Refleksi Hari Keluarga Nasional: Meningkatkan "Hormon Kebahagiaan" dalam Keluarga Perspektif Al-Qur'an, Sunnah, dan Sains Modern
Oleh: Wahyu Salim, S.Ag
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan momentum untuk merenungkan kembali kualitas kehidupan keluarga Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, tekanan ekonomi, meningkatnya gangguan kesehatan mental, serta berkurangnya waktu kebersamaan, keluarga membutuhkan lebih dari sekadar kecukupan materi. Keluarga membutuhkan kebahagiaan yang sehat, autentik, dan berkelanjutan.
Menariknya, apa yang kini dijelaskan oleh ilmu kedokteran melalui konsep happy hormones sesungguhnya telah lama dipraktikkan dalam ajaran Islam melalui nilai kasih sayang, ibadah, silaturahmi, dan akhlak mulia.
Kebahagiaan Keluarga Indonesia: Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur kebahagiaan masyarakat melalui tiga dimensi utama, yaitu kepuasan hidup, perasaan (afeksi), dan makna hidup (eudaimonia). Berdasarkan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan, Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2021 berada pada angka 71,49 (skala 0–100). Angka tersebut menunjukkan tren yang membaik dibandingkan tahun 2017, namun juga mengingatkan bahwa masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kualitas kebahagiaan keluarga Indonesia. (Sirusa)
Artinya, pembangunan bangsa tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi. Keluarga yang harmonis, sehat secara emosional, dan kuat secara spiritual merupakan fondasi utama masyarakat yang bahagia.
Sains Menjelaskan: Tubuh Memiliki "Hormon Kebahagiaan"
Ilmu neurologi mengenal empat zat kimia utama yang sering disebut sebagai hormon atau neurotransmiter kebahagiaan.
Pertama, Dopamin, yaitu hormon penghargaan (reward). Ia muncul ketika seseorang berhasil mencapai tujuan, memperoleh apresiasi, atau menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Kedua, Serotonin, yang berperan menjaga suasana hati, rasa tenang, kualitas tidur, dan keseimbangan emosi.
Ketiga, Oksitosin, dikenal sebagai love hormone. Hormon ini meningkat ketika terjadi pelukan, sentuhan penuh kasih, saling percaya, serta hubungan hangat antara suami-istri maupun orang tua dan anak.
Keempat, Endorfin, yaitu hormon yang mengurangi rasa sakit sekaligus menimbulkan rasa nyaman dan bahagia, terutama setelah olahraga, tertawa, atau melakukan aktivitas positif bersama keluarga. (Alodokter)
Menariknya, hampir seluruh aktivitas yang merangsang hormon-hormon tersebut merupakan perilaku yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Al-Qur'an: Keluarga adalah Tempat Turunnya Ketenangan
Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan (sakinah) padanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah)."
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini sangat luar biasa bila dipandang melalui perspektif sains modern.
Sakinah menggambarkan ketenangan psikologis yang selaras dengan keseimbangan serotonin.
Mawaddah menghadirkan rasa cinta yang memperkuat hubungan emosional sebagaimana fungsi oksitosin.
Rahmah melahirkan empati, kepedulian, dan kehangatan yang memperkokoh ikatan keluarga.
Dengan kata lain, keluarga Islami adalah lingkungan biologis sekaligus spiritual yang secara alami membantu tubuh memproduksi hormon-hormon kebahagiaan.
Sunnah Nabi: Resep Kebahagiaan Keluarga
Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang nabi, tetapi juga teladan dalam membangun keluarga yang sehat secara emosional.
Beliau bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya."
(HR. At-Tirmidzi)
Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah ﷺ kita menemukan banyak perilaku yang kini terbukti secara ilmiah meningkatkan hormon kebahagiaan.
Beliau sering tersenyum.
Beliau bercanda dengan keluarga.
Beliau membantu pekerjaan rumah.
Beliau memanggil istri dengan panggilan yang lembut.
Beliau memeluk cucu-cucunya.
Beliau menyatakan cinta kepada keluarganya secara terbuka.
Semua perilaku tersebut merupakan bentuk interaksi yang memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.
Ibadah juga Menumbuhkan Kebahagiaan
Islam tidak memisahkan ibadah dari kesehatan mental.
Shalat berjamaah keluarga menumbuhkan rasa kebersamaan.
Membaca Al-Qur'an menghadirkan ketenangan jiwa.
Dzikir membantu mengurangi kecemasan.
Sedekah menumbuhkan rasa syukur.
Silaturahmi mempererat hubungan sosial.
Allah SWT berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ketenangan hati inilah yang menjadi fondasi utama kebahagiaan sejati.
Meningkatkan "Hormon Bahagia" ala Islam
Dalam memperingati Hari Keluarga Nasional, ada beberapa ikhtiar sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga:
Membiasakan shalat berjamaah di rumah.
Mengucapkan salam, senyum, dan pelukan setiap hari.
Makan bersama tanpa gangguan gawai.
Membaca Al-Qur'an bersama keluarga.
Membiasakan saling memuji dan mengapresiasi.
Berolahraga atau berjalan santai bersama.
Memperbanyak syukur dan doa.
Menjaga silaturahmi dengan orang tua dan kerabat.
Menyelesaikan konflik melalui musyawarah dan saling memaafkan.
Aktivitas-aktivitas sederhana tersebut bukan hanya memperkuat hubungan keluarga, tetapi juga membantu tubuh memproduksi hormon-hormon yang mendukung kesehatan fisik dan mental.
Penutup
Hari Keluarga Nasional mengingatkan kita bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat lahirnya generasi yang sehat, beriman, dan bahagia.
Sains membuktikan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme biologis untuk menciptakan kebahagiaan. Islam, jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang, telah mengajarkan cara-cara sederhana untuk mengaktifkan mekanisme tersebut melalui kasih sayang, ibadah, akhlak mulia, komunikasi yang baik, dan kedekatan emosional dalam keluarga.
Maka, keluarga yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah sesungguhnya bukan hanya menghasilkan rumah yang harmonis, tetapi juga menjadi "laboratorium kebahagiaan" yang menyehatkan jiwa, menguatkan raga, dan melahirkan generasi yang berkualitas.
Semoga Hari Keluarga Nasional menjadi momentum bagi setiap keluarga Indonesia untuk tidak hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi juga membangun rumah tangga yang menghadirkan ketenangan hati, kebahagiaan yang hakiki, serta keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.
Wallahu A'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar