BAHAYA KONGKALIKONG DALAM AL-QUR’AN
Ketika Kepentingan Pribadi Mengalahkan Amanah dan Kebenaran
Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Ada satu penyakit sosial yang kadang sulit dikenali karena ia tidak selalu datang dengan wajah yang kasar.
Ia bisa datang dalam bentuk senyuman.
Dalam bentuk pertemanan.
Dalam bentuk rasa sungkan.
Dalam bentuk “tolong bantu saya”.
Dalam bentuk “kita sama-sama enak”.
Bahkan kadang dibungkus dengan kalimat yang terdengar begitu biasa:
“Jangan khawatir, ada orang dalam.”
“Bisa kita atur.”
“Yang penting sama-sama dapat.”
“Ini rahasia kita saja.”
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Sebab ketika sebuah kesepakatan mulai membutuhkan kerahasiaan, mengabaikan aturan, merugikan pihak lain, atau membeli keputusan dengan imbalan tertentu, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan antarmanusia.
Ia sudah menyentuh wilayah amanah, kejujuran, keadilan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Itulah yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut kongkalikong.
Ketika yang Salah Terlihat Biasa
Kongkalikong tidak selalu dimulai dari kejahatan besar.
Kadang dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil.
Titip absen.
Meminta seseorang mengubah data.
Memanfaatkan kedekatan untuk mendapatkan pelayanan khusus.
Memberikan sesuatu agar urusan dipercepat.
Mengatur sebuah keputusan sebelum prosesnya berlangsung.
Menutup mata terhadap kesalahan teman karena hubungan kekeluargaan.
Lalu kita mengatakan:
“Ah, cuma begitu.”
Masalahnya, dosa tidak selalu terasa berat ketika pertama kali dilakukan.
Yang lebih berbahaya adalah ketika hati mulai terbiasa dengan yang salah.
Hari ini mungkin kita hanya menutup mata.
Besok ikut membantu.
Lusa mendapatkan keuntungan.
Lama-kelamaan kita tidak lagi merasa bahwa itu sebuah kesalahan.
Di sinilah agama kehilangan daya kendalinya dalam kehidupan.
Al-Qur’an Sudah Mengingatkan
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
QS. Al-Ma’idah [5]: 2
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita.
Islam tidak melarang kerja sama.
Justru Islam memerintahkan manusia untuk saling membantu.
Tetapi ada batas yang sangat jelas:
Bantu dalam kebaikan, jangan bantu dalam dosa.
Membantu orang mendapatkan haknya adalah kebaikan.
Membantu orang memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak benar adalah persoalan lain.
Membantu orang yang kesulitan adalah ibadah.
Tetapi membantu seseorang menipu, menyuap, memanipulasi, atau merampas hak orang lain bukanlah solidaritas.
Itu adalah kerja sama dalam dosa.
Kongkalikong dan Realitas Sosial Kita
Kita tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat.
Dalam laporan SPI 2025, KPK mencatat indeks integritas nasional sebesar 72,32 dan menyatakan Indonesia masih berada dalam kategori rentan korupsi. KPK juga mencatat bahwa praktik seperti suap dan pungutan liar masih ditemukan dan dalam sejumlah konteks masih mengalami normalisasi.
Angka itu bukan sekadar angka statistik.
Ia seharusnya menjadi cermin moral.
Sebab korupsi besar tidak muncul begitu saja.
Ia dapat tumbuh dari budaya kecil yang membiarkan ketidakjujuran.
Dari kebiasaan menggunakan koneksi untuk kepentingan pribadi.
Dari pembenaran terhadap pemberian “uang terima kasih” yang sebenarnya berkaitan dengan kewenangan.
Dari keberanian mengatakan:
“Semua orang juga melakukannya.”
Padahal banyaknya orang yang melakukan sesuatu tidak otomatis membuat sesuatu itu menjadi benar.
Ketika “Orang Dalam” Mengalahkan Orang yang Berhak
Salah satu bentuk kongkalikong yang paling merusak adalah ketika kedekatan menggantikan kelayakan.
Orang yang memenuhi syarat kalah karena tidak punya koneksi.
Orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan harus menunggu karena tidak memberikan sesuatu.
Orang yang jujur justru dianggap naif karena tidak mau bermain “di belakang layar”.
Jika kebiasaan seperti ini terus dibiarkan, masyarakat akhirnya belajar satu hal yang sangat berbahaya:
“Untuk mendapatkan hak, tidak cukup menjadi benar. Kita harus punya orang dalam.”
Jika pemikiran itu sudah menjadi budaya, maka yang sedang kita rusak bukan hanya sebuah aturan.
Kita sedang merusak kepercayaan sosial.
Jangan Memakan Harta dengan Cara yang Batil
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ
“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”
QS. Al-Baqarah [2]: 188
Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan harta bukan hanya soal berapa jumlahnya, tetapi juga dari mana datangnya dan bagaimana cara mendapatkannya.
Ada uang yang jumlahnya kecil tetapi penuh keberkahan.
Ada pula keuntungan besar yang justru membawa persoalan panjang karena diperoleh dengan cara yang batil.
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup bertanya:
“Berapa yang saya dapat?”
Tetapi harus bertanya:
“Dari mana saya mendapatkannya?”
“Apakah ini hak saya?”
“Apakah ada orang lain yang dirugikan?”
“Apakah Allah meridhainya?”
Amanah Tidak Boleh Diperjualbelikan
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
QS. An-Nisa’ [4]: 58
Ayat ini memiliki pesan yang sangat dalam.
Ketika seseorang diberi jabatan, kewenangan, kepercayaan, atau tanggung jawab, ia sebenarnya sedang memegang amanah.
Jabatan bukan milik pribadi.
Kewenangan bukan alat untuk membalas jasa.
Pelayanan bukan barang dagangan.
Keputusan bukan sesuatu yang boleh diperjualbelikan.
Maka semakin tinggi amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Bahaya Terbesar: Hati Tidak Lagi Merasa Berdosa
Ada kerusakan yang lebih berbahaya daripada kehilangan uang.
Yaitu kehilangan rasa bersalah ketika melakukan kesalahan.
Ketika seseorang pertama kali menerima sesuatu yang tidak semestinya, mungkin hatinya gelisah.
Tetapi jika diulang terus-menerus, hati bisa terbiasa.
Akhirnya:
yang salah dianggap biasa,
yang haram dianggap rezeki,
yang curang dianggap strategi,
yang jujur dianggap bodoh.
Pada titik itulah agama hanya tinggal identitas.
Kita mungkin rajin beribadah secara ritual, tetapi nilai-nilai ibadah belum sepenuhnya masuk ke dalam perilaku sosial.
Padahal shalat seharusnya membentuk pribadi yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
Puasa seharusnya membentuk ketakwaan.
Zakat seharusnya menumbuhkan kepedulian dan kebersihan harta.
Al-Qur’an seharusnya membentuk kejujuran.
Agama tidak cukup hanya terdengar dari lisan. Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Jangan Sampai Kesalehan Berhenti di Rumah Ibadah
Inilah tantangan keberagamaan kita.
Seseorang bisa sangat khusyuk ketika berdoa, tetapi bagaimana ketika berhadapan dengan uang?
Bisa sangat fasih membaca ayat, tetapi bagaimana ketika memiliki kewenangan?
Bisa rajin menghadiri majelis taklim, tetapi bagaimana ketika seorang teman meminta bantuan untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak benar?
Di sinilah kualitas keberagamaan diuji.
Kesalehan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah.
Ia juga harus melahirkan kejujuran dalam hubungan horizontal dengan manusia.
Karena itu, keberagamaan yang kuat bukan hanya membuat seseorang rajin beribadah.
Tetapi juga membuatnya sulit melakukan kezaliman.
Kongkalikong Selalu Mempunyai Korban
Kadang orang yang melakukan kongkalikong merasa:
“Saya tidak merugikan siapa-siapa.”
Benarkah?
Jika seseorang memperoleh sesuatu karena koneksi, mungkin ada orang lain yang lebih berhak tetapi kehilangan kesempatan.
Jika seseorang memperoleh pelayanan khusus karena memberikan imbalan, mungkin ada orang lain yang harus menunggu.
Jika sebuah keputusan sudah diatur sebelumnya, mungkin ada pihak yang tidak pernah mendapatkan kesempatan yang adil.
Karena itu, kongkalikong bukan sekadar persoalan dua orang yang membuat kesepakatan.
Sering kali ada pihak ketiga yang tidak terlihat tetapi menanggung kerugian.
Itulah sebabnya Islam sangat menekankan keadilan.
Kita Tidak Harus Menjadi Hebat untuk Menjadi Jujur
Membangun budaya antikongkalikong tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar.
Ia bisa dimulai dari diri sendiri.
Ketika tidak berhak, kita mengatakan:
“Saya tidak berhak.”
Ketika mendapat kelebihan yang bukan milik kita:
“Ini bukan bagian saya.”
Ketika diminta melakukan sesuatu yang salah:
“Maaf, saya tidak bisa.”
Ketika mengetahui kesalahan:
“Mari kita perbaiki.”
Ketika diberi amanah:
“Saya akan menjaganya.”
Inilah bentuk keberagamaan yang nyata.
Lima Pertanyaan Sebelum Kita “Membantu” Seseorang
Sebelum membantu seseorang, mari bertanya:
1. Apakah dia memang berhak?
2. Apakah cara yang saya gunakan benar?
3. Apakah ada pihak lain yang dirugikan?
4. Apakah saya berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?
5. Jika kesepakatan ini diketahui semua orang, apakah saya tetap merasa tenang?
Jika jawabannya membuat hati gelisah, berhentilah sejenak.
Sebab bisa jadi hati sedang memberikan peringatan.
Allah Melihat Apa yang Tidak Dilihat Manusia
Allah SWT berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?”
QS. Al-‘Alaq [96]: 14
Inilah fondasi kesadaran beragama.
Mungkin manusia tidak tahu.
Mungkin atasan tidak tahu.
Mungkin keluarga tidak tahu.
Mungkin masyarakat tidak tahu.
Tetapi Allah tahu.
Kesadaran seperti inilah yang harus kita hidupkan kembali.
Bukan sekadar takut kepada kamera pengawas.
Bukan sekadar takut kepada pemeriksa.
Bukan sekadar takut kepada hukum.
Tetapi memiliki rasa takut kepada Allah bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Membangun Keberagamaan yang Berintegritas
Masyarakat membutuhkan keberagamaan yang tidak berhenti pada simbol.
Kita membutuhkan umat yang:
Rajin beribadah — sekaligus jujur.
Banyak berdoa — sekaligus amanah.
Mencintai Al-Qur’an — sekaligus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman perilaku.
Menghormati ulama — sekaligus menghormati hak orang lain.
Berbicara tentang akhirat — sekaligus menjaga urusan dunia dengan penuh tanggung jawab.
Inilah keberagamaan yang hidup.
Keberagamaan yang tidak hanya memenuhi masjid, tetapi juga menghadirkan kejujuran di kantor.
Tidak hanya terdengar dalam ceramah, tetapi juga terlihat dalam transaksi.
Tidak hanya tampak dalam pakaian, tetapi juga tercermin dalam amanah.
Penutup: Lebih Baik Kehilangan Keuntungan daripada Kehilangan Keberkahan
Kongkalikong mungkin memberikan keuntungan dalam waktu singkat.
Tetapi kita tidak pernah tahu berapa panjang dampaknya.
Sebab yang kita cari sebagai seorang Muslim bukan sekadar keuntungan, melainkan keberkahan.
Kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh dari harta yang tidak jelas sumbernya.
Kita tidak ingin keluarga kita menikmati sesuatu yang diperoleh dengan merugikan orang lain.
Kita tidak ingin jabatan yang seharusnya menjadi jalan pengabdian justru menjadi sumber dosa.
Dan kita tentu tidak ingin ketika suatu hari berdiri di hadapan Allah, ternyata ada hak manusia yang masih melekat pada diri kita.
Maka mari kita mulai dari hal sederhana.
Jangan titipkan kejujuran kepada orang lain.
Jangan jual amanah demi keuntungan.
Jangan jadikan pertemanan sebagai jalan menuju ketidakadilan.
Jangan bantu seseorang mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.
Dan jangan pernah lupa:
Ketika manusia tidak melihat, Allah tetap melihat.
Ketika manusia lupa, Allah tidak pernah lupa.
Ketika manusia menutup sebuah rahasia, Allah mengetahui apa yang tersembunyi.
Karena itu, mari kita bangun keberagamaan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga jujur secara sosial.
Sebab ukuran keberagamaan kita bukan hanya seberapa sering kita menyebut nama Allah, tetapi juga seberapa takut kita mengkhianati amanah-Nya.








