NASKAH KHUTBAH JUMAT
MAKRIFATULLAH, MAKRIFATUR RASUL, DAN MAKRIFATUL ISLAM
Mengenal Allah, Mengikuti Rasulullah, dan Memahami Islam dengan Benar
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya takut kepada Allah, tetapi kesadaran bahwa hidup kita selalu berada dalam pengetahuan, pengawasan, dan kekuasaan Allah.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan tiga perkara yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang Muslim:
Makrifatullah — mengenal Allah.
Makrifatur Rasul — mengenal Rasulullah ﷺ.
Makrifatul Islam — mengenal dan memahami Islam.
Sebab boleh jadi seseorang mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi belum sungguh-sungguh mengenal Tuhannya.
Boleh jadi seseorang mengenal nama Nabi Muhammad ﷺ, tetapi belum benar-benar mengikuti akhlak dan sunnahnya.
Dan boleh jadi seseorang mengaku beragama Islam, tetapi belum memahami hakikat Islam sebagai jalan hidup yang sempurna.
Pertama: MAKRIFATULLAH — MENGENAL ALLAH
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Makrifatullah berarti mengenal Allah dengan ilmu yang benar, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengenal kebesaran-Nya, mengenal kekuasaan-Nya, kemudian melahirkan penghambaan kepada-Nya.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19). (Quran.com)
Perhatikan jamaah sekalian.
Allah tidak mengatakan sekadar: ucapkanlah.
Tetapi:
فَاعْلَمْ — “Maka ketahuilah.”
Artinya, tauhid harus dibangun di atas ilmu dan kesadaran.
Kita mengenal Allah melalui wahyu-Nya, melalui ayat-ayat Al-Qur’an, melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta, dan melalui nama-nama serta sifat-sifat-Nya yang diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56). (Quran)
Maka pertanyaan terbesar dalam hidup kita bukan hanya:
“Berapa banyak harta yang saya punya?”
Bukan pula:
“Seberapa tinggi jabatan saya?”
Tetapi:
“Seberapa dekat saya dengan Allah?”
Sebab ketika seseorang benar-benar mengenal Allah, ia akan menyadari:
Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur.
Ketika mendapat musibah, ia bersabar.
Ketika berdosa, ia segera bertaubat.
Ketika mendapatkan kesuksesan, ia tidak sombong.
Ketika kehilangan sesuatu, ia tidak berputus asa.
Mengapa?
Karena hatinya mengenal siapa Tuhannya.
Makrifatullah melahirkan muraqabah
Jamaah rahimakumullah,
Salah satu buah terbesar mengenal Allah adalah muraqabah—merasa selalu diawasi Allah.
Ada orang yang rajin beribadah ketika dilihat manusia.
Tetapi ketika sendirian, ia berani melakukan dosa.
Ini tanda bahwa pengawasan manusia lebih terasa daripada pengawasan Allah.
Padahal Allah berfirman bahwa Dia mengetahui gerak dan tempat tinggal kita. (Quran.com)
Maka orang yang mengenal Allah akan berkata dalam hatinya:
“Mungkin manusia tidak melihat saya, tetapi Allah melihat saya.”
Inilah kesadaran yang mampu menjaga manusia dari korupsi ketika tidak ada kamera, menjaga lisan ketika tidak ada yang menegur, menjaga kehormatan ketika tidak ada yang mengetahui.
Kedua: MAKRIFATUR RASUL — MENGENAL RASULULLAH ﷺ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Setelah mengenal Allah, kita harus mengenal utusan-Nya:
Nabi Muhammad ﷺ.
Mengapa?
Karena kita tidak mungkin memahami bagaimana cara beribadah kepada Allah hanya dengan keinginan dan perasaan kita sendiri.
Kita membutuhkan teladan Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21). (Quran.com)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mengenal Rasulullah bukan hanya mengetahui bahwa beliau lahir di Makkah, hijrah ke Madinah, dan wafat di Madinah.
Makrifatur Rasul lebih dalam daripada sekadar pengetahuan sejarah.
Kita harus mengenal kejujurannya.
Mengenal amanahnya.
Mengenal kasih sayangnya.
Mengenal kesabarannya.
Mengenal ibadahnya.
Mengenal akhlaknya.
Mengenal perjuangannya.
Dan yang paling penting:
mengikuti petunjuknya.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ
“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali 'Imran: 31). (Quran.com)
Perhatikan!
Ukuran cinta kepada Allah bukan hanya ucapan.
Ukuran cinta kepada Allah adalah ittiba' kepada Rasulullah ﷺ.
Kita boleh mengatakan:
“Saya cinta Nabi.”
Tetapi cinta itu harus terlihat dalam kehidupan.
Kalau Nabi mengajarkan kejujuran, kita jujur.
Kalau Nabi mengajarkan kasih sayang, kita menyayangi.
Kalau Nabi melarang mencela, kita menjaga lisan.
Kalau Nabi mengajarkan shalat, kita menjaga shalat.
Kalau Nabi mengajarkan amanah, kita menjaga amanah.
Kalau Nabi mengajarkan persaudaraan, kita jangan mudah memutus persaudaraan.
Rasulullah adalah teladan kehidupan
Jamaah rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ bukan hanya teladan di masjid.
Beliau adalah teladan sebagai kepala keluarga.
Teladan sebagai pemimpin.
Teladan sebagai tetangga.
Teladan dalam berdagang.
Teladan dalam menghadapi orang yang berbeda.
Teladan dalam menghadapi musuh.
Teladan dalam memaafkan.
Teladan dalam memperlakukan anak-anak.
Maka jangan sampai kita hanya mencintai Rasulullah melalui selawat, tetapi jauh dari akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan sampai lisan kita banyak berselawat, tetapi masih suka menghina.
Jangan sampai kita rajin membaca sirah Nabi, tetapi tidak mau meneladani kejujurannya.
Jangan sampai kita mengaku umat Muhammad ﷺ, tetapi meninggalkan sunnah akhlaknya.
Makrifatur Rasul harus melahirkan ittiba'.
Ketiga: MAKRIFATUL ISLAM — MENGENAL ISLAM
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Setelah mengenal Allah dan Rasul-Nya, kita harus mengenal agama yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ:
Islam.
Islam bukan hanya identitas di KTP.
Islam bukan hanya ritual.
Islam bukan hanya pakaian.
Islam bukan hanya simbol.
Islam adalah jalan hidup yang menghubungkan manusia dengan Allah dan sekaligus mengatur hubungan manusia dengan sesama.
Rasulullah ﷺ menjelaskan hakikat Islam dalam Hadis Jibril.
Ketika Malaikat Jibril datang dalam bentuk seorang manusia dan bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, beliau menjawab bahwa Islam adalah bersyahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan haji bagi yang mampu. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Shahih Muslim. (Sunnah)
Kemudian Jibril bertanya tentang iman.
Rasulullah ﷺ menjelaskan iman dengan beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan qadar. (Sunnah)
Kemudian Jibril bertanya tentang ihsan.
Rasulullah ﷺ menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim). (Sunnah)
Jamaah rahimakumullah,
Hadis Jibril ini sangat penting.
Di dalamnya terdapat bangunan besar agama:
Islam — Iman — Ihsan.
Islam memperbaiki amal lahir.
Iman memperbaiki keyakinan batin.
Ihsan memperbaiki kualitas hati.
Maka seorang Muslim yang sempurna bukan hanya terlihat baik secara lahir, tetapi juga benar dalam iman dan bersih dalam hati.
TIGA MAKRIFAT, SATU KEHIDUPAN
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kalau kita rangkum:
Makrifatullah
mengajarkan kita:
Siapa Tuhan kita?
Jawabannya:
Allah سبحانه وتعالى.
Makrifatur Rasul
mengajarkan:
Siapa teladan dan pembimbing kita?
Jawabannya:
Muhammad ﷺ.
Makrifatul Islam
mengajarkan:
Bagaimana kita menjalani kehidupan?
Jawabannya:
Dengan tunduk kepada Allah berdasarkan petunjuk Rasulullah ﷺ.
Inilah jalan keselamatan.
Jangan hanya mengenal agama, tetapi hiduplah dengan agama
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tantangan kita hari ini bukan sekadar kekurangan informasi agama.
Informasi agama sangat banyak.
Ceramah ada di mana-mana.
Kajian ada di mana-mana.
Video dakwah ada di mana-mana.
Tetapi pertanyaannya:
Apakah ilmu itu sudah mengubah kita?
Apakah semakin banyak ilmu membuat kita semakin rendah hati?
Semakin banyak ilmu membuat kita semakin takut kepada Allah?
Semakin mengenal Nabi membuat kita semakin santun?
Semakin memahami Islam membuat kita semakin bermanfaat bagi orang lain?
Sebab ilmu yang benar seharusnya melahirkan amal.
Rasulullah ﷺ juga memberikan prinsip yang sangat singkat namun mendalam:
قُلْ آمَنْتُ بِاللّٰهِ فَاسْتَقِمْ
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
(HR. Muslim). (Sunnah)
Jamaah rahimakumullah,
Maka jangan mencari agama yang hanya indah dalam pembicaraan.
Carilah pemahaman agama yang membuat kita lebih dekat kepada Allah, lebih cinta kepada Rasulullah, lebih baik ibadahnya, lebih santun akhlaknya, lebih jujur kehidupannya, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Penutup Khutbah Pertama
Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:
Sudahkah saya mengenal Allah?
Bukan hanya mengetahui nama-Nya, tetapi merasakan pengawasan-Nya.
Sudahkah saya mengenal Rasulullah ﷺ?
Bukan hanya mengetahui sejarahnya, tetapi mengikuti sunnah dan akhlaknya.
Sudahkah saya mengenal Islam?
Bukan hanya sebagai identitas, tetapi sebagai jalan hidup.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mengenal-Nya, mencintai Rasul-Nya, memahami Islam dengan benar, dan istiqamah mengamalkannya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.
اللهم أصلح قلوبنا، وطهر نفوسنا، وزكِّ أعمالنا، واجعلنا من عبادك المتقين.
اللهم حرر قلوبنا من الشرك والرياء، ومن عبودية الهوى والدنيا، ومن الكبر والعجب، واجعلنا لك عبادًا مخلصين.
اللهم احفظ بلادنا إندونيسيا، واجعلها بلدًا آمنًا مطمئنًا سخاءً رخاءً وسائر بلاد المسلمين.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار.
وصلِّ اللهم وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون.
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar