Kamis, 17 September 2026

MENJAGA LISAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

 


MENJAGA LISAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Ketika Kata-Kata Menjadi Amal dan Lisan Menjadi Jalan Keselamatan

Oleh: Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur

Ada sesuatu yang kecil pada tubuh manusia, tetapi dampaknya bisa sangat besar: lisan.

Dengan lisan, seseorang dapat menenangkan hati yang sedang gelisah, mendamaikan dua orang yang berselisih, memberikan semangat kepada orang yang hampir menyerah, mengajarkan ilmu, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa.

Tetapi dengan lisan yang sama, seseorang juga dapat menghancurkan persahabatan, meretakkan rumah tangga, memecah persaudaraan, membuka aib, menyebarkan fitnah bahkan menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam dosa.

Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lisan.

Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak sebelum berbicara. Sebab setiap kata bukan sekadar suara yang hilang di udara. Ada malaikat yang mencatatnya dan kelak semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketika Lisan Tidak Lagi Hanya Berupa Suara

Dahulu kita mengenal nasihat: “Jagalah lisanmu.”

Hari ini nasihat tersebut perlu diperluas menjadi:

“Jagalah lisanmu dan jagalah jarimu.”

Sebab perkataan tidak lagi hanya keluar dari mulut. Ia juga keluar melalui jari-jari kita.

Satu komentar di media sosial, satu unggahan, satu pesan WhatsApp, satu rekaman suara, bahkan satu tindakan forward dapat menyebar jauh lebih cepat daripada perkataan yang disampaikan secara langsung.

Karena itu, persoalan menjaga lisan pada zaman digital sesungguhnya menjadi semakin penting.

Sebelum berbicara atau mengirim sesuatu, kita perlu bertanya:

Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

Jika tidak, mungkin diam adalah pilihan yang lebih selamat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sederhana, tetapi sangat dalam. Islam tidak mengajarkan kita untuk selalu diam. Islam mengajarkan agar setiap perkataan memiliki nilai kebaikan.

Benar Saja Belum Cukup

Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan kita berkata benar, tetapi juga berkata dengan cara yang baik.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
(QS. Al-Isra’: 53)

Ini penting.

Kadang seseorang berkata, “Saya hanya menyampaikan kebenaran.”

Namun kebenaran yang disampaikan dengan cara yang kasar dapat melukai hati. Nasihat yang benar tetapi disampaikan dengan penghinaan dapat membuat orang justru menjauh.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya belajar apa yang harus dikatakan, tetapi juga belajar bagaimana mengatakannya.

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Kebenaran membutuhkan keberanian, tetapi penyampaiannya membutuhkan kebijaksanaan.

Ghibah: Obrolan yang Terasa Ringan, Dosanya Berat

Salah satu penyakit lisan yang sering dianggap biasa adalah ghibah.

Kadang ia dimulai dari percakapan sederhana:

“Kamu tahu tidak, si fulan itu sebenarnya begini…”

Lalu pembicaraan berkembang.

Kekurangan seseorang dibahas. Kesalahannya diceritakan. Aibnya dibuka. Orang yang tidak hadir menjadi bahan percakapan.

Yang lebih berbahaya, ghibah sering dibungkus dengan kalimat:

“Saya bukan menjelek-jelekkan, saya hanya cerita.”

Padahal Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang ia tidak sukai.

Allah memberikan gambaran yang sangat keras:

“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Mengapa Allah menggunakan gambaran yang begitu mengerikan?

Karena ghibah sering terasa ringan ketika dilakukan, tetapi dampaknya sangat merusak kehormatan manusia.

Yang lebih menyedihkan, seseorang bisa saja rajin beribadah tetapi lisannya masih sibuk memakan kehormatan saudaranya.

Ketika Informasi Menjadi Fitnah

Di era media sosial, tantangan menjaga lisan bertambah besar karena kita hidup dalam arus informasi yang begitu deras.

Berita datang setiap saat.

Video beredar.

Potongan percakapan menjadi viral.

Judul berita dibuat sedemikian menarik agar orang segera membuka dan membagikannya.

Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan tabayyun.

Allah SWT berfirman:

فَتَبَيَّنُوا

“Maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Jangan sampai kita menjadi bagian dari rantai penyebaran berita yang ternyata tidak benar.

Kadang kita bukan pembuat fitnah, tetapi kita menjadi perantara penyebarnya.

Maka sebuah prinsip sederhana patut kita tanamkan:

Tidak semua yang kita dengar harus kita ceritakan.

Tidak semua yang kita baca harus kita bagikan.

Tidak semua yang viral berarti benar.

Namimah: Menjadi Kurir yang Membawa Api

Ada pula bahaya lisan yang disebut namimah, yaitu membawa perkataan seseorang kepada orang lain dengan cara yang menimbulkan kerusakan hubungan.

Kalimatnya sering sangat sederhana:

“Saya sebenarnya tidak bermaksud mengadu, tetapi tadi dia mengatakan sesuatu tentang kamu…”

Setelah itu hubungan berubah.

Yang tadinya biasa menjadi curiga.

Yang tadinya akrab menjadi bermusuhan.

Yang tadinya damai menjadi bertengkar.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap perilaku ini.

Karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat, kita jangan menjadi kurir konflik.

Jadilah jembatan perdamaian.

Jika mendengar sesuatu yang berpotensi menimbulkan permusuhan, jangan buru-buru menyebarkannya. Jika mampu, justru redam dan selesaikan dengan cara yang bijaksana.

Imam Al-Ghazali dan “Penyakit-Penyakit Lisan”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, khususnya pembahasan Āfāt al-Lisān atau bahaya-bahaya lisan, memberikan perhatian yang sangat serius terhadap persoalan ini.

Menurut pembahasan beliau, lisan memiliki banyak pintu yang dapat membawa manusia kepada kebinasaan.

Di antaranya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, terlalu banyak berbicara, berbicara tanpa ilmu, berdebat, berdusta, ghibah, namimah, membuka aib, mencela, berkata kotor, membuka rahasia dan berbagai bentuk ucapan yang merusak.

Pelajaran penting dari Al-Ghazali adalah bahwa bahaya lisan tidak hanya terletak pada kata-kata yang jelas-jelas haram.

Percakapan yang berlebihan dan tidak bermanfaat pun perlu diwaspadai karena semakin banyak seseorang berbicara, semakin banyak pula peluang salah dan tergelincir.

Karena itu, kemampuan menahan diri untuk tidak berbicara merupakan bagian dari latihan spiritual.

Kadang Diam Lebih Sulit daripada Berbicara

Berbicara itu mudah.

Menjawab komentar orang mudah.

Membalas hinaan juga mudah.

Yang sulit adalah menahan diri ketika kita sebenarnya mampu membalas.

Di situlah kualitas akhlak diuji.

Ketika seseorang menghina kita, kita mempunyai pilihan.

Membalas dengan hinaan.

Atau memilih kalimat yang lebih baik.

Ketika seseorang membuka aib kita, kita mempunyai pilihan.

Membuka aibnya kembali.

Atau menghentikan rantai keburukan.

Ketika mendapatkan informasi yang belum jelas, kita mempunyai pilihan.

Langsung membagikannya.

Atau memilih tabayyun.

Di situlah iman bekerja.

Lisan yang Baik, Hati yang Baik

Lisan sebenarnya adalah cermin dari apa yang ada di dalam hati.

Hati yang dipenuhi kebencian mudah melahirkan celaan.

Hati yang dipenuhi iri mudah membicarakan kekurangan orang lain.

Hati yang dipenuhi kesombongan mudah merendahkan.

Sebaliknya, hati yang dekat dengan Allah akan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Karena itu, menjaga lisan tidak cukup hanya dengan menutup mulut.

Kita juga harus membersihkan hati.

Ketika hati dipenuhi dzikir, lisan akan lebih mudah mengucapkan kalimat yang baik.

Ketika hati dipenuhi kasih sayang, lisan akan lebih mudah memberikan nasihat dengan kelembutan.

Ketika hati dipenuhi kesadaran bahwa semua ucapan dicatat Allah, kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Satu Kalimat Bisa Menjadi Sedekah

Jangan mengira menjaga lisan hanya berarti menghindari dosa.

Lisan juga dapat menjadi sumber pahala.

Mengucapkan subhanallah adalah kebaikan.

Membaca Al-Qur’an adalah kebaikan.

Mendoakan orang lain adalah kebaikan.

Mengucapkan terima kasih adalah kebaikan.

Meminta maaf adalah kebaikan.

Menghibur orang yang sedang bersedih adalah kebaikan.

Mendamaikan orang yang bertikai adalah kebaikan.

Bahkan satu kalimat sederhana:

“Saya percaya kamu bisa melewati ini.”

bisa menjadi kekuatan bagi seseorang yang sedang berada dalam titik terendah hidupnya.

Maka jangan hanya bertanya:

“Bagaimana agar lisan saya tidak berdosa?”

Tetapi bertanyalah:

“Bagaimana agar lisan saya menjadi sumber pahala?”

Sebelum Lisan Terdiam Selamanya

Ada saatnya lisan kita tidak mampu lagi berbicara.

Tidak mampu menjelaskan.

Tidak mampu membela diri.

Tidak mampu meminta maaf.

Tidak mampu mengatakan “saya salah.”

Itulah saat kematian datang.

Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)

Hari ini kita berbicara sesuka hati.

Kelak kita akan mempertanggungjawabkan apa yang pernah kita ucapkan.

Maka sebelum lisan kita ditutup oleh kematian, mari kita gunakan ia untuk memperbanyak kebaikan.

Kurangi mencela.

Perbanyak mendoakan.

Kurangi menggunjing.

Perbanyak menasihati dengan kasih sayang.

Kurangi menyebarkan aib.

Perbanyak menutup aib saudara.

Kurangi perdebatan.

Perbanyak mencari jalan perdamaian.

Kurangi menyebarkan berita yang belum jelas.

Perbanyak tabayyun.

Dan ketika tidak ada kebaikan yang dapat kita katakan:

DIAMLAH.

Sebab boleh jadi, satu diam yang kita pilih hari ini adalah salah satu sebab keselamatan kita di akhirat.

Pada akhirnya, lisan kita hanya memiliki dua kemungkinan:

menjadi saksi kebaikan kita, atau menjadi saksi keburukan kita.

Maka mari kita berdoa agar setiap kata yang keluar dari mulut kita menjadi kata yang Allah ridai.

“Ya Allah, bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah dan namimah. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir kepada-Mu. Jadikan setiap perkataan kami membawa kebaikan, kedamaian dan keberkahan bagi sesama.”

Aamiin.

Tidak ada komentar: