Senin, 22 Desember 2025

REFLEKSI HARI IBU 22 DESEMBER: UNTUK MANDE, DOA YANG TAK PERNAH HABIS


๐Ÿค

REFLEKSI HARI IBU 22 DESEMBER:
UNTUK MANDE, DOA YANG TAK PERNAH HABIS

Mandeku…
di usiamu yang kini lebih dari delapan puluh tahun,
langkahmu mungkin tak lagi sekuat dulu,
namun doamu tetap berjalan paling depan
mengawal hidup kami—anak-anakmu.

Aku anak kelima
dari sepuluh jiwa
yang lahir dari rahim sabarmu.
Sepuluh cerita, sepuluh watak, sepuluh jalan hidup,
namun satu kasih
yang tak pernah kau bagi-bagi.

Mandeku…
kami tumbuh dari peluhmu,
dari lelah yang kau sembunyikan di balik senyum,
dari malam-malam panjang
saat kau lebih memilih terjaga
demi memastikan kami baik-baik saja.

Tak terhitung berapa kali
kau menunda bahagia demi kami,
menelan perih sendiri
agar anak-anakmu tak kekurangan apa pun
selain rasa malu karena belum sepenuhnya berbakti.

Berat perjuanganmu, Man…
mengandung, melahirkan, membesarkan,
mendidik sepuluh anak
di tengah keterbatasan
dan zaman yang tak selalu ramah.

Namun tak pernah kami dengar keluhmu.
Yang kami dengar hanya satu kalimat doa:
“Ya Allah, jaga anak-anak mande…”

Doa itu mengalir
dari bibirmu setiap habis salat,
dari hatimu setiap kami pergi,
dari air matamu setiap kami diuji.

Nak, mandemu mungkin tak mengerti
seberapa besar dunia di luar sana,
tapi mande paling paham
bagaimana caranya mencintai tanpa syarat.

Kini kami dewasa, Man…
semua telah menjadi orang tua,
tapi masih belajar menjadi manusia.
Namun di hadapanmu,
kami tetap anak kecil
yang ingin pulang
dan dipeluk tanpa ditanya apa-apa.

Jika hari ini ada kebaikan dalam hidup kami,
itu karena engkau tak pernah lelah mendoakan.
Jika hari ini kami masih berdiri,
itu karena engkau lebih dulu bersujud.

Doa kami untukmu, Mandeku:

Ya Allah…
panjangkan usia ibu kami dalam kebaikan,
sehatkan raganya, tenangkan jiwanya.
Ampuni segala lelah yang pernah ia simpan sendiri,
hapus setiap air mata yang jatuh tanpa kami tahu.

Jadikan setiap langkahnya bernilai ibadah,
setiap sabarnya cahaya,
setiap doanya penolong kami
di dunia dan di akhirat.

Ya Allah…
jika surga adalah tempat paling indah,
maka tempatkan mande kami
di bagian terbaiknya.

Mandeku…
kami mungkin belum sempurna membalas perjuanganmu,
namun cinta dan doa kami
akan terus hidup
selama namamu kami sebut
dalam sujud kami.

Selamat Hari Ibu, Mandeku.
Engkau bukan hanya ibu,
engkau adalah doa yang selalu hidup menyertai hidup kami

UWaS

Jumat, 19 Desember 2025

Islam adalah Google Maps Menuju Pulang Kampung: Surga Allah SWT

 


Islam adalah Google Maps Menuju Pulang Kampung: Surga Allah SWT

Setiap orang pasti rindu pulang kampung. Tempat asal, tempat yang memberi rasa aman, tenang, dan bahagia. Namun dalam hakikat kehidupan, kampung halaman sejati manusia bukanlah sekadar tanah kelahiran, melainkan Surga Allah SWT. Dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhir perjalanan adalah kembali kepada Sang Pencipta.

Dalam realitas kehidupan modern, kita mengenal Google Map sebagai penunjuk arah. Tanpa peta dan navigasi, perjalanan bisa tersesat, berputar-putar, bahkan masuk jalan buntu. Begitulah kehidupan manusia. Tanpa petunjuk Ilahi, manusia mudah salah arah, tergoda jalan pintas, dan terperosok ke jurang kebinasaan. Di sinilah Islam hadir sebagai “Google Map” kehidupan.

Islam: Petunjuk Jalan yang Jelas dan Terpercaya

Allah SWT menegaskan:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Islam bukan sekadar identitas, tetapi sistem navigasi hidup. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ๏ทบ adalah peta resmi dari Allah SWT, lengkap dengan rambu-rambu, peringatan, dan tujuan akhir. Tidak ada versi trial, tidak ada update yang salah, dan tidak pernah menyesatkan.

Dalam gambar karikatur, jalan menuju surga digambarkan terang dan jelas, sementara jalur maksiat tampak gelap dan berbahaya. Ini adalah refleksi realitas hidup: ketaatan selalu menuntun pada ketenangan, sedangkan dosa membawa kegelisahan.

Rambu-Rambu Perjalanan Menuju Surga

Sebagaimana Google Map menampilkan petunjuk seperti “belok kiri”, “lurus 200 meter”, Islam pun menghadirkan rambu-rambu spiritual:

  • Shalat: penanda arah utama, pengingat lima waktu agar tidak keluar jalur.

  • Amal shalih: bahan bakar perjalanan agar sampai tujuan.

  • Taubat: fitur “reroute” saat kita salah jalan.

  • Zikir dan doa: sinyal penguat agar tidak kehilangan arah.

  • Menjauhi maksiat: larangan masuk jalan rusak dan berbahaya.

Allah SWT berfirman:

“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An’am: 153)

Salah Jalan, Jangan Matikan Navigasi

Manusia tidak luput dari kesalahan. Dalam perjalanan hidup, kadang kita tergelincir ke jalan dosa. Namun Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Selama “aplikasi iman” masih aktif, taubat selalu terbuka. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Selama hayat masih dikandung badan, jalan pulang masih tersedia.

Surga: Kampung Halaman Sejati

Gambar gerbang surga yang bercahaya dalam ilustrasi itu menyampaikan pesan mendalam: surga adalah tujuan akhir, tempat istirahat abadi, tanpa kesedihan, tanpa konflik, tanpa air mata. Di sanalah kampung halaman hakiki manusia.

Allah SWT berfirman:

“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah: 82)

Penutup: Pastikan Arah, Bukan Sekadar Bergerak

Banyak orang sibuk bergerak, tetapi lupa memastikan arah. Islam mengajarkan bahwa hidup bukan soal cepat atau lambat, tetapi soal benar atau salah arah. Jangan sampai kita lelah di jalan, namun ternyata bukan menuju surga.

Mari aktifkan “Islam Map” dalam kehidupan: berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, mengikuti rambu syariat, dan terus memperbaiki niat. InsyaAllah, kita akan sampai pulang kampung ke Surga Allah SWT dengan selamat.

Islam adalah petunjuk jalan.
Surga adalah tujuan.
Jangan matikan navigasi iman.

POKOK AJARAN AGAMA YANG WAJIB DIKETAHUI




KHUTBAH JUM’AT

POKOK AJARAN AGAMA YANG WAJIB DIKETAHUI ORANG ISLAM

(Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah)

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Khutbah Pertama

ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ّٰู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ، ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠู†ُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ُ، ูˆَู†َุนُูˆุฐُ ุจِุงู„ู„ّٰู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆุฑِ ุฃَู†ْูُุณِู†َุง ูˆَู…ِู†ْ ุณَูŠِّุฆَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„ِู†َุง، ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِู‡ِ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ูَู„َุง ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„َุง ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡ُ.

ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„ٰู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ّٰู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ุณَูŠِّุฏَู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆู„ُู‡ُ، ุงَู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ูˆَุณَู„ِّู…ْ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠู†َ.

ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ، ูَูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ ุฑَุญِู…َูƒُู…ُ ุงู„ู„ّٰู‡ُ، ุฃُูˆุตِูŠูƒُู…ْ ูˆَู†َูْุณِูŠَ ุงู„ْุฎَุงุทِุฆَุฉَ ุจِุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ّٰู‡ِ، ูَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„ّٰู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„َุง ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„َّุง ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ.

 ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ูِูŠ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุงู„ْูƒَุฑِูŠู…ِ:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„َุง ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„َّุง ูˆَุฃَู†ุชُู… ู…ُّุณْู„ِู…ُูˆู†َ (ุขู„ ุนู…ุฑุงู†: ูกู ูข)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam terletak pada ajaran-ajarannya yang jelas, menyeluruh, dan mudah dipahami. Setiap muslim wajib mengetahui pokok-pokok ajaran agama agar keislamannya tidak hanya sekadar identitas, tetapi menjadi keyakinan, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Allah ๏ทป berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุฏْุฎُู„ُูˆุง ูِูŠ ุงู„ุณِّู„ْู…ِ ูƒَุงูَّุฉً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Pokok ajaran Islam secara ringkas terangkum dalam tiga pilar utama, sebagaimana dijelaskan Rasulullah ๏ทบ dalam Hadis Jibril, yaitu: Islam, Iman, dan Ihsan.

Mengetahui pokok ajaran agama adalah kewajiban setiap muslim, bukan hanya para ulama. Dengan ilmu, ibadah menjadi benar; dengan ilmu, akidah menjadi lurus; dan dengan ilmu, akhlak menjadi mulia.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุทَู„َุจُ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ูَุฑِูŠุถَุฉٌ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ู…ُุณْู„ِู…ٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Marilah kita perbaiki keislaman kita dengan memahami Islam, Iman, dan Ihsan, serta mengajarkannya kepada keluarga dan generasi penerus kita.

Pertama: Islam (Rukun Islam)

Islam dibangun di atas lima perkara, sebagaimana sabda Rasulullah ๏ทบ:

ุจُู†ِูŠَ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ُ ุนَู„َู‰ ุฎَู…ْุณٍ
“Islam dibangun di atas lima perkara…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yaitu:

  1. Syahadat, pengakuan bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

  2. Shalat, sebagai tiang agama.

  3. Zakat, sebagai pembersih harta dan jiwa.

  4. Puasa Ramadhan, sebagai sarana pembinaan takwa.

  5. Haji, bagi yang mampu.

Kelima rukun ini adalah fondasi lahiriah seorang muslim.

Kedua: Iman (Rukun Iman)

Iman adalah keyakinan dalam hati yang dibenarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal. Rukun iman ada enam, yaitu:

  1. Iman kepada Allah

  2. Iman kepada malaikat

  3. Iman kepada kitab-kitab Allah

  4. Iman kepada rasul-rasul Allah

  5. Iman kepada hari akhir

  6. Iman kepada qadha dan qadar

Allah ๏ทป berfirman:

ุขู…َู†َ ุงู„ุฑَّุณُูˆู„ُ ุจِู…َุง ุฃُู†ْุฒِู„َ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ู…ِู†ْ ุฑَุจِّู‡ِ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ
(QS. Al-Baqarah: 285)

Iman inilah yang menjadi akar keislaman dan penentu keselamatan di akhirat.

Ketiga: Ihsan

Ihsan adalah puncak ajaran Islam, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika tidak mampu, yakinlah bahwa Allah selalu melihat kita.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…” (HR. Muslim)

Ihsan melahirkan akhlak mulia, kejujuran, amanah, dan kasih sayang dalam kehidupan.

Khutbah Kedua

ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ّٰู‡ِ ุญَู…ْุฏًุง ูƒَุซِูŠุฑًุง ูƒَู…َุง ุฃَู…َุฑَ، ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„ٰู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ّٰู‡ُ ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ّٰู‡ِ.

ุงَู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ูˆَุณَู„ِّู…ْ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠู†َ.

 ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ูِูŠ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุงู„ْูƒَุฑِูŠู…ِ:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„َุง ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„َّุง ูˆَุฃَู†ุชُู… ู…ُّุณْู„ِู…ُูˆู†َ (ุขู„ ุนู…ุฑุงู†: ูกู ูข)

ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَู…َู„ุงَุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ، ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡ุงَ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุกَุงู…َู†ُูˆْุง ุตَู„ُّูˆْุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆْุง ุชَุณْู„ِูŠْู…ًุง.

 ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูƒَู…َุง ุตَู„َّูŠْุชَ ุนَู„َู‰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ، ูˆَุจَุงุฑِูƒْ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูƒَู…َุง ุจَุงุฑَูƒْุชَ ุนَู„َู‰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ، ุฅِู†َّูƒَ ุญَู…ِูŠْุฏٌ ู…َุฌِูŠْุฏٌ.

ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ูَู‚ِّู‡ْู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏِّูŠู†ِ، ูˆَุนَู„ِّู…ْู†َุง ู…َุง ูŠَู†ْูَุนُู†َุง، ูˆَุงู†ْูَุนْู†َุง ุจِู…َุง ุนَู„َّู…ْุชَู†َุง، ูˆَุงุฌْุนَู„ْู†َุง ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ.

ุงَู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุณْู„ِู…َุงุชِ، ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ، ุงู„ْุฃَุญْูŠَุงุกِ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَุงู„ْุฃَู…ْูˆَุงุชِ.

ุนِุจَุงุฏَ ุงู„ู„ّٰู‡ِ، ุฅِู†َّ ุงู„ู„ّٰู‡َ ูŠَุฃْู…ُุฑُ ุจِุงู„ْุนَุฏْู„ِ ูˆَุงู„ْุฅِุญْุณَุงู†ِ ูˆَุฅِูŠุชَุงุกِ ุฐِูŠ ุงู„ْู‚ُุฑْุจَู‰، ูˆَูŠَู†ْู‡َู‰ ุนَู†ِ ุงู„ْูَุญْุดَุงุกِ ูˆَุงู„ْู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَุงู„ْุจَุบْูŠِ، ูŠَุนِุธُูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุฐَูƒَّุฑُูˆู†َ.

ูَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„ّٰู‡َ ุงู„ْุนَุธِูŠู…َ ูŠَุฐْูƒُุฑْูƒُู…ْ، ูˆَุงุดْูƒُุฑُูˆู‡ُ ุนَู„َู‰ ู†ِุนَู…ِู‡ِ ูŠَุฒِุฏْูƒُู…ْ، ูˆَู„َุฐِูƒْุฑُ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุฃَูƒْุจَุฑُ، ูˆَุงู„ู„ّٰู‡ُ ูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ุชَุตْู†َุนُูˆู†َ.

Rabu, 17 Desember 2025

Suami–istri yang sering bertengkar karena hal sepele dan sama-sama tak mau kalah, disusun dengan pendekatan Islami dan psikologi relasi


Suami–istri yang sering bertengkar karena hal sepele dan sama-sama tak mau kalah, disusun dengan pendekatan Islami dan psikologi relasi: Ini Tipsnya....

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

1. Sadari: Menang dalam debat ≠ Menang dalam rumah tangga

Banyak pasangan lupa bahwa:

Yang kalah dalam pertengkaran adalah cinta itu sendiri.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Aku menjamin sebuah rumah di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.”
(HR. Abu Dawud)

๐Ÿ‘‰ Mengalah bukan berarti lemah, tapi bijak menjaga hubungan.

2. Bedakan “masalah” dan “emosi”

Sering kali yang diperdebatkan bukan masalahnya, tapi emosi yang menumpuk.

Contoh:

  • Masalah: gelas tak dicuci

  • Emosi: merasa tidak dihargai

๐Ÿ’ก Latih bertanya:

“Kamu marah karena apa sebenarnya?”

3. Gunakan bahasa “aku”, bukan “kamu”

Hindari kalimat:

  • ❌ “Kamu selalu…”

  • ❌ “Kamu nggak pernah…”

Ganti dengan:

  • ✅ “Aku merasa sedih saat…”

  • ✅ “Aku butuh dimengerti ketika…”

๐Ÿ“Œ Ini menurunkan tensi dan membuka dialog.

4. Sepakati waktu “jeda emosi”

Jika emosi mulai naik:

  • Diam bukan mengabaikan

  • Tapi menunda agar tidak saling melukai

Contoh kesepakatan:

“Kita berhenti 20 menit, lalu bicara lagi dengan tenang.”

Allah berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…”
(QS. Al-Furqan: 63)

5. Ingat tujuan menikah, bukan sekadar membuktikan diri

Tujuan rumah tangga:

  • Sakinah (tenang)

  • Mawaddah (cinta)

  • Rahmah (kasih sayang)

Bukan:

  • Siapa paling benar

  • Siapa paling berkuasa

๐Ÿ‘‰ Jika ingin sakinah, ego harus dikalahkan.

6. Biasakan minta maaf lebih dulu (walau terasa berat)

Minta maaf bukan pengakuan salah sepihak, tapi:

  • Upaya menyelamatkan hubungan

  • Bentuk kedewasaan iman

Rasulullah ๏ทบ adalah orang yang paling lembut kepada keluarganya.

7. Doakan pasangan, bukan hanya mengkritiknya

Setiap selesai shalat:

“Ya Allah, lembutkan hatiku dan hati pasangan kami.”

๐Ÿ“Œ Doa yang tulus melembutkan hati yang keras.

Penutup Konseling

๐Ÿ‘‰ Rumah tangga tidak butuh dua orang yang ingin menang, tapi dua orang yang ingin bertahan.

Jika pertengkaran terus berulang:

  • Jangan malu konseling di KUA

  • Datang bukan karena gagal, tapi ingin memperbaiki๐Ÿ’•๐Ÿ’•

Jejak Penyuluh Agama Peduli


 Tak perlu koar-koar, bergerak dalam senyap, diam tak berarti tak berbuat, semangat...!!!

Senin, 15 Desember 2025

Hikmah Islami dan Psikologi Relasi: Menghangatkan kembali suasana rumah tangga

 


Hikmah Islami dan Psikologi Relasi: Menghangatkan kembali suasana rumah tangga

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

1. Hentikan Dingin dengan “Gencatan Senjata Emosi”

Setelah pertengkaran, yang paling dibutuhkan bukan menang, tapi tenang.

Langkah awal:

  • Sepakati jeda emosi (cooling down)

  • Hindari mengungkit masalah lama

  • Jangan gunakan kata “selalu” dan “tidak pernah”

“Menahan amarah lebih mulia daripada meluapkannya.”
(HR. Ahmad)

๐Ÿ‘‰ Dingin sering muncul karena luka yang tidak diberi waktu sembuh.

2. Mulai dari yang Paling Ringan, Bukan yang Paling Berat

Jangan langsung membahas akar konflik. Mulailah dari hal kecil:

  • Senyum, sapa, dan sentuhan ringan

  • Menanyakan kabar dengan tulus

  • Mengucapkan terima kasih atas hal sederhana

Kehangatan sering kembali bukan lewat diskusi panjang, tapi lewat isyarat perhatian kecil.

3. Akui Perasaan, Bukan Menentukan Siapa Salah

Gunakan bahasa “aku”, bukan “kamu”.

Contoh:

  • ❌ “Kamu bikin aku capek”

  • ✅ “Aku merasa lelah dan sedih, aku ingin kita lebih hangat lagi”

Ini membuat pasangan tidak defensif dan lebih mau membuka diri.

4. Pulihkan Koneksi Emosional Lewat Rutinitas Baru

Kebosanan sering muncul karena rutinitas yang stagnan.

Saran sederhana:

  • Makan bersama tanpa gawai

  • Jalan santai berdua

  • Minum teh malam sambil bercerita

  • Shalat berjamaah lalu doa bersama

“Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

5. Minta Maaf dengan Tulus, Walau Merasa Tidak Sepenuhnya Salah

Dalam pernikahan, maaf bukan tanda kalah, tapi tanda cinta.

Kalimat yang menenangkan:

“Aku minta maaf kalau sikapku melukai hatimu. Aku ingin kita baik-baik lagi.”

Sering kali kehangatan kembali setelah satu kalimat ini.

6. Bangun Kembali Bahasa Cinta Pasangan

Setiap orang punya cara merasa dicintai:

  • Kata-kata

  • Waktu berkualitas

  • Perhatian

  • Sentuhan

  • Bantuan nyata

Ajak pasangan saling bertanya:

“Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu merasa lebih dicintai?”

7. Libatkan Spiritualitas sebagai Lem Perekat

Saat emosi belum pulih, hati sering sulit menyatu, tapi doa menyatukan.

Praktik sederhana:

  • Doakan pasangan diam-diam

  • Dzikir singkat bersama

  • Membaca Al-Qur’an bergantian

“Hati itu berada di antara dua jari Allah.”
(HR. Muslim)

8. Sepakati Aturan Sehat Saat Bertengkar

Agar dingin tidak berulang, buat kesepakatan:

  • Tidak bertengkar di depan anak

  • Tidak mengancam cerai

  • Tidak mengungkit masa lalu

  • Fokus solusi, bukan emosi

Penutup Pesan Konseling

Sampaikan penguatan:

“Rumah tangga yang hangat bukan yang tanpa konflik, tapi yang mau kembali saling merangkul setelah terluka. Cinta tidak selalu berisik, kadang ia kembali lewat keheningan yang disertai niat memperbaiki.” ๐Ÿค

Konseling Keluarga Islami: Istri yang mandiri, supel, suka dimanja, memiliki suami bertanggung jawab namun kurang romantis

 

MENCARI TITIK TEMU CINTA PASUTRI

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)


1. Pahami: Mandiri Boleh, Tapi Ikatan Hati Harus Dijaga

Kemandirian, kepandaian bergaul, dan kepercayaan diri adalah anugerah, bukan kesalahan. Namun dalam pernikahan, kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.

“Perempuan yang baik adalah yang menjaga diri dan kehormatan ketika suaminya tidak ada.”
(QS. An-Nisa: 34)

Pesan penting:
๐Ÿ‘‰ Boleh ramah, tapi jangan membuka pintu yang mengundang cemburu atau fitnah.

2. Sadari: Rasa Cemburu Suami Bukan Selalu Curiga, Tapi Takut Kehilangan

Tekankan bahwa:

  • Suami yang cemburu belum tentu posesif

  • Bisa jadi itu bahasa cintanya yang tidak pandai diucapkan

Sering kali suami:

  • Menunjukkan cinta lewat kerja keras

  • Mengungkapkan sayang lewat tanggung jawab, bukan kata-kata

Diamnya suami kadang adalah ketulusan yang tidak pandai diekspresikan.

3. Jaga Batas Pergaulan, Demi Kehormatan dan Ketenteraman

Sebagai istri bekerja dan aktif bersosialisasi:

  • Hindari kedekatan emosional dengan lawan jenis

  • Jangan menjadikan laki-laki lain tempat curhat

  • Jaga komunikasi tetap profesional dan seperlunya

“Hati perempuan mudah luluh oleh perhatian; maka lindungilah hatimu sebelum terluka.”

Ini bukan soal tidak dipercaya, tapi menjaga keutuhan rumah tangga.

4. Jangan Cari “Dimanja” di Luar, Arahkan Kebutuhan Itu ke Suami

Suka dimanja adalah fitrah, bukan kelemahan. Namun:

  • Jika kebutuhan ini tidak disampaikan, suami tidak akan tahu

  • Jika dipenuhi orang lain, itu awal keretakan

Sarankan kalimat lembut:

“Aku bahagia kalau kamu lebih sering memelukku, menanyakan hariku, atau memujiku.”

๐Ÿ‘‰ Laki-laki butuh diajari bahasa cinta, bukan dimarahi.

5. Hargai Usaha Suami, Walau Tidak Romantis

Tekankan:

  • Nafkah, kesetiaan, dan tanggung jawab adalah romantisme tingkat tinggi

  • Jangan membandingkan suami dengan pria lain

“Jangan meremehkan kebaikan kecil; bisa jadi di sanalah letak berkah rumah tangga.”

6. Bangun Rasa Aman, Bukan Kecurigaan

Istri bisa membantu menenangkan hati suami dengan:

  • Keterbukaan (tanpa harus membuka semua hal pribadi)

  • Menenangkan saat suami cemburu, bukan menantang

  • Menguatkan posisi suami sebagai pasangan utama

Contoh kalimat:

“Aku memilih kamu, dan aku ingin kita sama-sama merasa aman.”

7. Ingat Amanah Anak dan Janji Pernikahan

Dengan anak-anak:

  • Mereka belajar cinta dari cara orang tua saling menghargai

  • Istri adalah madrasah pertama ketenangan rumah

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang shalihah.”
(HR. Muslim)

Penutup Pesan Konseling

Akhiri dengan pesan yang menguatkan:

“Menjadi istri yang mandiri tidak mengurangi kemuliaan, dan memiliki suami yang sederhana dalam romantisme tidak mengurangi nilai cintanya. Rumah tangga terjaga bukan karena sempurna, tapi karena saling menjaga.” ๐ŸŒท


Konseling Keluarga Islami dan Psikologi Relasi

Konseling Keluarga Islami dan Psikologi Relasi: Saat ada orang ketiga

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

1. Tenangkan Emosi, Jangan Bertindak Reaktif

Langkah pertama adalah menenangkan hati dan menghindari prasangka berlebihan.

“Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

  • Kedekatan belum tentu perselingkuhan

  • Hindari memata-matai, menginterogasi, atau menuduh tanpa bukti

  • Emosi yang meledak justru dapat mendorong istri semakin menjauh

Pesan konseling:
๐Ÿ‘‰ “Masalah rumah tangga tidak bisa diselesaikan dengan emosi, tapi dengan kebijaksanaan.”

2. Lakukan Muhasabah Peran Suami

Ajak klien untuk jujur bercermin, bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk memperbaiki keadaan.

Beberapa poin refleksi:

  • Apakah kebutuhan emosional istri sudah terpenuhi?

  • Apakah selama ini komunikasi hanya seputar kewajiban, bukan perasaan?

  • Apakah suami hadir sebagai teman bicara, bukan hanya pencari nafkah?

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)

Catatan penting:
Kurang romantis bukan dosa, tapi bisa menjadi celah emosional bila istri merasa tidak dihargai atau tidak diperhatikan.

3. Bangun Komunikasi dari Hati ke Hati

Sarankan klien berbicara dengan istri secara lembut dan dewasa, bukan dengan nada tuduhan.

Contoh kalimat yang dianjurkan:

  • ❌ “Kamu selingkuh ya?”

  • ✅ “Aku merasa cemas dan takut kehilanganmu. Aku ingin kita sama-sama menjaga rumah tangga ini.”

Prinsip komunikasi:

  • Pilih waktu yang tenang

  • Dengarkan lebih banyak daripada berbicara

  • Validasi perasaan istri, meski tidak sepakat

4. Tegaskan Batas, Tanpa Mengontrol Berlebihan

Sebagai istri bekerja dan mandiri, kemandirian bukan masalah, tapi batas pergaulan tetap wajib dijaga.

Sampaikan dengan tegas namun santun:

  • Menjaga jarak dengan lawan jenis

  • Menghindari chat/bercanda yang berpotensi menimbulkan fitnah

  • Menjaga kehormatan keluarga dan anak-anak

“Janganlah kalian mendekati zina.”
(QS. Al-Isra’: 32)

Pendekatan yang dianjurkan:
๐Ÿ‘‰ Kesepakatan bersama, bukan larangan sepihak.

5. Perbaiki Kualitas Relasi, Bukan Sekadar Mengawasi

Sarankan suami menguatkan ikatan, bukan hanya fokus pada kecurigaan.

Langkah konkret:

  • Luangkan waktu berdua (quality time)

  • Apresiasi hal kecil yang dilakukan istri

  • Sesekali belajar mengekspresikan perhatian (kata, sikap, atau tindakan sederhana)

Romantis itu bisa dipelajari, bukan bakat bawaan.

6. Ingatkan tentang Anak dan Amanah Keluarga

Tekankan dampak konflik terhadap tiga anak mereka.

Pesan reflektif:

  • Anak tidak hanya butuh orang tua utuh, tapi orang tua yang saling menghormati

  • Retaknya hubungan suami-istri sering meninggalkan luka batin pada anak

7. Jika Perlu, Sarankan Konseling Pasutri

Bila komunikasi buntu:

  • Libatkan penyuluh agama, konselor keluarga, atau tokoh yang dipercaya

  • Berdasarkan prinsip tahkim (mediasi) dalam Islam
    (QS. An-Nisa: 35)

Penutup Pesan Konseling

Sampaikan penegasan yang menenangkan klien:

“Rumah tangga yang kuat bukan yang tanpa masalah, tetapi yang mau memperbaiki diri sebelum saling menyalahkan. Jaga istri dengan cinta, bukan curiga. Jaga keluarga dengan hikmah, bukan emosi.”


Minggu, 14 Desember 2025

SELAMAT & SUKSES MTQ SUMBAR XLI BUKITTINGGI 2025


"IPARI KOTA PADANG PANJANG MENGUCAPKAN SELAMAT & SUKSES PENYELENGGARAAN MTQ SUMBAR XLI BUKITTINGGI 2025"

Semoga memperkuatkan keimanan & ketaqwaan umat serta kecintaanya kepada Al-Qur'an sebagai pedoman hidup terbaik, sekaligus menjadi obat penawar terbaik bagi kita semua, khususnya pasca bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat. UWaS
 

Penyuluh Agama Peduli: IPARI Kota Padang Panjang Serahkan Donasi dan Lakukan Trauma Healing bagi Warga Terdampak



Penyuluh Agama Peduli: IPARI Kota Padang Panjang Serahkan Donasi dan Lakukan Trauma Healing bagi Warga Terdampak

Padang Panjang — Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Padang Panjang menunjukkan kepedulian nyata terhadap masyarakat terdampak musibah dengan menyalurkan donasi serta melakukan pendampingan trauma healing pada 11–12 Desember 2025.

Kegiatan bertajuk “Penyuluh Agama Peduli” ini dipimpin langsung oleh Ketua IPARI Kota Padang Panjang, Wahyu Salim, bersama 13 Penyuluh Agama Islam se-Kota Padang Panjang. Mereka turun langsung ke lokasi warga terdampak untuk menyerahkan bantuan sekaligus memberikan penguatan psikososial dan spiritual.

Donasi yang disalurkan berupa kebutuhan pokok, perlengkapan harian, serta bantuan lain yang dibutuhkan masyarakat. Namun lebih dari sekadar bantuan materi, kehadiran para penyuluh agama dimaksudkan untuk menghadirkan ketenangan batin, harapan, dan pemulihan mental bagi warga yang masih mengalami guncangan pascabencana.

Pendekatan Trauma Healing Berbasis Nilai Keagamaan

Dalam kegiatan tersebut, para penyuluh menerapkan pendekatan trauma healing yang bersifat persuasif dan religius. Melalui dialog hangat, doa bersama, tausiyah singkat, serta pendampingan personal, warga diajak untuk mengekspresikan perasaan, menguatkan kembali rasa aman, dan menumbuhkan optimisme menghadapi masa depan.

Ketua IPARI Kota Padang Panjang, Wahyu Salim, menyampaikan bahwa peran penyuluh agama tidak hanya sebatas menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga hadir di tengah masyarakat saat mereka berada dalam kondisi paling rentan.

“Penyuluh agama harus menjadi sahabat umat, hadir tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga harapan, ketenangan, dan keyakinan bahwa setiap ujian adalah bagian dari kasih sayang Allah SWT,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa trauma akibat musibah tidak selalu tampak secara fisik, namun dapat membekas dalam jiwa. Oleh karena itu, pendekatan spiritual dan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Menguatkan Nilai Solidaritas dan Kepedulian Sosial

Kehadiran 14 Penyuluh Agama Islam dalam kegiatan ini menjadi simbol kuatnya solidaritas dan komitmen IPARI Kota Padang Panjang dalam menjalankan fungsi pembinaan umat. Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat moderasi beragama dan penguatan nilai empati sosial di tengah masyarakat.

Warga terdampak menyambut hangat kegiatan tersebut dan mengaku merasa diperhatikan serta dikuatkan, baik secara lahir maupun batin. Doa-doa yang dipanjatkan bersama menjadi momen haru yang menguatkan ikatan antara penyuluh dan masyarakat.

Melalui kegiatan Penyuluh Agama Peduli, IPARI Kota Padang Panjang menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah umat, menjadi jembatan harapan, serta berperan aktif dalam pemulihan sosial dan spiritual masyarakat pascabencana. UWaS


Kamis, 11 Desember 2025

Implementasi Iman kepada Takdir Baik dan Takdir Buruk dalam Menerima Musibah


Implementasi Iman kepada Takdir Baik dan Takdir Buruk dalam Menerima Musibah

Kajian Populer, Reflektif, dan Kontekstual

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Musibah selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia. Tidak ada seorang pun di dunia ini, sekuat apa pun, setinggi apa pun jabatannya, sekaya apa pun hartanya, yang bisa menghindar dari ujian hidup. Di sinilah letak pentingnya iman kepada takdir (qadha dan qadar) sebagai salah satu rukun iman yang menjadi pondasi keteguhan seorang muslim.

Namun, bagaimana sebenarnya implementasi iman kepada takdir dalam menghadapi musibah hari ini—ketika bencana alam, krisis moral, tekanan hidup, dan tantangan batin semakin kompleks? Artikel populer ini mencoba menjawabnya dengan pendekatan Qur’ani, sunnah, dan realitas kekinian.

1. Takdir Baik dan Takdir Buruk: Bagian dari Rukun Iman

Nabi ๏ทบ bersabda ketika menjelaskan rukun iman:

“…beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik maupun takdir buruk.”
(HR. Muslim)

Ini menegaskan bahwa takdir bukan sekadar konsep teologis, tetapi pondasi sikap mental seorang muslim saat menghadapi kenyataan hidup.

Takdir baik (qadar khair) mencakup segala nikmat, kesuksesan, dan kelapangan hidup.
Takdir buruk (qadar syarr) mencakup musibah, kegagalan, kehilangan, bahkan rasa sedih.

Keduanya berasal dari Allah, tetapi tidak semuanya bermakna murka; banyak musibah justru jalan menuju kebaikan dan kedekatan dengan-Nya.

2. Musibah dalam Kacamata Takdir: Ujian, Peringatan, atau Penghapus Dosa

Al-Qur’an menggambarkan musibah sebagai sesuatu yang terjadi dengan izin Allah (QS. At-Taghabun: 11), tetapi maksudnya bisa berbeda bagi setiap orang:

a. Musibah sebagai Ujian

“Sungguh Kami akan menguji kalian…”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ujian bukan untuk melemahkan, tetapi memperkuat.

b. Musibah sebagai Pembersih Dosa

Nabi ๏ทบ bersabda bahwa sakit, lelah, dan sedih bisa menghapus dosa-dosa kita (HR. Bukhari-Muslim).

c. Musibah sebagai Peringatan

“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri…”
(QS. Asy-Syura: 30)

Ini adalah panggilan lembut agar manusia berhenti melalaikan Allah.

d. Musibah sebagai Sunnatullah Alam

Sebagian musibah terjadi karena fenomena alam, pergeseran bumi, cuaca, atau kerusakan lingkungan.

3. Implementasi Iman kepada Takdir Baik & Buruk dalam Menerima Musibah

Bagaimana seorang muslim mempraktikkan iman kepada takdir dalam kehidupan nyata saat musibah datang?

1) Meyakini bahwa Musibah Tidak Pernah Salah Alamat

Apa pun yang terjadi telah ditulis oleh Allah dan tidak mungkin terlewat atau tertukar.

Hati pun menjadi tenang, karena:

“Apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu.”
(HR. Tirmidzi)

2) Menerima dengan Lapang Dada (Ridha) namun Tetap Berusaha

Ridha bukan pasrah tanpa ikhtiar.
Ridha adalah menerima dengan hati, sementara ikhtiar adalah tugas tubuh.

Contoh implementasi:

  • Banjir terjadi → menerima dengan sabar, sekaligus berbenah: memperbaiki drainase, menjaga sungai.

  • Sakit → menerima sebagai ujian, sekaligus berobat.

3) Tidak Menyalahkan Allah atas Musibah

Iman kepada takdir mendidik kita berkata:

“Ini adalah ujian dari Allah, pasti ada hikmahnya.”

Bukan:

“Kenapa Allah berlaku tidak adil pada aku?”

4) Bersangka Baik kepada Allah

Salah satu inti keimanan kepada takdir.

Dalam musibah, seorang beriman berkata:

  • “Allah tidak mungkin menzalimi aku.”

  • “Mungkin ada kebaikan besar yang belum aku lihat.”

  • “Allah sedang mengangkat derajatku.”

5) Menjaga Lisan dari Keluhan yang Merusak Iman

Keluhan yang melemahkan iman:

  • “Hidup ini tidak adil.”

  • “Aku sudah tidak kuat lagi.”

  • “Mengapa Allah beri aku musibah terus?”

Keluhan yang baik (mengadu hanya kepada Allah):

  • “Ya Allah, lapangkan hatiku.”

  • “Ya Allah, kuatkan aku.”

  • “Ya Allah, bimbing hamba memahami hikmah-Mu.”

6) Memahami bahwa Takdir Tidak Menghapus Tanggung Jawab

Iman kepada takdir bukan alasan pasrah total.

Contoh:

  • Longsor terjadi bukan hanya takdir, tetapi juga akibat tata ruang salah, penebangan hutan, dan keteledoran manusia.

  • Sakit tidak hanya takdir; juga akibat gaya hidup.

Maka:
Ikhtiar wajib. Tawakkal setelahnya.

7) Mengubah Musibah menjadi Jalan Perbaikan

Inilah implementasi paling tinggi:

  • Musibah membuat seseorang lebih dekat pada Allah.

  • Musibah memperkuat keluarga dan solidaritas masyarakat.

  • Musibah menyadarkan kita akan betapa kecilnya manusia.

  • Musibah mengembalikan manusia pada nilai agama, akhlak, dan kepedulian sosial.

4. Contoh Implementasi Takdir dalam Musibah Zaman Sekarang

a. Menghadapi Bencana Alam

  • Sabar dan menerima ketetapan Allah.

  • Berbenah lingkungan.

  • Saling membantu di tempat pengungsian.

  • Memperkuat edukasi kebencanaan.

b. Menghadapi Musibah Kehilangan Orang Tercinta

  • Meyakini bahwa ajal adalah ketetapan paling pasti.

  • Mendoakan, bersedekah atas nama almarhum.

  • Memulai lembaran hidup dengan harapan baru.

c. Menghadapi Tekanan Psikologis Modern

  • Stres, cemas, dan depresi adalah bagian dari takdir ujian.

  • Membuka ruang curhat, konseling, dan meminta bantuan profesional.

  • Memperbaiki ibadah dan pola hidup.

d. Menghadapi Musibah Ekonomi

  • Tawakkal setelah bekerja keras.

  • Memperbanyak doa agar diberikan rezeki halal.

  • Bersedekah meski sedikit, sebagai pengundang keberkahan.

5. Penutup: Musibah sebagai Jalan Pulang kepada Allah

Iman kepada takdir baik dan buruk membuat seorang muslim tegak berdiri ketika badai musibah datang. Ia tidak tumbang oleh kesedihan, tidak hanyut oleh keputusasaan, dan tidak menyalahi keadaan.

Ia yakin:

  • Allah tahu apa yang terbaik.

  • Allah tidak pernah salah mengatur.

  • Di balik gelapnya musibah ada cahaya yang sedang disiapkan.

Musibah mungkin menggores hati, tetapi tidak akan menghancurkan jiwa orang yang beriman. Sebab ia percaya bahwa kehidupan bukan sekadar rangkaian kejadian, tetapi rangkaian takdir yang diarahkan oleh Allah untuk kebaikan akhiratnya.

Rabu, 10 Desember 2025

SOLIDARITAS SESAMA KORBAN: SALING MENGUATKAN DI LOKASI PENGUNGSIAN

 


SOLIDARITAS SESAMA KORBAN: SALING MENGUATKAN DI LOKASI PENGUNGSIAN

Artikel Populer untuk spritual Healing

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Ketika bencana datang tanpa diundang, rumah-rumah mungkin hilang, harta benda mungkin hanyut, namun nilai kemanusiaan dan solidaritas tidak pernah tenggelam. Di lokasi-lokasi pengungsian, di antara tenda-tenda darurat, asap dapur umum, dan deru relawan yang hilir mudik, kita justru bisa menyaksikan satu kekuatan besar: kebersamaan.

1. Dari Ruang Sempit Menjadi Ruang Harapan

Pengungsian sering kali identik dengan keterbatasan. Makanan yang terbatas, tidur yang tidak nyaman, dan ketidakpastian masa depan. Namun dalam kondisi itu pula Allah menumbuhkan satu hal yang sangat mahal—empati.
Anak-anak saling berbagi makanan ringan, ibu-ibu saling menghibur, bapak-bapak saling membantu memindahkan logistik. Suasana yang berat menjadi lebih ringan karena ada hati yang tetap hidup.

2. Solidaritas: Sunnatullah dalam Kehidupan

Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk saling menolong dan menguatkan, terutama ketika ditimpa musibah.

  • Allah berfirman:
    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Mฤidah: 2).

  • Nabi ๏ทบ juga bersabda:
    “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan empati adalah seperti satu tubuh…” (HR. Muslim).

Di tenda-tenda pengungsian, ayat dan hadis ini hidup dalam bentuk nyata:
ada yang mengusap air mata, ada yang mengantarkan makanan, ada yang menggendong anak orang lain agar ibunya bisa beristirahat.

3. Saling Menguatkan: Obat Luka yang Tidak Terlihat

Bencana tidak hanya merusak fisik, tetapi juga perasaan dan mental.
Namun ketika korban saling mendekat, berbagi cerita dan doa, luka itu perlahan sembuh.
Dorongan spontan seperti:

  • “Sabar ya, kita hadapi bersama.”

  • “Yang penting kita masih hidup.”

  • “InsyaAllah Allah ganti dengan yang lebih baik.”
    adalah terapi yang paling nyata.

Dalam suasana pengungsian, kalimat sederhana itu berubah menjadi energi yang memulihkan.

4. Ikhlas Menerima, Kuat untuk Bangkit

Solidaritas membuat hati lebih siap menerima takdir.
Ketika satu keluarga kehilangan rumah, keluarga lain berkata, “Ayo tinggal sama kami dulu.”
Ketika satu orang kehilangan anggota keluarga, orang-orang di sekitarnya tidak membiarkan ia sendiri dalam sedihnya.
Di sinilah iman bekerja—membuat manusia kuat meski sedang rapuh.

Musibah menjadi pengingat bahwa kehidupan dan kematian adalah milik Allah. Dan selagi manusia berdoa serta berusaha, pertolongan Allah selalu dekat.

5. Dari Pengungsian Menuju Kebangkitan

Pengungsian bukan akhir cerita, hanya jeda sebelum Allah memberi jalan baru.
Dan solidaritas adalah modal sosial yang membuat setiap orang siap bangkit kembali.
Ketika masyarakat berdiri bersama, kekuatan itu tumbuh berkali-kali lipat.

Di antara keterbatasan, justru lahir banyak kebaikan:

  • gotong royong membangun dapur umum,

  • membagi pakaian dan selimut,

  • ronda malam menjaga keamanan,

  • belajar mengaji bersama agar hati tetap tenang.

Semua itu membuktikan: hati manusia lebih besar daripada bencana apa pun. Bantuan datang dari mana-mana dalam berbagai bentuk sebagai bukti bahwa duka itu dirasakan bersama pula.

Pemerintah pasti tidak tinggal diam atas penderitaan yang dialami rakyatnya. Segala potensi negara diterjunkan untuk duka ini segera berakhir.

Penutup

Solidaritas sesama korban bukan sekadar bantuan fisik, tetapi juga obat bagi jiwa.
Ia mengajarkan bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya sendirian.
Dan di balik setiap musibah, selalu ada ruang untuk saling merangkul dan menguatkan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menyalakan harapan di tengah kesulitan, menjadi cahaya bagi sesama, dan menerima setiap takdir dengan hati yang sabar dan ikhlas.

Selasa, 09 Desember 2025

ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN: AGAMA KESEJUKAN BAGI SEMESTA

 


ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN: AGAMA KESEJUKAN BAGI SEMESTA

Pendahuluan: Islam Hadir untuk Menghadirkan Rahmat

Islam bukan sekadar kumpulan aturan, bukan pula sekadar nama agama. Islam dihadirkan Allah sebagai energi kasih sayang, petunjuk hidup, dan solusi bagi peradaban. Allah menegaskan misi besar ini:

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menjadi fondasi bahwa seluruh ajaran Islam—dari akidah, ibadah, akhlak, sosial, hingga tata kelola alam—ditujukan untuk menciptakan kebaikan, ketenangan, dan keberlanjutan kehidupan.

1. Makna Islam: Damai, Tunduk, dan Selamat

Secara bahasa, Islam berakar dari kata salima yang berarti selamat, damai, sejahtera. Maka seorang Muslim adalah:

  • Orang yang tunduk kepada Allah,

  • Menghadirkan kedamaian bagi dirinya,

  • Menyebarkan keselamatan bagi orang lain.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

“Muslim adalah seseorang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Inilah jati diri Islam: agama kedamaian, bukan permusuhan; agama penyelamat, bukan perusak.

2. Misi Islam: Menebar Rahmat

Islam memiliki misi yang mencakup tiga dimensi besar:

a. Rahmat dalam Hubungan dengan Allah (Hablum minallah)

Islam membimbing manusia mengenal Penciptanya melalui:

  • Tauhid — mengesakan Allah

  • Ibadah — melatih kesucian jiwa

  • Doa dan zikir — memperkuat ketenangan batin

Rahmat Allah tampak dalam firman-Nya:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, bukan kesulitan.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Segala ajaran Allah tidak dimaksudkan menyulitkan manusia, tetapi memuliakan mereka.

b. Rahmat dalam Hubungan dengan Sesama (Hablum minannas)

Islam hadir untuk menjaga:

  • Harga diri manusia

  • Hak hidup, termasuk larangan membunuh

  • Keadilan sosial, termasuk larangan zalim

  • Perlindungan kelompok rentan (fakir, yatim, janda, musafir)

Rasulullah ๏ทบ adalah teladan terbesar:

  • Beliau menghormati orang berbeda suku, budaya, bahkan agama.

  • Beliau menyantuni tetangga.

  • Beliau menghapus praktik kekerasan dan kesukaran sosial.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad)

Maka semakin bermanfaat seseorang, semakin dekat ia pada hakikat rahmatan lil ‘alamin.

c. Rahmat bagi Alam Semesta (Hablum ma’al-alam) — Perspektif Ekologi/Teoekologi Islam

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan sesama, tetapi juga:

  • Alam

  • Hewan

  • Air, tanah, hutan

  • Iklim dan ekosistem

Semua adalah amanah Allah.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A‘raf: 56)

Rasulullah ๏ทบ memberikan banyak contoh:

  • Melarang menebang pohon tanpa kebutuhan yang benar.

  • Mengancam keras orang yang menyiksa hewan.

  • Menganjurkan menanam pohon meski hari kiamat tiba.

  • Menjaga kebersihan air dan lingkungan.

Hadits terkenal:

“Jika kiamat terjadi sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada biji tanaman, maka tanamlah.”
(HR. Ahmad)

Ini bukti bahwa Islam adalah agama yang ecocentric—mendudukkan alam sebagai bagian dari makhluk Allah yang perlu dilindungi, bukan dieksploitasi.

Dalam perspektif teoekologi Islam, manusia adalah:

  • Khalifah (pengelola) → bertanggung jawab menjaga keberlanjutan

  • ‘Abd (hamba) → tunduk pada aturan Allah dalam mengelola alam

Keseimbangan ini membuat Islam menjadi agama hijau, agama ekologis.

3. Islam dan Peradaban Kebaikan

Ajaran Islam membentuk:

a. Peradaban Ibadah

Menghidupkan ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah.

b. Peradaban Akhlak

Membentuk manusia berkarakter lembut, jujur, amanah.

c. Peradaban Sosial

Membangun masyarakat yang adil, inklusif, damai.

d. Peradaban Ekologis

Menjaga alam, memperbaiki yang rusak, menolak eksploitasi berlebihan.

Ketika keempat pilar kokoh, maka terwujud “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” — negeri yang baik dan dirahmati Tuhan.

4. Wujud Islam Rahmatan lil 'Alamin dalam Kehidupan

Islam menjadi rahmat ketika nilai-nilainya diwujudkan, seperti:

  • Menolong sesama tanpa memandang latar belakang.

  • Menjaga lisan dari hoaks, fitnah, kebencian.

  • Mengurangi sampah dan limbah.

  • Menanam pohon di lingkungan rumah dan masjid.

  • Mengelola masjid sebagai pusat edukasi ramah lingkungan.

  • Membangun keluarga penuh kasih.

  • Menghormati tetangga dan perbedaan.

Rahmat itu tidak terbatas pada manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan, bahkan air dan udara.

Penutup: Menjadi Muslim yang Merahmati Dunia

Islam Rahmatan lil ‘Alamin bukan slogan, tetapi identitas peradaban yang harus diwujudkan oleh setiap Muslim.

Dengan cara:

  • Beribadah dengan ikhlas,

  • Berakhlak mulia dengan sesama,

  • Menjaga alam dengan penuh amanah,

maka seorang Muslim sesungguhnya sedang menghidupkan misi kerasulan Nabi Muhammad ๏ทบ.

Semoga kita menjadi bagian dari umat yang menyebarkan rahmat, bukan kerusakan; kedamaian, bukan permusuhan; kebaikan, bukan kehancuran.

Wallahu a‘lam bishshawab.


Senin, 08 Desember 2025

Kisah Inspiratif: “Di Antara Derasnya Air, Ada Pertolongan Allah”

Kisah Inspiratif: “Di Antara Derasnya Air, Ada Pertolongan Allah”

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Hujan tidak berhenti sejak tiga hari lalu. Sungai yang dulu tenang kini berubah menjadi arus besar yang mengamuk, membawa batang pohon, lumpur, dan sisa-sisa kehidupan masyarakat. Di sebuah sudut kampung yang nyaris tenggelam, sepasang suami istri—Pak Arman dan Bu Laila—berjuang mempertahankan nyawa mereka.

Rumah mereka sudah setinggi dada terendam air. Atap mulai rapuh. Angin bertiup kencang. Namun mereka tetap berpegangan tangan, saling menguatkan.

“Bang… kalau ini memang akhir, kita ikhlas…” Bu Laila menahan tangis.

Pak Arman menggenggam tangan istrinya lebih erat. “Jangan berkata begitu, La. Nyawa kita bukan milik banjir, bukan milik badai. Nyawa kita hanya milik Allah. Selagi kita berusaha, insyaAllah Allah buka jalan.”

Malam itu, mereka naik ke bagian paling tinggi dari rumahnya—satu-satunya tempat yang tersisa. Tanpa makanan, tanpa tidur, tanpa kepastian. Yang ada hanya zikir, doa, dan genggaman tangan yang saling menguatkan.

Di tengah gelapnya malam, mereka mendengar suara gemuruh air semakin dekat. Sekali lagi, arus besar menghantam bagian bawah rumah.

“Bang! Rumahnya goyang!” teriak Bu Laila.

Pak Arman menarik istrinya. “La, dengar… jangan panik. Allah bersama kita. Kita terus berusaha, ya?”

Sambil terengah-engah, mereka merangkak ke arah genteng yang tersisa. Satu papan kayu menjadi pijakan terakhir. Dalam hati, mereka hanya bisa berkata:

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil…”

Pagi hari, kabut menutupi kampung. Relawan yang menyusuri desa dengan perahu karet berulangkali melewati rumah-rumah hancur. Ketika hampir menyerah, salah satu relawan melihat sepotong kain berwarna biru melambai di kejauhan.

“Bang! Itu seperti ada orang!” teriak salah satu anggota tim.

Mereka mendekat cepat. Dan benar—di atas selembar papan yang mengambang, Pak Arman memeluk istrinya yang sudah sangat lemah.

Mereka berdua masih hidup.

Relawan menahan haru. “Pak, Bu… Alhamdulillah kami temukan!”

Dalam keadaan letih, Pak Arman hanya mampu mengatakan perlahan:
“Allah… tidak pernah meninggalkan hambanya yang berjuang.”

Bu Laila, yang hampir kehabisan tenaga, berbisik sambil menangis:
“Kami tidak punya apa-apa lagi… tapi Allah beri kami nyawa… Itu sudah cukup.”

Relawan mengangkat mereka ke perahu. Air mata jatuh bukan hanya dari korban, tapi juga dari para penyelamat. Sebuah bukti nyata bahwa ketika manusia sudah sampai di batas terakhir, Allah menurunkan tangan-Nya melalui tangan-tangan manusia lainnya.

Hikmah Kisah

Kisah ini mengingatkan kita bahwa:

1. Urusan nyawa sepenuhnya milik Allah.

Tidak ada banjir, badai, gempa, atau musibah apa pun yang bisa mengambil nyawa tanpa izin-Nya.

2. Jangan pernah putus asa.

Putus asa adalah pintu gelap. Selama detak jantung masih ada, selama lidah masih mampu berzikir, selama kaki masih bisa bergerak—harapan tidak pernah mati.

3. Pertolongan Allah turun kepada hamba yang terus berusaha.

Allah tidak meminta kita menjadi sempurna. Allah hanya meminta kita tidak menyerah.
Dan ketika usaha itu benar-benar sampai pada batasnya, Allah akan mengirimkan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka.


Rabu, 03 Desember 2025

Jeda yang Menguatkan: Memandang Musibah sebagai Pelukan Allah

 


“Jeda yang Menguatkan: Memandang Musibah sebagai Pelukan Allah”

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluhan Agama Islam)

Dalam hidup, tidak ada seorang pun yang ingin diuji dengan bencana. Tidak ada yang berharap kehilangan rumah, harta, atau orang-orang tercinta. Namun ketika musibah datang, kita sering merasa seperti semua pintu tertutup dan seluruh harapan runtuh bersamaan dengan bangunan di sekitar kita.
Padahal, bagi seorang muslim, musibah bukanlah akhir cerita. Ia hanyalah jeda, sebuah momen di mana Allah mengizinkan kita berhenti sejenak untuk menata hati, memperbaiki arah, dan kembali menguatkan hubungan dengan-Nya.

1. Musibah Bukan Hukuman, Tapi Tanda Perhatian Allah

Sering kali kita bertanya, “Mengapa Allah mengizinkan ini terjadi?”
Jawabannya bukan karena Allah membenci hamba-Nya. Justru sebaliknya, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Allah menimpakan musibah kepadanya.”
(HR. Bukhari)

Musibah adalah bentuk perhatian Allah. Seperti seorang ibu yang menggendong anaknya ketika sedang demam, Allah pun sedang “memeluk” kita lewat ujian, agar dosa dibersihkan, derajat ditinggikan, dan jiwa dikuatkan.

2. Jeda dari Hiruk-Pikuk Dunia

Dalam kesibukan hidup, kita terkadang lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Bencana mengingatkan kita betapa mudah dunia ini berubah dalam hitungan detik.
Kita seperti dipaksa berhenti, diam, lalu merenung:

  • Siapa yang selama ini menjaga kita?

  • Siapa yang benar-benar kita butuhkan?

  • Apa yang selama ini terlalu kita banggakan?

Dalam jeda itu, Allah memberi ruang bagi hati kita untuk kembali bertawakkal sepenuhnya kepada-Nya.

3. Setelah Badai, Cahaya Itu Pasti Ada

Tidak ada badai yang abadi.
Tidak ada malam yang tidak digantikan pagi.
Setiap luka yang Allah izinkan, selalu disertai obatnya.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Ayat ini bukan hanya janji, tapi jaminan.
Jika Allah mengambil, itu karena Dia ingin mengganti dengan yang lebih baik.
Jika Allah mengguncang hidup kita, itu karena Dia ingin membangunkan kita menuju kemuliaan yang lebih besar.

4. Terang Itu Dimulai dari Hati yang Tidak Menyerah

Cahaya setelah badai bukan hanya berbentuk rumah baru atau harta pengganti.
Sering kali cahaya itu dimulai dari:

  • hati yang lebih sabar,

  • iman yang lebih kokoh,

  • keluarga yang lebih dekat satu sama lain,

  • masyarakat yang lebih peduli dan saling menguatkan.

Kadang yang Allah perbaiki bukan keadaan luar, tetapi jiwa kita di dalam.

5. Bangkit Tidak Harus Cepat, Yang Penting Tetap Melangkah

Setelah musibah, setiap orang punya ritme masing-masing dalam bangkit.
Ada yang cepat kembali bekerja, ada yang perlu waktu.
Tidak apa-apa.
Yang penting, kita tidak berhenti berharap dan tidak berhenti berdoa.

Doa adalah cahaya yang menuntun kita melewati masa sulit.

“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. Ath-Thalaq: 3)

Allah cukupkan, bukan hanya kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan hati: tenang, tabah, diterima, dan dikuatkan.

6. Dari Ujian Menuju Keindahan Baru

Setiap musibah selalu menyisakan dua pilihan: menjadi patah atau menjadi kuat.
Namun bagi seorang mukmin, pilihan itu menjadi lebih terang:
kita tidak dibiarkan patah.
Karena Allah sendiri yang memeluk hati kita dalam ujian.

Yakinlah…
Jika hari ini kita masih menangis karena kehilangan, insyaAllah suatu hari nanti kita akan tersenyum melihat bagaimana Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih indah.

Penutup: Cahaya Itu Pasti Datang

Musibah ini bukan akhir.
Ini hanya jeda—jeda yang mendekatkan kita kepada Allah.
Dan setelah jeda itu, cahaya pasti muncul, lebih terang dari sebelumnya.

Semoga Allah menenangkan setiap hati, menghapuskan setiap kesedihan, dan mengganti setiap kehilangan dengan kebaikan yang berlipat-lipat.

Senin, 01 Desember 2025

“Menguatkan Hati di Tengah Ujian Bencana”

Materi Ceramah: “Menguatkan Hati di Tengah Ujian Bencana”

Oleh: Wahyu Salim (Penyuluh Agama Islam)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak-Ibu, saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah…
Hari ini kita berkumpul bukan dalam keadaan yang mudah. Kita kehilangan rumah, barang, bahkan ada yang kehilangan orang tercinta. Namun satu hal yang tidak hilang dari kita: kasih sayang Allah dan harapan untuk bangkit kembali.

1. Mengakui Luka, Tapi Jangan Hilang Harapan

Saudaraku…
Islam tidak pernah meminta kita menjadi kuat pura-pura. Menangislah jika memang sakit. Sedih itu fitrah. Bahkan Nabi Ya’qub menangis sampai matanya memutih ketika kehilangan Nabi Yusuf.

Tetapi, yang tidak boleh hanyalah putus asa, karena Allah berfirman:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Air mata yang keluar hari ini insya Allah menjadi saksi bahwa kita tetap memohon pertolongan kepada-Nya.

2. Bencana adalah Ujian, Bukan Kemarahan

Kita yakin bahwa Allah tidak membenci kita.
Musibah bukan tanda murka, tetapi bentuk perhatian Allah agar kita semakin dekat kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, kecuali Allah menghapuskan dosa-dosanya karenanya.”
(HR. Bukhari)

Maka musibah ini — meski berat — adalah pembersih dosa, pengangkat derajat, dan pembuka jalan kebaikan baru.

3. Yang Runtuh Hanyalah Bangunan, Bukan Semangat Kita

Rumah kita mungkin hancur. Harta kita mungkin hanyut.
Tetapi iman, harga diri, dan nilai kita di sisi Allah tetap utuh — bahkan bisa semakin tinggi.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Jika Allah memberi ujian, pasti Dia sediakan jalan keluar yang indah.

4. Bersabar Bukan Berdiam, Tapi Bergerak Dengan Harapan

Sabar bukan hanya menahan diri, tapi juga:

  • tetap salat walau tempat seadanya,

  • tetap berdoa meski hati sedang remuk,

  • tetap membantu sesama pengungsi,

  • tetap meyakini bahwa hari esok bisa lebih baik.

Sabar = bergerak + tawakkal.

5. Allah Tidak Akan Meninggalkan Kita

Kita mungkin kehilangan rumah. Tapi kita tidak kehilangan tempat kembali, karena:

Allah selalu menjadi rumah bagi hati yang lelah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”
(HR. Tirmidzi)

Yakinlah, Allah sedang menyiapkan ganti yang lebih indah dari yang hilang.

6. Menguatkan Satu Sama Lain

Dalam kondisi seperti ini, yang kita butuhkan adalah:

  • saling menghibur,

  • saling menguatkan,

  • saling berbagi makanan, selimut, dan cerita,

  • tidak saling menyalahkan,

  • membangun kembali dengan kebersamaan.

Kita mungkin tidak bisa menghapus kesedihan sepenuhnya, tetapi kita bisa meringankan beban satu sama lain.

7. Doa Penguat Hati

Mari kita bersama-sama berdoa:

“Ya Allah, kuatkanlah hati kami, lapangkanlah dada kami, gantilah yang hilang dengan yang lebih baik. Jadikan musibah ini penghapus dosa dan pengangkat derajat kami. Limpahkanlah pertolongan, perlindungan, dan kasih sayang-Mu kepada kami semua. Aamiin.”

Penutup

Saudaraku…
Bencana ini bukan akhir dari segalanya.
Ini adalah babak baru untuk bangkit, lebih kuat, lebih dekat dengan Allah, dan lebih peduli terhadap sesama.

Semoga Allah menjaga kita, menenangkan hati kita, dan menyembuhkan luka-luka kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.