Kamis, 27 November 2025

KATA-KATA TERAPI HEALING UNTUK KORBAN BENCANA & SIKAP SEORANG MUSLIM MENGHADAPI UJIAN BENCANA ALAM

 


🌧️ KATA-KATA TERAPI HEALING UNTUK KORBAN BENCANA

1.
“Air boleh menghanyutkan rumah kita, tetapi jangan biarkan ia menghanyutkan harapan kita. Selama masih ada napas, di situ ada kesempatan Allah untuk memulai lagi.”

2.
“Yang runtuh hanyalah bangunan, bukan semangatmu. Yang hilang hanyalah harta, bukan derajatmu di sisi Allah. Bersabarlah, karena Allah sedang menyiapkan ganti yang lebih indah.”

3.
“Musibah ini bukan akhir cerita—ini hanya jeda, tempat Allah memeluk kita lewat ujian. Setelah badai, insyaAllah ada cahaya yang lebih terang.”

4.
“Engkau boleh menangis, karena air mata bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa hatimu masih hidup, dan Allah dekat dengan hati yang patah.”

5.
“Jangan merasa sendirian. Ada Allah yang Maha Melihat, ada saudara-saudaramu yang siap menguatkan. Kita bangkit bersama.”

6.
“Setiap tanah yang tertimbun, setiap harta yang hanyut, Allah gantikan dengan pahala tanpa batas jika engkau bersabar dan tetap percaya.”

7.
“Kadang Allah mengambil apa yang kita sayang bukan untuk menyakitkan, tetapi untuk membersihkan, menaikkan derajat, dan menguatkan kita.”

🌿 SIKAP SEORANG MUSLIM MENGHADAPI UJIAN BENCANA ALAM

1. Sabar dan Ridha

Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Musibah bukan tanda Allah benci. Kadang itu tanda Allah ingin mendekatkan hamba-Nya.

2. Husnuzan kepada Allah

Berbaik sangka bahwa setiap musibah membawa hikmah:
— membersihkan dosa,
— menaikkan derajat,
— menguatkan jiwa,
— mendekatkan hati kepada akhirat.

3. Banyak Berdoa dan Memohon Pertolongan

Doa Nabi ketika tertimpa musibah:
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma’jurni fi mushibati wakhluf li khairan minha.”
(Ya Allah, berilah aku pahala dari musibahku dan berilah ganti yang lebih baik.)

4. Introspeksi & Muhasabah

Bencana mengingatkan bahwa dunia fana. Ia memanggil kita untuk kembali kepada Allah dengan hati yang lebih lembut.

5. Saling Menguatkan dan Tolong-Menolong

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan empati seperti satu tubuh…”
(HR. Muslim)

Ketika satu bagian sakit—kita semua merasakannya.

6. Tetap Berusaha dan Bangkit

Ujian bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menguatkan.
Kita menangis sejenak, lalu bangkit perlahan.

7. Yakin Bahwa Setelah Kesulitan Ada Kemudahan

Allah menegaskan dua kali:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)

Artinya: kesulitan tidak akan pernah datang sendirian.

🌈 PENUTUP: PESAN PENGUAT

“Saudaraku, musibah ini mungkin menghancurkan banyak hal, tapi jangan biarkan ia menghancurkan imanmu. Allah melihat perjuanganmu, mendengar doa-doamu, dan mencatat setiap tetes air mata sebagai pahala. Kita akan bangkit. Bersama. Dengan pertolongan Allah.”

Kelembutan Istri dan Ketegasan Suami adalah Keseimbangan


Kelembutan Istri dan Ketegasan Suami adalah Keseimbangan

Inspirasi: (QS. An-Nisa: 34)

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Pendahuluan

Dalam kehidupan rumah tangga, Allah menciptakan suami dan istri dengan karakter yang berbeda, namun saling melengkapi. Suami diberi sifat qawwam—pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab. Istri dianugerahi sifat rahmah—kelembutan yang menyejukkan. Dua karakter ini bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk membangun keseimbangan yang harmonis.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 34:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan...”

Ayat ini bukan untuk meninggikan satu pihak, tetapi untuk menjelaskan porsi peran dalam menjaga keharmonisan keluarga.

1. Ketegasan Suami: Bukan Kasar, tetapi Bertanggung Jawab

Ketegasan suami yang dimaksud bukanlah suara keras atau sikap otoriter, tetapi:

✔ Tegas dalam memimpin

Menjadi nahkoda yang menentukan arah perjalanan keluarga.

✔ Tegas dalam melindungi

Suami menjaga keluarga dari bahaya moral, ekonomi, maupun lingkungan.

✔ Tegas dalam komitmen

Tidak mudah goyah oleh godaan dan gejolak emosi.

Suami yang tegas akan memberikan rasa aman, karena istri dan anak merasa berada di bawah kepemimpinan yang jelas dan bertanggung jawab.

2. Kelembutan Istri: Bukan Lemah, tetapi Menguatkan

Kelembutan adalah kekuatan emosional yang mampu:

✔ Menenangkan suasana ketika rumah tangga diuji

Kelembutan istri sering menjadi perekat saat suami berada pada titik lelah.

✔ Menyuburkan cinta

Senyum dan tutur lembut istri dapat mengubah rumah menjadi tempat paling nyaman.

✔ Menjadikan suami lebih tenang memimpin

Suami yang diperlakukan dengan lembut akan lebih mudah membuka diri dan berdialog.

Istri lembut bukan berarti istri pasif—justru ia adalah penyejuk yang menguatkan langkah suami.

3. Mengapa Keseimbangan Itu Penting?

Di zaman modern, banyak rumah tangga goyah karena:

  • Suami terlalu keras, kurang komunikasi.

  • Atau sebaliknya, suami hilang wibawa sehingga keluarga kehilangan arah.

  • Istri kehilangan kelembutan karena tekanan hidup, sehingga rumah terasa tegang.

  • Pasangan saling menuntut, bukan saling melengkapi.

Padahal keluarga bagaikan sayap burung: satu lembut, satu kokoh. Bila keduanya berfungsi, maka rumah tangga terbang tinggi.

4. Keseimbangan dalam Praktik Sehari-hari

🔹 Suami

  • Mengambil keputusan dengan musyawarah

  • Menunjukkan keteladanan

  • Menyayangi tanpa kehilangan wibawa

🔹 Istri

  • Menyampaikan pendapat dengan adab

  • Menjadi penenang dalam konflik

  • Menguatkan peran suami tanpa merasa direndahkan

🔹 Bersama

  • Berdoa dan beribadah bersama

  • Mengelola emosi saat masalah muncul

  • Saling memaafkan sebelum tidur

5. Pesan Kunci untuk Jamaah

💠 Suami bukan raja yang harus dilayani tanpa batas, tapi pemimpin yang harus amanah.
💠 Istri bukan pembantu atau pengikut, tapi partner yang mulia dan dimuliakan.
💠 Ketegasan tanpa kelembutan adalah kekerasan.
💠 Kelembutan tanpa ketegasan adalah kelemahan.
💠 Jika digabungkan, keduanya menjadi keseimbangan yang melahirkan sakinah.

Penutup

Keseimbangan antara ketegasan suami dan kelembutan istri adalah tanda bahwa rumah itu berjalan sesuai fitrah yang Allah desain. Ketika suami memimpin dengan adil, dan istri mendampingi dengan kasih, maka rumah tangga akan dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Rabu, 26 November 2025

Waspada: Kenakalan Tidak Hanya Remaja, Juga Kenakalan Orang Tua

Waspada: Kenakalan Tidak Hanya Remaja, Juga Kenakalan Orang Tua

Fenomena Sosial yang Mengkhawatirkan, Penyebab, dan Solusinya

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)


Selama ini, ketika mendengar istilah kenakalan, pikiran kita langsung tertuju pada kenakalan remaja—tawuran, bolos sekolah, pergaulan bebas, atau penyalahgunaan gawai. Padahal, kenyataan sosial hari ini menunjukkan fenomena yang jauh lebih memprihatinkan: kenakalan orang tua—orang dewasa yang seharusnya menjadi teladan, justru menjadi pelaku tindakan menyimpang dan merusak.

Fenomena yang Mengguncang Moral Publik

Dalam beberapa tahun terakhir, media massa—baik nasional maupun lokal—terus mengabarkan kasus-kasus yang mengoyak nurani:

1. Pencabulan dan pemerkosaan oleh orang dekat

Pelaku bukan orang asing, tetapi:

  • kakek mencabuli cucunya,

  • ayah memperkosa anak kandung,

  • paman, tetangga dekat, guru mengaji, pelatih olahraga, bahkan tokoh masyarakat.

Fenomena ini bukan hanya kejahatan seksual, tetapi pengkhianatan terhadap amanah, runtuhnya fungsi proteksi keluarga.

2. Atasan melecehkan bawahan

Di kantor, sekolah, kampus, hingga dunia industri, muncul kasus:

  • pelecehan oleh pejabat,

  • hubungan tidak sehat berbasis kuasa (power harassment),

  • ancaman “kalau tidak mau, kamu saya pecat.”

Ini menunjukkan rusaknya integritas dan hilangnya rasa takut kepada Allah.

3. CCTV di kamar mandi kos-kosan / ruang privat

Pemilik kos, penjaga keamanan, bahkan penyewa lain memasang kamera tersembunyi demi kepuasan nafsu. Perilaku ini menunjukkan betapa tipu daya teknologi tanpa iman dapat menyeret seseorang pada kehinaan.

4. LGBT sebagai gaya hidup

Sebagian orang dewasa memperlakukan orientasi seksual menyimpang sebagai tren modern, bahkan mempromosikannya kepada generasi muda. Sementara Islam menegaskan bahwa perilaku kaum Nabi Luth adalah pelanggaran fitrah kemanusiaan dan penyebab kehancuran moral.

5. Pesta narkoba dan seks

Tidak hanya dilakukan anak muda; faktanya, banyak pelakunya adalah:

  • pegawai negeri,

  • pejabat,

  • orang tua dengan ekonomi mapan,

  • pengusaha sukses.

Status sosial tidak menjamin kualitas moral.

6. Video porno sebagai budaya konsumsi

Sebagian orang dewasa yang seharusnya menjaga diri, malah menjadi konsumen atau bahkan pembuat konten pornografi. Akhirnya, anak-anak ikut meniru dan menganggap hal tersebut normal.

Mengapa Orang Dewasa Berbuat Nakal?

Kenakalan orang dewasa bukan tiba-tiba. Ada sebab-sebab mendalam yang perlu kita pahami.

1. Hilangnya kendali iman dan takwa

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah berzina seorang pezina ketika ia berzina kecuali ia sedang hilang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika hati tidak lagi dikendalikan oleh iman, nafsu mengambil alih arah hidup.

2. Penyalahgunaan kekuasaan dan relasi kuasa

Orang-orang dalam posisi kuat merasa kebal hukum dan memanfaatkan ketergantungan korban: anak, bawahan, murid, karyawan.

3. Kecanduan pornografi

Paparan pornografi merusak otak dan mengundang perilaku nekat. Banyak penelitian menyebutkan pornografi adalah “narkoba visual” yang memicu adiksi.

4. Lingkungan permisif dan budaya hedonisme

Ketika masyarakat menormalisasi:

  • seks bebas,

  • tontonan vulgar,

  • pesta,

  • gaya hidup mewah,
    maka orang dewasa pun mudah hanyut.

5. Lemahnya komunikasi keluarga

Banyak ayah-ibu yang hadir di rumah tetapi tidak hadir dalam hati anak-anak. Keluarga kehilangan fungsi kontrol dan nasihat.

6. Trauma masa kecil yang tidak terselesaikan

Sebagian pelaku justru korban di masa lalu, dan luka itu tidak pernah diobati.

7. Minimnya literasi agama dan moral

Banyak orang tua bisa bekerja keras mencari nafkah, tetapi tidak punya ketahanan moral menghadapi godaan teknologi dan pergaulan.

Dampak: Anak Kehilangan Teladan

Orang dewasa adalah guru kehidupan bagi anak-anak. Ketika orang tua, tokoh masyarakat, atau pejabat publik melakukan maksiat terang-terangan, generasi muda kehilangan rujukan moral.

Akibatnya:

  • anak meniru pola rusak yang ia lihat,

  • remaja tidak percaya lagi kepada institusi keluarga, sekolah, tokoh agama, atau negara,

  • kepercayaan sosial runtuh.

Solusi: Mengembalikan Marwah Orang Dewasa Sebagai Teladan

1. Menguatkan kembali iman dan kontrol diri

Perbanyak:

  • zikir,

  • membaca Al-Qur’an,

  • menjaga pandangan,

  • menghindari khalwat,

  • memperbaiki ibadah.

Allah berfirman:
“…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

2. Pendidikan keluarga berbasis adab

Mulailah dari rumah:

  • adab memandang,

  • adab menggunakan HP,

  • adab dalam relasi laki-laki dan perempuan,

  • adab menjaga aurat.

Orang tua harus menjadi contoh, bukan hanya pemberi nasihat.

3. Regulasi dan penegakan hukum tanpa kompromi

  • pelaku pelecehan harus dihukum maksimal,

  • pekerja publik harus tunduk pada kode etik,

  • CCTV di tempat privat harus dipidana tegas,

  • pornografi dan narkoba diberantas secara sistematis.

Hukum yang tegas mencegah kejahatan meluas.

4. Dakwah dan penyuluhan yang humanis dan relevan

Pendekatan agama harus:

  • membumi,

  • menyentuh hati,

  • menyesuaikan realitas digital,

  • memperkuat kesadaran, bukan hanya menakuti.

5. Rehabilitasi psikologis dan konseling

Pelaku dengan kecanduan pornografi atau trauma masa kecil perlu layanan konseling profesional berbasis agama dan psikologi.

6. Lingkungan sehat bagi warga

  • kampanye anti-pelecehan,

  • satgas KBGSI (Keluarga Besar Gaul Sehat Islami),

  • masjid ramah remaja dan ramah keluarga,

  • komunitas positif untuk orang dewasa.

7. Keteladanan tokoh publik

Pemimpin agama, pejabat, dan orang tua harus sadar:
perilaku mereka dilihat, ditiru, dan menjadi standar bagi generasi muda.

Penutup

Petaka hari ini bukan hanya kenakalan remaja, tetapi justru kenakalan orang tua.
Orang dewasa yang seharusnya menjadi penjaga moral malah menjadi pelanggar moral. Inilah alarm keras bagi bangsa. Ketika orang tua rusak, maka rusaklah satu generasi.

Solusi ada pada:

  • iman yang kuat,

  • keluarga yang sehat,

  • hukum yang tegas,

  • lingkungan yang mendukung,

  • dan keteladanan dari para pemimpin.

Perubahan tidak harus besar.
Ia dimulai dari satu rumah, satu ayah, satu ibu, satu tokoh—yang bertekad menjaga marwah diri di hadapan Allah.

Senin, 24 November 2025

Amanah dalam Al-Qur’an dan Sunnah “Menjaga Titipan Allah, Menepati Kepercayaan Sesama”


Amanah dalam Al-Qur’an dan Sunnah

“Menjaga Titipan Allah, Menepati Kepercayaan Sesama”

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

1. Pengantar

Amanah adalah nilai pokok dalam ajaran Islam. Ia menjadi indikator keimanan seseorang serta standar kualitas seorang Muslim. Kehilangan amanah berarti hilangnya kepercayaan, rusaknya hubungan sosial, dan pudarnya moral.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah.”
(HR. Ahmad)

Artinya, amanah bukan hanya akhlak sosial, tetapi penentu kualitas iman.

2. Definisi Amanah

Secara bahasa, amanah bermakna titipan yang harus dijaga atau kepercayaan yang harus dipenuhi.

Secara syar'i, amanah mencakup segala kewajiban yang Allah tetapkan dan hak-hak manusia yang harus ditunaikan.

Allah menegaskan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa’ 4:58)

3. Tipologi Amanah

A. Amanah dari Allah

Amanah dari Allah mencakup segala perintah, larangan, dan kewajiban yang ditetapkan-Nya. Bentuknya antara lain:

1) Amanah Ibadah

Menjaga dan menunaikan ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan menjaga waktu-waktu ibadah.

Allah berfirman:
“Peliharalah semua salat dan salat wustha.”
(QS. Al-Baqarah 2:238)

2) Amanah Syariat

Menjauhi yang haram, mematuhi aturan Allah, dan menjaga diri dari maksiat.

3) Amanah Ilmu

Ilmu agama maupun pengetahuan umum adalah titipan Allah. Menyampaikan kebenaran dan tidak menyembunyikannya adalah amanah.

4) Amanah Jabatan/Kekuasaan

Pemimpin, pejabat, atau siapa pun yang memegang tanggung jawab publik harus adil.
Nabi ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”
(HR. Bukhari-Muslim)

5) Amanah Amanah Tubuh & Waktu

Menjaga kesehatan, tidak merusak diri, serta menggunakan waktu secara baik juga bagian dari amanah.

B. Amanah Sesama Manusia

Amanah ini sangat luas dan melekat dalam kehidupan sosial.

1) Amanah Harta

– Titipan barang
– Hutang piutang
– Pengelolaan anggaran
– Keuangan publik/organisasi

Allah berfirman:
“Jika seseorang di antara kalian dipercaya (memegang amanat), maka hendaklah ia menunaikan amanat itu.”
(QS. Al-Baqarah 2:283)

2) Amanah Rahasia

Apapun yang disampaikan dalam kepercayaan adalah amanah.
Nabi ﷺ:
“Majelis itu adalah amanah.”
(HR. Abu Dawud)

3) Amanah Perkataan

Tidak mengingkari janji, tidak berbohong, tidak memanipulasi informasi.

4) Amanah Keluarga

Orangtua menjaga anak, suami menjaga istri, istri menjaga rumah tangga.
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab di rumahnya masing-masing.

5) Amanah Sosial & Profesional

Guru amanah pada murid, dokter pada pasien, pekerja pada tugasnya, dan pemimpin pada rakyatnya.

4. Keutamaan Menjaga Amanah

  1. Ciri Mukmin Sejati
    “Dan orang-orang beriman… adalah mereka yang memelihara amanat dan janji-janji mereka.”
    (QS. Al-Mu’minun 23:8)

  2. Dicintai Allah dan Rasul-Nya
    Orang amanah termasuk hamba yang mulia di sisi Allah.

  3. Pintu Rezeki & Keberkahan
    Kepercayaan melahirkan keberkahan dalam usaha, karier, dan kehidupan.

  4. Menjadi Sumber Ketenangan Sosial
    Masyarakat yang amanah akan hidup rukun, tentram, dan saling percaya.

5. Dampak Buruk Mengkhianati Amanah

  1. Hilangnya kepercayaan masyarakat

  2. Kerusakan moral dan sosial

  3. Azab Allah bagi pengkhianat
    Nabi ﷺ bersabda:
    “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika dipercaya dia khianat.”
    (HR. Bukhari-Muslim)

  4. Terhalang dari rezeki dan ketenangan hidup

6. Cara Menjaga Amanah dalam Kehidupan

  1. Tanamkan takut kepada Allah dalam setiap tindakan.

  2. Biasakan tepat waktu, baik dalam ibadah maupun pekerjaan.

  3. Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak mampu dilakukan.

  4. Jaga lisan dari dusta dan manipulasi.

  5. Profesional dalam bekerja—jadikan integritas sebagai standar.

  6. Tulis perjanjian dan hutang (sesuai QS. Al-Baqarah 2:282).

  7. Jujur dalam laporan keuangan.

  8. Menutup rapat rahasia pribadi, keluarga, dan organisasi.

7. Penutup

Amanah adalah pondasi utama peradaban Islam. Tanpa amanah, tidak ada ibadah yang sah, keluarga yang harmonis, atau masyarakat yang damai. Menjaga amanah berarti menjaga kehormatan diri, memperbaiki umat, dan menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikulnya… lalu dipikul oleh manusia.”
(QS. Al-Ahzab 33:72)

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang mampu menjaga amanah Allah dan amanah antarsesama. Aamiin.

Kamis, 20 November 2025

Anak Shalih adalah Buah dari Rumah Tangga yang Berkah

🌿 “Anak Shalih adalah Buah dari Rumah Tangga yang Berkah”

Oleh: Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam

Pendahuluan

Setiap orang tua mendambakan anak yang shalih dan shalihah—anak yang tidak hanya cerdas secara duniawi, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan hati yang dekat kepada Allah. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam sebuah hadis shahih (HR. Muslim) bahwa anak shalih kelak menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Namun, lahirnya anak shalih tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan buah dari rumah tangga yang diberkahi Allah, tempat di mana cinta, adab, dan nilai-nilai iman tumbuh setiap hari.

1. Apa yang Dimaksud “Rumah Tangga Berkah”?

Rumah tangga yang berkah bukan berarti rumah besar, mewah, atau penuh fasilitas, tetapi:

✔ Rumah yang menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas

Mulai dari makan, tidur, bekerja, hingga mendidik anak.

✔ Rumah yang dijaga dengan ibadah

Shalat, zikir, doa bersama, dan membaca Al-Qur’an.

✔ Rumah yang diisi kata-kata baik

Bukan teriakan dan kemarahan.

✔ Rumah yang saling menghargai antara suami dan istri

Karena keharmonisan orang tua adalah energi pertama yang dirasakan anak.

2. Mengapa Anak Shalih Lahir dari Rumah yang Berkah?

  1. Anak meniru apa yang ia lihat.
    Mereka belajar lebih cepat dari tingkah laku orang tua dibandingkan dari nasihat lisan.

  2. Ketenangan rumah melahirkan hati yang lembut.
    Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih akan mudah diarahkan kepada kebaikan.

  3. Ucapan dan doa orang tua adalah kunci keberkahan.
    Rumah yang sering terdengar doa dan zikir akan menghasilkan suasana spiritual yang kuat.

  4. Kualitas hubungan suami-istri memengaruhi akhlak anak.
    Ketegangan orang tua melahirkan kecemasan, sementara kasih sayang melahirkan kebaikan.

3. Nilai-Nilai Rumah Berkah yang Membangun Anak Shalih

🌱 a. Keteladanan

Jika orang tua rajin shalat, santun, jujur, dan menjaga lisan, anak akan otomatis meniru.

🌱 b. Komunikasi hangat

Orang tua yang mau mendengar dan memahami akan dicintai anak, sehingga anak mudah diarahkan.

🌱 c. Disiplin yang lembut

Menanamkan aturan tanpa kekerasan, tetapi dengan kasih dan konsistensi.

🌱 d. Menjaga makanan halal dan rezeki yang bersih

Hati anak menjadi lebih lembut ketika rezeki yang masuk ke rumah berasal dari jalan halal.

🌱 e. Membiasakan ibadah bersama

Shalat berjamaah, membaca doa sebelum tidur, dan sedekah bersama memperkuat karakter anak.

4. Realitas Sosial Saat Ini: Tantangan Mendidik Anak Shalih

Keluarga masa kini menghadapi berbagai ujian:

  • Gadget yang tidak terkontrol.

  • Media sosial tanpa filter.

  • Kurang waktu kebersamaan orang tua.

  • Minimnya komunikasi keluarga.

  • Pergaulan bebas dan krisis akhlak.

Solusinya:
✔ Orang tua hadir secara emosional, bukan hanya finansial.
✔ Pendidikan agama menjadi prioritas, bukan sisipan.
✔ Menetapkan batasan gadget dengan bijak.
✔ Menciptakan “ruang aman” di rumah untuk berdiskusi apa saja.
✔ Menguatkan ketahanan spiritual keluarga.

5. Pesan Penutup untuk Orang Tua

Anak shalih bukan kebetulan, tapi hasil dari:

✨ Doa yang tidak pernah putus
✨ Rumah yang dijaga dari maksiat
✨ Hati orang tua yang lembut
✨ Keteladanan yang konsisten

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Maka, mulai hari ini—sekecil apa pun langkahnya—bangunlah rumah yang diberkahi Allah, agar kelak lahir anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan penolong di akhirat.

Rabu, 19 November 2025

Jadilah Pasangan yang Saling Menuntun, Bukan Saling Menjatuhkan

“Jadilah Pasangan yang Saling Menuntun, Bukan Saling Menjatuhkan”

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

(Refleksi QS. At-Taubah: 71 dalam Realitas Rumah Tangga Modern)

Dalam QS. At-Taubah: 71, Allah menegaskan:

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong (awliyā’) bagi sebagian yang lain…”

Ayat ini memberikan pesan bahwa suami dan istri bukanlah pesaing, bukan pula dua orang yang saling mengungguli. Mereka adalah penolong, penuntun, dan pelindung bagi satu sama lain di jalan kebaikan.

1. Rumah Tangga Bukan Arena Lomba, Tapi Ruang Bertumbuh Bersama

Di era modern, banyak pasangan tanpa sadar terjebak dalam kompetisi terselubung: siapa yang lebih banyak menghasilkan uang, siapa yang lebih sibuk, siapa yang lebih lelah, siapa yang lebih berjasa.
Padahal, Islam mengajarkan: pernikahan bukan ajang saling mengalahkan, tetapi ajang saling menguatkan.

Pasangan yang saling menuntun akan:

  • merayakan keberhasilan pasangannya, bukan merasa terancam,

  • membantu ketika pasangan lemah, bukan menyalahkan,

  • menambah energi, bukan mengurasnya.

2. Realitas Rumah Tangga Modern: Tantangannya Nyata

Banyak keluarga hari ini menghadapi situasi yang menguji ketahanan batin:

a. Tekanan ekonomi yang semakin berat

Tagihan, cicilan, dan tuntutan gaya hidup sering memicu emosi.
Tantangan ini membuat sebagian pasangan saling menyalahkan, bukan saling menopang.

b. Media sosial yang menggoda

Di platform digital, orang mudah membandingkan rumah tangganya dengan “kebahagiaan orang lain”.
Akibatnya, yang hadir adalah rasa kurang, curiga, bahkan cemburu.

c. Kesibukan yang mengikis kualitas komunikasi

Karier dan pekerjaan membuat pasangan lupa menyapa, mendengarkan, dan bercerita.
Sementara komunikasi adalah urat nadi keharmonisan.

d. Konflik kecil yang diperbesar oleh ego

Padahal mayoritas perceraian terjadi bukan karena masalah besar, tetapi karena masalah kecil yang tidak disikapi dengan kedewasaan.

3. Prinsip “Saling Menuntun” dalam QS. At-Taubah: 71

Saling menuntun berarti:

✓ Menasehati dalam kebaikan

Tidak membiarkan pasangan terjatuh dalam dosa atau kebiasaan buruk.

✓ Saling menguatkan ketika iman menurun

Iman itu naik turun; suami dan istri harus menjadi “charger spiritual” satu sama lain.

✓ Membangun rumah sebagai pusat ibadah

Zikir, shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an bersama—itulah benteng dari fitnah.

✓ Mengelola perbedaan dengan hikmah

Perbedaan bukan ancaman, tapi peluang untuk saling melengkapi.

4. Cara Praktis Menerapkan Sikap “Saling Menuntun”

Agar rumah tangga benar-benar menjadi taman asri, lakukan langkah-langkah sederhana berikut:

  • Ucapkan apresiasi minimal sekali sehari
    “Terima kasih ya, sudah melakukan ini…”

  • Bangun komunikasi lembut, hindari kalimat yang menghakimi.

  • Doakan pasangan setiap selesai shalat
    Doa yang keluar dari hati akan kembali kepada hati.

  • Luangkan waktu tanpa gadget, meski hanya 10 menit, untuk bicara dari hati ke hati.

  • Buat visi bersama keluarga, misalnya dalam ibadah, ekonomi, pendidikan anak.

5. Penutup: Menuntun Itu Cinta, Menjatuhkan Itu Ego

Rumah tangga akan kokoh bila dua hati memilih untuk saling menopang, bukan saling menjatuhkan.
Menjadi pasangan yang saling menuntun adalah wujud cinta fillāh, cinta yang diletakkan di jalan Allah, bukan sekadar perasaan emosional.

Pasangan yang menuntun adalah pasangan yang berkata:

“Aku ingin kita sama-sama menjadi lebih baik, dunia dan akhirat.”

Semoga keluarga-keluarga kita menjadi keluarga yang:

  • saling menolong dalam kebaikan,

  • saling mendewasakan dalam ujian,

  • dan saling menuntun menuju ridha Allah.

Aamiin.

Selasa, 18 November 2025

SAMBUT TAHUN BARU DENGAN RUANG LINGKUP TUGAS TERBARU

Selalu beradabtasi dengan tantangan tugas & perkembangan regulasi





Keluarga Sakinah adalah Benteng dari Fitnah Dunia

 


Keluarga Sakinah adalah Benteng dari Fitnah Dunia

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Di tengah derasnya arus informasi, godaan gaya hidup, tekanan ekonomi, serta tantangan moral yang semakin kompleks, keluarga menjadi tempat berlindung yang paling strategis bagi setiap individu. Dalam Islam, keluarga sakinah—yakni keluarga yang dibangun atas dasar ketenangan, kasih sayang, dan rahmat dari Allah—dipandang sebagai benteng terkuat dari fitnah dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"وَالدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ"
“Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah.”
(HR. Muslim)

Dan dalam riwayat lain:

"خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ"
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Bukhari)

Dua hadis ini menjadi dasar bahwa keluarga yang baik, penuh kebaikan dan kesalehan, adalah benteng utama dari fitnah dunia.

1. Mengapa Disebut Benteng?

Benteng berfungsi melindungi, menenangkan, dan menjaga penghuninya dari ancaman luar. Begitu pula keluarga sakinah:

a. Melindungi dari fitnah moral

Konten negatif, pergaulan bebas, hedonisme, dan gaya hidup instan semakin mudah masuk ke setiap rumah melalui gawai. Keluarga sakinah menjaga anggotanya melalui:

  • keteladanan orang tua,

  • disiplin nilai agama,

  • dan komunikasi yang sehat.

b. Menjaga dari fitnah harta dan kemewahan

Tekanan untuk tampil mewah sering membuat keluarga kehilangan arah. Keluarga sakinah menanamkan nilai qana’ah, syukur, dan hidup sederhana.

c. Mencegah fitnah pertengkaran

Banyak rumah tangga runtuh bukan karena musibah besar, tetapi karena masalah kecil yang tidak diselesaikan. Keluarga sakinah menekankan:

  • musyawarah,

  • saling memaafkan,

  • dan saling mendahulukan.

2. Fondasi Keluarga Sakinah sebagai Benteng

a. Iman sebagai pondasi utama

Iman membuat keluarga kuat menghadapi ujian. Ketika iman kokoh, masalah berat pun terasa ringan.

b. Ibadah yang dihidupkan di rumah

Rumah yang rutin diisi shalat, zikir, dan doa akan dipenuhi ketenangan. Ketenangan itulah yang menjadi “tembok benteng” dari kegelisahan dan fitnah dunia luar.

c. Komunikasi yang jujur dan hangat

Banyak godaan dunia masuk melalui celah hubungan yang retak. Komunikasi yang terbuka menutup pintu itu rapat-rapat.

d. Peran suami dan istri sebagai penjaga benteng

  • Suami menjaga dengan kepemimpinan, tanggung jawab, dan kasih sayang.

  • Istri menjaga dengan ketenangan, kelembutan, dan kewibawaan hati.
    Keduanya saling menguatkan, bukan saling mengalahkan.

3. Realitas Sosial Keluarga Saat Ini

Beberapa fenomena yang melemahkan “benteng keluarga”:

  • Perceraian yang meningkat karena minim komunikasi.

  • Anak terpapar konten negatif tanpa pengawasan.

  • Gaya hidup konsumtif yang memicu konflik finansial.

  • Luntur­nya adab dan akhlak dalam keluarga.

Jika benteng ini rapuh, fitnah dunia mudah masuk dan merusak keharmonisan.

4. Solusi Islam untuk Menguatkan Benteng Keluarga

1. Bangun budaya doa dan ibadah bersama

Mulai dari shalat berjamaah, membaca doa pagi-sore, hingga rutinitas membaca Al-Qur’an bersama.

2. Jadikan rumah sebagai tempat terbaik untuk kembali

Ciptakan suasana penuh kelembutan, saling menghargai, dan saling mendukung.

3. Terapkan manajemen konflik ala Rasulullah

  • Bicarakan masalah ketika hati tenang.

  • Hindari saling menyalahkan.

  • Cari solusi bersama.

4. Orang tua menjadi teladan akhlak

Anak bukan hanya meniru ucapan, tetapi meniru sikap, kebiasaan, dan gaya hidup orang tuanya.

5. Penutup

Ketika dunia penuh fitnah dan godaan, keluarga sakinah adalah benteng paling aman untuk mempertahankan iman. Benteng ini tidak dibangun dengan materi, tetapi dengan cinta, kesabaran, doa, dan ibadah. Semakin kuat benteng tersebut, semakin kokoh pula ketahanan iman dan keharmonisan keluarga.

Semoga Allah menjadikan setiap rumah kita sebagai rumah sakinah, tempat berkumpulnya hati, bertumbuhnya cinta, dan terjaganya iman. Aamiin.

Senin, 17 November 2025

Rumah yang Penuh Doa Akan Dilimpahi Rahmat

 


🕌 Rumah yang Penuh Doa Akan Dilimpahi Rahmat

Inspirasi: (QS. Yunus: 87)

🌿 Pendahuluan

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak keluarga merasakan tekanan hidup: ekonomi yang berat, kurangnya komunikasi, meningkatnya stres, hingga banyaknya konflik kecil yang memicu pertengkaran besar. Realitas sosial hari ini menunjukkan bahwa banyak rumah tangga kehilangan ketenangan, meskipun memiliki fasilitas lengkap dan pengetahuan modern.

Islam mengajarkan bahwa ketenangan bukan hanya datang dari benda, tetapi dari rahmat Allah. Dan salah satu pintu terbesar rahmat itu adalah doa.

📖 Landasan Al-Qur’an

Allah berfirman dalam QS. Yunus: 87:

“Dan jadikanlah rumah kalian sebagai tempat ibadah dan dirikanlah shalat.”

Ayat ini menegaskan bahwa rumah orang beriman bukan sekadar tempat tinggal, tetapi tempat ibadah, tempat doa, tempat hati-hati disatukan oleh zikrullah.

🕊️ 1. Doa sebagai Sumber Rahmat dalam Keluarga

Doa bukan hanya “permintaan”, tetapi energi spiritual yang mengundang ketenangan, persatuan, dan solusi dari Allah.

Rumah yang penuh doa adalah rumah yang:

  • Penghuninya tidak cepat marah.

  • Masalah kecil mudah diselesaikan.

  • Anak-anak merasa aman dan dekat dengan orangtuanya.

  • Rezeki datang dengan berkah, meski tidak selalu besar.

  • Ada rasa nyaman tanpa sebab — karena rahmat Allah melingkupinya.

Sebaliknya, rumah yang kering dari doa biasanya mudah dipenuhi:

  • Suasana tegang,

  • Salah paham,

  • Ego masing-masing,

  • Dan keluhan yang tidak ada ujungnya.

🏡 2. Realitas Sosial Keluarga Saat Ini

Banyak persoalan keluarga hari ini muncul bukan karena kekurangan materi, tetapi karena kekeringan spiritual.

Beberapa fenomena nyata di masyarakat:

  1. Anak-anak lebih dekat dengan gawai daripada orangtua.

  2. Pasangan sibuk mengejar dunia hingga lupa membangun hubungan dengan Allah.

  3. Konflik kecil membesar karena tidak didampingi doa dan ketenangan iman.

  4. Rumah menjadi tempat lelah, bukan tempat pulang yang menenangkan.

  5. Pertengkaran meningkat akibat kurang bersyukur dan kurang zikir.

Masalah-masalah ini bukan sekadar teknis atau psikologis — tetapi spiritual.

🌈 3. Solusi Islam: Kembalikan Rumah Menjadi Rumah Ibadah

Agar rahmat Allah turun, rumah harus kembali dipenuhi doa, zikir, dan shalat.
Berikut langkah praktis untuk keluarga masa kini:

✔ 1. Jadwalkan doa bersama keluarga setiap hari

Misalnya setelah Maghrib: 3 menit saja baca doa dan saling mendoakan.

✔ 2. Biasakan menyebut nama Allah dalam percakapan

“Bismillah ya, Nak…”
“Alhamdulillah hari ini sehat…”
Kalimat sederhana, tapi menenangkan hati.

✔ 3. Hidupkan shalat berjamaah di rumah

Walau hanya dua orang, shalat berjamaah adalah perekat hati.

✔ 4. Gantilah keluhan dengan doa

Daripada marah-marah pada pasangan atau anak, ucapkan:
“Ya Allah, lembutkan hati kami.”

✔ 5. Letakkan Al-Qur’an di ruang keluarga

Agar mudah dibaca kapan saja, dan anak terbiasa mencintai mushaf.

💞 4. Dampak Rumah yang Dipenuhi Doa

Rumah yang kaya doa melahirkan:

  • Suami yang lembut dan bertanggung jawab,

  • Istri yang sabar dan menenangkan,

  • Anak-anak yang berakhlak baik,

  • Rezeki yang berkah,

  • Dan suasana damai yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Rahmat Allah turun ketika manusia mengundangnya.

🤲 Doa Penutup

“Ya Allah, jadikan rumah kami rumah yang Kau berkahi.
Turunkan rahmat-Mu, damaikan hati kami, kuatkan persatuan kami,
dan jadikan keluarga kami sakinah, mawaddah, dan rahmah.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Jumat, 14 November 2025

PELAJARAN HARI INI: Makna Filosofi dari Mentimun Bungkuk: Belajar dari Sebuah Ketidaksempurnaan

Filosofi Mentimun Bungkuk: Belajar dari Ketidaksempurnaan melalui Al-Qur’an, Sunnah, dan Alam Takambang Jadi Guru

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Di kebun yang hijau dan segar, sesekali kita menemukan mentimun yang tumbuh dengan bentuk melengkung atau bungkuk. Tidak lurus seperti yang biasanya ditemui di pasar. Meski bentuknya berbeda, ia tetap segar, renyah, dan bermanfaat. Dari sini, lahir banyak pelajaran tentang kehidupan.

“Mentimun bungkuk” bukan sekadar sayuran berwujud unik; ia adalah guru kecil yang mengajarkan kita tentang takdir, usaha, penerimaan, dan keunikan manusia dalam bingkai ajaran Islam dan kearifan lokal Minangkabau.

1. Tidak Semua Ketidaksempurnaan Itu Salah — (QS. Al-Mulk: 3–4)

Allah menegaskan bahwa ciptaan-Nya selalu penuh hikmah:

“Tidaklah engkau melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang…”
(QS. Al-Mulk: 3)

Ketika kita melihat mentimun bungkuk, tampak ketidaksempurnaan dari sudut pandang manusia. Namun menurut Al-Qur’an, setiap ciptaan memiliki kesempurnaan pada porsinya sendiri, karena Allah tidak mencipta sesuatu sia-sia.

Mentimun bungkuk mengajarkan bahwa bentuk yang berbeda bukanlah kesalahan, tetapi bagian dari ketetapan Allah yang mengandung pelajaran.

2. Bentuk Boleh Berbeda, Manfaat Tetap Sama — (Hadis: “Allah tidak melihat rupa…”)

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Meski bentuknya tidak sempurna, mentimun bungkuk tetap memiliki rasa dan manfaat yang sama. Bahkan kadang lebih segar.

Pelajarannya bagi manusia: nilai hakiki seseorang tidak ditentukan oleh rupa atau tampilan luar, tetapi oleh hati, akhlak, dan kontribusinya.

3. Jalan Hidup Tidak Selalu Lurus — (QS. Yusuf: 87)

Perjalanan mentimun hingga menjadi bungkuk terjadi karena banyak hal: terbentur daun, tertekan tanah, atau kurang ruang. Ia menyesuaikan diri agar tetap tumbuh.

Sama halnya hidup manusia. Banyak orang terpaksa “melengkung” karena ujian hidup, keadaan keluarga, atau tekanan ekonomi.

Al-Qur’an berpesan:

“Jangan berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Yusuf: 87)

Mentimun bungkuk menyampaikan:
meski perjalanan hidup tidak lurus, kita tetap bisa tumbuh menjadi kuat dan bermanfaat.

4. Ketidaksempurnaan Mengajarkan Kerendahan Hati — (Hadis: “Renungkanlah yang lebih rendah darimu…”)

Rasulullah SAW mengingatkan:

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam hal dunia), agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Ketika melihat mentimun bungkuk, kita diingatkan untuk tidak menuntut hidup harus selalu sempurna. Ketidaksempurnaan mengajak kita untuk rendah hati, tidak berlebih-lebihan, dan mensyukuri yang ada.

5. Takdir Allah Selalu Penuh Hikmah — (QS. Al-A‘la: 2–3)

Allah berfirman:

“Dialah yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan), dan menentukan kadar setiap makhluk.”
(QS. Al-A‘la: 2–3)

Mentimun bungkuk tidak memilih takdirnya. Namun ia tetap tumbuh sesuai garis yang Allah tentukan. Setiap manusia pun demikian — masing-masing dibentuk oleh pengalaman, ujian, dan lingkungan yang berbeda.

Tugas kita bukan memprotes takdir, tetapi memaksimalkan potensi dalam takdir yang Allah berikan.

6. Alam Takambang Jadi Guru — Kearifan Minangkabau yang Selaras dengan Wahyu

Orang Minangkabau memiliki falsafah:

“Alam takambang jadi guru.”
(Alam yang terbentang menjadi guru kehidupan)

Mentimun bungkuk adalah salah satu “guru alam”. Ia mengajar:

Tentang adaptasi

Ia melengkung karena beradaptasi dengan ruang yang sempit.
→ Pelajaran: manusia harus pandai menyesuaikan diri dengan keadaan.

Tentang sabar

Meskipun bentuknya tidak ideal, ia tetap tumbuh tanpa mengeluh.
→ Pelajaran: sabar menghadapi keterbatasan.

Tentang menerima takdir

Ia tumbuh sesuai jalur yang diberikan alam.
→ Pelajaran: menerima takdir Tuhan dengan lapang.

Falsafah Minang ini sejalan dengan petunjuk Al-Qur’an untuk mengambil ibrah dari alam:

“Dan pada bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang yakin.”
(QS. Adz-Dzariyat: 20)

7. Berbeda Tidak Menghilangkan Kemaslahatan — (QS. Al-Hujurat: 13)

Allah menciptakan manusia berbeda-beda agar saling mengenal dan saling melengkapi:

“Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Seperti mentimun bungkuk yang tetap bermanfaat meski berbeda bentuk, manusia pun memiliki keberagaman fisik, latar belakang, dan jalan hidup.

Keberagaman adalah kekayaan, bukan kekurangan.

Penutup: Hikmah dari Sebuah Sayuran yang Tidak Lurus

Mentimun bungkuk mengajarkan:

  • Keunikan adalah anugerah, bukan aib.

  • Ketidaksempurnaan membawa hikmah.

  • Jalan hidup tidak selalu lurus, tetapi tetap bisa sampai tujuan.

  • Nilai bukan pada rupa, tetapi manfaat.

  • Alam adalah guru yang selalu memberi pelajaran — seperti petuah Minang alam takambang jadi guru.

  • Islam membimbing kita untuk melihat hikmah dalam setiap ciptaan.

Mentimun bungkuk mungkin kecil, tetapi pesan hidup yang dibawanya besar:
Jadilah bermanfaat dalam bentuk apa pun Allah menciptakan kita.

Rabu, 12 November 2025

Selamat Bertugas Kakanwil Baru


Kita pernah bersama saat menjadi Kasubbag TU; Bapak di Kota Payakumbuh dan saya di Kota Padang Panjang. Semoga sukses mengemban amanat berat ini dengan bimbingan dan pertolongan Allah SWT

Cinta Sejati Adalah Memberi Tanpa Pamrih

💖 Cinta Sejati Adalah Memberi Tanpa Pamrih

(HR. Bukhari)

🌿 1. Makna Cinta dalam Pandangan Islam

Dalam kehidupan rumah tangga, cinta bukan sekadar kata manis atau rasa yang menggebu di awal pernikahan. Cinta sejati adalah amal yang nyata — berupa pengorbanan, kepedulian, dan ketulusan yang tidak menuntut balasan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa cinta dalam keluarga bukan hanya perasaan, tapi tindakan yang penuh kasih dan tanggung jawab.

💞 2. Memberi Tanpa Pamrih: Ciri Cinta yang Dewasa

Banyak pasangan merasa cintanya berkurang karena menunggu timbal balik. Padahal, cinta sejati tidak bergantung pada seberapa besar yang kita terima, tetapi seberapa tulus yang kita beri.

Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari:

  • Suami tetap membantu pekerjaan rumah meski lelah sepulang kerja.

  • Istri tetap melayani dengan senyum meski sedang letih.

  • Keduanya saling memaafkan meski merasa benar.

Semua itu adalah bentuk memberi tanpa pamrih, tanda bahwa cinta telah tumbuh dewasa dan berlandaskan iman.

🕊️ 3. Cinta yang Menghidupkan Rumah Tangga

Cinta yang sejati membuat rumah tangga menjadi tempat pulang yang menenangkan.
Ketika suami memberi nafkah bukan karena gengsi, tapi karena cinta.
Ketika istri melayani bukan karena takut, tapi karena kasih.

Rumah tangga seperti ini akan menjadi madrasah kasih sayang, tempat tumbuhnya:

  • Kesabaran

  • Ketulusan

  • Dan rasa syukur yang dalam

Cinta sejati tidak memenjarakan, tapi membebaskan dari keegoisan.

🌼 4. Mengapa Cinta Sejati Harus Tanpa Pamrih

Cinta yang tulus adalah cerminan dari iman.
Allah menilai hati yang memberi tanpa mengharap selain ridha-Nya.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Insan: 9:

“Kami memberi makan kepadamu hanya karena mengharap ridha Allah; kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih.”

Maka, dalam keluarga, memberi dengan ikhlas adalah ibadah yang besar nilainya di sisi Allah.

💫 5. Membangun Keluarga dengan Cinta yang Ikhlas

Untuk menumbuhkan cinta sejati dalam rumah tangga, ada tiga langkah sederhana:

  1. Niatkan segalanya karena Allah.
    Setiap perhatian, pengorbanan, dan kebaikan bernilai pahala jika diniatkan ibadah.

