📖 Ramadhan 1447 H: Momentum Meningkatkan Indeks Kesalehan Umat
Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
Ramadhan 1447 H kembali menyapa umat Islam dengan membawa cahaya keberkahan. Bulan yang Allah sebut sebagai syahrun mubarak ini bukan hanya momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga saat terbaik untuk meningkatkan kualitas diri dan membangun Indeks Kesalehan Umat.
Kesalehan dalam Islam tidak cukup hanya diukur dari seberapa lama kita berdiri dalam shalat, atau seberapa banyak kita membaca Al-Qur’an. Ramadhan mengajarkan bahwa kesalehan sejati mencakup empat dimensi utama: ritual, sosial, moral, dan kebangsaan.
1️⃣ Kesalehan Ritual: Fondasi Keimanan
Ramadhan adalah madrasah ruhani. Shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sahur, dan berbuka menjadi bagian dari pembiasaan spiritual yang menguatkan hubungan kita dengan Allah SWT.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Maka indikator kesalehan ritual di bulan Ramadhan terlihat dari:
Konsistensi shalat berjamaah
Semangat membaca dan memahami Al-Qur’an
Kedisiplinan dalam menjalankan puasa
Kesungguhan dalam memperbanyak doa dan dzikir
Namun, takwa tidak berhenti di sajadah.
2️⃣ Kesalehan Sosial: Puasa yang Membumi
Puasa mengajarkan empati. Saat lapar, kita belajar merasakan penderitaan saudara yang kekurangan. Di sinilah Ramadhan meningkatkan indeks kesalehan sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Ramadhan 1447 H hendaknya menjadi momentum:
Meningkatkan zakat, infak, dan sedekah
Menguatkan solidaritas umat
Menghindari konflik, ujaran kebencian, dan fitnah
Menghidupkan budaya gotong royong
Kesalehan sosial adalah bukti bahwa puasa membentuk pribadi yang peduli.
3️⃣ Kesalehan Moral: Menjaga Lisan dan Perilaku
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan amarah, ghibah, dan perilaku tercela.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh pada puasanya.” (HR. Bukhari)
Ramadhan adalah latihan pengendalian diri. Di era media sosial, menjaga jari dan lisan sama pentingnya dengan menjaga perut. Kesalehan moral tercermin dari:
Kejujuran dalam pekerjaan
Harmoni dalam keluarga
Santun dalam bermedia sosial
Menepati janji dan amanah
Akhlak adalah wajah iman yang paling nyata.
4️⃣ Kesalehan Kebangsaan: Ramadhan dan Cinta Tanah Air
Umat yang saleh adalah umat yang menjaga persatuan. Ramadhan bukan waktu untuk memecah belah, tetapi memperkuat ukhuwah dan menjaga keutuhan bangsa.
Spirit hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) menjadi relevan dalam konteks Indonesia. Kesalehan kebangsaan tercermin dari:
Menjaga kerukunan antar umat beragama
Menolak radikalisme dan kekerasan
Taat pada aturan negara
Berpartisipasi dalam pembangunan sosial
Ramadhan 1447 H harus menjadi energi moral untuk memperkokoh persatuan NKRI.
🌙 Ramadhan sebagai Penguat Indeks Kesalehan Umat
Jika keempat dimensi ini tumbuh bersama, maka Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan gerakan transformasi umat.
Puasa yang benar akan melahirkan:
Pribadi bertakwa
Masyarakat yang peduli
Bangsa yang damai
Umat yang menjadi rahmat bagi semesta
Mari kita jadikan Ramadhan 1447 H sebagai momentum peningkatan Indeks Kesalehan Umat, bukan hanya dalam angka dan laporan, tetapi nyata dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita insan yang lebih baik setelah Ramadhan berlalu.
Wallahu a’lam bish-shawab.

.png)
.png)
.png)


.png)
.png)
.png)

.png)









