Rabu, 26 November 2025

Waspada: Kenakalan Tidak Hanya Remaja, Juga Kenakalan Orang Tua

Waspada: Kenakalan Tidak Hanya Remaja, Juga Kenakalan Orang Tua

Fenomena Sosial yang Mengkhawatirkan, Penyebab, dan Solusinya

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)


Selama ini, ketika mendengar istilah kenakalan, pikiran kita langsung tertuju pada kenakalan remaja—tawuran, bolos sekolah, pergaulan bebas, atau penyalahgunaan gawai. Padahal, kenyataan sosial hari ini menunjukkan fenomena yang jauh lebih memprihatinkan: kenakalan orang tua—orang dewasa yang seharusnya menjadi teladan, justru menjadi pelaku tindakan menyimpang dan merusak.

Fenomena yang Mengguncang Moral Publik

Dalam beberapa tahun terakhir, media massa—baik nasional maupun lokal—terus mengabarkan kasus-kasus yang mengoyak nurani:

1. Pencabulan dan pemerkosaan oleh orang dekat

Pelaku bukan orang asing, tetapi:

  • kakek mencabuli cucunya,

  • ayah memperkosa anak kandung,

  • paman, tetangga dekat, guru mengaji, pelatih olahraga, bahkan tokoh masyarakat.

Fenomena ini bukan hanya kejahatan seksual, tetapi pengkhianatan terhadap amanah, runtuhnya fungsi proteksi keluarga.

2. Atasan melecehkan bawahan

Di kantor, sekolah, kampus, hingga dunia industri, muncul kasus:

  • pelecehan oleh pejabat,

  • hubungan tidak sehat berbasis kuasa (power harassment),

  • ancaman “kalau tidak mau, kamu saya pecat.”

Ini menunjukkan rusaknya integritas dan hilangnya rasa takut kepada Allah.

3. CCTV di kamar mandi kos-kosan / ruang privat

Pemilik kos, penjaga keamanan, bahkan penyewa lain memasang kamera tersembunyi demi kepuasan nafsu. Perilaku ini menunjukkan betapa tipu daya teknologi tanpa iman dapat menyeret seseorang pada kehinaan.

4. LGBT sebagai gaya hidup

Sebagian orang dewasa memperlakukan orientasi seksual menyimpang sebagai tren modern, bahkan mempromosikannya kepada generasi muda. Sementara Islam menegaskan bahwa perilaku kaum Nabi Luth adalah pelanggaran fitrah kemanusiaan dan penyebab kehancuran moral.

5. Pesta narkoba dan seks

Tidak hanya dilakukan anak muda; faktanya, banyak pelakunya adalah:

  • pegawai negeri,

  • pejabat,

  • orang tua dengan ekonomi mapan,

  • pengusaha sukses.

Status sosial tidak menjamin kualitas moral.

6. Video porno sebagai budaya konsumsi

Sebagian orang dewasa yang seharusnya menjaga diri, malah menjadi konsumen atau bahkan pembuat konten pornografi. Akhirnya, anak-anak ikut meniru dan menganggap hal tersebut normal.

Mengapa Orang Dewasa Berbuat Nakal?

Kenakalan orang dewasa bukan tiba-tiba. Ada sebab-sebab mendalam yang perlu kita pahami.

1. Hilangnya kendali iman dan takwa

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah berzina seorang pezina ketika ia berzina kecuali ia sedang hilang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika hati tidak lagi dikendalikan oleh iman, nafsu mengambil alih arah hidup.

2. Penyalahgunaan kekuasaan dan relasi kuasa

Orang-orang dalam posisi kuat merasa kebal hukum dan memanfaatkan ketergantungan korban: anak, bawahan, murid, karyawan.

3. Kecanduan pornografi

Paparan pornografi merusak otak dan mengundang perilaku nekat. Banyak penelitian menyebutkan pornografi adalah “narkoba visual” yang memicu adiksi.

4. Lingkungan permisif dan budaya hedonisme

Ketika masyarakat menormalisasi:

  • seks bebas,

  • tontonan vulgar,

  • pesta,

  • gaya hidup mewah,
    maka orang dewasa pun mudah hanyut.

5. Lemahnya komunikasi keluarga

Banyak ayah-ibu yang hadir di rumah tetapi tidak hadir dalam hati anak-anak. Keluarga kehilangan fungsi kontrol dan nasihat.

6. Trauma masa kecil yang tidak terselesaikan

Sebagian pelaku justru korban di masa lalu, dan luka itu tidak pernah diobati.

7. Minimnya literasi agama dan moral

Banyak orang tua bisa bekerja keras mencari nafkah, tetapi tidak punya ketahanan moral menghadapi godaan teknologi dan pergaulan.

Dampak: Anak Kehilangan Teladan

Orang dewasa adalah guru kehidupan bagi anak-anak. Ketika orang tua, tokoh masyarakat, atau pejabat publik melakukan maksiat terang-terangan, generasi muda kehilangan rujukan moral.

Akibatnya:

  • anak meniru pola rusak yang ia lihat,

  • remaja tidak percaya lagi kepada institusi keluarga, sekolah, tokoh agama, atau negara,

  • kepercayaan sosial runtuh.

Solusi: Mengembalikan Marwah Orang Dewasa Sebagai Teladan

1. Menguatkan kembali iman dan kontrol diri

Perbanyak:

  • zikir,

  • membaca Al-Qur’an,

  • menjaga pandangan,

  • menghindari khalwat,

  • memperbaiki ibadah.

Allah berfirman:
“…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

2. Pendidikan keluarga berbasis adab

Mulailah dari rumah:

  • adab memandang,

  • adab menggunakan HP,

  • adab dalam relasi laki-laki dan perempuan,

  • adab menjaga aurat.

Orang tua harus menjadi contoh, bukan hanya pemberi nasihat.

3. Regulasi dan penegakan hukum tanpa kompromi

  • pelaku pelecehan harus dihukum maksimal,

  • pekerja publik harus tunduk pada kode etik,

  • CCTV di tempat privat harus dipidana tegas,

  • pornografi dan narkoba diberantas secara sistematis.

Hukum yang tegas mencegah kejahatan meluas.

4. Dakwah dan penyuluhan yang humanis dan relevan

Pendekatan agama harus:

  • membumi,

  • menyentuh hati,

  • menyesuaikan realitas digital,

  • memperkuat kesadaran, bukan hanya menakuti.

5. Rehabilitasi psikologis dan konseling

Pelaku dengan kecanduan pornografi atau trauma masa kecil perlu layanan konseling profesional berbasis agama dan psikologi.

6. Lingkungan sehat bagi warga

  • kampanye anti-pelecehan,

  • satgas KBGSI (Keluarga Besar Gaul Sehat Islami),

  • masjid ramah remaja dan ramah keluarga,

  • komunitas positif untuk orang dewasa.

7. Keteladanan tokoh publik

Pemimpin agama, pejabat, dan orang tua harus sadar:
perilaku mereka dilihat, ditiru, dan menjadi standar bagi generasi muda.

Penutup

Petaka hari ini bukan hanya kenakalan remaja, tetapi justru kenakalan orang tua.
Orang dewasa yang seharusnya menjadi penjaga moral malah menjadi pelanggar moral. Inilah alarm keras bagi bangsa. Ketika orang tua rusak, maka rusaklah satu generasi.

Solusi ada pada:

  • iman yang kuat,

  • keluarga yang sehat,

  • hukum yang tegas,

  • lingkungan yang mendukung,

  • dan keteladanan dari para pemimpin.

Perubahan tidak harus besar.
Ia dimulai dari satu rumah, satu ayah, satu ibu, satu tokoh—yang bertekad menjaga marwah diri di hadapan Allah.

Tidak ada komentar: