Senin, 29 Juni 2026

7 KEBIASAAN HEBAT ANAK INDONESIA DI TENGAH TANTANGAN DAN PELUANG TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI MODERN

 


7 KEBIASAAN HEBAT ANAK INDONESIA DI TENGAH TANTANGAN DAN PELUANG TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI MODERN

Membangun Generasi Berkarakter, Beriman, dan Berdaya Saing di Era Digital

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Internet, media sosial, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga berbagai platform digital menghadirkan peluang luar biasa dalam pendidikan, dakwah, ekonomi, dan kreativitas. Namun di sisi lain, dunia digital juga menyimpan tantangan serius berupa penyebaran hoaks, kecanduan gawai, cyberbullying, pornografi, perjudian daring, hingga lunturnya nilai-nilai moral dan budaya.

Anak-anak Indonesia adalah generasi yang lahir di tengah revolusi digital. Mereka bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi akan menjadi pemimpin masa depan yang menentukan arah bangsa. Oleh karena itu, kecerdasan digital harus berjalan beriringan dengan kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan moral.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Gerakan "7 Kebiasaan Hebat Anak Indonesia" menghadirkan langkah strategis untuk membangun karakter generasi emas Indonesia. Dalam perspektif Islam, kebiasaan-kebiasaan tersebut memiliki landasan kuat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

1. Bangun Pagi: Awali Hari dengan Berkah

Islam mengajarkan umatnya memulai aktivitas sejak pagi. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Bangun pagi melatih disiplin, menjaga kesehatan, meningkatkan produktivitas, dan menghindarkan anak dari kebiasaan begadang akibat penggunaan gawai secara berlebihan.

Allah SWT berfirman:

"Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan."
(QS. An-Naba': 11).

2. Beribadah: Menjadi Pondasi Karakter Digital

Teknologi tidak memiliki moral; manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Karena itu ibadah menjadi benteng utama agar teknologi digunakan untuk kebaikan.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-'Ankabut: 45).

Anak yang rajin shalat akan lebih mampu mengendalikan diri ketika menghadapi godaan dunia digital.

3. Berolahraga: Menjaga Amanah Tubuh

Aktivitas fisik penting agar anak tidak terjebak gaya hidup sedentari akibat terlalu lama di depan layar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim)

Tubuh yang sehat mendukung konsentrasi belajar, kreativitas, dan kesehatan mental.

4. Gemar Belajar: Jadikan Teknologi sebagai Guru, Bukan Penguasa

Perintah pertama dalam Islam adalah membaca.

Allah SWT berfirman:

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan."
(QS. Al-'Alaq: 1).

Internet menyediakan jutaan sumber ilmu. Anak yang memiliki budaya belajar akan menggunakan teknologi untuk mengembangkan kompetensi, bukan sekadar hiburan tanpa batas.

5. Makan Sehat dan Bergizi: Menyiapkan Generasi Berkualitas

Kesehatan fisik berpengaruh terhadap kecerdasan dan kemampuan belajar.

Allah SWT berfirman:

"Makanlah dari rezeki yang halal lagi baik..."
(QS. Al-Baqarah: 168).

Di era digital, anak juga perlu mengurangi kebiasaan makan sambil bermain gawai agar lebih fokus dan menghargai nikmat Allah.

6. Bermasyarakat: Menjaga Silaturahmi di Tengah Dunia Virtual

Media sosial memudahkan komunikasi, tetapi tidak boleh menggantikan interaksi nyata.

Allah SWT berfirman:

"...Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..."
(QS. Al-Hujurat: 10).

Anak perlu dibiasakan aktif dalam kegiatan sosial, gotong royong, pengajian, olahraga bersama, dan berbagai aktivitas kemasyarakatan agar tumbuh rasa empati dan kepedulian.

7. Tidur Cepat: Menjaga Kesehatan Jasmani dan Ruhani

Salah satu tantangan terbesar era digital adalah kebiasaan bermain gawai hingga larut malam.

Allah SWT berfirman:

"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat."
(QS. An-Naba': 9).

Tidur cukup membantu pertumbuhan, menjaga kesehatan mental, meningkatkan daya ingat, dan mengurangi kecanduan media sosial.

Tantangan Teknologi Modern

Perkembangan TIK ibarat pisau bermata dua. Jika digunakan dengan bijak, teknologi akan menjadi sarana dakwah, pendidikan, inovasi, dan peningkatan kualitas hidup. Namun jika disalahgunakan, ia dapat merusak karakter, mengganggu kesehatan mental, bahkan melemahkan hubungan keluarga.

Peran orang tua, guru, penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah menjadi sangat penting dalam membimbing anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, aman, produktif, dan bertanggung jawab.

Literasi digital harus dibangun bersama literasi agama. Kecakapan menggunakan teknologi harus diiringi dengan akhlak mulia, sehingga anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan ketakwaan.

Penutup

Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Tujuh Kebiasaan Hebat Anak Indonesia bukan sekadar rutinitas harian, melainkan investasi karakter yang akan melahirkan generasi emas: generasi yang sehat jasmani, kuat iman, cerdas akal, santun akhlaknya, serta mampu memanfaatkan teknologi sebagai jalan menghadirkan kemaslahatan.

Sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11).

Mari bersama membimbing anak-anak Indonesia agar tumbuh menjadi generasi yang menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai agama, budaya, dan kemanusiaan. Dengan demikian, mereka akan siap menghadapi tantangan global sekaligus menjadi insan yang membawa rahmat bagi bangsa, negara, dan peradaban.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Refleksi Hari Keluarga Nasional: Meningkatkan "Hormon Kebahagiaan" dalam Keluarga Perspektif Al-Qur'an, Sunnah, dan Sains Modern

 


Refleksi Hari Keluarga Nasional: Meningkatkan "Hormon Kebahagiaan" dalam Keluarga Perspektif Al-Qur'an, Sunnah, dan Sains Modern

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan momentum untuk merenungkan kembali kualitas kehidupan keluarga Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, tekanan ekonomi, meningkatnya gangguan kesehatan mental, serta berkurangnya waktu kebersamaan, keluarga membutuhkan lebih dari sekadar kecukupan materi. Keluarga membutuhkan kebahagiaan yang sehat, autentik, dan berkelanjutan.

Menariknya, apa yang kini dijelaskan oleh ilmu kedokteran melalui konsep happy hormones sesungguhnya telah lama dipraktikkan dalam ajaran Islam melalui nilai kasih sayang, ibadah, silaturahmi, dan akhlak mulia.

Kebahagiaan Keluarga Indonesia: Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur kebahagiaan masyarakat melalui tiga dimensi utama, yaitu kepuasan hidup, perasaan (afeksi), dan makna hidup (eudaimonia). Berdasarkan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan, Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2021 berada pada angka 71,49 (skala 0–100). Angka tersebut menunjukkan tren yang membaik dibandingkan tahun 2017, namun juga mengingatkan bahwa masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kualitas kebahagiaan keluarga Indonesia. (Sirusa)

Artinya, pembangunan bangsa tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi. Keluarga yang harmonis, sehat secara emosional, dan kuat secara spiritual merupakan fondasi utama masyarakat yang bahagia.

Sains Menjelaskan: Tubuh Memiliki "Hormon Kebahagiaan"

Ilmu neurologi mengenal empat zat kimia utama yang sering disebut sebagai hormon atau neurotransmiter kebahagiaan.

Pertama, Dopamin, yaitu hormon penghargaan (reward). Ia muncul ketika seseorang berhasil mencapai tujuan, memperoleh apresiasi, atau menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Kedua, Serotonin, yang berperan menjaga suasana hati, rasa tenang, kualitas tidur, dan keseimbangan emosi.

Ketiga, Oksitosin, dikenal sebagai love hormone. Hormon ini meningkat ketika terjadi pelukan, sentuhan penuh kasih, saling percaya, serta hubungan hangat antara suami-istri maupun orang tua dan anak.

Keempat, Endorfin, yaitu hormon yang mengurangi rasa sakit sekaligus menimbulkan rasa nyaman dan bahagia, terutama setelah olahraga, tertawa, atau melakukan aktivitas positif bersama keluarga. (Alodokter)

Menariknya, hampir seluruh aktivitas yang merangsang hormon-hormon tersebut merupakan perilaku yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Al-Qur'an: Keluarga adalah Tempat Turunnya Ketenangan

Allah SWT berfirman:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan (sakinah) padanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah)."

(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini sangat luar biasa bila dipandang melalui perspektif sains modern.

Sakinah menggambarkan ketenangan psikologis yang selaras dengan keseimbangan serotonin.

Mawaddah menghadirkan rasa cinta yang memperkuat hubungan emosional sebagaimana fungsi oksitosin.

Rahmah melahirkan empati, kepedulian, dan kehangatan yang memperkokoh ikatan keluarga.

Dengan kata lain, keluarga Islami adalah lingkungan biologis sekaligus spiritual yang secara alami membantu tubuh memproduksi hormon-hormon kebahagiaan.

Sunnah Nabi: Resep Kebahagiaan Keluarga

Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang nabi, tetapi juga teladan dalam membangun keluarga yang sehat secara emosional.

Beliau bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya."
(HR. At-Tirmidzi)

Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah ﷺ kita menemukan banyak perilaku yang kini terbukti secara ilmiah meningkatkan hormon kebahagiaan.

Beliau sering tersenyum.

Beliau bercanda dengan keluarga.

Beliau membantu pekerjaan rumah.

Beliau memanggil istri dengan panggilan yang lembut.

Beliau memeluk cucu-cucunya.

Beliau menyatakan cinta kepada keluarganya secara terbuka.

Semua perilaku tersebut merupakan bentuk interaksi yang memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

Ibadah juga Menumbuhkan Kebahagiaan

Islam tidak memisahkan ibadah dari kesehatan mental.

Shalat berjamaah keluarga menumbuhkan rasa kebersamaan.

Membaca Al-Qur'an menghadirkan ketenangan jiwa.

Dzikir membantu mengurangi kecemasan.

Sedekah menumbuhkan rasa syukur.

Silaturahmi mempererat hubungan sosial.

Allah SWT berfirman:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ketenangan hati inilah yang menjadi fondasi utama kebahagiaan sejati.

Meningkatkan "Hormon Bahagia" ala Islam

Dalam memperingati Hari Keluarga Nasional, ada beberapa ikhtiar sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga:

  • Membiasakan shalat berjamaah di rumah.

  • Mengucapkan salam, senyum, dan pelukan setiap hari.

  • Makan bersama tanpa gangguan gawai.

  • Membaca Al-Qur'an bersama keluarga.

  • Membiasakan saling memuji dan mengapresiasi.

  • Berolahraga atau berjalan santai bersama.

  • Memperbanyak syukur dan doa.

  • Menjaga silaturahmi dengan orang tua dan kerabat.

  • Menyelesaikan konflik melalui musyawarah dan saling memaafkan.

Aktivitas-aktivitas sederhana tersebut bukan hanya memperkuat hubungan keluarga, tetapi juga membantu tubuh memproduksi hormon-hormon yang mendukung kesehatan fisik dan mental.

Penutup

Hari Keluarga Nasional mengingatkan kita bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat lahirnya generasi yang sehat, beriman, dan bahagia.

Sains membuktikan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme biologis untuk menciptakan kebahagiaan. Islam, jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang, telah mengajarkan cara-cara sederhana untuk mengaktifkan mekanisme tersebut melalui kasih sayang, ibadah, akhlak mulia, komunikasi yang baik, dan kedekatan emosional dalam keluarga.

Maka, keluarga yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah sesungguhnya bukan hanya menghasilkan rumah yang harmonis, tetapi juga menjadi "laboratorium kebahagiaan" yang menyehatkan jiwa, menguatkan raga, dan melahirkan generasi yang berkualitas.

Semoga Hari Keluarga Nasional menjadi momentum bagi setiap keluarga Indonesia untuk tidak hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi juga membangun rumah tangga yang menghadirkan ketenangan hati, kebahagiaan yang hakiki, serta keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.

Wallahu A'lam

ISYARAT HORMON BAHAGIA DALAM AJARAN ISLAM

 


ISYARAT HORMON BAHAGIA DALAM AJARAN ISLAM

Tinjauan Al-Qur'an dan Sunnah

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag

Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Di era modern, ilmu kesehatan menjelaskan bahwa kebahagiaan, ketenangan, semangat, dan kasih sayang dipengaruhi oleh berbagai hormon yang diproduksi tubuh. Hormon seperti serotonin, dopamin, oksitosin, melatonin, hingga kortisol memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Menariknya, jauh sebelum ilmu kedokteran berkembang pesat, Al-Qur'an dan Sunnah telah memberikan tuntunan hidup yang selaras dengan prinsip-prinsip menjaga keseimbangan hormon tersebut.

Islam memang bukan kitab ilmu kedokteran, tetapi petunjuk hidup (hudā) yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang sehat, seimbang, dan penuh keberkahan. Banyak ibadah dan akhlak mulia yang secara ilmiah terbukti memberikan dampak positif terhadap sistem hormon manusia.

1. Dzikir dan Ketenangan Hati: Isyarat Serotonin

Serotonin dikenal sebagai hormon yang membantu menghadirkan rasa tenang, bahagia, dan mengurangi kecemasan. Dalam Islam, ketenangan sejati bersumber dari mengingat Allah.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28).

Dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan memperbanyak istighfar bukan hanya mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya, tetapi juga membantu meredakan stres, menenangkan pikiran, dan memperbaiki suasana hati. Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa aktivitas spiritual dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan membantu regulasi respons stres.

2. Syukur dan Optimisme: Isyarat Dopamin

Dopamin sering disebut sebagai hormon motivasi dan penghargaan (reward hormone). Ia muncul ketika seseorang mencapai target, memperoleh apresiasi, atau merasakan kepuasan.

Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa bersyukur.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."
(QS. Ibrahim: 7).

Orang yang membiasakan syukur akan lebih mudah melihat sisi positif kehidupan, memiliki motivasi tinggi, dan lebih tahan menghadapi kesulitan. Syukur juga mendorong seseorang untuk terus beramal saleh dan berkembang menjadi pribadi yang produktif.

3. Silaturahmi dan Kasih Sayang: Isyarat Oksitosin

Oksitosin dikenal sebagai hormon cinta, kasih sayang, dan kepercayaan. Hormon ini meningkat saat seseorang saling membantu, memeluk keluarga, menyayangi anak, atau menjalin hubungan sosial yang hangat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Islam membangun masyarakat melalui ukhuwah, silaturahmi, saling memaafkan, memberi sedekah, menjenguk orang sakit, dan menghormati sesama. Semua perilaku tersebut memperkuat ikatan sosial yang berkontribusi pada kesehatan emosional.

4. Tidur yang Berkualitas: Isyarat Melatonin

Melatonin berfungsi mengatur ritme tidur dan proses pemulihan tubuh. Islam sangat menghargai waktu istirahat yang cukup serta menghindari kebiasaan begadang tanpa manfaat.

Allah berfirman:

"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat."
(QS. An-Naba': 9).

Rasulullah ﷺ juga mencontohkan pola tidur yang teratur, tidur lebih awal setelah Isya apabila tidak ada keperluan, serta bangun pada sepertiga malam terakhir untuk qiyamul lail. Pola hidup seperti ini selaras dengan ritme biologis tubuh.

5. Mengelola Stres: Menurunkan Kortisol

Kortisol diperlukan tubuh dalam kondisi tertentu, tetapi kadar yang terlalu tinggi akibat stres berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan.

Allah mengingatkan:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286).

Keimanan kepada takdir, kesabaran, tawakal, shalat, doa, dan keyakinan bahwa setiap ujian mengandung hikmah menjadi terapi spiritual yang membantu seseorang mengelola tekanan hidup secara sehat.

6. Pola Makan Seimbang: Menjaga Insulin

Insulin mengatur kadar gula darah dan metabolisme tubuh. Islam telah mengajarkan pola makan yang sehat dan tidak berlebihan.

Allah berfirman:

"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan."
(QS. Al-A'raf: 31).

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada wadah yang lebih buruk dipenuhi oleh manusia selain perutnya..."
(HR. At-Tirmidzi).

Prinsip makan secukupnya, memilih makanan halal dan baik (halalan thayyiban), serta berpuasa secara berkala terbukti mendukung kesehatan metabolisme.

7. Aktivitas Fisik: Sunnah yang Menyehatkan

Olahraga meningkatkan berbagai hormon positif dalam tubuh. Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk menjaga kekuatan fisik melalui aktivitas yang bermanfaat, seperti berjalan kaki, berkuda, berenang, dan memanah.

Tubuh yang sehat memudahkan seorang Muslim melaksanakan ibadah dengan optimal dan menjalankan amanah kehidupan.

Penutup

Ilmu kedokteran modern menjelaskan bagaimana hormon bekerja, sedangkan Islam mengajarkan bagaimana menjalani hidup agar tubuh, jiwa, dan ruh tetap berada dalam keseimbangan. Keduanya saling melengkapi, bukan untuk dipertentangkan.

Membiasakan shalat tepat waktu, berdzikir, membaca Al-Qur'an, bersyukur, menjaga silaturahmi, mengelola stres dengan sabar dan tawakal, tidur yang cukup, berolahraga, serta mengonsumsi makanan halal lagi baik merupakan ikhtiar yang tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga mendukung kesehatan fisik dan mental.

Kebahagiaan sejati menurut Islam bukan sekadar hasil dari keseimbangan hormon, melainkan buah dari hati yang dekat kepada Allah, tubuh yang dijaga sebagai amanah, dan kehidupan yang dipenuhi amal saleh. Ketika iman, ibadah, dan ikhtiar kesehatan berjalan beriringan, seorang Muslim memiliki bekal yang kuat untuk meraih kehidupan yang sehat, tenteram, dan penuh keberkahan di dunia serta kebahagiaan hakiki di akhirat.

"Jagalah amanah tubuhmu dengan ilmu, rawatlah jiwamu dengan iman, dan hiasilah hidupmu dengan amal saleh. Di sanalah letak kebahagiaan yang sesungguhnya."

Waallahu A'lam

Rabu, 24 Juni 2026

KONSEPSI WALIMATUL 'URSY DALAM ISLAM DAN TINJAUAN ADAT MINANGKABAU

 


KONSEPSI WALIMATUL 'URSY DALAM ISLAM DAN TINJAUAN ADAT MINANGKABAU

Menjaga Kesakralan Pernikahan dalam Bingkai Syariat dan Budaya

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Pernikahan merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, pernikahan bukan hanya hubungan antara laki-laki dan perempuan, melainkan sebuah akad suci (mitsaqan ghalizha) yang mengandung nilai ibadah, tanggung jawab, serta komitmen untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Oleh sebab itu, setiap tahapan yang mengiringi pernikahan memiliki nilai dan makna yang mendalam, termasuk pelaksanaan walimatul 'ursy atau resepsi pernikahan.

Di tengah masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Minangkabau, walimatul 'ursy tidak hanya dipandang sebagai syiar agama, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi sosial dan budaya yang telah berkembang turun-temurun. Dalam praktiknya, terdapat perpaduan antara nilai-nilai Islam dan adat Minangkabau yang dikenal dengan filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK). Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana konsepsi walimatul 'ursy menurut Islam dan bagaimana adat Minangkabau memandang serta mengimplementasikannya dalam kehidupan masyarakat.

Hakikat Walimatul 'Ursy dalam Islam

Secara bahasa, kata walimah berarti jamuan atau perhelatan, sedangkan 'ursy berarti pernikahan. Dengan demikian, walimatul 'ursy adalah jamuan yang diselenggarakan dalam rangka mengumumkan dan mensyukuri terjadinya akad nikah.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa walimatul 'ursy merupakan sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Dasarnya adalah hadis Rasulullah SAW ketika memerintahkan Abdurrahman bin Auf yang baru menikah:

"Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa walimah memiliki kedudukan penting dalam syariat Islam. Namun, Islam tidak mensyaratkan kemewahan dalam penyelenggaraannya. Yang lebih utama adalah adanya ungkapan syukur kepada Allah SWT dan pemberitahuan kepada masyarakat bahwa telah berlangsung pernikahan yang sah.

Dalam perspektif Islam, walimatul 'ursy memiliki beberapa tujuan utama. Pertama, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat pernikahan. Kedua, sebagai media pengumuman agar masyarakat mengetahui status pasangan yang telah menikah sehingga terhindar dari prasangka dan fitnah. Ketiga, sebagai sarana mempererat silaturahmi antara keluarga kedua mempelai dan masyarakat sekitar. Keempat, sebagai sarana berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Karena itu, nilai utama walimatul 'ursy bukan terletak pada besarnya biaya atau megahnya acara, melainkan pada keberkahan yang lahir dari rasa syukur, kebersamaan, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Prinsip-Prinsip Walimatul 'Ursy Menurut Syariat

Islam memberikan sejumlah pedoman agar pelaksanaan walimatul 'ursy tetap berada dalam koridor syariat.

Pertama, menghindari sikap berlebihan (israf). Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan."
(QS. Al-Isra': 27)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa pesta pernikahan tidak boleh menjadi ajang pemborosan, gengsi sosial, atau perlombaan kemewahan yang memberatkan keluarga.

Kedua, menjauhi unsur kemaksiatan. Acara walimah hendaknya terbebas dari praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti minuman keras, perjudian, hiburan yang melalaikan, maupun pergaulan yang tidak terjaga.

Ketiga, bersifat inklusif dan tidak diskriminatif. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seburuk-buruk walimah adalah yang hanya mengundang orang kaya dan meninggalkan kaum miskin. Karena itu, semangat berbagi dan kebersamaan harus menjadi ruh dalam pelaksanaan walimah.

Keempat, menjaga nilai kesederhanaan. Kesederhanaan bukan berarti mengurangi kehormatan acara, tetapi menempatkan segala sesuatu secara proporsional sesuai kemampuan.

Walimatul 'Ursy dalam Perspektif Adat Minangkabau

Masyarakat Minangkabau memiliki tradisi pernikahan yang kaya dengan nilai budaya. Dalam sistem kekerabatan matrilineal yang dianut masyarakat Minang, pernikahan tidak hanya menyatukan dua individu, tetapi juga mempertemukan dua keluarga besar dan bahkan dua kaum.

Rangkaian adat pernikahan Minangkabau melibatkan berbagai tahapan seperti maresek, maminang, batimbang tando, babako-babaki, malam bainai, hingga baralek. Di antara tahapan tersebut, baralek merupakan bentuk walimatul 'ursy yang paling dikenal oleh masyarakat.

Baralek bukan sekadar pesta, tetapi simbol kebersamaan dan gotong royong. Dalam pelaksanaannya, keluarga, tetangga, dan kerabat terlibat aktif membantu persiapan acara. Tradisi ini mencerminkan nilai solidaritas sosial yang tinggi dalam budaya Minangkabau.

Pada masa lalu, baralek sering dilaksanakan secara sederhana dengan mengandalkan hasil pertanian dan bantuan masyarakat sekitar. Semangat utamanya adalah kebersamaan dan penghormatan kepada tamu. Namun, seiring perkembangan zaman, sebagian pelaksanaan pesta pernikahan mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh modernisasi, media sosial, dan budaya konsumtif.

Harmonisasi Adat dan Syariat

Salah satu keunggulan budaya Minangkabau adalah kemampuannya mengintegrasikan adat dengan nilai-nilai Islam. Filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" menegaskan bahwa adat harus sejalan dengan syariat.

Dalam konteks walimatul 'ursy, prinsip ini memberikan ruang bagi adat selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tradisi penyambutan tamu, pakaian adat, prosesi budaya, seni tradisional, maupun bentuk penghormatan kepada keluarga dapat dilaksanakan selama tidak mengandung unsur syirik, kemaksiatan, atau pemborosan.

Dengan demikian, adat dan syariat bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Syariat memberikan arah dan batasan, sedangkan adat memberikan warna dan identitas budaya.

Tantangan Walimatul 'Ursy Masa Kini

Di era modern, pelaksanaan walimatul 'ursy menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah meningkatnya budaya pamer dan gengsi sosial. Tidak sedikit pasangan atau keluarga yang merasa harus menyelenggarakan pesta mewah demi menjaga prestise, meskipun harus berutang atau mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.

Fenomena ini tentu perlu disikapi secara bijak. Pernikahan yang diberkahi bukanlah yang paling mahal, melainkan yang paling banyak menghadirkan kebaikan dan ketakwaan.

Tantangan lainnya adalah berkurangnya semangat gotong royong. Sebagian masyarakat mulai menggantikan nilai kebersamaan dengan pendekatan komersial yang serba instan. Akibatnya, makna sosial dari walimatul 'ursy menjadi berkurang.

Selain itu, pengaruh media sosial sering kali mendorong munculnya budaya pencitraan dalam pesta pernikahan. Fokus acara terkadang bergeser dari syukur kepada Allah menjadi pencarian pengakuan dari publik.

Membangun Walimatul 'Ursy yang Berkah

Agar walimatul 'ursy tetap bernilai ibadah, terdapat beberapa prinsip yang perlu dikedepankan.

Pertama, meluruskan niat bahwa walimah adalah bentuk syukur kepada Allah SWT.

Kedua, menyelenggarakan acara sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri.

Ketiga, menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau.

Keempat, menjadikan walimah sebagai sarana dakwah dengan menghadirkan suasana yang religius, santun, dan penuh keberkahan.

Kelima, memberikan perhatian kepada kaum dhuafa, anak yatim, serta masyarakat yang membutuhkan agar kebahagiaan pernikahan dapat dirasakan lebih luas.

Penutup

Walimatul 'ursy merupakan syariat Islam yang sarat dengan nilai syukur, silaturahmi, dan syiar agama. Dalam budaya Minangkabau, walimatul 'ursy menemukan bentuknya melalui tradisi baralek yang kaya akan nilai kebersamaan dan gotong royong. Ketika adat dan syariat berjalan beriringan dalam bingkai "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah", maka pernikahan tidak hanya menjadi peristiwa sosial, tetapi juga menjadi momentum memperkuat identitas keislaman dan kebudayaan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah walimatul 'ursy tidak diukur dari kemegahan dekorasi, banyaknya tamu, atau tingginya biaya yang dikeluarkan. Keberhasilannya justru terletak pada sejauh mana acara tersebut menghadirkan keberkahan, mempererat persaudaraan, serta menjadi langkah awal terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Semoga setiap pernikahan yang dilangsungkan oleh umat Islam menjadi pernikahan yang diridhai Allah SWT dan menjadi fondasi lahirnya generasi yang berakhlak mulia, kuat dalam iman, serta mampu menjaga nilai-nilai adat dan agama secara harmonis. Aamiin.

RAMAH KEPADA ANAK YATIM DAN PENYANDANG DISABILITAS

RAMAH KEPADA ANAK YATIM DAN PENYANDANG DISABILITAS

Ceramah Agama Islam Berbasis Al-Qur'an dan Sunnah

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Pembukaan

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk berkumpul dalam majelis ilmu yang penuh berkah ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan sebuah tema yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu "Ramah kepada Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas". Tema ini bukan sekadar ajakan sosial, tetapi merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Anak Yatim dalam Pandangan Islam

Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada anak yatim. Bahkan Allah SWT berkali-kali menyebut mereka dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman:

"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang."

(QS. Ad-Dhuha: 9)

Ayat ini turun sebagai peringatan agar setiap muslim menjaga perasaan, hak, dan martabat anak yatim.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

"Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim."

(QS. Al-Ma'un: 1-2)

Perhatikan, menghardik anak yatim dijadikan salah satu tanda kedustaan terhadap agama. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah SWT.

Keutamaan Menyayangi Anak Yatim

Rasulullah SAW bersabda:

"Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini."

Kemudian Rasulullah mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau yang dirapatkan.
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa menyantuni, mendidik, dan memperhatikan anak yatim adalah jalan menuju kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga.

Menyayangi anak yatim bukan hanya dengan memberi uang, tetapi juga:

  • Memberikan kasih sayang.

  • Mendengarkan keluh kesah mereka.

  • Membantu pendidikan mereka.

  • Memberikan perhatian dan penghargaan.

  • Tidak membedakan mereka dengan anak-anak lainnya.

Kadang-kadang yang paling mereka rindukan bukanlah materi, tetapi kehangatan kasih sayang.

Kaum Disabilitas dalam Pandangan Islam

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Islam adalah agama yang menghormati setiap manusia tanpa memandang kondisi fisiknya.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

(QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, tetapi oleh ketakwaannya.

Salah satu pelajaran besar tentang penghormatan kepada penyandang disabilitas terdapat dalam Surah 'Abasa.

Allah SWT berfirman:

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya."

(QS. 'Abasa: 1-2)

Ayat ini menjadi pelajaran bahwa orang yang memiliki keterbatasan fisik tetap harus dihormati, diperhatikan, dan dilayani dengan baik.

Sahabat yang dimaksud adalah Abdullah bin Ummi Maktum RA, seorang tunanetra yang sangat dicintai Rasulullah SAW.

Bahkan beliau pernah dipercaya menjadi muazin dan beberapa kali ditunjuk Rasulullah SAW sebagai pemimpin sementara di Madinah.

Ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berprestasi dan berkontribusi.

Bentuk Keramahan kepada Kaum Disabilitas

Sebagai umat Islam, kita harus menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Di antaranya:

1. Menghormati Martabat Mereka

Jangan merendahkan, mengejek, atau menjadikan kondisi mereka sebagai bahan candaan.

Allah berfirman:

"Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain."

(QS. Al-Hujurat: 11)

2. Memberikan Kesempatan yang Sama

Kaum disabilitas memiliki hak untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

3. Membantu Tanpa Merendahkan

Pertolongan hendaknya diberikan dengan penuh empati dan penghormatan, bukan dengan sikap kasihan yang berlebihan.

4. Membangun Aksesibilitas

Masjid, sekolah, kantor pelayanan, dan fasilitas umum hendaknya ramah terhadap penyandang disabilitas.

Hikmah Menyayangi Anak Yatim dan Kaum Disabilitas

Apabila masyarakat peduli terhadap anak yatim dan kaum disabilitas, maka akan lahir:

  • Masyarakat yang penuh kasih sayang.

  • Berkurangnya kesenjangan sosial.

  • Tumbuhnya rasa persaudaraan.

  • Terwujudnya nilai rahmatan lil 'alamin.

  • Datangnya keberkahan dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu."

(HR. Tirmidzi)

Refleksi Kehidupan

Hadirin yang berbahagia,

Mari bertanya kepada diri kita:

  • Sudahkah kita menyapa anak yatim dengan penuh kasih?

  • Sudahkah kita membantu pendidikan mereka?

  • Sudahkah kita memperlakukan kaum disabilitas dengan hormat?

  • Sudahkah masjid dan lingkungan kita ramah terhadap mereka?

Jangan sampai kita sibuk beribadah secara individual, tetapi lalai terhadap amanah sosial yang diperintahkan agama.

Karena sejatinya, kualitas keberagamaan seseorang juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan kelompok yang lemah dan membutuhkan perhatian.

Penutup

Marilah kita menjadi umat yang menghadirkan kasih sayang bagi semua. Menjadi sahabat bagi anak yatim, menjadi saudara bagi kaum disabilitas, serta menjadi bagian dari masyarakat yang inklusif, berkeadilan, dan berkeadaban.

Semoga Allah SWT melembutkan hati kita untuk peduli kepada sesama, menjadikan kita hamba-hamba yang penuh kasih sayang, dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah SAW di surga-Nya kelak.

Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Wallahu A'lam

Selasa, 23 Juni 2026

Semangat Muharram: Berdamai dengan Takdir untuk Perubahan yang Lebih Baik

 

Naskah Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam

Semangat Muharram: Berdamai dengan Takdir untuk Perubahan yang Lebih Baik

Disampaikan pada Warga Binaan Rutan Kelas IIB Padang Panjang

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Mukadimah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu yang penuh keberkahan ini.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bapak-bapak warga binaan yang saya hormati,

Kita saat ini berada dalam suasana Tahun Baru Islam, bulan Muharram 1448 Hijriah. Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi momentum hijrah, introspeksi, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Tema kita hari ini adalah:

"Semangat Muharram: Berdamai dengan Takdir untuk Perubahan yang Lebih Baik"

I. Memahami Hakikat Takdir

Seringkali manusia bertanya:

"Mengapa saya harus mengalami ini?"
"Mengapa hidup saya berbeda dari orang lain?"
"Mengapa saya berada di tempat ini?"

Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan ketentuan Allah SWT.

Allah berfirman:

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya."

(QS. Al-Hadid: 22)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak berjalan secara kebetulan. Ada kehendak Allah di balik setiap peristiwa.

Namun, memahami takdir bukan berarti menyerah tanpa usaha.

Takdir bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

II. Berdamai dengan Takdir Bukan Berarti Menyerah

Berdamai dengan takdir artinya menerima kenyataan hidup dengan lapang dada, lalu bangkit memperbaiki masa depan.

Banyak orang terjebak dalam penyesalan:

  • Menyesali masa lalu.

  • Menyalahkan keadaan.

  • Menyalahkan orang lain.

  • Bahkan menyalahkan dirinya sendiri secara berlebihan.

Padahal Rasulullah SAW bersabda:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah."

(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan tiga hal:

  1. Berusaha.

  2. Bersandar kepada Allah.

  3. Tidak terpuruk dalam kesedihan berkepanjangan.

Hari kemarin tidak bisa diubah.

Tetapi hari ini masih bisa diperbaiki.

Dan masa depan masih bisa dibangun.

III. Muharram adalah Bulan Hijrah dan Perubahan

Tahun Baru Hijriah mengingatkan kita pada hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Hijrah bukan hanya perpindahan tempat.

Hijrah adalah perubahan sikap, pola pikir, dan perilaku.

Rasulullah SAW bersabda:

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."

(HR. Bukhari)

Bagi kita semua, termasuk warga binaan:

  • Hijrah dari kemalasan menuju semangat.

  • Hijrah dari putus asa menuju harapan.

  • Hijrah dari kesalahan menuju perbaikan.

  • Hijrah dari dosa menuju taubat.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Yang membedakan manusia adalah kesediaannya untuk berubah.

IV. Allah Membuka Pintu Taubat Seluas-Luasnya

Mungkin ada yang merasa:

"Dosa saya terlalu banyak."
"Masa lalu saya terlalu kelam."

Jangan pernah berputus asa.

Allah SWT berfirman:

"Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."

(QS. Az-Zumar: 53)

Ini adalah ayat harapan.

Selama hayat masih dikandung badan, pintu taubat masih terbuka.

Rutan bukan akhir kehidupan.

Rutan bisa menjadi awal lahirnya pribadi baru yang lebih baik.

Banyak orang yang justru menemukan jalan hidayah ketika berada dalam ujian hidup.

V. Mengubah Diri adalah Sunnatullah

Allah SWT menegaskan:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

(QS. Ar-Ra'd: 11)

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Mulailah dari:

  • Memperbaiki shalat.

  • Membiasakan membaca Al-Qur'an.

  • Menjaga akhlak.

  • Mengendalikan emosi.

  • Menghormati sesama.

  • Menjauhi kebiasaan buruk.

Hari ini lebih baik dari kemarin.

Besok lebih baik dari hari ini.

Itulah semangat seorang muslim.

VI. Menjadi Manusia yang Bernilai Setelah Ujian

Saudara-saudaraku,

Emas dibakar agar menjadi murni.

Besi ditempa agar menjadi kuat.

Demikian pula manusia.

Kadang Allah menguji seseorang bukan untuk menghancurkannya, tetapi untuk membentuknya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya."

(HR. Muslim)

Jika mendapat nikmat ia bersyukur.

Jika mendapat musibah ia bersabar.

Keduanya bernilai pahala di sisi Allah.


Penutup

Mari jadikan Muharram tahun ini sebagai titik balik kehidupan.

Berdamailah dengan takdir yang telah berlalu.

Jangan terus hidup dalam penyesalan.

Terimalah masa lalu sebagai pelajaran.

Jadikan hari ini sebagai kesempatan.

Dan bangun masa depan dengan iman, ilmu, amal saleh, dan akhlak mulia.

Pesan Muharram:

"Takdir masa lalu tidak dapat diubah, tetapi masa depan masih dapat diperjuangkan. Allah tidak menilai dari seberapa buruk masa lalu kita, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh kita memperbaiki diri hari ini."

Semoga Allah SWT membimbing langkah kita semua menuju kehidupan yang lebih baik, penuh keberkahan, dan husnul khatimah.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kamis, 18 Juni 2026

“THE POWER OF HIJRAH (KEKUATAN HIJRAH)”

 

KHUTBAH JUMAT
“THE POWER OF HIJRAH (KEKUATAN HIJRAH)”

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى

 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Amma ba'du.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup menuju akhirat.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali Imran: 102).

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Tema khutbah kita hari ini adalah:

“The Power of Hijrah (Kekuatan Hijrah)”

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah. Hijrah adalah kekuatan spiritual yang mengubah kelemahan menjadi kekuatan, kemunduran menjadi kemajuan, dan kegelapan menjadi cahaya.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak."
(QS. An-Nisa': 100).

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hijrah merupakan tonggak penting dalam sejarah Islam. Ketika tekanan dan penindasan kaum Quraisy semakin berat, Rasulullah SAW bersama para sahabat meninggalkan Makkah menuju Madinah. Hijrah itu bukan tanda kekalahan, melainkan awal kemenangan.

Dari hijrah lahirlah masyarakat Islam yang kuat. Dari hijrah lahir ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar. Dari hijrah pula cahaya Islam menyebar ke seluruh dunia.

Karena itu, Umar bin Khattab رضي الله عنه menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam. Sebab hijrah adalah simbol kebangkitan umat.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Hijrah yang paling penting pada zaman sekarang adalah hijrah hati dan perilaku.

Rasulullah SAW bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ فَاٰمَنَ لَهٗ لُوْطٌۘ وَقَالَ اِنِّيْ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ 

Maka, Lut membenarkan (kenabian Ibrahim). Dia (Ibrahim) pun berkata, “Sesungguhnya aku berhijrah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Al-‘Ankabūt [29]:26 

Artinya, hijrah adalah:

  • Hijrah dari syirik menuju tauhid.

  • Hijrah dari kufur menjadi syukur.

  • Hijrah dari maksiat menuju taat.

  • Hijrah dari kemalasan menuju semangat beribadah.

  • Hijrah dari permusuhan menuju persaudaraan.

  • Hijrah dari korupsi dan kebohongan menuju amanah dan kejujuran.

  • Hijrah dari pencitraan menuju keikhlasan.

  • Hijrah dari putus asa menuju optimisme dan harapan kepada Allah.

Jamaah yang berbahagia,

Kekuatan hijrah mempunyai beberapa pengaruh besar:

1. Hijrah melahirkan perubahan diri

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11).

2. Hijrah melahirkan keberkahan

Rasulullah SAW dan para sahabat rela meninggalkan harta dan kampung halaman, namun Allah mengganti dengan kemenangan dan keberkahan.

3. Hijrah melahirkan persatuan

Kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan sehingga terbentuk masyarakat yang kuat dan saling membantu.

4. Hijrah membuka jalan kesuksesan dunia dan akhirat

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ

"Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah."
(QS. Al-Baqarah: 218).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Jangan pernah merasa terlambat untuk berhijrah. Selama nafas masih berhembus, pintu taubat masih terbuka.

Mungkin ada yang sedang berhijrah memperbaiki shalatnya, memperbaiki rumah tangganya, meninggalkan riba, meninggalkan pergaulan buruk, memperbanyak sedekah dan mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Islam. Semua itu adalah bagian dari kekuatan hijrah yang akan mengantarkan kepada ridha Allah SWT.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita jadikan semangat hijrah sebagai energi perubahan. Jangan berhenti menjadi pribadi yang lebih baik. Jadikan rumah kita rumah yang penuh iman, jadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, dan jadikan masyarakat kita masyarakat yang damai dan penuh persaudaraan.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam berhijrah menuju kebaikan dan memperoleh kebahagiaan dunia serta akhirat.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته، إنه هو السميع العليم.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


KHUTBAH KEDUA 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير، واجعل الموت راحة لنا من كل شر.

اللهم اجعلنا من عبادك التائبين، واجعلنا من عبادك الصالحين، وارزقنا قوة الهجرة من المعاصي إلى الطاعات، ومن الظلمات إلى النور، ومن الغفلة إلى الذكر، ومن الفرقة إلى الوحدة.

اللهم انصر الإسلام والمسلمين، وأعز الإسلام والمسلمين، واحفظ بلادنا إندونيسيا، واجعلها بلدة آمنة مطمئنة وسائر بلاد المسلمين.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.


The Power of Hijrah: Kekuatan Perubahan yang Mengubah Sejarah

 


The Power of Hijrah: Kekuatan Perubahan yang Mengubah Sejarah

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Hijrah adalah salah satu kata yang paling sering kita dengar dalam kehidupan umat Islam. Namun, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat dari satu wilayah ke wilayah lain. Hijrah adalah energi perubahan. Hijrah adalah keberanian meninggalkan sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang lebih baik. Hijrah adalah kekuatan yang mampu mengubah manusia biasa menjadi manusia luar biasa.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah Islam dibangun di atas semangat hijrah. Bahkan kalender Islam pun dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Sebuah perjalanan yang bukan menandakan kekalahan, melainkan awal kebangkitan peradaban Islam.

Allah SWT berfirman:

"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak." (QS. An-Nisa': 100).

Hijrah: Titik Balik Peradaban Islam

Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat, Rasulullah SAW bersama para sahabat diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Di kota itulah Islam tumbuh menjadi kekuatan yang disegani. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang berkeadilan, penuh kasih sayang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Hijrah ternyata bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari sebuah kemenangan. Dari Madinah, cahaya Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab hingga akhirnya menerangi dunia.

Karena itulah, Khalifah Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam. Hijrah dipandang sebagai tonggak perubahan yang sangat menentukan perjalanan umat.

Hijrah yang Sesungguhnya

Pada masa sekarang, hijrah tidak lagi identik dengan berpindah tempat. Rasulullah SAW bersabda:

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, hijrah sejati adalah perubahan hati dan perilaku. Berhijrah dari kemalasan menuju semangat, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebencian menuju persaudaraan.

Hijrah adalah saat seseorang mulai memperbaiki salatnya, menjaga lisannya, menjauhi riba, memperbanyak sedekah, mendidik anak-anak dengan akhlak yang baik, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Kekuatan Hijrah Ada Pada Kemauan Berubah

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya. Perubahan membutuhkan tekad, kesungguhan, dan kesabaran. Tidak ada keberhasilan tanpa keberanian untuk memulai.

Banyak orang ingin hidupnya berubah, tetapi tidak semua orang berani memulai hijrah. Padahal, langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah lebih dicintai Allah daripada perubahan besar yang hanya sesaat.

Hijrah Melahirkan Harapan

Tidak ada kata terlambat untuk berhijrah. Selama pintu taubat masih terbuka, selama napas masih berhembus, kesempatan untuk menjadi lebih baik masih tersedia.

Seorang yang dahulu jauh dari masjid dapat menjadi ahli ibadah. Seorang yang dahulu lalai dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Bahkan orang yang pernah terjatuh dalam dosa, dengan rahmat Allah dapat bangkit menjadi hamba yang dicintai-Nya.

Hijrah sesungguhnya adalah perjalanan seumur hidup. Bukan perubahan yang instan, melainkan proses panjang menuju keridhaan Allah SWT.

Menjadi Generasi yang Selalu Berhijrah

Di tengah tantangan zaman modern, umat Islam membutuhkan semangat hijrah. Hijrah dari budaya malas menuju budaya kerja keras, dari perpecahan menuju persatuan, dari sikap individualis menuju kepedulian sosial, serta dari keterbelakangan menuju kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Semangat hijrah harus hadir dalam keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang terus memperbaiki diri dan tidak pernah berhenti untuk berubah menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, The Power of Hijrah bukan sekadar slogan, melainkan kekuatan yang mampu membentuk pribadi yang lebih bertakwa, keluarga yang lebih harmonis, dan masyarakat yang lebih beradab.

Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW telah melahirkan peradaban Islam yang agung, maka hijrah diri kita hari ini, sekecil apa pun, insya Allah akan menjadi awal dari lahirnya kehidupan yang lebih berkah dan penuh makna.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 218).

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah. Di sanalah sesungguhnya letak kekuatan hijrah.

Wallahu A'lam 

Makna Sumpah Panghulu Minangkabau: Menjaga Amanah, Menegakkan Adat dan Syarak

 


Makna Sumpah Panghulu Minangkabau: Menjaga Amanah, Menegakkan Adat dan Syarak

Oleh: Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Dalam sebuah dialog ringan dengan Datuak Rajo Malano, penulis memperoleh banyak pelajaran berharga tentang makna sumpah panghulu dalam tradisi Minangkabau. Bagi masyarakat Minang, pengangkatan seorang penghulu bukan sekadar pemberian gelar adat, melainkan penyerahan amanah besar untuk membimbing anak kemenakan serta menjaga marwah kaum sesuai falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Menurut Datuak Rajo Malano, seorang penghulu harus memegang teguh pesan adat yang sangat terkenal:

Bakato bana, babuek baiak, mahukum adia.

Artinya, seorang pemimpin adat wajib berkata benar, berbuat baik, dan berlaku adil dalam setiap keputusan. Ketiga prinsip tersebut menjadi fondasi utama dalam kepemimpinan adat Minangkabau yang menjunjung tinggi musyawarah dan kebijaksanaan.

Dalam perbincangan itu, beliau juga menjelaskan bahwa pada prosesi Batagak Panghulu, seorang penghulu mengucapkan sumpah untuk menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Sumpah tersebut tidak hanya mengikat hubungan sesama manusia, tetapi juga menjadi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Apabila seorang penghulu lalai dari amanahnya, adat Minangkabau mengenal petuah yang sarat makna:

Ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek, di tangah-tangah digiriak kumbang.

Ungkapan tersebut mengandung peringatan bahwa seseorang yang mengkhianati amanah akan kehilangan kehormatan, tidak memiliki pijakan yang kuat, dan pada akhirnya kehilangan kepercayaan masyarakat.

Lebih jauh, Datuak Rajo Malano mengingatkan bahwa seorang penghulu bukanlah penguasa yang harus dilayani, melainkan pemimpin yang mengayomi. Seorang penghulu berkewajiban memelihara persatuan kaum, menjadi tempat bertanya bagi anak kemenakan, serta menjaga warisan adat agar tetap selaras dengan nilai-nilai agama.

Hal ini sejalan dengan pepatah Minangkabau:

Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan bana, nan bana tagak sandirinyo.

Pepatah tersebut menegaskan bahwa kekuasaan tertinggi dalam adat bukanlah pada individu, melainkan pada kebenaran yang disepakati bersama. Karena itu, kepemimpinan adat dibangun di atas musyawarah, kebijaksanaan, dan rasa tanggung jawab.

Dialog sederhana bersama Datuak Rajo Malano memberikan pemahaman bahwa sumpah panghulu sesungguhnya merupakan pengingat agar seorang pemimpin senantiasa menjaga integritas dan keadilan. Dalam konteks kehidupan modern, nilai-nilai yang terkandung dalam sumpah tersebut tetap relevan. Bukan hanya bagi penghulu, tetapi juga bagi siapa saja yang memegang amanah, baik sebagai pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, maupun pelayan umat.

Pada akhirnya, amanah adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Sebab dalam pandangan adat Minangkabau, kebesaran seorang pemimpin tidak diukur dari tinggi gelarnya, melainkan dari kemampuannya menjaga kebenaran, menebar kebaikan, dan menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

"Ikhlas Melayani, Berkah Menginspirasi"

Wallahu A'lam 

Senin, 15 Juni 2026

MODERASI BERAGAMA: CADAR & INKLUSIVISME

 


MODERASI BERAGAMA: CADAR & INKLUSIVISME

Kebebasan Berkeyakinan, Toleransi, Anti Kekerasan, dan Kearifan Lokal dalam Menghargai Saudara Muslimah Bercadar

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, isu cadar sering kali menjadi bahan perbincangan, bahkan tidak jarang memunculkan perdebatan yang berkepanjangan. Sebagian orang memandang cadar sebagai bentuk ketaatan beragama, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai sesuatu yang asing dalam budaya lokal. Dalam konteks inilah, moderasi beragama menjadi penting untuk menghadirkan cara pandang yang adil, bijaksana, dan inklusif.

Moderasi beragama bukan berarti mengurangi ajaran agama, melainkan cara beragama yang mengedepankan keseimbangan, menghormati perbedaan, dan menjaga harmoni sosial. Salah satu indikator moderasi beragama adalah komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penghargaan terhadap kearifan lokal.

Cadar dalam Ranah Perbedaan Fikih

Dalam khazanah Islam, penggunaan cadar merupakan bagian dari persoalan fikih yang telah lama menjadi ruang perbedaan pendapat para ulama. Ada ulama yang mewajibkannya, ada yang mensunnahkannya, dan ada pula yang memandang bahwa menutup wajah bukanlah kewajiban selama aurat telah tertutup sesuai ketentuan syariat.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa cadar bukanlah persoalan yang seharusnya menjadi alasan untuk saling mencela, menghakimi, atau bahkan mendiskriminasi sesama Muslim. Perbedaan ijtihad adalah bagian dari kekayaan intelektual Islam yang perlu disikapi dengan kedewasaan.

Karena itu, seorang Muslimah yang memilih bercadar berhak dihormati sebagai bagian dari pelaksanaan keyakinannya. Sebaliknya, Muslimah yang tidak bercadar juga tidak boleh dianggap kurang Islami hanya karena memilih mengikuti pendapat ulama yang berbeda.

Kebebasan Berkeyakinan dan Hak Beragama

Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan setiap warga negara untuk menjalankan agama dan keyakinannya. Selama praktik keagamaan tersebut tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu ketertiban umum, maka setiap orang berhak menjalankannya.

Bercadar merupakan ekspresi keberagamaan yang lahir dari pemahaman tertentu terhadap ajaran Islam. Oleh karena itu, menghormati Muslimah bercadar berarti menghormati hak beragama yang dijamin oleh negara dan diajarkan oleh agama.

Islam sendiri mengajarkan prinsip:

"Tidak ada paksaan dalam agama." (QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini mengajarkan bahwa keyakinan dan praktik keagamaan tidak boleh dipaksakan, baik untuk memakai cadar maupun untuk melepaskannya.

Toleransi dalam Lingkungan Sosial

Toleransi bukan berarti menyetujui semua pilihan orang lain, tetapi menghormati hak mereka untuk berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, Muslimah bercadar sering menghadapi berbagai stigma, mulai dari dianggap eksklusif, sulit bergaul, hingga dicurigai tanpa alasan yang jelas.

Padahal, pakaian tidak selalu mencerminkan karakter seseorang. Banyak Muslimah bercadar yang aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, ekonomi, dan pelayanan masyarakat. Mereka adalah bagian dari warga bangsa yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Sikap toleran dapat diwujudkan dengan cara sederhana:

  • Tidak melakukan perundungan atau diskriminasi.

  • Tidak menyebarkan stereotip negatif.

  • Tetap menjalin komunikasi yang santun.

  • Menghargai pilihan berpakaian yang dilandasi keyakinan agama.

Toleransi yang sehat akan memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa.

Menolak Kekerasan dan Intoleransi

Moderasi beragama menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal. Menghina, mengejek, mengucilkan, atau membatasi hak seseorang hanya karena bercadar merupakan bentuk intoleransi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam maupun nilai kemanusiaan.

Demikian pula, tidak boleh ada kelompok yang memaksakan penggunaan cadar kepada orang lain dengan cara intimidasi atau tekanan sosial. Prinsip anti kekerasan berlaku kepada semua pihak.

Islam mengajarkan dakwah dengan hikmah, keteladanan, dan dialog yang baik, bukan dengan pemaksaan atau penghakiman.

Kearifan Lokal: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Di Sumatera Barat dikenal falsafah luhur:

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Falsafah ini mengajarkan harmoni antara nilai agama dan budaya. Masyarakat Minangkabau memiliki tradisi menghormati tamu, menghargai perbedaan, dan menjaga marwah sesama.

Dalam konteks cadar, kearifan lokal mengajarkan agar masyarakat tidak mudah menghakimi hanya karena perbedaan penampilan. Sebaliknya, Muslimah bercadar juga perlu memahami budaya komunikasi masyarakat setempat sehingga interaksi sosial tetap berjalan baik.

Kearifan lokal bukan alat untuk menolak syariat, tetapi jembatan untuk membangun hubungan sosial yang harmonis di tengah keberagaman cara beragama.

Membangun Masyarakat yang Inklusif

Masyarakat inklusif adalah masyarakat yang memberikan ruang kepada semua orang untuk hidup berdampingan secara damai. Dalam masyarakat seperti ini, seseorang tidak dinilai dari cadarnya, pecinya, jubahnya, atau pakaiannya, melainkan dari akhlak, integritas, dan kontribusinya bagi kemaslahatan bersama.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada penampilan lahiriah semata, melainkan pada ketakwaan dan amal kebaikannya.

Karena itu, Muslimah bercadar adalah saudara kita. Mereka berhak dihormati, dilibatkan, dan diperlakukan secara adil dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana setiap warga negara lainnya.

Penutup

Moderasi beragama mengajarkan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan bijaksana. Cadar adalah bagian dari keragaman ekspresi keberagamaan dalam Islam yang perlu disikapi secara proporsional.

Menghormati Muslimah bercadar bukan berarti harus ikut bercadar. Sebaliknya, tidak bercadar juga bukan alasan untuk dianggap kurang beragama. Yang terpenting adalah membangun sikap saling menghormati, menjunjung kebebasan berkeyakinan, mengedepankan toleransi, menolak kekerasan, serta menghidupkan kearifan lokal sebagai perekat persaudaraan.

Pada akhirnya, ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada apa yang menutupi wajahnya, melainkan pada akhlak yang memancarkan cahaya kebaikan bagi sesama.

HAKIKAT, REFLEKSI TAHUN BARU HIJRIAH & PIALA DUNIA

 


HAKIKAT, REFLEKSI TAHUN BARU HIJRIAH & PIALA DUNIA 

Ketika Dunia Menonton Bola, Saatnya Manusia Menonton Dirinya Sendiri

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Tahun Baru Hijriah 1448 H hadir hampir bersamaan dengan gegap gempita perhelatan akbar sepak bola dunia, yaitu FIFA World Cup 2026. Miliaran pasang mata tertuju ke lapangan hijau. Stadion penuh, layar televisi menyala, media sosial dipenuhi analisis, prediksi, dan perdebatan tentang siapa yang akan menjadi juara dunia.

Di sisi lain, Tahun Baru Hijriah mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk melakukan perjalanan yang lebih penting: perjalanan ke dalam diri sendiri.

Jika Piala Dunia adalah kompetisi antartim terbaik dunia, maka Tahun Baru Hijriah adalah momentum kompetisi manusia melawan dirinya sendiri. Jika sepak bola mengajarkan pentingnya evaluasi strategi setiap pertandingan, maka Hijrah mengajarkan pentingnya evaluasi perjalanan hidup setiap tahun.

Pertanyaannya, ketika kita begitu serius menilai permainan para pemain bola, sudahkah kita serius menilai permainan hidup kita sendiri?

Hijrah: Bukan Sekadar Perpindahan Tahun

Banyak orang menganggap Tahun Baru Hijriah sekadar pergantian angka kalender. Padahal hakikat hijrah jauh lebih dalam daripada itu.

Hijrah adalah keberanian berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Dari kemalasan menuju produktivitas. Dari kebencian menuju kasih sayang. Dari egoisme menuju kepedulian.

Hijrah adalah revolusi moral yang dimulai dari dalam diri.

Karena itu, Tahun Baru Hijriah bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi total.

Apa yang telah kita lakukan selama satu tahun terakhir?

Apa kontribusi kita bagi keluarga?

Apa manfaat kita bagi masyarakat?

Apa warisan kebaikan yang telah kita tinggalkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui skor pertandingan mana pun di dunia.

Piala Dunia dan Pelajaran Kemanusiaan

Menariknya, sepak bola sesungguhnya mengajarkan banyak nilai kemanusiaan.

Di lapangan, pemain berasal dari berbagai bangsa, ras, bahasa, warna kulit, dan agama. Namun semuanya tunduk pada aturan yang sama.

Bola tidak pernah bertanya warna kulit siapa yang menendangnya.

Gawang tidak pernah memilih gol berdasarkan kebangsaan pemainnya.

Lapangan hijau menjadi simbol bahwa manusia sejatinya setara.

Inilah pesan kemanusiaan universal yang sering terlupakan di tengah konflik dan perpecahan dunia.

Saat miliaran orang bersatu mendukung tim favoritnya, dunia sebenarnya sedang menunjukkan bahwa manusia mampu menemukan titik persamaan di tengah begitu banyak perbedaan.

Ketika Dunia Masih Dihantui Perang

Sayangnya, pada saat stadion dipenuhi sorak-sorai, sebagian belahan dunia masih dipenuhi suara ledakan.

Masih ada perang.

Masih ada pengungsi.

Masih ada anak-anak kehilangan orang tua.

Masih ada keluarga yang kehilangan rumah.

Masih ada bangsa-bangsa yang hidup dalam ketakutan.

Ironisnya, dunia mampu menghabiskan energi besar untuk memperdebatkan hasil pertandingan, tetapi sering kali lambat dalam menghentikan pertumpahan darah sesama manusia.

Tahun Baru Hijriah mengingatkan bahwa kemajuan peradaban tidak diukur hanya dari kecanggihan teknologi atau kemegahan stadion, tetapi dari kemampuan manusia menjaga martabat kemanusiaan.

Peradaban yang hebat bukan hanya yang mampu mengirim manusia ke luar angkasa, tetapi juga yang mampu menghadirkan kedamaian di bumi.

Semua Cinta Bola, Semua Nonton Bola

Tidak ada yang salah dengan mencintai sepak bola.

Tidak ada yang salah menonton Piala Dunia.

Bahkan sepak bola dapat menjadi sarana rekreasi, persaudaraan, pendidikan karakter, dan hiburan yang sehat.

Namun ada satu hal yang perlu direnungkan.

Ketika kita hafal jadwal pertandingan, apakah kita juga hafal jadwal shalat?

Ketika kita mengetahui statistik pemain favorit, apakah kita juga mengetahui statistik amal kita?

Ketika kita rela begadang demi pertandingan, apakah kita rela bangun untuk beribadah?

Ketika kita bersemangat menyaksikan perebutan gelar juara dunia, apakah kita juga bersemangat memperjuangkan kemenangan atas hawa nafsu?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk melarang mencintai sepak bola, tetapi untuk menjaga keseimbangan hidup.

Karena manusia tidak hanya hidup untuk hiburan, tetapi juga untuk tujuan yang lebih mulia.

Introspeksi Total untuk Masa Depan Peradaban

Tahun Baru Hijriah 1448 H seharusnya menjadi momentum introspeksi total bagi individu, keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

Kita perlu bertanya:

  • Apakah dunia semakin damai?

  • Apakah kemiskinan semakin berkurang?

  • Apakah lingkungan semakin terjaga?

  • Apakah generasi muda semakin berakhlak?

  • Apakah teknologi semakin memanusiakan manusia?

Jika jawabannya belum memuaskan, maka hijrah harus dimulai sekarang.

Bukan besok.

Bukan tahun depan.

Tetapi hari ini.

Karena perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Penutup

Piala Dunia 2026 akan melahirkan satu juara. Namun Tahun Baru Hijriah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang menjalani pertandingan yang jauh lebih panjang daripada sepak bola.

Ada pertandingan melawan keserakahan.

Ada pertandingan melawan kemalasan.

Ada pertandingan melawan kebencian.

Ada pertandingan melawan ketidakpedulian.

Ketika dunia sibuk mencari siapa juara di lapangan hijau, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi juara dalam kehidupan kita sendiri?

Semoga Tahun Baru Hijriah 1448 H menjadi momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik, masyarakat yang lebih peduli, bangsa yang lebih bermartabat, dan dunia yang lebih damai.

Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H.

Mari menikmati sepak bola dengan gembira, tetapi jangan pernah lupa menonton dan mengevaluasi diri sendiri. Sebab di sanalah pertandingan hidup yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Wallahu A'lam

Kamis, 11 Juni 2026

Tahun Baru Islam 1448 H: Saatnya Bercermin, Bukan Sekadar Berganti Kalender

 


Tahun Baru Islam 1448 H: Saatnya Bercermin, Bukan Sekadar Berganti Kalender

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Setiap kali tahun baru datang, banyak orang berbicara tentang harapan. Ada yang berharap ekonomi membaik, kesehatan meningkat, karier berkembang, dan kehidupan menjadi lebih sejahtera. Namun bagi umat Islam, Tahun Baru Hijriah bukan hanya tentang harapan, melainkan juga tentang muhasabah, yakni keberanian untuk bercermin dan mengevaluasi diri.

Tahun Baru Islam 1448 H mengingatkan kita pada peristiwa monumental hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi peradaban. Dari keterpurukan menuju kemajuan, dari ketakutan menuju optimisme, dan dari perpecahan menuju persatuan.

Sayangnya, tidak sedikit dari kita yang merayakan pergantian tahun hanya sebagai rutinitas seremonial. Kalender berganti, tetapi perilaku tetap sama. Umur bertambah, namun kualitas diri tidak mengalami perubahan yang berarti.

Muhasabah: Tradisi Orang Beriman

Al-Qur'an mengajarkan pentingnya evaluasi diri. Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok."
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengandung pesan yang sangat kuat. Seorang mukmin tidak hidup tanpa arah. Ia selalu melihat ke belakang untuk memperbaiki kesalahan dan menatap masa depan dengan perencanaan yang lebih baik.

Muhasabah sejatinya bukan mencari siapa yang salah, melainkan mencari apa yang perlu diperbaiki dalam diri sendiri. Karena perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil dalam diri manusia.

Ketika Bangsa Sedang Menghadapi Tantangan

Refleksi Tahun Baru Islam menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan kondisi bangsa saat ini.

Di tengah kemajuan teknologi, masyarakat justru menghadapi tantangan baru berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perjudian daring, penyalahgunaan narkoba, serta degradasi moral yang semakin mengkhawatirkan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga mulai merambah daerah-daerah yang selama ini dikenal religius dan kondusif.

Yang lebih memprihatinkan, sasaran berbagai penyakit sosial tersebut bukan hanya kalangan tertentu, melainkan telah menjangkau remaja, pelajar, pekerja, bahkan sebagian aparatur dan tokoh masyarakat.

Padahal bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi atau tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas akhlak warga negaranya.

Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Karena itu, krisis moral sesungguhnya jauh lebih berbahaya daripada krisis ekonomi. Kerusakan moral dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Memulai Perubahan dari Diri Sendiri

Ada kecenderungan sebagian orang lebih sibuk mengkritik keadaan dibanding memperbaiki diri. Kita mudah menunjuk kesalahan pemerintah, lembaga, atau masyarakat, tetapi sering lupa melakukan introspeksi.

Padahal Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan sosial harus diawali dengan perubahan personal.

Jika ingin masyarakat jujur, mulailah dari kejujuran diri sendiri.

Jika ingin lingkungan bersih dari hoaks, mulailah dengan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Jika ingin bangsa bebas korupsi, mulailah dengan menjauhi segala bentuk ketidakjujuran sekecil apa pun.

Jika ingin generasi muda berakhlak baik, mulailah dengan menjadi teladan yang baik.

Hijrah Digital dan Hijrah Sosial

Di era modern, makna hijrah juga dapat dimaknai secara kontekstual.

Hijrah digital misalnya, yaitu berpindah dari kebiasaan menggunakan media sosial untuk hal yang sia-sia menjadi sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran kebaikan.

Hijrah sosial berarti berpindah dari sikap individualistik menuju kepedulian terhadap sesama.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang rela membantu tanpa harus viral, lebih banyak orang yang bekerja tanpa harus dipuji, dan lebih banyak tokoh yang memberi keteladanan daripada sekadar ceramah.

Menjadi Bagian dari Solusi

Tahun Baru Islam 1448 H hendaknya tidak hanya melahirkan harapan, tetapi juga komitmen.

Komitmen untuk memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah yang lebih berkualitas.

Komitmen untuk memperkuat hubungan dengan keluarga melalui kasih sayang dan pendidikan yang baik.

Komitmen untuk menjaga persatuan bangsa dengan mengedepankan dialog, toleransi, dan semangat kebersamaan.

Komitmen untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Karena sesungguhnya bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang jujur, amanah, peduli, dan berintegritas.

Penutup

Tahun Baru Islam 1448 H bukanlah tentang seberapa banyak usia yang telah berlalu, melainkan tentang seberapa besar perubahan yang telah terjadi dalam diri kita.

Hijrah yang paling sulit bukan berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Dari sikap acuh menjadi peduli. Dari pesimisme menjadi optimisme. Dari sekadar mengeluh menjadi ikut memperbaiki.

Mari jadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai kesempatan untuk menata ulang niat, memperbaiki akhlak, memperkuat persatuan, dan meningkatkan kontribusi bagi umat, bangsa, dan negara.

Karena masa depan Indonesia yang lebih baik tidak hanya ditentukan oleh pergantian tahun, tetapi oleh kesediaan setiap warga untuk memperbaiki dirinya hari ini.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Semoga hijrah kita menjadi hijrah yang menghadirkan keberkahan bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MEREFLEKSI DIRI DI TAHUN BARU ISLAM 1448 H?

 


CERAMAH AGAMA

BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MEREFLEKSI DIRI DI TAHUN BARU ISLAM 1448 H?

Tinjauan Al-Qur'an dan Sunnah serta Kaitannya dengan Kondisi Bangsa Saat Ini

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba'du.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara akan memperoleh keberkahan.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, kita memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Tahun Baru Islam adalah momentum muhasabah, evaluasi, introspeksi, dan refleksi diri terhadap perjalanan hidup yang telah kita lalui.

Makna Hijrah: Perubahan Menuju Kebaikan

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Tahun baru Islam diawali dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik.

Rasulullah SAW bersabda:

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka pertanyaan yang perlu kita renungkan di awal tahun ini adalah:

  • Apakah iman kita semakin meningkat?

  • Apakah ibadah kita semakin baik?

  • Apakah akhlak kita semakin mulia?

  • Apakah keluarga kita semakin harmonis?

  • Apakah kontribusi kita kepada masyarakat semakin nyata?

Jika belum, maka Tahun Baru Islam harus menjadi titik awal perubahan.

Muhasabah dalam Perspektif Al-Qur'an

Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok."
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan pentingnya evaluasi diri. Setiap muslim diperintahkan melihat kembali apa yang telah dilakukan dan mempersiapkan masa depan dengan lebih baik.

Umar bin Khattab RA pernah berkata:

"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang."

Muhasabah bukan untuk menyesali masa lalu secara berlebihan, tetapi untuk memperbaiki masa depan.

Refleksi Diri di Tengah Kondisi Bangsa Saat Ini

Hadirin yang berbahagia,

Jika kita melihat kondisi bangsa saat ini, terdapat banyak tantangan yang harus menjadi bahan refleksi bersama.

1. Tantangan Moral dan Akhlak

Perkembangan teknologi memberikan manfaat besar, namun juga menghadirkan ancaman berupa:

  • Penyebaran hoaks.

  • Ujaran kebencian.

  • Pornografi.

  • Judi online.

  • Penyalahgunaan narkoba.

  • Pergaulan bebas.

Banyak generasi muda kehilangan arah karena minimnya pendidikan akhlak dan keteladanan.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Perubahan bangsa harus dimulai dari perubahan individu.

2. Tantangan Ekonomi dan Keadilan Sosial

Masyarakat masih menghadapi tekanan ekonomi, biaya hidup yang meningkat, kesenjangan sosial, serta ketidakpastian pekerjaan.

Islam mengajarkan bahwa keberkahan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh jumlah harta, tetapi juga kejujuran, kerja keras, kepedulian sosial, zakat, infak, dan sedekah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak akan berkurang harta karena sedekah."
(HR. Muslim)

Maka refleksi tahun baru harus melahirkan kepedulian sosial yang lebih kuat.

3. Tantangan Persatuan Bangsa

Perbedaan pilihan politik, organisasi, dan kelompok sering kali memicu perpecahan.

Padahal Allah SWT berfirman:

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai."
(QS. Ali Imran: 103)

Tahun Baru Islam harus menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Empat Muhasabah Penting Tahun Baru Islam 1448 H

Pertama: Muhasabah Hubungan dengan Allah

Perbaiki:

  • Shalat berjamaah.

  • Tilawah Al-Qur'an.

  • Dzikir dan doa.

  • Puasa sunnah.

  • Keikhlasan ibadah.

Karena kekuatan umat berawal dari kuatnya hubungan dengan Allah.

Kedua: Muhasabah Hubungan dengan Keluarga

Tanyakan kepada diri kita:

  • Sudahkah menjadi suami, istri, atau orang tua yang baik?

  • Sudahkah mendidik anak-anak dengan nilai agama?

  • Sudahkah rumah kita menjadi tempat yang nyaman dan penuh kasih sayang?

Keluarga adalah benteng pertama peradaban bangsa.

Ketiga: Muhasabah Hubungan dengan Sesama

Mari kita perbaiki:

  • Kejujuran.

  • Amanah.

  • Kepedulian sosial.

  • Toleransi.

  • Semangat gotong royong.

Bangsa yang kuat dibangun oleh masyarakat yang saling peduli.

Keempat: Muhasabah Kontribusi bagi Bangsa

Sebagai warga negara yang baik, kita harus:

  • Taat aturan.

  • Menjaga persatuan.

  • Menolak korupsi.

  • Menolak narkoba.

  • Menolak hoaks dan fitnah.

  • Mendukung pembangunan yang membawa kemaslahatan.

Karena mencintai negeri merupakan bagian dari rasa syukur atas nikmat Allah berupa tanah air yang aman dan damai.

Menjadi Pribadi yang Lebih Baik di Tahun 1448 H

Jamaah rahimakumullah,

Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Thabrani)

Oleh sebab itu, target kita pada Tahun Baru Islam 1448 H bukan sekadar bertambah usia, tetapi bertambah kualitas.

Bukan sekadar berganti kalender, tetapi berganti karakter.

Bukan sekadar berpindah tahun, tetapi berhijrah menuju ketakwaan.

Mari kita jadikan tahun ini sebagai momentum:

  • Lebih dekat kepada Allah.

  • Lebih baik kepada keluarga.

  • Lebih peduli kepada masyarakat.

  • Lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah,

Tahun 1447 H telah meninggalkan kita dengan segala catatan amal. Tahun 1448 H datang membawa harapan baru. Tidak ada jaminan kita akan bertemu tahun berikutnya. Karena itu, jadikan setiap hari sebagai kesempatan memperbaiki diri.

Semoga Allah SWT menjadikan Tahun Baru Islam 1448 H sebagai tahun kebangkitan iman, penguatan akhlak, kemajuan umat, dan keberkahan bagi Indonesia.

اللهم اجعل هذا العام عاماً مباركاً، وأصلح أحوالنا وأحوال بلادنا، واحفظ إندونيسيا من الفتن ما ظهر منها وما بطن.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

Disusun oleh:
Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur.