Rabu, 10 Desember 2025

SOLIDARITAS SESAMA KORBAN: SALING MENGUATKAN DI LOKASI PENGUNGSIAN

 


SOLIDARITAS SESAMA KORBAN: SALING MENGUATKAN DI LOKASI PENGUNGSIAN

Artikel Populer untuk spritual Healing

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Ketika bencana datang tanpa diundang, rumah-rumah mungkin hilang, harta benda mungkin hanyut, namun nilai kemanusiaan dan solidaritas tidak pernah tenggelam. Di lokasi-lokasi pengungsian, di antara tenda-tenda darurat, asap dapur umum, dan deru relawan yang hilir mudik, kita justru bisa menyaksikan satu kekuatan besar: kebersamaan.

1. Dari Ruang Sempit Menjadi Ruang Harapan

Pengungsian sering kali identik dengan keterbatasan. Makanan yang terbatas, tidur yang tidak nyaman, dan ketidakpastian masa depan. Namun dalam kondisi itu pula Allah menumbuhkan satu hal yang sangat mahal—empati.
Anak-anak saling berbagi makanan ringan, ibu-ibu saling menghibur, bapak-bapak saling membantu memindahkan logistik. Suasana yang berat menjadi lebih ringan karena ada hati yang tetap hidup.

2. Solidaritas: Sunnatullah dalam Kehidupan

Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk saling menolong dan menguatkan, terutama ketika ditimpa musibah.

  • Allah berfirman:
    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Māidah: 2).

  • Nabi ﷺ juga bersabda:
    “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan empati adalah seperti satu tubuh…” (HR. Muslim).

Di tenda-tenda pengungsian, ayat dan hadis ini hidup dalam bentuk nyata:
ada yang mengusap air mata, ada yang mengantarkan makanan, ada yang menggendong anak orang lain agar ibunya bisa beristirahat.

3. Saling Menguatkan: Obat Luka yang Tidak Terlihat

Bencana tidak hanya merusak fisik, tetapi juga perasaan dan mental.
Namun ketika korban saling mendekat, berbagi cerita dan doa, luka itu perlahan sembuh.
Dorongan spontan seperti:

  • “Sabar ya, kita hadapi bersama.”

  • “Yang penting kita masih hidup.”

  • “InsyaAllah Allah ganti dengan yang lebih baik.”
    adalah terapi yang paling nyata.

Dalam suasana pengungsian, kalimat sederhana itu berubah menjadi energi yang memulihkan.

4. Ikhlas Menerima, Kuat untuk Bangkit

Solidaritas membuat hati lebih siap menerima takdir.
Ketika satu keluarga kehilangan rumah, keluarga lain berkata, “Ayo tinggal sama kami dulu.”
Ketika satu orang kehilangan anggota keluarga, orang-orang di sekitarnya tidak membiarkan ia sendiri dalam sedihnya.
Di sinilah iman bekerja—membuat manusia kuat meski sedang rapuh.

Musibah menjadi pengingat bahwa kehidupan dan kematian adalah milik Allah. Dan selagi manusia berdoa serta berusaha, pertolongan Allah selalu dekat.

5. Dari Pengungsian Menuju Kebangkitan

Pengungsian bukan akhir cerita, hanya jeda sebelum Allah memberi jalan baru.
Dan solidaritas adalah modal sosial yang membuat setiap orang siap bangkit kembali.
Ketika masyarakat berdiri bersama, kekuatan itu tumbuh berkali-kali lipat.

Di antara keterbatasan, justru lahir banyak kebaikan:

  • gotong royong membangun dapur umum,

  • membagi pakaian dan selimut,

  • ronda malam menjaga keamanan,

  • belajar mengaji bersama agar hati tetap tenang.

Semua itu membuktikan: hati manusia lebih besar daripada bencana apa pun. Bantuan datang dari mana-mana dalam berbagai bentuk sebagai bukti bahwa duka itu dirasakan bersama pula.

Pemerintah pasti tidak tinggal diam atas penderitaan yang dialami rakyatnya. Segala potensi negara diterjunkan untuk duka ini segera berakhir.

Penutup

Solidaritas sesama korban bukan sekadar bantuan fisik, tetapi juga obat bagi jiwa.
Ia mengajarkan bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya sendirian.
Dan di balik setiap musibah, selalu ada ruang untuk saling merangkul dan menguatkan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menyalakan harapan di tengah kesulitan, menjadi cahaya bagi sesama, dan menerima setiap takdir dengan hati yang sabar dan ikhlas.

Tidak ada komentar: