Hijrah Penuh Berkah
Kisah Robert: Ketika Langkah Pulang Menjadi Awal Kehidupan Baru
Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Hijrah bukan hanya kisah para sahabat Nabi yang meninggalkan Makkah menuju Madinah. Hijrah juga dapat terjadi di dalam hati setiap manusia yang ingin berubah menjadi lebih baik. Hijrah adalah perjalanan meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang diridhai Allah.
Itulah yang sedang dijalani Robert, salah seorang alumni Pesantren Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Baginya, kebebasan bukan sekadar keluar dari balik tembok pembinaan. Kebebasan yang sesungguhnya adalah ketika hati terbebas dari masa lalu dan mampu melangkah menuju masa depan yang lebih mulia.
Setelah pulang ke tengah keluarga, Robert menyadari bahwa hidup telah memberinya kesempatan kedua. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
Setiap kali azan berkumandang dari mushalla di dekat rumahnya, ia segera bergegas mengambil wudhu. Jika dahulu suara azan sering diabaikan, kini panggilan itu menjadi penyejuk hati. Shalat lima waktu tidak lagi ditinggalkan, karena ia percaya bahwa shalat adalah tiang kehidupan dan sumber ketenangan.
Perubahan itu tidak berhenti di mushalla. Robert juga mulai menjaga kesehatannya. Ia membiasakan hidup sederhana, mengurangi kebiasaan yang tidak bermanfaat, serta melepaskan selera dan gaya hidup yang dahulu membawanya kepada kesalahan. Ia memahami bahwa tubuh yang sehat adalah amanah Allah yang harus dijaga agar dapat terus beribadah dan bekerja.
Yang paling membahagiakan adalah tekadnya mencari rezeki yang halal. Baginya, penghasilan yang sedikit tetapi halal jauh lebih bernilai daripada harta yang banyak namun diperoleh dengan cara yang tidak benar. Dengan semangat baru, ia mulai merintis usaha kecil, bekerja dengan jujur, dan tidak malu memulai dari bawah.
Inilah makna hijrah yang sesungguhnya.
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah sikap. Bukan sekadar mengganti pakaian, tetapi mengganti cara berpikir. Bukan hanya meninggalkan kesalahan, tetapi juga membangun masa depan dengan amal saleh.
Dalam proses itu, ada tiga langkah penting yang perlu dijaga.
Pertama, hijrah. Berani meninggalkan masa lalu dan memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh.
Kedua, asimilasi. Belajar kembali hidup berdampingan dengan masyarakat, membangun kepercayaan, serta menunjukkan bahwa perubahan itu nyata melalui akhlak dan perilaku.
Ketiga, integrasi. Menjadi bagian dari masyarakat yang produktif, bermanfaat, dan ikut membangun lingkungan dengan semangat persaudaraan.
Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini menjadi penyemangat bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang bertekad memperbaiki diri, Allah akan membuka jalan-jalan kebaikan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Kisah Robert mengajarkan bahwa masa lalu bukanlah akhir dari segalanya. Yang menentukan masa depan seseorang bukanlah kesalahannya dahulu, melainkan kesungguhannya untuk bangkit hari ini.
Mari kita sambut setiap orang yang ingin berubah dengan tangan terbuka, bukan dengan prasangka. Berikan ruang, kesempatan, dan kepercayaan kepada mereka yang sedang meniti jalan hijrah. Sebab masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu menerima, membimbing, dan menguatkan sesama.
Hijrah hari ini adalah harapan esok.
Shalat yang terjaga, tubuh yang sehat, dan usaha yang halal akan menjadi bekal menuju kehidupan yang penuh berkah.
Hijrah bukan sekadar meninggalkan masa lalu. Hijrah adalah keberanian untuk menjemput ridha Allah, membangun kepercayaan masyarakat, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Semoga setiap langkah hijrah kita menjadi jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar