Jumat, 01 Mei 2026

PENDIDIKAN BERKETUHANAN (Memaknai Hari Pendidikan Nasional sebagai Jalan Memanusiakan Manusia)

 


PENDIDIKAN BERKETUHANAN

(Memaknai Hari Pendidikan Nasional sebagai Jalan Memanusiakan Manusia)

Oleh: Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam

Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum untuk bercermin: ke mana arah pendidikan kita dibawa? Apakah ia masih menjadi jalan pembentukan manusia seutuhnya, atau justru tereduksi menjadi sekadar alat meraih gelar, jabatan, dan status sosial?

Realitas hari ini memunculkan kegelisahan. Kita menyaksikan kasus lembaga pendidikan yang justru mencederai amanah—oknum di salah satu PAUD yang menyiksa anak usia dini, guru yang menodai siswanya, perselingkuhan di kalangan pendidik, hingga individu berpendidikan tinggi yang tersandung kasus asusila dan korupsi. Fenomena ini menunjukkan satu hal yang mendasar: terjadi keterputusan antara pendidikan dan nilai ketuhanan.

Padahal, pendidikan sejatinya bukan hanya transfer ilmu, tetapi pembentukan jiwa. Inilah yang sering hilang: ruh ketuhanan dalam proses pendidikan.

Makna RABB dan Hakikat Tarbiyah

Dalam Islam, pendidikan sangat erat kaitannya dengan konsep Rabb. Kata Rabb tidak sekadar berarti “Tuhan”, tetapi juga Pemelihara, Pendidik, dan Pembimbing. Dari akar kata yang sama lahir istilah tarbiyah—yang berarti proses menumbuhkan, memelihara, dan menyempurnakan.

Ketika kita mengucapkan:

“Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn”
(Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam)

Kita sedang mengakui bahwa Allah adalah Pendidik Agung, yang membimbing manusia secara bertahap menuju kesempurnaan. Maka, pendidikan sejati harus meneladani sifat Rabbaniyah—mendidik dengan kasih, hikmah, tanggung jawab, dan orientasi akhirat.

Namun ketika pendidikan tercerabut dari nilai Rabbani, ia menjadi kering: cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.

Pendidikan Tanpa Ketuhanan: Akar Krisis Moral

Kasus-kasus yang mencoreng dunia pendidikan bukan sekadar penyimpangan individu, tetapi gejala sistemik. Ketika pendidikan hanya menekankan aspek kognitif—nilai, ranking, prestasi—tanpa menanamkan kesadaran ketuhanan, maka lahirlah manusia yang “pandai”, tetapi kehilangan arah.

Al-Qur’an telah memberi peringatan sejak awal:

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan hidup—dan juga pendidikan—adalah membangun ketakwaan. Tanpa itu, ilmu hanya menjadi alat, yang bisa digunakan untuk kebaikan maupun keburukan.

Demikian pula firman Allah:

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu…”
(QS. An-Nisa: 1)

Ayat ini menanamkan kesadaran asal-usul manusia, bahwa kita berasal dari satu sumber yang sama. Pendidikan seharusnya melahirkan empati, bukan justru melahirkan kezaliman.

Ilmu dan Derajat: Bukan Sekadar Gelar

Allah menegaskan keutamaan ilmu:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadalah: 11)

Namun, ayat ini mengandung dua syarat: iman dan ilmu. Tanpa iman, ilmu bisa kehilangan arah. Inilah sebabnya mengapa ada orang berpendidikan tinggi tetapi terjerumus dalam korupsi atau penyimpangan moral—karena ilmu tidak diikat oleh iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Namun para ulama menjelaskan, ilmu yang dituntut bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga ilmu yang diamalkan (ilmu amaliyyah) dan amal yang didasarkan pada ilmu (amal ilmiyyah).

Ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan. Amal tanpa ilmu adalah kesesatan.

Membangun Jiwa dan Raga: Misi Nasional yang Terlupakan

Dalam semangat kebangsaan, kita mengenal ungkapan:

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”

Sayangnya, pembangunan sering lebih fokus pada “badan”—infrastruktur, teknologi, capaian akademik—sementara “jiwa” kurang mendapat perhatian. Padahal, kehancuran suatu bangsa seringkali bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena rusaknya moral.

Pendidikan berketuhanan hadir sebagai solusi:
mengintegrasikan akal, hati, dan tindakan dalam satu kesatuan yang utuh.

Menuju Pendidikan Berketuhanan: Jalan Perbaikan

Untuk mengembalikan marwah pendidikan, ada beberapa hal mendasar yang perlu ditegakkan:

1. Menghidupkan nilai Rabbani dalam pendidikan
Pendidik bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing jiwa. Guru bukan hanya sekedar mengajar tapi mendidik yang harus menjadi teladan. Rasulullah SAW menjadi rule model dari keteladanan itu sendiri, beliau adalah pendidik terbaik karena beliau mendidik dengan akhlak sebelum kata-kata.

2. Menyatukan ilmu dan iman, integrasi ilmu dengan akhlak/karakter
Setiap ilmu harus diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar keuntungan duniawi. Tidak boleh dikotomi antara ilmu  umumdengan inilai agama. Semua ilmu harus diarahkan untuk kemaslahatan dan ketaatan kepada Allah.

3. Menanamkan akhlak sebagai inti pendidikan dan penguatan Lingkungan Pendidikan yang Beradab
Akhlak bukan pelengkap, tetapi tujuan utama. Apapun aspek ilmu, baik ilmu tauhid, ilmu ibadah, ilmu akhlak atau ilmu umum mesti bermuara kepada kesempurnaan akhlak kalau tidak ilmu itu hanya sekedar label ataupun ilmu itu digunakan untuk merusak, merampas dan berbuat dosa dan kejahatan.

4. Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan
Bukan hanya dibaca, tetapi dipahami dan diamalkan dalam kehidupan nyata. Banyak ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis-Hadis Rasulullah SAW yang menjadi motivasi dan inspirasi dalam menguasai ilmu pengetahuan lintas disiplin yang mengandung nilai-nilai ketuhanan/rabbani.

Penutup: Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen evaluasi:
apakah kita sedang mencetak manusia yang berilmu sekaligus beriman, atau hanya menghasilkan individu yang cerdas tetapi kehilangan arah?

Pendidikan berketuhanan mengajak kita kembali pada hakikat:
bahwa tujuan akhir pendidikan adalah membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, berakhlak mulia, dan membawa manfaat bagi sesama.

Semoga refleksi ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi oleh kedalaman iman dan keluhuran akhlak.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Tidak ada komentar: