KETIKA BADAI ITU DATANG?
Madrasah Keluarga Sakinah Mengajarkan Kita Bahwa Rumah Tangga Bukan Tempat Tanpa Masalah
Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam
KUA Padang Panjang Timur
Ada keluarga yang terlihat begitu bahagia dari luar. Foto bersama selalu tersenyum. Suami dan istri tampak mesra. Anak-anak tumbuh dengan baik. Rumahnya rapi, kehidupannya berkecukupan. Tetapi kita tidak pernah tahu, badai apa yang sedang mereka tahan di dalam rumah.
Sebab, rumah tangga bukanlah laut yang selalu tenang.
Ada kalanya matahari bersinar terang. Ada kalanya angin sepoi-sepoi membuat perjalanan terasa menyenangkan. Tetapi suatu waktu, awan gelap datang. Angin bertiup kencang. Gelombang meninggi. Kapal kehidupan keluarga pun berguncang.
Ketika badai itu datang, apa yang harus dilakukan?
Di sinilah pentingnya Madrasah Keluarga Sakinah.
Madrasah keluarga bukan berarti keluarga yang tidak pernah bertengkar. Bukan pula keluarga yang setiap hari penuh dengan kata-kata romantis. Keluarga sakinah adalah keluarga yang memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan dengan iman, ilmu, kesabaran, komunikasi, dan kasih sayang.
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah tidak mengatakan bahwa pernikahan akan membuat hidup tanpa masalah. Allah berbicara tentang sakinah, mawaddah, dan rahmah—ketenteraman, cinta, dan kasih sayang.
Artinya, tujuan pernikahan bukan sekadar tinggal serumah, makan bersama, mempunyai anak, atau memenuhi kebutuhan biologis. Pernikahan adalah perjalanan panjang untuk saling menenteramkan dan saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah.
Rumah Tangga Adalah Sekolah Kehidupan
Kita sering menyebut keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak. Ungkapan ini benar. Tetapi sesungguhnya keluarga bukan hanya sekolah bagi anak.
Suami juga belajar di dalam keluarga. Istri juga belajar. Orang tua juga belajar.
Belajar menjadi pasangan yang sabar. Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mengendalikan emosi. Belajar mendengarkan. Belajar memahami perbedaan karakter. Belajar menghadapi persoalan ekonomi. Belajar mendidik anak. Bahkan belajar bahwa terkadang kita harus mengalah meskipun merasa benar.
Pernikahan mempertemukan dua manusia yang berbeda.
Berbeda kebiasaan, berbeda cara berpikir, berbeda latar belakang keluarga, bahkan berbeda cara mengekspresikan kasih sayang.
Ada suami yang merasa dirinya sudah mencintai karena bekerja keras mencari nafkah. Tetapi istrinya mungkin membutuhkan perhatian dan komunikasi.
Ada istri yang merasa sudah menunjukkan cinta dengan mengurus rumah dan anak-anak. Tetapi suaminya mungkin membutuhkan penghargaan dan kelembutan.
Keduanya bisa sama-sama mencintai, tetapi gagal membaca bahasa cinta masing-masing.
Di sinilah pendidikan keluarga diperlukan.
Keluarga tidak cukup dibangun dengan cinta. Cinta perlu ilmu.
Sebab cinta tanpa ilmu bisa melahirkan kecemburuan. Cinta tanpa komunikasi bisa melahirkan kesalahpahaman. Cinta tanpa kesabaran bisa berubah menjadi pertengkaran. Bahkan cinta tanpa iman bisa berubah menjadi keinginan untuk memiliki dan menguasai pasangan.
Ketika Badai Ekonomi Datang
Salah satu badai terbesar dalam rumah tangga adalah persoalan ekonomi.
Ketika pendapatan berkurang, kebutuhan bertambah, pekerjaan tidak menentu, cicilan datang setiap bulan, sementara anak-anak membutuhkan biaya pendidikan, rumah tangga bisa mulai kehilangan ketenangan.
Masalahnya terkadang bukan semata-mata kekurangan uang.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kesulitan ekonomi mengubah cara suami dan istri memperlakukan satu sama lain.
Suami mulai mudah marah.
Istri mulai banyak menuntut.
Anak-anak menjadi korban suasana rumah.
Pada saat seperti itu, keluarga sakinah mengajarkan satu prinsip sederhana:
Hadapi masalahnya, jangan saling memusuhi.
Kemiskinan adalah masalah. Pasangan bukan masalah.
Penghasilan yang kecil adalah masalah. Suami bukan musuh.
Pengeluaran yang besar adalah masalah. Istri bukan lawan.
Kalau keluarga mampu memisahkan antara masalah dan orang yang sedang menghadapi masalah bersama, banyak konflik sebenarnya dapat dicegah.
Ketika Komunikasi Mulai Mati
Banyak rumah tangga tidak hancur karena satu pertengkaran besar. Mereka justru perlahan-lahan kehilangan hubungan karena komunikasi yang semakin sedikit.
Awalnya hanya malas berbicara.
Kemudian lebih banyak diam.
Lalu setiap berbicara selalu berujung pertengkaran.
Akhirnya masing-masing memilih mencari tempat lain untuk mencurahkan perasaan.
Di zaman digital, persoalan ini semakin rumit. Suami duduk di ruang yang sama dengan istri, tetapi sibuk dengan telepon genggam. Istri berada di samping suami, tetapi pikirannya berada di dunia media sosial.
Rumah menjadi dekat secara fisik, tetapi jauh secara emosional.
Karena itu, keluarga sakinah membutuhkan waktu tanpa gawai.
Ada waktu untuk berbicara.
Ada waktu untuk mendengar.
Ada waktu untuk bertanya:
“Bagaimana perasaanmu hari ini?”
“Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih?”
“Apa yang bisa saya bantu?”
Pertanyaan sederhana semacam itu terkadang lebih menyembuhkan daripada nasihat panjang.
Sebab dalam rumah tangga, seseorang tidak selalu membutuhkan solusi. Kadang ia hanya ingin didengar.
Ketika Ego Menjadi Badai
Badai paling berbahaya dalam rumah tangga terkadang bukan kemiskinan, bukan mertua, bukan pekerjaan, bahkan bukan persoalan anak.
Badai itu bernama ego.
“Pokoknya saya benar.”
“Dia yang harus minta maaf.”
“Saya tidak mau mengalah.”
“Kalau dia tidak berubah, saya juga tidak akan berubah.”
Kalimat-kalimat seperti ini terlihat sederhana, tetapi apabila terus dipelihara, dapat menjadi tembok yang tinggi di antara suami dan istri.
Islam mengajarkan kemuliaan akhlak, termasuk kemampuan menahan marah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Maka kekuatan seorang suami bukan hanya ketika ia mampu mencari nafkah.
Kekuatan seorang istri bukan hanya ketika ia mampu mengurus rumah.
Kekuatan keduanya adalah ketika mereka mampu mengendalikan diri saat emosi sedang tinggi.
Ada kalanya kemenangan terbesar dalam rumah tangga bukan memenangkan argumentasi.
Kemenangan terbesar adalah menyelamatkan hubungan.
Anak-Anak Adalah Penumpang Kapal
Ketika kapal rumah tangga diterpa badai, anak-anak sebenarnya ikut merasakan guncangannya.
Mereka mungkin tidak memahami masalah orang tuanya. Tetapi mereka dapat merasakan suara yang meninggi, pintu yang dibanting, wajah yang murung, dan suasana rumah yang dingin.
Karena itu, jangan menjadikan anak sebagai hakim dalam konflik suami istri.
Jangan mengatakan:
“Ayahmu memang begitu.”
atau:
“Ibumu tidak pernah mengerti.”
Anak tidak seharusnya dipaksa memilih antara ayah dan ibunya.
Anak membutuhkan kedua orang tuanya untuk menjadi tempat aman.
Kalaupun terjadi konflik, orang tua perlu belajar menyelesaikannya dengan cara yang tidak merusak jiwa anak.
Sebab bisa jadi pertengkaran yang dianggap biasa oleh orang tua justru menjadi luka yang dibawa anak sampai dewasa.
Madrasah Keluarga Mengajarkan Seni Berdamai
Dalam keluarga sakinah, konflik bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Konflik adalah sesuatu yang harus dikelola.
Suami dan istri boleh berbeda pendapat. Tetapi berbeda pendapat tidak berarti berbeda tujuan.
Keduanya harus kembali kepada pertanyaan:
“Apa yang paling baik bagi keluarga kita?”
Bukan:
“Siapa yang menang?”
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat menjadi kurikulum Madrasah Keluarga Sakinah.
Pertama, biasakan meminta maaf.
Tidak perlu menunggu pasangan mengaku salah lebih dahulu.
Kedua, belajar mengucapkan terima kasih.
Jangan menganggap kebaikan pasangan sebagai sesuatu yang otomatis.
Ketiga, jangan membuka aib pasangan kepada sembarang orang.
Tidak semua masalah rumah tangga harus menjadi konsumsi keluarga besar, tetangga, apalagi media sosial.
Keempat, bangun ibadah bersama.
Shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdoa, bersedekah, dan saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan energi spiritual keluarga.
Kelima, miliki waktu khusus untuk berbicara.
Tidak harus mahal. Minum kopi bersama di teras rumah pun bisa menjadi ruang komunikasi yang sangat berharga.
Keenam, jangan mengambil keputusan besar ketika sedang marah.
Marah membuat seseorang melihat masalah secara sempit. Karena itu, ketika emosi meninggi, berhenti sejenak. Tenangkan diri. Berwudhu. Shalat. Tidur bila perlu. Kemudian bicarakan kembali setelah hati lebih tenang.
Sakinah Bukan Berarti Tidak Ada Air Mata
Kita perlu meluruskan satu kesalahpahaman.
Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak pernah menangis.
Keluarga sakinah juga bukan keluarga yang tidak pernah mengalami masalah.
Bahkan keluarga yang paling baik pun dapat mengalami ujian.
Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau menghadapi berbagai ujian kehidupan. Para sahabat juga mengalami persoalan keluarga, ekonomi, sosial, dan perjuangan.
Maka jangan merasa rumah tangga kita gagal hanya karena sedang menghadapi badai.
Badai bukan tanda kapal gagal.
Badai adalah bagian dari perjalanan.
Yang menentukan keselamatan kapal bukan apakah ia pernah diterpa badai, tetapi apakah nakhoda tahu bagaimana menghadapinya.
Begitu pula keluarga.
Yang menentukan kualitas keluarga bukan ketiadaan masalah, tetapi kemampuan keluarga menghadapi masalah dengan iman dan akhlak.
Jika Badai Terlalu Besar, Jangan Berlayar Sendirian
Ada persoalan yang dapat diselesaikan berdua.
Tetapi ada pula masalah yang membutuhkan bantuan pihak ketiga.
Ketika komunikasi sudah buntu, konflik terus berulang, terjadi kekerasan, persoalan nafkah tidak terselesaikan, atau hubungan suami istri semakin jauh, jangan malu mencari bantuan.
Konselor keluarga, BP4, penyuluh agama, tokoh agama, atau pihak profesional dapat menjadi tempat mencari jalan keluar.
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.
Justru itu tanda bahwa kita masih ingin menyelamatkan keluarga.
Namun, dalam menghadapi konflik keluarga, bantuan harus diberikan dengan kehati-hatian. Jangan sampai orang yang seharusnya mendamaikan justru memperbesar konflik.
Tujuan utama bukan memenangkan salah satu pihak.
Tujuannya adalah mencari jalan terbaik, menjaga martabat, melindungi anak, dan menghadirkan kemaslahatan.
Jangan Tunggu Rumah Roboh untuk Memperbaikinya
Sering kali manusia baru menyadari pentingnya sesuatu setelah kehilangan.
Jangan menunggu pasangan pergi baru menyadari betapa berharganya dia.
Jangan menunggu anak menjauh baru menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk.
Jangan menunggu perceraian di depan mata baru belajar berkomunikasi.
Jangan menunggu rumah tangga retak baru belajar menjadi pasangan yang baik.
Rawatlah rumah tangga ketika masih sehat.
Sediakan waktu sebelum masalah datang.
Bicarakan keuangan sebelum terjadi konflik.
Bicarakan pendidikan anak sebelum terjadi perbedaan.
Bicarakan hubungan suami istri dengan terbuka dan penuh penghormatan.
Bicarakan masa depan.
Bicarakan harapan.
Bicarakan ketakutan.
Bicarakan pula kematian dan akhirat.
Sebab pada akhirnya, keluarga Muslim bukan hanya ingin tinggal bersama di dunia.
Kita berharap dapat berkumpul kembali di surga Allah.
Menjadi Keluarga yang Tumbuh Bersama
Madrasah Keluarga Sakinah sejatinya adalah pendidikan sepanjang hayat.
Suami belajar menjadi suami.
Istri belajar menjadi istri.
Orang tua belajar menjadi orang tua.
Anak belajar menjadi anak yang berbakti.
Tidak ada yang langsung sempurna.
Kita semua sedang belajar.
Maka jangan menuntut pasangan menjadi manusia sempurna sementara kita sendiri masih penuh kekurangan.
Jangan hanya bertanya:
“Mengapa pasangan saya tidak berubah?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang bisa saya ubah dari diri saya?”
Pertanyaan kedua sering kali menjadi awal perubahan besar.
Karena keluarga tidak dibangun oleh manusia yang sempurna.
Keluarga dibangun oleh manusia biasa yang mau terus memperbaiki diri.
Ketika Badai Itu Datang...
Suatu hari nanti, mungkin badai akan datang.
Bisa berupa persoalan ekonomi.
Bisa berupa sakit.
Bisa berupa konflik dengan keluarga besar.
Bisa berupa kenakalan anak.
Bisa berupa perbedaan prinsip.
Bisa berupa ujian pekerjaan.
Bisa berupa masalah komunikasi.
Bisa berupa ujian kesetiaan.
Ketika itu terjadi, jangan buru-buru mengatakan:
“Rumah tangga kita sudah selesai.”
Boleh jadi Allah sedang mengajarkan sesuatu.
Berhenti sejenak.
Pegang tangan pasangan.
Ingat kembali akad yang pernah diucapkan.
Ingat wajah anak-anak.
Ingat doa orang tua.
Dan yang paling penting, ingat Allah yang menyatukan kalian.
Kemudian katakan:
“Badai ini kita hadapi bersama.”
Sebab keluarga sakinah bukan keluarga yang hidup tanpa badai.
Keluarga sakinah adalah keluarga yang ketika badai datang, mereka tidak saling meninggalkan kapal. Mereka saling menguatkan, memperbaiki layar, menenangkan anak-anak, dan bersama-sama mencari arah menuju pantai keselamatan.
Dan selama Allah masih menjadi tujuan, masih ada doa.
Selama masih ada doa, masih ada harapan.
Selama masih ada kemauan untuk memperbaiki diri, masih ada jalan pulang.
Karena rumah tangga yang sakinah bukan rumah yang tidak pernah retak, tetapi rumah yang penghuninya selalu mau memperbaiki retakan dengan iman, cinta, ilmu, kesabaran, dan kasih sayang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar