BERHARI RAYA DARI RUMAH KE RUMAH
Dalam Pandangan Agama dan Budaya Alam Minangkabau
Oleh: Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam
Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, tetapi juga momentum mempererat hubungan antarsesama. Di tengah suasana takbir yang bergema, umat Islam saling mengunjungi dari rumah ke rumah, bersilaturahmi, saling memaafkan, dan menguatkan kembali ikatan sosial yang mungkin sempat renggang. Hal ini juga berlaku di lingkungan birokrasi terutama di kalangan pegawai satu unit kerja.
Tradisi ini hidup subur di tengah masyarakat Indonesia, termasuk di Ranah Minangkabau yang kaya akan nilai adat dan budaya. Pertanyaannya, bagaimana praktik “berhari raya dari rumah ke rumah” ini dilihat dalam perspektif agama Islam dan budaya Minangkabau?
Silaturahmi dalam Perspektif Agama Islam
Dalam ajaran Islam, silaturahmi merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Bahkan, ia menjadi salah satu indikator kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kunjungan dari rumah ke rumah saat Idul Fitri sejatinya adalah manifestasi nyata dari perintah ini. Lebih dari sekadar tradisi, ia adalah ibadah sosial yang bernilai pahala besar.
Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi.” (QS. An-Nisa: 1)
Dalam konteks Idul Fitri, silaturahmi menjadi sarana untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan. Sebab, manusia tidak hanya berdosa kepada Allah (ḥablum minallāh), tetapi juga kepada sesama manusia (ḥablum minannās). Maka, tradisi saling mengunjungi dan bermaafan menjadi jembatan untuk membersihkan keduanya.
Makna Sosial dan Spiritual Berkunjung
Berhari raya dari rumah ke rumah memiliki dimensi sosial dan spiritual yang dalam. Di antaranya:
Menguatkan Ukhuwah Islamiyah
Kunjungan tersebut mempererat rasa persaudaraan, menghapus prasangka, dan menumbuhkan empati.Media Saling Memaafkan
Ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” bukan sekadar formalitas, tetapi sarana membersihkan hati dari dendam dan kesalahan.Menghidupkan Sunnah
Rasulullah SAW dikenal gemar menjalin hubungan baik dengan keluarga dan sahabat, termasuk dengan saling mengunjungi.Membangun Kepedulian Sosial
Dengan berkunjung, kita dapat mengetahui kondisi saudara, tetangga, atau kerabat yang mungkin membutuhkan perhatian.
Tradisi dalam Budaya Alam Minangkabau
Dalam budaya Minangkabau, nilai silaturahmi telah mengakar kuat melalui falsafah:
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”
Artinya, adat istiadat Minangkabau berlandaskan pada ajaran Islam. Maka, tradisi berkunjung saat hari raya bukan hanya budaya, tetapi juga selaras dengan nilai syariat.
Beberapa praktik khas di Minangkabau antara lain:
“Manjalang”: tradisi mengunjungi keluarga, terutama ke rumah orang tua, mamak (paman), dan kerabat.
“Makan Bajamba”: makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan persatuan.
Menghormati yang Tua, Menyayangi yang Muda: nilai ini sangat terasa dalam kunjungan hari raya, di mana generasi muda mendatangi yang lebih tua sebagai bentuk adab.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa silaturahmi bukan sekadar kunjungan fisik, tetapi juga sarana pewarisan nilai-nilai adat dan agama.
Menjaga Adab dalam Berkunjung
Agar tradisi ini tetap bernilai ibadah, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan:
Niatkan karena Allah, bukan sekadar rutinitas sosial.
Menjaga waktu dan tidak berlebihan, agar tidak merepotkan tuan rumah.
Berpakaian sopan dan menjaga akhlak.
Menghindari riya’ dan pamer dalam hidangan atau penampilan.
Mengucapkan doa dan kebaikan bagi tuan rumah.
Refleksi: Antara Tradisi dan Esensi
Di era modern, tradisi berkunjung dari rumah ke rumah mulai menghadapi tantangan: kesibukan, jarak, hingga perubahan gaya hidup. Bahkan, sebagian orang menggantinya dengan pesan singkat melalui media sosial.
Namun, perlu disadari bahwa esensi silaturahmi tidak sepenuhnya tergantikan oleh teknologi. Kehadiran fisik, jabat tangan, tatap muka, dan kehangatan interaksi memiliki nilai emosional dan spiritual yang jauh lebih dalam.
Penutup
Berhari raya dari rumah ke rumah adalah perpaduan indah antara ajaran Islam dan kearifan lokal Minangkabau. Ia bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga ibadah yang menghidupkan nilai persaudaraan, kasih sayang, dan kebersamaan.
Sebagai masyarakat yang berpegang pada prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, sudah semestinya kita menjaga dan melestarikan tradisi ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Semoga setiap langkah kita dalam bersilaturahmi menjadi amal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta memperkuat jalinan ukhuwah di tengah kehidupan bermasyarakat.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Berlebaran sebulan Syawal.
Wallahu A'lam


