Rabu, 15 Januari 2025

Amalan Basuluak masih eksis di Sumatera Barat


 Padang Panjang, (Rabu, 15/1/25), Pada beberapa tempat di Sumatera Barat masih ditemukan sebagian masyarakat muslim yang melakukan amalan "Ba-suluak", terutama pada daerah-daerah pedesaaan & tradisional di masjid atau mushalla yang sudah tua.  Mereka asyik melakukan amalan zikir pada suatu tempat yang diberi kelambu seukuran satu orang bisa digunakan untuk sholat sunnah sekaligus tempat istirahat. Dalam praktek amalan tarekat (thariqat), "suluk" atau "suluak" memiliki arti sebagai berikut:


Definisi
Berasal dari bahasa Arab salaka_suluk yang berarti menempuh jalan, mengandung makna:
1. Perilaku atau tingkah laku yang baik dan terpuji.
2. Cara hidup yang sesuai dengan ajaran Islam dan tarekat.
3. Sikap mental dan spiritual yang positif.

Ciri-Ciri Suluk

1. Kesabaran (sabr) dalam menghadapi cobaan.
2. Ketaatan (taat) pada perintah Allah.
3. Keheningan (tawajud) dalam beribadah.
4. Kesadaran (taqwa) akan kehadiran Allah.
5. Kemurnian hati (ikhlas) dalam beramal.
6. Kemandirian (tawakkal) pada Allah.

Tujuan Suluk

1. Mencapai kesucian hati dan jiwa.
2. Meningkatkan kesadaran spiritual.
3. Membangun hubungan erat dengan Allah.
4. Mengembangkan akhlak mulia.
5. Mencapai maqam (tingkat) spiritual yang lebih tinggi.

Praktik Suluk

1. Shalat dan dzikir secara teratur.
2. Puasa dan berpantang.
3. Sedekah dan berbagi.
4. Menghindari dosa dan maksiat.
5. Bermeditasi dan berrefleksi.
6. Membaca Al-Qur'an dan kitab-kitab tarekat.

Sumber

1. Kitab "Al-Hikam" karya Ibn 'Ata Allah.
2. Kitab "Al-Muharrar al-Wajiz" karya Imam Ghazali.
3. Kitab "Al-Tanwir fi Isqat al-Tadbir" karya Syekh Abdul Qadir Jilani.
4. Ajaran-ajaran para ulama tarekat seperti Syekh Abdul Qadir Jilani dan Imam Ghazali.

Apakah anda tertarik? Semoga informasi ini membantu Anda memahami konsep suluk dalam praktek amalan tarekat. (UWaS)


Selasa, 14 Januari 2025

IRJEN KEMENAG RI FAISAL ALI HASYIM KUNJUNGI KUA REVITALISASI KECAMATAN PADANG PANJANG TIMUR

 


Padang Panjang, Selasa (14/1/2025) – Inspektur Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. H. Faisal Ali Hasyim, S.E., M.Si., CA., CSEP, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padang Panjang Timur. Dalam kunjungannya, Irjen Kemenag RI didampingi oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Batusangkar Prof. Delmus Puneri Salim, Ph.D, serta disambut hangat oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang Mukhlis, Kasi Bimas Joni Nasri, Kepala KUA M. Nur, beserta staf dan pejabat fungsional Penyuluh Agama Islam, termasuk Ketua Pengurus Daerah IPARI Kota Padang Panjang Wahyu Salim.

Kunjungan ini merupakan bentuk apresiasi dan evaluasi atas keberhasilan KUA Padang Panjang Timur sebagai salah satu KUA yang telah menjalani revitalisasi. Dalam sambutannya, Irjen Kemenag RI memberikan apresiasi atas sarana dan prasarana yang memadai, kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta inovasi layanan KUA yang telah berhasil mengintegrasikan data Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah) dengan data Catatan Sipil.

“Kami sangat mengapresiasi upaya KUA Padang Panjang Timur yang telah mampu mengintegrasikan layanan Simkah dengan data Catatan Sipil. Dengan integrasi ini, proses administrasi pernikahan menjadi lebih efisien dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Salah satu buktinya adalah pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan dapat segera menerima pembaruan status pada KTP dan Kartu Keluarga mereka,” ujar Dr. Faisal Ali Hasyim.

Tidak lupa Dr. Faisal Ali Hasyim mengingatkan insan kementerian agama untuk selalu memperhatikan keasrian dan keindahan lingkungan serta terus menjaga marwah kementerian agama baik di kantor maupun di tengah-tengah masyarakat, sesuai pesan Menteri Agama RI KH. Nasaruddin Umar.

Kehadiran Irjen Kemenag RI memberikan motivasi besar kepada jajaran Kementerian Agama Kota Padang Panjang, khususnya KUA Padang Panjang Timur. Dalam testimoninya, Kakankemenag Kota Padang Panjang, Mukhlis, menyampaikan rasa syukur dan penghargaan atas kunjungan tersebut.

“Alhamdulillah, kami merasa sangat bersyukur dan terhormat atas kunjungan Bapak Irjen Kemenag RI, Dr. H. Faisal Ali Hasyim, ke KUA Kecamatan Padang Panjang Timur. Kehadiran beliau menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujar Mukhlis.

Mukhlis juga menambahkan bahwa apresiasi dari Irjen terhadap sarana dan prasarana, SDM, serta inovasi layanan yang telah diwujudkan, menjadi pengakuan atas kerja keras seluruh tim KUA. “Semoga bimbingan dan arahan Bapak Irjen Kemenag RI senantiasa menjadi pedoman kami dalam melayani umat dengan lebih baik lagi,” tutupnya.

Kunjungan ini diharapkan dapat mendorong KUA lain untuk terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sesuai dengan visi dan misi Kementerian Agama Republik Indonesia.

Senin, 13 Januari 2025

Relawan Moderasi Gelar Penyuluhan Kerukunan di SD Fransiscus dengan Tema Silaturrahim Antar Umat Beragama


 

Padang Panjang, Jum'at, 10 Januari 2025 – SD Fransiscus menjadi tuan rumah kegiatan penyuluhan yang bertema Silaturrahim Antar Umat Beragama, yang digelar oleh Relawan Moderasi kerjasama Kementerian Agama Kota Padang Panjang & FKUB Kota Padang Panjang. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Wahyu Salim relawan moderasi dari  Koordinator Bidang Penyuluhan FKUB/Ketua PD IPARI Kota Padang Panjang, yang memberikan paparan tentang Konsep Silaturrahim Antar Umat Beragama, dan Fritha Nery Putri Zam Perencana Ahli Madya/Anggota Bidang Penyuluhan Kerukunan, yang membedah film pendek bertemakan Kerukunan dan Moderasi Beragama  dan memandu kuis.

Kegiatan ini mendapatkan respons luar biasa dari para siswa. Anak-anak tampak antusias mengikuti sesi demi sesi, terutama saat berbagai kuis dengan hadiah menarik diselenggarakan untuk menambah semarak acara.

Kepala SD Fransiscus, Buk Nel, mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan ini. “Kami sangat berbahagia karena ini sudah memasuki bagian ketiga dari program penyuluhan kerukunan ini. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan untuk membentuk generasi yang toleran dan saling menghargai perbedaan,” ujar Buk Nel.

Acara ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturrahim antarumat beragama sejak dini, menanamkan nilai-nilai toleransi, dan membangun karakter moderat pada siswa-siswi SD Fransiscus.

Wahyu Salim menjelaskan bahwa beberapa waktu yang lalu telah dikukuhkan relawan moderasi oleh Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mahyudin. Untuk Kota Padang Panjang disamping kami berdua juga telah ditunjuk beberapa relawan moderasi lainnya, antara lain Suarman, Joni Nasri, Gangga, Nofriyenti, Maulidia. Semoga ke depannya program ini bisa lebih sinergi dan integrasi.


Senin, 06 Januari 2025

Ustadz Fadlan Terpilih Sebagai Da'i Favorit Tingkat Sumatera Barat dan Lolos Seleksi PPPK Kementerian Agama




Padang, 4 Januari 2025 – Ustadz Fadlan kembali menorehkan prestasi gemilang dengan meraih gelar Da'i Favorit Tingkat Sumatera Barat dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama Republik Indonesia. Grand Final kompetisi ini diselenggarakan di Balai Diklat Keagamaan Padang dan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mahyudin.

Dalam acara yang berlangsung meriah tersebut, Ustadz Fadlan, yang diberi gelar Maulana, menampilkan gaya dakwahnya yang santun, ramah, dan lembut. Gaya penyampaiannya yang menyentuh hati tidak hanya memikat juri tetapi juga mendapat tempat istimewa di hati masyarakat.

Di hari yang sama, kebahagiaan Ustadz Fadlan semakin lengkap dengan pengumuman hasil seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Kementerian Agama Tahun 2024. Beliau dinyatakan lolos seleksi dan diterima sebagai PPPK, sebuah capaian yang semakin memperkokoh kiprahnya dalam dunia dakwah dan pelayanan masyarakat.

Wahyu Salim, Ketua IPARI Kota Padang Panjang, menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada Ustadz Fadlan atas prestasi yang diraih. "Kami, rekan-rekan penyuluh, sangat bangga dan turut berbahagia atas pencapaian luar biasa ini. Semoga Ustadz Fadlan semakin sukses dalam menjalankan amanah dakwahnya dan memberikan inspirasi bagi banyak orang," ujar Wahyu.

Prestasi ini menjadi bukti nyata dedikasi dan komitmen Ustadz Fadlan dalam menyebarkan nilai-nilai agama dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Semoga pencapaian ini menjadi langkah awal untuk kesuksesan yang lebih besar di masa depan.

Kamis, 02 Januari 2025

Refleksi Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-79 Tahun 2025


Padang Panjang, Pada peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-79 ini, saya merenungkan perjalanan panjang selama 20 tahun mengabdi sampai akhirnya bertugas sebagai penyuluh agama. Waktu yang begitu lama telah memberikan banyak pelajaran, pengalaman, dan hikmah yang memperkaya kehidupan pribadi, keluarga, dan pekerjaan saya. Pengabdian ini adalah anugerah sekaligus amanah besar yang harus terus dijalani dengan kesungguhan dan tanggung jawab.

Dua dekade telah saya lalui dengan berbagai tantangan dan keberhasilan. Sebagai penyuluh agama, saya merasakan betapa pentingnya peran ini dalam membangun akhlak, memberikan pemahaman agama yang moderat, serta menguatkan harmoni di tengah masyarakat. Tidak jarang saya menemui situasi yang sulit, tetapi keyakinan akan nilai kebaikan dan keberkahan selalu menjadi pendorong untuk terus melangkah.

Dalam perjalanan ini, saya menyadari bahwa pengabdian tidak hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas diri. Keinginan untuk terus menjadi lebih baik adalah bagian dari perjalanan spiritual saya, yang mencakup:

  1. Peningkatan Pribadi: Saya berkomitmen untuk terus memperbaiki diri melalui pembelajaran, baik dalam hal ilmu agama maupun kompetensi lainnya. Sebagai penyuluh agama, menjadi teladan adalah tanggung jawab moral yang harus selalu saya upayakan.

  2. Keberkahan Keluarga: Saya ingin memberikan contoh yang baik bagi keluarga, menjadikan mereka sumber inspirasi dan tempat untuk berbagi cinta serta kasih sayang. Kebahagiaan mereka adalah motivasi utama saya dalam mengabdikan diri mengharap ridho Allah SWT.

  3. Dedikasi pada Pekerjaan: Saya bertekad untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, dengan mengedepankan nilai-nilai keikhlasan, profesionalisme, dan inovasi. Saya percaya bahwa setiap langkah kecil yang saya ambil dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Saya membutuhkan tim solid & networking yang luas.

  4. Kemajuan Kementerian Agama: Dalam skala yang lebih besar, saya berharap dapat berkontribusi pada pencapaian visi dan misi Kementerian Agama. Sebuah lembaga yang terus bergerak menuju reformasi birokrasi yang berintegritas, melayani dengan hati, dan menjadi garda terdepan dalam menciptakan kerukunan umat beragama.

  5. Harapan Dunia dan Akhirat: Segala upaya yang saya lakukan tidak semata-mata untuk dunia, tetapi juga sebagai bekal akhirat. Saya berharap pengabdian ini diterima sebagai amal saleh dan menjadi ladang pahala yang terus mengalir.

Hari Amal Bakti ke-79 ini adalah momentum untuk merefleksikan perjalanan, mensyukuri apa yang telah dicapai, dan memperbaharui niat untuk melangkah lebih baik lagi. Semoga segala usaha kita dalam pengabdian kepada bangsa dan negara senantiasa diberkahi oleh Allah SWT. Mari bersama-sama melanjutkan perjuangan, menebar manfaat, dan menjadi agen perubahan bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan agama.

Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-79. Semoga Kementerian Agama terus menjadi pelita yang menerangi jalan kebaikan, dan kita semua menjadi bagian dari cahaya tersebut.

Wahyu Salim

Selasa, 31 Desember 2024

Bagaimana Seharusnya Kita Memaknai Datangnya Tahun Baru?

 


Padang Panjang, Setiap pergantian tahun selalu menjadi momen istimewa yang dinanti banyak orang. Perayaan, pesta kembang api, dan berbagai kegiatan seringkali menjadi simbol dari semangat menyambut tahun baru. Namun, di balik hiruk-pikuk dan kegembiraan itu, kita perlu merenung: bagaimana seharusnya kita memaknai datangnya tahun baru? Apakah hanya sebagai perayaan semata, atau ada pelajaran yang lebih mendalam yang bisa kita ambil?

1. Sebuah Waktu untuk Muhasabah

Tahun baru seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk bermuhasabah atau introspeksi diri. Kita perlu melihat kembali perjalanan hidup kita selama setahun terakhir. Apa saja yang telah kita capai? Apa yang masih belum tercapai? Bagaimana hubungan kita dengan Allah, keluarga, dan sesama manusia? Dengan merenungkan hal-hal ini, kita dapat mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki dan kelebihan yang harus dipertahankan. Muhasabah bukan hanya tentang pencapaian duniawi, tetapi juga tentang kualitas ibadah dan amal kebaikan yang telah kita lakukan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Al-Ḥasyr [59]:18

Pada ayat ini Allah mengingatkan orang beriman agar benar-benar bertakwa kepada Allah dan memperhatikan hari esok, akhirat. Wahai orang-orang yang beriman! Kapan dan di mana saja kamu berada bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh melakukan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya; dan hendaklah setiap orang siapa pun dia memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, yakni untuk hidup sesudah mati, di akhirat dengan berbuat kebaikan atas dasar iman, ditopang dengan ilmu dan hati yang ikhlas semata-mata mengharap rida Allah, sebab hidup di dunia ini sementara, sedangkan hidup di akhirat itu abadi; dan bertakwalah kepada Allah dengan menjaga hubungan baik dengan Allah, manusia dan alam.

2. Menyusun Resolusi yang Bermakna

Resolusi tahun baru sering kali menjadi klise karena banyak yang membuatnya tanpa komitmen yang jelas. Agar resolusi tidak hanya menjadi catatan kosong, buatlah tujuan yang realistis dan bermakna. Misalnya, meningkatkan kualitas ibadah, membaca lebih banyak buku, meluangkan waktu lebih banyak untuk keluarga, atau memulai kebiasaan hidup sehat. Pastikan resolusi tersebut disertai dengan rencana tindakan yang konkret agar mudah diwujudkan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi. Al-Anfāl [8]:60**3. **

3. Mengingat Waktu yang Terbatas

Datangnya tahun baru juga mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan dan usia kita semakin berkurang. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran." (QS. Al-Asr: 1-3).

Ayat ini mengajarkan bahwa waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang sering diabaikan. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.

4. Memperkuat Hubungan dengan Sesama

Tahun baru adalah momen yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, dan masyarakat. Mungkin ada kesalahpahaman atau konflik yang belum terselesaikan selama tahun lalu. Gunakanlah kesempatan ini untuk meminta maaf, memaafkan, dan menjalin kembali hubungan yang mungkin sempat renggang. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. Āli ‘Imrān [3]:112**5. **

5. Menjadikan Tahun Baru Sebagai Titik Awal Perubahan

Setiap awal adalah peluang untuk perubahan. Tahun baru bisa menjadi titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Perubahan tidak harus besar dan drastis, tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti meningkatkan kualitas shalat, memperbaiki cara berbicara, atau melatih kesabaran. Dengan perubahan kecil yang konsisten, kita dapat mencapai hasil yang besar di akhir tahun.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Ar-Ra‘d [13]:11

Kesimpulan

Memaknai datangnya tahun baru bukan sekadar soal perayaan, tetapi tentang merenungkan perjalanan hidup, bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik di masa depan. Tahun baru adalah anugerah dari Allah yang memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan setiap detik yang berlalu sebagai investasi menuju akhirat dan bekal untuk kehidupan yang abadi.

Selamat menyambut tahun baru dengan semangat muhasabah, perubahan, dan optimisme. Semoga Allah selalu membimbing langkah kita menuju kebaikan di dunia dan akhirat.

Tutup Periode Bimbingan Penyuluhan Tahun 2024, Penyuluh Gelar Muhasabah dan Do'a Bersama di Rutan Kelas IIB Padang Panjang

 


Padang Panjang, Selasa, 31 Januari 2024 – Mengakhiri periode bimbingan penyuluhan tahun 2024, Korp Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia Kota Padang Panjang menggelar acara muhasabah dan do'a bersama di Rutan Kelas IIB Padang Panjang. Acara ini berlangsung khidmat dengan melibatkan para penyuluh agama yang selama ini berkontribusi dalam pembinaan rohani dan kepribadian warga binaan.

Acara dimoderatori oleh Wahyu Salim, yang merangkap narasumber pertama. Dalam pengantar dan tausiyahnya, Wahyu Salim menyampaikan hikmah di balik penciptaan langit dan bumi serta perputaran siang dan malam, mengingatkan pentingnya merenungkan kebesaran Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Sesi berikutnya diisi oleh Maulana Fadlan, yang membahas amalan-amalan utama di bulan Rajab karena 1 Rajab 1446 H bersamaan masuknya 1 Januari 2024. Ia mengajak warga binaan untuk memperbanyak ibadah dan mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan yang akan tiba sekitar 60 hari lagi.

Sementara itu, Gustiar mengulas tema waktu dan kerugian, mengingatkan bahwa waktu adalah aset berharga yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar tidak menjadi golongan yang merugi sambil mengutip firman Allah SWT surah Al-Ashr.

Acara ditutup dengan do'a bersama yang dipimpin oleh Zulkarnaini, membawa suasana haru dan penuh pengharapan.

Dalam sambutannya, Roni, Pamong Bina Kepribadian Napi yang mewakili Kepala Rutan, menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas peran besar para penyuluh agama dalam membina rohani warga binaan sepanjang tahun 2024. Ia juga mengumumkan lima warga binaan yang telah berhasil menghafal satu juz Al-Qur'an yang berhak diwisuda dan mendapatkan piagam penghargaan oleh Kepala Rutan.

Pada kesempatan ini, apresiasi khusus disampaikan kepada Disman, penyuluh agama senior yang akan memasuki masa pensiun pada 1 Januari 2025. Kontribusi dan dedikasinya selama bertahun-tahun dalam memberikan bimbingan rohani di Rutan Kelas IIB Padang Panjang mendapat penghormatan tinggi dari seluruh pihak.

Acara ini menjadi penutup yang bermakna bagi periode bimbingan penyuluhan tahun 2024 dan menjadi momentum untuk melangkah lebih baik di tahun 2025.

Senin, 30 Desember 2024

Ijtihad Spritual: Kamu Berada Di Tempat Yang Paling Dibutuhkan

Padang Panjang, Wahyu, seorang PNS muda yang penuh idealisme, telah meniti karier panjang di berbagai jabatan struktural. Pengalaman yang kaya dan kemampuannya yang cemerlang menjadikannya sosok yang dianggap banyak orang sebagai pemimpin masa depan. Namun, pada tahun 2020, Wahyu membuat keputusan yang mengejutkan: ia memilih untuk mengikuti inpassing ke jabatan fungsional sebagai penyuluh agama.

Keputusan ini menuai berbagai reaksi. "Wahyu, kamu berada di tempat yang paling dibutuhkan," kata Buk Yet, seorang analis kepegawaian yang memahami kedalaman keputusan tersebut. Namun, tidak sedikit yang menganggap langkah ini sebagai blunder besar. "Dia adalah calon pemimpin berikutnya," kata beberapa kolega dengan nada menyesal. Namun, bagi Wahyu, keputusan ini bukan sekadar langkah karier. "Ini adalah hasil dari ijtihad spiritual yang bersifat birokratis," jelasnya dengan penuh keyakinan. "Saatnya memberi kesempatan kepada yang lebih muda dan energik untuk melanjutkan regenerasi." The Leader Create The Leader, begitu filosofi yang Wahyu bangun.

Sekarang, lebih dari tiga tahun sejak keputusan tersebut, Wahyu menjalani tugas sebagai penyuluh agama dengan penuh dedikasi. Tantangan tentu ada, namun ia meyakini bahwa dengan niat ikhlas dan profesionalisme, segala hambatan dapat diatasi. Salah satu hikmah terbesar dari peran barunya adalah ketenangan dan keberkahan hidup yang ia rasakan. Setiap tahun, ia mendapatkan apresiasi berupa undangan untuk mengikuti kegiatan nasional di pusat. Pengalaman ini memperkaya wawasan dan mempertebal semangatnya untuk terus berkarya.

"Setiap tugas memiliki tantangannya sendiri," ujar Wahyu. "Namun, saya percaya bahwa Allah selalu membersamai mereka yang bekerja dengan ikhlas dan tulus." Bagi Wahyu, menjadi penyuluh agama bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan hati untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, membimbing mereka dalam nilai-nilai keagamaan, dan menjadikan hidup lebih bermakna.

Kini, Wahyu dapat dikatakan menjadi panutan bagi rekan-rekannya. Ia pun dipilih menjadi Ketua Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia tempat ia bertugas. Keputusannya yang dulu dianggap kontroversial ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari posisi atau jabatan, melainkan dari ketulusan hati dalam menjalankan amanah. Wahyu menjalani hidupnya dengan penuh syukur, percaya bahwa di manapun ia berada, Allah akan selalu memberikan jalan terbaik. Keep Good Spirit...!!!

Cerita Antara Teman Senior dan Junior

Padang Panjang, Pada suatu masa, di sebuah kantor pemerintahan di kota kecil yang tenang, Wahyu dan Disman dipertemukan oleh takdir dalam lingkup pekerjaan yang sama. Wahyu, seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang baru beberapa tahun bertugas, datang dengan semangat membara dan idealisme tinggi. Sementara itu, Disman, seorang senior yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade, memandang dunia dengan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang. Mereka dipisahkan jarak usia lebih satu dekade.

Wahyu terkesan dengan sosok Disman. Meskipun usianya sudah senja, Disman tetap penuh dedikasi, luas pergaulan dan tidak memilih-milih teman. "Pak Disman, bagaimana Bapak bisa bertahan selama ini?" tanya Wahyu suatu hari saat mereka berbincang di sela-sela pekerjaan.

Disman tersenyum tipis, mengaduk kopi hitam di cangkirnya. "Wahyu, hidup ini seperti roda. Ada saatnya kita di atas, ada saatnya kita di bawah. Apa yang membuat saya bertahan adalah kesadaran bahwa setiap masa memiliki hikmahnya sendiri," jawab Disman.

Wahyu mengangguk, meski belum sepenuhnya memahami. Hari demi hari, ia melihat bagaimana Disman menghadapi setiap tantangan pekerjaan dengan tenang, meski tak jarang kebijakan yang datang dari atasan terasa membingungkan. Suatu kali, ketika tugas di kantor menghadapi kendala, Wahyu merasa stres dan hampir menyerah, berbeda kenyataan di lapangan dengan nilai-nilai ideal yang ia pahami. Disman hanya menepuk pundaknya. "Tenang, Dik. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Sabar dan syukuri apa yang bisa kita pelajari dari ini."

Waktu berlalu, dan Wahyu mulai menyadari kebenaran kata-kata Disman. Ia belajar dari cerita-cerita masa lalu seniornya: perjuangan di awal karier, kesalahan yang menjadi pelajaran, dan momen-momen kecil yang membawa kebahagiaan. Wahyu mulai memahami bahwa kesabaran dan rasa syukur adalah kunci menghadapi sekolah kehidupan yang panjang ini.

Disman pernah bercerita bagaimana ia harus berjuang dari nol. Di masa mudanya, ia pernah hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di masjid, menjadi agen angkutan, bekerja keras sambil menempuh pendidikan. "Dulu, Dik, saya hanya punya sepeda motor tua untuk pergi ke kantor. Tapi itu tidak mengurangi semangat saya. Saya percaya bahwa Allah selalu menggilirkan masa. Saat kita di bawah, kita belajar bersabar. Saat kita di atas, kita belajar bersyukur." Di samping PNS, Disman sudah lama menggarap sawah, kebun coklat, kopi, durian dan pokat, sekarang tinggal memetik hasilnya.

Ketika tiba saatnya Disman pensiun, Wahyu merasa kehilangan seorang mentor. Di hari terakhir Pak Disman masuk kerja, Wahyu mengungkapkan kesan mendalam. "Pak Disman mengajarkan saya lebih dari sekadar pekerjaan. Beliau mengajarkan arti kehidupan, tentang bagaimana menghadapi segala tantangan dengan kepala tegak dan hati yang penuh rasa syukur."

Disman tersenyum haru. "Wahyu, hidup ini terus berputar. Sekarang giliranmu untuk menjalani masa-masamu sendiri. Ingat, Dik, setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya."

Setelah Disman pensiun, Wahyu mengambil tanggung jawab lebih besar di kantor. Ia melanjutkan warisan kebijaksanaan yang pernah diajarkan Disman, menjadi teladan bagi rekan-rekan kerja yang lebih muda. Dalam setiap tantangan, Wahyu selalu teringat nasihat seniornya: bersyukur saat di atas, bersabar saat di bawah, dan belajar dari setiap fase kehidupan.

Demikianlah, kehidupan terus bergulir seperti roda yang tak pernah berhenti berputar. Setiap masa membawa pelajaran, dan setiap orang memainkan perannya di sekolah kehidupan yang luas dan panjang ini.

Kiprah Relawan Moderasi Merawat Kerukunan


Padang Panjang, Pada pagi yang cerah, di sebuah SD Kristen yang asri, suasana begitu semarak. Sekolah itu unik karena dihuni oleh murid-murid dari berbagai latar belakang agama: Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Kong Hu Cu. Buk Nel, kepala sekolah yang bijaksana, percaya bahwa pendidikan harus menjadi jembatan kerukunan di tengah keberagaman. Hari itu, sekolah mengadakan penyuluhan tentang kerukunan lintas agama dengan mengundang Wahyu dan Riri, dua relawan penyuluh moderasi yang penuh semangat.

Wahyu memulai acara dengan senyuman lebar. "Adik-adik, tahu tidak, Indonesia itu kaya sekali. Ada banyak suku, budaya, dan agama. Kita semua berbeda, tapi tetap satu keluarga besar," katanya dengan nada ceria. Anak-anak tampak antusias, beberapa mengangguk sambil tersenyum.

Riri melanjutkan, "Kalau kita bisa saling menghormati perbedaan, dunia akan menjadi tempat yang lebih damai & indah. Hari ini, kita akan belajar bagaimana menjaga kerukunan, seru dan asyik lho!"

Penyuluhan itu dikemas menarik. Wahyu dan Riri memutarkan sebuah film pendek tentang kerukunan, yang menceritakan kisah persahabatan anak-anak dari berbagai agama. Murid-murid terpaku menonton, beberapa bahkan terlihat tersentuh.

Setelah film selesai, Riri mengadakan sesi kuis. "Siapa yang bisa sebutkan tiga cara menjaga kerukunan dengan teman yang berbeda agama?" tanyanya. Beberapa tangan kecil terangkat dengan semangat. Seorang murid bernama Budi menjawab, "Saling menghormati, tidak mengejek, dan membantu teman yang kesusahan."

"Tepat sekali, Budi!" seru Wahyu sambil memberikan hadiah kecil berupa stiker bertema kerukunan, kue & buku saku.

Sesi berikutnya adalah dialog interaktif. Wahyu mengajukan pertanyaan sederhana kepada murid-murid. "Apa yang kalian lakukan jika teman kalian sedang berdoa?"

Seorang murid bernama Clara menjawab, "Kita diam dan tidak mengganggu." Murid-murid lain mengangguk setuju.

Sebagai puncak acara, murid-murid diajak mempraktikkan cara berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Anak-anak Muslim membaca doa-doa pendek, murid Kristen menyanyikan pujian, sementara anak-anak Buddha dan Kong Hu Cu melafalkan doa sesuai tradisi mereka. Semua berlangsung dalam suasana penuh penghormatan.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Murid-murid, guru, dan relawan penyuluh berpose dengan ceria. Sebelum berpisah, mereka bersama-sama meneriakkan yel-yel yang dipandu Riri:

"Jaga kerukunan! Jaga Indonesia! Damai selalu, kita semua saudara!"

Sorak-sorai memenuhi aula sekolah. Buk Nel, dengan mata yang berbinar, menyampaikan terima kasih kepada Wahyu dan Riri. "Penyuluhan ini sangat berarti bagi kami. Anak-anak belajar sedini mungkin bahwa kerukunan adalah fondasi dari kehidupan yang harmonis."

Wahyu dan Riri tersenyum puas. Mereka tahu, langkah kecil ini akan membawa dampak besar di masa depan. Di tengah keberagaman, kerukunan adalah kunci untuk menjaga persatuan bangsa. Inilah sedikit kisah kiprah relawan moderasi merawat kerukunan.

Penyuluhan Agama pada Komunitas Ojek


Padang Panjang, Di sebuah sudut kota yang ramai, terdapat sebuah pangkalan ojek yang menjadi tempat berkumpulnya para pejuang nafkah. Mereka adalah Buyung, Ujang, Sutan, dan beberapa rekan lainnya. Setiap hari, mereka menghadapi teriknya matahari dan guyuran hujan demi membawa pulang rezeki untuk keluarga. Suatu pagi, kedatangan tamu tak terduga mengubah suasana pangkalan itu.

Wahyu, Disman, Fadlan, Donald, dan Lili, tim penyuluh agama, tiba dengan senyuman hangat. Dengan membawa semangat dakwah, mereka ingin berbagi ilmu agama kepada para tukang ojek. Wahyu membuka dialog dengan gaya persuasif yang ramah. "Assalamu'alaikum, bapak-bapak. Kami dari tim penyuluhan ingin berbagi sedikit ilmu agama sambil menemani bapak-bapak menunggu penumpang. Semoga bisa menjadi tambahan bekal untuk keseharian kita."

Buyung, yang dikenal sebagai pemimpin tidak resmi di pangkalan itu, menyambut dengan ramah. "Wa'alaikumussalam, Pak. Silakan, kami senang ada yang mau berbagi ilmu di sini."

Disman kemudian mengambil alih, membuka dengan cerita singkat tentang pentingnya waktu dalam mencari rezeki yang halal. "Bapak-bapak, waktu kita ini ibarat pedang. Kalau kita gunakan dengan baik, insya Allah akan membawa keberkahan. Tapi kalau disia-siakan, malah bisa melukai diri sendiri."

Para tukang ojek mulai tertarik. Wahyu melanjutkan dengan meminta beberapa dari mereka membaca ayat-ayat al-Qur'an yang sederhana. "Pak Buyung, mungkin bisa mencoba membaca surat Al-Fatihah? Jangan khawatir salah, kami di sini belajar bersama," ujar Wahyu dengan lembut.

Buyung, meskipun agak gugup, mencoba membaca dengan suara lirih. Setelah selesai, Fadlan memuji usahanya. "Masya Allah, Pak Buyung. Bacaan yang bagus! Sedikit demi sedikit, kita bisa memperbaiki bacaan kita."

Giliran Ujang diminta membaca bacaan sholat. Ujang, yang awalnya malu-malu, akhirnya memberanikan diri. "Allahu Akbar..." suaranya terdengar gemetar, tetapi itu tidak mengurangi semangatnya. Tim penyuluh memberikan bimbingan dan masukan dengan penuh kesabaran.

Donald dan Lili kemudian berbicara tentang pentingnya keikhlasan dalam bekerja. "Setiap tetes keringat bapak-bapak adalah ibadah jika diniatkan untuk mencari nafkah yang halal," kata Donald. Lili menambahkan, "Yang penting bukan seberapa banyak yang kita dapat, tapi seberapa berkah hasilnya untuk keluarga." Ternyata ada juga tukang ojek wanita, Lili memberi motivasi & pujian atas perjuangan komunitas ojek wanita ini yang khusus melayani penumpang wanita, tak terkecuali ASN wanita Kemenag Padang Panjang sering memesan jasa mereka, untuk terus berjuang dengan penuh keikhlasan. " Kami lakukan ini agar-agar anak-anak bisa sekolah dan sukses, penghasilan suami cukup untuk kebutuhan harian saja", curhat Buk Evi kepada Lili, tampak terlihat air keluar di sudut matanya. "Yakin dan percayalah, Allah SWT melihat ketulusan perjuangan ibu-ibu, hasilnya nanti anak-anak akan sukses semuanya", ujar Lili meyakinkan.

Setelah sesi belajar, Wahyu membuka sebuah tas besar dan membagikan wakaf Qur'an serta buku Iqra kepada para tukang ojek. "Ini adalah hadiah dari kami untuk bapak-bapak. Semoga bisa digunakan untuk terus belajar dan mendekatkan diri kepada Allah, al-Qur'an ini kami salurkan dari para dermawan dan bantuan dari Baznas" ujar Wahyu dengan penuh harap, sambil menoleh ke Pak Syam pengurus Baznas yang turut hadir sebagai ungkapan terima kasih telah mendukung tugas penyuluh.

Para tukang ojek terlihat sangat terharu. Sutan, yang jarang berbicara, mengucapkan terima kasih dengan suara bergetar. "Terima kasih banyak, Pak. Kami merasa dihargai, meskipun pekerjaan kami sederhana."

Sebagai penutup, tim penyuluh memberikan beberapa nasihat praktis. "Jangan lupa membaca doa sebelum berangkat bekerja, dan jangan pernah merasa malu dengan pekerjaan halal. Semua pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik pasti diberkahi," kata Fadlan.

Hari itu menjadi momen berharga bagi semua yang hadir. Tim penyuluh dan para tukang ojek merasa mendapat pelajaran baru, bahwa dakwah tidak harus dilakukan di tempat yang megah atau formal. Di bawah pohon rindang pangkalan ojek, semangat kebersamaan dan keimanan tumbuh subur. Para tukang ojek merasa lebih bersemangat, tidak hanya dalam mencari nafkah, tetapi juga dalam memperbaiki hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Hormat kami pada para pejuang nafkah, komunitas ojek dimanapun berada.

Suka Duka Pegiat Penyuluh Agama Lintas Komunitas


Padang Panjang, Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, ada sekelompok orang yang selalu siap mengabdikan diri demi kebaikan bersama. Mereka adalah Wahyu, Disman, Lili, Adri, Donald, Ely, Yarni, dan Fadlan. Dengan semangat yang membara, mereka membentuk tim penyuluhan yang fokus memberikan pembinaan agama di berbagai komunitas. Motto mereka, "Kebersamaan adalah Kunci Kesuksesan," menjadi landasan kuat dalam setiap langkah yang mereka tempuh.

Setiap anggota tim memiliki peran yang berbeda-beda. Wahyu dan Disman sering bergantian menjadi moderator yang mengarahkan diskusi dengan elegan. Lili, dengan suaranya yang merdu, kerap dipercaya menjadi MC. Adri dan Donald, dengan pengetahuan agamanya yang mendalam, berperan sebagai narasumber utama. Ely, Yarni, dan Fadlan mengisi posisi penting di tim media dan humas, memastikan pesan-pesan dakwah mereka tersampaikan dengan baik kepada masyarakat luas. Walau peran tersebut tidak baku, mereka ikhlas & tulus berbagi peran karena mereka menyadari masing-masing punya kelebihan, talenta & spesialisasi yang berbeda, sudah seharusnya saling mendukung, menguatkan dan menopang keberhasilan tugas bersama.

Perjalanan tim ini tidak selalu mudah. Suatu hari, mereka mendapat tugas untuk memberikan penyuluhan di sebuah rumah sakit yang tak terlalu jauh dari kota. Perjalanan memang tak terlalu memakan waktu berjam-jam namun kondisi cuaca yang sering berubah-rubah, maklum namanya saja kota hujan menjadi tantangan tersendiri. Hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan, membuat suhu semakin dingin. Meski harus merogoh kocek pribadi untuk transportasi dan konsumsi, tak satu pun dari mereka mengeluh.

"Kita tidak sedang mencari kemewahan, tetapi keberkahan," kata Wahyu, menyemangati anggota tim lainnya.

Saat tiba di rumah sakit, mereka disambut dengan antusias oleh para pasien dan tenaga medis. Lili membuka acara dengan penuh semangat, membangun suasana hangat meskipun hujan di luar belum berhenti. Adri dan Donald memberikan penyuluhan tentang pentingnya kesabaran dan doa dalam menghadapi ujian hidup. Ely dan Fadlan sibuk mendokumentasikan momen-momen tersebut, sementara Yarni memastikan semua kebutuhan teknis acara berjalan lancar.

Di lain waktu, mereka diundang ke sebuah rumah tahanan. Di tempat ini, mereka menghadapi tantangan yang berbeda. Beberapa penghuni rutan terlihat enggan mendengarkan, tetapi Disman, dengan kepiawaiannya dalam berbicara, berhasil menarik perhatian mereka. "Setiap orang punya kesempatan untuk berubah, dan perubahan dimulai dari hati," ucapnya dengan penuh keyakinan. Pesan itu menggugah banyak penghuni rutan, bahkan beberapa dari mereka terlihat meneteskan air mata.

Mereka juga sering mengisi kegiatan di majelis taklim, kelompok ekonomi syariah, pangkalan ojek, taman pendidikan al-Qur'an, hingga pembinaan remaja. Meskipun tempat dan audiensnya berbeda, semangat mereka selalu sama. Ada kalanya mereka harus menghadapi jadwal yang padat dan perjalanan yang melelahkan, tetapi mereka selalu menemukan kekuatan dalam kebersamaan.

Suatu hari, setelah menyelesaikan serangkaian penyuluhan, mereka berkumpul di sebuah warung sederhana untuk makan bersama. Sambil menikmati hidangan, Ely berkata, "Aku merasa setiap perjalanan kita bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk kita sendiri. Kita belajar banyak dari orang-orang yang kita temui."

"Benar," tambah Yarni. "Mungkin kita yang dianggap memberikan penyuluhan, tapi sebenarnya kita juga mendapatkan pelajaran hidup dari mereka."

Semua mengangguk setuju. Mereka sadar bahwa pengabdian ini bukan hanya tentang berbagi ilmu, tetapi juga tentang memperkuat persaudaraan dan membangun nilai-nilai bersama. Dalam suka maupun duka, mereka tetap kompak. Tidak peduli seberapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, kebersamaan selalu menjadi energi yang menguatkan.

Kisah tim penyuluhan ini menjadi bukti bahwa ketika hati dan tujuan bersatu, tidak ada halangan yang tidak dapat diatasi. Mereka adalah inspirasi nyata bahwa kebersamaan adalah kunci dari segala kesuksesan. Bagi mereka semoga "lelah menjadi lillah" & "selalu bergerak menebar mamfaat".

SERI CERITA KERUKUNAN: DUNIA KERJA PENUH INTRIK


Padang Panjang, Di sebuah lembaga pemerintahan yang megah, berdiri tokoh utama kita, Wahyu, seorang pegawai berdedikasi tinggi. Dengan penuh semangat, Wahyu menjalani hari-harinya di kantor, memegang teguh prinsip kejujuran dan profesionalitas. Ia percaya bahwa pengabdiannya adalah untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi.

Disman, rekan kerja sekaligus sahabat sejati Wahyu, selalu mendukungnya. Disman adalah tipe orang yang rendah hati, dengan selera humor yang mampu mencairkan suasana tegang di kantor. Mereka sering bekerja sama dalam menyelesaikan proyek-proyek besar yang menuntut ketelitian dan kecepatan. Keduanya berbagi visi yang sama, bahwa pekerjaan mereka harus membawa manfaat bagi banyak orang.

Namun, di balik kesibukan itu, suasana di kantor tidak selalu harmonis. Ada "badai" dan "topan," dua kolega yang dikenal dengan sikapnya yang sering kali menimbulkan konflik. Badai adalah orang yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Wahyu, sementara Topan lebih licik, memendam rasa iri dalam senyap tetapi diam-diam menjegal usaha Wahyu.

Badai sering meremehkan Wahyu di depan kolega lain, mencoba memojokkannya dalam rapat-rapat penting. Sedangkan Topan lebih berbahaya; ia memutarbalikkan fakta, menyebarkan kabar burung yang merusak nama baik Wahyu. Bahkan ada saat di mana laporan yang dikerjakan Wahyu dengan susah payah diakui sebagai hasil kerja Topan.

Meski menghadapi situasi seperti ini, Wahyu tetap tegar. Disman menjadi penopangnya, memberikan nasihat dan membantu Wahyu fokus pada tujuan besar mereka. "Jangan biarkan mereka membuatmu kehilangan arah, Wahyu. Kerja keras kita akan bicara lebih lantang daripada fitnah mereka," kata Disman suatu hari saat mereka sedang lembur bersama.

Kehidupan di kantor pemerintahan memang penuh warna. Ada yang mengagumi kerja keras Wahyu, tetapi tidak sedikit yang iri dan berharap melihatnya gagal. Dalam tekanan pekerjaan yang berat, Wahyu menemukan bahwa integritas adalah kompasnya. Ia memutuskan untuk tidak terpengaruh oleh intrik dan tetap fokus pada visi dan misinya.

Suatu hari, proyek besar yang mereka kerjakan berhasil dengan gemilang. Masyarakat memuji hasil kerja tim Wahyu dan Disman. Bahkan, pemimpin lembaga memberikan penghargaan khusus kepada mereka. Namun, seperti biasa, Badai dan Topan tidak tinggal diam. Mereka mencoba mencari celah untuk menjatuhkan Wahyu, tetapi kali ini, kolega lain mulai melihat siapa sebenarnya yang benar-benar bekerja keras.

"Hidup ini bukan soal siapa yang terlihat menang sementara, tapi siapa yang tetap berdiri dengan kepala tegak di akhir perjalanan," gumam Wahyu sambil menatap keluar jendela kantornya. Ia sadar, badai dan topan dalam hidupnya hanyalah ujian untuk menguji keteguhan hatinya.

Dengan dukungan Disman, Wahyu melanjutkan langkahnya. Ia belajar bahwa meskipun ada yang membenci, selalu ada yang menginspirasi. Dalam dunia yang penuh persaingan dan intrik, hanya mereka yang fokus pada kebaikan yang akan bertahan dan meninggalkan jejak berarti. Sementera di tempat lain, Badai & Topan merasakan akibat kedengkian & kemunafikannya, hidup tak seperti berteman, ia datang orang pergi, ia bicara orang tak menanggapi.

Inilah suatu kisah gambaran dunia kerja tanpa dibangun nilai-nilai etika & kode prilaku yang tidak jelas, justru akan membuat kerugian yang sangat besar kepada diri sendiri dan juga berdampak kepada kinerja organisasi. Yang baik ditiru yang tidak baik jangan dicontoh!!!

Minggu, 29 Desember 2024

DO'A TERBAIK UNTUK ISTRIKU TERCINTA



DO'A TERBAIK UNTUK ANAKKU ABDUL KARIM RAMADHAN


 

DO'A TERBAIK UNTUK ANAKKU NASHEH AMIN ALFARUKI


 

DO'A TERBAIK UNTUK ANAKKU ABID RAHMAN MUTTAQIN


 

DO'A TERBAIK UNTUK ANAKKU HANIF MUHAMMAD SYAFIQ


 

DO'A TERBAIK UNTUK ORANG TUA DARI ANAK SHOLEH


 

DO'A TERBAIK UNTUK PUTRI TERCINTA