NASKAH KHUTBAH JUMAT
NASKAH KHUTBAH JUMAT
SEKALI SANTRI TETAP SANTRI
Walau Tak Lagi di Pesantren, Mesti Tetap Nyantri, Karena Belajar Itu Sepanjang Hayat
Tema besar: Hidup Totalitas dalam Islam
KHUTBAH PERTAMA
1. Pembukaan: Santri Bukan Sekadar Status
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan hendaknya tidak berhenti pada ucapan, penampilan, atau simbol keagamaan, tetapi harus tercermin dalam seluruh perjalanan hidup kita.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah ungkapan:
“Sekali santri tetap santri. Walau tak lagi santri, mesti tetap nyantri, karena belajar mesti sepanjang hari.”
Ungkapan ini bukan sekadar nostalgia tentang kehidupan pesantren. Ini adalah ajakan untuk menjaga ilmu, adab, ibadah, dan akhlak dalam setiap fase kehidupan.
Santri bukan hanya orang yang pernah mengenakan sarung, peci, atau tinggal di pondok pesantren. Santri sejati adalah orang yang terus berusaha tunduk kepada Allah, menghormati guru, mencintai ilmu, menjaga ibadah, serta menghadirkan akhlak mulia di tengah masyarakat.
Boleh jadi seseorang telah puluhan tahun meninggalkan pesantren. Ia kini menjadi pejabat, pengusaha, petani, pedagang, guru, pegawai, atau pemimpin masyarakat. Namun, jangan sampai ia meninggalkan nilai-nilai pesantren yang dahulu membentuk dirinya.
Sebab, yang harus dibawa keluar dari pesantren bukan hanya ijazah, melainkan ilmu yang diamalkan, adab yang dipertahankan, dan ketakwaan yang terus ditumbuhkan.
2. Islam Mengajarkan Kehidupan yang Totalitas
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam bukan agama yang hanya mengatur sebagian kecil kehidupan manusia. Islam memberikan arah bagi seluruh kehidupan: bagaimana kita beribadah, bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, bermasyarakat, memimpin, dan memperlakukan sesama manusia.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah : 208)
Ayat ini mengajarkan bahwa keberislaman tidak seharusnya dijalani secara setengah-setengah. Kita tidak cukup hanya rajin beribadah di masjid, tetapi mengabaikan amanah di tempat kerja. Kita tidak cukup fasih berbicara tentang agama, tetapi melukai orang lain dengan perkataan dan perbuatan.
Tidak layak kita mengaku mencintai ilmu agama, tetapi enggan belajar. Tidak pantas kita bangga sebagai alumni pesantren, tetapi mengabaikan salat, meremehkan kejujuran, atau kehilangan kepedulian kepada sesama.
Totalitas dalam Islam bukan berarti manusia tidak pernah berbuat salah. Totalitas berarti kita bersungguh-sungguh mengarahkan seluruh kehidupan kepada keridaan Allah, terus memperbaiki diri ketika salah, dan tidak berhenti kembali kepada-Nya.
Allah juga berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An‘am : 162)
Inilah deklarasi seorang muslim: hidupku untuk Allah.
Salat untuk Allah. Bekerja dengan cara yang diridai Allah. Mencari nafkah melalui jalan yang halal. Mendidik anak sebagai amanah Allah. Menggunakan jabatan untuk menegakkan keadilan. Memanfaatkan ilmu untuk kemaslahatan. Bahkan ketika beristirahat, seorang muslim tetap menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.
Inilah hidup totalitas: bukan sekadar membawa identitas Islam, melainkan menjadikan Islam sebagai pedoman dalam setiap keputusan.
3. Walau Tak Lagi Santri, Kita Harus Tetap Nyantri
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada orang yang pernah mondok bertahun-tahun, tetapi setelah meninggalkan pesantren, ia merasa tidak perlu lagi belajar agama. Kitab tidak lagi dibuka, majelis ilmu mulai dijauhi, nasihat guru tidak lagi didengar, dan urusan dunia perlahan menghabiskan seluruh waktunya.
Ada pula orang yang tidak pernah mondok, tetapi ia rajin menghadiri pengajian, belajar membaca Al-Qur’an, bertanya kepada ulama, memperbaiki salat, dan berusaha memperindah akhlaknya.
Siapakah yang lebih dekat dengan semangat santri?
Tentu, kemuliaan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pernah atau tidaknya ia tinggal di pesantren. Kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan iman dan ketakwaan. Tradisi pesantren adalah jalan pendidikan yang sangat berharga, tetapi semangat menuntut ilmu dan memperbaiki diri terbuka bagi setiap muslim.
Allah SWT berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
(QS. Taha : 114)
Perhatikanlah, Rasulullah SAW diperintahkan memohon tambahan ilmu. Ini mengajarkan bahwa belajar bukan hanya kebutuhan anak-anak, bukan hanya kewajiban pelajar, dan bukan hanya urusan mereka yang sedang menempuh pendidikan formal.
Belajar adalah kebutuhan sepanjang hayat.
Selama kita masih hidup, masih ada ilmu yang perlu dipelajari. Selama kita masih berinteraksi dengan manusia, masih ada adab yang perlu diperbaiki. Selama kita masih menjalankan ibadah, masih ada tuntunan yang perlu dipahami. Selama kita masih menghadapi perubahan zaman, masih ada pengetahuan yang perlu dikuasai agar kita tidak tersesat dalam kebodohan dan informasi yang menyesatkan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, niscaya Allah akan memberinya pemahaman tentang agama.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis sahih ini menunjukkan pentingnya pemahaman agama. Bukan sekadar banyaknya pengetahuan yang kita kumpulkan, tetapi sejauh mana ilmu itu membimbing kita mengenal Allah, menjalankan ibadah dengan benar, membedakan yang halal dan haram, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Maka, jangan pernah berkata, “Saya sudah tua, tidak perlu lagi belajar.”
Jangan berkata, “Saya sudah alumni pesantren, sudah cukup ilmu saya.”
Jangan pula berkata, “Saya orang awam, belajar agama bukan urusan saya.”
Selama napas masih berembus, pintu belajar dan bertobat tetap terbuka. Mari kita hidupkan kembali semangat nyantri: belajar kepada guru yang tepercaya, mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah, membaca kitab, menghadiri majelis ilmu, serta membiasakan diri menerima nasihat.
Tidak harus kembali tinggal di pondok untuk kembali menjadi pembelajar. Rumah, masjid, tempat kerja, dan masyarakat dapat menjadi ruang untuk mengamalkan ilmu dan memperbaiki diri.
4. Ilmu Harus Melahirkan Amal dan Adab
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ada satu perkara yang sangat penting dalam tradisi keilmuan Islam: ilmu tidak boleh berhenti di kepala dan lisan. Ilmu harus turun ke hati, tampak dalam akhlak, dan hadir dalam perbuatan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff : 2–3)
Ayat ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang berbicara tentang kebaikan tetapi tidak berusaha melakukannya.
Bagi seorang santri, ayat ini mengingatkan agar ilmu tidak berubah menjadi kesombongan. Bagi seorang ustaz, ilmu harus tampak dalam keteladanan. Bagi seorang pejabat, amanah harus tampak dalam kebijakan yang adil. Bagi seorang pedagang, keimanan harus tampak dalam kejujuran. Bagi seorang kepala keluarga, nasihat agama harus tampak dalam tanggung jawab dan kasih sayang kepada keluarganya.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad, dari Abu Hurairah; diriwayatkan dengan redaksi yang berdekatan dalam Al-Adab Al-Mufrad karya al-Bukhari. Penilaian sanad dan redaksi perlu dibedakan menurut jalur periwayatannya.)
Misi kerasulan mengingatkan kita bahwa akhlak merupakan bagian penting dari keberagamaan. Karena itu, jangan sampai seseorang semakin tinggi ilmunya, tetapi semakin kasar lisannya. Jangan sampai semakin banyak gelar keagamaannya, tetapi semakin sulit menerima nasihat. Jangan sampai semakin sering berbicara tentang surga, tetapi perilakunya membuat orang lain merasa tidak aman.
Santri sejati bukan orang yang merasa dirinya paling alim, melainkan orang yang semakin berilmu semakin sadar akan keterbatasan dirinya, semakin menghormati orang lain, dan semakin takut berbuat zalim.
5. Totalitas Islam dalam Kehidupan Sehari-hari
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bagaimana mewujudkan semangat “sekali santri tetap santri” dalam kehidupan nyata?
Pertama, totalitas dalam ibadah. Jagalah salat lima waktu, pelajari tata cara ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, dan jangan biarkan kesibukan dunia menghapus hubungan kita dengan Allah.
Kedua, totalitas dalam menuntut ilmu. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, memahami maknanya, menghadiri majelis ilmu, dan bertanya kepada orang yang berkompeten. Jangan mudah menyebarkan informasi agama yang belum jelas sumber dan kebenarannya.
Ketiga, totalitas dalam mencari nafkah yang halal. Seorang santri yang menjadi pedagang harus jujur. Yang menjadi pegawai harus amanah. Yang menjadi pemimpin harus adil. Yang menjadi petani harus bekerja dengan tekun. Semua pekerjaan yang halal dapat menjadi ladang kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang dibenarkan syariat.
Keempat, totalitas dalam membangun keluarga. Jangan hanya menginginkan anak menjadi pintar dan sukses, tetapi juga bimbing mereka mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, menghormati orang tua, serta berakhlak mulia.
Kelima, totalitas dalam bermasyarakat. Jadilah pribadi yang menebarkan kedamaian, menjaga lisan, menghormati perbedaan, membantu yang membutuhkan, dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Allah SWT berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qasas : 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam mengarahkan kehidupan menuju akhirat tanpa mengabaikan tanggung jawab dunia. Islam tidak menyuruh kita meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau kemajuan ilmu pengetahuan. Islam membimbing kita agar semua itu dijalani dengan cara yang benar dan tidak melalaikan tujuan akhir kehidupan.
Maka, jadilah muslim yang kuat ibadahnya, luas ilmunya, baik akhlaknya, halal rezekinya, bertanggung jawab keluarganya, serta bermanfaat bagi masyarakat.
Itulah semangat hidup totalitas dalam Islam.
6. Penutup Khutbah Pertama
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita membawa pulang tiga pesan utama.
Pertama: sekali santri, tetaplah menjaga nilai-nilai kesantrian, bukan sekadar kebanggaan atas masa lalu.
Kedua: walau tidak pernah menjadi santri pesantren, jangan pernah berhenti nyantri dalam arti terus belajar, berguru, memahami agama, dan memperbaiki diri.
Ketiga: jadikan seluruh kehidupan sebagai ladang pengabdian kepada Allah. Jangan pisahkan ilmu dari amal, ibadah dari akhlak, dan kesalehan pribadi dari tanggung jawab sosial.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai ilmu, istiqamah dalam ibadah, mulia dalam akhlak, dan sungguh-sungguh dalam mengamalkan Islam.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
(Aku menyampaikan perkataan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekali lagi, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu, tetapi tidak ada perubahan berarti dalam kehidupan kita. Jangan sampai ilmu semakin banyak, tetapi amal semakin sedikit. Jangan sampai usia bertambah, tetapi hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia justru semakin jauh.
Ingatlah, menjadi santri bukan hanya cerita masa lalu. Menjadi muslim bukan sekadar identitas. Keduanya harus tercermin dalam kesungguhan belajar, keikhlasan beramal, keteguhan beribadah, dan kemuliaan akhlak.
Marilah kita terus belajar sampai akhir hayat, bukan untuk merasa paling benar, melainkan agar semakin dekat kepada kebenaran. Bukan untuk merendahkan orang lain, melainkan untuk semakin rendah hati. Bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab : 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا، وَأَخْلَاقَنَا حَسَنَةً.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَوْلَادَنَا وَأَهْلَنَا، وَوَفِّقْنَا لِتَرْبِيَتِهِمْ عَلَى الْإِيمَانِ وَالْقُرْآنِ وَالْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ أُمَّتِنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَانْشُرِ السَّلَامَ وَالْمَحَبَّةَ وَالْعَدْلَ فِي بِلَادِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar