Rabu, 12 Januari 2022

Edisi Ekonomi Syariah Tema "BEBASKAN DIRI DARI LILITAN RIBA"


    BinLuh Rabu, 22/12/21

Edisi Ekonomi Syariah
Tema "BEBASKAN DIRI DARI LILITAN RIBA"
Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 275
اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
TAFSIR TAHLILI
(275). Ada dua macam riba yang dikenal, yaitu:
1. Riba nas³′ah
2. Riba fa«al
Riba nas³′ah ialah tambahan pembayaran utang yang diberikan oleh pihak yang berutang, karena adanya permintaan penundaan pembayaran pihak yang berutang. Tambahan pembayaran itu diminta oleh pihak yang berpiutang setiap kali yang berutang meminta penundaan pembayaran utangnya. Contoh: A berutang kepada B sebanyak Rp 1.000,- dan akan dikembalikan setelah habis masa sebulan. Setelah habis masa sebulan, A belum sanggup membayar utangnya karena itu A meminta kepada B agar bersedia menerima penundaan pembayaran. B bersedia menunda waktu pembayaran dengan syarat A menambah pembayaran, sehingga menjadi Rp 1.300,- Tambahan pembayaran dengan penundaan waktu serupa ini disebut riba nas³′ah.
Tambahan pembayaran ini mungkin berkali-kali dilakukan karena pihak yang berutang selalu meminta penundaan pembayaran, sehingga akhirnya A tidak sanggup lagi membayarnya, bahkan kadang-kadang dirinya sendiri terpaksa dijual untuk membayar utangnya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ
“Hai orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah, agar kamu mendapat keberuntungan. (²li ‘Imr±n/3:130).;Riba nas³′ah seperti yang disebutkan di atas banyak berlaku di kalangan orang Arab jahiliah. Inilah riba yang dimaksud Al-Qur′an. Bila dipelajari dan diikuti sistem riba dalam ayat ini dan yang berlaku di masa jahiliah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Sistem bunga merupakan sistem yang menguntungkan bagi yang meminjamkan dan sangat merugikan si peminjam. Bahkan ada kalanya si peminjam terpaksa menjual dirinya untuk dijadikan budak agar dia dapat melunasi pinjamannya.
2. Perbuatan itu pada zaman jahiliah termasuk usaha untuk mencari kekayaan dan untuk menumpuk harta bagi yang meminjamkan.;Menurut Umar Ibnu Kha¯¯ab, ayat Al-Qur′an tentang riba, termasuk ayat yang terakhir diturunkan. Sampai Rasulullah wafat tanpa menerangkan apa yang dimaksud dengan riba. Maka tetaplah riba dalam pengertian yang umum, seperti sistem bunga yang diberlakukan orang Arab pada zaman jahiliah.
Keterangan Umar ini berarti bahwa Rasulullah sengaja tidak menerangkan apa yang dimaksud dengan riba karena orang-orang Arab telah mengetahui benar apa yang dimaksud dengan riba. Bila disebut riba kepada mereka, maka di dalam pikiran mereka telah ada pengertian yang jelas dan pengertian itu telah mereka sepakati maksudnya. Pengertian mereka tentang riba ialah riba nas³′ah. Dengan perkataan lain bahwa sebenarnya Al-Qur′an telah menjelaskan dan menerangkan apa yang dimaksud dengan riba. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw mengenai dua peninggalannya yang harus ditaati:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدِي كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ (رواه ابن ماجه)
Aku telah meninggalkan padamu dua hal, yang kalau kamu berpegang teguh dengannya, kamu tidak akan sesat sepeninggalku ialah Kitabullah dan Sunah Rasul. (Riwayat Ibnu M±jah);Agama yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah agama yang telah sempurna dan lengkap diterima beliau dari Allah, tidak ada yang belum diturunkan kepada beliau.
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
….Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…. (al-M±′idah/5:3);Riba fa«al yaitu menjual sejenis barang dengan jenis barang yang sama dengan katentuan memberi tambahan sebagai imbalan bagi jenis yang baik mutunya, seperti menjual emas 20 karat dengan emas 24 karat dengan tambahan emas 1 gram sebagai imbalan bagi emas 24 karat. Riba fa«al ini diharamkan juga. Dasar hukum haramnya riba fa«al ialah sabda Rasulullah saw:
لاَ تَبِيْعُوْا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةَ بِالْفَضَّةِ وَالْبُرَّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرَ بِالشَّعِيْرِ وَالتَّمَرَ بِالتَّمَرِ وَالْمِلْحَ بِالْمِلْحِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثلٍ فَمَنْ زَادَ اَوِ ازْدَادَ فَقَدْ أَرْبىَ (رواه البخاري وأحمد)
Janganlah kamu jual emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir (padi ladang) dengan sya'ir, tamar dengan tamar (kurma), garam dengan garam, kecuali sama jenis dan kadarnya dan sama-sama tunai. Barang siapa yang menambah atau meminta tambah, maka sesungguhnya dia telah melakukan riba. (Riwayat al-Bukh±r³ dan A¥mad);Sama jenis dan kadarnya dan sama-sama tunai maksudnya ialah jangan merugikan salah satu pihak dari 2 orang yang melakukan barter. Ayat di atas menerangkan akibat yang akan dialami oleh orang yang makan riba, yaitu jiwa dan hati mereka tidak tenteram, pikiran mereka tidak menentu. Keadaan mereka seperti orang yang kemasukan setan atau seperti orang gila.
Orang Arab jahiliah percaya bahwa setan dapat mempengaruhi jiwa manusia, demikian pula jin. Bila setan atau jin telah mempengaruhi jiwa seseorang, maka ia seperti orang kesurupan.
Al-Qur′an menyerupakan pengaruh riba pada seseorang yang melakukannya, dengan pengaruh setan yang telah masuk ke dalam jiwa seseorang menurut kepercayaan orang Arab jahiliah. Maksud perumpamaan pada ayat ini untuk memudahkan pemahaman, bukan untuk menerangkan bahwa Al-Qur′an menganut kepercayaan seperti kepercayaan orang Arab jahiliah.
Menurut jumhur mufasir, ayat ini menerangkan keadaan pemakan riba waktu dibangkitkan pada hari kiamat, yaitu seperti orang yang kemasukan setan. Pendapat ini mengikuti pendapat Ibnu ‘Abb±s dan Ibnu Mas‘ud.
Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw:
إِيَّاكَ وَالذُّنُوْبَ الَّتِي لاَ تُغْفَرُ: اَلْغُلُوْلُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئاً أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَا ٰكِلُ الرِّبَا، فَمَنْ اَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُوْنًا يَتَخَبَّطُ (رواه الطبراني عن عوف بن مالك)
Jauhilah olehmu dosa yang tidak diampuni, yaitu: gulul (ialah menyembunyikan harta rampasan dalam peperangan dan lainnya), maka barang siapa melakukan gulul, nanti barang yang disembunyikan itu akan dibawanya pada hari kiamat. Dan pemakan riba, barang siapa yang memakan riba, dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila, lagi kemasukan (setan). (Riwayat a¯-°abr±n³ dari ‘Auf bin M±lik);Dalam kenyataan yang terdapat di dalam kehidupan manusia di dunia ini, banyak pemakan riba kehidupannya benar-benar tidak tenang, selalu gelisah, tak ubahnya bagai orang yang kemasukan setan. Para mufasir berpendapat, bahwa ayat ini menggambarkan keadaan pemakan riba di dunia. Pendapat ini dapat dikompromikan dengan pendapat pertama, yaitu keadaan mereka nanti di akhirat sama dengan keadaan mereka di dunia, tidak ada ketenteraman bagi mereka.
Dari kelanjutan ayat dapat dipahami, bahwa keadaan pemakan riba itu sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, antara yang bermanfaat dengan mudarat, antara yang dibolehkan Allah dengan yang dilarang, sehingga mereka mengatakan jual beli itu sama dengan riba.
Selanjutnya Allah menegaskan bahwa Dia menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Allah tidak menerangkan sebabnya. Allah tidak menerangkan hal itu agar mudah dipahami oleh pemakan riba, sebab mereka sendiri telah mengetahui, mengalami dan merasakan akibat riba itu.
Dari penegasan itu dipahami bahwa seakan-akan Allah memberikan suatu perbandingan antara jual-beli dengan riba. Hendaklah manusia mengetahui, memikirkan dan memahami perbandingan itu.
Pada jual-beli ada pertukaran dan penggantian yang seimbang yang dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli, ada manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari kedua belah pihak, dan ada pula kemungkinan mendapat keuntungan yang wajar sesuai dengan usaha yang telah dilakukan oleh mereka. Pada riba tidak ada penukaran dan penggantian yang seimbang. Hanya ada semacam pemerasan yang tidak langsung, yang dilakukan oleh pihak yang mempunyai barang terhadap pihak yang sedang memerlukan, yang meminjam dalam keadaan terpaksa.
Setelah Allah menerangkan akibat yang dialami oleh pemakan riba, perkataan yang diucapkan oleh pemakan riba, pikiran yang sedang mempengaruhi keadaan pemakan riba, dan penegasan Allah tentang hukum jual beli dan riba, maka Allah mengajak para pemakan riba dengan ajakan yang lemah lembut, yang langsung meresap ke dalam hati nurani mereka, sebagaimana lanjutan ayat di atas.
Allah swt menyebut larangan tentang riba itu dengan cara mau‘i§ah (pengajaran), maksudnya larangan memakan riba adalah larangan yang bertujuan untuk kebaikan manusia itu sendiri, agar hidup bahagia di dunia dan akhirat, hidup dalam lingkungan rasa cinta dan kasih sesama manusia dan hidup penuh ketenteraman dan kedamaian.
Barang siapa memahami larangan Allah tersebut dan mematuhi larangan tersebut, hendaklah dia menghentikan perbuatan riba itu dengan segera. Mereka tidak dihukum Allah terhadap perbuatan yang mereka lakukan sebelum ayat ini diturunkan. Mereka tidak diwajibkan mengembalikan riba pada waktu ayat ini diturunkan. Mereka boleh mengambil pokok pinjaman mereka saja, tanpa bunga yang mereka setujui sebelumnya.
Dalam ayat ini terkandung suatu pelajaran yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan undang-undang, peraturan atau hukum, yaitu: suatu undang-undang, peraturan atau hukum yang akan ditetapkan tidak boleh berlaku surut jika berakibat merugikan pihak-pihak yang dikenai atau yang dibebani undang-undang, peraturan atau hukum itu, sebaliknya boleh berlaku surut bila menguntungkan pihak-pihak yang dikenai atau dibebani olehnya.
Akhir ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang telah melakukan riba, dan orang-orang yang telah berhenti melakukan riba, kemudian mengerjakannya kembali setelah turunnya larangan ini, mereka termasuk penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Menurut sebagian mufasir, dosa besar yang ditimpakan kepada pemakan riba ini disebabkan karena di dalam hati pemakannya itu telah tertanam rasa cinta harta, lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri, mengerjakan sesuatu karena kepentingan diri sendiri bukan karena Allah. Orang yang demikian adalah orang yang tidak mungkin tumbuh dalam jiwanya iman yang sebenarnya, yaitu iman yang didasarkan pada perasaan, pengakuan dan ketundukan kepada Allah. Seandainya pemakan riba yang demikian masih mengaku beriman kepada Allah, maka imannya itu adalah iman di bibir saja, iman yang sangat tipis dan tidak sampai ke dalam lubuk hati sanubarinya.
Hasan al-Basri berkata, “Iman itu bukanlah perhiasan mulut dan angan-angan kosong, tetapi iman itu adalah ikrar yang kuat di dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan. Barang siapa yang mengatakan kebaikan dengan lidahnya, sedang perbuatannya tidak pantas, Allah menolak pengakuannya itu. Barang siapa mengatakan kebaikan sedangkan perbuatannya baik pula, amalnya itu akan mengangkat derajatnya,”
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ الله َلاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ (رواه مسلم و أحمد)
“Allah tidak memandang kepada bentuk jasmani dan harta bendamu, akan tetapi Allah memandang kepada hati dan amalmu.” (Riwayat Muslim dan A¥mad)
----------
Disalin dari aplikasi Qur'an Kemenag Android

Orang santri senangnya ngaji




Orang santri senangnya ngaji

ngaji Al Qur'an tak jemu jemu
Ingin raih ridlo ilahi
Dengan Allah nanti bertemu.
( ASM) 21.12.2021. SS.
Kapal berlabuh di Bakahuni
Para penumpang saling desakan.
Hapalkan Qur'an hingga mumpuni
Itulah bekal tuk masa depan
( ASM) 21.12.2021.KL

Santri Kampung yang Penting Ngaji


 

Senandung Dakwah



Duet dengan Pak Lurah Gumala

Cuma pegang doang
Senandung Dakwah melalui
Seni Budaya Islam
Tentu punya sanad ya
Giat PAIF, Selasa, 21/12/21

Teman Sejati


 Giat PAIF Selasa, 21/12/21

Yakin AlLAH.....

Giat, Selasa, 21/12/21
 

2 Kemudahan dalam 1 Kesulitan

 Giat, Selasa, 21/12/21
BinLuh
EDISI MOTIVASI
"Bersama 1 Kesulitan ada 2 Kemudahan"
Al-Qur'an surah Asy-Syarḥ ayat 5
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ
Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
TAFSIR TAHLILI
(5) Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa sesungguhnya di dalam setiap kesempitan, terdapat kelapangan, dan di dalam setiap kekurangan sarana untuk mencapai suatu keinginan, terdapat pula jalan keluar. Namun demikian, dalam usaha untuk meraih sesuatu itu harus tetap berpegang pada kesabaran dan tawakal kepada Allah. Ini adalah sifat Nabi saw, baik sebelum beliau diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya, ketika beliau terdesak menghadapi tantangan kaumnya.
Walaupun demikian, beliau tidak pernah gelisah dan tidak pula mengubah tujuan, tetapi beliau bersabar menghadapi kejahatan kaumnya dan terus menjalankan dakwah sambil berserah diri dengan tawakal kepada Allah dan mengharap pahala daripada-Nya. Begitulah keadaan Nabi saw sejak permulaan dakwahnya. Pada akhirnya, Allah memberikan kepadanya pendukung-pendukung yang mencintai beliau sepenuh hati dan bertekad untuk menjaga diri pribadi beliau dan agama yang dibawanya. Mereka yakin bahwa hidup mereka tidak akan sempurna kecuali dengan menghancurleburkan segala sendi kemusyrikan dan kekufuran. Lalu mereka bersedia menebus pahala dan nikmat yang disediakan di sisi Allah bagi orang-orang yang berjihad pada jalan-Nya dengan jiwa, harta, dan semua yang mereka miliki. Dengan demikian, mereka sanggup menghancurkan kubu-kubu pertahanan raja-raja Persi dan Romawi.
Ayat tersebut seakan-akan menyatakan bahwa bila keadaan telah terlalu gawat, maka dengan sendirinya kita ingin keluar dengan selamat dari kesusahan tersebut dengan melalui segala jalan yang dapat ditempuh, sambil bertawakal kepada Allah. Dengan demikian, kemenangan bisa tercapai walau bagaimanapun hebatnya rintangan dan cobaan yang dihadapi.
Dengan ini pula, Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa keadaannya akan berubah dari miskin menjadi kaya, dari tidak mempunyai teman sampai mempunyai saudara yang banyak dan dari kebencian kaumnya kepada kecintaan yang tidak ada taranya.
----------
Disalin dari aplikasi Qur'an Kemenag Android

Silaturrahim Organisasi FKUB: Merawat Kerukunan


Silaturrahim Organisasi FKUB Kota Padang Panjang dengan FKUB Prov. Sumatera Barat, menerima taujih, taushiyyah kerukunan dari Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag

Senin, 20 Desember 2021

Webinar Zikir bersama ASM



 Giat PAIF Senin, 20/12/21

EDISI OBSESI "Kembali ke Masjid Mari Membangun" Tipologi Masjid




BinLuh Senin, 20/12/21

EDISI OBSESI
"Kembali ke Masjid Mari Membangun"
Tipologi Masjid
Menuju Masjid Paripurna
Ramah untuk Semua
Ramah utk jamaah
Ramah utk remaja
Ramah utk anak2
Ramah utk musafir
Ramah utk difabel
Ramah utk lingkungan
Ramah utk ekonomi keumatan

"Sujudlah & Dekatkanlah Diri kepada Allah SWT"


 BinLuh

Edisi Ibadah
"Sujudlah & Dekatkanlah Diri kepada Allah SWT"
Al-Qur'an surah Al-‘Alaq ayat 19
كَلَّاۗ لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩
sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).
TAFSIR TAHLILI
(19) Allah meminta Nabi saw atau siapa saja yang ingin beribadah agar tidak takut dan tidak mematuhi ancaman orang yang melarang mereka beribadah. Mereka diminta untuk tetap melaksanakan ibadah dengan tekun, terutama salat, dan menggunakan masjid untuk melaksanakannya. Dalam ayat lain, Allah berfirman:
وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَدَعْ اَذٰىهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا ٤٨
Dan janganlah engkau (Muhammad) menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah engkau hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (al-Ahzab/33: 48);Di samping salat, umat Islam diminta pula mengerjakan ibadah-ibadah sunat lainnya dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, baik itu berupa salat-salat sunat maupun zikir-zikir, dan sebagainya.
----------
Disalin dari aplikasi Qur'an Kemenag Android

"TASBIH MENSUCIKAN ALLAH YANG MAHA AGUNG"

 

BinLuh
Edisi IMAN
"TASBIH MENSUCIKAN ALLAH YANG MAHA AGUNG"
Al-Qur'an surah Al-Wāqi‘ah ayat 96
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.
TAFSIR TAHLILI
(95-96) Ayat-ayat ini menerangkan, bahwa segala sesuatu yang telah diungkapkan dalam surah ini, baik yang mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hari kebangkitan yang mereka dustakan maupun yang bertalian dengan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran adanya hal-hal yang akan terjadi setelah hari kebangkitan, yaitu yang berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan yang akan diterima oleh golongan (muqarrabiin) Ashshabul-yamiin dan siksaan Tuhan yang akan menimpa golongan Ashshabusy-syimaal, semua itu adalah berita yang meyakinkan, yang tidak mengandung sedikit pun hal-hal yang diragukan.
Berhubungan dengan itu, manusia diperintahkan oleh Allah supaya memperbanyak ibadah dan amal saleh, antara lain dengan membaca tasbih, untuk mengagungkan Allah, Tuhan Yang Mahaagung.
Dalam hubungan ayat ini terdapat hadis Nabi yang berbunyi:
وَلَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ، قَالَ اجْعَلُوْهَا فِى رُكُوْعِكُمْ، وَلَمَّا نَزَلَتْ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى قَالَ اجْعَلُوْهَا فِيْ سُجُوْدِكُمْ. (رواه أحمد وابو داود وابن ماجه عن عقبة بن عامر الجهني)
Tatkala turun ayat Fasabbih Bismirabbikal-‘Adhiim, kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Jadikanlah bacaan Tasbih pada saat kamu ruku‘ (yaitu dengan membaca Subhanarabbial-‘Adhiim)”, dan tatkala turun ayat Sabbihissmarabbikal A‘laa Rasulullah bersabda, “Jadikanlah bacaan Tasbih ini ketika kamu sujud (yaitu dengan membaca Subhanarabbial-A‘laa)” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari ‘Uqbah bin ‘Amir al- Juhani)
----------
Disalin dari aplikasi Qur'an Kemenag Android

Edisi Renungan Pagi "Generasi Rebahan....? Mau Kemana...?


BinLuh Minggu, (19/12/21)

Edisi Renungan Pagi
"Generasi Rebahan....? Mau Kemana...?
Tidak dapat dipungkiri generasi milenial saat ini
menjelma menjadi generasi "rebahan".
Dengan rebah-rebah
mereka asyik dengan dirinya sendiri
memegang android
mereka berselancar di sosmed
ada juga yang game online.
Apalagi pada masa wabah
lebih lagi...
alasan BDR belajar dari rumah
tambah Kuliah Online.
Sholat dulu nak...!! Lagi belajar bu....
masak iya. .belajarnya masih lanjut nak ...ini sudah waktu sholat...
Ngaji dulu nak...sebentar ayah...lagi kuliah...
masak kuliahnya tak ada waktu istirahat2nya...
Bantu kakak dik belikan minyak goreng di warung sebelah..!!!
Sebentar kak...sedikit lagi masih tanggung...
Apanya yang tanggung dik...?
Yayang....bisa antar dedek ke pasar....?!!
Maaf dek...yayangmu lagi WFH...
Beb...bikinan uda kopi ya...
Bikin sendiri ya uda...
ini lagi posting produk reseller...
padahal sebelahan dit4tidurnya
Bro...ngak ke masjid...Yuk ada pengajian
Ngaklah....nanti bisa lihat di youtube..
Begitulah potret generasi saat ini
generasi milenial penuh tantangan sekaligus harapan besar memandu perubahan, kemajuan & kesuksesan
Harapan agar mereka bisa menjadi pekerja keras, pejuang ilmu, produktif, meneruskan estafet kepemimpinan bangsa...
dengan realitas saat ini...
Belum lagi anak muda tempo dulu...lansia sekarang
juga asyik dengan pasangan barunya...
HP Android ...barusan dibelikan anak kesayangannya...
Juga mulai meniru...ikut generasi rebahan..???
Di sisi yang lain....ada umat lain....warga sebelah...
produsen HP Android... tekhnologi informasi digital....
hanya pakai HP jadul...memegang android hanya sesekali...saat diperlukan saja...mereka berkumpul bersama...tertawa ria...saling menyapa ..mendengarkan cerita...jauh dari kebisingan...menikmati hidup ...menjadi manusia normal...
Sementara kita seperti sudah tidak normal lagi...
padahal kita umat terbaik...umat pilihan di permukaan bumi...seperti hanya tinggal berupa kata2...
Menjawab itu semua....kembali kepada kita masing2
mari selamatkan generasi..
Generasi Rebahan sadarlah...
Jadilah generasi produktif, thaat, hebat, berakhlak...!!!
Memandu perubahan & kemajuan dengan dasar iman & taqwa...Jangan menjadi beban & hilang ditelan arus perubahan zaman...!!!

Kajian Kitab Fathurrabbani bersama Tuan Guru KH Shalahuddin Asy-Syarqawi

 BinLuh

Kajian Kitab Fathurrabbani
bersama Tuan Guru KH Shalahuddin Asy-Syarqawi
Pimpinan Pesantren Kumpeh Daarut Tauhid Jambi
Tema "Cara Membersihkan Karatan Hati"
1. Banyak membaca Al-Qur'an
2. Sering bershalawat
3. Sering ingat kematian
4. Menghadiri majelis ilmu
5. Berkawan dengan orang2 sholeh
6. Banyak membantu sesama
Minggu, 19/12/21


Giat PAIF bersama BKPRMI




Mendampingi Ketua DPW BKPRMI Sumatera Barat Dr. Nurlizam, M.Ag

dalam kegiatan Silaturrahim Kunjungan DPD BKPRMI Kota Jambi
di Masjid Raya Sumatera Barat,
dihadiri Ketua DPRD Kota Padang Syafrial Kani, SH, Pun Ardi, S.Ag Anggota DPRD Kota Padang, Kabag Kesra Kota Padang, Ketua DPD BKPRMI Kota Padang Galuh Febriyan Putra, SE.
(Jum'at, 17/12)

Waktu Terbaik bersama Al-Qur'an


 

Edisi Obrolan Seputar Soal Islam Peran Penyuluh Agama Islam dalam Membumikan Islam

BinLuh


Edisi Obrolan Seputar Soal Islam
Peran Penyuluh Agama Islam dalam Membumikan Islam
Narasumber: H. Ahmad Hidayatullah, S.HI
Host: Ida Faridah, S.Ag
GIAT PAIF Jum'at, 17/12/21

MATERI BINLUH: KUN FAYAKUN


 Giat PAIF Jum'at, 17/12/2021

Apresiasi untuk PAI Non PNS


 Ust. Jasriman memperoleh penghargaan dari Kakanwil Kementerian Agama Prov. Sumatera Barat saat Festival Literasi Zakat & Wakaf Tahun 2021 (Kamis, 16/12)

Kampanye Zakat Wakaf Penyuluh Agama


 Giat Penyuluh Agama Islam (Jum'at, 17/12)