Senin, 14 September 2026

TAJWID DAN HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

 


MATERI PENYULUHAN AGAMA ISLAM

TAJWID DAN HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

“Bukan sekadar lancar membaca, tetapi tepat dalam melafalkan kalam Allah”

A. Pengantar

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, dan seorang Muslim diperintahkan untuk membacanya dengan tartil.

Allah SWT berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
QS. Al-Muzzammil: 4

Tartil berarti membaca dengan tenang, jelas, teratur, memperhatikan makhraj, sifat huruf, hukum bacaan, panjang-pendek, serta waqaf dan ibtida’.

Karena itu, belajar tajwid bukan sekadar agar suara terdengar indah. Tajwid membantu kita menjaga bacaan Al-Qur’an agar tidak menyimpang dari cara baca yang benar.

B. APA ITU TAJWID?

1. Pengertian Tajwid

Secara bahasa, tajwid (التجويد) berarti membaguskan atau memperindah.

Secara istilah:

Tajwid adalah memberikan setiap huruf hak dan mustahaknya ketika dibaca.

Yang dimaksud hak huruf antara lain makhraj dan sifat-sifat asli huruf.

Sedangkan mustahak huruf adalah hukum-hukum yang muncul ketika huruf bertemu dengan huruf lainnya, seperti idgham, ikhfa, iqlab, mad, qalqalah dan sebagainya.

Rumus sederhananya:

Makhraj + Sifat Huruf + Hukum Bacaan + Panjang-Pendek + Waqaf/Ibtida’ = Bacaan Al-Qur’an yang benar.

C. APAKAH MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TAJWID ITU WAJIB?

Ini bagian yang penting disampaikan secara proporsional.

Para ulama membedakan antara mempelajari ilmu tajwid secara teori dan menerapkan tajwid ketika membaca Al-Qur’an.

1. Mempelajari ilmu tajwid secara mendalam

Mempelajari seluruh teori dan cabang ilmu tajwid secara mendalam merupakan fardhu kifayah bagi umat Islam.

Artinya, harus ada sebagian umat yang mendalaminya sehingga ilmu tersebut terpelihara dan dapat diajarkan kepada masyarakat.

2. Membaca Al-Qur’an dengan benar

Adapun setiap Muslim yang membaca Al-Qur’an wajib berusaha memperbaiki bacaannya sesuai kemampuan, terutama agar tidak melakukan kesalahan yang nyata (lahn jali) yang dapat mengubah huruf, harakat, atau makna.

Jadi jangan sampai pemahaman:

“Belajar tajwid hukumnya fardhu kifayah”

kemudian digunakan sebagai alasan:

“Saya tidak perlu belajar tajwid.”

Justru bagi orang yang membaca Al-Qur’an, belajar memperbaiki bacaan menjadi kebutuhan agama.

D. LAHN: KESALAHAN DALAM MEMBACA AL-QUR’AN

Dalam ilmu qira'ah/tajwid dikenal istilah lahn, yaitu kesalahan dalam membaca.

1. Lahn Jali

Lahn jali adalah kesalahan yang jelas, misalnya salah huruf atau harakat sehingga dapat mengubah lafaz atau makna.

Contoh:

أَنْعَمْتَ

dibaca dengan mengubah huruf atau harakat secara keliru.

Contoh lain yang sangat penting:

قُلْ

huruf ق tidak boleh berubah menjadi ك.

Karena:

قُلْ dan كُلْ

merupakan dua lafaz yang berbeda.

Maka kesalahan makhraj bukan sekadar masalah "logat", tetapi dalam kasus tertentu dapat berpengaruh terhadap makna.

E. HUKUM NUN SUKUN DAN TANWIN

Ini salah satu materi tajwid paling penting dan mudah dipraktikkan.

Nun sukun (نْ) dan tanwin (ــًــٍــٌ) mempunyai empat hukum.

1. IZHHAR HALQI

Pengertian

Izhar berarti jelas.

Apabila نْ atau tanwin bertemu salah satu huruf:

ء ه ع ح غ خ

maka dibaca jelas.

Contoh:

مَنْ آمَنَ

Nun sukun bertemu ء, dibaca jelas.

عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Tanwin bertemu ح, dibaca jelas.

Praktik:

مَنْ آمَنَ

Jangan memasukkan suara nun ke huruf setelahnya.

2. IDGHAM

Idgham berarti memasukkan atau meleburkan.

Huruf idgham:

ي ر م ل و ن

Dapat diingat dengan:

يَرْمَلُونَ

Contoh:

مَنْ يَعْمَلْ

Nun sukun bertemu ي, sehingga dibaca dengan idgham.

مِنْ رَبِّهِمْ

Nun sukun bertemu ر, sehingga nun melebur ke dalam ra.

Idgham Bighunnah

Huruf:

ي ن م و

Contoh:

مَنْ يَقُولُ

dibaca dengan dengung.

Idgham Bilaghunnah

Huruf:

ل ر

Contoh:

مِنْ رَبِّهِمْ

dibaca tanpa ghunnah.

3. IQLAB

Iqlab berarti mengubah.

Apabila نْ atau tanwin bertemu ب, maka suara nun/tanwin berubah menjadi suara mim samar disertai dengung.

Contoh:

أَنْبِئْهُمْ

atau:

سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Tanwin bertemu ب.

Cara praktis:

Jangan membaca:

samī'un bashīr

secara mentah.

Tetapi tanwin berubah menjadi bunyi mim samar:

samī‘um bashīr

dengan ghunnah.

4. IKHFA’ HAQIQI

Ikhfa’ berarti menyamarkan.

Jika nun sukun/tanwin bertemu salah satu dari 15 huruf ikhfa, maka suara nun dibaca samar antara izhar dan idgham, disertai ghunnah.

Contoh:

مَنْ صَبَرَ

Nun sukun bertemu ص.

أَنْفُسَكُمْ

Nun sukun bertemu ف.

Praktik:

Jangan terlalu jelas:

man-shabara

dan jangan pula melebur seluruhnya.

Baca dengan samar + dengung.

F. HUKUM MIM SUKUN

Mim sukun مْ mempunyai tiga hukum.

1. Izhar Syafawi

Jika mim sukun bertemu selain م dan ب, dibaca jelas.

Contoh:

عَلَيْهِمْ غَيْرِ

Mim dibaca jelas.

2. Ikhfa Syafawi

Jika mim sukun bertemu ب, dibaca samar dengan dengung.

Contoh:

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ

Perhatikan:

مْ + ب

dibaca dengan ikhfa syafawi.

3. Idgham Mimi

Jika mim sukun bertemu م, maka mim pertama dilebur ke mim kedua dengan ghunnah.

Contoh:

لَهُمْ مَا

Baca:

لَهُمَّا

dengan dengung yang tepat.

G. QALQALAH

Pengertian

Qalqalah adalah memantulkan suara ketika mengucapkan huruf tertentu dalam keadaan sukun.

Huruf qalqalah:

ق ط ب ج د

Mudah diingat:

قُطْبُ جَدٍّ

Contoh:

يَجْعَلْ

Huruf جْ mengalami qalqalah.

أَحَدْ

Ketika berhenti pada kata أَحَدْ, huruf د memantulkan suara.

Praktik:

Jangan diberi harakat tambahan.

Misalnya:

أَحَدْ

bukan:

أَحَدُ

Pantulan qalqalah bukan berarti menambahkan vokal baru.

H. HUKUM MAD

Mad berarti memanjangkan suara.

Huruf mad:

ا – و – ي

Mad Thabi'i

Panjang:

2 harakat

Contoh:

قَالَ

فِي

يَقُولُ

Latih:

قَا — قِي — قُو

Jangan terlalu pendek dan jangan berlebihan.

Mad Wajib Muttasil

Mad bertemu hamzah dalam satu kata.

Contoh:

جَاءَ

السَّمَاءِ

Dibaca lebih panjang daripada mad thabi'i sesuai riwayat bacaan yang digunakan, umumnya 4–5 harakat dalam Hafs ‘an ‘Ashim.

Mad Jaiz Munfasil

Huruf mad berada di akhir kata dan hamzah berada di awal kata berikutnya.

Contoh:

يَا أَيُّهَا

Dalam riwayat Hafs, umumnya dibaca 4–5 harakat ketika dibaca sambung.

I. HUKUM ALIF LAM

1. Alif Lam Syamsiyah

Lam tidak terdengar karena masuk ke huruf setelahnya.

Huruf syamsiyah antara lain:

ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن

Contoh:

الشَّمْسِ

Bukan:

al-syamsi

tetapi:

asy-syamsi

2. Alif Lam Qamariyah

Lam dibaca jelas.

Contoh:

الْحَمْدُ

الْقَمَرُ

Baca:

al-hamdu
al-qamaru

J. HUKUM RA (ر)

Huruf ر terkadang dibaca tebal (tafkhim) dan terkadang tipis (tarqiq), tergantung harakat dan keadaan di sekitarnya.

Contoh tebal:

رَبِّ

Ra berharakat fathah → tebal.

قُرْآنٌ

Ra sukun didahului dhammah → tebal.

Contoh tipis:

رِزْقًا

Ra berharakat kasrah → tipis.

Materi ini sebaiknya dilatih dengan mendengarkan guru karena hukum ra memiliki beberapa rincian.

K. GHUNNAH

Ghunnah adalah suara dengung yang keluar dari rongga hidung.

Paling jelas ketika:

نّ

atau

مّ

Contoh:

إِنَّ

ثُمَّ

النَّاسِ

Dibaca dengan dengung sekitar dua harakat pada nun atau mim bertasydid.

Latihan:

إِنَّ — أَنَّ — ثُمَّ — عَمَّ

Rasakan bahwa suara tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga memiliki resonansi melalui hidung.

L. WAQAF DAN IBTIDA'

Tajwid tidak selesai hanya dengan mengetahui idgham, ikhfa, mad dan qalqalah.

Kita juga harus mengetahui kapan berhenti dan dari mana memulai kembali.

Waqaf

Berhenti pada bacaan.

Ibtida'

Memulai bacaan setelah berhenti.

Contoh tanda dalam mushaf:

م → waqaf lazim
ج → boleh berhenti atau terus
قلى → lebih utama berhenti
صلى → lebih utama melanjutkan
لا → jangan berhenti pada tempat tersebut jika tidak ada kebutuhan.

M. LATIHAN TAJWID DENGAN SATU AYAT

Mari kita gunakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Perhatikan:

الْحَمْدُ

→ Alif lam qamariyah, lam dibaca jelas.

لِلَّهِ

→ lafaz Allah; lam jalalah dibaca tipis karena sebelumnya kasrah.

رَبِّ

→ ra dibaca tebal karena berharakat fathah.

الْعَالَمِينَ

→ alif setelah fathah menghasilkan mad thabi'i.

Jadi satu ayat saja sudah mengandung beberapa pelajaran tajwid.

N. LATIHAN AYAT BERIKUTNYA

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Perhatikan:

إِنَّا

Nun tasydid → ghunnah.

أَعْطَيْنَاكَ

Perhatikan makhraj ع, kemudian mad pada نَا.

الْكَوْثَرَ

Alif lam qamariyah → lam dibaca jelas.

Latihan dilakukan dengan pola:

Baca → dengarkan → ulangi → koreksi.

O. TIGA TINGKAT KESALAHAN YANG PERLU DIWASPADAI

1. Salah makhraj

Contoh:

ق menjadi ك

ص menjadi س

ح menjadi ه

2. Salah harakat

Misalnya fathah dibaca kasrah atau dhammah.

3. Salah panjang-pendek

Mad yang seharusnya 2 harakat dibaca terlalu pendek atau terlalu panjang.

Ketiga hal ini harus mendapat perhatian ketika belajar membaca Al-Qur’an.

P. CARA MUDAH BELAJAR TAJWID

Gunakan prinsip:

1. Jangan hanya membaca teori

Langsung praktik.

2. Jangan hanya membaca sendiri

Sesekali setor bacaan kepada guru.

3. Jangan takut dikoreksi

Koreksi adalah bagian dari belajar.

4. Jangan mengejar cepat khatam

Utamakan ketepatan dan ketenangan.

5. Belajar sedikit tetapi rutin

Misalnya setiap hari 10–15 menit.

Q. PESAN PENYULUHAN

Ada orang yang mampu membaca Al-Qur’an satu juz dalam sehari, tetapi belum tentu seluruh bacaannya sudah tepat.

Sebaliknya, ada orang yang membaca perlahan karena masih belajar, tetapi setiap hari berusaha memperbaiki makhraj dan tajwidnya.

Allah melihat kesungguhan kita.

Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata dalam membacanya karena kesulitan, baginya dua pahala.”
HR. Bukhari dan Muslim

Maka jangan malu mengatakan:

“Saya sedang belajar Al-Qur’an.”

Sebab yang berbahaya bukan belum bisa, tetapi tidak mau belajar.

R. KESIMPULAN

TAJWID BUKAN UNTUK MEMBUAT KITA SULIT MEMBACA AL-QUR’AN.

Justru tajwid dibuat untuk membantu kita:

✓ Mengucapkan huruf dengan benar
✓ Menjaga makna ayat
✓ Mengetahui panjang-pendek bacaan
✓ Menjaga dengung dan pantulan huruf
✓ Mengetahui tempat berhenti dan memulai
✓ Membaca Al-Qur’an dengan tartil

Kalimat kunci untuk jamaah:

“Belajar tajwid adalah belajar menjaga lisan agar ketika membaca kalam Allah, kita tidak sembarangan mengucapkannya.”

Dan satu pesan terakhir:

Tidak harus menjadi qari untuk belajar tajwid.
Tetapi setiap orang yang ingin membaca Al-Qur’an dengan benar, perlu belajar tajwid.

Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Tidak ada komentar: