Senin, 16 Maret 2026

HAKIKAT IDUL FITRI DALAM MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN BANGSA MENUJU INDONESIA EMAS 2045

 


NASKAH KHUTBAH IDUL FITRI 1447 H 

Judul: HAKIKAT IDUL FITRI DALAM MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN BANGSA MENUJU INDONESIA EMAS 2045

Oleh: Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam


KHUTBAH PERTAMA

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

الحمد لله الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah…

Pada pagi yang penuh kemuliaan ini, kita berdiri di lapangan Idul Fitri dengan satu kalimat agung yang menggema dari langit hingga bumi:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Takbir ini bukan sekadar ucapan.
Takbir ini adalah deklarasi kemenangan iman setelah sebulan penuh kita dididik oleh Ramadhan.

Ramadhan telah melatih kita menahan lapar, menahan amarah, menahan hawa nafsu.
Ramadhan telah mengajarkan kita disiplin, kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri.

Maka hari ini kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Apakah Ramadhan benar-benar telah mengubah kita?

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Artinya tujuan Ramadhan bukan sekadar lapar dan dahaga.

Tujuannya adalah melahirkan manusia bertakwa.

Dan manusia bertakwa adalah manusia yang:

  • jujur dalam kehidupan

  • amanah dalam pekerjaan

  • adil dalam memimpin

  • serta peduli terhadap sesama.


Hadirin jamaah Idul Fitri yang berbahagia,

Hari ini kita tidak hanya merayakan kemenangan pribadi, tetapi juga harus memikirkan masa depan bangsa.

Bangsa kita, Indonesia, sedang memasuki era perubahan dunia yang sangat cepat.

Kita hidup di zaman yang penuh tantangan:

  • persaingan ekonomi global yang semakin keras

  • konflik geopolitik antar negara yang mempengaruhi stabilitas dunia

  • krisis energi dan pangan

  • revolusi teknologi dan kecerdasan buatan

  • serta perubahan moral generasi muda akibat arus digital yang begitu kuat.

Dunia hari ini bukan lagi dunia yang sederhana.

Bangsa-bangsa besar berlomba menguasai teknologi, ekonomi, dan pengaruh global.

Dalam situasi seperti ini, kita bertanya:

Apakah umat Islam hanya menjadi penonton sejarah?

Ataukah kita menjadi pelaku perubahan peradaban?

Allah SWT telah memberikan prinsip perubahan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini adalah hukum peradaban.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang memperbaiki karakter manusianya.

Karena itu, jika kita berbicara tentang cita-cita besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045, maka sesungguhnya fondasi utamanya bukan hanya ekonomi atau teknologi.

Tetapi manusia yang berkarakter.

Ramadhan telah melatih karakter itu.

Ramadhan melahirkan manusia yang:

  • jujur walau tidak diawasi

  • disiplin walau tidak diperintah

  • dermawan walau sedang kekurangan

  • sabar walau sedang diuji.

Bayangkan jika nilai-nilai Ramadhan ini hidup dalam kehidupan bangsa.

Pejabatnya jujur.
Pedagangnya amanah.
Pemudanya rajin belajar.
Pemimpinnya adil.

Maka negeri ini akan menjadi negeri yang kuat.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Akhlak itulah yang menjadi pondasi peradaban besar.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Menuju masa depan bangsa, ada tiga kemandirian yang harus lahir dari spirit Idul Fitri.

1. Kemandirian Moral

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak kehilangan nilai dan akhlaknya.

Ketika kejujuran hilang, korupsi merajalela.
Ketika amanah hilang, kepercayaan runtuh.

Karena itu Ramadhan harus melahirkan manusia yang takut kepada Allah sebelum takut kepada hukum.

2. Kemandirian Ekonomi

Islam tidak mengajarkan kemiskinan mental.

Rasulullah SAW bersabda:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Artinya umat Islam harus menjadi umat yang produktif, kreatif, dan mandiri.

3. Kemandirian Peradaban

Sejarah membuktikan, ketika umat Islam memegang ilmu pengetahuan, dunia mengalami masa keemasan peradaban.

Karena itu generasi muda kita harus:

  • menguasai ilmu

  • menguasai teknologi

  • tetapi tetap berpegang pada iman dan akhlak.

Jika tidak, kita hanya menjadi konsumen peradaban, bukan pencipta peradaban.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Idul Fitri bukan sekadar hari kemenangan.

Idul Fitri adalah titik awal perjalanan baru.

Perjalanan untuk memperbaiki diri.
Perjalanan untuk memperbaiki masyarakat.
Perjalanan untuk membangun bangsa.

Jika Ramadhan berhasil membentuk manusia yang jujur, disiplin, sabar, dan peduli, maka sesungguhnya kita sedang menanam fondasi masa depan bangsa.

Menuju Indonesia Emas 2045, umat Islam harus menjadi:

  • penjaga moral bangsa

  • penggerak ekonomi umat

  • pelopor ilmu pengetahuan

  • serta perekat persatuan nasional.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya, tetapi bangsa yang memiliki karakter dan persatuan.

Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum:

  • memperkuat iman

  • memperbaiki akhlak

  • mempererat persatuan

  • dan bekerja untuk kemajuan bangsa.

Doa

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات.

اللهم احفظ بلدنا Indonesia من الفتن ما ظهر منها وما بطن.

اللهم اجعل هذا البلد آمنا مطمئنا سخاء رخاء وسائر بلاد المسلمين.

اللهم وفق قادة هذا الوطن لما تحب وترضى.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

عباد الله،

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ

فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

SYAWAL BULAN PENINGKATAN (Tinjauan Al-Qur’an, Sunnah dan Psikososial)

NASKAH CERAMAH RAMADHAN (30)

Judul: SYAWAL BULAN PENINGKATAN

(Tinjauan Al-Qur’an, Sunnah dan Psikososial)

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


1. Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita baru saja melewati bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan ibadah, latihan kesabaran, pengendalian diri, serta peningkatan spiritual. Setelah Ramadhan, Allah menghadirkan bulan Syawal, yang tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya Ramadhan, tetapi juga menjadi bulan peningkatan kualitas keimanan dan amal saleh.

Syawal adalah momentum untuk membuktikan apakah ibadah Ramadhan benar-benar memberikan perubahan dalam diri kita atau tidak.

2. Syawal sebagai Bukti Keberhasilan Ramadhan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari meriahnya Idul Fitri, tetapi dari keberlanjutan amal setelah Ramadhan.

Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
(الحجر: ٩٩)

Artinya:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).”

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah tidak berhenti setelah Ramadhan, tetapi harus terus berlanjut sepanjang hidup.

Para ulama mengatakan:

من علامات قبول الحسنة الحسنة بعدها

Artinya:
“Di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah adanya kebaikan setelahnya.”

Jika setelah Ramadhan seseorang semakin rajin shalat, semakin menjaga akhlak, dan semakin gemar bersedekah, maka itu tanda bahwa Ramadhannya diterima oleh Allah.

3. Sunnah Nabi di Bulan Syawal

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan Syawal adalah puasa enam hari.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ
كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

(رواه مسلم)

Artinya:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”

Hal ini menunjukkan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan ibadah, bukan bulan kembali kepada kemalasan spiritual.

Selain puasa Syawal, Rasulullah juga mencontohkan beberapa hal:

  1. Memperbanyak silaturahmi

  2. Memperbaiki hubungan sosial

  3. Memperbanyak sedekah

  4. Menjaga shalat berjamaah

4. Syawal dalam Perspektif Psikososial

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam kajian psikososial, Ramadhan sebenarnya adalah bulan pembentukan karakter (character building).

Selama Ramadhan kita dilatih:

  • menahan emosi

  • mengendalikan hawa nafsu

  • memperkuat empati kepada orang miskin

  • membangun kebiasaan ibadah

Jika latihan ini berhasil, maka Syawal menjadi bulan implementasi perubahan.

Secara psikologis, manusia yang berhasil menjalani latihan spiritual selama 30 hari akan memiliki:

  1. Kontrol diri yang lebih kuat

  2. Empati sosial yang lebih tinggi

  3. Keseimbangan emosional

  4. Kedisiplinan spiritual

Karena itu Syawal harus menjadi bulan transformasi diri, dari pribadi biasa menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

5. Tanda-Tanda Peningkatan Spiritual Pasca Ramadhan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada beberapa indikator bahwa seseorang mengalami peningkatan setelah Ramadhan:

1. Menjaga Shalat Lima Waktu

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
(العنكبوت: ٤٥)

2. Semakin Dekat dengan Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
(رواه البخاري)

Artinya:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

3. Memperbaiki Hubungan Sosial

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
(الحجرات: ١٠)

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

6. Tantangan Setelah Ramadhan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Setelah Ramadhan biasanya ada beberapa tantangan:

  1. Semangat ibadah menurun

  2. Kembali kepada kebiasaan lama

  3. Lalai dari Al-Qur’an

  4. Kurang disiplin dalam shalat

Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Artinya:

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

7. Penutup

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Syawal bukan sekadar bulan kemenangan, tetapi bulan pembuktian.

Apakah Ramadhan benar-benar mengubah kita?

Jika setelah Ramadhan kita:

  • lebih rajin ibadah

  • lebih baik akhlaknya

  • lebih peduli kepada sesama

maka itulah hakikat kemenangan Idul Fitri.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan.

Doa Penutup

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا، واجعلنا من المقبولين، وبلغنا رمضان القادم ونحن في خير وعافية.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

HAKIKAT IDUL FITRI & PEMBINAAN KELUARGA SAKINAH

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (29)

HAKIKAT IDUL FITRI & PEMBINAAN KELUARGA SAKINAH

(Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah)

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam


Mukadimah

الحمد لله رب العالمين، الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.

Hakikat Idul Fitri dalam Perspektif Al-Qur'an

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Hari raya Idul Fitri bukan sekadar hari kemenangan setelah berpuasa, tetapi merupakan momentum kembali kepada kesucian (fitrah) setelah sebulan penuh menjalani pendidikan spiritual di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya (Ramadhan) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."
(QS. البقرة: 185)

Ayat ini menunjukkan bahwa Idul Fitri adalah hari syukur, hari mengagungkan Allah setelah menyelesaikan ibadah Ramadhan.

Dalam hadis Rasulullah ﷺ bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

"Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya."
(HR. البخاري ومسلم)

Maka hakikat Idul Fitri adalah kemenangan spiritual, yaitu kemenangan atas hawa nafsu, dosa, dan kemaksiatan.

Idul Fitri sebagai Momentum Membangun Keluarga Sakinah

Hadirin yang dirahmati Allah,

Salah satu tujuan besar dari keberhasilan Ramadhan adalah terwujudnya keluarga sakinah.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang."
(QS. الروم: 21)



Keluarga sakinah dibangun dengan tiga fondasi utama:

1. Iman dan Ketakwaan dalam Keluarga

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. التحريم: 6)

Artinya, keluarga harus dibangun dengan pendidikan iman, shalat, akhlak, dan nilai-nilai agama.

2. Kasih Sayang dan Keharmonisan

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku."
(HR. الترمذي)

Keluarga sakinah tercipta ketika suami-istri saling menghormati, saling memaafkan, dan saling mendukung dalam kebaikan.

3. Budaya Saling Memaafkan

Momentum Idul Fitri mengajarkan kita untuk saling memaafkan.

Allah SWT berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?"
(QS. النور: 22)

Karena itu Idul Fitri harus dimulai dari rumah, dengan saling memaafkan antara suami, istri, anak, dan seluruh anggota keluarga.

Hikmah Idul Fitri bagi Keluarga Muslim

Ada beberapa hikmah besar Idul Fitri bagi kehidupan keluarga:

  1. Membersihkan hati dari dosa dan permusuhan

  2. Menguatkan silaturahim keluarga

  3. Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah

  4. Memperkuat pendidikan iman bagi anak-anak

Jika Ramadhan berhasil mendidik kita, maka setelah Idul Fitri keluarga kita akan menjadi keluarga yang lebih religius, harmonis, dan penuh keberkahan.

Penutup

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan Idul Fitri bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum memperbaiki diri dan keluarga agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Semoga Ramadhan yang kita jalani diterima Allah dan keluarga kita menjadi keluarga yang diberkahi.

Doa

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا، واجعلنا من العائدين الفائزين، اللهم اجعل بيوتنا بيوتًا ساكنة بالمودة والرحمة، وبارك لنا في أزواجنا وأولادنا.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

TUNTUNAN AL-QUR'AN DAN SUNNAH MERAYAKAN IDUL FITRI (Menjaga Spirit Pasca Ramadhan)

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (28)

Judul: TUNTUNAN AL-QUR'AN DAN SUNNAH MERAYAKAN IDUL FITRI (Menjaga Spirit Pasca Ramadhan)
Oleh: Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam


1. Mukadimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah,

Setelah sebulan penuh kita menjalani ibadah di bulan Ramadhan—berpuasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, memperbanyak sedekah dan doa—maka tibalah hari kemenangan yang disebut Idul Fitri. Namun pertanyaannya, bagaimana tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah dalam merayakan Idul Fitri serta menjaga semangat Ramadhan setelahnya?

2. Makna Idul Fitri dalam Perspektif Al-Qur'an

Allah SWT menjelaskan tujuan puasa Ramadhan agar manusia menjadi pribadi yang bertaqwa.

قال الله تعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(البقرة: 183)

Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Karena itu Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum kembali kepada fitrah kesucian setelah ditempa oleh Ramadhan.

Allah juga memerintahkan kita untuk bertakbir dan bersyukur setelah menyempurnakan puasa:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(البقرة: 185)

Artinya:
"Agar kamu menyempurnakan bilangan puasa dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya serta agar kamu bersyukur."

3. Tuntunan Sunnah dalam Menyambut Idul Fitri

Dalam Sunnah Rasulullah ﷺ terdapat beberapa tuntunan dalam merayakan Idul Fitri.

1. Mengumandangkan Takbir

Takbir dimulai sejak malam Idul Fitri hingga pelaksanaan shalat Id.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر
لا إله إلا الله والله أكبر
الله أكبر ولله الحمد

Takbir adalah bentuk syukur dan pengagungan kepada Allah atas nikmat Ramadhan.

2. Menunaikan Zakat Fitrah

Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebelum shalat Id.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Zakat fitrah berfungsi membersihkan orang yang berpuasa dan membantu kaum fakir agar turut merasakan kebahagiaan Idul Fitri.

3. Mandi dan Berpakaian Baik Saat Idul Fitri

Para sahabat mencontohkan mandi sebelum shalat Id.

قال ابن عمر رضي الله عنهما:

كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
(رواه مالك)

Artinya:
"Ibnu Umar mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke tempat shalat."

Hal ini menunjukkan Islam menganjurkan menampilkan kebersihan dan kegembiraan yang wajar.

4. Mempererat Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Idul Fitri menjadi momentum memperbaiki hubungan sesama manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
"Tidak halal bagi seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari."
(HR. Bukhari Muslim)

Karena itu tradisi halal bihalal dan saling memaafkan sejalan dengan semangat ajaran Islam.

4. Menjaga Spirit Ramadhan Setelah Idul Fitri

Hadirin yang dirahmati Allah,

Salah satu tanda diterimanya amal Ramadhan adalah tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan.

Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
(الحجر: 99)

Artinya:
"Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian."

Artinya ibadah tidak berhenti setelah Ramadhan.

Beberapa cara menjaga spirit Ramadhan:

1. Menjaga Shalat Lima Waktu Berjamaah

Shalat adalah tiang agama dan fondasi kehidupan seorang muslim.

2. Melanjutkan Tilawah Al-Qur'an

Ramadhan mendekatkan kita dengan Al-Qur'an, maka jangan tinggalkan setelahnya.

3. Membiasakan Puasa Sunnah

Seperti puasa enam hari di bulan Syawal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
(رواه مسلم)

Artinya:
"Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa sepanjang tahun."
(HR. Muslim)

4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Sosial

Ramadhan mengajarkan kepedulian kepada sesama.

5. Penutup dan Muhasabah

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Idul Fitri bukanlah akhir dari ibadah, tetapi awal perjalanan menuju kehidupan yang lebih taat kepada Allah.

Jika Ramadhan berhasil mendidik kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih taat, dan lebih peduli, maka itulah hakikat kemenangan Idul Fitri.

Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan diterima amal ibadahnya.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ
وَجَعَلَنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ

Referensi

  1. Al-Qur'an Al-Karim

  2. Sahih al-Bukhari

  3. Sahih Muslim

  4. Al‑Muwatta

  5. Kitab Fiqh Puasa dan Zakat para ulama

Minggu, 15 Maret 2026

MELANGITKAN DO'A DI MALAM-MALAM PENENTUAN (Tinjauan Al-Qur'an dan Sunnah)

NASKAH CERAMAH RAMADHAN (27)

MELANGITKAN DO'A DI MALAM-MALAM PENENTUAN

(Tinjauan Al-Qur'an dan Sunnah)

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Kini kita telah memasuki malam-malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang sangat menentukan kualitas ibadah kita selama satu bulan penuh.

Keutamaan Malam-Malam Terakhir Ramadhan

Allah SWT memberikan kemuliaan luar biasa pada malam-malam akhir Ramadhan, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
(QS. Al-Qadr: 1–3)

Para ulama menjelaskan bahwa amal ibadah pada malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Karena itulah Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam-malam terakhir Ramadhan.

Rasulullah Memperbanyak Ibadah dan Doa

Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

"Dari Aisyah RA berkata: Nabi SAW apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh dalam ibadah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu ibadah paling agung pada malam tersebut adalah doa.

Mengapa Kita Harus Melangitkan Doa?

Karena doa adalah senjata orang beriman.

Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian."
(QS. Ghafir: 60)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

"Apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini berada di tengah ayat-ayat tentang puasa Ramadhan, yang menunjukkan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk berdoa.

Doa Terbaik di Malam Lailatul Qadar

Suatu ketika Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟

"Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, doa apa yang sebaiknya aku baca?"

Rasulullah SAW menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku."
(HR. Tirmidzi)

Doa ini menunjukkan bahwa permohonan ampunan adalah doa paling utama pada malam penentuan tersebut.

Apa Saja yang Patut Kita Doakan?

Pada malam-malam terakhir Ramadhan, kita dianjurkan memohon:

1. Ampunan dosa

Karena manusia tidak luput dari kesalahan.

2. Keteguhan iman

Agar tetap istiqamah setelah Ramadhan.

3. Kebaikan dunia dan akhirat

Doa yang sangat dianjurkan dalam Al-Qur'an:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)

Cara Menghidupkan Malam-Malam Terakhir Ramadhan

Agar malam-malam ini benar-benar menjadi malam penentuan, maka kita bisa mengisinya dengan:

  1. Qiyamul Lail (shalat malam)

  2. Membaca Al-Qur'an

  3. Banyak beristighfar

  4. Bersedekah

  5. Memperbanyak doa

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Malam-malam terakhir Ramadhan adalah malam penentuan bagi kehidupan kita.

Bisa jadi Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita.

Karena itu mari kita melangitkan doa, mengetuk pintu langit dengan penuh harap, memohon ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar, menerima seluruh amal ibadah kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang kembali fitrah.

آمين يا رب العالمين


Sabtu, 14 Maret 2026

Seputar Zakat Fitrah: Definisi, Jumlah, Sasaran, Tujuan, dan Hikmahnya (Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah)

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (26)

Judul: Seputar Zakat Fitrah: Definisi, Jumlah, Sasaran, Tujuan, dan Hikmahnya
(Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah)

Oleh:
Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


1. Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du.

Hadirin jamaah Ramadhan yang dimuliakan Allah.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Pada akhir bulan Ramadhan, umat Islam memiliki satu kewajiban penting yang berkaitan dengan penyucian diri dan kepedulian sosial, yaitu zakat fitrah.

2. Pengertian Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada setiap Muslim pada akhir bulan Ramadhan sebagai penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa.

Secara bahasa, zakat berarti tumbuh, suci, dan berkah.

Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri."
(QS. Al-A'la: 14)

Dalam hadis dijelaskan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Artinya:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin."

Dari hadis ini kita memahami bahwa zakat fitrah memiliki dua fungsi utama:

  1. Membersihkan jiwa orang yang berpuasa

  2. Membantu kaum fakir miskin

3. Besaran Zakat Fitrah

Dalam hadis disebutkan:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(HR. البخاري ومسلم)

Artinya:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha' kurma atau satu sha' gandum atas setiap Muslim, baik merdeka atau hamba, laki-laki maupun perempuan."

Ukuran 1 sha' ≈ 2,5 – 3 kg bahan makanan pokok.

Di Indonesia, khususnya wilayah Kota Padang Panjang dan sekitarnya, bahan pokok masyarakat adalah beras, sehingga zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk:

± 2,5 kg beras per jiwa
atau boleh diganti dengan uang senilai harga beras tersebut sesuai keputusan lembaga zakat setempat.

4. Waktu Membayar Zakat Fitrah

Para ulama menjelaskan bahwa zakat fitrah memiliki beberapa waktu:

1. Waktu wajib

Sejak terbenam matahari pada malam Idul Fitri.

2. Waktu sunnah

Sebelum pelaksanaan shalat Id.

Dalam hadis:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
(HR. البخاري)

Artinya:
"Rasulullah memerintahkan agar zakat fitrah ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju shalat Id."

3. Waktu makruh

Setelah shalat Id.

Jika dibayar setelah shalat Id maka dianggap sedekah biasa.

5. Sasaran Penerima Zakat (Mustahiq)

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ
(QS. At-Taubah: 60)

Artinya:
"Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, muallaf, untuk memerdekakan budak, orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan."

Namun mayoritas ulama menjelaskan bahwa zakat fitrah lebih diutamakan kepada fakir dan miskin agar mereka dapat bergembira pada hari raya Idul Fitri.

6. Tujuan Zakat Fitrah

Tujuan utama zakat fitrah antara lain:

1. Menyucikan orang yang berpuasa

Sebagaimana hadis:

طُهْرَةً لِلصَّائِمِ

Membersihkan kekurangan selama puasa.

2. Membantu kaum fakir miskin

Agar mereka juga merasakan kebahagiaan di hari raya.

3. Menguatkan solidaritas sosial umat Islam

Zakat menumbuhkan rasa kepedulian antar sesama.

7. Hikmah Zakat Fitrah

Beberapa hikmah dari zakat fitrah:

1. Membersihkan jiwa dari sifat kikir

Zakat melatih kita menjadi pribadi yang dermawan.

2. Menumbuhkan kepedulian sosial

Umat Islam diajarkan untuk peduli kepada sesama.

3. Menghapus kesalahan selama puasa

Karena manusia tidak lepas dari kekurangan.

4. Mewujudkan kebahagiaan di hari raya

Tidak ada kaum Muslimin yang kelaparan di hari Idul Fitri.

8. Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah.

Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat besar. Dengan zakat fitrah, Ramadhan menjadi sarana membersihkan diri sekaligus mempererat persaudaraan umat Islam.

Marilah kita menunaikan zakat fitrah tepat waktu dan menyalurkannya melalui lembaga atau panitia zakat yang amanah di lingkungan kita, khususnya di Kota Padang Panjang dan sekitarnya.

Semoga Allah menerima puasa kita, zakat kita, dan seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini.

Doa Penutup

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وزكاتنا، واغفر لنا ذنوبنا، واجعلنا من عتقائك من النار في هذا الشهر الكريم.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

Kamis, 12 Maret 2026

KONSEPSI SYUKUR DALAM TINJAUAN AL-QUR'AN DAN SUNNAH SERTA SOSIOCULTURAL MASYARAKAT MODERN

 


NASKAH  CERAMAH RAMADHAN  (25)

KONSEPSI SYUKUR DALAM TINJAUAN AL-QUR'AN DAN SUNNAH SERTA SOSIOCULTURAL MASYARAKAT MODERN

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


1. PEMBUKAAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita diajak untuk merenungkan satu nilai penting dalam kehidupan seorang mukmin, yaitu syukur kepada Allah SWT.

Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tetapi sebuah kesadaran spiritual dan sikap hidup yang membentuk karakter manusia beriman.

2. KONSEPSI SYUKUR DALAM AL-QUR'AN

Kata Syukur dalam berbagai bentuk disebut sebanyak 75 kali seimbang dengan penyebutan kata bala' yang berarti ujian. Hal ini menunjukkan antara sabar dengan syukur ibarat 2 sisi mata uang yang tak bisa disisihkan. Keduanya merupakan bukti dari keimanan yang benar di dalam hati orang yang beriman.

Allah SWT menegaskan bahwa syukur adalah sebab bertambahnya nikmat.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

(QS. Ibrahim: 7)

Artinya:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur adalah kunci keberkahan hidup.

Para ulama menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga dimensi utama:

  1. Syukur dengan hati → menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah.

  2. Syukur dengan lisan → memuji Allah dengan ucapan Alhamdulillah.

  3. Syukur dengan perbuatan → menggunakan nikmat untuk ketaatan kepada Allah.

3. SYUKUR DALAM SUNNAH NABI

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam bersyukur.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟
فَقَالَ:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya:
"Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?"

Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah adalah bentuk syukur kepada Allah.

4. SYUKUR DALAM KONTEKS SOSIOCULTURAL MASYARAKAT MODERN

Saudara-saudara sekalian,

Di era modern saat ini, manusia sering dihadapkan pada budaya konsumtif, kompetisi material, dan kecanduan teknologi.

Banyak orang memiliki banyak hal, tetapi sedikit rasa syukur.

Media sosial sering membuat manusia:

  • merasa kurang dengan apa yang dimiliki

  • membandingkan diri dengan orang lain

  • lupa mensyukuri nikmat Allah

Padahal Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

(QS. Saba’: 13)

Artinya:
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."

Karena itu, dalam masyarakat modern, syukur harus diwujudkan dalam bentuk sosial, di antaranya:

  1. Berbagi kepada yang membutuhkan

  2. Tidak hidup berlebihan

  3. Menggunakan teknologi untuk kebaikan

  4. Menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

TIPS MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR

Menjadi orang yang bersyukur adalah salah satu tanda keimanan yang kuat. Dalam Islam, syukur tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga sikap hati dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa tips praktis agar menjadi pribadi yang lebih bersyukur, terutama di bulan Ramadhan.

1. Menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah

Langkah pertama untuk menjadi orang yang bersyukur adalah menyadari bahwa segala yang kita miliki adalah karunia Allah SWT.

Allah berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

(QS. An-Nahl: 53)

Artinya:
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”

Kesadaran ini membuat kita tidak sombong dan tidak mudah mengeluh.

2. Membiasakan mengucapkan Alhamdulillah

Ucapan الحمد لله (Alhamdulillah) adalah bentuk syukur paling sederhana.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ

(HR. Muslim)

Artinya:
“Alhamdulillah memenuhi timbangan (kebaikan).”

Biasakan mengucapkan Alhamdulillah ketika mendapatkan nikmat sekecil apa pun.

3. Mengingat orang yang hidupnya lebih sulit

Salah satu cara menumbuhkan syukur adalah melihat ke bawah dalam urusan dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya:
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian.”

Hal ini membantu kita menghargai nikmat yang sudah kita miliki.

4. Menggunakan nikmat untuk kebaikan

Syukur yang sejati adalah menggunakan nikmat untuk ketaatan kepada Allah.

Misalnya:

  • ilmu digunakan untuk mengajar

  • harta digunakan untuk sedekah

  • waktu digunakan untuk ibadah

Allah berfirman:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

(QS. Saba’: 13)

Artinya:
“Beramallah wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur.”

5. Membiasakan berbagi kepada sesama

Sedekah adalah bentuk syukur yang nyata.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ

(HR. Tirmidzi)

Artinya:
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Berbagi akan membuat kita lebih menghargai nikmat yang dimiliki.

6. Melatih diri tidak banyak mengeluh

Orang yang selalu mengeluh akan sulit merasakan nikmat Allah.

Biasakan mengganti keluhan dengan doa dan dzikir seperti:

  • Alhamdulillah

  • Hasbiyallahu wa ni’mal wakil

  • Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika mendapat ujian.

5. PENUTUP

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ramadhan adalah madrasah syukur.

Ketika kita menahan lapar dan dahaga, kita belajar menghargai nikmat Allah yang selama ini sering kita lupakan.

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperkuat syukur kita kepada Allah:

  • syukur dalam hati

  • syukur dalam ucapan

  • syukur dalam tindakan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

ISTIQAMAH DALAM IBADAH: TANTANGAN DI AKHIR RAMADHAN (Perspektif Al-Qur'an dan Sunnah)

 NASKAH CERAMAH RAMADHAN (24)

Judul: ISTIQAMAH DALAM IBADAH: TANTANGAN DI AKHIR RAMADHAN
(Perspektif Al-Qur'an dan Sunnah)

Oleh:
Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


1. Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba'du.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan itu diwujudkan dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun, pada akhir Ramadhan justru muncul tantangan besar bagi banyak orang, yaitu menjaga istiqamah dalam ibadah.

Banyak orang bersemangat di awal Ramadhan, tetapi di akhir Ramadhan semangat mulai menurun. Padahal justru di sepuluh malam terakhir terdapat keutamaan yang sangat besar, termasuk Lailatul Qadar.

2. Makna Istiqamah dalam Islam

Secara bahasa, istiqamah berarti teguh, lurus, dan konsisten di jalan yang benar.

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
"Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang-orang yang telah bertobat bersamamu."
(QS. هود / Hud: 112)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka."
(QS. فصلت / Fussilat: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa istiqamah adalah bukti keimanan yang sejati.

3. Tantangan Istiqamah di Akhir Ramadhan

Jamaah sekalian,

Di akhir Ramadhan biasanya muncul beberapa tantangan:

1. Kelelahan fisik

Setelah hampir satu bulan berpuasa, tubuh mulai merasa lelah sehingga ibadah menurun.

2. Kesibukan duniawi

Menjelang Idul Fitri, banyak orang sibuk dengan belanja, perjalanan, dan persiapan hari raya.

3. Godaan kemalasan

Syaitan terus berusaha melemahkan semangat ibadah manusia.

Padahal Rasulullah SAW justru meningkatkan ibadahnya di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Dalam hadis disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

"Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah."
(HR. البخاري ومسلم)

Ini menunjukkan bahwa akhir Ramadhan adalah puncak ibadah, bukan masa penurunan semangat.

4. Cara Menjaga Istiqamah di Akhir Ramadhan

1. Menghidupkan sepuluh malam terakhir

Rasulullah SAW bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan."
(HR. البخاري)

2. Memperbanyak doa

Salah satu doa yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika mencari Lailatul Qadar adalah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku."
(HR. الترمذي)

3. Memperbanyak amal shalih

Seperti:

  • Tilawah Al-Qur'an

  • Qiyamul lail

  • Sedekah

  • I’tikaf di masjid

  • Dzikir dan istighfar

Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian)."
(QS. الحجر / Al-Hijr: 99)

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh berhenti hanya karena waktu tertentu, tetapi harus terus berlanjut sepanjang hidup.

5. Ramadhan sebagai Madrasah Istiqamah

Ramadhan sebenarnya adalah madrasah pembinaan iman.

Jika selama Ramadhan kita mampu:

  • shalat tepat waktu

  • rajin membaca Al-Qur'an

  • memperbanyak sedekah

  • menjaga lisan dan perilaku

maka semua kebiasaan baik itu harus terus dilanjutkan setelah Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit."
(HR. البخاري ومسلم)

Inilah hakikat istiqamah.

6. Penutup

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Mari kita jadikan akhir Ramadhan sebagai momentum meningkatkan ibadah, bukan menurunkan semangat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
(QS. العنكبوت / Al-Ankabut: 69)

Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah.

آمين يا رب العالمين

Referensi

  1. Al-Qur'an Al-Karim

  2. Tafsir Ibnu Katsir

  3. Tafsir Al-Muyassar

  4. Shahih Al-Bukhari

  5. Shahih Muslim

  6. Sunan At-Tirmidzi

  7. Riyadhus Shalihin – Imam An-Nawawi

  8. Fathul Bari – Ibnu Hajar Al-Asqalani


Rabu, 11 Maret 2026

KETENTUAN TENTANG ZAKAT HARTA DAN ZAKAT FITRAH DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH

NASKAH CERAMAH RAMADHAN (23)

KETENTUAN TENTANG ZAKAT HARTA DAN ZAKAT FITRAH DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Muqaddimah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

Amma ba’du.

Hadirin jamaah Ramadhan yang dimuliakan Allah SWT.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu kewajiban besar dalam Islam yang sering dibicarakan di bulan Ramadhan adalah zakat, baik zakat harta (zakat mal) maupun zakat fitrah.

Zakat bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat, karena melalui zakat terjadi pemerataan kesejahteraan dan kepedulian terhadap sesama.

1. Zakat Sebagai Rukun Islam

Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga setelah syahadat dan shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menunaikan haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa zakat adalah pilar utama dalam agama Islam. Tanpa zakat, kesempurnaan keislaman seseorang belumlah lengkap.

2. Dalil Zakat dalam Al-Qur’an

Perintah zakat disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an, bahkan sering disandingkan dengan perintah shalat.

Allah SWT berfirman:

1. Surah Al-Baqarah ayat 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya:
“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” 

2. Surah At-Taubah ayat 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Artinya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” 

Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi mensucikan jiwa dan membersihkan harta.

3. Ketentuan Zakat Harta (Zakat Mal)

Zakat mal adalah zakat yang dikeluarkan dari harta tertentu yang telah memenuhi syarat.

Syarat wajib zakat mal

Para ulama menjelaskan beberapa syarat zakat harta, antara lain:

  1. Islam

  2. Merdeka

  3. Harta mencapai nisab

  4. Harta telah mencapai haul (1 tahun)

Jenis harta yang wajib dizakati antara lain:

  • Emas dan perak

  • Harta perdagangan

  • Hasil pertanian

  • Peternakan

  • Harta simpanan dan penghasilan

Kadar zakat yang paling umum adalah 2,5% dari harta yang telah mencapai nisab dan haul.

4. Golongan Penerima Zakat

Allah SWT menjelaskan siapa saja yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur’an.

Surah At-Taubah ayat 60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ...

Artinya:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para muallaf, untuk memerdekakan budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan.” 

Golongan ini dikenal dengan delapan asnaf penerima zakat.

5. Ketentuan Zakat Fitrah

Selain zakat harta, umat Islam juga diwajibkan menunaikan zakat fitrah di bulan Ramadhan.

Dalil Hadis

Dari Ibnu Umar r.a., beliau berkata:

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum bagi setiap muslim, baik merdeka maupun hamba, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar.”
(HR. Bukhari dan Muslim) 

Hadis lain menyebutkan:

“Zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang miskin.”
(HR. Abu Dawud) 

Ketentuan Zakat Fitrah

Beberapa ketentuan zakat fitrah:

  1. Wajib bagi setiap muslim

  2. Dikeluarkan pada bulan Ramadhan

  3. Besarnya 1 sha’ (sekitar 2,5 – 3 kg makanan pokok)

  4. Waktu terbaik sebelum shalat Idul Fitri

  5. Dibayarkan untuk diri sendiri dan orang yang menjadi tanggungan

6. Hikmah Zakat

Zakat memiliki banyak hikmah, di antaranya:

1. Membersihkan harta

Zakat menyucikan harta dari hak orang lain.

2. Membersihkan jiwa

Zakat menghilangkan sifat kikir dan cinta dunia.

3. Menolong fakir miskin

Zakat adalah sistem sosial Islam untuk membantu yang membutuhkan.

4. Membangun solidaritas umat

Zakat memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial.

Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah.

Di bulan Ramadhan ini, mari kita sempurnakan ibadah kita dengan menunaikan zakat dengan penuh keikhlasan. Jangan sampai puasa kita berlalu tanpa kepedulian kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Semoga zakat yang kita keluarkan menjadi pembersih harta, penyempurna ibadah puasa, dan jalan menuju keberkahan hidup.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua.

آمين يا رب العالمين

Daftar Referensi

  1. Al-Qur’an al-Karim

  2. HR. Bukhari dan Muslim tentang rukun Islam

  3. HR. Bukhari tentang kewajiban zakat fitrah dari Ibnu Umar

  4. HR. Abu Dawud tentang hikmah zakat fitrah

  5. Wahbah az-Zuhaili, Fiqh al-Islam wa Adillatuhu

  6. Yusuf al-Qaradawi, Fiqh az-Zakah

  7. Hasan Ayyub, Fiqh al-Ibadah

  8. Artikel dalil zakat dan zakat fitrah dari BAZNAS 

Selasa, 10 Maret 2026

Perbedaan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf dalam Perspektif Bahasa Al-Qur’an dan Sunnah

 


Perbedaan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf dalam Perspektif Bahasa Al-Qur’an dan Sunnah

Oleh: Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam

Dalam ajaran Islam, kepedulian sosial bukan sekadar anjuran moral, tetapi merupakan bagian dari sistem ibadah yang terstruktur. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan beberapa konsep penting dalam berbagi harta, di antaranya zakat, infaq, sedekah, dan wakaf. Keempat istilah ini sering dianggap sama oleh masyarakat, padahal dalam perspektif bahasa Al-Qur’an dan Sunnah masing-masing memiliki makna, hukum, dan fungsi yang berbeda.

Memahami perbedaan ini penting agar umat Islam dapat menjalankan ibadah sosial dengan lebih tepat dan maksimal dalam membangun kesejahteraan umat.

1. Zakat: Kewajiban yang Mensucikan Harta

Secara bahasa, zakat (الزكاة) berasal dari kata zaka–yazku yang berarti bersih, suci, tumbuh, dan berkembang.

Dalam istilah syariat, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya dengan ketentuan tertentu.

Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)

Dalam Al-Qur’an, zakat sering disebut berdampingan dengan shalat, yang menunjukkan kedudukan zakat sangat penting dalam Islam.

Ciri utama zakat:

  • Hukumnya wajib

  • Memiliki nisab dan haul

  • Penerimanya terbatas pada delapan golongan (asnaf) (QS. At-Taubah: 60)

Dengan demikian, zakat adalah instrumen resmi dalam sistem ekonomi Islam untuk mengurangi kesenjangan sosial.

2. Infaq: Mengeluarkan Harta di Jalan Allah

Secara bahasa, infaq (الإنفاق) berasal dari kata anfaqa–yunfiqu yang berarti mengeluarkan atau membelanjakan harta.

Dalam Al-Qur’an, kata infaq digunakan untuk menggambarkan pengeluaran harta di jalan Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Allah SWT berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ
“Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 254)

Berbeda dengan zakat, infaq memiliki karakteristik:

  • Tidak terikat nisab

  • Tidak terbatas jumlah

  • Tidak terbatas waktu

  • Bisa diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan

Infaq dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti membantu fakir miskin, pembangunan masjid, pendidikan, atau kegiatan sosial.

3. Sedekah: Makna Kebenaran Iman

Secara bahasa, sedekah (الصدقة) berasal dari kata shadaqa yang berarti kebenaran atau kejujuran.

Maknanya menunjukkan bahwa orang yang bersedekah adalah orang yang benar imannya.

Rasulullah SAW bersabda:

الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
“Sedekah adalah bukti (keimanan).”
(HR. Muslim)

Dalam perspektif Sunnah, sedekah memiliki makna yang lebih luas dibandingkan zakat dan infaq. Sedekah tidak selalu berupa harta.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kebaikan adalah sedekah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bentuk sedekah bisa berupa:

  • memberikan harta

  • membantu orang lain

  • berkata baik

  • tersenyum kepada sesama

  • menyingkirkan gangguan dari jalan

Karena itu, sedekah adalah konsep kebaikan sosial yang paling luas dalam Islam.

4. Wakaf: Amal Jariyah yang Berkelanjutan

Secara bahasa, wakaf (الوقف) berarti menahan atau berhenti.

Dalam istilah syariat, wakaf adalah menahan pokok harta dan menyalurkan manfaatnya untuk kepentingan umat.

Konsep wakaf sangat erat dengan sedekah jariyah, yaitu amal yang pahalanya terus mengalir.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ...
“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Contoh wakaf dalam sejarah Islam adalah wakaf tanah oleh Umar bin Khattab di Khaibar yang hasilnya diberikan kepada fakir miskin.

Karakter wakaf:

  • Pokok harta tidak boleh dijual

  • Manfaatnya diberikan kepada masyarakat

  • Pahalanya terus mengalir

5. Perbedaan Pokok Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut:

KonsepHukumSifatTujuan
ZakatWajibTerikat nisab dan asnafPemerataan ekonomi
InfaqSunnah (kadang wajib dalam kondisi tertentu)Tidak terikat jumlahKepedulian sosial
SedekahSunnahSangat luas (tidak hanya harta)Bukti keimanan
WakafSunnah muakkadahManfaat jangka panjangPembangunan umat

Penutup

Zakat, infaq, sedekah, dan wakaf adalah empat pilar filantropi dalam Islam yang memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Zakat berfungsi sebagai kewajiban sosial, infaq dan sedekah memperkuat solidaritas kemanusiaan, sementara wakaf menjadi investasi jangka panjang bagi peradaban umat.

Apabila keempat instrumen ini dijalankan secara optimal oleh umat Islam, maka bukan hanya kemiskinan yang dapat dikurangi, tetapi juga kemandirian ekonomi dan kemajuan peradaban umat dapat terwujud.

Semoga kita termasuk orang-orang yang gemar berbagi dan memanfaatkan harta sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Referensi

  1. Al-Qur’anul Karim

  2. HR. Bukhari dan Muslim

  3. HR. Muslim tentang sedekah sebagai bukti iman

  4. Yusuf Qardhawi, Fiqh az-Zakah

  5. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu

  6. Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern

  7. Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat

  8. Undang-Undang RI No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf

Kedudukan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf dalam Menopang Ekonomi Umat


 

Naskah Ceramah Ramadhan (23)

Judul: Kedudukan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf dalam Menopang Ekonomi Umat

Oleh: Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam


Mukadimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Terlebih di bulan Ramadhan ini, bulan yang penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan.

Salah satu bentuk ibadah sosial yang sangat ditekankan dalam Islam adalah zakat, infaq, sedekah, dan wakaf. Keempat amalan ini bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga memiliki dampak besar dalam membangun kesejahteraan dan memperkuat ekonomi umat.

1. Zakat sebagai Pilar Ekonomi Umat

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga. Ia bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga instrumen ekonomi yang sangat kuat dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”
(QS. Al-Baqarah: 43)

Zakat berfungsi untuk:

  1. Membersihkan harta dan jiwa

  2. Mengurangi kesenjangan sosial

  3. Menggerakkan ekonomi umat

Jika zakat dikelola dengan baik, maka ia mampu:

  • membantu fakir miskin

  • mendukung pendidikan

  • membantu modal usaha kecil

  • meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, zakat bahkan membuat sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat karena masyarakat telah sejahtera.

2. Infaq dan Sedekah sebagai Penguat Solidaritas Sosial

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Selain zakat yang bersifat wajib, Islam juga menganjurkan infaq dan sedekah.

Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir...”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Infaq dan sedekah memiliki peran besar dalam:

  • membantu orang yang kesulitan ekonomi

  • membantu pembangunan masjid dan lembaga pendidikan

  • membantu korban bencana

  • mendukung kegiatan dakwah

Rasulullah SAW bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Justru dengan bersedekah, Allah akan melipatgandakan rezeki dan keberkahan hidup kita.

3. Wakaf sebagai Investasi Jangka Panjang Umat

Jamaah yang berbahagia,

Jika zakat membantu kebutuhan jangka pendek dan menengah, maka wakaf berfungsi sebagai kekuatan ekonomi jangka panjang umat.

Wakaf adalah menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya untuk kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ... صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Wakaf dapat berupa:

  • tanah untuk masjid

  • tanah untuk sekolah

  • rumah sakit

  • pesantren

  • bahkan wakaf uang

Banyak universitas besar di dunia Islam dahulu berdiri dari dana wakaf umat.

Ini menunjukkan bahwa wakaf mampu menjadi kekuatan ekonomi dan peradaban umat Islam.

4. Sinergi Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jika zakat, infaq, sedekah, dan wakaf dikelola dengan baik dan profesional, maka akan lahir:

  • pengentasan kemiskinan

  • pemberdayaan ekonomi umat

  • pembangunan pendidikan Islam

  • kemandirian masyarakat

Bayangkan jika setiap muslim:

  • rutin berzakat

  • gemar bersedekah

  • berinfaq di jalan Allah

  • berwakaf untuk umat

Maka ekonomi umat Islam akan menjadi kuat dan mandiri.

Penutup

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bulan Ramadhan adalah bulan terbaik untuk memperbanyak zakat, infaq, sedekah, dan wakaf.

Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan.

Maka marilah kita:

  • menunaikan zakat dengan benar

  • memperbanyak infaq dan sedekah

  • mulai berwakaf untuk kemaslahatan umat

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dermawan, peduli kepada sesama, dan berkontribusi dalam membangun ekonomi umat.

Doa Penutup

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.

اللهم بارك لنا في أموالنا وأرزاقنا، واجعلنا من أهل الزكاة والصدقات.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

Referensi

  1. Al-Qur'anul Karim

  2. HR. Muslim tentang sedekah

  3. HR. Muslim tentang sedekah jariyah

  4. Yusuf Qardhawi – Fiqh az-Zakah

  5. Undang-Undang Wakaf dan Zakat di Indonesia

  6. Literatur Ekonomi Islam

Senin, 09 Maret 2026

MALAM-MALAM AKHIR RAMADHAN: SAATNYA MEMPERBANYAK AMAL

 NASKAH CERAMAH RAMADHAN (22)

MALAM-MALAM AKHIR RAMADHAN: SAATNYA MEMPERBANYAK AMAL

Muhasabah Diri Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du.

Jamaah Ramadhan yang dimuliakan Allah,

Kita bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesempatan bertemu dengan malam-malam terakhir bulan Ramadhan, malam-malam yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Namun pertanyaannya adalah:
Apa yang sudah kita lakukan selama Ramadhan ini?
Apakah kita sudah memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya?

Malam-malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat berharga untuk memperbanyak amal dan melakukan muhasabah diri.

Keutamaan Malam-Malam Terakhir Ramadhan

Rasulullah ﷺ memberikan contoh yang sangat luar biasa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan:

قالت عائشة رضي الله عنها:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

Artinya:

“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa malam-malam terakhir Ramadhan adalah momentum meningkatkan ibadah secara maksimal.

Adanya Malam Lailatul Qadar

Salah satu keistimewaan malam terakhir Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qadr ayat 1–3

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Seribu bulan setara dengan 83 tahun lebih.
Artinya, siapa yang beribadah pada malam tersebut dengan penuh iman, maka seolah-olah ia beribadah selama puluhan tahun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Muhasabah Diri di Akhir Ramadhan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Malam-malam terakhir Ramadhan juga menjadi waktu terbaik untuk muhasabah diri.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Muhasabah berarti mengoreksi diri, melihat kembali amal-amal yang telah kita lakukan.

Kita perlu bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah puasa kita benar-benar mendidik hati kita?

  • Apakah sholat kita semakin khusyuk?

  • Apakah kita semakin dekat dengan Al-Qur'an?

  • Apakah kita meninggalkan dosa dan maksiat?

Ramadhan seharusnya mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Amal-Amal yang Dianjurkan di Malam Terakhir Ramadhan

Ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan pada malam-malam terakhir Ramadhan.

1. Qiyamul Lail (Sholat Malam)

Rasulullah ﷺ sangat memperbanyak sholat malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Sholat malam merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah.

2. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an

Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”

Karena itu, memperbanyak tilawah adalah amalan yang sangat utama.

3. Memperbanyak Doa

Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah:

“Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?”

Rasulullah menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)

4. I'tikaf di Masjid

I'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah.

Dalam hadis disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan Menjadi Orang yang Merugi di Akhir Ramadhan

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada orang yang sangat merugi ketika Ramadhan berlalu.

Beliau bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, namun Ramadhan berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni.”
(HR. Tirmidzi)

Jangan sampai kita termasuk orang yang Ramadhannya berlalu tanpa perubahan dan tanpa ampunan.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Malam-malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan kita temui lagi tahun depan.

Karena itu mari kita:

  • Memperbanyak sholat malam

  • Membaca Al-Qur'an

  • Memperbanyak doa

  • Bersedekah

  • Beri'tikaf di masjid

  • Memohon ampun kepada Allah

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Doa Penutup

اللهم بلغنا ليلة القدر، واجعلنا من عتقائك من النار.

Ya Allah, pertemukan kami dengan malam Lailatul Qadar dan jadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau bebaskan dari api neraka.

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وسائر أعمالنا.

Ya Allah terimalah puasa kami, sholat kami, dan seluruh amal ibadah kami.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

Minggu, 08 Maret 2026

I'TIKAF DAN KEUTAMAANNYA

 




Naskah Ceramah Ramadhan (21)

I'TIKAF DAN KEUTAMAANNYA

(Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah dalam Pandangan Tarjih Muhammadiyah)

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Mukadimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

Hadirin kaum muslimin yang dirahmati Allah.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Terlebih lagi pada bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, bulan yang menjadi momentum bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan adalah i'tikaf, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Pengertian I'tikaf

Secara bahasa i'tikaf berarti berdiam diri atau menetap pada suatu tempat.

Sedangkan secara istilah syariat, i'tikaf adalah:

Berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kalian) ketika kamu sedang beri'tikaf di dalam masjid.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menjadi dalil disyariatkannya i'tikaf dalam Islam, yaitu ibadah berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Dasar I'tikaf dalam Sunnah

I'tikaf juga dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah SAW.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ

Artinya:

"Nabi SAW selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa i'tikaf merupakan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Pandangan Tarjih Muhammadiyah tentang I'tikaf

Dalam pandangan Majelis Tarjih Muhammadiyah, i'tikaf memiliki beberapa ketentuan pokok:

1. I'tikaf Hukumnya Sunnah

I'tikaf termasuk sunnah muakkadah, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena Rasulullah selalu melaksanakannya.

2. Dilaksanakan di Masjid

I'tikaf dilakukan di masjid, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

"وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ"
(ketika kamu beri'tikaf di masjid-masjid).

Karena itu menurut tarjih Muhammadiyah, tempat i'tikaf adalah masjid, bukan rumah atau tempat lain.

3. Tidak Disyaratkan Puasa

Dalam tarjih Muhammadiyah dijelaskan bahwa puasa bukan syarat sah i'tikaf, meskipun pada praktiknya sering dilakukan pada bulan Ramadhan.

4. Boleh Dilakukan dalam Waktu Singkat

I'tikaf tidak harus sehari semalam. Bahkan seseorang yang masuk masjid dengan niat i'tikaf meskipun sebentar sudah mendapatkan pahala i'tikaf.

Ini memberi kemudahan bagi kaum muslimin untuk menghidupkan masjid.

Keutamaan I'tikaf

Hadirin yang dirahmati Allah.

I'tikaf memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1. Mendekatkan Diri kepada Allah

I'tikaf adalah ibadah yang membuat seorang muslim memutuskan diri dari kesibukan dunia, lalu fokus beribadah kepada Allah.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

I'tikaf membantu kita menghidupkan tujuan utama hidup: beribadah kepada Allah.

2. Mendapatkan Lailatul Qadar

I'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan sangat berkaitan dengan pencarian Lailatul Qadar.

Rasulullah bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya:

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan i'tikaf, seorang muslim lebih mudah meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan.

3. Membersihkan Hati

Ketika seseorang beri'tikaf, ia akan memperbanyak:

  • Shalat

  • Dzikir

  • Tilawah Al-Qur'an

  • Doa dan istighfar

Semua ini menjadi sarana tazkiyatun nafs atau pensucian jiwa.

4. Menghidupkan Masjid

I'tikaf juga menjadi sarana memakmurkan masjid.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ

Artinya:

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah."
(QS. At-Taubah: 18)

Orang yang gemar berada di masjid termasuk tanda kuatnya iman seseorang.

Amalan yang Dianjurkan Saat I'tikaf

Agar i'tikaf menjadi ibadah yang maksimal, hendaknya diisi dengan amalan-amalan seperti:

  1. Shalat malam (qiyamul lail)

  2. Tilawah Al-Qur'an

  3. Dzikir dan istighfar

  4. Berdoa kepada Allah

  5. Muhasabah diri

Hindari aktivitas yang tidak bermanfaat seperti:

  • banyak berbicara

  • bermain gadget tanpa manfaat

  • atau aktivitas duniawi yang berlebihan.

Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah.

Bulan Ramadhan adalah madrasah ruhaniyah untuk memperbaiki diri. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan adalah i'tikaf, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Melalui i'tikaf kita:

  • mendekatkan diri kepada Allah

  • membersihkan hati

  • memperbanyak ibadah

  • dan berpeluang meraih Lailatul Qadar.

Maka marilah kita hidupkan masjid-masjid kita dengan ibadah i'tikaf, agar Ramadhan yang kita jalani benar-benar menjadi Ramadhan yang berkualitas dan penuh keberkahan.

Doa Penutup

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا واعتكافنا وسائر أعمالنا.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.