Kamis, 20 Agustus 2026

PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

 


PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

Ceramah Agama dalam Semangat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Karena atas rahmat-Nya, kita masih diberi kesempatan menikmati sebuah nikmat yang sering kita rasakan, tetapi kadang lupa kita syukuri: nikmat kemerdekaan.

Hari ini kita bisa berdiri di masjid dengan tenang.
Kita bisa mengumandangkan azan tanpa rasa takut.
Anak-anak kita bisa belajar.
Para ulama bisa berdakwah.
Para guru bisa mengajar.
Para pedagang bisa mencari rezeki.
Dan kita bisa berkumpul dalam majelis seperti ini tanpa harus meminta izin kepada penjajah.

Itulah kemerdekaan.

Tetapi pertanyaannya:

Siapa yang merebut kemerdekaan itu?

Apakah hanya tentara?

Tidak!

Apakah hanya para politisi?

Tidak!

Apakah hanya para pejuang yang memegang senjata?

Juga tidak!

Di balik perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada ulama dan santri yang menggerakkan kesadaran umat, membangkitkan keberanian, mengajarkan bahwa membela tanah air dan mempertahankan kehormatan bangsa adalah bagian dari tanggung jawab manusia kepada Allah.

1. ULAMA BUKAN HANYA BERDIRI DI MIMBAR

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita kadang membayangkan ulama hanya sebagai orang yang duduk di masjid, memegang kitab, memakai peci, kemudian berbicara di atas mimbar.

Padahal sejarah menunjukkan:

Ketika bangsa ini diinjak-injak, ulama turun dari mimbar menuju medan perjuangan.

Ketika umat kehilangan keberanian, ulama meniupkan semangat.

Ketika masyarakat kehilangan arah, ulama memberikan pedoman.

Ketika penjajah berusaha memecah belah umat, ulama mengajarkan persatuan.

Jadi ulama bukan sekadar penjaga mimbar, tetapi juga penjaga moral bangsa.

Ada kisah yang sangat terkenal dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Ketika tentara Sekutu dan Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi, suasana di Jawa Timur sangat genting.

Kemudian lahirlah sebuah keputusan besar dari para ulama melalui Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945, yang dikaitkan erat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Tokoh besar di balik semangat itu adalah KH Hasyim Asy’ari.

Pesannya sederhana tetapi mengguncangkan:

Kemerdekaan yang sudah diproklamasikan jangan dibiarkan dirampas kembali.

Para santri bergerak.

Para pemuda bergerak.

Masyarakat bergerak.

Dan akhirnya meletuslah perlawanan besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Karena itu, tidak berlebihan jika kita mengatakan:

Kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis dengan tinta di atas kertas, tetapi juga ditulis dengan air mata, darah, doa, dan pengorbanan para ulama, santri, dan seluruh rakyat.

2. KISAH ULAMA DAN SANTRI: ILMU YANG MELAHIRKAN KEBERANIAN

Hadirin rahimakumullah,

Ada pelajaran menarik dari sejarah pesantren.

Para santri belajar kitab.

Mereka belajar fikih.

Mereka belajar tafsir.

Mereka belajar hadis.

Tetapi ketika tanah air dipanggil untuk dibela, ilmu itu tidak berhenti menjadi hafalan.

Ilmu berubah menjadi amal.

Inilah yang penting bagi kita hari ini.

Jangan sampai kita menjadi orang yang banyak tahu tetapi sedikit berbuat.

Jangan sampai kita hafal ayat tentang persaudaraan, tetapi senang memusuhi saudara.

Hafal hadis tentang persatuan, tetapi gemar menyebarkan berita yang memecah belah.

Bicara cinta tanah air, tetapi membuang sampah sembarangan.

Mengaku cinta Indonesia, tetapi ketika berbeda pilihan politik, tetangga sendiri dianggap musuh.

Ini lucu kalau direnungkan.

Dulu para pejuang berbeda-beda suku, organisasi, bahkan pandangan, tetapi mereka bersatu menghadapi penjajah.

Sekarang penjajah sudah tidak ada di depan mata, tetapi kita justru bisa bertengkar hanya karena beda pilihan!

Kadang-kadang kita tidak perlu penjajah untuk memecah bangsa.

Cukup satu grup WhatsApp!

Satu pesan yang belum jelas sumbernya, langsung diteruskan.

Belum selesai dibaca, sudah dibagikan.

Ditanya sumbernya, jawabannya:

"Katanya..."

Padahal "katanya" itu kadang lebih cepat menyebar daripada ilmu.

Hadirin tertawa kecil, tetapi mudah-mudahan kita juga bercermin.

3. ULAMA MEREBUT KEMERDEKAAN DENGAN TIGA SENJATA

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kalau kita renungkan, ulama dahulu berjuang dengan setidaknya tiga kekuatan besar:

Pertama: ILMU

Ulama memberikan kesadaran bahwa manusia tidak boleh hidup dalam kehinaan.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam."
(QS. Al-Isra’: 70)

Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kehormatan.

Karena itu, penjajahan yang merendahkan manusia harus dilawan.

Ulama membangun kesadaran bahwa umat Islam harus menjadi manusia yang merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.

Kedua: DOA

Para ulama tidak hanya mengangkat tangan untuk berdoa.

Mereka juga mengajarkan bahwa doa harus diikuti perjuangan.

Doa tanpa usaha adalah kelemahan.

Usaha tanpa doa adalah kesombongan.

Maka para pejuang berdoa sekaligus berjuang.

Mereka menangis di hadapan Allah, kemudian berdiri menghadapi musuh.

Ketiga: PERSATUAN

Ulama menyatukan umat.

Karena mereka memahami:

Musuh terbesar sebuah bangsa bukan hanya serangan dari luar, tetapi perpecahan dari dalam.

Allah berfirman:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

"Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang."
(QS. Al-Anfal: 46)

Perhatikan!

Allah tidak hanya mengatakan jangan berperang.

Allah mengingatkan:

Jangan bertengkar, karena pertengkaran menghilangkan kekuatan.

4. SETELAH MERDEKA, TUGAS ULAMA BELUM SELESAI

Hadirin rahimakumullah,

Ada satu hal penting.

Jangan kita kira setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, tugas ulama selesai.

Belum!

Justru perjuangan berikutnya jauh lebih berat.

Dulu musuh terlihat.

Sekarang musuh kadang tidak terlihat.

Dulu senjata berupa meriam.

Sekarang bisa berupa narkoba, korupsi, judi online, pornografi, hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, kemalasan, kebodohan, dan kerusakan moral.

Dulu penjajah ingin menguasai tanah air.

Sekarang ada ancaman yang ingin menguasai pikiran dan hati generasi muda.

Maka ulama hari ini harus kembali mengambil peran.

Bukan dengan mengangkat senjata.

Tetapi dengan mengangkat ilmu, akhlak, dakwah, keteladanan, dan kepedulian sosial.

5. KEMERDEKAAN HARUS DIPERTAHANKAN DARI PENJAJAHAN HAWA NAFSU

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada penjajahan yang lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

Yaitu ketika manusia menjadi budak hawa nafsunya sendiri.

Orang mungkin sudah merdeka dari penjajahan asing, tetapi belum tentu merdeka dari:

keserakahan, iri hati, kesombongan, kemarahan, syahwat, dan cinta dunia.

Apa artinya kita merdeka sebagai bangsa kalau manusia di dalamnya menjadi budak korupsi?

Apa artinya kita merdeka kalau anak-anak muda menjadi budak narkoba?

Apa artinya kita merdeka kalau masyarakat menjadi budak judi?

Apa artinya kita merdeka kalau keluarga menjadi korban kekerasan?

Apa artinya kita merdeka kalau masjid ramai, tetapi akhlak kosong?

Karena itu, kemerdekaan yang sejati dimulai dari kemerdekaan hati.

Seorang mukmin hanya tunduk kepada Allah.

Ia tidak menjadi budak jabatan.

Tidak menjadi budak uang.

Tidak menjadi budak pujian.

Tidak menjadi budak popularitas.

Tidak menjadi budak kekuasaan.

Inilah tugas ulama: membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah.

6. ULAMA HARUS MENJADI PENDINGIN DI TENGAH PANASNYA MASYARAKAT

Hadirin rahimakumullah,

Zaman sekarang masyarakat mudah panas.

Sedikit berbeda pendapat, langsung emosi.

Sedikit berbeda pilihan, langsung unfollow.

Berbeda organisasi, dianggap berbeda agama.

Berbeda mazhab, persaudaraan putus.

Padahal ulama seharusnya hadir sebagai penyejuk.

Bukan memperbesar api.

Bukan memperlebar jurang.

Bukan mengumpulkan kebencian.

Tetapi menghadirkan hikmah.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik."
(QS. An-Nahl: 125)

Maka semakin besar ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut lisannya.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hati sikapnya.

Semakin banyak pengikutnya, semakin besar tanggung jawabnya.

Jangan sampai seseorang merasa dirinya paling benar sampai lupa bahwa kebenaran tidak membutuhkan kesombongan.

7. ULAMA HARI INI HARUS TURUN MENYENTUH PERSOALAN UMAT

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ulama hari ini tidak cukup hanya berbicara tentang halal dan haram.

Ulama juga harus berbicara tentang:

  • keluarga yang hampir bercerai;

  • anak-anak yang terjerat narkoba;

  • remaja yang kecanduan gawai;

  • masyarakat miskin yang membutuhkan pemberdayaan;

  • ekonomi umat;

  • zakat dan wakaf;

  • stunting;

  • kerukunan umat beragama;

  • lingkungan;

  • literasi digital;

  • kesehatan moral generasi muda;

  • serta perdamaian di tengah masyarakat.

Karena agama hadir untuk memberi rahmat.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Kami tidak mengutus engkau, Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya’: 107)

Maka dakwah harus terasa sebagai rahmat.

Orang yang datang dengan masalah jangan pulang membawa luka baru.

Orang yang datang dengan dosa jangan kita hina.

Orang yang tersesat jangan kita dorong semakin jauh.

Tugas kita adalah membuka pintu kembali kepada Allah.

8. DARI ULAMA, KITA BELAJAR: CINTA TANAH AIR BUKAN SEKADAR UPACARA

Hadirin yang berbahagia,

Setiap bulan Agustus kita memasang bendera.

Kita ikut upacara.

Kita menyanyikan lagu kebangsaan.

Kita memakai pakaian merah putih.

Itu semua baik.

Tetapi jangan berhenti di simbol.

Cinta tanah air harus menjadi amal.

Guru mencintai Indonesia dengan mendidik anak bangsa.

Petani mencintai Indonesia dengan menghasilkan pangan.

Pedagang mencintai Indonesia dengan berdagang secara jujur.

Aparatur mencintai Indonesia dengan memberikan pelayanan terbaik.

Ulama mencintai Indonesia dengan menjaga umat tetap beriman dan rukun.

Pemuda mencintai Indonesia dengan menjauhi narkoba dan menjaga masa depan.

Orang tua mencintai Indonesia dengan mendidik anak-anaknya menjadi generasi saleh.

Dan masyarakat mencintai Indonesia dengan menjaga kerukunan.

Itulah kemerdekaan yang hidup.

9. PENUTUP: DARI DARAH PARA PEJUANG MENUJU AMAL KITA

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita bayangkan sejenak.

Delapan puluh satu tahun lebih yang lalu, para pejuang tidak tahu apakah mereka akan kembali pulang.

Mereka meninggalkan rumah.

Meninggalkan keluarga.

Ada yang tidak kembali.

Tetapi mereka tetap maju.

Mengapa?

Karena mereka percaya bahwa generasi setelah mereka harus hidup lebih baik.

Kita adalah generasi yang mereka perjuangkan.

Pertanyaannya:

Sudahkah kita menjadi generasi yang layak menerima kemerdekaan itu?

Kalau para ulama dahulu berjuang merebut kemerdekaan, maka tugas kita adalah mempertahankan kemerdekaan dengan iman, ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian.

Jangan biarkan kemerdekaan kehilangan ruhnya.

Jangan biarkan masjid kehilangan jamaahnya.

Jangan biarkan keluarga kehilangan kasih sayangnya.

Jangan biarkan anak muda kehilangan masa depannya.

Jangan biarkan perbedaan menghancurkan persaudaraan.

Dan jangan biarkan bangsa ini kehilangan akhlaknya.

Mari kita lanjutkan perjuangan para ulama.

Dahulu mereka berjihad melawan penjajahan.
Hari ini kita berjihad melawan kebodohan.
Dahulu mereka mengusir penjajah dari tanah air.
Hari ini kita harus mengusir kemaksiatan dari diri dan keluarga.
Dahulu mereka merebut kemerdekaan.
Hari ini kita mempertahankan kemerdekaan dengan ketakwaan dan persatuan.

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan para ulama kita sebagai cahaya bagi umat, menjadikan para pemimpin kita sebagai pemimpin yang amanah, menjaga Indonesia sebagai negeri yang damai, dan menjadikan kita semua manusia yang merdeka karena hanya tunduk kepada Allah SWT.

Mari kita tutup dengan doa.

اللهم اغفر لنا ذنوبنا، ولآبائنا وأمهاتنا، ولعلمائنا ومشايخنا، وللمجاهدين والشهداء من أبناء bangsa Indonesia.

اللهم احفظ بلادنا إندونيسيا، واحفظ أمنها ووحدتها وسلامتها.

اللهم اجعل إندونيسيا بلداً آمناً مطمئناً، وارزق أهلها الإيمان والتقوى.

اللهم ألف بين قلوبنا، وأصلح ذات بيننا، واهدنا سبل السلام.

اللهم انصر أهل الحق، وأصلح شبابنا، واحفظ أبناءنا وبناتنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pesan penutup

“Kemerdekaan direbut oleh keberanian para pejuang, dibimbing oleh doa dan ilmu para ulama, dan dipertahankan oleh akhlak serta persatuan generasi setelahnya.”

Merdeka bukan berarti bebas berbuat apa saja.
Merdeka berarti bebas dari penjajahan manusia dan hawa nafsu, untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dengan iman, bersatu dalam kerukunan, bergerak dalam pengabdian.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Tidak ada komentar: