyebut nama Allah, tetapi juga seberapa takut kita mengkhianati amanah-Nya.

JANGAN BERSEKONGKOL DALAM DOSA, MESKI DUNIA MENAWARKAN KEUNTUNGAN.

LEBIH BAIK KEHILANGAN KEUNTUNGAN DARIPADA KEHILANGAN KEBERKAHAN.


Selasa, 22 September 2026

MENJADI LANSIA YANG BERSYUKUR DAN BAHAGIA MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

 


MENJADI LANSIA YANG BERSYUKUR DAN BAHAGIA MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Menikmati Usia Senja sebagai Anugerah, Bukan Beban

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang
Fasilitator Keluarga Sakinah

Usia terus bertambah. Rambut yang dahulu hitam perlahan memutih, langkah tidak lagi secepat dulu, pendengaran mungkin mulai berkurang, dan tubuh membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.

Namun, menjadi lanjut usia bukan berarti kehidupan telah selesai.

Justru, usia senja adalah kesempatan yang sangat berharga untuk semakin dekat kepada Allah, menikmati kasih sayang keluarga, berbagi pengalaman kepada generasi muda, serta mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal.

Dalam konteks Sekolah Lansia, kita perlu mengubah cara pandang terhadap masa tua. Lansia bukan sekadar orang yang membutuhkan perhatian, tetapi juga pribadi yang memiliki pengalaman, keteladanan, kearifan, dan peran penting dalam keluarga serta masyarakat.

Lansia adalah Anugerah yang Patut Disyukuri

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...”
(QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah kemampuan melihat kebaikan Allah di tengah berbagai keterbatasan.

Masih diberi umur adalah nikmat.
Masih bisa beribadah adalah nikmat.
Masih dapat berkumpul dengan keluarga adalah nikmat.
Masih bisa tersenyum, berbicara, berjalan, makan, dan menikmati udara pagi juga merupakan nikmat.

Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang sudah hilang, sampai lupa menghitung apa yang masih Allah titipkan.

Karena itu, lansia yang bersyukur bukanlah orang yang tidak mempunyai masalah. Ia adalah orang yang mampu berkata:

“Saya memang tidak sekuat dulu, tetapi Allah masih memberi saya kesempatan untuk berbuat baik.”

Bahagia Tidak Harus Menunggu Kaya atau Sehat Sempurna

Banyak orang mengira kebahagiaan hanya milik mereka yang sehat, memiliki banyak harta, atau selalu dikelilingi kesenangan.

Al-Qur’an memberikan ukuran yang berbeda. Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Inilah salah satu kunci kebahagiaan lansia: ketenangan hati.

Tubuh boleh melemah, tetapi hati jangan kehilangan harapan.

Penghasilan boleh berkurang, tetapi rasa syukur jangan berkurang.

Aktivitas boleh terbatas, tetapi ibadah dan kebaikan tetap dapat dilakukan.

Seorang lansia mungkin tidak lagi mampu bekerja seperti ketika muda, tetapi ia masih dapat berdoa untuk anak-anaknya. Ia dapat memberikan nasihat. Ia dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada cucu. Ia dapat tersenyum kepada tetangga. Ia dapat menjadi pendengar yang baik bagi pasangan dan keluarganya.

Semua itu adalah amal.

Sunnah Nabi: Menghargai Orang yang Lebih Tua

Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk menghormati orang yang lebih tua.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini sekaligus mengingatkan keluarga agar lansia tidak dipandang sebagai beban.

Orang tua yang sudah lanjut usia membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan obat. Mereka membutuhkan sapaan, perhatian, penghormatan, teman berbicara, dan rasa dihargai.

Terkadang yang dibutuhkan seorang ibu atau ayah bukan uang dalam jumlah besar.

Cukup anak datang dan berkata:

“Ayah, bagaimana kabarnya hari ini?”

Atau:

“Ibu, mari kita minum teh bersama.”

Kalimat sederhana, tetapi dapat menjadi sumber kebahagiaan yang luar biasa.

Sekolah Lansia: Belajar Tidak Mengenal Batas Usia

Sekolah Lansia bukan berarti menganggap lansia belum mengetahui apa-apa. Sebaliknya, Sekolah Lansia adalah ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, menjaga kesehatan, memperkuat spiritualitas, dan membangun kebahagiaan bersama.

Di usia senja, belajar tetap penting.

Belajar mengelola emosi.
Belajar menjaga kesehatan.
Belajar memahami perubahan dalam keluarga.
Belajar berkomunikasi dengan anak dan cucu.
Belajar menerima perubahan fisik.
Belajar memperbaiki ibadah.
Belajar mempersiapkan kehidupan akhirat.

Ada satu prinsip sederhana:

Selama masih diberi umur, masih ada kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik.

Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah di Usia Senja

Konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah sering dibicarakan ketika pasangan baru menikah. Padahal, nilai-nilai tersebut justru semakin penting ketika suami dan istri memasuki usia lanjut.

Sakinah berarti ketenteraman.

Pada masa tua, pasangan tidak selalu membutuhkan kemewahan. Yang lebih dibutuhkan adalah rasa aman: ada seseorang yang menemani, memahami, dan menerima kekurangan.

Mawaddah adalah cinta yang diwujudkan dalam perhatian.

Cinta di masa muda mungkin diwujudkan dengan bunga, hadiah atau perjalanan. Di usia senja, cinta dapat hadir dalam bentuk yang sederhana:

“Sudah minum obat?”
“Mari saya temani.”
“Biar saya bantu.”
“Tidak apa-apa, kita jalani bersama.”

Sementara rahmah adalah kasih sayang yang semakin luas ketika kekuatan fisik mulai berkurang.

Ketika suami mulai sulit berjalan, istri membantu.

Ketika istri mulai lupa sesuatu, suami bersabar.

Ketika pendengaran pasangan berkurang, jangan membentak; ulangi dengan lembut.

Ketika pasangan sakit, jangan hanya melihat kelemahannya, tetapi ingatlah seluruh perjalanan hidup yang telah dilalui bersama.

Bukankah dahulu kita berjanji untuk bersama dalam suka dan duka?

Maka usia senja adalah kesempatan untuk membuktikan janji itu.

Jangan Biarkan Kesepian Menguasai Hati

Salah satu tantangan kehidupan lansia adalah kesepian.

Anak-anak mungkin sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Rumah yang dahulu ramai perlahan menjadi lebih sepi.

Pada kondisi seperti ini, lansia perlu membangun lingkungan sosial yang sehat.

Berkumpul dengan sesama lansia, mengikuti kegiatan keagamaan, menghadiri pengajian, berolahraga, mengikuti kegiatan Sekolah Lansia, berkebun, membaca, atau melakukan aktivitas sosial dapat membantu menjaga semangat hidup.

Namun yang paling penting adalah tetap menjaga hubungan dengan Allah.

Kesepian tidak selalu berarti sendirian.

Orang yang dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendiri.

Jangan Terlalu Banyak Menyesali Masa Lalu

Ada lansia yang sering berkata:

“Seandainya dulu saya begini...”

“Seandainya saya tidak melakukan itu...”

“Seandainya waktu bisa kembali...”

Masa lalu memang tidak dapat diubah. Tetapi masa depan masih dapat diisi dengan kebaikan.

Allah tidak meminta kita mengulang masa lalu. Allah memberi kesempatan untuk memperbaiki hari ini.

Jika dahulu kurang membaca Al-Qur’an, mari mulai sekarang.

Jika dahulu jarang berdoa, mari perbanyak doa.

Jika dahulu pernah menyakiti seseorang, mari meminta maaf.

Jika hubungan dengan anak kurang baik, mari membuka pintu komunikasi.

Jika pernah melakukan kesalahan, mari bertaubat.

Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Allah selama nyawa masih berada di dalam tubuh.

Menjadi Lansia yang Memberi Manfaat

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, al-Mu‘jam al-Awsath; maknanya masyhur dalam literatur hadis)

Usia lanjut bukan alasan untuk berhenti bermanfaat.

Lansia dapat menjadi sumber nasihat bagi keluarga.

Dapat menjadi tempat cucu belajar adab.

Dapat menjadi teladan dalam kesabaran.

Dapat mengajarkan pengalaman hidup.

Dapat mendoakan anak-anak.

Dapat membantu kegiatan sosial sesuai kemampuan.

Bahkan senyuman dan keramahan seorang lansia dapat menjadi sedekah.

Tidak harus kuat untuk bermanfaat. Tidak harus kaya untuk berbagi.

Menjaga Hubungan dengan Anak dan Cucu

Ada kalanya orang tua merasa kecewa karena anak tidak selalu mengikuti keinginannya.

Sebaliknya, anak juga dapat merasa orang tua terlalu banyak menasihati atau mencampuri kehidupan mereka.

Di sinilah diperlukan komunikasi yang penuh kasih.

Orang tua perlu belajar mengatakan:

“Ayah dan Ibu mungkin tidak selalu benar. Kami hanya ingin yang terbaik untuk kalian.”

Anak juga perlu belajar mengatakan:

“Ayah, Ibu, kami mungkin tidak selalu bisa memenuhi semua keinginan, tetapi kami tetap menyayangi dan menghormati Ayah dan Ibu.”

Keluarga yang bahagia bukan keluarga tanpa perbedaan.

Keluarga bahagia adalah keluarga yang mampu menyelesaikan perbedaan dengan kasih sayang.

Lima Kebiasaan Lansia Bersyukur dan Bahagia

Agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai teori, mari membiasakan lima hal sederhana:

Pertama, awali hari dengan syukur.
Bangun tidur dan ucapkan Alhamdulillah. Sadari bahwa Allah masih memberikan satu hari lagi untuk berbuat baik.

Kedua, dekatkan diri kepada Allah.
Jaga salat, perbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa dan memohon ampun.

Ketiga, rawat hubungan keluarga.
Jangan pelit dengan senyum, salam, ucapan terima kasih, dan kata maaf.

Keempat, tetap aktif sesuai kemampuan.
Jaga kesehatan, bergerak, bersosialisasi, belajar dan melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Kelima, jangan berhenti memberi manfaat.
Bagikan pengalaman, ilmu, nasihat dan doa kepada generasi berikutnya.

Menutup Usia dengan Husnul Khatimah

Pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti. Ia adalah pengingat agar kita memanfaatkan waktu yang masih diberikan.

Karena itu, menjadi lansia yang bahagia bukan berarti berpura-pura bahwa tidak ada sakit, kehilangan, atau kesulitan.

Bahagia adalah ketika hati mampu menerima ketentuan Allah sambil terus berusaha menjadi lebih baik.

Boleh tubuh menua, tetapi semangat beribadah jangan ikut tua.

Boleh rambut memutih, tetapi hati jangan kehilangan cahaya.

Boleh langkah semakin lambat, tetapi langkah menuju Allah jangan berhenti.

Dan ketika suatu saat anak-anak dan cucu mengenang kita, semoga yang mereka ingat bukan hanya wajah kita, tetapi juga doa, kasih sayang, kesabaran, keteladanan, dan kebaikan yang pernah kita tinggalkan.

Pesan untuk Sahabat Lansia

Sahabatku yang telah memasuki usia senja...

Jangan merasa tidak berguna hanya karena tubuh tidak sekuat dahulu.

Jangan merasa hidup telah selesai hanya karena usia telah bertambah.

Jangan terlalu lama menangisi apa yang telah pergi.

Lihatlah apa yang masih Allah berikan.

Masih ada waktu untuk bersujud.

Masih ada waktu untuk memeluk anak dan cucu.

Masih ada waktu untuk meminta maaf.

Masih ada waktu untuk memaafkan.

Masih ada waktu untuk berbagi.

Masih ada waktu untuk tersenyum.

Dan yang paling penting:

Masih ada waktu untuk mendekat kepada Allah.

Mari jalani masa tua dengan iman yang semakin kuat, hati yang semakin lapang, keluarga yang semakin penuh kasih, tubuh yang dijaga semampunya, dan kehidupan yang semakin bermanfaat.

Karena usia senja bukan akhir perjalanan.

Ia adalah fase indah untuk memanen hikmah, memperbanyak syukur, menebarkan rahmah, dan mempersiapkan diri menuju perjumpaan dengan Allah SWT.

“Ya Allah, berkahilah usia kami, sehatkan tubuh kami, tenangkan hati kami, harmoniskan keluarga kami, ampuni dosa-dosa kami, jadikan sisa umur kami penuh kebaikan, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.”

Senin, 21 September 2026

Membaca Luka yang Sering Tidak Terucapkan dalam Rumah Tangga

 


Madrasah Keluarga Sakinah

Membaca Luka yang Sering Tidak Terucapkan dalam Rumah Tangga

“Abang itu kenapa sekarang apa-apa harus saya yang ikuti?”

Suara istrinya terdengar pelan. Tidak membentak. Tetapi ada sesuatu yang berat di balik kalimat itu.

Sang suami menarik napas.

“Saya cuma mengingatkan. Saya ingin keluarga kita baik.”

“Bukan mengingatkannya yang membuat saya capek. Tapi rasanya seperti saya tidak pernah dipercaya mengambil keputusan sendiri.”

Suasana rumah tiba-tiba hening.

Beberapa saat kemudian, giliran sang suami yang berkata,

“Dan saya juga merasa tidak pernah bebas berbuat baik kepada orang tua. Setiap kali saya membantu Ibu atau saudara, selalu dianggap lebih mementingkan mereka daripada keluarga sendiri.”

Keduanya diam.

Padahal, kalau dilihat dari luar, mereka bukan pasangan yang tidak saling mencintai.

Mereka hanya sedang sama-sama merasa tidak dimengerti.

Dan mungkin, kisah seperti ini tidak asing bagi banyak keluarga.

Ketika Suami Berkata: “Istri Saya Terlalu Mengatur”

Ada suami yang mengeluh,

“Sedikit-sedikit diingatkan. Mau melakukan sesuatu harus bilang. Mau bertemu teman ditanya. Mau membantu keluarga sendiri dipersoalkan. Saya seperti tidak dipercaya.”

Tetapi bisa jadi, di balik perilaku yang terlihat seperti “mengatur”, seorang istri sebenarnya sedang mencari rasa aman.

Ia ingin dilibatkan.

Ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.

Ia ingin merasa bahwa dirinya adalah pasangan hidup, bukan sekadar orang yang diberi tahu setelah keputusan dibuat.

Masalahnya, cara menyampaikan kebutuhan itu terkadang keliru.

Niatnya perhatian, tetapi yang terdengar menjadi perintah.

Niatnya ingin membantu, tetapi pasangan menangkapnya sebagai kritik.

Niatnya ingin menjaga keluarga, tetapi pasangan merasakannya sebagai pengawasan.

Di sinilah pasangan perlu belajar membedakan antara niat yang baik dan cara yang tepat.

Sebab niat baik tidak selalu menghasilkan perasaan yang baik apabila disampaikan dengan cara yang salah.

Ketika Istri Berkata: “Suami Saya Terlalu Memihak Keluarganya”

Di sisi lain, ada seorang istri yang berkata,

“Saya tidak pernah melarang suami berbakti kepada orang tuanya. Saya tahu itu kewajiban. Tetapi apakah setiap kali orang tuanya membutuhkan sesuatu, keluarga kami harus selalu mengalah?”

Kalimat ini penting untuk didengar.

Karena terkadang seorang istri bukan sedang memusuhi mertua.

Ia hanya sedang bertanya dalam hati:

“Di mana posisi saya dan anak-anak dalam prioritas suami saya?”

Seorang suami tentu memiliki kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”

(QS. Al-Isra’: 23)

Berbakti kepada orang tua adalah kemuliaan.

Tetapi setelah seseorang menikah dan memiliki keluarga, ia juga memikul amanah terhadap istri dan anak-anaknya.

Karena itu, persoalannya bukan:

“Harus memilih orang tua atau istri?”

Bukan.

Persoalannya adalah:

“Bagaimana seorang suami dapat berbakti kepada orang tuanya tanpa membuat istri dan anak-anak merasa kehilangan tempat dalam hidupnya?”

Di situlah kedewasaan rumah tangga diuji.

BUKAN SOAL SIAPA YANG SALAH

Banyak konflik rumah tangga menjadi semakin panjang karena masing-masing sibuk membuktikan bahwa dirinya benar.

Suami berkata:

“Kalau kamu tidak terlalu mengatur, saya juga tidak akan marah.”

Istri menjawab:

“Kalau kamu tidak terlalu memihak keluarga kamu, saya juga tidak akan banyak bicara.”

Akhirnya terbentuk lingkaran:

Suami merasa dikontrol → suami menjauh → istri merasa tidak diprioritaskan → istri semakin menuntut → suami merasa semakin dikontrol.

Begitu seterusnya.

Padahal yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah pengadilan untuk menentukan siapa yang paling benar.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan?”

Bukan:

“Kenapa kamu selalu begitu?”

Kalimat pertama membuka pintu.

Kalimat kedua sering membuat pasangan menutup diri.

ADA EMPAT HAL YANG PERLU DIBICARAKAN

Rumah tangga tidak cukup hanya dibangun dengan cinta.

Cinta perlu diterjemahkan menjadi kesepakatan.

1. Keuangan

Berapa yang menjadi kebutuhan keluarga inti?

Berapa yang dapat dialokasikan untuk membantu orang tua?

Bagaimana jika orang tua atau saudara membutuhkan bantuan mendadak?

Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan rumus matematika. Tetapi keterbukaan akan mengurangi kecurigaan.

Membantu keluarga besar tidak harus menjadi rahasia dari pasangan.

2. Waktu

Ada waktu untuk orang tua.

Ada waktu untuk pekerjaan.

Ada waktu untuk anak-anak.

Dan tentu saja ada waktu untuk suami dan istri.

Pasangan tidak seharusnya hanya mendapatkan “sisa waktu”.

Sebab terkadang yang membuat seseorang merasa tidak dicintai bukan kurangnya uang, melainkan kurangnya kehadiran.

3. Pengambilan keputusan

Keputusan yang menyangkut keluarga inti sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu antara suami dan istri.

Bukan berarti orang tua tidak boleh memberikan nasihat.

Tetapi pasangan hidup perlu merasakan bahwa dirinya adalah mitra utama dalam membangun rumah tangga.

Konsultasi kepada orang tua adalah bentuk penghormatan.

Musyawarah dengan pasangan adalah bentuk tanggung jawab.

Keduanya dapat berjalan bersama.

4. Batas yang sehat

Setelah menikah, seseorang tidak kehilangan orang tua dan saudara-saudaranya.

Tetapi ia juga sedang membangun sebuah keluarga baru.

Karena itu, diperlukan batas yang sehat.

Batas bukan berarti memutus hubungan.

Batas berarti mengetahui:

mana yang menjadi urusan keluarga inti, mana yang perlu dibicarakan dengan keluarga besar, dan mana yang sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu oleh suami dan istri.

Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang jauh dari keluarga besar.

Tetapi rumah tangga yang mampu menjaga hubungan dengan keluarga besar tanpa kehilangan keharmonisan keluarga inti.

SUAMI, COBA TANYAKAN INI KEPADA DIRI SENDIRI

Sebelum mengatakan, “Istri saya terlalu mengatur,” mungkin ada baiknya bertanya:

  • Apakah saya sudah cukup melibatkan istri dalam keputusan keluarga?

  • Apakah saya menjelaskan rencana ketika hendak membantu orang tua?

  • Apakah saya sudah memberikan rasa aman kepada istri?

  • Apakah saya menggunakan alasan “berbakti kepada orang tua” untuk menghindari persoalan yang sebenarnya perlu saya selesaikan dengan keluarga inti?

  • Apakah istri saya mendapatkan perhatian yang sama kuatnya dengan yang saya berikan kepada keluarga besar?

Bukan untuk menyalahkan diri.

Tetapi untuk memperbaiki diri.

ISTRI, COBA TANYAKAN INI KEPADA DIRI SENDIRI

Sebelum mengatakan, “Suami saya terlalu memihak keluarganya,” mungkin ada baiknya bertanya:

  • Apakah perhatian saya kepada suami sudah berubah menjadi kontrol?

  • Apakah saya menyampaikan kebutuhan dengan bahasa yang membuat suami merasa dihargai?

  • Apakah saya menghormati hubungan suami dengan orang tuanya?

  • Apakah setiap bantuan suami kepada keluarganya selalu saya anggap sebagai ancaman terhadap keluarga kami?

  • Apakah sebenarnya yang saya butuhkan bukan suami berhenti membantu keluarganya, tetapi saya ingin merasa lebih diperhatikan dan diprioritaskan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk mencari siapa yang salah.

Tetapi untuk menemukan apa yang perlu diperbaiki bersama.

JANGAN MEMBUAT PERNIKAHAN MENJADI PERLOMBAAN

Suami tidak perlu memenangkan perdebatan dengan istrinya.

Istri juga tidak perlu memenangkan pertengkaran dengan suaminya.

Sebab kalau suami menang dan istri terluka, apakah rumah tangga benar-benar menang?

Kalau istri berhasil membuktikan suaminya salah tetapi hubungan mereka semakin jauh, apakah itu kemenangan?

Dalam rumah tangga, kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika dua orang yang sempat berbeda akhirnya menemukan jalan untuk kembali berjalan bersama.

Karena itu, ubahlah beberapa kalimat sederhana.

Dari:

“Kamu selalu mengatur saya.”

Menjadi:

“Saya ingin diberi ruang untuk mengambil keputusan, tetapi saya juga ingin tetap melibatkanmu.”

Dari:

“Kamu selalu lebih mementingkan keluargamu.”

Menjadi:

“Saya tidak ingin menghalangi kamu berbakti kepada orang tua. Saya hanya ingin merasa bahwa saya dan anak-anak juga menjadi bagian penting dalam keputusanmu.”

Dari:

“Ini keluarga saya, bukan keluarga kamu.”

Menjadi:

“Mari kita cari cara agar keluarga besar kita tetap terhormat, sementara keluarga kecil kita juga tetap terjaga.”

Kadang yang perlu diubah bukan pasangan kita.

Tetapi cara kita berbicara kepadanya.

KELUARGA SAKINAH BUKAN KELUARGA TANPA MASALAH

Allah menggambarkan tujuan pernikahan dengan bahasa yang sangat indah:

لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Perhatikan dua kata yang sangat penting:

مَوَدَّةً — mawaddah

dan

رَحْمَةً — rahmah.

Mawaddah membuat kita ingin membahagiakan pasangan.

Rahmah membuat kita tetap lembut ketika pasangan sedang tidak sempurna.

Sebab suami tidak akan pernah mendapatkan istri yang sempurna.

Dan istri tidak akan pernah mendapatkan suami yang sempurna.

Yang mungkin kita dapatkan adalah seseorang yang bersedia belajar menjadi lebih baik bersama kita.

MUNGKIN PASANGAN KITA TIDAK SEDANG MENYERANG

Mungkin ketika istri berkata,

“Jangan terlalu mengatur saya,”

yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

“Tolong percaya kepada saya.”

Mungkin ketika istri berkata,

“Kamu terlalu memperhatikan keluargamu,”

yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

“Tolong yakinkan saya bahwa saya tetap penting bagi kamu.”

Dan mungkin ketika suami berkata,

“Saya hanya ingin berbakti kepada orang tua,”

yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

“Tolong pahami bahwa saya juga punya tanggung jawab kepada keluarga tempat saya dibesarkan.”

Jika masing-masing hanya mendengar kata-kata, pertengkaran akan terus berulang.

Tetapi jika masing-masing berusaha mendengar kebutuhan yang tersembunyi di balik kata-kata, mungkin ada jalan keluar.

PULANGLAH KEPADA KATA “KITA”

Rumah tangga tidak dibangun dengan kata “aku” dan “kamu” sebanyak-banyaknya.

Ia dibangun dengan kata:

“Kita.”

Kita bicarakan.

Kita sepakati.

Kita perbaiki.

Kita belajar.

Kita hadapi.

Kita jaga.

Dan ketika masalah datang, jangan buru-buru bertanya:

“Siapa yang salah?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa kita lakukan agar masalah ini tidak merusak kita?”

Sebab suami dan istri bukan dua kubu yang sedang bertanding.

Mereka adalah dua orang yang telah memilih untuk berjalan dalam satu perjalanan panjang.

Kadang jalannya mulus.

Kadang berliku.

Kadang salah satu lebih lelah daripada yang lain.

Tetapi selama keduanya masih mau saling menggenggam, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki arah.

Jangan meminta pasangan memilih antara kita dan keluarganya.

Bantulah pasangan menemukan cara untuk mencintai keluarganya tanpa kehilangan keluarganya sendiri.

Dan pada akhirnya, mungkin itulah salah satu makna keluarga sakinah:

bukan keluarga yang tidak pernah berbeda, tetapi keluarga yang ketika berbeda tetap memilih untuk saling memahami, saling menjaga, dan mencari jalan pulang bersama.

Wahyu Salim, S.Ag.


SAAT SUAMI MERASA ISTRI TERLALU MENGATUR, ISTRI MERASA SUAMI TERLALU MEMIHAK KELUARGANYA


 SAAT SUAMI MERASA ISTRI TERLALU MENGATUR, ISTRI MERASA SUAMI TERLALU MEMIHAK KELUARGANYA

Membaca Akar Masalah dan Menemukan Jalan Keluar Bersama

— Seri Madrasah Keluarga Sakinah
Bahan literasi keluarga dan penyuluhan keagamaan
Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada percakapan yang mungkin pernah terjadi di banyak rumah tangga.

Suami berkata,

“Saya ini seperti tidak dipercaya. Sedikit-sedikit diatur. Semua harus sesuai kemauannya.”

Di sisi lain, istri berkata,

“Saya tidak melarang dia berbakti kepada orang tua. Tapi mengapa untuk orang tua dan saudara-saudaranya dia begitu perhatian, sementara kebutuhan keluarga sendiri kadang seperti nomor sekian?”

Dua kalimat tersebut terdengar seperti dua persoalan yang berbeda.

Padahal sering kali keduanya berasal dari persoalan yang sama: kebutuhan untuk dihargai, diperhatikan, diprioritaskan dan dipahami oleh pasangan.

Inilah yang sering luput dalam konflik rumah tangga.

Pasangan sibuk memperdebatkan perilaku yang tampak, sementara kebutuhan yang tersembunyi di balik perilaku itu tidak pernah dibicarakan.

Ketika perhatian terasa seperti pengaturan

Tidak semua istri yang banyak mengingatkan sedang berusaha menguasai suami.

Ada istri yang bertanya karena khawatir.

Ada yang mengingatkan karena ingin membantu.

Ada yang banyak memberi saran karena merasa bertanggung jawab terhadap rumah tangga.

Tetapi perhatian yang diberikan terus-menerus, dengan nada memerintah, mengoreksi hampir setiap keputusan, atau tidak memberikan ruang kepada pasangan, lama-kelamaan dapat dirasakan sebagai kontrol.

Suami akhirnya merasa:

“Apa pun yang saya lakukan selalu salah.”

Di sinilah perhatian dapat kehilangan makna baiknya.

Namun suami juga perlu berhati-hati.

Jangan setiap nasihat istri langsung diberi cap “terlalu mengatur.”

Mungkin di balik kalimat-kalimat itu ada pesan yang sebenarnya sederhana:

“Saya ingin dilibatkan.”

“Saya ingin didengar.”

“Saya ingin merasa bahwa kita menghadapi semuanya bersama.”

Karena itu, sebelum mengatakan “Kamu terlalu mengatur,” cobalah bertanya:

“Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan?”

Pertanyaan sederhana dapat membuka pintu yang selama ini tertutup oleh emosi.

Ketika berbakti kepada orang tua terasa seperti mengabaikan keluarga sendiri

Persoalan lain yang tidak kalah sensitif adalah hubungan suami dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

Islam sangat menekankan kewajiban berbuat baik kepada orang tua.

Allah berfirman:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.”
QS. Al-Isra': 23

Karena itu, pernikahan tidak boleh menjadi alasan seseorang memutuskan hubungan dengan orang tua.

Suami tetap memiliki kewajiban berbakti.

Tetapi setelah menikah, ia juga memiliki amanah terhadap istri dan anak-anaknya.

Maka persoalannya bukan:

“Pilih orang tua atau pilih istri?”

Pertanyaan yang lebih sehat adalah:

“Bagaimana saya dapat berbakti kepada orang tua sekaligus memenuhi hak istri dan anak-anak?”

Di sinilah kedewasaan berumah tangga diuji.

Sebab keluarga bukan arena untuk menentukan siapa yang harus dikalahkan.

Sering kali yang membuat istri terluka bukan bantuan kepada mertua

Bayangkan seorang suami membantu ibunya.

Ia mengantarkan berobat, membantu kebutuhan ekonomi, memperbaiki rumah orang tua, atau memenuhi permintaan saudara.

Apakah semua itu salah?

Tentu tidak.

Bahkan bisa menjadi amal yang mulia.

Tetapi persoalannya bisa berubah ketika istri merasa:

“Saya tidak pernah melarang kamu membantu mereka. Saya hanya ingin ketika keluarga kita membutuhkan, kamu juga hadir dengan perhatian yang sama.”

Jadi masalahnya bukan semata-mata berapa uang yang diberikan kepada orang tua.

Bukan pula semata-mata berapa kali suami mengunjungi saudara.

Yang sering menyakitkan adalah perasaan tidak menjadi prioritas dalam kehidupan pasangan.

Dan perasaan semacam itu perlu didengarkan, bukan langsung dibantah.

Sebaliknya, suami juga bisa merasa terjepit

Dari sudut pandang suami, persoalannya bisa berbeda.

Ia mungkin merasa bahwa setiap kali membantu orang tua, selalu muncul pertengkaran.

Akhirnya muncul pertanyaan dalam dirinya:

“Setelah menikah, apakah saya tidak boleh lagi memperhatikan keluarga saya?”

Perasaan ini juga nyata.

Suami membutuhkan ruang untuk tetap menjadi anak yang berbakti.

Karena itu, istri tidak perlu memposisikan dirinya sebagai pesaing bagi mertua.

Istri bukan pengganti ibu.

Ibu juga bukan pesaing bagi istri.

Keduanya memiliki tempat yang berbeda dalam kehidupan seorang laki-laki.

Yang diperlukan adalah batas yang sehat dan pembagian perhatian yang adil.

Masalah sebenarnya: bukan kurang cinta, tetapi kurang kesepahaman

Banyak pasangan masih saling mencintai ketika konflik semacam ini terjadi.

Tetapi cinta saja tidak selalu cukup.

Rumah tangga membutuhkan komunikasi, kesepakatan, batas, kepercayaan dan kemampuan mengelola perbedaan.

Suami mungkin merasa:

“Saya sudah bekerja keras untuk keluarga.”

Istri mungkin merasa:

“Saya sudah mengurus rumah dan anak-anak.”

Keduanya bisa sama-sama benar.

Masalahnya muncul ketika masing-masing hanya menghitung apa yang sudah diberikan, tetapi lupa melihat apa yang dirasakan oleh pasangan.

Suami berkata:

“Saya kan sudah berusaha.”

Istri menjawab:

“Tapi saya tidak merasakannya.”

Di sinilah rumah tangga membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pembuktian.

Empati.

Jangan mencari siapa yang menang

Ketika konflik berlangsung, suami ingin membuktikan bahwa dirinya tidak salah.

Istri juga ingin membuktikan bahwa dirinya punya alasan.

Akhirnya pertengkaran berubah menjadi sidang:

Siapa yang benar?

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang harus kita perbaiki agar masalah ini tidak terus berulang?”

Rumah tangga bukan pertandingan.

Jika suami menang dalam perdebatan tetapi istrinya terluka, apakah keluarga benar-benar menang?

Jika istri berhasil membuktikan suaminya salah tetapi suami semakin menjauh, apakah masalah selesai?

Tidak.

Kemenangan dalam rumah tangga bukan ketika pasangan kalah.

Kemenangan adalah ketika keduanya menemukan jalan untuk kembali berjalan bersama.

Maka, mari buat kesepakatan

Ada persoalan yang tidak akan selesai hanya dengan nasihat.

Ia membutuhkan kesepakatan konkret.

Suami dan istri dapat duduk bersama dalam suasana tenang dan membicarakan setidaknya empat hal.

1. Kesepakatan tentang keuangan

Berapa yang realistis untuk kebutuhan keluarga inti?

Berapa yang dapat diberikan kepada orang tua?

Bagaimana jika ada kebutuhan mendadak dari keluarga besar?

Jangan menunggu uang sudah keluar baru kemudian bertengkar.

Bicarakan sebelum mengambil keputusan besar.

2. Kesepakatan tentang waktu

Suami boleh mengunjungi orang tua.

Istri juga membutuhkan waktu bersama suami.

Keduanya perlu memiliki ruang.

Yang penting bukan membagi waktu dengan kalkulator, tetapi memastikan tidak ada pihak yang terus-menerus merasa diabaikan.

3. Kesepakatan tentang keputusan rumah tangga

Tidak semua persoalan harus diputuskan sendiri.

Begitu pula tidak semua persoalan harus dibawa kepada keluarga besar.

Untuk persoalan yang menyangkut keluarga inti, biasakan:

“Kita bicarakan dulu.”

Kalimat ini sederhana, tetapi sangat penting.

4. Kesepakatan tentang batas campur tangan

Orang tua perlu dihormati.

Saudara perlu dijaga silaturahminya.

Tetapi rumah tangga juga membutuhkan ruang privat.

Tidak semua pertengkaran suami-istri perlu diceritakan kepada orang tua.

Tidak semua masalah keluarga perlu diketahui saudara.

Ada persoalan yang cukup diselesaikan berdua.

Suami: dengarkan kebutuhan istri, bukan hanya kata-katanya

Suami tidak harus selalu mengikuti semua keinginan istri.

Tetapi suami perlu belajar mendengarkan.

Ketika istri berkata:

“Kamu lebih perhatian kepada keluargamu.”

Jangan buru-buru menjawab:

“Kamu cemburu kepada orang tua saya!”

Cobalah bertanya:

“Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?”

Mungkin jawabannya bukan meminta suami menjauhi orang tua.

Mungkin ia hanya ingin:

  • diberi tahu sebelum keputusan dibuat,

  • dilibatkan dalam urusan keuangan,

  • ditemani ketika membutuhkan,

  • dihargai pendapatnya,

  • atau sekadar diyakinkan bahwa dirinya tetap penting.

Kadang pasangan tidak meminta sesuatu yang besar.

Ia hanya ingin merasa dipilih untuk diajak berjalan bersama.

Istri: berikan ruang tanpa kehilangan suara

Istri juga perlu melakukan introspeksi.

Menghormati suami tidak berarti harus diam.

Tetapi menyampaikan pendapat berbeda dengan mengendalikan.

Cobalah mengganti:

“Pokoknya jangan begitu!”

menjadi:

“Menurut saya ada cara lain yang mungkin lebih baik. Bagaimana kalau kita pertimbangkan bersama?”

Mengganti:

“Kamu selalu membela keluargamu!”

menjadi:

“Saya mendukung kamu berbakti kepada orang tua. Saya hanya ingin kita juga membuat kesepakatan agar kebutuhan keluarga kita tetap terjaga.”

Bahasa yang lembut bukan tanda kelemahan.

Bahasa yang tepat adalah salah satu bentuk kecerdasan dalam menjaga rumah tangga.


Ada saatnya kita berhenti dan bertanya kepada diri sendiri

Sebelum menuntut pasangan berubah, tanyakan:

Kepada suami:

“Apakah selama ini saya sudah membuat istri merasa aman, dihargai dan menjadi bagian dari setiap keputusan penting?”

Kepada istri:

“Apakah selama ini saya sudah membuat suami merasa dipercaya, dihargai dan memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri?”

Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana.

Tetapi sering kali perubahan besar dalam rumah tangga dimulai dari keberanian mengoreksi diri sendiri.

Keluarga sakinah bukan keluarga tanpa konflik

Kita kadang membayangkan keluarga sakinah sebagai keluarga yang tidak pernah bertengkar.

Padahal kenyataannya, dua manusia yang berbeda latar belakang, kebiasaan, karakter dan pengalaman tentu akan memiliki perbedaan.

Sakinah bukan berarti tidak ada masalah.

Sakinah adalah ketika masalah tidak membuat suami dan istri berubah menjadi musuh.

Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.”
QS. Ar-Rum: 21

Perhatikan dua kata yang sangat indah:

مَوَدَّةً — mawaddah

رَحْمَةً — rahmah

Cinta membuat kita ingin memiliki pasangan.

Tetapi rahmah membuat kita belajar memahami keterbatasan pasangan, memaafkan, mengalah pada saat yang tepat dan mencari solusi bersama.

Pada akhirnya, bukan “aku” dan “kamu”

Rumah tangga akan semakin dewasa ketika bahasa yang digunakan perlahan berubah.

Dari:

“Ini uang saya.”

menjadi:

“Bagaimana kita mengatur keuangan kita?”

Dari:

“Itu keluarga kamu.”

menjadi:

“Bagaimana kita membantu keluargamu tanpa mengabaikan keluarga kita?”

Dari:

“Kamu terlalu mengatur.”

menjadi:

“Bagaimana kita bisa saling memberi ruang?”

Dari:

“Kamu selalu membela keluargamu.”

menjadi:

“Bagaimana kita bisa menjaga orang tua sekaligus menjaga rumah tangga kita?”

Dan dari:

“Siapa yang salah?”

menjadi:

“Apa yang bisa kita lakukan bersama agar keadaan menjadi lebih baik?”

Inilah orientasi solusi yang sesungguhnya.

Bukan mencari pasangan yang sempurna.

Bukan memenangkan setiap perdebatan.

Bukan memutus hubungan dengan keluarga besar.

Tetapi belajar menata cinta, kewajiban, perhatian dan batas dengan bijaksana.

Karena keluarga sakinah bukan tentang menemukan dua orang yang tidak pernah berbeda.

Keluarga sakinah adalah tentang dua orang yang berbeda, tetapi memilih untuk terus belajar memahami, saling menjaga, dan mencari jalan pulang bersama.


Jumat, 18 September 2026

ZAKAT: BUKTI IMAN DAN KEPEDULIAN SOSIAL



🌙 KULTUM SUBUH JUM'AT MUBARAKAH 

ZAKAT: BUKTI IMAN DAN KEPEDULIAN SOSIAL

“Jangan hanya rajin mencari rezeki, tetapi lupa mensucikan rezeki.”

Wahyu Salim Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur 


1. Pembukaan


الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin jamaah Subuh rahimakumullah.

Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Pagi ini kita mengambil satu pelajaran penting dari pembahasan Fiqh Sunnah Jilid III, yaitu tentang zakat.

Zakat bukan sekadar persoalan mengeluarkan sebagian harta.

Zakat adalah persoalan iman, ibadah, penyucian jiwa, dan kepedulian terhadap sesama.


2. Zakat adalah bagian dari bangunan Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ

“Islam dibangun di atas lima perkara...”

Di antara lima perkara tersebut adalah:

وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ

“menunaikan zakat.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar. (Sunnah)

Perhatikan jamaah...

Rasulullah ﷺ tidak menempatkan zakat sebagai ibadah tambahan yang boleh dilakukan atau ditinggalkan sesuka hati.

Zakat ditempatkan sebagai salah satu rukun Islam.

Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya mengatakan:

“Saya sudah shalat.”

Tetapi juga perlu bertanya:

“Bagaimana dengan kewajiban zakat dari harta yang Allah titipkan kepada saya?”


3. Zakat bukan mengurangi harta, tetapi menyucikan harta

Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka...”

(QS. At-Taubah: 103) (Quran.com)

Ada dua kata yang sangat menarik:

تُطَهِّرُهُمْ — تُزَكِّيْهِمْ

Membersihkan dan menyucikan.

Artinya, zakat bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan jiwa pemilik harta.

Sebab salah satu penyakit manusia adalah:

cinta harta yang berlebihan.

Ketika seseorang memperoleh Rp10 juta, ingin Rp20 juta.

Sudah Rp20 juta, ingin Rp50 juta.

Sudah Rp50 juta, ingin Rp100 juta.

Tidak salah menjadi kaya.

Yang menjadi masalah adalah ketika harta berada di tangan, tetapi kemudian masuk ke hati.


4. Harta adalah amanah, bukan semata-mata milik kita

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Ketika kita mengatakan:

“Ini uang saya.”

“Ini rumah saya.”

“Ini usaha saya.”

“Ini kebun saya.”

“Ini toko saya.”

Benarkah semuanya mutlak milik kita?

Tidak.

Kita hanya dititipi.

Allah yang memberikan kesehatan untuk bekerja.

Allah yang memberikan kesempatan.

Allah yang membuka jalan rezeki.

Allah pula yang bisa mengambilnya kapan saja.

Maka zakat mengajarkan sebuah kesadaran:

“Di dalam harta yang Allah titipkan kepada saya, ada hak yang harus saya tunaikan.”


5. Jangan sampai rajin menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung zakat

Ini bagian yang sangat relevan dengan kehidupan kita.

Kita sering sangat teliti menghitung:

omzet,

keuntungan,

tabungan,

aset,

investasi,

piutang.

Tetapi pernahkah kita menghitung:

“Apakah harta saya sudah memenuhi syarat wajib zakat?”

Karena itu, orang beriman bukan hanya belajar:

bagaimana mendapatkan harta secara halal,

tetapi juga:

bagaimana menggunakan dan mengeluarkan harta secara halal.

Ada proses yang lengkap:

Mencari → memperoleh → mengelola → menikmati → mengeluarkan zakat → mempertanggungjawabkan kepada Allah.


6. Zakat juga membangun kepedulian sosial

Jamaah rahimakumullah.

Bayangkan jika orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi menunaikan kewajiban zakat dengan baik.

Zakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu:

fakir,

miskin,

orang yang terlilit kebutuhan,

orang yang memiliki beban utang tertentu,

dan kelompok penerima zakat lainnya sesuai ketentuan syariat.

Maka zakat tidak hanya memiliki dimensi hablum minallah, tetapi juga memiliki dampak sosial dalam kehidupan masyarakat.

Orang kaya tidak merasa hidup sendirian.

Orang miskin tidak merasa ditinggalkan.

Yang memiliki kelebihan membantu yang membutuhkan.

Yang membutuhkan mendapatkan perhatian.

Terbangunlah persaudaraan dan solidaritas umat.


7. Bahaya ketika manusia terlalu mencintai harta

Allah mengingatkan:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Maknanya, orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah mendapat peringatan keras.

(QS. At-Taubah: 34)

Pesannya bukan bahwa Islam melarang umatnya menjadi kaya.

Tidak.

Islam tidak memusuhi kekayaan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kekayaan membuat manusia lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajibannya terhadap sesama.


8. Zakat mendidik kita menjadi manusia yang bersih

Allah menyebut zakat sebagai sarana tathhir dan tazkiyah—pembersihan dan penyucian. (Quran.com)

Maka zakat sebenarnya mendidik beberapa sifat:

Pertama, ikhlas.

Karena zakat dilakukan karena Allah.

Kedua, bersyukur.

Karena kita menyadari bahwa rezeki berasal dari Allah.

Ketiga, tidak kikir.

Karena kita belajar berbagi.

Keempat, peduli.

Karena kita menyadari ada saudara kita yang membutuhkan.

Kelima, bertanggung jawab.

Karena harta akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


9. Pesan praktis untuk jamaah

Maka setelah Subuh ini, mari kita melakukan tiga pemeriksaan sederhana.

Pertama: periksa sumber harta kita.

Apakah halal?

Kedua: periksa kewajiban harta kita.

Apakah sudah memenuhi syarat wajib zakat?

Ketiga: periksa hati kita.

Apakah harta semakin mendekatkan kita kepada Allah atau justru semakin menjauhkan kita dari Allah?

Karena boleh jadi seseorang memiliki sedikit harta tetapi kaya hati.

Dan boleh jadi seseorang memiliki banyak harta tetapi hatinya selalu merasa kurang.


🌿 PENUTUP

Jamaah Subuh yang dirahmati Allah.

Mari kita pulang dengan satu kalimat sederhana:

“Jangan hanya mencari harta yang banyak, tetapi carilah harta yang berkah.”

Harta yang berkah adalah harta yang:

dicari dengan cara halal,

dinikmati dengan cara halal,

dikeluarkan pada jalan yang halal,

dan ditunaikan kewajibannya kepada Allah.

Sebab pada akhirnya kita tidak membawa seluruh harta ke dalam kubur.

Yang kita bawa adalah amal kita.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, rajin beribadah, lapang berbagi, dan mampu menunaikan zakat dengan benar.

اللهم طهر قلوبنا، وزك أموالنا، وبارك في أرزاقنا، واجعل أموالنا عونًا لنا على طاعتك.

Ya Allah, bersihkan hati kami, sucikan harta kami, berkahilah rezeki kami, dan jadikan harta kami sebagai sarana untuk semakin taat kepada-Mu.

آمين يا رب العالمين.


📚 Rujukan utama

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid III, pembahasan Zakat.

QS. At-Taubah: 103 — zakat sebagai sarana penyucian. (Quran.com)

Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis tentang lima rukun Islam, termasuk zakat. (Sunnah)

Kamis, 17 September 2026

BAHAYA LISAN MENURUT IMAM AL-GHAZALI

BAHAYA LISAN MENURUT IMAM AL-GHAZALI

Imam Abu Hamid Al-Ghazali memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lisan dalam Ihya' 'Ulum al-Din, khususnya pembahasan Kitab Āfāt al-Lisān — Kitab Bahaya-Bahaya Lisan.

Beliau mengingatkan bahwa lisan memiliki banyak pintu yang dapat menyeret manusia kepada dosa.

Di antara bahaya lisan yang dibahas Al-Ghazali adalah:

1. Berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat

Tidak semua percakapan yang tidak haram otomatis memberikan manfaat.

Seorang Muslim perlu belajar meninggalkan perkataan yang sia-sia.

2. Berlebihan dalam berbicara

Terlalu banyak berbicara meningkatkan kemungkinan seseorang:

  • salah bicara,

  • menyakiti orang,

  • membuka aib,

  • berdusta,

  • atau terjerumus dalam dosa.

3. Membicarakan sesuatu yang tidak diketahui

Berbicara tanpa ilmu dapat menyesatkan orang lain.

4. Berdebat dan bertengkar

Perdebatan yang tidak bertujuan mencari kebenaran dapat berubah menjadi ajang mempertahankan ego.

5. Berdusta

Kebohongan menghancurkan kepercayaan.

6. Ghibah

Membicarakan keburukan seseorang di belakangnya.

7. Namimah

Membawa perkataan seseorang kepada orang lain sehingga menimbulkan kerusakan.

8. Membuka aib orang lain

Menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan pembicaraan.

9. Mencela dan menghina

Merendahkan martabat orang lain.

10. Perkataan keji dan kotor

Islam mengajarkan kesucian ucapan sebagaimana kesucian hati.

11. Sumpah yang tidak perlu

Lisan terkadang mudah mengucapkan sumpah hanya untuk meyakinkan orang.

12. Pujian yang berlebihan

Pujian yang berlebihan dapat menimbulkan kesombongan atau bahkan menjadi bentuk manipulasi.

13. Membocorkan rahasia

Rahasia adalah amanah. Membocorkannya tanpa alasan yang dibenarkan merupakan pengkhianatan.

G. LIDAH DAN JARI: DUA ALAT YANG HARUS DIJAGA

Dahulu orang berkata:

“Jaga lisanmu.”

Hari ini nasihat tersebut perlu diperluas:

Jaga lisanmu dan jaga jarimu.

Sebab apa yang dahulu hanya bisa disampaikan kepada beberapa orang, sekarang dapat tersebar kepada ribuan orang dalam hitungan detik.

Contohnya:

  • WhatsApp,

  • Facebook,

  • Instagram,

  • TikTok,

  • YouTube,

  • komentar,

  • grup keluarga,

  • grup masyarakat,

  • dan berbagai platform digital lainnya.

Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan:

BENAR?

Apakah informasinya benar?

BAIK?

Apakah membawa kebaikan?

PERLU?

Apakah memang perlu disampaikan?

BERMANFAAT?

Apakah ada manfaatnya?

Kalau empat pertanyaan ini tidak terpenuhi, jangan terburu-buru mengirim.

H. FITNAH DIGITAL: DOSA YANG BISA TERUS BERJALAN

Salah satu persoalan zaman sekarang adalah penyebaran informasi yang tidak benar.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan tabayyun.

Jangan karena judulnya menarik lalu langsung dibagikan.

Jangan karena dikirim oleh orang yang kita kenal lalu langsung dipercaya.

Jangan karena sesuai dengan pendapat kita lalu dianggap pasti benar.

Tidak semua yang viral itu benar.

Tidak semua yang benar perlu diviralkan.

I. LIMA PERTANYAAN SEBELUM BERBICARA

Mari kita jadikan sebagai “Filter 5T”:

1. Tepatkah?

Apakah informasi ini benar?

2. Tujuankah?

Apa tujuan saya berbicara?

3. Tempatkah?

Apakah ini waktu dan tempat yang tepat?

4. Teruskah?

Apakah informasi ini memang perlu diteruskan?

5. Tanggung jawabkah?

Apakah saya siap mempertanggungjawabkan ucapan ini di hadapan Allah?

Jika tidak yakin, diam.

Diam bukan berarti lemah.

Kadang diam adalah bentuk kecerdasan, kesabaran dan ketakwaan.

J. MENJAGA LISAN BUKAN BERARTI DIAM TERHADAP KEBENARAN

Perlu dipahami bahwa menjaga lisan bukan berarti tidak boleh berbicara.

Islam justru mengajarkan manusia untuk:

  • berkata benar,

  • menyampaikan nasihat,

  • amar ma'ruf nahi munkar,

  • membela orang yang dizalimi,

  • mendamaikan pihak yang bertikai,

  • memberikan kesaksian,

  • menyampaikan ilmu,

  • dan menyeru kepada kebaikan.

Yang harus dijaga adalah cara, niat, kebenaran dan dampak ucapan.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)

Jadi prinsipnya bukan:

“Jangan bicara.”

Tetapi:

“Bicaralah ketika ucapanmu membawa kebaikan.”

K. TANDA ORANG YANG MAMPU MENJAGA LISAN

Orang yang menjaga lisannya biasanya:

  1. Tidak tergesa-gesa menjawab.

  2. Tidak senang membuka aib orang.

  3. Tidak menjadikan kekurangan orang sebagai hiburan.

  4. Tidak mudah menyebarkan berita.

  5. Tidak suka memperpanjang perdebatan.

  6. Berani mengatakan “saya tidak tahu”.

  7. Meminta maaf ketika salah bicara.

  8. Lebih suka mendamaikan daripada mengadu domba.

  9. Berbicara dengan santun kepada orang yang berbeda.

  10. Membiasakan lisannya dengan dzikir dan kalimat thayyibah.

L. LATIHAN PRAKTIS MENJAGA LISAN

Program 24 Jam Menjaga Lisan

Ajak peserta penyuluhan mencoba selama satu hari:

Pertama: tidak menggunjing.

Kedua: tidak mencela.

Ketiga: tidak menyebarkan berita yang belum jelas.

Keempat: tidak membalas perkataan kasar dengan perkataan kasar.

Kelima: tidak membuka aib orang.

Keenam: mengurangi percakapan yang tidak bermanfaat.

Ketujuh: mengganti ucapan negatif dengan dzikir, doa atau kalimat positif.

Di akhir hari, lakukan muhasabah:

“Berapa banyak ucapan saya hari ini yang mendekatkan saya kepada Allah?”

Dan:

“Berapa banyak ucapan saya yang seandainya bisa diulang, ingin saya tarik kembali?”

M. KETIKA SUDAH TERLANJUR MENYAKITI DENGAN LISAN

Jika kita pernah menyakiti seseorang dengan ucapan, jangan gengsi untuk meminta maaf.

Katakan:

“Maaf, ucapan saya tadi salah. Saya tidak seharusnya mengatakan itu.”

Jangan mencari pembenaran:

“Saya kan cuma bercanda.”

Karena niat bercanda tidak otomatis menghapus luka yang ditimbulkan.

Dan apabila kita pernah melakukan ghibah, maka lakukan taubat kepada Allah dan berhati-hati agar tidak semakin memperluas pembicaraan yang salah tersebut. Jika menyangkut hak orang lain, pertimbangkan cara memperbaiki kerugian dan hubungan dengan bijaksana, tanpa menimbulkan mudarat baru.

