Sabtu, 06 Juni 2026

Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin: Bukan Sekadar Syarat Nikah, Tetapi Sekolah Kehidupan Keluarga

 


Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin: Bukan Sekadar Syarat Nikah, Tetapi Sekolah Kehidupan Keluarga

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam dan Fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin)

Menikah itu mudah. Mengucapkan akad nikah hanya membutuhkan beberapa menit. Namun membangun keluarga yang kokoh, harmonis, dan bertahan hingga akhir hayat membutuhkan ilmu, keterampilan, kesabaran, dan komitmen yang dipelajari sepanjang hidup.

Karena itulah pemerintah melalui Kementerian Agama menyelenggarakan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi Calon Pengantin. Bimwin bukan sekadar formalitas administrasi menjelang akad nikah, melainkan sebuah proses pendidikan keluarga yang dirancang secara ilmiah, sistematis, dan berbasis kebutuhan nyata pasangan calon suami-istri.

Hakikat Bimbingan Perkawinan

Hakikat Bimbingan Perkawinan adalah mempersiapkan calon pengantin menjadi pasangan yang mampu membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, sekaligus mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan rumah tangga. Modul nasional Bimwin menegaskan bahwa keluarga tidak hanya berdimensi fisik, tetapi juga spiritual, intelektual, sosial, dan emosional. Oleh sebab itu, perkawinan harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya pesta dan dokumentasinya saja.

Dalam perspektif Bimwin, keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan wadah ibadah, pendidikan karakter, pengembangan generasi, dan sarana meraih kebahagiaan dunia serta akhirat.

Tujuan Bimbingan Perkawinan

Bimbingan Perkawinan bertujuan membantu calon pengantin:

  1. Memahami hakikat dan tujuan perkawinan.

  2. Mengenali peran dan tanggung jawab suami-istri.

  3. Mengembangkan kemampuan komunikasi keluarga.

  4. Mengelola konflik secara sehat.

  5. Membangun pola pengasuhan anak yang berkualitas.

  6. Menumbuhkan ketahanan keluarga dalam aspek agama, psikologi, sosial, dan ekonomi.

Dengan kata lain, Bimwin adalah "simulasi kehidupan rumah tangga" sebelum pasangan benar-benar memasuki dunia perkawinan.

Kurikulum dan Modul Standar Nasional

Banyak masyarakat belum mengetahui bahwa Bimwin memiliki kurikulum nasional dan modul resmi yang disusun oleh para ahli agama, psikolog, praktisi keluarga, akademisi, dan Kementerian Agama.

Materi yang diberikan antara lain:

1. Mempersiapkan Keluarga Sakinah

Peserta diajak memahami:

  • Tujuan hidup dan tujuan berkeluarga.

  • Jati diri suami-istri.

  • Fondasi keluarga sakinah.

  • Kesalingan dalam kehidupan reproduksi.

2. Psikologi Keluarga

Materi ini membahas:

  • Komponen hubungan perkawinan.

  • Tahapan perkembangan keluarga.

  • Penghancur dan pembangun hubungan.

  • Komunikasi efektif.

  • Manajemen konflik keluarga.

3. Menyiapkan Generasi Berkualitas

Materi ini mengajarkan:

  • Konsep anak saleh dan berkualitas.

  • Pencegahan stunting.

  • Tanggung jawab orang tua.

  • Kesepakatan pola pengasuhan anak.

Dengan demikian, calon pengantin tidak hanya belajar tentang akad nikah, tetapi juga belajar menjadi pasangan hidup, sahabat, orang tua, dan pemimpin keluarga.

Fasilitator Bersertifikat, Bukan Ceramah Biasa

Keunikan Bimwin terletak pada metode pembelajarannya.

Fasilitator Bimwin tidak sekadar berdiri di depan kelas lalu berceramah. Mereka telah mengikuti pelatihan khusus dan mendapatkan sertifikasi sebagai fasilitator.

Tugas fasilitator adalah:

  • Memancing diskusi.

  • Menggali pengalaman peserta.

  • Membimbing refleksi.

  • Memfasilitasi permainan edukatif.

  • Membantu pasangan menemukan solusi mereka sendiri.

Karena itu suasana kelas Bimwin sering kali lebih hidup, interaktif, dan menyenangkan dibandingkan seminar biasa.

Ada Ice Breaking yang Membuat Peserta Tidak Mengantuk

Bayangkan jika peserta duduk berjam-jam hanya mendengarkan ceramah. Tentu banyak yang menguap.

Karena itu Bimwin menggunakan berbagai teknik ice breaking, misalnya:

Sungai Kehidupan

Peserta diminta menggambar perjalanan hidupnya dari masa kini hingga cita-cita keluarga di akhirat. Metode ini membantu peserta menyusun prioritas hidup dan tujuan keluarga.

Aktivitas ini sering membuat peserta tersenyum, merenung, bahkan terharu karena baru pertama kali memikirkan masa depan keluarganya secara mendalam.

Instrumen dan Lembar Asesmen

Dalam Bimwin peserta juga mengisi berbagai instrumen pembelajaran.

Rekening Bank Hubungan

Peserta menuliskan:

Setoran:

  • Sikap yang diharapkan dari pasangan.

Penarikan:

  • Sikap yang tidak diharapkan dari pasangan.

Dari sini banyak calon pengantin baru menyadari bahwa pasangan ternyata memiliki harapan yang berbeda.

Ilustrasi, Games dan Simulasi Menarik

Bimwin juga menggunakan berbagai permainan edukatif.

Game Menggambar Keluarga Harmonis

Peserta diminta menggambar keluarga harmonis dan keluarga yang gagal, lalu mendiskusikan faktor penyebabnya.

Role Play Konflik Rumah Tangga

Peserta memainkan peran sebagai pasangan yang sedang bertengkar dan belajar mengenali sikap-sikap penghancur hubungan seperti:

  • Kritik berlebihan.

  • Merendahkan pasangan.

  • Defensif.

  • Mendiamkan pasangan.

Melalui simulasi ini peserta belajar bahwa konflik bukan musuh perkawinan. Yang berbahaya adalah cara mengelola konflik.

Quiz yang Menggugah Kesadaran

Fasilitator sering memberikan kuis reflektif seperti:

  • Apa tiga prioritas hidup Anda setelah menikah?

  • Anak seperti apa yang ingin Anda miliki?

  • Orang tua seperti apa yang harus Anda menjadi untuk mewujudkan anak tersebut?

  • Apa kebiasaan pasangan yang paling Anda hargai?

Pertanyaan sederhana ini sering membuka percakapan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara calon suami dan calon istri.

Bimwin: Investasi Keluarga Masa Depan

Di tengah meningkatnya angka perceraian, konflik rumah tangga, kekerasan dalam keluarga, dan persoalan pengasuhan anak, Bimbingan Perkawinan menjadi salah satu investasi sosial yang sangat penting.

Banyak pasangan rela menghabiskan puluhan juta rupiah untuk resepsi pernikahan yang hanya berlangsung beberapa jam. Namun sesungguhnya yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan kehidupan setelah resepsi selesai.

Bimwin mengajarkan bahwa keluarga sakinah tidak lahir karena keberuntungan, melainkan karena ilmu, komunikasi, musyawarah, komitmen, dan kesediaan untuk terus belajar bersama.

Sebagaimana pepatah bijak mengatakan:

"Menikah itu bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang belajar menjadi pasangan yang tepat."

Maka mengikuti Bimbingan Perkawinan bukanlah beban, melainkan kesempatan emas untuk mempersiapkan keluarga yang lebih kuat, lebih sehat, dan lebih berkualitas.

Karena keluarga yang hebat tidak dibangun pada hari akad nikah, melainkan dipersiapkan jauh sebelum akad itu diucapkan.

Wallahu A'lam

KUA PADANG PANJANG TIMUR KOMITMEN WUJUDKAN PELAYANAN YANG BERSIH BERINTEGRITAS

INTEGRITAS BUKAN SEKADAR SLOGAN: MARI BANGUN BUDAYA PENGAWASAN YANG BERMARTABAT

Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur/Fasilitator Bimbingan Perkawinan/Agen Perubahan

Di setiap kantor pelayanan publik, kita sering menjumpai berbagai slogan yang terpampang megah: Zona Integritas, Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), serta seruan Tolak Gratifikasi. Namun sesungguhnya, nilai-nilai tersebut tidak akan bermakna apabila hanya berhenti pada baliho, spanduk, atau poster semata.

Integritas sejati lahir ketika komitmen diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebab perubahan pada hakikatnya adalah kembali kepada jalan yang benar. Jangan sampai seseorang lantang menyerukan "Tolak Gratifikasi", tetapi diam-diam menerima gratifikasi. Jangan sampai gencar mengkampanyekan "Anti KKN", namun justru terlibat dalam praktik Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Komitmen tidak boleh berhenti pada retorika, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Di sisi lain, keberhasilan pembangunan Zona Integritas bukan hanya menjadi tanggung jawab aparatur pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting sebagai mitra pengawas sekaligus kontrol sosial yang konstruktif. Salah satu bentuk partisipasi tersebut adalah melalui mekanisme Quick Response Pengaduan Masyarakat.

Kehadiran kanal pengaduan yang cepat dan mudah diakses merupakan wujud keterbukaan lembaga publik terhadap kritik, saran, dan masukan dari masyarakat. Namun demikian, pengaduan yang disampaikan hendaknya dilakukan secara bertanggung jawab. Kritik yang sehat adalah kritik yang berbasis fakta, data, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebaliknya, pengaduan yang dibangun di atas prasangka, fitnah, hoaks, atau pencemaran nama baik tidak hanya merugikan individu dan lembaga, tetapi juga dapat merusak semangat pelayanan yang sedang dibangun bersama. Kontrol sosial yang baik bukanlah upaya menjatuhkan, melainkan upaya memperbaiki.

Dalam perspektif agama, Islam mengajarkan prinsip tabayyun atau klarifikasi sebelum menyampaikan informasi. Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini menjadi landasan penting bahwa setiap informasi, termasuk aduan dan kritik, harus didasarkan pada kebenaran dan verifikasi yang memadai.

Karena itu, masyarakat perlu didorong untuk berani melapor apabila menemukan indikasi penyimpangan pelayanan publik. Namun keberanian tersebut harus dibarengi dengan kejujuran, objektivitas, dan tanggung jawab moral. Sementara lembaga pelayanan publik wajib menindaklanjuti setiap laporan secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Hubungan yang harmonis antara aparatur yang berintegritas dan masyarakat yang kritis serta bertanggung jawab akan melahirkan pelayanan publik yang semakin berkualitas. Dari sinilah lahir kepercayaan publik. Dari kepercayaan publik tumbuh partisipasi masyarakat. Dan dari partisipasi masyarakat tercipta tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada kemaslahatan.

KUA Padang Panjang Timur melalui semangat Zona Integritas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya pelayanan yang bersih, transparan, dan profesional. Mari jadikan kritik sebagai energi perbaikan, bukan sarana permusuhan. Mari jadikan pengawasan sebagai bentuk kepedulian, bukan ajang fitnah. Mari jadikan integritas sebagai budaya, bukan sekadar slogan.

Sebab pelayanan yang baik hari ini akan menjadi warisan berharga bagi umat dan bangsa di masa yang akan datang.

"Bersama Kita Bisa: Bersih Melayani, Hebat Berprestasi." 


 

Kamis, 04 Juni 2026

Dolar Naik, Halal Jangan Turun!

 


Dolar Naik, Halal Jangan Turun!

Catatan Ringan Menyambut Kampanye Edukasi Wajib Halal Oktober 2026

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur & Pendamping PPH

Pagi ini banyak orang terkejut melihat kurs dolar Amerika menembus kisaran Rp18.017 per USD. Ada yang langsung menghitung cicilan, ada yang mengecek harga barang impor, ada pula yang tiba-tiba menjadi analis ekonomi dadakan di warung kopi.

"Kalau dolar naik terus, bagaimana nasib ekonomi kita?"

Pertanyaan itu wajar. Sebab dalam kehidupan modern, naik-turunnya dolar memang dapat memengaruhi harga barang, biaya produksi, bahkan daya beli masyarakat.

Namun di tengah riuhnya pembicaraan tentang dolar, ada satu hal yang sering luput dari perhatian:

Jangan sampai nilai dolar naik, tetapi kesadaran halal malah turun.

Kalimat ini memang terdengar seperti slogan kampanye, tetapi sesungguhnya mengandung pesan yang sangat dalam.

Dolar dan Perut Manusia

Dolar sebenarnya hanya angka.

Hari ini naik, besok bisa turun.

Tetapi urusan halal bukan sekadar angka. Ia berkaitan dengan iman, keberkahan, dan tanggung jawab seorang Muslim kepada Allah SWT.

Lucunya, banyak orang sangat teliti memantau kurs dolar setiap jam.

Namun ketika membeli makanan, kadang pertanyaan sederhana seperti:

"Ini halal atau tidak?"

malah tidak pernah muncul.

Ada yang hafal grafik ekonomi dunia, tetapi tidak hafal logo halal.

Ada yang bisa menjelaskan perang dagang antarnegara selama satu jam penuh, tetapi bingung menjelaskan perbedaan halal, haram, dan syubhat.

Padahal yang masuk ke perut bukan dolar.

Yang masuk ke perut adalah makanan.

Dan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT juga bukan grafik kurs, melainkan apa yang kita konsumsi dan dari mana asal rezeki kita.

Ketika Dolar Naik, UMKM Jangan Ikut Pusing

Kenaikan dolar memang bisa meningkatkan biaya bahan baku tertentu.

Tetapi ada hikmah yang menarik.

Ketika impor semakin mahal, masyarakat biasanya mulai melirik produk lokal.

Nah, di sinilah peluang besar bagi pelaku UMKM Indonesia.

Namun ada satu syarat penting:

Produk lokal harus berkualitas dan halal.

Jangan sampai kita bangga memakai produk dalam negeri, tetapi lupa memastikan kehalalannya.

Karena konsumen Muslim saat ini tidak hanya mencari produk yang murah.

Mereka juga mencari produk yang aman, sehat, terpercaya, dan halal.

Dengan kata lain, sertifikat halal bukan lagi sekadar kewajiban regulasi, tetapi sudah menjadi modal ekonomi.

Dolar Menguat, Moral Jangan Melemah

Kondisi ekonomi yang sulit sering kali melahirkan godaan.

Ada yang mulai mengurangi kualitas barang.

Ada yang mencampur bahan yang tidak jelas.

Ada yang berpikir:

"Yang penting laku dulu, urusan halal belakangan."

Padahal justru di saat ekonomi menantang, integritas diuji.

Islam mengajarkan bahwa keberkahan rezeki tidak hanya ditentukan oleh banyaknya keuntungan, tetapi juga oleh cara memperolehnya.

Kalau keuntungan besar diperoleh dengan cara yang tidak halal, maka yang datang bukan keberkahan melainkan kegelisahan.

Sebaliknya, keuntungan yang sederhana namun halal sering kali menghadirkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan kurs dolar berapa pun.

Kampanye Wajib Halal Oktober 2026: Investasi yang Tidak Terpengaruh Kurs

Pada tanggal 4 Juni 2026, lebih dari 1.600 titik di seluruh Indonesia melaksanakan Kampanye Edukasi Wajib Halal Oktober 2026.

Sebagian orang mungkin bertanya:

"Apa hubungannya halal dengan kondisi ekonomi?"

Hubungannya sangat erat.

Ekonomi yang sehat membutuhkan kepercayaan.

Kepercayaan lahir dari kejujuran.

Kejujuran melahirkan integritas.

Dan integritas merupakan salah satu ruh utama dalam sistem halal.

Maka kampanye halal sesungguhnya bukan hanya kampanye agama.

Ia juga kampanye etika bisnis, perlindungan konsumen, pemberdayaan UMKM, dan pembangunan ekonomi bangsa.

Kritik yang Perlu Kita Renungkan

Sering kali masyarakat kecil dituntut memahami halal.

Tetapi sebagian pelaku usaha besar justru lamban memberikan kepastian halal kepada konsumen.

Sebagian konsumen juga menuntut produk halal, tetapi masih lebih memilih barang yang viral daripada yang jelas kehalalannya.

Kita ingin ekonomi maju, tetapi terkadang masih menganggap halal sebagai urusan pelengkap.

Padahal bagi seorang Muslim, halal seharusnya menjadi fondasi, bukan aksesori.

Penutup

Jika hari ini dolar menyentuh Rp18.000, mungkin banyak orang khawatir.

Itu manusiawi.

Namun ada satu "kurs" yang jauh lebih penting untuk dijaga, yaitu kurs keimanan dan kesadaran halal dalam kehidupan kita.

Sebab dolar yang naik mungkin membuat biaya hidup bertambah.

Tetapi halal yang dijaga akan membuat keberkahan hidup bertambah.

Maka mari menyambut Kampanye Edukasi Wajib Halal Oktober 2026 dengan semangat baru.

Karena pada akhirnya, yang membuat hidup tenang bukanlah berapa tinggi nilai dolar yang kita miliki.

Melainkan seberapa halal makanan yang kita makan, seberapa halal usaha yang kita jalankan, dan seberapa besar keridaan Allah SWT yang kita harapkan.

Dolar boleh naik turun. Harga emas boleh berubah. Pasar bisa bergejolak.

Tetapi komitmen terhadap halal harus tetap stabil, bahkan terus menguat. 😊

"Sadar Halal, Hidup Berkah, Umat Berdaya."

Wallahu A'lam!

Kenapa Mesti HALAL...?

 


Kenapa Mesti HALAL...?

Karena Kehalalan Menentukan Keridaan Allah SWT dan Keberkahan Hidup Kita

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur & Pendamping Proses Produk Halal (PPH)

Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan beragamnya produk yang beredar di masyarakat, pertanyaan sederhana namun sangat mendasar perlu terus kita renungkan: Kenapa mesti halal?

Sebagian orang menganggap halal hanya berkaitan dengan makanan dan minuman. Padahal dalam Islam, konsep halal jauh lebih luas. Halal mencakup seluruh aspek kehidupan; mulai dari makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, jasa, transaksi ekonomi, hingga cara memperoleh penghasilan.

Bagi seorang Muslim, halal bukan sekadar label, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

Halal adalah Perintah Langsung dari Allah SWT

Allah SWT berfirman:

"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan."
(QS. Al-Baqarah: 168)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk mengonsumsi yang halal, tetapi juga yang baik (thayyib). Artinya, sesuatu yang halal harus pula aman, bersih, sehat, dan memberikan manfaat.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu."
(QS. Al-Baqarah: 172)

Perintah halal dalam Al-Qur'an bukan sekadar aturan ritual, tetapi merupakan jalan menuju kehidupan yang bersih, sehat, dan penuh keberkahan.

Makanan Halal Berpengaruh pada Diterima atau Tidaknya Doa

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik."
(HR. Muslim)

Dalam hadis yang sama Rasulullah SAW menceritakan seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun makanan, minuman, pakaian, dan penghasilannya berasal dari yang haram. Lalu Rasulullah bertanya:

"Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"
(HR. Muslim)

Hadis ini memberikan pelajaran besar bahwa kehalalan bukan hanya urusan perut, tetapi juga berkaitan dengan hubungan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.

Orang yang menjaga kehalalan rezekinya sedang membangun jalan menuju terkabulnya doa, ketenangan hati, dan keridaan Allah SWT.

Halal dan Keberkahan Hidup

Banyak orang memperoleh penghasilan besar, tetapi hidupnya terasa sempit, penuh masalah, dan jauh dari ketenangan. Sebaliknya ada yang penghasilannya sederhana namun keluarganya harmonis, anak-anaknya saleh, dan kehidupannya penuh keberkahan.

Dalam perspektif Islam, keberkahan tidak selalu identik dengan jumlah harta. Keberkahan adalah bertambahnya kebaikan yang diberikan Allah pada sesuatu yang halal.

Kehalalan menjadi salah satu pintu utama turunnya keberkahan itu.

Karena itulah para ulama selalu mengingatkan:

"Sedikit yang halal lebih baik daripada banyak yang haram."

Halal dalam Perspektif Sosial dan Budaya

Di era modern, masyarakat semakin sadar akan pentingnya produk halal. Halal kini bukan hanya kebutuhan agama, tetapi juga telah menjadi standar kualitas, kebersihan, keamanan, dan kepercayaan publik.

Produk halal memberikan jaminan bahwa suatu barang diproses dengan memperhatikan aspek syariat, kebersihan, dan keamanan konsumsi.

Bahkan banyak negara non-Muslim kini mengembangkan industri halal karena melihat tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk halal.

Dari sisi sosial budaya, sertifikasi halal juga memperkuat rasa aman dan nyaman dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

Halal dan Penguatan Ekonomi Umat

Saat ini ekonomi halal menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar di dunia. Industri makanan halal, kosmetik halal, farmasi halal, hingga wisata halal berkembang sangat pesat.

Bagi pelaku UMKM, sertifikat halal bukan sekadar dokumen administratif. Sertifikat halal menjadi nilai tambah yang meningkatkan daya saing produk, memperluas pasar, dan meningkatkan kepercayaan konsumen.

Dengan semakin banyak produk halal, maka roda ekonomi umat juga semakin bergerak dan berkembang secara sehat.

Karena itu, kampanye halal bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga agenda pembangunan ekonomi nasional.

Menyambut Kampanye Edukasi Wajib Halal Oktober 2026

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya produk halal, pada 4 Juni 2026 dilaksanakan Kampanye Edukasi Wajib Halal Oktober 2026 secara serentak di lebih dari 1.200 titik di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa memilih produk halal bukan sekadar mengikuti regulasi, melainkan menjalankan perintah Allah SWT dan melindungi keluarga dari konsumsi yang meragukan.

Sebagai Penyuluh Agama Islam dan Pendamping Proses Produk Halal (PPH), saya mengajak seluruh masyarakat, pelaku usaha, UMKM, tokoh agama, dan generasi muda untuk bersama-sama mendukung gerakan sadar halal.

Mari kita jadikan halal sebagai budaya hidup, bukan sekadar kewajiban administratif.

Penutup

Pada akhirnya, alasan terbesar mengapa kita harus memilih yang halal adalah karena Allah SWT memerintahkannya.

Halal menghadirkan ketenangan hati, menjaga kemurnian ibadah, membuka pintu terkabulnya doa, menghadirkan keberkahan dalam keluarga, sekaligus memperkuat ekonomi umat.

Karena itu, ketika kita memilih yang halal, sesungguhnya kita sedang memilih keridaan Allah SWT dan keberkahan hidup di dunia serta keselamatan di akhirat.

"Halal itu bukan sekadar label. Halal adalah jalan menuju keberkahan."

Wallahu A'lam!

Selasa, 02 Juni 2026

Tema: Moderat Beragama sebagai Jalan Kedamaian dan Perbaikan Diri

 

NASKAH PENYULUHAN AGAMA ISLAM

Tema: Moderat Beragama sebagai Jalan Kedamaian dan Perbaikan Diri

Audiens: Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rutan Kelas IIB Padang Panjang

Oleh: Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu yang penuh keberkahan ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bapak-bapak Warga Binaan yang saya hormati,

Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita bersama-sama merenungkan sebuah tema yang sangat penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, yaitu "Moderat Beragama sebagai Jalan Kedamaian dan Perbaikan Diri."

Apa Itu Moderat Beragama?

Moderat beragama bukan berarti mengurangi ajaran agama, bukan pula mencampuradukkan keyakinan. Moderat beragama adalah cara memahami dan menjalankan agama secara seimbang, tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan.

Dalam Islam, sikap moderat dikenal dengan istilah wasathiyah, sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan (adil dan pilihan)..."

(QS. Al-Baqarah: 143)

Umat Islam diperintahkan menjadi umat yang berada di tengah, tidak ekstrem ke kanan dan tidak ekstrem ke kiri.

Orang yang moderat tetap teguh dalam akidah, rajin beribadah, tetapi juga menghormati orang lain, menjaga persaudaraan, dan menjauhi sikap fanatik yang berlebihan.

Mengapa Moderat Beragama Penting?

Bapak-bapak yang saya hormati,

Banyak persoalan dalam kehidupan muncul karena manusia tidak mampu mengendalikan diri. Ada yang terlalu mengikuti hawa nafsu, ada pula yang terlalu keras dalam menyikapi perbedaan.

Islam mengajarkan keseimbangan.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan."

(HR. Baihaqi)

Sikap moderat akan melahirkan:

  1. Ketenangan hati.

  2. Kemampuan mengendalikan emosi.

  3. Sikap saling menghormati.

  4. Kehidupan yang damai dan harmonis.

  5. Kemampuan memperbaiki diri tanpa menyalahkan orang lain.

Moderat Beragama dan Kehidupan di Dalam Rutan

Bapak-bapak sekalian,

Saat ini kita berada dalam lingkungan yang terdiri dari banyak latar belakang, karakter, suku, pendidikan, bahkan pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Di sinilah nilai moderasi beragama menjadi sangat penting.

Moderasi beragama mengajarkan kita:

1. Menghormati Sesama

Jangan merendahkan orang lain karena masa lalunya.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan dilihat dari masa lalunya, melainkan dari ketakwaannya hari ini.

Boleh jadi seseorang pernah melakukan kesalahan, tetapi hari ini ia sedang berjuang menjadi lebih baik di hadapan Allah SWT.

2. Mengendalikan Emosi dan Amarah

Banyak persoalan hidup bermula dari ketidakmampuan mengendalikan emosi.

Rasulullah SAW bersabda:

"Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Moderat beragama mengajarkan keseimbangan antara akal, hati, dan emosi.

3. Menjauhi Sikap Fanatik dan Mudah Menghakimi

Kita tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang.

Bisa jadi orang yang hari ini tampak banyak dosa, suatu saat menjadi ahli ibadah dan dicintai Allah.

Sebaliknya, orang yang merasa paling benar bisa saja terjatuh karena kesombongannya.

Karena itu, Islam mengajarkan untuk memperbaiki diri sebelum sibuk menilai orang lain.

Kesempatan Kedua dari Allah SWT

Bapak-bapak WBP yang saya muliakan,

Salah satu pelajaran terbesar dalam moderasi beragama adalah keyakinan bahwa Allah selalu membuka pintu taubat.

Jangan pernah berpikir bahwa masa depan telah berakhir hanya karena kesalahan masa lalu.

Allah SWT berfirman:

"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."

(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini sangat luar biasa.

Selama nafas masih berhembus, selama hati masih mau kembali kepada Allah, maka pintu taubat tetap terbuka.

Rutan bukan akhir perjalanan hidup, melainkan bisa menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Empat Sikap Moderat yang Perlu Dibiasakan

Pertama: Rajin Beribadah

Perkuat hubungan dengan Allah melalui shalat, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan doa.

Kedua: Menghormati Perbedaan

Tidak semua orang memiliki pemahaman dan pengalaman yang sama.

Ketiga: Menjaga Persaudaraan

Hindari pertengkaran, ejekan, dan permusuhan.

Keempat: Optimis Memperbaiki Diri

Jadikan setiap hari lebih baik daripada hari sebelumnya.

Penutup

Bapak-bapak yang saya hormati,

Moderat beragama bukan sekadar teori, melainkan cara hidup yang melahirkan kedamaian.

Orang yang moderat akan:

  • Teguh memegang agamanya.

  • Menghormati sesamanya.

  • Mampu mengendalikan dirinya.

  • Optimis memperbaiki masa depan.

  • Menjadi rahmat bagi lingkungan sekitarnya.

Mari jadikan masa pembinaan ini sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT, memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, dan menata kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat nanti.

Semoga Allah SWT menerima taubat kita, memudahkan segala urusan kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam kebaikan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

IKHLAS MELAYANI, BERKAH MENGINSPIRASI

 

IKHLAS MELAYANI, BERKAH MENGINSPIRASI

Tekad Penyuluh Agama Berkhidmat Melayani Umat

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Pendahuluan

"Ikhlas Melayani, Berkah Menginspirasi" bukan sekadar slogan, tetapi merupakan ruh pengabdian seorang penyuluh agama dalam menjalankan amanah membimbing, mendampingi, dan melayani umat. Di balik tugas yang tampak sederhana, tersimpan perjuangan panjang, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan untuk memastikan nilai-nilai agama hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Penyuluh agama tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan ilmu agama, tetapi juga ketika mereka menghadapi persoalan kehidupan; mulai dari kebahagiaan pernikahan, kelahiran anak, pembinaan keluarga, hingga saat menghadapi musibah, konflik rumah tangga, kemiskinan, penyakit, bahkan kematian. Penyuluh agama hadir dalam suka dan duka, menjadi sahabat umat dalam perjalanan kehidupan.

Melayani dengan Keikhlasan

Keikhlasan merupakan fondasi utama dalam setiap pengabdian. Allah SWT berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

"Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Penyuluh agama menyadari bahwa tugas yang diemban bukan sekadar pekerjaan, melainkan ibadah dan dakwah. Oleh karena itu, keberhasilan pelayanan tidak selalu diukur dengan penghargaan atau popularitas, melainkan sejauh mana manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Sering kali perjalanan dakwah tidak mudah. Ada masyarakat yang antusias menerima bimbingan, namun ada pula yang acuh tak acuh. Ada yang mengapresiasi, ada pula yang mengkritik. Namun semua itu menjadi bagian dari proses pengabdian yang harus dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan.

Banyak Cerita dalam Pengabdian

Di balik setiap langkah penyuluh agama tersimpan ribuan cerita. Ada kisah seorang lansia yang kembali semangat beribadah setelah mengikuti pembinaan. Ada keluarga yang berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga setelah mendapatkan pendampingan. Ada generasi muda yang menemukan arah hidup melalui majelis ilmu dan pembinaan keagamaan.

Namun ada pula kisah haru ketika harus mendampingi keluarga yang kehilangan orang tercinta, membantu masyarakat yang tertimpa musibah, atau menyaksikan problem sosial yang membutuhkan perhatian bersama.

Semua pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bahwa dakwah bukan hanya berbicara di mimbar, tetapi juga menghadirkan empati, kepedulian, dan keteladanan dalam kehidupan nyata.

Tetap Kuat dan Tegar dalam Pengabdian

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi energi yang menguatkan setiap langkah pengabdian. Ketika lelah datang, ketika tantangan menghadang, ketika hasil belum sesuai harapan, penyuluh agama tetap berusaha istiqamah karena yakin bahwa setiap kebaikan yang dilakukan akan dicatat sebagai amal saleh di sisi Allah SWT.

Kekuatan seorang penyuluh agama bukan terletak pada jabatan atau fasilitas yang dimiliki, tetapi pada ketulusan hati untuk terus berbuat baik, memberikan solusi, menebarkan kedamaian, dan menjadi teladan bagi masyarakat.

Berkah yang Menginspirasi

Pelayanan yang dilakukan dengan ikhlas akan melahirkan keberkahan. Keberkahan bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga ketenangan hati, kemudahan urusan, serta lahirnya perubahan positif di tengah masyarakat.

Ketika masyarakat semakin dekat dengan agama, keluarga semakin harmonis, generasi muda semakin berakhlak mulia, dan semangat gotong royong semakin tumbuh, itulah keberkahan yang menginspirasi. Penyuluh agama menjadi jembatan hadirnya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin di tengah kehidupan umat.

Penutup

"Ikhlas Melayani, Berkah Menginspirasi" adalah komitmen moral dan spiritual yang terus dijaga oleh setiap penyuluh agama. Dalam suka maupun duka, dalam kemudahan maupun tantangan, pengabdian kepada umat harus tetap berjalan dengan penuh kesungguhan.

Menjadi penyuluh agama berarti memilih jalan pengabdian yang panjang; jalan yang mungkin tidak selalu mudah, tetapi penuh makna. Sebab kebahagiaan sejati bukan hanya ketika berhasil meraih sesuatu untuk diri sendiri, melainkan ketika mampu menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi orang lain.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, keikhlasan, kesehatan, dan keberkahan kepada para penyuluh agama dalam menjalankan amanah mulia membimbing umat menuju kehidupan yang beriman, berilmu, berakhlak, dan penuh keberkahan.

"Ikhlas dalam melayani adalah jalan pengabdian, dan keberkahan yang menginspirasi adalah buah dari ketulusan."


Refleksi Reaktualisasi Butir-Butir Pancasila bagi Umat Islam Indonesia

 


Refleksi Reaktualisasi Butir-Butir Pancasila bagi Umat Islam Indonesia

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam

Pendahuluan

Pancasila merupakan dasar negara, pandangan hidup bangsa, sekaligus titik temu yang menyatukan keberagaman Indonesia. Bagi umat Islam Indonesia, Pancasila bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama, melainkan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Para ulama pendiri bangsa telah menunjukkan bahwa Pancasila dapat menjadi wadah bersama untuk mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, adil, dan bermartabat.

Dalam konteks kekinian, tantangan globalisasi, individualisme, intoleransi, korupsi, serta krisis moral menuntut adanya reaktualisasi nilai-nilai Pancasila agar tidak hanya menjadi hafalan, tetapi menjadi pedoman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Reaktualisasi Nilai

Umat Islam meyakini tauhid sebagai inti ajaran agama. Sila pertama mengajarkan bahwa kehidupan berbangsa harus dilandasi keimanan kepada Allah SWT sekaligus penghormatan terhadap pemeluk agama lain.

Allah SWT berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

"Untukmu agamamu dan untukku agamaku."
(QS. Al-Kafirun: 6)

Implementasi sila pertama saat ini antara lain:

  • Memperkuat akidah dan ketakwaan.

  • Menjaga kerukunan antarumat beragama.

  • Menolak ekstremisme dan radikalisme.

  • Menjadikan nilai agama sebagai dasar etika sosial.

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Reaktualisasi Nilai

Islam sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia tanpa membedakan suku, ras, maupun status sosial.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam."
(QS. Al-Isra': 70)

Aktualisasi sila kedua diwujudkan dengan:

  • Menghormati hak asasi manusia.

  • Menolong fakir miskin dan kaum dhuafa.

  • Menolak perundungan (bullying) dan kekerasan.

  • Mengembangkan budaya santun dan beradab, termasuk di media sosial.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Reaktualisasi Nilai

Islam mengajarkan ukhuwah (persaudaraan) dan persatuan. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan perpecahan.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

"Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai."
(QS. Ali Imran: 103)

Bentuk implementasinya:

  • Mengutamakan kepentingan bangsa di atas golongan.

  • Menjaga persaudaraan sesama anak bangsa.

  • Menolak ujaran kebencian dan hoaks.

  • Memperkuat semangat gotong royong.

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Reaktualisasi Nilai

Islam mengenal konsep syura (musyawarah) dalam menyelesaikan persoalan bersama.

Allah SWT berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

"Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka."
(QS. Asy-Syura: 38)

Nilai yang perlu dikembangkan:

  • Mengedepankan dialog dibanding konflik.

  • Menghormati hasil musyawarah.

  • Berpartisipasi aktif dalam pembangunan.

  • Memilih pemimpin yang amanah dan berintegritas.

Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Reaktualisasi Nilai

Keadilan merupakan tujuan utama syariat Islam. Tidak ada kemakmuran tanpa keadilan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan."
(QS. An-Nahl: 90)

Implementasi sila kelima meliputi:

  • Menegakkan kejujuran dan anti korupsi.

  • Mengembangkan ekonomi yang berkeadilan.

  • Mengoptimalkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

  • Membantu masyarakat yang lemah secara ekonomi.

Tantangan Aktual

Di era digital saat ini, reaktualisasi Pancasila menghadapi beberapa tantangan:

  1. Penyebaran hoaks dan fitnah.

  2. Menurunnya semangat gotong royong.

  3. Meningkatnya sikap individualistis.

  4. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

  5. Intoleransi dan polarisasi sosial.

Karena itu, umat Islam perlu menjadi pelopor pengamalan Pancasila dengan menampilkan akhlak Qur'ani dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Penutup

Pancasila dan Islam memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan kehidupan yang damai, adil, beradab, dan sejahtera. Reaktualisasi butir-butir Pancasila bukan sekadar menghafal lima sila, melainkan menghidupkan nilai-nilainya dalam tindakan nyata.

Sebagai umat Islam Indonesia, pengamalan Pancasila sejatinya merupakan bagian dari pengamalan ajaran Islam yang menekankan tauhid, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Dengan demikian, Indonesia yang maju, harmonis, dan bermartabat dapat terwujud melalui sinergi antara nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai Pancasila.

"Menjadi Muslim yang baik sekaligus warga negara yang baik adalah wujud nyata pengamalan Islam dan Pancasila dalam kehidupan berbangsa."

Jumat, 29 Mei 2026

KAJIAN KRITIS TENTANG BERKURBAN DARI APBN (Tinjauan Hukum Islam Kontemporer Perspektif Kaidah Ushul Fiqh)

 


KAJIAN KRITIS TENTANG BERKURBAN DARI APBN

(Tinjauan Hukum Islam Kontemporer Perspektif Kaidah Ushul Fiqh)

Oleh: Wahyu Salim

Penyuluh Agama Islam

PENDAHULUAN

Ibadah qurban merupakan salah satu syiar agung dalam Islam yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan kemanusiaan. Setiap tahun umat Islam melaksanakan penyembelihan hewan qurban sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT dan meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS.

Dalam perkembangan kontemporer, muncul fenomena penggunaan dana negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pengadaan hewan qurban oleh lembaga pemerintahan, instansi, maupun pejabat publik. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar:

Apakah berqurban menggunakan dana APBN dibenarkan menurut hukum Islam?

Kajian ini mencoba menelaah persoalan tersebut secara kritis melalui pendekatan fiqh kontemporer dan kaidah ushul fiqh agar diperoleh pemahaman yang proporsional, objektif, dan bernuansa maslahat. Tidak ada unsur kepentingan dan politis dari kajian ini, semata tujuan studi keislaman dimana setiap orang bisa melakukan pembelajaran sekaligus memantik para ahli mengkaji lebih dalam sesuai kemampuan dan kepakarannya.

HAKIKAT IBADAH QURBAN DALAM ISLAM

Allah SWT berfirman:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)

Qurban pada hakikatnya adalah ibadah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah SWT dengan menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan qurban.”
(HR. Tirmidzi)

Dari sini tampak bahwa qurban mengandung unsur:

  1. Ibadah mahdhah (ritual ibadah)

  2. Pengorbanan harta pribadi

  3. Keikhlasan individu

  4. Dimensi sosial dan solidaritas

Karena itu, pembahasan sumber dana qurban menjadi sangat penting dalam tinjauan hukum Islam.

MEMAHAMI KARAKTER APBN DALAM PERSPEKTIF FIQH

APBN pada hakikatnya adalah:

  • Dana publik

  • Amanah rakyat

  • Dikelola negara

  • Digunakan untuk kepentingan umum sesuai regulasi

Dalam fiqh siyasah, harta negara dikategorikan sebagai:

  • Baitul Mal

  • Milik kolektif umat

  • Bukan milik pribadi pejabat

Karena itu berlaku kaidah:

تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus didasarkan pada kemaslahatan.”

Artinya, penggunaan APBN harus memiliki orientasi maslahat publik, bukan kepentingan personal atau simbolik semata.

ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG QURBAN DARI APBN

1. Qurban Adalah Ibadah Individual

Mayoritas ulama memandang qurban sebagai ibadah personal yang berkaitan dengan kemampuan individu.

Dasarnya:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

(QS. Al-Baqarah: 286)

Karena itu, idealnya hewan qurban berasal dari:

  • harta pribadi,

  • penghasilan halal,

  • bukan dari fasilitas jabatan.

Jika qurban berasal dari APBN, maka muncul problem:

  • Siapa sebenarnya yang berqurban?

  • Negara?

  • Pejabat?

  • Instansi?

  • Atau rakyat?

Secara fiqh, niat ibadah tidak dapat diwakilkan kepada entitas administratif tanpa kejelasan kepemilikan syar’i.

2. Kaidah Ushul Fiqh: Al-Ashlu fil ‘Ibadah At-Tauqif

Kaidah penting dalam ushul fiqh menyatakan:

الأَصْلُ فِي العِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ

“Hukum asal ibadah adalah menunggu dalil.”

Artinya, bentuk ibadah tidak boleh direkayasa tanpa dasar syariat yang jelas.

Tidak ditemukan praktik pada masa Nabi SAW maupun Khulafaur Rasyidin bahwa:

  • dana negara digunakan untuk qurban pejabat,

  • APBN/Baitul Mal dipakai sebagai sarana pencitraan ibadah personal.

Karena itu, penggunaan APBN untuk qurban personal pejabat berpotensi menjadi bid’ah administratif dalam tata kelola ibadah.

3. Kaidah Saddudz Dzari’ah (Menutup Celah Kerusakan)

Dalam fiqh kontemporer, penggunaan APBN untuk qurban berpotensi menimbulkan:

  • konflik kepentingan,

  • pencitraan politik,

  • penyalahgunaan anggaran,

  • manipulasi simbol agama,

  • ketidakadilan sosial.

Kaidah menyatakan:

دَرْءُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ

“Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Meskipun ada maslahat sosial berupa pembagian daging kepada masyarakat, namun bila membuka peluang mafsadah yang lebih besar, maka penggunaannya harus dibatasi.

KAPAN APBN DAPAT DIGUNAKAN UNTUK QURBAN?

Dalam perspektif fiqh siyasah modern, terdapat beberapa kondisi yang memungkinkan penggunaan dana negara secara terbatas dan argumentatif.

A. Qurban Sebagai Program Sosial Negara

Jika qurban diposisikan sebagai:

  • bantuan sosial,

  • ketahanan pangan,

  • distribusi protein masyarakat miskin,

  • program kemanusiaan daerah bencana,

maka statusnya bukan lagi ibadah personal pejabat, tetapi kebijakan sosial negara.

Dalam konteks ini berlaku kaidah:

المَصْلَحَةُ العَامَّةُ مُقَدَّمَةٌ عَلَى المَصْلَحَةِ الخَاصَّةِ

“Kemaslahatan umum didahulukan daripada kemaslahatan khusus.”

Sehingga penggunaan APBN dapat dibenarkan apabila:

  • transparan,

  • akuntabel,

  • tidak diklaim sebagai qurban pribadi pejabat,

  • benar-benar untuk kepentingan rakyat.

B. Negara Sebagai Wakil Kolektif Umat

Sebagian ulama kontemporer membuka ruang bahwa negara dapat bertindak sebagai representasi kolektif masyarakat dalam syiar Islam, selama:

  1. tidak ada unsur korupsi,

  2. tidak melanggar aturan,

  3. tidak menjadi alat politik,

  4. tidak menghilangkan esensi ibadah.

Namun pendapat ini tetap bersifat ijtihadi dan memerlukan pengawasan ketat.

KRITIK TERHADAP PRAKTIK QURBAN APBN

1. Potensi Pergeseran Niat Ibadah

Qurban dapat berubah dari:

  • ibadah spiritual,
    menjadi:

  • simbol populisme religius.

Ketika nama pejabat lebih ditonjolkan daripada nilai ibadahnya, maka ruh ikhlas menjadi kabur.

2. Sensitivitas Sosial di Tengah Krisis Ekonomi

Di tengah:

  • kemiskinan,

  • pengangguran,

  • efisiensi anggaran,

  • pemotongan bantuan rakyat,

penggunaan APBN untuk qurban dapat memunculkan kritik moral publik.

Islam sangat menekankan prioritas kemaslahatan.

Kaidah fiqh menyatakan:

الأَهَمُّ فَالأَهَمُّ

“Dahulukan yang lebih prioritas.”

3. Risiko Tasyabbuh Simbolik Kekuasaan

Dalam sejarah politik, simbol agama sering dipakai untuk legitimasi kekuasaan.

Padahal Islam mengingatkan:

Jabatan adalah amanah, bukan sarana pencitraan ibadah.

Karena itu, transparansi dan kehati-hatian sangat diperlukan.

PANDANGAN MODERAT DAN JALAN TENGAH

Pendekatan moderat dapat dirumuskan sebagai berikut:

KondisiHukum
Qurban pribadi pejabat memakai APBNTidak dibenarkan
Program sosial qurban negara untuk rakyatDapat dibolehkan
Dana gotong royong sukarela ASNBoleh jika transparan
APBN untuk pencitraan politik keagamaanBermasalah secara syar’i
Program bantuan pangan Idul AdhaBisa masuk maslahat publik

PENUTUP

Qurban adalah ibadah suci yang menuntut keikhlasan dan pengorbanan pribadi. Penggunaan APBN untuk qurban harus dilihat secara hati-hati melalui pendekatan maqashid syariah, ushul fiqh, dan etika pemerintahan.

Secara umum:

  • Qurban pribadi dengan dana APBN tidak sejalan dengan ruh ibadah qurban.

  • Namun program sosial negara berbentuk distribusi hewan qurban untuk masyarakat miskin dapat dibenarkan bila berorientasi maslahat publik dan bebas dari kepentingan politik.

Akhirnya, Islam mengajarkan bahwa:

Nilai qurban bukan pada besarnya hewan, tetapi pada ketakwaan dan keikhlasan.

Allah SWT berfirman:

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Semoga ibadah qurban tetap menjadi media penyucian jiwa, penguatan solidaritas sosial, dan pengabdian tulus kepada Allah SWT, bukan sekadar simbol kekuasaan dan formalitas birokrasi.

Wallahu A’lam bish Shawab.

Selasa, 26 Mei 2026

KHUTBAH: “PANGGILAN SUCI, PENGORBANAN HATI, DAN BAKTI YANG TAK BERTEPI”

 


KHUTBAH: “PANGGILAN SUCI, PENGORBANAN HATI, DAN BAKTI YANG TAK BERTEPI”

Materi Inti Khutbah Jumat / Idul Adha Durasi ±20 Menit


الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.

Jamaah rahimakumullah…

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh hiruk-pikuk. Banyak manusia mengejar dunia tanpa mengenal batas. Rumah dibangun semakin megah, kendaraan semakin mewah, tetapi hati semakin gelisah. Anak sibuk dengan gawainya, orang tua sering dilupakan, dan ibadah hanya menjadi pelengkap kehidupan.

Di tengah dunia yang semakin bising ini, Allah memanggil manusia menuju kesucian. Panggilan itu bernama ibadah haji. Allah memanggil manusia untuk meninggalkan pakaian kebesaran dunia, lalu memakai kain ihram yang sederhana, agar manusia sadar bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah tanpa membawa harta dan jabatan.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji…”

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah. Haji adalah perjalanan hati menuju Allah. Di Arafah manusia menangis mengingat dosa-dosanya. Di Mina manusia belajar tentang pengorbanan. Di Ka’bah manusia sadar bahwa hidup harus berputar mengelilingi Allah, bukan mengelilingi hawa nafsu.

Hari ini banyak orang mampu membeli kendaraan baru, mampu mengganti telepon genggam berkali-kali, tetapi belum tumbuh niat untuk memenuhi panggilan Allah menuju Baitullah. Padahal setiap langkah menuju haji adalah penghapus dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa berhaji karena Allah dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan.”

Jamaah rahimakumullah…

Selain haji, Idul Adha juga mengajarkan tentang kurban. Kurban bukan hanya menyembelih hewan. Kurban adalah menyembelih kesombongan, menyembelih ego, dan menyembelih cinta dunia yang berlebihan.

Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, beliau tidak membantah. Dan Nabi Ismail pun berkata:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Betapa indah hubungan ayah dan anak dalam keluarga yang dipenuhi iman. Hari ini banyak anak yang meninggikan suara kepada orang tua, mudah membentak, bahkan lupa menanyakan kabar ayah dan ibunya.

Padahal ridha Allah bergantung kepada ridha orang tua.

Rasulullah ﷺ bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ

“Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua.”

Jamaah yang dirahmati Allah…

Sering kali kita menangis ketika kehilangan harta, tetapi jarang menangis karena pernah melukai hati ibu. Kita takut miskin di dunia, tetapi tidak takut menjadi anak durhaka.

Ingatlah…
Tidak semua orang masih memiliki kesempatan mencium tangan ibunya.
Tidak semua orang masih mendengar suara ayahnya.
Banyak manusia yang hari ini ingin meminta maaf kepada orang tuanya, tetapi kuburan telah menjadi pemisah.

Maka selama orang tua masih hidup, muliakanlah mereka.
Jangan tunggu mereka tiada.

Bila ibu menelepon, jawablah dengan lembut.
Bila ayah meminta bantuan, datanglah dengan hormat.
Karena bisa jadi suatu hari nanti kita akan menangis di pusara mereka sambil berkata:
“Andai dulu aku lebih banyak berbakti…”

Jamaah rahimakumullah…

Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum memperbaiki diri.
Bagi yang mampu, niatkan haji.
Bagi yang memiliki kelapangan rezeki, berkurbanlah.
Dan bagi kita semua, pulanglah kepada orang tua dengan hati yang lembut.

Jangan biarkan dunia membuat hati kita keras.
Jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa kepada Allah.
Jangan biarkan gengsi membuat kita jauh dari orang tua.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang taat, anak-anak yang berbakti, dan umat yang selalu dekat dengan-Nya.

=== DOA ===

اللهم اغفر لنا ذنوبنا كلها، دقها وجلها، أولها وآخرها، سرها وعلانيتها.

Ya Allah…
Ampunilah dosa-dosa kami.
Dosa yang kami lakukan di waktu siang maupun malam.
Dosa ketika sendiri maupun di hadapan manusia.
Dosa karena lisan yang menyakitkan.
Dosa karena hati yang keras.
Dosa karena lalai mengingat-Mu.

Ya Allah…
Jika selama ini kami lebih mencintai dunia daripada akhirat,
lebih sibuk mengejar harta daripada mengejar ridha-Mu,
maka ampunilah kami ya Rabb.

Ya Allah…
Ampuni dosa kami kepada kedua orang tua kami.
Ampuni setiap bentakan yang pernah keluar dari lisan kami.
Ampuni setiap air mata ibu yang jatuh karena sikap kami.
Ampuni setiap kekecewaan ayah yang pernah kami abaikan.

Ya Allah…
Bila orang tua kami masih hidup,
panjangkan umur mereka dalam kesehatan dan keberkahan.
Lembutkan hati kami untuk selalu berbakti kepada mereka.
Jadikan kami anak-anak yang membanggakan dunia dan akhirat.

Dan bila orang tua kami telah tiada,
maka terangilah kubur mereka ya Allah.
Lapangkan alam barzakh mereka.
Jadikan setiap doa kami sebagai cahaya untuk mereka.
Pertemukan kami kembali bersama mereka di surga-Mu.

Ya Allah…
Terimalah ibadah haji saudara-saudara kami.
Jadikan mereka haji yang mabrur.
Terimalah kurban kami.
Jadikan pengorbanan kami sebagai jalan menuju ridha-Mu.

Ya Allah…
Jangan Engkau cabut iman dari hati kami.
Jangan Engkau matikan kami kecuali dalam keadaan husnul khatimah.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.


Oleh:
Ustadz Hendri Faisal, S.Ag

Kalibrasi Arah Kiblat Hanya Membetulkan Arah Kiblat Bukan Merombak Bangunan Masjid

 

Kalibrasi Arah Kiblat: Membetulkan Arah, Bukan Merombak Masjid

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Beberapa waktu terakhir, isu tentang kalibrasi atau pengukuran ulang arah kiblat kembali menjadi perhatian di tengah masyarakat. Tidak sedikit muncul kekhawatiran, bahkan keresahan, ketika ada informasi bahwa arah kiblat masjid atau mushalla perlu diperbaiki. Sebagian masyarakat langsung membayangkan bangunan masjid harus dibongkar, shaf harus dirombak total, atau merasa ibadah selama ini menjadi tidak sah. Padahal, pemahaman seperti ini perlu diluruskan dengan bijak dan tenang.

Kalibrasi arah kiblat sejatinya hanyalah upaya membetulkan arah hadap menuju Ka'bah secara lebih tepat berdasarkan ilmu falak, pengukuran astronomi, dan perkembangan teknologi modern. Tujuannya bukan merusak, menyalahkan pendahulu, apalagi merombak bangunan masjid yang telah lama berdiri. Kalibrasi dilakukan sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian) agar pelaksanaan ibadah semakin mendekati ketepatan yang dianjurkan syariat.

Dalam sejarah Islam, penentuan arah kiblat pada masa dahulu banyak dilakukan dengan kemampuan dan alat yang tersedia saat itu. Ada yang menggunakan arah matahari, posisi terbenamnya bulan, kompas sederhana, arah jalan, bahkan sekadar perkiraan tokoh masyarakat setempat. Semua itu adalah bentuk ijtihad yang patut dihargai. Karena itu, ketika hari ini ditemukan adanya sedikit pergeseran arah berdasarkan alat ukur yang lebih akurat, maka yang dibetulkan adalah arah saf atau garis kiblatnya, bukan menyalahkan generasi terdahulu.

Perlu dipahami pula bahwa bangunan masjid dan arah kiblat adalah dua hal yang berbeda. Sebuah masjid tidak otomatis harus dibongkar hanya karena arah saf perlu disesuaikan beberapa derajat. Dalam banyak kasus, koreksi kiblat cukup dilakukan dengan menggeser garis saf, memasang penanda kiblat baru, atau menyesuaikan posisi sajadah jamaah. Bangunan tetap berdiri kokoh dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Karena itu, masyarakat tidak perlu panik apabila ada kegiatan pengukuran arah kiblat oleh petugas Kementerian Agama atau ahli falak. Justru hal tersebut merupakan bentuk pelayanan umat agar pelaksanaan ibadah semakin baik. Kalibrasi kiblat bukan ancaman bagi masjid, tetapi bagian dari ikhtiar menyempurnakan orientasi ibadah umat Islam.

Lebih jauh, persoalan arah kiblat hendaknya tidak menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat. Jangan sampai masjid yang semestinya menjadi pusat persatuan justru memunculkan prasangka, saling menyalahkan, atau konflik internal. Yang paling penting dalam ibadah bukan hanya lurusnya arah saf, tetapi juga lurusnya hati, persaudaraan, dan niat karena Allah SWT.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa agama hadir membawa kemudahan, bukan kesulitan. Maka proses kalibrasi arah kiblat seharusnya disikapi dengan ilmu, ketenangan, dan kebersamaan. Ketika ada kekeliruan kecil, kita perbaiki bersama tanpa gaduh dan tanpa saling menyudutkan.

Pada akhirnya, kalibrasi arah kiblat adalah simbol bahwa Islam mendorong umatnya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mengedepankan ketepatan dalam ibadah. Membetulkan arah kiblat bukan berarti merobohkan masjid. Yang dibangun sesungguhnya adalah kesadaran bahwa ibadah yang baik harus berjalan seiring dengan ilmu pengetahuan, persatuan umat, dan sikap saling menghormati.

“Merawat Keikhlasan dan Kepedulian di Tengah Tantangan Ekonomi”


 

Refleksi Idul Adha 1447 H

“Merawat Keikhlasan dan Kepedulian di Tengah Tantangan Ekonomi”

Hari Raya Idul Adha 1447 H hadir di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya mudah bagi banyak masyarakat. Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan semakin ketat, daya beli melemah, dan tidak sedikit keluarga yang harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang mungkin merasa bahwa semangat berqurban dan berbagi menjadi semakin berat untuk diwujudkan.

Namun justru di sinilah makna Idul Adha menemukan relevansinya yang paling dalam.

Idul Adha bukan sekadar tentang banyaknya hewan qurban yang disembelih, tetapi tentang sejauh mana keikhlasan, ketundukan, dan kepedulian sosial tumbuh di dalam hati manusia. Nabi Ibrahim AS memberikan teladan tentang pengorbanan total demi ketaatan kepada Allah SWT, sementara Nabi Ismail AS menunjukkan keteguhan iman dan kepasrahan yang luar biasa. Nilai terbesar dari peristiwa itu bukanlah materi, melainkan keimanan dan ketulusan.

Allah SWT berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan bahwa hakikat qurban bukan pada kemewahan atau besar kecilnya hewan sembelihan, melainkan kualitas ketakwaan dan kepedulian yang lahir dari hati yang ikhlas.

Dalam kondisi ekonomi saat ini, Idul Adha mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap penderitaan sesama. Banyak saudara kita yang mungkin jarang menikmati daging, menahan beban hidup sendirian, atau menyembunyikan kesulitan di balik senyuman. Maka qurban menjadi simbol hadirnya solidaritas sosial, bahwa umat Islam tidak boleh membiarkan saudaranya merasa sendiri menghadapi kehidupan.

Idul Adha juga mengajarkan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya. Kepedulian dapat diwujudkan melalui perhatian, tenaga, doa, membantu tetangga, memperkuat silaturahmi, serta menghadirkan ketenangan bagi orang lain. Sebab sejatinya, nilai pengorbanan terbesar terkadang bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang rela kita sisihkan di tengah keterbatasan.

Di tengah tekanan ekonomi, umat Islam perlu memperkuat optimisme dan semangat gotong royong. Jangan sampai kesulitan hidup melahirkan keputusasaan, individualisme, atau hilangnya empati sosial. Idul Adha mengingatkan bahwa keberkahan hidup tidak hanya lahir dari banyaknya harta, tetapi dari hati yang bersyukur dan tangan yang ringan membantu sesama.

Momentum Idul Adha 1447 H hendaknya menjadi penguat spiritual bagi umat:

  • memperbaiki hubungan dengan Allah,

  • memperkuat kepedulian terhadap masyarakat,

  • membangun solidaritas sosial,

  • serta menanamkan keyakinan bahwa setiap ujian kehidupan selalu mengandung hikmah dan jalan keluar.

Semoga semangat qurban melahirkan pribadi-pribadi yang ikhlas, kuat menghadapi ujian, serta semakin peduli terhadap umat dan negeri.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah, qurban, dan segala pengorbanan kita.

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
KUA Padang Panjang Timur

“HAKIKAT IBADAH HAJI & IBADAH QURBAN”

 


KHUTBAH IDUL ADHA 1447 H

 

HAKIKAT IBADAH HAJI & IBADAH QURBAN”

 

 

 

 

Disampaikan Oleh:

Wahyu Salim, S.Ag

 

 

 

 

 

 

 

 

DI MASJID AR-RAUDHAH AIA ANGEK

KEC. X KOTO KAB. TANAH DATAR

HARI RABU, 27 MEI 2026 M/10 ZULHIJJAH 1447 H

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ.

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.

Allahu Akbar 3x walillahilhamd

Ma’asyiralmuslimin Sidang Jama’ah Idul Adha rahimakumullah………

          Syukur al-Hamdulillah marilah kita hadapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga pada hari raya idul adha tahun ini, kita dapat bersama-sama melaksanakan shalat hari raya di Mesjid yang berbahagia ini dengan meninggalkan segala kesibukan dunia, memfokuskan jiwa dan raga untuk beribadah hanya kepada Allah SWT. Kita juga bersyukur kepada Allah SWT karena ada di antara kita yang diizinkan Allah, apakah orang tua kita, saudara kita, anak kita atau kemenakan kita, melaksanakan ibadah haji menyempurnakan rukun Islam yang kelima ke Makkah Mukarramah. Kita juga besyukur memuji Allah SWT karena ada di antara kita yang ikut berkurban menyembelih sapi atau kambing kemudian membagikannya kepada kaum muslimin terutama kepada fakir dan miskin. Mudah-mudahan dengan selalu mensyukuri segala nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah SWT, kita  selalu mendapatkan curahan rahmat dan karunia-Nya dan dibebaskan dari segala bentuk bala dan musibah. Amin Ya Rabbal “Alamin…….

          Allah berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

          Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika  kamu bersyukur atas nikmat yang Aku berikan kepadamu pasti Aku akan tambah, tapi apabila kamu ingkari sungguh azab-Ku sangatlah pedih. (Surah Ibrahim ayat 7)

          Shalawat dan salam, marilah kita do’akan kepada Allah SWT semoga disampaikan kepada junjungan umat Nabi Besar Muhammad SAW. Atas segala perjuangan dan pengorbanan beliau, baik harta, pemikiran, perasaan dan waktu, beliau telah berhasil dalam tempo yang sangat singkat merubah peradaban dunia, dari peradaban penyembah patung dan berhala kepada peradaban penyembah Allah SWT yang Maha Tunggal dan Kuasa, dari peradaban penyiksa wanita dan makhluk lemah kepada peradaban yang menghargai wanita dan mengasihi yang faqir, dari peradaban jahiliyyah kepada peradaban yang penuh dengan kebijaksanaan, kedermawanan dan ilmu pengetahuan sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Mudah-mudahan dengan berpegang teguh kepada warisan yang beliau tinggalkan untuk kita, kita tidak akan pernah sesat selama-lamanya, baik di dunia maupun di akhirat.

          Nabi bersabda:

          Artinya: “Aku telah tinggalkan untukmu dua perkara, selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, kamu tidak akan pernah sesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul”. (al-Hadis)

          Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd……..

          Kaum Muslimin Rahimakumullah…………

          Mengawali khutbah idul adha kali ini, khatib mengajak kita semua, termasuk diri khatib sendiri untuk selalu meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya setiap saat, kapan saja dan di mana saja kita berada.

Sidang Jama’ah Idul Adha yang rahimakumullah,

          Tema khutbah kita kali ini ialah “HAKIKAT IBADAH HAJI DAN QURBAN”.

 

Ma’asysyiral Muslimin Rahimakumullah,

          Allah berfirman: 

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ

“Dan serulah olehmu manusia agar ia melaksanakan haji niscaya ia akan datang dengan berjalan kaki dan memakai kendaraan, dan mereka akan datang dari segenap penjuru dunia agar mereka menyaksikan beberapa manfaat, dan menyebut nama Allah pada beberapa hari tertentu ( hari raya idul adha dan hari-hari tasyri’) dan Allah telah memberi rezki kepadamu dengan binatang ternak untuk korban dan makanlah sebahagiannya dan sedeqahkanlah bagi orang yang fakir dan melarat”. (Surah al-Hajj ayat 27-28)

          Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: ”Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (Surah Ali Imran ayat 97)

          Berdasarkan firman Allah di atas, kita menyadari bahwa ibadah haji merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, bahkan merupakan kesempurnaan pengamalan ajaran agama dan menjadi rukun Islam yang kelima, yaitu kewajiban bagi orang-orang yang memenuhi wajib haji, yaitu mempunyai kesanggupan ekonomi untuk biaya keberangkatan, sehat jasmani dan rohani, mempunyai ilmu tentang tata cara haji dan adanya jaminan keamanan menuju Makkah Mukarramah dan Madinatul Munawwarah.

          Itulah mereka yang sekarang lagi berkumpul berjuta-juta orang dari segenap penjuru dunia di tanah haram, melaksanakan rangkaian ibadah haji mulai dari Ihram, Thawaf, Sa’i, melontar Jumrah dan ibadah lainnya, yang masing-masingnya mempunyai hikmah luar biasa yang patut kita pedomani.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd……..

          Pertama, Mengenakan pakaian ihram putih-putih dan menanggalkan pakaian biasa sehari-hari berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus segala keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial. Raja, Jendral, Presiden, Rakyat Kecil, petani, pedagang, sopir, tanpa membedakan jabatan, kekayaan, suku maupun warna kulit. semuanya mengenakan pakaian Ihram yang sama. Hal ini melambangkan persamaan derajat kemanusiaan. Pesannya sangat jelas bahwa manusia hakikatnya sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: QS. Al-Hujurat Ayat 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Ibadah haji tidak hanya perjalanan fisik tapi spiritual yang mengajarkan kesabaran, disiplin, kebersamaan, pengendalian diri dan ukhuwwah Islamiyyah serta menimbulkan pengaruh psikologis/kejiwaan bahwa  dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Allah SWT pada saat kematiannya. Bukankah ibadah haji adalah memenuhi panggilan Allah? Dan kematian itu juga adalah memenuhi panggilan Allah? Apakah setelah melaksanakan haji atau kita setelah shalat idul adha dan melaksanakan qurban, masih adakah keangkuhan di dalam jiwa kita? Masih terasakah adanya perbedaan derajat kemanusiaan? Masihkah ingin menang sendiri dan menindas orang lain? Kalau masih ada berarti kita belum menghayati hikmah dari pakaian ihram tersebut. Dalam kehidupan masyarakat, kebersamaan dan kesamaan visi dan misi yang diajarkan dari pakaian Ihram menjadi syarat mutlak keberhasilan kita dalam membangun, terutama membangun kehidupan beragama di daerah kita sehingga tidak ada ruang dan waktu untuk kemaksiatan, tidak ada lagi perjudian, tidak ada lagi orang yang mencuri, tidak ada lagi orang yang berzina dan pergaulan bebas di daerah kita, tidak ada lagi narkoba dan tidak ada lagi kemungkaran-kemungkaran lainnya di daerah yang kita cintai ini. Ini juga yang diajarkan oleh Ibadah Qurban, yaitu berkorban untuk kemajuan agama. Kita harus meletakkan agama sebagai posisi prioritas utama. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh yang menyebutkan apabila bertentangan kepentingan agama dengan jiwa, maka jiwa harus dikorbankan, inilah Jihad, maka orang yang gugur dalam perjuangan agama, maka ia gugur sebagai syuhada dan tidak ada balasan lain kecuali surga. Apabila bertentangan antara kepentingan agama dengan harta, maka harta harus dikorbankan, maka inilah yang menjadi syariat zakat, waqaf, infaq dan sedeqah. Dengan demikian, tidak ada mesjid yang terbengkalai, tidak ada faqir-miskin yang tidak disantuni, tidak ada anak yatim yang terlantar. Semuanya berjalan dengan damai, aman dan tentram. Dan apabila bertentangan kepentingan agama dengan kepentingan pribadi, maka agama harus didahulukan, kepentingan pribadi harus dikorbankan, direlakan dan diikhlaskan. Inilah prinsip yang harus selalu kita pegang sehingga kita bisa sehilir semudik dalam memajukan agama di daerah kita ini dalam kerangka ukhuwwah Islamiyyah yang kuat dan erat.

Wuquf di ‘Arafah berarti berhenti di Padang ‘Arafah. ‘Arafah berarti mengenal. Mengajarkan kepada kita untuk mengenal jati diri, menyadari kesalahan, bertekad untuk tidak mengulanginya, bertaubat serta menyadari kebesaran dan keagungan Penciptanya, yaitu Allah SWT, yang suatu saat kita akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama kita hidup di dunia dihadapan Mahkamah Allah SWT. Kita hidup di dunia hanya sebentar, kehidupan yang abadi itu ada di akhirat. Oleh karena itu, mari kita persiapkan diri dan keluarga  kita untuk menghadapi kehidupan yang abadi itu dengan memperbanyak bekal, yaitu bekal keimanan, ketaqwaan dan amal sholeh.

Berikutnya melempar jumrah, yaitu jumratul ula, jumratul wustha dan jumratul aqabah. Mengingatkan kita kepada peristiwa Nabi Ibrahim dengan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail, ketika Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail. Pada saat itu iblis datang menggoda Nabi Ibrahim supaya Nabi Ibrahim meninggalkan perintah Allah.Ternyata Nabi Ibrahim tidak bisa digoda karena keyakinan Nabi Ibrahim bahwa mimpinya untuk menyembelih anaknya itu benar-benar perintah dari Allah SWT. Selanjutnya iblis mengalihkan bujuk rayunya kepada Siti Hajar, Siti Hajar juga tidak tergoda, bahkan ia menguatkan hati suaminya untuk melaksanakan perintah Allah. Akhirnya iblis membujuk Ismail kecil, dan Ismail kecil tetap mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Kemudian ketika Nabi Ibrahim meyembelih Ismail, seketika itu Ismail berubah atas izin Allah menjadi seekor domba.

          Peristiwa ini dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an surah al-Shaffat ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

          Artinya: .....“Wahai ayah kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan, inya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.”

          Melempar jumrah dan ibadah qurban mengajarkan kepada kita bahwa setiap anggota keluarga itu, baik suami atau istri, ayah, ibu dan anak-anak sepantasnya bekerjasama dalam mentaati Allah dan dalam menjadikan syetan sebagai musuh.

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ 

          Artinya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebenar-benar musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (surah Fathir ayat 6)

          Sehingga tidak ada peluang bagi iblis dan syetan menjerumuskan anggota keluarga kita. Setiap anggota keluarga harus bahu membahu, saling bantu membantu dalam kebaikan dan taqwa, tidak dalam dosa dan permusuhan. Digantinya Ismail dengan seekor domba sekaligus menggugurkan, membatalkan segala bentuk tumbal, sesajian dan kebiasaan mengorbankan  manusia. Oleh Nabi kita Muhammad SAW, ibadah Qurban dijadikan ibadah yang dilaksanakan setiap tahun pada hari raya idul adha dan hari-hari tasyri’, tanggal 10, 11, 12, dan 13 Zulhijjah.

Thawaf atau mengelilingi ka’bah. Ka’bah, tempat kiblat kita merupakan lambang dari wujud dan Keesaan Allah, maka ber-thawaf melambangkan aktifitas manusia yang tidak pernah terlepas dari Allah SWT. Ka’bah bagaikan matahari yang menjadi pusat tata surya dan dikelilingi oleh planet-planet. Oleh karena itu, segala aktifitas kita harus terikat dengan daya tarik pusat wujud ini, yaitu Allah SWT. Kita pergi ke ladang karena Allah, kita sekolahkan anak kita karena Allah, kita berdagang karena Allah, kita membangun dan beramal juga karena Allah. Tidak ada orang yang berbuat maksiat karena Allah, karena Allah pasti tidak menyukainya, karena kebaikan itu tidak boleh bersatu dengan keburukan, karena yang haq tidak boleh bercampur dengan kebathilan, apapun alasan-alasannya, termasuk demi kemashlahatan. Memang ada orang yang membangun dengan harta haram dengan alasan kemashlahatan tapi yakinlah bahwa itu tidak diredhoi Allah, sesuatu yang tidak diredhoi-Nya tidak ada yang bertahan lama dan akan hancur dengan cara Allah, apakah melalui tsunami, gempa atau gunung meletus, galodo dll.

          Berikutnya, Ibadah Sa’i atau berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa merupakan lambang dari usaha mencari karunia Allah. Bukankah Hajar, Ibu Ismail AS, mondar-mandir dari Shafa ke Marwa  mencari air untuk putranya sampai tujuh kali menunjukkan semangat, kerja keras untuk kelangsungan hidup keluarganya dan tidak berpangku tangan menunggu hujan emas dari langit. Shafa berarti start dengan niat yang suci dan tegar. Marwa berarti finish dengan penghargaan, mulia dan menjadi manusia idola dan ideal. Ini mengajarkan kepada kita bahwa memulai pekerjaan mencari kebutuhan hidup keluarga dengan ikhlas, kerja keras dan penuh ketabahan dan ketegaran akan berakhir dengan sukses, manis, indah, nikmat dan mulia.

          Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd……..

Hadirin Sidang Idul Adha yang dirahmati Allah……

          Di zaman sekarang, pengorbanan yang dibutuhkan bukan hanya harta, tetapi juga pengorbanan untuk menjaga keimanan keluarga, mendidik anak dengan agama, menjaga kejujuran di tengah maraknya korupsi, menjaga diri dari riba, judi online, narkoba, mengambil yang bukan hak kita, pemerasan, kemaksiatan digital dan berbagai penyakit sosial masyarakat.

Idul Adha mengingatkan kita bahwa iman harus melahirkan kepedulian sosial.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

“Tidak beriman kepadaku orang yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya dan ia mengetahuinya.” (HR. Ath-Thabrani)

Maka qurban sejatinya mengajarkan berbagi. Daging qurban yang dibagikan kepada masyarakat adalah simbol bahwa Islam hadir membawa kasih sayang, memperkuat persaudaraan dan menghapus kesenjangan sosial.

Di tengah situasi ekonomi yang sulit, nilai-nilai haji dan qurban sangat relevan untuk kita hidupkan:

1.    Hidup sederhana dan tidak berlebihan.

2.    Saling membantu antar sesama.

3.    Mengutamakan keberkahan dibanding kemewahan.

4.    Menjaga persatuan umat.

5.    Memperkuat kepedulian sosial.

Jangan sampai kesulitan ekonomi membuat kita kehilangan iman dan kemanusiaan.

Jangan sampai keadaan sulit mendorong seseorang mengambil jalan haram: korupsi, penipuan, pinjaman ribawi, judi online dan tindakan kriminal lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Karena itu, mari kita mencari rezeki yang halal, menjaga keluarga dengan iman dan membangun kehidupan masyarakat yang penuh kepedulian.

          Demikianlah, khutbah kita kali ini, mudah-mudahan dapat menggugah hati nurani kita, untuk lebih bersungguh-sungguh menegakkan ajaran agama, baik pada pribadi kita, keluarga kita maupun pada masyarakat kita. Semoga Allah SWT meredhoi setiap langkah dan upaya kita dalam memajukan agama-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

 

الله اكبر×9 الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا، لااله الاالله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعـزجنده وهزم الاحزاب وحده. لا اله الا الله والله أكبر, الله اكبر ولله الحمد.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.


قَالَ الله تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكريم:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya .. Allah Ya… Tuhan kami….

Sungguh telah banyak dosa dan kesalahan yang telah kami perbuat. Tak cukup kata-kata untuk mengungkapkannya. Kami mohon kepada-Mu Zat yang maha Pengampun. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa umat Islam seluruh dunia, baik yang telah Engkau panggil kepangkuan-Mu, maupun kami yang masih hidup.

 

Ya.. Allah… Ya Gaffur………

Jangan Engkau timpakan kepada kami mushibah yang tidak sanggup kami memikulnya. Janganpula Ya… Allah, Engkau siksa kami karena kami terlupa dan tersalah. Janganpula Ya… Allah, Engkau timpakan kepada kami bencana sebagaimana yang telah Engkau timpakan kepada umat-umat terdahulu yang Engkar kepada-Mu. Ya Allah ampuni kami, maafkan kami, sayangi kami. Engkaulah Pelindung kami dan bantulah kami menghadapi orang-orang kafir, bantulah kami menghilangkan kemungkaran-kemungkaran dari dalam diri kami, istri kami,anak-anak kami, keluarga kami, masyarakat kami, bangsa dan negara kami. Hingga kami sempurna menjadi hamba-Mu. Ya Allah Ya Tuhan Kami bantu kami menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur, yang dapat berusaha dan berkarya memajukan agama, bangsa dan negara kami dalam redha dan ma’unah-Mu. Ya Allah berikanlah kemenangan bagi kaum muslimin dimana saja berada, Palestina, Lebananon, Iran, dibelahan negeri Islam manapun. Amin… Ya.. Rabbal’alamin

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.