Selasa, 30 September 2025

Refleksi 80 Tahun Sumatera Barat: Antara Warisan Nilai dan Harapan Baru

Refleksi 80 Tahun Sumatera Barat: Antara Warisan Nilai dan Harapan Baru

Tanggal 1 Oktober 2025 menandai Hari Jadi Sumatera Barat ke-80. Delapan dekade perjalanan provinsi ini bukan sekadar hitungan usia, tetapi momentum untuk merefleksikan arah pembangunan: apakah nilai yang diwariskan leluhur, khususnya filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), benar-benar menjadi landasan dalam praktik beragama, ekonomi, dan sosial budaya kita?

Warisan Religius dan Tantangan Implementasi

Sumatera Barat dikenal sebagai daerah religius. Surau, masjid, dan pengajian selalu hidup, bahkan menjadi identitas kultural masyarakat Minang. Namun, religiusitas seremonial tidak selalu sejalan dengan implementasi nilai agama dalam kebijakan publik.

Memang ada inisiatif positif: dakwah moderasi beragama mulai masuk kurikulum muatan lokal, kegiatan penguatan akhlak ASN dilakukan melalui lomba "Cerdas BerAKHLAK", hingga program sosial keagamaan yang melibatkan banyak pihak. Namun, realitas birokrasi dan politik sering kali masih jauh dari nilai keadilan, integritas, dan amanah yang diajarkan agama.

Refleksi ini menuntut agar nilai agama tidak berhenti pada slogan, tetapi diterjemahkan menjadi indikator nyata—misalnya indeks integritas birokrasi berbasis nilai Islam, transparansi layanan publik, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan. 

Masih banyak penyakit masyarakat yang perlu penanganan serius seperti kenakalan remaja; cabul; narkoba; korupsi ditambah lagi judi online dan game online yang meresahkan saat ini. Langkah kongkrit "Tigo Tunggu Sajarangan" akan selalu dinanti masyarakat secara luas.

Ekonomi: Pertumbuhan Ada, Kualitas Perlu Ditajamkan

Dari sisi ekonomi, Sumatera Barat menunjukkan stabilitas. Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 4,36% dan meningkat menjadi 4,66% pada triwulan I 2025. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar pada triwulan I/2025 mencapai sekitar Rp 86,25 triliun. Angka ini menandakan pemulihan, tetapi belum menembus pertumbuhan tinggi yang mampu melompatkan kesejahteraan masyarakat.

Tantangannya jelas: ketergantungan pada sektor primer, nilai tambah industri yang masih terbatas, serta UMKM yang belum sepenuhnya naik kelas. Pertumbuhan moderat tidak otomatis berarti pemerataan. Maka, jika ingin menjadikan nilai agama dan ABS-SBK sebagai fondasi, pembangunan ekonomi harus berpihak pada keadilan distribusi, etika usaha, dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Model koperasi syariah di surau atau masjid, misalnya, bisa menjadi instrumen konkret: menyediakan akses modal bergulir, literasi keuangan, hingga pemasaran digital bagi UMKM lokal. Dengan cara ini, nilai agama bukan hanya menjadi retorika, melainkan energi produktif bagi kesejahteraan rakyat. 

Koperasi merah putih yang berbasis pada masyarakat akar rumput tentu saja akan sangat diharapkan terutama pada kalangan muda, surau dan pranata adat

ABS-SBK: Filosofi yang Butuh Terjemahan Modern

ABS-SBK adalah kebanggaan orang Minang. Filosofi ini menyatukan adat dan syariat, menjembatani kehidupan sosial, hukum, dan moral. Namun, berbagai penelitian menunjukkan ada kesenjangan antara nilai ideal dan implementasi nyata. ABS-SBK kerap dijadikan simbol politik, tetapi kurang operasional dalam menghadapi persoalan kontemporer seperti peran perempuan, keluarga modern, hingga ekonomi digital.

Maka, tantangan hari ini adalah mentransformasikan ABS-SBK menjadi kebijakan konkret. Misalnya:

  • Lembaga adat yang lebih transparan, akuntabel, dan melibatkan perempuan serta generasi muda.

  • Kurikulum karakter berbasis ABS-SBK di sekolah, bukan sekadar hafalan filosofi, melainkan praktik hidup sehari-hari.

  • Mekanisme penyelesaian konflik sosial yang berlandaskan nilai adat-syariat, tetapi adaptif terhadap hukum negara dan hak asasi manusia.

Untuk itu dibutuhkan penguatan lembaga adat agar terhindar dari dualisme dan kepentingan politik sesaat.

Harapan ke Depan: Langkah Konstruktif

Agar peringatan HJ ke-80 tidak berhenti pada nostalgia, ada beberapa langkah konstruktif yang bisa ditempuh:

  1. Membangun Indikator Nilai – Pemerintah daerah perlu menyusun indikator sederhana untuk mengukur implementasi nilai agama, distribusi ekonomi, dan harmonisasi adat-syariat setiap tahun.

  2. Surau Ekonomi Rakyat – Surau dan masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan UMKM berbasis koperasi syariah dan literasi digital.

  3. Reformasi Tata Kelola Adat – Lembaga adat diberi standar kode etik, keterbukaan, dan ruang partisipasi lebih luas, agar ABS-SBK benar-benar hidup dalam masyarakat modern.

  4. Kurikulum Karakter Lokal – Pendidikan di sekolah memperkuat nilai moderasi beragama, etika ekonomi, dan pemahaman adat-syariat secara aplikatif.

  5. Transparansi Berbasis Data – Pemerintah membuka data BPS, RPJMD, hingga laporan OPD untuk publik, agar masyarakat bisa ikut mengawal kemajuan berbasis nilai.

Penutup

Hari Jadi ke-80 Sumatera Barat adalah tonggak sejarah penting. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan utama daerah ini bukan hanya pada sumber daya alam atau angka pertumbuhan, melainkan pada nilai luhur yang diwariskan: agama, adat, dan budaya. Namun, nilai itu tidak boleh berhenti sebagai identitas simbolik.

Refleksi kali ini seharusnya menjadi lonceng kesadaran kolektif. Kita butuh keberanian untuk memperbaiki tata kelola, mendistribusikan ekonomi lebih adil, dan menerjemahkan ABS-SBK secara modern. Hanya dengan itu Sumatera Barat bisa melangkah ke depan: religius tapi rasional, beradat tapi adaptif, dan sejahtera tanpa meninggalkan nilai luhur. UWaS

📌 Referensi Data & Kajian:

  • Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat, Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat 2024 (2025).

  • BPS Sumatera Barat, Ekonomi Triwulan I 2025 (2025).

  • Studi akademik tentang implementasi ABS-SBK & muatan lokal moderasi beragama.

  • Dokumentasi Pemprov Sumbar: Peringatan HJ ke-80 (2025).

Senin, 29 September 2025

Early Warning System (EWS) PKUB: Penjaga Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Early Warning System (EWS) PKUB: Penjaga Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Oleh: Wahyu Salim 
Penyuluh Agama; Pengurus FKUB; Agen Resolusi Konflik; Peserta Bimtek EWS Tk. Nasional

Indonesia adalah bangsa yang majemuk, dengan keberagaman agama, budaya, dan etnis yang men
yatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberagaman ini merupakan kekayaan, namun juga memiliki potensi gesekan jika tidak dikelola dengan baik. Untuk itu, dibutuhkan sebuah mekanisme yang mampu mendeteksi potensi konflik sejak dini, yaitu Early Warning System (EWS).

Di Kementerian Agama RI, peran strategis ini dijalankan oleh PKUB (Pusat Kerukunan Umat Beragama). PKUB hadir sebagai garda terdepan dalam merawat harmoni, melakukan pemetaan potensi konflik, dan memastikan kerukunan umat beragama tetap terjaga.

Apa itu EWS bagi Kerukunan?

Early Warning System (EWS) adalah sistem peringatan dini untuk mendeteksi tanda-tanda potensi konflik antarumat beragama. Dengan adanya EWS, masalah kecil dapat segera ditangani melalui dialog, mediasi, atau kebijakan yang tepat sebelum berkembang menjadi konflik besar.

Peran EWS oleh PKUB Kemenag RI

PKUB memiliki peran penting dalam mengelola EWS secara nasional. Beberapa langkah strategis yang dilakukan antara lain:

  1. Monitoring dan Analisis
    PKUB mengumpulkan data dan informasi dari berbagai daerah terkait dinamika kehidupan beragama, lalu menganalisis potensi gesekan yang muncul.

  2. Mediasi dan Koordinasi
    PKUB memfasilitasi penyelesaian masalah melalui pendekatan dialog, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, ormas, dan tokoh agama.

  3. Pemetaan Daerah Rawan
    Dengan EWS, PKUB menyusun peta daerah rawan konflik berbasis data yang akurat. Pemetaan ini penting untuk menentukan langkah antisipatif.

  4. Pusat Informasi Kerukunan
    PKUB menjadi simpul informasi nasional yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat, aparat, hingga lembaga negara dalam menjaga kerukunan.



Kehadiran Aplikasi SI-RUKUN: EWS Digital yang Terpusat

Seiring perkembangan teknologi, PKUB Kemenag RI meluncurkan aplikasi SI-RUKUN (Sistem Informasi Kerukunan Umat Beragama). Aplikasi ini memperkuat fungsi EWS dengan pendekatan digital, terpusat, cepat, dan responsif:

  • Berbasis Digital: laporan masyarakat terkait potensi konflik dapat diinput langsung melalui aplikasi.

  • Terpusat: data kerukunan dari seluruh Indonesia tersimpan dalam satu sistem nasional yang mudah diakses oleh pihak berwenang.

  • Cepat dan Responsif: begitu ada laporan masuk, sistem segera memberi sinyal kepada PKUB dan instansi terkait untuk mengambil tindakan preventif.

  • Efektif: meminimalisir keterlambatan penanganan konflik karena jalur koordinasi lebih singkat.

Dengan SI-RUKUN, EWS tidak lagi hanya mengandalkan pola komunikasi manual, tetapi telah bertransformasi menjadi sistem digital yang modern dan terpadu.

Pentingnya EWS bagi Indonesia

Keberadaan EWS dan SI-RUKUN yang dikelola PKUB sangat penting dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Warga merasa lebih aman karena ada sistem yang mampu merespons cepat potensi konflik. Lebih jauh lagi, EWS menjadi instrumen penting dalam menjaga harmoni kehidupan beragama di tengah keberagaman Indonesia. 

Peran Penyuluh Agama dalam EWS Kerukunan

Sebagai ujung tombak Kementerian Agama di tengah masyarakat, Penyuluh Agama memiliki posisi strategis dalam mendukung pelaksanaan Early Warning System (EWS) yang dijalankan oleh PKUB Kemenag RI. Perannya meliputi:

  1. Deteksi Dini di Lapangan

    • Penyuluh agama hadir langsung di tengah masyarakat sehingga mampu membaca tanda-tanda potensi konflik keagamaan, baik dalam bentuk ujaran, sikap intoleran, maupun gesekan antarwarga.

    • Informasi ini menjadi data awal yang sangat penting bagi PKUB.

  2. Penyampai Informasi & Laporan

    • Penyuluh dapat melaporkan dinamika di lapangan melalui jalur resmi, termasuk aplikasi SI-RUKUN, sehingga potensi masalah cepat terpantau secara terpusat.

  3. Mediator & Komunikator

    • Penyuluh agama berperan menjembatani dialog ketika ada kesalahpahaman antarumat atau antarwarga, sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.

  4. Pendidikan & Pencegahan

    • Melalui ceramah, bimbingan, dan kegiatan penyuluhan, penyuluh menanamkan nilai toleransi, moderasi beragama, dan persaudaraan.

    • Edukasi ini menjadi benteng awal agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

  5. Penguatan Moderasi Beragama

    • Penyuluh menjadi agen moderasi beragama, mengajak masyarakat untuk berpikir seimbang, menghargai perbedaan, dan mengutamakan persatuan.

  6. Kolaborasi dengan Tokoh Lokal

    • Penyuluh bekerja sama dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama dalam menciptakan suasana damai serta menindaklanjuti potensi konflik yang muncul.

Kesimpulan:
Penyuluh agama adalah “mata dan telinga” PKUB di lapangan. Dengan keterlibatan aktif penyuluh, EWS dapat berjalan lebih efektif, responsif, dan dekat dengan masyarakat. Peran ini sangat penting agar kerukunan umat beragama di Indonesia tetap terjaga.

Penutup

Kerukunan bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja, tetapi hasil dari usaha kolektif seluruh elemen bangsa. Dengan adanya PKUB Kementerian Agama RI yang mengembangkan EWS dan SI-RUKUN, Indonesia memiliki benteng kuat dalam mencegah konflik, merawat toleransi, dan meneguhkan persaudaraan kebangsaan.

EWS adalah benteng awal untuk menjaga kerukunan, kedamaian, dan persatuan Indonesia


 EWS biasanya singkatan dari Early Warning System atau Sistem Peringatan Dini. Dalam konteks kerukunan di Indonesia, terutama kehidupan beragama dan sosial, EWS berarti alat atau mekanisme untuk mendeteksi potensi konflik sejak awal agar bisa dicegah sebelum membesar.

📌 Arti Penting EWS bagi Kerukunan di Indonesia:

  1. Deteksi dini masalah – EWS membantu mengenali tanda-tanda awal terjadinya gesekan antarumat beragama, antarbudaya, maupun antarwarga.

  2. Pencegahan konflik – Dengan mengetahui potensi masalah lebih cepat, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat bisa segera mengambil langkah damai.

  3. Memperkuat dialog – EWS mendorong komunikasi intensif antar pihak yang berbeda sehingga kerukunan tetap terjaga.

  4. Meningkatkan rasa aman – Warga lebih tenang karena ada sistem pengawasan dan pencegahan yang responsif.

  5. Menjaga persatuan bangsa – Indonesia yang majemuk sangat rawan gesekan; EWS membantu memastikan keberagaman tetap menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.

✨ Jadi, EWS adalah benteng awal untuk menjaga kerukunan, kedamaian, dan persatuan Indonesia.

Jumat, 26 September 2025

Tema: Syukur Membuat Rumah Sempit Terasa Lapang

📖 Materi Bimluh

Tema: Syukur Membuat Rumah Sempit Terasa Lapang

1. Landasan Ayat

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

2. Makna Syukur dalam Rumah Tangga

  • Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tapi menerima, merawat, dan memanfaatkan nikmat Allah dengan baik.

  • Keluarga yang pandai bersyukur akan merasa cukup, meski secara materi terbatas.

  • Syukur menumbuhkan kebahagiaan batin, bukan sekadar kenyamanan lahir.

3. Dimensi Syukur dalam Keluarga

  1. Syukur dengan hati → merasa ridha dengan takdir Allah, tidak mengeluh.

  2. Syukur dengan lisan → memperbanyak ucapan “Alhamdulillah” dalam setiap keadaan.

  3. Syukur dengan perbuatan → menggunakan nikmat Allah (harta, waktu, tenaga) untuk kebaikan keluarga.

4. Hikmah Syukur bagi Keluarga

  • Rumah kecil terasa istana, karena hati dipenuhi rasa cukup.

  • Mengurangi pertengkaran antara suami–istri, sebab keduanya menerima keadaan dengan ridha.

  • Anak-anak tumbuh dengan jiwa qana’ah, tidak terbiasa membandingkan diri dengan orang lain.

  • Mendatangkan tambahan nikmat Allah, baik rezeki, kebahagiaan, maupun keberkahan.

5. Teladan Rasulullah ﷺ

  • Kehidupan Nabi Muhammad ﷺ penuh kesederhanaan.

  • Beliau tidur di atas tikar kasar, makan seadanya, namun selalu bersyukur.

  • Nabi mengajarkan: “Lihatlah kepada orang yang di bawahmu, jangan kepada orang yang di atasmu, agar kamu lebih mudah bersyukur.” (HR. Muslim)

6. Pesan Praktis untuk Calon Pengantin / Keluarga

  1. Jangan membandingkan rumah tangga dengan tetangga atau teman.

  2. Jadikan syukur sebagai obat hati di kala sulit.

  3. Biasakan doa bersama sekeluarga, ucapkan “Alhamdulillah” meski hanya makan sederhana.

  4. Fokus pada kebaikan pasangan, bukan pada kekurangannya.

  5. Tanamkan kepada anak sikap syukur agar hidupnya tenang.

7. Penutup

Rumah yang sempit bisa terasa luas dengan hati yang lapang karena syukur.
Rumah yang megah bisa terasa sempit bila dipenuhi keluh kesah dan tidak bersyukur.

Doa

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur. Lapangkan hati kami, berkahilah keluarga kami, dan karuniakanlah rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah."


MU'AHADAH: Memenuhi Janji kepada Allah SWT

 


Memenuhi Janji kepada Allah SWT

Tafsir Al-A‘rāf Ayat 172


وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ  اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ 


Tafsir Ringkas Kemenag


Ayat-ayat yang lalu berbicara tentang kisah Nabi Musa dan Bani Israil dengan mengingatkan mereka tentang perjanjian yang bersifat khusus, di sini Allah menjelaskan perjanjian yang bersifat umum, untuk Bani Israil dan manusia secara keseluruhan, yaitu dalam bentuk penghambaan. Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi, yakni tulang belakang anak cucu Adam, keturunan mereka yang melahirkan generasi-generasi selanjutnya. Dan kemudian Dia memberi mereka bukti-bukti ketuhanan melalui alam raya ciptaanNya, sehingga-dengan adanya bukti-bukti itu-secara fitrah akal dan hati nurani mereka mengetahui dan mengakui kemahaesaan Tuhan. Karena begitu banyak dan jelasnya bukti-bukti keesaan Tuhan di alam raya ini, seakan-akan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka seraya berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhan Pemelihara-mu dan sudah berbuat baik kepadamu?” Mereka menjawab, “Betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi bahwa Engkau Maha Esa.” Dengan demikian, pengetahuan mereka akan bukti-bukti tersebut menjadi suatu bentuk penegasan dan, dalam waktu yang sama, pengakuan akan kemahaesaan Tuhan. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak lagi beralasan dengan mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini, tidak tahu apa-apa mengenai keesaan Tuhan.”


Tafsir Tahlili


Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang janji yang dibuat pada waktu manusia dilahirkan dari rahim orang tua (ibu) mereka, secara turun temurun, yakni Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah menyuruh roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesaan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna, dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem urat syaraf yang mengagumkan, dan sebagainya. Berkata Allah kepada roh manusia “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Maka menjawablah roh manusia, “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan.” Jawaban ini merupakan pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha Esa, yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia.

Dengan ayat ini Allah bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia itu dilahirkan dari rahim orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah pada kejadian mereka sendiri, Allah berfirman pada ayat lain:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah  itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan  Allah.  (ar-Rūm/30: 30)

Fitrah Allah maksudnya ialah tauhid. Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ  يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تَلِدُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةَ جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا جَذْعَاءَ (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

“Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana halnya hewan melahirkan anaknya yang sempurna telinganya, adakah kamu ketahui ada cacat pada anak hewan itu?” (Riwayat al-Bukhārī  Muslim, dari Abu Hurairah)

Rasulullah dalam hadis Qudsi:

قالَ اللّٰهُ تَعَالَى إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ وَحَرَّمَتْ مَا اَحْلَلْتُ لَهُمْ (رواه البخاري عن عياض بن حمار)

Berfirman Allah Ta’ālā, “Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku cenderung (ke agama tauhid). Kemudian datang kepada mereka setan-setan dan memalingkan mereka dari agama (tauhid) mereka, maka haramlah atas mereka segala sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka.” (Riwayat al-Bukhārī dari Iyāḍ bin Ḥimār)

Penolakan terhadap ajaran Tauhid yang dibawa Nabi itu sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Karena itu tidaklah benar manusia pada hari Kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa, tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah. Fitrah mereka sendiri dan ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menaati seruan Rasul serta menjauhkan diri dari syirik.

Refleksi QS. Al-A‘raf: 172

Setiap manusia lahir ke dunia dengan membawa fitrah keimanan. Al-Qur’an menegaskan bahwa sejak dalam kandungan, manusia telah mengikat janji dengan Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-A‘raf: 172:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.’”

1. Makna Janji dalam Ayat

Ayat ini dikenal dengan istilah Mitsaq al-Alast atau perjanjian primordial, yaitu pengakuan manusia bahwa Allah adalah Rabb sekaligus Penciptanya. Janji ini bukan sekadar ikatan simbolik, melainkan kontrak spiritual yang melekat pada fitrah setiap insan. Dengan janji tersebut, manusia pada hakikatnya tidak memiliki alasan untuk mengingkari keberadaan dan kekuasaan Allah.

2. Wujud Janji kepada Allah SWT

Janji yang telah kita ikrarkan dalam alam ruh itu sejatinya menuntut realisasi dalam kehidupan nyata. Wujud pemenuhan janji tersebut antara lain:

  • Mengakui keesaan Allah dengan bertauhid dan menjauhi syirik.

  • Melaksanakan perintah-Nya seperti shalat, zakat, puasa, dan ibadah lainnya.

  • Menjaga akhlak mulia dalam berhubungan dengan sesama manusia.

  • Bersyukur atas nikmat dan bersabar atas ujian kehidupan.

3. Konsekuensi Mengingkari Janji

Mengingkari janji kepada Allah berarti menutup mata terhadap fitrah diri sendiri. Hal ini dapat menjerumuskan manusia pada kesesatan dan azab. Allah SWT telah memperingatkan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai alasan lupa kepada-Nya.

4. Aktualisasi Janji dalam Kehidupan Modern

Di era modern, banyak godaan yang dapat melalaikan manusia dari janji tersebut: materialisme, hedonisme, dan individualisme. Oleh karena itu, umat Islam perlu memperkuat kembali kesadaran spiritual melalui ibadah, pendidikan agama, dan dakwah yang menyentuh hati. Mengingat janji kepada Allah akan melahirkan pribadi yang berintegritas, jujur, dan bertanggung jawab, baik di ruang publik maupun pribadi.

Penutup

Memenuhi janji kepada Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-A‘raf: 172 adalah inti dari kehidupan beragama. Janji itu tidak sekadar pengakuan, tetapi harus diwujudkan dalam iman, ibadah, dan akhlak sehari-hari. Semoga kita semua mampu menjaga dan menunaikan janji suci tersebut hingga akhir hayat, agar kelak kembali kepada-Nya dengan membawa hati yang bersih.

✍️ Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang

Uda Gindo, Driver NPM Kelas Sultan: Yakin Setiap Usaha, Ada Hasilnya


Uda Gindo, Driver NPM Kelas Sultan: Yakin Setiap Usaha, Ada Hasilnya

“Enak bana jadi sopir NPM, asal sabar jo ikhlas…” begitu kata Uda Gindo, salah seorang driver bus NPM kelas Sultan jurusan Padang Panjang – Jakarta.

Sejak muda, Uda Gindo sudah akrab dengan setir dan jalan raya. Bagi orang lain, jadi sopir bus mungkin hanya soal membawa penumpang. Tapi bagi Uda Gindo, inilah jalan hidup yang penuh keberkahan. Dari kursi kemudi itu, ia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke bangku kuliah. Dari setir itu pula ia bisa membangun rumah untuk keluarga, tempat berteduh yang menjadi kebanggaan sekaligus tanda bakti pada orang tua dan anak istrinya.

Satu hal yang membuat Uda Gindo dikagumi: ia pemurah, pandai bakawan, dan selalu ramah dengan penumpang. Tidak sedikit penumpang yang baru pertama kali naik bus, merasa seperti sudah kenal lama dengannya.
“Assalamu’alaikum, Pak… duduknyo nyaman? Kalau ado apo-apo, kabari awak yo,” ucapnya dengan senyum tulus.

Teman sejawatnya tahu, Uda Gindo itu setia kawan. Kalau ada rekan sopir yang kena musibah, ia pasti turun tangan. Kalau ada kawan yang kesulitan di jalan, ia yang pertama menawarkan bantuan.

Dialog di Lapau: Hikmah Kehidupan

Suatu sore, selepas perjalanan panjang, Uda Gindo singgah di Kadai Angku Datuak, sebuah lapau sederhana di Padang Panjang yang sering menjadi tempat berkumpul para sopir, perantau, dan tokoh masyarakat. Di sana sudah ada Wahyu, penyuluh agama yang dikenal ramah dan suka berdiskusi ringan tapi penuh makna.

Angku Datuak menuangkan kopi hitam hangat, sementara bunyi dentingan cangkir terdengar bersahutan.

“Wahyu,” kata Uda Gindo sambil menyeruput kopi, “jadi sopir itu bukan sekadar cari duit. Tapi ado maknonyo. Awak selalu yakin, setiap usaha itu pasti ado hasilnyo.”

Wahyu tersenyum, “Benar, Da. Allah janji dalam Qur’an, man jadda wajada—siapa yang bersungguh-sungguh, akan mendapat hasil. Tapi jangan lupa, hasil itu bukan hanya harta, tapi juga barakah. Dan awak alhamdulillah, barakah itu sudah tampak dari keluarga dan kawan-kawan yang hormat, sagan kepada Da.”

Percakapan makin hangat. Seorang kawan sopir lain nyeletuk, “Iyo, hidup di jalan panjang ini penuh risiko. Kadang orang anggap remeh, padahal tanggung jawabnyo besar. Tapi kalau hati ikhlas, setiap kilometer itu jadi ibadah.”

Wahyu menambahkan, “Benar, bahkan Rasulullah ﷺ bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Uda Gindo bawa penumpang dengan aman dan selamat, itu manfaat besar. Bisa jadi setiap kali Da mengucapkan salam dan senyum pada penumpang, itu sudah jadi amal shalih.”

Uda Gindo terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. “Wahyu, awak ndak punyo banyak ilmu, ndak pandai ceramah. Tapi awak hanya ingin anak-anak awak bangga, dan penumpang merasa aman. Itu saja cita-cita awak.”

Wahyu menepuk bahunya pelan, “Itulah hakikatnya, Da. Setiap kerja yang ikhlas karena Allah, jadi ladang pahala. Awak sudah menanam kebaikan, percayalah Allah akan membalas dengan kebaikan yang lebih besar.”

Suasana lapau senyap sesaat. Angin sore dari Gunung Singgalang berhembus perlahan, membawa aroma kopi hangat dan hikmah yang meresap ke dalam hati setiap orang yang hadir.

Penutup

Kisah Uda Gindo adalah cermin bahwa hidup sederhana bisa penuh makna. Bahwa bekerja sebagai sopir bus bukan sekadar profesi, tapi jalan pengabdian—untuk keluarga, untuk kawan, dan untuk umat. Dari balik setir, ia mengajarkan: Yakinlah, setiap usaha pasti ada hasilnya.

Dan di lapau sederhana bersama kawan-kawan, setiap cangkir kopi bukan hanya pelepas lelah, tapi juga jadi sumber hikmah kehidupan. UWaS

Kamis, 25 September 2025

Tema: Sabar, Tiang Rumah Tangga yang Kokoh


 🌿 “Sabar adalah Tiang Rumah Tangga yang Kokoh” → (QS. Al-Baqarah: 153)

📖 Materi Bimbingan Penyuluhan Agama

Tema: Sabar, Tiang Rumah Tangga yang Kokoh

1. Landasan Ayat Al-Qur’an

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah kekuatan utama dalam menghadapi ujian hidup, termasuk ujian rumah tangga.

2. Makna Sabar dalam Rumah Tangga

  1. Sabar dalam perbedaan – suami dan istri berasal dari latar belakang berbeda; butuh kesabaran untuk saling memahami.

  2. Sabar dalam menghadapi masalah ekonomi – rezeki tidak selalu lapang, kadang sempit.

  3. Sabar dalam mendidik anak – anak tidak langsung shalih, perlu teladan, doa, dan kesabaran.

  4. Sabar dalam menjaga emosi – menahan amarah adalah kunci keutuhan rumah tangga.

3. Fungsi Sabar sebagai Tiang Rumah Tangga

  • Menjadi penopang saat badai masalah datang.

  • Mencegah perceraian akibat emosi sesaat.

  • Mendatangkan rahmat Allah karena sabar adalah tanda iman.

  • Membuat rumah tangga kuat seperti bangunan dengan tiang yang kokoh.

4. Teladan Rasulullah ﷺ

  • Rasulullah ﷺ sabar menghadapi istri-istri beliau, tidak pernah memukul, tidak berkata kasar.

  • Beliau bersabda:

    “Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

5. Pesan Praktis Bagi Keluarga

  1. Saat terjadi perbedaan pendapat, tarik napas, tunda bicara jika emosi.

  2. Jadikan shalat dan doa sebagai obat hati.

  3. Ingat bahwa pasangan adalah amanah Allah, bukan lawan berdebat.

  4. Biasakan mengucap “Astaghfirullah” atau “A’udzubillahi minasy-syaithanir-rajim” saat marah.

  5. Saling menasihati dengan lembut, bukan dengan amarah.

6. Penutup

Rumah tangga tanpa sabar seperti rumah tanpa tiang: mudah roboh.
Rumah tangga yang dibangun di atas kesabaran akan menjadi sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Doa

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang sabar dalam menghadapi ujian hidup dan ujian rumah tangga. Kokohkan keluarga kami dengan sabar, syukur, dan kasih sayang." UWaS

Doa & Harapan untuk TNI pada HUT ke-80 Tahun 2025


 

Doa & Harapan untuk TNI pada HUT ke-80

5 Oktober 2025

Doa
Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa, pada hari yang berbahagia ini kami panjatkan doa untuk Tentara Nasional Indonesia yang genap berusia 80 tahun.

  • Limpahkanlah rahmat dan berkah-Mu kepada seluruh prajurit TNI di darat, laut, dan udara.

  • Kuatkanlah iman dan takwa mereka, agar setiap langkah dan tugas yang diemban selalu bernilai ibadah.

  • Anugerahkanlah kesehatan, keselamatan, dan keberanian dalam menjaga kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  • Hindarkanlah mereka dari perpecahan, fitnah, dan segala bentuk kelemahan yang dapat mengganggu persatuan.

Ya Allah, jadikanlah TNI sebagai garda terdepan bangsa yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga luhur akhlak dan jiwa.

Harapan
Di usia yang ke-80 tahun ini, semoga TNI semakin profesional, modern, dan dicintai rakyat. Tetaplah menjadi tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional yang kokoh menjaga persatuan bangsa.

Semoga TNI bersama seluruh komponen bangsa terus bersinergi untuk mewujudkan Indonesia yang aman, damai, berdaulat, adil, dan sejahtera.

Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.

Komunikasi Jembatan Keutuhan Rumah Tangga

Tema:

🌿 “Komunikasi adalah Jembatan Keutuhan Rumah Tangga” → (HR. Bukhari-Muslim)


📖 Bimbingan Penyuluhan Agama

Tema: Komunikasi Jembatan Keutuhan Rumah Tangga

1. Pendahuluan

  • Rumah tangga ibarat perahu; komunikasi adalah dayungnya. Tanpa komunikasi, perahu bisa berhenti, bahkan karam.

  • Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya saling menasihati dan berlemah lembut dalam berbicara. Dalam HR. Bukhari-Muslim, beliau bersabda:

    “Agama itu adalah nasihat.”
    Ini menunjukkan komunikasi yang baik bagian dari iman.

2. Hakikat Komunikasi dalam Keluarga

  • Komunikasi bukan sekadar bicara, tetapi mendengarkan dengan hati.

  • Suami–istri harus menjadikan komunikasi sebagai sarana saling memahami, bukan saling menyalahkan.

  • Anak-anak belajar adab berbicara dari orangtuanya.

3. Tujuan Komunikasi Rumah Tangga Islami

  1. Menjaga keharmonisan keluarga.

  2. Menyelesaikan masalah dengan cara yang sehat.

  3. Menumbuhkan rasa saling percaya.

  4. Menyuburkan cinta, kasih sayang, dan rahmat.

4. Prinsip Komunikasi Islami

  • Qaulan ma’rufa → perkataan yang baik (QS. An-Nisa: 5).

  • Qaulan layyina → perkataan yang lembut (QS. Thaha: 44).

  • Qaulan sadida → perkataan yang jujur/benar (QS. Al-Ahzab: 70).

  • Qaulan karima → perkataan yang mulia, penuh penghormatan (QS. Al-Isra: 23).

5. Manfaat Komunikasi Baik dalam Rumah Tangga

  • Mengurangi salah paham antara suami–istri.

  • Membuat anak merasa aman, dihargai, dan didengarkan.

  • Menjadi solusi dari konflik rumah tangga.

  • Membawa ketenangan (sakinah) dalam keluarga.

6. Cara Praktis Bagi Keluarga

  1. Biasakan duduk bersama setiap hari untuk berbagi cerita.

  2. Dengarkan pasangan tanpa menyela.

  3. Hindari bahasa kasar, ganti dengan kata lembut.

  4. Jika marah, tunda bicara sampai emosi reda.

  5. Jadikan doa dan zikir bagian dari komunikasi batin.

7. Penutup

  • Komunikasi adalah ibadah, karena setiap kata yang baik menjadi sedekah.

  • Suami-istri yang pandai berkomunikasi akan lebih mudah menjaga keutuhan rumah tangga.

  • Mari kita bangun keluarga sakinah dengan menjadikan komunikasi sebagai jembatan cinta, penguat iman, dan penebar rahmat.

Doa

"Ya Allah, jadikanlah lisan kami penuh kelembutan, hati kami penuh kesabaran, dan keluarga kami penuh cinta dan rahmat."

👉 Bahan ini bisa disampaikan dalam bimbingan pra-nikah, penyuluhan keluarga sakinah, maupun majelis taklim keluarga.

 

Cara Praktis Mencapai Taqwa

 

Cara Praktis Mencapai Taqwa

(Materi Bimbingan Majelis Taklim Lansia)

Oleh: Wahyu Salim

Pendahuluan

Taqwa adalah tujuan utama dari setiap ibadah seorang muslim. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali Imran: 102)

Namun, bagaimana cara praktis untuk mencapai taqwa? Dalam kitab Tarbiyah Da’iyyah, Muhammad Nashih Ulwan menjelaskan lima langkah penting: Mu’ahadah, Muraqabah, Mu’aqabah, Muhasabah, dan Mujahadah.

Mari kita uraikan satu per satu dengan bahasa yang mudah dipahami.

1. Mu’ahadah (Membuat Perjanjian dengan Allah)

Seorang muslim harus memperbarui niat dan komitmen untuk taat kepada Allah. Seakan-akan ia menandatangani janji setia bahwa hidup dan matinya hanya untuk Allah (QS. Al-An’am: 162).

  • Praktisnya: setiap pagi kita niatkan hari ini hanya untuk ibadah kepada Allah.

2. Muraqabah (Merasa Diawasi Allah)

Kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita akan mencegah perbuatan maksiat.

  • Rasulullah ﷺ bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).

  • Praktisnya: sebelum berbicara, berbuat, atau memutuskan sesuatu, tanyakan dalam hati: “Apakah Allah ridha dengan ini?”

3. Mu’aqabah (Memberi Sanksi pada Diri Sendiri)

Jika lalai, maka seorang mukmin tidak membiarkan dosanya tanpa penebusan.

  • Praktisnya: bila terlambat shalat berjamaah, hukum diri dengan memperbanyak shalat sunnah. Jika lalai baca Qur’an, ganti dengan tambahan tilawah.

4. Muhasabah (Introspeksi Diri)

Orang beriman harus sering menghitung amalannya, sebelum kelak dihisab Allah.

  • Umar bin Khattab r.a. berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang untukmu.”

  • Praktisnya: sebelum tidur, tanya diri: hari ini lebih banyak taat atau lalai?

5. Mujahadah (Bersungguh-sungguh dalam Ibadah)

Jalan taqwa butuh kesungguhan, melawan hawa nafsu, dan istiqamah dalam kebaikan.

  • Allah berfirman:
    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69).

  • Praktisnya: paksa diri shalat malam meski hanya dua rakaat, biasakan sedekah walau sedikit, dan terus berlatih sabar.

Penutup

Lima langkah ini — Mu’ahadah, Muraqabah, Mu’aqabah, Muhasabah, dan Mujahadah — adalah jalan praktis menuju taqwa. Semoga kita semua, khususnya para lansia yang tetap semangat dalam ibadah, diberi kekuatan untuk mengamalkan.

Taqwa bukan sekadar kata, tapi usaha nyata mendekat kepada Allah setiap hari.

Selasa, 23 September 2025

Teladan Rasulullah ﷺ dalam Memperlakukan Istrinya

 

✍️ Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang

Setiap rumah tangga tentu mendambakan kehidupan yang harmonis, penuh cinta, dan jauh dari konflik. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ menjadi teladan utama bagi umat Islam, termasuk dalam memperlakukan istrinya. Kehidupan beliau sarat dengan kasih sayang, kelembutan, dan penghormatan kepada pasangan.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang lelaki pun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak, melainkan yang ada di langit akan murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR. Muslim).

Hadis ini bukan untuk menekan istri, melainkan sebagai penegasan betapa pentingnya menjaga hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Islam mengajarkan keseimbangan: suami memiliki hak, istri juga memiliki hak yang seimbang (QS. Al-Baqarah: 228).

Kasih Sayang Rasulullah ﷺ kepada Istri-istrinya

  1. Makan bersama dengan mesra
    Aisyah r.a. berkata: “Aku pernah makan bersama Rasulullah ﷺ dari satu piring. Beliau mengambil daging, lalu aku pun mengambil bagian yang sama. Beliau sengaja makan dari bekas gigitan yang sama denganku.” (HR. Muslim).

  2. Mandi bersama sambil bercanda
    Aisyah r.a. meriwayatkan: “Aku mandi bersama Rasulullah ﷺ dari satu bejana. Beliau berebut air denganku sambil bercanda, hingga aku berkata: Biarkan untukku, biarkan untukku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  3. Berlomba lari penuh keakraban
    Dalam sebuah perjalanan, Rasulullah ﷺ mengajak Aisyah r.a. lomba lari. Pertama Aisyah menang, lalu pada kesempatan lain Rasulullah yang menang. Beliau pun tersenyum sambil berkata: “Kemenangan ini untuk membalas yang dulu.” (HR. Abu Dawud).

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah bersikap kasar, apalagi merendahkan istri. Beliau justru menghadirkan kehangatan, cinta, dan kelembutan dalam rumah tangganya.

Pelajaran bagi Keluarga Muslim

  1. Komunikasi adalah kunci
    Suami-istri perlu saling memahami kebutuhan pasangannya. Hak dan kewajiban harus dijalankan dengan cinta dan saling menghargai.

  2. Kasih sayang lebih utama
    Keharmonisan rumah tangga tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kasih sayang. Rasulullah ﷺ mencontohkan rumah tangga yang penuh kelembutan.

  3. Pernikahan sebagai ibadah
    Hubungan suami istri bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga ibadah yang bernilai pahala. Rasulullah ﷺ bersabda: “Dalam hubungan intim salah seorang dari kalian dengan pasangannya terdapat pahala sedekah.” (HR. Muslim).

Penutup

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan indah tentang bagaimana memperlakukan istri dengan baik. Beliau tidak hanya seorang nabi dan pemimpin umat, tetapi juga suami yang penuh cinta dan kelembutan.

Semoga kita semua dapat meneladani beliau dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Hak dan Keharmonisan Suami Istri dalam Islam (Refleksi dari Hadis Riwayat Muslim)


 

Hak dan Keharmonisan Suami Istri dalam Islam

(Refleksi dari Hadis Riwayat Muslim)

✍️ Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

“Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang lelaki pun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu ia (istri) menolak, melainkan yang ada di langit akan murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya.”
(HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Apabila seorang istri bermalam meninggalkan ranjang suaminya, maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi.”

Makna dan Hikmah Hadis

Sekilas hadis ini tampak tegas dan keras, namun bila dipahami dalam konteks ajaran Islam secara utuh, hadis ini justru mengajarkan betapa pentingnya menjaga kehormatan, kasih sayang, dan kerukunan rumah tangga.

  1. Hak dan kewajiban seimbang
    Islam tidak hanya menekankan hak suami, tetapi juga hak istri. Al-Qur’an menegaskan:
    “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 228)

  2. Menjaga keharmonisan rumah tangga
    Hubungan intim bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga ikatan emosional dan spiritual. Suami-istri yang saling memenuhi hak pasangan akan lebih harmonis, bahagia, dan terhindar dari konflik.

  3. Larangan egoisme dalam rumah tangga
    Menolak ajakan suami tanpa alasan syar‘i (seperti sakit, lelah berat, atau halangan haid) dapat merusak keharmonisan. Sebaliknya, suami juga tidak boleh memaksa dengan kasar, melainkan dengan penuh kelembutan.

  4. Dimensi ibadah
    Rasulullah ﷺ bersabda: “Dalam hubungan intim salah seorang dari kalian dengan pasangannya terdapat pahala sedekah.” (HR. Muslim). Artinya, hubungan suami istri yang halal adalah ibadah dan bernilai pahala.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Di era sekarang, banyak konflik rumah tangga muncul karena komunikasi yang buruk, ego masing-masing, atau kurangnya pemahaman agama. Hadis ini mengingatkan bahwa pernikahan harus dibangun atas dasar cinta, kasih sayang, dan saling memahami kebutuhan pasangan.

Ketika suami istri mampu menjaga komunikasi dan memenuhi hak-haknya dengan baik, rumah tangga akan menjadi sumber ketenangan (sakinah), cinta kasih (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah), sebagaimana doa agung dalam QS. Ar-Rūm: 21.

Ciri-Ciri Orang Bertaqwa Menurut Al-Qur’an dan Hadis

 

🌿 Ciri-Ciri Orang Bertaqwa Menurut Al-Qur’an dan Hadis

Pendahuluan

Setiap Muslim tentu mendambakan derajat taqwa, karena Allah menjanjikan surga dan kemuliaan bagi orang-orang yang bertaqwa. Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 133–135, Allah SWT menyebutkan secara jelas beberapa ciri orang bertaqwa. Rasulullah SAW pun menegaskan ciri tersebut melalui hadis-hadis beliau.

Lalu, apa saja ciri orang bertaqwa itu? Mari kita simak bersama.

Taqwa dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran: 133–135:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.”

Ayat ini menggambarkan bahwa taqwa bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga menyangkut akhlak, sosial, dan kesadaran diri.

Tafsir Singkat

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa orang bertaqwa memiliki sifat:

  1. Rajin berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, menunjukkan keluasan jiwa dan kedermawanan.

  2. Menahan amarah dan mengendalikan hawa nafsu, karena marah adalah pintu keburukan.

  3. Memaafkan kesalahan orang lain, meski mampu membalas, karena memaafkan lebih mulia di sisi Allah.

  4. Segera bertaubat jika berbuat dosa, sebab manusia pasti salah, namun Allah Maha Pengampun bagi hamba yang kembali kepada-Nya.

Ibnu Katsir menekankan bahwa sifat-sifat ini adalah jalan menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Lima Ciri Orang Bertaqwa

  1. Dermawan dalam setiap keadaan
    Rela berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

  2. Mampu menahan amarah
    Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  3. Memaafkan kesalahan orang lain
    Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang yang memberi maaf, Allah akan menambahkan kemuliaan baginya.” (HR. Muslim)

  4. Berbuat baik (ihsan)
    Berusaha menghadirkan kebaikan dalam setiap amal, baik kepada Allah, keluarga, sesama manusia, maupun lingkungan.

  5. Segera bertaubat ketika berbuat dosa
    Rasulullah SAW bersabda:

    “Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Penutup

Taqwa adalah pakaian mulia seorang Muslim. Ciri-ciri orang bertaqwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan diperkuat oleh hadis Nabi SAW menunjukkan bahwa taqwa tidak hanya tentang ibadah, tetapi juga karakter, akhlak, kesabaran, dan kesadaran untuk selalu kembali kepada Allah.

Mari kita berusaha menghiasi diri dengan lima ciri ini: dermawan, sabar, pemaaf, suka berbuat baik, dan gemar bertaubat. Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah yang bertaqwa dan mendapat surga yang dijanjikan-Nya.

Senin, 22 September 2025

Bangun Kemitraan Kolaboratif, Sosialisasikan GENTING

 


Bangun Kemitraan Kolaboratif, Sosialisasikan GENTING

Padang Panjang – Upaya pencegahan stunting kembali diperkuat melalui sosialisasi GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang digelar pada Jum’at, 19 September 2025 di Aula Kantor Lurah Ekor Lubuk. Kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan KB, Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Padang Panjang dengan menggandeng berbagai pihak yang peduli terhadap isu stunting.

Acara yang dihadiri oleh kader, mitra, dan pengurus RT ini berlangsung dalam suasana penuh semangat kebersamaan. Lurah Ekor Lubuk, Abrar, bertindak langsung sebagai moderator sekaligus memberikan dukungan penuh atas terlaksananya kegiatan tersebut dan harapan agar kasus stunting bisa dicegah dan diatasi di wilayah kerja Kelurahan Ekor Lubuk.

Sebagai pembicara pertama, Rizki Meylinda Emzet Penyuluh KB memaparkan secara rinci tentang program GENTING, sebuah gerakan yang mengedepankan peran orang tua asuh dalam mendukung keluarga berisiko stunting. Ia menekankan pentingnya keterlibatan semua unsur masyarakat agar pencegahan stunting tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga gerakan sosial yang berkelanjutan.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Kepala Layanan Pemenuhan Gizi Kota Padang Panjang, Tasya, yang didampingi oleh Ahli Gizi Finna. Keduanya membahas tentang MBG (Makanan Bergizi Seimbang) serta penerima manfaat dari program tersebut. Peserta diberi pemahaman mengenai pentingnya pola makan yang sehat, bergizi, dan seimbang sebagai kunci tumbuh kembang anak, termasuk penerima mamfaat adalah resti (resiko tinggi) seperti ibu hamil.

Sementara itu, Ketua BAZNAS Kota Padang Panjang, Syamsuarni juga Ketua LPM Ekor Lubuk, menguraikan peran strategis BAZNAS dalam mendukung penanggulangan stunting. Melalui dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS dapat menjadi mitra nyata dalam membantu keluarga dhuafa memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Menutup rangkaian penyampaian materi, Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam, menyampaikan perspektif keagamaan tentang pencegahan stunting dalam Islam. Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan anak merupakan bagian dari amanah besar orang tua, sekaligus bentuk ibadah dalam menjaga generasi penerus agar kuat secara fisik maupun spiritual. Sembari mengutip firman Allah SWT QS. Al-Baqarah 233 tentang pemenuhan gizi, ASI, perawatan ibu hamil, peran ayah dan pemberdayaan perempuan.



Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para peserta aktif berdiskusi, menyampaikan pertanyaan, dan berbagi pengalaman lapangan terkait tantangan pencegahan stunting.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semakin terbangun kemitraan kolaboratif antara pemerintah, lembaga keagamaan, organisasi sosial, serta masyarakat dalam mewujudkan generasi Kota Padang Panjang yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting. 

Sebelumnya juga telah dilakukan visitasi lapangan gabungan Camat, Lurah, Dinas Sosial, Penyuluh KB, Penyuluh Agama, Kader ke rumah warga resiko tinggi stunting hamil di usia di atas 40 tahun disertai penyerahan sembako, susu dan buah-buahan. UWaS


Jalan Mundur Reformasi Birokrasi di Kementerian Agama Kota Padang Panjang (Studi Kasus & Solusi Perbaikan)

 

Jalan Mundur Reformasi Birokrasi di Kementerian Agama Kota Padang Panjang (Studi Kasus & Solusi Perbaikan)

Oleh: Wahyu Salim

Penyuluh Agama Islam Kota Padang Panjang/Agen Perubahan

Pendahuluan

Reformasi birokrasi merupakan agenda nasional yang diharapkan dapat mendorong terciptanya pemerintahan yang bersih, profesional, akuntabel, dan melayani. Kementerian Agama, sebagai salah satu institusi besar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dituntut menjadi teladan dalam implementasi reformasi birokrasi. "Jatuh bangun" pembangunan reformasi birokrasi dalam berbagai kasus baik di tingkat pusat maupun daerah menjadi pelajaran berharga dalam menjaga marwah kementerian agama yang berkhidmat memberikan pelayanan ikhlas beramal.

Pada tingkat daerah, khususnya di Kota Padang Panjang, reformasi birokrasi menghadapi tantangan serius. Alih-alih berjalan maju, berbagai gejala justru menunjukkan adanya jalan mundur dalam praktik pelaksanaannya. Tulisan ini disusun dengan mengunakan bahasa kritis dan konstruktif, agar dibaca sebagai masukan perbaikan tanpa tendensi apapun.

Dasar Regulasi Resmi

Pelaksanaan reformasi birokrasi memiliki dasar hukum yang jelas, antara lain:

  1. UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)
    Menegaskan sistem merit dalam manajemen ASN: berbasis kualifikasi, kompetensi, dan kinerja, tanpa diskriminasi.

  2. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010
    Menjadi Grand Design Reformasi Birokrasi 2010–2025, yang menargetkan birokrasi bersih, efektif, dan melayani.

  3. Permenpan-RB Nomor 1 Tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional
    Menyederhanakan pengelolaan jabatan fungsional, menekankan kinerja daripada administrasi angka kredit.

  4. Permenpan-RB Nomor 52 Tahun 2014 & Nomor 60 Tahun 2012
    Memberikan pedoman pembangunan Zona Integritas menuju WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi) dan WBBM (Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani).

  5. Permenpan-RB Nomor 13 Tahun 2011
    Menetapkan kriteria dan ukuran keberhasilan reformasi birokrasi, termasuk manajemen perubahan, penataan SDM, dan peningkatan pelayanan publik.

Dasar hukum ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di daerah harus selaras dengan agenda nasional, bukan malah berlawanan.

Temuan Permasalahan

Berdasarkan studi kasus dan pengamatan terhadap dinamika birokrasi di lingkungan Kementerian Agama Kota Padang Panjang, terdapat beberapa indikator  yang menghambat kemajuan reformasi birokrasi:

  1. Indikator Merit Sistem Tidak Berjalan
    Penempatan dan promosi jabatan tidak sepenuhnya berbasis kompetensi, kinerja, dan integritas, melainkan dipengaruhi faktor non-merit.

  2. Praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)
    Masih ada indikasi keberpihakan yang tidak sehat dalam pemberian apresiasi maupun keputusan organisasi.

  3. Kepemimpinan Tidak Proaktif
    Kepala satuan kerja seharusnya menjadi motor penggerak perubahan, namun yang terjadi adalah sikap pasif bahkan resistensi terhadap reformasi.

  4. Otoritarianisme
    Pola kepemimpinan cenderung top-down, tidak membuka ruang partisipasi bottom-up dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan. Kalaupun didahului dengan rapat, tidak lebih hanya formalitas administratif, isi keputusan telah dirancang dan dibuat sebelumnya.

  5. Distorsi dalam Apresiasi Kinerja
    Pegawai yang berprestasi tidak mendapat penghargaan semestinya, sementara yang minim kontribusi justru diapresiasi. 

  6. Komunikasi Tidak Etis
    Masih dijumpai penggunaan bahasa yang tidak santun dalam interaksi birokrasi, melemahkan budaya organisasi.

  7. Agen Perubahan Hanya Formalitas
    Agen perubahan hanya menjadi label administratif, tanpa benar-benar diberdayakan sebagai penggerak inovasi.

  8. Budaya Lama Masih Dominan
    Kultur lama yang birokratis, feodalistik, dan anti-kritik masih kuat melekat, sehingga resistensi terhadap reformasi sulit dihilangkan.

  9. Rendahnya pemahaman dan komitmen tentang hakikat, tujuan, strategi & hasil akhir yang diharapkan dari reformasi birokrasi.

Dampak Jalan Mundur Reformasi

Kondisi ini menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:

  • Menurunnya motivasi dan moral aparatur yang berprestasi.

  • Hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi.

  • Terhambatnya pencapaian good governance.

  • Melemahnya budaya kerja inovatif, karena kreativitas tidak dihargai.

Solusi Perbaikan

Agar reformasi birokrasi tidak sekadar jargon, perlu langkah konkret yang terukur dan konsisten, antara lain:

  1. Penguatan Merit Sistem

    • Laksanakan seleksi jabatan berbasis kompetensi dan kinerja yang transparan dengan tetap mempertimbangkan daftar urut kepangkatan dan masa dinas.

    • Terapkan reward and punishment secara objektif.

  2. Kepemimpinan Transformasional

    • Kepala instansi harus menjadi teladan, proaktif, dan berkomitmen penuh pada reformasi.

    • Gaya kepemimpinan partisipatif lebih diutamakan dibanding otoriter.

  3. Budaya Organisasi Berbasis Etika

    • Tegakkan disiplin berbahasa santun, komunikasi asertif, dan saling menghormati.

    • Gelar pelatihan etika publik bagi aparatur.

  4. Pemberdayaan Agen Perubahan

    • Libatkan agen perubahan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

    • Dorong mereka membuat inovasi nyata yang diadopsi instansi.

  5. Penguatan Sistem Apresiasi

    • Laksanakan penilaian kinerja objektif berbasis SKP dan perilaku kerja.

    • Beri penghargaan kepada pegawai berprestasi secara terbuka dan transparan.

  6. Pengawasan dan Evaluasi Berkelanjutan

    • Bangun mekanisme monitoring internal oleh tim RB yang independen.

    • Libatkan masyarakat (stakeholders) dalam memberikan masukan perbaikan.

  7. Perubahan Mindset dan Kultur Kerja

    • Dorong ASN untuk meninggalkan budaya lama yang feodalistik.

    • Bangun budaya kerja melayani, inovatif, profesional, dan berintegritas.

Kesimpulan

Reformasi birokrasi di Kementerian Agama Kota Padang Panjang menghadapi hambatan serius akibat lemahnya implementasi merit sistem, praktik KKN, kepemimpinan otoriter, serta dominasi budaya lama. Tanpa perbaikan menyeluruh, agenda reformasi hanya menjadi slogan tanpa makna.

Diperlukan kepemimpinan transformasional, pemberdayaan agen perubahan, budaya organisasi beretika, dan sistem merit yang tegak agar reformasi birokrasi benar-benar terwujud. Dengan demikian, Kementerian Agama tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menjadi institusi teladan dalam pelayanan publik yang bersih, profesional, dan akuntabel sesuai etika dan nilai prilaku ASN Kementerian Agama.

Jumat, 19 September 2025

Tentukan Kriteria Pasangan Hidup Baru Tentukan Orangnya Seri Memilih Pasangan Hidup (Menurut Al-Qur’an, Sunnah & Budaya)

Seri Memilih Pasangan Hidup (Menurut Al-Qur’an, Sunnah & Budaya) 


Oleh: Wahyu Salim/Penyuluh Agama Islam 

Pendahuluan

Menentukan pasangan hidup merupakan salah satu keputusan besar dalam kehidupan. Al-Qur’an menggambarkan pernikahan sebagai jalan menuju ketenteraman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia jadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rūm: 21).

Namun, sering kali banyak orang lebih dulu “tertarik pada orangnya” tanpa menimbang kriteria yang seharusnya menjadi pedoman. Akibatnya, pernikahan tidak selalu membawa kebahagiaan. Karena itu, penting untuk menentukan kriteria pasangan hidup terlebih dahulu sesuai tuntunan agama, baru kemudian mencari siapa orangnya yang memenuhi kriteria tersebut.

Kriteria Pasangan Hidup dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Islam memberi panduan jelas dalam memilih pasangan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa aspek agama harus menjadi prioritas utama, meskipun faktor lain seperti keturunan, kecantikan/ketampanan, dan harta juga bisa menjadi pertimbangan.

Kriteria penting menurut Al-Qur’an dan Sunnah antara lain:

  1. Agama dan akhlak – Pasangan yang taat beragama akan menjadi teman menuju surga. (QS. An-Nur: 26).

  2. Kesesuaian (kufu’) dalam kehidupan – Mencakup iman, akhlak, visi hidup, dan tanggung jawab.

  3. Kemampuan menjadi pasangan yang menenangkan – Seperti fungsi “sakinah, mawaddah, rahmah” dalam QS. Ar-Rūm: 21.

  4. Keturunan yang baik – Sebab keturunan akan membawa pengaruh pada keberkahan keluarga.

Kriteria Pasangan dalam Perspektif Budaya

Dalam tradisi dan budaya Nusantara, pemilihan pasangan hidup juga diwarnai nilai-nilai kearifan lokal, misalnya:

  • Restu orang tua dianggap penting karena diyakini membawa keberkahan.

  • Keseimbangan sosial – pertimbangan latar belakang keluarga, pendidikan, dan adat istiadat.

  • Kesiapan ekonomi dan tanggung jawab – agar rumah tangga tidak goyah karena faktor kebutuhan hidup.

  • Keharmonisan karakter – ada pepatah Minangkabau: “Sakato jo nan bana, barasok jo nan manuruik” (sepakat dengan kebenaran, serasi dengan kesesuaian).

Budaya menekankan harmoni dan keseimbangan, sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan maslahat dalam pernikahan.

Mengapa Menentukan Kriteria Lebih Dahulu?

  1. Menghindari keputusan emosional – jatuh cinta tanpa arah bisa menjerumuskan.

  2. Membangun visi jangka panjang – pernikahan bukan sekadar menyatukan dua individu, tapi juga membangun keluarga dan generasi.

  3. Menjaga prinsip agama – memastikan pasangan yang dipilih tidak hanya menyenangkan secara lahiriah, tapi juga mampu menuntun dalam agama.

  4. Memudahkan proses ta’aruf – dengan kriteria yang jelas, proses perkenalan lebih terarah dan sesuai tujuan.

Kesimpulan

Memilih pasangan hidup bukan sekadar soal “siapa orangnya”, tetapi lebih dahulu menetapkan “kriteria” sesuai panduan Al-Qur’an, Sunnah, dan budaya. Dengan kriteria yang matang—utama dalam agama dan akhlak, ditunjang kesiapan mental, sosial, dan budaya—baru kemudian menentukan siapa orang yang paling tepat.

Dengan demikian, pesan penting dalam memilih pasangan hidup adalah: “Tentukan kriteria pasangan hidupmu, baru tentukan orangnya.” Sebab kriteria yang benar akan membawa pada pilihan yang tepat, dan pilihan yang tepat akan mengantarkan pada rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. UWaS

Menjemput Takdir Menjadi Tamu Allah & Tamu Rasulullah


Menjemput Takdir Menjadi Tamu Allah & Tamu Rasulullah

Uwas hanyalah seorang hamba sederhana. Hidupnya pas-pasan, pekerjaannya biasa-biasa saja. Kalau ditimbang dari segi harta, orang mungkin akan berkata: “Mana mungkin Uwas bisa berangkat Umrah?” Namun, justru dari sosok inilah kita belajar bahwa tidak ada yang mustahil bila Allah sudah memanggil seorang hamba untuk menjadi tamu-Nya.

Sejak muda, Uwas sering berdoa dengan lirih, “Ya Allah, izinkan aku suatu saat menjejakkan kaki di Tanah Suci-Mu, menjadi tamu-Mu, menjadi tamu kekasih-Mu, Rasulullah ﷺ.” Doa itu terus ia panjatkan, kadang dengan linangan air mata, kadang dengan harapan yang disimpan dalam-dalam di sudut hatinya.

Hari demi hari, tahun berganti tahun, keajaiban itu perlahan terwujud. Tanpa ia sangka, Allah membuka jalan. Dari rezeki yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, dari bantuan tangan-tangan penuh kasih, dari niat tulus yang tidak pernah padam—akhirnya nama Uwas terdaftar sebagai jamaah umrah.

Ketika pertama kali melihat Ka’bah, tubuh Uwas gemetar. Air matanya jatuh deras, seakan seluruh beban hidup luruh di hadapan Baitullah. Ia merasa kecil, hina, tak berdaya, namun sekaligus dimuliakan karena diundang langsung oleh Allah. “Inilah bukti bahwa umrah bukan soal harta, bukan soal mampu atau tidak, tapi soal panggilan,” bisiknya lirih. 

Di Masjidil Haram, Uwas merasakan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan di tempat lain. Setiap putaran tawafnya adalah lantunan doa, setiap langkah sa’inya adalah perjalanan hidup yang penuh harap dan perjuangan.

Lalu, saat tiba di Madinah, hatinya semakin luluh. Menyampaikan salam di hadapan makam Rasulullah ﷺ membuatnya tersadar betapa besar kasih sayang Nabi kepada umatnya, termasuk dirinya yang sering lalai dan penuh kekurangan. Ada getaran batin yang sulit ia ungkapkan, seakan seluruh hidupnya hanya ingin ia persembahkan sebagai bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pengalaman Uwas mengajarkan, siapa pun bisa menjadi tamu Allah dan tamu Rasulullah. Kuncinya adalah memantaskan diri. Membersihkan hati, memperbaiki niat, memperbanyak amal, serta terus berdoa penuh keyakinan. Karena pada akhirnya, perjalanan umrah adalah tentang kemuliaan yang Allah anugerahkan, bukan tentang kemampuan manusia.

Keutamaan ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sungguh luar biasa. Satu kali shalat di Masjidil Haram nilainya seratus ribu kali dibanding shalat di masjid lainnya, sementara satu kali shalat di Masjid Nabawi nilainya seribu kali lipat. Tidak ada tempat di muka bumi yang lebih mulia untuk menundukkan hati dan jiwa selain di dua masjid ini.

Kini, setiap kali pulang dari ibadah umrah, Uwas selalu berpesan pada sahabat-sahabatnya:
“Jangan pernah ragu untuk bermimpi menjadi tamu Allah. Jangan pernah merasa tidak mungkin. Yang penting, pantaskan diri, perbaiki niat, lalu serahkan semuanya pada Allah. Karena bila Allah sudah memanggil, tak ada yang bisa menghalangi. Dan saat itu, engkau akan merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan—menjadi tamu Allah, tamu Rasulullah.”  UWaS

Da Jon Supir NPM: Jangan Lewati Waktu Subuh


Da Jon Supir NPM: Jangan Lewati Waktu Subuh

Namanya Jon, tapi para penumpang dan rekan sopir biasa memanggilnya Da Jon. Ia sudah puluhan tahun mengabdi sebagai supir bus NPM yang melayani rute antar kota antar provinsi di Sumatera. Ada satu prinsip hidup yang tidak pernah ia tinggalkan: jangan sekali-kali melewati waktu shalat Subuh di jalan.



Setiap kali azan Subuh tiba, di mana pun ia berada, Da Jon akan menepi dan mengarahkan busnya masuk ke halaman masjid atau mushalla terdekat. Para penumpang pun dipersilakan turun untuk menunaikan shalat. Sebagian awalnya heran, ada juga yang merasa perjalanan jadi sedikit tertunda. Namun lambat laun, para penumpang justru merasa tenteram. Mereka tahu, kalau naik bus yang dikemudikan Da Jon, insya Allah perjalanan terasa aman dan penuh keberkahan.


“Shalat Subuh itu bukan cuma kewajiban, tapi benteng dari bala. Saya sudah sering merasakannya,” kata Da Jon sambil tersenyum.

Kisah nyata pernah ia alami. Suatu malam, bus yang ia bawa terjebak dalam kondisi jalan yang rawan longsor. Di depan mereka, sebuah truk tergelincir dan menimpa mobil pribadi. Korban berjatuhan. Namun anehnya, bus yang ia kemudikan berhenti tepat beberapa meter sebelum titik longsor. Para penumpang gemetar menyaksikan kejadian itu.

“Saya yakin, itu semua karena kita tidak pernah meninggalkan Subuh di jalan,” ucapnya penuh keyakinan.

Ada pula kisah lain. Di sebuah perjalanan panjang, bus NPM yang ia kemudikan sempat mengalami rem blong di turunan. Para penumpang panik, sebagian berteriak histeris. Tapi entah bagaimana, bus bisa berhenti setelah menabrak pagar pembatas tanpa menimbulkan korban jiwa. Padahal, bagian depan bus hancur parah. Sejak itu, semakin banyak penumpang yang percaya: doa dan shalat Subuh di perjalanan telah menjadi penjaga keselamatan mereka. 

Begitu juga saat jalan licin, tidak hanya soal kemampuan mengemudi tapi saat Allah "turun tangan" menyelamatkan.

Para penumpang sering bercerita, naik bus Da Jon itu bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin. Ada rasa aman, ada ketenangan, ada keyakinan bahwa supir mereka mengemudi bukan hanya dengan keterampilan, tapi juga dengan keimanan.

Kini, setiap orang yang pernah menumpang bus bersama Da Jon akan bercerita pada kerabat dan teman:
“Kalau mau aman, naiklah bus NPM yang supirnya Da Jon. Dia pasti berhenti Subuh di masjid. Dan percayalah, itu membuat kita merasa dijaga Allah sepanjang perjalanan.” 

Apa yang diyakini Da Jon adalah sesuatu yang benar adanya dan seharusnya memang begitu, akan beda dengan sholat wajib lainnya seperti zhuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya yang bisa dilakukan dengan cara jama'/qashar baik secara taqdim maupun ta'khir.

Bagi Da Jon, keselamatan bukan hanya soal kecepatan atau keterampilan mengemudi. Lebih dari itu, keselamatan adalah buah dari ketaatan kepada Allah. Ia meyakini, shalat Subuh yang tidak ditinggalkan akan menjadi tameng dari berbagai musibah. UWaS



Rabu, 17 September 2025

Penyuluh Agama Cerahkan Lansia agar Hidup Tak Kesepian di Hari Tua

Penyuluh Agama Cerahkan Lansia agar Hidup Tak Kesepian di Hari Tua

Padang Panjang – Rabu, 17 September 2025, kegiatan Sekolah Lansia kembali digelar di Rumah Data Kependudukan Kelurahan Ekor Lubuk. Acara ini menghadirkan Wahyu Salim, Penyuluh Agama Islam sebagai pemateri utama dengan materi “Mengatasi Kesepian di Hari Tua menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Psikologi Agama”.

Kegiatan turut dihadiri oleh Shanum Yanti, Kepala Sekolah Lansia, yang didampingi oleh Penyuluh KB, Kikie MZ, serta mahasiswa Praktik Lapangan (PL) Jurusan Konseling UIN Batusangkar. Sebanyak 25 orang bapak-ibu lansia mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat.

Materi Penyuluhan

Dalam pemaparannya, Wahyu Salim menjelaskan bahwa masa lanjut usia sering diiringi dengan tantangan fisik, psikologis, dan sosial, salah satunya adalah rasa kesepian. Menurutnya, Islam menempatkan lansia pada posisi yang mulia. Firman Allah dalam QS. Al-Isra’: 23 memerintahkan manusia untuk berbakti kepada orang tua, dan Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya menghormati yang lebih tua.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kesepian dapat diatasi dengan:

  • memperbanyak dzikir dan doa,

  • menjaga shalat berjamaah dan ibadah sunnah,

  • memperkuat silaturrahim,

  • berbagi hikmah dan pengalaman kepada generasi muda,

  • serta menumbuhkan sikap sabar dan syukur.

Dari sisi psikologi agama, lansia dianjurkan untuk menemukan makna baru dalam hidup, aktif dalam kegiatan sosial, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mengembangkan hobi positif. Dengan demikian, hari tua tidak lagi identik dengan kesepian, melainkan menjadi fase penuh makna dan ketenangan.

Dukungan dari Sekolah Lansia

Kepala Sekolah Lansia, Hermina Yanti, A.Md. Keb menyampaikan bahwa tujuan penyelenggaraan sekolah lansia adalah mewujudkan lansia tangguh, sehat, bahagia, dan berdaya guna. Sekolah lansia diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran sekaligus sarana silaturrahim antar sesama lansia.

Sementara itu, Penyuluh KB, Rizki Meylinda Emzet, SKM memberikan motivasi agar para lansia senantiasa menjaga kesehatan, berpikir positif, dan tetap berbahagia meskipun berada di usia senja. Dukungan juga datang dari mahasiswa PL UIN Batusangkar yang ikut serta membantu jalannya kegiatan.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari peserta. Para lansia merasa mendapatkan pencerahan dan semangat baru untuk menghadapi hari tua dengan lebih optimis. Dengan adanya sekolah lansia, diharapkan tidak ada lagi lansia yang merasa sendiri, melainkan merasa dihargai, diperhatikan, dan mampu berkontribusi bagi keluarga maupun masyarakat. Apalagi disampaikan dengan gaya bahasa menarik penuh keakraban membuat mereka tertawa dan senyum bahagia.

Sebelumnya kegiatan diawali dengan senam lansia dan pembagian makanan ringan. UWaS