Jumat, 20 Februari 2026

Ramadhan 1447 H: Momentum Meningkatkan Indeks Kesalehan Umat

 


📖 Ramadhan 1447 H: Momentum Meningkatkan Indeks Kesalehan Umat

Oleh: Wahyu Salim
Penyuluh Agama Islam

Ramadhan 1447 H kembali menyapa umat Islam dengan membawa cahaya keberkahan. Bulan yang Allah sebut sebagai syahrun mubarak ini bukan hanya momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga saat terbaik untuk meningkatkan kualitas diri dan membangun Indeks Kesalehan Umat.

Kesalehan dalam Islam tidak cukup hanya diukur dari seberapa lama kita berdiri dalam shalat, atau seberapa banyak kita membaca Al-Qur’an. Ramadhan mengajarkan bahwa kesalehan sejati mencakup empat dimensi utama: ritual, sosial, moral, dan kebangsaan.

1️⃣ Kesalehan Ritual: Fondasi Keimanan

Ramadhan adalah madrasah ruhani. Shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sahur, dan berbuka menjadi bagian dari pembiasaan spiritual yang menguatkan hubungan kita dengan Allah SWT.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa. Maka indikator kesalehan ritual di bulan Ramadhan terlihat dari:

  • Konsistensi shalat berjamaah

  • Semangat membaca dan memahami Al-Qur’an

  • Kedisiplinan dalam menjalankan puasa

  • Kesungguhan dalam memperbanyak doa dan dzikir

Namun, takwa tidak berhenti di sajadah.

2️⃣ Kesalehan Sosial: Puasa yang Membumi

Puasa mengajarkan empati. Saat lapar, kita belajar merasakan penderitaan saudara yang kekurangan. Di sinilah Ramadhan meningkatkan indeks kesalehan sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Ramadhan 1447 H hendaknya menjadi momentum:

  • Meningkatkan zakat, infak, dan sedekah

  • Menguatkan solidaritas umat

  • Menghindari konflik, ujaran kebencian, dan fitnah

  • Menghidupkan budaya gotong royong

Kesalehan sosial adalah bukti bahwa puasa membentuk pribadi yang peduli.

3️⃣ Kesalehan Moral: Menjaga Lisan dan Perilaku

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan amarah, ghibah, dan perilaku tercela.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh pada puasanya.” (HR. Bukhari)

Ramadhan adalah latihan pengendalian diri. Di era media sosial, menjaga jari dan lisan sama pentingnya dengan menjaga perut. Kesalehan moral tercermin dari:

  • Kejujuran dalam pekerjaan

  • Harmoni dalam keluarga

  • Santun dalam bermedia sosial

  • Menepati janji dan amanah

Akhlak adalah wajah iman yang paling nyata.

4️⃣ Kesalehan Kebangsaan: Ramadhan dan Cinta Tanah Air

Umat yang saleh adalah umat yang menjaga persatuan. Ramadhan bukan waktu untuk memecah belah, tetapi memperkuat ukhuwah dan menjaga keutuhan bangsa.

Spirit hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) menjadi relevan dalam konteks Indonesia. Kesalehan kebangsaan tercermin dari:

  • Menjaga kerukunan antar umat beragama

  • Menolak radikalisme dan kekerasan

  • Taat pada aturan negara

  • Berpartisipasi dalam pembangunan sosial

Ramadhan 1447 H harus menjadi energi moral untuk memperkokoh persatuan NKRI.

🌙 Ramadhan sebagai Penguat Indeks Kesalehan Umat

Jika keempat dimensi ini tumbuh bersama, maka Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan gerakan transformasi umat.

Puasa yang benar akan melahirkan:

  • Pribadi bertakwa

  • Masyarakat yang peduli

  • Bangsa yang damai

  • Umat yang menjadi rahmat bagi semesta

Mari kita jadikan Ramadhan 1447 H sebagai momentum peningkatan Indeks Kesalehan Umat, bukan hanya dalam angka dan laporan, tetapi nyata dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita insan yang lebih baik setelah Ramadhan berlalu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar: