Selasa, 26 Mei 2026

KHUTBAH: “PANGGILAN SUCI, PENGORBANAN HATI, DAN BAKTI YANG TAK BERTEPI”

 


KHUTBAH: “PANGGILAN SUCI, PENGORBANAN HATI, DAN BAKTI YANG TAK BERTEPI”

Materi Inti Khutbah Jumat / Idul Adha Durasi ±20 Menit


الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.

Jamaah rahimakumullah…

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh hiruk-pikuk. Banyak manusia mengejar dunia tanpa mengenal batas. Rumah dibangun semakin megah, kendaraan semakin mewah, tetapi hati semakin gelisah. Anak sibuk dengan gawainya, orang tua sering dilupakan, dan ibadah hanya menjadi pelengkap kehidupan.

Di tengah dunia yang semakin bising ini, Allah memanggil manusia menuju kesucian. Panggilan itu bernama ibadah haji. Allah memanggil manusia untuk meninggalkan pakaian kebesaran dunia, lalu memakai kain ihram yang sederhana, agar manusia sadar bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah tanpa membawa harta dan jabatan.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji…”

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah. Haji adalah perjalanan hati menuju Allah. Di Arafah manusia menangis mengingat dosa-dosanya. Di Mina manusia belajar tentang pengorbanan. Di Ka’bah manusia sadar bahwa hidup harus berputar mengelilingi Allah, bukan mengelilingi hawa nafsu.

Hari ini banyak orang mampu membeli kendaraan baru, mampu mengganti telepon genggam berkali-kali, tetapi belum tumbuh niat untuk memenuhi panggilan Allah menuju Baitullah. Padahal setiap langkah menuju haji adalah penghapus dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa berhaji karena Allah dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan.”

Jamaah rahimakumullah…

Selain haji, Idul Adha juga mengajarkan tentang kurban. Kurban bukan hanya menyembelih hewan. Kurban adalah menyembelih kesombongan, menyembelih ego, dan menyembelih cinta dunia yang berlebihan.

Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, beliau tidak membantah. Dan Nabi Ismail pun berkata:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Betapa indah hubungan ayah dan anak dalam keluarga yang dipenuhi iman. Hari ini banyak anak yang meninggikan suara kepada orang tua, mudah membentak, bahkan lupa menanyakan kabar ayah dan ibunya.

Padahal ridha Allah bergantung kepada ridha orang tua.

Rasulullah ﷺ bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ

“Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua.”

Jamaah yang dirahmati Allah…

Sering kali kita menangis ketika kehilangan harta, tetapi jarang menangis karena pernah melukai hati ibu. Kita takut miskin di dunia, tetapi tidak takut menjadi anak durhaka.

Ingatlah…
Tidak semua orang masih memiliki kesempatan mencium tangan ibunya.
Tidak semua orang masih mendengar suara ayahnya.
Banyak manusia yang hari ini ingin meminta maaf kepada orang tuanya, tetapi kuburan telah menjadi pemisah.

Maka selama orang tua masih hidup, muliakanlah mereka.
Jangan tunggu mereka tiada.

Bila ibu menelepon, jawablah dengan lembut.
Bila ayah meminta bantuan, datanglah dengan hormat.
Karena bisa jadi suatu hari nanti kita akan menangis di pusara mereka sambil berkata:
“Andai dulu aku lebih banyak berbakti…”

Jamaah rahimakumullah…

Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum memperbaiki diri.
Bagi yang mampu, niatkan haji.
Bagi yang memiliki kelapangan rezeki, berkurbanlah.
Dan bagi kita semua, pulanglah kepada orang tua dengan hati yang lembut.

Jangan biarkan dunia membuat hati kita keras.
Jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa kepada Allah.
Jangan biarkan gengsi membuat kita jauh dari orang tua.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang taat, anak-anak yang berbakti, dan umat yang selalu dekat dengan-Nya.

=== DOA ===

اللهم اغفر لنا ذنوبنا كلها، دقها وجلها، أولها وآخرها، سرها وعلانيتها.

Ya Allah…
Ampunilah dosa-dosa kami.
Dosa yang kami lakukan di waktu siang maupun malam.
Dosa ketika sendiri maupun di hadapan manusia.
Dosa karena lisan yang menyakitkan.
Dosa karena hati yang keras.
Dosa karena lalai mengingat-Mu.

Ya Allah…
Jika selama ini kami lebih mencintai dunia daripada akhirat,
lebih sibuk mengejar harta daripada mengejar ridha-Mu,
maka ampunilah kami ya Rabb.

Ya Allah…
Ampuni dosa kami kepada kedua orang tua kami.
Ampuni setiap bentakan yang pernah keluar dari lisan kami.
Ampuni setiap air mata ibu yang jatuh karena sikap kami.
Ampuni setiap kekecewaan ayah yang pernah kami abaikan.

Ya Allah…
Bila orang tua kami masih hidup,
panjangkan umur mereka dalam kesehatan dan keberkahan.
Lembutkan hati kami untuk selalu berbakti kepada mereka.
Jadikan kami anak-anak yang membanggakan dunia dan akhirat.

Dan bila orang tua kami telah tiada,
maka terangilah kubur mereka ya Allah.
Lapangkan alam barzakh mereka.
Jadikan setiap doa kami sebagai cahaya untuk mereka.
Pertemukan kami kembali bersama mereka di surga-Mu.

Ya Allah…
Terimalah ibadah haji saudara-saudara kami.
Jadikan mereka haji yang mabrur.
Terimalah kurban kami.
Jadikan pengorbanan kami sebagai jalan menuju ridha-Mu.

Ya Allah…
Jangan Engkau cabut iman dari hati kami.
Jangan Engkau matikan kami kecuali dalam keadaan husnul khatimah.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.


Oleh:
Ustadz Hendri Faisal, S.Ag

Kalibrasi Arah Kiblat Hanya Membetulkan Arah Kiblat Bukan Merombak Bangunan Masjid

 

Kalibrasi Arah Kiblat: Membetulkan Arah, Bukan Merombak Masjid

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Beberapa waktu terakhir, isu tentang kalibrasi atau pengukuran ulang arah kiblat kembali menjadi perhatian di tengah masyarakat. Tidak sedikit muncul kekhawatiran, bahkan keresahan, ketika ada informasi bahwa arah kiblat masjid atau mushalla perlu diperbaiki. Sebagian masyarakat langsung membayangkan bangunan masjid harus dibongkar, shaf harus dirombak total, atau merasa ibadah selama ini menjadi tidak sah. Padahal, pemahaman seperti ini perlu diluruskan dengan bijak dan tenang.

Kalibrasi arah kiblat sejatinya hanyalah upaya membetulkan arah hadap menuju Ka'bah secara lebih tepat berdasarkan ilmu falak, pengukuran astronomi, dan perkembangan teknologi modern. Tujuannya bukan merusak, menyalahkan pendahulu, apalagi merombak bangunan masjid yang telah lama berdiri. Kalibrasi dilakukan sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian) agar pelaksanaan ibadah semakin mendekati ketepatan yang dianjurkan syariat.

Dalam sejarah Islam, penentuan arah kiblat pada masa dahulu banyak dilakukan dengan kemampuan dan alat yang tersedia saat itu. Ada yang menggunakan arah matahari, posisi terbenamnya bulan, kompas sederhana, arah jalan, bahkan sekadar perkiraan tokoh masyarakat setempat. Semua itu adalah bentuk ijtihad yang patut dihargai. Karena itu, ketika hari ini ditemukan adanya sedikit pergeseran arah berdasarkan alat ukur yang lebih akurat, maka yang dibetulkan adalah arah saf atau garis kiblatnya, bukan menyalahkan generasi terdahulu.

Perlu dipahami pula bahwa bangunan masjid dan arah kiblat adalah dua hal yang berbeda. Sebuah masjid tidak otomatis harus dibongkar hanya karena arah saf perlu disesuaikan beberapa derajat. Dalam banyak kasus, koreksi kiblat cukup dilakukan dengan menggeser garis saf, memasang penanda kiblat baru, atau menyesuaikan posisi sajadah jamaah. Bangunan tetap berdiri kokoh dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Karena itu, masyarakat tidak perlu panik apabila ada kegiatan pengukuran arah kiblat oleh petugas Kementerian Agama atau ahli falak. Justru hal tersebut merupakan bentuk pelayanan umat agar pelaksanaan ibadah semakin baik. Kalibrasi kiblat bukan ancaman bagi masjid, tetapi bagian dari ikhtiar menyempurnakan orientasi ibadah umat Islam.

Lebih jauh, persoalan arah kiblat hendaknya tidak menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat. Jangan sampai masjid yang semestinya menjadi pusat persatuan justru memunculkan prasangka, saling menyalahkan, atau konflik internal. Yang paling penting dalam ibadah bukan hanya lurusnya arah saf, tetapi juga lurusnya hati, persaudaraan, dan niat karena Allah SWT.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa agama hadir membawa kemudahan, bukan kesulitan. Maka proses kalibrasi arah kiblat seharusnya disikapi dengan ilmu, ketenangan, dan kebersamaan. Ketika ada kekeliruan kecil, kita perbaiki bersama tanpa gaduh dan tanpa saling menyudutkan.

Pada akhirnya, kalibrasi arah kiblat adalah simbol bahwa Islam mendorong umatnya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mengedepankan ketepatan dalam ibadah. Membetulkan arah kiblat bukan berarti merobohkan masjid. Yang dibangun sesungguhnya adalah kesadaran bahwa ibadah yang baik harus berjalan seiring dengan ilmu pengetahuan, persatuan umat, dan sikap saling menghormati.

“Merawat Keikhlasan dan Kepedulian di Tengah Tantangan Ekonomi”


 

Refleksi Idul Adha 1447 H

“Merawat Keikhlasan dan Kepedulian di Tengah Tantangan Ekonomi”

Hari Raya Idul Adha 1447 H hadir di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya mudah bagi banyak masyarakat. Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan semakin ketat, daya beli melemah, dan tidak sedikit keluarga yang harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang mungkin merasa bahwa semangat berqurban dan berbagi menjadi semakin berat untuk diwujudkan.

Namun justru di sinilah makna Idul Adha menemukan relevansinya yang paling dalam.

Idul Adha bukan sekadar tentang banyaknya hewan qurban yang disembelih, tetapi tentang sejauh mana keikhlasan, ketundukan, dan kepedulian sosial tumbuh di dalam hati manusia. Nabi Ibrahim AS memberikan teladan tentang pengorbanan total demi ketaatan kepada Allah SWT, sementara Nabi Ismail AS menunjukkan keteguhan iman dan kepasrahan yang luar biasa. Nilai terbesar dari peristiwa itu bukanlah materi, melainkan keimanan dan ketulusan.

Allah SWT berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan bahwa hakikat qurban bukan pada kemewahan atau besar kecilnya hewan sembelihan, melainkan kualitas ketakwaan dan kepedulian yang lahir dari hati yang ikhlas.

Dalam kondisi ekonomi saat ini, Idul Adha mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap penderitaan sesama. Banyak saudara kita yang mungkin jarang menikmati daging, menahan beban hidup sendirian, atau menyembunyikan kesulitan di balik senyuman. Maka qurban menjadi simbol hadirnya solidaritas sosial, bahwa umat Islam tidak boleh membiarkan saudaranya merasa sendiri menghadapi kehidupan.

Idul Adha juga mengajarkan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya. Kepedulian dapat diwujudkan melalui perhatian, tenaga, doa, membantu tetangga, memperkuat silaturahmi, serta menghadirkan ketenangan bagi orang lain. Sebab sejatinya, nilai pengorbanan terbesar terkadang bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang rela kita sisihkan di tengah keterbatasan.

Di tengah tekanan ekonomi, umat Islam perlu memperkuat optimisme dan semangat gotong royong. Jangan sampai kesulitan hidup melahirkan keputusasaan, individualisme, atau hilangnya empati sosial. Idul Adha mengingatkan bahwa keberkahan hidup tidak hanya lahir dari banyaknya harta, tetapi dari hati yang bersyukur dan tangan yang ringan membantu sesama.

Momentum Idul Adha 1447 H hendaknya menjadi penguat spiritual bagi umat:

  • memperbaiki hubungan dengan Allah,

  • memperkuat kepedulian terhadap masyarakat,

  • membangun solidaritas sosial,

  • serta menanamkan keyakinan bahwa setiap ujian kehidupan selalu mengandung hikmah dan jalan keluar.

Semoga semangat qurban melahirkan pribadi-pribadi yang ikhlas, kuat menghadapi ujian, serta semakin peduli terhadap umat dan negeri.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah, qurban, dan segala pengorbanan kita.

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
KUA Padang Panjang Timur

“HAKIKAT IBADAH HAJI & IBADAH QURBAN”

 


KHUTBAH IDUL ADHA 1447 H

 

HAKIKAT IBADAH HAJI & IBADAH QURBAN”

 

 

 

 

Disampaikan Oleh:

Wahyu Salim, S.Ag

 

 

 

 

 

 

 

 

DI MASJID AR-RAUDHAH AIA ANGEK

KEC. X KOTO KAB. TANAH DATAR

HARI RABU, 27 MEI 2026 M/10 ZULHIJJAH 1447 H

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ.

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.

Allahu Akbar 3x walillahilhamd

Ma’asyiralmuslimin Sidang Jama’ah Idul Adha rahimakumullah………

          Syukur al-Hamdulillah marilah kita hadapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga pada hari raya idul adha tahun ini, kita dapat bersama-sama melaksanakan shalat hari raya di Mesjid yang berbahagia ini dengan meninggalkan segala kesibukan dunia, memfokuskan jiwa dan raga untuk beribadah hanya kepada Allah SWT. Kita juga bersyukur kepada Allah SWT karena ada di antara kita yang diizinkan Allah, apakah orang tua kita, saudara kita, anak kita atau kemenakan kita, melaksanakan ibadah haji menyempurnakan rukun Islam yang kelima ke Makkah Mukarramah. Kita juga besyukur memuji Allah SWT karena ada di antara kita yang ikut berkurban menyembelih sapi atau kambing kemudian membagikannya kepada kaum muslimin terutama kepada fakir dan miskin. Mudah-mudahan dengan selalu mensyukuri segala nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah SWT, kita  selalu mendapatkan curahan rahmat dan karunia-Nya dan dibebaskan dari segala bentuk bala dan musibah. Amin Ya Rabbal “Alamin…….

          Allah berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

          Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika  kamu bersyukur atas nikmat yang Aku berikan kepadamu pasti Aku akan tambah, tapi apabila kamu ingkari sungguh azab-Ku sangatlah pedih. (Surah Ibrahim ayat 7)

          Shalawat dan salam, marilah kita do’akan kepada Allah SWT semoga disampaikan kepada junjungan umat Nabi Besar Muhammad SAW. Atas segala perjuangan dan pengorbanan beliau, baik harta, pemikiran, perasaan dan waktu, beliau telah berhasil dalam tempo yang sangat singkat merubah peradaban dunia, dari peradaban penyembah patung dan berhala kepada peradaban penyembah Allah SWT yang Maha Tunggal dan Kuasa, dari peradaban penyiksa wanita dan makhluk lemah kepada peradaban yang menghargai wanita dan mengasihi yang faqir, dari peradaban jahiliyyah kepada peradaban yang penuh dengan kebijaksanaan, kedermawanan dan ilmu pengetahuan sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Mudah-mudahan dengan berpegang teguh kepada warisan yang beliau tinggalkan untuk kita, kita tidak akan pernah sesat selama-lamanya, baik di dunia maupun di akhirat.

          Nabi bersabda:

          Artinya: “Aku telah tinggalkan untukmu dua perkara, selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, kamu tidak akan pernah sesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul”. (al-Hadis)

          Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd……..

          Kaum Muslimin Rahimakumullah…………

          Mengawali khutbah idul adha kali ini, khatib mengajak kita semua, termasuk diri khatib sendiri untuk selalu meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya setiap saat, kapan saja dan di mana saja kita berada.

Sidang Jama’ah Idul Adha yang rahimakumullah,

          Tema khutbah kita kali ini ialah “HAKIKAT IBADAH HAJI DAN QURBAN”.

 

Ma’asysyiral Muslimin Rahimakumullah,

          Allah berfirman: 

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ

“Dan serulah olehmu manusia agar ia melaksanakan haji niscaya ia akan datang dengan berjalan kaki dan memakai kendaraan, dan mereka akan datang dari segenap penjuru dunia agar mereka menyaksikan beberapa manfaat, dan menyebut nama Allah pada beberapa hari tertentu ( hari raya idul adha dan hari-hari tasyri’) dan Allah telah memberi rezki kepadamu dengan binatang ternak untuk korban dan makanlah sebahagiannya dan sedeqahkanlah bagi orang yang fakir dan melarat”. (Surah al-Hajj ayat 27-28)

          Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: ”Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (Surah Ali Imran ayat 97)

          Berdasarkan firman Allah di atas, kita menyadari bahwa ibadah haji merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, bahkan merupakan kesempurnaan pengamalan ajaran agama dan menjadi rukun Islam yang kelima, yaitu kewajiban bagi orang-orang yang memenuhi wajib haji, yaitu mempunyai kesanggupan ekonomi untuk biaya keberangkatan, sehat jasmani dan rohani, mempunyai ilmu tentang tata cara haji dan adanya jaminan keamanan menuju Makkah Mukarramah dan Madinatul Munawwarah.

          Itulah mereka yang sekarang lagi berkumpul berjuta-juta orang dari segenap penjuru dunia di tanah haram, melaksanakan rangkaian ibadah haji mulai dari Ihram, Thawaf, Sa’i, melontar Jumrah dan ibadah lainnya, yang masing-masingnya mempunyai hikmah luar biasa yang patut kita pedomani.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd……..

          Pertama, Mengenakan pakaian ihram putih-putih dan menanggalkan pakaian biasa sehari-hari berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus segala keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial. Raja, Jendral, Presiden, Rakyat Kecil, petani, pedagang, sopir, tanpa membedakan jabatan, kekayaan, suku maupun warna kulit. semuanya mengenakan pakaian Ihram yang sama. Hal ini melambangkan persamaan derajat kemanusiaan. Pesannya sangat jelas bahwa manusia hakikatnya sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: QS. Al-Hujurat Ayat 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Ibadah haji tidak hanya perjalanan fisik tapi spiritual yang mengajarkan kesabaran, disiplin, kebersamaan, pengendalian diri dan ukhuwwah Islamiyyah serta menimbulkan pengaruh psikologis/kejiwaan bahwa  dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Allah SWT pada saat kematiannya. Bukankah ibadah haji adalah memenuhi panggilan Allah? Dan kematian itu juga adalah memenuhi panggilan Allah? Apakah setelah melaksanakan haji atau kita setelah shalat idul adha dan melaksanakan qurban, masih adakah keangkuhan di dalam jiwa kita? Masih terasakah adanya perbedaan derajat kemanusiaan? Masihkah ingin menang sendiri dan menindas orang lain? Kalau masih ada berarti kita belum menghayati hikmah dari pakaian ihram tersebut. Dalam kehidupan masyarakat, kebersamaan dan kesamaan visi dan misi yang diajarkan dari pakaian Ihram menjadi syarat mutlak keberhasilan kita dalam membangun, terutama membangun kehidupan beragama di daerah kita sehingga tidak ada ruang dan waktu untuk kemaksiatan, tidak ada lagi perjudian, tidak ada lagi orang yang mencuri, tidak ada lagi orang yang berzina dan pergaulan bebas di daerah kita, tidak ada lagi narkoba dan tidak ada lagi kemungkaran-kemungkaran lainnya di daerah yang kita cintai ini. Ini juga yang diajarkan oleh Ibadah Qurban, yaitu berkorban untuk kemajuan agama. Kita harus meletakkan agama sebagai posisi prioritas utama. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh yang menyebutkan apabila bertentangan kepentingan agama dengan jiwa, maka jiwa harus dikorbankan, inilah Jihad, maka orang yang gugur dalam perjuangan agama, maka ia gugur sebagai syuhada dan tidak ada balasan lain kecuali surga. Apabila bertentangan antara kepentingan agama dengan harta, maka harta harus dikorbankan, maka inilah yang menjadi syariat zakat, waqaf, infaq dan sedeqah. Dengan demikian, tidak ada mesjid yang terbengkalai, tidak ada faqir-miskin yang tidak disantuni, tidak ada anak yatim yang terlantar. Semuanya berjalan dengan damai, aman dan tentram. Dan apabila bertentangan kepentingan agama dengan kepentingan pribadi, maka agama harus didahulukan, kepentingan pribadi harus dikorbankan, direlakan dan diikhlaskan. Inilah prinsip yang harus selalu kita pegang sehingga kita bisa sehilir semudik dalam memajukan agama di daerah kita ini dalam kerangka ukhuwwah Islamiyyah yang kuat dan erat.

Wuquf di ‘Arafah berarti berhenti di Padang ‘Arafah. ‘Arafah berarti mengenal. Mengajarkan kepada kita untuk mengenal jati diri, menyadari kesalahan, bertekad untuk tidak mengulanginya, bertaubat serta menyadari kebesaran dan keagungan Penciptanya, yaitu Allah SWT, yang suatu saat kita akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama kita hidup di dunia dihadapan Mahkamah Allah SWT. Kita hidup di dunia hanya sebentar, kehidupan yang abadi itu ada di akhirat. Oleh karena itu, mari kita persiapkan diri dan keluarga  kita untuk menghadapi kehidupan yang abadi itu dengan memperbanyak bekal, yaitu bekal keimanan, ketaqwaan dan amal sholeh.

Berikutnya melempar jumrah, yaitu jumratul ula, jumratul wustha dan jumratul aqabah. Mengingatkan kita kepada peristiwa Nabi Ibrahim dengan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail, ketika Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail. Pada saat itu iblis datang menggoda Nabi Ibrahim supaya Nabi Ibrahim meninggalkan perintah Allah.Ternyata Nabi Ibrahim tidak bisa digoda karena keyakinan Nabi Ibrahim bahwa mimpinya untuk menyembelih anaknya itu benar-benar perintah dari Allah SWT. Selanjutnya iblis mengalihkan bujuk rayunya kepada Siti Hajar, Siti Hajar juga tidak tergoda, bahkan ia menguatkan hati suaminya untuk melaksanakan perintah Allah. Akhirnya iblis membujuk Ismail kecil, dan Ismail kecil tetap mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Kemudian ketika Nabi Ibrahim meyembelih Ismail, seketika itu Ismail berubah atas izin Allah menjadi seekor domba.

          Peristiwa ini dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an surah al-Shaffat ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

          Artinya: .....“Wahai ayah kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan, inya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.”

          Melempar jumrah dan ibadah qurban mengajarkan kepada kita bahwa setiap anggota keluarga itu, baik suami atau istri, ayah, ibu dan anak-anak sepantasnya bekerjasama dalam mentaati Allah dan dalam menjadikan syetan sebagai musuh.

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ 

          Artinya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebenar-benar musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (surah Fathir ayat 6)

          Sehingga tidak ada peluang bagi iblis dan syetan menjerumuskan anggota keluarga kita. Setiap anggota keluarga harus bahu membahu, saling bantu membantu dalam kebaikan dan taqwa, tidak dalam dosa dan permusuhan. Digantinya Ismail dengan seekor domba sekaligus menggugurkan, membatalkan segala bentuk tumbal, sesajian dan kebiasaan mengorbankan  manusia. Oleh Nabi kita Muhammad SAW, ibadah Qurban dijadikan ibadah yang dilaksanakan setiap tahun pada hari raya idul adha dan hari-hari tasyri’, tanggal 10, 11, 12, dan 13 Zulhijjah.

Thawaf atau mengelilingi ka’bah. Ka’bah, tempat kiblat kita merupakan lambang dari wujud dan Keesaan Allah, maka ber-thawaf melambangkan aktifitas manusia yang tidak pernah terlepas dari Allah SWT. Ka’bah bagaikan matahari yang menjadi pusat tata surya dan dikelilingi oleh planet-planet. Oleh karena itu, segala aktifitas kita harus terikat dengan daya tarik pusat wujud ini, yaitu Allah SWT. Kita pergi ke ladang karena Allah, kita sekolahkan anak kita karena Allah, kita berdagang karena Allah, kita membangun dan beramal juga karena Allah. Tidak ada orang yang berbuat maksiat karena Allah, karena Allah pasti tidak menyukainya, karena kebaikan itu tidak boleh bersatu dengan keburukan, karena yang haq tidak boleh bercampur dengan kebathilan, apapun alasan-alasannya, termasuk demi kemashlahatan. Memang ada orang yang membangun dengan harta haram dengan alasan kemashlahatan tapi yakinlah bahwa itu tidak diredhoi Allah, sesuatu yang tidak diredhoi-Nya tidak ada yang bertahan lama dan akan hancur dengan cara Allah, apakah melalui tsunami, gempa atau gunung meletus, galodo dll.

          Berikutnya, Ibadah Sa’i atau berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa merupakan lambang dari usaha mencari karunia Allah. Bukankah Hajar, Ibu Ismail AS, mondar-mandir dari Shafa ke Marwa  mencari air untuk putranya sampai tujuh kali menunjukkan semangat, kerja keras untuk kelangsungan hidup keluarganya dan tidak berpangku tangan menunggu hujan emas dari langit. Shafa berarti start dengan niat yang suci dan tegar. Marwa berarti finish dengan penghargaan, mulia dan menjadi manusia idola dan ideal. Ini mengajarkan kepada kita bahwa memulai pekerjaan mencari kebutuhan hidup keluarga dengan ikhlas, kerja keras dan penuh ketabahan dan ketegaran akan berakhir dengan sukses, manis, indah, nikmat dan mulia.

          Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd……..

Hadirin Sidang Idul Adha yang dirahmati Allah……

          Di zaman sekarang, pengorbanan yang dibutuhkan bukan hanya harta, tetapi juga pengorbanan untuk menjaga keimanan keluarga, mendidik anak dengan agama, menjaga kejujuran di tengah maraknya korupsi, menjaga diri dari riba, judi online, narkoba, mengambil yang bukan hak kita, pemerasan, kemaksiatan digital dan berbagai penyakit sosial masyarakat.

Idul Adha mengingatkan kita bahwa iman harus melahirkan kepedulian sosial.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

“Tidak beriman kepadaku orang yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya dan ia mengetahuinya.” (HR. Ath-Thabrani)

Maka qurban sejatinya mengajarkan berbagi. Daging qurban yang dibagikan kepada masyarakat adalah simbol bahwa Islam hadir membawa kasih sayang, memperkuat persaudaraan dan menghapus kesenjangan sosial.

Di tengah situasi ekonomi yang sulit, nilai-nilai haji dan qurban sangat relevan untuk kita hidupkan:

1.    Hidup sederhana dan tidak berlebihan.

2.    Saling membantu antar sesama.

3.    Mengutamakan keberkahan dibanding kemewahan.

4.    Menjaga persatuan umat.

5.    Memperkuat kepedulian sosial.

Jangan sampai kesulitan ekonomi membuat kita kehilangan iman dan kemanusiaan.

Jangan sampai keadaan sulit mendorong seseorang mengambil jalan haram: korupsi, penipuan, pinjaman ribawi, judi online dan tindakan kriminal lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Karena itu, mari kita mencari rezeki yang halal, menjaga keluarga dengan iman dan membangun kehidupan masyarakat yang penuh kepedulian.

          Demikianlah, khutbah kita kali ini, mudah-mudahan dapat menggugah hati nurani kita, untuk lebih bersungguh-sungguh menegakkan ajaran agama, baik pada pribadi kita, keluarga kita maupun pada masyarakat kita. Semoga Allah SWT meredhoi setiap langkah dan upaya kita dalam memajukan agama-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

 

الله اكبر×9 الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا، لااله الاالله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعـزجنده وهزم الاحزاب وحده. لا اله الا الله والله أكبر, الله اكبر ولله الحمد.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.


قَالَ الله تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكريم:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya .. Allah Ya… Tuhan kami….

Sungguh telah banyak dosa dan kesalahan yang telah kami perbuat. Tak cukup kata-kata untuk mengungkapkannya. Kami mohon kepada-Mu Zat yang maha Pengampun. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa umat Islam seluruh dunia, baik yang telah Engkau panggil kepangkuan-Mu, maupun kami yang masih hidup.

 

Ya.. Allah… Ya Gaffur………

Jangan Engkau timpakan kepada kami mushibah yang tidak sanggup kami memikulnya. Janganpula Ya… Allah, Engkau siksa kami karena kami terlupa dan tersalah. Janganpula Ya… Allah, Engkau timpakan kepada kami bencana sebagaimana yang telah Engkau timpakan kepada umat-umat terdahulu yang Engkar kepada-Mu. Ya Allah ampuni kami, maafkan kami, sayangi kami. Engkaulah Pelindung kami dan bantulah kami menghadapi orang-orang kafir, bantulah kami menghilangkan kemungkaran-kemungkaran dari dalam diri kami, istri kami,anak-anak kami, keluarga kami, masyarakat kami, bangsa dan negara kami. Hingga kami sempurna menjadi hamba-Mu. Ya Allah Ya Tuhan Kami bantu kami menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur, yang dapat berusaha dan berkarya memajukan agama, bangsa dan negara kami dalam redha dan ma’unah-Mu. Ya Allah berikanlah kemenangan bagi kaum muslimin dimana saja berada, Palestina, Lebananon, Iran, dibelahan negeri Islam manapun. Amin… Ya.. Rabbal’alamin

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.