Selasa, 16 September 2025

Lansia dan Upaya Mengatasi Kesepian di Hari Tua Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Psikologi Agama


Lansia dan Upaya Mengatasi Kesepian di Hari Tua Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Psikologi Agama

Oleh: Wahyu Salim Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
Disampaikan pada BImbingan Penyuluhan Agama di Sekolah Lansia Ekor Lubuk

Abstrak

Masa lanjut usia (lansia) merupakan fase kehidupan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisik, kognitif, dan sosial. Salah satu persoalan dominan pada lansia adalah kesepian yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan spiritual. Artikel ini membahas bagaimana perspektif Al-Qur’an, Sunnah, dan psikologi agama menawarkan solusi dalam menghadapi kesepian di hari tua. Dengan pendekatan integratif, tulisan ini menegaskan bahwa iman, ibadah, relasi sosial, serta makna hidup yang baru merupakan faktor kunci untuk mewujudkan ketenangan batin lansia.

Kata kunci: lansia, kesepian, Al-Qur’an, Sunnah, psikologi agama

Pendahuluan

Pertumbuhan jumlah lansia di Indonesia semakin meningkat seiring bertambahnya angka harapan hidup. Kondisi ini menuntut perhatian lebih terhadap kualitas hidup mereka, terutama dalam aspek psikososial dan spiritual. Salah satu permasalahan yang sering muncul adalah kesepian (loneliness), yaitu perasaan terasing, tidak dibutuhkan, dan kehilangan makna hidup. Menurut Data Indonesia Jumlah Lansia awal Tahun 2025 mencapai 34 Juta Jiwa atau 11, 8 % dari total penduduk Indonesia 283,5 Juta Jiwa.

Dalam perspektif Islam, lansia memiliki kedudukan mulia. Al-Qur’an memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua dan menghormati yang lebih tua (QS. Al-Isrā’: 23). Rasulullah ﷺ juga menegaskan: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda, dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi). Dengan demikian, penting untuk memberikan perhatian khusus kepada lansia agar terhindar dari kesepian, baik melalui pendekatan agama maupun psikologi.

Kesepian dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Al-Qur’an memberikan peneguhan bahwa Allah senantiasa bersama hamba-Nya:

“Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).

Ayat ini menekankan bahwa seorang mukmin tidak pernah benar-benar sendiri, sebab Allah adalah sebaik-baik penolong. Selain itu, Al-Qur’an mengajarkan dzikir sebagai penenang hati:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Sunnah Nabi ﷺ juga menunjukkan pentingnya aktivitas sosial dan spiritual di hari tua. Lansia dianjurkan memperbanyak ibadah, menjaga silaturrahim, serta berbagi pengalaman sebagai teladan bagi generasi muda. Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa setiap keadaan seorang mukmin adalah baik, baik saat mendapat nikmat maupun ujian, selama ia bersyukur dan bersabar.

Kesepian dalam Perspektif Psikologi Agama

Psikologi agama memandang kesepian sebagai persoalan psikologis yang dapat diatasi dengan penguatan spiritualitas. Keyakinan kepada Allah, keterlibatan dalam ibadah, dan relasi sosial berbasis iman terbukti meningkatkan ketahanan mental lansia.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lansia yang aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung memiliki tingkat depresi lebih rendah dan merasa lebih bahagia, seperti mengikuti majelis taklim, silaturrahim, ibadah di masjid/mushalla. Spiritualitas memberi makna baru dalam hidup, mencegah perasaan hampa, serta menumbuhkan harapan menghadapi keterbatasan fisik maupun sosial. 

QS. Yasin ayat 68, Allah berfirman: 

"Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah), maka apakah mereka tidak mengerti?"

Strategi Mengatasi Kesepian Lansia

a. Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

  1. Memperbanyak dzikir dan doa.

  2. Menjaga shalat berjamaah dan ibadah sunnah.

  3. Menjalin silaturrahim dengan keluarga dan masyarakat.

  4. Berbagi hikmah, pengalaman, dan nasihat.

  5. Menumbuhkan sikap sabar dan syukur dalam menghadapi keterbatasan.

b. Perspektif Psikologi Agama

  1. Menemukan makna baru dalam hidup, misalnya menjadi guru kehidupan.

  2. Aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan.

  3. Menjaga kesehatan fisik dan mental melalui olahraga ringan dan nutrisi seimbang.

  4. Mengembangkan hobi positif (membaca Al-Qur’an, berkebun, menulis).

  5. Membangun hubungan emosional dengan keluarga, teman sebaya, atau konselor agama.

Peran Keluarga dan Masyarakat

Keluarga memiliki peran utama dalam mendampingi lansia agar tidak merasa terabaikan. Anak dan cucu berkewajiban berbakti dan menjaga kehormatan orang tua. Sementara itu, masyarakat dapat mendukung melalui program ramah lansia seperti posyandu lansia, pengajian, atau komunitas sosial yang melibatkan orang tua secara aktif. Penyuluh agama juga berperan penting memberikan bimbingan rohani, motivasi, dan penguatan spiritual.

Kesimpulan

Kesepian pada lansia merupakan fenomena nyata yang berdampak pada kualitas hidup mereka. Al-Qur’an, Sunnah, dan psikologi agama sama-sama menekankan pentingnya aspek spiritual, sosial, dan psikologis dalam menghadapinya. Dengan memperbanyak dzikir, ibadah, silaturrahim, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan, lansia dapat menjalani hari tua yang bermakna dan terhindar dari kesepian. Oleh karena itu, dukungan keluarga, masyarakat, dan penyuluh agama sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah lansia. 

Daftar Pustaka

Sumber Al-Qur’an & Hadis

  • Al-Qur’an al-Karim.

  • HR. Tirmidzi, Kitāb al-Birr wa al-Ṣilah, no. 1919.

  • HR. Muslim, Kitāb al-Zuhd, no. 2999.

Buku & Artikel Ilmiah

  • Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Kairo: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005.

  • Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga, 1999.

  • Koenig, Harold G. Religion and Mental Health: Research and Clinical Applications. San Diego: Academic Press, 2018.

  • Santrock, John W. Life-Span Development. New York: McGraw-Hill, 2019.

  • Syafaat, Muhammad. “Religiusitas dan Kesehatan Mental pada Lansia.” Jurnal Psikologi Islami, Vol. 5, No. 2 (2022).

  • Wahyudi, Ahmad. Psikologi Agama: Teori dan Praktik dalam Kehidupan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2020.

Kamis, 11 September 2025

BRUS Hadir di SMKN 2 Padang Panjang, Kemenag Siapkan Generasi Berkarakter

BRUS Hadir di SMKN 2 Padang Panjang, Kemenag Siapkan Generasi Berkarakter

Padang Panjang – Upaya pembinaan remaja usia sekolah terus dilakukan Kementerian Agama. Pada Kamis, 11 September 2025, KUA Kecamatan Padang Panjang Timur melaksanakan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMKN 2 Padang Panjang, yang diikuti oleh 50 siswa kelas XI.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang, Mukhlis. Ia mengingatkan pentingnya pembekalan karakter sejak usia sekolah. “Generasi muda harus dibekali bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga akhlak, keimanan, dan ketangguhan menghadapi tantangan zaman. Tema BRUS hari ini, Mewujudkan Generasi Sholeh, Kuat, Hebat, Moderat, dan Bermanfaat, adalah cita-cita kita bersama,” ujarnya.

Dalam laporannya, Masrizon, Kepala KUA Padang Panjang Timur selaku ketua panitia, menyampaikan bahwa BRUS dirancang sebagai program derektori KUA Revitalisasi untuk membantu siswa mengenali jati diri, merumuskan cita-cita, serta belajar menghadapi dinamika perubahan zaman.

Fasilitator BRUS, Wahyu Salim, bersama tim mentor dari penghulu dan penyuluh agama, mengajak siswa untuk menggali potensi diri, melatih kecerdasan emosional, dan belajar mengambil keputusan yang tepat. Melalui sesi interaktif, para siswa diajak untuk lebih bijak dalam menyikapi arus globalisasi dan perkembangan teknologi.

Apresiasi juga datang dari Kepala SMKN 2 Padang Panjang, Yusma Elda, yang menilai BRUS sangat membantu sekolah dalam membentuk pribadi siswa. “Program ini sangat positif untuk mendukung anak-anak kita agar tumbuh dengan karakter kuat, berakhlak mulia, dan siap meraih masa depan,” tuturnya.

Suasana kegiatan berjalan hangat dan penuh semangat. Para siswa aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan merumuskan visi pribadi. Dengan adanya BRUS, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang berintegritas, tangguh, dan bermanfaat bagi bangsa. UWaS

Selasa, 09 September 2025

Kenapa Muhammadiyah Tidak Mengadakan Acara Istighotsah?

 

Kenapa Muhammadiyah Tidak Mengadakan Acara Istighotsah?

Tinjauan dari Perspektif Tarjih Muhammadiyah

Wahyu Salim Ketua PCM X Koto/Penyuluh Agama

Pendahuluan

Istighotsah merupakan praktik doa bersama yang cukup populer di kalangan umat Islam Indonesia, biasanya dilakukan untuk memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi bencana, persoalan bangsa, maupun kesulitan hidup. Walau begitu, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis tidak menjadikan istighotsah sebagai tradisi kelembagaan. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan di masyarakat: Mengapa Muhammadiyah tidak mengadakan istighotsah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami prinsip dasar tarjih Muhammadiyah dalam memandang ibadah, doa, dan zikir.

Prinsip Ibadah dalam Muhammadiyah

Majelis Tarjih Muhammadiyah berpegang pada kaidah “al-ashlu fi al-‘ibadat al-tawaqquf” (asal hukum ibadah adalah berhenti sampai ada dalil). Artinya, setiap bentuk ibadah mahdhah hanya bisa dilakukan jika ada landasan dari Al-Qur’an atau Sunnah yang sahih.

Himpunan Putusan Tarjih (HPT) menegaskan:

“Ibadah mahdhah tidak boleh diada-adakan dan tidak boleh pula dikurangi. Yang tidak ada tuntunannya, tidak boleh dijadikan ibadah.”1

Dalam konteks ini, istighotsah sebagai ritual berjamaah dengan bacaan tertentu dipandang tidak memiliki dasar yang jelas dari Nabi SAW, sehingga Muhammadiyah tidak menjadikannya sebagai amalan organisasi.

Doa dan Zikir Menurut Muhammadiyah

Muhammadiyah tidak pernah menolak doa atau zikir. Bahkan doa dipandang sebagai inti ibadah sebagaimana sabda Nabi:

“Ad-du‘ā’ mukhkhul ‘ibādah.” (HR. Tirmidzi)2

Namun, doa dan zikir lebih ditekankan dalam bentuk:

  1. Doa individual sesuai kebutuhan masing-masing muslim.

  2. Doa berjamaah yang mengikuti tuntunan Nabi, misalnya doa qunut, doa setelah shalat, atau doa bersama dalam majelis tanpa format khusus.3

Dengan kata lain, Muhammadiyah menerima doa bersama, tetapi tidak dalam format ritual istighotsah yang dipandang tidak memiliki dalil yang kuat.

Amal Nyata sebagai Wujud Istighotsah

Dalam menghadapi musibah atau krisis, Muhammadiyah menyeimbangkan tawakkal (doa) dan ikhtiar nyata. Sebagai contoh, ketika terjadi bencana alam, Muhammadiyah langsung menggerakkan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) untuk membantu korban, mendirikan posko, menyediakan makanan, dan layanan kesehatan.

Dengan cara ini, doa tidak berhenti pada lisan semata, melainkan diwujudkan dalam kerja nyata untuk menolong sesama.

Sikap Tarjih Muhammadiyah

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam beberapa fatwa menegaskan:

  1. Doa sangat dianjurkan dalam Islam, baik sendiri maupun bersama.

  2. Format doa bersama tidak boleh dipatenkan dalam bentuk ritual tertentu yang tidak ada contoh dari Rasulullah SAW.4

  3. Amal nyata adalah bagian dari doa yang hidup—memadukan spiritualitas dengan kerja sosial.

Oleh karena itu, Muhammadiyah memilih tidak mengadakan istighotsah sebagai agenda resmi organisasi, namun tetap mendorong warganya untuk banyak berdoa, berzikir, dan beramal saleh.

Penutup

Alasan Muhammadiyah tidak mengadakan acara istighotsah bukan karena menolak doa, tetapi karena konsisten dengan manhaj tarjih: memurnikan ibadah sesuai tuntunan Nabi SAW, menekankan doa secara pribadi maupun kolektif yang sederhana, serta mengutamakan amal nyata dalam menghadapi persoalan umat dan bangsa.

Dengan demikian, Muhammadiyah mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak hanya dicari dengan doa lisan, tetapi juga dengan amal kebajikan yang nyata, sebagai bentuk istighotsah yang sesungguhnya.

Footnotes

  1. Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Bab I: Ibadah, Penerbit Suara Muhammadiyah, cet. ke-5, 2018.

  2. HR. Tirmidzi, Kitab Da‘awat, no. 3371.

  3. Himpunan Putusan Tarjih, Bab Doa dan Zikir, hlm. 255–260.

  4. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Tanya Jawab Agama, jilid 3, Penerbit Suara Muhammadiyah, 2003.

Kamis, 04 September 2025

Meneladani Rasulullah SAW dalam Merajut Ukhuwwah dan Menjaga Persatuan Kesatuan Bangsa

 


Persatuan dan kesatuan merupakan modal utama dalam membangun bangsa yang kuat, sejahtera, dan bermartabat. Indonesia sebagai negara yang majemuk dengan keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama membutuhkan fondasi kokoh agar tidak mudah terpecah belah. Dalam hal ini, umat Islam dapat mengambil teladan agung dari Rasulullah SAW, yang telah berhasil merajut ukhuwwah (persaudaraan) serta membangun peradaban Madinah yang damai, adil, dan sejahtera.

Landasan al-Qur’an dan Sunnah tentang Persaudaraan

Al-Qur’an menegaskan pentingnya persatuan umat:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103).

Ayat ini memberikan arahan bahwa persatuan umat hanya dapat terwujud jika berlandaskan pada ajaran Allah SWT. Islam tidak menghendaki perpecahan, adu domba, maupun permusuhan, melainkan mengajak umat untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya (tersia-siakan)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa ukhuwah Islamiyah bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap saling menolong, melindungi, dan menjaga kehormatan sesama.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam Membangun Ukhuwwah

Ketika hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dalam ikatan yang tulus. Mereka saling berbagi harta, tempat tinggal, bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi saudara barunya. Model persaudaraan ini menjadi pondasi utama dalam membangun masyarakat Madinah yang damai meski dihuni oleh berbagai kabilah dengan latar belakang berbeda.

Rasulullah juga menjalin perjanjian dengan kelompok Yahudi Madinah melalui Piagam Madinah yang menegaskan hak dan kewajiban bersama dalam menjaga kota. Inilah bukti nyata bahwa Rasulullah tidak hanya menekankan ukhuwah Islamiyah, tetapi juga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Relevansi bagi Bangsa Indonesia

Bangsa Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar berupa polarisasi politik, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan upaya adu domba yang berpotensi melemahkan persatuan. Dalam konteks ini, umat Islam harus meneladani Rasulullah SAW:

  1. Menguatkan Ukhuwwah Islamiyah: Umat Islam perlu saling mendukung dan menghindari perpecahan hanya karena perbedaan pandangan.

  2. Menjaga Ukhuwwah Wathaniyah: Islam mengajarkan cinta tanah air (hubbul wathan minal iman). Oleh karena itu, menjaga persatuan bangsa Indonesia adalah bagian dari pengamalan iman.

  3. Membangun Ukhuwwah Insaniyah: Rasulullah SAW mengajarkan kasih sayang kepada seluruh manusia tanpa melihat latar belakang suku atau agama. Hal ini penting dalam konteks Indonesia yang plural.

  4. Menghindari Fitnah dan Adu Domba: Al-Qur’an memperingatkan agar umat tidak terjebak dalam kebencian yang dapat menghancurkan persaudaraan (QS. al-Hujurat [49]: 10–12).

Penutup

Persatuan dan kesatuan bangsa adalah amanah sekaligus nikmat yang wajib dijaga. Rasulullah SAW telah memberi teladan bagaimana membangun masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera melalui ukhuwah. Dengan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, umat Islam di Indonesia dapat berkontribusi nyata dalam menjaga keutuhan NKRI.

Semoga kita semua dapat meneladani Rasulullah SAW dalam merajut ukhuwah dan merawat persatuan bangsa demi tercapainya Indonesia yang damai, adil, dan diridhai Allah SWT. UWaS

Semangat Menuntut Ilmu

 

🕌 Hari ke-7

Kutipan Utama (Poster)

"Jika kamu tidak tahan dengan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan."
— Imam Syafi’i

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Semangat Menuntut Ilmu

Imam Syafi’i rahimahullah memberikan nasihat mendalam: "Jika kamu tidak tahan dengan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan." Kalimat ini menggambarkan bahwa ilmu adalah kunci kehidupan, tetapi jalan untuk meraihnya tidaklah mudah. Ia membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan keuletan.

Allah Swt. menegaskan keutamaan ilmu dalam Al-Qur’an:

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
(HR. Muslim)

Relevansi Modern:
Di era serba cepat ini, banyak orang ingin sukses instan tanpa melalui proses belajar. Padahal, ilmu tidak bisa diperoleh secara singkat; ia memerlukan disiplin, waktu, dan kesabaran. Jika kita malas belajar, kita akan terjebak dalam kebodohan yang lebih menyakitkan dibanding penatnya belajar.

Penutup:
Belajar adalah ibadah. Semangat menuntut ilmu harus terus dijaga, karena dengan ilmu hidup menjadi terarah, ibadah menjadi benar, dan kedudukan kita mulia di sisi Allah dan manusia. UWaS

Siapkan Generasi Berkarakter, KUA Padang Panjang Timur Gelar BRUS di SMKN 1 Padang Panjang

Padang Panjang – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padang Panjang Timur kembali menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), kali ini bersama siswa SMKN 1 Padang Panjang pada Rabu, 3 September 2025. Kegiatan yang diikuti oleh 50 siswa kelas XII Jurusan Manajemen Perkantoran Bisnis ini berlangsung penuh antusias.

Acara dibuka secara resmi oleh pihak sekolah yang diwakili oleh Waka Humas, Taufik Hidayat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara KUA dan sekolah. “Kami menyambut baik program BRUS ini, semoga memberikan manfaat yang luas bagi siswa dalam pembentukan karakter, akhlak mulia, serta kesiapan meraih masa depan dengan penuh integritas,” ungkapnya.

Kepala KUA Padang Panjang Timur, Masrizon, dalam arahannya menekankan bahwa pembekalan BRUS sangat penting bagi remaja usia sekolah. “Anak-anak kita harus disiapkan menghadapi tantangan zaman dengan bekal karakter yang kuat. Melalui BRUS, kita ingin mewujudkan generasi yang sholeh, kuat, hebat, moderat, dan bermanfaat,” tegasnya.




Kegiatan BRUS ini difasilitasi oleh Wahyu Salim, Penyuluh Agama sekaligus Ketua IPARI Kota Padang Panjang, yang didampingi tenaga mentor dari unsur penghulu dan penyuluh agama. Para siswa diajak mengenal diri, menggali potensi, merancang cita-cita, serta belajar bijak membaca perubahan zaman. Materi juga menekankan pentingnya keterampilan mengambil keputusan, pengelolaan emosi, serta membangun ketahanan diri di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi.

Kepala SMKN 1 Padang Panjang, Gusti Kamal, menyampaikan penghargaan yang tinggi atas penyelenggaraan BRUS di sekolahnya. “Program ini sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak kita hari ini. Selain menambah wawasan, BRUS juga membentuk kepribadian yang kuat, sehingga mereka siap bersaing sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai luhur agama dan budaya,” tuturnya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif, dengan siswa terlibat aktif dalam diskusi dan simulasi. Harapannya, BRUS tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. UWaS

KUA PADANG PANJANG TIMUR GELAR ZIKIR DAN DOA UNTUK KESELAMATAN NEGERI DAN KEDAMAIAN BANGSA

Padang Panjang – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padang Panjang Timur menggelar zikir dan doa bersama untuk keselamatan negeri serta kedamaian bangsa pada Selasa, 2 September 2025 di Masjid Hidayatussalam Koto Panjang setelah salat Ashar.

Kegiatan ini diikuti oleh jamaah, tokoh masyarakat, majelis taklim, lintas sektoral, penyuluh agama, penghulu, staf KUA, serta para santri TPQ. Kehadiran beragam unsur masyarakat tersebut menjadi wujud kepedulian bersama dalam menjaga persatuan dan memohon perlindungan Allah SWT agar bangsa senantiasa damai dan terhindar dari perpecahan.

Kepala KUA Padang Panjang Timur, Masrizon, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar spiritual yang harus terus dibudayakan. “Doa adalah senjata orang beriman. Semoga melalui zikir dan doa ini Allah menjaga negeri kita dari segala mara bahaya serta memberikan kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kebangsaan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Padang Panjang, Joni Nasri, yang hadir mewakili Kakankemenag, menyampaikan pesan penting agar masyarakat tetap bijak dalam bersikap, khususnya di tengah kondisi bangsa yang cukup memprihatinkan. “Mari kita rajut harmonisasi, bijak bermedsos, menyampaikan pendapat sesuai mekanisme yang ada, serta tidak terpengaruh oleh hasutan, fitnah, dan ajakan anarkis, karena semua itu hanya merugikan kita bersama,” tegasnya. 

Zikir dipimpin oleh Donal, sedangkan doa dipimpin oleh H. Zainal dengan penuh kekhusyukan. Hadir pula Wahyu Salim, Ketua IPARI Kota Padang Panjang, yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, zikir dan doa bersama bukan hanya memperkuat spiritualitas umat, tetapi juga menjadi modal penting dalam menjaga ketentraman sosial dan kedamaian bangsa.

Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama agar Indonesia senantiasa diberkahi Allah SWT, diberi keamanan, persatuan, dan dijauhkan dari segala bentuk perpecahan serta kekacauan yang merugikan masyarakat. UWaS 

Selasa, 02 September 2025

NILAI KEBAIKAN KECIL DINILAI BESAR

 

🕌 Hari ke-6

Kutipan Utama (Poster)

"Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena bisa jadi itu yang menyelamatkanmu dari api neraka."
— Abu Bakar Ash-Shiddiq

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Nilai Kebaikan Kecil yang Bermakna Besar

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., sahabat utama Rasulullah ﷺ, mengingatkan agar kita tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Sering kali manusia menilai sesuatu hanya dari besar kecilnya perbuatan. Namun, di sisi Allah, kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa bernilai besar.

Allah Swt. berfirman:

"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)."
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria."
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa senyum tulus, menyingkirkan duri di jalan, atau memberi seteguk air, bisa menjadi amal yang sangat berharga.

Relevansi Modern:
Di zaman sekarang, banyak orang berpikir kebaikan itu harus besar dan viral agar berarti. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tetap bernilai. Membalas pesan dengan doa, berbagi ilmu, atau sekadar memberi semangat bisa menjadi pahala yang besar jika diniatkan karena Allah.

Penutup:
Mari biasakan melakukan kebaikan, meski sederhana. Karena bisa jadi, amal kecil yang kita anggap sepele, justru itulah yang mengantarkan kita ke surga. UWaS

PENYULUH AGAMA BERSAMA WBP GELAR ZIKIR DAN DOA UNTUK KESELAMATAN NEGERI DAN KEDAMAIAN BANGSA


Padang Panjang, Selasa (2/9/2025) – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Rutan Kelas IIB Padang Panjang ketika para Penyuluh Agama Islam bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menggelar zikrullah dan doa bersama untuk keselamatan negeri dan kedamaian bangsa.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC Ust. Wahyu, yang menekankan betapa pentingnya zikir dan doa bersama dalam menghadapi tantangan bangsa saat ini. “Semoga dengan lantunan doa yang tulus, kita semua mampu lulus dalam ujian berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Rangkaian zikir dipimpin oleh Buya Donal didampingi Ust. Zulkarnaini yang membimbing bacaan ma’tsurat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis. Jamaah tampak khusyuk mengikuti setiap lafaz, memohon perlindungan dan rahmat Allah SWT bagi Indonesia.

Selanjutnya, Buya Haji Zainal menyampaikan tausiyyah Maulid dengan menegaskan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menjaga harmonisasi kehidupan. Beliau mengingatkan agar umat senantiasa menjauhi perpecahan, fitnah, serta adu domba. “Kita harus bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial, serta terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” pesannya.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Buya Gustiar. Dalam doa, dipanjatkan permohonan khusus untuk keselamatan bangsa, terhindar dari perpecahan, serta diberkahi dengan kepemimpinan yang adil, jujur dan amanah.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang dan petugas bidang pembinaan mental kerohanian Rutan, Bapak Rino.

Salah satu penggalan doa terinspirasi dari ayat suci al-Qur'an yang  berbunyi:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ 

(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” Al-Baqarah  [2]:126

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Menjaga,
Selamatkanlah bangsa ini dari perpecahan dan permusuhan.
Satukan hati kami dalam persatuan yang kokoh,
Dan jadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur."

Acara ditutup dengan penuh harap agar Indonesia senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, menjadi bangsa yang damai, sejahtera, dan diridhai-Nya. UWaS

Senin, 01 September 2025

MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM MENGENDALIKAN EMOSI

 


🕌 Hari ke-5

Kutipan Utama (Poster)

"Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."
— (HR. Bukhari-Muslim)

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Mengendalikan Emosi

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ukuran kekuatan seorang mukmin tidak diukur dari fisik semata, melainkan dari kemampuannya mengendalikan emosi. Banyak orang mampu mengalahkan lawan di medan laga, tetapi sedikit yang mampu mengalahkan dirinya sendiri ketika marah.

Allah Swt. memuji orang yang mampu menahan amarah dalam firman-Nya:

"...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
(QS. Ali ‘Imran: 134)

Mengendalikan emosi bukan berarti menekan perasaan, melainkan menyalurkannya dengan cara yang baik dan bijak. Orang yang marah namun mampu menahan diri akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu Allah persilakan dia memilih bidadari yang ia kehendaki."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Relevansi Modern:
Dalam kehidupan sehari-hari—baik di rumah, pekerjaan, maupun media sosial—emosi sering kali menjadi ujian. Mengendalikan amarah bukan kelemahan, justru tanda kekuatan iman.

Penutup:
Mari kita latih diri untuk sabar, menahan emosi, dan memilih kata bijak ketika marah. Dengan begitu, kita bukan hanya kuat di mata manusia, tetapi juga mulia di sisi Allah. UWaS

Overview: BRUS Wujudkan Generasi Sholeh, Sehat, Cerdas, Moderat & Bermamfaat yang Siap Menghadapi Tantangan Zaman

Tema-tema BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) yang mantap meliputi pembinaan remaja Islami, pencegahan pernikahan dini dan bullying, serta pemahaman dinamika perkembangan remaja untuk membangun remaja yang sehat dan siap menghadapi tantangan hidup. 

Beberapa Contoh Tema BRUS yang Populer dan Efektif:

·        Pembinaan Remaja Islami: Fokus pada penguatan karakter dan nilai-nilai agama pada remaja. 

·        Pencegahan Pernikahan Dini: Edukasi tentang bahaya dan dampak negatif pernikahan di usia muda. 

·        Pencegahan Bullying: Diskusi dan strategi untuk mengatasi perundungan di lingkungan sekolah. 

·        Dinamika Perkembangan Remaja: Membantu remaja memahami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang mereka alami. 

·        Manajemen Stres dan Kesehatan Mental: Memberikan pemahaman dan cara mengelola stres serta menjaga kesehatan mental. 

Ciri-ciri Tema BRUS yang Mantap: 

·        Relevan:

Mengangkat isu-isu yang benar-benar dihadapi oleh remaja usia sekolah, seperti yang tercantum dalam berita di atas.

·        Informatif:

Memberikan pengetahuan dan pemahaman yang baru bagi peserta didik.

·        Inspiratif:

Memotivasi remaja untuk bertindak positif dan membuat keputusan yang lebih baik untuk masa depan mereka.

·        Interaktif:

Mengajak peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan kegiatan.

 Dengan tema-tema yang tepat dan pelaksanaan yang menarik, BRUS dapat menjadi program yang efektif untuk membina remaja yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. UWaS

Jumat, 29 Agustus 2025

KEBIJAKSANAAN DALAM BICARA

🕌 Hari ke-4

Kutipan Utama (Poster)

"Orang bijak berbicara karena mereka punya sesuatu untuk dikatakan; orang bodoh berbicara karena mereka ingin mengatakan sesuatu."
— Socrates

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Kebijaksanaan dalam Bicara

Socrates, seorang filsuf besar Yunani, pernah berkata: "Orang bijak berbicara karena mereka punya sesuatu untuk dikatakan; orang bodoh berbicara karena mereka ingin mengatakan sesuatu." Ungkapan ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga lisan. Bicara adalah nikmat, namun jika tidak dijaga dapat menjadi sumber dosa yang besar.

Allah Swt. berfirman:

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir."
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kata akan dicatat, baik yang bermanfaat maupun yang sia-sia. Maka seorang Muslim harus berhati-hati, memastikan lisannya membawa kebaikan, bukan keburukan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari-Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kebijaksanaan dalam berbicara adalah ciri iman. Orang beriman tidak mudah berbicara tanpa ilmu, apalagi menyebar keburukan atau fitnah.

Di era digital, pesan Socrates dan ajaran Islam tentang menjaga lisan ini sangat relevan. Jari kita di media sosial sama kedudukannya dengan lisan; setiap kata yang kita tulis akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, mari biasakan berbicara dan menulis yang bermanfaat, atau lebih baik diam.

Penutup:
Hendaknya kita menimbang setiap kata sebelum keluar dari mulut atau jari kita. Sebab kata yang bijak dapat menjadi cahaya, sedangkan kata yang sembarangan bisa jadi api yang membakar. UWaS

Tema: Keikhlasan dan Ketulusan dalam Hidup


🕌 Hari ke-3

Kutipan Utama (Poster)

"Jangan jelaskan tentang dirimu kepada siapa pun. Yang mencintaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu."
— Ali bin Abi Thalib

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Keikhlasan dan Ketulusan dalam Hidup

Ali bin Abi Thalib r.a. memberikan nasihat yang sangat dalam: "Jangan jelaskan tentang dirimu kepada siapa pun. Yang mencintaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu." Kalimat ini mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh ketulusan, tanpa sibuk mencari pembenaran di hadapan manusia. Karena sejatinya, penilaian manusia tidak akan pernah sama. Ada yang mencintai tanpa syarat, ada pula yang membenci tanpa alasan.

Allah Swt. mengingatkan dalam Al-Qur’an:

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik."
(QS. Al-Hasyr: 19)

Ayat ini memberi pesan bahwa orientasi hidup seorang Muslim bukanlah penilaian manusia, tetapi keridhaan Allah. Dengan fokus pada ibadah dan amal saleh, seorang hamba akan tetap tenang meski tidak dipahami oleh sebagian orang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian."
(HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah citra di mata manusia, melainkan hati yang ikhlas dan amal yang tulus. Di era modern, di mana media sosial membuat orang sering menampilkan diri demi pengakuan, pesan Ali bin Abi Thalib ini menjadi sangat relevan. Jangan terjebak dalam pencitraan, sebab keikhlasan lebih berharga daripada semua pujian.

Penutup:
Mari kita belajar untuk tidak sibuk menjelaskan diri, cukup buktikan dengan akhlak dan amal nyata. Biarkan Allah yang menilai, sebab Dia-lah sebaik-baik Hakim. UWaS

KHUTBAH JUM'AT: 3 HAL YANG HARUS TOTALITAS DALAM HIDUP

 


🕌 TEKS KHUTBAH JUM’AT

Tema: 3 Hal yang Harus Totalitas dalam Hidup


Khutbah Pertama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah,
Ayat ini menegaskan bahwa hidup seorang mukmin harus totalitas dalam takwa. Tidak setengah-setengah, tidak hanya di masjid saja, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.

Dalam Al-Qur’an, Allah juga berfirman:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ... (الحج: ٧٨)

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu...”

Jihad yang dimaksud bukan hanya perang, tapi kesungguhan total dalam menegakkan agama, memperjuangkan kebenaran, dan melawan hawa nafsu.

Kemudian Allah berfirman lagi tentang Al-Qur’an:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ... (البقرة: ١٢١)

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya (totalitas), mereka itulah yang benar-benar beriman kepadanya...”

Maka jamaah sekalian, ada tiga hal yang harus totalitas dalam hidup seorang muslim:

  1. Totalitas dalam bertakwa (Ali Imran: 102).

  2. Totalitas dalam berjihad dan berjuang di jalan Allah (Al-Hajj: 78).

  3. Totalitas dalam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an (Al-Baqarah: 121).

Bila tiga hal ini kita jalankan dengan sungguh-sungguh, insyaAllah hidup kita penuh keberkahan, dan kematian kita akan husnul khatimah.

1. Bertaqwa kepada Allah (Ali ‘Imrān ayat 102)

Allah berfirman:

"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ"
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.” (QS. Āli ‘Imrān: 102)

  • Bertaqwa berarti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

  • Takwa harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (haqqa tuqatih), artinya bukan setengah hati, melainkan dengan penuh kesadaran, istiqamah, dan totalitas.

  • Hasil dari takwa adalah keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

2. Jihad/Berjuang di Jalan Allah (Al-Hajj ayat 78)

Allah berfirman:

"وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ ..."
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu...” (QS. Al-Ḥajj: 78)

  • Jihad tidak hanya bermakna perang, tetapi juga berjuang menegakkan agama Allah dengan segala potensi yang dimiliki: tenaga, harta, ilmu, lisan, maupun pikiran.

  • Jihad harus dilakukan haqqa jihadih, yaitu dengan kesungguhan, keikhlasan, dan pengorbanan maksimal.

  • Dengan berjihad, umat Islam menjaga kemuliaan diri, agama, dan peradaban.

3. Mengkaji (Tilawah) al-Qur’an (Al-Baqarah ayat 121)

Allah berfirman:

"الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ..."
“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya (haqqa tilawatih). Mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya...” (QS. Al-Baqarah: 121)

  • Tilawah tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan isi al-Qur’an.

  • Membaca al-Qur’an dengan sungguh-sungguh berarti memperhatikan tajwid, tadabbur makna, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

  • Al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup, bukan hanya bacaan ritual.

Kesimpulan

Ada tiga amal utama yang diperintahkan untuk dilakukan dengan sungguh-sungguh dan totalitas dalam Islam:

  1. Takwa – menjaga hubungan dengan Allah.

  2. Jihad – berjuang menegakkan agama dengan pengorbanan terbaik.

  3. Tilawah al-Qur’an – menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup.

Ketiganya saling melengkapi: takwa adalah fondasi, jihad adalah aksi, dan tilawah al-Qur’an adalah panduan.


Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُخْتَارُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jama’ah yang dimuliakan Allah,
Marilah kita jadikan hari-hari kita penuh totalitas dalam ibadah dan perjuangan menegakkan agama Allah. Jangan setengah-setengah, jangan separuh hati. Karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Kita berdoa semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang total dalam takwa, total dalam perjuangan, dan total dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


Kamis, 28 Agustus 2025

Tema: Muhasabah Diri, Jalan Menuju Keselamatan

 


Tema: Muhasabah Diri, Jalan Menuju Keselamatan

Umar bin Khattab r.a. pernah berkata: "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang." Nasihat ini mengajarkan pentingnya introspeksi sebelum datangnya hari perhitungan. Muhasabah bukan sekadar menghitung amal baik dan buruk, tetapi juga mendorong kita untuk memperbaiki kesalahan, menambah amal kebaikan, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat.

Allah Swt. berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menegaskan pentingnya evaluasi diri setiap hari. Dengan muhasabah, seorang hamba akan semakin sadar bahwa hidup adalah perjalanan singkat, dan setiap detiknya adalah kesempatan untuk menanam amal kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah."
(HR. Tirmidzi)

Muhasabah menjadikan seorang Muslim lebih berhati-hati dalam ucapan dan tindakan. Di era modern, muhasabah bisa dilakukan dengan meninjau kembali penggunaan waktu, cara bersosialisasi, hingga sikap kita di dunia digital. Dengan introspeksi yang rutin, hati akan lebih tenang, hidup lebih terarah, dan jiwa siap menghadapi panggilan Allah kapan saja.

Penutup: Mari kita biasakan muhasabah setiap hari, sebelum tidur atau setelah beraktivitas. Sebab dengan menimbang diri sekarang, kita akan lebih ringan saat ditimbang di hadapan Allah kelak. UWaS


Hikmah Ibn Atha’illah: SYUKUR & SHABAR

Hikmah Ibn Atha’illah

"Jangan bersedih karena belum mencapai sesuatu dari dunia, karena mungkin jika kamu mendapatkannya, itu justru menjauhkanmu dari Allah."

Makna Hikmah

  • Dunia adalah sarana, bukan tujuan.

  • Tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita di sisi Allah.

  • Rasa sedih berlebihan karena gagal meraih sesuatu menandakan hati terlalu terikat pada dunia.

  • Hikmah ini mengajarkan sikap ridha dan tawakkal: menerima takdir Allah, karena Dia lebih tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya.

Implementasi dalam Kehidupan Modern

1. Dalam Karier dan Pekerjaan

  • Realita: Banyak orang sedih bahkan stres karena tidak mendapatkan jabatan, promosi, atau pekerjaan yang diinginkan.

  • Implementasi: Yakinlah bahwa jika belum mendapatkannya, bisa jadi Allah menjaga kita dari fitnah kekuasaan, tekanan yang membahayakan iman, atau lingkungan kerja yang tidak baik.

  • Sikap: Bekerja keras, berusaha maksimal, tetapi tetap ridha dengan hasil yang Allah tetapkan.

2. Dalam Urusan Ekonomi dan Harta

  • Realita: Di zaman konsumtif, orang sering bersedih karena belum mampu membeli rumah, mobil, gadget terbaru, atau harta lain.

  • Implementasi: Sadari bahwa harta yang berlebihan bisa membuat seseorang lalai dari ibadah, sibuk dengan dunia, bahkan terjerumus ke dalam riya’ atau hutang.

  • Sikap: Mensyukuri rezeki yang ada, menggunakan harta untuk kebaikan, serta yakin bahwa kecukupan lebih penting daripada berlimpah tapi jauh dari Allah.

3. Dalam Pendidikan dan Prestasi

  • Realita: Generasi muda banyak yang bersedih karena tidak diterima di kampus favorit, gagal lomba, atau tidak mencapai prestasi tertentu.

  • Implementasi: Mungkin Allah menghendaki jalan lain yang lebih baik bagi kehidupannya, sesuai dengan potensi dan perannya.

  • Sikap: Terus belajar, mencoba lagi, tetapi jangan menjadikan dunia pendidikan sebagai satu-satunya ukuran nilai diri.

4. Dalam Cinta dan Rumah Tangga

  • Realita: Banyak orang bersedih karena gagal menikah dengan orang yang dicintai, atau karena jodoh belum datang.

  • Implementasi: Bisa jadi orang yang kita cintai justru akan membawa kita jauh dari Allah, atau rumah tangga yang kita bayangkan ternyata tidak mendekatkan kita pada kebaikan.

  • Sikap: Berdoa, bersabar, memperbaiki diri, dan yakin bahwa jodoh yang Allah pilihkan adalah yang terbaik untuk iman kita.

Kesimpulan

Hikmah Ibn Atha’illah ini mengajarkan:

  • Jangan terlalu kecewa atas dunia yang belum kita raih.

  • Apa yang tampak baik menurut kita, belum tentu baik di sisi Allah.

  • Ukuran keberhasilan sejati adalah kedekatan dengan Allah, bukan banyaknya dunia yang kita dapatkan.

👉 Dengan pemahaman ini, seorang Muslim bisa hidup lebih tenang, ikhlas, dan fokus pada tujuan akhir: ridha Allah dan keselamatan akhirat. UWaS

Tiga Hal yang Harus Dilakukan dengan Sungguh-Sungguh dalam Islam

 



Tiga Hal yang Harus Dilakukan dengan Sungguh-Sungguh dalam Islam

1. Bertaqwa kepada Allah (Ali ‘Imrān ayat 102)

Allah berfirman:

"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ"
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.” (QS. Āli ‘Imrān: 102)

  • Bertaqwa berarti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

  • Takwa harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (haqqa tuqatih), artinya bukan setengah hati, melainkan dengan penuh kesadaran, istiqamah, dan totalitas.

  • Hasil dari takwa adalah keselamatan hidup di dunia dan akhirat.


2. Jihad/Berjuang di Jalan Allah (Al-Hajj ayat 78)

Allah berfirman:

"وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ ..."
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu...” (QS. Al-Ḥajj: 78)

  • Jihad tidak hanya bermakna perang, tetapi juga berjuang menegakkan agama Allah dengan segala potensi yang dimiliki: tenaga, harta, ilmu, lisan, maupun pikiran.

  • Jihad harus dilakukan haqqa jihadih, yaitu dengan kesungguhan, keikhlasan, dan pengorbanan maksimal.

  • Dengan berjihad, umat Islam menjaga kemuliaan diri, agama, dan peradaban.

3. Mengkaji (Tilawah) al-Qur’an (Al-Baqarah ayat 121)

Allah berfirman:

"الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ..."
“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya (haqqa tilawatih). Mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya...” (QS. Al-Baqarah: 121)

  • Tilawah tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan isi al-Qur’an.

  • Membaca al-Qur’an dengan sungguh-sungguh berarti memperhatikan tajwid, tadabbur makna, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

  • Al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup, bukan hanya bacaan ritual.

Kesimpulan

Ada tiga amal utama yang diperintahkan untuk dilakukan dengan sungguh-sungguh dan totalitas dalam Islam:

  1. Takwa – menjaga hubungan dengan Allah.

  2. Jihad – berjuang menegakkan agama dengan pengorbanan terbaik.

  3. Tilawah al-Qur’an – menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup.

Ketiganya saling melengkapi: takwa adalah fondasi, jihad adalah aksi, dan tilawah al-Qur’an adalah panduan.

Selasa, 26 Agustus 2025

Bimluh di Rutan Kelas IIB Padang Panjang: WBP Belajar Kesabaran dari Rasulullah SAW

 


Padang Panjang, Selasa 26 Agustus 2025 — Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Padang Panjang kembali menghadirkan pembinaan penyuluhan (Bimluh) keagamaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kali ini, Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam, memberikan materi bertajuk “Tingkatan Sabar Belajar pada Kesabaran Rasulullah SAW” dengan landasan ayat Al-Qur’an, di antaranya surah Āli ‘Imrān ayat 200 dan surah Ṭāhā ayat 132.

Dalam penyuluhannya, Wahyu Salim menekankan pentingnya kesabaran sebagai bekal hidup, baik dalam menghadapi musibah, ujian, maupun tekanan hidup yang sedang dialami. Beliau mengutip firman Allah dalam surah Āli ‘Imrān ayat 200:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

Empat Pesan Sabar dalam Āli ‘Imrān 200

Menurut tafsir Kementerian Agama, ayat ini mengandung empat perintah penting: bersabar dalam ketaatan, memperteguh kesabaran menghadapi ujian, komitmen dalam perjuangan di jalan Allah, serta bertakwa. “Empat hal ini, jika dipraktekkan, akan mengantarkan seseorang pada kemenangan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat,” jelas Wahyu Salim.

Tafsir tahlili juga menegaskan, jangan sampai orang-orang yang menentang agama lebih sabar daripada kaum muslimin. Oleh karena itu, kesabaran seorang mukmin harus lebih kuat, baik dalam menjalankan perintah Allah maupun menghadapi rintangan hidup.

Kesabaran dalam Salat (Ṭāhā 132)

Selain itu, Wahyu Salim juga mengingatkan pentingnya salat sebagai sumber kekuatan kesabaran. Hal ini ditegaskan dalam surah Ṭāhā ayat 132:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

"Perintahkanlah keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, tetapi Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

Menurut tafsir, Rasulullah SAW selalu mengajak keluarganya untuk salat ketika menghadapi kesulitan. Demikian pula WBP diingatkan agar menjadikan salat sebagai peneguh hati dalam menghadapi masa tahanan, ujian hidup, dan proses pembinaan.

Cahaya Harapan bagi WBP

Dalam penutup penyuluhannya, Wahyu Salim mengajak seluruh WBP untuk meneladani kesabaran Rasulullah SAW dalam menghadapi cobaan. “Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi ikhtiar sungguh-sungguh disertai tawakal. Inilah yang akan membawa kita pada keberuntungan sejati,” ujarnya.

Kegiatan Bimluh ini mendapat sambutan positif dari para WBP. Mereka merasa tercerahkan dan termotivasi untuk lebih sabar dalam menjalani proses hidup, sembari memperkuat ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan ditutup dengan do'a bersama. UWaS

Sabtu, 23 Agustus 2025

GANN PADANG PANJANG LAKSANAKAN DISKUSI MERDEKA "MENYELAMATKAN GENERASI DARI BAHAYA NARKOBA"



Padang Panjang – Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANN) Kota Padang Panjang menggelar Diskusi Merdeka bertajuk “Menyelamatkan Generasi dari Bahaya Narkoba” pada Sabtu, 23 Agustus 2025 bertempat di Unchu Café. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus GANN Padang Panjang serta Penasehat GANN, Angku Basrizal Dt. Panghulu Basa.

Ketua GANN Padang Panjang, Dalius Rajab, dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi ini digelar dalam rangka memaknai suasana HUT RI ke-80. “Dalam momentum kemerdekaan ini, kita perlu menegaskan kembali komitmen untuk menyelamatkan generasi dari ancaman narkoba. Melalui forum diskusi, kita bahas program kerja dan penguatan kelembagaan sebagai wujud tanggung jawab dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Angku Basrizal Dt. Panghulu Basa menekankan bahwa kejahatan narkoba merupakan extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa yang harus ditangkal dengan langkah-langkah luar biasa pula. “Perang terhadap narkoba tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Ini membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, dunia pendidikan hingga keluarga. Hanya dengan kebersamaan kita bisa melindungi anak bangsa dari bahaya narkoba,” tegasnya. 

Wahyu Salim Ketua Bidang Agama dan Kerohanian menyampaikan laporan kegiatan penyuluhan di Rutan Kelas IIB Padang Panjang dimana lebih 50% penghuninya adalah masalah narkoba terus berlangsung dengan berbagai tema, baik aqidah, ibadah, akhlaq, sejarah termasuk tema-tema aktual seperti bahaya narkoba. Mereka yang habis masa hukumannya perlu disentuh bimbingan keagamaan terus menerus sehingga tidak kembali melakukan kejahatan yang sama setelah kembali kepada masyarakat untuk asimilasi dan integrasi..

Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif, dengan berbagai pandangan serta gagasan yang lahir untuk memperkuat peran GANN di Padang Panjang. Peserta menyepakati pentingnya strategi preventif, edukatif, dan pemberdayaan masyarakat dalam menanggulangi narkoba, khususnya di kalangan generasi muda.

Kegiatan ini juga diharapkan menjadi awal dari rangkaian aksi nyata GANN Padang Panjang dalam mengawal misi besar penyelamatan generasi bangsa. Dengan adanya komitmen bersama, GANN bertekad untuk hadir sebagai garda terdepan dalam mengedukasi, mengadvokasi, sekaligus menjadi mitra strategis berbagai pihak dalam pemberantasan narkoba. UWaS

LAZISMU PABASKO GELAR RAKERDA OPTIMALKAN PENGELOLAAN ZAKAT INFAQ SHADAQAH


Pabasko – Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Pabasko menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) pada Sabtu, 23 Agustus 2025 M / 29 Shafar 1447 H. Acara ini secara resmi dibuka oleh Ketua Lazismu Sumatera Barat, Zainal Aqil, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan Lazismu sebagai instrumen strategis dalam mendukung gerakan dakwah dan tajdid Muhammadiyah.

Turut hadir Ketua PDM Pabasko yang diwakili Defrial, serta jajaran pengurus dan pengawas Lazismu, pengurus Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Pabasko, perwakilan lembaga otonom, dan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan sinergi yang kuat antara Lazismu dengan struktur persyarikatan, serta dukungan dari lembaga mitra strategis.

Dalam arahannya, Zainal Aqil menekankan bahwa Lazismu harus tampil sebagai lembaga filantropi Islam yang modern, amanah, dan profesional. “Kekuatan Lazismu terletak pada kolaborasi. Rakerda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat jaringan, menyatukan langkah, dan memastikan zakat, infaq, serta sedekah umat dapat didayagunakan secara maksimal untuk kepentingan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya. Lebih lanjut beliau mengapresiasi Rakerda LAZISMU Pabasko adalah rakerda perdana di Sumatera Barat.

Sementara itu, Defrial yang mewakili Ketua PDM Pabasko menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rakerda ini. Ia berharap Lazismu Pabasko dapat semakin optimal dalam mendukung visi-misi Muhammadiyah, khususnya dalam mewujudkan Islam berkemajuan melalui pemberdayaan umat dan pelayanan sosial yang inklusif.

Rakerda Lazismu Pabasko tahun ini mengangkat agenda strategis berupa penguatan kelembagaan sekaligus akselerasi optimalisasi pengumpulan dan distribusi Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (ZISMU). Peserta bersama-sama membahas program kerja prioritas, mekanisme penghimpunan dana umat, strategi distribusi yang tepat sasaran, serta inovasi digital untuk memperluas jangkauan layanan.

Selain itu, forum juga menekankan pentingnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana umat. Hal ini dilakukan agar kepercayaan masyarakat semakin meningkat, sehingga Lazismu benar-benar menjadi lembaga terpercaya dalam menyalurkan amanah umat.

Dengan terselenggaranya Rakerda ini, Lazismu Pabasko diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai mitra strategis Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat berkeadilan, sejahtera, dan berkemajuan, sesuai dengan semangat dakwah dan tajdid yang diwariskan oleh persyarikatan. UWaS