  2. Belajar bersyukur, bukan menuntut.
    Lihat kebaikan pasangan, bukan kekurangannya.

  3. Doakan pasangan setiap hari.
    Karena cinta sejati tidak hanya diucapkan, tapi dipanjatkan dalam doa.

🤲 6. Doa untuk Keluarga yang Saling Memberi Tanpa Pamrih

“Ya Allah, jadikan cinta kami cinta yang menenangkan, bukan menuntut.
Ajarkan kami memberi tanpa pamrih, mencintai tanpa syarat, dan beribadah dalam setiap kasih sayang kami.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Selasa, 11 November 2025

Tipologi Keluarga dalam Al-Qur’an: Belajar dari Rumah Para Nabi dan Tokoh dalam Al-Qur’an

 


Tipologi Keluarga dalam Al-Qur’an

Belajar dari Rumah Para Nabi dan Tokoh dalam Al-Qur’an

Oleh Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Keluarga adalah miniatur masyarakat, tempat nilai-nilai iman, kasih sayang, dan akhlak ditanamkan sejak dini. Al-Qur’an menggambarkan berbagai tipologi keluarga — mulai dari keluarga penuh berkah hingga keluarga yang menjadi peringatan bagi umat. Melalui kisah para nabi dan tokoh-tokoh dalam Al-Qur’an, kita dapat bercermin: keluarga seperti apa yang sedang kita bangun?

1. Keluarga Nabi Muhammad ﷺ: Teladan Keluarga Rahmah

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu kasih dan sayang.”
QS. Ar-Rum: 21

Keluarga Nabi Muhammad ﷺ adalah tipe keluarga rahmah — keluarga yang dibangun atas dasar kasih sayang, saling memahami, dan saling mendukung dalam ketaatan kepada Allah.
Rasulullah ﷺ dikenal lembut kepada istri-istrinya, menghormati mereka, dan meneladani prinsip kesetaraan spiritual. Di rumah beliau, dialog dan saling menghargai menjadi budaya.

Kehidupan beliau bersama Sayyidah Khadijah menunjukkan kesetiaan dan keutuhan iman di tengah perjuangan dakwah. Sedangkan dengan Fatimah dan cucu-cucunya, Nabi mencontohkan kasih sayang tanpa batas.
Tipe keluarga ini mencerminkan keluarga yang berpusat pada cinta karena Allah — bukan karena harta, status, atau rupa.

2. Keluarga Nabi Ibrahim عليه السلام: Keluarga Pengorbanan dan Ketaatan

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ia menjawab, “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
QS. As-Shaffat: 102

Keluarga Nabi Ibrahim adalah tipe keluarga tauhid dan pengorbanan.
Hubungan antara Ibrahim, Sarah, Hajar, dan Ismail diwarnai oleh ketaatan mutlak kepada Allah, meski harus berpisah, berkorban, dan menahan rindu.

Hajar rela ditinggalkan di padang tandus karena yakin bahwa perintah Allah pasti membawa kebaikan.
Ismail dengan penuh keikhlasan menerima ujian penyembelihan.
Inilah keluarga yang membangun fondasi iman, tawakal, dan keteguhan spiritual, menjadikan mereka simbol keluarga pelopor umat — dari merekalah lahir generasi penerus tauhid.

3. Keluarga Nabi Nuh عليه السلام: Keluarga yang Terbelah oleh Iman

“(Nuh) berkata: ‘Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.’ Dia (anaknya) menjawab: ‘Aku akan berlindung ke gunung yang dapat melindungiku dari air.’ (Nuh) berkata: ‘Tidak ada yang dapat melindungi pada hari ini dari ketetapan Allah.’ Maka gelombang pun memisahkan keduanya...”
QS. Hud: 42–43

Keluarga Nabi Nuh menggambarkan tipe keluarga yang diuji oleh perbedaan akidah.
Meskipun Nuh adalah seorang rasul, istrinya dan anaknya menolak iman.
Hal ini menunjukkan bahwa hidayah bukan warisan darah, melainkan anugerah Allah.

Pelajarannya, dalam rumah tangga tidak selalu semua anggota sejalan dalam iman. Namun seorang kepala keluarga tetap harus menjalankan tanggung jawab dakwah dan kasih sayang, meskipun hasilnya tidak sesuai harapan.
Keluarga Nuh menjadi peringatan bahwa keimanan individu lebih utama daripada hubungan darah.

4. Keluarga Fir’aun: Keluarga yang Terbelah oleh Kekuasaan dan Iman

“Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman.”
QS. At-Tahrim: 11

Fir’aun adalah simbol kesombongan dan kekuasaan yang menolak kebenaran.
Namun di sisi lain, istrinya — Asiyah — justru menjadi simbol keimanan yang teguh di tengah tirani.

Keluarga Fir’aun mencerminkan konflik antara kekuasaan duniawi dan iman spiritual.
Asiyah tetap beriman walau hidup di istana penuh kemewahan, dan akhirnya memilih surga dibanding dunia.

Tipe keluarga ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu ditentukan oleh posisi sosial, tetapi oleh keteguhan hati dalam memegang iman, meskipun harus berhadapan dengan pasangan sendiri.

5. Keluarga Abu Lahab: Keluarga yang Bersatu dalam Penolakan terhadap Kebenaran

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berguna baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.”
QS. Al-Lahab: 1–4

Berbeda dengan Fir’aun dan Asiyah, keluarga Abu Lahab justru kompak dalam permusuhan terhadap dakwah.
Abu Lahab dan istrinya sama-sama menjadi simbol keluarga yang menolak kebenaran karena kesombongan dan kebencian pribadi.

Mereka tidak hanya menentang Rasulullah ﷺ, tetapi juga menyebarkan fitnah dan permusuhan di tengah masyarakat.
Keluarga ini menggambarkan tipe keluarga toksik, yang saling mendukung dalam keburukan dan menolak nilai kebenaran.

Refleksi: Keluarga Kita Termasuk Tipe yang Mana?

Al-Qur’an tidak sekadar menyajikan kisah masa lalu, tetapi juga cermin bagi keluarga masa kini.
Ada keluarga yang bersatu dalam cinta dan iman seperti keluarga Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Ibrahim;
Ada pula keluarga yang tercerai oleh perbedaan iman seperti keluarga Nabi Nuh;
Dan ada keluarga yang salah arah seperti keluarga Fir’aun atau Abu Lahab.

Setiap rumah tangga diberi kesempatan untuk memilih jalannya sendiri:

Apakah menjadi keluarga yang saling menuntun menuju surga,
atau keluarga yang saling menyeret pada kehancuran?

Penutup

Keluarga yang dirahmati Allah adalah keluarga yang menjadikan iman sebagai fondasi, kasih sayang sebagai ikatan, dan ketaatan sebagai arah hidup.
Mari kita jadikan rumah kita madrasah cinta dan iman, tempat bertumbuhnya generasi yang kuat, sabar, dan berakhlak mulia.

“Dan orang-orang yang beriman serta keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka (di surga).”
QS. At-Thur: 21


Senin, 10 November 2025

Setiap Masalah Adalah Ladang Pahala Bila Disikapi Sabar

 


🌾 Setiap Masalah Adalah Ladang Pahala Bila Disikapi Sabar

(Inspirasi dari QS. Al-Baqarah: 155)

Dalam kehidupan rumah tangga, tidak ada satu pun pasangan yang terlepas dari ujian. Kadang datang dalam bentuk kesalahpahaman, ekonomi yang sulit, sakit yang menimpa, atau perbedaan pendapat yang menguras emosi.
Namun, bagi orang beriman, semua itu bukan musibah tanpa makna. Justru di sanalah pahala sedang menunggu, bila disikapi dengan kesabaran.

📖 1. Ujian Adalah Panggilan untuk Naik Derajat

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 155:

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ujian yang datang bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengangkat derajat.
Bagi keluarga beriman, ujian menjadi momen untuk saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.

Keluarga yang sabar adalah keluarga yang tidak mudah putus asa, karena mereka yakin:
🌷 “Di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan.”

💞 2. Sabar, Pondasi Keluarga Tangguh

Keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang tanpa masalah, tetapi keluarga yang mampu bertahan dan tetap harmonis di tengah badai kehidupan.

  • Saat ekonomi sulit, mereka saling menguatkan, bukan saling menuntut.

  • Saat salah satu sakit, yang lain merawat dengan kasih.

  • Saat terjadi salah paham, mereka memilih berdialog, bukan diam-diam saling menjauh.

Kesabaran menjadi perekat yang menjaga cinta tetap hangat meski diterpa cobaan.

🕊️ 3. Buah dari Kesabaran dalam Rumah Tangga

Kesabaran dalam keluarga menumbuhkan tiga hal penting:

  1. Ketenangan Jiwa (Sakinah):
    Hati menjadi damai karena yakin semua ujian datang dari Allah yang Maha Bijaksana.

  2. Kekuatan Iman:
    Setiap kesulitan menjadi pengingat untuk kembali bergantung kepada Allah.

  3. Kematangan Emosi:
    Anggota keluarga belajar menahan amarah, berempati, dan memaafkan.

Dengan kesabaran, masalah tidak lagi menjadi sumber perpecahan, tapi menjadi sekolah kehidupan yang mendewasakan.

🌺 4. Keluarga Tangguh Adalah Keluarga yang Sabar

Keluarga tangguh tidak dibangun oleh kekayaan, tapi oleh keteguhan hati dan doa yang tak pernah putus.
Sabar menjadikan rumah tangga tetap kokoh, meski diterpa angin ujian.

Mereka tahu, setiap air mata yang jatuh karena sabar, akan diganti Allah dengan kebahagiaan yang jauh lebih indah.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesedihan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

🤲 5. Doa untuk Keluarga yang Sabar

“Ya Allah, jadikan keluarga kami keluarga yang tangguh dan sabar.
Ketika ujian datang, kuatkan kami dengan iman, bukan keluh kesah.
Tumbuhkan cinta kami di atas ridha-Mu, hingga setiap masalah menjadi ladang pahala.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Jumat, 07 November 2025

FIQH LANSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN SUNNAH: KAJIAN BERBASIS MAQĀSHID SYARĪ‘AH

FIQH LANSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN SUNNAH: KAJIAN BERBASIS MAQĀSHID SYARĪ‘AH

OLeh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Pendahuluan

Fenomena meningkatnya jumlah lanjut usia (lansia) merupakan realitas sosial yang perlu mendapat perhatian serius, terutama dalam konteks keagamaan. Dalam Islam, masa tua bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan fase kehidupan yang sarat dengan hikmah dan potensi ibadah. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan bimbingan agar umat Islam memuliakan orang tua serta memberikan kemudahan dalam ibadah dan kehidupan sosial mereka.

Kajian fiqh lansia penting dikembangkan sebagai bentuk pemahaman terhadap hukum dan kebijakan Islam yang berpihak kepada kelompok usia lanjut, dengan berlandaskan pada maqāshid syarī‘ah (tujuan-tujuan luhur syariat Islam).

1. Pengertian Fiqh Lansia

Fiqh lansia merupakan cabang pemikiran fiqh yang mengatur ketentuan hukum, etika, dan hak-hak lansia dalam menjalani kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ia mencakup:

  1. Fiqh bagi lansia itu sendiri, terkait tata cara beribadah dan bermuamalah sesuai kemampuan fisik dan kondisi mereka.

  2. Fiqh bagi masyarakat terhadap lansia, yaitu tuntunan moral dan hukum untuk menghormati, melindungi, dan menyejahterakan mereka.

Dengan demikian, fiqh lansia adalah bentuk nyata kasih sayang Islam yang berpihak pada kemanusiaan dan penghormatan terhadap usia senja.

2. Pandangan Al-Qur’an tentang Lansia

Al-Qur’an menggambarkan proses penuaan sebagai perjalanan alami manusia yang menunjukkan kelemahan sekaligus kebijaksanaan:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) lemah kembali dan beruban.” (QS. Ar-Rūm [30]: 54)

Ayat ini menegaskan bahwa menua adalah keniscayaan dan tanda kebesaran Allah.
Sementara dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 23–24, perintah untuk berbuat baik kepada orang tua ditegaskan bersamaan dengan larangan menyekutukan Allah. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan lansia dalam pandangan Islam.

3. Sunnah Nabi tentang Kehormatan Lansia

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini mengandung pesan moral bahwa menghormati orang tua merupakan bagian dari iman.
Selain itu, Rasulullah ﷺ memberikan banyak kemudahan (rukhsah) bagi lansia dalam beribadah, menunjukkan bahwa syariat Islam bersifat penuh kasih dan realistis terhadap keterbatasan manusia.

4. Fiqh Lansia dalam Kerangka Maqāshid Syarī‘ah

Maqāshid syarī‘ah menempatkan kesejahteraan manusia sebagai inti dari setiap hukum Islam. Dalam konteks lansia, penerapan lima tujuan pokok syariat mencakup:

  1. Hifzh ad-Dīn (Menjaga Agama):
    Memberikan kemudahan beribadah sesuai kemampuan, agar lansia tetap dapat mendekatkan diri kepada Allah tanpa tekanan.

  2. Hifzh an-Nafs (Menjaga Jiwa):
    Menjamin keselamatan dan kesehatan lansia, baik secara fisik maupun psikis.

  3. Hifzh al-‘Aql (Menjaga Akal):
    Mendorong kegiatan spiritual dan intelektual seperti tadarus, majelis taklim, dan refleksi kehidupan agar akal tetap aktif dan tenang.

  4. Hifzh an-Nasl (Menjaga Keturunan):
    Menanamkan nilai bakti kepada orang tua dan menjaga hubungan kasih sayang antar generasi.

  5. Hifzh al-Māl (Menjaga Harta):
    Menjamin hak ekonomi lansia, seperti kepemilikan harta, nafkah, dan hak sosial yang tidak boleh disalahgunakan.

5. Implementasi Fiqh Lansia dalam Perkara Ibadah dan Mu‘āmalah

A. Dalam Perkara Ibadah

Islam memberi kemudahan luar biasa bagi lansia dalam ibadah. Beberapa contoh konkret:

  1. Shalat

    • Lansia yang tidak mampu berdiri boleh shalat sambil duduk, berbaring, atau dengan isyarat.
      Rasulullah ﷺ bersabda:

      “Shalatlah berdiri, jika tidak mampu maka duduk, dan jika tidak mampu maka berbaring.” (HR. Bukhari)

    • Diperbolehkan menjamak shalat jika kesulitan bergerak atau jauh dari tempat wudhu.

  2. Puasa

    • Lansia yang tidak kuat berpuasa boleh menggantinya dengan membayar fidyah (QS. Al-Baqarah [2]: 184).

    • Namun jika masih kuat, tetap berpuasa menjadi ladang pahala besar.

  3. Haji dan Umrah

    • Jika lansia tidak mampu secara fisik, boleh mewakilkan ibadah hajinya kepada anak atau orang lain (badal haji), sebagaimana dijelaskan dalam hadits tentang wanita dari Khas’am yang meminta izin kepada Nabi untuk menghajikan ayahnya.

  4. Zikir dan Tilawah

    • Lansia dianjurkan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan, dan memperkuat hubungan spiritual agar hati tetap tenang dan bahagia.

B. Dalam Perkara Mu‘āmalah

Fiqh lansia juga menyentuh dimensi sosial dan ekonomi, antara lain:

  1. Hak Nafkah dan Warisan

    • Anak wajib menafkahi orang tua yang sudah tidak mampu bekerja (QS. Al-Baqarah [2]: 215).

    • Harta lansia tetap dilindungi; mereka berhak mengatur warisan atau hibah sesuai hukum syariat.

  2. Perlakuan Sosial

    • Islam memerintahkan anak dan masyarakat untuk memperlakukan lansia dengan kasih sayang dan kelembutan.

    • Nabi ﷺ sering memberikan tempat duduk terbaik bagi orang tua dalam majelis.

  3. Aktivitas Sosial dan Dakwah

    • Lansia tetap memiliki peran dakwah dan sosial; mereka menjadi teladan kebijaksanaan dalam keluarga dan masyarakat.

    • Rasulullah ﷺ menghargai pendapat para sesepuh dalam musyawarah, seperti dalam peristiwa perang Uhud.

  4. Perlindungan dari Kekerasan dan Diskriminasi

    • Fiqh lansia menuntut negara dan masyarakat melindungi lansia dari perlakuan zalim, penelantaran, atau pengambilan hak secara paksa.

6. Implikasi Sosial dan Spiritualitas

Pemahaman fiqh lansia menuntut adanya integrasi antara hukum Islam dan kebijakan sosial modern.

  • Bagi lansia: Islam mengajarkan penerimaan diri, memperbanyak ibadah, dan berbagi nasihat.

  • Bagi keluarga: wajib menghormati, merawat, dan mendampingi dengan penuh cinta.

  • Bagi masyarakat dan negara: wajib menyediakan layanan ramah lansia, pendidikan spiritual, dan dukungan ekonomi yang sesuai.

Penutup

Fiqh lansia merupakan refleksi nyata kasih sayang Allah dalam syariat-Nya. Dengan pendekatan maqāshid syarī‘ah, Islam menegaskan bahwa kemudahan, penghormatan, dan perlindungan terhadap lansia adalah bagian integral dari agama.
Mereka bukanlah beban, melainkan sumber doa, berkah, dan hikmah bagi generasi penerus.

“Sesungguhnya di antara bentuk penghormatan kepada Allah adalah memuliakan orang tua yang beruban dalam Islam.” (HR. Abu Dawud)

Keluarga Harmonis Adalah Surga Kecil di Dunia

🏡 Keluarga Harmonis Adalah Surga Kecil di Dunia

(Inspirasi dari QS. An-Nahl: 80)

Setiap insan mendambakan rumah yang penuh ketenangan, tempat pulang dari segala lelah, dan ruang di mana kasih tumbuh tanpa syarat. Dalam Islam, rumah yang demikian disebut “surga kecil di dunia” — tempat lahirnya cinta, iman, dan kedamaian.

🌿 1. Rumah Sebagai Nikmat dan Amanah

Allah berfirman dalam QS. An-Nahl: 80:

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumah sebagai tempat ketenangan (sakinah)...”

Ayat ini menegaskan bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi tempat berteduhnya hati.
Di dalamnya, ada kasih sayang, tanggung jawab, dan ibadah bersama.
Keluarga harmonis bukan tercipta karena rumahnya besar, tapi karena jiwa-jiwanya saling mencintai dan saling memaafkan.

💞 2. Harmoni Dimulai dari Hati yang Tenang

Keharmonisan keluarga bukan berarti tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan cinta dan iman.
Suami yang lembut, istri yang sabar, anak-anak yang hormat — semua lahir dari hati yang berzikir, bukan dari amarah yang meledak-ledak.

Hati yang dipenuhi dzikir kepada Allah akan menularkan ketenangan ke seluruh penghuni rumah.
Maka tak heran, rumah yang diisi dengan doa dan shalat berjamaah terasa lebih hangat meski sederhana.

🌸 3. Tiga Pilar Keluarga Harmonis

  1. Kasih Sayang (Mawaddah):
    Cinta yang diekspresikan dengan lembut, bukan dengan tuntutan.

  2. Ketenangan (Sakinah):
    Suasana damai lahir dari saling percaya dan komunikasi baik.

  3. Rahmat:
    Saling memaafkan dan menolong, karena semua manusia pasti punya kekurangan.

Ketiga pilar ini harus dijaga, sebab di sanalah ruh keharmonisan keluarga tumbuh.

🕌 4. Keluarga Harmonis Adalah Dakwah

Keluarga yang rukun adalah cermin keindahan Islam.
Anak-anak yang tumbuh dengan kasih akan mudah mencintai agamanya.
Rumah yang diwarnai ibadah akan menjadi benteng dari kerusakan moral.

Penyuluh, guru, dan orang tua punya peran penting dalam menjaga harmoni ini — bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga sebagai contoh bagi masyarakat sekitar.

💫 5. Membangun Surga Kecil di Rumah

  • Awali hari dengan doa dan salam.

  • Saling menghargai, sekecil apa pun peran anggota keluarga.

  • Hindari kata kasar, ganti dengan ucapan lembut.

  • Jadwalkan waktu untuk ibadah bersama.

  • Tanamkan kebiasaan syukur setiap hari.

Rumah yang penuh dzikir dan senyum akan lebih berharga daripada istana yang penuh pertengkaran.

🤲 Doa Keluarga Harmonis

“Ya Allah, jadikan rumah kami rumah yang penuh rahmat.
Tempat bertumbuhnya cinta, tempat bersemayamnya iman,
dan tempat kami belajar menuju surga-Mu yang sejati.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Kamis, 06 November 2025

Cinta Duniawi Akan Pudar, Cinta Karena Allah Akan Kekal

💖 Cinta Duniawi Akan Pudar, Cinta Karena Allah Akan Kekal

(Inspirasi dari QS. Ali Imran: 14)

Cinta adalah anugerah terbesar yang Allah tanamkan dalam hati manusia. Namun, tidak semua cinta memiliki nilai yang sama di sisi Allah. Ada cinta yang berumur pendek, dan ada cinta yang abadi hingga ke surga.
Cinta duniawi sering kali indah di awal, tetapi cepat pudar saat diuji. Sementara cinta yang lahir karena Allah justru semakin kuat, semakin diuji, semakin tumbuh.

🌹 1. Hakikat Cinta Duniawi

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 14:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak, dan perhiasan dunia...”

Ayat ini mengingatkan bahwa cinta duniawi bersifat sementara.
Cinta yang hanya berlandaskan fisik, harta, atau kesenangan sesaat akan mudah retak ketika cobaan datang.
Itulah sebabnya, banyak pasangan hari ini cepat menyerah karena cinta mereka berhenti di permukaan, belum sampai pada kedalaman iman.

💞 2. Cinta Karena Allah: Cinta yang Menguatkan

Cinta karena Allah berbeda.
Ia tidak bergantung pada rupa, usia, atau harta, tetapi pada niat dan ketulusan hati untuk saling menuntun menuju kebaikan.

Pasangan yang saling mencintai karena Allah akan:

  • Tetap bersama di kala senang dan susah.

  • Tidak berhenti berdoa satu sama lain.

  • Mengingatkan ketika salah, bukan meninggalkan.

  • Saling menuntun menuju ridha Allah.

Mereka sadar bahwa tujuan akhir cinta bukan dunia, tapi surga.

🌿 3. Tantangan Cinta di Zaman Sekarang

Zaman ini penuh ujian: media sosial yang menggoda, gaya hidup yang serba cepat, dan pandangan bahwa cinta hanyalah soal perasaan.
Padahal, dalam Islam, cinta adalah ibadah.
Cinta tanpa iman hanya akan melelahkan,
tetapi cinta dengan iman akan menenangkan.

🕌 4. Membangun Cinta yang Kekal

  1. Perbaharui niat — cintai pasangan karena ingin bersama menuju surga.

  2. Saling mengingatkan dalam ibadah — cinta sejati tumbuh dari sujud yang sama.

  3. Berdoalah bersama — jadikan doa sebagai bahasa cinta yang paling jujur.

  4. Maafkan dan bersyukur — dua kunci yang menjaga cinta tetap hidup.

💫 5. Refleksi Kehidupan

Mari kita renungkan:
Apakah cinta kita hari ini mengantarkan pada ridha Allah atau hanya pada kepuasan dunia?
Cinta yang kekal bukan yang membuat dunia terasa indah, tetapi yang membuat jalan ke surga terasa dekat.

🤲 Doa Penutup

“Ya Allah, jadikan cinta kami cinta yang Engkau ridai.
Satukan hati kami dalam ketaatan kepada-Mu,
dan pertemukan kami kembali di surga-Mu yang abadi.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Selasa, 04 November 2025

Suami Bekerja dengan Doa Istri, Istri Bekerja dengan Ridha Suami

 


💑 Suami Bekerja dengan Doa Istri, Istri Bekerja dengan Ridha Suami

(Inspirasi dari HR. Muslim)

Dalam kehidupan rumah tangga, sering kali yang terlihat hanya suami yang pergi bekerja dan istri yang tinggal di rumah. Namun, di balik pintu rumah yang tertutup, ada doa lembut istri yang mengiringi langkah suaminya setiap pagi.

Doa itu mungkin tidak terdengar, tapi menggetarkan langit.
Doa itu mungkin sederhana, tapi mendatangkan keberkahan rezeki.

Begitulah hakikat kehidupan suami istri yang saling melengkapi:
Suami bekerja dengan doa istri,
dan istri bekerja dengan ridha suami.

🌿 1. Harmoni yang Dilandasi Iman

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang salehah.”
(HR. Muslim)

Seorang istri yang salehah bukan hanya pandai mengatur rumah, tetapi juga menguatkan semangat suaminya dengan doa dan ketulusan.
Setiap pagi, saat suaminya melangkah keluar mencari nafkah, dia berbisik dalam hati:

“Ya Allah, lindungilah suamiku, berkahilah rezekinya, dan jadikan setiap langkahnya sebagai ibadah.”

Begitu juga suami yang saleh — ia bekerja bukan untuk kemewahan, tetapi untuk mendapatkan ridha Allah dan menafkahi keluarganya dengan halal.
Ia sadar bahwa doa istri adalah bagian dari kekuatannya, dan ridha Allah bergantung pada keridhaan istri dan suami yang saling mendukung.

💞 2. Cinta yang Bekerja Dua Arah

Keluarga yang bahagia tidak dibangun oleh satu pihak saja.
Suami bekerja keras di luar rumah,
sementara istri bekerja keras menjaga rumah agar tetap menjadi tempat nyaman untuk pulang.

  • Suami menjemput rezeki dengan keringat dan tanggung jawab.

  • Istri menjaga rezeki itu dengan doa, kesabaran, dan ketulusan.

Mereka berdua sedang bekerja untuk tujuan yang sama — mencari ridha Allah.

🕋 3. Rezeki yang Berkah Datang dari Hati yang Ridha

Berapa banyak orang bekerja keras tapi rezekinya terasa sempit?
Salah satu sebabnya adalah kurangnya ridha dan doa dalam keluarga.
Ketika istri tidak ikhlas, doa pun tertahan.
Ketika suami bekerja tanpa restu dan ucapan lembut dari istrinya, keberkahan pun berkurang.

Dalam QS. At-Taghabun: 11, Allah berfirman:
“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”

Artinya, ketenangan hati dan keberkahan rezeki bukan hanya dari kerja keras, tapi juga dari ketulusan doa dan ridha pasangan.

🌸 4. Cara Menumbuhkan Doa dan Ridha dalam Keluarga

  1. Saling mendoakan setiap hari, meski tanpa diminta.

  2. Ucapkan terima kasih atas usaha pasangan, sekecil apa pun.

  3. Jangan saling menuntut, tapi saling memahami peran dan lelah masing-masing.

  4. Bangun kebersamaan spiritual, seperti shalat berjamaah atau membaca Al-Qur’an bersama.

💗 5. Refleksi Kehidupan

Coba kita renungkan:
Berapa kali kita mendoakan pasangan hari ini?
Apakah kita bekerja hanya untuk diri sendiri, atau juga untuk keberkahan bersama?

Rumah tangga yang diberkahi bukan yang megah bangunannya,
tapi yang penuh doa, ridha, dan saling percaya.
Sebab, doa istri yang tulus bisa membuka pintu langit,
dan ridha suami yang ikhlas bisa menurunkan rahmat Allah.

🤲 Doa Penutup

“Ya Allah, berkahilah langkah suami yang bekerja untuk keluarganya,
dan berkahilah doa istri yang menjaga rumah dengan kesetiaan.
Satukan mereka dalam cinta, ridha, dan rahmat-Mu hingga ke surga.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam