Jumat, 27 Februari 2026

MENJAGA HATI DARI PENYAKIT IRI, DENGKI, DAN SOMBONG

 


🕌 NASKAH CERAMAH RAMADHAN (13)

MENJAGA HATI DARI PENYAKIT IRI, DENGKI, DAN SOMBONG

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur


Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Terlebih di bulan Ramadhan, bulan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), bulan yang tidak hanya melatih lapar dan dahaga, tetapi juga membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang merusaknya.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas tema:

“Menjaga Hati dari Penyakit Iri, Dengki, dan Sombong.”

🌿 Hati Adalah Pusat Kebaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

Ramadhan adalah momentum memperbaiki hati. Karena dosa yang paling berbahaya seringkali bukan dosa anggota badan, tetapi dosa hati.

1️⃣ Penyakit Iri dan Dengki (Hasad)

📖 Dalil Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
(QS. An-Nisa: 54)

“Apakah mereka dengki kepada manusia atas karunia yang Allah berikan kepadanya?”

Dan dalam surah Al-Falaq:

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
(QS. Al-Falaq: 5)

📖 Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
(HR. Abu Dawud)

“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

⚠ Dampak Hasad

Kebanyakan hasad terjadi di kalangan seprofesi spt sesama pedagang, sesama pegawai, sesama pejabat, sesama warga, sesama pelajar/mahasiswa ataupun kekerabatan spt sesama adik kakak, sesuku dll, hal ini harus dijauhi karena berdampak pada:
  • Hati tidak pernah tenang

  • Persaudaraan rusak

  • Amal ibadah tergerus

  • Timbul fitnah dan permusuhan

Ramadhan mengajarkan kita berbagi, bukan membandingkan. Ketika melihat orang lain mendapat nikmat, ucapkan:

اللهم بارك له

Ya Allah berkahilah dia.

2️⃣ Penyakit Sombong (Takabbur)

📖 Dalil Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
(QS. An-Nahl: 23)

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”

Kisah pertama kesombongan adalah kesombongan Iblis:

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ
(QS. Al-A’raf: 12)

“Aku lebih baik darinya.”

📖 Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
(HR. Imam Muslim)

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.”

Ketika ditanya apa itu sombong, Nabi menjawab:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

⚠ Bentuk Sombong di Zaman Kini

  • Sombong jabatan

  • Sombong ilmu

  • Sombong harta

  • Sombong ibadah

Ramadhan mengajarkan kesederhanaan. Semua sama lapar, sama haus, sama di hadapan Allah.

🌙 Cara Membersihkan Hati di Bulan Ramadhan

1️⃣ Perbanyak Muhasabah

Evaluasi hati setiap malam.

2️⃣ Perbanyak Istighfar

أستغفر الله العظيم وأتوب إليه

3️⃣ Doa Memohon Hati yang Bersih

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ

4️⃣ Perbanyak Sedekah

Sedekah menghancurkan kesombongan dan melembutkan hati.

5️⃣ Mendoakan Orang yang Kita Iri

Ini terapi paling ampuh menghancurkan hasad.

🌺 Penutup

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi menahan iri, menahan dengki, dan menahan kesombongan.

Orang yang sukses Ramadhan bukan hanya yang khatam Al-Qur’an, tetapi yang keluar dari Ramadhan dengan hati yang lebih bersih.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari iri, dengki, dan sombong.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

“Pada hari tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”

Doa Penutup

اللهم اجعل قلوبنا سليمة، وصدورنا نقية، وأعمالنا خالصة لوجهك الكريم.
اللهم طهر قلوبنا من الحسد والكبر والرياء.
آمين يا رب العالمين.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Kamis, 26 Februari 2026

TAUBATAN NASHUHA: PINTU AMPUNAN YANG SELALU TERBUKA

 


🕌 NASKAH CERAMAH RAMADHAN (12)

TAUBATAN NASHUHA: PINTU AMPUNAN YANG SELALU TERBUKA

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur


Muqaddimah

الحمد لله الذي فتح لعباده باب التوبة وجعلها سببًا للفوز والنجاة، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du.

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah…

Bulan suci Ramadhan adalah bulan ampunan (شهر المغفرة). Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Maka inilah momentum terbaik untuk kembali kepada Allah dengan taubatan nashuha — taubat yang sungguh-sungguh.

I. Perintah Taubat dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nashuha).”
(QS. At-Tahrim: 8)

Dalam ayat lain Allah menegaskan:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)

Taubat bukan hanya untuk pelaku dosa besar. Taubat adalah kebutuhan setiap mukmin. Bahkan Nabi ﷺ yang ma’shum pun beristighfar setiap hari.

II. Sunnah Nabi tentang Taubat

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.”
(HR. Muslim)

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي...
“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas dosa-dosamu dan Aku tidak peduli…”
(HR. Tirmidzi)

Betapa luasnya rahmat Allah! Selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, pintu taubat tetap terbuka.

III. Makna Taubatan Nasuha

Para ulama menjelaskan bahwa taubatan nashuha adalah taubat yang:

  1. Ikhlas karena Allah, bukan karena malu kepada manusia.

  2. Menyesali dosa yang telah dilakukan.

  3. Berhenti dari maksiat saat itu juga.

  4. Bertekad kuat tidak mengulanginya lagi.

  5. Jika terkait hak manusia, mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.

Imam Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:
“Taubat yang nashuha adalah menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad tidak mengulanginya.”

IV. Ramadhan: Momentum Taubat Terbaik

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan adalah madrasah penyucian jiwa. Puasa melatih pengendalian diri, shalat malam melembutkan hati, tilawah Al-Qur’an membersihkan jiwa, sedekah menghapus dosa.

V. Tanda Taubat Diterima

Bagaimana kita tahu taubat kita diterima?

  1. Hati terasa lebih lembut dan dekat kepada Allah.

  2. Semakin rajin beribadah.

  3. Membenci maksiat yang dulu dicintai.

  4. Lingkungan pergaulan berubah menjadi lebih baik.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Penutup

Jamaah Ramadhan yang dimuliakan Allah…

Jangan pernah merasa dosa kita terlalu besar. Yang besar itu bukan dosa kita, tetapi rahmat Allah.

Mari di bulan yang penuh berkah ini kita bersimpuh, menangis dalam sujud, memperbanyak istighfar:

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Semoga Allah menerima taubat kita, menghapus dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang kembali dengan hati yang bersih.

اللهم تب علينا توبة نصوحًا قبل الموت، وراحة عند الموت، ومغفرة ورحمة بعد الموت.

آمين يا رب العالمين.

Wallahu A'lam

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.,

Rabu, 25 Februari 2026

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA Tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (11)

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan tarbiyah iman, bulan pendidikan akhlak, dan bulan penguatan silaturrahim.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Di antara amal saleh yang paling agung dan paling dicintai Allah setelah tauhid adalah berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain). Bahkan dalam banyak ayat, Allah menggandengkan perintah menyembah-Nya dengan perintah berbakti kepada orang tua.

I. Perintah Berbakti dalam Al-Qur’an

1️⃣ QS. Al-Isra’ Ayat 23–24

Allah ﷻ berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.’”
(QS. Al-Isra’: 23–24)

🔎 Pelajaran penting:

  • Larangan berkata “uff” (keluhan kecil)

  • Perintah berkata lembut

  • Doa khusus untuk orang tua

2️⃣ QS. Luqman Ayat 14

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ ۖ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ ۖ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)

Ayat ini menegaskan beratnya perjuangan seorang ibu dan kewajiban bersyukur kepada orang tua.

II. Kedudukan Birrul Walidain dalam Hadis Nabi ﷺ

1️⃣ Amal yang Paling Dicintai Allah

Dalam hadis riwayat Muhammad ﷺ:

عَنْ عَبْدِاللَّهِ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, “Amal apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

📌 Lihatlah, birrul walidain berada setelah shalat!

2️⃣ Ridha Allah Bergantung pada Ridha Orang Tua

Rasulullah ﷺ bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
(رواه الترمذي)

Artinya:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)

3️⃣ Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ
(رواه النسائي)

Artinya:
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
(HR. An-Nasa’i)

III. Bentuk-Bentuk Berbakti kepada Orang Tua

  1. Berkata lembut dan sopan

  2. Membantu kebutuhan mereka

  3. Mendoakan mereka setiap selesai shalat

  4. Tidak membantah dengan kasar

  5. Tetap berbuat baik walaupun berbeda pendapat

Jika orang tua telah wafat:

  • Mendoakan mereka

  • Menyambung silaturrahim dengan sahabat mereka

  • Melunasi hutang-hutang mereka

  • Bersedekah atas nama mereka

IV. Momentum Ramadhan untuk Berbakti

Ramadhan adalah bulan rahmat. Jangan sampai:

  • Kita rajin tarawih tapi menyakiti orang tua

  • Kita khatam Qur’an tapi membentak ibu

  • Kita bersedekah tapi melupakan ayah

Jamaah sekalian,

Tidak ada investasi pahala yang lebih cepat mendatangkan keberkahan hidup selain doa orang tua.

Penutup

Mari kita perbaiki hubungan dengan ayah dan ibu.
Jika masih hidup — bahagiakan mereka.
Jika telah wafat — kirimkan doa terbaik untuk mereka.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”

Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang saleh, yang berbakti, dan dikumpulkan bersama orang tua kita di surga-Nya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

RAMADHAN DAN PENDIDIKAN KESABARAN Tips Jadi Manusia Sabar disertai Contohnya

 


🕌 NASKAH CERAMAH RAMADHAN (10)

RAMADHAN DAN PENDIDIKAN KESABARAN

Tips Jadi Manusia Sabar disertai Contohnya

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Muqaddimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dimuliakan Allah,

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah madrasah kesabaran. Bahkan Rasulullah ﷺ menyebut Ramadhan sebagai:

شَهْرُ الصَّبْرِ
“Bulan kesabaran.”
(HR. Ahmad)

Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

📖 Apa Itu Sabar?

Sabar dalam Islam bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Sabar adalah:

  1. Taat dalam menjalankan perintah Allah

  2. Menahan diri dari maksiat

  3. Tabah menghadapi ujian

Sebagaimana firman Allah:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ  ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ  ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ 

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan. (QS. Az-Zumar: 10)

🌙 Ramadhan: Sekolah Kesabaran

1️⃣ Sabar Menahan Syahwat

Selama Ramadhan, kita:

  • Menahan lapar dan dahaga

  • Menahan amarah

  • Menahan pandangan

  • Menahan lisan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa itu perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan marah.”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

✅ Contoh Nyata:

Ketika kita diejek atau dipancing emosi saat puasa, kita berkata:

“Saya sedang berpuasa.”

Itulah latihan sabar tingkat pertama.

2️⃣ Sabar dalam Ketaatan

Bangun sahur, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an — semua butuh kesabaran.

Allah berfirman:

فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا ۚوَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى

Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari agar engkau merasa tenang.

Ṭāhā [20]:130

Walaupun lelah bekerja, tetap hadir tarawih di masjid.
Walau mengantuk, tetap bangun sahur dan tahajud.

Sabar seperti ini membentuk pribadi disiplin dan istiqamah.

3️⃣ Sabar Menghadapi Ujian Hidup

Ramadhan mengajarkan empati pada fakir miskin. Saat kita merasakan lapar, kita belajar sabar seperti mereka.

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, Al-Baqarah  [2]:155

✅ Contoh Nyata:

  • Ketika usaha menurun, tetap shalat dan berdoa.

  • Ketika keluarga sakit, tetap husnuzan kepada Allah.

  • Ketika difitnah, tetap menjaga akhlak.

💡 Tips Jadi Manusia Sabar

1. Perkuat Iman

Sadar bahwa semua dari Allah.

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”

2. Kendalikan Lisan

Diam lebih selamat daripada berkata yang menyakiti.

3. Perbanyak Dzikir

Dzikir menenangkan hati.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ   

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. Ar-Ra‘d [13]:28

4. Latih Menunda Keinginan

Puasa melatih kita menunda yang halal, apalagi yang haram.

5. Ingat Pahala Besar

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ.........

......... Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Al-Baqarah  [2]:153

🌟 Buah Kesabaran

  1. Dicintai Allah

  2. Mendapat pertolongan Allah

  3. Hati lebih tenang

  4. Hidup lebih berkah

  5. Pahala tanpa batas

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin… jika mendapat musibah ia bersabar, itu baik baginya.”
(HR. Imam Muslim)

🎯 Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadhan adalah training 30 hari membentuk manusia sabar.
Jika setelah Ramadhan kita lebih mampu menahan emosi, lebih kuat menghadapi ujian, dan lebih istiqamah dalam ibadah — maka itulah tanda Ramadhan kita berhasil.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang sabar dan mendapatkan pahala tanpa batas.

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

Wallahu A'lam 

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.,

Selasa, 24 Februari 2026

“6 Sebab Datangnya Rezeki dalam Al-Qur’an”

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (9)

“6 Sebab Datangnya Rezeki dalam Al-Qur’an”

(Taqwa, Sholat, Tawakkal, Istighfar, Infaq, dan Usaha)

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Mukadimah

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah ﷻ yang Maha Pemberi Rezeki. Dialah Ar-Razzāq, yang melapangkan dan menyempitkan rezeki menurut hikmah-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Banyak orang mencari rezeki dengan bekerja keras, tetapi lupa bahwa Al-Qur’an telah mengajarkan kunci-kunci datangnya rezeki. Malam ini kita akan membahas 6 sebab rezeki dalam Al-Qur’an.

1️⃣ TAQWA

Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

Taqwa bukan sekadar takut, tetapi menjaga diri dari maksiat dan menjalankan perintah Allah. Rezeki orang bertaqwa sering datang dari arah tak terduga.

2️⃣ SHOLAT

Allah ﷻ berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan sholat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”
(QS. Thaha: 132)

Sholat bukan mengurangi waktu kerja, justru mendatangkan keberkahan rezeki.

3️⃣ TAWAKKAL

Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Tawakkal bukan pasrah tanpa usaha, tetapi bersandar penuh kepada Allah setelah berikhtiar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah memberi rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi)

4️⃣ ISTIGHFAR

Allah ﷻ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu…”
(QS. Nuh: 10–12)

Istighfar membuka pintu langit dan pintu rezeki.

5️⃣ INFAQ / SEDEKAH

Allah ﷻ berfirman:

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya…”
(QS. Al-Baqarah: 245)

Dan firman-Nya:

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”
(QS. Saba’: 39)

Sedekah tidak mengurangi harta, tetapi justru menumbuhkannya dengan keberkahan.

6️⃣ MELAKUKAN SEBAB-SEBAB USAHA (IKHTIAR)

Allah ﷻ berfirman:

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ
“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”
(QS. Al-Mulk: 15)

Islam tidak mengajarkan malas. Rezeki datang bersama usaha yang halal dan sungguh-sungguh.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri.”
(HR. Al-Bukhari)

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Jika kita ingin rezeki yang luas dan berkah di bulan Ramadhan ini, maka:

  • Perkuat taqwa

  • Jaga sholat

  • Perbanyak tawakkal

  • Istiqamah dalam istighfar

  • Gemar berinfaq

  • Dan sungguh-sungguh dalam usaha halal

Ingatlah, rezeki bukan hanya soal jumlah, tetapi soal keberkahan.

Semoga Allah ﷻ melapangkan rezeki kita, menjadikannya halal dan thayyib, serta memberkahi keluarga dan keturunan kita.

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

Wallahu A'lam

Wassalamu'alaikum wr wb 

“Doa Orang Berpuasa: Antara Harapan dan Keyakinan” (Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah)

 


NASKAH CERAMAH (8) RAMADHAN

“Doa Orang Berpuasa: Antara Harapan dan Keyakinan”

(Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah)

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Mukadimah

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Di antara amalan agung di bulan Ramadhan adalah doa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbanyak munajat kepada Allah ﷻ. Di sinilah doa orang berpuasa berada di antara harapan dan keyakinan.

1. Jaminan Allah: Doa yang Dikabulkan

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku…”
(QS. Al-Baqarah: 186)

Menariknya, ayat ini berada di tengah-tengah ayat tentang puasa Ramadhan. Seolah-olah Allah ingin menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan doa.

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi.”
(HR. Ibnu Majah No. 1752; hasan)

Ini adalah kabar gembira. Doa orang yang berpuasa memiliki posisi istimewa di sisi Allah ﷻ.

2. Antara Harapan dan Keyakinan

a. Harapan (Raja’)

Harapan adalah sikap optimis terhadap rahmat Allah. Orang yang berpuasa berharap:

  • Dosanya diampuni

  • Rezekinya dilapangkan

  • Keluarganya dijaga

  • Doanya dikabulkan

Namun harapan saja tidak cukup.

b. Keyakinan (Yaqin)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak sungguh-sungguh.”
(HR. At-Tirmidzi No. 3479; hasan)

Keyakinan berarti:

  • Yakin Allah Maha Mendengar

  • Yakin Allah Maha Mengabulkan

  • Yakin Allah memberi yang terbaik

Kadang doa tidak dikabulkan sesuai keinginan kita, tetapi Allah menggantinya dengan:

  1. Dikabulkan segera

  2. Ditunda di waktu terbaik

  3. Disimpan sebagai pahala di akhirat

  4. Dijauhkan dari musibah

Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya.

3. Waktu Mustajab bagi Orang Berpuasa

Beberapa waktu istimewa dalam Ramadhan:

1️⃣ Saat Menjelang Berbuka

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbuka ada doa yang tidak tertolak.”
(HR. Ibnu Majah)

2️⃣ Sepertiga Malam Terakhir

Allah ﷻ turun ke langit dunia dan berfirman:

“Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan…”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj)

3️⃣ Saat Sujud

“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.”
(HR. Muslim bin al-Hajjaj)

4. Mengapa Doa Kadang Terasa Lama Dikabulkan?

Jamaah sekalian,

Kadang kita merasa doa belum terkabul. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj)

Tergesa-gesa adalah berkata:
"Saya sudah berdoa, tapi belum juga dikabulkan."

Ingatlah, Allah ﷻ Maha Tahu waktu terbaik.

5. Adab Agar Doa Dikabulkan

  1. Ikhlas karena Allah

  2. Memulai dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi ﷺ

  3. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan

  4. Menghindari makanan dan harta haram

  5. Husnuzhan kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang makan dari yang haram:

“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
(HR. Muslim bin al-Hajjaj)

Penutup: Jadikan Ramadhan Bulan Munajat

Ramadhan bukan hanya bulan lapar, tetapi bulan doa. Jangan lewatkan waktu berbuka tanpa munajat. Jangan lalai di sepertiga malam terakhir. Jangan biarkan sujud tanpa doa.

Mari kita berdoa bukan hanya dengan harapan, tetapi dengan keyakinan penuh bahwa Allah ﷻ Maha Dekat dan Maha Mengabulkan.

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-A’raf: 56)

Semoga Allah menerima puasa kita, mengabulkan doa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya dalam keadaan iman dan kesehatan.

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

Wallahu A'lam 

Wassalamu'alaikum wr wb 

Senin, 23 Februari 2026

QIYAMUL LAIL: MENGHIDUPKAN MALAM-MALAM RAMADHAN

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN

QIYAMUL LAIL: MENGHIDUPKAN MALAM-MALAM RAMADHAN

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Muqaddimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullāh,

Di antara ibadah agung yang menjadi ciri orang-orang bertakwa di bulan Ramadhan adalah Qiyamul Lail — menghidupkan malam dengan shalat, dzikir, doa dan munajat kepada Allah ﷻ.

I. Dasar Qiyamul Lail dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sedikit darinya.”
(QS. Al-Muzzammil: 1–2)

Ayat ini menjadi perintah langsung untuk menghidupkan malam dengan ibadah.

Dalam ayat lain Allah memuji hamba-hamba-Nya yang bangun malam:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap…”
(QS. As-Sajdah: 16)

Dan Allah juga menyebut mereka sebagai hamba pilihan:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati… dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”
(QS. Al-Furqan: 63–64)

Ini menunjukkan bahwa qiyamul lail adalah karakter orang bertakwa.

II. Qiyamul Lail dalam Sunnah Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ sangat menjaga shalat malam, terlebih di bulan Ramadhan.

Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang menegakkan (qiyam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Muhammad al-Bukhari no. 37 dan Muslim ibn al-Hajjaj no. 759)

Dalam hadis lain disebutkan:

“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Muslim ibn al-Hajjaj no. 1163)

Dan khusus pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata:

“Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggangnya.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

III. Keutamaan Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan

  1. Penghapus dosa

    • Berdasarkan hadis “ghufira lahu ma taqaddama min dzambih.”

  2. Mendekatkan diri kepada Allah

    • Malam adalah waktu mustajab untuk doa.

    • Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir…”
    (HR. Muhammad al-Bukhari no. 1145)

  3. Melatih keikhlasan

    • Ibadah malam jauh dari riya dan pujian manusia.

  4. Menguatkan ruhiyah dan ketakwaan

    • Qiyamul lail adalah madrasah spiritual.

IV. Bentuk Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan

  1. Shalat Tarawih

    • Dilakukan setelah shalat Isya.

    • Boleh 8 atau 20 rakaat sesuai ijtihad ulama.

  2. Shalat Witir

    • Penutup shalat malam.

  3. Tahajud di Sepertiga Malam

    • Waktu paling utama.

  4. Tilawah Al-Qur’an

    • Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.

  5. Doa dan Istighfar

    • Terutama pada malam Lailatul Qadar.

V. Hikmah Menghidupkan Malam Ramadhan

  • Menghidupkan hati yang lalai

  • Menumbuhkan rasa tawadhu

  • Menguatkan kesabaran

  • Membentuk pribadi bertakwa

Orang yang hidup malamnya, akan hidup pula jiwanya.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun. Jangan sampai malam-malamnya berlalu tanpa sujud dan tangisan taubat kita.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum kebangkitan ruhiyah dengan Qiyamul Lail.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang disebut dalam firman-Nya:

“Sedikit sekali dari mereka yang tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu A'lam

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Minggu, 22 Februari 2026

NASKAH CERAMAH RAMADHAN : Mengendalikan lisan dan emosi: Puasa Akhlaq Seorang Muslim

 

🕌 NASKAH CERAMAH RAMADHAN (7)

MENGENDALIKAN LISAN DAN EMOSI: PUASA AKHLAQ SEORANG MUSLIM

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)


Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا...
أما بعد؛

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Kita bersyukur karena Allah masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan pendidikan iman dan pengendalian diri.

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah akhlaq, tempat kita belajar mengendalikan lisan dan emosi.

I. PUASA ADALAH LATIHAN PENGENDALIAN DIRI

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa. Dan inti takwa adalah kemampuan mengendalikan diri — termasuk lisan dan emosi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 1904; Sahih Muslim no. 1151)

Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan amarah, cacian, dan emosi yang meledak-ledak.

II. MENGENDALIKAN LISAN: SUMBER KESELAMATAN ATAU KEBINASAAN

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Banyak dosa lahir dari lisan: ghibah, fitnah, dusta, adu domba, sumpah palsu, dan ujaran kebencian.

Allah ﷻ berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidaklah seseorang mengucapkan suatu kata melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 1903)

Hadis ini sangat tegas. Puasa yang tidak menjaga lisan bisa kehilangan nilai pahalanya.

Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6018; Sahih Muslim no. 47)

Diam yang terjaga lebih baik daripada ucapan yang menyakiti.

III. MENGENDALIKAN EMOSI: TANDA KEKUATAN SEJATI

Jamaah rahimakumullah,

Banyak orang merasa dirinya kuat karena fisiknya. Namun Rasulullah ﷺ meluruskan:

“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6114; Sahih Muslim no. 2609)

Dalam hadis lain, seorang sahabat meminta nasihat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jangan marah.”
Ia mengulanginya berkali-kali, dan Nabi tetap bersabda:
“Jangan marah.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6116)

Ramadhan melatih kita untuk tetap tenang walaupun lapar, lelah, dan diuji.

IV. BAHAYA LISAN DAN EMOSI DI ERA MEDIA SOSIAL

Jamaah sekalian,

Di zaman ini, lisan tidak hanya lewat mulut, tetapi juga lewat jari-jemari. Status, komentar, dan unggahan bisa menjadi dosa yang terus mengalir.

Allah ﷻ mengingatkan:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Puasa Ramadhan seharusnya menjadi momentum membersihkan timeline dari ghibah dan amarah digital.

V. BUAH DARI MENGENDALIKAN LISAN DAN EMOSI

  1. Hati menjadi tenang

  2. Hubungan keluarga menjadi harmonis

  3. Lingkungan sosial menjadi damai

  4. Puasa menjadi sempurna pahalanya

  5. Mendapat derajat takwa

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah tanpa ia sadari, Allah angkat derajatnya karenanya.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6478)

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai puasa akhlaq, bukan sekadar puasa perut.

Tahan lisan dari dusta dan celaan.
Tahan emosi dari kemarahan dan permusuhan.
Karena puasa yang sejati adalah puasa yang membentuk karakter.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengendalikan lisan dan emosi, sehingga kita keluar dari Ramadhan sebagai pribadi yang lebih bertakwa.

اللهم اجعل صيامنا صيام الصالحين، وقيامنا قيام المخلصين، ولا تجعل حظنا من صيامنا الجوع والعطش.

آمين يا رب العالمين.

Wallahu A'lam...

Sabtu, 21 Februari 2026

NASKAH CERAMAH RAMADHAN Judul: “Makna Iman yang Hidup di Bulan Ramadhan”

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (6)

Judul: “Makna Iman yang Hidup di Bulan Ramadhan”
Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang)


🌙 Muqaddimah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang di dalamnya iman diuji, dibersihkan, dan dihidupkan kembali. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan umat manusia.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan menghidupkan iman. Pertanyaannya, apakah iman kita benar-benar hidup? Ataukah hanya sekadar rutinitas tahunan?

1️⃣ Hakikat Iman dalam Islam

Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:

Keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan.
Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka…”
(QS. Al-Anfal: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa iman itu dinamis — bisa bertambah dan bisa berkurang.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meningkatkan iman tersebut.

2️⃣ Ramadhan sebagai Madrasah Iman

Allah SWT berfirman:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Perhatikan panggilan ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman.”

Artinya, puasa adalah perintah untuk orang beriman, dan tujuannya adalah meningkatkan ketakwaan — yang merupakan buah dari iman yang hidup.

3️⃣ Tanda-Tanda Iman yang Hidup di Bulan Ramadhan

🌿 1. Hati Lebih Lembut

Orang yang imannya hidup akan mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad)

Jika Ramadhan membuat kita lebih rajin membaca Al-Qur’an, itu tanda iman sedang hidup.

🌿 2. Ringan Melakukan Kebaikan

Shalat tarawih, sedekah, bangun sahur, qiyamul lail — terasa ringan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat “karena iman” menunjukkan bahwa ibadah Ramadhan harus dilandasi iman yang hidup, bukan sekadar ikut-ikutan.

🌿 3. Meninggalkan Maksiat

Iman yang hidup akan menahan lisan, menjaga pandangan, dan mengontrol emosi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan dosa.

4️⃣ Contoh Iman yang Hidup

Hadirin yang dirahmati Allah,

Iman yang hidup bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:

  • Seorang pedagang tetap jujur meskipun pembeli tidak tahu kualitas barangnya.

  • Seorang pegawai tetap disiplin walau sedang berpuasa.

  • Seorang anak muda menjaga pergaulan dan pandangan meskipun godaan besar.

Itulah iman yang bekerja.

Ramadhan melatih kita untuk merasa diawasi Allah meskipun tidak ada manusia yang melihat.

5️⃣ Bahaya Iman yang “Musiman”

Sebagian orang rajin ibadah hanya di bulan Ramadhan, tetapi setelah Syawal kembali lalai.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali.”
(QS. An-Nahl: 92)

Artinya, jangan rusak amal yang telah kita bangun.

Ramadhan seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar ritual tahunan.

6️⃣ Cara Menjaga Iman Tetap Hidup

  1. Konsisten membaca Al-Qur’an setiap hari.

  2. Menjaga shalat berjamaah.

  3. Membiasakan sedekah.

  4. Memilih lingkungan yang baik.

  5. Memperbanyak doa.

Rasulullah ﷺ sering berdoa:

“Yā muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi)

Karena hati manusia mudah berubah.

✨ Penutup

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ramadhan adalah bulan menghidupkan iman.
Jika hati kita lebih lembut, ibadah lebih khusyuk, dosa mulai kita tinggalkan — itu tanda iman sedang bertumbuh.

Mari jadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bertakwa.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang imannya terus hidup, bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang hayat.

Wallahu A'lam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 20 Februari 2026

Ramadhan 1447 H: Momentum Meningkatkan Indeks Kesalehan Umat

 


📖 Ramadhan 1447 H: Momentum Meningkatkan Indeks Kesalehan Umat

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Ramadhan 1447 H kembali menyapa umat Islam dengan membawa cahaya keberkahan. Bulan yang Allah sebut sebagai syahrun mubarak ini bukan hanya momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga saat terbaik untuk meningkatkan kualitas diri dan membangun Indeks Kesalehan Umat.

Kesalehan dalam Islam tidak cukup hanya diukur dari seberapa lama kita berdiri dalam shalat, atau seberapa banyak kita membaca Al-Qur’an. Ramadhan mengajarkan bahwa kesalehan sejati mencakup empat dimensi utama: ritual, sosial, moral, dan kebangsaan.

1️⃣ Kesalehan Ritual: Fondasi Keimanan

Ramadhan adalah madrasah ruhani. Shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sahur, dan berbuka menjadi bagian dari pembiasaan spiritual yang menguatkan hubungan kita dengan Allah SWT.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa. Maka indikator kesalehan ritual di bulan Ramadhan terlihat dari:

  • Konsistensi shalat berjamaah

  • Semangat membaca dan memahami Al-Qur’an

  • Kedisiplinan dalam menjalankan puasa

  • Kesungguhan dalam memperbanyak doa dan dzikir

Namun, takwa tidak berhenti di sajadah.

2️⃣ Kesalehan Sosial: Puasa yang Membumi

Puasa mengajarkan empati. Saat lapar, kita belajar merasakan penderitaan saudara yang kekurangan. Di sinilah Ramadhan meningkatkan indeks kesalehan sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Ramadhan 1447 H hendaknya menjadi momentum:

  • Meningkatkan zakat, infak, dan sedekah

  • Menguatkan solidaritas umat

  • Menghindari konflik, ujaran kebencian, dan fitnah

  • Menghidupkan budaya gotong royong

Kesalehan sosial adalah bukti bahwa puasa membentuk pribadi yang peduli.

3️⃣ Kesalehan Moral: Menjaga Lisan dan Perilaku

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan amarah, ghibah, dan perilaku tercela.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh pada puasanya.” (HR. Bukhari)

Ramadhan adalah latihan pengendalian diri. Di era media sosial, menjaga jari dan lisan sama pentingnya dengan menjaga perut. Kesalehan moral tercermin dari:

  • Kejujuran dalam pekerjaan

  • Harmoni dalam keluarga

  • Santun dalam bermedia sosial

  • Menepati janji dan amanah

Akhlak adalah wajah iman yang paling nyata.

4️⃣ Kesalehan Kebangsaan: Ramadhan dan Cinta Tanah Air

Umat yang saleh adalah umat yang menjaga persatuan. Ramadhan bukan waktu untuk memecah belah, tetapi memperkuat ukhuwah dan menjaga keutuhan bangsa.

Spirit hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) menjadi relevan dalam konteks Indonesia. Kesalehan kebangsaan tercermin dari:

  • Menjaga kerukunan antar umat beragama

  • Menolak radikalisme dan kekerasan

  • Taat pada aturan negara

  • Berpartisipasi dalam pembangunan sosial

Ramadhan 1447 H harus menjadi energi moral untuk memperkokoh persatuan NKRI.

🌙 Ramadhan sebagai Penguat Indeks Kesalehan Umat

Jika keempat dimensi ini tumbuh bersama, maka Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan gerakan transformasi umat.

Puasa yang benar akan melahirkan:

  • Pribadi bertakwa

  • Masyarakat yang peduli

  • Bangsa yang damai

  • Umat yang menjadi rahmat bagi semesta

Mari kita jadikan Ramadhan 1447 H sebagai momentum peningkatan Indeks Kesalehan Umat, bukan hanya dalam angka dan laporan, tetapi nyata dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita insan yang lebih baik setelah Ramadhan berlalu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Joyful Ramadhan Mubarak Hari Pertama Ramadhan 1447

 


Kamis, 19 Februari 2026

NASKAH CERAMAH RAMADHAN: ANJURAN SHOLAT MALAM & TARAWIH (Menghidupkan Jiwa yang Lelah)

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (5)

🌙 ANJURAN SHOLAT MALAM & TARAWIH

Menghidupkan Jiwa yang Lelah

🕌 Pembukaan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah,

Di tengah kesibukan hidup, tekanan pekerjaan, beban keluarga, dan hiruk-pikuk dunia, seringkali jiwa kita terasa lelah. Bukan hanya tubuh yang capek, tapi hati terasa kosong, pikiran gelisah, dan ruh terasa kering.

Maka Ramadhan datang membawa terapi.
Salah satu terapi terbesarnya adalah shalat malam dan tarawih.

📖 I. Dasar Al-Qur’an tentang Shalat Malam

1️⃣ Perintah Qiyamul Lail

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Muzzammil ayat 1–4:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk shalat di malam hari kecuali sedikit.”

🔎 Maknanya:
Shalat malam adalah perintah langsung Allah untuk menguatkan jiwa Rasulullah ﷺ dalam menghadapi beratnya dakwah.

2️⃣ Ciri Orang Bertakwa

QS. Adz-Dzariyat: 17–18:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam mereka memohon ampun.”

🔎 Pesan: Orang bertakwa menjadikan malam sebagai waktu munajat.

🕌 II. Dalil Hadis tentang Tarawih & Qiyam Ramadhan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Inilah dasar utama shalat tarawih.

🌟 Keutamaan Luar Biasa

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Sahih Muslim)

Artinya, terapi jiwa terbaik setelah shalat wajib adalah bangun malam.

🏛 III. Tarikh Islami: Sejarah Tarawih

Pada masa Rasulullah ﷺ:

  • Beliau pernah shalat tarawih berjamaah di masjid selama beberapa malam.

  • Lalu beliau menghentikannya karena khawatir diwajibkan atas umatnya.

Setelah beliau wafat, pada masa Khalifah
Umar bin Khattab, tarawih kembali dihidupkan berjamaah secara teratur.

Beliau berkata:

“Ni’mat al-bid’ah hadzihi” (Sebaik-baik pembaruan adalah ini).

Sejak saat itu, umat Islam di seluruh dunia menghidupkan malam Ramadhan dengan tarawih berjamaah.

💛 IV. Menghidupkan Jiwa yang Lelah

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mengapa shalat malam menghidupkan jiwa?

1️⃣ Karena di malam hari suasana hening

Lebih khusyuk, lebih jujur, lebih dekat dengan Allah.

2️⃣ Karena malam adalah waktu turunnya rahmat

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan mengabulkan doa hamba-Nya.
(HR. Bukhari)

3️⃣ Karena malam adalah waktu evaluasi diri

Menangis, istighfar, memperbaiki niat.

🌙 V. Realita Kehidupan Kita

Hari ini banyak orang:

  • Lelah karena ekonomi

  • Lelah karena konflik keluarga

  • Lelah karena tekanan pekerjaan

  • Lelah karena dosa yang menumpuk

Namun jarang yang lelah karena ibadah.

Padahal, justru dalam sujud panjang itulah hati disembuhkan.

✨ VI. Ajakan Praktis

Mari kita hidupkan Ramadhan ini dengan:

  • Tidak meninggalkan tarawih

  • Menambah witir

  • Bangun sahur lebih awal untuk tahajud

  • Memperbanyak istighfar

Tidak perlu langsung panjang.
Mulai dari yang ringan.
Yang penting istiqamah.

🌺 Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan adalah bulan kebangkitan ruhani.
Jika tubuh kita lelah, istirahatlah.
Tetapi jika jiwa kita lelah, bangunlah di malam hari.

Semoga Allah menghidupkan hati kita dengan qiyamul lail, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

Wallahu A'lam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Arti Joyful Ramadan Mubarak

 


Joyful Ramadan Mubarak adalah program Kementerian Agama (Kemenag) untuk menciptakan suasana Ramadhan 1447 H/2026 M yang menggembirakan, khusyuk, dan produktif secara sosial. Konsep ini menekankan ibadah yang penuh optimisme, penguatan solidaritas sosial, serta layanan keagamaan yang humanis dan inklusif. Ini bertujuan agar Ramadan berdampak nyata bagi umat. 

Berikut makna dan fokus utama dari Joyful Ramadan: 

Ibadah yang Menggembirakan: Menjalani ibadah puasa dan aktivitas keagamaan dengan hati senang, tenang, dan penuh harapan, bukan sebagai beban.

Penguatan Sosial (Solidaritas): Mendorong kepedulian sosial, pemberdayaan ekonomi umat melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, dan dukungan UMKM masjid.

Layanan Keagamaan Humanis: Mengoptimalkan peran masjid dan KUA agar mudah diakses, responsif, dan memberikan manfaat langsung, seperti bimbingan ibadah dan konsultasi keluarga.

Dakwah yang Mencerahkan: Menyampaikan narasi dakwah yang ramah, moderat, menyejukkan, dan edukatif. 

Joyful Ramadan dirancang sebagai bentuk kehadiran negara untuk memastikan ibadah umat berjalan khusyuk, namun tetap hangat dan memberikan dampak positif bagi keharmonisan sosial. 
UWaS

Rabu, 18 Februari 2026

NASKAH CERAMAH RAMADHAN JUDUL: “MENINGKATKAN MUTU KESHOLEHAN DI BULAN RAMADHAN”

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (4)

Judul: “MENINGKATKAN MUTU KESHOLEHAN DI BULAN RAMADHAN”
Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam serta mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Tema yang akan kita bahas adalah:
“Meningkatkan Mutu Kesolehan di Bulan Ramadhan.”

1. Ramadhan: Sekolah Peningkatan Kualitas Iman

Allah SWT berfirman:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah taqwa.
Taqwa inilah ukuran kualitas kesolehan seseorang.

Kesolehan bukan sekadar rajin ibadah, tetapi meningkatnya kualitas hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Ramadhan adalah madrasah peningkatan mutu iman.

2. Kesolehan Individual: Memperbaiki Hubungan dengan Allah

Kesolehan pertama adalah kesolehan pribadi.

Allah SWT berfirman:

“Qad aflaha man zakkāhā.”
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)

Di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk:

✔ Menjaga shalat tepat waktu
✔ Memperbanyak tilawah Al-Qur’an
✔ Menghidupkan qiyamul lail
✔ Memperbanyak istighfar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah peluang peningkatan mutu kesolehan: pengampunan dosa dan pembersihan hati.

3. Kesolehan Sosial: Memperbaiki Hubungan dengan Sesama

Kesolehan tidak cukup hanya hubungan vertikal dengan Allah.
Harus ada kesolehan sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Ramadhan melatih kita untuk peduli:

✔ Memberi makan orang berbuka
✔ Bersedekah kepada fakir miskin
✔ Menjaga lisan dari menyakiti
✔ Memaafkan kesalahan orang lain

Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)

Kesolehan yang bermutu adalah yang berdampak bagi lingkungan.

4. Meningkatkan Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan bukan lomba banyaknya ibadah saja, tetapi kualitasnya.

Shalat yang khusyuk lebih baik daripada panjang tapi lalai.
Sedekah yang ikhlas lebih baik daripada besar tapi riya’.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Maka mutu kesolehan diukur dari:

✔ Keikhlasan
✔ Kekhusyukan
✔ Konsistensi
✔ Perubahan akhlak

5. Tanda Kesolehan Meningkat

Bagaimana tanda bahwa mutu kesolehan kita meningkat?

  1. Hati lebih lembut

  2. Lisan lebih terjaga

  3. Shalat semakin nikmat

  4. Al-Qur’an semakin dicintai

  5. Dosa terasa berat untuk diulangi

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan di sisi Allah adalah hasil dari kesolehan yang berkualitas.

6. Ramadhan Sebagai Titik Transformasi

Ramadhan tidak boleh berlalu tanpa perubahan.

Jika sebelum Ramadhan kita lalai,
maka setelah Ramadhan kita harus lebih disiplin.

Jika sebelum Ramadhan kita jarang sedekah,
maka setelah Ramadhan kita harus lebih peduli.

Allah SWT berfirman:

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).”
(QS. Al-Hijr: 99)

Artinya, kesolehan bukan musiman, tetapi berkelanjutan.

Penutup

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum meningkatkan mutu kesolehan:

✔ Soleh dalam ibadah
✔ Soleh dalam akhlak
✔ Soleh dalam keluarga
✔ Soleh dalam masyarakat

Semoga Allah menerima amal ibadah kita,
meningkatkan kualitas iman kita,
dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

NASKAH CERAMAH RAMADHAN Judul: “TAUBATAN NASHUHA: Pintu Ampunan yang Selalu Terbuka”

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (3)

Judul: “TAUBATAN NASHUHA: Pintu Ampunan yang Selalu Terbuka”
Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita nikmat iman dan kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini, kita mengangkat tema:
“Taubatan Nasuha: Pintu Ampunan yang Selalu Terbuka.”

1. Ramadhan: Bulan Ampunan

Ramadhan adalah bulan rahmat, maghfirah (ampunan), dan pembebasan dari api neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini kabar gembira bagi kita semua.
Tidak peduli seberapa banyak dosa kita, selama kita mau kembali, Allah membuka pintu ampunan-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah ayat harapan.
Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, kecuali jika kita menolak untuk bertaubat.

2. Apa Itu Taubatan Nasuha?

Allah SWT memerintahkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).”
(QS. At-Tahrim: 8)

Taubatan nasuha adalah taubat yang sungguh-sungguh, tulus, dan tidak main-main.

Para ulama menjelaskan syarat taubat ada tiga:

  1. Menyesali dosa yang telah dilakukan

  2. Berhenti dari dosa tersebut saat itu juga

  3. Berazam kuat untuk tidak mengulanginya lagi

Jika dosa berkaitan dengan manusia, maka ditambah satu syarat lagi:
4. Mengembalikan hak atau meminta maaf

Taubat bukan sekadar ucapan “astaghfirullah”.
Taubat adalah perubahan arah hidup.

3. Mengapa Kita Harus Segera Bertaubat?

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
Kita tidak tahu apakah Ramadhan ini yang terakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari.”
(HR. Muslim)

Betapa luas kasih sayang Allah.
Namun jangan menunda taubat.

Karena hati yang terlalu sering berbuat dosa akan mengeras.

Allah berfirman:

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Dosa yang terus diulang akan menutup cahaya hati.

4. Ramadhan: Momentum Pembersihan Diri

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membersihkan diri.

✔ Perbanyak istighfar
✔ Hidupkan qiyamul lail
✔ Perbaiki shalat
✔ Perbanyak sedekah
✔ Jaga lisan dan hati

Rasulullah ﷺ sendiri yang sudah dijamin masuk surga, tetap beristighfar lebih dari 70 kali sehari (HR. Bukhari).

Apalagi kita, yang penuh kekurangan?

5. Tanda Taubat Diterima

Bagaimana tanda taubat kita diterima?

✔ Hati terasa lebih ringan
✔ Ibadah terasa lebih nikmat
✔ Dosa yang dulu terasa biasa kini terasa berat
✔ Ada perubahan perilaku nyata

Allah berjanji:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Bayangkan, bukan hanya diampuni, tapi dicintai oleh Allah.

Penutup

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa taubat.
Jangan biarkan hati kita terus tertutup oleh dosa.

Mari kita kembali kepada Allah dengan taubatan nasuha.

Semoga Allah menerima taubat kita,
menghapus dosa-dosa kita,
dan menjadikan Ramadhan ini sebagai titik balik kehidupan kita.

Kita tutup dengan doa:

“Rabbighfirli wa tub ‘alayya innaka antat-tawwabur-rahim.”
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

NASKAH CERAMAH RAMADHAN Judul: “PUASA: Jalan Menuju Taqwa, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga”

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (2)

Judul: “PUASA: Jalan Menuju Taqwa, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga”
Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Hari ini kita mengangkat tema:
“Puasa: Jalan Menuju Taqwa, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga.”

1. Tujuan Puasa: Mencapai Taqwa

Allah SWT berfirman:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini sangat jelas. Tujuan puasa adalah taqwa.

Apa itu taqwa?
Taqwa adalah kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita.
Taqwa adalah menjaga diri dari maksiat karena takut dan cinta kepada Allah.
Taqwa adalah ketaatan yang lahir dari hati yang tunduk.

Puasa melatih kita untuk jujur.
Saat sendirian, tidak ada yang melihat kita minum.
Namun kita tetap menahan diri. Mengapa?
Karena kita sadar Allah melihat.

Inilah latihan taqwa.

2. Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jika puasa hanya menahan lapar dan dahaga, maka orang sakit pun bisa melakukannya.
Jika puasa hanya tidak makan dan minum, maka itu belum cukup.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad)

Mengapa demikian?

Karena lisannya masih berdusta.
Karena matanya masih melihat yang haram.
Karena hatinya masih dipenuhi iri dan dengki.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Artinya, puasa harus menyentuh akhlak dan hati.

3. Puasa Melatih Pengendalian Diri

Puasa adalah madrasah pengendalian diri.

Menahan makan — melatih sabar.
Menahan amarah — melatih kedewasaan.
Menahan syahwat — melatih kesucian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perisai dari apa?
Perisai dari api neraka.
Perisai dari hawa nafsu.
Perisai dari perilaku yang merusak diri.

Jika setelah Ramadhan kita masih mudah marah, mudah menggunjing, mudah lalai, maka ada yang perlu kita perbaiki dalam puasa kita.

4. Tanda Puasa yang Berbuah Taqwa

Bagaimana tanda puasa yang benar-benar mengantarkan kepada taqwa?

✔ Shalat semakin terjaga
✔ Al-Qur’an semakin dicintai
✔ Sedekah semakin ringan
✔ Akhlak semakin lembut
✔ Hati semakin takut berbuat dosa

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan bukan pada harta.
Bukan pada jabatan.
Tetapi pada taqwa.

Ramadhan adalah jalan menuju kemuliaan itu.

5. Ramadhan Sebagai Titik Perubahan

Hadirin yang dirahmati Allah,

Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan.

Jangan sampai setelah Idul Fitri:

  • Kita kembali lalai shalat,

  • Lupa membaca Al-Qur’an,

  • Kembali kepada kebiasaan buruk.

Puasa adalah latihan 30 hari.
Jika latihan berhasil, maka setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kesungguhan dalam puasa akan dibalas dengan petunjuk hidup.

Penutup

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita luruskan niat puasa kita.
Mari kita jadikan puasa sebagai jalan menuju taqwa.
Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Semoga Allah menerima puasa kita,
mengampuni dosa kita,
dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

JADWAL CERAMAH RAMADHAN 1447 H

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN Judul: “Ramadhan Datang, Saatnya Hati Disucikan dan Niat Diluruskan”

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (1)

Judul: “Ramadhan Datang, Saatnya Hati Disucikan dan Niat Diluruskan”
Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang kembali mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Ramadhan datang bukan sekadar mengganti kalender.
Ramadhan hadir membawa misi besar: mensucikan hati dan meluruskan niat.

1. Ramadhan: Momentum Penyucian Hati

Allah SWT berfirman:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa.
Dan takwa itu bersemayam di dalam hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya:

  • Dengki

  • Riya’

  • Sombong

  • Dendam

  • Cinta dunia berlebihan

Ramadhan adalah madrasah hati.

2. Meluruskan Niat: Kunci Diterimanya Amal

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Seringkali kita sibuk dengan aktivitas Ramadhan: tarawih, tadarus, sedekah, buka bersama. Namun pertanyaannya: untuk siapa semua itu?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Innamal a‘mālu binniyāt…”
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bisa jadi seseorang berpuasa, tapi niatnya agar dipuji.
Bisa jadi seseorang bersedekah, tapi ingin disebut dermawan.
Bisa jadi seseorang aktif di masjid, tapi ingin popularitas.

Maka sebelum Ramadhan berjalan jauh, mari bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah puasaku karena Allah?

  • Apakah sedekahku karena Allah?

  • Apakah dakwahku karena Allah?

Allah SWT berfirman:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Ramadhan adalah saat terbaik untuk reset niat.

3. Membersihkan Hati dengan Taubat

Ramadhan juga bulan ampunan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun ampunan tidak datang tanpa kesadaran.
Kita harus jujur pada diri sendiri.

Mungkin selama ini:

  • Shalat masih lalai

  • Lisan sering menyakiti

  • Hati mudah marah

  • Amanah belum dijaga

Ramadhan mengajak kita untuk berkata:
“Ya Allah, aku ingin berubah.”

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

4. Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Artinya, inti puasa bukan sekadar fisik, tetapi akhlak dan hati.

Jika setelah Ramadhan:

  • Hati masih keras

  • Lisan masih tajam

  • Shalat masih lalai

Maka ada yang perlu kita evaluasi.

5. Tanda Hati yang Bersih

Hati yang mulai bersih akan terlihat dari:

✔ Mudah menangis karena dosa
✔ Senang mendengar Al-Qur’an
✔ Ringan bersedekah
✔ Mudah memaafkan

Allah berfirman:

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

Itulah target Ramadhan: qalbun salim — hati yang bersih.

6. Penutup: Jadikan Ramadhan Titik Balik

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ramadhan tidak datang setiap saat.
Ia tamu agung yang bisa jadi terakhir bagi kita.

Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan hati.
Jangan biarkan ibadah kita hanya rutinitas tanpa ruh.

Mari kita sambut Ramadhan dengan doa:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)

Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menyucikan hati kita, meluruskan niat kita, dan menjadikan kita hamba yang lebih bertakwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 14 Februari 2026

NARASI UNTUK SAMBUT RAMADHAN 1447 H

 

🕌 NARASI UNTUK SAMBUT RAMADHAN 1447 H

Pengurus & Jamaah Mushalla Dinul Haq
Gonjong Indah – Jorong Koto Tuo
Nagari Panyalaian, Kec. X Koto
Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang kembali mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah. Bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam ibadah dan perjuangan.

Dengan penuh syukur dan tekad yang kuat, Pengurus dan Jamaah Mushalla Dinul Haq menyambut Ramadhan tahun ini dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk mensukseskan seluruh agenda ibadah Ramadhan:

🌙 Menghidupkan shalat berjamaah lima waktu
🌙 Menggiatkan shalat Tarawih dan Witir
🌙 Tadarus Al-Qur’an dan kajian keislaman
🌙 I’tikaf dan malam-malam penuh doa
🌙 Penguatan zakat, infak, dan sedekah

Kami juga bertekad menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat pembangunan Mushalla Dinul Haq, baik pembangunan fisik maupun pembangunan ruhiyah jamaahnya. Mushalla bukan sekadar bangunan, tetapi pusat ibadah, pendidikan, persatuan, dan pembinaan generasi.

Ramadhan ini menjadi saat yang tepat untuk mempererat kesatuan dan persaudaraan jamaah. Hilangkan perbedaan, kuatkan ukhuwah, satukan langkah dalam kebaikan.

Kami menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh jamaah dan masyarakat. Semoga Allah membersihkan hati kita, melapangkan dada kita, dan menyatukan kita dalam cinta dan taqwa.

Mari bersama menjaga kampung kita dari berbagai penyakit masyarakat: perpecahan, narkoba, judi, maksiat, dan segala bentuk kemungkaran. Jadikan Ramadhan sebagai benteng moral dan cahaya penerang nagari.

Kita berdoa semoga Allah SWT:
🤲 Menjauhkan kampung kita dari segala musibah dan bala
🤲 Memberikan kesehatan, keberkahan, dan keamanan
🤲 Menguatkan iman dan persaudaraan
🤲 Menjadikan kita hamba yang bertaqwa

“Yā Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan, satukan hati kami, kokohkan persaudaraan kami, dan jadikan Mushalla Dinul Haq sebagai pusat cahaya iman bagi masyarakat.”

Marhaban Yā Ramadhan 1447 H
Ramadhan: Bersih Hati, Kuat Iman, Erat Persaudaraan

Atas Nama Pengurus & Jamaah
Mushalla Dinul Haq
Gonjong Indah – Nagari Panyalaian 

WS Rky Batuah

Jumat, 13 Februari 2026

Sambut Ramadhan 1447 H, KUA Padang Panjang Timur Gelar Thaharah Masjid di Masjid Nurul Hidayah

 


🕌 Sambut Ramadhan 1447 H, KUA Padang Panjang Timur Gelar Thaharah Masjid di Masjid Nurul Hidayah

Padang Panjang Timur, 13 Februari 2025 — Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padang Panjang Timur menggelar kegiatan Thaharah Masjid di Masjid Nurul Hidayah Koto Panjang, Jumat (13/02/2025).

Kegiatan ini mengusung tema:
“Bulan yang Suci dengan Hati yang Suci untuk Pendidikan Iman, Penguat Cinta, Tumbuhkan Kepedulian dan Penggerak Sinergi Kebaikan untuk Kemaslahatan Umat.”

Wujud Nyata Persiapan Spiritual dan Sosial

Kegiatan thaharah masjid (bersih-bersih masjid) ini diikuti langsung oleh Kepala KUA Padang Panjang Timur beserta staf, para penyuluh agama Islam, penghulu, serta pengurus masjid dan jamaah setempat. Seluruh peserta bergotong royong membersihkan ruang utama masjid, karpet, mimbar, tempat wudhu, hingga halaman sekitar masjid.

Kepala KUA Padang Panjang Timur dalam sambutannya menyampaikan bahwa kebersihan masjid bukan hanya soal fisik, tetapi juga simbol kesiapan hati menyambut Ramadhan.

“Masjid yang bersih mencerminkan hati yang bersih. Ramadhan adalah momentum pendidikan iman dan perbaikan diri. Maka kita awali dengan membersihkan rumah Allah sebagai bentuk kesungguhan kita menyambut bulan penuh rahmat,” ujarnya.

Ramadhan: Momentum Pendidikan Iman dan Penguat Cinta

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KUA dalam membangun sinergi kolaboratif antara aparatur KUA, penyuluh agama, dan masyarakat. Ramadhan dipandang bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum memperkuat nilai-nilai cinta, kepedulian sosial, dan kebersamaan umat.

Thaharah masjid juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Semangat gotong royong yang ditunjukkan menjadi cerminan kepedulian bersama dalam menjaga kesucian dan kenyamanan rumah ibadah.

Sinergi untuk Kemaslahatan Umat

Melalui kegiatan ini, KUA Padang Panjang Timur berharap terbangun sinergi kebaikan yang berkelanjutan, tidak hanya selama Ramadhan, tetapi juga dalam program pembinaan umat ke depan. Masjid diharapkan menjadi pusat pembinaan iman, pendidikan keluarga sakinah, serta penguatan karakter generasi muda.

Dengan hati yang bersih dan lingkungan masjid yang suci, masyarakat diharapkan dapat menjalankan ibadah Ramadhan 1447 H dengan khusyuk, penuh semangat, serta menghadirkan dampak positif bagi kehidupan sosial dan keagamaan.

Ramadhan bukan sekadar datang dan pergi, tetapi momentum membangun iman, menumbuhkan cinta, dan menggerakkan kepedulian demi kemaslahatan umat. UwaS