Jumat, 31 Oktober 2025

Jangan Biarkan Ego Mengalahkan Cinta

💖 Jangan Biarkan Ego Mengalahkan Cinta

(Inspirasi dari HR. Bukhari)

Dalam setiap rumah tangga, cinta adalah fondasi utama yang menyatukan dua hati yang berbeda.
Namun, seiring perjalanan waktu, cinta itu sering kali diuji — bukan oleh orang ketiga, bukan pula oleh harta, tapi oleh ego yang tumbuh diam-diam di dalam diri.

Ego adalah keinginan untuk selalu merasa benar, ingin didengar, dan enggan mengalah.
Jika dibiarkan, ego bisa menjadi tembok tinggi yang memisahkan dua hati yang sebenarnya saling mencintai.

🕌 1. Tuntunan Rasulullah ﷺ Tentang Kerendahan Hati

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini mengingatkan bahwa kesombongan dan ego yang tak terkendali bukan hanya merusak hubungan dengan sesama, tapi juga menodai hubungan kita dengan Allah.
Dalam konteks rumah tangga, kesombongan sering tampak dalam bentuk tidak mau meminta maaf, enggan mendengarkan, dan merasa paling benar.

Padahal, cinta sejati justru tumbuh dari kerendahan hati — kesediaan untuk mendengar, memahami, dan memaafkan.

💞 2. Ego: Musuh Dalam Selimut Rumah Tangga

Banyak pasangan yang sebenarnya masih saling mencintai, namun tak lagi saling menyapa,
karena gengsi untuk memulai percakapan.

Ada yang menyimpan luka lama, karena merasa selalu disalahkan.
Ada pula yang merasa lelah, karena cintanya tak lagi dihargai.

Semua itu berakar pada ego yang tidak dijinakkan.

Ego seperti api kecil — bila tidak dipadamkan, ia bisa membakar seluruh kebun cinta yang telah lama dirawat bersama.

🌿 3. Cinta yang Sejati Adalah Cinta yang Rendah Hati

Cinta sejati bukan sekadar romantis di awal pernikahan,
tapi tentang siapa yang lebih dulu menundukkan hati ketika konflik datang.

Cinta yang kuat bukan yang selalu menang dalam perdebatan,
tapi yang mau mengalah demi menjaga keutuhan dan kedamaian.

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini.
Beliau lembut terhadap istrinya, tidak kasar dalam perkataan, dan tidak pernah marah karena urusan pribadi.
Beliau hanya marah ketika kehormatan agama dilanggar.

Ini menunjukkan bahwa mengalah dalam hal pribadi bukan kelemahan, tapi bukti kematangan iman dan kasih.

🌸 4. Mengelola Ego Dengan Bijak

Beberapa langkah sederhana untuk menundukkan ego dalam keluarga:

  1. Berhenti untuk mendengarkan, bukan untuk membalas.

  2. Bicara dengan hati, bukan dengan nada tinggi.

  3. Berdoa sebelum berdebat, karena hati yang dekat dengan Allah lebih mudah dilunakkan.

  4. Ucapkan maaf lebih dulu, karena pemenang sejati adalah yang bisa menenangkan, bukan yang memenangkan.

🌺 5. Refleksi: Cinta atau Ego yang Menang?

Saat konflik datang, tanyakan pada diri sendiri:

“Apakah aku ingin menang, atau ingin hubungan ini tetap tenang?”

Jika cinta kita lebih besar dari ego, maka setiap masalah akan berakhir dengan pelukan, bukan perpisahan.
Tetapi bila ego yang menang, cinta perlahan akan pudar, bahkan bisa hilang tanpa disadari.

🤲 6. Doa Penutup

“Ya Allah, lembutkan hati kami agar lebih memilih cinta daripada ego,
lebih memilih sabar daripada marah,
dan lebih memilih ridha-Mu daripada kemenangan diri.”

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Kamis, 30 Oktober 2025

Perbedaan Adalah Warna, Bukan Penghalang

 


🌈 Perbedaan Adalah Warna, Bukan Penghalang

(Inspirasi dari QS. Al-Hujurat: 13)

Kehidupan rumah tangga dan masyarakat ibarat sebuah taman, di mana setiap bunga memiliki warna dan aroma yang berbeda.
Ada yang merah menyala, ada yang putih menenangkan, dan ada pula yang kuning cerah menyegarkan.
Bayangkan jika semua bunga hanya satu warna — tentu taman itu akan terasa membosankan.
Begitulah juga dengan perbedaan dalam hidup — sesungguhnya ia adalah warna, bukan penghalang.

🕌 1. Landasan dari Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 13:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”

Ayat ini menjelaskan bahwa perbedaan bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk saling mengenal dan menghargai.
Baik dalam rumah tangga, lingkungan, maupun kehidupan berbangsa, Allah sengaja menciptakan manusia dengan karakter, watak, dan latar belakang yang beragam.

💞 2. Dalam Rumah Tangga: Beda Bukan Bencana

Banyak pasangan suami istri yang sulit rukun bukan karena kurang cinta, tapi karena tak mampu menerima perbedaan.

Suami berpikir logis, istri berpikir dengan perasaan.
Suami ingin cepat, istri ingin hati-hati.
Suami ingin praktis, istri ingin rapi dan detail.

Semua itu bukan kelemahan, tapi pelengkap.
Perbedaan itulah yang membuat rumah tangga menjadi ruang belajar tentang sabar, empati, dan saling memahami.

Cinta tidak tumbuh karena kesamaan, tetapi karena kesediaan untuk menerima yang berbeda.

🌿 3. Dalam Masyarakat: Perbedaan Itu Rahmat

Perbedaan adat, budaya, bahkan pandangan dalam kehidupan sosial adalah kekayaan bangsa, bukan sumber perpecahan.
Kita boleh berbeda suku, bahasa, atau pilihan, tapi tetap satu dalam nilai kemanusiaan dan keimanan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbedaan di antara umatku adalah rahmat.”
(HR. Baihaqi)

Artinya, perbedaan adalah peluang untuk saling melengkapi dan belajar.
Masyarakat yang menghargai perbedaan akan tumbuh damai dan kuat, sementara yang mudah curiga akan hancur oleh prasangka.

🌸 4. Hikmah Perbedaan Menurut Islam

  1. Melatih kerendahan hati.
    Kita belajar untuk tidak merasa paling benar.

  2. Menumbuhkan rasa syukur.
    Menyadari bahwa setiap orang punya kelebihan yang tak kita miliki.

  3. Menumbuhkan kebijaksanaan.
    Orang yang memahami perbedaan akan lebih sabar dan dewasa.

  4. Meningkatkan kualitas cinta dan persaudaraan.
    Karena menghargai perbedaan berarti menghargai ciptaan Allah.

💫 5. Relevansi di Era Kini

Di era media sosial, perbedaan sering kali dijadikan bahan perdebatan, bukan pembelajaran.
Padahal, semakin kita memaknai perbedaan, semakin luas pandangan kita terhadap dunia.

Dalam rumah tangga, perbedaan kecil bisa menumbuhkan cinta.
Dalam masyarakat, perbedaan besar bisa menumbuhkan persatuan — jika dikelola dengan bijak dan hati yang lapang.

🌺 6. Pesan Reflektif

“Jangan melihat perbedaan sebagai jarak, tapi sebagai jembatan untuk saling mengenal.”

Allah tidak menciptakan manusia sama, agar kita belajar tentang toleransi, cinta, dan kebijaksanaan.
Maka, mari belajar menghormati, bukan menuntut keseragaman; karena keindahan hidup justru ada dalam warna-warni perbedaan.

🤲 Doa Penutup

“Ya Allah, ajarkan kami untuk melihat perbedaan sebagai rahmat.
Jadikan hati kami lapang menerima yang tak sama, dan satukan kami dalam kasih dan takwa kepada-Mu.”

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Rabu, 29 Oktober 2025

Keluarga Sakinah Tercipta dari Doa yang Tak Putus

💞 Keluarga Sakinah Tercipta dari Doa yang Tak Putus

(Inspirasi dari QS. Al-Furqan: 74)

Tidak ada keluarga yang sempurna.
Ada kalanya rumah tangga diuji dengan pertengkaran kecil, perbedaan pandangan, bahkan kesulitan ekonomi. Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang bisa membuat keluarga tetap kokoh dan tenang — doa yang tak pernah putus.

Allah ﷻ dalam QS. Al-Furqan: 74 menggambarkan doa para hamba yang saleh:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ayat ini bukan sekadar doa indah, tapi fondasi spiritual sebuah keluarga sakinah.
Ketenangan, cinta, dan keberkahan dalam rumah tangga bukan datang dari materi, melainkan dari hubungan yang terus tersambung dengan Allah.


🌿 Doa Adalah Nafas Cinta dalam Rumah Tangga

Rumah yang penuh doa ibarat taman yang disirami setiap hari — tumbuh subur, segar, dan menenangkan.
Sebaliknya, rumah tanpa doa seperti tanah yang kering; mungkin masih berdiri, tapi perlahan kehilangan kehidupan.

Doa suami untuk istrinya menumbuhkan kasih.
Doa istri untuk suaminya menumbuhkan ketenangan.
Dan doa orang tua untuk anak-anaknya menjadi pelindung yang tak terlihat, tapi nyata terasa.

Ketika lidah berdoa, hati pun belajar untuk bersyukur dan bersabar.

💫 Doa yang Menguatkan Cinta

Doa bukan hanya permohonan, tapi tanda cinta yang tulus.
Pasangan yang saling mendoakan berarti saling ingin melihat satu sama lain bahagia di dunia dan selamat di akhirat.

Sebuah doa sederhana dari seorang istri,
"Ya Allah, kuatkan langkah suamiku hari ini,"
atau dari seorang suami,
"Ya Allah, lindungilah istriku dari lelah dan kesedihan,"
dapat menjadi kekuatan besar yang membuat cinta mereka tak lekang oleh waktu.

🌸 Mengajarkan Doa kepada Anak-anak

Keluarga yang terbiasa berdoa bersama akan menanamkan nilai iman yang dalam pada anak-anaknya.
Anak yang mendengar doa ayah dan ibunya setiap malam akan tumbuh dengan perasaan aman dan cinta.
Ia belajar bahwa hidup bukan hanya usaha, tapi juga tawakal kepada Sang Pencipta.

Inilah bentuk pendidikan akhlak yang paling sederhana, tapi paling membekas — membangun generasi yang lembut hatinya, kuat jiwanya, dan dekat dengan Allah.

🌼 Doa: Senjata Keluarga di Masa Modern

Di zaman serba cepat ini, banyak keluarga kehilangan waktu untuk berdoa bersama.
Bangun pagi dikejar pekerjaan, malam diisi dengan gawai, obrolan semakin jarang, dan zikir makin dilupakan.

Padahal, doa adalah kekuatan spiritual yang bisa menjaga keluarga dari tekanan zaman.
Satu doa tulus jauh lebih menenangkan daripada seribu keluhan di media sosial.

💖 Keluarga yang Selalu Berdoa

Keluarga sakinah bukan berarti keluarga tanpa masalah,
tetapi keluarga yang tidak pernah berhenti mengadu dan berharap kepada Allah.

Mereka sadar bahwa:

  • Harta bisa habis, tapi keberkahan doa tak akan sirna.

  • Cinta bisa luntur, tapi doa bisa menumbuhkannya kembali.

  • Masalah bisa datang silih berganti, tapi doa menjaga hati tetap tegar.

🤲 Penutup

Mari jadikan rumah kita tempat di mana doa tak pernah berhenti bergema.
Mulailah dari hal kecil: berdoa bersama setelah shalat, mendoakan pasangan sebelum tidur, dan mengajarkan anak-anak untuk bersyukur setiap hari.

Karena keluarga yang tak putus berdoa, tak akan mudah putus oleh ujian.

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Selasa, 28 Oktober 2025

Jangan Menuntut Sempurna, Tapi Jadilah Penyejuk Hati Pasangan

 

💖 Jangan Menuntut Sempurna, Tapi Jadilah Penyejuk Hati Pasangan

(Inspirasi dari HR. Muslim)

Di balik setiap rumah tangga yang bertahan lama, bukan berarti mereka tak pernah bertengkar. Tapi karena mereka tahu bagaimana cara saling memaafkan, memahami, dan menenangkan hati satu sama lain.

Banyak pasangan hari ini terjebak pada ilusi kesempurnaan.
Suami ingin istrinya seperti malaikat—selalu sabar, cantik, dan patuh tanpa cela.
Istri pun ingin suaminya seperti pangeran—romantis, kaya, lembut, dan tak pernah salah.

Padahal, rumah tangga bukanlah ajang mencari yang sempurna, tapi tempat belajar saling menyempurnakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي لله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ» أَوْ قَالَ: «غَيْرَهُ». 
[صحيح] - [رواه مسلم] 

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya), jika ia tidak menyukai satu akhlaknya, maka ia pasti ridha dengan akhlak lainnya.”
(HR. Muslim)

Pesan ini sederhana tapi dalam: jangan fokus pada kekurangan pasangan, tapi hargai setiap kebaikan yang dimilikinya.

🌿 Cinta yang Menenangkan, Bukan Menekan

Menjadi “penyejuk hati” bukan berarti selalu setuju dengan pasangan, tapi mampu memberi ketenangan di saat badai melanda.
Kadang, satu kalimat lembut bisa meredakan amarah yang besar.
Kadang pula, diam dengan empati lebih bermakna daripada debat tanpa arah.

Rumah tangga akan terasa ringan jika masing-masing mau mengurangi tuntutan dan memperbanyak ketulusan.
Ketika suami menurunkan ego dan istri menahan emosi, di situlah hadir ketenangan yang dijanjikan Allah:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup supaya kamu merasa tenteram kepadanya.”
(QS. Ar-Rum: 21)

🌸 Kesempurnaan Tidak Ditemukan, Tapi Dibangun

Cinta sejati tumbuh bukan karena pasangan sempurna, tapi karena kedua hati mau saling memperbaiki.
Rumah tangga yang bahagia bukan rumah yang tanpa masalah, tapi rumah yang setiap masalahnya dijadikan ladang pahala.

Jika suami lelah, istri menenangkan.
Jika istri kecewa, suami menguatkan.
Keduanya bukan saling menuntut, tapi saling menjadi obat.

🌺 Tanda Cinta yang Dewasa

  1. Tidak mudah tersinggung, karena paham bahwa pasangan juga manusia.

  2. Tidak sibuk mencari salah, tapi mencari solusi.

  3. Tidak banyak bicara keras, tapi banyak doa lembut.

  4. Tidak ingin menang sendiri, tapi ingin bahagia bersama.

Rumah tangga tanpa saling memahami akan cepat rapuh, sementara rumah tangga yang dibangun di atas kesabaran dan kasih sayang akan tahan menghadapi ujian apa pun.

🌼 Pesan Renungan

“Pasangan terbaik bukan yang selalu benar, tapi yang selalu berusaha memperbaiki diri.”

Maka, sebelum kita menuntut pasangan menjadi sempurna, tanyalah diri sendiri: sudahkah aku menjadi penyejuk baginya?
Karena, cinta sejati bukan sekadar mengucap “aku sayang kamu,” tapi membuktikan lewat sikap sabar, empati, dan doa yang tulus.

🤲 Penutup

“Ya Allah, jadikanlah rumah tangga kami ladang cinta yang penuh rahmat. Ajarkan kami untuk tidak menuntut kesempurnaan, tapi menjadi penyejuk hati bagi pasangan kami.”

✍️ Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam


Senin, 27 Oktober 2025

Keluarga Bahagia Lahir dari Hati yang Saling Mendahulukan



🌿 Keluarga Bahagia Lahir dari Hati yang Saling Mendahulukan

(QS. Al-Hasyr: 9)

🕌 1. Pendahuluan

Kebahagiaan keluarga bukan hanya diukur dari rumah megah atau harta melimpah, tetapi dari hati yang rela mendahulukan kepentingan pasangan dan keluarga di atas kepentingan diri sendiri.
Inilah kunci yang sering terlupakan dalam membangun rumah tangga Islami.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 9:

“Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”

Ayat ini menggambarkan nilai luhur itsar (altruism) — mendahulukan orang lain demi kebaikan bersama — yang menjadi dasar keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga.

💞 2. Makna Mendahulukan dalam Keluarga

Rumah tangga yang sakinah dibangun atas semangat saling memberi, bukan saling menuntut.
Ketika suami mendahulukan kenyamanan istri, dan istri mengutamakan kebahagiaan suami, maka tumbuhlah cinta yang menenteramkan.

Mendahulukan bukan berarti mengalah terus, tetapi menjaga hati pasangan agar tidak terluka.
Ia adalah bentuk empati, kasih sayang, dan pengorbanan yang menumbuhkan rasa saling menghargai.

🌸 3. Teladan dari Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal mendahulukan pasangan.
Beliau membantu pekerjaan rumah, berbicara lembut kepada istri-istrinya, bahkan mendengarkan mereka dengan penuh perhatian.

Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan:

“Rasulullah membantu pekerjaan rumah tangga, dan bila tiba waktu shalat, beliau segera keluar untuk shalat.”

Keteladanan ini menunjukkan bahwa kemuliaan suami bukan diukur dari kekuasaan, tapi dari kasih dan tanggung jawab.

🌼 4. Dampak Positif Sikap Saling Mendahulukan

  1. Menumbuhkan cinta sejati — karena cinta tumbuh dari empati dan pengorbanan.

  2. Menghapus egoisme — sebab dalam keluarga tidak ada “aku”, yang ada “kita”.

  3. Menumbuhkan rasa syukur — karena melihat pasangan sebagai karunia, bukan beban.

  4. Menjadi teladan bagi anak-anak — mereka belajar menghargai dan berbagi dari orang tuanya.

Keluarga yang saling mendahulukan akan lebih mudah menghadapi ujian hidup dengan hati lapang dan saling menopang.

🌺 5. Refleksi Kehidupan Keluarga Kini

Fenomena yang marak hari ini adalah egoisme digital — masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri; suami dengan gawai, istri dengan media sosial, anak dengan game.
Akibatnya, kehangatan keluarga perlahan memudar.

Padahal kebahagiaan rumah tangga lahir bukan dari banyaknya fasilitas, tapi dari hati yang saling memahami dan saling mendahulukan.
Keluarga modern membutuhkan kembali semangat itsar — saling memberi ruang, waktu, dan perhatian.

🌻 6. Pesan Dakwah

“Jika ingin rumah tangga bahagia, jangan hanya saling mencintai, tapi juga saling mendahulukan dalam kebaikan.”

Rumah tangga yang saling mendahulukan akan menjadi tempat bertumbuhnya cinta, sumber kedamaian, dan ladang pahala.

🤲 Doa Singkat

“Ya Allah, jadikanlah hati kami saling mendahulukan dalam kebaikan, saling memahami dalam perbedaan, dan saling menguatkan dalam setiap ujian. Aamiin.”

✍️ Oleh:

Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Jumat, 24 Oktober 2025

Bang Ipul: Sopir Bus, Penjemput Takdir Bahagia

 


Bang Ipul: Sopir Bus, Penjemput Takdir Bahagia

Namanya Bang Ipul, seorang sopir bus dari salah satu perusahaan transportasi terkenal di Sumatera Barat. Tubuhnya legam karena terbakar matahari, tapi senyumnya selalu hangat seperti pagi yang baru terbit. Dari balik setir bus antarkota, ia menghidupi keluarga kecilnya dengan penuh tanggung jawab dan cinta.

Setiap pagi, sebelum bus berangkat dari terminal, Bang Ipul selalu berdoa,

“Ya Allah, selamatkan perjalanan ini, dan jadikan rezekiku hari ini berkah untuk anak-istriku.”

Hidup sebagai sopir bus tidak mudah. Jalanan panjang, waktu istirahat yang singkat, dan jarak yang membuatnya sering jauh dari rumah. Tapi bagi Bang Ipul, keletihan bukan alasan untuk menyerah, karena di rumah ada anak-anak yang menunggu ayahnya pulang membawa harapan.

Dengan penghasilan pas-pasan, Bang Ipul menabung sedikit demi sedikit. Ia ingin melihat anak-anaknya sekolah tinggi.
Dan perlahan, cita-cita itu terwujud.
Anak sulungnya menjadi guru, anak kedua bekerja di kantor pemerintahan, sementara si bungsu merintis usaha kecil-kecilan. Semua itu berkat tangan kasar seorang sopir yang tak kenal lelah.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan di jalan yang mulus.
Menjelang Lebaran tahun itu, cobaan berat datang. Istri Bang Ipul jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Ia setia menunggui di sisi ranjang, bahkan menolak jadwal kerja hanya untuk menemani sang istri. Tapi takdir berkata lain — beberapa hari sebelum takbir berkumandang, istri tercinta berpulang.

Lebaran tahun itu menjadi Lebaran paling sunyi bagi Bang Ipul. Tak ada lagi suara lembut yang menyiapkan bajunya, tak ada lagi senyum hangat yang menyambut di depan pintu. Hanya doa dan air mata yang menetes di atas sajadah, mengenang cinta yang kini abadi.

Tahun-tahun berlalu. Anak-anak Bang Ipul sudah berhasil. Mereka berumah tangga, punya kehidupan masing-masing. Melihat ayahnya mulai menua, salah seorang anak berkata dengan lembut,

“Pak, menikahlah lagi… biar nanti ada yang merawat Bapak di hari tua.”

Bang Ipul sempat terdiam lama. Ia tak ingin dianggap menggantikan cinta pertamanya. Tapi setelah beristikharah dan mendapat restu keluarga, akhirnya ia menikah dengan seorang janda beranak empat. Perempuan yang sederhana, penyayang, dan mengerti arti lelah seorang sopir tua.

Mereka terpaut usia 14 tahun, namun cinta tak mengenal hitungan angka. Kehidupan baru itu membawa warna baru bagi Bang Ipul. Ia kembali bersemangat bekerja, merasa muda kembali, dan rumahnya kembali riuh oleh tawa anak-anak.

Kini, di usia senjanya, Bang Ipul sering duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi. Matanya memandang jauh ke arah jalan raya — jalan yang dulu ia lalui ribuan kali, membawa banyak kisah, air mata, dan doa.

Ia tersenyum, lalu berkata pelan,

“Jalan hidup memang panjang, kadang berliku. Tapi asal kita sabar dan ikhlas, setiap belokan selalu membawa kita menuju takdir bahagia.”

UWaS 

Menua yang Sukses: Hidup Bahagia di Ujung Usia Perspektif Islam dan Psikososial

 


🌿 Menua yang Sukses: Hidup Bahagia di Ujung Usia

Perspektif Islam dan Psikososial

Oleh: Wahyu Salim

Ketika rambut mulai memutih, langkah melambat, dan anak-anak sudah tumbuh menjadi orang dewasa mandiri, sebagian orang mulai merasa masa mudanya telah berlalu. Padahal, dalam pandangan Islam, usia tua bukan tanda akhir kehidupan, melainkan babak baru untuk memetik buah dari pohon amal.

Allah Swt. berfirman:

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu kuat setelah lemah itu, kemudian Dia menjadikan kamu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
(QS. Ar-Rum: 54)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa proses menua adalah sunnatullah, hukum alam yang pasti akan dialami setiap manusia. Tidak ada yang bisa menolak tua, tapi setiap orang bisa memilih cara menjadi tua — apakah dengan keluh kesah atau dengan penuh syukur dan kebahagiaan.

🕌 Lansia dalam Pandangan Islam

Islam memuliakan orang tua. Dalam banyak ayat dan hadis, Allah dan Rasul-Nya menegaskan pentingnya menghormati dan menyayangi mereka. Bahkan, berbuat baik kepada orang tua ditempatkan sejajar dengan perintah menyembah Allah.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
(QS. Al-Isra’: 23)

Rasulullah saw. juga bersabda:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”
(HR. Tirmidzi)

Artinya, lanjut usia bukan beban masyarakat, tetapi sumber hikmah, doa, dan keberkahan. Dalam usia senja, ibadah menjadi lebih bermakna, doa lebih dalam, dan keikhlasan lebih murni.

💖 Kebahagiaan Lansia dari Sisi Psikososial

Dalam ilmu psikologi, khususnya teori Erik Erikson, masa lanjut usia digambarkan sebagai tahap “integritas versus keputusasaan.” Artinya, seseorang akan merasa damai dan bahagia bila mampu menerima masa lalunya dengan lapang hati dan merasa hidupnya bermakna. Namun, jika ia terus menyesali masa lalu, maka yang muncul adalah perasaan hampa dan putus asa.

Lansia yang bahagia adalah mereka yang:

  1. Menerima diri apa adanya, tidak menyesali masa lalu.

  2. Masih merasa berguna, baik di keluarga maupun lingkungan.

  3. Menjaga hubungan sosial, tetap bersilaturahmi dan aktif di kegiatan masyarakat.

  4. Memiliki makna spiritual, dekat dengan Allah dan ikhlas menjalani takdir-Nya.

Sementara lansia yang tidak bahagia biasanya menutup diri, merasa tak berharga, dan kehilangan semangat hidup. Padahal, dari sisi psikososial, dukungan sosial dan spiritual adalah dua vitamin utama untuk memperpanjang kebahagiaan di usia senja.

🌸 Kunci Menua yang Sukses

Menua yang sukses tidak sekadar soal umur panjang atau tubuh sehat, tetapi hidup dengan makna dan ketenangan hati.
Berikut beberapa kuncinya:

  1. Husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah.
    Percaya bahwa setiap tahap kehidupan adalah bentuk kasih sayang-Nya.

  2. Tetap aktif dan bermanfaat.
    Ikut majelis taklim, mengajar anak-anak mengaji, menanam pohon, atau berbagi pengalaman hidup.

  3. Menjaga kesehatan fisik dan mental.
    Olahraga ringan, tidur cukup, dan menjaga hati dari iri serta amarah.

  4. Menjaga silaturahmi.
    Temui sahabat lama, hadiri kegiatan masyarakat, karena interaksi sosial memperpanjang kebahagiaan.

  5. Menyiapkan diri untuk husnul khatimah.
    Menata hati agar kematian kelak disambut dengan senyum dan ketenangan.

Rasulullah saw. bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

🌺 Tua Bukan Akhir, Tapi Puncak Kedewasaan Iman

Menjadi tua bukan berarti tidak berdaya. Justru, usia senja adalah waktu emas untuk mendekatkan diri kepada Allah. Saat kesibukan dunia mulai berkurang, hati punya lebih banyak ruang untuk berzikir dan bermuhasabah.

Lansia yang sukses bukan yang sekadar sehat dan panjang umur, tetapi yang meninggalkan jejak kebaikan — anak saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal jariyah yang terus mengalir.

Mereka menua dengan senyum, bukan keluhan. Mereka melihat keriput bukan sebagai tanda kelemahan, tapi lukisan perjalanan iman.

💬 Penutup

Menua adalah anugerah. Tidak semua diberi kesempatan untuk sampai ke usia tua. Maka, bersyukurlah. Gunakan sisa waktu dengan bijak, penuh cinta, dan pengabdian kepada Allah.

🌿 “Tua bukan berarti lemah, tapi matang dalam iman.”
🌿 “Menua dengan bahagia, menua dengan berkah.”

UWaS

Kamis, 23 Oktober 2025

💍 Kesetiaan adalah Bukti Cinta yang Berlandaskan Iman

 


💍 Kesetiaan adalah Bukti Cinta yang Berlandaskan Iman

(HR. Muslim)

1. Landasan Hadis dan Nilai Dasar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Muslim)

Kesetiaan adalah salah satu bentuk akhlak mulia yang menjadi cermin keimanan seseorang.
Dalam rumah tangga, kesetiaan bukan sekadar janji, tetapi komitmen spiritual yang lahir dari iman kepada Allah.

2. Makna Kesetiaan dalam Rumah Tangga

Kesetiaan berarti tetap menjaga hati, ucapan, dan perbuatan agar tidak menyakiti pasangan — baik di hadapan maupun di belakangnya.
Kesetiaan lahir dari keyakinan bahwa:

“Pasangan kita adalah amanah Allah, bukan sekadar teman hidup sementara.”

Kesetiaan bukan hanya tentang menolak godaan orang lain, tetapi juga:

  • Setia dalam mendampingi saat sulit.

  • Setia dalam menjaga kepercayaan dan kehormatan.

  • Setia dalam doa dan perjuangan bersama.

3. Bentuk Kesetiaan yang Berlandaskan Iman

  1. Setia dalam niat — menjadikan cinta kepada pasangan bagian dari cinta kepada Allah.

  2. Setia dalam perbuatan — tidak bermain hati atau berkhianat di belakang pasangan.

  3. Setia dalam ujian — tetap bertahan dan berjuang bersama, bukan mencari pelarian.

  4. Setia dalam doa — mendoakan pasangan agar tetap kuat dan dalam lindungan Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan supaya kamu merasa tenteram kepadanya.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Cinta yang dilandasi iman akan melahirkan kesetiaan yang tidak tergoyahkan oleh jarak, waktu, atau keadaan.

4. Hikmah Kesetiaan dalam Rumah Tangga

🌿 Menumbuhkan rasa percaya dan saling menghormati.
🌿 Mencegah kehancuran rumah tangga akibat pengkhianatan.
🌿 Membuat rumah tangga terasa aman dan penuh ketenangan.
🌿 Menjadi teladan moral bagi anak-anak tentang arti tanggung jawab dan kejujuran.

Kesetiaan bukan kelemahan, melainkan kemuliaan hati yang hanya dimiliki oleh orang-orang beriman.

5. Relevansi dengan Kondisi Keluarga Saat Ini

Di era digital, kesetiaan sering diuji: media sosial, komunikasi tanpa batas, dan gaya hidup modern membuka peluang munculnya pengkhianatan emosional.
Banyak rumah tangga retak bukan karena kekurangan harta, tapi karena hilangnya kesetiaan dan kepercayaan.

Penyuluh perlu menanamkan kesadaran bahwa:
💠 Cinta sejati tidak butuh pembuktian di luar rumah, tetapi pemeliharaan di dalam rumah.
💠 Kesetiaan adalah bentuk ibadah, bukan sekadar romantisme.

6. Penutup dan Doa

“Ya Allah, jadikan kami pasangan yang setia karena iman. Jauhkan kami dari godaan yang merusak kepercayaan, dan kuatkan cinta kami dengan ridha-Mu. Limpahkan keberkahan dan ketenangan dalam keluarga kami.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

UWaS

Selasa, 21 Oktober 2025

Aqiqah Menurut Al-Qur’an dan Sunnah

 


🕋 Pengantar Singkat tentang Aqiqah Menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Aqiqah adalah salah satu bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran seorang anak. Secara bahasa, aqiqah berarti memotong, sedangkan secara syar’i ialah penyembelihan hewan sebagai wujud syukur atas kelahiran anak pada hari ketujuh, disertai pemberian nama yang baik dan mencukur rambutnya.

Meskipun Al-Qur’an tidak menyebutkan kata “aqiqah” secara langsung, namun maknanya tersirat dalam perintah untuk bersyukur dan berbuat baik kepada anak. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 172)

Sedangkan dalam Sunnah Rasulullah ﷺ disebutkan secara jelas:

كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ، وَيُسَمَّى
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (hewan) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

🌙 Doa Pelaksanaan Aqiqah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمْتَ وَأَوْلَيْتَ، وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَى مَا وَهَبْتَ وَأَعْطَيْتَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْمَوْلُودَ مِنَ الصَّالِحِيْنَ، وَأَنْبِتْهُ نَبَاتًا حَسَنًا، وَاجْعَلْهُ بَرًّا بِوَالِدَيْهِ، وَنَافِعًا لِدِيْنِهِ وَأُمَّتِهِ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَفِيْ رِزْقِهِ، وَاحْفَظْهُ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ، وَأَطِلْ عُمُرَهُ فِيْ طَاعَتِكَ وَرِضَاكَ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذِهِ الْعَقِيْقَةَ قُرْبَانًا مَقْبُوْلًا، وَرِزْقًا مُبَارَكًا، وَسَبَبًا لِلنِّعْمَةِ وَالْبَرَكَةِ وَالسَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan para sahabat beliau.

Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas segala nikmat dan karunia yang Engkau limpahkan. Segala syukur bagi-Mu atas anugerah yang Engkau berikan.
Ya Allah, jadikanlah anak ini termasuk golongan orang-orang yang saleh, tumbuh dalam kebaikan, berbakti kepada kedua orang tuanya, serta membawa manfaat bagi agama dan umatnya.
Ya Allah, berkahilah dirinya dan rezekinya, lindungilah ia dari segala keburukan, panjangkan usianya dalam ketaatan kepada-Mu dan keridaan-Mu.
Ya Allah, jadikanlah aqiqah ini sebagai persembahan yang Engkau terima, rezeki yang penuh berkah, serta sebab datangnya nikmat, keberkahan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

💞 Doa untuk Kedua Orang Tua

اَللّٰهُمَّ جْزِ الْوَالِدَيْنِ خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَبَارِكْ لَهُمَا فِي أَعْمَارِهِمَا وَأَرْزَاقِهِمَا، وَاجْعَلْ هٰذَا الْمَوْلُودَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَهُمَا، وَسَبَبًا لِرِضَاكَ وَدُخُولِهِمَا الْجَنَّةَ.

اَللّٰهُمَّ أَعِنْهُمَا عَلَى تَرْبِيَتِهِ بِالتَّرْبِيَةِ الصَّالِحَةِ، وَارْزُقْهُمَا الْحِكْمَةَ وَالصَّبْرَ وَالْقَلْبَ الرَّحِيْمَ فِي رِعَايَتِهِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَيْتَهُمَا بَيْتًا مَمْلُوءًا بِالسَّكِينَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ.

Ya Allah, balaslah kedua orang tuanya dengan sebaik-baik balasan, berkahilah umur dan rezeki mereka, jadikanlah anak ini penyejuk mata bagi keduanya, serta jalan menuju keridaan-Mu dan surga-Mu.
Bimbinglah mereka untuk mendidik anak ini dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, dan kasih sayang.
Jadikan rumah tangga mereka penuh ketenangan, cinta, dan rahmat.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. 


Menjadi Pribadi Pemaaf dalam Al-Qur’an dan Sunnah

🕊️ Menjadi Pribadi Pemaaf dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Dalam kehidupan, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Kita sering tersakiti oleh ucapan, perbuatan, atau sikap orang lain. Namun, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan diukur dari seberapa besar kekuatannya membalas, tetapi dari kemampuannya untuk memaafkan.

🌿 1. Perintah Memaafkan dalam Al-Qur’an

Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 134:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ayat ini menegaskan bahwa sifat pemaaf adalah tanda dari orang yang bertakwa. Memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan spiritual. Ia menuntut keikhlasan dan kesabaran yang tinggi, sebab menahan amarah dan memberi maaf adalah kemenangan atas diri sendiri.

Demikian pula dalam surah Asy-Syura ayat 40, Allah berfirman:

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.”

Betapa besar balasan bagi orang yang memilih memberi maaf—bukan sekadar menghapus kesalahan orang lain, tapi juga membuka ruang bagi turunnya rahmat Allah.

🌸 2. Teladan Pemaaf dari Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling pemaaf. Dalam peristiwa Fathu Makkah, ketika beliau memasuki kota Makkah sebagai pemenang setelah bertahun-tahun disakiti dan diusir, beliau justru berkata kepada kaum Quraisy:

“Pergilah, kalian semua bebas.”
(HR. Baihaqi)

Padahal beliau punya alasan kuat untuk membalas dendam. Namun, Rasulullah ﷺ memilih jalan kasih dan ampunan. Inilah akhlak mulia yang menjadi mercusuar bagi seluruh umat Islam.

Dalam hadis lain beliau bersabda:

“Tidaklah seseorang memaafkan orang lain, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.”
(HR. Muslim)

Artinya, memaafkan tidak akan membuat kita kehilangan harga diri—justru meninggikan derajat di sisi Allah dan di hati manusia.

💧 3. Hikmah Menjadi Pemaaf

Menjadi pemaaf melahirkan banyak kebaikan:

  • Menenteramkan hati, karena dendam hanya menambah beban jiwa.

  • Mempererat ukhuwah, sebab maaf membuka kembali jalan silaturahim.

  • Mengundang ampunan Allah, sebagaimana kita mengharapkan Allah memaafkan dosa kita.

Allah berfirman dalam An-Nur ayat 22:

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?”

Ayat ini mengingatkan bahwa sikap kita kepada sesama menjadi cermin hubungan kita dengan Allah.

🌷 4. Menghidupkan Sifat Pemaaf dalam Kehidupan

Untuk menjadi pribadi pemaaf, kita perlu melatih diri:

  1. Kendalikan emosi ketika disakiti, jangan langsung membalas.

  2. Berdoa agar Allah lembutkan hati kita.

  3. Ingat kebaikan orang, jangan hanya fokus pada kesalahannya.

  4. Teladani Rasulullah ﷺ yang selalu mengedepankan rahmat daripada amarah.

Memaafkan bukan berarti melupakan, tapi memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.

🌺 Penutup

Menjadi pribadi pemaaf adalah jalan menuju kedamaian hati dan kemuliaan hidup. Dalam dunia yang penuh konflik dan ego, memaafkan adalah bentuk jihad terbesar melawan diri sendiri.
Mari kita jadikan firman Allah sebagai pegangan:

“Dan balasan bagi orang yang sabar dan pemaaf, sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”
(QS. Asy-Syura: 43)

Semoga kita termasuk orang yang lembut hatinya, lapang jiwanya, dan besar maafnya—sebagaimana Rasulullah ﷺ yang diutus bukan untuk membalas, melainkan menebar rahmat bagi semesta alam.

UWaS

💖 Cinta Sejati Diuji Bukan Saat Senang, Tapi Saat Susah

💖 Cinta Sejati Diuji Bukan Saat Senang, Tapi Saat Susah

(HR. Tirmidzi)

1. Landasan Hadis dan Nilai Dasar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling lembut terhadap istrinya.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa ukuran cinta sejati bukan pada ucapan atau kemewahan hidup, melainkan pada keteguhan hati dalam menghadapi ujian bersama.
Cinta yang berlandaskan iman akan tetap kokoh, sekalipun diterpa badai kesulitan.

2. Makna Cinta Sejati dalam Rumah Tangga

Cinta sejati bukan sekadar rasa suka, tetapi komitmen untuk tetap bersama dalam suka maupun duka.
Dalam perjalanan rumah tangga, pasti ada masa sulit:

  • ekonomi menurun,

  • kesehatan terganggu,

  • perbedaan pandangan muncul,

  • ujian anak atau keluarga datang.

Namun, pasangan yang beriman akan berkata:

“Kita hadapi bersama, karena kita bersatu bukan hanya karena cinta, tapi karena Allah.”

3. Wujud Cinta Sejati Saat Ujian Datang

  1. Sabar dan saling menenangkan — bukan saling menyalahkan.

  2. Tetap menghargai dan mendukung pasangan — meski keadaan berat.

  3. Menumbuhkan empati — memahami perjuangan satu sama lain.

  4. Bersyukur atas kebersamaan — karena bersama dalam kesusahan lebih berharga daripada bahagia sendirian.

  5. Berdoa dan memperbanyak istighfar bersama — menjadikan ujian sebagai ladang pahala.

Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)

4. Hikmah Ujian dalam Rumah Tangga

🌿 Menguatkan keimanan dan ketergantungan kepada Allah.
🌿 Menguji ketulusan dan kesetiaan cinta.
🌿 Mendidik pasangan agar lebih sabar dan matang dalam emosi.
🌿 Menumbuhkan rasa syukur ketika Allah memberi kelapangan kembali.

Setiap ujian adalah cara Allah menyaring cinta yang palsu dan mengukuhkan cinta yang tulus.

5. Relevansi dengan Kondisi Keluarga Saat Ini

Banyak rumah tangga hari ini rapuh karena cinta yang dangkal.
Ketika ekonomi sulit atau pasangan sakit, cinta sering memudar.
Padahal, justru di saat-saat seperti itulah Allah ingin melihat seberapa kuat iman dan kesetiaan kita.

Suami yang mencintai Allah akan tetap setia mendampingi istrinya yang lemah.
Istri yang beriman akan tetap sabar mendukung suaminya yang sedang terjatuh.
Mereka sadar: “Ini bukan akhir, tapi cara Allah mendekatkan kami kepada-Nya.”

6. Penutup dan Doa

“Ya Allah, jadikan cinta kami cinta yang kokoh dalam suka dan duka. Tumbuhkan kesabaran di hati kami, lapangkan dada kami dalam menghadapi ujian, dan jadikan rumah tangga kami jalan menuju surga-Mu.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

UWaS

Senin, 20 Oktober 2025

Hormati Pasanganmu, Karena Dia adalah Amanah Allah

💞 Hormati Pasanganmu, Karena Dia adalah Amanah Allah

(QS. An-Nisa: 19)

1. Landasan Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 19:

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.”

Ayat ini menegaskan bahwa pasangan hidup adalah amanah dari Allah, bukan sekadar teman hidup atau rekan satu rumah.
Maka, kewajiban suami dan istri adalah saling menghormati, memperlakukan dengan baik, dan menjaga amanah tersebut.

2. Makna Amanah dalam Rumah Tangga

Amanah berarti sesuatu yang dipercayakan oleh Allah untuk dijaga dan dipertanggungjawabkan.
Pasangan hidup — baik suami maupun istri — bukan milik kita sepenuhnya, tapi titipan Allah yang harus dijaga dengan kasih sayang, tanggung jawab, dan kesetiaan.

Menghormati pasangan berarti:

  • Menghargai pendapat dan perasaannya.

  • Tidak merendahkan di depan orang lain.

  • Memperlakukan dengan adab dan kelembutan.

  • Menjaga nama baik dan kehormatannya.

3. Wujud Penghormatan antara Suami dan Istri

🌿 Bagi Suami:

  • Menghormati istri dengan ucapan yang lembut.

  • Menyadari bahwa istri adalah mitra ibadah, bukan pelayan.

  • Memenuhi haknya secara lahir dan batin.

  • Bersyukur atas pengorbanan istri dalam mengurus rumah dan anak-anak.

🌸 Bagi Istri:

  • Menghormati suami dengan menaati dalam kebaikan.

  • Tidak membentak atau merendahkan suami, terutama di depan anak-anak.

  • Menjadi penyejuk hati dan penyemangat dalam perjuangan hidup.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)

4. Hikmah Menghormati Pasangan

🌼 Menumbuhkan rasa saling percaya dan saling menjaga.
🌼 Meningkatkan cinta dan ketenangan batin dalam rumah tangga.
🌼 Menjadi teladan bagi anak-anak dalam menghormati orang tua.
🌼 Menjauhkan keluarga dari pertengkaran dan perpecahan.

Menghormati pasangan adalah bentuk ibadah dan sedekah cinta yang berpahala besar.

5. Relevansi dengan Kondisi Keluarga Saat Ini

Banyak konflik rumah tangga muncul bukan karena kurang cinta, tapi karena hilangnya rasa hormat.
Ucapan yang kasar, sikap meremehkan, dan ego yang tinggi sering meruntuhkan keindahan rumah tangga.

Padahal, kehormatan adalah pondasi cinta.
Jika pasangan saling menghormati, perbedaan akan terasa ringan, dan rumah tangga akan menjadi tempat ternyaman untuk kembali.

6. Penutup dan Doa

“Ya Allah, jadikan kami pasangan yang saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga sebagai amanah-Mu. Limpahkanlah rahmat dan cinta-Mu agar rumah tangga kami menjadi taman surga di dunia.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

UWaS

Jumat, 17 Oktober 2025

KHUTBAH JUM’AT Tema: Sebaik-baik Bekal dalam Hidup adalah Ketaqwaan

KHUTBAH JUM’AT

Tema: Sebaik-baik Bekal dalam Hidup adalah Ketaqwaan

Khutbah Pertama

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَجَعَلَهَا خَيْرَ الزَّادِ لِلْآخِرَةِ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيرًا، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kehidupan dunia ini ibarat perjalanan panjang menuju akhirat. Dalam setiap perjalanan, manusia pasti membutuhkan bekal.
Namun Allah ﷻ mengingatkan kita, bahwa sebaik-baik bekal bukanlah harta, jabatan, atau ketenaran, melainkan ketaqwaan.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۗ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.”

Ayat ini sejatinya turun dalam konteks ibadah haji, namun maknanya berlaku untuk seluruh kehidupan: setiap perjalanan, termasuk perjalanan hidup ini, hanya akan selamat dengan bekal takwa.

Makna Takwa

Takwa bermakna menjaga diri dari murka Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:

“Takwa adalah takut kepada Allah Yang Mahaagung, beramal dengan wahyu, ridha dengan yang sedikit, dan mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan (kematian).”

Artinya, orang yang bertakwa selalu sadar bahwa hidup ini sementara, dan setiap amalnya adalah investasi untuk hari akhir.

Keutamaan Takwa

Banyak sekali janji Allah bagi orang-orang bertakwa. Di antaranya:

  1. Diberi jalan keluar dari kesulitan dan rezeki tak terduga.

    وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
    (QS. At-Thalaq: 2–3)

  2. Diberi kemampuan membedakan yang benar dan salah (furqān).

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
    (QS. Al-Anfal: 29)

  3. Dihapuskan dosa dan dilipatgandakan pahala.

    وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
    (QS. At-Thalaq: 5)

Ma’asyiral Muslimin,

Ketaqwaan bukan hanya di masjid atau pada bulan Ramadhan.
Takwa harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan:

  • Dalam pekerjaan, jujur dan amanah.

  • Dalam keluarga, menegakkan shalat dan akhlak mulia.

  • Dalam masyarakat, menebarkan keadilan dan kasih sayang.

Inilah bekal yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَ بِالتَّقْوَى وَوَعَدَ عَلَيْهَا الْجَنَّةَ وَالنَّجَاةَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,

Kematian pasti datang, dan hanya orang bertakwa yang akan mendapat keselamatan hakiki.
Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. Tirmidzi)

Maka, marilah kita membawa bekal terbaik untuk perjalanan panjang menuju akhirat: yaitu ketaqwaan.
Bukan banyaknya harta yang kita tinggalkan, tapi seberapa taat kita kepada Allah ﷻ.


إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.


اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ، وَارْزُقْنَا زَادَ التَّقْوَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالْجَنَّةِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

عِبَادَ اللّٰهِ،
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


Kamis, 16 Oktober 2025

Suami yang Cinta kepada Allah, Cinta Pula kepada Istrinya

 

🤍 Suami yang Cinta kepada Allah, Cinta Pula kepada Istrinya

(HR. Tirmidzi)

1. Landasan Hadis dan Nilai Dasar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seorang suami di sisi Allah bukan pada banyaknya harta atau pangkatnya, melainkan pada bagaimana ia memperlakukan istrinya dengan penuh cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab.

2. Makna Cinta Sejati Suami

Cinta suami yang sejati adalah cinta yang berlandaskan iman dan ketaatan kepada Allah.
Artinya, semakin dekat suami kepada Allah, semakin lembut, sabar, dan bijak ia memperlakukan istrinya.

  • Suami yang cinta Allah tidak akan menyakiti istrinya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

  • Ia menghargai istrinya sebagai amanah, bukan sebagai beban.

  • Ia sadar bahwa ridha Allah juga tergantung pada ridha istrinya yang ia perlakukan dengan ihsan.

Dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rum: 21):
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.”

3. Bentuk Cinta Suami yang Bernilai Ibadah

  1. Memberi nafkah dengan niat ibadah — bukan sekadar kewajiban, tapi wujud kasih sayang.

  2. Mendengarkan dan menghargai perasaan istri — komunikasi yang lembut memperkuat ikatan batin.

  3. Membimbing dengan sabar dan teladan — menjadi imam dalam shalat dan dalam akhlak.

  4. Memaafkan kekurangan istri — karena tak ada rumah tangga tanpa ujian.

  5. Mendoakan istri — cinta yang paling tulus adalah doa di saat tak terlihat.

4. Hikmah dan Dampak Positif

🌿 Rumah tangga menjadi taman cinta dan kedamaian.
🌿 Istri merasa dihargai, anak-anak pun tumbuh dengan kasih sayang.
🌿 Suami menjadi lebih sabar dan tenang karena niat hidupnya untuk ibadah.
🌿 Hubungan suami-istri menjadi sarana menuju surga, bukan sekadar hubungan dunia.

5. Relevansi dengan Kondisi Sekarang

Banyak kasus rumah tangga retak karena hilangnya cinta spiritual — suami sibuk dunia, lupa membangun ikatan batin dengan istrinya.
Padahal, cinta yang tumbuh karena Allah tidak mudah pudar.

Suami yang cinta Allah akan berjuang mempertahankan rumah tangganya, bukan mudah menyerah pada masalah kecil.
Ia sadar bahwa setiap konflik adalah ujian cinta dan ladang pahala.

6. Penutup dan Doa

“Ya Allah, jadikanlah kami para suami yang mencintai-Mu di atas segalanya, dan jadikan cinta kami kepada istri sebagai jalan menuju ridha dan surga-Mu. Karuniakanlah kepada kami keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

UWaS

Rabu, 15 Oktober 2025

PIAGAM MADINAH UNTUK KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA: TINJAUAN SEJARAH DAN KEKINIAN

🕊️ PIAGAM MADINAH UNTUK KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA: TINJAUAN SEJARAH DAN KEKINIAN

Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam, Korbid. Penyuluhan KUB)

Pendahuluan

Ketika dunia modern menghadapi tantangan disintegrasi sosial dan meningkatnya intoleransi, umat beragama seakan dituntut untuk kembali menengok sejarah — mencari inspirasi dari masa ketika perbedaan bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk hidup berdampingan.
Salah satu teladan yang monumental adalah Piagam Madinah, sebuah konstitusi awal yang digagas langsung oleh Rasulullah ﷺ di Kota Madinah. Piagam ini bukan sekadar dokumen politik, tetapi sebuah pernyataan moral dan sosial tentang bagaimana masyarakat majemuk dapat hidup rukun dan damai di bawah nilai-nilai ketuhanan.

Tinjauan Sejarah: Madinah sebagai Model Masyarakat Plural

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau tidak hanya bertemu dengan kaum Anshar dan Muhajirin, tetapi juga dengan kelompok Yahudi dan berbagai kabilah lain yang memiliki kepercayaan, budaya, dan kepentingan berbeda.
Dalam situasi yang rentan konflik itu, Rasulullah ﷺ menyusun Piagam Madinah — atau disebut juga Mitsaq al-Madinah — yang berisi 47 pasal berisi prinsip-prinsip keadilan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.

Di antara isinya yang sangat relevan untuk zaman sekarang adalah:

  • Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya:
    “Bagi kaum Yahudi agama mereka, bagi kaum Muslimin agama mereka.”

  • Semua warga Madinah dianggap satu komunitas (ummah wahidah):
    Tidak ada diskriminasi atas dasar suku, agama, atau keturunan.

  • Perlindungan terhadap keamanan bersama:
    Semua pihak wajib menjaga kedamaian kota dan menolak segala bentuk pengkhianatan dan kekerasan.

Dengan piagam ini, Rasulullah ﷺ bukan hanya menjadi pemimpin agama, tetapi juga arsitek masyarakat multikultural yang adil dan beradab.

Tinjauan Kekinian: Indonesia dan Semangat Piagam Madinah

Indonesia hari ini adalah wajah nyata masyarakat majemuk: beragam agama, suku, dan budaya hidup di satu tanah air yang sama. Namun, di tengah kebinekaan itu, potensi gesekan antarumat beragama selalu ada.
Di sinilah spirit Piagam Madinah menemukan relevansinya.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945, terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila ketiga Persatuan Indonesia.
Seperti Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya “satu komunitas Madinah”, Indonesia pun menegaskan “Bhinneka Tunggal Ika” — berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Piagam Madinah mengajarkan bahwa:

  • Perbedaan tidak untuk dihapus, tapi untuk dikelola dengan bijak.

  • Keamanan dan keadilan adalah tanggung jawab bersama, bukan milik satu kelompok saja.

  • Dialog dan musyawarah lebih mulia daripada kekerasan dan kecurigaan.

Spirit Piagam Madinah dalam Kehidupan Berbangsa

Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia, semangat Piagam Madinah dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna:

  1. Menumbuhkan empati lintas iman — belajar mendengarkan tanpa menghakimi.

  2. Membangun kolaborasi sosial — bergotong royong lintas agama dalam isu kemanusiaan dan lingkungan.

  3. Menguatkan literasi keagamaan — agar perbedaan keyakinan tidak menjadi sumber kebencian, melainkan peluang untuk saling mengenal.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan, ukuran kebaikan bukanlah kesamaan agama, melainkan seberapa besar manfaat kita bagi sesama.

Penutup

Piagam Madinah bukan sekadar dokumen sejarah; ia adalah cermin nilai-nilai universal yang terus hidup.
Bila kita mampu menghidupkan semangatnya di Indonesia — dengan saling menghormati, saling menjaga, dan saling bekerja sama — maka kedamaian bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan oleh seluruh anak bangsa.

Karena sesungguhnya,
kerukunan bukanlah hasil dari keseragaman, tetapi buah dari keikhlasan untuk memahami perbedaan. UWaS

Senin, 13 Oktober 2025

Saling Mengingatkan dalam Kebaikan adalah Tanda Cinta Sejati

 


🌿 Saling Mengingatkan dalam Kebaikan adalah Tanda Cinta Sejati

(QS. Al-‘Ashr: 3)

1. Landasan Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-‘Ashr ayat 2–3:

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Ayat ini menegaskan bahwa nasihat dan saling mengingatkan dalam kebaikan adalah bagian dari ciri orang beriman yang selamat dari kerugian hidup.

2. Makna Cinta Sejati dalam Islam

Cinta sejati bukan hanya memberi kebahagiaan duniawi, tetapi membimbing menuju kebaikan dan keselamatan akhirat.

  • Orang yang benar-benar mencintai saudaranya tidak akan membiarkan dia terjerumus dalam dosa.

  • Dalam keluarga, cinta sejati ditunjukkan dengan saling menegur dengan lembut, saling memperingatkan ketika lalai dari ibadah, dan saling menguatkan saat diuji.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Agama itu nasihat.” (HR. Muslim)

3. Bentuk Saling Mengingatkan dalam Keluarga dan Masyarakat

  1. Suami mengingatkan istri untuk shalat dan menjaga akhlak.

  2. Istri mengingatkan suami agar mencari rezeki halal dan sabar dalam ujian.

  3. Orang tua mengingatkan anak agar berbakti dan tidak lalai dari ibadah.

  4. Teman mengingatkan teman untuk tetap istiqamah di jalan Allah.

Semuanya dilakukan dengan bahasa yang santun dan penuh kasih sayang.

4. Hikmah dan Manfaat Saling Mengingatkan

🌸 Menguatkan persaudaraan dan cinta karena Allah.
🌸 Menjaga kerukunan dan mencegah perpecahan.
🌸 Menjadi sarana amar ma’ruf nahi munkar yang lembut.
🌸 Menumbuhkan budaya peduli dan tanggung jawab sosial.

Cinta sejati bukan hanya berkata “Aku sayang kamu”,
tapi berani berkata “Ayo, kita sama-sama taat kepada Allah.”

5. Relevansi dengan Kondisi Sekarang

Di era media sosial, banyak orang sensitif terhadap nasihat, merasa tersinggung bila diingatkan.
Padahal, nasihat yang baik adalah bentuk perhatian dan cinta sejati.

Karena itu, perlu membangun budaya saling mengingatkan dengan cara bijak, bukan menghakimi.
Gunakan kata lembut, contoh nyata, dan doa tulus agar nasihat diterima dengan hati terbuka.

6. Penutup dan Doa

“Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang saling mencintai karena-Mu, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling menguatkan dalam kesabaran. Jadikan keluarga kami cahaya bagi orang lain.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

UWaS

50 Kata-Kata Spirit Haji & Umrah

 


🌿 50 Kata-Kata Spirit Haji & Umrah

  1. Panggilan haji bukan soal mampu, tapi soal dipanggil oleh Allah.

  2. Siapkan hati sebelum paspor, siapkan iman sebelum bekal.

  3. Haji adalah perjalanan jiwa menuju keikhlasan.

  4. Umrah bukan wisata religi, tapi ziarah hati menuju Ilahi.

  5. Mabrur itu bukan gelar, tapi karakter setelah pulang.

  6. Setiap langkah ke Tanah Suci, adalah doa yang menjejak bumi.

  7. Jangan tunggu tua, karena panggilan Allah bisa datang kapan saja.

  8. Berangkatlah dengan niat lillah, pulanglah dengan hati yang berserah.

  9. Rezeki untuk haji tak akan tertukar, karena sudah tertulis di Lauh Mahfuzh.

  10. Jika Allah sudah memanggil, tak ada alasan untuk menolak.

  11. Ibadah haji adalah jihad tanpa senjata.

  12. Hati yang bersih akan selalu rindu ke Baitullah.

  13. Jangan takut biaya, takutlah jika tidak dipanggil.

  14. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan menuju nurani.

  15. Berdoalah, karena doa mampu menembus pintu langit Makkah.

  16. Tawaf mengajarkan: hidup ini hanya berputar di sekitar Allah.

  17. Ihram adalah pakaian kesetaraan, semua sama di hadapan Tuhan.

  18. Arafah adalah cermin kehidupan: taubat, harap, dan cinta.

  19. Melempar jumrah artinya berani melawan hawa nafsu.

  20. Sa’i adalah simbol ikhtiar tanpa lelah.

  21. Setiap air mata di Tanah Suci adalah mutiara penghapus dosa.

  22. Allah memanggil yang Ia cintai, bukan yang merasa pantas.

  23. Berangkatlah karena cinta, bukan karena status.

  24. Baitullah bukan hanya bangunan, tapi pusat kerinduan.

  25. Haji adalah bukti penyerahan total kepada Allah.


  1. Tidak ada perjalanan seindah perjalanan menuju Ka’bah.

  2. Hati yang rindu Ka’bah berarti hati yang hidup.

  3. Mabrur lahir dari hati yang tunduk dan sabar.

  4. Persiapkan amal sebelum visa, persiapkan taubat sebelum ihram.

  5. Jadikan haji bukan pelarian dunia, tapi perjalanan menuju ridha.

  6. Di Makkah, dunia terasa kecil, Allah terasa dekat.

  7. Sucikan niat, ringankan langkah, kuatkan doa.

  8. Haji bukan untuk dipamerkan, tapi untuk diperbaiki.

  9. Tak perlu menunggu kaya untuk berhaji, cukup menunggu panggilan Allah.

  10. Jangan tunda kebaikan, karena waktu tidak menunggu.

  11. Haji menghapus dosa, asal niatnya lurus dan amalnya tulus.

  12. Berangkat dengan doa, pulang dengan perubahan.

  13. Haji bukan akhir perjalanan ibadah, tapi awal kehidupan baru.

  14. Jadilah tamu Allah yang benar-benar bersyukur.

  15. Ke Tanah Suci, bawalah hati yang pasrah dan ikhlas.

  16. Tak semua yang mampu berangkat, dan tak semua yang berangkat mampu bersyukur.

  17. Allah menilai perjuangan, bukan kemewahan perjalanan.

  18. Jadikan haji sebagai titik balik, bukan titik puas.

  19. Di setiap sujud di Masjidil Haram, semoga dosa luruh bersama air mata.

  20. Umrah kecilkan dunia, besarkan cinta kepada Allah.

  21. Allah memuliakan siapa pun yang memuliakan panggilan-Nya.

  22. Bersyukurlah jika hatimu rindu ke Tanah Suci, itu tanda iman hidup.

  23. Haji adalah jawaban dari sabar dan doa panjang.

  24. Jika belum bisa berangkat, teruslah berdoa dengan yakin.

  25. Yang penting bukan kapan berangkat, tapi bagaimana hati selalu rindu ke Baitullah.

UWaS

Tiga Pantun Pembuka Bimbingan Penyuluhan Pasca Umroh

🌙 🎤 Tiga Pantun Pembuka Ceramah

1.
Pergi ke Tanah Suci naik pesawat,
Sujud di Ka’bah hati bergetar;
Kini kembali ke tanah selamat,
Mari hidupkan nilai yang terpatri di Tanah Sabar.

2.
Air zamzam menyejukkan jiwa,
Wangi haram semerbak terasa;
Umrah bukan sekadar wisata,
Tapi panggilan suci tuk ubah diri dan rasa.

3.
Berangkat bersama hati yang rindu,
Pulang membawa cahaya kalbu;
Semoga silaturrahim menambah restu,
Untuk terus istiqamah di jalan yang satu.

🌺 🌿 Dua Pantun Penutup Ceramah

1.
Tawaf berputar tujuh kali,
Sa’i dan doa penuh makna;
Semoga nilai haji dan umrah sejati,
Hidup di hati hingga akhir usia.

2.
Pulang dari Makkah hati berbunga,
Rindu Ka’bah takkan sirna;
Mari tebarkan cinta dan makna,
Agar bumi terasa seperti surga.

UWaS

Jumat, 10 Oktober 2025

Menghidupkan Spirit Haji & Umrah dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghidupkan Spirit Haji & Umrah dalam Kehidupan Sehari-hari

Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Realita Sosial Pasca Ibadah

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Pendahuluan: Haji & Umrah Bukan Akhir Ibadah, Tapi Awal Perubahan

Setiap musim haji dan umrah, jutaan umat Islam menunaikan panggilan suci Allah:

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus; mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al-Hajj [22]: 27)

Namun, setelah kepulangan ke tanah air, muncul pertanyaan penting:
apakah nilai-nilai haji dan umrah berhenti di Makkah dan Madinah, atau justru menjadi energi perubahan di tengah masyarakat?

Tafsir QS. Al-Baqarah: 200 — Dari Haji Ritual ke Haji Spiritual

Allah Swt. berfirman:

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut (kebanggaan) nenek moyangmu, bahkan (hendaklah) lebih banyak dari itu...”
(QS. Al-Baqarah [2]: 200)

Ayat ini turun untuk mengoreksi kebiasaan jahiliyah, di mana setelah haji mereka sibuk berbangga-bangga dengan leluhur dan status sosial.
Melalui ayat ini, Allah mengajarkan bahwa nilai utama pasca haji adalah zikir dan kesadaran spiritual, bukan gengsi sosial.

Tafsir para ulama — seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi — menegaskan bahwa ayat ini menuntun jamaah haji agar mengganti kebanggaan duniawi dengan kebanggaan berzikir dan berbuat kebaikan.
Artinya, pasca haji dan umrah, fokus seorang mukmin harus beralih dari “aku sudah berhaji” menjadi “aku harus hidup dengan nilai haji”.

1. Ihram: Simbol Kesetaraan dan Kesucian Niat

Ketika jamaah mengenakan ihram, semua perbedaan status hilang. Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat — hanya hamba Allah yang sama di hadapan-Nya.
Nilai ini mengajarkan kesetaraan dan keikhlasan niat.

Dalam kehidupan sosial, nilai ihram menumbuhkan semangat tawadhu’ dan empati sosial.
Tidak ada ruang untuk sombong, karena Allah melihat hati, bukan jabatan.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

2. Thawaf: Pusat Hidup Hanya Allah

Thawaf mengajarkan bahwa semua gerak hidup harus berpusat kepada Allah.
Namun, banyak manusia modern justru “thawaf” mengelilingi harta, pekerjaan, atau popularitas.

Implementasi nilai thawaf berarti menjadikan Allah pusat orientasi hidup — dalam keputusan, pekerjaan, dan hubungan sosial.
Hidup yang berorientasi pada Allah akan menumbuhkan ketenangan dan kejujuran dalam setiap langkah.

3. Sa’i: Usaha dan Tawakkal yang Seimbang

Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah bukan karena lemah, tetapi karena yakin.
Nilai sa’i adalah ikhtiar yang maksimal disertai tawakkal yang total.

Dalam kehidupan pasca haji, nilai ini mendorong umat untuk gigih bekerja, tidak putus asa, dan percaya bahwa Allah menolong mereka yang bersungguh-sungguh.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

4. Wukuf di Arafah: Momentum Muhasabah

Arafah adalah simbol kesadaran diri dan pengakuan akan kelemahan manusia.
Di sana, setiap jiwa memohon ampunan dan menegaskan kembali arah hidupnya.

Nilai wukuf harus berlanjut setelah pulang: introspeksi terus-menerus, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Wukuf sejati adalah saat seseorang berhenti dari kesalahan dan memulai ketaatan.

5. Lempar Jumrah: Melawan Godaan Modern

Jumrah melatih manusia melempar jauh segala bentuk kejahatan dan godaan.
Kini, setan tidak lagi hanya dalam wujud batu, tetapi hadir dalam bentuk ambisi, iri, korupsi, atau kebencian.

Implementasi nilai jumrah adalah keberanian moral untuk menolak godaan dosa, menjaga integritas, dan membela kebenaran di tengah masyarakat.

6. Tahallul: Kedisiplinan dan Ketaatan Sosial

Tahallul bukan sekadar memotong rambut, tetapi tanda selesainya masa ujian ketaatan.
Nilainya adalah disiplin — taat terhadap batas dan aturan.

Pasca haji, nilai ini bisa diterapkan dengan menjadi warga negara yang tertib, jujur dalam pekerjaan, dan taat hukum.
Karena taat kepada Allah sejalan dengan taat terhadap aturan yang menegakkan kemaslahatan.

7. Realita Sosial Pasca Haji & Umrah: Antara Harapan dan Tantangan

Di masyarakat, ada dua tipe alumni haji dan umrah:

  1. Mereka yang pulang dengan perubahan nyata — ibadahnya meningkat, akhlaknya lembut, semangat sosialnya tumbuh.

  2. Dan mereka yang hanya berubah penampilan, tapi tidak perilaku.

Inilah yang diingatkan oleh QS. Al-Baqarah: 200 — jangan berhenti di kebanggaan haji, tapi lanjutkan dengan zikir dan amal.

Gelarnya boleh “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”, tapi substansinya adalah pribadi yang menebar manfaat, menjaga lisan, dan menebar rahmat.

Penutup: Haji Sejati, Hidup yang Mabrur

Nilai-nilai haji dan umrah sejatinya adalah miniatur kehidupan Islami yang ideal — ikhlas, disiplin, sabar, dan peduli.
Haji mabrur bukan hanya ibadah yang sah, tapi kehidupan yang berubah.

“Sesungguhnya haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Maka, jika Ka’bah telah kita kunjungi, jadikan hati kita Ka’bah berikutnya — tempat berputarnya zikir, syukur, dan amal kebaikan setiap hari.
Karena sejatinya, perjalanan haji sejati dimulai bukan di Makkah, tapi ketika kita kembali ke rumah. UWaS

Rumah Tanpa Zikir Adalah Rumah Tanpa Cahaya


 🕋 Rumah Tanpa Zikir Adalah Rumah Tanpa Cahaya

(HR. Muslim)

1. Landasan Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ.

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah, seperti perumpamaan orang hidup dan orang mati.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan betapa pentingnya zikir sebagai sumber kehidupan rohani dalam rumah tangga. Rumah yang dipenuhi zikir akan terasa hidup, hangat, dan bercahaya dengan rahmat Allah.


2. Makna Zikir dalam Kehidupan Keluarga

  • Zikir bukan hanya ucapan lisan, tapi juga ingatan hati kepada Allah dalam setiap aktivitas keluarga.

  • Rumah tanpa zikir sering menjadi tempat tegang, penuh keluh kesah, dan jauh dari ketenangan.

  • Sebaliknya, rumah yang terbiasa dengan zikir akan dipenuhi keberkahan, kasih sayang, dan ketentraman.

Dalam QS. Ar-Ra’d: 28 Allah berfirman:
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

3. Bentuk Zikir dalam Rumah Tangga

  1. Membaca Al-Qur’an bersama.
    Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi rumah dari kegelapan dosa.

  2. Dzikir pagi dan petang.
    Menjadi pelindung keluarga dari godaan syaitan dan rasa gelisah.

  3. Bershalawat kepada Nabi ﷺ.
    Menumbuhkan cinta dan keteladanan Rasul dalam kehidupan keluarga.

  4. Doa bersama setelah shalat.
    Menguatkan ikatan spiritual antara suami, istri, dan anak-anak.

  5. Menyebut nama Allah dalam setiap aktivitas.
    Seperti sebelum makan, tidur, bepergian, dan bekerja — agar semua bernilai ibadah.

4. Relevansi di Zaman Sekarang

Banyak rumah modern terang oleh lampu, tapi gelap oleh hati.
Televisi, gawai, dan media sosial membuat keluarga sibuk secara visual, tetapi kosong secara spiritual.
Zikir adalah charging ruhani yang menyalakan cahaya iman dalam rumah tangga.

5. Pesan Penyuluh untuk Jamaah

✨ Jadikan zikir sebagai napas keluarga.
✨ Biasakan anak-anak mendengar kalimat Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.
✨ Ajak seluruh anggota keluarga untuk zikir bersama, minimal setelah shalat Maghrib atau Isya.

6. Doa Penutup

“Ya Allah, jadikan rumah kami penuh cahaya zikir-Mu. Hiasi hati kami dengan ketenangan, jauhkan dari kegelisahan, dan limpahkan rahmat-Mu dalam keluarga kami.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. UWaS