NASKAH CERAMAH RAMADHAN (2)
Judul: “PUASA: Jalan Menuju Taqwa, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga”
Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,
Hari ini kita mengangkat tema:
“Puasa: Jalan Menuju Taqwa, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga.”
1. Tujuan Puasa: Mencapai Taqwa
Allah SWT berfirman:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini sangat jelas. Tujuan puasa adalah taqwa.
Apa itu taqwa?
Taqwa adalah kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita.
Taqwa adalah menjaga diri dari maksiat karena takut dan cinta kepada Allah.
Taqwa adalah ketaatan yang lahir dari hati yang tunduk.
Puasa melatih kita untuk jujur.
Saat sendirian, tidak ada yang melihat kita minum.
Namun kita tetap menahan diri. Mengapa?
Karena kita sadar Allah melihat.
Inilah latihan taqwa.
2. Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Jika puasa hanya menahan lapar dan dahaga, maka orang sakit pun bisa melakukannya.
Jika puasa hanya tidak makan dan minum, maka itu belum cukup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad)
Mengapa demikian?
Karena lisannya masih berdusta.
Karena matanya masih melihat yang haram.
Karena hatinya masih dipenuhi iri dan dengki.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Artinya, puasa harus menyentuh akhlak dan hati.
3. Puasa Melatih Pengendalian Diri
Puasa adalah madrasah pengendalian diri.
Menahan makan — melatih sabar.
Menahan amarah — melatih kedewasaan.
Menahan syahwat — melatih kesucian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai dari apa?
Perisai dari api neraka.
Perisai dari hawa nafsu.
Perisai dari perilaku yang merusak diri.
Jika setelah Ramadhan kita masih mudah marah, mudah menggunjing, mudah lalai, maka ada yang perlu kita perbaiki dalam puasa kita.
4. Tanda Puasa yang Berbuah Taqwa
Bagaimana tanda puasa yang benar-benar mengantarkan kepada taqwa?
✔ Shalat semakin terjaga
✔ Al-Qur’an semakin dicintai
✔ Sedekah semakin ringan
✔ Akhlak semakin lembut
✔ Hati semakin takut berbuat dosa
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Kemuliaan bukan pada harta.
Bukan pada jabatan.
Tetapi pada taqwa.
Ramadhan adalah jalan menuju kemuliaan itu.
5. Ramadhan Sebagai Titik Perubahan
Hadirin yang dirahmati Allah,
Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan.
Jangan sampai setelah Idul Fitri:
Kita kembali lalai shalat,
Lupa membaca Al-Qur’an,
Kembali kepada kebiasaan buruk.
Puasa adalah latihan 30 hari.
Jika latihan berhasil, maka setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Kesungguhan dalam puasa akan dibalas dengan petunjuk hidup.
Penutup
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita luruskan niat puasa kita.
Mari kita jadikan puasa sebagai jalan menuju taqwa.
Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Semoga Allah menerima puasa kita,
mengampuni dosa kita,
dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar