Jumat, 02 Oktober 2026

KEHIDUPAN AKHIRAT LEBIH UTAMA Menjadikan Dunia sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan Abadi

 


KHUTBAH JUMAT

KEHIDUPAN AKHIRAT LEBIH UTAMA

Menjadikan Dunia sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan Abadi

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا....

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya tentang bagaimana kita rajin beribadah di masjid, tetapi juga bagaimana kita membawa kesadaran kepada Allah dalam setiap aktivitas kehidupan.

Ketika bekerja, kita ingat Allah.

Ketika mendapatkan rezeki, kita ingat Allah.

Ketika memiliki kekuasaan, kita ingat Allah.

Ketika menghadapi masalah, kita ingat Allah.

Dan ketika dunia menawarkan kesenangan yang dapat melalaikan, kita ingat bahwa hidup ini tidak berhenti ketika kita meninggal dunia.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pada hari ini marilah kita renungkan sebuah tema:

KEHIDUPAN AKHIRAT LEBIH UTAMA

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

(QS. Al-A'la: 17)

Ayat ini sangat singkat, tetapi memiliki pesan yang sangat dalam.

Allah tidak mengatakan dunia tidak ada gunanya.

Allah tidak mengatakan manusia tidak boleh kaya.

Allah tidak melarang manusia bekerja, berdagang, memiliki rumah, kendaraan, pendidikan yang baik, atau kehidupan keluarga yang layak.

Tetapi Allah mengingatkan:

Jangan sampai sesuatu yang sementara membuat kita kehilangan sesuatu yang kekal.

Dunia ada batas waktunya.

Akhirat tidak ada batas akhirnya.

Dunia adalah tempat beramal.

Akhirat adalah tempat menerima hasil amal.

Dunia adalah perjalanan.

Akhirat adalah tempat kembali.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah juga berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

(QS. Al-A'la: 16–17)

Menurut penjelasan para mufasir, ayat ini merupakan peringatan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi sehingga melupakan kehidupan akhirat.

Dalam Tafsir Ibn Kathir, ayat tersebut dipahami sebagai teguran kepada manusia yang mendahulukan kenikmatan dunia yang sementara daripada kenikmatan akhirat yang kekal.

Sementara dalam Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa persoalannya bukan sekadar memiliki kehidupan dunia, melainkan kecenderungan manusia untuk lebih mengutamakan yang segera terlihat dan dirasakan daripada kehidupan akhirat yang bersifat kekal.

Inilah penyakit manusia sepanjang zaman:

Yang dekat lebih menarik daripada yang jauh.

Yang terlihat lebih dipercaya daripada yang ghaib.

Yang bisa dinikmati sekarang lebih dikejar daripada pahala yang dijanjikan kemudian.

Padahal orang beriman memiliki cara pandang yang berbeda.

Ia tidak hanya bertanya:

"Apa yang saya dapat hari ini?"

Tetapi juga bertanya:

"Apa yang akan saya bawa menghadap Allah nanti?"

DUNIA BUKAN UNTUK DITINGGALKAN

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di sinilah pentingnya memahami agama dengan cara pandang yang moderat dan seimbang.

Mengutamakan akhirat bukan berarti membenci dunia.

Islam tidak mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang malas bekerja dengan alasan tawakal.

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan keluarga dengan alasan mengejar ibadah.

Islam tidak mengajarkan kita menolak kekayaan yang halal.

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan pembangunan kehidupan dunia.

Allah justru berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."

(QS. Al-Qashash: 77)

Perhatikan keseimbangannya.

Carilah akhirat.

Tetapi:

Jangan lupakan bagianmu di dunia.

Maka bekerja mencari nafkah dapat menjadi ibadah.

Mendidik anak dapat menjadi ibadah.

Menjaga kesehatan dapat menjadi ibadah.

Membangun ekonomi umat dapat menjadi ibadah.

Menolong tetangga dapat menjadi ibadah.

Menjalankan amanah pekerjaan dengan jujur dapat menjadi ibadah.

Bahkan mencari rezeki halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dapat menjadi amal saleh apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang halal.

Jadi persoalannya bukan:

Dunia atau akhirat?

Tetapi:

Bagaimana menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat?

JANGAN MENJUAL AKHIRAT DEMI DUNIA

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan:

وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ إِنَّمَا عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kamu menukar perjanjian dengan Allah dengan harga yang sedikit. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

(QS. An-Nahl: 95)

Betapa banyak manusia yang mengorbankan prinsip karena dunia.

Demi uang, kejujuran ditinggalkan.

Demi jabatan, persaudaraan dikorbankan.

Demi keuntungan, hak orang lain diambil.

Demi popularitas, kebenaran disembunyikan.

Demi kepentingan sesaat, amanah dikhianati.

Padahal apa yang kita kejar itu sementara.

Harta akan ditinggalkan.

Jabatan akan berakhir.

Popularitas akan hilang.

Tubuh akan kembali menjadi tanah.

Tetapi amal akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."

(HR. al-Bukhari)

Seorang musafir menggunakan kendaraan, tetapi tidak menganggap kendaraan itu sebagai rumah selamanya.

Seorang musafir menikmati perjalanan, tetapi ia tahu bahwa ada tujuan yang harus dicapai.

Begitulah seorang mukmin.

Ia boleh menikmati dunia.

Ia boleh memiliki harta.

Ia boleh membangun rumah.

Ia boleh mengejar pendidikan.

Ia boleh sukses dalam pekerjaan.

Tetapi hatinya tidak boleh diperbudak oleh dunia.

Tangannya memegang dunia, tetapi hatinya tetap bersama Allah.

APA YANG AKAN KITA BAWA?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketika seseorang meninggal dunia, banyak hal yang dahulu dianggap penting menjadi tidak berarti.

Rumah tidak ikut masuk ke liang lahat.

Kendaraan tidak ikut mengantar sampai akhirat.

Jabatan tidak menjadi teman di alam kubur.

Rekening bank tidak ikut dibawa.

Yang menemani kita adalah amal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

"Tiga perkara mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya."

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka pertanyaan penting bagi kita bukan hanya:

"Berapa banyak yang sudah saya miliki?"

Tetapi:

"Berapa banyak yang sudah saya siapkan untuk kehidupan setelah mati?"

Bukan hanya:

"Berapa banyak uang yang ada di rekening saya?"

Tetapi:

"Berapa banyak pahala yang tersimpan dalam rekening amal saya?"

Bukan hanya:

"Apa yang diwariskan kepada anak-anak?"

Tetapi:

"Warisan iman dan amal apa yang saya tinggalkan untuk anak-anak saya?"

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan dunia sebagai ladang akhirat.

Kalau kita kaya, jadilah orang kaya yang bersyukur dan gemar berbagi.

Kalau kita memiliki jabatan, jadilah pemimpin yang amanah.

Kalau kita memiliki ilmu, ajarkan kepada orang lain.

Kalau kita memiliki tenaga, gunakan untuk membantu sesama.

Kalau kita memiliki keluarga, jadikan keluarga sebagai tempat menanam iman.

Kalau kita memiliki kesempatan, jangan tunda amal kebaikan.

Karena dunia ini bukan tujuan terakhir.

Dunia adalah jembatan.

Dunia adalah ladang.

Dunia adalah amanah.

Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya.

Allah berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۗ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui."

(QS. Al-'Ankabut: 64)

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu menjalani dunia dengan penuh tanggung jawab, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللّٰهُمَّ فَقِّهْنَا فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُسَرَنَا، وَبَارِكْ فِي بُيُوتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا ذُرِّيَّةً صَالِحَةً، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا سَاكِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَاجْعَلْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ فِي أَعْلَى الْجِنَانِ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاجْعَلْ أَمْوَالَنَا فِي أَيْدِيْنَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوْبِنَا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.


Tidak ada komentar: