KHUTBAH JUMAT
21 AGUSTUS 2026
PERAN ULAMA DALAM MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN
Tema: Dari Perjuangan Merebut Kemerdekaan Menuju Perjuangan Membangun Peradaban
“Para ulama dahulu berjuang agar kita memperoleh kemerdekaan. Tugas ulama dan umat hari ini adalah memastikan kemerdekaan itu melahirkan peradaban.”
Wahyu Salim, Penyuluh Agama Isam KUA Padang Panjang Timur
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa.
Takwa bukan hanya banyaknya ibadah ritual, tetapi juga bagaimana iman itu melahirkan kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kepedulian dan amal nyata dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali 'Imran: 102)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Beberapa hari yang lalu bangsa Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Bendera Merah Putih dikibarkan.
Lagu kebangsaan dinyanyikan.
Upacara dilaksanakan.
Pawai digelar.
Berbagai perlombaan diadakan.
Semua itu baik sebagai ekspresi kegembiraan.
Tetapi sebagai orang beriman, kita harus bertanya lebih dalam:
Apa makna kemerdekaan bagi seorang Muslim?
Apakah kemerdekaan hanya berarti bebas dari penjajahan?
Apakah kemerdekaan hanya berarti kita mempunyai bendera, pemerintahan dan wilayah sendiri?
Tentu tidak.
Kemerdekaan adalah nikmat sekaligus amanah.
Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada kita untuk membangun kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih berilmu, lebih bermartabat dan lebih dekat kepada Allah SWT.
JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH
ULAMA DAN KESADARAN KEMERDEKAAN
Ketika kita membaca sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kita menemukan bahwa kemerdekaan tidak lahir dalam satu malam.
Ada perjuangan panjang.
Ada pengorbanan.
Ada pendidikan.
Ada organisasi.
Ada pers.
Ada pergerakan pemuda.
Ada kaum perempuan.
Ada tokoh adat.
Ada kaum intelektual.
Ada rakyat biasa.
Dan ada pula para ulama dan santri.
Ulama mempunyai peran yang sangat penting bukan hanya karena mereka ikut dalam perjuangan fisik, tetapi karena mereka terlebih dahulu membangun kesadaran manusia tentang kemuliaan, kebebasan dan tanggung jawab.
Ulama mengajarkan:
manusia hanya boleh tunduk mutlak kepada Allah.
Kalimat lā ilāha illallāh bukan sekadar kalimat yang kita ucapkan.
Ia adalah deklarasi tauhid.
Bahwa tidak ada manusia yang boleh menjadi Tuhan bagi manusia lainnya.
Tidak boleh ada kekuasaan yang membuat manusia kehilangan martabatnya.
Tidak boleh ada penjajahan yang merampas hak manusia.
Tidak boleh ada kezaliman yang dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Karena itu, tauhid mempunyai konsekuensi sosial.
Orang yang benar-benar bertauhid tidak mudah diperbudak oleh manusia.
Ia tidak menjual prinsip karena jabatan.
Tidak menjual kejujuran karena uang.
Tidak menjual kebenaran karena popularitas.
Dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sesembahan baru.
ULAMA BUKAN SEKADAR BERBICARA, TETAPI MEMBANGUN MANUSIA
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Inilah yang perlu kita renungkan dari sejarah para ulama.
Mereka tidak hanya mengajarkan:
“Bagaimana manusia masuk surga?”
Tetapi juga mengajarkan:
“Bagaimana manusia hidup bermartabat sebelum masuk surga?”
Pesantren bukan hanya tempat belajar membaca kitab.
Pesantren juga membangun karakter.
Masjid bukan hanya tempat shalat.
Masjid juga menjadi pusat pendidikan dan pembinaan umat.
Mimbar bukan hanya tempat memberikan nasihat.
Mimbar adalah tempat membangunkan kesadaran.
Dan ulama bukan hanya orang yang mengetahui hukum agama.
Ulama harus menjadi pencerah masyarakat.
Dalam bahasa Muhammadiyah, agama harus melahirkan amal usaha yang nyata dan berkemajuan.
Ilmu harus menjadi amal.
Iman harus menjadi akhlak.
Islam harus menjadi rahmat.
Dan dakwah harus menghasilkan perubahan.
KISAH TUANKU IMAM BONJOL
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di Sumatera Barat kita mengenal seorang ulama besar:
Tuanku Imam Bonjol.
Beliau bukan sekadar pemimpin perang.
Beliau adalah seorang ulama yang memiliki pengaruh keagamaan dan sosial yang besar.
Perjuangan yang kemudian dikenal sebagai Perang Padri mempunyai sejarah yang kompleks. Ia bermula dari dinamika internal masyarakat Minangkabau dan pembaruan keagamaan, kemudian berkembang dalam konteks intervensi dan kolonialisme Belanda.
Karena itu sejarah harus kita baca dengan ilmu, bukan hanya dengan emosi.
Tetapi satu hal jelas:
Tuanku Imam Bonjol menjadi salah satu simbol perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
Dari kisah beliau kita belajar:
ilmu dapat melahirkan keberanian.
Tetapi keberanian harus dikendalikan oleh ilmu.
Sebab keberanian tanpa ilmu bisa menjadi kekacauan.
Dan ilmu tanpa keberanian bisa menjadi teori yang tidak pernah mengubah keadaan.
KH HASYIM ASY'ARI DAN RESOLUSI JIHAD
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita juga mengenal sejarah KH Hasyim Asy'ari.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum benar-benar aman.
Kemerdekaan telah diproklamasikan, tetapi kedaulatan belum sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia.
Dalam situasi tersebut, para ulama berkumpul di Surabaya.
Lahir apa yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.
Resolusi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membangkitkan mobilisasi rakyat dan santri untuk mempertahankan Republik yang baru berdiri.
Beberapa pekan kemudian terjadi pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945.
Jamaah sekalian,
Kita jangan membaca sejarah tersebut hanya dengan semangat romantisme.
Kita harus mengambil nilai perjuangannya.
Apa nilainya?
Bahwa para ulama tidak hidup jauh dari persoalan masyarakat.
Ketika bangsa menghadapi ancaman, ulama hadir.
Ketika masyarakat membutuhkan arah, ulama hadir.
Ketika umat kehilangan harapan, ulama membangkitkan optimisme.
Inilah salah satu makna ulama sebagai pewaris perjuangan para nabi.
JIHAD DENGAN KONTEKS ZAMANNYA
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita juga harus berhati-hati memahami istilah jihad.
Jihad bukan sinonim kekerasan.
Jihad berarti kesungguhan mencurahkan kemampuan di jalan Allah.
Dalam konteks perjuangan kemerdekaan 1945, bangsa Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kolonialisme.
Tetapi dalam kehidupan kita hari ini, medan perjuangan telah berubah.
Hari ini kita tidak diperintahkan untuk mencari musuh.
Justru kita harus menjadi pembawa kedamaian.
Jihad kita hari ini antara lain:
melawan kebodohan dengan ilmu,
melawan kemiskinan dengan pemberdayaan,
melawan korupsi dengan integritas,
melawan narkoba dengan pendidikan,
melawan hoaks dengan tabayyun,
melawan kebencian dengan persaudaraan,
melawan kerusakan lingkungan dengan kepedulian,
dan melawan kemalasan dengan kerja keras.
Itulah perjuangan kita.
DARI MEREBUT KEMERDEKAAN MENUJU MEMBANGUN PERADABAN
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada perbedaan besar antara merebut kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.
Merebut kemerdekaan membutuhkan keberanian.
Mempertahankan kemerdekaan membutuhkan pengorbanan.
Tetapi membangun bangsa merdeka membutuhkan:
ilmu,
akhlak,
keadilan,
institusi yang kuat,
ekonomi yang sehat,
dan manusia yang berkualitas.
Karena itu, jangan kita merasa sudah menjadi bangsa besar hanya karena sudah merdeka 81 tahun.
Usia 81 tahun seharusnya membuat kita semakin dewasa.
Kita harus bertanya:
Apakah pendidikan kita semakin maju?
Apakah masyarakat semakin sejahtera?
Apakah hukum semakin adil?
Apakah korupsi semakin berkurang?
Apakah anak-anak kita semakin berakhlak?
Apakah lingkungan semakin terjaga?
Apakah persatuan semakin kuat?
Inilah pertanyaan kemerdekaan yang sesungguhnya.
BALDATUN THAYYIBATUN
Allah memberikan gambaran tentang sebuah negeri yang baik dalam Al-Qur'an:
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.”
(QS. Saba': 15)
Konsep baldatun thayyibatun bukan sekadar negeri yang kaya.
Bukan sekadar jalan yang bagus.
Bukan sekadar gedung yang tinggi.
Bukan sekadar ekonomi yang tumbuh.
Tetapi negeri yang baik adalah negeri yang kehidupan masyarakatnya menghadirkan kebaikan, keadilan, kesejahteraan, keamanan dan keberkahan.
Karena itu kita ingin Indonesia bukan hanya:
negara yang maju,
tetapi juga
bangsa yang berakhlak.
Bukan hanya:
masyarakat yang kaya,
tetapi juga
masyarakat yang peduli.
Bukan hanya:
pembangunan yang cepat,
tetapi juga
pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
JANGAN TINGGALKAN GENERASI YANG LEMAH
Allah SWT berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”
(QS. An-Nisa': 9)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ayat ini sangat relevan untuk kehidupan bangsa.
Jangan kita wariskan kepada anak cucu:
hutang yang berat,
lingkungan yang rusak,
pendidikan yang tertinggal,
konflik sosial,
kebencian politik,
dan krisis moral.
Kita harus mewariskan:
ilmu,
iman,
akhlak,
kesehatan,
lingkungan yang baik,
ekonomi yang kuat,
dan persatuan bangsa.
TUGAS ULAMA SETELAH KEMERDEKAAN
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kalau dahulu ulama ikut mengobarkan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini peran ulama justru semakin besar.
Setidaknya ada lima tugas utama ulama dan mubalig.
Pertama: Menjaga Tauhid
Jangan sampai manusia merdeka dari penjajahan, tetapi menjadi budak harta.
Jangan sampai merdeka dari kolonialisme, tetapi menjadi budak jabatan.
Jangan sampai bebas secara politik, tetapi tidak bebas dari hawa nafsu.
Kemerdekaan yang paling hakiki adalah:
menjadi hamba Allah.
Kedua: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Ulama harus mencintai ilmu.
Masyarakat harus didorong membaca.
Anak-anak harus mendapatkan pendidikan terbaik.
Umat Islam tidak boleh alergi terhadap ilmu pengetahuan.
Karena wahyu pertama yang turun adalah:
اقْرَأْ
Bacalah!
Maka umat yang ingin maju harus menjadi umat yang membaca, berpikir, meneliti dan belajar.
Ketiga: Menjaga Persatuan
Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Perbedaan adalah kenyataan.
Perbedaan fikih ada.
Perbedaan organisasi ada.
Perbedaan pilihan politik ada.
Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan.
Masjid jangan menjadi tempat saling mencaci.
Mimbar jangan menjadi tempat menyebarkan kebencian.
Dakwah jangan menjadi alat mempermalukan orang lain.
Dakwah harus menjadi jalan memperbaiki manusia.
Keempat: Menegakkan Keadilan
Kemerdekaan tidak boleh hanya dirasakan oleh sebagian orang.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Maka ulama harus terus menyuarakan keadilan dengan hikmah.
Mendukung kebaikan pemerintah ketika pemerintah melakukan kebaikan.
Mengingatkan ketika ada kekeliruan.
Tidak menjadi corong kekuasaan.
Tetapi juga tidak menjadi penyebar kebencian kepada kekuasaan.
Ulama harus menjadi kekuatan moral masyarakat.
Kelima: Menggerakkan Amal Nyata
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Inilah semangat Islam berkemajuan.
Jangan hanya berbicara tentang kemiskinan.
Bantu orang miskin.
Jangan hanya berbicara tentang pendidikan.
Bangun pendidikan.
Jangan hanya berbicara tentang kebersihan.
Bersihkan masjid dan lingkungan.
Jangan hanya berbicara tentang kerukunan.
Datangi tetangga dan saudara kita.
Jangan hanya berbicara tentang ekonomi umat.
Bangun pemberdayaan ekonomi umat.
Agama yang hidup adalah agama yang melahirkan amal nyata.
Muhammadiyah sendiri dalam momentum HUT ke-81 RI menekankan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan amal nyata, kebermanfaatan, persatuan dan pembangunan kesejahteraan rakyat. (Muhammadiyah)
JAMA'AH JUMAT YANG DIMULIAKAN ALLAH
Kita sering bertanya:
“Apa yang sudah diberikan negara kepada saya?”
Hari ini mari kita balik pertanyaannya:
“Apa yang sudah saya berikan kepada negara?”
Jangan hanya bertanya:
“Indonesia sudah maju atau belum?”
Tanyakan:
“Apakah saya sudah ikut memajukan Indonesia?”
Jangan hanya mengeluh:
“Anak muda sekarang bagaimana?”
Tanyakan:
“Sudahkah saya menjadi teladan bagi anak muda?”
Jangan hanya mengatakan:
“Umat harus bersatu.”
Tanyakan:
“Apakah saya sudah berhenti memusuhi saudara saya hanya karena berbeda?”
Inilah refleksi kemerdekaan.
PENUTUP KHUTBAH PERTAMA
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Para ulama dan pejuang telah memberikan sesuatu yang sangat mahal:
kemerdekaan.
Ada yang memberikan ilmunya.
Ada yang memberikan hartanya.
Ada yang memberikan waktunya.
Ada yang meninggalkan keluarga.
Dan ada yang memberikan nyawanya.
Kita tidak mungkin membalas pengorbanan mereka.
Tetapi kita dapat menghormati mereka dengan meneruskan cita-citanya.
Jika dahulu mereka berjuang agar kita bebas dari penjajahan,
maka hari ini:
kita berjuang agar generasi kita bebas dari kebodohan.
Jika dahulu mereka berjuang melawan kolonialisme,
hari ini kita melawan:
korupsi, narkoba, kemiskinan, kebencian, intoleransi dan kerusakan moral.
Jika dahulu mereka menjaga tanah air,
hari ini kita menjaga:
persatuan, lingkungan dan masa depan generasi.
Semoga Allah menjadikan Indonesia negeri yang baik:
baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekali lagi khatib berwasiat kepada diri khatib dan kepada jamaah sekalian:
Marilah kita bertakwa kepada Allah.
Kemerdekaan yang kita nikmati adalah nikmat.
Nikmat harus disyukuri.
Syukur bukan hanya dengan ucapan.
Syukur harus diwujudkan dengan amal.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ya Allah,
jadikanlah bangsa Indonesia bangsa yang bersyukur.
Jadikanlah negeri kami negeri yang aman.
Jadikanlah masyarakat kami masyarakat yang beriman, berilmu dan berakhlak.
Ya Allah,
berikanlah kepada para pemimpin bangsa kami kekuatan untuk menjalankan amanah.
Jauhkan mereka dari kezaliman, kesombongan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Berikan kepada mereka kebijaksanaan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Ya Allah,
jaga persatuan bangsa Indonesia.
Jauhkan kami dari fitnah, permusuhan, kebencian dan perpecahan.
Jadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan alasan untuk saling bermusuhan.
Ya Allah,
lindungi generasi muda kami.
Jauhkan mereka dari narkoba, pornografi, kekerasan, perjudian, pergaulan yang merusak dan berbagai penyakit sosial.
Jadikan mereka generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya dan besar kontribusinya bagi bangsa.
Ya Allah,
jadikanlah Indonesia:
baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Negeri yang baik.
Negeri yang aman.
Negeri yang adil.
Negeri yang makmur.
Negeri yang masyarakatnya saling menolong dalam kebaikan.
Ya Allah,
ampunilah dosa kami.
Ampunilah dosa kedua orang tua kami.
Ampunilah dosa para guru dan ulama kami.
Ampunilah dosa para pahlawan dan pejuang bangsa kami yang telah mendahului kami.
Berikanlah kepada mereka tempat terbaik di sisi-Mu.
Ya Allah,
jangan jadikan kemerdekaan yang mereka perjuangkan menjadi sia-sia karena kelalaian kami.
Jadikan kami generasi yang mampu menjaga amanah kemerdekaan.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
اللهم صل وسلم على نبينا محمد.
والحمد لله رب العالمين.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar