Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam KUA Padang Panjang Timur
Hijrah adalah salah satu kata yang paling sering kita dengar dalam kehidupan umat Islam. Namun, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat dari satu wilayah ke wilayah lain. Hijrah adalah energi perubahan. Hijrah adalah keberanian meninggalkan sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang lebih baik. Hijrah adalah kekuatan yang mampu mengubah manusia biasa menjadi manusia luar biasa.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah Islam dibangun di atas semangat hijrah. Bahkan kalender Islam pun dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Sebuah perjalanan yang bukan menandakan kekalahan, melainkan awal kebangkitan peradaban Islam.
Allah SWT berfirman:
"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak." (QS. An-Nisa': 100).
Hijrah: Titik Balik Peradaban Islam
Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat, Rasulullah SAW bersama para sahabat diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Di kota itulah Islam tumbuh menjadi kekuatan yang disegani. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang berkeadilan, penuh kasih sayang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Hijrah ternyata bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari sebuah kemenangan. Dari Madinah, cahaya Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab hingga akhirnya menerangi dunia.
Karena itulah, Khalifah Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam. Hijrah dipandang sebagai tonggak perubahan yang sangat menentukan perjalanan umat.
Hijrah yang Sesungguhnya
Pada masa sekarang, hijrah tidak lagi identik dengan berpindah tempat. Rasulullah SAW bersabda:
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, hijrah sejati adalah perubahan hati dan perilaku. Berhijrah dari kemalasan menuju semangat, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebencian menuju persaudaraan.
Hijrah adalah saat seseorang mulai memperbaiki salatnya, menjaga lisannya, menjauhi riba, memperbanyak sedekah, mendidik anak-anak dengan akhlak yang baik, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Kekuatan Hijrah Ada Pada Kemauan Berubah
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya. Perubahan membutuhkan tekad, kesungguhan, dan kesabaran. Tidak ada keberhasilan tanpa keberanian untuk memulai.
Banyak orang ingin hidupnya berubah, tetapi tidak semua orang berani memulai hijrah. Padahal, langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah lebih dicintai Allah daripada perubahan besar yang hanya sesaat.
Hijrah Melahirkan Harapan
Tidak ada kata terlambat untuk berhijrah. Selama pintu taubat masih terbuka, selama napas masih berhembus, kesempatan untuk menjadi lebih baik masih tersedia.
Seorang yang dahulu jauh dari masjid dapat menjadi ahli ibadah. Seorang yang dahulu lalai dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Bahkan orang yang pernah terjatuh dalam dosa, dengan rahmat Allah dapat bangkit menjadi hamba yang dicintai-Nya.
Hijrah sesungguhnya adalah perjalanan seumur hidup. Bukan perubahan yang instan, melainkan proses panjang menuju keridhaan Allah SWT.
Menjadi Generasi yang Selalu Berhijrah
Di tengah tantangan zaman modern, umat Islam membutuhkan semangat hijrah. Hijrah dari budaya malas menuju budaya kerja keras, dari perpecahan menuju persatuan, dari sikap individualis menuju kepedulian sosial, serta dari keterbelakangan menuju kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban.
Semangat hijrah harus hadir dalam keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang terus memperbaiki diri dan tidak pernah berhenti untuk berubah menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, The Power of Hijrah bukan sekadar slogan, melainkan kekuatan yang mampu membentuk pribadi yang lebih bertakwa, keluarga yang lebih harmonis, dan masyarakat yang lebih beradab.
Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW telah melahirkan peradaban Islam yang agung, maka hijrah diri kita hari ini, sekecil apa pun, insya Allah akan menjadi awal dari lahirnya kehidupan yang lebih berkah dan penuh makna.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 218).
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah. Di sanalah sesungguhnya letak kekuatan hijrah.
Wallahu A'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar