Selasa, 31 Maret 2026

Fardhu Kifayah & Akhlak terhadap Ulama: Pilar Peradaban Umat


Fardhu Kifayah & Akhlak terhadap Ulama: Pilar Peradaban Umat

Oleh: Wahyu Salim Penyuluh Agama Islam 

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, umat Islam sering kali sibuk mengejar urusan pribadi hingga melupakan tanggung jawab sosial keagamaan. Padahal, dalam Islam terdapat konsep penting yang menjaga keseimbangan kehidupan umat, yaitu fardhu kifayah. Bersamaan dengan itu, ada satu aspek yang tidak kalah penting: bagaimana akhlak kita terhadap ulama sebagai pewaris ilmu para nabi.

Apa Itu Fardhu Kifayah?

Fardhu kifayah adalah kewajiban kolektif. Artinya, jika sudah ada sebagian umat yang melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban dari yang lain. Namun, jika tidak ada satu pun yang melaksanakannya, maka seluruh umat berdosa.

Contoh fardhu kifayah antara lain:

  • Mengurus jenazah (memandikan, mengkafani, menshalatkan, menguburkan)

  • Menjadi tenaga medis, guru, dan ahli agama

  • Menegakkan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar

Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan…”
(QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini menunjukkan bahwa harus ada kelompok yang mengambil peran dalam menjaga agama dan kemaslahatan umat.

Ulama: Penjaga Cahaya Ilmu

Dalam Islam, ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Mereka bukan sekadar orang berilmu, tetapi juga penjaga nilai-nilai agama dan pembimbing umat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ini berarti ulama memikul amanah besar dalam menyampaikan kebenaran dan membimbing umat menuju jalan Allah.

Akhlak terhadap Ulama

Menghormati ulama bukan berarti mengkultuskan mereka, tetapi menempatkan mereka pada posisi yang semestinya. Berikut beberapa bentuk akhlak yang perlu kita jaga:

1. Menghormati dan Memuliakan

Ulama adalah orang yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat. Menghormati mereka termasuk bagian dari menghormati agama itu sendiri.

2. Tidak Mudah Mencela

Di era media sosial, banyak orang dengan mudah mengkritik bahkan mencaci ulama tanpa ilmu. Sikap ini berbahaya karena bisa merusak adab dan persatuan umat.

Allah berfirman:

“...Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)

3. Mengambil Ilmu dengan Tawadhu’

Belajar dari ulama harus dengan hati yang rendah dan penuh adab. Ilmu tidak akan berkah jika diperoleh dengan kesombongan.

4. Mendoakan dan Mendukung

Ulama juga manusia biasa yang bisa lelah dan diuji. Dukungan moral dan doa dari umat sangat penting bagi mereka.

Ketika Fardhu Kifayah dan Ulama Bertemu

Menjadi ulama atau penuntut ilmu agama adalah bagian dari fardhu kifayah. Jika tidak ada yang mau mengambil peran ini, maka umat akan kehilangan arah.

Bayangkan jika tidak ada:

  • Ustaz yang mengajarkan Al-Qur’an

  • Dai yang menyampaikan dakwah

  • Penyuluh agama yang membimbing masyarakat

Maka akan terjadi kekosongan spiritual yang berbahaya.

Refleksi untuk Kita

Hari ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri:

  • Sudahkah kita berkontribusi dalam fardhu kifayah?

  • Bagaimana sikap kita terhadap ulama?

  • Apakah kita termasuk yang menjaga atau justru merusak wibawa mereka?

Penutup

Fardhu kifayah adalah tanggung jawab bersama, sementara ulama adalah penuntun jalan. Ketika keduanya berjalan selaras, maka umat akan kuat, berilmu, dan beradab.

Mari kita jaga keseimbangan ini:
ambil peran dalam fardhu kifayah, dan muliakan ulama dengan akhlak terbaik.

Wallahu A'lam

Tidak ada komentar: