Selasa, 18 Agustus 2026

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 81 TAHUN 2026: MAKNA KEMERDEKAAN BAGIKU Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka







MAKNA KEMERDEKAAN BAGIKU

Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Ketua IPARI Kota Padang Panjang

Merdeka: Sebuah Kata yang Semakin Dalam Maknanya

Tahun 2026 Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan.

Delapan puluh satu tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah bangsa. Di balik angka 81 itu ada darah para syuhada, air mata para pejuang, doa para ulama, pengorbanan rakyat, perjuangan para pendidik, kerja keras petani, nelayan, pedagang, aparatur negara, dan seluruh anak bangsa yang dari generasi ke generasi menjaga Indonesia tetap berdiri.

Tetapi bagi saya pribadi, memasuki usia 50 tahun, makna kemerdekaan terasa jauh lebih dalam daripada sekadar peringatan 17 Agustus.

Dulu, mungkin saya memahami kemerdekaan sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan.

Hari ini saya memahami kemerdekaan sebagai sebuah amanah.

Bangsa ini memang telah merdeka dari penjajahan fisik. Tetapi manusia masih harus berjuang untuk merdeka dari kebodohan, kemiskinan, keserakahan, permusuhan, fanatisme, narkoba, korupsi, kekerasan, perpecahan, hawa nafsu, dan penghambaan kepada selain Allah.

Dan sebagai seorang muslim, saya menemukan makna kemerdekaan yang paling hakiki dalam satu kesadaran:

Manusia tidak diciptakan untuk menjadi hamba bagi sesama manusia. Manusia diciptakan untuk menjadi hamba Allah.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka kemerdekaan sejati bukanlah hidup tanpa aturan.

Kemerdekaan sejati adalah bebas memilih kebenaran, bebas berbuat baik, bebas mengabdi, tetapi tidak bebas dari pertanggungjawaban kepada Allah.

1. Kemerdekaan Bagiku Adalah Perjalanan Panjang Menjadi Hamba

Ketika menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa hidup saya sesungguhnya adalah sebuah perjalanan panjang.

Saya pernah menjadi guru honorer di pesantren di Padang Panjang pada 1999.

Kemudian memasuki dunia pengabdian sebagai CPNS pada 2004.

Berbagai tugas dan amanah pernah saya jalani: penghulu, kepala KUA, penyelenggara syariah, Kasubbag TU, Kasi Pendidikan Madrasah, hingga akhirnya menekuni jalan sebagai Penyuluh Agama Islam.

Pada 2020 saya memasuki jabatan fungsional Penyuluh Agama Islam melalui proses inpassing.

Jika perjalanan itu hanya dihitung sebagai perpindahan jabatan, mungkin semuanya terlihat biasa.

Tetapi ketika saya renungkan pada usia 50 tahun, saya menemukan sesuatu yang lebih penting.

Setiap jabatan ternyata bukan sekadar posisi.

Ia adalah ujian tentang seberapa jauh saya mampu memberikan manfaat.

Sebab jabatan akan berganti.

Ruangan kerja akan berpindah.

Nama dalam struktur organisasi akan berubah.

Seragam akan berganti.

Tetapi amal yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap menjadi bagian dari perjalanan menuju Allah.

Karena itu, saya semakin memahami pesan Rasulullah ﷺ:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Maka saya ingin kemerdekaan yang saya rasakan tidak berhenti pada kebebasan untuk hidup bagi diri sendiri.

Saya ingin merdeka untuk bermanfaat bagi orang lain.

2. Pada Usia 50 Tahun, Saya Belajar Bahwa Kemerdekaan Bukan Lagi Tentang Mengejar, Tetapi Memberi

Usia 50 tahun membuat saya lebih sering melihat ke belakang.

Bukan untuk menyesali apa yang telah berlalu, tetapi untuk bertanya:

Apa yang sudah saya berikan?

Saya telah melewati masa muda.

Saya telah melewati berbagai fase pekerjaan.

Saya telah merasakan suka dan duka dalam pengabdian.

Saya telah menyaksikan banyak persoalan manusia dari dekat.

Saya juga telah menjadi suami dan ayah bagi enam orang anak.

Ada anak yang telah berada di Tangerang.

Ada yang menempuh pendidikan di Depok.

Ada yang belajar di PTIQ Padang.

Ada yang masih menempuh pendidikan di SMA, MTs, dan SD.

Di rumah, saya belajar bahwa menjadi ayah bukan hanya mencari nafkah.

Menjadi ayah adalah menghadirkan keteladanan.

Menjadi suami bukan hanya memenuhi kebutuhan keluarga.

Menjadi suami adalah belajar menjaga amanah, kesetiaan, komunikasi dan kasih sayang.

Dan menjadi manusia berusia 50 tahun bukan berarti selesai.

Justru saya merasa sedang memasuki babak kehidupan ketika pertanyaan terbesar bukan lagi:

“Apa yang akan saya dapatkan?”

Tetapi:

“Apa yang masih bisa saya tinggalkan?”

Itulah kemerdekaan bagi saya hari ini.

Merdeka dari ego untuk belajar memberi.

3. Kemerdekaan Tidak Berarti Bebas dari Masalah

Sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Padang Panjang Timur, saya bertemu dengan manusia dalam berbagai keadaan.

Ada keluarga yang sedang retak.

Ada pasangan suami istri yang kehilangan komunikasi.

Ada persoalan nafkah.

Ada konflik rumah tangga.

Ada persoalan hak dan kewajiban.

Ada orang yang membutuhkan pendampingan keagamaan.

Ada masyarakat yang berbeda pandangan.

Ada persoalan kerukunan.

Ada persoalan ekonomi.

Ada anak-anak muda yang menghadapi ancaman narkoba.

Ada pula warga binaan yang harus menjalani kehidupan di balik jeruji.

Semua itu mengajarkan kepada saya bahwa kemerdekaan tidak berarti hidup tanpa masalah.

Indonesia merdeka bukan berarti seluruh rakyat otomatis sejahtera.

Keluarga merdeka bukan berarti tidak pernah bertengkar.

Masyarakat yang rukun bukan berarti tidak memiliki perbedaan.

Seorang penyuluh bukan berarti tidak pernah menghadapi kesulitan.

Kemerdekaan justru terlihat dari cara kita menghadapi masalah tanpa kehilangan iman, akal sehat dan kemanusiaan.

Karena itu saya semakin percaya bahwa penyuluhan agama bukan sekadar menyampaikan ceramah.

Penyuluhan adalah menemani manusia menemukan jalan pulang.

Pulang kepada Allah.

Pulang kepada keluarga.

Pulang kepada kedamaian.

Pulang kepada persaudaraan.

4. Kemerdekaan Bagiku Adalah Membebaskan Manusia dari Kemusyrikan

Sebagai seorang muslim, saya tidak bisa memaknai kemerdekaan tanpa tauhid.

Sebab penjajahan paling berat bukan selalu penjajahan oleh manusia.

Ada penjajahan hati.

Manusia dapat diperbudak oleh harta.

Diperbudak jabatan.

Diperbudak popularitas.

Diperbudak pujian.

Diperbudak ketakutan.

Diperbudak hawa nafsu.

Bahkan diperbudak oleh dirinya sendiri.

Karena itu, saya ingin kemerdekaan Indonesia 81 tahun ini menjadi momentum untuk mengingat kembali kemerdekaan paling mendasar:

La ilaha illallah.

Tidak ada yang berhak disembah selain Allah.

Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk.

Tauhid membuat seseorang berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.

Tauhid membuat jabatan tidak membuat manusia sombong.

Tauhid membuat kekuasaan tidak menjadi alat menindas.

Tauhid membuat harta menjadi sarana, bukan tujuan.

Tauhid membuat manusia memahami bahwa seluruh kehidupan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

5. Kemerdekaan Bagiku Juga Berarti Merdeka dari Hawa Nafsu dan Ego

Dalam perjalanan pengabdian, saya belajar bahwa tantangan terbesar kadang bukan orang lain.

Tantangan terbesar adalah diri sendiri.

Ego ingin dihargai.

Nafsu ingin dipuji.

Hati ingin dianggap paling benar.

Jabatan terkadang menggoda manusia untuk merasa lebih tinggi.

Ilmu terkadang membuat seseorang lupa bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Pengalaman terkadang membuat seseorang sulit menerima kritik.

Maka kemerdekaan sejati juga berarti mampu mengatakan:

“Saya bisa salah.”

Mampu meminta maaf.

Mampu menerima nasihat.

Mampu mendengarkan.

Mampu menghargai perbedaan.

Mampu mengendalikan emosi.

Dan mampu mengalah ketika mengalah menjadi jalan menuju kebaikan.

Saya semakin memahami bahwa orang yang mampu mengendalikan dirinya justru adalah orang yang paling merdeka.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan fisik, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Betapa relevannya pesan itu bagi kehidupan keluarga, masyarakat, birokrasi, organisasi dan kehidupan berbangsa.

6. Dari Keluarga Saya Belajar Arti Kemerdekaan yang Paling Sederhana

Ada satu tempat di mana seluruh teori tentang kemerdekaan diuji:

rumah.

Di rumah, kita tidak bisa bersembunyi di balik jabatan.

Tidak ada pangkat.

Tidak ada protokoler.

Tidak ada mikrofon.

Tidak ada podium.

Yang ada hanyalah suami, istri, anak-anak, dan kehidupan sehari-hari.

Bersama Mira, saya belajar bahwa perjalanan rumah tangga bukan perjalanan tanpa masalah.

Tetapi rumah tangga adalah tempat dua manusia belajar saling memahami.

Pernikahan yang telah berjalan panjang mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan.

Cinta adalah kesediaan untuk tetap merawat.

Tetap berbicara.

Tetap mendengarkan.

Tetap memaafkan.

Tetap menjaga kehormatan.

Dan tetap berusaha menjadi pasangan yang lebih baik.

Karena itu, kemerdekaan dalam rumah tangga bukan berarti suami bebas melakukan apa saja atau istri bebas melakukan apa saja.

Kemerdekaan rumah tangga adalah ketika suami dan istri sama-sama merasa aman untuk menjadi manusia, tetapi tetap bertanggung jawab sebagai hamba Allah.

7. Dari IPARI Saya Belajar Bahwa Kemerdekaan Harus Digerakkan Bersama

Pengabdian sebagai bagian dari IPARI Kota Padang Panjang, bahkan sebagai ketuanya, membuka ruang yang lebih luas bagi saya.

Saya melihat bahwa penyuluh agama tidak boleh hanya bekerja di balik meja.

Penyuluh harus hadir.

Hadir di tengah masyarakat.

Hadir ketika ada persoalan.

Hadir ketika ada konflik.

Hadir ketika masjid membutuhkan gerakan.

Hadir ketika keluarga membutuhkan pendampingan.

Hadir ketika generasi muda membutuhkan arah.

Hadir ketika masyarakat membutuhkan narasi agama yang menyejukkan.

Semangat itu kemudian kami dorong melalui berbagai gerakan.

Gerakan literasi.

Moderasi beragama.

Kerukunan.

Pembinaan masyarakat.

Gerakan kebersihan masjid.

Kegiatan keagamaan.

Pembinaan warga binaan.

Ekoteologi.

Dan berbagai kegiatan sosial lainnya.

Saya semakin yakin bahwa kemerdekaan tidak boleh hanya dirayakan dengan upacara.

Kemerdekaan harus dihidupkan melalui gerakan.

Karena itu saya menyukai semangat:

Penyuluh Agama Islam Bergerak.

Bukan sekadar slogan.

Tetapi sebuah panggilan.

8. Masjid Mengajarkan Saya: Merdeka Itu Bersih Hati dan Bersih Lingkungan

Dalam berbagai gerakan bersih-bersih masjid, termasuk kegiatan di Masjid Asasi Sigando dan Mushalla Diinulhaq Koto Tuo Panyalaian, saya menemukan pelajaran sederhana tetapi sangat dalam.

Kita sering berbicara tentang membersihkan hati.

Tetapi Allah juga mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan tempat ibadah dan lingkungan.

Masjid bukan hanya tempat shalat.

Masjid adalah pusat peradaban.

Masjid adalah tempat manusia belajar.

Tempat bersaudara.

Tempat bermusyawarah.

Tempat membangun kepedulian.

Karena itu saya menyukai pesan:

“Masjid Bersih, Hati Suci, Indonesia Maju... Merdeka!”

Kalimat itu bagi saya bukan sekadar slogan kegiatan.

Ia adalah filosofi.

Bangsa yang ingin maju membutuhkan lingkungan yang bersih.

Tetapi lebih dari itu, membutuhkan hati manusia yang bersih.

Bersih dari kebencian.

Bersih dari kesombongan.

Bersih dari korupsi.

Bersih dari permusuhan.

Bersih dari fitnah.

Bersih dari sikap merasa paling benar sendiri.

9. Di Balik Jeruji, Saya Menemukan Makna Kemerdekaan yang Berbeda

Pengalaman mendampingi pembinaan keagamaan warga binaan Rutan Kelas IIB Padang Panjang memberi saya pelajaran yang sangat manusiawi.

Ada manusia yang secara fisik kehilangan kebebasan.

Tetapi di dalam dirinya masih ada pintu menuju Allah.

Melalui doa.

Melalui zikir.

Melalui taubat.

Melalui Al-Qur'an.

Melalui kesadaran.

Saya pernah terlibat dalam kegiatan Doa dan Zikir Kebangsaan bersama keluarga besar warga binaan dalam menyambut HUT RI ke-81.

Di sana saya semakin memahami:

kemerdekaan fisik adalah karunia, tetapi kemerdekaan jiwa adalah perjuangan.

Seseorang mungkin berada di balik jeruji, tetapi hatinya dapat menemukan Allah.

Sebaliknya, seseorang mungkin berjalan bebas di jalan raya, tetapi hatinya terpenjara oleh narkoba, hawa nafsu, keserakahan, kebencian atau dosa.

Maka tugas dakwah adalah membuka pintu-pintu pembebasan itu.

Membebaskan manusia dari keputusasaan.

Menghidupkan harapan.

Mengajarkan taubat.

Dan meyakinkan manusia bahwa selama hayat belum berakhir, pintu kembali kepada Allah masih terbuka.

10. Saya Belajar Bahwa Kemerdekaan Harus Menjaga Persatuan

Dalam kehidupan masyarakat, saya bertemu dengan perbedaan.

Perbedaan mazhab.

Perbedaan pemikiran.

Perbedaan organisasi.

Perbedaan latar belakang.

Perbedaan pilihan.

Perbedaan kepentingan.

Sebagai Penyuluh Agama Islam dan bagian dari gerakan moderasi beragama, saya belajar bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk bermusuhan.

Indonesia dibangun bukan karena kita sama.

Indonesia dibangun karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan.

Maka bagi saya, kemerdekaan adalah ketika seorang muslim mampu menjalankan agamanya dengan baik sekaligus menghormati hak orang lain.

Kemerdekaan adalah ketika masjid menjadi tempat menebarkan rahmat, bukan kebencian.

Kemerdekaan adalah ketika perbedaan pendapat diselesaikan dengan ilmu dan adab.

Kemerdekaan adalah ketika konflik diselesaikan dengan dialog, bukan kekerasan.

Kemerdekaan adalah ketika agama menjadi sumber kedamaian.

11. Ekoteologi Mengajarkan: Indonesia Merdeka Harus Merdeka dari Kerusakan

Ketika berbicara tentang ekoteologi, saya semakin menyadari bahwa menjaga lingkungan juga bagian dari amanah agama.

Allah tidak menciptakan bumi tanpa tujuan.

Manusia diberi amanah sebagai khalifah.

Karena itu, membuang sampah sembarangan bukan persoalan kecil.

Merusak alam bukan hanya persoalan ekologis.

Ia juga persoalan moral.

Kita tidak mungkin berbicara tentang Indonesia maju jika sungai tercemar.

Kita tidak mungkin berbicara tentang generasi emas jika lingkungan mereka rusak.

Kita tidak mungkin berbicara tentang syukur kepada Allah jika nikmat bumi kita rusak dengan tangan sendiri.

Maka kemerdekaan ke depan harus melahirkan manusia yang merdeka dari keserakahan terhadap alam.

Indonesia merdeka harus menjadi Indonesia yang menjaga bumi.

12. Kemerdekaan Ekonomi Adalah Ketika Masyarakat Mampu Berdiri dengan Martabat

Dalam perjalanan penyuluhan, saya juga berhadapan dengan persoalan ekonomi umat.

Zakat.

Bantuan sosial keagamaan.

Pemberdayaan mustahik.

Koperasi syariah.

Bantuan bergulir.

Dan berbagai ikhtiar untuk membuat masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu bangkit.

Saya belajar bahwa memberi bantuan memang baik.

Tetapi memberdayakan jauh lebih baik.

Sebab tujuan akhirnya bukan membuat seseorang terus menjadi penerima.

Tujuannya adalah membuat ia mampu berdiri.

Mampu bekerja.

Mampu berusaha.

Mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Bahkan suatu hari mampu menjadi pemberi zakat.

Itulah kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya:

dari mustahik menjadi muzakki.

13. Saya Juga Belajar bahwa Kemerdekaan Membutuhkan Literasi

Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak sangat cepat.

Masyarakat membutuhkan agama yang benar.

Tetapi agama yang benar juga harus disampaikan dengan cara yang dapat dipahami generasi zaman ini.

Karena itu saya mencoba bergerak melalui tulisan, poster, video, media sosial, materi khutbah, ceramah dan berbagai bentuk komunikasi publik.

Saya percaya dakwah hari ini tidak cukup hanya menunggu orang datang ke masjid.

Dakwah juga harus hadir di ruang digital.

Jika informasi yang salah dapat masuk ke rumah melalui telepon genggam, maka pesan kebaikan juga harus mampu masuk melalui pintu yang sama.

Inilah salah satu bentuk kemerdekaan baru:

kemerdekaan untuk menggunakan teknologi sebagai sarana kebaikan.

14. Pengalaman UKOM Mengajarkan Saya untuk Tidak Berhenti Belajar

Pada perjalanan karier sebagai Penyuluh Agama Islam, saya juga menghadapi tuntutan profesionalitas.

Pengalaman mengikuti proses UKOM menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak cukup hanya bermodal pengalaman.

Dunia berubah.

Teknologi berubah.

Sistem kerja berubah.

Penyuluh pun harus berubah dan terus belajar.

Pengenalan terhadap sistem digital seperti e-PA dan tuntutan pengisian kinerja mengingatkan saya bahwa profesionalitas adalah bagian dari amanah.

Saya ingin menjadi penyuluh yang bukan hanya lama mengabdi, tetapi juga terus bertumbuh.

Sebab masa kerja yang panjang tidak otomatis menjadikan seseorang matang.

Yang membuat seseorang matang adalah kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman.

15. Delapan Puluh Satu Tahun Indonesia Merdeka: Apa yang Harus Kita Syukuri?

Saya bersyukur menjadi bagian dari Indonesia.

Saya lahir, tumbuh dan mengabdi di negeri ini.

Di negeri yang mungkin belum sempurna.

Tetapi negeri yang memberi kita ruang untuk beribadah.

Ruang untuk belajar.

Ruang untuk bekerja.

Ruang untuk berdakwah.

Ruang untuk membangun keluarga.

Ruang untuk berorganisasi.

Ruang untuk menyampaikan pendapat.

Dan ruang untuk terus memperbaiki diri.

Karena itu, pada usia Indonesia yang ke-81, saya tidak ingin hanya bertanya:

“Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya?”

Saya ingin mengubah pertanyaan itu menjadi:

“Apa yang sudah saya berikan kepada Indonesia?”

Mungkin saya bukan pahlawan.

Saya tidak mengangkat senjata.

Saya tidak berada di medan perang.

Tetapi saya percaya setiap zaman memiliki medan perjuangannya sendiri.

Dan medan perjuangan saya adalah:

keluarga, dakwah, masyarakat, masjid, pelayanan, kerukunan dan kemanusiaan.

16. Kemerdekaan Bagiku Adalah Menjadi Penyuluh yang Terus Hadir

Jika kelak orang bertanya kepada saya:

“Apa arti kemerdekaan bagimu?”

Mungkin saya akan menjawab:

Kemerdekaan bagiku adalah ketika ilmu yang saya miliki dapat menerangi orang lain.

Kemerdekaan adalah ketika dakwah yang saya sampaikan mampu menenangkan, bukan menakut-nakuti.

Kemerdekaan adalah ketika keluarga yang hampir retak menemukan jalan damai.

Kemerdekaan adalah ketika masyarakat yang berbeda dapat duduk bersama.

Kemerdekaan adalah ketika warga binaan menemukan harapan.

Kemerdekaan adalah ketika masjid menjadi bersih, hidup dan memakmurkan masyarakat.

Kemerdekaan adalah ketika zakat mampu mengangkat martabat mustahik.

Kemerdekaan adalah ketika generasi muda mampu menjauh dari narkoba dan kehancuran.

Kemerdekaan adalah ketika alam dijaga sebagai amanah Allah.

Kemerdekaan adalah ketika teknologi digunakan untuk menyebarkan kebaikan.

Dan yang paling utama:

kemerdekaan adalah ketika hati saya hanya tunduk kepada Allah.

17. Dari Usia 50 Menuju Sisa Perjalanan

Saya tidak tahu berapa panjang perjalanan yang masih Allah berikan.

Lima tahun?

Sepuluh tahun?

Dua puluh tahun?

Atau mungkin hanya sebentar?

Tidak ada seorang pun yang tahu.

Tetapi usia 50 tahun membuat saya semakin sadar bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita berada di dunia.

Hidup adalah tentang berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan selama berada di dunia.

Saya ingin sisa usia ini menjadi usia pengabdian yang lebih matang.

Lebih sedikit bicara tentang diri sendiri.

Lebih banyak mendengar.

Lebih sedikit mengejar pengakuan.

Lebih banyak memberi manfaat.

Lebih sedikit mempertahankan ego.

Lebih banyak mencari ridha Allah.

Saya ingin terus menjadi Penyuluh Agama Islam yang hadir di tengah masyarakat.

Saya ingin terus menghidupkan semangat Penyuluh Agama Islam Bergerak.

Saya ingin terus menjaga keluarga.

Terus mendampingi anak-anak.

Terus belajar.

Terus berdakwah.

Terus membangun kerukunan.

Terus menghidupkan masjid.

Terus mengajak masyarakat menjaga lingkungan.

Terus mendampingi mereka yang membutuhkan.

Dan suatu hari, jika Allah memberikan kesempatan, saya ingin menutup perjalanan panjang ini dengan ibadah yang saya dambakan: menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

18. Untuk Indonesia di Usia 81 Tahun

Indonesia, engkau telah berusia 81 tahun.

Tetapi tugasmu belum selesai.

Masih ada kemiskinan yang harus diperangi.

Masih ada kebodohan yang harus diterangi.

Masih ada narkoba yang harus dilawan.

Masih ada keluarga yang harus diselamatkan.

Masih ada anak-anak yang harus dididik.

Masih ada konflik yang harus didamaikan.

Masih ada lingkungan yang harus dijaga.

Masih ada umat yang harus diberdayakan.

Dan masih ada generasi muda yang harus diyakinkan bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.

Maka kepada Indonesia, saya tidak hanya mengucapkan:

Dirgahayu.

Saya juga menitipkan doa:

Semoga Indonesia menjadi negeri yang semakin adil.

Semakin damai.

Semakin sejahtera.

Semakin beradab.

Semakin kuat persatuannya.

Dan semakin dekat nilai kehidupan bangsanya kepada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan.

19. Sebuah Janji untuk Sisa Pengabdian

Pada akhirnya saya memahami satu hal.

Kemerdekaan bukanlah hadiah yang selesai dirayakan.

Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga.

Para pejuang telah memerdekakan bangsa ini dari penjajahan.

Maka generasi kita harus melanjutkan perjuangan dengan cara kita sendiri.

Saya mungkin hanya seorang Penyuluh Agama Islam.

Tetapi saya ingin percaya bahwa satu nasihat yang menyelamatkan sebuah keluarga adalah bagian dari perjuangan.

Satu anak yang berhasil dijauhkan dari narkoba adalah bagian dari perjuangan.

Satu konflik yang berhasil didamaikan adalah bagian dari perjuangan.

Satu warga binaan yang kembali berharap kepada Allah adalah bagian dari perjuangan.

Satu masjid yang kembali bersih dan hidup adalah bagian dari perjuangan.

Satu mustahik yang bangkit menjadi mandiri adalah bagian dari perjuangan.

Satu masyarakat yang berbeda tetapi tetap rukun adalah bagian dari perjuangan.

Dan satu hati yang kembali tunduk kepada Allah adalah bagian dari perjuangan terbesar.

EPILOG

Merdeka untuk Mengabdi, Merdeka untuk Berarti

Kini, ketika Merah Putih kembali berkibar pada peringatan 81 tahun Indonesia merdeka, saya berdiri sebagai seorang anak bangsa yang telah memasuki usia 50 tahun.

Saya menatap bendera itu bukan hanya dengan mata.

Tetapi dengan seluruh perjalanan hidup.

Ada masa muda.

Ada keluarga.

Ada pekerjaan.

Ada jabatan.

Ada suka.

Ada duka.

Ada keberhasilan.

Ada kegagalan.

Ada orang-orang yang datang.

Ada orang-orang yang pergi.

Ada amanah yang telah selesai.

Ada amanah yang masih harus ditunaikan.

Dan di atas semuanya, ada Allah yang sejak awal hingga akhir tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Karena itu, makna kemerdekaan bagi saya akhirnya menjadi sangat sederhana:

Saya ingin merdeka dari segala sesuatu yang menjauhkan saya dari Allah, agar saya bebas mengabdi kepada-Nya melalui pengabdian kepada manusia.

Saya ingin merdeka dari ego agar mampu melayani.

Merdeka dari kesombongan agar mampu belajar.

Merdeka dari kebencian agar mampu mendamaikan.

Merdeka dari kemalasan agar mampu bergerak.

Merdeka dari keputusasaan agar mampu menyalakan harapan.

Merdeka dari keterikatan dunia agar mampu mengejar akhirat.

Dan ketika suatu hari nanti perjalanan ini berakhir, saya berharap orang tidak mengingat saya karena jabatan yang pernah saya duduki.

Tidak pula karena banyaknya gelar yang melekat di belakang nama.

Tetapi karena pernah ada seorang Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur, yang berusaha hadir, bergerak dan memberikan manfaat.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang paling indah bukanlah ketika manusia dapat berkata:

“Aku bebas melakukan apa saja.”

Tetapi ketika seorang hamba mampu berkata:

“Aku bebas dari penghambaan kepada selain Allah, dan aku memilih mengabdikan sisa hidupku untuk kebaikan.”

Itulah makna kemerdekaan bagiku.

81 tahun Indonesia Merdeka.

Merdeka bangsanya.
Merdeka jiwanya.
Merdeka dari kemusyrikan.
Merdeka dari hawa nafsu.
Merdeka dari kebencian.
Merdeka dari perpecahan.
Merdeka dari kebodohan.
Merdeka untuk mengabdi.
Merdeka untuk memberi arti.

Dan akhirnya:

MERDEKA UNTUK MENJADI HAMBA ALLAH.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Indonesia Merdeka, Indonesia Bersatu, Indonesia Maju.

Masjid Bersih, Hati Suci, Indonesia Maju.

Penyuluh Agama Islam Bergerak.

Untuk Indonesia yang lebih damai, religius, berdaya, berkeadaban dan penuh rahmat.


#penyuluhagamaislambergerak


 

Tidak ada komentar: