Tampilkan postingan dengan label Seri Cerita Kerukunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Cerita Kerukunan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2024

Ijtihad Spritual: Kamu Berada Di Tempat Yang Paling Dibutuhkan

Padang Panjang, Wahyu, seorang PNS muda yang penuh idealisme, telah meniti karier panjang di berbagai jabatan struktural. Pengalaman yang kaya dan kemampuannya yang cemerlang menjadikannya sosok yang dianggap banyak orang sebagai pemimpin masa depan. Namun, pada tahun 2020, Wahyu membuat keputusan yang mengejutkan: ia memilih untuk mengikuti inpassing ke jabatan fungsional sebagai penyuluh agama.

Keputusan ini menuai berbagai reaksi. "Wahyu, kamu berada di tempat yang paling dibutuhkan," kata Buk Yet, seorang analis kepegawaian yang memahami kedalaman keputusan tersebut. Namun, tidak sedikit yang menganggap langkah ini sebagai blunder besar. "Dia adalah calon pemimpin berikutnya," kata beberapa kolega dengan nada menyesal. Namun, bagi Wahyu, keputusan ini bukan sekadar langkah karier. "Ini adalah hasil dari ijtihad spiritual yang bersifat birokratis," jelasnya dengan penuh keyakinan. "Saatnya memberi kesempatan kepada yang lebih muda dan energik untuk melanjutkan regenerasi." The Leader Create The Leader, begitu filosofi yang Wahyu bangun.

Sekarang, lebih dari tiga tahun sejak keputusan tersebut, Wahyu menjalani tugas sebagai penyuluh agama dengan penuh dedikasi. Tantangan tentu ada, namun ia meyakini bahwa dengan niat ikhlas dan profesionalisme, segala hambatan dapat diatasi. Salah satu hikmah terbesar dari peran barunya adalah ketenangan dan keberkahan hidup yang ia rasakan. Setiap tahun, ia mendapatkan apresiasi berupa undangan untuk mengikuti kegiatan nasional di pusat. Pengalaman ini memperkaya wawasan dan mempertebal semangatnya untuk terus berkarya.

"Setiap tugas memiliki tantangannya sendiri," ujar Wahyu. "Namun, saya percaya bahwa Allah selalu membersamai mereka yang bekerja dengan ikhlas dan tulus." Bagi Wahyu, menjadi penyuluh agama bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan hati untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, membimbing mereka dalam nilai-nilai keagamaan, dan menjadikan hidup lebih bermakna.

Kini, Wahyu dapat dikatakan menjadi panutan bagi rekan-rekannya. Ia pun dipilih menjadi Ketua Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia tempat ia bertugas. Keputusannya yang dulu dianggap kontroversial ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari posisi atau jabatan, melainkan dari ketulusan hati dalam menjalankan amanah. Wahyu menjalani hidupnya dengan penuh syukur, percaya bahwa di manapun ia berada, Allah akan selalu memberikan jalan terbaik. Keep Good Spirit...!!!

Cerita Antara Teman Senior dan Junior

Padang Panjang, Pada suatu masa, di sebuah kantor pemerintahan di kota kecil yang tenang, Wahyu dan Disman dipertemukan oleh takdir dalam lingkup pekerjaan yang sama. Wahyu, seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang baru beberapa tahun bertugas, datang dengan semangat membara dan idealisme tinggi. Sementara itu, Disman, seorang senior yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade, memandang dunia dengan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang. Mereka dipisahkan jarak usia lebih satu dekade.

Wahyu terkesan dengan sosok Disman. Meskipun usianya sudah senja, Disman tetap penuh dedikasi, luas pergaulan dan tidak memilih-milih teman. "Pak Disman, bagaimana Bapak bisa bertahan selama ini?" tanya Wahyu suatu hari saat mereka berbincang di sela-sela pekerjaan.

Disman tersenyum tipis, mengaduk kopi hitam di cangkirnya. "Wahyu, hidup ini seperti roda. Ada saatnya kita di atas, ada saatnya kita di bawah. Apa yang membuat saya bertahan adalah kesadaran bahwa setiap masa memiliki hikmahnya sendiri," jawab Disman.

Wahyu mengangguk, meski belum sepenuhnya memahami. Hari demi hari, ia melihat bagaimana Disman menghadapi setiap tantangan pekerjaan dengan tenang, meski tak jarang kebijakan yang datang dari atasan terasa membingungkan. Suatu kali, ketika tugas di kantor menghadapi kendala, Wahyu merasa stres dan hampir menyerah, berbeda kenyataan di lapangan dengan nilai-nilai ideal yang ia pahami. Disman hanya menepuk pundaknya. "Tenang, Dik. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Sabar dan syukuri apa yang bisa kita pelajari dari ini."

Waktu berlalu, dan Wahyu mulai menyadari kebenaran kata-kata Disman. Ia belajar dari cerita-cerita masa lalu seniornya: perjuangan di awal karier, kesalahan yang menjadi pelajaran, dan momen-momen kecil yang membawa kebahagiaan. Wahyu mulai memahami bahwa kesabaran dan rasa syukur adalah kunci menghadapi sekolah kehidupan yang panjang ini.

Disman pernah bercerita bagaimana ia harus berjuang dari nol. Di masa mudanya, ia pernah hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di masjid, menjadi agen angkutan, bekerja keras sambil menempuh pendidikan. "Dulu, Dik, saya hanya punya sepeda motor tua untuk pergi ke kantor. Tapi itu tidak mengurangi semangat saya. Saya percaya bahwa Allah selalu menggilirkan masa. Saat kita di bawah, kita belajar bersabar. Saat kita di atas, kita belajar bersyukur." Di samping PNS, Disman sudah lama menggarap sawah, kebun coklat, kopi, durian dan pokat, sekarang tinggal memetik hasilnya.

Ketika tiba saatnya Disman pensiun, Wahyu merasa kehilangan seorang mentor. Di hari terakhir Pak Disman masuk kerja, Wahyu mengungkapkan kesan mendalam. "Pak Disman mengajarkan saya lebih dari sekadar pekerjaan. Beliau mengajarkan arti kehidupan, tentang bagaimana menghadapi segala tantangan dengan kepala tegak dan hati yang penuh rasa syukur."

Disman tersenyum haru. "Wahyu, hidup ini terus berputar. Sekarang giliranmu untuk menjalani masa-masamu sendiri. Ingat, Dik, setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya."

Setelah Disman pensiun, Wahyu mengambil tanggung jawab lebih besar di kantor. Ia melanjutkan warisan kebijaksanaan yang pernah diajarkan Disman, menjadi teladan bagi rekan-rekan kerja yang lebih muda. Dalam setiap tantangan, Wahyu selalu teringat nasihat seniornya: bersyukur saat di atas, bersabar saat di bawah, dan belajar dari setiap fase kehidupan.

Demikianlah, kehidupan terus bergulir seperti roda yang tak pernah berhenti berputar. Setiap masa membawa pelajaran, dan setiap orang memainkan perannya di sekolah kehidupan yang luas dan panjang ini.

Kiprah Relawan Moderasi Merawat Kerukunan


Padang Panjang, Pada pagi yang cerah, di sebuah SD Kristen yang asri, suasana begitu semarak. Sekolah itu unik karena dihuni oleh murid-murid dari berbagai latar belakang agama: Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Kong Hu Cu. Buk Nel, kepala sekolah yang bijaksana, percaya bahwa pendidikan harus menjadi jembatan kerukunan di tengah keberagaman. Hari itu, sekolah mengadakan penyuluhan tentang kerukunan lintas agama dengan mengundang Wahyu dan Riri, dua relawan penyuluh moderasi yang penuh semangat.

Wahyu memulai acara dengan senyuman lebar. "Adik-adik, tahu tidak, Indonesia itu kaya sekali. Ada banyak suku, budaya, dan agama. Kita semua berbeda, tapi tetap satu keluarga besar," katanya dengan nada ceria. Anak-anak tampak antusias, beberapa mengangguk sambil tersenyum.

Riri melanjutkan, "Kalau kita bisa saling menghormati perbedaan, dunia akan menjadi tempat yang lebih damai & indah. Hari ini, kita akan belajar bagaimana menjaga kerukunan, seru dan asyik lho!"

Penyuluhan itu dikemas menarik. Wahyu dan Riri memutarkan sebuah film pendek tentang kerukunan, yang menceritakan kisah persahabatan anak-anak dari berbagai agama. Murid-murid terpaku menonton, beberapa bahkan terlihat tersentuh.

Setelah film selesai, Riri mengadakan sesi kuis. "Siapa yang bisa sebutkan tiga cara menjaga kerukunan dengan teman yang berbeda agama?" tanyanya. Beberapa tangan kecil terangkat dengan semangat. Seorang murid bernama Budi menjawab, "Saling menghormati, tidak mengejek, dan membantu teman yang kesusahan."

"Tepat sekali, Budi!" seru Wahyu sambil memberikan hadiah kecil berupa stiker bertema kerukunan, kue & buku saku.

Sesi berikutnya adalah dialog interaktif. Wahyu mengajukan pertanyaan sederhana kepada murid-murid. "Apa yang kalian lakukan jika teman kalian sedang berdoa?"

Seorang murid bernama Clara menjawab, "Kita diam dan tidak mengganggu." Murid-murid lain mengangguk setuju.

Sebagai puncak acara, murid-murid diajak mempraktikkan cara berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Anak-anak Muslim membaca doa-doa pendek, murid Kristen menyanyikan pujian, sementara anak-anak Buddha dan Kong Hu Cu melafalkan doa sesuai tradisi mereka. Semua berlangsung dalam suasana penuh penghormatan.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Murid-murid, guru, dan relawan penyuluh berpose dengan ceria. Sebelum berpisah, mereka bersama-sama meneriakkan yel-yel yang dipandu Riri:

"Jaga kerukunan! Jaga Indonesia! Damai selalu, kita semua saudara!"

Sorak-sorai memenuhi aula sekolah. Buk Nel, dengan mata yang berbinar, menyampaikan terima kasih kepada Wahyu dan Riri. "Penyuluhan ini sangat berarti bagi kami. Anak-anak belajar sedini mungkin bahwa kerukunan adalah fondasi dari kehidupan yang harmonis."

Wahyu dan Riri tersenyum puas. Mereka tahu, langkah kecil ini akan membawa dampak besar di masa depan. Di tengah keberagaman, kerukunan adalah kunci untuk menjaga persatuan bangsa. Inilah sedikit kisah kiprah relawan moderasi merawat kerukunan.

Penyuluhan Agama pada Komunitas Ojek


Padang Panjang, Di sebuah sudut kota yang ramai, terdapat sebuah pangkalan ojek yang menjadi tempat berkumpulnya para pejuang nafkah. Mereka adalah Buyung, Ujang, Sutan, dan beberapa rekan lainnya. Setiap hari, mereka menghadapi teriknya matahari dan guyuran hujan demi membawa pulang rezeki untuk keluarga. Suatu pagi, kedatangan tamu tak terduga mengubah suasana pangkalan itu.

Wahyu, Disman, Fadlan, Donald, dan Lili, tim penyuluh agama, tiba dengan senyuman hangat. Dengan membawa semangat dakwah, mereka ingin berbagi ilmu agama kepada para tukang ojek. Wahyu membuka dialog dengan gaya persuasif yang ramah. "Assalamu'alaikum, bapak-bapak. Kami dari tim penyuluhan ingin berbagi sedikit ilmu agama sambil menemani bapak-bapak menunggu penumpang. Semoga bisa menjadi tambahan bekal untuk keseharian kita."

Buyung, yang dikenal sebagai pemimpin tidak resmi di pangkalan itu, menyambut dengan ramah. "Wa'alaikumussalam, Pak. Silakan, kami senang ada yang mau berbagi ilmu di sini."

Disman kemudian mengambil alih, membuka dengan cerita singkat tentang pentingnya waktu dalam mencari rezeki yang halal. "Bapak-bapak, waktu kita ini ibarat pedang. Kalau kita gunakan dengan baik, insya Allah akan membawa keberkahan. Tapi kalau disia-siakan, malah bisa melukai diri sendiri."

Para tukang ojek mulai tertarik. Wahyu melanjutkan dengan meminta beberapa dari mereka membaca ayat-ayat al-Qur'an yang sederhana. "Pak Buyung, mungkin bisa mencoba membaca surat Al-Fatihah? Jangan khawatir salah, kami di sini belajar bersama," ujar Wahyu dengan lembut.

Buyung, meskipun agak gugup, mencoba membaca dengan suara lirih. Setelah selesai, Fadlan memuji usahanya. "Masya Allah, Pak Buyung. Bacaan yang bagus! Sedikit demi sedikit, kita bisa memperbaiki bacaan kita."

Giliran Ujang diminta membaca bacaan sholat. Ujang, yang awalnya malu-malu, akhirnya memberanikan diri. "Allahu Akbar..." suaranya terdengar gemetar, tetapi itu tidak mengurangi semangatnya. Tim penyuluh memberikan bimbingan dan masukan dengan penuh kesabaran.

Donald dan Lili kemudian berbicara tentang pentingnya keikhlasan dalam bekerja. "Setiap tetes keringat bapak-bapak adalah ibadah jika diniatkan untuk mencari nafkah yang halal," kata Donald. Lili menambahkan, "Yang penting bukan seberapa banyak yang kita dapat, tapi seberapa berkah hasilnya untuk keluarga." Ternyata ada juga tukang ojek wanita, Lili memberi motivasi & pujian atas perjuangan komunitas ojek wanita ini yang khusus melayani penumpang wanita, tak terkecuali ASN wanita Kemenag Padang Panjang sering memesan jasa mereka, untuk terus berjuang dengan penuh keikhlasan. " Kami lakukan ini agar-agar anak-anak bisa sekolah dan sukses, penghasilan suami cukup untuk kebutuhan harian saja", curhat Buk Evi kepada Lili, tampak terlihat air keluar di sudut matanya. "Yakin dan percayalah, Allah SWT melihat ketulusan perjuangan ibu-ibu, hasilnya nanti anak-anak akan sukses semuanya", ujar Lili meyakinkan.

Setelah sesi belajar, Wahyu membuka sebuah tas besar dan membagikan wakaf Qur'an serta buku Iqra kepada para tukang ojek. "Ini adalah hadiah dari kami untuk bapak-bapak. Semoga bisa digunakan untuk terus belajar dan mendekatkan diri kepada Allah, al-Qur'an ini kami salurkan dari para dermawan dan bantuan dari Baznas" ujar Wahyu dengan penuh harap, sambil menoleh ke Pak Syam pengurus Baznas yang turut hadir sebagai ungkapan terima kasih telah mendukung tugas penyuluh.

Para tukang ojek terlihat sangat terharu. Sutan, yang jarang berbicara, mengucapkan terima kasih dengan suara bergetar. "Terima kasih banyak, Pak. Kami merasa dihargai, meskipun pekerjaan kami sederhana."

Sebagai penutup, tim penyuluh memberikan beberapa nasihat praktis. "Jangan lupa membaca doa sebelum berangkat bekerja, dan jangan pernah merasa malu dengan pekerjaan halal. Semua pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik pasti diberkahi," kata Fadlan.

Hari itu menjadi momen berharga bagi semua yang hadir. Tim penyuluh dan para tukang ojek merasa mendapat pelajaran baru, bahwa dakwah tidak harus dilakukan di tempat yang megah atau formal. Di bawah pohon rindang pangkalan ojek, semangat kebersamaan dan keimanan tumbuh subur. Para tukang ojek merasa lebih bersemangat, tidak hanya dalam mencari nafkah, tetapi juga dalam memperbaiki hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Hormat kami pada para pejuang nafkah, komunitas ojek dimanapun berada.

Suka Duka Pegiat Penyuluh Agama Lintas Komunitas


Padang Panjang, Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, ada sekelompok orang yang selalu siap mengabdikan diri demi kebaikan bersama. Mereka adalah Wahyu, Disman, Lili, Adri, Donald, Ely, Yarni, dan Fadlan. Dengan semangat yang membara, mereka membentuk tim penyuluhan yang fokus memberikan pembinaan agama di berbagai komunitas. Motto mereka, "Kebersamaan adalah Kunci Kesuksesan," menjadi landasan kuat dalam setiap langkah yang mereka tempuh.

Setiap anggota tim memiliki peran yang berbeda-beda. Wahyu dan Disman sering bergantian menjadi moderator yang mengarahkan diskusi dengan elegan. Lili, dengan suaranya yang merdu, kerap dipercaya menjadi MC. Adri dan Donald, dengan pengetahuan agamanya yang mendalam, berperan sebagai narasumber utama. Ely, Yarni, dan Fadlan mengisi posisi penting di tim media dan humas, memastikan pesan-pesan dakwah mereka tersampaikan dengan baik kepada masyarakat luas. Walau peran tersebut tidak baku, mereka ikhlas & tulus berbagi peran karena mereka menyadari masing-masing punya kelebihan, talenta & spesialisasi yang berbeda, sudah seharusnya saling mendukung, menguatkan dan menopang keberhasilan tugas bersama.

Perjalanan tim ini tidak selalu mudah. Suatu hari, mereka mendapat tugas untuk memberikan penyuluhan di sebuah rumah sakit yang tak terlalu jauh dari kota. Perjalanan memang tak terlalu memakan waktu berjam-jam namun kondisi cuaca yang sering berubah-rubah, maklum namanya saja kota hujan menjadi tantangan tersendiri. Hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan, membuat suhu semakin dingin. Meski harus merogoh kocek pribadi untuk transportasi dan konsumsi, tak satu pun dari mereka mengeluh.

"Kita tidak sedang mencari kemewahan, tetapi keberkahan," kata Wahyu, menyemangati anggota tim lainnya.

Saat tiba di rumah sakit, mereka disambut dengan antusias oleh para pasien dan tenaga medis. Lili membuka acara dengan penuh semangat, membangun suasana hangat meskipun hujan di luar belum berhenti. Adri dan Donald memberikan penyuluhan tentang pentingnya kesabaran dan doa dalam menghadapi ujian hidup. Ely dan Fadlan sibuk mendokumentasikan momen-momen tersebut, sementara Yarni memastikan semua kebutuhan teknis acara berjalan lancar.

Di lain waktu, mereka diundang ke sebuah rumah tahanan. Di tempat ini, mereka menghadapi tantangan yang berbeda. Beberapa penghuni rutan terlihat enggan mendengarkan, tetapi Disman, dengan kepiawaiannya dalam berbicara, berhasil menarik perhatian mereka. "Setiap orang punya kesempatan untuk berubah, dan perubahan dimulai dari hati," ucapnya dengan penuh keyakinan. Pesan itu menggugah banyak penghuni rutan, bahkan beberapa dari mereka terlihat meneteskan air mata.

Mereka juga sering mengisi kegiatan di majelis taklim, kelompok ekonomi syariah, pangkalan ojek, taman pendidikan al-Qur'an, hingga pembinaan remaja. Meskipun tempat dan audiensnya berbeda, semangat mereka selalu sama. Ada kalanya mereka harus menghadapi jadwal yang padat dan perjalanan yang melelahkan, tetapi mereka selalu menemukan kekuatan dalam kebersamaan.

Suatu hari, setelah menyelesaikan serangkaian penyuluhan, mereka berkumpul di sebuah warung sederhana untuk makan bersama. Sambil menikmati hidangan, Ely berkata, "Aku merasa setiap perjalanan kita bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk kita sendiri. Kita belajar banyak dari orang-orang yang kita temui."

"Benar," tambah Yarni. "Mungkin kita yang dianggap memberikan penyuluhan, tapi sebenarnya kita juga mendapatkan pelajaran hidup dari mereka."

Semua mengangguk setuju. Mereka sadar bahwa pengabdian ini bukan hanya tentang berbagi ilmu, tetapi juga tentang memperkuat persaudaraan dan membangun nilai-nilai bersama. Dalam suka maupun duka, mereka tetap kompak. Tidak peduli seberapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, kebersamaan selalu menjadi energi yang menguatkan.

Kisah tim penyuluhan ini menjadi bukti bahwa ketika hati dan tujuan bersatu, tidak ada halangan yang tidak dapat diatasi. Mereka adalah inspirasi nyata bahwa kebersamaan adalah kunci dari segala kesuksesan. Bagi mereka semoga "lelah menjadi lillah" & "selalu bergerak menebar mamfaat".

SERI CERITA KERUKUNAN: DUNIA KERJA PENUH INTRIK


Padang Panjang, Di sebuah lembaga pemerintahan yang megah, berdiri tokoh utama kita, Wahyu, seorang pegawai berdedikasi tinggi. Dengan penuh semangat, Wahyu menjalani hari-harinya di kantor, memegang teguh prinsip kejujuran dan profesionalitas. Ia percaya bahwa pengabdiannya adalah untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi.

Disman, rekan kerja sekaligus sahabat sejati Wahyu, selalu mendukungnya. Disman adalah tipe orang yang rendah hati, dengan selera humor yang mampu mencairkan suasana tegang di kantor. Mereka sering bekerja sama dalam menyelesaikan proyek-proyek besar yang menuntut ketelitian dan kecepatan. Keduanya berbagi visi yang sama, bahwa pekerjaan mereka harus membawa manfaat bagi banyak orang.

Namun, di balik kesibukan itu, suasana di kantor tidak selalu harmonis. Ada "badai" dan "topan," dua kolega yang dikenal dengan sikapnya yang sering kali menimbulkan konflik. Badai adalah orang yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Wahyu, sementara Topan lebih licik, memendam rasa iri dalam senyap tetapi diam-diam menjegal usaha Wahyu.

Badai sering meremehkan Wahyu di depan kolega lain, mencoba memojokkannya dalam rapat-rapat penting. Sedangkan Topan lebih berbahaya; ia memutarbalikkan fakta, menyebarkan kabar burung yang merusak nama baik Wahyu. Bahkan ada saat di mana laporan yang dikerjakan Wahyu dengan susah payah diakui sebagai hasil kerja Topan.

Meski menghadapi situasi seperti ini, Wahyu tetap tegar. Disman menjadi penopangnya, memberikan nasihat dan membantu Wahyu fokus pada tujuan besar mereka. "Jangan biarkan mereka membuatmu kehilangan arah, Wahyu. Kerja keras kita akan bicara lebih lantang daripada fitnah mereka," kata Disman suatu hari saat mereka sedang lembur bersama.

Kehidupan di kantor pemerintahan memang penuh warna. Ada yang mengagumi kerja keras Wahyu, tetapi tidak sedikit yang iri dan berharap melihatnya gagal. Dalam tekanan pekerjaan yang berat, Wahyu menemukan bahwa integritas adalah kompasnya. Ia memutuskan untuk tidak terpengaruh oleh intrik dan tetap fokus pada visi dan misinya.

Suatu hari, proyek besar yang mereka kerjakan berhasil dengan gemilang. Masyarakat memuji hasil kerja tim Wahyu dan Disman. Bahkan, pemimpin lembaga memberikan penghargaan khusus kepada mereka. Namun, seperti biasa, Badai dan Topan tidak tinggal diam. Mereka mencoba mencari celah untuk menjatuhkan Wahyu, tetapi kali ini, kolega lain mulai melihat siapa sebenarnya yang benar-benar bekerja keras.

"Hidup ini bukan soal siapa yang terlihat menang sementara, tapi siapa yang tetap berdiri dengan kepala tegak di akhir perjalanan," gumam Wahyu sambil menatap keluar jendela kantornya. Ia sadar, badai dan topan dalam hidupnya hanyalah ujian untuk menguji keteguhan hatinya.

Dengan dukungan Disman, Wahyu melanjutkan langkahnya. Ia belajar bahwa meskipun ada yang membenci, selalu ada yang menginspirasi. Dalam dunia yang penuh persaingan dan intrik, hanya mereka yang fokus pada kebaikan yang akan bertahan dan meninggalkan jejak berarti. Sementera di tempat lain, Badai & Topan merasakan akibat kedengkian & kemunafikannya, hidup tak seperti berteman, ia datang orang pergi, ia bicara orang tak menanggapi.

Inilah suatu kisah gambaran dunia kerja tanpa dibangun nilai-nilai etika & kode prilaku yang tidak jelas, justru akan membuat kerugian yang sangat besar kepada diri sendiri dan juga berdampak kepada kinerja organisasi. Yang baik ditiru yang tidak baik jangan dicontoh!!!

Selasa, 07 September 2021

Seri Cerita Kerukunan: Kisah Sang Komandan

Pada saat  melakukan kegiatan bimbingan penyuluhan ke berbagai lokasi binaan, Uwas (sebutan populer nama saya, singkatan dari Ustadz Wahyu Salim) sering bertemu dengan berbagai lapisan masyarakat, baik itu pejabat, tokoh agama, tokoh adat, pelajar maupun masyarakat umum. 

Suatu kali saat Uwas berada di kantor lurah, ia melakukan pembicaraan dengan pejabat kelurahan terkait tugas-tugas kepenyuluhan yang bisa dikerjasamakan dengan program kegiatan yang ada di kelurahan, antara lain lingkar sakinah ataupun kampung kerukunan. 

Uwas melihat seorang bapak-bapak datang berkunjung ke kelurahan, wajah sang bapak terasa  familiar bagi Uwas tapi entah kapan bertemu atau dalam kegiatan apa, Uwas belum menyadarinya.
Filing Uwas sudah pernah berjumpa sebelumnya, ia perhatikan sang bapak sedikit demi sedikit,  Uwaspun yang merasa yakin  pernah melihat  sang bapak langsung menyapa terlebih dahulu:

"Assalamu'alaikum Wr Wb komandan..." sapa Uwas sambil mengangkat tangan sikap hormat.
"Wa'alaikumussalam Wr Wb...", jawab Si Bapak.
"Apa kabar Ndan..?", lanjut Uwas.
dengan tenang Si Bapak menjawab: "Alhamdulillah sehat". Masih tampak kesan ketegasan dari suara dan gerakannya. 
Kami pun mempersilahkan si bapak duduk dan bergabung dalam pembicaraan kami, Uwaspun melanjutkan lagi beberapa program lain seperti pemberantasan buta huruf Al-Qur'an. Si Bapak sempat ikut nimbrung menyampaikan keinginannya untuk mengundang Uwas mengisi kegiatan pengajian di masjid dekat tempat tinggalnya.

Setelah pembicaraan pokok selesai kemudian dilanjutkan bincang-bincang ringan, Uwas mengarah kepada Sang Bapak seraya berkata:
"Bapak Brimob kan...?" tanya Uwas.
"Ya benar" katanya sambil balik bertanya:
"Lai tahu yo..." pakai bahasa minang. Maksudnya Uwas mengetahui keberadaannya sebagai pensiunan brimob. Uwas menanggapi dan membenarkan karena sering melihat si Bapak memimpin pasukan saat upacara bendera hari besar nasional dan kegiatan pertemuan di tingkat kota. Maka wajar Uwas memanggilnya komandan .

Ternyata bapak ini ketua RT, sebut saja namanya Sang Komandan (sengaja tidak disebutkan nama aslinya). Sang Komandan ini sedang mengurus salah satu keperluan warga di kantor lurah, biasa kalau Pak RT sering diminta tolong oleh warganya mengurus berbagai keperluan. Kalaupun tidak saat diminta tolong wargapun Sang Komandan sering juga singgah ke kantor lurah, entah saat jalan kaki atau keliling bersepeda. Setelah pensiun pengabdian ia teruskan dengan hidup bermasyarakat.(Bersambung....)

Komandan lanjut mengkisahkan pengalamannya saat bertugas di daerah operasi salah satu tempat di Aceh. Memimpin satu regu di daerah konflik berpegang pada prinsip dimana bumi di pijak disitu berbuat terbaik. Prinsip ini ia amalkan dengan merubah langgar yang terbengkalai tidak lagi difungsikan lagi oleh masyarakat. Di situ komandan mengajak anggotanya untuk membersihkan dan menjadikan bagian bawah langgar ini menjadi posko dan bagian atas untuk tempat sholat berjamaah. 
Sang komandan yang mengumandangkan azan, sekaligus menjadi imamnya. Kemudian ia mengumpulkan tokoh masyarakat agar kembali memfungsikan langgar untuk sholat berjamaah, tidak ada yang perlu ditakutkan.
Akhirnya apa yang dilakukan komandan mendapatkan simpati dari masyarakat, tentara dan rakyat bahu membahu melaksanakan berbagai kegiatan.
Pernah suatu ketika komandan bersama dengan beberapa anggotanya turun ke sebuah lereng mengambil air bersih, pada bagian atas telah siap anggota GAM memuntahkan senjatanya. Agaknya sudah menjadi sasaran empuk, namun apa yang terjadi anggota GAM tersebut mengurungkan niatnya dan bergerak menjauhi. Kenapa hal ini bisa terjadi karena faktor keakraban dan perhatian sang komandan terhadap masyarakat yang berada di lokasi poskonya.
Hal ini diketahui sang komandan di saat acara perpisahan masyarakat dengan sang komandan bertemu dengan tokoh masyarakat yang sempat ditemui anggota GAM yang menceritakan.
Sang komandan bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjaga nyawanya sehingga sukses dalam operasi dan kembali berkumpul dengan keluarga.

Sang komandan juga perhatian kepada seluruh anggotanya. Pernah suatu ketika mereka yang beragama Islam melaksanakan Sholat Jum'at berjamaah, sementara anggota non muslim menjaga di luar masjid sehingga pelaksanaan Jum'at dapat terselenggara dengan lancar. Sang komandan awalnya memerintahkan untuk standby saja di posko, tidak perlu ikut ke masjid. Namun non muslim dapat menyakinkan komandan kehadirannya menjaga di luar masjid dapat membantu agar Jum'at dapat berlangsung aman dan lancar.

Demikian sang komandan menceritakan sedikit pengalamannya di medan operasi, semoga bisa dijadikan pelajaran betapa kita perlu memahami cultur budaya lokal dalam berinteraksi dengan masyarakat.