Jumat, 18 September 2026

ZAKAT: BUKTI IMAN DAN KEPEDULIAN SOSIAL



๐ŸŒ™ KULTUM SUBUH JUM'AT MUBARAKAH 

ZAKAT: BUKTI IMAN DAN KEPEDULIAN SOSIAL

“Jangan hanya rajin mencari rezeki, tetapi lupa mensucikan rezeki.”

Wahyu Salim Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur 


1. Pembukaan


ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†، ู†ุญู…ุฏู‡ ูˆู†ุณุชุนูŠู†ู‡ ูˆู†ุณุชุบูุฑู‡، ูˆู†ุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุดุฑูˆุฑ ุฃู†ูุณู†ุง ูˆู…ู† ุณูŠุฆุงุช ุฃุนู…ุงู„ู†ุง.

ุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡، ูˆุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู…ุญู…ุฏًุง ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡.

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ูˆุณู„ู… ูˆุจุงุฑูƒ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู†.

Hadirin jamaah Subuh rahimakumullah.

Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Pagi ini kita mengambil satu pelajaran penting dari pembahasan Fiqh Sunnah Jilid III, yaitu tentang zakat.

Zakat bukan sekadar persoalan mengeluarkan sebagian harta.

Zakat adalah persoalan iman, ibadah, penyucian jiwa, dan kepedulian terhadap sesama.


2. Zakat adalah bagian dari bangunan Islam

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุจُู†ِูŠَ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ُ ุนَู„َู‰ ุฎَู…ْุณٍ

“Islam dibangun di atas lima perkara...”

Di antara lima perkara tersebut adalah:

ูˆَุฅِูŠุชَุงุกِ ุงู„ุฒَّูƒَุงุฉِ

“menunaikan zakat.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar. (Sunnah)

Perhatikan jamaah...

Rasulullah ๏ทบ tidak menempatkan zakat sebagai ibadah tambahan yang boleh dilakukan atau ditinggalkan sesuka hati.

Zakat ditempatkan sebagai salah satu rukun Islam.

Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya mengatakan:

“Saya sudah shalat.”

Tetapi juga perlu bertanya:

“Bagaimana dengan kewajiban zakat dari harta yang Allah titipkan kepada saya?”


3. Zakat bukan mengurangi harta, tetapi menyucikan harta

Allah SWT berfirman:

ุฎُุฐْ ู…ِู†ْ ุฃَู…ْูˆَุงู„ِู‡ِู…ْ ุตَุฏَู‚َุฉً ุชُุทَู‡ِّุฑُู‡ُู…ْ ูˆَุชُุฒَูƒِّูŠู‡ِู…ْ ุจِู‡َุง

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka...”

(QS. At-Taubah: 103) (Quran.com)

Ada dua kata yang sangat menarik:

ุชُุทَู‡ِّุฑُู‡ُู…ْ — ุชُุฒَูƒِّูŠْู‡ِู…ْ

Membersihkan dan menyucikan.

Artinya, zakat bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan jiwa pemilik harta.

Sebab salah satu penyakit manusia adalah:

cinta harta yang berlebihan.

Ketika seseorang memperoleh Rp10 juta, ingin Rp20 juta.

Sudah Rp20 juta, ingin Rp50 juta.

Sudah Rp50 juta, ingin Rp100 juta.

Tidak salah menjadi kaya.

Yang menjadi masalah adalah ketika harta berada di tangan, tetapi kemudian masuk ke hati.


4. Harta adalah amanah, bukan semata-mata milik kita

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Ketika kita mengatakan:

“Ini uang saya.”

“Ini rumah saya.”

“Ini usaha saya.”

“Ini kebun saya.”

“Ini toko saya.”

Benarkah semuanya mutlak milik kita?

Tidak.

Kita hanya dititipi.

Allah yang memberikan kesehatan untuk bekerja.

Allah yang memberikan kesempatan.

Allah yang membuka jalan rezeki.

Allah pula yang bisa mengambilnya kapan saja.

Maka zakat mengajarkan sebuah kesadaran:

“Di dalam harta yang Allah titipkan kepada saya, ada hak yang harus saya tunaikan.”


5. Jangan sampai rajin menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung zakat

Ini bagian yang sangat relevan dengan kehidupan kita.

Kita sering sangat teliti menghitung:

omzet,

keuntungan,

tabungan,

aset,

investasi,

piutang.

Tetapi pernahkah kita menghitung:

“Apakah harta saya sudah memenuhi syarat wajib zakat?”

Karena itu, orang beriman bukan hanya belajar:

bagaimana mendapatkan harta secara halal,

tetapi juga:

bagaimana menggunakan dan mengeluarkan harta secara halal.

Ada proses yang lengkap:

Mencari → memperoleh → mengelola → menikmati → mengeluarkan zakat → mempertanggungjawabkan kepada Allah.


6. Zakat juga membangun kepedulian sosial

Jamaah rahimakumullah.

Bayangkan jika orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi menunaikan kewajiban zakat dengan baik.

Zakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu:

fakir,

miskin,

orang yang terlilit kebutuhan,

orang yang memiliki beban utang tertentu,

dan kelompok penerima zakat lainnya sesuai ketentuan syariat.

Maka zakat tidak hanya memiliki dimensi hablum minallah, tetapi juga memiliki dampak sosial dalam kehidupan masyarakat.

Orang kaya tidak merasa hidup sendirian.

Orang miskin tidak merasa ditinggalkan.

Yang memiliki kelebihan membantu yang membutuhkan.

Yang membutuhkan mendapatkan perhatian.

Terbangunlah persaudaraan dan solidaritas umat.


7. Bahaya ketika manusia terlalu mencintai harta

Allah mengingatkan:

ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَูƒْู†ِุฒُูˆู†َ ุงู„ุฐَّู‡َุจَ ูˆَุงู„ْูِุถَّุฉَ ูˆَู„َุง ูŠُู†ْูِู‚ُูˆู†َู‡َุง ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุจَุดِّุฑْู‡ُู…ْ ุจِุนَุฐَุงุจٍ ุฃَู„ِูŠู…ٍ

Maknanya, orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah mendapat peringatan keras.

(QS. At-Taubah: 34)

Pesannya bukan bahwa Islam melarang umatnya menjadi kaya.

Tidak.

Islam tidak memusuhi kekayaan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kekayaan membuat manusia lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajibannya terhadap sesama.


8. Zakat mendidik kita menjadi manusia yang bersih

Allah menyebut zakat sebagai sarana tathhir dan tazkiyah—pembersihan dan penyucian. (Quran.com)

Maka zakat sebenarnya mendidik beberapa sifat:

Pertama, ikhlas.

Karena zakat dilakukan karena Allah.

Kedua, bersyukur.

Karena kita menyadari bahwa rezeki berasal dari Allah.

Ketiga, tidak kikir.

Karena kita belajar berbagi.

Keempat, peduli.

Karena kita menyadari ada saudara kita yang membutuhkan.

Kelima, bertanggung jawab.

Karena harta akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


9. Pesan praktis untuk jamaah

Maka setelah Subuh ini, mari kita melakukan tiga pemeriksaan sederhana.

Pertama: periksa sumber harta kita.

Apakah halal?

Kedua: periksa kewajiban harta kita.

Apakah sudah memenuhi syarat wajib zakat?

Ketiga: periksa hati kita.

Apakah harta semakin mendekatkan kita kepada Allah atau justru semakin menjauhkan kita dari Allah?

Karena boleh jadi seseorang memiliki sedikit harta tetapi kaya hati.

Dan boleh jadi seseorang memiliki banyak harta tetapi hatinya selalu merasa kurang.


๐ŸŒฟ PENUTUP

Jamaah Subuh yang dirahmati Allah.

Mari kita pulang dengan satu kalimat sederhana:

“Jangan hanya mencari harta yang banyak, tetapi carilah harta yang berkah.”

Harta yang berkah adalah harta yang:

dicari dengan cara halal,

dinikmati dengan cara halal,

dikeluarkan pada jalan yang halal,

dan ditunaikan kewajibannya kepada Allah.

Sebab pada akhirnya kita tidak membawa seluruh harta ke dalam kubur.

Yang kita bawa adalah amal kita.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, rajin beribadah, lapang berbagi, dan mampu menunaikan zakat dengan benar.

ุงู„ู„ู‡ู… ุทู‡ุฑ ู‚ู„ูˆุจู†ุง، ูˆุฒูƒ ุฃู…ูˆุงู„ู†ุง، ูˆุจุงุฑูƒ ููŠ ุฃุฑุฒุงู‚ู†ุง، ูˆุงุฌุนู„ ุฃู…ูˆุงู„ู†ุง ุนูˆู†ًุง ู„ู†ุง ุนู„ู‰ ุทุงุนุชูƒ.

Ya Allah, bersihkan hati kami, sucikan harta kami, berkahilah rezeki kami, dan jadikan harta kami sebagai sarana untuk semakin taat kepada-Mu.

ุขู…ูŠู† ูŠุง ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†.


๐Ÿ“š Rujukan utama

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid III, pembahasan Zakat.

QS. At-Taubah: 103 — zakat sebagai sarana penyucian. (Quran.com)

Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis tentang lima rukun Islam, termasuk zakat. (Sunnah)

Kamis, 17 September 2026

BAHAYA LISAN MENURUT IMAM AL-GHAZALI

BAHAYA LISAN MENURUT IMAM AL-GHAZALI

Imam Abu Hamid Al-Ghazali memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lisan dalam Ihya' 'Ulum al-Din, khususnya pembahasan Kitab ฤ€fฤt al-LisฤnKitab Bahaya-Bahaya Lisan.

Beliau mengingatkan bahwa lisan memiliki banyak pintu yang dapat menyeret manusia kepada dosa.

Di antara bahaya lisan yang dibahas Al-Ghazali adalah:

1. Berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat

Tidak semua percakapan yang tidak haram otomatis memberikan manfaat.

Seorang Muslim perlu belajar meninggalkan perkataan yang sia-sia.

2. Berlebihan dalam berbicara

Terlalu banyak berbicara meningkatkan kemungkinan seseorang:

  • salah bicara,

  • menyakiti orang,

  • membuka aib,

  • berdusta,

  • atau terjerumus dalam dosa.

3. Membicarakan sesuatu yang tidak diketahui

Berbicara tanpa ilmu dapat menyesatkan orang lain.

4. Berdebat dan bertengkar

Perdebatan yang tidak bertujuan mencari kebenaran dapat berubah menjadi ajang mempertahankan ego.

5. Berdusta

Kebohongan menghancurkan kepercayaan.

6. Ghibah

Membicarakan keburukan seseorang di belakangnya.

7. Namimah

Membawa perkataan seseorang kepada orang lain sehingga menimbulkan kerusakan.

8. Membuka aib orang lain

Menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan pembicaraan.

9. Mencela dan menghina

Merendahkan martabat orang lain.

10. Perkataan keji dan kotor

Islam mengajarkan kesucian ucapan sebagaimana kesucian hati.

11. Sumpah yang tidak perlu

Lisan terkadang mudah mengucapkan sumpah hanya untuk meyakinkan orang.

12. Pujian yang berlebihan

Pujian yang berlebihan dapat menimbulkan kesombongan atau bahkan menjadi bentuk manipulasi.

13. Membocorkan rahasia

Rahasia adalah amanah. Membocorkannya tanpa alasan yang dibenarkan merupakan pengkhianatan.

G. LIDAH DAN JARI: DUA ALAT YANG HARUS DIJAGA

Dahulu orang berkata:

“Jaga lisanmu.”

Hari ini nasihat tersebut perlu diperluas:

Jaga lisanmu dan jaga jarimu.

Sebab apa yang dahulu hanya bisa disampaikan kepada beberapa orang, sekarang dapat tersebar kepada ribuan orang dalam hitungan detik.

Contohnya:

  • WhatsApp,

  • Facebook,

  • Instagram,

  • TikTok,

  • YouTube,

  • komentar,

  • grup keluarga,

  • grup masyarakat,

  • dan berbagai platform digital lainnya.

Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan:

BENAR?

Apakah informasinya benar?

BAIK?

Apakah membawa kebaikan?

PERLU?

Apakah memang perlu disampaikan?

BERMANFAAT?

Apakah ada manfaatnya?

Kalau empat pertanyaan ini tidak terpenuhi, jangan terburu-buru mengirim.

H. FITNAH DIGITAL: DOSA YANG BISA TERUS BERJALAN

Salah satu persoalan zaman sekarang adalah penyebaran informasi yang tidak benar.

Allah SWT berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุฅِู†ْ ุฌَุงุกَูƒُู…ْ ูَุงุณِู‚ٌ ุจِู†َุจَุฅٍ ูَุชَุจَูŠَّู†ُูˆุง

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan tabayyun.

Jangan karena judulnya menarik lalu langsung dibagikan.

Jangan karena dikirim oleh orang yang kita kenal lalu langsung dipercaya.

Jangan karena sesuai dengan pendapat kita lalu dianggap pasti benar.

Tidak semua yang viral itu benar.

Tidak semua yang benar perlu diviralkan.

I. LIMA PERTANYAAN SEBELUM BERBICARA

Mari kita jadikan sebagai “Filter 5T”:

1. Tepatkah?

Apakah informasi ini benar?

2. Tujuankah?

Apa tujuan saya berbicara?

3. Tempatkah?

Apakah ini waktu dan tempat yang tepat?

4. Teruskah?

Apakah informasi ini memang perlu diteruskan?

5. Tanggung jawabkah?

Apakah saya siap mempertanggungjawabkan ucapan ini di hadapan Allah?

Jika tidak yakin, diam.

Diam bukan berarti lemah.

Kadang diam adalah bentuk kecerdasan, kesabaran dan ketakwaan.

J. MENJAGA LISAN BUKAN BERARTI DIAM TERHADAP KEBENARAN

Perlu dipahami bahwa menjaga lisan bukan berarti tidak boleh berbicara.

Islam justru mengajarkan manusia untuk:

  • berkata benar,

  • menyampaikan nasihat,

  • amar ma'ruf nahi munkar,

  • membela orang yang dizalimi,

  • mendamaikan pihak yang bertikai,

  • memberikan kesaksian,

  • menyampaikan ilmu,

  • dan menyeru kepada kebaikan.

Yang harus dijaga adalah cara, niat, kebenaran dan dampak ucapan.

Allah berfirman:

ูˆَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู„ِู„ู†َّุงุณِ ุญُุณْู†ًุง

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)

Jadi prinsipnya bukan:

“Jangan bicara.”

Tetapi:

“Bicaralah ketika ucapanmu membawa kebaikan.”

K. TANDA ORANG YANG MAMPU MENJAGA LISAN

Orang yang menjaga lisannya biasanya:

  1. Tidak tergesa-gesa menjawab.

  2. Tidak senang membuka aib orang.

  3. Tidak menjadikan kekurangan orang sebagai hiburan.

  4. Tidak mudah menyebarkan berita.

  5. Tidak suka memperpanjang perdebatan.

  6. Berani mengatakan “saya tidak tahu”.

  7. Meminta maaf ketika salah bicara.

  8. Lebih suka mendamaikan daripada mengadu domba.

  9. Berbicara dengan santun kepada orang yang berbeda.

  10. Membiasakan lisannya dengan dzikir dan kalimat thayyibah.

L. LATIHAN PRAKTIS MENJAGA LISAN

Program 24 Jam Menjaga Lisan

Ajak peserta penyuluhan mencoba selama satu hari:

Pertama: tidak menggunjing.

Kedua: tidak mencela.

Ketiga: tidak menyebarkan berita yang belum jelas.

Keempat: tidak membalas perkataan kasar dengan perkataan kasar.

Kelima: tidak membuka aib orang.

Keenam: mengurangi percakapan yang tidak bermanfaat.

Ketujuh: mengganti ucapan negatif dengan dzikir, doa atau kalimat positif.

Di akhir hari, lakukan muhasabah:

“Berapa banyak ucapan saya hari ini yang mendekatkan saya kepada Allah?”

Dan:

“Berapa banyak ucapan saya yang seandainya bisa diulang, ingin saya tarik kembali?”

M. KETIKA SUDAH TERLANJUR MENYAKITI DENGAN LISAN

Jika kita pernah menyakiti seseorang dengan ucapan, jangan gengsi untuk meminta maaf.

Katakan:

“Maaf, ucapan saya tadi salah. Saya tidak seharusnya mengatakan itu.”

Jangan mencari pembenaran:

“Saya kan cuma bercanda.”

Karena niat bercanda tidak otomatis menghapus luka yang ditimbulkan.

Dan apabila kita pernah melakukan ghibah, maka lakukan taubat kepada Allah dan berhati-hati agar tidak semakin memperluas pembicaraan yang salah tersebut. Jika menyangkut hak orang lain, pertimbangkan cara memperbaiki kerugian dan hubungan dengan bijaksana, tanpa menimbulkan mudarat baru.

N. RENUNGAN: SUATU SAAT LISAN AKAN DIAM

Ada saatnya manusia tidak mampu lagi berbicara.

Tidak bisa membela diri.

Tidak bisa menjelaskan maksud.

Tidak bisa meminta kesempatan kedua.

Itulah ketika kematian datang.

Allah mengingatkan:

ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ู†َุฎْุชِู…ُ ุนَู„َู‰ٰ ุฃَูْูˆَุงู‡ِู‡ِู…ْ ูˆَุชُูƒَู„ِّู…ُู†َุง ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَุชَุดْู‡َุฏُ ุฃَุฑْุฌُู„ُู‡ُู…ْ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)

Hari ini kita menggunakan lisan untuk berbicara.

Kelak anggota tubuh kita sendiri yang menjadi saksi.

Maka sebelum lisan kita menjadi saksi atas keburukan kita, jadikan lisan sebagai jalan menuju keselamatan.

O. KESIMPULAN

Menjaga lisan bukan perkara kecil.

Ia adalah bagian dari iman dan akhlak seorang Muslim.

Lisan dapat menjadi:

JALAN KE SURGA
dengan dzikir, ilmu, doa, nasihat dan perkataan baik.

Tetapi lisan juga dapat menjadi:

JALAN MENUJU DOSA
melalui dusta, ghibah, fitnah, namimah, celaan, penghinaan dan perkataan sia-sia.

Karena itu, mari kita pegang prinsip:

“SARING SEBELUM SHARING.”

“PIKIR SEBELUM BICARA.”

“TABAYYUN SEBELUM MENYEBARKAN.”

“DIAM JIKA TIDAK ADA KEBAIKAN YANG DAPAT DIUCAPKAN.”

Dan yang paling penting:

Jangan biarkan lisan yang hanya beberapa sentimeter panjangnya membawa kita kepada penyesalan yang panjang di akhirat.

DOA PENUTUP

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุทَู‡ِّุฑْ ุฃَู„ْุณِู†َุชَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْูƒَุฐِุจِ ูˆَุงู„ْุบِูŠุจَุฉِ ูˆَุงู„ู†َّู…ِูŠู…َุฉِ، ูˆَุทَู‡ِّุฑْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْุญِู‚ْุฏِ ูˆَุงู„ْุญَุณَุฏِ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْ ุฃَู„ْุณِู†َุชَู†َุง ุฑَุทْุจَุฉً ุจِุฐِูƒْุฑِูƒَ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْ ูƒَู„َุงู…َู†َุง ุณَุจَุจًุง ู„ِู„ْุฎَูŠْุฑِ ูˆَุงู„ْู…َุญَุจَّุฉِ ูˆَุงู„ْุฅِุตْู„َุงุญِ.

“Ya Allah, bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah dan namimah. Bersihkan hati kami dari kebencian dan kedengkian. Jadikan lisan kami senantiasa basah dengan mengingat-Mu, dan jadikan perkataan kami sebab lahirnya kebaikan, kasih sayang dan perdamaian.”

Aamiin.

Rujukan utama

  • Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah: 83; Al-Isra’: 53; Al-Ahzab: 70–71; Al-Hujurat: 6, 11–12; Qaf: 18; Yasin: 65.

  • Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: hadis “berkata baik atau diam”, ghibah, dan namimah.

  • Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab ฤ€fฤt al-Lisฤn (Bahaya-Bahaya Lisan).

MENJAGA LISAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

 


MENJAGA LISAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Ketika Kata-Kata Menjadi Amal dan Lisan Menjadi Jalan Keselamatan

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada sesuatu yang kecil pada tubuh manusia, tetapi dampaknya bisa sangat besar: lisan.

Dengan lisan, seseorang dapat menenangkan hati yang sedang gelisah, mendamaikan dua orang yang berselisih, memberikan semangat kepada orang yang hampir menyerah, mengajarkan ilmu, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa.

Tetapi dengan lisan yang sama, seseorang juga dapat menghancurkan persahabatan, meretakkan rumah tangga, memecah persaudaraan, membuka aib, menyebarkan fitnah bahkan menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam dosa.

Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lisan.

Allah SWT berfirman:

ู…َุง ูŠَู„ْูِุธُ ู…ِู†ْ ู‚َูˆْู„ٍ ุฅِู„َّุง ู„َุฏَูŠْู‡ِ ุฑَู‚ِูŠุจٌ ุนَุชِูŠุฏٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak sebelum berbicara. Sebab setiap kata bukan sekadar suara yang hilang di udara. Ada malaikat yang mencatatnya dan kelak semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketika Lisan Tidak Lagi Hanya Berupa Suara

Dahulu kita mengenal nasihat: “Jagalah lisanmu.”

Hari ini nasihat tersebut perlu diperluas menjadi:

“Jagalah lisanmu dan jagalah jarimu.”

Sebab perkataan tidak lagi hanya keluar dari mulut. Ia juga keluar melalui jari-jari kita.

Satu komentar di media sosial, satu unggahan, satu pesan WhatsApp, satu rekaman suara, bahkan satu tindakan forward dapat menyebar jauh lebih cepat daripada perkataan yang disampaikan secara langsung.

Karena itu, persoalan menjaga lisan pada zaman digital sesungguhnya menjadi semakin penting.

Sebelum berbicara atau mengirim sesuatu, kita perlu bertanya:

Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

Jika tidak, mungkin diam adalah pilihan yang lebih selamat.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ูŠُุคْู…ِู†ُ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْุขุฎِุฑِ ูَู„ْูŠَู‚ُู„ْ ุฎَูŠْุฑًุง ุฃَูˆْ ู„ِูŠَุตْู…ُุชْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sederhana, tetapi sangat dalam. Islam tidak mengajarkan kita untuk selalu diam. Islam mengajarkan agar setiap perkataan memiliki nilai kebaikan.

Benar Saja Belum Cukup

Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan kita berkata benar, tetapi juga berkata dengan cara yang baik.

Allah SWT berfirman:

ูˆَู‚ُู„ْ ู„ِุนِุจَุงุฏِูŠ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆุง ุงู„َّุชِูŠ ู‡ِูŠَ ุฃَุญْุณَู†ُ

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
(QS. Al-Isra’: 53)

Ini penting.

Kadang seseorang berkata, “Saya hanya menyampaikan kebenaran.”

Namun kebenaran yang disampaikan dengan cara yang kasar dapat melukai hati. Nasihat yang benar tetapi disampaikan dengan penghinaan dapat membuat orang justru menjauh.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya belajar apa yang harus dikatakan, tetapi juga belajar bagaimana mengatakannya.

Allah juga berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู‚َูˆْู„ًุง ุณَุฏِูŠุฏًุง

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Kebenaran membutuhkan keberanian, tetapi penyampaiannya membutuhkan kebijaksanaan.

Ghibah: Obrolan yang Terasa Ringan, Dosanya Berat

Salah satu penyakit lisan yang sering dianggap biasa adalah ghibah.

Kadang ia dimulai dari percakapan sederhana:

“Kamu tahu tidak, si fulan itu sebenarnya begini…”

Lalu pembicaraan berkembang.

Kekurangan seseorang dibahas. Kesalahannya diceritakan. Aibnya dibuka. Orang yang tidak hadir menjadi bahan percakapan.

Yang lebih berbahaya, ghibah sering dibungkus dengan kalimat:

“Saya bukan menjelek-jelekkan, saya hanya cerita.”

Padahal Rasulullah ๏ทบ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang ia tidak sukai.

Allah memberikan gambaran yang sangat keras:

“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Mengapa Allah menggunakan gambaran yang begitu mengerikan?

Karena ghibah sering terasa ringan ketika dilakukan, tetapi dampaknya sangat merusak kehormatan manusia.

Yang lebih menyedihkan, seseorang bisa saja rajin beribadah tetapi lisannya masih sibuk memakan kehormatan saudaranya.

Ketika Informasi Menjadi Fitnah

Di era media sosial, tantangan menjaga lisan bertambah besar karena kita hidup dalam arus informasi yang begitu deras.

Berita datang setiap saat.

Video beredar.

Potongan percakapan menjadi viral.

Judul berita dibuat sedemikian menarik agar orang segera membuka dan membagikannya.

Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan tabayyun.

Allah SWT berfirman:

ูَุชَุจَูŠَّู†ُูˆุง

“Maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Jangan sampai kita menjadi bagian dari rantai penyebaran berita yang ternyata tidak benar.

Kadang kita bukan pembuat fitnah, tetapi kita menjadi perantara penyebarnya.

Maka sebuah prinsip sederhana patut kita tanamkan:

Tidak semua yang kita dengar harus kita ceritakan.

Tidak semua yang kita baca harus kita bagikan.

Tidak semua yang viral berarti benar.

Namimah: Menjadi Kurir yang Membawa Api

Ada pula bahaya lisan yang disebut namimah, yaitu membawa perkataan seseorang kepada orang lain dengan cara yang menimbulkan kerusakan hubungan.

Kalimatnya sering sangat sederhana:

“Saya sebenarnya tidak bermaksud mengadu, tetapi tadi dia mengatakan sesuatu tentang kamu…”

Setelah itu hubungan berubah.

Yang tadinya biasa menjadi curiga.

Yang tadinya akrab menjadi bermusuhan.

Yang tadinya damai menjadi bertengkar.

Rasulullah ๏ทบ memberikan peringatan keras terhadap perilaku ini.

Karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat, kita jangan menjadi kurir konflik.

Jadilah jembatan perdamaian.

Jika mendengar sesuatu yang berpotensi menimbulkan permusuhan, jangan buru-buru menyebarkannya. Jika mampu, justru redam dan selesaikan dengan cara yang bijaksana.

Imam Al-Ghazali dan “Penyakit-Penyakit Lisan”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, khususnya pembahasan ฤ€fฤt al-Lisฤn atau bahaya-bahaya lisan, memberikan perhatian yang sangat serius terhadap persoalan ini.

Menurut pembahasan beliau, lisan memiliki banyak pintu yang dapat membawa manusia kepada kebinasaan.

Di antaranya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, terlalu banyak berbicara, berbicara tanpa ilmu, berdebat, berdusta, ghibah, namimah, membuka aib, mencela, berkata kotor, membuka rahasia dan berbagai bentuk ucapan yang merusak.

Pelajaran penting dari Al-Ghazali adalah bahwa bahaya lisan tidak hanya terletak pada kata-kata yang jelas-jelas haram.

Percakapan yang berlebihan dan tidak bermanfaat pun perlu diwaspadai karena semakin banyak seseorang berbicara, semakin banyak pula peluang salah dan tergelincir.

Karena itu, kemampuan menahan diri untuk tidak berbicara merupakan bagian dari latihan spiritual.

Kadang Diam Lebih Sulit daripada Berbicara

Berbicara itu mudah.

Menjawab komentar orang mudah.

Membalas hinaan juga mudah.

Yang sulit adalah menahan diri ketika kita sebenarnya mampu membalas.

Di situlah kualitas akhlak diuji.

Ketika seseorang menghina kita, kita mempunyai pilihan.

Membalas dengan hinaan.

Atau memilih kalimat yang lebih baik.

Ketika seseorang membuka aib kita, kita mempunyai pilihan.

Membuka aibnya kembali.

Atau menghentikan rantai keburukan.

Ketika mendapatkan informasi yang belum jelas, kita mempunyai pilihan.

Langsung membagikannya.

Atau memilih tabayyun.

Di situlah iman bekerja.

Lisan yang Baik, Hati yang Baik

Lisan sebenarnya adalah cermin dari apa yang ada di dalam hati.

Hati yang dipenuhi kebencian mudah melahirkan celaan.

Hati yang dipenuhi iri mudah membicarakan kekurangan orang lain.

Hati yang dipenuhi kesombongan mudah merendahkan.

Sebaliknya, hati yang dekat dengan Allah akan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Karena itu, menjaga lisan tidak cukup hanya dengan menutup mulut.

Kita juga harus membersihkan hati.

Ketika hati dipenuhi dzikir, lisan akan lebih mudah mengucapkan kalimat yang baik.

Ketika hati dipenuhi kasih sayang, lisan akan lebih mudah memberikan nasihat dengan kelembutan.

Ketika hati dipenuhi kesadaran bahwa semua ucapan dicatat Allah, kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Satu Kalimat Bisa Menjadi Sedekah

Jangan mengira menjaga lisan hanya berarti menghindari dosa.

Lisan juga dapat menjadi sumber pahala.

Mengucapkan subhanallah adalah kebaikan.

Membaca Al-Qur’an adalah kebaikan.

Mendoakan orang lain adalah kebaikan.

Mengucapkan terima kasih adalah kebaikan.

Meminta maaf adalah kebaikan.

Menghibur orang yang sedang bersedih adalah kebaikan.

Mendamaikan orang yang bertikai adalah kebaikan.

Bahkan satu kalimat sederhana:

“Saya percaya kamu bisa melewati ini.”

bisa menjadi kekuatan bagi seseorang yang sedang berada dalam titik terendah hidupnya.

Maka jangan hanya bertanya:

“Bagaimana agar lisan saya tidak berdosa?”

Tetapi bertanyalah:

“Bagaimana agar lisan saya menjadi sumber pahala?”

Sebelum Lisan Terdiam Selamanya

Ada saatnya lisan kita tidak mampu lagi berbicara.

Tidak mampu menjelaskan.

Tidak mampu membela diri.

Tidak mampu meminta maaf.

Tidak mampu mengatakan “saya salah.”

Itulah saat kematian datang.

Allah SWT berfirman:

ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ู†َุฎْุชِู…ُ ุนَู„َู‰ٰ ุฃَูْูˆَุงู‡ِู‡ِู…ْ ูˆَุชُูƒَู„ِّู…ُู†َุง ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَุชَุดْู‡َุฏُ ุฃَุฑْุฌُู„ُู‡ُู…ْ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)

Hari ini kita berbicara sesuka hati.

Kelak kita akan mempertanggungjawabkan apa yang pernah kita ucapkan.

Maka sebelum lisan kita ditutup oleh kematian, mari kita gunakan ia untuk memperbanyak kebaikan.

Kurangi mencela.

Perbanyak mendoakan.

Kurangi menggunjing.

Perbanyak menasihati dengan kasih sayang.

Kurangi menyebarkan aib.

Perbanyak menutup aib saudara.

Kurangi perdebatan.

Perbanyak mencari jalan perdamaian.

Kurangi menyebarkan berita yang belum jelas.

Perbanyak tabayyun.

Dan ketika tidak ada kebaikan yang dapat kita katakan:

DIAMLAH.

Sebab boleh jadi, satu diam yang kita pilih hari ini adalah salah satu sebab keselamatan kita di akhirat.

Pada akhirnya, lisan kita hanya memiliki dua kemungkinan:

menjadi saksi kebaikan kita, atau menjadi saksi keburukan kita.

Maka mari kita berdoa agar setiap kata yang keluar dari mulut kita menjadi kata yang Allah ridai.

“Ya Allah, bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah dan namimah. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir kepada-Mu. Jadikan setiap perkataan kami membawa kebaikan, kedamaian dan keberkahan bagi sesama.”

Aamiin.

Senin, 14 September 2026

LAGI, PENYULUH AGAMA DAMPINGI PROSES SERTIFIKASI TANAH WAKAF

 


LAGI, PENYULUH AGAMA DAMPINGI PROSES SERTIFIKASI TANAH WAKAF

Dari Verifikasi Dokumen Menuju Kepastian Hukum dan Pemberdayaan Aset Umat

Padang Panjang — Komitmen dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat kembali diwujudkan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur dalam proses sertifikasi tanah wakaf untuk kepentingan umat. Sekalipun berbeda wilayah kerja, tanggungjawab pendampingan dapat dilakukan dimana saja terlebih lagi di lingkungan tempat tinggal sebagai kompetensi sosial penyuluh agama.

Senin, 14 September 2026, bertempat di ruang Kepala KUA, dilaksanakan penandatanganan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) setelah melalui tahapan verifikasi dan validasi terhadap dokumen serta data tanah wakaf yang diajukan.

Proses tersebut dihadiri oleh tiga orang wakif, tiga orang nazir perorangan, dua orang saksi, serta perwakilan jamaah Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian. Kehadiran para pihak menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa proses administrasi wakaf berjalan secara tertib, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pendampingan terhadap proses wakaf tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memberikan kepastian administrasi dan hukum terhadap aset yang telah diperuntukkan bagi kepentingan umat. Tanah wakaf bukan sekadar sebidang tanah yang diserahkan untuk kepentingan keagamaan, tetapi merupakan amanah yang memiliki nilai ibadah sekaligus manfaat sosial yang panjang.

Kepala KUA Kecamatan X Koto, Bisti Samsuri, dalam kesempatan tersebut memberikan pembinaan kepada para pihak mengenai pentingnya memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam pengelolaan wakaf.

Kepada para wakif, disampaikan bahwa wakaf merupakan amal jariyah yang harus dijaga keberlanjutan manfaatnya. Sementara kepada nazir, ditekankan bahwa amanah yang diterima bukan hanya menjaga keberadaan fisik aset wakaf, tetapi juga memastikan aset tersebut dapat memberikan manfaat secara optimal sesuai dengan tujuan perwakafan.

“Nazir memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga, mengelola, dan memberdayakan aset wakaf agar tetap produktif dan memberikan manfaat bagi umat,” demikian inti pembinaan yang disampaikan.

Selain wakif dan nazir, masyarakat dan jamaah juga memiliki peran penting. Aset wakaf yang telah diperuntukkan bagi mushalla dan kepentingan umat tidak cukup hanya dijaga oleh pengurus atau nazir. Diperlukan tanggung jawab bersama seluruh jamaah untuk merawat, menjaga kelestarian, serta mengembangkan pemanfaatannya secara baik dan berkelanjutan.

Wakaf pada hakikatnya merupakan investasi akhirat. Karena itu, semakin tertib administrasinya, semakin kuat pula kepastian hukumnya; semakin baik pengelolaannya, semakin panjang pula manfaat yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks tersebut, sertifikasi tanah wakaf menjadi langkah strategis untuk memberikan perlindungan terhadap aset umat. Legalitas yang jelas diharapkan dapat mencegah munculnya persoalan di kemudian hari sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan dan pemberdayaan aset wakaf.

Sebagai pengurus Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian sekaligus pemohon, Wahyu Salim menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KUA atas pelayanan serta pendampingan yang diberikan selama proses pengurusan tanah wakaf tersebut.

“Terima kasih atas pelayanan dan pendampingan yang diberikan. Kita berharap proses ini dapat terus berjalan sampai tuntas, sehingga nantinya sertifikat tanah wakaf dapat diterbitkan dan memberikan kepastian hukum bagi aset umat,” ujarnya.

Ia berharap legalitas tanah wakaf tersebut nantinya semakin memperkuat keberadaan Mushalla Diinul Haq sebagai pusat ibadah, pembinaan keagamaan, pendidikan umat, sekaligus ruang kebersamaan masyarakat.

Proses sertifikasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendampingan Penyuluh Agama tidak hanya berlangsung di mimbar dan majelis taklim, tetapi juga hadir dalam persoalan nyata masyarakat, termasuk membantu umat menata administrasi wakaf agar tertib, aman, dan memiliki kepastian hukum.

Bagi Penyuluh Agama, pendampingan wakaf merupakan bagian dari penguatan literasi keagamaan sekaligus literasi hukum masyarakat. Sebab, mengurus wakaf bukan hanya menyelesaikan administrasi, tetapi juga menjaga amanah para wakif dan memastikan manfaatnya terus mengalir untuk generasi demi generasi.

Dengan semangat pelayanan dan kolaborasi antara KUA, wakif, nazir, pengurus mushalla, serta masyarakat, diharapkan proses sertifikasi tanah wakaf Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian dapat berjalan hingga tahap akhir.

Wakaf tertib, aset umat terlindungi. Wakaf dikelola dengan amanah, manfaatnya terus mengalir.

TAJWID DAN HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

 


MATERI PENYULUHAN AGAMA ISLAM

TAJWID DAN HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

“Bukan sekadar lancar membaca, tetapi tepat dalam melafalkan kalam Allah”

A. Pengantar

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, dan seorang Muslim diperintahkan untuk membacanya dengan tartil.

Allah SWT berfirman:

ูˆَุฑَุชِّู„ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุชَุฑْุชِูŠู„ًุง

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
QS. Al-Muzzammil: 4

Tartil berarti membaca dengan tenang, jelas, teratur, memperhatikan makhraj, sifat huruf, hukum bacaan, panjang-pendek, serta waqaf dan ibtida’.

Karena itu, belajar tajwid bukan sekadar agar suara terdengar indah. Tajwid membantu kita menjaga bacaan Al-Qur’an agar tidak menyimpang dari cara baca yang benar.

B. APA ITU TAJWID?

1. Pengertian Tajwid

Secara bahasa, tajwid (ุงู„ุชุฌูˆูŠุฏ) berarti membaguskan atau memperindah.

Secara istilah:

Tajwid adalah memberikan setiap huruf hak dan mustahaknya ketika dibaca.

Yang dimaksud hak huruf antara lain makhraj dan sifat-sifat asli huruf.

Sedangkan mustahak huruf adalah hukum-hukum yang muncul ketika huruf bertemu dengan huruf lainnya, seperti idgham, ikhfa, iqlab, mad, qalqalah dan sebagainya.

Rumus sederhananya:

Makhraj + Sifat Huruf + Hukum Bacaan + Panjang-Pendek + Waqaf/Ibtida’ = Bacaan Al-Qur’an yang benar.

C. APAKAH MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TAJWID ITU WAJIB?

Ini bagian yang penting disampaikan secara proporsional.

Para ulama membedakan antara mempelajari ilmu tajwid secara teori dan menerapkan tajwid ketika membaca Al-Qur’an.

1. Mempelajari ilmu tajwid secara mendalam

Mempelajari seluruh teori dan cabang ilmu tajwid secara mendalam merupakan fardhu kifayah bagi umat Islam.

Artinya, harus ada sebagian umat yang mendalaminya sehingga ilmu tersebut terpelihara dan dapat diajarkan kepada masyarakat.

2. Membaca Al-Qur’an dengan benar

Adapun setiap Muslim yang membaca Al-Qur’an wajib berusaha memperbaiki bacaannya sesuai kemampuan, terutama agar tidak melakukan kesalahan yang nyata (lahn jali) yang dapat mengubah huruf, harakat, atau makna.

Jadi jangan sampai pemahaman:

“Belajar tajwid hukumnya fardhu kifayah”

kemudian digunakan sebagai alasan:

“Saya tidak perlu belajar tajwid.”

Justru bagi orang yang membaca Al-Qur’an, belajar memperbaiki bacaan menjadi kebutuhan agama.

D. LAHN: KESALAHAN DALAM MEMBACA AL-QUR’AN

Dalam ilmu qira'ah/tajwid dikenal istilah lahn, yaitu kesalahan dalam membaca.

1. Lahn Jali

Lahn jali adalah kesalahan yang jelas, misalnya salah huruf atau harakat sehingga dapat mengubah lafaz atau makna.

Contoh:

ุฃَู†ْุนَู…ْุชَ

dibaca dengan mengubah huruf atau harakat secara keliru.

Contoh lain yang sangat penting:

ู‚ُู„ْ

huruf ู‚ tidak boleh berubah menjadi ูƒ.

Karena:

ู‚ُู„ْ dan ูƒُู„ْ

merupakan dua lafaz yang berbeda.

Maka kesalahan makhraj bukan sekadar masalah "logat", tetapi dalam kasus tertentu dapat berpengaruh terhadap makna.

E. HUKUM NUN SUKUN DAN TANWIN

Ini salah satu materi tajwid paling penting dan mudah dipraktikkan.

Nun sukun (ู†ْ) dan tanwin (ู€ู€ًู€ู€ٍู€ู€ٌ) mempunyai empat hukum.

1. IZHHAR HALQI

Pengertian

Izhar berarti jelas.

Apabila ู†ْ atau tanwin bertemu salah satu huruf:

ุก ู‡ ุน ุญ ุบ ุฎ

maka dibaca jelas.

Contoh:

ู…َู†ْ ุขู…َู†َ

Nun sukun bertemu ุก, dibaca jelas.

ุนَู„ِูŠู…ٌ ุญَูƒِูŠู…ٌ

Tanwin bertemu ุญ, dibaca jelas.

Praktik:

ู…َู†ْ ุขู…َู†َ

Jangan memasukkan suara nun ke huruf setelahnya.

2. IDGHAM

Idgham berarti memasukkan atau meleburkan.

Huruf idgham:

ูŠ ุฑ ู… ู„ ูˆ ู†

Dapat diingat dengan:

ูŠَุฑْู…َู„ُูˆู†َ

Contoh:

ู…َู†ْ ูŠَุนْู…َู„ْ

Nun sukun bertemu ูŠ, sehingga dibaca dengan idgham.

ู…ِู†ْ ุฑَุจِّู‡ِู…ْ

Nun sukun bertemu ุฑ, sehingga nun melebur ke dalam ra.

Idgham Bighunnah

Huruf:

ูŠ ู† ู… ูˆ

Contoh:

ู…َู†ْ ูŠَู‚ُูˆู„ُ

dibaca dengan dengung.

Idgham Bilaghunnah

Huruf:

ู„ ุฑ

Contoh:

ู…ِู†ْ ุฑَุจِّู‡ِู…ْ

dibaca tanpa ghunnah.

3. IQLAB

Iqlab berarti mengubah.

Apabila ู†ْ atau tanwin bertemu ุจ, maka suara nun/tanwin berubah menjadi suara mim samar disertai dengung.

Contoh:

ุฃَู†ْุจِุฆْู‡ُู…ْ

atau:

ุณَู…ِูŠุนٌ ุจَุตِูŠุฑٌ

Tanwin bertemu ุจ.

Cara praktis:

Jangan membaca:

samฤซ'un bashฤซr

secara mentah.

Tetapi tanwin berubah menjadi bunyi mim samar:

samฤซ‘um bashฤซr

dengan ghunnah.

4. IKHFA’ HAQIQI

Ikhfa’ berarti menyamarkan.

Jika nun sukun/tanwin bertemu salah satu dari 15 huruf ikhfa, maka suara nun dibaca samar antara izhar dan idgham, disertai ghunnah.

Contoh:

ู…َู†ْ ุตَุจَุฑَ

Nun sukun bertemu ุต.

ุฃَู†ْูُุณَูƒُู…ْ

Nun sukun bertemu ู.

Praktik:

Jangan terlalu jelas:

man-shabara

dan jangan pula melebur seluruhnya.

Baca dengan samar + dengung.

F. HUKUM MIM SUKUN

Mim sukun ู…ْ mempunyai tiga hukum.

1. Izhar Syafawi

Jika mim sukun bertemu selain ู… dan ุจ, dibaca jelas.

Contoh:

ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุบَูŠْุฑِ

Mim dibaca jelas.

2. Ikhfa Syafawi

Jika mim sukun bertemu ุจ, dibaca samar dengan dengung.

Contoh:

ุชَุฑْู…ِูŠู‡ِู…ْ ุจِุญِุฌَุงุฑَุฉٍ

Perhatikan:

ู…ْ + ุจ

dibaca dengan ikhfa syafawi.

3. Idgham Mimi

Jika mim sukun bertemu ู…, maka mim pertama dilebur ke mim kedua dengan ghunnah.

Contoh:

ู„َู‡ُู…ْ ู…َุง

Baca:

ู„َู‡ُู…َّุง

dengan dengung yang tepat.

G. QALQALAH

Pengertian

Qalqalah adalah memantulkan suara ketika mengucapkan huruf tertentu dalam keadaan sukun.

Huruf qalqalah:

ู‚ ุท ุจ ุฌ ุฏ

Mudah diingat:

ู‚ُุทْุจُ ุฌَุฏٍّ

Contoh:

ูŠَุฌْุนَู„ْ

Huruf ุฌْ mengalami qalqalah.

ุฃَุญَุฏْ

Ketika berhenti pada kata ุฃَุญَุฏْ, huruf ุฏ memantulkan suara.

Praktik:

Jangan diberi harakat tambahan.

Misalnya:

ุฃَุญَุฏْ

bukan:

ุฃَุญَุฏُ

Pantulan qalqalah bukan berarti menambahkan vokal baru.

H. HUKUM MAD

Mad berarti memanjangkan suara.

Huruf mad:

ุง – ูˆ – ูŠ

Mad Thabi'i

Panjang:

2 harakat

Contoh:

ู‚َุงู„َ

ูِูŠ

ูŠَู‚ُูˆู„ُ

Latih:

ู‚َุง — ู‚ِูŠ — ู‚ُูˆ

Jangan terlalu pendek dan jangan berlebihan.

Mad Wajib Muttasil

Mad bertemu hamzah dalam satu kata.

Contoh:

ุฌَุงุกَ

ุงู„ุณَّู…َุงุกِ

Dibaca lebih panjang daripada mad thabi'i sesuai riwayat bacaan yang digunakan, umumnya 4–5 harakat dalam Hafs ‘an ‘Ashim.

Mad Jaiz Munfasil

Huruf mad berada di akhir kata dan hamzah berada di awal kata berikutnya.

Contoh:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง

Dalam riwayat Hafs, umumnya dibaca 4–5 harakat ketika dibaca sambung.

I. HUKUM ALIF LAM

1. Alif Lam Syamsiyah

Lam tidak terdengar karena masuk ke huruf setelahnya.

Huruf syamsiyah antara lain:

ุช ุซ ุฏ ุฐ ุฑ ุฒ ุณ ุด ุต ุถ ุท ุธ ู„ ู†

Contoh:

ุงู„ุดَّู…ْุณِ

Bukan:

al-syamsi

tetapi:

asy-syamsi

2. Alif Lam Qamariyah

Lam dibaca jelas.

Contoh:

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ

ุงู„ْู‚َู…َุฑُ

Baca:

al-hamdu
al-qamaru

J. HUKUM RA (ุฑ)

Huruf ุฑ terkadang dibaca tebal (tafkhim) dan terkadang tipis (tarqiq), tergantung harakat dan keadaan di sekitarnya.

Contoh tebal:

ุฑَุจِّ

Ra berharakat fathah → tebal.

ู‚ُุฑْุขู†ٌ

Ra sukun didahului dhammah → tebal.

Contoh tipis:

ุฑِุฒْู‚ًุง

Ra berharakat kasrah → tipis.

Materi ini sebaiknya dilatih dengan mendengarkan guru karena hukum ra memiliki beberapa rincian.

K. GHUNNAH

Ghunnah adalah suara dengung yang keluar dari rongga hidung.

Paling jelas ketika:

ู†ّ

atau

ู…ّ

Contoh:

ุฅِู†َّ

ุซُู…َّ

ุงู„ู†َّุงุณِ

Dibaca dengan dengung sekitar dua harakat pada nun atau mim bertasydid.

Latihan:

ุฅِู†َّ — ุฃَู†َّ — ุซُู…َّ — ุนَู…َّ

Rasakan bahwa suara tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga memiliki resonansi melalui hidung.

L. WAQAF DAN IBTIDA'

Tajwid tidak selesai hanya dengan mengetahui idgham, ikhfa, mad dan qalqalah.

Kita juga harus mengetahui kapan berhenti dan dari mana memulai kembali.

Waqaf

Berhenti pada bacaan.

Ibtida'

Memulai bacaan setelah berhenti.

Contoh tanda dalam mushaf:

ู… → waqaf lazim
ุฌ → boleh berhenti atau terus
ู‚ู„ู‰ → lebih utama berhenti
ุตู„ู‰ → lebih utama melanjutkan
ู„ุง → jangan berhenti pada tempat tersebut jika tidak ada kebutuhan.

M. LATIHAN TAJWID DENGAN SATU AYAT

Mari kita gunakan:

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ

Perhatikan:

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ

→ Alif lam qamariyah, lam dibaca jelas.

ู„ِู„َّู‡ِ

→ lafaz Allah; lam jalalah dibaca tipis karena sebelumnya kasrah.

ุฑَุจِّ

→ ra dibaca tebal karena berharakat fathah.

ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ

→ alif setelah fathah menghasilkan mad thabi'i.

Jadi satu ayat saja sudah mengandung beberapa pelajaran tajwid.

N. LATIHAN AYAT BERIKUTNYA

ุฅِู†َّุง ุฃَุนْุทَูŠْู†َุงูƒَ ุงู„ْูƒَูˆْุซَุฑَ

Perhatikan:

ุฅِู†َّุง

Nun tasydid → ghunnah.

ุฃَุนْุทَูŠْู†َุงูƒَ

Perhatikan makhraj ุน, kemudian mad pada ู†َุง.

ุงู„ْูƒَูˆْุซَุฑَ

Alif lam qamariyah → lam dibaca jelas.

Latihan dilakukan dengan pola:

Baca → dengarkan → ulangi → koreksi.

O. TIGA TINGKAT KESALAHAN YANG PERLU DIWASPADAI

1. Salah makhraj

Contoh:

ู‚ menjadi ูƒ

ุต menjadi ุณ

ุญ menjadi ู‡

2. Salah harakat

Misalnya fathah dibaca kasrah atau dhammah.

3. Salah panjang-pendek

Mad yang seharusnya 2 harakat dibaca terlalu pendek atau terlalu panjang.

Ketiga hal ini harus mendapat perhatian ketika belajar membaca Al-Qur’an.

P. CARA MUDAH BELAJAR TAJWID

Gunakan prinsip:

1. Jangan hanya membaca teori

Langsung praktik.

2. Jangan hanya membaca sendiri

Sesekali setor bacaan kepada guru.

3. Jangan takut dikoreksi

Koreksi adalah bagian dari belajar.

4. Jangan mengejar cepat khatam

Utamakan ketepatan dan ketenangan.

5. Belajar sedikit tetapi rutin

Misalnya setiap hari 10–15 menit.

Q. PESAN PENYULUHAN

Ada orang yang mampu membaca Al-Qur’an satu juz dalam sehari, tetapi belum tentu seluruh bacaannya sudah tepat.

Sebaliknya, ada orang yang membaca perlahan karena masih belajar, tetapi setiap hari berusaha memperbaiki makhraj dan tajwidnya.

Allah melihat kesungguhan kita.

Rasulullah SAW bersabda:

ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ูˆَูŠَุชَุชَุนْุชَุนُ ูِูŠู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุดَุงู‚ٌّ ู„َู‡ُ ุฃَุฌْุฑَุงู†ِ

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata dalam membacanya karena kesulitan, baginya dua pahala.”
HR. Bukhari dan Muslim

Maka jangan malu mengatakan:

“Saya sedang belajar Al-Qur’an.”

Sebab yang berbahaya bukan belum bisa, tetapi tidak mau belajar.

R. KESIMPULAN

TAJWID BUKAN UNTUK MEMBUAT KITA SULIT MEMBACA AL-QUR’AN.

Justru tajwid dibuat untuk membantu kita:

✓ Mengucapkan huruf dengan benar
✓ Menjaga makna ayat
✓ Mengetahui panjang-pendek bacaan
✓ Menjaga dengung dan pantulan huruf
✓ Mengetahui tempat berhenti dan memulai
✓ Membaca Al-Qur’an dengan tartil

Kalimat kunci untuk jamaah:

“Belajar tajwid adalah belajar menjaga lisan agar ketika membaca kalam Allah, kita tidak sembarangan mengucapkannya.”

Dan satu pesan terakhir:

Tidak harus menjadi qari untuk belajar tajwid.
Tetapi setiap orang yang ingin membaca Al-Qur’an dengan benar, perlu belajar tajwid.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN MAKHRAJ DAN TAJWID YANG TEPAT

 


MATERI PENYULUHAN AGAMA ISLAM

MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN MAKHRAJ DAN TAJWID YANG TEPAT

“Membaca dengan benar, memahami dengan sadar, mengamalkan dengan cinta”

A. Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS. Membacanya merupakan ibadah. Namun, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dengan karakter bunyi dan kaidah yang khas, maka seorang Muslim perlu berusaha membacanya dengan makhraj dan tajwid yang benar.

Allah SWT berfirman:

ูˆَุฑَุชِّู„ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุชَุฑْุชِูŠู„ًุง

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)

Tartil bukan sekadar membaca dengan lambat, tetapi membaca dengan jelas, teratur, memperhatikan makhraj, sifat huruf, panjang-pendek bacaan, serta tempat berhenti dan memulai bacaan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

ุงู„ْู…َุงู‡ِุฑُ ุจِุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ู…َุนَ ุงู„ุณَّูَุฑَุฉِ ุงู„ْูƒِุฑَุงู…ِ ุงู„ْุจَุฑَุฑَุฉِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan berbakti.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, belajar tajwid bukan hanya untuk menjadi qari atau hafiz. Setiap Muslim yang membaca Al-Qur’an perlu berusaha memperbaiki bacaannya sesuai kemampuan.

B. APA ITU MAKHRAJUL HURUF?

1. Pengertian

Makharijul huruf adalah tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah ketika diucapkan.

Secara sederhana:

Makhraj = dari mana suara huruf keluar.

Kesalahan makhraj dapat menyebabkan perubahan bunyi, bahkan dalam kondisi tertentu dapat mengubah makna kata.

2. Lima tempat utama keluarnya huruf

Para ulama tajwid secara umum mengelompokkan makhraj ke dalam lima tempat utama:

MakhrajPenjelasanContoh
Al-Jauf (ุงู„ุฌูˆู)Rongga mulutุง ูˆ ูŠ mad
Al-Halq (ุงู„ุญู„ู‚)Tenggorokanุก ู‡ ุน ุญ ุบ ุฎ
Al-Lisan (ุงู„ู„ุณุงู†)Lidahู‚ ูƒ ุฌ ุด ูŠ ุช ุฏ ุท dll.
Asy-Syafatain (ุงู„ุดูุชุงู†)Dua bibirู ุจ ู… ูˆ
Al-Khaisyum (ุงู„ุฎูŠุดูˆู…)Rongga hidungsuara ghunnah

Contoh praktis

Perhatikan:

ุญَ — ู‡َ

  • ุญَ = ha dari tengah tenggorokan.

  • ู‡َ = ha dari pangkal tenggorokan.

Keduanya sama-sama sering ditulis “ha”, tetapi makhrajnya berbeda.

Contoh lain:

ุณَ — ุตَ

  • ุณ = sin, suara tipis.

  • ุต = shad, suara tebal.

Jangan sampai ุตِุฑَุงุทَ dibaca seperti ุณِุฑَุงุทَ.

Dalam:

ุงู‡ْุฏِู†َุง ุงู„ุตِّุฑَุงุทَ ุงู„ْู…ُุณْุชَู‚ِูŠู…َ

huruf ุต harus keluar dengan karakter yang benar.

C. SHIFATUL HURUF

1. Pengertian

Shifatul huruf adalah karakter atau sifat yang melekat pada suatu huruf ketika huruf tersebut diucapkan.

Kalau:

Makhraj menjawab: “Dari mana huruf keluar?”

maka:

Sifat huruf menjawab: “Bagaimana huruf itu dibunyikan?”

Dua huruf bisa memiliki makhraj yang berdekatan, tetapi mempunyai sifat suara yang berbeda.

2. Beberapa sifat huruf yang penting dipahami

a. Hams (ุงู„ู‡ู…ุณ) dan Jahr (ุงู„ุฌู‡ุฑ)

Hams adalah mengalirnya napas ketika mengucapkan huruf tertentu.

Hurufnya dapat diingat melalui:

ูَุญَุซَّู‡ُ ุดَุฎْุตٌ ุณَูƒَุชْ

Contoh:

ูَ، ุญَ، ุซَ، ู‡َ، ุดَ، ุฎَ، ุตَ، ุณَ، ูƒَ، ุชَ

Bandingkan:

ุณَ dan ุฒَ

Pada ุณَ, hembusan napas lebih terasa.

b. Isti'la dan Istifal

Isti'la berarti terangkatnya bagian belakang lidah sehingga menghasilkan suara yang cenderung tebal.

Huruf isti'la:

ุฎُุตَّ ุถَุบْุทٍ ู‚ِุธْ

yaitu:

ุฎ ุต ุถ ุบ ุท ู‚ ุธ

Contoh:

ู‚َุงู„َ

Huruf ู‚ dibaca tebal, bukan seperti ูƒ.

Bandingkan:

ู‚َู„ْุจٌ
dan
ูƒَู„ْุจٌ

Kesalahan membedakan ู‚ dan ูƒ dapat menghasilkan bunyi dan kata yang berbeda.

D. TAFKHIM DAN TARQIQ

Tafkhim

Tafkhim adalah membaca huruf dengan suara tebal.

Huruf isti'la pada dasarnya dibaca tebal:

ุฎ ุต ุถ ุบ ุท ู‚ ุธ

Contoh:

ู‚َุงู„َ – ุทَุงู„َ – ุตَุจْุฑٌ – ุบَูُูˆุฑٌ

Tarqiq

Tarqiq adalah membaca dengan suara tipis.

Contoh:

ุณَ – ุชَ – ูƒَ – ู„َ – ู…َ

Namun perlu diperhatikan bahwa beberapa huruf memiliki hukum khusus, terutama ุฑ (ra) dan ู„ (lam) pada lafaz Allah.

Contoh:

ู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ

Lam pada lafaz Allah dibaca tebal karena sebelumnya berharakat fathah.

Sedangkan:

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ

Lam pada lafaz Allah dibaca tipis karena sebelumnya kasrah.

E. MAD WA QASHAR

1. Pengertian Mad

Mad (ุงู„ู…ุฏ) berarti memanjangkan suara pada huruf mad.

Huruf mad ada tiga:

ุง — ูˆ — ูŠ

dengan ketentuan:

  • ุง didahului fathah

  • ูˆْ didahului dhammah

  • ูŠْ didahului kasrah

Contoh:

ู‚َุงู„َqฤla
ูŠَู‚ُูˆู„ُyaqลซlu
ู‚ِูŠู„َqฤซla

2. Mad Thabi'i

Mad thabi'i atau mad asli dibaca 2 harakat.

Contoh:

ู‚َุงู„َ
ูِูŠ
ูŠَู‚ُูˆู„ُ

Secara praktis:

ู‚َุง → 2 harakat
ูِูŠ → 2 harakat
ู‚ُูˆ → 2 harakat

Jangan terlalu pendek sehingga menjadi seperti bacaan biasa, tetapi jangan pula dipanjangkan tanpa alasan.

3. Qashar

Qashar berarti memendekkan bacaan pada tempat yang memang tidak memiliki hukum mad.

Contoh:

ู„َู…ْ
ุฃَู†ْ
ู…ِู†ْ

Tidak semua alif, wau, atau ya otomatis dibaca panjang. Harus dilihat apakah memenuhi syarat sebagai huruf mad.

Latihan sederhana

Bandingkan:

ู‚َุงู„َ → panjang 2 harakat

dengan:

ู‚َู„ْุจٌ → tidak ada mad pada ู‚َ

Ini penting karena panjang-pendek bacaan merupakan bagian dari ketepatan tajwid.

F. WAQAF DAN IBTIDA'

1. Pengertian Waqaf

Waqaf (ุงู„ูˆู‚ู) adalah menghentikan bacaan pada tempat tertentu dengan maksud melanjutkan kembali bacaan setelahnya.

Sedangkan:

Ibtida' (ุงู„ุงุจุชุฏุงุก) adalah memulai atau melanjutkan bacaan setelah berhenti.

Sederhananya:

Waqaf = di mana kita berhenti.
Ibtida' = dari mana kita mulai kembali.

Keduanya sangat penting karena berhenti pada tempat yang salah dapat mengganggu atau bahkan mengubah pemahaman makna ayat.

G. MENGENAL TANDA-TANDA WAQAF

Beberapa tanda waqaf yang sering ditemukan dalam mushaf:

ู…

Waqaf lazim — sebaiknya berhenti karena jika diteruskan dapat mengganggu makna.

ู„ุง

Jangan berhenti pada tempat tersebut apabila tidak diperlukan.

ุฌ

Waqaf jaiz — boleh berhenti, boleh melanjutkan.

ู‚ู„ู‰

Lebih utama berhenti.

ุตู„ู‰

Lebih utama melanjutkan.

ۛ ۛ

Tanda waqaf mu'anaqah — biasanya terdapat dua tanda berpasangan. Berhenti pada salah satunya, bukan pada keduanya.

H. CONTOH PRAKTIS WAQAF

Perhatikan ayat:

ู„َุง ุชَู‚ْุฑَุจُูˆุง ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ุณُูƒَุงุฑَู‰ٰ

Jangan membaca secara sembarangan dengan memotong kalimat sehingga makna menjadi tidak lengkap.

Demikian pula ketika membaca ayat yang panjang, seorang pembaca harus memahami struktur makna sebelum menentukan tempat berhenti.

Prinsip penting:

Jangan hanya bertanya: “Di sini boleh berhenti atau tidak?”

Tetapi juga tanyakan:

“Kalau saya berhenti di sini, apakah makna ayat masih utuh?”

Inilah pentingnya memadukan ilmu tajwid dengan pemahaman terhadap makna Al-Qur'an.

I. KESALAHAN YANG SERING TERJADI

1. Makhraj tidak tepat

Contoh:

ุณ dibaca seperti ุต

ุฐ dibaca seperti ุฒ

ุญ dibaca seperti ู‡

ุน sering hilang atau berubah menjadi hamzah.

2. Huruf tebal dibaca tipis

Misalnya:

ุทَุงู„َ

dibaca seperti:

ุชَุงู„َ

Padahal ุท dan ุช berbeda sifatnya.

3. Mad tidak konsisten

Kadang bacaan 2 harakat dibaca terlalu pendek, di lain tempat terlalu panjang.

4. Ghunnah tidak diperhatikan

Contoh:

ุฅِู†َّ

Huruf ู†ّ mengandung tasydid sehingga dibaca dengan ghunnah.

Demikian juga:

ุซُู…َّ

Huruf ู…ّ dibaca dengan dengung.

5. Berhenti sembarangan

Pembaca berhenti hanya karena kehabisan napas, tanpa memperhatikan kesempurnaan makna.

J. METODE LATIHAN PRAKTIS

Agar penyuluhan tidak berhenti pada teori, gunakan metode “Dengar – Tiru – Koreksi – Ulangi.”

Tahap 1 — Dengar

Peserta mendengarkan bacaan guru/pembimbing.

Tahap 2 — Tiru

Peserta mengikuti bacaan secara bersama-sama.

Tahap 3 — Koreksi

Guru memperhatikan:

  • makhraj,

  • sifat huruf,

  • mad,

  • ghunnah,

  • waqaf.

Tahap 4 — Ulangi

Peserta membaca kembali sampai semakin tepat.

K. LATIHAN 5 MENIT SETIAP HARI

Tidak perlu langsung mempelajari seluruh teori tajwid.

Mulailah dari:

Menit 1

Latihan makhraj:

ุฃَ – ุนَ – ุญَ – ู‡َ
ุณَ – ุตَ
ุชَ – ุทَ
ุฏَ – ุถَ
ูƒَ – ู‚َ

Menit 2

Latihan huruf tebal:

ุฎَ – ุตَ – ุถَ – ุบَ – ุทَ – ู‚َ – ุธَ

Menit 3

Latihan mad:

ู‚َุง – ู‚ُูˆ – ู‚ِูŠ

Menit 4

Latihan ghunnah:

ุฅِู†َّ – ุซُู…َّ – ุฃَู…َّุง

Menit 5

Baca satu atau dua ayat dengan memperhatikan:

Makhraj + sifat + mad + waqaf.

Lebih baik lima menit setiap hari daripada belajar satu jam tetapi hanya sesekali.

L. PESAN PENYULUHAN

Ada orang yang malu mengakui:

“Bacaan Al-Qur’an saya belum lancar.”

Padahal tidak ada yang perlu dipermalukan.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika seseorang merasa sudah benar sehingga tidak mau belajar lagi.

Rasulullah SAW memberikan kabar gembira:

ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ูˆَูŠَุชَุชَุนْุชَุนُ ูِูŠู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุดَุงู‚ٌّ ู„َู‡ُ ุฃَุฌْุฑَุงู†ِ

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata dalam membacanya serta merasa kesulitan, baginya dua pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan malu belajar.

Lancar bukan alasan untuk berhenti belajar.
Belum lancar bukan alasan untuk berhenti membaca.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri.

M. PENUTUP

Membaca Al-Qur’an dengan baik bukan sekadar persoalan suara yang indah. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk penghormatan kepada kalam Allah SWT.

Ada empat hal yang perlu kita bawa pulang:

1. Makhraj — pastikan huruf keluar dari tempatnya.
2. Sifat huruf — pastikan karakter bunyinya benar.
3. Mad dan qashar — jaga panjang-pendek bacaan.
4. Waqaf dan ibtida' — berhenti dan memulai pada tempat yang tepat.

Dan akhirnya:

“Jangan hanya mengejar khatam Al-Qur’an, tetapi kejarlah kualitas bacaan dan kedekatan hati dengannya.”

Sebab Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dengan lisan, tetapi untuk dihidupkan dalam hati dan diwujudkan dalam kehidupan.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Kamis, 10 September 2026

KEMATIAN YANG DICEMBURUI

 


KEMATIAN YANG DICEMBURUI

Tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

A. Pendahuluan: Mengapa Ada Kematian yang Dicemburui?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada orang yang ketika meninggal dunia, kepergiannya membuat banyak orang menangis. Masjid terasa kehilangan. Majelis taklim terasa sepi. Keluarga kehilangan sosok yang menjadi tempat bertanya. Bahkan orang-orang yang tidak terlalu dekat pun merasa sedih karena selama hidupnya ia telah menebarkan manfaat.

Namun, ada pula orang yang meninggal dunia, lalu orang-orang berkata:

“Semoga kita mendapatkan akhir kehidupan seperti beliau.”

Apa yang membuat seseorang sampai dicemburui kematiannya?

Bukan karena hartanya yang banyak.
Bukan karena rumahnya yang besar.
Bukan pula semata-mata karena ia meninggal dalam usia lanjut.

Kematian yang dicemburui adalah kematian yang menjadi penutup perjalanan hidup yang baik, meninggalkan amal yang bermanfaat, serta menghadirkan kesaksian dan doa kebaikan dari orang-orang yang mengenalnya.

Allah SWT berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠَّุชُู‡َุง ุงู„ู†َّูْุณُ ุงู„ْู…ُุทْู…َุฆِู†َّุฉُ ۝ ุงุฑْุฌِุนِูŠ ุฅِู„َู‰ٰ ุฑَุจِّูƒِ ุฑَุงุถِูŠَุฉً ู…َุฑْุถِูŠَّุฉً ۝ ูَุงุฏْุฎُู„ِูŠ ูِูŠ ุนِุจَุงุฏِูŠ ۝ ูˆَุงุฏْุฎُู„ِูŠ ุฌَู†َّุชِูŠ

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)

Ayat ini menggambarkan cita-cita tertinggi seorang mukmin: pulang kepada Allah dalam keadaan rida dan diridai.

B. Kematian Adalah Kepastian, tetapi Husnul Khatimah Adalah Harapan

Allah SWT menegaskan:

ูƒُู„ُّ ู†َูْุณٍ ุฐَุงุฆِู‚َุฉُ ุงู„ْู…َูˆْุชِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Kematian bukan persoalan apakah kita akan mati, tetapi bagaimana kita akan menghadapinya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga akhir perjalanan hidup. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena pernah berbuat baik, dan tidak boleh pula berputus asa karena pernah melakukan kesalahan.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri sampai Allah memanggil kita.

Renungan

Boleh jadi seseorang tidak terkenal di dunia, tetapi namanya harum di sisi Allah.

Boleh jadi ia tidak memiliki banyak pengikut, tetapi banyak orang yang mendoakannya.

Boleh jadi ia tidak meninggalkan gedung megah, tetapi meninggalkan anak-anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang terus mengalir.

Itulah kekayaan yang sesungguhnya.

C. Tanda-Tanda Husnul Khatimah dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Kita perlu berhati-hati: tidak ada manusia yang dapat memastikan seseorang pasti masuk surga hanya karena cara wafatnya. Penilaian akhir adalah hak Allah SWT.

Namun, Al-Qur’an dan Sunnah memberikan beberapa tanda yang dapat menjadi harapan baik.

1. Meninggal dalam Keadaan Beriman dan Bertakwa

Allah SWT berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„َุง ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„َّุง ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Ayat ini bukan berarti kita dapat menentukan kapan mati, tetapi merupakan perintah untuk senantiasa menjaga iman dan Islam hingga akhir hayat.

2. Mengucapkan Kalimat Tauhid

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang akhir perkataannya Lฤ ilฤha illallฤh, niscaya ia masuk surga.”
(HR. Abu Dawud)

Karena itu, ketika mendampingi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut, kita dianjurkan menuntunnya dengan lembut untuk mengingat Allah, tanpa memaksa atau membuatnya gelisah.

3. Meninggal dalam Keadaan Beramal Saleh

Allah SWT berfirman:

ูَู…َู†ْ ูŠَุนْู…َู„ْ ู…ِุซْู‚َุงู„َ ุฐَุฑَّุฉٍ ุฎَูŠْุฑًุง ูŠَุฑَู‡ُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Orang yang membiasakan diri dengan salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, dan memperbaiki hubungan dengan manusia, sedang mempersiapkan bekal terbaik untuk kepulangannya.

4. Meninggal dalam Keadaan Allah Rida

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya memiliki kerinduan kepada Allah, bukan karena ingin mempercepat kematian, tetapi karena ingin pulang dalam keadaan membawa iman dan amal saleh.

D. Ketika Jenazah Dihantar Banyak Orang: Apa Maknanya?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sering kita menyaksikan seseorang meninggal dunia, lalu jenazahnya diantar oleh banyak orang. Masjid penuh. Jalan dipadati pelayat. Orang-orang datang dari jauh. Bahkan mereka yang sedang sibuk rela meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri pemakaman.

Fenomena seperti ini sering membuat kita berkata:

“Masya Allah, banyak sekali yang mengantarkan. Semoga ini tanda akhir yang baik.”

Harapan tersebut baik, tetapi harus disampaikan dengan pemahaman yang benar.

1. Kesaksian Baik dari Orang-Orang Beriman

Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, ketika para sahabat memuji seorang jenazah dengan kebaikan, Rasulullah SAW bersabda:

“Wajib baginya.”
Kemudian ketika mereka menyebut keburukan seseorang, beliau juga bersabda: “Wajib baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan pentingnya kesaksian orang-orang beriman terhadap kebaikan atau keburukan seseorang, terutama ketika mereka benar-benar mengenalnya.

Artinya, apabila seseorang dikenal sebagai orang baik, suka menolong, menjaga salat, menghormati tetangga, dan bermanfaat bagi masyarakat, lalu banyak orang memberikan kesaksian baik atas dirinya, maka hal itu menjadi harapan besar akan kebaikan akhir hidupnya.

2. Banyak yang Mengiringi Jenazah Menunjukkan Cinta dan Manfaat

Allah SWT berfirman:

ูˆَุฃَู„ْู‚َูŠْุชُ ุนَู„َูŠْูƒَ ู…َุญَุจَّุฉً ู…ِّู†ِّูŠ

“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku.”
(QS. Taha: 39)

Ayat ini berbicara tentang Nabi Musa AS, tetapi memberikan pelajaran bahwa rasa cinta dan penerimaan di hati manusia merupakan salah satu bentuk karunia Allah.

Seseorang yang selama hidupnya menjaga hubungan baik, tidak menyakiti, suka membantu, dan hadir dalam kebutuhan masyarakat, sering kali akan dikenang dengan cinta.

Namun, perlu diingat:

Banyaknya pelayat bukan ukuran mutlak kemuliaan seseorang di sisi Allah.

Ada orang saleh yang meninggal dalam keadaan sederhana dan hanya sedikit yang mengantarkan. Ada pula orang yang dikenal luas karena kedudukan duniawi, tetapi belum tentu memiliki amal yang baik.

Yang terpenting adalah kualitas iman dan amalnya, bukan semata-mata jumlah orang yang hadir.

E. Contoh-Contoh Kematian yang Dicemburui

1. Wafatnya Rasulullah SAW

Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun di rumah Aisyah RA. Kepergian beliau mengguncang Madinah. Para sahabat menangis, masjid terasa kehilangan, dan umat Islam merasakan duka yang sangat mendalam.

Namun, Rasulullah SAW meninggalkan warisan yang tidak pernah habis:

  • Al-Qur’an.

  • Sunnah.

  • Akhlak mulia.

  • Umat yang mencintai beliau.

  • Ilmu yang terus diamalkan hingga hari kiamat.

Allah SWT berfirman:

ูˆَู…َุง ุฃَุฑْุณَู„ْู†َุงูƒَ ุฅِู„َّุง ุฑَุญْู…َุฉً ู„ِّู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ

“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Pelajaran: Kematian yang dicemburui adalah kematian yang meninggalkan rahmat dan manfaat bagi manusia.

2. Wafatnya Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah yang adil, sederhana, dan sangat takut kepada Allah. Ia hidup dalam kemewahan kekuasaan, tetapi memilih kesederhanaan dan amanah.

Ketika wafat, banyak orang mengenangnya sebagai pemimpin yang mengutamakan keadilan dan kepentingan umat.

Pelajaran: Jabatan bukan penghalang husnul khatimah. Yang menentukan adalah amanah yang dijalankan dengan takwa.

3. Wafatnya Imam Nawawi

Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang sangat tekun dalam ilmu dan ibadah. Karya-karyanya seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah terus dipelajari hingga hari ini.

Beliau meninggal dalam usia relatif muda, tetapi meninggalkan ilmu yang manfaatnya terus mengalir.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Pelajaran: Umur yang panjang bukan satu-satunya ukuran keberkahan. Yang penting adalah seberapa banyak manfaat yang ditinggalkan.

4. Orang Tua yang Saleh dan Dikenang Anak-Anaknya

Di tengah masyarakat, kita sering menemukan orang tua yang ketika meninggal dunia, anak-anaknya berkata:

“Ayah kami memang tidak meninggalkan banyak harta, tetapi beliau meninggalkan pendidikan, akhlak, dan doa yang tidak pernah putus.”

Anak-anak yang saleh akan terus mendoakan orang tuanya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga...”
(HR. Muslim)

Salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.

Pelajaran: Salah satu bentuk kematian yang dicemburui adalah ketika seseorang meninggalkan generasi yang meneruskan kebaikannya.

5. Orang yang Meninggal Setelah Menyelesaikan Amal Kebaikan

Ada orang yang meninggal setelah selesai mengajar Al-Qur’an, setelah membantu orang miskin, setelah menyelesaikan pembangunan masjid, atau setelah meminta maaf kepada keluarganya.

Kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti husnul khatimah, tetapi kita boleh berharap:

“Semoga Allah menerima amal baiknya dan menjadikan kebaikan itu sebagai penutup hidupnya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mempekerjakannya.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana Dia mempekerjakannya?”
Beliau menjawab, “Dia memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum kematiannya.”
(HR. Tirmidzi)

Pelajaran: Salah satu tanda kebaikan adalah Allah memberi kesempatan kepada seseorang untuk melakukan amal saleh sebelum wafatnya.

F. Kematian yang Dicemburui Bukan Berarti Ingin Segera Mati

Jamaah yang dirahmati Allah,

Membicarakan kematian yang baik bukan berarti kita boleh berharap agar segera mati karena merasa hidup ini berat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kita diperintahkan untuk memperbaiki hidup, memperbanyak amal, dan memohon husnul khatimah.

Doa yang diajarkan:

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุญُุณْู†َ ุงู„ْุฎَุงุชِู…َุฉِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik.”

Dan:

ุฑَุจَّู†َุง ู„َุง ุชُุฒِุบْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุจَุนْุฏَ ุฅِุฐْ ู‡َุฏَูŠْุชَู†َุง

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami.”
(QS. Ali ‘Imran: 8)

G. Bagaimana Agar Kita Mendapat Kematian yang Dicemburui?

1. Perbaiki Hubungan dengan Allah

Jaga salat, perbanyak zikir, baca Al-Qur’an, dan jangan tinggalkan kewajiban.

2. Perbaiki Hubungan dengan Manusia

Mintalah maaf, jangan suka menyakiti, jangan merampas hak orang lain, dan jangan menyimpan dendam.

3. Tinggalkan Amal yang Bermanfaat

Ajarkan ilmu, bantu orang miskin, wakafkan sebagian harta, dan didik anak-anak dengan agama.

4. Biasakan Berbuat Baik Setiap Hari

Jangan menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.

5. Berdoa agar Allah Menutup Hidup dengan Kebaikan

Karena husnul khatimah adalah karunia Allah yang harus kita mohonkan setiap hari.

H. Penutup: Jadilah Orang yang Ketika Pergi, Kebaikannya Tetap Tinggal

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kematian yang dicemburui bukanlah kematian yang membuat kita ingin segera meninggalkan dunia. Kematian yang dicemburui adalah kematian yang membuat kita berkata:

“Ya Allah, jika tiba saatnya Engkau memanggilku, panggillah aku dalam keadaan Engkau ridai.”

Jangan hanya bercita-cita meninggal dengan banyak orang yang mengantar. Bercita-citalah menjadi orang yang selama hidupnya banyak memberi manfaat.

Jangan hanya ingin dikenang setelah meninggal. Berusahalah menjadi orang yang ketika hidupnya masih ada, kehadirannya sudah dirasakan manfaatnya.

Jangan hanya ingin jenazah kita didoakan. Biasakanlah mendoakan orang lain ketika mereka masih hidup.

Karena sesungguhnya, kematian yang dicemburui adalah ketika seseorang pulang kepada Allah dengan membawa iman, amal saleh, dan cinta dari orang-orang yang ditinggalkannya.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan akhir kehidupan kita sebagai akhir yang baik.

ุขู…ِูŠْู† ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ

Pertanyaan Refleksi untuk Jamaah

  1. Jika saya meninggal hari ini, amal apa yang paling saya harapkan diterima Allah?

  2. Apakah saya sudah menjadi orang yang dirindukan karena kebaikannya, bukan ditakuti karena keburukannya?

  3. Jika orang-orang diminta bersaksi tentang saya, kebaikan apa yang mungkin mereka sebutkan?

  4. Apa satu amal yang akan saya mulai hari ini agar menjadi bekal akhirat?

Pesan utama:

“Jangan hanya mempersiapkan kematian agar banyak yang mengantar, tetapi persiapkanlah kehidupan agar banyak yang merasakan manfaat.”

Semoga materi ini bermanfaat untuk penyuluhan dan pembinaan umat.

Selasa, 08 September 2026

Mengambil Hikmah dari Karhutla dan Gunung Meletus

ASAP VS AZAB

Mengambil Hikmah dari Karhutla dan Gunung Meletus

Materi Penyuluhan Agama Islam
Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

A. Pengantar: Ketika Langit Berubah Kelabu

Ada saatnya kita menatap langit yang biasanya biru, tetapi berubah menjadi kelabu.

Udara yang seharusnya kita hirup dengan bebas berubah menjadi asap. Mata terasa pedih, napas terganggu, aktivitas masyarakat terhambat. Di tempat lain, gunung yang selama ini tampak kokoh tiba-tiba mengeluarkan abu vulkanik, lava, awan panas, atau material lainnya.

Karhutla dan gunung meletus sama-sama mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam.

Allah SWT berfirman:

ุธَู‡َุฑَ ุงู„ْูَุณَุงุฏُ ูِูŠ ุงู„ْุจَุฑِّ ูˆَุงู„ْุจَุญْุฑِ ุจِู…َุง ูƒَุณَุจَุชْ ุฃَูŠْุฏِูŠ ุงู„ู†َّุงุณِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”
(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini sangat relevan untuk menjadi bahan introspeksi.

Namun kita juga harus berhati-hati.

Tidak setiap bencana boleh langsung kita vonis sebagai azab Allah.

Bencana bisa menjadi ujian, musibah, peringatan, akibat kerusakan yang dilakukan manusia, atau bentuk ketetapan Allah yang hikmahnya tidak seluruhnya kita ketahui.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Ini azab atau bukan?”

Tetapi:

“Apa yang harus kita lakukan setelah melihat musibah ini?”

B. ASAP: Bukan Sekadar Kabut di Udara

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan.

Ia membawa pesan yang lebih besar.

1. Asap mengingatkan kita tentang rapuhnya kehidupan

Manusia sering merasa kuat.

Kita membangun rumah, gedung, jalan, industri, teknologi dan berbagai fasilitas kehidupan.

Tetapi satu peristiwa alam dapat membuat kita sadar:

manusia tetap makhluk yang lemah.

Allah SWT berfirman:

ูˆَุฎُู„ِู‚َ ุงู„ْุฅِู†ุณَุงู†ُ ุถَุนِูŠูًุง

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa': 28)

Maka jangan sombong terhadap alam.

Jangan pula merasa bahwa kemampuan teknologi membuat manusia bebas melakukan apa saja.

C. KARHUTLA: MUSIBAH ATAU AKIBAT PERBUATAN?

Kebakaran hutan dan lahan mempunyai banyak faktor.

Ada faktor alam, seperti kondisi kering dan cuaca tertentu. Tetapi pada sebagian kasus, kebakaran juga dapat berkaitan dengan aktivitas manusia, kelalaian, atau kesengajaan.

Di sinilah Al-Qur'an mengajak manusia melakukan evaluasi.

Allah berfirman:

ูˆَู„َุง ุชُูْุณِุฏُูˆุง ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ุจَุนْุฏَ ุฅِุตْู„َุงุญِู‡َุง

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki...”
(QS. Al-A'raf: 56)

Artinya, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan sosial.

Menjaga lingkungan juga bagian dari amanah agama.

D. ASAP VS AZAB

Inilah inti materi kita.

ASAP adalah fenomena yang dapat kita lihat.

Kita bisa melihat asap, merasakan sesaknya udara, melihat jarak pandang berkurang.

AZAB adalah istilah teologis.

Azab berkaitan dengan hukuman Allah terhadap manusia karena kekufuran, pembangkangan, atau dosa sesuai kehendak-Nya.

Masalahnya:

Kita tidak memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa bencana tertentu adalah azab kepada kelompok tertentu, kecuali ada dalil yang jelas.

Karena itu, jangan mudah berkata:

“Itu azab karena masyarakat di sana banyak dosa.”

Kalimat seperti itu bisa melukai korban yang sedang menderita.

Bisa jadi orang yang terkena musibah justru lebih sabar dan lebih dekat kepada Allah daripada orang yang sedang menunjuk-nunjuk mereka.

Rasulullah ๏ทบ mengajarkan bahwa seorang mukmin menghadapi musibah dengan kesabaran dan menghadapinya sebagai bagian dari ketetapan Allah.

E. GUNUNG MELETUS: KETIKA BUMI BERBICARA

Gunung dalam Al-Qur'an bukan sekadar objek pemandangan.

Allah berfirman:

ูˆَุงู„ْุฌِุจَุงู„َ ุฃَูˆْุชَุงุฏًุง

“Dan gunung-gunung sebagai pasak.”
(QS. An-Naba': 7)

Allah juga berfirman:

ูˆَุฅِู„َู‰ ุงู„ْุฌِุจَุงู„ِ ูƒَูŠْูَ ู†ُุตِุจَุชْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”
(QS. Al-Ghasyiyah: 19)

Gunung yang selama bertahun-tahun terlihat tenang ternyata menyimpan dinamika geologis.

Ketika ia meletus, manusia kembali diingatkan:

bumi yang kita pijak bukan milik kita sepenuhnya.

Kita hanya dititipi untuk tinggal di dalamnya.

F. JANGAN HANYA TAKUT KEPADA BENCANA

Ketika gunung meletus, kita takut.

Ketika asap memenuhi udara, kita khawatir.

Ketika hujan abu turun, kita panik.

Itu manusiawi.

Tetapi seorang mukmin harus mampu mengubah rasa takut menjadi kesadaran spiritual.

Takut bukan hanya kepada asap.

Takut bukan hanya kepada gunung.

Tetapi takut kepada Allah SWT, lalu memperbaiki hubungan kita dengan-Nya dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia serta alam.

Allah berfirman:

ูَูِุฑُّูˆุง ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ

“Maka larilah kembali kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 50)

Ketika musibah datang:

kita berlindung kepada Allah, bukan menyerah kepada ketakutan.

G. BENCANA SEBAGAI UJIAN

Allah SWT berfirman:

ูˆَู„َู†َุจْู„ُูˆَู†َّูƒُู… ุจِุดَูŠْุกٍ ู…ِّู†َ ุงู„ْุฎَูˆْูِ ูˆَุงู„ْุฌُูˆุนِ ูˆَู†َู‚ْุตٍ ู…ِّู†َ ุงู„ْุฃَู…ْูˆَุงู„ِ ูˆَุงู„ْุฃَู†ูُุณِ ูˆَุงู„ุซَّู…َุฑَุงุชِ

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan...”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini memberikan perspektif penting.

Musibah tidak selalu berarti:

“Allah sedang menghukum.”

Musibah juga dapat menjadi:

  • ujian kesabaran;

  • penghapus dosa;

  • sarana meningkatkan ketakwaan;

  • momentum memperkuat solidaritas;

  • pengingat agar manusia kembali kepada Allah;

  • kesempatan memperbaiki kesalahan.

H. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

1. MUHASABAH

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa Allah memberikan bencana?”

Tetapi bertanyalah:

“Apa yang selama ini telah kita lakukan terhadap bumi?”

Apakah kita membuang sampah sembarangan?

Apakah kita melakukan pembakaran tanpa memperhatikan dampaknya?

Apakah kita mengeksploitasi alam secara berlebihan?

Apakah kita sudah menjaga amanah Allah?

2. TAUBAT

Jika ada kesalahan, jangan menunggu bencana berikutnya untuk berubah.

Allah berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุชُูˆุจُูˆุง ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุชَูˆْุจَุฉً ู†َّุตُูˆุญًุง

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.”
(QS. At-Tahrim: 8)

Taubat bukan hanya ucapan astaghfirullah.

Taubat harus diikuti perubahan perilaku.

I. MENJAGA LINGKUNGAN ADALAH IBADAH

Islam mengajarkan keseimbangan.

Allah berfirman:

ูˆَู„َุง ุชُุณْุฑِูُูˆุง ุฅِู†َّู‡ُ ู„َุง ูŠُุญِุจُّ ุงู„ْู…ُุณْุฑِูِูŠู†َ

“Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A'raf: 31)

Rasulullah ๏ทบ juga mengajarkan agar manusia tidak melakukan kerusakan dan tidak menimbulkan bahaya bagi orang lain.

Kaidah fikih yang sangat terkenal:

ู„َุง ุถَุฑَุฑَ ูˆَู„َุง ุถِุฑَุงุฑَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Maka:

mencegah kebakaran, menjaga hutan, tidak membakar lahan sembarangan, menjaga kualitas udara, dan membantu korban bencana adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.

J. JANGAN MENJADI “PEMBAWA ASAP” DI TENGAH MUSIBAH

Ada satu fenomena lain yang perlu kita waspadai.

Ketika bencana terjadi, muncul pula “asap informasi”:

  • hoaks;

  • video lama yang diklaim sebagai kejadian terbaru;

  • berita yang belum terverifikasi;

  • tuduhan kepada kelompok tertentu;

  • klaim bahwa bencana pasti merupakan azab;

  • konten yang menakut-nakuti masyarakat.

Padahal Allah mengingatkan:

ูَุชَุจَูŠَّู†ُูˆุง

“Maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Jangan sampai asap dari hutan hilang, tetapi asap hoaks justru semakin tebal.

K. DARI BENCANA MENUJU SOLIDARITAS

Ketika saudara kita terdampak karhutla atau erupsi gunung, jangan sibuk mencari siapa yang paling berdosa.

Mari mencari siapa yang membutuhkan pertolongan.

Islam mengajarkan:

ูˆَุชَุนَุงูˆَู†ُูˆุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุจِุฑِّ ูˆَุงู„ุชَّู‚ْูˆَู‰

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)

Maka bentuk nyata kepedulian dapat berupa:

  • membantu kebutuhan pengungsi;

  • menyediakan masker dan kebutuhan kesehatan;

  • membantu distribusi makanan;

  • membantu kelompok rentan;

  • menjadi relawan;

  • menjaga kebersihan lingkungan;

  • tidak menyebarkan informasi palsu;

  • mendoakan keselamatan masyarakat terdampak.

L. 5 HIKMAH BESAR DARI ASAP DAN ERUPSI

1. Manusia itu lemah

Jangan sombong dengan kemampuan yang dimiliki.

2. Alam adalah amanah

Bumi bukan tempat untuk dieksploitasi tanpa batas.

3. Musibah adalah momentum muhasabah

Peristiwa alam hendaknya membuat kita mengevaluasi diri.

4. Jangan mudah memvonis azab

Kita tidak mengetahui secara pasti rahasia Allah di balik sebuah musibah.

5. Kesalehan harus melahirkan kepedulian

Semakin dekat kepada Allah, seharusnya semakin peduli kepada manusia dan lingkungan.

M. REFLEKSI UNTUK JAMA'AH

Mari kita renungkan:

Ketika asap memenuhi udara, apakah hati kita juga sedang dipenuhi “asap” dosa?

Asap di luar mungkin hilang ketika angin bertiup.

Tetapi bagaimana dengan:

  • asap kesombongan?

  • asap kemarahan?

  • asap iri hati?

  • asap fitnah?

  • asap korupsi?

  • asap permusuhan?

  • asap kebencian?

  • asap kerusakan lingkungan?

Bencana alam hendaknya menjadi kesempatan untuk membersihkan bumi sekaligus membersihkan hati.

N. PENUTUP: ASAP BOLEH TEBAL, IMAN JANGAN SAMPAI TIPIS

Karhutla mengajarkan kita tentang api.

Gunung meletus mengajarkan kita tentang kekuatan alam.

Asap mengajarkan kita tentang keterbatasan manusia.

Dan Al-Qur'an mengajarkan kita bagaimana membaca semua itu dengan iman, ilmu dan akhlak.

Jangan tergesa-gesa mengatakan:

“Ini azab!”

Tetapi katakan:

“Ini adalah peristiwa yang harus kita hadapi dengan ikhtiar, ilmu, kesabaran, doa, dan muhasabah.”

Jangan hanya sibuk mencari kesalahan orang lain.

Perbaikilah diri.

Jangan hanya menyalahkan alam.

Rawatlah alam.

Jangan hanya takut kepada bencana.

Kembalilah kepada Allah.

Dan jangan hanya berdoa agar asap segera hilang.

Berdoalah agar setelah asap hilang, kesadaran kita tetap menyala.

"ASAP BOLEH MENYELIMUTI LANGIT,

TETAPI JANGAN BIARKAN DOSA MENYELIMUTI HATI."

Wallahu a'lam bish-shawab.