Madrasah Keluarga Sakinah
Membaca Luka yang Sering Tidak Terucapkan dalam Rumah Tangga
“Abang itu kenapa sekarang apa-apa harus saya yang ikuti?”
Suara istrinya terdengar pelan. Tidak membentak. Tetapi ada sesuatu yang berat di balik kalimat itu.
Sang suami menarik napas.
“Saya cuma mengingatkan. Saya ingin keluarga kita baik.”
“Bukan mengingatkannya yang membuat saya capek. Tapi rasanya seperti saya tidak pernah dipercaya mengambil keputusan sendiri.”
Suasana rumah tiba-tiba hening.
Beberapa saat kemudian, giliran sang suami yang berkata,
“Dan saya juga merasa tidak pernah bebas berbuat baik kepada orang tua. Setiap kali saya membantu Ibu atau saudara, selalu dianggap lebih mementingkan mereka daripada keluarga sendiri.”
Keduanya diam.
Padahal, kalau dilihat dari luar, mereka bukan pasangan yang tidak saling mencintai.
Mereka hanya sedang sama-sama merasa tidak dimengerti.
Dan mungkin, kisah seperti ini tidak asing bagi banyak keluarga.
Ketika Suami Berkata: “Istri Saya Terlalu Mengatur”
Ada suami yang mengeluh,
“Sedikit-sedikit diingatkan. Mau melakukan sesuatu harus bilang. Mau bertemu teman ditanya. Mau membantu keluarga sendiri dipersoalkan. Saya seperti tidak dipercaya.”
Tetapi bisa jadi, di balik perilaku yang terlihat seperti “mengatur”, seorang istri sebenarnya sedang mencari rasa aman.
Ia ingin dilibatkan.
Ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.
Ia ingin merasa bahwa dirinya adalah pasangan hidup, bukan sekadar orang yang diberi tahu setelah keputusan dibuat.
Masalahnya, cara menyampaikan kebutuhan itu terkadang keliru.
Niatnya perhatian, tetapi yang terdengar menjadi perintah.
Niatnya ingin membantu, tetapi pasangan menangkapnya sebagai kritik.
Niatnya ingin menjaga keluarga, tetapi pasangan merasakannya sebagai pengawasan.
Di sinilah pasangan perlu belajar membedakan antara niat yang baik dan cara yang tepat.
Sebab niat baik tidak selalu menghasilkan perasaan yang baik apabila disampaikan dengan cara yang salah.
Ketika Istri Berkata: “Suami Saya Terlalu Memihak Keluarganya”
Di sisi lain, ada seorang istri yang berkata,
“Saya tidak pernah melarang suami berbakti kepada orang tuanya. Saya tahu itu kewajiban. Tetapi apakah setiap kali orang tuanya membutuhkan sesuatu, keluarga kami harus selalu mengalah?”
Kalimat ini penting untuk didengar.
Karena terkadang seorang istri bukan sedang memusuhi mertua.
Ia hanya sedang bertanya dalam hati:
“Di mana posisi saya dan anak-anak dalam prioritas suami saya?”
Seorang suami tentu memiliki kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
Allah berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Berbakti kepada orang tua adalah kemuliaan.
Tetapi setelah seseorang menikah dan memiliki keluarga, ia juga memikul amanah terhadap istri dan anak-anaknya.
Karena itu, persoalannya bukan:
“Harus memilih orang tua atau istri?”
Bukan.
Persoalannya adalah:
“Bagaimana seorang suami dapat berbakti kepada orang tuanya tanpa membuat istri dan anak-anak merasa kehilangan tempat dalam hidupnya?”
Di situlah kedewasaan rumah tangga diuji.
BUKAN SOAL SIAPA YANG SALAH
Banyak konflik rumah tangga menjadi semakin panjang karena masing-masing sibuk membuktikan bahwa dirinya benar.
Suami berkata:
“Kalau kamu tidak terlalu mengatur, saya juga tidak akan marah.”
Istri menjawab:
“Kalau kamu tidak terlalu memihak keluarga kamu, saya juga tidak akan banyak bicara.”
Akhirnya terbentuk lingkaran:
Suami merasa dikontrol → suami menjauh → istri merasa tidak diprioritaskan → istri semakin menuntut → suami merasa semakin dikontrol.
Begitu seterusnya.
Padahal yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah pengadilan untuk menentukan siapa yang paling benar.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bertanya:
“Apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan?”
Bukan:
“Kenapa kamu selalu begitu?”
Kalimat pertama membuka pintu.
Kalimat kedua sering membuat pasangan menutup diri.
ADA EMPAT HAL YANG PERLU DIBICARAKAN
Rumah tangga tidak cukup hanya dibangun dengan cinta.
Cinta perlu diterjemahkan menjadi kesepakatan.
1. Keuangan
Berapa yang menjadi kebutuhan keluarga inti?
Berapa yang dapat dialokasikan untuk membantu orang tua?
Bagaimana jika orang tua atau saudara membutuhkan bantuan mendadak?
Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan rumus matematika. Tetapi keterbukaan akan mengurangi kecurigaan.
Membantu keluarga besar tidak harus menjadi rahasia dari pasangan.
2. Waktu
Ada waktu untuk orang tua.
Ada waktu untuk pekerjaan.
Ada waktu untuk anak-anak.
Dan tentu saja ada waktu untuk suami dan istri.
Pasangan tidak seharusnya hanya mendapatkan “sisa waktu”.
Sebab terkadang yang membuat seseorang merasa tidak dicintai bukan kurangnya uang, melainkan kurangnya kehadiran.
3. Pengambilan keputusan
Keputusan yang menyangkut keluarga inti sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu antara suami dan istri.
Bukan berarti orang tua tidak boleh memberikan nasihat.
Tetapi pasangan hidup perlu merasakan bahwa dirinya adalah mitra utama dalam membangun rumah tangga.
Konsultasi kepada orang tua adalah bentuk penghormatan.
Musyawarah dengan pasangan adalah bentuk tanggung jawab.
Keduanya dapat berjalan bersama.
4. Batas yang sehat
Setelah menikah, seseorang tidak kehilangan orang tua dan saudara-saudaranya.
Tetapi ia juga sedang membangun sebuah keluarga baru.
Karena itu, diperlukan batas yang sehat.
Batas bukan berarti memutus hubungan.
Batas berarti mengetahui:
mana yang menjadi urusan keluarga inti, mana yang perlu dibicarakan dengan keluarga besar, dan mana yang sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu oleh suami dan istri.
Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang jauh dari keluarga besar.
Tetapi rumah tangga yang mampu menjaga hubungan dengan keluarga besar tanpa kehilangan keharmonisan keluarga inti.
SUAMI, COBA TANYAKAN INI KEPADA DIRI SENDIRI
Sebelum mengatakan, “Istri saya terlalu mengatur,” mungkin ada baiknya bertanya:
Apakah saya sudah cukup melibatkan istri dalam keputusan keluarga?
Apakah saya menjelaskan rencana ketika hendak membantu orang tua?
Apakah saya sudah memberikan rasa aman kepada istri?
Apakah saya menggunakan alasan “berbakti kepada orang tua” untuk menghindari persoalan yang sebenarnya perlu saya selesaikan dengan keluarga inti?
Apakah istri saya mendapatkan perhatian yang sama kuatnya dengan yang saya berikan kepada keluarga besar?
Bukan untuk menyalahkan diri.
Tetapi untuk memperbaiki diri.
ISTRI, COBA TANYAKAN INI KEPADA DIRI SENDIRI
Sebelum mengatakan, “Suami saya terlalu memihak keluarganya,” mungkin ada baiknya bertanya:
Apakah perhatian saya kepada suami sudah berubah menjadi kontrol?
Apakah saya menyampaikan kebutuhan dengan bahasa yang membuat suami merasa dihargai?
Apakah saya menghormati hubungan suami dengan orang tuanya?
Apakah setiap bantuan suami kepada keluarganya selalu saya anggap sebagai ancaman terhadap keluarga kami?
Apakah sebenarnya yang saya butuhkan bukan suami berhenti membantu keluarganya, tetapi saya ingin merasa lebih diperhatikan dan diprioritaskan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk mencari siapa yang salah.
Tetapi untuk menemukan apa yang perlu diperbaiki bersama.
JANGAN MEMBUAT PERNIKAHAN MENJADI PERLOMBAAN
Suami tidak perlu memenangkan perdebatan dengan istrinya.
Istri juga tidak perlu memenangkan pertengkaran dengan suaminya.
Sebab kalau suami menang dan istri terluka, apakah rumah tangga benar-benar menang?
Kalau istri berhasil membuktikan suaminya salah tetapi hubungan mereka semakin jauh, apakah itu kemenangan?
Dalam rumah tangga, kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika dua orang yang sempat berbeda akhirnya menemukan jalan untuk kembali berjalan bersama.
Karena itu, ubahlah beberapa kalimat sederhana.
Dari:
“Kamu selalu mengatur saya.”
Menjadi:
“Saya ingin diberi ruang untuk mengambil keputusan, tetapi saya juga ingin tetap melibatkanmu.”
Dari:
“Kamu selalu lebih mementingkan keluargamu.”
Menjadi:
“Saya tidak ingin menghalangi kamu berbakti kepada orang tua. Saya hanya ingin merasa bahwa saya dan anak-anak juga menjadi bagian penting dalam keputusanmu.”
Dari:
“Ini keluarga saya, bukan keluarga kamu.”
Menjadi:
“Mari kita cari cara agar keluarga besar kita tetap terhormat, sementara keluarga kecil kita juga tetap terjaga.”
Kadang yang perlu diubah bukan pasangan kita.
Tetapi cara kita berbicara kepadanya.
KELUARGA SAKINAH BUKAN KELUARGA TANPA MASALAH
Allah menggambarkan tujuan pernikahan dengan bahasa yang sangat indah:
لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Perhatikan dua kata yang sangat penting:
مَوَدَّةً — mawaddah
dan
رَحْمَةً — rahmah.
Mawaddah membuat kita ingin membahagiakan pasangan.
Rahmah membuat kita tetap lembut ketika pasangan sedang tidak sempurna.
Sebab suami tidak akan pernah mendapatkan istri yang sempurna.
Dan istri tidak akan pernah mendapatkan suami yang sempurna.
Yang mungkin kita dapatkan adalah seseorang yang bersedia belajar menjadi lebih baik bersama kita.
MUNGKIN PASANGAN KITA TIDAK SEDANG MENYERANG
Mungkin ketika istri berkata,
“Jangan terlalu mengatur saya,”
yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:
“Tolong percaya kepada saya.”
Mungkin ketika istri berkata,
“Kamu terlalu memperhatikan keluargamu,”
yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:
“Tolong yakinkan saya bahwa saya tetap penting bagi kamu.”
Dan mungkin ketika suami berkata,
“Saya hanya ingin berbakti kepada orang tua,”
yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:
“Tolong pahami bahwa saya juga punya tanggung jawab kepada keluarga tempat saya dibesarkan.”
Jika masing-masing hanya mendengar kata-kata, pertengkaran akan terus berulang.
Tetapi jika masing-masing berusaha mendengar kebutuhan yang tersembunyi di balik kata-kata, mungkin ada jalan keluar.
PULANGLAH KEPADA KATA “KITA”
Rumah tangga tidak dibangun dengan kata “aku” dan “kamu” sebanyak-banyaknya.
Ia dibangun dengan kata:
“Kita.”
Kita bicarakan.
Kita sepakati.
Kita perbaiki.
Kita belajar.
Kita hadapi.
Kita jaga.
Dan ketika masalah datang, jangan buru-buru bertanya:
“Siapa yang salah?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang bisa kita lakukan agar masalah ini tidak merusak kita?”
Sebab suami dan istri bukan dua kubu yang sedang bertanding.
Mereka adalah dua orang yang telah memilih untuk berjalan dalam satu perjalanan panjang.
Kadang jalannya mulus.
Kadang berliku.
Kadang salah satu lebih lelah daripada yang lain.
Tetapi selama keduanya masih mau saling menggenggam, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki arah.
Jangan meminta pasangan memilih antara kita dan keluarganya.
Bantulah pasangan menemukan cara untuk mencintai keluarganya tanpa kehilangan keluarganya sendiri.
Dan pada akhirnya, mungkin itulah salah satu makna keluarga sakinah:
bukan keluarga yang tidak pernah berbeda, tetapi keluarga yang ketika berbeda tetap memilih untuk saling memahami, saling menjaga, dan mencari jalan pulang bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar