Senin, 14 September 2026

LAGI, PENYULUH AGAMA DAMPINGI PROSES SERTIFIKASI TANAH WAKAF

 


LAGI, PENYULUH AGAMA DAMPINGI PROSES SERTIFIKASI TANAH WAKAF

Dari Verifikasi Dokumen Menuju Kepastian Hukum dan Pemberdayaan Aset Umat

Padang Panjang — Komitmen dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat kembali diwujudkan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur dalam proses sertifikasi tanah wakaf untuk kepentingan umat. Sekalipun berbeda wilayah kerja, tanggungjawab pendampingan dapat dilakukan dimana saja terlebih lagi di lingkungan tempat tinggal sebagai kompetensi sosial penyuluh agama.

Senin, 14 September 2026, bertempat di ruang Kepala KUA, dilaksanakan penandatanganan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) setelah melalui tahapan verifikasi dan validasi terhadap dokumen serta data tanah wakaf yang diajukan.

Proses tersebut dihadiri oleh tiga orang wakif, tiga orang nazir perorangan, dua orang saksi, serta perwakilan jamaah Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian. Kehadiran para pihak menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa proses administrasi wakaf berjalan secara tertib, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pendampingan terhadap proses wakaf tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memberikan kepastian administrasi dan hukum terhadap aset yang telah diperuntukkan bagi kepentingan umat. Tanah wakaf bukan sekadar sebidang tanah yang diserahkan untuk kepentingan keagamaan, tetapi merupakan amanah yang memiliki nilai ibadah sekaligus manfaat sosial yang panjang.

Kepala KUA Kecamatan X Koto, Bisti Samsuri, dalam kesempatan tersebut memberikan pembinaan kepada para pihak mengenai pentingnya memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam pengelolaan wakaf.

Kepada para wakif, disampaikan bahwa wakaf merupakan amal jariyah yang harus dijaga keberlanjutan manfaatnya. Sementara kepada nazir, ditekankan bahwa amanah yang diterima bukan hanya menjaga keberadaan fisik aset wakaf, tetapi juga memastikan aset tersebut dapat memberikan manfaat secara optimal sesuai dengan tujuan perwakafan.

“Nazir memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga, mengelola, dan memberdayakan aset wakaf agar tetap produktif dan memberikan manfaat bagi umat,” demikian inti pembinaan yang disampaikan.

Selain wakif dan nazir, masyarakat dan jamaah juga memiliki peran penting. Aset wakaf yang telah diperuntukkan bagi mushalla dan kepentingan umat tidak cukup hanya dijaga oleh pengurus atau nazir. Diperlukan tanggung jawab bersama seluruh jamaah untuk merawat, menjaga kelestarian, serta mengembangkan pemanfaatannya secara baik dan berkelanjutan.

Wakaf pada hakikatnya merupakan investasi akhirat. Karena itu, semakin tertib administrasinya, semakin kuat pula kepastian hukumnya; semakin baik pengelolaannya, semakin panjang pula manfaat yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks tersebut, sertifikasi tanah wakaf menjadi langkah strategis untuk memberikan perlindungan terhadap aset umat. Legalitas yang jelas diharapkan dapat mencegah munculnya persoalan di kemudian hari sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan dan pemberdayaan aset wakaf.

Sebagai pengurus Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian sekaligus pemohon, Wahyu Salim menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KUA atas pelayanan serta pendampingan yang diberikan selama proses pengurusan tanah wakaf tersebut.

“Terima kasih atas pelayanan dan pendampingan yang diberikan. Kita berharap proses ini dapat terus berjalan sampai tuntas, sehingga nantinya sertifikat tanah wakaf dapat diterbitkan dan memberikan kepastian hukum bagi aset umat,” ujarnya.

Ia berharap legalitas tanah wakaf tersebut nantinya semakin memperkuat keberadaan Mushalla Diinul Haq sebagai pusat ibadah, pembinaan keagamaan, pendidikan umat, sekaligus ruang kebersamaan masyarakat.

Proses sertifikasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendampingan Penyuluh Agama tidak hanya berlangsung di mimbar dan majelis taklim, tetapi juga hadir dalam persoalan nyata masyarakat, termasuk membantu umat menata administrasi wakaf agar tertib, aman, dan memiliki kepastian hukum.

Bagi Penyuluh Agama, pendampingan wakaf merupakan bagian dari penguatan literasi keagamaan sekaligus literasi hukum masyarakat. Sebab, mengurus wakaf bukan hanya menyelesaikan administrasi, tetapi juga menjaga amanah para wakif dan memastikan manfaatnya terus mengalir untuk generasi demi generasi.

Dengan semangat pelayanan dan kolaborasi antara KUA, wakif, nazir, pengurus mushalla, serta masyarakat, diharapkan proses sertifikasi tanah wakaf Mushalla Diinul Haq Koto Tuo Panyalaian dapat berjalan hingga tahap akhir.

Wakaf tertib, aset umat terlindungi. Wakaf dikelola dengan amanah, manfaatnya terus mengalir.

TAJWID DAN HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

 


MATERI PENYULUHAN AGAMA ISLAM

TAJWID DAN HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

“Bukan sekadar lancar membaca, tetapi tepat dalam melafalkan kalam Allah”

A. Pengantar

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, dan seorang Muslim diperintahkan untuk membacanya dengan tartil.

Allah SWT berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
QS. Al-Muzzammil: 4

Tartil berarti membaca dengan tenang, jelas, teratur, memperhatikan makhraj, sifat huruf, hukum bacaan, panjang-pendek, serta waqaf dan ibtida’.

Karena itu, belajar tajwid bukan sekadar agar suara terdengar indah. Tajwid membantu kita menjaga bacaan Al-Qur’an agar tidak menyimpang dari cara baca yang benar.

B. APA ITU TAJWID?

1. Pengertian Tajwid

Secara bahasa, tajwid (التجويد) berarti membaguskan atau memperindah.

Secara istilah:

Tajwid adalah memberikan setiap huruf hak dan mustahaknya ketika dibaca.

Yang dimaksud hak huruf antara lain makhraj dan sifat-sifat asli huruf.

Sedangkan mustahak huruf adalah hukum-hukum yang muncul ketika huruf bertemu dengan huruf lainnya, seperti idgham, ikhfa, iqlab, mad, qalqalah dan sebagainya.

Rumus sederhananya:

Makhraj + Sifat Huruf + Hukum Bacaan + Panjang-Pendek + Waqaf/Ibtida’ = Bacaan Al-Qur’an yang benar.

C. APAKAH MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TAJWID ITU WAJIB?

Ini bagian yang penting disampaikan secara proporsional.

Para ulama membedakan antara mempelajari ilmu tajwid secara teori dan menerapkan tajwid ketika membaca Al-Qur’an.

1. Mempelajari ilmu tajwid secara mendalam

Mempelajari seluruh teori dan cabang ilmu tajwid secara mendalam merupakan fardhu kifayah bagi umat Islam.

Artinya, harus ada sebagian umat yang mendalaminya sehingga ilmu tersebut terpelihara dan dapat diajarkan kepada masyarakat.

2. Membaca Al-Qur’an dengan benar

Adapun setiap Muslim yang membaca Al-Qur’an wajib berusaha memperbaiki bacaannya sesuai kemampuan, terutama agar tidak melakukan kesalahan yang nyata (lahn jali) yang dapat mengubah huruf, harakat, atau makna.

Jadi jangan sampai pemahaman:

“Belajar tajwid hukumnya fardhu kifayah”

kemudian digunakan sebagai alasan:

“Saya tidak perlu belajar tajwid.”

Justru bagi orang yang membaca Al-Qur’an, belajar memperbaiki bacaan menjadi kebutuhan agama.

D. LAHN: KESALAHAN DALAM MEMBACA AL-QUR’AN

Dalam ilmu qira'ah/tajwid dikenal istilah lahn, yaitu kesalahan dalam membaca.

1. Lahn Jali

Lahn jali adalah kesalahan yang jelas, misalnya salah huruf atau harakat sehingga dapat mengubah lafaz atau makna.

Contoh:

أَنْعَمْتَ

dibaca dengan mengubah huruf atau harakat secara keliru.

Contoh lain yang sangat penting:

قُلْ

huruf ق tidak boleh berubah menjadi ك.

Karena:

قُلْ dan كُلْ

merupakan dua lafaz yang berbeda.

Maka kesalahan makhraj bukan sekadar masalah "logat", tetapi dalam kasus tertentu dapat berpengaruh terhadap makna.

E. HUKUM NUN SUKUN DAN TANWIN

Ini salah satu materi tajwid paling penting dan mudah dipraktikkan.

Nun sukun (نْ) dan tanwin (ــًــٍــٌ) mempunyai empat hukum.

1. IZHHAR HALQI

Pengertian

Izhar berarti jelas.

Apabila نْ atau tanwin bertemu salah satu huruf:

ء ه ع ح غ خ

maka dibaca jelas.

Contoh:

مَنْ آمَنَ

Nun sukun bertemu ء, dibaca jelas.

عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Tanwin bertemu ح, dibaca jelas.

Praktik:

مَنْ آمَنَ

Jangan memasukkan suara nun ke huruf setelahnya.

2. IDGHAM

Idgham berarti memasukkan atau meleburkan.

Huruf idgham:

ي ر م ل و ن

Dapat diingat dengan:

يَرْمَلُونَ

Contoh:

مَنْ يَعْمَلْ

Nun sukun bertemu ي, sehingga dibaca dengan idgham.

مِنْ رَبِّهِمْ

Nun sukun bertemu ر, sehingga nun melebur ke dalam ra.

Idgham Bighunnah

Huruf:

ي ن م و

Contoh:

مَنْ يَقُولُ

dibaca dengan dengung.

Idgham Bilaghunnah

Huruf:

ل ر

Contoh:

مِنْ رَبِّهِمْ

dibaca tanpa ghunnah.

3. IQLAB

Iqlab berarti mengubah.

Apabila نْ atau tanwin bertemu ب, maka suara nun/tanwin berubah menjadi suara mim samar disertai dengung.

Contoh:

أَنْبِئْهُمْ

atau:

سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Tanwin bertemu ب.

Cara praktis:

Jangan membaca:

samī'un bashīr

secara mentah.

Tetapi tanwin berubah menjadi bunyi mim samar:

samī‘um bashīr

dengan ghunnah.

4. IKHFA’ HAQIQI

Ikhfa’ berarti menyamarkan.

Jika nun sukun/tanwin bertemu salah satu dari 15 huruf ikhfa, maka suara nun dibaca samar antara izhar dan idgham, disertai ghunnah.

Contoh:

مَنْ صَبَرَ

Nun sukun bertemu ص.

أَنْفُسَكُمْ

Nun sukun bertemu ف.

Praktik:

Jangan terlalu jelas:

man-shabara

dan jangan pula melebur seluruhnya.

Baca dengan samar + dengung.

F. HUKUM MIM SUKUN

Mim sukun مْ mempunyai tiga hukum.

1. Izhar Syafawi

Jika mim sukun bertemu selain م dan ب, dibaca jelas.

Contoh:

عَلَيْهِمْ غَيْرِ

Mim dibaca jelas.

2. Ikhfa Syafawi

Jika mim sukun bertemu ب, dibaca samar dengan dengung.

Contoh:

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ

Perhatikan:

مْ + ب

dibaca dengan ikhfa syafawi.

3. Idgham Mimi

Jika mim sukun bertemu م, maka mim pertama dilebur ke mim kedua dengan ghunnah.

Contoh:

لَهُمْ مَا

Baca:

لَهُمَّا

dengan dengung yang tepat.

G. QALQALAH

Pengertian

Qalqalah adalah memantulkan suara ketika mengucapkan huruf tertentu dalam keadaan sukun.

Huruf qalqalah:

ق ط ب ج د

Mudah diingat:

قُطْبُ جَدٍّ

Contoh:

يَجْعَلْ

Huruf جْ mengalami qalqalah.

أَحَدْ

Ketika berhenti pada kata أَحَدْ, huruf د memantulkan suara.

Praktik:

Jangan diberi harakat tambahan.

Misalnya:

أَحَدْ

bukan:

أَحَدُ

Pantulan qalqalah bukan berarti menambahkan vokal baru.

H. HUKUM MAD

Mad berarti memanjangkan suara.

Huruf mad:

ا – و – ي

Mad Thabi'i

Panjang:

2 harakat

Contoh:

قَالَ

فِي

يَقُولُ

Latih:

قَا — قِي — قُو

Jangan terlalu pendek dan jangan berlebihan.

Mad Wajib Muttasil

Mad bertemu hamzah dalam satu kata.

Contoh:

جَاءَ

السَّمَاءِ

Dibaca lebih panjang daripada mad thabi'i sesuai riwayat bacaan yang digunakan, umumnya 4–5 harakat dalam Hafs ‘an ‘Ashim.

Mad Jaiz Munfasil

Huruf mad berada di akhir kata dan hamzah berada di awal kata berikutnya.

Contoh:

يَا أَيُّهَا

Dalam riwayat Hafs, umumnya dibaca 4–5 harakat ketika dibaca sambung.

I. HUKUM ALIF LAM

1. Alif Lam Syamsiyah

Lam tidak terdengar karena masuk ke huruf setelahnya.

Huruf syamsiyah antara lain:

ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن

Contoh:

الشَّمْسِ

Bukan:

al-syamsi

tetapi:

asy-syamsi

2. Alif Lam Qamariyah

Lam dibaca jelas.

Contoh:

الْحَمْدُ

الْقَمَرُ

Baca:

al-hamdu
al-qamaru

J. HUKUM RA (ر)

Huruf ر terkadang dibaca tebal (tafkhim) dan terkadang tipis (tarqiq), tergantung harakat dan keadaan di sekitarnya.

Contoh tebal:

رَبِّ

Ra berharakat fathah → tebal.

قُرْآنٌ

Ra sukun didahului dhammah → tebal.

Contoh tipis:

رِزْقًا

Ra berharakat kasrah → tipis.

Materi ini sebaiknya dilatih dengan mendengarkan guru karena hukum ra memiliki beberapa rincian.

K. GHUNNAH

Ghunnah adalah suara dengung yang keluar dari rongga hidung.

Paling jelas ketika:

نّ

atau

مّ

Contoh:

إِنَّ

ثُمَّ

النَّاسِ

Dibaca dengan dengung sekitar dua harakat pada nun atau mim bertasydid.

Latihan:

إِنَّ — أَنَّ — ثُمَّ — عَمَّ

Rasakan bahwa suara tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga memiliki resonansi melalui hidung.

L. WAQAF DAN IBTIDA'

Tajwid tidak selesai hanya dengan mengetahui idgham, ikhfa, mad dan qalqalah.

Kita juga harus mengetahui kapan berhenti dan dari mana memulai kembali.

Waqaf

Berhenti pada bacaan.

Ibtida'

Memulai bacaan setelah berhenti.

Contoh tanda dalam mushaf:

م → waqaf lazim
ج → boleh berhenti atau terus
قلى → lebih utama berhenti
صلى → lebih utama melanjutkan
لا → jangan berhenti pada tempat tersebut jika tidak ada kebutuhan.

M. LATIHAN TAJWID DENGAN SATU AYAT

Mari kita gunakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Perhatikan:

الْحَمْدُ

→ Alif lam qamariyah, lam dibaca jelas.

لِلَّهِ

→ lafaz Allah; lam jalalah dibaca tipis karena sebelumnya kasrah.

رَبِّ

→ ra dibaca tebal karena berharakat fathah.

الْعَالَمِينَ

→ alif setelah fathah menghasilkan mad thabi'i.

Jadi satu ayat saja sudah mengandung beberapa pelajaran tajwid.

N. LATIHAN AYAT BERIKUTNYA

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Perhatikan:

إِنَّا

Nun tasydid → ghunnah.

أَعْطَيْنَاكَ

Perhatikan makhraj ع, kemudian mad pada نَا.

الْكَوْثَرَ

Alif lam qamariyah → lam dibaca jelas.

Latihan dilakukan dengan pola:

Baca → dengarkan → ulangi → koreksi.

O. TIGA TINGKAT KESALAHAN YANG PERLU DIWASPADAI

1. Salah makhraj

Contoh:

ق menjadi ك

ص menjadi س

ح menjadi ه

2. Salah harakat

Misalnya fathah dibaca kasrah atau dhammah.

3. Salah panjang-pendek

Mad yang seharusnya 2 harakat dibaca terlalu pendek atau terlalu panjang.

Ketiga hal ini harus mendapat perhatian ketika belajar membaca Al-Qur’an.

P. CARA MUDAH BELAJAR TAJWID

Gunakan prinsip:

1. Jangan hanya membaca teori

Langsung praktik.

2. Jangan hanya membaca sendiri

Sesekali setor bacaan kepada guru.

3. Jangan takut dikoreksi

Koreksi adalah bagian dari belajar.

4. Jangan mengejar cepat khatam

Utamakan ketepatan dan ketenangan.

5. Belajar sedikit tetapi rutin

Misalnya setiap hari 10–15 menit.

Q. PESAN PENYULUHAN

Ada orang yang mampu membaca Al-Qur’an satu juz dalam sehari, tetapi belum tentu seluruh bacaannya sudah tepat.

Sebaliknya, ada orang yang membaca perlahan karena masih belajar, tetapi setiap hari berusaha memperbaiki makhraj dan tajwidnya.

Allah melihat kesungguhan kita.

Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata dalam membacanya karena kesulitan, baginya dua pahala.”
HR. Bukhari dan Muslim

Maka jangan malu mengatakan:

“Saya sedang belajar Al-Qur’an.”

Sebab yang berbahaya bukan belum bisa, tetapi tidak mau belajar.

R. KESIMPULAN

TAJWID BUKAN UNTUK MEMBUAT KITA SULIT MEMBACA AL-QUR’AN.

Justru tajwid dibuat untuk membantu kita:

✓ Mengucapkan huruf dengan benar
✓ Menjaga makna ayat
✓ Mengetahui panjang-pendek bacaan
✓ Menjaga dengung dan pantulan huruf
✓ Mengetahui tempat berhenti dan memulai
✓ Membaca Al-Qur’an dengan tartil

Kalimat kunci untuk jamaah:

“Belajar tajwid adalah belajar menjaga lisan agar ketika membaca kalam Allah, kita tidak sembarangan mengucapkannya.”

Dan satu pesan terakhir:

Tidak harus menjadi qari untuk belajar tajwid.
Tetapi setiap orang yang ingin membaca Al-Qur’an dengan benar, perlu belajar tajwid.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN MAKHRAJ DAN TAJWID YANG TEPAT

 


MATERI PENYULUHAN AGAMA ISLAM

MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN MAKHRAJ DAN TAJWID YANG TEPAT

“Membaca dengan benar, memahami dengan sadar, mengamalkan dengan cinta”

A. Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS. Membacanya merupakan ibadah. Namun, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dengan karakter bunyi dan kaidah yang khas, maka seorang Muslim perlu berusaha membacanya dengan makhraj dan tajwid yang benar.

Allah SWT berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)

Tartil bukan sekadar membaca dengan lambat, tetapi membaca dengan jelas, teratur, memperhatikan makhraj, sifat huruf, panjang-pendek bacaan, serta tempat berhenti dan memulai bacaan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan berbakti.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, belajar tajwid bukan hanya untuk menjadi qari atau hafiz. Setiap Muslim yang membaca Al-Qur’an perlu berusaha memperbaiki bacaannya sesuai kemampuan.

B. APA ITU MAKHRAJUL HURUF?

1. Pengertian

Makharijul huruf adalah tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah ketika diucapkan.

Secara sederhana:

Makhraj = dari mana suara huruf keluar.

Kesalahan makhraj dapat menyebabkan perubahan bunyi, bahkan dalam kondisi tertentu dapat mengubah makna kata.

2. Lima tempat utama keluarnya huruf

Para ulama tajwid secara umum mengelompokkan makhraj ke dalam lima tempat utama:

MakhrajPenjelasanContoh
Al-Jauf (الجوف)Rongga mulutا و ي mad
Al-Halq (الحلق)Tenggorokanء ه ع ح غ خ
Al-Lisan (اللسان)Lidahق ك ج ش ي ت د ط dll.
Asy-Syafatain (الشفتان)Dua bibirف ب م و
Al-Khaisyum (الخيشوم)Rongga hidungsuara ghunnah

Contoh praktis

Perhatikan:

حَ — هَ

  • حَ = ha dari tengah tenggorokan.

  • هَ = ha dari pangkal tenggorokan.

Keduanya sama-sama sering ditulis “ha”, tetapi makhrajnya berbeda.

Contoh lain:

سَ — صَ

  • س = sin, suara tipis.

  • ص = shad, suara tebal.

Jangan sampai صِرَاطَ dibaca seperti سِرَاطَ.

Dalam:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

huruf ص harus keluar dengan karakter yang benar.

C. SHIFATUL HURUF

1. Pengertian

Shifatul huruf adalah karakter atau sifat yang melekat pada suatu huruf ketika huruf tersebut diucapkan.

Kalau:

Makhraj menjawab: “Dari mana huruf keluar?”

maka:

Sifat huruf menjawab: “Bagaimana huruf itu dibunyikan?”

Dua huruf bisa memiliki makhraj yang berdekatan, tetapi mempunyai sifat suara yang berbeda.

2. Beberapa sifat huruf yang penting dipahami

a. Hams (الهمس) dan Jahr (الجهر)

Hams adalah mengalirnya napas ketika mengucapkan huruf tertentu.

Hurufnya dapat diingat melalui:

فَحَثَّهُ شَخْصٌ سَكَتْ

Contoh:

فَ، حَ، ثَ، هَ، شَ، خَ، صَ، سَ، كَ، تَ

Bandingkan:

سَ dan زَ

Pada سَ, hembusan napas lebih terasa.

b. Isti'la dan Istifal

Isti'la berarti terangkatnya bagian belakang lidah sehingga menghasilkan suara yang cenderung tebal.

Huruf isti'la:

خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ

yaitu:

خ ص ض غ ط ق ظ

Contoh:

قَالَ

Huruf ق dibaca tebal, bukan seperti ك.

Bandingkan:

قَلْبٌ
dan
كَلْبٌ

Kesalahan membedakan ق dan ك dapat menghasilkan bunyi dan kata yang berbeda.

D. TAFKHIM DAN TARQIQ

Tafkhim

Tafkhim adalah membaca huruf dengan suara tebal.

Huruf isti'la pada dasarnya dibaca tebal:

خ ص ض غ ط ق ظ

Contoh:

قَالَ – طَالَ – صَبْرٌ – غَفُورٌ

Tarqiq

Tarqiq adalah membaca dengan suara tipis.

Contoh:

سَ – تَ – كَ – لَ – مَ

Namun perlu diperhatikan bahwa beberapa huruf memiliki hukum khusus, terutama ر (ra) dan ل (lam) pada lafaz Allah.

Contoh:

قَالَ اللَّهُ

Lam pada lafaz Allah dibaca tebal karena sebelumnya berharakat fathah.

Sedangkan:

بِسْمِ اللَّهِ

Lam pada lafaz Allah dibaca tipis karena sebelumnya kasrah.

E. MAD WA QASHAR

1. Pengertian Mad

Mad (المد) berarti memanjangkan suara pada huruf mad.

Huruf mad ada tiga:

ا — و — ي

dengan ketentuan:

  • ا didahului fathah

  • وْ didahului dhammah

  • يْ didahului kasrah

Contoh:

قَالَqāla
يَقُولُyaqūlu
قِيلَqīla

2. Mad Thabi'i

Mad thabi'i atau mad asli dibaca 2 harakat.

Contoh:

قَالَ
فِي
يَقُولُ

Secara praktis:

قَا → 2 harakat
فِي → 2 harakat
قُو → 2 harakat

Jangan terlalu pendek sehingga menjadi seperti bacaan biasa, tetapi jangan pula dipanjangkan tanpa alasan.

3. Qashar

Qashar berarti memendekkan bacaan pada tempat yang memang tidak memiliki hukum mad.

Contoh:

لَمْ
أَنْ
مِنْ

Tidak semua alif, wau, atau ya otomatis dibaca panjang. Harus dilihat apakah memenuhi syarat sebagai huruf mad.

Latihan sederhana

Bandingkan:

قَالَ → panjang 2 harakat

dengan:

قَلْبٌ → tidak ada mad pada قَ

Ini penting karena panjang-pendek bacaan merupakan bagian dari ketepatan tajwid.

F. WAQAF DAN IBTIDA'

1. Pengertian Waqaf

Waqaf (الوقف) adalah menghentikan bacaan pada tempat tertentu dengan maksud melanjutkan kembali bacaan setelahnya.

Sedangkan:

Ibtida' (الابتداء) adalah memulai atau melanjutkan bacaan setelah berhenti.

Sederhananya:

Waqaf = di mana kita berhenti.
Ibtida' = dari mana kita mulai kembali.

Keduanya sangat penting karena berhenti pada tempat yang salah dapat mengganggu atau bahkan mengubah pemahaman makna ayat.

G. MENGENAL TANDA-TANDA WAQAF

Beberapa tanda waqaf yang sering ditemukan dalam mushaf:

م

Waqaf lazim — sebaiknya berhenti karena jika diteruskan dapat mengganggu makna.

لا

Jangan berhenti pada tempat tersebut apabila tidak diperlukan.

ج

Waqaf jaiz — boleh berhenti, boleh melanjutkan.

قلى

Lebih utama berhenti.

صلى

Lebih utama melanjutkan.

ۛ ۛ

Tanda waqaf mu'anaqah — biasanya terdapat dua tanda berpasangan. Berhenti pada salah satunya, bukan pada keduanya.

H. CONTOH PRAKTIS WAQAF

Perhatikan ayat:

لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ

Jangan membaca secara sembarangan dengan memotong kalimat sehingga makna menjadi tidak lengkap.

Demikian pula ketika membaca ayat yang panjang, seorang pembaca harus memahami struktur makna sebelum menentukan tempat berhenti.

Prinsip penting:

Jangan hanya bertanya: “Di sini boleh berhenti atau tidak?”

Tetapi juga tanyakan:

“Kalau saya berhenti di sini, apakah makna ayat masih utuh?”

Inilah pentingnya memadukan ilmu tajwid dengan pemahaman terhadap makna Al-Qur'an.

I. KESALAHAN YANG SERING TERJADI

1. Makhraj tidak tepat

Contoh:

س dibaca seperti ص

ذ dibaca seperti ز

ح dibaca seperti ه

ع sering hilang atau berubah menjadi hamzah.

2. Huruf tebal dibaca tipis

Misalnya:

طَالَ

dibaca seperti:

تَالَ

Padahal ط dan ت berbeda sifatnya.

3. Mad tidak konsisten

Kadang bacaan 2 harakat dibaca terlalu pendek, di lain tempat terlalu panjang.

4. Ghunnah tidak diperhatikan

Contoh:

إِنَّ

Huruf نّ mengandung tasydid sehingga dibaca dengan ghunnah.

Demikian juga:

ثُمَّ

Huruf مّ dibaca dengan dengung.

5. Berhenti sembarangan

Pembaca berhenti hanya karena kehabisan napas, tanpa memperhatikan kesempurnaan makna.

J. METODE LATIHAN PRAKTIS

Agar penyuluhan tidak berhenti pada teori, gunakan metode “Dengar – Tiru – Koreksi – Ulangi.”

Tahap 1 — Dengar

Peserta mendengarkan bacaan guru/pembimbing.

Tahap 2 — Tiru

Peserta mengikuti bacaan secara bersama-sama.

Tahap 3 — Koreksi

Guru memperhatikan:

  • makhraj,

  • sifat huruf,

  • mad,

  • ghunnah,

  • waqaf.

Tahap 4 — Ulangi

Peserta membaca kembali sampai semakin tepat.

K. LATIHAN 5 MENIT SETIAP HARI

Tidak perlu langsung mempelajari seluruh teori tajwid.

Mulailah dari:

Menit 1

Latihan makhraj:

أَ – عَ – حَ – هَ
سَ – صَ
تَ – طَ
دَ – ضَ
كَ – قَ

Menit 2

Latihan huruf tebal:

خَ – صَ – ضَ – غَ – طَ – قَ – ظَ

Menit 3

Latihan mad:

قَا – قُو – قِي

Menit 4

Latihan ghunnah:

إِنَّ – ثُمَّ – أَمَّا

Menit 5

Baca satu atau dua ayat dengan memperhatikan:

Makhraj + sifat + mad + waqaf.

Lebih baik lima menit setiap hari daripada belajar satu jam tetapi hanya sesekali.

L. PESAN PENYULUHAN

Ada orang yang malu mengakui:

“Bacaan Al-Qur’an saya belum lancar.”

Padahal tidak ada yang perlu dipermalukan.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika seseorang merasa sudah benar sehingga tidak mau belajar lagi.

Rasulullah SAW memberikan kabar gembira:

وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata dalam membacanya serta merasa kesulitan, baginya dua pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan malu belajar.

Lancar bukan alasan untuk berhenti belajar.
Belum lancar bukan alasan untuk berhenti membaca.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri.

M. PENUTUP

Membaca Al-Qur’an dengan baik bukan sekadar persoalan suara yang indah. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk penghormatan kepada kalam Allah SWT.

Ada empat hal yang perlu kita bawa pulang:

1. Makhraj — pastikan huruf keluar dari tempatnya.
2. Sifat huruf — pastikan karakter bunyinya benar.
3. Mad dan qashar — jaga panjang-pendek bacaan.
4. Waqaf dan ibtida' — berhenti dan memulai pada tempat yang tepat.

Dan akhirnya:

“Jangan hanya mengejar khatam Al-Qur’an, tetapi kejarlah kualitas bacaan dan kedekatan hati dengannya.”

Sebab Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dengan lisan, tetapi untuk dihidupkan dalam hati dan diwujudkan dalam kehidupan.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Kamis, 10 September 2026

KEMATIAN YANG DICEMBURUI

 


KEMATIAN YANG DICEMBURUI

Tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

A. Pendahuluan: Mengapa Ada Kematian yang Dicemburui?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada orang yang ketika meninggal dunia, kepergiannya membuat banyak orang menangis. Masjid terasa kehilangan. Majelis taklim terasa sepi. Keluarga kehilangan sosok yang menjadi tempat bertanya. Bahkan orang-orang yang tidak terlalu dekat pun merasa sedih karena selama hidupnya ia telah menebarkan manfaat.

Namun, ada pula orang yang meninggal dunia, lalu orang-orang berkata:

“Semoga kita mendapatkan akhir kehidupan seperti beliau.”

Apa yang membuat seseorang sampai dicemburui kematiannya?

Bukan karena hartanya yang banyak.
Bukan karena rumahnya yang besar.
Bukan pula semata-mata karena ia meninggal dalam usia lanjut.

Kematian yang dicemburui adalah kematian yang menjadi penutup perjalanan hidup yang baik, meninggalkan amal yang bermanfaat, serta menghadirkan kesaksian dan doa kebaikan dari orang-orang yang mengenalnya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)

Ayat ini menggambarkan cita-cita tertinggi seorang mukmin: pulang kepada Allah dalam keadaan rida dan diridai.

B. Kematian Adalah Kepastian, tetapi Husnul Khatimah Adalah Harapan

Allah SWT menegaskan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Kematian bukan persoalan apakah kita akan mati, tetapi bagaimana kita akan menghadapinya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga akhir perjalanan hidup. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena pernah berbuat baik, dan tidak boleh pula berputus asa karena pernah melakukan kesalahan.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri sampai Allah memanggil kita.

Renungan

Boleh jadi seseorang tidak terkenal di dunia, tetapi namanya harum di sisi Allah.

Boleh jadi ia tidak memiliki banyak pengikut, tetapi banyak orang yang mendoakannya.

Boleh jadi ia tidak meninggalkan gedung megah, tetapi meninggalkan anak-anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang terus mengalir.

Itulah kekayaan yang sesungguhnya.

C. Tanda-Tanda Husnul Khatimah dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Kita perlu berhati-hati: tidak ada manusia yang dapat memastikan seseorang pasti masuk surga hanya karena cara wafatnya. Penilaian akhir adalah hak Allah SWT.

Namun, Al-Qur’an dan Sunnah memberikan beberapa tanda yang dapat menjadi harapan baik.

1. Meninggal dalam Keadaan Beriman dan Bertakwa

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Ayat ini bukan berarti kita dapat menentukan kapan mati, tetapi merupakan perintah untuk senantiasa menjaga iman dan Islam hingga akhir hayat.

2. Mengucapkan Kalimat Tauhid

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang akhir perkataannya Lā ilāha illallāh, niscaya ia masuk surga.”
(HR. Abu Dawud)

Karena itu, ketika mendampingi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut, kita dianjurkan menuntunnya dengan lembut untuk mengingat Allah, tanpa memaksa atau membuatnya gelisah.

3. Meninggal dalam Keadaan Beramal Saleh

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Orang yang membiasakan diri dengan salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, dan memperbaiki hubungan dengan manusia, sedang mempersiapkan bekal terbaik untuk kepulangannya.

4. Meninggal dalam Keadaan Allah Rida

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya memiliki kerinduan kepada Allah, bukan karena ingin mempercepat kematian, tetapi karena ingin pulang dalam keadaan membawa iman dan amal saleh.

D. Ketika Jenazah Dihantar Banyak Orang: Apa Maknanya?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sering kita menyaksikan seseorang meninggal dunia, lalu jenazahnya diantar oleh banyak orang. Masjid penuh. Jalan dipadati pelayat. Orang-orang datang dari jauh. Bahkan mereka yang sedang sibuk rela meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri pemakaman.

Fenomena seperti ini sering membuat kita berkata:

“Masya Allah, banyak sekali yang mengantarkan. Semoga ini tanda akhir yang baik.”

Harapan tersebut baik, tetapi harus disampaikan dengan pemahaman yang benar.

1. Kesaksian Baik dari Orang-Orang Beriman

Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, ketika para sahabat memuji seorang jenazah dengan kebaikan, Rasulullah SAW bersabda:

“Wajib baginya.”
Kemudian ketika mereka menyebut keburukan seseorang, beliau juga bersabda: “Wajib baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan pentingnya kesaksian orang-orang beriman terhadap kebaikan atau keburukan seseorang, terutama ketika mereka benar-benar mengenalnya.

Artinya, apabila seseorang dikenal sebagai orang baik, suka menolong, menjaga salat, menghormati tetangga, dan bermanfaat bagi masyarakat, lalu banyak orang memberikan kesaksian baik atas dirinya, maka hal itu menjadi harapan besar akan kebaikan akhir hidupnya.

2. Banyak yang Mengiringi Jenazah Menunjukkan Cinta dan Manfaat

Allah SWT berfirman:

وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي

“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku.”
(QS. Taha: 39)

Ayat ini berbicara tentang Nabi Musa AS, tetapi memberikan pelajaran bahwa rasa cinta dan penerimaan di hati manusia merupakan salah satu bentuk karunia Allah.

Seseorang yang selama hidupnya menjaga hubungan baik, tidak menyakiti, suka membantu, dan hadir dalam kebutuhan masyarakat, sering kali akan dikenang dengan cinta.

Namun, perlu diingat:

Banyaknya pelayat bukan ukuran mutlak kemuliaan seseorang di sisi Allah.

Ada orang saleh yang meninggal dalam keadaan sederhana dan hanya sedikit yang mengantarkan. Ada pula orang yang dikenal luas karena kedudukan duniawi, tetapi belum tentu memiliki amal yang baik.

Yang terpenting adalah kualitas iman dan amalnya, bukan semata-mata jumlah orang yang hadir.

E. Contoh-Contoh Kematian yang Dicemburui

1. Wafatnya Rasulullah SAW

Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun di rumah Aisyah RA. Kepergian beliau mengguncang Madinah. Para sahabat menangis, masjid terasa kehilangan, dan umat Islam merasakan duka yang sangat mendalam.

Namun, Rasulullah SAW meninggalkan warisan yang tidak pernah habis:

  • Al-Qur’an.

  • Sunnah.

  • Akhlak mulia.

  • Umat yang mencintai beliau.

  • Ilmu yang terus diamalkan hingga hari kiamat.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Pelajaran: Kematian yang dicemburui adalah kematian yang meninggalkan rahmat dan manfaat bagi manusia.

2. Wafatnya Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah yang adil, sederhana, dan sangat takut kepada Allah. Ia hidup dalam kemewahan kekuasaan, tetapi memilih kesederhanaan dan amanah.

Ketika wafat, banyak orang mengenangnya sebagai pemimpin yang mengutamakan keadilan dan kepentingan umat.

Pelajaran: Jabatan bukan penghalang husnul khatimah. Yang menentukan adalah amanah yang dijalankan dengan takwa.

3. Wafatnya Imam Nawawi

Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang sangat tekun dalam ilmu dan ibadah. Karya-karyanya seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah terus dipelajari hingga hari ini.

Beliau meninggal dalam usia relatif muda, tetapi meninggalkan ilmu yang manfaatnya terus mengalir.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Pelajaran: Umur yang panjang bukan satu-satunya ukuran keberkahan. Yang penting adalah seberapa banyak manfaat yang ditinggalkan.

4. Orang Tua yang Saleh dan Dikenang Anak-Anaknya

Di tengah masyarakat, kita sering menemukan orang tua yang ketika meninggal dunia, anak-anaknya berkata:

“Ayah kami memang tidak meninggalkan banyak harta, tetapi beliau meninggalkan pendidikan, akhlak, dan doa yang tidak pernah putus.”

Anak-anak yang saleh akan terus mendoakan orang tuanya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga...”
(HR. Muslim)

Salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.

Pelajaran: Salah satu bentuk kematian yang dicemburui adalah ketika seseorang meninggalkan generasi yang meneruskan kebaikannya.

5. Orang yang Meninggal Setelah Menyelesaikan Amal Kebaikan

Ada orang yang meninggal setelah selesai mengajar Al-Qur’an, setelah membantu orang miskin, setelah menyelesaikan pembangunan masjid, atau setelah meminta maaf kepada keluarganya.

Kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti husnul khatimah, tetapi kita boleh berharap:

“Semoga Allah menerima amal baiknya dan menjadikan kebaikan itu sebagai penutup hidupnya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mempekerjakannya.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana Dia mempekerjakannya?”
Beliau menjawab, “Dia memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum kematiannya.”
(HR. Tirmidzi)

Pelajaran: Salah satu tanda kebaikan adalah Allah memberi kesempatan kepada seseorang untuk melakukan amal saleh sebelum wafatnya.

F. Kematian yang Dicemburui Bukan Berarti Ingin Segera Mati

Jamaah yang dirahmati Allah,

Membicarakan kematian yang baik bukan berarti kita boleh berharap agar segera mati karena merasa hidup ini berat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kita diperintahkan untuk memperbaiki hidup, memperbanyak amal, dan memohon husnul khatimah.

Doa yang diajarkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik.”

Dan:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami.”
(QS. Ali ‘Imran: 8)

G. Bagaimana Agar Kita Mendapat Kematian yang Dicemburui?

1. Perbaiki Hubungan dengan Allah

Jaga salat, perbanyak zikir, baca Al-Qur’an, dan jangan tinggalkan kewajiban.

2. Perbaiki Hubungan dengan Manusia

Mintalah maaf, jangan suka menyakiti, jangan merampas hak orang lain, dan jangan menyimpan dendam.

3. Tinggalkan Amal yang Bermanfaat

Ajarkan ilmu, bantu orang miskin, wakafkan sebagian harta, dan didik anak-anak dengan agama.

4. Biasakan Berbuat Baik Setiap Hari

Jangan menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.

5. Berdoa agar Allah Menutup Hidup dengan Kebaikan

Karena husnul khatimah adalah karunia Allah yang harus kita mohonkan setiap hari.

H. Penutup: Jadilah Orang yang Ketika Pergi, Kebaikannya Tetap Tinggal

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kematian yang dicemburui bukanlah kematian yang membuat kita ingin segera meninggalkan dunia. Kematian yang dicemburui adalah kematian yang membuat kita berkata:

“Ya Allah, jika tiba saatnya Engkau memanggilku, panggillah aku dalam keadaan Engkau ridai.”

Jangan hanya bercita-cita meninggal dengan banyak orang yang mengantar. Bercita-citalah menjadi orang yang selama hidupnya banyak memberi manfaat.

Jangan hanya ingin dikenang setelah meninggal. Berusahalah menjadi orang yang ketika hidupnya masih ada, kehadirannya sudah dirasakan manfaatnya.

Jangan hanya ingin jenazah kita didoakan. Biasakanlah mendoakan orang lain ketika mereka masih hidup.

Karena sesungguhnya, kematian yang dicemburui adalah ketika seseorang pulang kepada Allah dengan membawa iman, amal saleh, dan cinta dari orang-orang yang ditinggalkannya.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan akhir kehidupan kita sebagai akhir yang baik.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Pertanyaan Refleksi untuk Jamaah

  1. Jika saya meninggal hari ini, amal apa yang paling saya harapkan diterima Allah?

  2. Apakah saya sudah menjadi orang yang dirindukan karena kebaikannya, bukan ditakuti karena keburukannya?

  3. Jika orang-orang diminta bersaksi tentang saya, kebaikan apa yang mungkin mereka sebutkan?

  4. Apa satu amal yang akan saya mulai hari ini agar menjadi bekal akhirat?

Pesan utama:

“Jangan hanya mempersiapkan kematian agar banyak yang mengantar, tetapi persiapkanlah kehidupan agar banyak yang merasakan manfaat.”

Semoga materi ini bermanfaat untuk penyuluhan dan pembinaan umat.

Selasa, 08 September 2026

Mengambil Hikmah dari Karhutla dan Gunung Meletus

ASAP VS AZAB

Mengambil Hikmah dari Karhutla dan Gunung Meletus

Materi Penyuluhan Agama Islam
Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

A. Pengantar: Ketika Langit Berubah Kelabu

Ada saatnya kita menatap langit yang biasanya biru, tetapi berubah menjadi kelabu.

Udara yang seharusnya kita hirup dengan bebas berubah menjadi asap. Mata terasa pedih, napas terganggu, aktivitas masyarakat terhambat. Di tempat lain, gunung yang selama ini tampak kokoh tiba-tiba mengeluarkan abu vulkanik, lava, awan panas, atau material lainnya.

Karhutla dan gunung meletus sama-sama mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”
(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini sangat relevan untuk menjadi bahan introspeksi.

Namun kita juga harus berhati-hati.

Tidak setiap bencana boleh langsung kita vonis sebagai azab Allah.

Bencana bisa menjadi ujian, musibah, peringatan, akibat kerusakan yang dilakukan manusia, atau bentuk ketetapan Allah yang hikmahnya tidak seluruhnya kita ketahui.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Ini azab atau bukan?”

Tetapi:

“Apa yang harus kita lakukan setelah melihat musibah ini?”

B. ASAP: Bukan Sekadar Kabut di Udara

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan.

Ia membawa pesan yang lebih besar.

1. Asap mengingatkan kita tentang rapuhnya kehidupan

Manusia sering merasa kuat.

Kita membangun rumah, gedung, jalan, industri, teknologi dan berbagai fasilitas kehidupan.

Tetapi satu peristiwa alam dapat membuat kita sadar:

manusia tetap makhluk yang lemah.

Allah SWT berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa': 28)

Maka jangan sombong terhadap alam.

Jangan pula merasa bahwa kemampuan teknologi membuat manusia bebas melakukan apa saja.

C. KARHUTLA: MUSIBAH ATAU AKIBAT PERBUATAN?

Kebakaran hutan dan lahan mempunyai banyak faktor.

Ada faktor alam, seperti kondisi kering dan cuaca tertentu. Tetapi pada sebagian kasus, kebakaran juga dapat berkaitan dengan aktivitas manusia, kelalaian, atau kesengajaan.

Di sinilah Al-Qur'an mengajak manusia melakukan evaluasi.

Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki...”
(QS. Al-A'raf: 56)

Artinya, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan sosial.

Menjaga lingkungan juga bagian dari amanah agama.

D. ASAP VS AZAB

Inilah inti materi kita.

ASAP adalah fenomena yang dapat kita lihat.

Kita bisa melihat asap, merasakan sesaknya udara, melihat jarak pandang berkurang.

AZAB adalah istilah teologis.

Azab berkaitan dengan hukuman Allah terhadap manusia karena kekufuran, pembangkangan, atau dosa sesuai kehendak-Nya.

Masalahnya:

Kita tidak memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa bencana tertentu adalah azab kepada kelompok tertentu, kecuali ada dalil yang jelas.

Karena itu, jangan mudah berkata:

“Itu azab karena masyarakat di sana banyak dosa.”

Kalimat seperti itu bisa melukai korban yang sedang menderita.

Bisa jadi orang yang terkena musibah justru lebih sabar dan lebih dekat kepada Allah daripada orang yang sedang menunjuk-nunjuk mereka.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa seorang mukmin menghadapi musibah dengan kesabaran dan menghadapinya sebagai bagian dari ketetapan Allah.

E. GUNUNG MELETUS: KETIKA BUMI BERBICARA

Gunung dalam Al-Qur'an bukan sekadar objek pemandangan.

Allah berfirman:

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

“Dan gunung-gunung sebagai pasak.”
(QS. An-Naba': 7)

Allah juga berfirman:

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”
(QS. Al-Ghasyiyah: 19)

Gunung yang selama bertahun-tahun terlihat tenang ternyata menyimpan dinamika geologis.

Ketika ia meletus, manusia kembali diingatkan:

bumi yang kita pijak bukan milik kita sepenuhnya.

Kita hanya dititipi untuk tinggal di dalamnya.

F. JANGAN HANYA TAKUT KEPADA BENCANA

Ketika gunung meletus, kita takut.

Ketika asap memenuhi udara, kita khawatir.

Ketika hujan abu turun, kita panik.

Itu manusiawi.

Tetapi seorang mukmin harus mampu mengubah rasa takut menjadi kesadaran spiritual.

Takut bukan hanya kepada asap.

Takut bukan hanya kepada gunung.

Tetapi takut kepada Allah SWT, lalu memperbaiki hubungan kita dengan-Nya dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia serta alam.

Allah berfirman:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Maka larilah kembali kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 50)

Ketika musibah datang:

kita berlindung kepada Allah, bukan menyerah kepada ketakutan.

G. BENCANA SEBAGAI UJIAN

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan...”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini memberikan perspektif penting.

Musibah tidak selalu berarti:

“Allah sedang menghukum.”

Musibah juga dapat menjadi:

  • ujian kesabaran;

  • penghapus dosa;

  • sarana meningkatkan ketakwaan;

  • momentum memperkuat solidaritas;

  • pengingat agar manusia kembali kepada Allah;

  • kesempatan memperbaiki kesalahan.

H. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

1. MUHASABAH

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa Allah memberikan bencana?”

Tetapi bertanyalah:

“Apa yang selama ini telah kita lakukan terhadap bumi?”

Apakah kita membuang sampah sembarangan?

Apakah kita melakukan pembakaran tanpa memperhatikan dampaknya?

Apakah kita mengeksploitasi alam secara berlebihan?

Apakah kita sudah menjaga amanah Allah?

2. TAUBAT

Jika ada kesalahan, jangan menunggu bencana berikutnya untuk berubah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.”
(QS. At-Tahrim: 8)

Taubat bukan hanya ucapan astaghfirullah.

Taubat harus diikuti perubahan perilaku.

I. MENJAGA LINGKUNGAN ADALAH IBADAH

Islam mengajarkan keseimbangan.

Allah berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A'raf: 31)

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar manusia tidak melakukan kerusakan dan tidak menimbulkan bahaya bagi orang lain.

Kaidah fikih yang sangat terkenal:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Maka:

mencegah kebakaran, menjaga hutan, tidak membakar lahan sembarangan, menjaga kualitas udara, dan membantu korban bencana adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.

J. JANGAN MENJADI “PEMBAWA ASAP” DI TENGAH MUSIBAH

Ada satu fenomena lain yang perlu kita waspadai.

Ketika bencana terjadi, muncul pula “asap informasi”:

  • hoaks;

  • video lama yang diklaim sebagai kejadian terbaru;

  • berita yang belum terverifikasi;

  • tuduhan kepada kelompok tertentu;

  • klaim bahwa bencana pasti merupakan azab;

  • konten yang menakut-nakuti masyarakat.

Padahal Allah mengingatkan:

فَتَبَيَّنُوا

“Maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Jangan sampai asap dari hutan hilang, tetapi asap hoaks justru semakin tebal.

K. DARI BENCANA MENUJU SOLIDARITAS

Ketika saudara kita terdampak karhutla atau erupsi gunung, jangan sibuk mencari siapa yang paling berdosa.

Mari mencari siapa yang membutuhkan pertolongan.

Islam mengajarkan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)

Maka bentuk nyata kepedulian dapat berupa:

  • membantu kebutuhan pengungsi;

  • menyediakan masker dan kebutuhan kesehatan;

  • membantu distribusi makanan;

  • membantu kelompok rentan;

  • menjadi relawan;

  • menjaga kebersihan lingkungan;

  • tidak menyebarkan informasi palsu;

  • mendoakan keselamatan masyarakat terdampak.

L. 5 HIKMAH BESAR DARI ASAP DAN ERUPSI

1. Manusia itu lemah

Jangan sombong dengan kemampuan yang dimiliki.

2. Alam adalah amanah

Bumi bukan tempat untuk dieksploitasi tanpa batas.

3. Musibah adalah momentum muhasabah

Peristiwa alam hendaknya membuat kita mengevaluasi diri.

4. Jangan mudah memvonis azab

Kita tidak mengetahui secara pasti rahasia Allah di balik sebuah musibah.

5. Kesalehan harus melahirkan kepedulian

Semakin dekat kepada Allah, seharusnya semakin peduli kepada manusia dan lingkungan.

M. REFLEKSI UNTUK JAMA'AH

Mari kita renungkan:

Ketika asap memenuhi udara, apakah hati kita juga sedang dipenuhi “asap” dosa?

Asap di luar mungkin hilang ketika angin bertiup.

Tetapi bagaimana dengan:

  • asap kesombongan?

  • asap kemarahan?

  • asap iri hati?

  • asap fitnah?

  • asap korupsi?

  • asap permusuhan?

  • asap kebencian?

  • asap kerusakan lingkungan?

Bencana alam hendaknya menjadi kesempatan untuk membersihkan bumi sekaligus membersihkan hati.

N. PENUTUP: ASAP BOLEH TEBAL, IMAN JANGAN SAMPAI TIPIS

Karhutla mengajarkan kita tentang api.

Gunung meletus mengajarkan kita tentang kekuatan alam.

Asap mengajarkan kita tentang keterbatasan manusia.

Dan Al-Qur'an mengajarkan kita bagaimana membaca semua itu dengan iman, ilmu dan akhlak.

Jangan tergesa-gesa mengatakan:

“Ini azab!”

Tetapi katakan:

“Ini adalah peristiwa yang harus kita hadapi dengan ikhtiar, ilmu, kesabaran, doa, dan muhasabah.”

Jangan hanya sibuk mencari kesalahan orang lain.

Perbaikilah diri.

Jangan hanya menyalahkan alam.

Rawatlah alam.

Jangan hanya takut kepada bencana.

Kembalilah kepada Allah.

Dan jangan hanya berdoa agar asap segera hilang.

Berdoalah agar setelah asap hilang, kesadaran kita tetap menyala.

"ASAP BOLEH MENYELIMUTI LANGIT,

TETAPI JANGAN BIARKAN DOSA MENYELIMUTI HATI."

Wallahu a'lam bish-shawab.

Senin, 07 September 2026

Kebakaran Hutan: Pesan Teologis Ilahi buat Kita

 


Kebakaran Hutan: Pesan Teologis Ilahi buat Kita

Oleh: Wahyu Salim

Setiap musim kemarau tiba, kita kembali dihadapkan pada pemandangan yang sama: hutan terbakar, asap mengepul, langit berubah kelabu, dan masyarakat harus menghirup udara yang tidak sehat. Di sejumlah wilayah, kebakaran hutan dan lahan bahkan terus berulang dari tahun ke tahun. Pertanyaan pun muncul: apakah semua ini semata-mata karena faktor alam, atau ada campur tangan manusia yang sengaja membakar?

Pertanyaan tersebut penting. Namun, bagi seorang mukmin, ada pertanyaan yang lebih dalam: pesan apa yang hendak kita baca dari peristiwa kebakaran hutan ini?

Al-Qur’an mengajarkan bahwa alam bukan sekadar benda mati yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah ciptaan Allah, tanda-tanda kebesaran-Nya, sekaligus amanah yang harus dijaga. Karena itu, ketika hutan terbakar, kita tidak cukup hanya menghitung kerugian ekonomi. Kita juga perlu melakukan muhasabah: sudah sejauh mana manusia menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi?

Kemarau Datang, Kebakaran Berulang

Musim kemarau memang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Tanah menjadi kering, tumbuhan kehilangan kelembapan, dan api lebih mudah menjalar. Dalam kondisi tertentu, petir atau faktor alam lainnya juga dapat menjadi pemicu.

Namun, kemarau tidak selalu berarti kebakaran pasti terjadi. Hutan yang sehat, dikelola dengan baik, dan dilindungi dari aktivitas pembakaran memiliki kemampuan lebih besar untuk menghadapi musim kering.

Di sinilah kita perlu membedakan antara faktor pemicu dan faktor penyebab.

Kemarau dapat menjadi pemicu, tetapi pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian manusia, pembuangan puntung rokok, atau tindakan sengaja dapat menjadi penyebab yang memperparah keadaan. Tidak semua kebakaran dapat langsung dituduhkan sebagai kesengajaan, tetapi juga tidak tepat jika setiap kebakaran dianggap semata-mata sebagai bencana alam.

Sikap yang bijak adalah melakukan penyelidikan berdasarkan bukti, bukan sekadar dugaan. Jika ditemukan unsur kesengajaan, maka penegakan hukum harus berjalan. Jika terjadi karena kelalaian, edukasi dan tanggung jawab harus ditegakkan. Dan jika faktor alam berperan, manusia tetap berkewajiban melakukan pencegahan serta perlindungan.

Sebab, alam memang memiliki hukum-hukumnya, tetapi manusia memiliki tanggung jawab moral atas tindakannya.

Al-Qur’an Mengingatkan: Kerusakan Itu Bisa Berasal dari Tangan Manusia

Allah Swt. berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
QS. Ar-Rum [30]: 41

Ayat ini sangat relevan untuk membaca persoalan lingkungan hari ini.

Kerusakan hutan, pencemaran udara, banjir akibat rusaknya daerah resapan, dan hilangnya keanekaragaman hayati tidak selalu terjadi tanpa sebab. Sebagian merupakan akibat dari keputusan manusia yang tidak mempertimbangkan keseimbangan alam.

Namun, ayat ini tidak boleh dipahami secara serampangan bahwa setiap kebakaran pasti merupakan hukuman Allah kepada masyarakat tertentu. Kita tidak memiliki kewenangan untuk memastikan maksud gaib Allah di balik suatu bencana.

Yang dapat kita lakukan adalah mengambil pelajaran, memperbaiki perilaku, dan mencegah kerusakan yang berada dalam tanggung jawab kita.

Jika manusia membuka lahan dengan membakar tanpa pengendalian, maka ia harus bertanggung jawab. Jika ada pihak yang sengaja membakar hutan demi keuntungan, maka ia bukan hanya merugikan negara, tetapi juga mengkhianati amanah Allah.

Bumi Bukan Milik Mutlak Manusia

Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya...”
QS. Al-A’raf [7]: 56

Ayat ini mengandung prinsip penting: manusia tidak boleh menjadikan bumi sebagai ruang bebas untuk melakukan apa saja.

Hutan bukan sekadar kayu yang dapat dijual. Hutan adalah tempat hidup berbagai makhluk, penyimpan air, penjaga tanah, pengatur iklim, dan bagian dari keseimbangan kehidupan.

Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Satwa kehilangan habitat, sumber air terganggu, tanah menjadi rentan erosi, dan masyarakat sekitar menanggung dampaknya. Anak-anak, orang lanjut usia, serta kelompok rentan dapat mengalami gangguan kesehatan akibat asap.

Karena itu, menjaga hutan bukan sekadar agenda pemerintah atau aktivis lingkungan. Menjaga hutan adalah bagian dari menjaga kehidupan.

Khalifah Bukan Penguasa yang Bebas Merusak

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
QS. Al-Baqarah [2]: 30

Manusia disebut khalifah bukan berarti bebas memperlakukan bumi sesuka hati. Kekhalifahan justru mengandung amanah, tanggung jawab, dan pertanggungjawaban.

Seorang khalifah harus mampu menggunakan sumber daya alam secara bijaksana. Ia boleh memanfaatkan hutan, tetapi tidak boleh merusaknya tanpa batas. Ia boleh mengelola lahan, tetapi tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Dalam perspektif Islam, pemanfaatan alam harus berjalan bersama pemeliharaan alam.

Karena itu, pembangunan ekonomi yang mengabaikan lingkungan bukanlah keberhasilan yang utuh. Keuntungan yang diperoleh hari ini tidak boleh dibayar dengan penderitaan generasi mendatang.

Apakah Membakar Hutan Demi Keuntungan Dapat Dibenarkan?

Islam mengakui hak manusia untuk mencari nafkah dan mengelola sumber daya. Namun, hak tersebut tidak bersifat mutlak. Ia dibatasi oleh prinsip keadilan, kemaslahatan, dan larangan menimbulkan mudarat.

Rasulullah saw. bersabda:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
HR. Ibnu Majah, no. 2340; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis.

Kaidah ini dikenal luas dalam fikih: la dharar wa la dhirar.

Jika pembakaran hutan menyebabkan masyarakat kehilangan udara bersih, mengganggu kesehatan, merusak sumber penghidupan, dan mengancam keselamatan, maka tindakan tersebut jelas bertentangan dengan prinsip tidak boleh membahayakan orang lain.

Keuntungan pribadi tidak boleh dibangun di atas penderitaan masyarakat luas.

Lebih-lebih jika pembakaran dilakukan dengan sengaja demi membuka lahan secara murah dan cepat. Tindakan semacam itu bukan hanya persoalan teknis pertanian, tetapi juga persoalan amanah, keadilan, dan tanggung jawab di hadapan Allah.

Api yang Kecil, Dampaknya Bisa Besar

Sering kali manusia meremehkan tindakan kecil. Puntung rokok dibuang sembarangan. Api unggun ditinggalkan tanpa dipastikan padam. Sampah dibakar di dekat lahan kering. Pembukaan lahan dilakukan tanpa memperhitungkan arah angin dan kondisi sekitar.

Padahal, api yang kecil dapat menjadi bencana besar.

Islam mengajarkan bahwa amal manusia, sekecil apa pun, tetap memiliki konsekuensi.

Allah Swt. berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8

Ayat ini memang berbicara tentang pertanggungjawaban amal secara umum. Namun, ia mengajarkan kepada kita sebuah kesadaran penting: jangan meremehkan perbuatan kecil, karena dampaknya dapat menjadi besar.

Satu tindakan ceroboh dapat merusak ribuan hektare hutan. Satu keputusan yang tidak bertanggung jawab dapat menimbulkan kerugian yang ditanggung banyak orang.

Jangan Menunggu Bencana untuk Belajar Bersyukur

Sering kali kita baru menyadari pentingnya udara bersih ketika asap memenuhi langit. Kita baru menghargai hutan ketika sumber air mengering. Kita baru memahami pentingnya lingkungan ketika kesehatan terganggu.

Padahal, Allah telah mengingatkan:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
QS. Ar-Rahman [55]: 13

Udara yang kita hirup, air yang kita minum, pepohonan yang menaungi kita, dan tanah yang menjadi tempat hidup adalah nikmat Allah.

Bersyukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah. Syukur juga harus diwujudkan dengan menjaga nikmat tersebut agar tidak rusak.

Merusak lingkungan sambil mengaku bersyukur adalah sebuah pertentangan dalam perilaku.

Pesan Teologis yang Perlu Kita Renungkan

Dari peristiwa kebakaran hutan, setidaknya ada beberapa pesan teologis yang dapat kita renungkan.

Pertama, manusia bukan pemilik mutlak bumi

Allah adalah pemilik seluruh alam. Manusia hanya diberi amanah untuk mengelola dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Kedua, kerusakan lingkungan adalah persoalan moral

Ketika tindakan manusia merugikan makhluk lain, masyarakat, dan generasi mendatang, persoalan tersebut tidak lagi sekadar teknis. Ia menyentuh wilayah akhlak dan tanggung jawab.

Ketiga, bencana harus menjadi momentum muhasabah

Kita tidak perlu tergesa-gesa menghakimi korban atau memastikan bahwa suatu bencana adalah hukuman Allah. Yang lebih penting adalah memperbaiki perilaku, memperkuat pencegahan, dan menegakkan keadilan.

Keempat, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah

Menanam pohon, menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, mencegah kebakaran, dan mengedukasi masyarakat merupakan bentuk amal yang bernilai ketika dilakukan dengan niat yang benar.

Kelima, penegakan hukum adalah bagian dari menjaga amanah

Jika ada pihak yang sengaja membakar hutan, maka tindakan tersebut harus diproses sesuai hukum. Membiarkan kerusakan demi kepentingan tertentu berarti mengabaikan amanah untuk menjaga bumi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Persoalan kebakaran hutan tidak dapat diselesaikan hanya dengan ceramah. Ia membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, aparat penegak hukum, tokoh agama, dan lembaga pendidikan.

Namun, masyarakat dapat memulai dari hal-hal sederhana:

  • Tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan.

  • Memastikan api benar-benar padam setelah digunakan.

  • Melaporkan titik api atau aktivitas pembakaran yang mencurigakan.

  • Mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

  • Menanam dan merawat pohon.

  • Mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menjaga lingkungan.

  • Mendorong tokoh agama untuk memasukkan pesan ekologis dalam khutbah, ceramah, dan kegiatan pembinaan umat.

Bagi penyuluh agama, persoalan ini juga merupakan ruang dakwah yang penting. Dakwah tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam.

Masjid, majelis taklim, sekolah, dan lembaga keagamaan dapat menjadi pusat edukasi lingkungan. Pesan tentang amanah, larangan merusak, tidak boleh membahayakan orang lain, dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang perlu diterjemahkan menjadi perilaku nyata.

Penutup: Membaca Tanda-Tanda Allah dengan Tindakan

Kebakaran hutan yang terus berulang setiap musim kemarau seharusnya tidak hanya menjadi berita tahunan. Ia harus menjadi cermin bagi kita semua.

Apakah kita telah menjaga bumi sebagaimana amanah Allah?

Apakah kita masih menganggap hutan hanya sebagai sumber keuntungan?

Apakah kita telah mengajarkan kepada generasi muda bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman?

Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
QS. Al-Qashash [28]: 77

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak dibangun dengan kerusakan. Kemajuan tidak boleh mengorbankan kelestarian. Keuntungan tidak boleh menghapus keadilan.

Kebakaran hutan adalah peringatan bahwa bumi memiliki batas, dan manusia memiliki tanggung jawab.

Mari kita membaca pesan Ilahi itu bukan dengan ketakutan semata, tetapi dengan kesadaran, kepedulian, dan tindakan nyata.

Sebab, menjaga bumi adalah bagian dari menjaga amanah Allah. Dan menjaga amanah Allah adalah bagian dari jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
#penyuluhagamaislambergerak

Ketika Al-Qur’an Dekat di Tangan, tetapi Jauh dari Kehidupan

 


Membaca, Memahami, dan Mengamalkan Al-Qur’an di Tengah Fenomena Umat Masa Kini

Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada pemandangan yang semakin akrab dalam kehidupan kita. Al-Qur’an tersedia di rumah, masjid, mushalla, bahkan di dalam telepon genggam. Ketika ingin membaca, kita tidak perlu selalu mencari mushaf. Cukup membuka aplikasi, mengetuk layar, lalu ayat-ayat suci hadir di hadapan mata.

Namun, di tengah kemudahan itu, muncul sebuah pertanyaan penting: Apakah kedekatan kita dengan Al-Qur’an sudah benar-benar mengubah kehidupan kita?

Pertanyaan ini bukan untuk menuduh bahwa umat Islam tidak mencintai Al-Qur’an. Justru sebaliknya, kecintaan itu perlu terus dirawat agar tidak berhenti pada simbol, kebiasaan sesaat, atau sekadar kemampuan melantunkan ayat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk menjadi petunjuk kehidupan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus...”
(QS. Al-Isra’ [17]: 9)

Ayat ini mengingatkan bahwa Al-Qur’an memiliki tujuan yang sangat besar: membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Karena itu, membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi pintu masuk menuju perubahan diri, keluarga, dan masyarakat.

Al-Qur’an di Era Digital: Sebuah Kemudahan yang Patut Disyukuri

Perkembangan teknologi telah membuka peluang besar bagi umat Islam untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kini, membaca, mendengarkan murattal, mencari terjemahan, dan mempelajari tafsir dapat dilakukan melalui berbagai perangkat digital.

Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) juga mengembangkan layanan Qur’an Kemenag sebagai salah satu sarana digital untuk memudahkan masyarakat mengakses Al-Qur’an. Pada April 2026, LPMQ melaporkan bahwa akumulasi jangkauan pengguna layanan Qur’an Kemenag dari berbagai platform telah mencapai 77,6 juta pengguna. Angka ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana yang sangat luas untuk mendekatkan umat kepada Al-Qur’an.

Kemudahan ini patut disyukuri. Anak-anak dapat belajar membaca melalui audio. Orang dewasa dapat membaca di sela-sela pekerjaan. Para penyuluh agama, guru, dan pendakwah dapat mencari ayat serta rujukan dengan lebih praktis.

Tetapi, kemudahan akses tidak otomatis menjamin kedalaman penghayatan.

Memiliki aplikasi Al-Qur’an belum tentu sama dengan memiliki kebiasaan membaca. Membaca belum tentu sama dengan memahami. Memahami belum tentu sama dengan mengamalkan.

Di sinilah tantangan kita.

Fenomena Umat: Banyak Aktivitas, tetapi Waktu untuk Al-Qur’an Sering Terdesak

Kehidupan umat saat ini diwarnai berbagai kesibukan. Ada yang bekerja sejak pagi, mengurus keluarga, berdagang, belajar, mengelola usaha, hingga menghadapi tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks.

Di sisi lain, telepon genggam terus menawarkan berbagai hiburan dan informasi. Waktu yang semula ingin digunakan untuk membaca Al-Qur’an kadang bergeser menjadi waktu untuk menggulir media sosial, menonton video, atau mengikuti percakapan yang tidak selalu bermanfaat.

Bukan berarti teknologi harus dijauhi. Yang perlu diperbaiki adalah cara kita mengatur perhatian dan waktu.

Sebab, sering kali masalah kita bukan tidak memiliki waktu, melainkan belum memberikan Al-Qur’an tempat yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bisa meluangkan waktu untuk membaca berita, mengikuti perkembangan dunia, dan menikmati hiburan. Maka, sudah semestinya kita juga menyediakan waktu untuk membaca kitab suci yang menjadi pedoman hidup kita.

Allah SWT berfirman:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 2)

Ayat ini mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan tambahan. Ia adalah petunjuk yang seharusnya menempati posisi penting dalam kehidupan seorang muslim.

Keutamaan Membaca Al-Qur’an: Pahala yang Tidak Boleh Diremehkan

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya...”

HR. At-Tirmidzi, no. 2910.

Hadis ini menunjukkan betapa besar kemurahan Allah SWT. Setiap huruf yang dibaca memiliki nilai pahala.

Bayangkan seorang ibu yang membaca Al-Qur’an setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Seorang ayah yang membaca beberapa halaman sebelum berangkat bekerja. Seorang pelajar yang menyempatkan membaca setelah Subuh. Atau seorang lansia yang tetap belajar meskipun bacaannya belum lancar.

Tidak ada usaha yang sia-sia di sisi Allah.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka baginya dua pahala.”

HR. Al-Bukhari, no. 4937; Muslim, no. 798.

Hadis ini menjadi kabar gembira bagi siapa saja yang masih belajar. Jangan malu karena belum lancar. Jangan merasa terlalu tua untuk belajar. Jangan pula menganggap bahwa membaca sedikit tidak berarti.

Yang penting bukan hanya seberapa banyak kita membaca, tetapi apakah kita terus mendekat kepada Al-Qur’an.

Dari Bacaan Menuju Tadabbur

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah. Namun, Al-Qur’an juga mengajak manusia untuk merenungkan maknanya.

Allah SWT berfirman:

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad [47]: 24)

Tadabbur berarti berusaha memahami, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah.

Misalnya, ketika kita membaca ayat tentang kejujuran, kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah saya sudah jujur dalam pekerjaan, perdagangan, dan kehidupan keluarga?”

Ketika membaca ayat tentang berbakti kepada orang tua, kita bertanya:

“Apakah saya masih sering menyakiti hati orang tua dengan ucapan atau sikap?”

Ketika membaca ayat tentang larangan ghibah, kita bertanya:

“Apakah lisan saya sudah aman dari membicarakan keburukan orang lain?”

Ketika membaca ayat tentang persaudaraan, kita bertanya:

“Apakah saya ikut memperkuat kerukunan, atau justru mudah menyebarkan permusuhan?”

Inilah salah satu bentuk hubungan yang hidup dengan Al-Qur’an: ayat yang dibaca menjadi pertanyaan untuk diri sendiri, bukan hanya untuk orang lain.

Fenomena Media Sosial: Ketika Ayat Menjadi Kutipan, tetapi Nilainya Belum Menjadi Akhlak

Di media sosial, kita sering menemukan ayat Al-Qur’an yang dibagikan dalam bentuk gambar, video, atau kutipan singkat. Ini merupakan hal yang baik apabila dilakukan dengan benar.

Namun, ada tantangan yang perlu diperhatikan. Ayat kadang dibagikan tanpa memahami konteksnya, tanpa memeriksa ketepatan terjemahan, atau tanpa mengetahui penjelasan ulama yang terpercaya.

Lebih dari itu, ada pula fenomena ketika seseorang rajin membagikan nasihat agama, tetapi belum tentu menerapkan nasihat tersebut dalam kehidupan nyata.

Tentu, kita tidak boleh mudah menghakimi orang lain. Bisa jadi seseorang sedang belajar dan berusaha memperbaiki diri. Tetapi, kita juga perlu mengingatkan diri sendiri bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bahan untuk memperindah unggahan, melainkan pedoman untuk memperbaiki perilaku.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

HR. Al-Bukhari, no. 5027.

Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an adalah kemuliaan. Namun, kemuliaan itu semakin sempurna apabila ilmu yang dipelajari melahirkan amal yang baik.

Al-Qur’an dan Persoalan Akhlak Umat

Kita sering mendengar keluhan tentang menurunnya kesantunan dalam berkomunikasi, mudahnya orang saling mencela, menyebarnya berita yang belum tentu benar, serta munculnya perpecahan di tengah masyarakat.

Dalam keadaan seperti ini, Al-Qur’an memiliki peran yang sangat penting.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan...”
(QS. An-Nahl [16]: 90)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan beragama tidak boleh dipisahkan dari akhlak sosial.

Orang yang dekat dengan Al-Qur’an seharusnya semakin menjaga keadilan, semakin lembut dalam berbicara, semakin peduli kepada sesama, dan semakin mampu menahan diri dari permusuhan.

Al-Qur’an yang benar-benar dihayati akan melahirkan manusia yang lebih baik dalam hubungannya dengan Allah dan sesama manusia.

Majelis Al-Qur’an: Ruang untuk Menguatkan Kebersamaan

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, majelis Al-Qur’an dapat menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”

HR. Muslim, no. 2699.

Hadis ini menunjukkan keutamaan majelis yang diisi dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an.

Karena itu, kegiatan tadarus, halaqah, rumah tahfiz, pengajian, dan pembinaan baca tulis Al-Qur’an perlu terus dihidupkan.

Namun, majelis Al-Qur’an hendaknya tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, saling menguatkan, dan memperbaiki kehidupan.

Dari Rumah: Membiasakan Al-Qur’an Bersama Keluarga

Keluarga adalah tempat pertama pendidikan agama.

Orang tua tidak harus selalu menjadi ahli tafsir untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak. Yang paling penting adalah memberikan contoh.

Anak akan lebih mudah mencintai Al-Qur’an apabila melihat orang tuanya membaca, mendengarkan, dan menghormati Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan sederhana dapat dimulai:

  • Membaca Al-Qur’an bersama setelah Magrib.

  • Mendengarkan murattal dalam perjalanan.

  • Mengajak anak menghafal surat-surat pendek.

  • Membaca terjemahan satu atau dua ayat.

  • Membicarakan satu pelajaran Al-Qur’an dalam keluarga.

  • Mengajarkan adab terhadap mushaf dan majelis ilmu.

Tidak perlu menunggu rumah menjadi sempurna untuk memulai. Keluarga yang sedang belajar Al-Qur’an bersama adalah keluarga yang sedang membangun jalan menuju kebaikan.

Membaca Sedikit, tetapi Istiqamah

Sebagian orang merasa harus membaca banyak agar mendapatkan pahala besar. Padahal, membangun kebiasaan yang konsisten juga sangat penting.

Rasulullah SAW bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu, meskipun sedikit.”

HR. Al-Bukhari, no. 6464; Muslim, no. 783.

Hadis ini mengajarkan bahwa istiqamah merupakan nilai penting dalam beramal.

Maka, jangan menunggu waktu luang yang panjang. Mulailah dari kemampuan yang ada.

Satu halaman sehari.
Beberapa ayat setelah Subuh.
Membaca satu surat sebelum tidur.
Atau mengikuti majelis Al-Qur’an secara rutin.

Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi jalan menuju perubahan besar.

Tantangan Kita: Jangan Sampai Al-Qur’an Hanya Menjadi Hiasan

Al-Qur’an yang tersimpan di rumah adalah nikmat. Al-Qur’an yang dibaca adalah ibadah. Al-Qur’an yang dipahami adalah petunjuk. Dan Al-Qur’an yang diamalkan adalah cahaya kehidupan.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah Al-Qur’an menjadi bagian dari rutinitas kita?

Sudahkah bacaan Al-Qur’an memengaruhi cara kita berbicara?

Sudahkah Al-Qur’an membantu kita menjadi pasangan yang lebih baik, orang tua yang lebih sabar, dan anggota masyarakat yang lebih peduli?

Sudahkah Al-Qur’an menjadi sumber ketenangan ketika menghadapi persoalan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengajak kita melakukan muhasabah.

Penutup: Menghidupkan Al-Qur’an dalam Kehidupan

Al-Qur’an adalah petunjuk yang Allah SWT turunkan untuk manusia. Ia menjadi sumber pahala bagi orang yang membacanya, syafaat bagi para pembacanya, dan jalan kemuliaan bagi orang yang mempelajari serta mengamalkannya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”

HR. Muslim, no. 804.

Maka, mari kita jadikan membaca Al-Qur’an sebagai kebiasaan, bukan sekadar kegiatan sesekali.

Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, bukan hanya bacaan.

Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai sumber akhlak, bukan hanya hiasan.

Dan mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai jalan untuk memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat.

Sebab, umat yang dekat dengan Al-Qur’an bukan hanya umat yang banyak membacanya, tetapi juga umat yang berusaha menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan.


#penyuluhagamaislambergerak

Selasa, 01 September 2026

BERSAMA WBP, PENYULUH GELAR SHALAWAT KEBANGSAAN DAN TAUSHIYYAH

 


BERSAMA WBP, PENYULUH GELAR SHALAWAT KEBANGSAAN DAN TAUSHIYYAH

Padang Panjang – Dalam rangka memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, para Penyuluh Agama Islam menggelar kegiatan Shalawat Kebangsaan dan Taushiyyah bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Aula Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Selasa (1/9/2026). Kegiatan dihadiri Petugas Rutan, Penyuluh Agama Islam Se-Kota Padang Panjang dan warga binaan pemasyarakatan.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar pembinaan keagamaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan. Melalui lantunan shalawat, zikir, dan taushiyyah, WBP diajak untuk memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta membangun tekad untuk terus memperbaiki diri.

Acara diawali dengan muqaddimah yang disampaikan oleh Ketua IPARI Kota Padang Panjang, Wahyu Salim. Dalam pengantarnya, ia menyampaikan tentang makna dan semangat Gerakan Shalawat Kebangsaan sebagai bagian dari upaya menghidupkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat nilai-nilai persatuan, kedamaian, dan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Lebih-lebih lagi kita masih dalam suasana momentum maulid Nabi Muhammad SAW; 19 Rabiul Awal 1448 H.

Menurut Wahyu Salim, shalawat bukan sekadar lantunan lisan, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam bagi kehidupan seorang Muslim.

“Shalawat adalah bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW. Di dalamnya terdapat doa, harapan, ketenangan, dan jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semangat mencintai Rasulullah harus pula melahirkan perubahan perilaku dalam kehidupan kita, mustahil bagi orang yang mencintai Rasulullah SAW & mengucapkan syahadatain dengan sungguh-sungguh, mereka melakukan perbuatan yang tidak sesuai dan menyalahi ajaran Rasulnya” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh WBP untuk menjadikan momentum kegiatan tersebut sebagai sarana muhasabah diri. Setiap manusia, menurutnya, memiliki masa lalu, namun yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mampu menata hari ini dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Usai muqaddimah, kegiatan dilanjutkan dengan wirid Shalawat Hari Selasa yang bersumber dari Kitab Dalail Khairat, dipandu oleh Fadrizal. Lantunan shalawat yang diikuti secara bersama-sama oleh para peserta menghadirkan suasana religius dan penuh kekhusyukan di Aula Rutan.

Shalawat yang bergema bersama tersebut menjadi pengingat bahwa pembinaan rohani merupakan bagian penting dalam perjalanan perubahan seseorang. Di tengah berbagai keterbatasan kehidupan, setiap insan tetap memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki langkah kehidupannya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan taushiyyah agama yang disampaikan oleh H. Zainal dengan tema “Jihad Berubah kepada Kebaikan.”

Dalam taushiyyahnya, H. Zainal mengajak para WBP untuk memahami bahwa salah satu perjuangan terbesar dalam kehidupan adalah perjuangan melawan kelemahan diri dan membangun kesungguhan untuk berubah menjadi lebih baik.

Menurutnya, perubahan tidak selalu dimulai dengan langkah yang besar. Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki niat, menjaga ibadah, meninggalkan kebiasaan buruk, menghormati sesama, serta memiliki keyakinan bahwa rahmat Allah SWT selalu terbuka bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat dan memperbaiki diri.

“Jangan pernah merasa bahwa masa lalu telah menutup masa depan. Selama Allah masih memberikan kehidupan, maka kesempatan untuk berubah tetap terbuka. Yang diperlukan adalah kesungguhan, kesabaran, dan istiqamah dalam berjalan menuju kebaikan,” demikian pesan yang mengemuka dalam taushiyyah tersebut.

Pesan tentang jihad perubahan tersebut mendapat perhatian dari para WBP yang mengikuti kegiatan dengan penuh kesungguhan. Momentum pembinaan ini diharapkan dapat menjadi penguat semangat untuk membangun pribadi yang lebih baik, baik selama menjalani masa pembinaan maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan Shalawat Kebangsaan dan Taushiyyah kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Gustiar. Doa dipanjatkan sebagai ungkapan harapan agar seluruh peserta diberikan kekuatan iman, keteguhan hati, kemudahan dalam menjalani proses kehidupan, serta kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat.

Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kota Padang Panjang, Joni Nasri, dalam kesempatan lain menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Gerakan Shalawat Kebangsaan bersama WBP tersebut.

Ia menilai kegiatan tersebut sejalan dengan semangat pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat serta merupakan tindak lanjut dari surat yang diturunkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam c.q. Direktorat Penerangan Agama Islam.

Menurut Joni Nasri, Gerakan Shalawat Kebangsaan memiliki nilai yang sangat penting karena menghubungkan penguatan spiritual dengan semangat kebangsaan.

“Shalawat mengajarkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, sementara nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah seperti kasih sayang, persaudaraan, kedamaian, dan akhlak mulia sangat relevan untuk terus kita hidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para Penyuluh Agama Islam yang secara konsisten hadir di tengah masyarakat, termasuk melakukan pembinaan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah seremoni, tetapi menjadi gerakan pembinaan yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan spiritual dan moral para WBP. Dengan memperbanyak shalawat, memperkuat ibadah, serta menumbuhkan tekad untuk berubah, setiap WBP diharapkan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai ruang untuk menemukan kembali arah kehidupan yang lebih baik.

Gerakan Shalawat Kebangsaan bersama WBP pun menjadi pesan sederhana namun penuh makna: bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah, setiap hati dapat kembali menemukan cahaya, dan setiap langkah menuju kebaikan selalu memiliki jalan selama manusia mau membuka diri kepada petunjuk Allah SWT.

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
Ketua IPARI Kota Padang Panjang

#PenyuluhAgamaIslamBergerak