KHUTBAH JUMAT
KEUTAMAAN MERAWAT KELUARGA YANG SAKIT
Tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah
Oleh:
Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
KHUTBAH PERTAMA
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنَا فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَجَعَلَ بَيْنَنَا مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَابْتَلَانَا لِيَبْلُوَنَا أَيُّنَا أَحْسَنُ عَمَلًا.
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa.
Takwa bukan hanya ketika kita sehat.
Takwa bukan hanya ketika hidup sedang mudah.
Takwa justru semakin terlihat ketika kehidupan sedang sulit.
Ketika kita diuji dengan sakit.
Ketika orang yang kita cintai terbaring di tempat tidur.
Ketika seorang ibu harus menunggu anaknya yang sakit.
Ketika seorang anak harus mendampingi ayah atau ibunya.
Ketika seorang suami harus menjaga istrinya.
Ketika seorang istri dengan penuh kesabaran mendampingi suaminya.
Dan ketika tenaga kesehatan berdiri berjam-jam, melayani manusia yang sedang berada pada titik paling lemahnya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Hari ini kita merenungkan satu tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita:
“Keutamaan Merawat Keluarga yang Sakit.”
Sebab sakit tidak hanya menguji orang yang terbaring.
Sakit juga menguji orang yang menunggu di sampingnya.
Orang yang sakit diuji dengan rasa nyeri.
Keluarganya diuji dengan rasa cemas.
Ada yang diuji dengan kurang tidur.
Ada yang diuji dengan biaya.
Ada yang diuji dengan pekerjaan yang tertunda.
Ada yang diuji dengan pikiran:
"Apakah dia akan sembuh?"
"Sampai kapan kami harus menunggu?"
"Bagaimana dengan biaya pengobatan?"
"Ya Allah, kuatkanlah kami..."
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dalam keadaan seperti itu, jangan pernah merasa bahwa kesabaran kita sia-sia.
Jangan merasa bahwa menemani orang sakit hanyalah pekerjaan rumah tangga.
Jangan mengira bahwa duduk berjam-jam di samping tempat tidur tidak memiliki nilai ibadah.
Boleh jadi, senyum yang kita berikan kepada orang tua yang sedang sakit lebih bernilai di sisi Allah daripada banyak amal yang kita banggakan.
Boleh jadi, segelas air yang kita berikan kepada pasangan yang sedang lemah menjadi sebab Allah mengampuni dosa kita.
Boleh jadi, malam yang kita habiskan untuk menjaga anak yang sakit menjadi malam yang dicatat sebagai ibadah oleh Allah.
Karena Allah melihat bukan hanya apa yang kita kerjakan.
Allah melihat cinta, keikhlasan dan pengorbanan di balik pekerjaan itu.
Pertama: Sakit adalah ujian, tetapi merawat adalah kesempatan beribadah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Perhatikan ayat ini.
Allah tidak mengatakan bahwa kehidupan orang beriman selalu bebas dari ujian.
Sebaliknya, Allah mengatakan:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ — Kami pasti akan menguji kalian.
Karena itu, jangan bertanya:
"Mengapa keluarga saya diuji?"
Tetapi mari belajar bertanya:
“Ya Allah, bagaimana saya harus menjalani ujian ini agar menjadi lebih dekat kepada-Mu?”
Ketika sakit datang, kita mungkin tidak mampu mengubah keadaan.
Tetapi kita masih bisa mengubah cara kita menghadapi keadaan.
Kita mungkin tidak mampu mempercepat kesembuhan.
Tetapi kita bisa mempercepat datangnya pahala melalui kesabaran, doa, pelayanan dan kasih sayang.
Kedua: Merawat keluarga adalah bagian dari menjaga amanah Allah
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa keluarga adalah amanah.
Ketika keluarga kita sehat, kita menjaga mereka dengan kasih sayang.
Ketika keluarga kita sakit, kita menjaga mereka dengan kesabaran.
Ketika orang tua kita mulai lemah, saat itulah kesempatan bagi seorang anak untuk membalas sebagian kecil pengorbanan orang tuanya.
Bayangkan ketika kita kecil.
Kita tidak mampu berjalan.
Ibu menggendong.
Kita tidak mampu makan sendiri.
Ayah dan ibu menyuapi.
Kita menangis tengah malam.
Mereka terbangun.
Kita demam.
Mereka panik.
Kita sakit.
Mereka berdoa.
Sekarang, ketika mereka sudah tua dan tubuh mereka mulai lemah, jangan sampai kita berkata:
"Saya sibuk."
"Saya tidak sempat."
"Kan ada saudara yang lain."
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan sampai ketika orang tua membutuhkan kita, kita justru menjadi orang yang paling sulit ditemui.
Ketiga: Kesabaran merawat orang sakit tidak pernah sia-sia
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kegelisahan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menjadikannya sebagai sebab penghapus dosa-dosanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memang berbicara tentang orang yang mengalami penderitaan.
Namun ada pelajaran besar bagi keluarga yang merawat.
Orang sakit mendapatkan ujian kesabaran.
Orang yang merawat mendapatkan ujian kasih sayang.
Keduanya dapat menjadi jalan menuju Allah apabila dijalani dengan iman.
Maka kepada keluarga pasien:
Jangan merasa pengorbanan Anda tidak berarti.
Ketika Anda terbangun karena harus mengganti pakaian orang tua yang sakit...
Ketika Anda harus menyuapi pasangan...
Ketika Anda harus membersihkan tempat tidur...
Ketika Anda harus mengantar berobat...
Ketika Anda harus menenangkan anak yang menangis karena kesakitan...
Allah melihat semuanya.
Manusia mungkin tidak melihat.
Saudara mungkin tidak mengetahui.
Tetapi Allah tidak pernah lalai terhadap satu pun pengorbanan hamba-Nya.
Keempat: Jangan hanya merawat tubuh, rawat juga hati orang yang sakit
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada satu hal yang sering terlupakan.
Orang sakit tidak hanya membutuhkan obat.
Ia juga membutuhkan harapan.
Ia membutuhkan kata-kata yang menenangkan.
Ia membutuhkan sentuhan kasih sayang.
Ia membutuhkan orang yang berkata:
“Tenang, kami di sini.”
“Jangan takut, kita berobat bersama.”
“Insya Allah ada jalan.”
“Mari kita berdoa.”
Jangan ketika orang sakit berkata:
"Bagaimana ini?"
Kita jawab:
"Sudahlah, pasrah saja."
Jangan.
Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar dan berharap kepada Allah.
Katakan:
“Kita berobat, kita berdoa, kita ikhtiar. Kesembuhan milik Allah.”
Allah berfirman melalui kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu'ara: 80)
Dokter berikhtiar.
Perawat merawat.
Obat menjadi sarana.
Keluarga memberikan dukungan.
Tetapi Asy-Syafi, Allah Yang Maha Menyembuhkan, adalah pemilik kesembuhan.
Kelima: Penghormatan kepada tenaga kesehatan adalah bagian dari akhlak
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada kesempatan ini, kita juga perlu merenungkan perjuangan para tenaga kesehatan.
Dokter.
Perawat.
Bidan.
Tenaga farmasi.
Petugas laboratorium.
Petugas administrasi.
Petugas kebersihan.
Dan seluruh orang yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
Mereka berhadapan dengan manusia yang sedang takut, cemas, sakit dan kadang-kadang emosional.
Maka kepada tenaga kesehatan:
Semoga Allah menjadikan setiap langkah Anda sebagai amal saleh.
Ketika Anda memeriksa pasien dengan teliti,
ketika Anda memberikan obat,
ketika Anda menenangkan keluarga,
ketika Anda membantu seorang pasien yang tidak berdaya,
ketika Anda bekerja dalam keadaan lelah,
jangan hanya melihatnya sebagai pekerjaan.
Niatkan sebagai amanah kemanusiaan dan ibadah kepada Allah.
Dan kepada keluarga pasien:
Hormatilah tenaga kesehatan.
Jangan menjadikan kecemasan sebagai alasan untuk menyakiti.
Kita boleh bertanya.
Kita boleh meminta penjelasan.
Tetapi lakukan dengan santun.
Karena sesungguhnya kita sedang berada dalam satu perjuangan:
keluarga, tenaga kesehatan dan masyarakat—bersama-sama membantu manusia melewati ujian sakit.
Keenam: Masyarakat jangan biarkan keluarga pasien berjuang sendirian
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam tidak mengajarkan kita menjadi masyarakat yang hanya datang ketika seseorang meninggal.
Islam mengajarkan kita hadir sejak seseorang masih berjuang.
Ada tetangga yang sakit.
Kita jenguk.
Ada keluarga yang sedang kesulitan.
Kita bantu.
Ada orang tua yang sendirian di rumah sakit.
Kita temani jika mampu.
Ada keluarga yang kesulitan makanan karena seluruh waktunya habis mendampingi pasien.
Kita kirim makanan.
Ada keluarga yang sedang kesulitan secara ekonomi.
Kita bantu sesuai kemampuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ، مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
"Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya."
(HR. Muslim)
Subhanallah.
Mungkin kita tidak mampu menyembuhkan penyakitnya.
Tetapi kita bisa membantu meringankan bebannya.
Mungkin kita tidak mampu membeli seluruh obatnya.
Tetapi kita bisa membantu sebagian.
Mungkin kita tidak mampu menghilangkan rasa sakitnya.
Tetapi kita bisa membuatnya tidak merasa sendirian.
Dan terkadang...
kehadiran kita adalah obat yang tidak tertulis di resep.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Ada sebuah renungan untuk kita semua.
Suatu hari mungkin kita berada di sisi tempat tidur orang lain.
Hari lain mungkin kita yang berada di tempat tidur itu.
Hari ini kita mengantar orang tua berobat.
Suatu saat mungkin anak-anak kita yang mengantar kita.
Hari ini kita menggenggam tangan orang yang sakit.
Suatu saat mungkin tangan kita yang membutuhkan genggaman.
Karena itu:
Jangan sia-siakan kesempatan berbuat baik ketika Allah menghadirkannya.
Jika hari ini Allah masih memberikan kita kesempatan merawat ayah dan ibu—
rawatlah dengan kasih sayang.
Jika Allah masih memberikan kesempatan mendampingi pasangan—
dampingilah dengan kesetiaan.
Jika Allah memberi kesempatan merawat anak—
rawatlah dengan kesabaran.
Jika Allah memberikan kesempatan melayani pasien—
layanilah dengan amanah.
Dan jika Allah memberikan kesempatan membantu tetangga—
bantulah dengan keikhlasan.
Sebab kita tidak pernah tahu,
amal mana yang akan menjadi sebab Allah menyelamatkan kita pada hari akhirat.
Doa untuk orang sakit
Mari kita doakan saudara-saudara kita yang sedang sakit:
أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، أَنْ يَشْفِيَهُمْ
"Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan 'Arsy yang agung, agar Dia memberikan kesembuhan kepada mereka."
Dan sebagaimana doa Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
"Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah menyembuhkan saudara-saudara kita yang sedang sakit.
Semoga Allah menguatkan keluarga yang sedang merawat.
Semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka yang sedang menunggu.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada tenaga kesehatan yang melayani.
Dan semoga Allah menjadikan setiap tetes air mata, setiap langkah, setiap lelah, setiap doa dan setiap pengorbanan sebagai amal saleh yang bernilai di sisi-Nya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، شِفَاءً تَامًّا، شِفَاءً عَاجِلًا، لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.
اللَّهُمَّ اشْفِ كُلَّ مَرِيْضٍ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْأَلَمَ وَالضُّرَّ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةَ وَالرَّحْمَةَ.
اللَّهُمَّ قَوِّ أَهْلَ الْمَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَالْإِخْلَاصَ، وَاجْعَلْ كُلَّ تَعَبٍ وَخِدْمَةٍ وَدُمُوعٍ وَدُعَاءٍ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِمْ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي أَطِبَّائِنَا وَمُمَرِّضِينَا وَجَمِيعِ الْعَامِلِينَ فِي الْمَجَالِ الصِّحِّيِّ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى أَدَاءِ أَمَانَتِهِمْ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أَهْلًا مُتَرَاحِمِينَ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
اللَّهُمَّ احْفَظْ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَزْوَاجَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأُسَرَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ سَكِينَةٍ وَمَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا لِتَفْرِيجِ كُرُبَاتِ عِبَادِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا فِي زِيَادَةِ آلامِهِمْ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

.png)




