Rabu, 18 Februari 2026

NASKAH CERAMAH RAMADHAN Judul: “TAUBATAN NASHUHA: Pintu Ampunan yang Selalu Terbuka”

 


NASKAH CERAMAH RAMADHAN (3)

Judul: “TAUBATAN NASHUHA: Pintu Ampunan yang Selalu Terbuka”
Oleh: Wahyu Salim
(Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita nikmat iman dan kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini, kita mengangkat tema:
“Taubatan Nasuha: Pintu Ampunan yang Selalu Terbuka.”

1. Ramadhan: Bulan Ampunan

Ramadhan adalah bulan rahmat, maghfirah (ampunan), dan pembebasan dari api neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini kabar gembira bagi kita semua.
Tidak peduli seberapa banyak dosa kita, selama kita mau kembali, Allah membuka pintu ampunan-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah ayat harapan.
Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, kecuali jika kita menolak untuk bertaubat.

2. Apa Itu Taubatan Nasuha?

Allah SWT memerintahkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).”
(QS. At-Tahrim: 8)

Taubatan nasuha adalah taubat yang sungguh-sungguh, tulus, dan tidak main-main.

Para ulama menjelaskan syarat taubat ada tiga:

  1. Menyesali dosa yang telah dilakukan

  2. Berhenti dari dosa tersebut saat itu juga

  3. Berazam kuat untuk tidak mengulanginya lagi

Jika dosa berkaitan dengan manusia, maka ditambah satu syarat lagi:
4. Mengembalikan hak atau meminta maaf

Taubat bukan sekadar ucapan “astaghfirullah”.
Taubat adalah perubahan arah hidup.

3. Mengapa Kita Harus Segera Bertaubat?

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
Kita tidak tahu apakah Ramadhan ini yang terakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari.”
(HR. Muslim)

Betapa luas kasih sayang Allah.
Namun jangan menunda taubat.

Karena hati yang terlalu sering berbuat dosa akan mengeras.

Allah berfirman:

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Dosa yang terus diulang akan menutup cahaya hati.

4. Ramadhan: Momentum Pembersihan Diri

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membersihkan diri.

✔ Perbanyak istighfar
✔ Hidupkan qiyamul lail
✔ Perbaiki shalat
✔ Perbanyak sedekah
✔ Jaga lisan dan hati

Rasulullah ﷺ sendiri yang sudah dijamin masuk surga, tetap beristighfar lebih dari 70 kali sehari (HR. Bukhari).

Apalagi kita, yang penuh kekurangan?

5. Tanda Taubat Diterima

Bagaimana tanda taubat kita diterima?

✔ Hati terasa lebih ringan
✔ Ibadah terasa lebih nikmat
✔ Dosa yang dulu terasa biasa kini terasa berat
✔ Ada perubahan perilaku nyata

Allah berjanji:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Bayangkan, bukan hanya diampuni, tapi dicintai oleh Allah.

Penutup

Jamaah Ramadhan yang dirahmati Allah,

Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa taubat.
Jangan biarkan hati kita terus tertutup oleh dosa.

Mari kita kembali kepada Allah dengan taubatan nasuha.

Semoga Allah menerima taubat kita,
menghapus dosa-dosa kita,
dan menjadikan Ramadhan ini sebagai titik balik kehidupan kita.

Kita tutup dengan doa:

“Rabbighfirli wa tub ‘alayya innaka antat-tawwabur-rahim.”
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar: