AIR MATA ITU AKHIRNYA TUMPAH
Lama sudah ia tertahan—
di sudut hati yang perlahan mengeras,
membeku oleh diam yang terlalu lama dipelihara.
Seolah tak ada lagi celah bagi rasa untuk mengalir,
seolah jiwa ini telah kebal terhadap luka.
Namun hari itu,
tanpa aba-aba, tanpa permisi,
air mata itu akhirnya tumpah.
Bukan sekadar jatuh,
melainkan runtuh—
membawa segala yang selama ini dipendam:
sedih yang tak sempat diucap,
marah yang tak berani diluap.
Padahal baru saja bahagia itu singgah,
dalam hangatnya Idul Fitri—
hari di mana seharusnya hati kembali suci,
dalam pelukan maaf dan saling mengerti.
Namun realitas berkata lain.
Ego berdiri tegak di antara cinta,
kata-kata berubah menjadi senjata,
dan saudara…
tak lagi saling merangkul,
melainkan saling beradu.
Hati ini tak kuasa.
Mengapa begitu sulit untuk mengalah?
Mengapa kebenaran harus diperebutkan,
bukan dipeluk bersama dalam rendah hati?
Air mata itu pun jatuh,
menjadi saksi bahwa luka ini nyata.
Di tengah riuhnya perdebatan,
suara ayah akhirnya terdengar—
tegas, namun sarat cinta.
Mengajak semua kembali sadar,
bahwa di atas perbedaan itu,
ada ikatan yang tak boleh retak:
ikatan darah, ikatan keluarga.
Ayah berdiri bukan sebagai hakim,
melainkan sebagai pengingat—
bahwa kita lahir dari rahim yang sama,
dibesarkan dengan cinta yang sama,
dan seharusnya pulang pada tujuan yang sama.
Maka biarlah air mata ini menjadi doa,
yang diam-diam mengetuk langit:
Ya Allah…
jangan biarkan hati kami mengeras oleh ego,
jangan biarkan persaudaraan ini retak oleh perbedaan.
Lunakkan kami dengan kasih-Mu,
satukan kami dalam ridha-Mu.
Semoga persaudaraan ini tetap terjaga—
bukan hanya di dunia yang fana,
tetapi berlanjut hingga ke surga-Mu yang abadi.
Maafku untuk semua yang dicinta...
UWaS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar