🕌 NASKAH CERAMAH RAMADHAN (7)
MENGENDALIKAN LISAN DAN EMOSI: PUASA AKHLAQ SEORANG MUSLIM
Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)
Muqaddimah
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا...
أما بعد؛
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Kita bersyukur karena Allah masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan pendidikan iman dan pengendalian diri.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah akhlaq, tempat kita belajar mengendalikan lisan dan emosi.
I. PUASA ADALAH LATIHAN PENGENDALIAN DIRI
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Dan inti takwa adalah kemampuan mengendalikan diri — termasuk lisan dan emosi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 1904; Sahih Muslim no. 1151)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan amarah, cacian, dan emosi yang meledak-ledak.
II. MENGENDALIKAN LISAN: SUMBER KESELAMATAN ATAU KEBINASAAN
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Banyak dosa lahir dari lisan: ghibah, fitnah, dusta, adu domba, sumpah palsu, dan ujaran kebencian.
Allah ﷻ berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidaklah seseorang mengucapkan suatu kata melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 1903)
Hadis ini sangat tegas. Puasa yang tidak menjaga lisan bisa kehilangan nilai pahalanya.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6018; Sahih Muslim no. 47)
Diam yang terjaga lebih baik daripada ucapan yang menyakiti.
III. MENGENDALIKAN EMOSI: TANDA KEKUATAN SEJATI
Jamaah rahimakumullah,
Banyak orang merasa dirinya kuat karena fisiknya. Namun Rasulullah ﷺ meluruskan:
“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6114; Sahih Muslim no. 2609)
Dalam hadis lain, seorang sahabat meminta nasihat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jangan marah.”
Ia mengulanginya berkali-kali, dan Nabi tetap bersabda:
“Jangan marah.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6116)
Ramadhan melatih kita untuk tetap tenang walaupun lapar, lelah, dan diuji.
IV. BAHAYA LISAN DAN EMOSI DI ERA MEDIA SOSIAL
Jamaah sekalian,
Di zaman ini, lisan tidak hanya lewat mulut, tetapi juga lewat jari-jemari. Status, komentar, dan unggahan bisa menjadi dosa yang terus mengalir.
Allah ﷻ mengingatkan:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Puasa Ramadhan seharusnya menjadi momentum membersihkan timeline dari ghibah dan amarah digital.
V. BUAH DARI MENGENDALIKAN LISAN DAN EMOSI
Hati menjadi tenang
Hubungan keluarga menjadi harmonis
Lingkungan sosial menjadi damai
Puasa menjadi sempurna pahalanya
Mendapat derajat takwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah tanpa ia sadari, Allah angkat derajatnya karenanya.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6478)
Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan Ramadhan sebagai puasa akhlaq, bukan sekadar puasa perut.
Tahan lisan dari dusta dan celaan.
Tahan emosi dari kemarahan dan permusuhan.
Karena puasa yang sejati adalah puasa yang membentuk karakter.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengendalikan lisan dan emosi, sehingga kita keluar dari Ramadhan sebagai pribadi yang lebih bertakwa.
اللهم اجعل صيامنا صيام الصالحين، وقيامنا قيام المخلصين، ولا تجعل حظنا من صيامنا الجوع والعطش.
آمين يا رب العالمين.
Wallahu A'lam...



.png)
.png)
.png)


.png)
.png)
.png)

.png)







