Kajian Isu-Isu Aktual Masalah Agama dan Bangsa: Akar Masalah dan Solusinya dalam Perspektif Syariat Islam dan Sosial Budaya
Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
Pendahuluan
Bangsa Indonesia hari ini menghadapi berbagai persoalan kompleks yang saling terkait antara agama, moral, sosial, dan kebangsaan. Fenomena intoleransi, konflik identitas, krisis keteladanan, degradasi moral, hingga melemahnya nilai persatuan menjadi isu aktual yang terus berulang. Ironisnya, persoalan ini muncul di tengah masyarakat yang secara mayoritas beragama dan menjunjung tinggi nilai budaya luhur.
Pertanyaannya, di manakah akar persoalan sesungguhnya? Dan bagaimana Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang hidup berdampingan dengan kearifan lokal, menawarkan solusi yang konstruktif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara?
Akar Masalah Isu Agama dan Bangsa
Pemahaman Agama yang Parsial dan Tekstual
Salah satu akar utama masalah adalah pemahaman agama yang sempit, kaku, dan terlepas dari maqāṣid al-syarī‘ah (tujuan-tujuan syariat). Agama dipahami sebatas simbol dan klaim kebenaran, bukan sebagai jalan pembinaan akhlak dan kemaslahatan bersama.
Allah SWT mengingatkan:
“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (moderat) agar kamu menjadi saksi atas manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 143)
Ketika sikap moderat hilang, agama mudah dijadikan alat pembenaran konflik dan permusuhan.
Krisis Akhlak dan Keteladanan Publik
Masalah bangsa tidak hanya terletak pada sistem, tetapi juga pada karakter manusia yang menjalankannya. Maraknya korupsi, ketidakadilan, ujaran kebencian, dan kekerasan sosial menunjukkan lemahnya nilai amanah dan kejujuran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Ketika akhlak ditinggalkan, maka agama kehilangan ruhnya, dan bangsa kehilangan arah.
Tergerusnya Nilai Sosial dan Budaya Lokal
Globalisasi dan arus informasi yang tidak terbendung telah menggeser nilai-nilai kearifan lokal seperti musyawarah, gotong royong, tenggang rasa, dan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Budaya instan dan individualisme perlahan menggantikan semangat kebersamaan yang menjadi identitas bangsa.
Solusi Menurut Syariat Islam
Penguatan Moderasi Beragama
Islam mengajarkan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Moderasi beragama bukan berarti mengurangi ajaran, tetapi menempatkan agama secara proporsional, bijak, dan berkeadaban dalam ruang publik.
Rasulullah ﷺ mencontohkan dakwah dengan hikmah, dialog, dan kasih sayang, bukan dengan caci maki dan kekerasan.
Revitalisasi Pendidikan Akhlak dan Karakter
Pembangunan bangsa harus dimulai dari pembangunan manusia. Pendidikan agama tidak cukup berhenti pada aspek ritual, tetapi harus melahirkan pribadi jujur, adil, toleran, dan bertanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)
Menjadikan Kemaslahatan sebagai Orientasi Bersama
Islam sangat menekankan kemaslahatan umum (maṣlaḥah ‘āmmah). Segala kebijakan, sikap keagamaan, dan tindakan sosial harus diarahkan untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta (maqāṣid al-syarī‘ah).
Solusi Melalui Pendekatan Sosial Budaya
Menguatkan Kembali Nilai Kearifan Lokal
Budaya lokal yang selaras dengan nilai Islam harus dihidupkan kembali sebagai perekat sosial. Di Minangkabau, misalnya, prinsip musyawarah, mufakat, dan adat yang berlandaskan syariat merupakan kekuatan besar dalam menjaga harmoni sosial.
Dialog dan Literasi Keagamaan yang Inklusif
Perbedaan adalah keniscayaan. Yang dibutuhkan bukan penyeragaman, tetapi sikap saling memahami. Dialog lintas kelompok dan peningkatan literasi keagamaan yang sehat menjadi kunci merawat persatuan bangsa.
Peran Aktif Tokoh Agama dan Masyarakat
Penyuluh agama, ulama, ninik mamak, dan tokoh masyarakat memiliki peran strategis sebagai penyejuk umat dan penjaga harmoni sosial. Dakwah harus menjadi solusi, bukan sumber polarisasi.
Penutup
Masalah agama dan bangsa sejatinya berakar pada persoalan manusia: cara berpikir, bersikap, dan berperilaku. Islam hadir bukan untuk memecah belah, tetapi untuk menyatukan; bukan untuk menebar kebencian, tetapi untuk menanamkan kasih sayang dan keadilan.
Dengan kembali kepada nilai-nilai syariat Islam yang moderat dan berpadu dengan kearifan sosial budaya bangsa, insya Allah Indonesia akan tetap kokoh sebagai negeri yang religius, beradab, dan bersatu dalam keberagaman.
Wallahu A'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar