Renungan Setengah Abad
Di Ambang Usia 50 Tahun
Hari ini aku berdiri di sebuah jembatan waktu.
Lima puluh tahun. Setengah abad. Bukan sekadar angka yang bertambah pada lembar identitas, tetapi jejak panjang yang telah ditulis oleh takdir Allah di atas hamparan usia. Lima puluh tahun berarti ribuan fajar yang pernah menyapaku, ribuan senja yang pernah mengajarkanku tentang pulang, jutaan detik yang telah berlalu tanpa pernah bisa dipanggil kembali.
Aku memandang ke belakang, dan kulihat seorang anak kecil yang dahulu berlari di halaman rumah, menggenggam mimpi yang belum bernama. Ia tidak pernah tahu bahwa suatu hari ia akan menjadi seorang suami, ayah, penyuluh agama, pegawai negara, pemimpin organisasi, sahabat masyarakat, dan saksi bagi begitu banyak kisah manusia. Ia hanya tahu bahwa hidup harus dijalani, dan bahwa di langit selalu ada Tuhan yang mengawasi.
Hari ini aku ingin duduk sejenak, bukan untuk menghitung keberhasilanku, melainkan untuk menghitung nikmat yang terlalu banyak hingga tak sanggup kuhitung.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat itu terasa lebih dekat ketika usia mencapai lima puluh. Sebab semakin tua seseorang, semakin ia sadar bahwa hidup bukanlah hasil kecerdasan semata, melainkan karunia yang terus menerus dititipkan.
Sebagai Hamba Allah
Ya Allah, jika lima puluh tahun ini adalah sebuah perjalanan menuju-Mu, maka betapa sering aku berjalan dengan langkah yang tertatih.
Ada hari-hari ketika aku begitu dekat kepada-Mu, menangis dalam doa, merasakan kehadiran-Mu lebih dekat daripada urat leherku sendiri. Namun ada pula hari-hari ketika aku sibuk dengan dunia, larut dalam urusan, mengejar target, memenuhi undangan, menyusun laporan, memimpin rapat, berbicara di mimbar, tetapi lupa menundukkan hati.
Aku sadar, ibadahku belum seindah yang seharusnya. Salatku masih sering tergesa. Zikirku masih sering kalah oleh kegaduhan pikiran. Sedekahku belum seikhlas para kekasih-Mu. Dakwahku masih bercampur dengan keinginan untuk dihargai.
Namun Engkau tetap menutup aibku.
Engkau masih memberiku kesempatan untuk sujud.
Engkau masih membangunkanku pada pagi-pagi yang baru.
Engkau masih mengizinkanku mengucapkan nama-Mu.
Maka pada usia lima puluh ini, aku tidak meminta hidup yang lebih panjang tanpa makna. Aku hanya memohon hati yang lebih tunduk, amal yang lebih ikhlas, dan akhir yang lebih indah.
Sebagai Anak
Aku teringat wajah ayah dan ibu.
Betapa banyak doa yang mereka titipkan sebelum aku mampu mengerti arti doa. Betapa banyak lelah yang mereka sembunyikan agar aku dapat tumbuh dengan harapan.
Aku pernah menjadi anak yang membantah.
Aku pernah menjadi anak yang terlambat memahami.
Aku pernah membuat mereka menunggu, khawatir, kecewa, bahkan menangis.
Kini ketika rambutku mulai memutih, aku baru mengerti bahwa menjadi orang tua adalah pekerjaan yang tak pernah selesai. Aku baru memahami mengapa ibu selalu gelisah ketika anak-anaknya belum pulang, mengapa ayah tampak keras padahal sedang melindungi.
Jika masih ada kesempatan, aku ingin lebih sering menggenggam tangan mereka.
Sehatkan, bahagiakan dan muliakan mereka dengan rahmat dan ampunan-Mu Ya Allah di dunia yang sementara ini & akhirat yang selama-lamanya.
Jika salah seorang atau keduanya telah lebih dahulu dipanggil-Mu, maka izinkan setiap doa yang kupanjatkan menjadi cahaya di alam kubur mereka.
Ya Allah, jadikan aku anak yang tidak memutus bakti hanya karena waktu telah memisahkan.
Sebagai Suami
Di sampingku ada seorang perempuan yang telah berjalan bersamaku melewati musim-musim kehidupan.
Ia menyaksikan aku ketika berhasil dan ketika gagal.
Ia mengenalku ketika dunia memuji, dan tetap tinggal ketika aku tidak memiliki apa-apa selain harapan.
Berapa banyak kesabaran yang telah ia keluarkan tanpa pernah dicatat manusia?
Berapa banyak air mata yang ia sembunyikan agar rumah ini tetap hangat?
Aku tahu, cinta bukan hanya tentang kata-kata indah, tetapi tentang tetap memilih satu sama lain ketika usia tidak lagi muda, ketika wajah mulai berubah, ketika tubuh mulai lelah.
Pada usia lima puluh ini, aku ingin belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa: lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak menghargai daripada menuntut, lebih banyak mendoakan daripada menyalahkan.
Semoga rumah tangga kami menjadi tempat pulang yang dirahmati, tempat anak-anak belajar tentang kasih sayang, dan tempat malaikat senang singgah.
Sebagai Ayah
Anak-anakku adalah ayat-ayat Allah yang hidup.
Mereka datang bukan untuk menjadi milikku, tetapi untuk menjadi amanah yang harus kukembalikan kepada Pemiliknya.
Aku pernah terlalu sibuk.
Aku pernah hadir secara fisik tetapi jauh secara batin.
Aku pernah mengira bahwa memberi nafkah sudah cukup, padahal yang mereka butuhkan juga adalah pelukan, percakapan, teladan, dan doa.
Kini aku melihat mereka tumbuh dengan jalan mereka masing-masing.
Ada yang belajar, ada yang merantau, ada yang sedang mencari jati diri.
Aku tidak bisa lagi mengatur seluruh langkah mereka.
Yang bisa kulakukan adalah menjadi pohon yang akarnya kuat, agar mereka selalu tahu ke mana harus kembali ketika angin kehidupan terlalu keras.
Ya Allah, lindungilah anak-anakku.
Jadikan mereka lebih saleh daripada ayahnya.
Lebih berilmu daripada ayahnya.
Lebih bermanfaat daripada ayahnya.
Dan jangan biarkan aku menjadi penghalang bagi hidayah mereka.
Sebagai Saudara
Aku lahir di tengah keluarga, di antara saudara-saudara yang berbagi darah, kenangan, dan sejarah.
Kami pernah berebut, tertawa, menangis, saling membantu, saling menyakiti, lalu saling memaafkan.
Usia lima puluh mengajarkanku bahwa hubungan saudara tidak diukur oleh seberapa sering bertemu, tetapi oleh seberapa tulus menjaga ketika berjauhan.
Aku ingin menjadi saudara yang menghadirkan keteduhan.
Yang tidak menambah luka.
Yang tidak memperbesar perbedaan.
Yang menjadi jembatan ketika yang lain berjarak.
Karena pada akhirnya, keluarga adalah tempat di mana nama kita pertama kali dipanggil dengan cinta.
Sebagai Pegawai
Aku pernah memulai dari langkah-langkah kecil.
Menjadi guru honorer, kemudian mengabdi dalam berbagai amanah, hingga akhirnya menjadi bagian dari Kementerian Agama.
Dari satu meja ke meja lain, dari satu tugas ke tugas berikutnya, dari satu jabatan ke jabatan yang lain, aku belajar bahwa pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi ladang pertanggungjawaban.
Berapa banyak surat yang kutandatangani?
Berapa banyak keputusan yang pernah kuambil?
Berapa banyak orang yang mungkin terbantu, atau justru pernah terluka karena kekuranganku?
Ya Allah, jika selama pengabdianku ada hak manusia yang belum kutunaikan, bukakan jalan bagiku untuk memperbaikinya.
Jangan biarkan jabatan menjadi hijab antara aku dan kerendahan hati.
Sebagai Penyuluh Agama Islam
Inilah amanah yang paling sering membuatku gemetar.
Aku berbicara tentang agama, sementara diriku sendiri masih belajar menjadi hamba.
Aku mengajak orang menuju Allah, sementara aku sendiri masih sering tersesat oleh ego.
Aku berdiri di depan masyarakat, di masjid, mushalla, sekolah, rumah tahanan, kelompok binaan, forum lintas agama, ruang-ruang dialog, menyampaikan ayat dan hadis.
Namun sesungguhnya setiap ceramah adalah nasihat untuk diriku sendiri.
Aku bersyukur karena Engkau mengizinkanku menjadi penyuluh.
Aku bersyukur karena Engkau mempertemukanku dengan begitu banyak manusia: pasangan yang sedang bertikai, remaja yang sedang bingung, keluarga yang sedang rapuh, warga binaan yang sedang mencari harapan, masyarakat yang sedang membutuhkan arah.
Mereka mungkin mengira aku datang membawa jawaban.
Padahal sering kali aku pulang membawa pelajaran.
Ya Allah, jadikan lisanku lembut.
Jadikan ilmunya bermanfaat.
Jadikan dakwahku menghidupkan, bukan menghakimi.
Dan ketika kelak aku tidak lagi mampu berdiri di mimbar, semoga masih ada orang yang mengingatku karena pernah merasa dikuatkan oleh satu kalimat yang keluar dari mulutku.
Sebagai Anggota Masyarakat
Aku hidup bukan sendirian.
Aku dibentuk oleh tetangga, sahabat, guru, ulama, tokoh masyarakat, dan orang-orang biasa yang mungkin tidak pernah disebut dalam sejarah.
Aku ingin menjadi bagian dari masyarakat yang menghadirkan manfaat.
Menyapa dengan ramah.
Mendamaikan yang berselisih.
Membantu tanpa banyak suara.
Menjadi peneduh, bukan pemanas.
Usia lima puluh membuatku sadar bahwa yang paling lama dikenang bukanlah seberapa tinggi posisi seseorang, tetapi seberapa baik ia memperlakukan orang lain.
Sebagai Warga Negara Indonesia
Aku dilahirkan di negeri yang kaya akan keberagaman.
Aku menyaksikan perubahan zaman: dari dunia yang sederhana menuju dunia digital yang bergerak sangat cepat.
Aku melihat bangsa ini jatuh dan bangkit, berselisih dan berdamai, berharap dan berjuang.
Sebagai warga negara, aku ingin mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kejujuran dalam bekerja, dengan kepedulian kepada sesama, dengan menjaga kerukunan, dengan mendidik generasi, dan dengan doa yang tidak pernah putus.
Semoga negeri ini tetap menjadi rumah yang damai bagi semua anak bangsa.
Portofolio Kehidupan
Jika dunia bertanya apa yang telah kucapai, mungkin ada daftar yang bisa disebut: jabatan, penghargaan, organisasi, tulisan, pelatihan, forum, program, dan berbagai jejak pengabdian.
Namun ketika malaikat bertanya, semua itu mungkin tidak banyak berarti kecuali jika di dalamnya ada keikhlasan.
Aku pernah merasa bangga.
Aku pernah merasa berhasil.
Aku pernah merasa dibutuhkan.
Tetapi usia lima puluh mengajarkanku bahwa semua itu hanyalah titipan.
Hari ini dipuji, besok dilupakan.
Hari ini memimpin, besok digantikan.
Hari ini kuat, besok sakit.
Hari ini ada, besok mungkin tinggal nama.
Yang benar-benar tinggal hanyalah amal.
Maka biarlah portofolioku yang paling utama adalah hati yang berusaha jujur kepada Allah.
Menuju Sisa Perjalanan
Lima puluh tahun berarti aku tidak lagi memulai hidup.
Aku sedang menyempurnakan perjalanan.
Mungkin separuh usia telah berlalu.
Mungkin lebih.
Aku tidak tahu berapa halaman yang masih tersisa.
Tetapi aku ingin menulisnya dengan tinta yang lebih bening.
Lebih banyak istighfar daripada keluhan.
Lebih banyak syukur daripada tuntutan.
Lebih banyak memberi daripada meminta.
Lebih banyak memaafkan daripada mengingat luka.
Ya Allah, jika Engkau masih memberiku umur, jadikan tahun-tahun setelah ini sebagai tahun-tahun yang paling dekat kepada-Mu.
Jadikan aku suami yang lebih lembut.
Ayah yang lebih hadir.
Anak yang lebih berbakti.
Saudara yang lebih tulus.
Pegawai yang lebih amanah.
Penyuluh yang lebih bijaksana.
Warga masyarakat yang lebih bermanfaat.
Warga negara yang lebih bertanggung jawab.
Dan ketika kelak aku benar-benar pulang kepada-Mu, biarlah orang-orang tidak mengenangku karena kesempurnaanku, tetapi karena kebaikan kecil yang pernah Engkau izinkan mengalir melalui diriku.
Hari ini, di usia lima puluh tahun, aku tidak sedang merayakan bertambahnya umur.
Aku sedang mensyukuri kesempatan.
Kesempatan untuk bertobat.
Kesempatan untuk memperbaiki.
Kesempatan untuk mencintai.
Kesempatan untuk mengabdi.
Kesempatan untuk menjadi lebih dekat kepada-Mu.
Sebab pada akhirnya, seluruh perjalanan ini akan bermuara pada satu kalimat yang paling kurindukan:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.








.png)