N. RENUNGAN: SUATU SAAT LISAN AKAN DIAM

Ada saatnya manusia tidak mampu lagi berbicara.

Tidak bisa membela diri.

Tidak bisa menjelaskan maksud.

Tidak bisa meminta kesempatan kedua.

Itulah ketika kematian datang.

Allah mengingatkan:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)

Hari ini kita menggunakan lisan untuk berbicara.

Kelak anggota tubuh kita sendiri yang menjadi saksi.

Maka sebelum lisan kita menjadi saksi atas keburukan kita, jadikan lisan sebagai jalan menuju keselamatan.

O. KESIMPULAN

Menjaga lisan bukan perkara kecil.

Ia adalah bagian dari iman dan akhlak seorang Muslim.

Lisan dapat menjadi:

JALAN KE SURGA
dengan dzikir, ilmu, doa, nasihat dan perkataan baik.

Tetapi lisan juga dapat menjadi:

JALAN MENUJU DOSA
melalui dusta, ghibah, fitnah, namimah, celaan, penghinaan dan perkataan sia-sia.

Karena itu, mari kita pegang prinsip:

“SARING SEBELUM SHARING.”

“PIKIR SEBELUM BICARA.”

“TABAYYUN SEBELUM MENYEBARKAN.”

“DIAM JIKA TIDAK ADA KEBAIKAN YANG DAPAT DIUCAPKAN.”

Dan yang paling penting:

Jangan biarkan lisan yang hanya beberapa sentimeter panjangnya membawa kita kepada penyesalan yang panjang di akhirat.

DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَاجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا سَبَبًا لِلْخَيْرِ وَالْمَحَبَّةِ وَالْإِصْلَاحِ.

“Ya Allah, bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah dan namimah. Bersihkan hati kami dari kebencian dan kedengkian. Jadikan lisan kami senantiasa basah dengan mengingat-Mu, dan jadikan perkataan kami sebab lahirnya kebaikan, kasih sayang dan perdamaian.”

Aamiin.

Rujukan utama

  • Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah: 83; Al-Isra’: 53; Al-Ahzab: 70–71; Al-Hujurat: 6, 11–12; Qaf: 18; Yasin: 65.

  • Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: hadis “berkata baik atau diam”, ghibah, dan namimah.

  • Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Āfāt al-Lisān (Bahaya-Bahaya Lisan).

MENJAGA LISAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

 


MENJAGA LISAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Ketika Kata-Kata Menjadi Amal dan Lisan Menjadi Jalan Keselamatan

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada sesuatu yang kecil pada tubuh manusia, tetapi dampaknya bisa sangat besar: lisan.

Dengan lisan, seseorang dapat menenangkan hati yang sedang gelisah, mendamaikan dua orang yang berselisih, memberikan semangat kepada orang yang hampir menyerah, mengajarkan ilmu, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa.

Tetapi dengan lisan yang sama, seseorang juga dapat menghancurkan persahabatan, meretakkan rumah tangga, memecah persaudaraan, membuka aib, menyebarkan fitnah bahkan menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam dosa.

Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lisan.

Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak sebelum berbicara. Sebab setiap kata bukan sekadar suara yang hilang di udara. Ada malaikat yang mencatatnya dan kelak semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketika Lisan Tidak Lagi Hanya Berupa Suara

Dahulu kita mengenal nasihat: “Jagalah lisanmu.”

Hari ini nasihat tersebut perlu diperluas menjadi:

“Jagalah lisanmu dan jagalah jarimu.”

Sebab perkataan tidak lagi hanya keluar dari mulut. Ia juga keluar melalui jari-jari kita.

Satu komentar di media sosial, satu unggahan, satu pesan WhatsApp, satu rekaman suara, bahkan satu tindakan forward dapat menyebar jauh lebih cepat daripada perkataan yang disampaikan secara langsung.

Karena itu, persoalan menjaga lisan pada zaman digital sesungguhnya menjadi semakin penting.

Sebelum berbicara atau mengirim sesuatu, kita perlu bertanya:

Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

Jika tidak, mungkin diam adalah pilihan yang lebih selamat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sederhana, tetapi sangat dalam. Islam tidak mengajarkan kita untuk selalu diam. Islam mengajarkan agar setiap perkataan memiliki nilai kebaikan.

Benar Saja Belum Cukup

Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan kita berkata benar, tetapi juga berkata dengan cara yang baik.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
(QS. Al-Isra’: 53)

Ini penting.

Kadang seseorang berkata, “Saya hanya menyampaikan kebenaran.”

Namun kebenaran yang disampaikan dengan cara yang kasar dapat melukai hati. Nasihat yang benar tetapi disampaikan dengan penghinaan dapat membuat orang justru menjauh.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya belajar apa yang harus dikatakan, tetapi juga belajar bagaimana mengatakannya.

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Kebenaran membutuhkan keberanian, tetapi penyampaiannya membutuhkan kebijaksanaan.

Ghibah: Obrolan yang Terasa Ringan, Dosanya Berat

Salah satu penyakit lisan yang sering dianggap biasa adalah ghibah.

Kadang ia dimulai dari percakapan sederhana:

“Kamu tahu tidak, si fulan itu sebenarnya begini…”

Lalu pembicaraan berkembang.

Kekurangan seseorang dibahas. Kesalahannya diceritakan. Aibnya dibuka. Orang yang tidak hadir menjadi bahan percakapan.

Yang lebih berbahaya, ghibah sering dibungkus dengan kalimat:

“Saya bukan menjelek-jelekkan, saya hanya cerita.”

Padahal Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang ia tidak sukai.

Allah memberikan gambaran yang sangat keras:

“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Mengapa Allah menggunakan gambaran yang begitu mengerikan?

Karena ghibah sering terasa ringan ketika dilakukan, tetapi dampaknya sangat merusak kehormatan manusia.

Yang lebih menyedihkan, seseorang bisa saja rajin beribadah tetapi lisannya masih sibuk memakan kehormatan saudaranya.

Ketika Informasi Menjadi Fitnah

Di era media sosial, tantangan menjaga lisan bertambah besar karena kita hidup dalam arus informasi yang begitu deras.

Berita datang setiap saat.

Video beredar.

Potongan percakapan menjadi viral.

Judul berita dibuat sedemikian menarik agar orang segera membuka dan membagikannya.

Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan tabayyun.

Allah SWT berfirman:

فَتَبَيَّنُوا

“Maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Jangan sampai kita menjadi bagian dari rantai penyebaran berita yang ternyata tidak benar.

Kadang kita bukan pembuat fitnah, tetapi kita menjadi perantara penyebarnya.

Maka sebuah prinsip sederhana patut kita tanamkan:

Tidak semua yang kita dengar harus kita ceritakan.

Tidak semua yang kita baca harus kita bagikan.

Tidak semua yang viral berarti benar.

Namimah: Menjadi Kurir yang Membawa Api

Ada pula bahaya lisan yang disebut namimah, yaitu membawa perkataan seseorang kepada orang lain dengan cara yang menimbulkan kerusakan hubungan.

Kalimatnya sering sangat sederhana:

“Saya sebenarnya tidak bermaksud mengadu, tetapi tadi dia mengatakan sesuatu tentang kamu…”

Setelah itu hubungan berubah.

Yang tadinya biasa menjadi curiga.

Yang tadinya akrab menjadi bermusuhan.

Yang tadinya damai menjadi bertengkar.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap perilaku ini.

Karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat, kita jangan menjadi kurir konflik.

Jadilah jembatan perdamaian.

Jika mendengar sesuatu yang berpotensi menimbulkan permusuhan, jangan buru-buru menyebarkannya. Jika mampu, justru redam dan selesaikan dengan cara yang bijaksana.

Imam Al-Ghazali dan “Penyakit-Penyakit Lisan”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, khususnya pembahasan Āfāt al-Lisān atau bahaya-bahaya lisan, memberikan perhatian yang sangat serius terhadap persoalan ini.

Menurut pembahasan beliau, lisan memiliki banyak pintu yang dapat membawa manusia kepada kebinasaan.

Di antaranya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, terlalu banyak berbicara, berbicara tanpa ilmu, berdebat, berdusta, ghibah, namimah, membuka aib, mencela, berkata kotor, membuka rahasia dan berbagai bentuk ucapan yang merusak.

Pelajaran penting dari Al-Ghazali adalah bahwa bahaya lisan tidak hanya terletak pada kata-kata yang jelas-jelas haram.

Percakapan yang berlebihan dan tidak bermanfaat pun perlu diwaspadai karena semakin banyak seseorang berbicara, semakin banyak pula peluang salah dan tergelincir.

Karena itu, kemampuan menahan diri untuk tidak berbicara merupakan bagian dari latihan spiritual.

Kadang Diam Lebih Sulit daripada Berbicara

Berbicara itu mudah.

Menjawab komentar orang mudah.

Membalas hinaan juga mudah.

Yang sulit adalah menahan diri ketika kita sebenarnya mampu membalas.

Di situlah kualitas akhlak diuji.

Ketika seseorang menghina kita, kita mempunyai pilihan.

Membalas dengan hinaan.

Atau memilih kalimat yang lebih baik.

Ketika seseorang membuka aib kita, kita mempunyai pilihan.

Membuka aibnya kembali.

Atau menghentikan rantai keburukan.

Ketika mendapatkan informasi yang belum jelas, kita mempunyai pilihan.

Langsung membagikannya.

Atau memilih tabayyun.

Di situlah iman bekerja.

Lisan yang Baik, Hati yang Baik

Lisan sebenarnya adalah cermin dari apa yang ada di dalam hati.

Hati yang dipenuhi kebencian mudah melahirkan celaan.

Hati yang dipenuhi iri mudah membicarakan kekurangan orang lain.

Hati yang dipenuhi kesombongan mudah merendahkan.

Sebaliknya, hati yang dekat dengan Allah akan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Karena itu, menjaga lisan tidak cukup hanya dengan menutup mulut.

Kita juga harus membersihkan hati.

Ketika hati dipenuhi dzikir, lisan akan lebih mudah mengucapkan kalimat yang baik.

Ketika hati dipenuhi kasih sayang, lisan akan lebih mudah memberikan nasihat dengan kelembutan.

Ketika hati dipenuhi kesadaran bahwa semua ucapan dicatat Allah, kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Satu Kalimat Bisa Menjadi Sedekah

Jangan mengira menjaga lisan hanya berarti menghindari dosa.

Lisan juga dapat menjadi sumber pahala.

Mengucapkan subhanallah adalah kebaikan.

Membaca Al-Qur’an adalah kebaikan.

Mendoakan orang lain adalah kebaikan.

Mengucapkan terima kasih adalah kebaikan.

Meminta maaf adalah kebaikan.

Menghibur orang yang sedang bersedih adalah kebaikan.

Mendamaikan orang yang bertikai adalah kebaikan.

Bahkan satu kalimat sederhana:

“Saya percaya kamu bisa melewati ini.”

bisa menjadi kekuatan bagi seseorang yang sedang berada dalam titik terendah hidupnya.

Maka jangan hanya bertanya:

“Bagaimana agar lisan saya tidak berdosa?”

Tetapi bertanyalah:

“Bagaimana agar lisan saya menjadi sumber pahala?”

Sebelum Lisan Terdiam Selamanya

Ada saatnya lisan kita tidak mampu lagi berbicara.

Tidak mampu menjelaskan.

Tidak mampu membela diri.

Tidak mampu meminta maaf.

Tidak mampu mengatakan “saya salah.”

Itulah saat kematian datang.

Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)

Hari ini kita berbicara sesuka hati.

Kelak kita akan mempertanggungjawabkan apa yang pernah kita ucapkan.

Maka sebelum lisan kita ditutup oleh kematian, mari kita gunakan ia untuk memperbanyak kebaikan.

Kurangi mencela.

Perbanyak mendoakan.

Kurangi menggunjing.

Perbanyak menasihati dengan kasih sayang.

Kurangi menyebarkan aib.

Perbanyak menutup aib saudara.

Kurangi perdebatan.

Perbanyak mencari jalan perdamaian.

Kurangi menyebarkan berita yang belum jelas.

Perbanyak tabayyun.

Dan ketika tidak ada kebaikan yang dapat kita katakan:

DIAMLAH.

Sebab boleh jadi, satu diam yang kita pilih hari ini adalah salah satu sebab keselamatan kita di akhirat.

Pada akhirnya, lisan kita hanya memiliki dua kemungkinan:

menjadi saksi kebaikan kita, atau menjadi saksi keburukan kita.

Maka mari kita berdoa agar setiap kata yang keluar dari mulut kita menjadi kata yang Allah ridai.

“Ya Allah, bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah dan namimah. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir kepada-Mu. Jadikan setiap perkataan kami membawa kebaikan, kedamaian dan keberkahan bagi sesama.”

Aamiin.

Senin, 14 September 2026

LAGI, PENYULUH AGAMA DAMPINGI PROSES SERTIFIKASI TANAH WAKAF

 


LAGI, PENYULUH AGAMA DAMPINGI PROSES SERTIFIKASI TANAH WAKAF

Dari Verifikasi Dokumen Menuju Kepastian Hukum dan Pemberdayaan Aset Umat

Padang Panjang — Komitmen dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat kembali diwujudkan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur dalam proses sertifikasi tanah wakaf untuk kepentingan umat. Sekalipun berbeda wilayah kerja, tanggungjawab pendampingan dapat dilakukan dimana saja terlebih lagi di lingkungan tempat tinggal sebagai kompetensi sosial penyuluh agama.

Senin, 14 September 2026, bertempat di ruang Kepala KUA, dilaksanakan penandatanganan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) setelah melalui tahapan verifikasi dan validasi terhadap dokumen serta data tanah wakaf yang diajukan.

Proses tersebut dihadiri oleh tiga orang wakif, tiga orang nazir perorangan, dua orang saksi, serta perwakilan jamaah Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian. Kehadiran para pihak menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa proses administrasi wakaf berjalan secara tertib, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pendampingan terhadap proses wakaf tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memberikan kepastian administrasi dan hukum terhadap aset yang telah diperuntukkan bagi kepentingan umat. Tanah wakaf bukan sekadar sebidang tanah yang diserahkan untuk kepentingan keagamaan, tetapi merupakan amanah yang memiliki nilai ibadah sekaligus manfaat sosial yang panjang.

Kepala KUA Kecamatan X Koto, Bisti Samsuri, dalam kesempatan tersebut memberikan pembinaan kepada para pihak mengenai pentingnya memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam pengelolaan wakaf.

Kepada para wakif, disampaikan bahwa wakaf merupakan amal jariyah yang harus dijaga keberlanjutan manfaatnya. Sementara kepada nazir, ditekankan bahwa amanah yang diterima bukan hanya menjaga keberadaan fisik aset wakaf, tetapi juga memastikan aset tersebut dapat memberikan manfaat secara optimal sesuai dengan tujuan perwakafan.

“Nazir memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga, mengelola, dan memberdayakan aset wakaf agar tetap produktif dan memberikan manfaat bagi umat,” demikian inti pembinaan yang disampaikan.

Selain wakif dan nazir, masyarakat dan jamaah juga memiliki peran penting. Aset wakaf yang telah diperuntukkan bagi mushalla dan kepentingan umat tidak cukup hanya dijaga oleh pengurus atau nazir. Diperlukan tanggung jawab bersama seluruh jamaah untuk merawat, menjaga kelestarian, serta mengembangkan pemanfaatannya secara baik dan berkelanjutan.

Wakaf pada hakikatnya merupakan investasi akhirat. Karena itu, semakin tertib administrasinya, semakin kuat pula kepastian hukumnya; semakin baik pengelolaannya, semakin panjang pula manfaat yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks tersebut, sertifikasi tanah wakaf menjadi langkah strategis untuk memberikan perlindungan terhadap aset umat. Legalitas yang jelas diharapkan dapat mencegah munculnya persoalan di kemudian hari sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan dan pemberdayaan aset wakaf.

Sebagai pengurus Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian sekaligus pemohon, Wahyu Salim menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KUA atas pelayanan serta pendampingan yang diberikan selama proses pengurusan tanah wakaf tersebut.

“Terima kasih atas pelayanan dan pendampingan yang diberikan. Kita berharap proses ini dapat terus berjalan sampai tuntas, sehingga nantinya sertifikat tanah wakaf dapat diterbitkan dan memberikan kepastian hukum bagi aset umat,” ujarnya.

Ia berharap legalitas tanah wakaf tersebut nantinya semakin memperkuat keberadaan Mushalla Diinul Haq sebagai pusat ibadah, pembinaan keagamaan, pendidikan umat, sekaligus ruang kebersamaan masyarakat.

Proses sertifikasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendampingan Penyuluh Agama tidak hanya berlangsung di mimbar dan majelis taklim, tetapi juga hadir dalam persoalan nyata masyarakat, termasuk membantu umat menata administrasi wakaf agar tertib, aman, dan memiliki kepastian hukum.

Bagi Penyuluh Agama, pendampingan wakaf merupakan bagian dari penguatan literasi keagamaan sekaligus literasi hukum masyarakat. Sebab, mengurus wakaf bukan hanya menyelesaikan administrasi, tetapi juga menjaga amanah para wakif dan memastikan manfaatnya terus mengalir untuk generasi demi generasi.

Dengan semangat pelayanan dan kolaborasi antara KUA, wakif, nazir, pengurus mushalla, serta masyarakat, diharapkan proses sertifikasi tanah wakaf Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian dapat berjalan hingga tahap akhir.

Wakaf tertib, aset umat terlindungi. Wakaf dikelola dengan amanah, manfaatnya terus mengalir.