Kisah Inspiratif: “Di Antara Derasnya Air, Ada Pertolongan Allah”
Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)
Hujan tidak berhenti sejak tiga hari lalu. Sungai yang dulu tenang kini berubah menjadi arus besar yang mengamuk, membawa batang pohon, lumpur, dan sisa-sisa kehidupan masyarakat. Di sebuah sudut kampung yang nyaris tenggelam, sepasang suami istri—Pak Arman dan Bu Laila—berjuang mempertahankan nyawa mereka.
Rumah mereka sudah setinggi dada terendam air. Atap mulai rapuh. Angin bertiup kencang. Namun mereka tetap berpegangan tangan, saling menguatkan.
“Bang… kalau ini memang akhir, kita ikhlas…” Bu Laila menahan tangis.
Pak Arman menggenggam tangan istrinya lebih erat. “Jangan berkata begitu, La. Nyawa kita bukan milik banjir, bukan milik badai. Nyawa kita hanya milik Allah. Selagi kita berusaha, insyaAllah Allah buka jalan.”
Malam itu, mereka naik ke bagian paling tinggi dari rumahnya—satu-satunya tempat yang tersisa. Tanpa makanan, tanpa tidur, tanpa kepastian. Yang ada hanya zikir, doa, dan genggaman tangan yang saling menguatkan.
Di tengah gelapnya malam, mereka mendengar suara gemuruh air semakin dekat. Sekali lagi, arus besar menghantam bagian bawah rumah.
“Bang! Rumahnya goyang!” teriak Bu Laila.
Pak Arman menarik istrinya. “La, dengar… jangan panik. Allah bersama kita. Kita terus berusaha, ya?”
Sambil terengah-engah, mereka merangkak ke arah genteng yang tersisa. Satu papan kayu menjadi pijakan terakhir. Dalam hati, mereka hanya bisa berkata:
“Hasbunallah wa ni’mal wakiil…”
Pagi hari, kabut menutupi kampung. Relawan yang menyusuri desa dengan perahu karet berulangkali melewati rumah-rumah hancur. Ketika hampir menyerah, salah satu relawan melihat sepotong kain berwarna biru melambai di kejauhan.
“Bang! Itu seperti ada orang!” teriak salah satu anggota tim.
Mereka mendekat cepat. Dan benar—di atas selembar papan yang mengambang, Pak Arman memeluk istrinya yang sudah sangat lemah.
Mereka berdua masih hidup.
Relawan menahan haru. “Pak, Bu… Alhamdulillah kami temukan!”
Dalam keadaan letih, Pak Arman hanya mampu mengatakan perlahan:
“Allah… tidak pernah meninggalkan hambanya yang berjuang.”
Bu Laila, yang hampir kehabisan tenaga, berbisik sambil menangis:
“Kami tidak punya apa-apa lagi… tapi Allah beri kami nyawa… Itu sudah cukup.”
Relawan mengangkat mereka ke perahu. Air mata jatuh bukan hanya dari korban, tapi juga dari para penyelamat. Sebuah bukti nyata bahwa ketika manusia sudah sampai di batas terakhir, Allah menurunkan tangan-Nya melalui tangan-tangan manusia lainnya.
Hikmah Kisah
Kisah ini mengingatkan kita bahwa:
1. Urusan nyawa sepenuhnya milik Allah.
Tidak ada banjir, badai, gempa, atau musibah apa pun yang bisa mengambil nyawa tanpa izin-Nya.
2. Jangan pernah putus asa.
Putus asa adalah pintu gelap. Selama detak jantung masih ada, selama lidah masih mampu berzikir, selama kaki masih bisa bergerak—harapan tidak pernah mati.
3. Pertolongan Allah turun kepada hamba yang terus berusaha.
Allah tidak meminta kita menjadi sempurna. Allah hanya meminta kita tidak menyerah.
Dan ketika usaha itu benar-benar sampai pada batasnya, Allah akan mengirimkan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar