KHUTBAH IDUL ADHA 1447 H
“HAKIKAT IBADAH HAJI & IBADAH QURBAN”
Disampaikan Oleh:
Wahyu Salim, S.Ag
DI MASJID AR-RAUDHAH AIA ANGEK
KEC. X KOTO KAB. TANAH DATAR
HARI RABU, 27 MEI 2026 M/10 ZULHIJJAH 1447 H
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله
أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا
للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ
كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ
حَسَنٍ.
فَإِنَّ
أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.
Allahu Akbar 3x
walillahilhamd
Ma’asyiralmuslimin
Sidang Jama’ah Idul Adha rahimakumullah………
Syukur al-Hamdulillah
marilah kita hadapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita semua sehingga pada hari raya idul adha tahun ini, kita
dapat bersama-sama melaksanakan shalat hari raya di Mesjid yang berbahagia ini
dengan meninggalkan segala kesibukan dunia, memfokuskan jiwa dan raga untuk
beribadah hanya kepada Allah SWT. Kita juga bersyukur kepada Allah SWT karena
ada di antara kita yang diizinkan Allah, apakah orang tua kita, saudara kita,
anak kita atau kemenakan kita, melaksanakan ibadah haji menyempurnakan rukun
Islam yang kelima ke Makkah Mukarramah. Kita juga besyukur memuji Allah SWT
karena ada di antara kita yang ikut berkurban menyembelih sapi atau kambing
kemudian membagikannya kepada kaum muslimin terutama kepada fakir dan miskin.
Mudah-mudahan dengan selalu mensyukuri segala nikmat dan karunia yang telah
diberikan Allah SWT, kita selalu
mendapatkan curahan rahmat dan karunia-Nya dan dibebaskan dari segala bentuk
bala dan musibah. Amin Ya Rabbal “Alamin…….
Allah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur atas nikmat yang Aku berikan
kepadamu pasti Aku akan tambah, tapi apabila kamu ingkari sungguh azab-Ku
sangatlah pedih. (Surah Ibrahim ayat 7)
Shalawat dan salam,
marilah kita do’akan kepada Allah SWT semoga disampaikan kepada junjungan umat
Nabi Besar Muhammad SAW. Atas segala perjuangan dan pengorbanan beliau, baik
harta, pemikiran, perasaan dan waktu, beliau telah berhasil dalam tempo yang
sangat singkat merubah peradaban dunia, dari peradaban penyembah patung dan
berhala kepada peradaban penyembah Allah SWT yang Maha Tunggal dan Kuasa, dari
peradaban penyiksa wanita dan makhluk lemah kepada peradaban yang menghargai
wanita dan mengasihi yang faqir, dari peradaban jahiliyyah kepada peradaban
yang penuh dengan kebijaksanaan, kedermawanan dan ilmu pengetahuan sebagaimana
yang kita rasakan saat ini. Mudah-mudahan dengan berpegang teguh kepada warisan
yang beliau tinggalkan untuk kita, kita tidak akan pernah sesat selama-lamanya,
baik di dunia maupun di akhirat.
Nabi bersabda:
Artinya: “Aku
telah tinggalkan untukmu dua perkara, selagi kamu berpegang teguh kepada
keduanya, kamu tidak akan pernah sesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan
Sunnah Rasul”. (al-Hadis)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Walillahilhamd……..
Kaum Muslimin
Rahimakumullah…………
Mengawali
khutbah idul adha kali ini, khatib mengajak kita semua, termasuk diri khatib
sendiri untuk selalu meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan kita kepada
Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya
dan meninggalkan segala larangan-Nya setiap saat, kapan saja dan di mana saja
kita berada.
Sidang Jama’ah Idul Adha yang rahimakumullah,
Tema
khutbah kita kali ini ialah “HAKIKAT IBADAH
HAJI DAN QURBAN”.
Ma’asysyiral Muslimin Rahimakumullah,
Allah berfirman:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ
“Dan serulah olehmu manusia agar ia melaksanakan haji niscaya ia akan datang dengan berjalan kaki dan memakai kendaraan, dan mereka akan datang dari segenap penjuru dunia agar mereka menyaksikan beberapa manfaat, dan menyebut nama Allah pada beberapa hari tertentu ( hari raya idul adha dan hari-hari tasyri’) dan Allah telah memberi rezki kepadamu dengan binatang ternak untuk korban dan makanlah sebahagiannya dan sedeqahkanlah bagi orang yang fakir dan melarat”. (Surah al-Hajj ayat 27-28)
Dalam
ayat lain, Allah juga berfirman:
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya: ”Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (Surah Ali Imran ayat 97)
Berdasarkan
firman Allah di atas, kita menyadari bahwa ibadah haji merupakan kewajiban yang
tidak boleh ditinggalkan, bahkan merupakan kesempurnaan pengamalan ajaran agama
dan menjadi rukun Islam yang kelima, yaitu kewajiban bagi orang-orang yang
memenuhi wajib haji, yaitu mempunyai kesanggupan ekonomi untuk biaya
keberangkatan, sehat jasmani dan rohani, mempunyai ilmu tentang tata cara haji
dan adanya jaminan keamanan menuju Makkah Mukarramah dan Madinatul Munawwarah.
Itulah
mereka yang sekarang lagi berkumpul berjuta-juta orang dari segenap penjuru
dunia di tanah haram, melaksanakan rangkaian ibadah haji mulai dari Ihram,
Thawaf, Sa’i, melontar Jumrah dan ibadah lainnya, yang masing-masingnya
mempunyai hikmah luar biasa yang patut kita pedomani.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd……..
Pertama, Mengenakan pakaian ihram
putih-putih dan menanggalkan pakaian biasa sehari-hari berarti menanggalkan
segala macam perbedaan dan menghapus segala keangkuhan yang ditimbulkan oleh
status sosial. Raja, Jendral, Presiden, Rakyat Kecil, petani, pedagang, sopir, tanpa membedakan jabatan, kekayaan,
suku maupun warna kulit. semuanya mengenakan pakaian Ihram yang
sama. Hal ini melambangkan persamaan derajat kemanusiaan. Pesannya sangat jelas bahwa manusia
hakikatnya sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman: QS. Al-Hujurat Ayat 13
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
Ibadah haji tidak hanya perjalanan fisik tapi spiritual yang
mengajarkan kesabaran, disiplin, kebersamaan, pengendalian diri dan
ukhuwwah Islamiyyah serta menimbulkan pengaruh psikologis/kejiwaan bahwa dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap
Allah SWT pada saat kematiannya. Bukankah ibadah haji adalah memenuhi panggilan
Allah? Dan kematian itu juga adalah memenuhi panggilan Allah? Apakah setelah
melaksanakan haji atau kita setelah shalat idul adha dan melaksanakan qurban,
masih adakah keangkuhan di dalam jiwa kita? Masih terasakah adanya perbedaan
derajat kemanusiaan? Masihkah ingin menang sendiri dan menindas orang lain?
Kalau masih ada berarti kita belum menghayati hikmah dari pakaian ihram
tersebut. Dalam kehidupan masyarakat, kebersamaan dan kesamaan visi dan misi
yang diajarkan dari pakaian Ihram menjadi syarat mutlak keberhasilan kita dalam
membangun, terutama membangun kehidupan beragama di daerah kita sehingga tidak
ada ruang dan waktu untuk kemaksiatan, tidak ada lagi perjudian, tidak ada lagi
orang yang mencuri, tidak ada lagi orang yang berzina dan pergaulan bebas di daerah
kita, tidak ada lagi narkoba dan tidak ada lagi kemungkaran-kemungkaran lainnya
di daerah yang kita cintai ini. Ini juga yang diajarkan oleh Ibadah Qurban,
yaitu berkorban untuk kemajuan agama. Kita harus meletakkan agama sebagai
posisi prioritas utama. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh yang
menyebutkan apabila bertentangan kepentingan agama dengan jiwa, maka jiwa harus
dikorbankan, inilah Jihad, maka orang yang gugur dalam perjuangan agama, maka
ia gugur sebagai syuhada dan tidak ada balasan lain kecuali surga. Apabila
bertentangan antara kepentingan agama dengan harta, maka harta harus
dikorbankan, maka inilah yang menjadi syariat zakat, waqaf, infaq dan sedeqah.
Dengan demikian, tidak ada mesjid yang terbengkalai, tidak ada faqir-miskin
yang tidak disantuni, tidak ada anak yatim yang terlantar. Semuanya berjalan
dengan damai, aman dan tentram. Dan apabila bertentangan kepentingan agama
dengan kepentingan pribadi, maka agama harus didahulukan, kepentingan pribadi
harus dikorbankan, direlakan dan diikhlaskan. Inilah prinsip yang harus selalu
kita pegang sehingga kita bisa sehilir semudik dalam memajukan agama di daerah
kita ini dalam kerangka ukhuwwah Islamiyyah yang kuat dan erat.
Wuquf di
‘Arafah berarti berhenti di Padang ‘Arafah. ‘Arafah berarti
mengenal. Mengajarkan kepada kita untuk mengenal jati diri, menyadari
kesalahan, bertekad untuk tidak mengulanginya, bertaubat serta menyadari
kebesaran dan keagungan Penciptanya, yaitu Allah SWT, yang suatu saat kita akan
dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan
selama kita hidup di dunia dihadapan Mahkamah Allah SWT. Kita hidup di dunia
hanya sebentar, kehidupan yang abadi itu ada di akhirat. Oleh karena itu, mari
kita persiapkan diri dan keluarga kita
untuk menghadapi kehidupan yang abadi itu dengan memperbanyak bekal, yaitu
bekal keimanan, ketaqwaan dan amal sholeh.
Berikutnya melempar
jumrah, yaitu jumratul ula, jumratul wustha dan jumratul aqabah.
Mengingatkan kita kepada peristiwa Nabi Ibrahim dengan istrinya Siti Hajar dan
anaknya Ismail, ketika Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih
anaknya Ismail. Pada saat itu iblis datang menggoda Nabi Ibrahim supaya Nabi
Ibrahim meninggalkan perintah Allah.Ternyata Nabi Ibrahim tidak bisa digoda
karena keyakinan Nabi Ibrahim bahwa mimpinya untuk menyembelih anaknya itu
benar-benar perintah dari Allah SWT. Selanjutnya iblis mengalihkan bujuk
rayunya kepada Siti Hajar, Siti Hajar juga tidak tergoda, bahkan ia menguatkan
hati suaminya untuk melaksanakan perintah Allah. Akhirnya iblis membujuk Ismail
kecil, dan Ismail kecil tetap mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah
Allah SWT. Kemudian ketika Nabi Ibrahim meyembelih Ismail, seketika itu Ismail
berubah atas izin Allah menjadi seekor domba.
Peristiwa
ini dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an surah al-Shaffat ayat 102.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya:
.....“Wahai ayah kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan, inya Allah,
engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.”
Melempar
jumrah dan ibadah qurban mengajarkan kepada kita bahwa setiap anggota keluarga
itu, baik suami atau istri, ayah, ibu dan anak-anak sepantasnya bekerjasama dalam
mentaati Allah dan dalam menjadikan syetan sebagai musuh.
اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ
Artinya:
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka
jadikanlah ia sebenar-benar musuh, karena sesungguhnya
syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni
neraka yang menyala-nyala” (surah Fathir ayat 6)
Sehingga
tidak ada peluang bagi iblis dan syetan menjerumuskan anggota keluarga kita.
Setiap anggota keluarga harus bahu membahu, saling bantu membantu dalam
kebaikan dan taqwa, tidak dalam dosa dan permusuhan. Digantinya Ismail dengan
seekor domba sekaligus menggugurkan, membatalkan segala bentuk tumbal, sesajian
dan kebiasaan mengorbankan manusia. Oleh
Nabi kita Muhammad SAW, ibadah Qurban dijadikan ibadah yang dilaksanakan setiap
tahun pada hari raya idul adha dan hari-hari tasyri’, tanggal 10, 11, 12, dan
13 Zulhijjah.
Thawaf
atau mengelilingi ka’bah. Ka’bah, tempat kiblat kita merupakan
lambang dari wujud dan Keesaan Allah, maka ber-thawaf melambangkan aktifitas
manusia yang tidak pernah terlepas dari Allah SWT. Ka’bah bagaikan matahari
yang menjadi pusat tata surya dan dikelilingi oleh planet-planet. Oleh karena
itu, segala aktifitas kita harus terikat dengan daya tarik pusat wujud ini,
yaitu Allah SWT. Kita pergi ke ladang karena Allah, kita sekolahkan anak kita
karena Allah, kita berdagang karena Allah, kita membangun dan beramal juga
karena Allah. Tidak ada orang yang berbuat maksiat karena Allah, karena Allah
pasti tidak menyukainya, karena kebaikan itu tidak boleh bersatu dengan
keburukan, karena yang haq tidak boleh bercampur dengan kebathilan, apapun
alasan-alasannya, termasuk demi kemashlahatan. Memang ada orang yang membangun
dengan harta haram dengan alasan kemashlahatan tapi yakinlah bahwa itu tidak
diredhoi Allah, sesuatu yang tidak diredhoi-Nya tidak ada yang bertahan lama
dan akan hancur dengan cara Allah, apakah melalui tsunami, gempa atau gunung
meletus, galodo dll.
Berikutnya,
Ibadah Sa’i atau berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa merupakan
lambang dari usaha mencari karunia Allah. Bukankah Hajar, Ibu Ismail AS,
mondar-mandir dari Shafa ke Marwa
mencari air untuk putranya sampai tujuh kali menunjukkan semangat, kerja
keras untuk kelangsungan hidup keluarganya dan tidak berpangku tangan menunggu
hujan emas dari langit. Shafa berarti start dengan niat yang suci dan tegar.
Marwa berarti finish dengan penghargaan, mulia dan menjadi manusia idola dan
ideal. Ini mengajarkan kepada kita bahwa memulai pekerjaan mencari kebutuhan
hidup keluarga dengan ikhlas, kerja keras dan penuh ketabahan dan ketegaran
akan berakhir dengan sukses, manis, indah, nikmat dan mulia.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Walillahilhamd……..
Hadirin Sidang Idul Adha yang dirahmati Allah……
Di zaman sekarang, pengorbanan yang
dibutuhkan bukan hanya harta, tetapi juga pengorbanan untuk menjaga keimanan
keluarga, mendidik anak dengan agama, menjaga kejujuran di tengah maraknya
korupsi, menjaga diri dari riba, judi online, narkoba, mengambil yang bukan hak
kita, pemerasan, kemaksiatan digital dan berbagai penyakit sosial masyarakat.
Idul Adha
mengingatkan kita bahwa iman harus melahirkan kepedulian sosial.
Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ
“Tidak
beriman kepadaku orang yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya
dan ia mengetahuinya.” (HR. Ath-Thabrani)
Maka qurban
sejatinya mengajarkan berbagi. Daging qurban yang dibagikan kepada masyarakat
adalah simbol bahwa Islam hadir membawa kasih sayang, memperkuat persaudaraan
dan menghapus kesenjangan sosial.
Di tengah
situasi ekonomi yang sulit, nilai-nilai haji dan qurban sangat relevan untuk
kita hidupkan:
1.
Hidup sederhana dan tidak berlebihan.
2.
Saling membantu antar sesama.
3.
Mengutamakan keberkahan dibanding kemewahan.
4.
Menjaga persatuan umat.
5.
Memperkuat kepedulian sosial.
Jangan sampai
kesulitan ekonomi membuat kita kehilangan iman dan kemanusiaan.
Jangan sampai
keadaan sulit mendorong seseorang mengambil jalan haram: korupsi, penipuan,
pinjaman ribawi, judi online dan tindakan kriminal lainnya.
Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya
Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Karena itu,
mari kita mencari rezeki yang halal, menjaga keluarga dengan iman dan membangun
kehidupan masyarakat yang penuh kepedulian.
Demikianlah,
khutbah kita kali ini, mudah-mudahan dapat menggugah hati nurani kita, untuk
lebih bersungguh-sungguh menegakkan ajaran agama, baik pada pribadi kita,
keluarga kita maupun pada masyarakat kita. Semoga Allah SWT meredhoi setiap
langkah dan upaya kita dalam memajukan agama-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
الله اكبر×9 الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا، لااله الاالله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعـزجنده وهزم الاحزاب وحده. لا اله الا الله والله أكبر, الله اكبر ولله الحمد.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ
كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
قَالَ الله تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكريم:
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ
الْاَبْتَرُ ࣖ
إِنَّ
اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ
الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ
فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ
الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya .. Allah Ya… Tuhan kami….
Sungguh telah banyak dosa dan
kesalahan yang telah kami perbuat. Tak cukup kata-kata untuk mengungkapkannya.
Kami mohon kepada-Mu Zat yang maha Pengampun. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa
kedua orang tua kami, dosa umat Islam seluruh dunia, baik yang telah Engkau
panggil kepangkuan-Mu, maupun kami yang masih hidup.
Ya.. Allah… Ya Gaffur………
Jangan Engkau timpakan kepada
kami mushibah yang tidak sanggup kami memikulnya. Janganpula Ya… Allah, Engkau
siksa kami karena kami terlupa dan tersalah. Janganpula Ya… Allah, Engkau
timpakan kepada kami bencana sebagaimana yang telah Engkau timpakan kepada
umat-umat terdahulu yang Engkar kepada-Mu. Ya Allah ampuni kami, maafkan kami,
sayangi kami. Engkaulah Pelindung kami dan bantulah kami menghadapi orang-orang
kafir, bantulah kami menghilangkan kemungkaran-kemungkaran dari dalam diri
kami, istri kami,anak-anak kami, keluarga kami, masyarakat kami, bangsa dan
negara kami. Hingga kami sempurna menjadi hamba-Mu. Ya Allah Ya Tuhan Kami
bantu kami menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur, yang dapat berusaha dan
berkarya memajukan agama, bangsa dan negara kami dalam redha dan ma’unah-Mu. Ya
Allah berikanlah kemenangan bagi kaum muslimin dimana saja berada, Palestina, Lebananon,
Iran, dibelahan negeri Islam manapun. Amin… Ya.. Rabbal’alamin
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ
تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ
رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar