Selasa, 09 Desember 2025

ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN: AGAMA KESEJUKAN BAGI SEMESTA

 


ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN: AGAMA KESEJUKAN BAGI SEMESTA

Pendahuluan: Islam Hadir untuk Menghadirkan Rahmat

Islam bukan sekadar kumpulan aturan, bukan pula sekadar nama agama. Islam dihadirkan Allah sebagai energi kasih sayang, petunjuk hidup, dan solusi bagi peradaban. Allah menegaskan misi besar ini:

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menjadi fondasi bahwa seluruh ajaran Islam—dari akidah, ibadah, akhlak, sosial, hingga tata kelola alam—ditujukan untuk menciptakan kebaikan, ketenangan, dan keberlanjutan kehidupan.

1. Makna Islam: Damai, Tunduk, dan Selamat

Secara bahasa, Islam berakar dari kata salima yang berarti selamat, damai, sejahtera. Maka seorang Muslim adalah:

  • Orang yang tunduk kepada Allah,

  • Menghadirkan kedamaian bagi dirinya,

  • Menyebarkan keselamatan bagi orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Muslim adalah seseorang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Inilah jati diri Islam: agama kedamaian, bukan permusuhan; agama penyelamat, bukan perusak.

2. Misi Islam: Menebar Rahmat

Islam memiliki misi yang mencakup tiga dimensi besar:

a. Rahmat dalam Hubungan dengan Allah (Hablum minallah)

Islam membimbing manusia mengenal Penciptanya melalui:

  • Tauhid — mengesakan Allah

  • Ibadah — melatih kesucian jiwa

  • Doa dan zikir — memperkuat ketenangan batin

Rahmat Allah tampak dalam firman-Nya:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, bukan kesulitan.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Segala ajaran Allah tidak dimaksudkan menyulitkan manusia, tetapi memuliakan mereka.

b. Rahmat dalam Hubungan dengan Sesama (Hablum minannas)

Islam hadir untuk menjaga:

  • Harga diri manusia

  • Hak hidup, termasuk larangan membunuh

  • Keadilan sosial, termasuk larangan zalim

  • Perlindungan kelompok rentan (fakir, yatim, janda, musafir)

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbesar:

  • Beliau menghormati orang berbeda suku, budaya, bahkan agama.

  • Beliau menyantuni tetangga.

  • Beliau menghapus praktik kekerasan dan kesukaran sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad)

Maka semakin bermanfaat seseorang, semakin dekat ia pada hakikat rahmatan lil ‘alamin.

c. Rahmat bagi Alam Semesta (Hablum ma’al-alam) — Perspektif Ekologi/Teoekologi Islam

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan sesama, tetapi juga:

  • Alam

  • Hewan

  • Air, tanah, hutan

  • Iklim dan ekosistem

Semua adalah amanah Allah.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A‘raf: 56)

Rasulullah ﷺ memberikan banyak contoh:

  • Melarang menebang pohon tanpa kebutuhan yang benar.

  • Mengancam keras orang yang menyiksa hewan.

  • Menganjurkan menanam pohon meski hari kiamat tiba.

  • Menjaga kebersihan air dan lingkungan.

Hadits terkenal:

“Jika kiamat terjadi sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada biji tanaman, maka tanamlah.”
(HR. Ahmad)

Ini bukti bahwa Islam adalah agama yang ecocentric—mendudukkan alam sebagai bagian dari makhluk Allah yang perlu dilindungi, bukan dieksploitasi.

Dalam perspektif teoekologi Islam, manusia adalah:

  • Khalifah (pengelola) → bertanggung jawab menjaga keberlanjutan

  • ‘Abd (hamba) → tunduk pada aturan Allah dalam mengelola alam

Keseimbangan ini membuat Islam menjadi agama hijau, agama ekologis.

3. Islam dan Peradaban Kebaikan

Ajaran Islam membentuk:

a. Peradaban Ibadah

Menghidupkan ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah.

b. Peradaban Akhlak

Membentuk manusia berkarakter lembut, jujur, amanah.

c. Peradaban Sosial

Membangun masyarakat yang adil, inklusif, damai.

d. Peradaban Ekologis

Menjaga alam, memperbaiki yang rusak, menolak eksploitasi berlebihan.

Ketika keempat pilar kokoh, maka terwujud “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” — negeri yang baik dan dirahmati Tuhan.

4. Wujud Islam Rahmatan lil 'Alamin dalam Kehidupan

Islam menjadi rahmat ketika nilai-nilainya diwujudkan, seperti:

  • Menolong sesama tanpa memandang latar belakang.

  • Menjaga lisan dari hoaks, fitnah, kebencian.

  • Mengurangi sampah dan limbah.

  • Menanam pohon di lingkungan rumah dan masjid.

  • Mengelola masjid sebagai pusat edukasi ramah lingkungan.

  • Membangun keluarga penuh kasih.

  • Menghormati tetangga dan perbedaan.

Rahmat itu tidak terbatas pada manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan, bahkan air dan udara.

Penutup: Menjadi Muslim yang Merahmati Dunia

Islam Rahmatan lil ‘Alamin bukan slogan, tetapi identitas peradaban yang harus diwujudkan oleh setiap Muslim.

Dengan cara:

  • Beribadah dengan ikhlas,

  • Berakhlak mulia dengan sesama,

  • Menjaga alam dengan penuh amanah,

maka seorang Muslim sesungguhnya sedang menghidupkan misi kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Semoga kita menjadi bagian dari umat yang menyebarkan rahmat, bukan kerusakan; kedamaian, bukan permusuhan; kebaikan, bukan kehancuran.

Wallahu a‘lam bishshawab.


Tidak ada komentar: