Senin, 31 Agustus 2026

ADAB-ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

 


ADAB-ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

“Bukan Sekadar Membaca, tetapi Memuliakan Kalam Allah”

A. Pendahuluan

Al-Qur’an bukanlah buku biasa. Ia adalah kalam Allah SWT, petunjuk hidup, cahaya bagi hati, obat bagi jiwa, dan pedoman bagi manusia.

Karena itu, membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas lisan. Seorang Muslim hendaknya menghadirkan pengagungan, kesopanan, ketenangan, keikhlasan dan penghayatan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan).”
QS. Al-Muzzammil [73]: 4

Membaca dengan tartil membantu seseorang membaca secara benar, tenang, dan memberi ruang untuk memahami serta mentadabburi makna ayat. (MUI)


B. ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

1. Membaca dengan niat ikhlas karena Allah

Adab pertama adalah meluruskan niat.

Jangan membaca Al-Qur’an hanya agar dipuji, dianggap alim, mendapatkan popularitas, atau sekadar mengejar penilaian manusia.

Allah SWT berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.”
QS. Al-Bayyinah [98]: 5

Nabi ﷺ juga bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.”
HR. Bukhari dan Muslim.

Pesan:
Sebelum membuka mushaf, bukalah hati terlebih dahulu.


2. Berusaha dalam keadaan suci

Di antara adab yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an dalam keadaan berwudu, terutama ketika memegang mushaf.

Allah SWT berfirman:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.”
QS. Al-Waqi'ah [56]: 79

Namun, perlu dijelaskan secara fikih: membaca Al-Qur’an tanpa wudu dari hafalan tidak sama hukumnya dengan menyentuh mushaf. Para ulama memiliki pembahasan tersendiri mengenai hukum menyentuh mushaf tanpa wudu.

Maka, berwudu sebelum membaca adalah bentuk penghormatan dan adab yang sangat baik, sementara persoalan hukum menyentuh mushaf perlu mengikuti pendapat fikih yang dianut.

MUI juga memasukkan kebersihan dan keadaan suci sebagai bagian dari adab membaca Al-Qur’an. (MUI)


3. Memilih tempat yang bersih dan layak

Al-Qur’an hendaknya dibaca di tempat yang bersih, tenang dan pantas.

Tidak harus selalu di masjid. Kita dapat membaca Al-Qur’an di rumah, mushalla, kantor, sekolah, kendaraan ketika memungkinkan dan aman, atau tempat lain yang layak.

Yang penting adalah memuliakan Al-Qur’an dan menjaga konsentrasi membaca.


4. Duduk dengan sopan dan tenang

Ketika membaca Al-Qur’an, hendaknya seseorang menjaga sikap tubuh dan suasana.

Duduk dengan tenang, tidak bercanda, tidak berbicara tanpa kebutuhan, serta tidak menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai aktivitas sambil lalu.

Membaca sambil berdiri atau berbaring pada dasarnya bukan berarti otomatis tidak boleh, tetapi duduk dengan sikap sopan dan tenang lebih mencerminkan penghormatan.


5. Mengawali dengan isti'adzah

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
QS. An-Nahl [16]: 98

Karena itu, sebelum membaca kita mengucapkan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Ini mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya menggunakan lisan, tetapi juga memohon perlindungan Allah agar hati tidak diganggu oleh waswas dan kelalaian. (MUI)


6. Membaca dengan tartil

Ini merupakan salah satu adab paling penting.

Allah SWT berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
QS. Al-Muzzammil [73]: 4

Tartil berarti membaca dengan perlahan, teratur, jelas dan memperhatikan ketepatan bacaan, bukan tergesa-gesa.

Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan banyak halaman, tetapi agar hati memiliki kesempatan untuk memahami, menghayati dan mengamalkan.

Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang menjadi shahibul Qur'an:

اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ

“Bacalah, naiklah, dan tartillah sebagaimana engkau dahulu mentartilkannya di dunia.”
HR. Abu Dawud no. 1464; dinilai hasan oleh Al-Albani. (Hadits.id)


7. Membaca dengan tajwid dan memperbaiki makhraj

Al-Qur’an harus dibaca sedapat mungkin sesuai dengan kaidah bacaan yang benar.

Kesalahan dalam pengucapan huruf dapat mengubah makna. Karena itu, seorang Muslim hendaknya belajar tajwid kepada guru yang kompeten, terutama jika belum mampu membaca dengan benar.

Allah memerintahkan:

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا

QS. Al-Muzzammil [73]: 4.

Para ulama qira'at seperti Ibnul Jazari sangat menekankan pentingnya tajwid dalam membaca Al-Qur’an. Dalam Al-Muqaddimah al-Jazariyyah, beliau menyatakan:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لَازِمُ

Secara umum, pesan yang ingin ditegaskan adalah: bacalah Al-Qur’an dengan benar dan jangan meremehkan kesalahan bacaan.

Namun, jangan sampai persoalan tajwid membuat orang yang masih belajar menjadi takut membaca. Belajar sambil membaca adalah jalan menuju perbaikan.


8. Membaca dengan suara yang baik dan tidak berlebihan

Nabi ﷺ menganjurkan memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an.

Beliau bersabda:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian.”

HR. Abu Dawud no. 1468; An-Nasa'i dan lainnya.

Memperindah suara bukan berarti harus menjadi qari profesional. Yang terpenting adalah bacaan jelas, tidak dibuat-buat, tidak berlebihan dan tetap menjaga tajwid.


9. Berusaha memahami dan mentadabburi maknanya

Inilah salah satu adab yang sering terlupakan.

Jangan sampai Al-Qur’an hanya lancar di lisan tetapi tidak masuk ke hati.

Allah SWT berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya.”
QS. Shad [38]: 29

Maka setelah membaca, tanyakan kepada diri:

“Apa pesan Allah dalam ayat ini untuk hidup saya?”

Bukan hanya:

“Sudah berapa halaman saya baca?”

Tetapi:

“Sudah berapa ayat yang mengubah hidup saya?”


10. Menghadirkan rasa takut, harap dan penghayatan

Al-Qur’an seharusnya menyentuh hati.

Allah menggambarkan orang-orang beriman:

إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah kuat iman mereka.”
QS. Al-Anfal [8]: 2

Karena itu, ketika membaca ayat tentang azab, kita memohon perlindungan Allah.

Ketika membaca ayat tentang rahmat, kita berharap rahmat-Nya.

Ketika membaca ayat tentang surga, kita memohon agar menjadi penghuninya.

Ketika membaca ayat tentang perintah, kita bertekad melaksanakannya.

Inilah membaca Al-Qur’an dengan hati.


11. Tidak tergesa-gesa mengejar jumlah bacaan

Banyak membaca Al-Qur’an adalah kebaikan. Namun, jangan sampai mengejar jumlah halaman membuat seseorang kehilangan tartil dan penghayatan.

Allah berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Bacalah dengan tartil.

Lebih baik membaca dengan tenang dan memahami satu halaman daripada membaca banyak halaman tetapi tidak mengetahui apa yang dibaca.

Tentu, jika seseorang mampu membaca banyak sekaligus dengan tartil dan tadabbur, maka itu adalah keutamaan.


12. Berhenti pada tempat yang tepat

Pembaca Al-Qur’an hendaknya mempelajari waqaf dan ibtida', yaitu kapan berhenti dan kapan memulai kembali bacaan.

Sebab, berhenti pada tempat yang tidak tepat terkadang dapat membuat makna ayat menjadi rancu.

Karena itu, kemampuan membaca Al-Qur’an bukan hanya soal hafal huruf, tetapi juga memahami tanda-tanda waqaf dan struktur makna ayat.


13. Tidak membaca Al-Qur’an dalam keadaan yang tidak layak

Al-Qur’an harus dimuliakan.

Sebagai contoh, Rasulullah ﷺ melarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud dalam shalat.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه meriwayatkan:

نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَنَا رَاكِعٌ أَوْ سَاجِدٌ

“Rasulullah ﷺ melarangku membaca Al-Qur’an ketika aku sedang rukuk atau sujud.”

HR. Muslim no. 480b/d. (Sunnah)

Dalam rukuk, kita memperbanyak tasbih; dalam sujud, kita memperbanyak doa.


14. Jika mendengar Al-Qur’an dibacakan, hendaknya mendengarkan

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.”
QS. Al-A'raf [7]: 204

Karena itu, ketika berada dalam majelis Al-Qur’an, hendaknya kita tidak sibuk berbicara, bercanda atau membuat kegaduhan.

MUI juga menekankan pentingnya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan meninggalkan kegaduhan ketika Al-Qur’an dibacakan. (MUI)


15. Mengamalkan isi Al-Qur’an

Inilah puncak adab terhadap Al-Qur’an.

Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menjadi petunjuk dan diamalkan.

Allah SWT berfirman:

هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
QS. Al-Baqarah [2]: 2

Maka jangan sampai:

Al-Qur'an di tangan, tetapi maksiat tetap dijalankan.
Ayat dibaca, tetapi akhlak tidak berubah.
Lisan fasih membaca Al-Qur'an, tetapi lisan pula yang menyakiti manusia.

Al-Qur’an yang benar-benar dibaca adalah Al-Qur’an yang membentuk perilaku.


C. KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR'AN

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

HR. Bukhari. (MUI)

Dalam hadis lain:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh.”

HR. Tirmidzi.

Perhatikan, Rasulullah ﷺ bahkan menyebut satu huruf. Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba yang mau dekat dengan Al-Qur’an.


D. ADAB YANG PERLU DILURUSKAN

Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai hukum mutlak, padahal perlu dibedakan:

1. Harus selalu memakai pakaian tertentu?

Tidak ada dalil khusus bahwa membaca Al-Qur’an harus menggunakan pakaian tertentu. Tetapi berpakaian sopan dan menutup aurat adalah adab yang sangat baik.

2. Harus selalu membaca dalam posisi duduk?

Tidak mutlak. Membaca dalam posisi lain tidak otomatis haram. Tetapi duduk tenang dan sopan lebih utama sebagai bentuk penghormatan.

3. Harus selalu berwudu?

Untuk membaca dari hafalan, terdapat perbedaan pembahasan fikih. Adapun berwudu ketika membaca dan terutama ketika menyentuh mushaf adalah bentuk kehati-hatian dan penghormatan yang sangat dianjurkan.

4. Apakah orang yang belum lancar boleh membaca?

Sangat boleh dan justru harus terus belajar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan ia merasa kesulitan, maka baginya dua pahala.”

HR. Bukhari dan Muslim.

Jadi jangan berkata:

“Saya tidak mau membaca karena belum lancar.”

Justru:

“Saya membaca agar menjadi lancar.”


E. URUTAN PRAKTIS MEMBACA AL-QUR'AN

Agar mudah dipraktikkan, berikut 10 langkah sederhana:

1. Bersihkan hati dan luruskan niat.

2. Berwudu jika memungkinkan.

3. Pilih tempat yang bersih dan tenang.

4. Duduk dengan sopan.

5. Buka mushaf dengan penuh penghormatan.

6. Membaca isti'adzah.

7. Membaca basmalah ketika memulai surah, kecuali At-Taubah. (MUI)

8. Membaca dengan tartil dan tajwid.

9. Berusaha memahami dan mentadabburi maknanya.

10. Mengamalkan pesan Al-Qur’an dalam kehidupan.


F. PENUTUP

Membaca Al-Qur’an bukan sekadar menggerakkan bibir.

Ada adab sebelum membaca.
Ada adab ketika membaca.
Ada adab ketika mendengarkan.
Dan yang paling penting, ada adab setelah membaca: mengamalkannya.

Karena ukuran keberhasilan membaca Al-Qur’an bukan hanya:

“Berapa juz yang sudah saya baca?”

Tetapi juga:

“Berapa banyak ayat yang telah mengubah akhlak saya?”

Al-Qur’an seharusnya membuat kita semakin jujur, semakin sabar, semakin santun, semakin bertakwa, semakin mencintai Allah dan semakin baik kepada sesama.

“Jadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan di lisan, tetapi cahaya dalam hati dan pedoman dalam kehidupan.”


Rujukan Utama

  1. Al-Qur’an al-Karim, khususnya QS. Al-Baqarah: 2; Al-Anfal: 2; An-Nahl: 98; Al-A'raf: 204; Al-Waqi'ah: 79; Shad: 29; Al-Muzzammil: 4.

  2. Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha'il al-Qur'an.

  3. Shahih Muslim, Kitab Shalat, antara lain hadis no. 480 tentang larangan membaca Al-Qur'an ketika rukuk dan sujud. (Sunnah)

  4. Sunan Abi Dawud, hadis no. 1464 tentang membaca Al-Qur'an dengan tartil. (Hadits.id)

  5. Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an — salah satu rujukan penting tentang adab berinteraksi dengan Al-Qur'an. MUI juga merujuk karya ini dalam pembahasan adab membaca Al-Qur'an. (MUI)

  6. Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi 'Ulumil Qur'an.

  7. Ibnul Jazari, Al-Muqaddimah al-Jazariyyah dalam ilmu tajwid.

  8. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, terutama penjelasan tentang tartil pada QS. Al-Muzzammil: 4.

  9. MUI, pembahasan tentang adab membaca dan mendengarkan Al-Qur'an. (MUI)

Tidak ada komentar: