BAHAYA LISAN MENURUT IMAM AL-GHAZALI
Imam Abu Hamid Al-Ghazali memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lisan dalam Ihya' 'Ulum al-Din, khususnya pembahasan Kitab Āfāt al-Lisān — Kitab Bahaya-Bahaya Lisan.
Beliau mengingatkan bahwa lisan memiliki banyak pintu yang dapat menyeret manusia kepada dosa.
Di antara bahaya lisan yang dibahas Al-Ghazali adalah:
1. Berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat
Tidak semua percakapan yang tidak haram otomatis memberikan manfaat.
Seorang Muslim perlu belajar meninggalkan perkataan yang sia-sia.
2. Berlebihan dalam berbicara
Terlalu banyak berbicara meningkatkan kemungkinan seseorang:
salah bicara,
menyakiti orang,
membuka aib,
berdusta,
atau terjerumus dalam dosa.
3. Membicarakan sesuatu yang tidak diketahui
Berbicara tanpa ilmu dapat menyesatkan orang lain.
4. Berdebat dan bertengkar
Perdebatan yang tidak bertujuan mencari kebenaran dapat berubah menjadi ajang mempertahankan ego.
5. Berdusta
Kebohongan menghancurkan kepercayaan.
6. Ghibah
Membicarakan keburukan seseorang di belakangnya.
7. Namimah
Membawa perkataan seseorang kepada orang lain sehingga menimbulkan kerusakan.
8. Membuka aib orang lain
Menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan pembicaraan.
9. Mencela dan menghina
Merendahkan martabat orang lain.
10. Perkataan keji dan kotor
Islam mengajarkan kesucian ucapan sebagaimana kesucian hati.
11. Sumpah yang tidak perlu
Lisan terkadang mudah mengucapkan sumpah hanya untuk meyakinkan orang.
12. Pujian yang berlebihan
Pujian yang berlebihan dapat menimbulkan kesombongan atau bahkan menjadi bentuk manipulasi.
13. Membocorkan rahasia
Rahasia adalah amanah. Membocorkannya tanpa alasan yang dibenarkan merupakan pengkhianatan.
G. LIDAH DAN JARI: DUA ALAT YANG HARUS DIJAGA
Dahulu orang berkata:
“Jaga lisanmu.”
Hari ini nasihat tersebut perlu diperluas:
Jaga lisanmu dan jaga jarimu.
Sebab apa yang dahulu hanya bisa disampaikan kepada beberapa orang, sekarang dapat tersebar kepada ribuan orang dalam hitungan detik.
Contohnya:
WhatsApp,
Facebook,
Instagram,
TikTok,
YouTube,
komentar,
grup keluarga,
grup masyarakat,
dan berbagai platform digital lainnya.
Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan:
BENAR?
Apakah informasinya benar?
BAIK?
Apakah membawa kebaikan?
PERLU?
Apakah memang perlu disampaikan?
BERMANFAAT?
Apakah ada manfaatnya?
Kalau empat pertanyaan ini tidak terpenuhi, jangan terburu-buru mengirim.
H. FITNAH DIGITAL: DOSA YANG BISA TERUS BERJALAN
Salah satu persoalan zaman sekarang adalah penyebaran informasi yang tidak benar.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengajarkan tabayyun.
Jangan karena judulnya menarik lalu langsung dibagikan.
Jangan karena dikirim oleh orang yang kita kenal lalu langsung dipercaya.
Jangan karena sesuai dengan pendapat kita lalu dianggap pasti benar.
Tidak semua yang viral itu benar.
Tidak semua yang benar perlu diviralkan.
I. LIMA PERTANYAAN SEBELUM BERBICARA
Mari kita jadikan sebagai “Filter 5T”:
1. Tepatkah?
Apakah informasi ini benar?
2. Tujuankah?
Apa tujuan saya berbicara?
3. Tempatkah?
Apakah ini waktu dan tempat yang tepat?
4. Teruskah?
Apakah informasi ini memang perlu diteruskan?
5. Tanggung jawabkah?
Apakah saya siap mempertanggungjawabkan ucapan ini di hadapan Allah?
Jika tidak yakin, diam.
Diam bukan berarti lemah.
Kadang diam adalah bentuk kecerdasan, kesabaran dan ketakwaan.
J. MENJAGA LISAN BUKAN BERARTI DIAM TERHADAP KEBENARAN
Perlu dipahami bahwa menjaga lisan bukan berarti tidak boleh berbicara.
Islam justru mengajarkan manusia untuk:
berkata benar,
menyampaikan nasihat,
amar ma'ruf nahi munkar,
membela orang yang dizalimi,
mendamaikan pihak yang bertikai,
memberikan kesaksian,
menyampaikan ilmu,
dan menyeru kepada kebaikan.
Yang harus dijaga adalah cara, niat, kebenaran dan dampak ucapan.
Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)
Jadi prinsipnya bukan:
“Jangan bicara.”
Tetapi:
“Bicaralah ketika ucapanmu membawa kebaikan.”
K. TANDA ORANG YANG MAMPU MENJAGA LISAN
Orang yang menjaga lisannya biasanya:
Tidak tergesa-gesa menjawab.
Tidak senang membuka aib orang.
Tidak menjadikan kekurangan orang sebagai hiburan.
Tidak mudah menyebarkan berita.
Tidak suka memperpanjang perdebatan.
Berani mengatakan “saya tidak tahu”.
Meminta maaf ketika salah bicara.
Lebih suka mendamaikan daripada mengadu domba.
Berbicara dengan santun kepada orang yang berbeda.
Membiasakan lisannya dengan dzikir dan kalimat thayyibah.
L. LATIHAN PRAKTIS MENJAGA LISAN
Program 24 Jam Menjaga Lisan
Ajak peserta penyuluhan mencoba selama satu hari:
Pertama: tidak menggunjing.
Kedua: tidak mencela.
Ketiga: tidak menyebarkan berita yang belum jelas.
Keempat: tidak membalas perkataan kasar dengan perkataan kasar.
Kelima: tidak membuka aib orang.
Keenam: mengurangi percakapan yang tidak bermanfaat.
Ketujuh: mengganti ucapan negatif dengan dzikir, doa atau kalimat positif.
Di akhir hari, lakukan muhasabah:
“Berapa banyak ucapan saya hari ini yang mendekatkan saya kepada Allah?”
Dan:
“Berapa banyak ucapan saya yang seandainya bisa diulang, ingin saya tarik kembali?”
M. KETIKA SUDAH TERLANJUR MENYAKITI DENGAN LISAN
Jika kita pernah menyakiti seseorang dengan ucapan, jangan gengsi untuk meminta maaf.
Katakan:
“Maaf, ucapan saya tadi salah. Saya tidak seharusnya mengatakan itu.”
Jangan mencari pembenaran:
“Saya kan cuma bercanda.”
Karena niat bercanda tidak otomatis menghapus luka yang ditimbulkan.
Dan apabila kita pernah melakukan ghibah, maka lakukan taubat kepada Allah dan berhati-hati agar tidak semakin memperluas pembicaraan yang salah tersebut. Jika menyangkut hak orang lain, pertimbangkan cara memperbaiki kerugian dan hubungan dengan bijaksana, tanpa menimbulkan mudarat baru.
N. RENUNGAN: SUATU SAAT LISAN AKAN DIAM
Ada saatnya manusia tidak mampu lagi berbicara.
Tidak bisa membela diri.
Tidak bisa menjelaskan maksud.
Tidak bisa meminta kesempatan kedua.
Itulah ketika kematian datang.
Allah mengingatkan:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)
Hari ini kita menggunakan lisan untuk berbicara.
Kelak anggota tubuh kita sendiri yang menjadi saksi.
Maka sebelum lisan kita menjadi saksi atas keburukan kita, jadikan lisan sebagai jalan menuju keselamatan.
O. KESIMPULAN
Menjaga lisan bukan perkara kecil.
Ia adalah bagian dari iman dan akhlak seorang Muslim.
Lisan dapat menjadi:
JALAN KE SURGA
dengan dzikir, ilmu, doa, nasihat dan perkataan baik.
Tetapi lisan juga dapat menjadi:
JALAN MENUJU DOSA
melalui dusta, ghibah, fitnah, namimah, celaan, penghinaan dan perkataan sia-sia.
Karena itu, mari kita pegang prinsip:
“SARING SEBELUM SHARING.”
“PIKIR SEBELUM BICARA.”
“TABAYYUN SEBELUM MENYEBARKAN.”
“DIAM JIKA TIDAK ADA KEBAIKAN YANG DAPAT DIUCAPKAN.”
Dan yang paling penting:
Jangan biarkan lisan yang hanya beberapa sentimeter panjangnya membawa kita kepada penyesalan yang panjang di akhirat.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَاجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا سَبَبًا لِلْخَيْرِ وَالْمَحَبَّةِ وَالْإِصْلَاحِ.
“Ya Allah, bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah dan namimah. Bersihkan hati kami dari kebencian dan kedengkian. Jadikan lisan kami senantiasa basah dengan mengingat-Mu, dan jadikan perkataan kami sebab lahirnya kebaikan, kasih sayang dan perdamaian.”
Aamiin.
Rujukan utama
Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah: 83; Al-Isra’: 53; Al-Ahzab: 70–71; Al-Hujurat: 6, 11–12; Qaf: 18; Yasin: 65.
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: hadis “berkata baik atau diam”, ghibah, dan namimah.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Āfāt al-Lisān (Bahaya-Bahaya Lisan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar