SAAT SUAMI MERASA ISTRI TERLALU MENGATUR, ISTRI MERASA SUAMI TERLALU MEMIHAK KELUARGANYA
Membaca Akar Masalah dan Menemukan Jalan Keluar Bersama
Bahan literasi keluarga dan penyuluhan keagamaan
Wahyu Salim, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Ada percakapan yang mungkin pernah terjadi di banyak rumah tangga.
Suami berkata,
“Saya ini seperti tidak dipercaya. Sedikit-sedikit diatur. Semua harus sesuai kemauannya.”
Di sisi lain, istri berkata,
“Saya tidak melarang dia berbakti kepada orang tua. Tapi mengapa untuk orang tua dan saudara-saudaranya dia begitu perhatian, sementara kebutuhan keluarga sendiri kadang seperti nomor sekian?”
Dua kalimat tersebut terdengar seperti dua persoalan yang berbeda.
Padahal sering kali keduanya berasal dari persoalan yang sama: kebutuhan untuk dihargai, diperhatikan, diprioritaskan dan dipahami oleh pasangan.
Inilah yang sering luput dalam konflik rumah tangga.
Pasangan sibuk memperdebatkan perilaku yang tampak, sementara kebutuhan yang tersembunyi di balik perilaku itu tidak pernah dibicarakan.
Ketika perhatian terasa seperti pengaturan
Tidak semua istri yang banyak mengingatkan sedang berusaha menguasai suami.
Ada istri yang bertanya karena khawatir.
Ada yang mengingatkan karena ingin membantu.
Ada yang banyak memberi saran karena merasa bertanggung jawab terhadap rumah tangga.
Tetapi perhatian yang diberikan terus-menerus, dengan nada memerintah, mengoreksi hampir setiap keputusan, atau tidak memberikan ruang kepada pasangan, lama-kelamaan dapat dirasakan sebagai kontrol.
Suami akhirnya merasa:
“Apa pun yang saya lakukan selalu salah.”
Di sinilah perhatian dapat kehilangan makna baiknya.
Namun suami juga perlu berhati-hati.
Jangan setiap nasihat istri langsung diberi cap “terlalu mengatur.”
Mungkin di balik kalimat-kalimat itu ada pesan yang sebenarnya sederhana:
“Saya ingin dilibatkan.”
“Saya ingin didengar.”
“Saya ingin merasa bahwa kita menghadapi semuanya bersama.”
Karena itu, sebelum mengatakan “Kamu terlalu mengatur,” cobalah bertanya:
“Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan?”
Pertanyaan sederhana dapat membuka pintu yang selama ini tertutup oleh emosi.
Ketika berbakti kepada orang tua terasa seperti mengabaikan keluarga sendiri
Persoalan lain yang tidak kalah sensitif adalah hubungan suami dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
Islam sangat menekankan kewajiban berbuat baik kepada orang tua.
Allah berfirman:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.”
QS. Al-Isra': 23
Karena itu, pernikahan tidak boleh menjadi alasan seseorang memutuskan hubungan dengan orang tua.
Suami tetap memiliki kewajiban berbakti.
Tetapi setelah menikah, ia juga memiliki amanah terhadap istri dan anak-anaknya.
Maka persoalannya bukan:
“Pilih orang tua atau pilih istri?”
Pertanyaan yang lebih sehat adalah:
“Bagaimana saya dapat berbakti kepada orang tua sekaligus memenuhi hak istri dan anak-anak?”
Di sinilah kedewasaan berumah tangga diuji.
Sebab keluarga bukan arena untuk menentukan siapa yang harus dikalahkan.
Sering kali yang membuat istri terluka bukan bantuan kepada mertua
Bayangkan seorang suami membantu ibunya.
Ia mengantarkan berobat, membantu kebutuhan ekonomi, memperbaiki rumah orang tua, atau memenuhi permintaan saudara.
Apakah semua itu salah?
Tentu tidak.
Bahkan bisa menjadi amal yang mulia.
Tetapi persoalannya bisa berubah ketika istri merasa:
“Saya tidak pernah melarang kamu membantu mereka. Saya hanya ingin ketika keluarga kita membutuhkan, kamu juga hadir dengan perhatian yang sama.”
Jadi masalahnya bukan semata-mata berapa uang yang diberikan kepada orang tua.
Bukan pula semata-mata berapa kali suami mengunjungi saudara.
Yang sering menyakitkan adalah perasaan tidak menjadi prioritas dalam kehidupan pasangan.
Dan perasaan semacam itu perlu didengarkan, bukan langsung dibantah.
Sebaliknya, suami juga bisa merasa terjepit
Dari sudut pandang suami, persoalannya bisa berbeda.
Ia mungkin merasa bahwa setiap kali membantu orang tua, selalu muncul pertengkaran.
Akhirnya muncul pertanyaan dalam dirinya:
“Setelah menikah, apakah saya tidak boleh lagi memperhatikan keluarga saya?”
Perasaan ini juga nyata.
Suami membutuhkan ruang untuk tetap menjadi anak yang berbakti.
Karena itu, istri tidak perlu memposisikan dirinya sebagai pesaing bagi mertua.
Istri bukan pengganti ibu.
Ibu juga bukan pesaing bagi istri.
Keduanya memiliki tempat yang berbeda dalam kehidupan seorang laki-laki.
Yang diperlukan adalah batas yang sehat dan pembagian perhatian yang adil.
Masalah sebenarnya: bukan kurang cinta, tetapi kurang kesepahaman
Banyak pasangan masih saling mencintai ketika konflik semacam ini terjadi.
Tetapi cinta saja tidak selalu cukup.
Rumah tangga membutuhkan komunikasi, kesepakatan, batas, kepercayaan dan kemampuan mengelola perbedaan.
Suami mungkin merasa:
“Saya sudah bekerja keras untuk keluarga.”
Istri mungkin merasa:
“Saya sudah mengurus rumah dan anak-anak.”
Keduanya bisa sama-sama benar.
Masalahnya muncul ketika masing-masing hanya menghitung apa yang sudah diberikan, tetapi lupa melihat apa yang dirasakan oleh pasangan.
Suami berkata:
“Saya kan sudah berusaha.”
Istri menjawab:
“Tapi saya tidak merasakannya.”
Di sinilah rumah tangga membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pembuktian.
Empati.
Jangan mencari siapa yang menang
Ketika konflik berlangsung, suami ingin membuktikan bahwa dirinya tidak salah.
Istri juga ingin membuktikan bahwa dirinya punya alasan.
Akhirnya pertengkaran berubah menjadi sidang:
Siapa yang benar?
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang harus kita perbaiki agar masalah ini tidak terus berulang?”
Rumah tangga bukan pertandingan.
Jika suami menang dalam perdebatan tetapi istrinya terluka, apakah keluarga benar-benar menang?
Jika istri berhasil membuktikan suaminya salah tetapi suami semakin menjauh, apakah masalah selesai?
Tidak.
Kemenangan dalam rumah tangga bukan ketika pasangan kalah.
Kemenangan adalah ketika keduanya menemukan jalan untuk kembali berjalan bersama.
Maka, mari buat kesepakatan
Ada persoalan yang tidak akan selesai hanya dengan nasihat.
Ia membutuhkan kesepakatan konkret.
Suami dan istri dapat duduk bersama dalam suasana tenang dan membicarakan setidaknya empat hal.
1. Kesepakatan tentang keuangan
Berapa yang realistis untuk kebutuhan keluarga inti?
Berapa yang dapat diberikan kepada orang tua?
Bagaimana jika ada kebutuhan mendadak dari keluarga besar?
Jangan menunggu uang sudah keluar baru kemudian bertengkar.
Bicarakan sebelum mengambil keputusan besar.
2. Kesepakatan tentang waktu
Suami boleh mengunjungi orang tua.
Istri juga membutuhkan waktu bersama suami.
Keduanya perlu memiliki ruang.
Yang penting bukan membagi waktu dengan kalkulator, tetapi memastikan tidak ada pihak yang terus-menerus merasa diabaikan.
3. Kesepakatan tentang keputusan rumah tangga
Tidak semua persoalan harus diputuskan sendiri.
Begitu pula tidak semua persoalan harus dibawa kepada keluarga besar.
Untuk persoalan yang menyangkut keluarga inti, biasakan:
“Kita bicarakan dulu.”
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat penting.
4. Kesepakatan tentang batas campur tangan
Orang tua perlu dihormati.
Saudara perlu dijaga silaturahminya.
Tetapi rumah tangga juga membutuhkan ruang privat.
Tidak semua pertengkaran suami-istri perlu diceritakan kepada orang tua.
Tidak semua masalah keluarga perlu diketahui saudara.
Ada persoalan yang cukup diselesaikan berdua.
Suami: dengarkan kebutuhan istri, bukan hanya kata-katanya
Suami tidak harus selalu mengikuti semua keinginan istri.
Tetapi suami perlu belajar mendengarkan.
Ketika istri berkata:
“Kamu lebih perhatian kepada keluargamu.”
Jangan buru-buru menjawab:
“Kamu cemburu kepada orang tua saya!”
Cobalah bertanya:
“Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?”
Mungkin jawabannya bukan meminta suami menjauhi orang tua.
Mungkin ia hanya ingin:
diberi tahu sebelum keputusan dibuat,
dilibatkan dalam urusan keuangan,
ditemani ketika membutuhkan,
dihargai pendapatnya,
atau sekadar diyakinkan bahwa dirinya tetap penting.
Kadang pasangan tidak meminta sesuatu yang besar.
Ia hanya ingin merasa dipilih untuk diajak berjalan bersama.
Istri: berikan ruang tanpa kehilangan suara
Istri juga perlu melakukan introspeksi.
Menghormati suami tidak berarti harus diam.
Tetapi menyampaikan pendapat berbeda dengan mengendalikan.
Cobalah mengganti:
“Pokoknya jangan begitu!”
menjadi:
“Menurut saya ada cara lain yang mungkin lebih baik. Bagaimana kalau kita pertimbangkan bersama?”
Mengganti:
“Kamu selalu membela keluargamu!”
menjadi:
“Saya mendukung kamu berbakti kepada orang tua. Saya hanya ingin kita juga membuat kesepakatan agar kebutuhan keluarga kita tetap terjaga.”
Bahasa yang lembut bukan tanda kelemahan.
Bahasa yang tepat adalah salah satu bentuk kecerdasan dalam menjaga rumah tangga.
Ada saatnya kita berhenti dan bertanya kepada diri sendiri
Sebelum menuntut pasangan berubah, tanyakan:
Kepada suami:
“Apakah selama ini saya sudah membuat istri merasa aman, dihargai dan menjadi bagian dari setiap keputusan penting?”
Kepada istri:
“Apakah selama ini saya sudah membuat suami merasa dipercaya, dihargai dan memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri?”
Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana.
Tetapi sering kali perubahan besar dalam rumah tangga dimulai dari keberanian mengoreksi diri sendiri.
Keluarga sakinah bukan keluarga tanpa konflik
Kita kadang membayangkan keluarga sakinah sebagai keluarga yang tidak pernah bertengkar.
Padahal kenyataannya, dua manusia yang berbeda latar belakang, kebiasaan, karakter dan pengalaman tentu akan memiliki perbedaan.
Sakinah bukan berarti tidak ada masalah.
Sakinah adalah ketika masalah tidak membuat suami dan istri berubah menjadi musuh.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.”
QS. Ar-Rum: 21
Perhatikan dua kata yang sangat indah:
مَوَدَّةً — mawaddah
رَحْمَةً — rahmah
Cinta membuat kita ingin memiliki pasangan.
Tetapi rahmah membuat kita belajar memahami keterbatasan pasangan, memaafkan, mengalah pada saat yang tepat dan mencari solusi bersama.
Pada akhirnya, bukan “aku” dan “kamu”
Rumah tangga akan semakin dewasa ketika bahasa yang digunakan perlahan berubah.
Dari:
“Ini uang saya.”
menjadi:
“Bagaimana kita mengatur keuangan kita?”
Dari:
“Itu keluarga kamu.”
menjadi:
“Bagaimana kita membantu keluargamu tanpa mengabaikan keluarga kita?”
Dari:
“Kamu terlalu mengatur.”
menjadi:
“Bagaimana kita bisa saling memberi ruang?”
Dari:
“Kamu selalu membela keluargamu.”
menjadi:
“Bagaimana kita bisa menjaga orang tua sekaligus menjaga rumah tangga kita?”
Dan dari:
“Siapa yang salah?”
menjadi:
“Apa yang bisa kita lakukan bersama agar keadaan menjadi lebih baik?”
Inilah orientasi solusi yang sesungguhnya.
Bukan mencari pasangan yang sempurna.
Bukan memenangkan setiap perdebatan.
Bukan memutus hubungan dengan keluarga besar.
Tetapi belajar menata cinta, kewajiban, perhatian dan batas dengan bijaksana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar