Selasa, 23 September 2025

Ciri-Ciri Orang Bertaqwa Menurut Al-Qur’an dan Hadis

 

🌿 Ciri-Ciri Orang Bertaqwa Menurut Al-Qur’an dan Hadis

Pendahuluan

Setiap Muslim tentu mendambakan derajat taqwa, karena Allah menjanjikan surga dan kemuliaan bagi orang-orang yang bertaqwa. Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 133–135, Allah SWT menyebutkan secara jelas beberapa ciri orang bertaqwa. Rasulullah SAW pun menegaskan ciri tersebut melalui hadis-hadis beliau.

Lalu, apa saja ciri orang bertaqwa itu? Mari kita simak bersama.

Taqwa dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran: 133–135:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.”

Ayat ini menggambarkan bahwa taqwa bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga menyangkut akhlak, sosial, dan kesadaran diri.

Tafsir Singkat

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa orang bertaqwa memiliki sifat:

  1. Rajin berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, menunjukkan keluasan jiwa dan kedermawanan.

  2. Menahan amarah dan mengendalikan hawa nafsu, karena marah adalah pintu keburukan.

  3. Memaafkan kesalahan orang lain, meski mampu membalas, karena memaafkan lebih mulia di sisi Allah.

  4. Segera bertaubat jika berbuat dosa, sebab manusia pasti salah, namun Allah Maha Pengampun bagi hamba yang kembali kepada-Nya.

Ibnu Katsir menekankan bahwa sifat-sifat ini adalah jalan menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Lima Ciri Orang Bertaqwa

  1. Dermawan dalam setiap keadaan
    Rela berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

  2. Mampu menahan amarah
    Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  3. Memaafkan kesalahan orang lain
    Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang yang memberi maaf, Allah akan menambahkan kemuliaan baginya.” (HR. Muslim)

  4. Berbuat baik (ihsan)
    Berusaha menghadirkan kebaikan dalam setiap amal, baik kepada Allah, keluarga, sesama manusia, maupun lingkungan.

  5. Segera bertaubat ketika berbuat dosa
    Rasulullah SAW bersabda:

    “Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Penutup

Taqwa adalah pakaian mulia seorang Muslim. Ciri-ciri orang bertaqwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan diperkuat oleh hadis Nabi SAW menunjukkan bahwa taqwa tidak hanya tentang ibadah, tetapi juga karakter, akhlak, kesabaran, dan kesadaran untuk selalu kembali kepada Allah.

Mari kita berusaha menghiasi diri dengan lima ciri ini: dermawan, sabar, pemaaf, suka berbuat baik, dan gemar bertaubat. Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah yang bertaqwa dan mendapat surga yang dijanjikan-Nya.

Senin, 22 September 2025

Bangun Kemitraan Kolaboratif, Sosialisasikan GENTING

 


Bangun Kemitraan Kolaboratif, Sosialisasikan GENTING

Padang Panjang – Upaya pencegahan stunting kembali diperkuat melalui sosialisasi GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang digelar pada Jum’at, 19 September 2025 di Aula Kantor Lurah Ekor Lubuk. Kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan KB, Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Padang Panjang dengan menggandeng berbagai pihak yang peduli terhadap isu stunting.

Acara yang dihadiri oleh kader, mitra, dan pengurus RT ini berlangsung dalam suasana penuh semangat kebersamaan. Lurah Ekor Lubuk, Abrar, bertindak langsung sebagai moderator sekaligus memberikan dukungan penuh atas terlaksananya kegiatan tersebut dan harapan agar kasus stunting bisa dicegah dan diatasi di wilayah kerja Kelurahan Ekor Lubuk.

Sebagai pembicara pertama, Rizki Meylinda Emzet Penyuluh KB memaparkan secara rinci tentang program GENTING, sebuah gerakan yang mengedepankan peran orang tua asuh dalam mendukung keluarga berisiko stunting. Ia menekankan pentingnya keterlibatan semua unsur masyarakat agar pencegahan stunting tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga gerakan sosial yang berkelanjutan.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Kepala Layanan Pemenuhan Gizi Kota Padang Panjang, Tasya, yang didampingi oleh Ahli Gizi Finna. Keduanya membahas tentang MBG (Makanan Bergizi Seimbang) serta penerima manfaat dari program tersebut. Peserta diberi pemahaman mengenai pentingnya pola makan yang sehat, bergizi, dan seimbang sebagai kunci tumbuh kembang anak, termasuk penerima mamfaat adalah resti (resiko tinggi) seperti ibu hamil.

Sementara itu, Ketua BAZNAS Kota Padang Panjang, Syamsuarni juga Ketua LPM Ekor Lubuk, menguraikan peran strategis BAZNAS dalam mendukung penanggulangan stunting. Melalui dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS dapat menjadi mitra nyata dalam membantu keluarga dhuafa memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Menutup rangkaian penyampaian materi, Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam, menyampaikan perspektif keagamaan tentang pencegahan stunting dalam Islam. Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan anak merupakan bagian dari amanah besar orang tua, sekaligus bentuk ibadah dalam menjaga generasi penerus agar kuat secara fisik maupun spiritual. Sembari mengutip firman Allah SWT QS. Al-Baqarah 233 tentang pemenuhan gizi, ASI, perawatan ibu hamil, peran ayah dan pemberdayaan perempuan.



Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para peserta aktif berdiskusi, menyampaikan pertanyaan, dan berbagi pengalaman lapangan terkait tantangan pencegahan stunting.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semakin terbangun kemitraan kolaboratif antara pemerintah, lembaga keagamaan, organisasi sosial, serta masyarakat dalam mewujudkan generasi Kota Padang Panjang yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting. 

Sebelumnya juga telah dilakukan visitasi lapangan gabungan Camat, Lurah, Dinas Sosial, Penyuluh KB, Penyuluh Agama, Kader ke rumah warga resiko tinggi stunting hamil di usia di atas 40 tahun disertai penyerahan sembako, susu dan buah-buahan. UWaS


Jalan Mundur Reformasi Birokrasi di Kementerian Agama Kota Padang Panjang (Studi Kasus & Solusi Perbaikan)

 

Jalan Mundur Reformasi Birokrasi di Kementerian Agama Kota Padang Panjang (Studi Kasus & Solusi Perbaikan)

Oleh: Wahyu Salim

Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang/Agen Perubahan

Pendahuluan

Reformasi birokrasi merupakan agenda nasional yang diharapkan dapat mendorong terciptanya pemerintahan yang bersih, profesional, akuntabel, dan melayani. Kementerian Agama, sebagai salah satu institusi besar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dituntut menjadi teladan dalam implementasi reformasi birokrasi. "Jatuh bangun" pembangunan reformasi birokrasi dalam berbagai kasus baik di tingkat pusat maupun daerah menjadi pelajaran berharga dalam menjaga marwah kementerian agama yang berkhidmat memberikan pelayanan ikhlas beramal.

Pada tingkat daerah, khususnya di Kota Padang Panjang, reformasi birokrasi menghadapi tantangan serius. Alih-alih berjalan maju, berbagai gejala justru menunjukkan adanya jalan mundur dalam praktik pelaksanaannya. Tulisan ini disusun dengan mengunakan bahasa kritis dan konstruktif, agar dibaca sebagai masukan perbaikan tanpa tendensi apapun.

Dasar Regulasi Resmi

Pelaksanaan reformasi birokrasi memiliki dasar hukum yang jelas, antara lain:

  1. UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)
    Menegaskan sistem merit dalam manajemen ASN: berbasis kualifikasi, kompetensi, dan kinerja, tanpa diskriminasi.

  2. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010
    Menjadi Grand Design Reformasi Birokrasi 2010–2025, yang menargetkan birokrasi bersih, efektif, dan melayani.

  3. Permenpan-RB Nomor 1 Tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional
    Menyederhanakan pengelolaan jabatan fungsional, menekankan kinerja daripada administrasi angka kredit.

  4. Permenpan-RB Nomor 52 Tahun 2014 & Nomor 60 Tahun 2012
    Memberikan pedoman pembangunan Zona Integritas menuju WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi) dan WBBM (Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani).

  5. Permenpan-RB Nomor 13 Tahun 2011
    Menetapkan kriteria dan ukuran keberhasilan reformasi birokrasi, termasuk manajemen perubahan, penataan SDM, dan peningkatan pelayanan publik.

Dasar hukum ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di daerah harus selaras dengan agenda nasional, bukan malah berlawanan.

Temuan Permasalahan

Berdasarkan studi kasus dan pengamatan terhadap dinamika birokrasi di lingkungan Kementerian Agama Kota Padang Panjang, terdapat beberapa indikator  yang menghambat kemajuan reformasi birokrasi:

  1. Indikator Merit Sistem Tidak Berjalan
    Penempatan dan promosi jabatan tidak sepenuhnya berbasis kompetensi, kinerja, dan integritas, melainkan dipengaruhi faktor non-merit.

  2. Praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)
    Masih ada indikasi keberpihakan yang tidak sehat dalam pemberian apresiasi maupun keputusan organisasi.

  3. Kepemimpinan Tidak Proaktif
    Kepala satuan kerja seharusnya menjadi motor penggerak perubahan, namun yang terjadi adalah sikap pasif bahkan resistensi terhadap reformasi.

  4. Otoritarianisme
    Pola kepemimpinan cenderung top-down, tidak membuka ruang partisipasi bottom-up dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan. Kalaupun didahului dengan rapat, tidak lebih hanya formalitas administratif, isi keputusan telah dirancang dan dibuat sebelumnya.

  5. Distorsi dalam Apresiasi Kinerja
    Pegawai yang berprestasi tidak mendapat penghargaan semestinya, sementara yang minim kontribusi justru diapresiasi. 

  6. Komunikasi Tidak Etis
    Masih dijumpai penggunaan bahasa yang tidak santun dalam interaksi birokrasi, melemahkan budaya organisasi.

  7. Agen Perubahan Hanya Formalitas
    Agen perubahan hanya menjadi label administratif, tanpa benar-benar diberdayakan sebagai penggerak inovasi.

  8. Budaya Lama Masih Dominan
    Kultur lama yang birokratis, feodalistik, dan anti-kritik masih kuat melekat, sehingga resistensi terhadap reformasi sulit dihilangkan.

  9. Rendahnya pemahaman dan komitmen tentang hakikat, tujuan, strategi & hasil akhir yang diharapkan dari reformasi birokrasi.

Dampak Jalan Mundur Reformasi

Kondisi ini menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:

  • Menurunnya motivasi dan moral aparatur yang berprestasi.

  • Hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi.

  • Terhambatnya pencapaian good governance.

  • Melemahnya budaya kerja inovatif, karena kreativitas tidak dihargai.

Solusi Perbaikan

Agar reformasi birokrasi tidak sekadar jargon, perlu langkah konkret yang terukur dan konsisten, antara lain:

  1. Penguatan Merit Sistem

    • Laksanakan seleksi jabatan berbasis kompetensi dan kinerja yang transparan dengan tetap mempertimbangkan daftar urut kepangkatan dan masa dinas.

    • Terapkan reward and punishment secara objektif.

  2. Kepemimpinan Transformasional

    • Kepala instansi harus menjadi teladan, proaktif, dan berkomitmen penuh pada reformasi.

    • Gaya kepemimpinan partisipatif lebih diutamakan dibanding otoriter.

  3. Budaya Organisasi Berbasis Etika

    • Tegakkan disiplin berbahasa santun, komunikasi asertif, dan saling menghormati.

    • Gelar pelatihan etika publik bagi aparatur.

  4. Pemberdayaan Agen Perubahan

    • Libatkan agen perubahan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

    • Dorong mereka membuat inovasi nyata yang diadopsi instansi.

  5. Penguatan Sistem Apresiasi

    • Laksanakan penilaian kinerja objektif berbasis SKP dan perilaku kerja.

    • Beri penghargaan kepada pegawai berprestasi secara terbuka dan transparan.

  6. Pengawasan dan Evaluasi Berkelanjutan

    • Bangun mekanisme monitoring internal oleh tim RB yang independen.

    • Libatkan masyarakat (stakeholders) dalam memberikan masukan perbaikan.

  7. Perubahan Mindset dan Kultur Kerja

    • Dorong ASN untuk meninggalkan budaya lama yang feodalistik.

    • Bangun budaya kerja melayani, inovatif, profesional, dan berintegritas.

Kesimpulan

Reformasi birokrasi di Kementerian Agama Kota Padang Panjang menghadapi hambatan serius akibat lemahnya implementasi merit sistem, praktik KKN, kepemimpinan otoriter, serta dominasi budaya lama. Tanpa perbaikan menyeluruh, agenda reformasi hanya menjadi slogan tanpa makna.

Diperlukan kepemimpinan transformasional, pemberdayaan agen perubahan, budaya organisasi beretika, dan sistem merit yang tegak agar reformasi birokrasi benar-benar terwujud. Dengan demikian, Kementerian Agama tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menjadi institusi teladan dalam pelayanan publik yang bersih, profesional, dan akuntabel sesuai etika dan nilai prilaku ASN Kementerian Agama.

Jumat, 19 September 2025

Tentukan Kriteria Pasangan Hidup Baru Tentukan Orangnya Seri Memilih Pasangan Hidup (Menurut Al-Qur’an, Sunnah & Budaya)

Seri Memilih Pasangan Hidup (Menurut Al-Qur’an, Sunnah & Budaya) 


Oleh: Wahyu Salim/Penyuluh Agama Islam 

Pendahuluan

Menentukan pasangan hidup merupakan salah satu keputusan besar dalam kehidupan. Al-Qur’an menggambarkan pernikahan sebagai jalan menuju ketenteraman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia jadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rūm: 21).

Namun, sering kali banyak orang lebih dulu “tertarik pada orangnya” tanpa menimbang kriteria yang seharusnya menjadi pedoman. Akibatnya, pernikahan tidak selalu membawa kebahagiaan. Karena itu, penting untuk menentukan kriteria pasangan hidup terlebih dahulu sesuai tuntunan agama, baru kemudian mencari siapa orangnya yang memenuhi kriteria tersebut.

Kriteria Pasangan Hidup dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Islam memberi panduan jelas dalam memilih pasangan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa aspek agama harus menjadi prioritas utama, meskipun faktor lain seperti keturunan, kecantikan/ketampanan, dan harta juga bisa menjadi pertimbangan.

Kriteria penting menurut Al-Qur’an dan Sunnah antara lain:

  1. Agama dan akhlak – Pasangan yang taat beragama akan menjadi teman menuju surga. (QS. An-Nur: 26).

  2. Kesesuaian (kufu’) dalam kehidupan – Mencakup iman, akhlak, visi hidup, dan tanggung jawab.

  3. Kemampuan menjadi pasangan yang menenangkan – Seperti fungsi “sakinah, mawaddah, rahmah” dalam QS. Ar-Rūm: 21.

  4. Keturunan yang baik – Sebab keturunan akan membawa pengaruh pada keberkahan keluarga.

Kriteria Pasangan dalam Perspektif Budaya

Dalam tradisi dan budaya Nusantara, pemilihan pasangan hidup juga diwarnai nilai-nilai kearifan lokal, misalnya:

  • Restu orang tua dianggap penting karena diyakini membawa keberkahan.

  • Keseimbangan sosial – pertimbangan latar belakang keluarga, pendidikan, dan adat istiadat.

  • Kesiapan ekonomi dan tanggung jawab – agar rumah tangga tidak goyah karena faktor kebutuhan hidup.

  • Keharmonisan karakter – ada pepatah Minangkabau: “Sakato jo nan bana, barasok jo nan manuruik” (sepakat dengan kebenaran, serasi dengan kesesuaian).

Budaya menekankan harmoni dan keseimbangan, sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan maslahat dalam pernikahan.

Mengapa Menentukan Kriteria Lebih Dahulu?

  1. Menghindari keputusan emosional – jatuh cinta tanpa arah bisa menjerumuskan.

  2. Membangun visi jangka panjang – pernikahan bukan sekadar menyatukan dua individu, tapi juga membangun keluarga dan generasi.

  3. Menjaga prinsip agama – memastikan pasangan yang dipilih tidak hanya menyenangkan secara lahiriah, tapi juga mampu menuntun dalam agama.

  4. Memudahkan proses ta’aruf – dengan kriteria yang jelas, proses perkenalan lebih terarah dan sesuai tujuan.

Kesimpulan

Memilih pasangan hidup bukan sekadar soal “siapa orangnya”, tetapi lebih dahulu menetapkan “kriteria” sesuai panduan Al-Qur’an, Sunnah, dan budaya. Dengan kriteria yang matang—utama dalam agama dan akhlak, ditunjang kesiapan mental, sosial, dan budaya—baru kemudian menentukan siapa orang yang paling tepat.

Dengan demikian, pesan penting dalam memilih pasangan hidup adalah: “Tentukan kriteria pasangan hidupmu, baru tentukan orangnya.” Sebab kriteria yang benar akan membawa pada pilihan yang tepat, dan pilihan yang tepat akan mengantarkan pada rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. UWaS

Menjemput Takdir Menjadi Tamu Allah & Tamu Rasulullah


Menjemput Takdir Menjadi Tamu Allah & Tamu Rasulullah

Uwas hanyalah seorang hamba sederhana. Hidupnya pas-pasan, pekerjaannya biasa-biasa saja. Kalau ditimbang dari segi harta, orang mungkin akan berkata: “Mana mungkin Uwas bisa berangkat Umrah?” Namun, justru dari sosok inilah kita belajar bahwa tidak ada yang mustahil bila Allah sudah memanggil seorang hamba untuk menjadi tamu-Nya.

Sejak muda, Uwas sering berdoa dengan lirih, “Ya Allah, izinkan aku suatu saat menjejakkan kaki di Tanah Suci-Mu, menjadi tamu-Mu, menjadi tamu kekasih-Mu, Rasulullah ﷺ.” Doa itu terus ia panjatkan, kadang dengan linangan air mata, kadang dengan harapan yang disimpan dalam-dalam di sudut hatinya.

Hari demi hari, tahun berganti tahun, keajaiban itu perlahan terwujud. Tanpa ia sangka, Allah membuka jalan. Dari rezeki yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, dari bantuan tangan-tangan penuh kasih, dari niat tulus yang tidak pernah padam—akhirnya nama Uwas terdaftar sebagai jamaah umrah.

Ketika pertama kali melihat Ka’bah, tubuh Uwas gemetar. Air matanya jatuh deras, seakan seluruh beban hidup luruh di hadapan Baitullah. Ia merasa kecil, hina, tak berdaya, namun sekaligus dimuliakan karena diundang langsung oleh Allah. “Inilah bukti bahwa umrah bukan soal harta, bukan soal mampu atau tidak, tapi soal panggilan,” bisiknya lirih. 

Di Masjidil Haram, Uwas merasakan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan di tempat lain. Setiap putaran tawafnya adalah lantunan doa, setiap langkah sa’inya adalah perjalanan hidup yang penuh harap dan perjuangan.

Lalu, saat tiba di Madinah, hatinya semakin luluh. Menyampaikan salam di hadapan makam Rasulullah ﷺ membuatnya tersadar betapa besar kasih sayang Nabi kepada umatnya, termasuk dirinya yang sering lalai dan penuh kekurangan. Ada getaran batin yang sulit ia ungkapkan, seakan seluruh hidupnya hanya ingin ia persembahkan sebagai bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pengalaman Uwas mengajarkan, siapa pun bisa menjadi tamu Allah dan tamu Rasulullah. Kuncinya adalah memantaskan diri. Membersihkan hati, memperbaiki niat, memperbanyak amal, serta terus berdoa penuh keyakinan. Karena pada akhirnya, perjalanan umrah adalah tentang kemuliaan yang Allah anugerahkan, bukan tentang kemampuan manusia.

Keutamaan ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sungguh luar biasa. Satu kali shalat di Masjidil Haram nilainya seratus ribu kali dibanding shalat di masjid lainnya, sementara satu kali shalat di Masjid Nabawi nilainya seribu kali lipat. Tidak ada tempat di muka bumi yang lebih mulia untuk menundukkan hati dan jiwa selain di dua masjid ini.

Kini, setiap kali pulang dari ibadah umrah, Uwas selalu berpesan pada sahabat-sahabatnya:
“Jangan pernah ragu untuk bermimpi menjadi tamu Allah. Jangan pernah merasa tidak mungkin. Yang penting, pantaskan diri, perbaiki niat, lalu serahkan semuanya pada Allah. Karena bila Allah sudah memanggil, tak ada yang bisa menghalangi. Dan saat itu, engkau akan merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan—menjadi tamu Allah, tamu Rasulullah.”  UWaS

Da Jon Supir NPM: Jangan Lewati Waktu Subuh


Da Jon Supir NPM: Jangan Lewati Waktu Subuh

Namanya Jon, tapi para penumpang dan rekan sopir biasa memanggilnya Da Jon. Ia sudah puluhan tahun mengabdi sebagai supir bus NPM yang melayani rute antar kota antar provinsi di Sumatera. Ada satu prinsip hidup yang tidak pernah ia tinggalkan: jangan sekali-kali melewati waktu shalat Subuh di jalan.



Setiap kali azan Subuh tiba, di mana pun ia berada, Da Jon akan menepi dan mengarahkan busnya masuk ke halaman masjid atau mushalla terdekat. Para penumpang pun dipersilakan turun untuk menunaikan shalat. Sebagian awalnya heran, ada juga yang merasa perjalanan jadi sedikit tertunda. Namun lambat laun, para penumpang justru merasa tenteram. Mereka tahu, kalau naik bus yang dikemudikan Da Jon, insya Allah perjalanan terasa aman dan penuh keberkahan.


“Shalat Subuh itu bukan cuma kewajiban, tapi benteng dari bala. Saya sudah sering merasakannya,” kata Da Jon sambil tersenyum.

Kisah nyata pernah ia alami. Suatu malam, bus yang ia bawa terjebak dalam kondisi jalan yang rawan longsor. Di depan mereka, sebuah truk tergelincir dan menimpa mobil pribadi. Korban berjatuhan. Namun anehnya, bus yang ia kemudikan berhenti tepat beberapa meter sebelum titik longsor. Para penumpang gemetar menyaksikan kejadian itu.

“Saya yakin, itu semua karena kita tidak pernah meninggalkan Subuh di jalan,” ucapnya penuh keyakinan.

Ada pula kisah lain. Di sebuah perjalanan panjang, bus NPM yang ia kemudikan sempat mengalami rem blong di turunan. Para penumpang panik, sebagian berteriak histeris. Tapi entah bagaimana, bus bisa berhenti setelah menabrak pagar pembatas tanpa menimbulkan korban jiwa. Padahal, bagian depan bus hancur parah. Sejak itu, semakin banyak penumpang yang percaya: doa dan shalat Subuh di perjalanan telah menjadi penjaga keselamatan mereka. 

Begitu juga saat jalan licin, tidak hanya soal kemampuan mengemudi tapi saat Allah "turun tangan" menyelamatkan.

Para penumpang sering bercerita, naik bus Da Jon itu bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin. Ada rasa aman, ada ketenangan, ada keyakinan bahwa supir mereka mengemudi bukan hanya dengan keterampilan, tapi juga dengan keimanan.

Kini, setiap orang yang pernah menumpang bus bersama Da Jon akan bercerita pada kerabat dan teman:
“Kalau mau aman, naiklah bus NPM yang supirnya Da Jon. Dia pasti berhenti Subuh di masjid. Dan percayalah, itu membuat kita merasa dijaga Allah sepanjang perjalanan.” 

Apa yang diyakini Da Jon adalah sesuatu yang benar adanya dan seharusnya memang begitu, akan beda dengan sholat wajib lainnya seperti zhuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya yang bisa dilakukan dengan cara jama'/qashar baik secara taqdim maupun ta'khir.

Bagi Da Jon, keselamatan bukan hanya soal kecepatan atau keterampilan mengemudi. Lebih dari itu, keselamatan adalah buah dari ketaatan kepada Allah. Ia meyakini, shalat Subuh yang tidak ditinggalkan akan menjadi tameng dari berbagai musibah. UWaS



Rabu, 17 September 2025

Penyuluh Agama Cerahkan Lansia agar Hidup Tak Kesepian di Hari Tua

Penyuluh Agama Cerahkan Lansia agar Hidup Tak Kesepian di Hari Tua

Padang Panjang – Rabu, 17 September 2025, kegiatan Sekolah Lansia kembali digelar di Rumah Data Kependudukan Kelurahan Ekor Lubuk. Acara ini menghadirkan Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam sebagai pemateri utama dengan materi “Mengatasi Kesepian di Hari Tua menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Psikologi Agama”.

Kegiatan turut dihadiri oleh Shanum Yanti, Kepala Sekolah Lansia, yang didampingi oleh Penyuluh KB, Kikie MZ, serta mahasiswa Praktik Lapangan (PL) Jurusan Konseling UIN Batusangkar. Sebanyak 25 orang bapak-ibu lansia mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat.

Materi Penyuluhan

Dalam pemaparannya, Wahyu Salim menjelaskan bahwa masa lanjut usia sering diiringi dengan tantangan fisik, psikologis, dan sosial, salah satunya adalah rasa kesepian. Menurutnya, Islam menempatkan lansia pada posisi yang mulia. Firman Allah dalam QS. Al-Isra’: 23 memerintahkan manusia untuk berbakti kepada orang tua, dan Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya menghormati yang lebih tua.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kesepian dapat diatasi dengan:

  • memperbanyak dzikir dan doa,

  • menjaga shalat berjamaah dan ibadah sunnah,

  • memperkuat silaturrahim,

  • berbagi hikmah dan pengalaman kepada generasi muda,

  • serta menumbuhkan sikap sabar dan syukur.

Dari sisi psikologi agama, lansia dianjurkan untuk menemukan makna baru dalam hidup, aktif dalam kegiatan sosial, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mengembangkan hobi positif. Dengan demikian, hari tua tidak lagi identik dengan kesepian, melainkan menjadi fase penuh makna dan ketenangan.

Dukungan dari Sekolah Lansia

Kepala Sekolah Lansia, Hermina Yanti, A.Md. Keb menyampaikan bahwa tujuan penyelenggaraan sekolah lansia adalah mewujudkan lansia tangguh, sehat, bahagia, dan berdaya guna. Sekolah lansia diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran sekaligus sarana silaturrahim antar sesama lansia.

Sementara itu, Penyuluh KB, Rizki Meylinda Emzet, SKM memberikan motivasi agar para lansia senantiasa menjaga kesehatan, berpikir positif, dan tetap berbahagia meskipun berada di usia senja. Dukungan juga datang dari mahasiswa PL UIN Batusangkar yang ikut serta membantu jalannya kegiatan.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari peserta. Para lansia merasa mendapatkan pencerahan dan semangat baru untuk menghadapi hari tua dengan lebih optimis. Dengan adanya sekolah lansia, diharapkan tidak ada lagi lansia yang merasa sendiri, melainkan merasa dihargai, diperhatikan, dan mampu berkontribusi bagi keluarga maupun masyarakat. Apalagi disampaikan dengan gaya bahasa menarik penuh keakraban membuat mereka tertawa dan senyum bahagia.

Sebelumnya kegiatan diawali dengan senam lansia dan pembagian makanan ringan. UWaS 



 

Selasa, 16 September 2025

Lansia dan Upaya Mengatasi Kesepian di Hari Tua Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Psikologi Agama


Lansia dan Upaya Mengatasi Kesepian di Hari Tua Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Psikologi Agama

Oleh: Wahyu Salim Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
Disampaikan pada BImbingan Penyuluhan Agama di Sekolah Lansia Ekor Lubuk

Abstrak

Masa lanjut usia (lansia) merupakan fase kehidupan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisik, kognitif, dan sosial. Salah satu persoalan dominan pada lansia adalah kesepian yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan spiritual. Artikel ini membahas bagaimana perspektif Al-Qur’an, Sunnah, dan psikologi agama menawarkan solusi dalam menghadapi kesepian di hari tua. Dengan pendekatan integratif, tulisan ini menegaskan bahwa iman, ibadah, relasi sosial, serta makna hidup yang baru merupakan faktor kunci untuk mewujudkan ketenangan batin lansia.

Kata kunci: lansia, kesepian, Al-Qur’an, Sunnah, psikologi agama

Pendahuluan

Pertumbuhan jumlah lansia di Indonesia semakin meningkat seiring bertambahnya angka harapan hidup. Kondisi ini menuntut perhatian lebih terhadap kualitas hidup mereka, terutama dalam aspek psikososial dan spiritual. Salah satu permasalahan yang sering muncul adalah kesepian (loneliness), yaitu perasaan terasing, tidak dibutuhkan, dan kehilangan makna hidup. Menurut Data Indonesia Jumlah Lansia awal Tahun 2025 mencapai 34 Juta Jiwa atau 11, 8 % dari total penduduk Indonesia 283,5 Juta Jiwa.

Dalam perspektif Islam, lansia memiliki kedudukan mulia. Al-Qur’an memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua dan menghormati yang lebih tua (QS. Al-Isrā’: 23). Rasulullah ﷺ juga menegaskan: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda, dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi). Dengan demikian, penting untuk memberikan perhatian khusus kepada lansia agar terhindar dari kesepian, baik melalui pendekatan agama maupun psikologi.

Kesepian dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Al-Qur’an memberikan peneguhan bahwa Allah senantiasa bersama hamba-Nya:

“Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).

Ayat ini menekankan bahwa seorang mukmin tidak pernah benar-benar sendiri, sebab Allah adalah sebaik-baik penolong. Selain itu, Al-Qur’an mengajarkan dzikir sebagai penenang hati:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Sunnah Nabi ﷺ juga menunjukkan pentingnya aktivitas sosial dan spiritual di hari tua. Lansia dianjurkan memperbanyak ibadah, menjaga silaturrahim, serta berbagi pengalaman sebagai teladan bagi generasi muda. Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa setiap keadaan seorang mukmin adalah baik, baik saat mendapat nikmat maupun ujian, selama ia bersyukur dan bersabar.

Kesepian dalam Perspektif Psikologi Agama

Psikologi agama memandang kesepian sebagai persoalan psikologis yang dapat diatasi dengan penguatan spiritualitas. Keyakinan kepada Allah, keterlibatan dalam ibadah, dan relasi sosial berbasis iman terbukti meningkatkan ketahanan mental lansia.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lansia yang aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung memiliki tingkat depresi lebih rendah dan merasa lebih bahagia, seperti mengikuti majelis taklim, silaturrahim, ibadah di masjid/mushalla. Spiritualitas memberi makna baru dalam hidup, mencegah perasaan hampa, serta menumbuhkan harapan menghadapi keterbatasan fisik maupun sosial. 

QS. Yasin ayat 68, Allah berfirman: 

"Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah), maka apakah mereka tidak mengerti?"

Strategi Mengatasi Kesepian Lansia

a. Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

  1. Memperbanyak dzikir dan doa.

  2. Menjaga shalat berjamaah dan ibadah sunnah.

  3. Menjalin silaturrahim dengan keluarga dan masyarakat.

  4. Berbagi hikmah, pengalaman, dan nasihat.

  5. Menumbuhkan sikap sabar dan syukur dalam menghadapi keterbatasan.

b. Perspektif Psikologi Agama

  1. Menemukan makna baru dalam hidup, misalnya menjadi guru kehidupan.

  2. Aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan.

  3. Menjaga kesehatan fisik dan mental melalui olahraga ringan dan nutrisi seimbang.

  4. Mengembangkan hobi positif (membaca Al-Qur’an, berkebun, menulis).

  5. Membangun hubungan emosional dengan keluarga, teman sebaya, atau konselor agama.

Peran Keluarga dan Masyarakat

Keluarga memiliki peran utama dalam mendampingi lansia agar tidak merasa terabaikan. Anak dan cucu berkewajiban berbakti dan menjaga kehormatan orang tua. Sementara itu, masyarakat dapat mendukung melalui program ramah lansia seperti posyandu lansia, pengajian, atau komunitas sosial yang melibatkan orang tua secara aktif. Penyuluh agama juga berperan penting memberikan bimbingan rohani, motivasi, dan penguatan spiritual.

Kesimpulan

Kesepian pada lansia merupakan fenomena nyata yang berdampak pada kualitas hidup mereka. Al-Qur’an, Sunnah, dan psikologi agama sama-sama menekankan pentingnya aspek spiritual, sosial, dan psikologis dalam menghadapinya. Dengan memperbanyak dzikir, ibadah, silaturrahim, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan, lansia dapat menjalani hari tua yang bermakna dan terhindar dari kesepian. Oleh karena itu, dukungan keluarga, masyarakat, dan penyuluh agama sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah lansia. 

Daftar Pustaka

Sumber Al-Qur’an & Hadis

  • Al-Qur’an al-Karim.

  • HR. Tirmidzi, Kitāb al-Birr wa al-Ṣilah, no. 1919.

  • HR. Muslim, Kitāb al-Zuhd, no. 2999.

Buku & Artikel Ilmiah

  • Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Kairo: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005.

  • Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga, 1999.

  • Koenig, Harold G. Religion and Mental Health: Research and Clinical Applications. San Diego: Academic Press, 2018.

  • Santrock, John W. Life-Span Development. New York: McGraw-Hill, 2019.

  • Syafaat, Muhammad. “Religiusitas dan Kesehatan Mental pada Lansia.” Jurnal Psikologi Islami, Vol. 5, No. 2 (2022).

  • Wahyudi, Ahmad. Psikologi Agama: Teori dan Praktik dalam Kehidupan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2020.

Kamis, 11 September 2025

BRUS Hadir di SMKN 2 Padang Panjang, Kemenag Siapkan Generasi Berkarakter

BRUS Hadir di SMKN 2 Padang Panjang, Kemenag Siapkan Generasi Berkarakter

Padang Panjang – Upaya pembinaan remaja usia sekolah terus dilakukan Kementerian Agama. Pada Kamis, 11 September 2025, KUA Kecamatan Padang Panjang Timur melaksanakan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMKN 2 Padang Panjang, yang diikuti oleh 50 siswa kelas XI.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang, Mukhlis. Ia mengingatkan pentingnya pembekalan karakter sejak usia sekolah. “Generasi muda harus dibekali bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga akhlak, keimanan, dan ketangguhan menghadapi tantangan zaman. Tema BRUS hari ini, Mewujudkan Generasi Sholeh, Kuat, Hebat, Moderat, dan Bermanfaat, adalah cita-cita kita bersama,” ujarnya.

Dalam laporannya, Masrizon, Kepala KUA Padang Panjang Timur selaku ketua panitia, menyampaikan bahwa BRUS dirancang sebagai program derektori KUA Revitalisasi untuk membantu siswa mengenali jati diri, merumuskan cita-cita, serta belajar menghadapi dinamika perubahan zaman.

Fasilitator BRUS, Wahyu Salim, bersama tim mentor dari penghulu dan penyuluh agama, mengajak siswa untuk menggali potensi diri, melatih kecerdasan emosional, dan belajar mengambil keputusan yang tepat. Melalui sesi interaktif, para siswa diajak untuk lebih bijak dalam menyikapi arus globalisasi dan perkembangan teknologi.

Apresiasi juga datang dari Kepala SMKN 2 Padang Panjang, Yusma Elda, yang menilai BRUS sangat membantu sekolah dalam membentuk pribadi siswa. “Program ini sangat positif untuk mendukung anak-anak kita agar tumbuh dengan karakter kuat, berakhlak mulia, dan siap meraih masa depan,” tuturnya.

Suasana kegiatan berjalan hangat dan penuh semangat. Para siswa aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan merumuskan visi pribadi. Dengan adanya BRUS, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang berintegritas, tangguh, dan bermanfaat bagi bangsa. UWaS

Selasa, 09 September 2025

Kenapa Muhammadiyah Tidak Mengadakan Acara Istighotsah?

 

Kenapa Muhammadiyah Tidak Mengadakan Acara Istighotsah?

Tinjauan dari Perspektif Tarjih Muhammadiyah

Wahyu Salim Ketua PCM X Koto/Penyuluh Agama

Pendahuluan

Istighotsah merupakan praktik doa bersama yang cukup populer di kalangan umat Islam Indonesia, biasanya dilakukan untuk memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi bencana, persoalan bangsa, maupun kesulitan hidup. Walau begitu, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis tidak menjadikan istighotsah sebagai tradisi kelembagaan. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan di masyarakat: Mengapa Muhammadiyah tidak mengadakan istighotsah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami prinsip dasar tarjih Muhammadiyah dalam memandang ibadah, doa, dan zikir.

Prinsip Ibadah dalam Muhammadiyah

Majelis Tarjih Muhammadiyah berpegang pada kaidah “al-ashlu fi al-‘ibadat al-tawaqquf” (asal hukum ibadah adalah berhenti sampai ada dalil). Artinya, setiap bentuk ibadah mahdhah hanya bisa dilakukan jika ada landasan dari Al-Qur’an atau Sunnah yang sahih.

Himpunan Putusan Tarjih (HPT) menegaskan:

“Ibadah mahdhah tidak boleh diada-adakan dan tidak boleh pula dikurangi. Yang tidak ada tuntunannya, tidak boleh dijadikan ibadah.”1

Dalam konteks ini, istighotsah sebagai ritual berjamaah dengan bacaan tertentu dipandang tidak memiliki dasar yang jelas dari Nabi SAW, sehingga Muhammadiyah tidak menjadikannya sebagai amalan organisasi.

Doa dan Zikir Menurut Muhammadiyah

Muhammadiyah tidak pernah menolak doa atau zikir. Bahkan doa dipandang sebagai inti ibadah sebagaimana sabda Nabi:

“Ad-du‘ā’ mukhkhul ‘ibādah.” (HR. Tirmidzi)2

Namun, doa dan zikir lebih ditekankan dalam bentuk:

  1. Doa individual sesuai kebutuhan masing-masing muslim.

  2. Doa berjamaah yang mengikuti tuntunan Nabi, misalnya doa qunut, doa setelah shalat, atau doa bersama dalam majelis tanpa format khusus.3

Dengan kata lain, Muhammadiyah menerima doa bersama, tetapi tidak dalam format ritual istighotsah yang dipandang tidak memiliki dalil yang kuat.

Amal Nyata sebagai Wujud Istighotsah

Dalam menghadapi musibah atau krisis, Muhammadiyah menyeimbangkan tawakkal (doa) dan ikhtiar nyata. Sebagai contoh, ketika terjadi bencana alam, Muhammadiyah langsung menggerakkan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) untuk membantu korban, mendirikan posko, menyediakan makanan, dan layanan kesehatan.

Dengan cara ini, doa tidak berhenti pada lisan semata, melainkan diwujudkan dalam kerja nyata untuk menolong sesama.

Sikap Tarjih Muhammadiyah

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam beberapa fatwa menegaskan:

  1. Doa sangat dianjurkan dalam Islam, baik sendiri maupun bersama.

  2. Format doa bersama tidak boleh dipatenkan dalam bentuk ritual tertentu yang tidak ada contoh dari Rasulullah SAW.4

  3. Amal nyata adalah bagian dari doa yang hidup—memadukan spiritualitas dengan kerja sosial.

Oleh karena itu, Muhammadiyah memilih tidak mengadakan istighotsah sebagai agenda resmi organisasi, namun tetap mendorong warganya untuk banyak berdoa, berzikir, dan beramal saleh.

Penutup

Alasan Muhammadiyah tidak mengadakan acara istighotsah bukan karena menolak doa, tetapi karena konsisten dengan manhaj tarjih: memurnikan ibadah sesuai tuntunan Nabi SAW, menekankan doa secara pribadi maupun kolektif yang sederhana, serta mengutamakan amal nyata dalam menghadapi persoalan umat dan bangsa.

Dengan demikian, Muhammadiyah mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak hanya dicari dengan doa lisan, tetapi juga dengan amal kebajikan yang nyata, sebagai bentuk istighotsah yang sesungguhnya.

Footnotes

  1. Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Bab I: Ibadah, Penerbit Suara Muhammadiyah, cet. ke-5, 2018.

  2. HR. Tirmidzi, Kitab Da‘awat, no. 3371.

  3. Himpunan Putusan Tarjih, Bab Doa dan Zikir, hlm. 255–260.

  4. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Tanya Jawab Agama, jilid 3, Penerbit Suara Muhammadiyah, 2003.

Kamis, 04 September 2025

Meneladani Rasulullah SAW dalam Merajut Ukhuwwah dan Menjaga Persatuan Kesatuan Bangsa

 


Persatuan dan kesatuan merupakan modal utama dalam membangun bangsa yang kuat, sejahtera, dan bermartabat. Indonesia sebagai negara yang majemuk dengan keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama membutuhkan fondasi kokoh agar tidak mudah terpecah belah. Dalam hal ini, umat Islam dapat mengambil teladan agung dari Rasulullah SAW, yang telah berhasil merajut ukhuwwah (persaudaraan) serta membangun peradaban Madinah yang damai, adil, dan sejahtera.

Landasan al-Qur’an dan Sunnah tentang Persaudaraan

Al-Qur’an menegaskan pentingnya persatuan umat:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103).

Ayat ini memberikan arahan bahwa persatuan umat hanya dapat terwujud jika berlandaskan pada ajaran Allah SWT. Islam tidak menghendaki perpecahan, adu domba, maupun permusuhan, melainkan mengajak umat untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya (tersia-siakan)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa ukhuwah Islamiyah bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap saling menolong, melindungi, dan menjaga kehormatan sesama.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam Membangun Ukhuwwah

Ketika hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dalam ikatan yang tulus. Mereka saling berbagi harta, tempat tinggal, bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi saudara barunya. Model persaudaraan ini menjadi pondasi utama dalam membangun masyarakat Madinah yang damai meski dihuni oleh berbagai kabilah dengan latar belakang berbeda.

Rasulullah juga menjalin perjanjian dengan kelompok Yahudi Madinah melalui Piagam Madinah yang menegaskan hak dan kewajiban bersama dalam menjaga kota. Inilah bukti nyata bahwa Rasulullah tidak hanya menekankan ukhuwah Islamiyah, tetapi juga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Relevansi bagi Bangsa Indonesia

Bangsa Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar berupa polarisasi politik, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan upaya adu domba yang berpotensi melemahkan persatuan. Dalam konteks ini, umat Islam harus meneladani Rasulullah SAW:

  1. Menguatkan Ukhuwwah Islamiyah: Umat Islam perlu saling mendukung dan menghindari perpecahan hanya karena perbedaan pandangan.

  2. Menjaga Ukhuwwah Wathaniyah: Islam mengajarkan cinta tanah air (hubbul wathan minal iman). Oleh karena itu, menjaga persatuan bangsa Indonesia adalah bagian dari pengamalan iman.

  3. Membangun Ukhuwwah Insaniyah: Rasulullah SAW mengajarkan kasih sayang kepada seluruh manusia tanpa melihat latar belakang suku atau agama. Hal ini penting dalam konteks Indonesia yang plural.

  4. Menghindari Fitnah dan Adu Domba: Al-Qur’an memperingatkan agar umat tidak terjebak dalam kebencian yang dapat menghancurkan persaudaraan (QS. al-Hujurat [49]: 10–12).

Penutup

Persatuan dan kesatuan bangsa adalah amanah sekaligus nikmat yang wajib dijaga. Rasulullah SAW telah memberi teladan bagaimana membangun masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera melalui ukhuwah. Dengan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, umat Islam di Indonesia dapat berkontribusi nyata dalam menjaga keutuhan NKRI.

Semoga kita semua dapat meneladani Rasulullah SAW dalam merajut ukhuwah dan merawat persatuan bangsa demi tercapainya Indonesia yang damai, adil, dan diridhai Allah SWT. UWaS

Semangat Menuntut Ilmu

 

🕌 Hari ke-7

Kutipan Utama (Poster)

"Jika kamu tidak tahan dengan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan."
— Imam Syafi’i

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Semangat Menuntut Ilmu

Imam Syafi’i rahimahullah memberikan nasihat mendalam: "Jika kamu tidak tahan dengan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan." Kalimat ini menggambarkan bahwa ilmu adalah kunci kehidupan, tetapi jalan untuk meraihnya tidaklah mudah. Ia membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan keuletan.

Allah Swt. menegaskan keutamaan ilmu dalam Al-Qur’an:

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
(HR. Muslim)

Relevansi Modern:
Di era serba cepat ini, banyak orang ingin sukses instan tanpa melalui proses belajar. Padahal, ilmu tidak bisa diperoleh secara singkat; ia memerlukan disiplin, waktu, dan kesabaran. Jika kita malas belajar, kita akan terjebak dalam kebodohan yang lebih menyakitkan dibanding penatnya belajar.

Penutup:
Belajar adalah ibadah. Semangat menuntut ilmu harus terus dijaga, karena dengan ilmu hidup menjadi terarah, ibadah menjadi benar, dan kedudukan kita mulia di sisi Allah dan manusia. UWaS

Siapkan Generasi Berkarakter, KUA Padang Panjang Timur Gelar BRUS di SMKN 1 Padang Panjang

Padang Panjang – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padang Panjang Timur kembali menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), kali ini bersama siswa SMKN 1 Padang Panjang pada Rabu, 3 September 2025. Kegiatan yang diikuti oleh 50 siswa kelas XII Jurusan Manajemen Perkantoran Bisnis ini berlangsung penuh antusias.

Acara dibuka secara resmi oleh pihak sekolah yang diwakili oleh Waka Humas, Taufik Hidayat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara KUA dan sekolah. “Kami menyambut baik program BRUS ini, semoga memberikan manfaat yang luas bagi siswa dalam pembentukan karakter, akhlak mulia, serta kesiapan meraih masa depan dengan penuh integritas,” ungkapnya.

Kepala KUA Padang Panjang Timur, Masrizon, dalam arahannya menekankan bahwa pembekalan BRUS sangat penting bagi remaja usia sekolah. “Anak-anak kita harus disiapkan menghadapi tantangan zaman dengan bekal karakter yang kuat. Melalui BRUS, kita ingin mewujudkan generasi yang sholeh, kuat, hebat, moderat, dan bermanfaat,” tegasnya.




Kegiatan BRUS ini difasilitasi oleh Wahyu Salim, Penyuluh Agama sekaligus Ketua IPARI Kota Padang Panjang, yang didampingi tenaga mentor dari unsur penghulu dan penyuluh agama. Para siswa diajak mengenal diri, menggali potensi, merancang cita-cita, serta belajar bijak membaca perubahan zaman. Materi juga menekankan pentingnya keterampilan mengambil keputusan, pengelolaan emosi, serta membangun ketahanan diri di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi.

Kepala SMKN 1 Padang Panjang, Gusti Kamal, menyampaikan penghargaan yang tinggi atas penyelenggaraan BRUS di sekolahnya. “Program ini sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak kita hari ini. Selain menambah wawasan, BRUS juga membentuk kepribadian yang kuat, sehingga mereka siap bersaing sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai luhur agama dan budaya,” tuturnya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif, dengan siswa terlibat aktif dalam diskusi dan simulasi. Harapannya, BRUS tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. UWaS

KUA PADANG PANJANG TIMUR GELAR ZIKIR DAN DOA UNTUK KESELAMATAN NEGERI DAN KEDAMAIAN BANGSA

Padang Panjang – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padang Panjang Timur menggelar zikir dan doa bersama untuk keselamatan negeri serta kedamaian bangsa pada Selasa, 2 September 2025 di Masjid Hidayatussalam Koto Panjang setelah salat Ashar.

Kegiatan ini diikuti oleh jamaah, tokoh masyarakat, majelis taklim, lintas sektoral, penyuluh agama, penghulu, staf KUA, serta para santri TPQ. Kehadiran beragam unsur masyarakat tersebut menjadi wujud kepedulian bersama dalam menjaga persatuan dan memohon perlindungan Allah SWT agar bangsa senantiasa damai dan terhindar dari perpecahan.

Kepala KUA Padang Panjang Timur, Masrizon, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar spiritual yang harus terus dibudayakan. “Doa adalah senjata orang beriman. Semoga melalui zikir dan doa ini Allah menjaga negeri kita dari segala mara bahaya serta memberikan kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kebangsaan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Padang Panjang, Joni Nasri, yang hadir mewakili Kakankemenag, menyampaikan pesan penting agar masyarakat tetap bijak dalam bersikap, khususnya di tengah kondisi bangsa yang cukup memprihatinkan. “Mari kita rajut harmonisasi, bijak bermedsos, menyampaikan pendapat sesuai mekanisme yang ada, serta tidak terpengaruh oleh hasutan, fitnah, dan ajakan anarkis, karena semua itu hanya merugikan kita bersama,” tegasnya. 

Zikir dipimpin oleh Donal, sedangkan doa dipimpin oleh H. Zainal dengan penuh kekhusyukan. Hadir pula Wahyu Salim, Ketua IPARI Kota Padang Panjang, yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, zikir dan doa bersama bukan hanya memperkuat spiritualitas umat, tetapi juga menjadi modal penting dalam menjaga ketentraman sosial dan kedamaian bangsa.

Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama agar Indonesia senantiasa diberkahi Allah SWT, diberi keamanan, persatuan, dan dijauhkan dari segala bentuk perpecahan serta kekacauan yang merugikan masyarakat. UWaS 

Selasa, 02 September 2025

NILAI KEBAIKAN KECIL DINILAI BESAR

 

🕌 Hari ke-6

Kutipan Utama (Poster)

"Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena bisa jadi itu yang menyelamatkanmu dari api neraka."
— Abu Bakar Ash-Shiddiq

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Nilai Kebaikan Kecil yang Bermakna Besar

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., sahabat utama Rasulullah ﷺ, mengingatkan agar kita tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Sering kali manusia menilai sesuatu hanya dari besar kecilnya perbuatan. Namun, di sisi Allah, kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa bernilai besar.

Allah Swt. berfirman:

"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)."
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria."
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa senyum tulus, menyingkirkan duri di jalan, atau memberi seteguk air, bisa menjadi amal yang sangat berharga.

Relevansi Modern:
Di zaman sekarang, banyak orang berpikir kebaikan itu harus besar dan viral agar berarti. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tetap bernilai. Membalas pesan dengan doa, berbagi ilmu, atau sekadar memberi semangat bisa menjadi pahala yang besar jika diniatkan karena Allah.

Penutup:
Mari biasakan melakukan kebaikan, meski sederhana. Karena bisa jadi, amal kecil yang kita anggap sepele, justru itulah yang mengantarkan kita ke surga. UWaS

PENYULUH AGAMA BERSAMA WBP GELAR ZIKIR DAN DOA UNTUK KESELAMATAN NEGERI DAN KEDAMAIAN BANGSA


Padang Panjang, Selasa (2/9/2025) – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Rutan Kelas IIB Padang Panjang ketika para Penyuluh Agama Islam bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menggelar zikrullah dan doa bersama untuk keselamatan negeri dan kedamaian bangsa.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC Ust. Wahyu, yang menekankan betapa pentingnya zikir dan doa bersama dalam menghadapi tantangan bangsa saat ini. “Semoga dengan lantunan doa yang tulus, kita semua mampu lulus dalam ujian berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Rangkaian zikir dipimpin oleh Buya Donal didampingi Ust. Zulkarnaini yang membimbing bacaan ma’tsurat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis. Jamaah tampak khusyuk mengikuti setiap lafaz, memohon perlindungan dan rahmat Allah SWT bagi Indonesia.

Selanjutnya, Buya Haji Zainal menyampaikan tausiyyah Maulid dengan menegaskan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menjaga harmonisasi kehidupan. Beliau mengingatkan agar umat senantiasa menjauhi perpecahan, fitnah, serta adu domba. “Kita harus bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial, serta terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” pesannya.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Buya Gustiar. Dalam doa, dipanjatkan permohonan khusus untuk keselamatan bangsa, terhindar dari perpecahan, serta diberkahi dengan kepemimpinan yang adil, jujur dan amanah.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang dan petugas bidang pembinaan mental kerohanian Rutan, Bapak Rino.

Salah satu penggalan doa terinspirasi dari ayat suci al-Qur'an yang  berbunyi:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ 

(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” Al-Baqarah  [2]:126

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Menjaga,
Selamatkanlah bangsa ini dari perpecahan dan permusuhan.
Satukan hati kami dalam persatuan yang kokoh,
Dan jadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur."

Acara ditutup dengan penuh harap agar Indonesia senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, menjadi bangsa yang damai, sejahtera, dan diridhai-Nya. UWaS

Senin, 01 September 2025

MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM MENGENDALIKAN EMOSI

 


🕌 Hari ke-5

Kutipan Utama (Poster)

"Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."
— (HR. Bukhari-Muslim)

Wahyu Salim – Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang
#penyuluhagamaislambergerak


📖 Materi Penyuluhan Lengkap

Tema: Mengendalikan Emosi

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ukuran kekuatan seorang mukmin tidak diukur dari fisik semata, melainkan dari kemampuannya mengendalikan emosi. Banyak orang mampu mengalahkan lawan di medan laga, tetapi sedikit yang mampu mengalahkan dirinya sendiri ketika marah.

Allah Swt. memuji orang yang mampu menahan amarah dalam firman-Nya:

"...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
(QS. Ali ‘Imran: 134)

Mengendalikan emosi bukan berarti menekan perasaan, melainkan menyalurkannya dengan cara yang baik dan bijak. Orang yang marah namun mampu menahan diri akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu Allah persilakan dia memilih bidadari yang ia kehendaki."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Relevansi Modern:
Dalam kehidupan sehari-hari—baik di rumah, pekerjaan, maupun media sosial—emosi sering kali menjadi ujian. Mengendalikan amarah bukan kelemahan, justru tanda kekuatan iman.

Penutup:
Mari kita latih diri untuk sabar, menahan emosi, dan memilih kata bijak ketika marah. Dengan begitu, kita bukan hanya kuat di mata manusia, tetapi juga mulia di sisi Allah. UWaS

Overview: BRUS Wujudkan Generasi Sholeh, Sehat, Cerdas, Moderat & Bermamfaat yang Siap Menghadapi Tantangan Zaman

Tema-tema BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) yang mantap meliputi pembinaan remaja Islami, pencegahan pernikahan dini dan bullying, serta pemahaman dinamika perkembangan remaja untuk membangun remaja yang sehat dan siap menghadapi tantangan hidup. 

Beberapa Contoh Tema BRUS yang Populer dan Efektif:

·        Pembinaan Remaja Islami: Fokus pada penguatan karakter dan nilai-nilai agama pada remaja. 

·        Pencegahan Pernikahan Dini: Edukasi tentang bahaya dan dampak negatif pernikahan di usia muda. 

·        Pencegahan Bullying: Diskusi dan strategi untuk mengatasi perundungan di lingkungan sekolah. 

·        Dinamika Perkembangan Remaja: Membantu remaja memahami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang mereka alami. 

·        Manajemen Stres dan Kesehatan Mental: Memberikan pemahaman dan cara mengelola stres serta menjaga kesehatan mental. 

Ciri-ciri Tema BRUS yang Mantap: 

·        Relevan:

Mengangkat isu-isu yang benar-benar dihadapi oleh remaja usia sekolah, seperti yang tercantum dalam berita di atas.

·        Informatif:

Memberikan pengetahuan dan pemahaman yang baru bagi peserta didik.

·        Inspiratif:

Memotivasi remaja untuk bertindak positif dan membuat keputusan yang lebih baik untuk masa depan mereka.

·        Interaktif:

Mengajak peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan kegiatan.

 Dengan tema-tema yang tepat dan pelaksanaan yang menarik, BRUS dapat menjadi program yang efektif untuk membina remaja yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. UWaS